Anda di halaman 1dari 17

Askep Eritroderma

Definisi Eritroderma

Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 ). Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ). Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000 : 28 ) Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( medicastore . com ). Eritroderma adalah kemerahan yang abnormal pada kulit yang menyebar luas ke daerah-daerah tubuh (kamus saku kedokteran, Dorland).

Eritroderma Etiologi Eritroderma Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok : 1. Eritrodarma eksfoliativa primer Penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum(5-0 % ). 2. Eritroderma eksfoliativa sekunder a. Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide ,

analgetik / antipiretik dan tetrasiklin. b. Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik. c. Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma. ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 : Rusepno Hasan 2005 : 239 ) Anatomi Kulit Kulit mempunyai tiga lapisan utama : Epidermis , Dermis dan Jaringan sub kutis. Epidermis ( lapisan luar ) tersusun dari beberapa lapisan tipis yang mengalami tahap diferensiasi pematangan. Kulit ini melapisi dan melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air , cedera mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit. Lapisan paling dalam epidermis membentuk sel sel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar kulit. Epidermis terdalam juga menutup luka dan mengembalikan integritas kulit sel sel khusus yang disebut melanosit dapat ditemukan dalam epidermis. Mereka memproduksi melanin , pigmen gelap kulit. Orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit aktif. Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu : a. Stratum Korneum Selnya sudah mati , tidak mempunyai intisel , intiselnya sudah mati dan mengandung zat keratin. b. Stratum lusidum Selnya pipih , bedanya dengan stratum granulosum ialah sel sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar. Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki. c. Stratum Granulosum Stratum ini terdiri dari sel sel pipih. Dalam sitoplasma terdapat butir-butir yang disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin. d. Stratum Spinosum / Stratum Akantosum Lapisan yang paling tebal. e. Stratum Basal / Germinativum Stratum germinativum menggantikan sel sel yang diatasnya dan merupakan sel sel induk. Dermis terdiri dari 2 lapisan : a. Bagian atas , papilaris ( stratum papilaris ) b. Bagian bawah , retikularis ( stratum retikularis ) Kedua jaringan tersebut terdiri dari jaringan ikat longgar yang tersusun dari serabut serabut kolagen , serabut elastis dan serabut retikulus Serabut kolagen untuk memberikan kekuatan pada kulit. Serabut elastis memberikan kelenturan pada kulit. Retikulus terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut. Subkutis Terdiri dari kumpulan kumpulan sel sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut serabut jaringan ikat dermis.

Anatomi Kulit Fungsi kulit : - Proteksi Pengatur suhu - Absorbsi Pembentukan pigmen - Eksresi Keratinisasi - Sensasi Pembentukan vit D ( Syaifuddin , 1997 : 141 142 ) Patofisiologi Eritroderma Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh. Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus. Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik ( alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanisme imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkonjugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap. ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ) Manifestassi Klinis Eritroderma

Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.

Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit yang tersering adalah psoriasis dan dermatitis seboroik pada bayi ( Penyakit Leiner ).

Eritroderma karena psoriasis Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninggi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih tebal. Dapat ditemukan pitting nail. - Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum ) Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar. - Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal. ( Arif Masjoor , 2000 : 121 ) Komplikasi Eritroderma Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder : - Abses Limfadenopati - Furunkulosis Hepatomegali - Konjungtivitis Rinitis - Stomatitis Kolitis - Bronkitis ( Ruseppo Hasan , 2005 : 239 : Marwali Harhap , 2000 , 28 ) Pengkajian Fokus Askep Eritroderma Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas. Biodata a. Jenis Kelamin Biasnya laki lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan. a. Riwayat Kesehatan Riwayat penyakit dahulu ( RPM ) Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus , psoriasis , pitiasis rubra pilaris , pemfigus foliaseus , dermatitis. Seboroik dan dermatosiss atopik , limfoblastoma. Riwayat Penyakit Sekarang Mengigil, demam , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit. c. Pola Fungsi Gordon 1. Pola Nutrisi dan metabolisme Terjadinya kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien ( dehidrasi ). 2. Pola persepsi dan konsep diri Konsep diri Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.

