Anda di halaman 1dari 118

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah ditentukan bahwa Daerah diberikan hak otonomi yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri daerahnya sesuai kondisi daerahnya masing-masing. Hal ini

dengan kemampuan dan

dimaksudkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peranserta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Provinsi Kalimantan Timur sebagai daerah otonom memiliki hak, wewenang, dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan, baik itu urusan pemerintahan yang bersifat wajib maupun yang bersifat pilihan, sesuai Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 1

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

peraturan

perundang-undangan.

Dalam

mewujudkan

otonomi

tersebut

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dapat mendayagunakan semua dan segala potensi sumber daya alam (SDA) yang terdapat di wilayahnya, termasuk sumber daya tambang, baik untuk tujuan ekonomi daerah maupun ekologi sesuai peraturan perundang-undangan. Bersamaan dengan itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bertanggung jawab atas perlindungan dan pelestarian fungsi-fungsi sumber daya alam (lingkungan) tersebut guna menjamin pemanfaatan sumber daya alam serta menjamin terwujudnya pembangunan development). berwawasan lingkungan berkelanjutan (sustainable

Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki luas wilayah 211.440 Km2, terletak diantara 113 44 BT - 119100 BT dan 0425 LU - 0225 LS, terdiri dari 12 Daerah Kabupaten dan Kota, 87 Kecamatan dan 1241 desa, tercatat sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia. Deposit batubaranya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 2

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

mencapai sekitar 19,5 miliar ton (sekitar 54,4 % dari seluruh total produksi batubara di Indonesia), dengan temuan cadangan yang dapat dieksploitasi mencapai 2,4 miliar ton. Sejak tahun 2003 perkembangan produksi batubara di Kalimantan Timur terus melonjak tajam setiap tahunnya. Pada tahun 2008 saja produksi batubara mencapai 118.853.758 ton. Sesuai dengan potensi alam yang terkandung di dalam bumi Kalimantan Timur tersebut, maka urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral merupakan urusan pemerintahan bersifat pilihan yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Hal ini didasarkan dalam ketentuan Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan, bahwa Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi
urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Selanjutnya ketentuan

Pasal 13 ayat (2) tersebut

dijelaskan dalam Penjelasan pasal, bahwa yang dimaksud dengan urusan


pemerintahan yang secara nyata ada adalah yang sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi yang dimiliki, antara lain pertambangan, perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pariwisata.

Kaidah dalam Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, bahwa kewenangan pemerintah Provinsi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

dalam urusan pemerintahan di bidang pengelolaan pertambangan mineral dan batubara antara lain meliputi :
1. 2.

Pembuatan peraturan perundang-undangan daerah; Penyusunan data dan informasi usaha pertambangan mineral dan batubara serta panas bumi lintas kabupaten/kota.

3.

Penyusunan

data

dan

informasi

cekungan

air

tanah

lintas

kabupaten/kota.
4.

Pemberian rekomendasi teknis untuk izin pengeboran, izin penggalian dan izin penurapan mata air pada cekungan air tanah lintas kabupaten/kota

5.

Pemberian izin usaha pertambangan mineral, batubara dan panas bumi pada wilayah lintas kabupaten/kota dan paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.

6.

Pemberian izin usaha pertambangan mineral, dan batubara untuk operasi produksi, yang berdampak lingkungan langsung lintas kabupaten/kota dan paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.

7.

Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan izin usaha pertambangan mineral, batubara dan panas bumi pada wilayah lintas kabupaten/kota dan paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.

8.

Pemberian izin badan usaha jasa pertambangan mineral, batubara, dan panas bumi dalam rangka PMA dan PMDN lintas kabupaten/kota.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang 9.

Pengelolaan, pembinaan dan pengawasan pelaksanaan izin usaha jasa pertambangan mineral, batubara, dan panas bumi dalam rangka penanaman modal lintas kabupaten/kota.

10. Pembinaan

dan

pengawasan

keselamatan

dan

kesehatan

kerja,

lingkungan pertambangan termasuk reklamasi lahan pasca tambang, konservasi dan peningkatan nilai tambah terhadap usaha pertambangan mineral, batubara dan panas bumi, pada wilayah lintas kabupaten/kota atau yang berdampak regional.
11. Pembinaan dan pengawasan pengusahaan KP lintas kabupaten/kota. 12. Pembinaan

dan

pengawasan

keselamatan

dan

kesehatan

kerja,

lingkungan pertambangan termasuk reklamasi lahan pascatambang, konservasi dan peningkatan nilai tambah terhadap KP lintas

kabupaten/kota.
13. Penetapan wilayah konservasi air tanah lintas kabupaten/kota. 14. Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan izin usaha pertambangan

mineral, dan batubara untuk operasi produksi, serta panas bumi yang berdampak lingkungan langsung lintas kabupaten/kota.
15. Penetapan nilai perolehan air tanah pada cekungan air tanah lintas

kabupaten/kota.
16. Pengelolaan data dan informasi mineral, batubara, panas bumi dan air

tanah serta pengusahaan dan SIG wilayah kerja pertambangan di wilayah provinsi.
17. Penetapan potensi panas bumi dan air tanah serta neraca sumber daya

dan cadangan mineral dan batubara di wilayah provinsi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang 18. Pengangkatan dan pembinaan inspektur tambang serta pembinaan

jabatan fungsional provinsi. Dengan 18 poin tersebut tampak jelas bahwa kewenangan pemerintah provinsi di bidang energi dan sumber daya mineral atau

pertambangan cukup luas. Hal ini tentu menjadi suatu tantangan tersendiri bagi daerah untuk dapat merealisasikan kewenangan tersebut. Tetapi yang lebih penting untuk dipertimbangkan dalam merealisasikan kewenangan tersebut adalah menyangkut urgensitas dan prioritas dari tiap-tiap persoalan pertambangan untuk direalisasikan. Selanjutnya kewenangan pemerintah provinsi tersebut secara khusus dipertegas kembali dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam Pasal 7 ayat (1)

Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara tersebut dinyatakan, bahwa kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, antara lain meliputi: 1. 2. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah; pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil; 3. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan zusaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

4.

pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan yang berdampak lingkungan langsung lintas kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;

5.

penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian serta eksplorasi dalam rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sesuai dengan kewenangannya;

6.

pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan batubara, serta informasi pertambangan pada daerah/wilayah provinsi;

7.

penyusunan

neraca

sumber

daya

mineral

dan

batubara

pada

daerah/wilayah provinsi; 8. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha

pertambangan di provinsi; 9. pengembangan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan; 10. pengoordinasian perizinan dan pengawasan penggunaan bahan peledak di wilayah tambang sesuai dengan kewenangannya; 11. penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian serta eksplorasi kepada Menteri dan bupati/walikota; 12. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada Menteri dan bupati/walikota; 13. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

14. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota pertambangan. Baik Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, maupun Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, maka kewenangan yang diberikan kepada pemerintah provinsi, yang pertama, dan berarti pula yang utama, adalah kewenangan regulatif, yakni kewenangan membuat peraturan perundang-undangan daerah di bidang pertambangan mineral dan batubara. Hal ini berarti pemerintah provinsi berwenang menetapkan suatu peraturan daerah maupun peraturan gubernur di bidang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang dan batubara. Atas dasar pemikiran yuridis tersebut maka Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berwenang menyusun peraturan daerah di bidang Penyelenggaraan dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha

Reklamasi dan Pascatambang dan batubara. Meski demikian dari luas lingkup bidang pertambangan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi untuk dikelola dan diatur dengan peraturan daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur memandang kegiatan reklamasi dan pascatambang merupakan persoalan yang serius dan urgen untuk dibenahi sehingga dipandang mendesak untuk diatur tersendiri dengan peraturan daerah. Hal ini lebih

disebabkan oleh kondisi kualitas lingkungan di Kalimantan Timur yang sudah sedemikian merosot sebagai akibat dari penambangan sumber daya alam, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 8

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

khususnya batubara, secara berlebihan dan tidak diikuti dengan kegiatan reklamasi pada tahapan pascatambang.

Yang dimaksud dengan reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan serta ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sedangkan pascatambang merupakan

kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir dari sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan. Tujuannya, untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Jadi pemikiran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur ini sesungguhnya merupakan wujud kepedulian dan sekaligus sebagai upaya pencegahan, pengendalian, penyelamatan dan pelestarian fungsi dan/atau eksistensi sumber daya lingkungan, yang pada

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

gilirannya menyangkut pula upaya perlindungan umat manusia, khususnya masyarakat Kalimantan Timur, terhadap dampak lingkungan. Potensi sumberdaya alam, terutama batubara, yang dimiliki Kalimantan Timur memang cukup besar. Di satu sisi hal itu membawa nilai positif bagi perkembangan perekonomian daerah maupun nasional. Bahkan menurut Andi Harun (Bahan Presentasi 2013), bahwa aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur ini berbasiskan Sumber Daya Alam (Ekonomi SDA), memiliki konstribusi yang besar terhadap perkembangan ekonomi masyarakat maupun ekonomi daerah. Pada sisi lain, pihak pengelolaan sumber daya alam tersebut memerlukan kehati-hatian dari semua pihak dalam pelaksanaannya, sebab bisa menimbulkan dampak lingkungan manakala pengelolaannya tidak dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan, dan tidak berwawasan lingkungan berkelanjutan. Terdapat prinsip dalam pengelolaan lingkungan, bahwa setiap pemanfaatan sumber daya alam (lingkungan) senantiasa memiliki resiko lingkungan (environmental risk). Artinya, semakin intens kita melakukan ekploitasi terhadap sumber daya alam, maka akan semakin besar resiko yang bakal timbul, resiko itu adalah pencemaran dan/atau perusakan lingkungan (Emil Salim : 1991). Resiko yang dapat timbul atas pengelolaan suatu sumberdaya alam sesungguhnya bukan semata resiko lingkungan, tetapi juga memiliki dampak sosial atau resiko social tertentu. Terkait dengan pengelolaan sumber daya tambang, banyak data dan fakta yang menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan memiliki resiko lingkungan dan sosial yang besar, merugikan masyarakat umum yang

dengan demikian juga merugikan pemerintah atau negara. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 10

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Kondisi alam Indonesia uang pada umumnya dengan keterpadatan bahan galian yang dangkal mengakibatkan sebagian besar kegiatan pertambangan dilakukan dengan metode tambang terbuka, dimana pada kegiatannya memerlukan aktivitas penggalian yang berakibat pada terjadinya perubahan bentang. Perubahan bentang alam pada area dengan curah hujan yang tinggi berpotensi menurunkan fungsi lingkungan yang ditunjukkan dengan adanya erosi dan sedimentasi, air asam tambang, penurunan kualitas air permukaan dan air tanah, serta penurunan produktivitas lahan. Selain berpotensi menurunkan fungsi lingkungan, kegiatan

penambangan juga dengan terpaksa akan menggali dan memindahkan material yang tidak berharga dari penambangan dan sisa hasil pengolahan (tailing) yang berpotensi menimbulkan perusakan, pencemaran lingkungan dan bencana. Kegiatan pembukaan lahan di area hutan hujan tropis

berpotensi merusak ekosistem sebagai tempat hidupnya berjuta aneka ragam hayati. Sementara itu yang menyangkut resiko sosial terkait dengan perubahan sosial budaya dalam struktur masyarakat, perubahan ekologis yang berakibat pada perubahan sosial ekonomi dan budaya, misalnya banjir hingga terjadinya kematian jiwa. Data yang diperoleh Jatam Kaltim menunjukkan bahwa di Samarinda, dalam periode 2011-2012, terdapat 7 (tujuh) anak meninggal akibat lubang tambang dekat permukiman penduduk yang tidak ditutup oleh penambangnya. Kasus sejenis ini diduga masih

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

11

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

banyak terjadi di beberapa lokasi bekas penambangan, tetapi nyaris tidak terekpos karena tidak terliput oleh media dan/maupun tidak mendapat pengawasan, baik dari instansi yang berwenang maupun dari pihak luar, terutama lembaga swadaya masyarakat pemerhati pertambangan. Resiko sosial yang muncul sesungguhnya bukan saja dirasakan oleh warga di kawasan lokasi penambangan, namun juga warga di luar kawasan. Terjadinya kasus banjir yang banyak disebabkan oleh pola

pengelolaan tambang yang tidak baik pada akhirnya menjadi tanggungan pemerintah. Anggaran daerah yang mestinya bisa dialokasikan untuk pelayanan publik dan program peningkatan kesejahteraan masyarakat lainnya, menjadi terserap untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh perilaku segelintir pengusaha tambang (KOMPPAK : Kertas Posisi : 2013). Kegiatan penambangan batubara di Kalimantan Timur

sesungguhnya telah berlangsung sejak akhir Abad XVIII, dan mengalami ekskalasi sejak adanya kebijaksanaan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai buntut dari gerakan reformasi Tahun 1998, dimana pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas

pembantuan. Dalam rangka pengelolaan pertambangan, terutama tambang batubara, hingga saat ini di Kalimantan Timur telah diterbitkan izin usaha pertambangan (IUP) oleh pemerintah daerah sebanyak 1.337 izin (Wagub Kaltim, 7 Maret 2013), dan oleh pemerintah pusat sebanyak 33 PKP2B,

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

12

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

dengan jumlah keseluruhan lahan sekitar 5,2 juta Ha, atau 24% dari luas daratan Kalimantan Timur. Luasan ini diperkirakan bakalan terus meningkat mengingat data yang ada menunjukkan pertumbuhan pertahun yang terus meningkat (Koalisi Masyarakat Sipil Kaltim). Dampak negatif yang paling nyata dari pelaksanaan izin-izin pertambangan tersebut adalah timbulnya kerusakan lingkungan, termasuk timbulnya lubang-lubang raksasa atas permukaan tanah sebagai akibat belum dilakukannya reklamasi, atau pun dilakukan reklamasi tetapi tidak dijalankan sebagaimana standar kegiatan reklamasi. Ada yang beralasan bahwa belum dilakukannya reklamasi karena lubangan tersebut masih aktif sehingga kalau ditutup malah akan bisa merusak proses reklamasi. Kegiatan pertambangan yang tidak tereklamasi di Kalimantan Timur ini menjadi hal umum ditemukan, sementara di sisi lain, fakta ini belum difahami dengan benar oleh para pihak terkait (stakeholders), termasuk oleh yang berwenang. Banyak kasus pertambangan yang menimbulkan dampak pascapenambangan batubara

setelah potensi sumber daya alamnya habis. Rusaknya lingkungan alam, rusaknya sarana dan prasarana, bertambahnya angka pengangguran sebagai dampak kehilangan pekerjaan, serta menurunnya kondisi kesehatan

masyarakat sebagai akibat adanya dampak lingkungan. Kondisi tersebut sesungguhnya merupakan fakta hukum yang dapat dijadikan sebagai dasar tuntutan pertanggungjawaban hukum kepada pelaku usaha/kegiatan

pertambangan (Andi Harun : Bahan Presentasi: 2013).

