Anda di halaman 1dari 2

Resensi:

Teknologi Padi di Persimpangan Jalan


Produksi padi nasional masih dapat ditingkatkan melalui Revolusi Hijau Lestari dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai instrumen. Teknologi perpadian yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dalam beberapa tahun terakhir diharapkan dapat mendukung Revolusi Hijau Lestari yang digagas oleh Food Agricultural Organization (FAO).

emerintah senantiasa memberi perhatian besar bagi upaya peningkatan produksi padi karena beras merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk. Berbagai program telah dicanangkan dan diimplementasikan guna memacu produksi padi. Sistem penyediaan sarana dan prasarana pertanian juga terus disempurnakan agar petani lebih produktif berusaha tani. Upaya tersebut dinilai berhasil meningkatkan produksi padi dari

periode ke periode. Meski demikian, laju kenaikan produksi belum mampu mengimbangi laju kenaikan permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk yang kini telah mencapai lebih dari 210 juta jiwa. Sementara itu, luas areal pertanaman padi relatif tidak bertambah, bahkan sebagian telah dikonversi untuk keperluan nonpertanian. Untuk memenuhi kebutuhan beras, orientasi kebijakan perbe-

rasan harus mengarah kepada upaya peningkatan kemandirian pangan. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras impor dapat menjadi musibah apabila stok beras di pasar internasional tidak memadai. Anomali iklim, lemahnya adopsi teknologi oleh petani, dan perdagangan bebas merupakan tantangan yang harus diantisipasi dengan baik. Untuk mengatasi tantangan itu, Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian terus berupaya menggali potensi melalui penelitian dan pengkajian untuk menghasilkan inovasi teknologi yang mampu memacu kembali kenaikan produksi padi dengan berlandaskan kepada prinsip-prinsip agribisnis yang sehat. Aspek efisiensi, efektivitas, dan kualitas menjadi perhatian utama dalam penelitian dan pengkajian agar beras domestik memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional. Beras juga merupakan bahan pangan pokok oleh hampir separuh

18

Buku Teknologi Padi di Persimpangan Jalan yang disusun Dr. Achmad M. Fagi beserta kawan-kawan.

penduduk dunia. Untuk meyakinkan komunitas internasional bahwa padi adalah bagian dari kehidupan (Rice is Life), Badan Pangan Dunia (FAO) mencanangkan tahun 2004 sebagai Tahun Padi Internasional (International Year of Rice 2004). Melalui momen yang bersejarah ini, Badan Litbang Pertanian menawarkan inovasi teknologi yang selaras dengan konsepsi Revolusi Hijau Lestari (Evergreen Revolution) bagi upaya peningkatan produktivitas dan produksi padi nasional. Ide konsepsi Revolusi Hijau Lestari itu sendiri muncul dalam Pertemuan Puncak Pangan se-Dunia di FAO Roma pada bulan November 1996 lalu, yang menekankan perlunya Revolusi Hijau Baru (New Green Revolution) untuk memacu kembali laju kenaikan produksi pangan. Gagasan ini tampaknya sejalan dengan Deklarasi Madras yang dicanangkan empat bulan sebelumnya di Madras, India, yang mengagendakan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai instrumen Revolusi Hijau Lestari. Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) telah menghasilkan teknologi yang dapat mendukung Revolusi Hijau Lestari. Padi varietas unggul tipe baru, misalnya, berdaya hasil 10-20% lebih tinggi daripada

varietas unggul biasa, tahan hama dan penyakit utama, dan mutu berasnya tinggi. Ketahanan terhadap hama dan penyakit berperan penting dalam menekan penggunaan pestisida yang kalau digunakan secara tidak terkendali berdampak buruk terhadap kelestarian lingkungan. Hasil tinggi terkait dengan peningkatan produksi dan pendapatan petani, sementara mutu beras yang tinggi terkait dengan daya saing produksi. Teknologi pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman padi dan ketersediaan hara di tanah, termasuk teknologi produksi yang efisien dan berwawasan lingkungan. Penerapan teknologi ini tentu penting pula artinya dalam meningkatkan pendapatan petani dan mengatasi lahan sakit (soil sickness) di sebagian areal intensifikasi padi akibat kurang cermatnya pengelolaan pemupukan di masa lalu. Hingga saat ini lahan sawah irigasi tetap menjadi tulang punggung pengadaan produksi padi nasional. Sayangnya, pertanian padi di agroekosistem ini paling banyak menghabiskan air. Untuk menghasilkan satu kilogram beras saja diperlukan 5.000 liter air. Dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya, padi tergolong kurang efisien dalam menggunakan air. Gandum, misalnya, hanya mengkonsumsi 4.000 m3 air per hektar, sedangkan padi hampir dua kali lipatnya, 7.650 m3 per hektar. Teknik irigasi bergilir (intermitten irrigation) 4-5 hari sekali dapat diterapkan untuk menghemat penggunaan air, kalau persediaan terbatas, terutama pada musim kemarau. Penelitian menunjukkan, penerapan teknik irigasi bergilir dapat menghemat air 40-50% per musim, sehingga sisanya diharapkan dapat terdistribusikan secara merata ke seluruh areal pertanaman padi berpengairan. Model pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) yang mengintegrasikan komponen teknologi sinergis, efisien, spesifik lokasi, dan melibatkan partisipasi aktif petani dan pihak terkait lainnya tampaknya selaras dengan

Revolusi Hijau Lestari yang lebih mengedepankan aspek kelestarian lingkungan dan peningkatan produksi. Pengujian di beberapa lokasi di delapan propinsi di Indonesia sejak musim kemarau 2001 menunjukkan inovasi teknologi baru ini terbukti mampu meningkatkan hasil padi 7-38%. Hasil pengujian itu mendorong pemerintah untuk mengembangkan model PTT secara nasional sejak musim tanam 2002 melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T). Secara umum, hasil padi yang dikembangkan dalam model PTT mengalami peningkatan yang cukup tajam. Di beberapa lokasi, penerapan teknologi baru tanpa pemecahan masalah setempat tidak akan memberikan kenaikan hasil yang signifikan. Dengan kata lain, produksi padi nasional dapat ditingkatkan melalui penerapan inovasi teknologi spesifik lokasi. Banyak lagi teknologi hasil penelitian padi yang dapat mendukung implementasi konsepsi Revolusi Hijau Lestari, sebagian di antaranya dipaparkan dalam buku Teknologi Padi di Persimpangan Jalan. Teknologi itu kini berada di persimpangan jalan. Akankah teknologi-teknologi tersebut diarahkan ke jalan menuju Revolusi Hijau Lestari? Difasilitasi oleh Kepala Balitpa, Dr. Irsal Las, dan disusun oleh Dr. Achmad M. Fagi beserta kawan-kawan, publikasi ini diharapkan dapat dibaca oleh kalangan penentu kebijakan, akademisi, penyuluh pertanian, dan pihak terkait lainnya (Hermanto).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Jln. Merdeka No. 147 Bogor 16111 Telepon : (0251) 334089, 311432 Faksimile : (0251) 312755 E-mail : crifc3@indo.net.id

19