3. Pemeriksaan fisik a. KU : lemah b. TTV : suhu naik atau turun. c. Kepala Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia. d. Mulut Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat. e. Abdomen Adanya limfadenopati dan hepatomegali. f. Ekstremitas Perubahan kuku dan kuku dapat lepas. g. Kulit Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama. ( Marwali Harahap , 2000 : 28 29 : Rusepno Hasan , 2005 : 239 , Brunner & Suddarth , 2002 : 1878 ). Diagnosa Keperawatan Dan Fokus Intervensi Askep Eritroderma 1. Gangguan integritas kulit bd lesi dan respon peradangan Kriteria hasil : menunjukkan peningkatan integritas kulit - menghindari cedera kulit Intervensi a. kaji keadaaan kulit secara umum b. anjurkan pasien untuk tidak mencubit atau menggaruk daerah kulit c. pertahankan kelembaban kulit d. kurangi pembentukan sisik dengan pemberian bath oil e. motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP 2. Gangguan rasa nyaman : gatal bd adanya bakteri / virus di kulit Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal Kriteria hasil : - tidak terjadi lecet di kulit - pasien berkurang gatalnya Intervensi a. beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal b. mandikan seluruh badan pasien dengan Nacl c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl d. jaga kebersihan kulit pasien e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal 3. Resti infeksi bd hipoproteinemia Tujuan : setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi Kriteria hasil : - tidak ada tanda tanda infeksi ( rubor , kalor , dolor , fungsio laesa ) - tidak timbul luka baru Intervensi a. monitor TTV b. kaji tanda tanda infeksi c. motivasi pasien untuk meningkatkan nutrisi TKTP

d. e.

jaga kebersihan luka kolaborasi pemberian antibiotik Daftar Pustaka

Brunner 7 Suddarth vol 3 , 2002. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGG Doenges M E. 1999. Rencana asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan dokumentasi perawatan pasien edisi 3 , Jakarta : EGC Harahap Marwali 2000 , Ilmu Penyakit Kulit , Jakarta : Hipokrates Hasan Rusepno 2005 , Ilmu Keperawatan Anak , Jakarta : FKUI Mansjoer , Arief , 2000 , Kapita Selekta Kedokteran , Jakarta : EGC Syaifudin , 1997 , anatomi Fisiologi , Jakarta : EGC

copy paste :: http://nursingbegin.com/category/askep-kulit/ BAB I

PEMBAHASAN
I. KONSEP DASAR MEDIK A. DEFINISI

Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 ).

Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( www. medicastore . com ).

Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000 : 28 )

Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ).

B. ANATOMI Kulit merupakan lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan melindungi bagian tubuh,berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga rongga,lubang lubang masuk.Pada kulit bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa.masalah pada kulit salah satunya adalah adanya luka,dimana luka terjadi akibat kerusakan jaringan dan ketika terjadi luka tubuh akan mengeluarkan respon lokal yang disebut dengan inflamasi.Kulit mepunyai tiga lapisan utama : Epidermis , Dermis dan Jaringan sub kutis. Epidermis ( lapisan luar ) tersusun dari beberapa lapisan tipis yang mengalami tahap diferensiasi pematangan.

Kulit ini melapisi dan melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air , cedera mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit. Lapisan paling dalam epidermis membentuk sel sel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar kulit. Epidermis terdalam juga menutup luka dan mengembalikan integritas kulit sel sel khusus yang disebut melanosit dapat ditemukan dalam epidermis. Mereka memproduksi melanin , pigmen gelap kulit. Orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit aktif.

Gambar anatomi kulit Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu : 1. Stratum Korneum

Selnya sudah mati , tidak mempunyai intisel , intiselnya sudah mati dan mengandung zat keratin. 2. Stratum lusidum Selnya pipih , bedanya dengan stratum granulosum ialah sel sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar. Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki. 3. Stratum Granulosum Stratum ini terdiri dari sel sel pipih. Dalam sitoplasma terdapat butirbutir yang disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin. 4. Stratum Spinosum / Stratum Akantosum Lapisan yang paling tebal. 5. Stratum Basal / Germinativum Stratum germinativum menggantikan sel sel yang diatasnya dan merupakan sel sel induk. Dermis terdiri dari 2 lapisan : 1. Bagian atas , papilaris ( stratum papilaris ) 2. Bagian bawah , retikularis ( stratum retikularis ) Kedua jaringan tersebut terdiri dari jaringan ikat lonngar yang tersusun dari serabut serabut kolagen , serabut elastis dan serabut retikulus Serabut kolagen untuk memberikan kekuatan pada kulit. Serabut elastis memberikan kelenturan pada kulit.Retikulus terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut. Subkutis : Terdiri dari kumpulan kumpulan sel sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut serabut jaringan ikat dermis. Lapisan Subkutis Merupakan lapisan dibawah dermis yang etrsusun dari sel koalgen dan lemak tebal untum menyekat panas sehingga kita dapat beradaptasi dengan perubahan temperatur luar tubuh kita karena perubahan cuaca, selain itu juga lapisan subcutis dapat menyimpan cadangan nutrisi bagi kulit. Fungsi kulit : Proteksi - Pengatur suhu Absorbsi - Pembentukan pigmen Eksresi Keratinisasi Sensasi - Pembentukan vit D