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

13

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Tambang belum/tidak tereklamasi, pada poros Balipapan-Samarinda (Foto: M. Muhdar. 12 Maret 2012, 8.18 wita)

Di Kalimantan Timur saat ini terdapat paling kurang 94 lubangan lahan yang cukup besar sebagai bekas kegiatan penambangan, kata Kepala Dinas Pertambangan Kalimantan Timur, Amrullah (Amir Sarifudin Okezone, Kamis, 12 Januari 2012). Dari 94 lubang-lubang lahan pascatambang itu diperkirakan luasnya mencapai ratusan ribu hektar, dan paling banyak

terdapat di Kabupaten Kutai Kertanegara kemudian diikuti Kota Samarinda. Kawasan pascatambang batubara merupakan kawasan yang telah mengalami degradasi lingkungan dari fungsi lingkungan sebelumnya. Pengelolaan dan pemanfaatannya tidak hanya meliputi aspek lingkungan hidup, namun mencakup pula aspek ekonomi dan sosial. Proses

penambangan batubara itu membongkar bagian atas tanah ( over burden) dan memindahkan batuan. Pada penambangan secara terbuka, bahan non tambang atau sisa hasil penambangan berupa batu liat, batu pasir, dan bahan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

14

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

tanah lapisan atas ditimbun di suatu tempat sehingga membentuk bukit yang cukup besar dan tinggi menyerupai stupa, dengan lereng/tebing cukup terjal (antara 15-20%). Timbunan ini kelak digunakan untuk menimbun kembali lubang-lubang galian bekas tambang yang luasnya bisa mencapai ratusan hektar (Soekardi dan Mulyani, 1997). Tanah bekas tambang berbeda sifatnya dengan tanah yang terbentuk dan berkembang secara alami, diantaranya: kualitas fisik jelek karena berupa batuan; sifat kimia yang kurang baik, tingkat kesuburannya sangat rendah, toksisitas, dan kemasaman tinggi, kualitas hidrologi yang jelek dicirikan oleh rendahnya daya pegang air (water holding capacity), percepatan aliran permukaan (run off) dan erosi, serta kualitas biologi tanah rendah (Haigh, 2000). Kondisi tanah yang memiliki sifat perpaduan fisik, kimia, dan biologi tanah, merupakan satu faktor yang menentukan keberhasilan revegetasi lahan pascatambang. Diperlukan waktu cukup lama jika tanah pascatambang batubara diharapkan kembali pada keadaan semula, maka intervensi melalui kebijakan pengaturan reklamasi dan pascatambang menjadi pilihan penting agar degradasi kualitas lahan dapat diminimalkan. Tujuan dari reklamasi ini adalah untuk menstabilkan permukaan tanah sambil menyediakan kondisi fisik yang menunjang agar dapat terbentuk kembali suatu komunitas spesies tumbuhan asli yang beragam, atau dapat menyamai dengan kondisi lingkungan hutan primer. Cara lain adalah dengan melakukan kegiatan konservasi sebagai upaya memacu pelaksanaan reklamasi agar sebanding dengan laju aktifitas penambangan, serta untuk mengoptimalkan upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 15

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

pemulihan

lingkungan

pascatambang

sesuai

peruntukannya.

Kegiatan

konservasi diantaranya meliputi konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, konservasi tanah, dan konservasi air. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sementara itu pelaksanaan reklamasi terhadap kawasan pascatambang selama ini cenderung bersifat sekedarnya, sekedar memenuhi persyaratan formal dan tuntutan prosedur belaka.

Pengaturan mengenai kegiatan reklamasi dan pascatambang sebenarnya pernah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang, tetapi peraturan menteri ini sifatnya cuma pedoman sehingga tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Saat ini peraturan menteri tersebut sudah tidak berlaku demi hukum dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

16

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

reklamasi dan Pascatambang. Sementara Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 itu sendiri merupakan peraturan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 101 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan

Mineral dan Batubara. Dengan demikian aturan hukum yang berlaku mengenai reklamasi dan pascatambang saat ini adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tersebut sesungguhnya sudah terdapat norma hukum yang mewajibkan pemegang izin pertambangan untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan benar. Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan IUP Khusus Eksplorasi diwajibkan melakukan reklamasi, sedangkan pemegang IUP dan IPUK Operasi Produksi selain reklamasi juga diwajibkan untuk melakukan pascatambang pada lahan terganggu. Disamping itu, peraturan pemerintah tersebut juga mengatur ancaman sanksi administrasi bagi pengusaha yang tidak memenuhi kewajibannya melakukan reklamasi dan pascatambang sesuai aturan. Meski demikian, sesuai dengan nomenklaturnya, peraturan pemerintah ini tidak memuat ancaman sanksi pidana atau denda, dan hal ini menjadi kendala tersendiri dalam pelaksanaan reklamasi dan pascatambang. Pengalaman evaluasi terhadap kawasan/lingkungan pascatambang yang dilakukan oleh Pusat Studi Reklamasi Tambang Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyakat Institut Pertanian Bogor menunjukkan faktafakta sebagai berikut : a. Tidak dilakukan pengelolaan stock pile tanah pucuk dengan baik, sehingga mengakibatkan tanah pucuk hilang tererosi; Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 17

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

b. Penataan lahan tidak mengikuti kaidah konservasi; c. Penanam cover crop sebagai mulsa sering terlambat, sehingga terjadi erosi dan sedimentasi yang cukup tinggi; d. Tidak dilakukan perbaikan kualitas tanah, seperti penyesuaian pH tanah, penambahan bahan organik, pemupukan; e. Tidak dilakukan pemeliharaan tanaman, seperti penyiangan, pemupukan, pengendalian hama penyakit; f. Pemeliharaan check dam, settling pond, dan lain-lain kurang diperhatikan; g. Pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang kurang maksimal; dan h. Program pengelolaan timbunan batuan penutup sangat jarang dilakukan. Kegiatan pertambangan yang tidak disertai atau disertai reklamasi dan pascatambang tetapi tidak dilaksanakan sesuai standar kegiatan, dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, menyebabkan penurunan mutu dan fungsi lingkungan, kerusakan ekosistem, yang selanjutnya dapat

mengancam dan membayakan

kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

Gejala yang ditimbulkan antara lain : kondisi fisik, kimia, dan biologis tanah menjadi buruk, seperti lapisan tanah tidak berprofil, terjadi pemadatan tanah (bulk density), kekurangan unsur hara yang penting, pH rendah, pencemaran oleh logam-logam berat pada lahan bekas tambang, penurunan populasi mikroba tanah, riskan terjadi banjir, tanah longsor, erosi, dsb. Sebagai ilustrasi, dalam APBD Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2013 ini, telah dianggarkan untuk penaggulangan banjir dan kerusakan lingkungan sebesar Rp 602 milyar (KOMPPAK, Kertas Posisi, 2013). Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 18

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Gambaran permasalahan lingkungan pertambangan di atas patutlah menjadi keprihatinan semua pihak yang untuk selanjutnya perlu dicarikan terobosan-terobosan sebagai solusi efektif. Sebagai wujud perhatian, keprihatinan, dan kepedulian terhadap kepentingan ligkungan dan

kepentingan bersama umat manusia, Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Kalimantan Timur berinisiatif membuat solusi dengan melakukan terobosan pembuatan rancangan peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang. Rancangan peraturan daerah tersebut didesain bukan untuk menduplikasi ketentuan yang telah ada dalam peraturan perundangundangan, tetapi memilih dan memiliki beberapa isu-isu strategis berdasarkan fakta sebagai bagian penguatan atas aturan yang telah ada saat ini, diantaranya mengenai: Efektifitas jaminan dana reklamasi dan pascatambang;

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

19

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

lembaga pengawasan yang efektif, responsiv, dan partisipatif terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang;

penerapan sanksi yang efektif terhadap pelanggaran system reklamasi dan pascatambang, baik sanksi administrative maupun sanksi pidana; dsb. Dalam rangka penyusunan rancangan peraturan daerah Provinsi

Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatabang tersebut, maka terlebih dalu dilakukan kajian akademis guna memperoleh dasar pembenar yang objektif serta demi kesempurnaan substansi rancangan peraturan daerah tersebut. Kajian akademis tersebut dilakukan terhadap segala dan semua permasalahan reklamasi dan pascatambang, baik terhadap fakta-fakta, teori-teori, maupun norma-horma hukum yang ada, yang hasilnya dituangkan dalam bentuk Naskah Akademik. Dengan demikian Naskah Aklademik ini merupakan bentuk argumentasi objektif dan

pertanggungjawaban ilmiah terhadap urgensi pembentukan peraturan daerah Provinsi Tambang. Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah Dengan latar belakang masalah dan pemikiran sebagaimana terurai di atas, maka untuk lebih mempertajam permasalahannya daerah, sebagai ini

argumentasi

penyusunan

rancangan

peraturan

berikut

dikemukakan identifikasi beberapa permasalahan yang merupakan kendala dalam pelaksanaan dan penegakan hukum terhadap kegiatan reklamasi dan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

20

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

pascatambang di Kalimantan Timur. Identifikasi permasalahan tersebut dapat dijadikan rujukan dalam merumuskan materi muatan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan

Pascatambang. Adapun permasalahan yang dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Terjadi kerusakan lingkungan pada kawasan pascatambang batubara, yatu : kemampuan fungsi lahan menurun, dan air menjadi bersifat asam. 2. Terdapat ribuan hektar lahan pascatambang berupa lubangan yang membayakan keselamatan manusia dan lingkungan, sebagai akibat tidak ditutup kembali oleh pengusaha tambang. 3. Munculnya dampak social-ekonomi pada masyarakat di sekitar kawasan pascatambang batubara. 4. Implementasi terhadap aturan dan kebijakan kegiatan reklamasi dan pascatambang batubara belum terlaksana secara optimal, aturan dan kebijakan yang ada belum mengakomodasikan kebutuhan stakeholder. 5. Tidak adanya system pengawasan yang aktif dan efektif oleh yang berwenang terhadap pelaksanaan kegiatan reklamasi dan pascatambang. 6. Belum tersedianya disain strategi dan kebijakan untuk pengelolaan kawasan pascatambang batubara yang berkelanjutan berbasis kebutuhan stakeholder dengan mengakomodir dimensi ekologi, ekonomi dan sosial. 7. Belum adanya suatu peraturan perundang-undangan yang memuat ancaman sanksi tegas terhadap penambang yang tidak melakukan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

21

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

reklamasi dan pascatambang, atau melakukannya tapi tidak sebagaimana mestinya. Sesungguhnya masih banyak permasalahan lainnya terkait dengan permasalahan reklamasi dan pascatambang, tetapi apa yang telah

diidentifikasi di atas dipandang sebagai representasi permasalahan reklamasi dan pascatambang yang patut diakomodasi dalam penyusunan rancangan peraturan daerah yang hendak dibentuk nantinya. Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut, maka output dari penyusunan naskah akademik ini adalah dalam rangka menjawab rumusan masalah sebagai berikut : a. Bagaimanakah membentuk peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang reklamasi dan pascatambang yang responsif, akomodatif, dan aplikatif? b. Sejauhmanakah pembentukan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur ini memiliki landasan pembenar secara filosofis, sosiologis, yuridis, maupun ekologis?

C. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Maksud pembuatan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang ini, pertama-tama adalah untuk memenuhi ketentuan

perundang-undangan sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

22

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2011 tentang Produk Hukum Daerah, bahwa setiap pembuatan peraturan perundang-undangan, dalam hal ini adalah Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang, terlebih dulu dilakukan kajian akademis yang dituangkan dalam Naskah Akademis. Yang kedua, pembuatan Naskah Akademik ini dimaksudkan untuk memberi gambaran dan alasan yang objektif mengenai tingkat urgensitas

peraturan daerah ini dibuat. Secara objektif pelaksanaan reklamasi dan pascatambang di Provinsi Kalimantan Timur ini sangat lemah, tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan hal ini telah membawa dampak yang cukup membayakan terhadap pelestarian fungsi-fungsi komponen lingkungan dan/maupun perlindungan kepentingan penghidupan masyarakat. Dampak terhadap fungsi lingkungan dan penghidupan masyarakat tersebut makin hari makin besar seiring dengan lajunya kegiatan pertambangan batubara di Provinsi Kalimantan Timur. Yang ketiga, pembuatan naskah akademik ini merupakan upaya untuk mempertemukan persepsi ataupun pemikiran dari berbagai pihak berkenaan dengan permasalahan reklamasi dan pascatambang, terutama pihak Pemerintah Daerah sebagai yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan pertambangan, pihak pengusaha tambang sebagai pelaksana di lapangan, pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, pihak lembaga-lembaga kajian di berbagai perguruan tinggi, pihak lembaga swadaya masyarakat, pihak pemerhati masalah pertambangan dan lingkungan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 serta pihak 23

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

masyarakat

umum

lainnya,

mengenai

pentingnya

reklamasi

dan

pascatambang di Provinsi Kalimantan Timur ini diatur dan ditegakkan dengan sebaik-baiknya agar masyarakat dapat terhindar dari bencana-bencana lingkungan. Dan yang keempat, pembuatan naskah akademik rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang ini dimaksudkan untuk memberi dasar pertanggungjawaban objektif dan ilmiah , sehingga diharapkan dapat meningkatkan sifat penerimaan oleh masyarakat, dan meningkatkan

efektivitas pelaksanaannya, serta memperkecil kemungkinan terjadinya resistensi dari kelompok-kelompok masyarakat terhadap peraturan daerah ini.

2. Tujuan Pembuatan Naskah Provinsi Kalimantan Timur Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan

Pascatambang antara lain bertujuan sebagai berikut : a. Untuk memberi landasan pemikiran bagi penyusunan rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang. Substansi peraturan daerah tersebut dapat

memperkuat dan menyempurnakan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam peraturan perudang-undanan yang ada tentang reklamasi dan pascatambang.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

24

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

b. Memberi dasar argumentasi dan landasan pembenar secara filosofis, sosiologis, ekologis, maupun secara yuridis terhadap penyusunan rancangan peraturan daerah tersebut, sehingga keberadaannya dapat dipertanggung jawabkan. c. Memberi arah dan pedoman didalam menuangkan pokok-pokok pikiran, norma dan kaidah ke dalam rumusan pasal-pasal dalam Ranperda lebih

tersebut berkenaan dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang yang baik, optimal, efektif, transparan, dan berkeadilan. d. Mempertajam pengertian, konsep, dan norma hukum sehingga dapat menambah bobot kualitas rancangan peraturan daerah tentang

penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang tersebut. e. Pada akhirnya dengan naskah akademik ini dapat memberi penguatan secara politis dan sosiologis terhadap rancangan peraturan daerah tersebut.

