Anda di halaman 1dari 9

A.

DEFINISI Dahulu disebut juga sebagai hipertrofi prostat jinak (Benign Prostat Hipertropy = BPH), istilah hipertrofi kurang tepat karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah (Mansjoer, 2000). Nasution (2009) mendefinikan Benign Prostat Hiperplasia adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi dengan pertambahan umur. Perbesaran ini bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat terjadi sumbatan parsial ataupun komplit. BPH adalah pembesaran kelenjar prostat yang bukan merupakan keganasan dan dapat mengurangi aliran urin dari vesika urinaria. BPH merupakan proses proliferasi seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan proliferasi berlebihan epithelial dan stromal, ketidakseimbangan kematian alami dari sel tersebut (apoptosis) atau keduanya. (Jurnal Emedicine 2010).

B. ETIOLOGI Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui. Beberapa hipotesa yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah : 1. Adanya perubahan kesimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut. 2. Peranan dari Growth Faktor sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. 3. Meningkatkan lama hidup sel sel prostat karena berkurangnya sel sel yang mati. 4. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

C. ANAMNESIS OBSTRUKTIF o pancaran melemah o miksi tidak puas o harus o harus (staining) o kencing terputus-putus menunggu lama kencing IRITATIF o sering miksi (frekuensi), o pada malam hari terbangun untuk miksi (nokturnuria), o perasaan ingin miksi yang sangat mendesak.(urgensi), o nyeri saat miksi (disuria) karena ada infeksi.

untuk miksi (hesitancy) mengedan

(intermittency)

Skor I-PSS

Note : setiap pertanyaan yang berkaitan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5. Sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 1-7. Nilai 0-7 = gejala ringan, 8-19 = gejala sedang, 20-35= gejala berat

Pada saat anamnesis , tanyakan juga: apakah terdapat nyeri pinggang? Apakah terdapat benjolan di pinggang? hidronefrosis Apakah ada demam? infeksi atau sepsis

D. PEMERIKSAAN FISIK 1. Buli buli : pada inspeksi biasanya didapatkan buli-buli menonjol-cembung, pada palpasi didapatkan adanya massa kistus di daerah supra simphisis akibat retensi urin. 2. Rectal Touche Inspeksi: Anus Warna, Benjolan, Skin Tag, Darah Palpasi: Tonus Sphincter Ani (TSA) Ampulla Recti Mucosa Recti Nyeri Tekan Prostat Pool atas tidak teraba Latero-lateral membesar Sulkus Medianus mendatar Konsistensi keras Fluktuasi Nodul -/+ Handscoon: Darah Faeces

Rectal grading 1. Derajat I penonjolan prostat jelas, batas mudah volume urine <50 mL 2. Derajat II penonjolan prostat jelas, batas atas dapat volume urine 50 100 mL 3. Derajat III penonjolan prostat jelas, batas atas tidak sisa volume urine > 100 mL dapat diraba, dicapai, sisa diraba, sisa

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG PENTING 1. Urinalisis Sedimentasi (proses infeksi / inflamasi) Kultur ( jenis kuman + sensitifitas antimikroba) 2. Laboratorium Darah PSA (Prostat Specific Antigen) keganasan Uroflowmetri

Clinical Grading Pada pagi hari atau pasien setelah minum banyak disuuh miksi sampai habis, dengan kateter diukur sisa urin dalam buli buli. Normal : sisa urin tidak ada Grade 1 : sisa urin 0 -50 cc Grade 2 : sisa urin 50 150 cc Grade 3 : sisa urine >150 cc Gade 4 : retensi urin total Grade 1 2 : indikasi konsevatif Grade 3 4 : indikasi operatif

F. IMAGING 1. Foto Polos Abdomen Mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu kalkulosa prostat dan kadang menunjukkna bayangan vesica urinaria yang penuh urin (retensi urin), dan adanya metastase dari karsinoma prostat. 2. Pielografi Intravena Menunjukkkan hidroureter atau hidronefrosis, Memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostatatau ureter sebelah distal yang berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Penyulit pada VU, yakni trabekulasi, divertikel, atau sakulasi VU Residu urin. 3. Sistogram Retrograd Apabila pasien sudah dipasang kateter urin karena resistensi urin, maka dapat memberikan gambaran indentasi. 4. USG Transrectal Mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, Mengetahui kemungkinan pembesaran prostat maligna Sebagai petunjuk biopsi aspirasi prostat Mengetahui volume VU dan jumlah residu urin 5. Pemeriksaan Sistografi Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria. Dapat memebrikan gambaran tumor dalam VU atau sumer perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen di dalam vesica. Memberi keterangan prostat dengan mengukur panjang uretra pasrs prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra. 6. MRI dan CT-Scan Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacammacam potongan.

This 80 yr. old male patient presented with lower urinary tract symptoms (LUTS). Transabdominal ultrasound scan images reveal obvious

intravesical enlargement of the enlarged median lobeof the prostate. Postvoiding trans-rectal ultrasound scan (TRUS) images reveal- 1) large volume of residual urine (303 cc) (more than 40 cc. is abnormal). 2) gross enlargement of the prostate mainly involving the transition zone. 3) intravesical enlargement of median lobe. 4) few small cysts in inner gland 3) there is also evidence of corpora amylacea and nodularity in the transition zone. 5) the peripheral zone is compressed by the enlarged transition zone. Diagnosis: these ultrasound images are diagnostic of benign hyperplasia of prostate.

Anda mungkin juga menyukai