( Syaifuddin , 1997 : 141 142 ) C. ETIOLOGI Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok : ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 : Rusepno Hasan 2005 : 239 ) 1. Eritrodarma eksfoliativa primer Penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum (510 % ). 2. Eritroderma eksfoliativa sekunder 1. Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin. 2. Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik. 3. Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma. D. PATOFISIOLOGI Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh. Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus. Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik ( alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.

( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ) E. MANIFESTASSI KLINIS

Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.

Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit yang tersering addalah psoriasis dan dermatitis seboroik pada bayi ( Penyakit Leiner ).
o

Eritroderma karena psoriasis

Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail.
o

Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum )

Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar.
o

Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal. ( Arif Masjoor , 2000 : 121 )

Menggigil,demam,dan kulit gatal bersisik. Warna kulit berubah dari merah muda menjadi merah gelap Kemungkinan terjadi kerontokan rambut Umumnya terjadi relaps

(Brunner dan Suddarth,2002) F. KOMPLIKASI Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder : Abses Limfadenopati Furunkulosis Hepatomegali Konjungtivitis Rinitis Stomatitis Kolitis Bronkitis

( Ruseppo Hasan , 2005 : 239 : Marwali Harhap , 2000 , 28 ) II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas. 1. Biodata 1. Jenis Kelamin Biasnya laki laki 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan. 2. Riwayat Kesehatan

Riwayat penyakit dahulu ( RPM ) Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus , psoriasis , pitiasis rubra pilaris , pemfigus foliaseus , dermatitis. Seboroik dan dermatosiss atopik , limfoblastoma.

Riwayat Penyakit Sekarang Mengigil panas , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit.

Pola Fungsi Gordon


o

Pola Nutrisi dan metabolisme

Terjadinya kebocoran kapiler ,hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien(dehidrasi).
o

Pola persepsi dan konsep diri

Konsep diri

Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.
o

Pemeriksaan fisik

a. KU : lemah b. TTV : suhu naik atau turun.

c. Kepala Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia. d. Mulut Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat. e. Abdomen Adanya limfadenopati dan hepatomegali. f. Ekstremitas Perubahan kuku dan kuku dapat lepas. g. Kulit Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama. ( Marwali Harahap , 2000 : 28 29 : Rusepno Hasan , 2005 : 239 , Brunner & Suddarth , 2002 : 1878 ). B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan integritas kulit b.d eksfoliasi dan respon peradangan. 2. Gangguan rasa nyaman: Gatal berhubungan dengan adanya lesi pada kulit 3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. 4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. C. INTERVENSI KEPERAWATAN DP. 1. Gangguan integritas kulit bd eksfoliasi dan respon peradangan. Kriteria hasil : - menunjukkan peningkatan integritas kulit - menghindari cidera kulit - Kulit utuh, eritema dan skuama hilang Intervensi : 1. Lakukan inspeksi lesi setiap hari dan Pantau adanya tanda-tanda infeksi R/ mengetahui dan mengidentifikasi kerusakan kulit untuk melakukan intervensi yang tepat 2. Ubah posisi pasien tiap 2-4 jam dan anjurkan klienmenggunakan pakaian tipis dan alat tenun yang lembut R/ tekanan dari baju, membiarkan luka terbuka terhadap udara meningkat proses penyembuhan dan menurunkan resiko infeksi 3. Jaga kebersihan alat tenun R/ untuk mencegah infeksi 4. Pergunakan sarung tangan jika merawat lesi

R/ Untuk menghindari kontaminasi 5. Libatkan keluarga dalam memberikan bantuan pada pasien R/untuk mempermudah intervensi dan membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. 6. Kolaborasi dengan tim R/: untuk mencegah infeksi lebih lanjut medis untuk pemberian obat

DP 2 gangguan rasa nyaman: Gatal berhubungan dengan adanya lesi pada kulit Kriteria hasil : - tidak terjadi lecet di kulit - pasien berkurang gatalnya Intervensi :