D. Metode Penyusunan Penyusunan Provinsi Kalimantan naskah Timur akademik tentang rancangan peraturan daerah dan

penyelenggaraan

reklamasi

pascatambang ini dilakukan dengan mengaji dan menguji kaidah-kaidah hukum pertambangan, hukum lingkungan, dan hukum perizinan. Kajian akademis tersebut dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan, literatur-literatur, selanjutnya dilakukan kajian terhadap data, fakta, dan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

25

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

informasi-informasi lapangan (field) di Provinsi Kalimantan Timur guna memperoleh gambaran yang lebih realistik. 1. Kajian Pustaka Kajian pustaka dimaksudkan untuk mengkaji persoalan kegiatan reklamasi dan pascatambang, baik dikaji dari aspek filosofinya, aspek sosiologi, aspek ekologi, aspek yuridisnya, maupun aspek efektivitasnya. Hal ini dimaksudkan agar peraturan daerah yang dibentuk ini memiliki dasar teoritik yang kuat. Pertama-tama dilakukan kajian secara mendalam terhadap UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara untuk diketahui apa yang menjadi filosofi, politik hukum, kaidah-kaidah,

maupun substansi dari pengelolaan pertambangan secara umum. Selanjutnya untuk mengetahui apa-apa yang merupakan kewenangan pemerintah provinsi di bidang pengaturan reklamasi dan pascatambang, maka disamping dikaji Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, juga dikaji Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota. Selanjutnya untuk memperkaya dan mempertajam kajian, serta untuk memperluas wawasan reklamasi, ditelusuri pula mengenai teori-teori pertambangan literatur-literatur, hasil penelitian, dan hasil

worshop/seminar, majalah-majalah, terbitan-terbitan resmi, koran, internet, berita media elektronik, dan lain-lain sumber data terkait. Data dan informasi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

26

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut diinventarisasi, diverifikasi, diidentifikasi sesuai jenis dan sifat permasalahannya, selanjutnya dianalisis untuk diperoleh intisari pokok-pokok permasalahannya, dan selanjutnya

dirumuskan dalam suatu pokok pikiran untuk dijadikan bahan dalam pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang

Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang.

2. Kajian Lapangan (field) Kajian lapangan (field) perlu dilakukan untuk bahan penyempurna hasil kajian pustaka. Kajian lapangan dilakukan secara wawancara dan diskusi-diskusi dengan pimpinan satuan kerja perangkat daerah Provinsi

Kalimantan Timur, beberapa anggota Dewan, para pakar (akademisi), praktisi hukum, para tokoh masyarakat, para pengusaha tambang, dan beberapa anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM), untuk dapat menemukan pokok permasalahan dan simpulan, serta upaya-upaya yang dapat ditempuh oleh semua pihak sebagai masukan ataupun saran jalan keluar. Beberapa tahapan kegiatan yang pernah dilakukan dalam rangka penyusunan naskah akademik rancangan peraturan daerah ini, diantaranya : Pertama-tama dilakukan diskusi internal Pansus sebagai tahapan persiapan dan kesiapan guna menentukan arah dan lingkup pengaturan. Tahap berikutnya Pansus melakukan diskusi keluar dengan melibatkan SKPD dalam lingkup Provinsi guna lebih memantapkan sunstansi dan lingkup Pengaturan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

27

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Tim Pansus Dewan melakuan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Berau guna memperoleh data dan informasi awal berkenaan dengan permasalahan reklamasi dan pascatambang. Tim Pansus melakukan konsultasi ke Kementerian ESDM di Jakarta guna memperoleh informasi mengenai kebijakan kementerian dan teknisnya terkait dengan reklamasi dan pascatambang. Tim Pansus juga sempat melakukan konsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, guna memperoleh informasi dari segi kebijakan lingkungan. Sebab persoalan reklamasi dan pascatambang ini lebih dimunan sebagai aspek lingkungan hidup. Konsultasi dengan Departemen Kehutanan RI di Jakarta guna memperoleh informasi mengenai status pinjam pakai kawasan hutan dalam kegiatan pertambangan. Konsultasi dengan Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta dimaksudkan untuk memperoleh informasi berkenaan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan, dan jangkauan pengaturan yang dimungkinkan dalam rancangan peraturan daerah provinsi yang hendak dibentuk ini. Tim Pansus juga melakukan konsultasi dan diskusi dengan beberapa pakar/ akademisi, antara lain dengan UNHAS, IPB, dan GIZ, menyangkut aspek content rancangan peraturan daerah, aspek legal drafting, dan kriteria teknis dalam pelaksanaan reklamasi dan pascatambang. Rapat dengar pendapat dengan pengusaha tambang PKP2B (sebagai pelaku reklamasi dan pascatambang) sempat dilakukan sebanyak 3x. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 28

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Tim Pansus juga melakukan studi banding ke Pemerintah Provinsi Jambi untuk memperoleh informasi pengalaman mereka dalam mengelola sistem perizinan, reklamasi, dan pascatambang. Studi banding juga dilakukan pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, sebab provinsi tersebut merupakan provinsi kedua di Indonesia yang mengeluarkan IUP terbanyak, dan telah melakukan harmonisasi kebijakan antara pemerintah provinsi dengan kabupaten dari sisi aspek pengawasan kegiatan reklamasi dan pascatambang. Juga sempat dilakukan pertemuan dengan para bupati/walikota seKalimantan Timur guna membahas penyelenggaraan pengawasan dan sistem perizinan pertambangan. Akhirnya Pansus bekerjasama dengan Tim Pakar dari Universitas Muslim Indonesia Makassar dalam penyusunan dan perampungan Naskah Akademik rancangan Peraturan Daerah Kalimantan Timur tentang

Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang. Disamping tahapan di atas, berikut ini dikemukakan beberapa kegiatan dalam rangka penyusunan naskah akademik tersebut, yaitu: Waktu Kegiatan Tujuan Keterangan Tenaga Ahli Pansus, GIZ, dan IPB

Paparan Tim GIZ/ Jerman mengenai 04-04 kriteria keberhasilan Penguatan dari Aspek Jam 10- reklamasi dan Teknis 12 Wita pascatambang pada area Kaltim 04-04 Paparan draft Penguatan sisi Konten Jam 14- pembanding atau selesai Naskah Akademik Tim dan aspek legal drafting

TA Pansus dan Tim UMI

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

29

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

UMI 05-04 Review Hasil diskusi Jam 10- Tenaga Ahli dan Pihak Ketiga (UMI, IPB/GIZ) 11.30 8-04 Jam 14- Sosialisasi draft selesai Diskusi dalam format pembahasan 13-04 berdasarkan isu Jam 09- (kelembagaan, sistem selesai perizinan, reklamasi, dan pascatambang Draft untuk konsultasi Publik dengan Civil Sociaty Organization (CSO) dan SKPD Tim Pansus, TA, GIZ/IPB, UMI, dan Staff Pansus

Melahirkan komunikasi Tim Pansus, diantara penyelenggara TA, GIZ,/IPB, pemerintah daerah dan UMI terhadap materi draft Mendapatkan masukan dari aliansi CSO di Kaltim dan Jakarta terhadap penyempurnaan Draft Tim Pansus, TA, GIZ,/IPB, Prof. Abrar (UNHAS) dan Tim-UMI

Dalam pertemuan hari Sabtu tanggal 13 April 2013 tersebut, draft rancangan peraturan daerah yang telah ada mendapat tanggapan dan masukan dari kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pemantau Pertambangan Kaltim (KOMPAKK). Tanggapan dan masukan tersebut sangat bagus, dan sedapat mungkin akan diakomodasi dalam penyempurnaan rancangan peraturan daerah tersebut.

E. Sistematika Penulisan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Provinsi

Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi uraian mengenai permasalahan dan dasar pemikiran yang melatarbelakangi pembuatan naskah akademik, identifikasi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

30

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

permasalahan, tujuan dan manfaat, akademik, serta sistematika

metode penulisan naskah itu sendiri. Dengan

penulisan

pendahuluan ini diharapkan dapat memberi gambaran yang objektif mengenai pentingnya peraturan daerah ini dibuat. Disamping itu juga digambarkan mengenai proses dan metode pengolahan dan analisis atas segala informasi dan data yang digali dari sumbernya, selanjutnya dirumuskan dan disusun dalam suatu naskah

rancangan peraturan daerah. BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG Pada bagian ini dikemukakan teori-teori keilmuan dan norma-norma hukum yang terkait dengan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang. Selanjutnya atas dasar kajian teori tersebut lantas diperbandingkan dengan praktik empiris penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang di Kalimantan Timur selama ini. Dengan

komparasi itu maka dapat diketahui permasalahan dan solusinya, serta segi pengembangan yang dapat diterapkan ke depan.

BAB III

ANALISIS

PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN

TERKAIT

PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG Dalam bab ini diuraikan mengenai analisis peraturan perundangundangan yang menjadi landasan yuridis penyelenggaraan

reklamasi dan pascatambang. Analisis yuridis dimakksudkan untuk mencari dan menemukan keserasian, harmonisasi, dan sinkronisasi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

31

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

antar-peraturan

perundang-undangan

yang

terkait

dengan

pengaturan reklamasi dan pascatambang, untuk diintrodusir dan diserasikan substansinya satu sama lain, dan selanjutnya disusun sebagai materi muatan peraturan daerah. BAB IV LANDASAN DAERAH PENYUSUNAN PROVINSI RANCANGAN TIMUR PERATURAN TENTANG

KALIMANTAN

PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG Pada bab ini berisi uraian telaah akademis terhadap teori-teori dan norma-norma hukum yang terkait dengan hukum pertambangan, pengelolaan pertambangan, maupun usaha pertambangan. Dalam kajian ini dikelompokkan dalam empat landasan, yaitu landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan ekologis, dan landasan yuridis. Hasil kajian akademis tersebut dimaksudkan untuk lebih memperkuat argumentasi dan urgensi pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang. BAB V ARAH MATERI MUATAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TENTANG

PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG Bab ini berisi penjelasan singkat mengenai pokok-pokok pikiran dan maupun latar belakang pemikiran yang merupakan substansi dari rancangan peraturan daerah tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang. Disamping itu, keseluruhan materi pokok-pokok pikiran tersebut berfungsi sebagai argumentasi atas susunan dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 32

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

sistematika materi muatan rancangan peraturan daerah tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang. BAB VI KESIMPULAN Bab ini merupakan bagian penutup dari Naskah Akademik yang berisi simpulan dari keseluruhan materi naskah akademik dan rekomendasi sebagai tindak lanjut, serta dilengkapi dengan daftar pustaka sebagai referensi pendukung. LAMPIRAN : Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

33

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Pada bagian ini dikemukakan teori-teori yang relevan dengan persoalan reklamasi dan pascatambang. Teori-teori ini merupakan standar keilmuan dan/maupun standar norma, sehingga dengan mengemukakan teori ini maka dapat dijadikan dasar atau patokan dalam mengevaluasi seberapa jauh kegiatan empirik reklamasi dan pascatambang selama ini sudah bersesuaian dengan standar keilmuan dan standar norma tersebut. Teori-teori yang dipandang relevan terkait dengan persoalan reklamasi dan pascatambang ini, diantaranya adalah teori perizinan, kriteria keberhasilan reklamasi dan pascatambang, teori pembanguan berkelanjutan, maupun teori penegakan hukum (law enforcement).

A. T e o r i P e r i z i n a n Relevansi teori perizinan dengan persoalan reklamasi dan pascatambang adalah, bahwa rencana reklamasi dan pascatambang itu pada hakekatnya juga lembaga izin, ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan izin pertambangan. Ketika seseorang mengajukan permohonan izin pertambangan (IUP Ekplorasi dan IUP Ekploitasi Produksi), maka bersamaan itu harus pula mengajukan rencana reklamasi dan pascatambang. Di sini secara normativ harus dipahami bahwa permohonan IUP tidak akan diproses manakala

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

34

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

tidak disertai dokumen rencana reklamasi dan pascatambang. Dan justru pada dokumen rencana reklamasi dan pascatambang itulah pertimbangan pemberian izin disandarkan. Apakah sesungguhnya izin itu? Lembaga perizinan

merupakan salah satu bentuk pelaksanaan dari pengaturan yang bersifat pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Lembaga izin dipergunakan oleh pemerintah untuk mengendalikan warganya agar dalam melaksanakan suatu kegiataan atau usaha bersuaian dengan tata cara dan tata pola tertentu dengan maksud untuk menghindarkan atau memperkecil terjadinya hal-hal yang negative atau merugikan kepentingan bersama. Menurut N.M. Spelt dan J.B.J.M ten Berge, pakar hukum Belanda, bahwa izin merupakan suatu persetujuan dari penguasa yang berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan larangan

perundang-undangan. Hal ini menyangkut perkenan bagi suatu tindakan yang demi kepentingan umum mengharuskan pengawasan khusus atasnya (J.B.J.M ten Berge, 1993, hlm 2). Izin digunakan oleh penguasa sebagai instrumen untuk

mempengaruhi (hubungan dengan) para warga

agar mau mengikuti cara

yang dianjurkan guna mencapai tujuan konkretnya. Di sini fungsi izin adalah sebagai sarana yuridis untuk mengemudikan tingkah laku para warga. Dengan memberi izin, penguasa memperkenankan orang yang bermohon tersebut

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

35

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

untuk melakukan tindakan-tindakan yang dimohonkan, tetapi harus dilakukan dengan cara-cara yang ditentukan oleh penguasa. Dalam keputusan izin yang diberikan, biasanya tercantum batasan-batasan yang menjadi hak dan kewajiban bagi pemegang izin tersebut. Berhubung dengan itu, pemegang izin menjadi terikat secara hukum dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam keputusan izin. Jika ketentuan dalam izin itu tidak dipatuhi, maka

kepada pemohon atau pemegang izin dapat diberikan sanksi-sanksi sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Biasanya, sanksi-sanksi tersebut dicantumkan secara tegas dalam izin yang diberikan, misalnya sanksi dalam IMB, dapat berupa peringatan, perintah penghentian bekerja sementara, penyegelan alat-alat tertentu, sampai pencabutan kembali izin. Menurut Sjahran Basah, bahwa izin sebagai perbuatan administrasi Negara bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan ke dalam hal konkreto berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaiana ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. Sementara menurut W.F. Prins, bahwa izin ( vegunning) adalah keputusan administrasi negara berupa peraturan yang pada umumnya tidak melarang suatu perbuatan tapi masih juga memperkenankan asal saja diadakan secara yang ditentukan untuk masingmasing hal yang kongkret (Prins, 1987, hlm 50). Terdapat beberapa fungsi dari setiap izin, yang utama adalah fungsi pengendalian (sturen). Dalam pengetian ini, melalui instrumen izin segala kegiatan atau usaha dikendalikan dan diarahkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prosedur dan kriteria tertentu yang diatur dalam perundang-

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

36

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

undangan. Dalam hal ini Philipus M. Hadjon (1993, hlm 1) dengan tepat menguraikan masalahanya sebagai berikut : Sturen merupakan suatu kegiatan yang kontinyu. Kekuasaan pemerintahan dalam hal menerbitkan izin mendirikan bangunan misalnya tidaklah berhenti dengan diterbitkannya izin mendirikan bangunan. Kekuasaan pemerintahan senantiasa mengawasi agar izin tersebut digunakan dan ditaati. Dalam hal pelaksanaan mendirikan bangunan tidak sesuai izin yang diterbitkan, pemerintah akan menggunakan kekuasaan penegakan hukum berupa penertiban yang mungkin berupa tindakan pembongkaran bangunan yang tidak sesuai. Pandangan tersebut tidak dimaksudkan secara khusus menjelaskan tentang IMB, melainkan menerangkan makna sturen dalam kaitannya dengan pengertian pemerintahan yang dalam istilah Belanda adalah bestuur. Fungsi izin berikutnya adalah fungsi perlindungan hukum. Pada satu sisi izin merupakan bentuk tindakan preventif terhadap kemungkinan timbulnya masalah yang dapat merugikan kepentingan orang perorang, kelompok orang, maupun kepentingan umum. Tetapi pada sisi yang lain, izin memberikan perlindungan bagi kegiatan atau usaha yang dimohonkan izin itu. Dengan adanya izin, maka kegiatan atau usaha yang diberi izin tersebut

berarti legal atau sah, dengan demkian berhak memperoleh perlindungan hukum dari pemerintah terhadap kemungkinan adanya gangguan ataupun ancaman dari pihak manapun dan siapapun, termasuk dari pihak pemerintah itu sendiri. Fungsi yang ketiga dari izin adalah fungsi anggaran ( budgetair), yaitu sebagai instrument untuk mengisi kas daerah (PAD). Sebenarnya fungsi ini bukan yang utama dalam setiap izin. Yang utama adalah, izin sebagai

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

37

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

instrumen

pengendali

kegiatan.

Fungsi

pemasukan

keuangan

dalam

pengurusan suatu izin, sekedar merupakan fungsi pelengkap (complementer), namun dalam perkembangannya, fungsi komplementer itu justru kerap menjadi semakin dominan. Terkait dengan perizinan pertambangan, dalam teori dikelompokkan sebagai jenis Konsesi, yaitu izin yang objeknya berkenaan dengan hak kedaulatan negara. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia ditentukan, bahwa sumber daya pertambangan dikuasai oleh negara dan diperuntukkan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33). Karena itu sesuai dengan fungsi sturen tersebut, pemberian izin pertambangan harus diikuti dengan pengawasan yang ketat untuk menjamin tercapainya tujuan pemberian izin. Dalam pengawasan ini termasuk terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang yang merupakan bagian tak terpisahkan dengan izin pertambangan.

B. Reklamasi dan Pascatambang Dalam Undang-Undang No. 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba), tersirat tujuan pembangunan

berkelanjutan berwawasan lingkungan untuk meningkatkan mutu kehidupan secara menyeluruh, baik untuk generasi saat ini maupun untuk generasi masa mendatang. Pembangunan berwawasan lingkungan dalam aspek

pertambangan berkaitan dengan cara mempertahankan proses-proses ekologi yang menjadi tumpuan kehidupan melalui kegiatan reklamasi dan

pascatambang. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 38

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Kegiatan pertambangan jika tidak dilaksanakanan secara tepat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar. Dampak lingkungan yang mungkin timbul akibat kegiatan pertambangan antara lain: penurunan produktivitas lahan, tanah bertambah padat, terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya gerakan tanah atau longsoran, terganggunya flora dan fauna (keanekaragaman hayati), terganggunya kesehatan masyarakat, serta

perubahan iklim mikro. Oleh karena itu, perlu dilakukan reklamasi dan pascatambang yang tepat, sesuai peruntukannya, dengan menghormati nilainilai sosial dan budaya setempat. Keberhasilan pengelolaan pertambangan bergantung pada

pengenalan, pencegahan dan pengurangan dampak kegiatan terhadap lingkungan. Perlindungan lingkungan membutuhkan perencanaan yang cermat dan komitmen semua tingkatan & golongan perusahaan

pertambangan. Pengelolaan pertambangan yang baik menuntut proses yang terus menerus dan terpadu pada seluruh tahapan pertambangan. Pascatambang merupakan kegiatan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Pascatambang dilakukan secara terencana, sistematis dan berlanjut. Keberlanjutan ini meliputi kegiatan akhir sebagian (bila dalam tahap operasi produksi ada sebagian wilayah yang diminta dan/atau akan diserahkan) hingga akhir keseluruhan usaha pertambangan. Dalam Pasal 99 dan Pasal 100 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba ditentukan, bahwa setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 39

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

rencana pascatambang dan melaksanakan reklamasi dan pascatambang. Dalam rangka menjamin kesungguhan pelaksanaan reklamasi dan

pascatambang, setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menempatkan Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang. 1. Prinsip Reklamasi dan Pascatambang Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi dan partisipasi masyarakat. Prinsip pengelolaan

lingkungan hidup meliputi perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah, air laut, tanah, dan udara sesuai dengan standar baku mutu lingkungan hidup dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berhubung

keanekaragaman hayati begitu kaya, maka reklamasi tambang wajib mempertimbangkan perlindungan keanekaragaman hayati tersebut. Untuk memastikan keamanan daerah timbunan bagi lingkungan sekitarnya,

reklamasi dan pascatambang juga harus menjamin stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang serta struktur buatan (man made structure) lainnya. Selanjutnya, reklamasi dan

pascatambang pun harus memiliki nilai manfaat sesuai peruntukannya, dan menghormati nilai-nilai sosial & budaya setempat.

2. Tata Laksana Reklamasi dan Pascatambang Dalam UU Minerba, reklamasi didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata,

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

40

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Karena itu kegiatan reklamasi operasi

dilaksanakan sejak pada tahap eksplorasi sampai pada tahapan produksi.

Pemegang IUPK eksplorasi wajib melakukan reklamasi terhadap lahan terganggu akibat kegiatan eksplorasi, meliputi reklamasi lubang pengeboran, sumur uji, dan/atau parit uji. Pada tahap eksplorasi, pemegang IUP dan IUPK harus menyiapkan rencana reklamasi yang akan dilaksanakan pada tahap operasi produksi, diantaranya dengan membuat tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang, rencana pembukaan lahan, program reklamasi pada lahan bekas tambang dan di luar bekas tambang, kriteria keberhasilan reklamasi dan rencana biaya reklamasi. Yang tercakup dalam lahan di luar bekas tambang adalah timbunan tanah penutup, timbunan bahan baku/produksi, jalan transportasi, instalasi pengolahan, instalasi pemurnian, kantor dan perumahan, pelabuhan, lahan penimbunan dan pengendapan tailing. Sejak awal tahap eksplorasi, rencana pascatambang sudah disiapkan, meski umur tambangnya masih beberapa puluh tahun yang akan datang. Proses perencanaan tersebut dilakukan bersamaan dengan

penyusunan studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Isi rencana pascatambang tersebut harus memuat profil wilayah, deskripsi kegiatan pertambangan, rona lingkungan akhir lahan pascatambang program pascatambang, organisasi, kriteria keberhasilan pascatambang dan rencana biaya pascatambang. Namun, dalam menyusun rencana 41

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

pascatambang, pemegang IUP dan IUPK harus berkonsultasi dengan instansi pemerintah dan/atau instansi pemerintah daerah yang membidangi

pertambangan mineral dan/atau batubara, instansi terkait, dan masyarakat. Hal itu dilakukan untuk mengakomodasikan kepentingan pemerintah dan masyarakat.

Reklamasi dan pascatambang dinyatakan selesai bila telah berhasil memenuhi kriteria keberhasilan. Keberhasilan reklamasi bisa dicapai apabila berbagai tahapan dalam kegiatan reklamasi dipenuhi: Penataan Lahan: Pengelolaan tanah pucuk, pengelolaan overburden, stabilitas lereng, pencegahan erosi dan sedimentasi, rencana void akhir. Revegetasi: penaburan tanah pucuk, perbaikan kualitas tanah, populasi tanaman per ha, perawatan tanaman. Pengkayaan tanaman.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

42

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Pemantauan Lingkungan: pemantauan geoteknik, pemantauan kualitas tanah, pemantauan erosi dan sedimentasi, kualitas air, air asam tambang, keberhasilan revegetasi. Namun, bila reklamasi berada di kawasan hutan, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, maka pelaksanaan dan kriteria keberhasilannya disesuaikan setelah berkoordinasi dengan instansi terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Jaminan Reklamasi dan Pascatambang Pemerintah menetapkan kebijakan bagi setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menempatkan Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang. Jaminan tersebut diperlukan sebagai wujud kesungguhan setiap pemegang IUP dan IUPK untuk memulihkan lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas tambang sesuai peruntukan yang disepakati para pemangku

kepentingan dalam rangka pembangunan berkelanjutan. Besaran Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang dihitung berdasarkan rencananya, dengan ketentuan harus cukup untuk menutup seluruh biaya reklamasi dan pascatambang. Jika besaran dana jaminan tersebut ternyata tidak mencukupi, maka hal itu menjadi kewajiban pemegang UP/IUPK. Penempatan jaminan yang dilakukan oleh pemegang IUP dan IUPK, bukan berarti menghilangkan kewajiban perusahaan melaksanakan reklamasi dan pascatambang. Penempatan jaminan reklamasi dimohonkan kepada

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

43

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

perusahaan beserta bentuk jaminannya. Bentuk jaminan reklamasi yang diperbolehkan adalah deposito berjangka, bank garansi, atau cadangan akuntansi. Dalam peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang, bentuk jaminan reklamasi ditetapkan deposito berjangka. Jaminan pascatambang ditempatkan setiap tahun sesuai dengan umur tambangnya saat mulai menempatkannya. Bila kegiatan usaha pertambangan berakhir sebelum masa yang telah ditentukan dalam rencana pascatambang, perusahaan tetap wajib menyediakan jaminan pascatambang sesuai dengan yang telah ditetapkan.

C. Pembangunan Berkelanjutan Konsep pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan semula merupakan program yang mengintegrasikan kegiatan pembangunan dengan konsep dan kepentingan lingkungan. Setiap kegiatan pembangunan wajib mempertimbangkan aspek kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang

berkesinambungan. Konsep tersebut pertama kali dikemukakan oleh Komisi Dunia tentang Pembangunan dan Lingkungan Hidup World Commision on Environment and Development (WCED) dalam sebuah Our Common Future dengan pernyataannya : Development that meets of the present without compromising the ability of the future generation to meet their own needs, yang kurang lebih maknanya adalah, bahwa pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 44

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan konsep tersebut lantas berkembang dan dijadikan rujukan oleh berbagai kajian dan maupun kebijakan pada berbagai Negara. Menurut Koesnadi Hardjasoemantri (1990, Hal 127) pembangunan berwawasan lingkungan yaitu pembangunan dengan memperhatikan

kepentingan lingkungan, atau tanpa merusak lingkungan. Pembangunan berkesinambungan atau berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Ini artinya, bahwa setiap kegiatan pembangunan, termasuk kegiatan pertambangan, harus memperhitungkan segala kemungkinan timbulnya dampak lingkungan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Rencana reklamasi dan pascatambang merupakan salah satu instrumen pertambangan dalam rangka mempertahankan dan melindungi fungsi-fungsi lngkungan serta sebagai upaya pengendalian terjadinya dampak. Dalam dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005, disebutkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak saja

berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan, tetapi lebih luas daripada itu mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Ketiga dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada Pasal 1 angka 3

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

45

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

dikemukakan bahwa Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tidak lagi mencantumkan kalimat berwawasan lingkungan, hal ini dapat dimaknai bahwa pengertian berwawasan lingkungan sudah include dalam makna berkelanjutan. Yang kedua, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 telah memadukan aspek lingkungan, ekonomi, dan pembangunan sosial, sebagai kerangka dari pembangunan berkelanjutan. Dalam kaitan dengan pertambangan, maka kegiatan reklamasi dan pascatambang sesungguhnya merupakan instrument untuk mewujudkan konsep pertambangan berwawasan lingkungan berkelanjutan, hal ini tercermin dari prinsip-prinsip reklamasi dan pascatambang.

D. Teori Penegakan Hukum Suatu ketentuan hukum yang tidak (dapat) dilaksanakan dan ditegakkan dengan baik dalam kenyataan (law in action), tidak mempunyai makna apa-apa. Salah satu tujuan hukum adalah untuk mencapai kedamaian dengan mewujudkan keadilan, ketertiban, dan kepastian hukum dalam masyarakat. Kepastian hukum menghendaki perumusan kaidah-kaidah

hukum yang berlaku umum, yang berarti pula kaidah-kaidah tersebut harus ditegakkan dan dilaksanakan dengan tegas.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

46

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Penegakan hukum merupakan upaya untuk ditaatinya kaidahkaidah hukum dalam kenyataan, dilakukan sejak awal adanya kaidah hukum sampai kepada timbulnya pelanggaran terhadap pelaksanaan kaidah hukum tersebut. Dalam kenyataan sehari-hari, penegakan hukum sering dikaitkan dengan adanya perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad).