1. Temukan penyebab gatal R/: Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk memberikan kenyamanan. 2. Catat hasil observasi secara rinci. R/: Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan. 3. Antisipasi reaksi alergi (dapatkan riwayat obat). R/: Ruam menyeluruh terutama dengan awaitan yang mendadak dapat menunjukkan reaksi alergi obat. 4. Pertahankan kelembaban (+/- 60%), gunakan alat pelembab. R/: Kelembaban yang rendah, kulit akan kehilangan air. 5. Pertahankan lingkungan dingin. R/: Kesejukan mengurangi gatal. 6. Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun yang lembut. R/: Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi. 7. Berikan kompres hangat/dingin. R/: Pengisatan air yang bertahap dari kasa akan menyejukkan kulit dan meredakan pruritus. 8. Anjurkan untuk menjaga agar kuku selalu terpangkas (pendek). R/: Mengurangi kerusakan kulit akibat garukan 9. Nasihati klien untuk menghindari pemakaian salep /lotion yang dibeli tanpa resep Dokter. R/: Masalah klien dapat disebabkan oleh iritasi/sensitif karena pengobatan sendiri 10. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi topikal. R/: Membantu meredakan gejala. DP 3 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. Kriteria hasil: Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.

Intervensi: 1. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan merendahkan diri sendiri. Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien, kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap

konsep diri. 2. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan. Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami. 3. Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. 4. Mendorong sosialisasi dengan orang lain. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. DP4 Resiko Terhadap Infeksi Yang Berhubungan adanya luka terbuka akibat gangguan integritas Kriteria hasil: Infeksi tidak terjadi. Tanda- tanda vital dalam batas normal. Luka mengalami granulasi.

Intervensi: 1. Pantau terhadap tanda- tanda infeksi R/ Respon jaringan terhadap infiltrasi patogen dengan peningkatan aliran darah dan aliran limfe 2. Observasi tanda- tanda vital R/ Patogen yang bersirkulasi merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. R/ Mencegah terjadinya infeksi silang dari lingkungan luka ke dalam luka 4. Lakukan rawat luka dengan tehnik aseptik dan antiseptik. R/Mencegah terjadinya invasi kuman dan kontaminasi bakteri. 5. Anjurkan klien untuk menghabiskan porsi yang tersedian terutama tinggi protein dan vitamin C. R/Nutrisi dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mengganti jaringan yang rusak dan mempercepat proses penyembuhan. 6. Jaga personal higiene klien R/:Sesuatu yang kotor merupakan media yang baik bagi kuman. 7. Kolaborasi dengan tim medisdalam penentuan antibiotik dan pemeriksaan leukosit dan LED R/ Peningkatan leukosit dan LED merupakan indikasi terjadinya infeksi. D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Implementasi merupakan tahap keempat didalam proses keperawatan. Implementasi merupakan realisasi tindakan kepada pasien dari rencana tindakan yang telah dibuat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. E. EVALUASI KEPERAWATAN 1. Pasien menunjukkan peningkatan integritas kulit. 2. Pasien mampu menghindari cidera kulit. 3. Tidak terjadi lecet di kulit.

4. Pasien secara verbal mengatakan bahwa berkurang gatalnya. 5. Tidak ada atau tidak ditemukannya tanda tanda infeksi ( rubor , kalor ,dolor , fungsio laesa ). 6. Ttidak timbul luka baru

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, volume 3. Jakarta : EGC Doenges,marilyn E.1999.Nursing care plans edition 2. Hasan Rusepno. 2005. Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : FKUI Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates Introduction to patient care edition 3.1997.W.B.Saunders Company

philadelphia/London/Toronto

Medical surgical nursing unit II J.B.Lippincott Company Philadelphia Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC Nursing practice hospital and home the adult.1996. Churehill living stone.distributed in the USA,New York

Syaifudin. 1997. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC http://74.125.67.100/images? q=dermatitis+exfoliativa&um=1&hl=en&client=fireworka&rls=org.mozilla:enUS:off ical&channel=s&prmdo=1&tbs=isch:1&sa=N&atart=40&nds20

http://iklanbarisgratis.info/search/Askep+Eritroderma http://iklanbarisgratis.info/search/ERITRODERMA http://hidayat2.wordpress.com/2009/07/05/askep-eritroderma/ http://jobs.bestmoviepics.com/search/eritroderma

http://kamus-kesehatan.blogspot.com/2009/08/eritroderma.html