Perbuatan melanggar hukum bisa terjadi atau dilakukan oleh orang atau badan hukum perdata, atau oleh penguasa (onrechtmatige overheidsdaad). Karena itu, penegakan hukum dapat juga diarahkan kepada orang atau badan hukum perdata, atau kepada Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Penegakan hukum memiliki arti yang sangat luas meliputi segi preventif dan represif. Secara konsepsional, inti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Soeryono Soekanto, 1983, hlm. 3). Menurut Koesnadi Hardjasoemantri, penegakan hukum tidak selamanya harus dilakukan melalui Pengadilan, tetapi dapat dilaksanakan melalui berbagai jalur dengan berbagai sanksinya, seperti sanksi administratif, sanksi perdata dan sanksi pidana (Koesnadi Hardjasoemantri, 1992, hal. 25) Penegakan hukum sangat esensial dalam proses bekerjanya hukum dalam kehidupan masyarakat. Hukum merupakan suatu instrument yang ampuh guna mewujudkan ketertiban dalam tata kehidupan masyarakat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

47

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Esensi hukum diperlukan untuk mencegah timbulnya bahaya-bahaya yang dapat meresahkan kehidupan masyarakat, sehingga setiap anggota

masyarakat merasa aman dan tenteram karena memperoleh perlindungan hukum (Wahyu Effandy, 1994, h 4). Secara filosofi, penegakan hukum terkait dengan fungsi hukum sebagai sarana pengendalian sosial. Hal ini sejalan dengan yang

dikemukakan Ronny Hanitijo (1984, 50), bahwa hukum sebagai mekanisme pengendalian sosial merupakan suatu proses yang telah direncakan lebih dahulu dan bertujuan untuk menganjurkan, mengajak, menyuruh atau bahkan memaksa anggota masyarakat supaya mematuhi norma-norma hukum atau tata-tertib hukum yang sedang berlaku. Selanjutnya oleh Soerjono Soekanto (Rajawali Pers, 1993, hal 5) dikemukakan bahwa terdapat pula beberapa factor yang mempengaruhi efektifitas penegakan hukum, yaitu: a. b. Faktor hukumnya sendiri. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. c. Faktor sarana dan prasarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. d. Faktor masyrakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

48

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Kelima faktor tersebut saling berkaitan erat, karena merupakan esensi dari penegkan hukum, serta merupakan tolok ukur dari efektivitas penegakan hukum. Dengan adanya hukum yang baik, seyogianya telah tersedia pula sarana yang baik. Namun, agar kebaikan terlaksana secara nyata, maka sarana yang baik itu diterapkan dan digunakan setepat-tepatnya. Oleh sebab itu, terlaksananya kebaikan secara nyata, ditentukan oleh kehendak dan perbuatan nyata manusia yang dapat ditunjang oleh hukum. Dalam kaitan dengan reklamasi dan pascatambang, penegakan hukum dimaksudkan agar setiap rencana reklamasi dan pascatambang dari suatu kegiatan penambangan, dapat dilaksanakan secara taat asas sesuai dengan rencana yang telah disetujui oleh yang berwenang. Dengan merujuk pada teori efektifitas penegakan hukum yang dikemukakan Soerjono Soekanto, maka agar setiap rencana reklamasi dan pascatambang dapat terlaksana sebaik-baiknya, paling tidak musti dipenuhi 2 (dua) factor pengaruh (indipenden), yaitu : 1) peraturan perundang-undangan tentang reklamasi dan pascatambang yang baik, jelas, dan aplikatif, termasuk ketentuan tentang sanksi administrasi dan/atau sanksi pidana; 2) factor kelembagaan yang jelas dan tegas kewenangannya dalam menegakkan

peraturan perundang-undangan tentang reklamasi dan pascatambang.

E. Empirik Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang Substansi mengenai pentingnya reklamasi dan pascatambang bagi pemegang IUP dan IUPK ini sudah ada pengaturan sebelumnya, yaitu

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

49

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pedoman Reklamasi dan Penutupan Tambang. Namun karena sifat Peraturan Menteri ESDM yang hanya sebuah pedoman, akibatnya dalam praktek ketentuan ini cenderung dianggap tidak pernah ada oleh para pemegang IUP dan IUPK. Maka sudah bisa dipastikan, makin marak kegiatan pertambangan saat itu tanpa diikuti atau disertai dengan reklamasi dan kegiatan pascatambang. Selanjutnya dalam UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, pengaturan mengenai reklamasi dan pascatambang tersebut dimunculkan secara lebih tegas. Reklamasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan, dimaksudkan untuk

menata, memulihkan, dan memperbaiki kembali kualitas lingkungan serta ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sementara itu kegiatan pascatambang dimaknai sebagai kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir dari sebagian atau seluruh kegiatan usaha

pertambangan. Tujuan dari kegiatan pascatambang adalah untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Dalam undang-undang tersebut ditentukan tegas, bahwa pemegang IUP Ekplorasi dan IUPK Ekplorasi yang melakukan kegiatannya wajib melakukan reklamasi, sedangkan pemegang IUP Produksi dan IUPK Produksi wajib melakukan reklamasi dan kegiatan pascatambang. Jadi sebenarnya antara reklamasi dan pascatambang merupakan dua konsep yang terintegrasi mengenai recovery lingkungan. Hanya saja yang masih menjadi permasalahan saat itu, oleh karena ketentuan reklamasi dan pascatambang dalam UU No. 4 Tahun 2009 tersebut Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 50

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

belum bisa efektif aplikatif karena sifatnya masih merupakan kebijakan umum dan masih akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Maka kurang lebih satu tahun berjalan, diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Relamasi dan Pascatambang, sebagai implementasi dari ketentuan Pasal 101 UU No. 4 Tahun 2009. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tersebut ditegaskan kembali norma hukum yang mewajibkan pemegang izin

pertambangan untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan benar. Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan IUP Khusus Eksplorasi diwajibkan melakukan reklamasi, sedangkan pemegang IUP dan IPUK Operasi Produksi selain reklamasi juga diwajibkan untuk melakukan pascatambang terhadap lahan memenuhi kewajibannya terganggu. Bagi pengusaha yang tidak reklamasi dan pascatambang

melakukan

sebagaimana mestinya, diancam dengan sanksi administrasi. Bagi sebagian kalangan beranggapan, bahwa ancaman sanksi administrasi tersebut terlalu ringan, dan tidak menimbulkan rasa jera. Seharusnya pengusaha yang tidak melaksanakan kewajiban reklamasi dan pascatambang dengan benar juga patut diberi sanksi pidana. Tetapi yang menjadi persoalan, sebuah peraturan pemerintah tidak boleh memuat ancaman sanksi pidana. Hal inilah yang kelak merupakan kendala tersendiri dalam pelaksanaan dan penegakan reklamasi dan pascatambang. Memang sampai saat ini belum terdapat data yang konprehensif dan valid mengenai informasi pertambangan, termasuk data mengenai

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

51

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan, meski fakta itu semua pihak mengakuinya ada. Sudah berapa jumlah izin usaha pertambangan yang telah terbit di seluruh Kalmantan Timur, data itu belum jelas dan cenderung simpang siur. Berapa luas lahan yang telah dioperasi produksi, berapa luas lahan bekas penambangan yang telah dilakukan reklamasi dan pascatambang, berapa luas lahan bekas tambang yang telantar dan membahayakan, dsb, itu semua tidak terlalu jelas datanya. Hal ini merupakan sebuah kelemahan tersendiri dalam pengelolaan pertambangan oleh pemerintah, khususnya pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tambang Pusat Studi Reklamasi

Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyakat Institut

Pertanian Bogor, dalam pengalamannya studi mereka menemukan bahwa kegiatan reklamasi dan pascatambang kondisinya berlangsung sebagai berikut : Tidak dilakukan pengelolaan stock pile tanah pucuk dengan baik, sehingga mengakibatkan tanah pucuk hilang terkena erosi. Penataan lahan tidak mengikuti kaidah konservasi sebagaimana mestinya. Penanam cover crop sebagai mulsa sering terlambat, sehingga terjadi erosi dan sedimentasi yang cukup tinggi. Tidak dilakukan perbaikan kualitas tanah, seperti penyesuaian pH tanah, penambahan bahan organik, pemupukan, dsb. Tidak dilakukan pemeliharaan tanaman, seperti penyiangan, pemupukan, pengendalian hama penyakit. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 52

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Pemeliharaan check dam, settling pond, dan lain-lain kurang diperhatikan. Pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang kurang maksimal; dan Program pengelolaan timbunan batuan penutup sangat jarang dilakukan.

Lubangan bekas penambangan yang belum/tidak direklamasi, volume mencapai ribuan M .

Banyak kasus pertambangan yang menunjukkan adanya dampak negatif pasca penambangan batubara setelah potensi sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui tersebut habis. Potret nyata yang terjadi diantaranya adalah kerusakan lingkungan alam, rusaknya sarana dan prasarana, rentan terjadinya banjir, tanah longsor, timbulnya lubang-lubang raksasa akibat

belum dilakukan reklamasi, dsb. Memang ada 94 lubang besar pada lahan bekas tambang di seluruh Kaltim, karena masih aktif kalau ditutup bisa rusak lagi nanti proses reklamasinya, kata Kadistambe Kaltim Amrullah di Balikpapan, Rabu (11/1/2012). Luasan dari 94 lubang-lubang tambang itu

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

53

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

diperkirakan mencapai ratusan hektar dan paling banyak terdapat di Kabupaten Kukar diikuti kota Samarinda. Menurut Dyah (Peneliti ICEL), di daerah pertambangan di Samarinda, Kalimantan Timur, dari sekitar 1,4 juta hektar lahan terbuka, sekitar 839 ribu hektar belum direklamasi. Pernyataan ini didukung Carolus Tuah (Peneliti lingkungan dari Pokja 30 Samarinda), banyak lokasi tambang terbuka berupa lubang raksasa berdiameter ratusan meter dengan kedalaman lebih dari seratus meter. Saat hujan, lubang tersebut berisi air dan membentuk kolam raksasa. Hal ini menimbulkan penyakit, pencemaran, dan kerusakan lingkungan serta membahayakan masyarakat sekitar, kata pria asli Samarinda ini (http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4de4f3e7b3a06/pengawasan-reklamasipascatambang-lemah).

Persoalan lingkungan yang terjadi tersebut lebih disebabkan karena tidak adanya pengawasan yang efektif atas kegiatan pertambangan. Padahal seharusnya, pemerintah daerah tidak boleh dalam menjalankan

kewenangannya hanya sebatas menerbitkan perizinan belaka, tetapi harus ditindaklanjuti dengan tindakan pengendalian dan pengawasan untuk memastikan rambu-rambu dalam perizinan tersebut terlmplementasi dengan baik. Sementara itu Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Timur dalam pengawasannya tampaknya hanya mengandalkan tenaga pada Instektur Tambang, padahal jumlah inspektur tambang saat ini masih sangat terbatas. Saat ini Kaltim hanya terdapat sembilan Inspektur Tambang,

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

54

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

sedangkan IUP yang dihadapi sekitar 1.400 izin, jelas tidak rasional dalam perbandingan ini. Untuk menambah personil inspektur tambang ini Dinas mengalami kesulitan karena terkait penambahan formasi pegawai dari pusat. Ini juga menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah terhadap sistem pengawasan pertambangan. Akibat kurangnya jumlah inspektur pertambangan, pengawasan terhadap sebuah perusahaan pertambangan sukar dilakukan secara seksama dan menyeluruh. Pengawasan cenderung tidak efektif, tidak optimal, cenderung sekenanya, semata-mata melaksanakan tugas formal. Seorang inspektur pertambangan harus menangani ratusan perusahaan tambang yang ada di Kaltim, padahal dia hanya bisa lakukan terhadap beberapa kawasan tambang saja, kata Kadis Pertambangan. Sebagai ilustrasi rasio antara petugas inspektorat tambang dengan jumlah perusahaan dan luasan yang diawasi, dapat dilihat pada Kota Samarinda, bahwa ratsio yang ada sekitar 1 inspektur tambang : 26 perusahaan : 12.500 Ha. Artinya 1 orang inspektorat tambang harus mengawasi 26 perusahaan dengan luasan 12.500 Ha. Akibatnya frekuensi pengawasan sangat minim, mungkin hanya 1 kali dalam setahun karena anggaran yang terbatas. Sementara itu di Kutai Timur, rasio yang ada mencapai 1 inspektur tambang : 19 perusahaan dengan luas mencapai 330.000 Ha (Data JATAM Kaltim 2013). Pada sisi lain, lingkup tugas inspektur tambang itu cukup luas, yaitu meliputi seluruh pengawasan kegiatan pertambangan, antara lain,

pengawasan teknis, konservasi bahan galian, keselamatan kesehatan kerja, keselamatan operasi pertambangan, hingga pengawasan lingkungan, 55

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

rekayasa, dan teknologi. Di sini dapat disimpulkan, bahwa pengawasan terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang tidak tampak tegas sebagai tugas pokok Inspektur Tambang, melainkan tugas yang bersifat implisit, karena itu dapat dimaklumi jika fokus pengawasan terhadap reklamasi dan pasctambang menjadi rendah, sekedar pengawasan yang bersifat

komplementer. Karena itu dapat dipahami munculnya idea atau pemikiran mengenai perlunya sebuah lembaga pengawasan yang secara khusus mengawasi pelaksanaan kegiatan reklamasi dan pascatambang. Berdasarkan uraian mengenai empirik penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam fakta

pertambangan di Kalimantan Timur terdapat banyak kasus penambangan batubara yang tidak disertai dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang. Banyak lahan-lahan bekas tambang yang dibiarkan menjadi lubanganlubangan besar yang menganga. Tentu saja kondisi ini sangat

membahayakan dan rentan dengan terjadinya bencana erosi dan tanah longsor. Lemahnya penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang di Kaltim sebagaimana tergambar di atas, paling tidak disebabkan oleh dua faktor : Pertama, aturan hukum yang ada kurang menjamin ditegakkannya ketentuan kewajiban melakukan reklamasi dan pascatambang. Hal ini terjadi karena tiadanya pencantuman ancaman sanksi pidana bagi perusahaan yang melanggarnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

56

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Kedua, sistem pengawasan terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang sangat lemah, karena pengawasannya hanya mengandalkan dari kinerja Inspektur Tambang. Sementara itu jumlah inspektur tambang yang ada sangat tidak rasional, juga fungsi dan tugasnya melakukan pengawasan pertambangan secara umum, akibatnya tidak fokus. Oleh karena itu

diperlukan adanya sebuah lembaga pengawasan yang secara khusus mengawasi pelaksanaan kegiatan reklamasi dan pascatambang.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

57

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

BAB III ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Esensi sebuah Negara Hukum dengan prinsip pemerintahan berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 menghendaki adanya suatu sistem hukum, bahwa setiap norma hukum harus terkait dan tersusun dalam suatu sistem, artinya norma hukum yang satu tidak boleh bertentangan atau mengesampingkan norma hukum yang lain, tetapi . Dalam kerangka sistem hukum nasional, semua peraturan perundang-undangan dipandang sebagai suatu kesatuan sistem, karena itu setiap peraturan perundang-undangan materi muatannya harus memiliki konsistensi, harmonisasi, sinkronisasi dan terintegrasi dalam tata urutan perundang-undangan. Dalam kontek permasalahan reklamasi dan pascatambang, maka peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan yuridis

penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang dipandang sebagai bagian dari system hukum, khususnya sistem hukum pertambangan, sehingga harus memiliki harmonisasi dan sinkronisasi dengan peraturan perundang-undangan lainnya di bidang peryambangan. Terdapat beberapa jenis peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang, baik terkait langsung maupun secara tersirat, baik peraturan perundang-undangan tingkat nasional (Pusat) maupun tingkat lokal (Perda). Peraturan perundangundangan yang dimaksud akan dikaji dan dianalisis dengan tujuan dan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

58

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

sasaran adalah untuk dapat diintrodusir dan diserasikan substansinya satu sama lain terkait dengan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang, selanjutnya disusun sebagai materi muatan peraturan daerah. Adapun jenis peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang tersebut antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar yang mendasari kewenangan pemerintahan daerah serta semua urusan pemerintahan. Berdasarkan Pasal 18 UUD NRI Tahun 1945, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi atas kabupaten dan kota, yang masing-masing tingkatan pemerintahan mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Asas otonomi atau desentralisasi diartikan sebagai penyerahan urusan dari pemerintah pusat kepada daerah untuk menjadi urusan rumah tangganya. Dalam menjalankan urusan pemerintahan, pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk membentuk dan menyusun peraturan daerah untuk melaksanakan tugas otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 18 ayat (6) UUD NRI Th 1945). Selain itu peraturan daerah dibentuk juga untuk melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dari uraian di atas ingin ditegaskan, bahwa provinsi merupakan daerah otonom yang secara konstitusional memiliki kewenangan mengurus Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 59

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan dalam rangka itu berwenang membentuk peraturan daerah. Selanjutnya yang menyangkut urusan pertambangan, dasar

konstitusionalnya dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD NRI Th 1945 yang menyatakan, bahwa Bumi dan air dan kekayaa n alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ketentuan ini merupakan sumber kewenangan pemerintah, termasuk pemerintah daerah, untuk menguasai pengelolaan sumber daya alam termasuk sumber daya tambang. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi merupakan pokok-pokok dan sumber kemakmuran rakyat banyak, karena itu harus dikuasai dan dikendalikan pengelolaannya oleh negara sehingga dapat memberi manfaat bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD NRI Th 1945 tersebut maka pemerintah daerah provinsi, demikian pula pemerintah provinsi Kalimantan Timur, berwenang melakukan pengelolaan pertambangan, yang dalam lingkup pengelolaan termasuk di dalamnya adalah pengaturan. 2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

60

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

sekarang maupun generasi mendatang. Keterkaitannya dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang, adakalanya kegiatan penambangan itu berada dalam wilayah hutan, sehingga rencana kegiatan reklamasi dan

pascatambang sedari awal harus memperhatikan kaidah-kaidah yang diatur dalam undang-undang tentang kehutanan. Dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan, bahwa penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang mengakibatkan kerusakan hutan, wajib dilakukan reklamasi dan atau rehabilitasi sesuai dengan pola yang ditetapkan Pemerintah. Selanutnya pada ayat (2) dinyatakan, bahwa reklamasi pada kawasan hutan bekas areal pertambangan, wajib dilaksanakan oleh pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan kegiatan pertambangan. Lahan bekas tambang harus direklamasi sedemikian rupa untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi hutan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan

peruntukannya. Sebagaimana diketahui, bahwa fungsi hutan adalah sebagai sistem penyangga kehidupan, sebagai paru-paru dunua, dan sebagai sumber kemakmuran rakyat, oleh karena itu keberadaannya harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana, terbuka, profesional, serta bertanggunggugat. Pengelolaan dan pemanfaatan hutan secara bijak dan lestari akan berpengaruh positif pada komponen lingkungan lainnya sebagai kesatuan ekosistem. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 61

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-undang tentang pemerintahan daerah ini merupakan landasan hukum operasional Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dengan undang-undang ini ditegaskan bahwa setiap Daerah diberikan otonomi, yaitu hak, wewenang, dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus setempat sendiri urusan sesuai dengan pemerintahan dan peraturan kepentingan masyarakat Dalam

perundang-undangan.

melaksanakan otonomi tersebut disandarkan pada tiga prinsip, yakni prinsip yang seluas-luasnya, nyata, dan bertanggung jawab. Prinsip otonomi yang seluas-luasnya artinya, Daerah diberi kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan selain yang menjadi urusan pemerintah pusat yang ditetapkan dalam undangundang, yaitu kewenangan dibidang politik luar negeri, pertahanan,

keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama. Prinsip otonomi nyata berarti bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, kewenangan, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai potensi dan kekhasan daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah bahwa penyelenggaraan otonomi harus benarbenar sejalan dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan Daerah termasuk meningkatkan

kesejahteraan rakyat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

62

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Berdasarkan prinsip-prinsip otonomi yang diatur dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah tersebut maka pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan sesuai

kewenangannya. Kalimantan Timur yang wilayah daerahnya kaya akan sumber daya alam tambang, maka berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memiliki otonomi dalam pengelolaan sumber daya alam tambang tersebut. Dan dalam melaksanakan otonomi di bidang pertambangan tersebut bukan hanya pada bagaimana sumber daya tambang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besar kemakmuran masyarakat Kalimantan Timur, tetapi bersamaan itu bertanggung jawab atas dampak yang timbul dari upaya pemanfaatan sumber daya tambang tersebut. Salah satu bentuk tanggung jawab untuk mencegah terjadinya dampak dalam

pengeloloaan sumber daya tambang tersebut adalah dengan melakukan pengaturan, pengawasan, dan pembinaan atas keegiatan reklamasi dan pascatambang.

4. Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Hakekat penataan ruang adalah pengaturan pemanfaatan ruang secara optimal, serasi, berkeadilan, dan berkelanjutan. Melalui kebijaksanaan penataan ruang, seluruh ruang, baik ruang daratan, lautan, udara, maupun ruang di dalam tanah, harus memberi manfaat dan dapat dimanfaatkan untuk sebesar kemakmuran masyarakat. Di dalam pemanfaatan ruang tersebut harus serasi, harmonis, dan sinergis, serta tidak boleh terdapat pertentangan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

63

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

atau benturan kepentingan antar-berbagai sektor atau bidang kehidupan. Selanjutnya melalui kebijaksanaan penataan ruang seluruh lapisan dan golongan masyarakat harus memperoleh kesempatan yang sama dan tidak diskriminatif didalam memanfaatkan ruang. Pada Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang ditentukan kewenangan Pemerintah Provinsi dalam penataan ruang meliputi segi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang wilayah Provinsi dan kabupaten/kota. Selanjutnya pada ayat (2) ditentukan bahwa kewenangan tersebut meliputi tahapan perencanaan ruang wilayah, pemanfaatan ruang wilayah, sampai pada pengendalian pelaksanaan ruang wilayah provinsi. Dengan

kewenangan tersebut pemerintah provinsi turut bertanggung jawab atas terjaminnya pemanfaatan setiap ruang secara optimal, serasi, berkeadilan, dan berkelanjutan. Kegiatan pertambangan, termasuk reklamasi dan pascatambang, tidak terlepas dari aspek penataan ruang. Dalam proses pemberian izin pertambangan dipersyaratkan adanya AMDAL sebelum izin diterbitkan. Sementara dalam proses persetujuan AMDAL pertimbangan yang pertama untuk dapat disetujui adalah persesuaiannya rencana kegiatan pertambangan tersebut dengan rencana tata ruang, jika bertentangan dengan rencana tata ruang maka rencana kegiatan tersebut tidak diizinkan. Dengan pemikiran yuridis tersebut dapat disimpulkan, bahwa pemerintah provinsi berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

64

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang di seluruh wilayah provinsi. 5. Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik Sesungguhnya sumber daya tambang itu sebagai objek memiliki sifat publik, dalam arti terdapat hak publik pada setiap sumber daya tambang. Pemikiran ini didasarkan pada ketentuan Pasal 33 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945, bahwa sumber daya alam dikuasai Negara dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Atas dasar pemikiran tersebut, maka sudah sepatutnya masyarakat diberi hak untuk melakukan pengawasan dan control terhadap pengelolaan dan pemanfaatan setiap sumber daya alam. Terlepas dari pemikiran konstitusional di atas, hak masyarakat untuk melakukan pengawasan dan control terhadap pengelolaan dan pemanfaatan setiap sumber daya alam juga telah dijamin secara tegas dalam UndangUndang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik sebagai wujud dan bukti Indonesia sebagai Negara hukum demokrasi yang modern. Undang-undang keterbukaan informasi publik tersebut memberi jaminan kepada masyarakat atas informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Terkait dengan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang di Kalimantan Timur, maka seyogyanya hak masyarakat untuk

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

65

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

memperoleh informasi berkenaan dengan hal ihwal penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang diakomodasi dalam peraturan daerah terkait. 6. Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa undang-undang ini sangat jelas dan tegas pengaturannya dalam memberikan kewenangan kepada pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan, termasuk mengenai kegiatan reklamasi dan pascatambang. Dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara tersebut disebutkan ada 14 (empat belas) kegiatan

pertambangan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi, salah satu diantaranya adalah kewenangan melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap kegiatan reklamasi lahan pascatambang. Meski demikian ketentuan tentang reklamsi dan pascatambang dalam undang-undang Minerba tersebut sifatnya masih umum dan masih akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah, karena itu ketentuan tersebut belum dapat efektif dilaksanakan sampai dikeluarkannya peraturan

pemerintah tentang reklamasi dan pascatambang. Yang menjadi persoalan bagi pemerintahan provinsi dalam melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap kegiatan reklamasi lahan pascatambang, adalah menyangkut kewenangan yang terbatas, yaitu hanya pada wilayah lintas kabupaten/kota dan paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

66

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

kepulauan. Ini berarti berarti pemerintah provinsi dalam pengawasan dan pembinaan terhadap kegiatan

melakukan lahan

reklamasi

pascatambang tidak dapat memasuki wilayah kabupaten/kota. Sementara itu untuk objek tambang yang posisi geografisnya berada dalam wilayah lintas kabupaten kota, biasanya pihak pengusaha tambang cenderung memisahkan pengelolaannya per kabupaten/ kota, sehingga praktis pemerintah provinsi kehilangan wewenang. Persoalan inilah yang dicoba untuk dicarikan solusi yuridis dengan mencoba mendalami dan menkaitkannya dengan peraturan perundang-undangan yang lain. 7. Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Sebagai salah satu landasan hukum dalam penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang, undang-undang ini sangat penting untuk menjadi rujukan, sebab materi muatannya merupakan suatu kebijaksanaan negara yang mengarahkan kita semua agar dalam setiap melakukan kegiatan dan/atau usaha senantiasa mempertimbangkan aspek-aspek perlindungan dan pelestarian fungsi lingkungan. Pertimbangan yang utama atas dikeluarkannya undang-undang ini adalah adanya penilaian dan kecemasan terhadap kondisi lingkungan yang merosot saat ini. Hal ini tergambar dalam konsiderannya yang tertulis bahwa kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan. Dalam Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 67

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

kaitan itu perlunya dilakukan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan, yakni upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,

pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hokum (Pasal 1 angka 2). Yang dimaksud dengan lingkungan atau lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Pasal 1 angka 1). Dengan pengertian atau lingkup lingkungan yang demikian, maka setiap komponen sumber daya sesungguhnya tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait satu sama lainnya untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dalam kontek kegiatan pertambangan, yang meliputi pula kegiatan reklamasi dan pascatambang, maka hal tersebut tidak dapat dipandang

sebagai sebuah kegiatan yang mandiri, melainkan harus dipandang sebagai kesatuan sistem dengan kegiatan tata lingkungn. Kaidah dalam hokum lingkungan menyatakan, bahwa setiap kegiatan dan/atau usaha yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan manusia, wajib memperhitungkan timbulnya risiko lingkungan hidup.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

68

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Kegiatan reklamasi dan pascatambang dilihat dari segi rangkaian tahapan kegiatan, ia merupakan bagian dari pertambangan, tetapi dilihat dari segi sifat dan tujuannya, adalah merupakan kegiatan lingkungan karena

berorientasi pada menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas/fungsi lingkungan dan ekosistemnya agar dapat berfungsi kembali sesuai

peruntukannya. Dan bahwa salah satu prinsip reklamasi adalah prinsip perlindungan dan pengelolaan mlingkungan hidup. Berkaitan dengan hal tersebut, maka jika di dalam proses rencana kegiatan reklamasi dan pascatambang menimbulkan dampak lingkungan, apakah itu pencemaran dan/atu perusakan lingkungan, maka harus diproses hukum sesuai peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.

8.

Peraturan Pemerintah Nomo 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang Peraturan pemerintah ini dalam rangka untuk melaksanakan

ketentuan Pasal 101 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tersebut ditegaskan norma hukum yang mewajibkan pemegang izin pertambangan untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan benar. Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan IUP Khusus Eksplorasi diwajibkan melakukan reklamasi, sedangkan pemegang IUP dan IPUK Operasi Produksi selain reklamasi juga diwajibkan untuk melakukan pascatambang terhadap lahan terganggu (Pasal 2). Bagi pengusaha yang tidak memenuhi kewajibannya

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

69

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

melakukan reklamasi dan pascatambang sebagaimana mestinya, diancam dengan sanksi administrasi (Pasal 50). Bagi sebagian kalangan beranggapan, bahwa ancaman sanksi administrasi tersebut terlalu ringan, dan tidak menimbulkan efek jera. Seharusnya pengusaha yang tidak melaksanakan kewajiban reklamasi dan pascatambang dengan benar juga patut diberi

sanksi pidana. Tetapi yang menjadi persoalan, sebuah peraturan pemerintah tidak boleh memuat ancaman sanksi pidana. Hal inilah yang kelak merupakan kendala tersendiri dalam pelaksanaan dan penegakan reklamasi dan pascatambang. Lantas muncul pemikiran perlunya pengaturan masalah reklamasi dan pascatambang tersebut diatur lebih lanjut peraturan daerah sehingga dapat dicantumkan ancaman pidana bagi pengusaha yang tidak melaksanakan mestinya. kewajiban reklamasi dan pascatambang sebagaimana

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

70

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

BAB IV LANDASAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TENTANG PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Yang merupakan substansi dari landasan penyusunan di sini adalah suatu analisis mendalam untuk memperoleh dasar pembenar (justifikasi) atas disusunnya rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang. Bahwa dengan hasil analisis yang dituangkan dalam Naskah Akademik ini maka penyusunan peraturan daerah tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya, objektifitasnya, maupun urgensitasnya. Dalam kaitan ini dilakukan kajian dan telaah akademis terhadap literatur-literatur dan peraturan perundang-undangan terkait dengan masalah pertambangan, maupun secara khusus masalah reklamasi dan

pascatambang. Kajian dikelompokkan ke dalam beberapa bidang kajian, yakni dikaji dari segi filosofis, segi yuridis, segi sosiologis, dan segi ekologis. Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan dasar penguatan dan/atau sebagai dasar pertanggungjawaban ilmiah terhadap penyusunan naskah rancangan

peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang.

A. Landasan Filosofis Bahwa sumber daya mineral, atau pun batubara, atau jenis tambang lainnya yang terkandung di dalam perut bumi, termasuk yang berada dalam Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 71

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

wilayah hukum Provinsi Kalimantan Timur, merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta ini, langit, bumi, dan segala sumber daya yang ada diantara bumi dan langit, diperuntukkan bagi kemaslahatan,

kesejahteraan umat manusia, karena itu manusia diperintahkan untuk menjaganya, mengembangkan, melestarikan, serta dilarang (diharamkan) melakukan kerusakan atas bumi dengan segala isinya, Aku ciptakan apa-apa yang ada di bumi dan di langit untuk kamu (manusia) semuanya, kata Allah. Jadi sumber daya alam itu, sumber daya mineral dan batubara, merupakan ciptaan Allah yang dengan sengaja dianugerahkan kepada manusia. Karena itu harus diyakini bahwa segala dan semua sumber daya mineral itu dapat memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, Sekecil apapun ciptaan Tuhan (Mahluk) di muka bumi ini harus diyakini dapat memberi manfaat bagi kehidupan manusia, apakah itu mahluk yang bernama semut, rumput, alangalang, nyamuk, ular, dan sebagainya, lebih-lebih mahluk itu sejenis tambang mineral. Tidak ada mahluk yang diciptakan Allah dimuka bumi ini secara mubazir atau sia-sia belaka, karena Allah memang tidak menyukai perbuatan yang mubazir. Karena itu kita wajib senantiasa menjaga keberadaannya maupun menjaga fungsinya dari setiap sumber daya tersebut. Menjaga kelestarian fungsi sumber daya alam (mineral) berarti pula menjaga kelestariannya agar tetap dapat memberi manfaat secara bekesinambungan bagi kepentingan umat manusia itu sendiri.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

72

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Pada sisi lain, dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 disebutkan, bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang

terkandung dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. Sumber daya alam itu merupakan pokok-pokok dan sumber kemakmuran rakyat banyak, karena itu harus dikuasai dan dikendalikan oleh negara sehingga dapat memberi manfaat bagi sebesarbesar kemakmuran rakyat. Ketentuan konstitusi ini jika dikaitkan dengan pemikiran filosofi di atas menyiratkan makna, bahwa sumber daya alam itu, termasuk mineral dan batubara, harus dapat memberi manfaat dan dimanfaatkan bagi sebesarbesar kemakmuran masyarakat secara berkeadilan, dalam arti bukan hanya dinikmati oleh segolongan orang tertentu. Dan dalam rangka itu Negara menguasai sumber daya alam tersebut, agar dengan kekuasaannya itu Negara dapat melaksanakan fungsinya mewujudkan kemakmuran

masyarakat itu. Kebijakan mengenai reklamasi dan pascatambang itu

sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dalam upaya mewujudkan kemakmuran masyarakat terkait dengan pengelolaan pertambangan. Dengan kebijakan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang pemerintah

mencegah dan mengendalikan dari kemungkinan terjadinya sebesar -besar kesengsaraan masyarakat sebagai dampak dari pengelolaan pertambangan . Dengan landasan pemikiran filosofis itulah sesungguhnya peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

73

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

pascatambang ini dibentuk. Ide yang tidak biasa-biasa ini berangkat dari sebuah keprihatinan dan rasa betrnaggung jawaab terhadap makin tingginya kerusakan lingkungan di Kalimantan Timur sebagai akibat dari kegiatan pertambangan yang tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Sistem pengawasan pertambangan lemah, rencana reklamasi dan

pascatambang tidak dijalankan sebagaimana mestinya oleh para pemegang izin pertambangan. Berkaitan dengan itu dalam peraturan daerah yang

dibentuk ini titik beratnya lebih pada sistem pengawasan yang efektif terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang, serta penerapan sanksi yang dapat menimbulkan efek jera bagi perusahaan yang tidak melaksanakan kegiatan reklamasi dan pascatambang sebagaimana yang telah direncanakan dalam perizinannya. Kewajiban melaksanakan reklamasi dan pascatambang bagi pemegang perizinan pertambangan ini merupakan implementasi dari filosofi tanggung jawab lingkungan (The Polluter pays principle).

B. Landasan Sosiologis Seiring dengan dinamika masyarakat, laju perkembangan (progress) teknologi dan ekonomi, serta tuntutan pembangunan daerah, keberadaan sumber daya batubara di wilayah Provinsi Kalimantan Timur menjadi memiliki peran yang besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jumlah industri pertambangan batubara kian hari kian meningkat, yang berdasarkan data perizinan hingga saat ini telah diterbitkan izin usaha pertambangan (IUP) oleh daerah sebanyak 1.337 izin, sedangkan izin yang dikeluarkan pemerintah pusat sebanyak 33 PKP2B, dengan jumlah keseluruhan lahan sekitar 5,2 juta

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

74

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Ha, atau 24% dari luas daratan Kalimantan Timur. Hal ini berarti terdapat 1370 perusahaan pertambangan yang mengolah atau menguasai seperempat luas wilayah Kalimantan Timur. Tentu ini memiliki pengaruh yang signifikan bagi kehidupan masyarakat, baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Kalau kegiatan pertambangan tersebut dapat dijalankan secara baik sesuai peraturan perundang-undangan, baik yang menyangkut teknis penambangan maupun tanggung jawab perusahaan terhadap kehidupan social maupun lingkungan, maka itu harapan yang baik bagi kesejahteraan masyarakat. Tetapi manakala kegiatan pertambangan tidak terlaksana sebagaimana mestinya, maka dampak ekologi bakalan mengancam kehidupan masyarakat. Kegiatan pertambangan yang tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar. Dampak lingkungan akibat kegiatan pertambangan antara lain: penurunan produktivitas lahan, tanah bertambah padat, terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya gerakan tanah atau longsoran, terganggunya flora dan fauna, terganggunya kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim mikro. Fakta menunjukkan, saat di Kalimantan Timur sudah menjadi pemandangan yang umum ditemui adanya kegiatan pertambangan yang tidak tereklamasi (Andi Harun, Presentasi 13 April 2013). Terdapat sedikitnya 94 lubang lahan pascatambang yang menganga, diperkirakan luasnya mencapai ratusan ribu hektar, dan paling banyak terdapat di Kabupaten Kutai Kertanegara kemudian diikuti Kota Samarinda. Sepanjang Tahun 2011-2012 saja di Samarinda terdapat 7 (tujuh) anak meninggal akibat terperosok di Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 75

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

lubang tambang dekat permukiman penduduk yang tidak ditutup oleh penambangnya. Kondisi ini lebih disebabkan oleh komitmen penentu kebijakan (decition maker) maupun para pengusaha tambang terhadap hukum yang rendah, dan diperparah dengan sistem pengawasan yang lemah. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa ada solusi yang sedikit revolutif, tentu dapat mengancam kehidupan masyarakat umum di Kalimantan Timur yang jumlahnya hampir tiga juta lima ratus ribu orang ini. Di sinilah letak relevansi dan urgensinya pemikiran sekelompok anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur untuk menggagas pembuatan peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang. Mereka prihatin terhadap kerusakan lingkungan yang terus menerus sebagai akibat dari kegiatan pertambangan yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, yang dalam jangka panjang dapat mengancam keselamatan dan kesejahteraan +3.500.000 orang penduduk Kalimantan Timur. Gagasan tersebut merupakan wujud nyata atas keprihatian, kepedulian, perhatian, dan sekaligus sebagai upaya nyata atas pencegahan, pengendalian, penyelamatan dan pelestarian fungsi dan/atau eksistensi sumber daya lingkungan, dan perlindungan masyarakat Kalimantan Timur, terhadap dampak lingkungan. Dengan demikian pembentukan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang reklamasi dan pascatambang ini merupakan upaya nyata jangka panjang untuk menyelamatkan masyarakat saat ini maupun generasi mendatang di Kalimantan Timur. Untuk mencapai maksud tersebut, dalam peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur itu

penekanannya terletak pada sistem pengawasan pelaksanaan reklamasi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 76

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

pascatambang, dan adanya penerapan sanksi administrasi dan/maupun ancaman pidana bagi perusahaan yang melakukan pelanggaran hukum. C. Landasan Yuridis Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa gagasan pembentukan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang ini dipelopori oleh beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur sebagai bentuk keprihatian, kepedulian, perhatian, dan wujud tanggung jawab atas terjadinya degradasi lingkungan di Kalimantan Timur. Kondisi lingkungan yang merosot itu diyakini kuat sebagai dampak dari pengelolaan pertambangan yang tidak bertanggung jawab, terutama tidak dilakukannya kegiatan reklamasi dan pascatambang terhadap lahan bekas penambangan. Dengan dorongan motivasi tersebut maka arah dan luas lingkup materi yang hendak diatur dalam peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang tersebut meliputi 4 (empat) hal, yaitu : 1. mengatur secara lebih jelas dan tegas mengenai kewajiban dan tanggung jawab pemegang perizinan pertambangan berkenaan dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang; 2. Karena ini merupakan peraturan daerah tingkat provinsi, maka luas jangkauannya diinginkan dapat mengikat kepada seluruh kegiatan reklamasi dan pascatambang yang ada di seluruh wilayah Kalimantan Timur;

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

77

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

3. Perlu adanya suatu badan pengawasan pertambangan yang dominnya khusus terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang yang ada di seluruh wilayah Kalimantan Timur; dan 4. Perlu adanya pengaturan sanksi adminstrasi dan/atau sanksi pidana yang jelas dan tegas terhadap pelanggaran ketentuan reklamasi dan

pascatambang, agar memiliki efek jera. Terhadap arah dan luas lingkup materi muatan peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang tersebut,

persoalannya adalah, sejauhmanakah pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memiliki kewenangan mewujudkan pengaturan tersebut? Bagaimanakah pengaturan persoalan tersebut dalam peraturan perundang-undangan yang ada? Inilah persoalan-persoalan yang hendak dikaji secara yuridis dalam peraturan perundang-undangan untuk dicari solusi dan justifikasinya. 1. Materi Muatan Berkenaan dengan Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemegang Perizinan Baik dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, maupun dalam Peraturan Urusan

Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembangian

Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, kewenangan itu sangat jelas, bahwa dalam bidang pertambangan pemerintah daerah provinsi memiliki

kewenangan yang luas, diantaranya berwenang melakukan pembuatan peraturan perundang-undangan daerah.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

78

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Pada bagian lain disebutkan lagi kewenangan pemerintah daerah provinsi untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan reklamasi lahan pascatambang. Yang dimaksud dengan

pembinaan berdasarkan ketentuan dalam Pasal 139 ayat (2) UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 diantaranya meliputi pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan. Dengan demikian pemerintah provinsi berwenang melakukan regulasi mengenai pemberian pedoman dan standar pelaksanaan kegiatan reklamasi dan pascatambang. Berdasarkan uraian tersebut, maka Pemerintah Provinsi

Kalimantan Timur melakukan regulasi terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang yang dituangkan dalam nomenklatur peraturan daerah. Dalam peraturan daerah itulah diatur secara sederhana, jelas, dan tegas mengenai kewajiban dan tanggung jawab pemegang perizinan

pertambangan terkait dengan pelaksanaan pascatambang. 2. Jangkauan Mengikat Peraturan Daerah

kegiatan reklamasi dan

Dalam berbagai peraturan perundang-undangan disebutkan, bahwa kewenangan provinsi itu adalah menangani urusan-urusan pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/kota, atau urusan

pemerintahan yang tidak atau belum bisa ditangani oleh kabupaten/kota. Demikian pula kewenangan pemerintah provinsi di bidang pertambangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009,

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

79

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

kewenangannya sebatas pada objek pertambangan yang berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil. Persoalannya dalam fakta, objek pada lintas wilayah kabupaten/kota ini hampir-hampir tidak pernah ada, sebab pengusaha pintar, mereka lebih senang memecah objek lintas itu menjadi per kabupaten/kota sehingga pengurusan perizinannya cukup dilakukan di kabupaten/kota masing-masing. Dengan model ini maka pemerintah provinsi praktis kehilangan objek kewenangan. Sebenarnya pembagian kewenangan tersebut merupakan konsekuensi dari konsep otonomi daerah yang digariskan dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menitik-beratkan pelaksanaan otonomi pada daerah kabupaten/kota, sementara pemerintah provinsi dipandang sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Jadi pemerintah kabupaten/kota ini memiliki otonomi sendiri dalam pengelolaan pertambangan, termasuk dalam pembinaan dan pengawasan kegiatan reklamasi dan pascatambang. Satusatunya ketentuan yang memungkinkan terjadinya persentuhan antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota, adalah ketentuan dalam Pasal 139 ayat (3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Dalam pasal tersebut dinyatakan, bahwa Gubernur melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota, tetapi itu jika gubernur memperoleh pelimpahan tugas dari Menteri. Hal ini telah dilakukan menteri sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Energi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 80

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

dan Sumber Daya Mineral Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pelimpahan Wewenang Pemerintah di Bidang ESDM kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah urusan Dekosentrasi Tahun 2012. Tetapi peraturan menteri ini sifatnya cuma pelimpahan tugas (dekonsentrasi) dan bukan penyerahan urusan (desentralisasi), karena itu ruangnya sangat terbatas, kebijakan, anggaran, maupun tanggung jawab tetap berada di tangan menteri, dan masa pelimpahan biasanya cuma satu tahun anggaran. Sementara rancangan peraturan itu politik hukum yang dikehendaki dalam daerah Provinsi Kalimantan ini Timur ialah, tentang ingin

penyelenggaraan

reklamasi

dan

pascatambang

keberlakuannya menjangkau dan mengikat secara hukum terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Ini merupakan problem hukum yang hendak dikaji lebih dalam dengan mencoba menelusuri peraturan perundang-undangan bidang lain selain bidang pertambangan. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang terdapat ketentuan yang mengatur kewenangan

pemerintah provinsi di bidang penataan ruang. Hal ini tersebut dalam Pasal 10 ayat (1) bahwa kewenangan Pemerintah Provinsi dalam penataan ruang meliputi segi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang wilayah Provinsi dan kabupaten/kota. Di sini jelas bahwa pemerintah provinsi dapat masuk ke wilayah kabupaten/kota dalam urusan pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang. Karena itu peraturan daerah RTRW provinsi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 81

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

itu menjadi rujukan bagi peraturan daerah RTRW kabupaten/kota. Selanjutnya pada ayat (2) ditentukan bahwa kewenangan pemerintah provinsi tersebut meliputi pada tahapan perencanaan ruang wilayah, pemanfaatan ruang wilayah, sampai pada pengendalian pelaksanaan ruang wilayah provinsi. Dengan kewenangan tersebut pemerintah provinsi turut bertanggung jawab atas terjaminnya pemanfaatan setiap ruang secara optimal, serasi, berkeadilan, dan berkelanjutan di seluruh wilayah daerah. Kaitannya dengan pertambangan adalah bahwa kegiatan reklamasi dan pascatambang itu tidak terlepas dari aspek penataan ruang. Dalam proses pemberian izin pertambangan dipersyaratkan adanya AMDAL sebelum izin diterbitkan. Sementara dalam proses persetujuan AMDAL pertimbangan yang pertama untuk dapat disetujui adalah persesuaiannya rencana kegiatan pertambangan dengan rencana tata ruang, jika bertentangan dengan rencana tata ruang maka rencana kegiatan tersebut tidak diizinkan. Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, pada Pasal 7 disebutkan sebagai berikut : (1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; d. Peraturan Pemerintah; Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 82

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

e. Peraturan Presiden; f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pada ayat (1) huruf f dan g tersebut tampak bahwa Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tersusun secara hirarkhis, artinya sesuai dengan ketentuan pada ayat (2), bahwa kedua jenis peraturan perundang-undangan tersebut kekuatan hukumnya juga secara hirarkhis. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tidak boleh

bertentangan dengan Peraturan Daerah Provinsi, dan/atau Peraturan Daerah Provinsi menjadi rujukan bagi Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat ditegaskan, bahwa rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang nantunya menjadi rujukan bagi peraturan daerah sejenis pada

kabupaten/kota se Kalimantan Timur. Berdasarkan uraian yuridis tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa sesungguhnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang di seluruh wilayah provinsi. Pembinaan dan

pengawasan terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang tersebut dituangkan dalam peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 83

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

3. Suatu Badan Pengawasan Pertambangan Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa salah satu permasalahan pertambangan yang serius di Kalimantan Timur ialah sistem pengawasan yang lemah. Sistem pengawasannya sangat normatif formal dengan mengandalkan pada fungsi dan peran Inspektur Tambang yang jumlahnya cuma 9 orang di Kalimantan Timur. Tentu jumlah inspektur tambang ini sangat tidak memadai dibanding dengan luas wilayah kerja pertambangan yang ada. Disamping itu fungsi dan tugas inspektur tambang sangat luas, yakni mengawasi pertambangan secara umum. Dalam Pasal 141 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 disebutkan bahwa tugas Inspektur Tambang ialah melakukan tugas pengawasan terhadap : a. teknis pertambangan; b. konservasi sumber daya mineral dan batubara; c. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan; d. keselamatan operasi pertambangan; e. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang; dan f. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan. Di sini meski salah satu tugas inspektur tambang adalah melakukan pengawasan terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang, tetapi karena lingkup tugas yang lain juga luas, wilayah operasional luas, dan sementara itu jumlah inspektur tambang tidak sebanding, maka dampaknya efektifitas tugas inspektur tambang menjadi sangat rendah.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

84

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Berdasarkan paparan tersebut maka para penggagas peraturan daerah provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang menginginkan adanya suatu badan yang secara khusus bertugas melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraaan reklamasi dan pascatambang. Jadi pembentukan badan atau lembaga pengawasan ini dipandang sebagai terobosan atas ketidakmampuan ataupun ketidak efektifan inspektur tambang ataupun perangkat daerah lainnya melakukan pengawasan terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang. Namun demikian perlu diperhatikan beberapa hal agar pembentukan badan atau lembaga pengawasan ini tidak tumpang tindih (overlapping) dengan badan-badan yang telah ada, atau pun juga tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah ditentukan adanya empat perangkat bagi setiap daerah, yaitu Sekretariat Daerah, Sekretariat Dewan, Dinas, dan Lembaga Teknis Daerah. Sementara itu Lembaga Teknis Daerah terdiri atas tiga perangkat, yaitu Badan, Kantor, dan Rumah Sakit. Pada Dinas dan Badan dapat dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertugas membantu pelaksanaan tugas Dinas dan Bada. Seluruh perangkat daerah tersebut menangani urusan pemerintahan yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Adapun jumlah perangkat daerah pada setiap daerah telah ditentukan jumlah maksimal dan minimalnya

berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk daerah, dan jumlah APBD pada daerah ybs. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 85

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Terkait dengan rencana pembentukan institusi pengawasan terhadap kegiatan reklamasi dan pascatambang tersebut, dilihat dari fungsi dan tugasnya yang khusus itu, tidak ada yang tepat untuk dimasukkan dalam perangkat daerah. Di daerah juga tidak dikenal dengan istilah Lembaga, istilah itu hanya dikenal pada kelembagaan pemerintah pusat. Berkenaan dengan itu maka dalam hemat kami yang tepat adalah semacam lembaga ad hok dengan nama Komisi. Karena itulah lembaga tersebut patut diberi nama Komisi Pengawas Pertambangan. Dengan nama tersebut maka keberadaan komisi ini tidak akan bertabrakan dengan fungsi dan tugas lembaga lain, juga tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Pada nama Komisi Pengawas Pertambangan juga tidak perlu ditambahkan kata Daerah dibelakangnya. Karena penambahan kata daerah tersebut dapat menimbulkan konotasi sebagai lembaga yang terstruktur secara hirarkis dengan lembaga Pusat. 4. Pengaturan Sanksi Pengaturan sanksi ini dipandang sebagai bagian terpenting dalam pembentukan peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang, terutama ketentuan sanksi pidana. Hal ini mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang hanya bisa memberikan sanksi administrasi, sebab memang peraturan pemerintah tidak boleh memuat sanksi pidana.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

86

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang ini dikehendaki memuat sanksi administrative dan sanksi pidana untuk menciptakan efek jera bagi yang melanggarnya. Hal ini memungkinkan untuk dirumuskan seperti itu dengan merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah msupun Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Meski demikian bisa saja peraturan daerah cuma menegaskan suatu perbuatan tertentu diancam pidana dengan menunjuk pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, jika memang kapasitas perbuatan yang dilakukan itu ancaman pidananya lebih besar. Dengan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pembentukan rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang

penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang dapat dipertanggung jawabkan secara yuridis.

D. Landasan Ekologis Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya tambang harus dilakukan secara arif dan bijaksana dengan mempertimbangkan aspek pelestarian fungsi lingkungan, kepentingan jangka panjang, dan perlindungan social, sehingga pemanfaatannya bisa optimal dan berkelanjutan tanpa menimbulkan dampak kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

87

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Setiap sumber daya tambang memiliki nilai ekonomi yang tinggi disamping nilai ekologi, yang kadang kedua nilai tersebut saling

bertentangan atau bertabrakan. Di sini diperlukan peran pemerintah daerah untuk mengatur dan mengawasi keseimbangan nilai-nilai ekonomi dengan nilai-nilai ekologi tersebut. Sebab jika tidak demikian akan terjadi ketimpangan nilai yang berdampak pada eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali, produksi melampaui batas kapasitas (overproduksi), dan akibatnya bisa menimbulkan dampak kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan (Supriadi : 2005 : 7). Pemikiran ekologis itulah yang justru menjadi tujuan dari pengaturan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang. Sebab reklamasi bertujuan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan serta ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sedangkan pascatambang bertujuan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Dengan demikian dapat ditegaskan, bahwa kegiatan reklamasi dan pascatambang itu sebenarnya sudah bukan merupakan kegiatan pertambangan, melainkan kegiatan lingkungan, dalam arti kegiatan yang berorientasi pada pemulihan fungsi lingkungan. Atas dasar pemikiran dan semangat ekologis tersebut maka pembentukan peraturan daerah dan Provinsi Kalimantan dapat Timur tentang

penyelenggaraan jawabkan.

reklamasi

pascatambang

dipertanggung

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

88

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

BAB V ARAH DAN LINGKUP MATERI MUATAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TENTANG PENYELENGGARAAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Berdasarkan hasil kajian akademik dengan menelusuri berbagai literatur dan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan, kehutanan, dan lingkungan hidup, serta berdasarkan hasil evaluasi

implementasi reklamasi dan pascatambang di lapangan, maka disusun peraturan daerah yang mengakomodasi segala permasalahan

penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang di Kalimantan Timur. Disamping itu secara formil pembentukan peraturan daerah ini

mengacu pada peraturan perundang-undangan yang lain, diantaranya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan Undang-undang Nomor. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Arah dan luas lingkup materi muatan rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan

Pascatambang ini dapat dijelaskan sebagai berikut : A. Materi Umum Rancangan Peraturan Daerah 1. Segi Penamaan/Judul Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur yang hendak disusun ini diberi nama Penyelenggaraan Reklamasi dan

Pascatambang dengan pertimbangan sebagai berikut : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 89

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

a. Judul Reklamasi dan Pascatambang adalah judul dari Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010, karena itu untuk tidak terjadi duplikasi, maka pada peraturan daerah ini ditambahkan satu frasa Penyelenggaraan. b. Kata Penyelenggaraan dipergunakan untuk memberi gambaran atau penekanan bahwa materi muatan peraturan daerah ini bersifat teknis, bukan kebijaksanaan (policy), dalam arti peraturan daerah ini merupakan implementasi dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. c. Luas lingkup Penyelenggaraan adalah serangkaiuan kebijaksanaan pemerintah daerah Kalimantan Timur di bidang pascatambang yang meliputi segi pengaturan, reklamasi dan perencanaan,

pelaksanaan, pengawasan, dan penerapan sanksi hukum.

2. Tentang Konsideran Peraturan daerah merupakan produk hukum suatu daerah yang berisi kebijaksanaan daerah di bidang tertentu. Peraturan daerah merupakan instrumen yuridis dalam rangka penyelenggaraan otonomni daerah, serta sebagai instrumen pelaksana dari kebijaksanaan yang lebih tinggi. Karena itu dalam pembuatan suatu peraturan daerah misi tersebut harus tercermin dalam konsideran menimbangnya. Dalam Lampiran Undang-undang Nomor 12 Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Tahun 2011 tentang dikemukakan, bahwa

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

90

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

konsideran yang diawali dengan kata Menimbang memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan peraturan daerah. Pokok-pokok pikiran tersebut memuat unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. Berkenaan dengan hal tersebut, dalam rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan

pascatambang, pada konsideran Menimbang dinyatakan hal-hal sebagai berikut: a. Pernyataan filosofis bahwa kegiatan pertambangan dapat menimbulkan perubahan bentang alam sehingga diperlukan kegiatan reklamasi dan pascatambang bertujuan mengembalikan kemampuan fungsi lingkungan hidup dan fungsi sosial, untuk mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan; b. Pernyataan sosiologis mengenai perlunya pemerintah provinsi Kalimantan Timur menetapkan suatu kebijakan yang dapat mendorong dan menjamin efektifitas penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang sebagai bagian dari wujud perlindungan masyarakat terhadap dampak pertambangan; c. Pernyataan yuridis mengenai perlunya pengaturan oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang dalam suatu peraturan daerah, dimaksudkan untuk

memberikan arah, pedoman, landasan hukum, dan kepastian hukum kepada semua pihak yang terkait dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

91

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

3. Tentang Dasar Hukum Pada dasar hukum ini diawali dengan kata Mengingat,

dicantumkan jenis peraturan perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi atau sederajad yang menjadi dasar hukum bagi peraturan perundangundangan yang hendak dibentuk. Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum tersebut meliputi : a. Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar kewenangan

pembentukan peraturan perundang-undangan; dan b. Peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan

peraturan perundang-undangan. Untuk pembentukan peraturan daerah, peraturan perundangundangan yang menjadi dasar kewenangan tersebut meliputi tiga, yaitu Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Pembentukan Daerah dan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Sedangkan peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan peraturan perundang-undangan adalah

peraturan perundang-undangan yang terkait dengan materi muatan pokok yang diaturnya, misalnya, undang-undang tentang pertambangan, kehutanan, lingkungan hidup, dan lain-lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka jenis peraturan

perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum pembentukan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang adalah sebagai berikut: Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 92

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1106); 3. Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258); 4. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4401); 5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377); 6. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi UndangUndang (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548); 7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 8. Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846); 9. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959); 10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 93

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); 11. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5110); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 51111); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan dan Pengelolaan Usaha Pertambangan dan Mineral (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5142); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor: 5172); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5285).

4. Ketentuan Umum Pada bagian ini dikemukakan mengenai pengertian-pengertian dan batasan-batasan dasar yang bersifat operasional dari seluruh istilah dan permasalahan yang terdapat pada pasal-pasal dalam rancangan peraturan daerah. Dengan pengertian dan batasan dasar tersebut dimaksudkan agar tidak (bakal) menimbulkan pemahaman dan/atau penafsiran yang bias atau Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 94

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

berbeda-beda dalam memahami Perda tersebut, tetapi sebaliknya dapat menyamakan persepsi, memudahkan pemahaman dan pelaksanaannya oleh semua pihak. . B. Materi Pokok Rancangan Peraturan Daerah 1. Prinsip Reklamasi dan Pascatambang Secara administratif lingkungan hidup memiliki batas-batas

geografis yang jelas, tetapi secara ekologis batasan lingkungan itu melampaui batasan adminsitratif. Penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang yang diatur dalam peraturan daerah ini merupakan satu kesatuan kebijakan ekologis Pemerintah Kalimantan Timur sebagai upaya memberikan

perlindungan terhadap kepentingan dan fungsi lingkungan hidup dan fungsi sosial di seluruh daerah. Terkait dengan itu maka dalam peraturan daerah ini pemegang IUP Eksplorasi, IPR Eksplorasi, dan IUPK Eksplorasi diwajibkan melakukan kegiatan reklamasi. Sementara bagi pemegang IUP Operasi

Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi disamping diwajibkan melakukan kegiatan reklamasi dan juga wajib melakukan kegiatan pascatambang. Dalam pelaksanaan reklamasi dan pascatambang sejauh mungkin berpedoman pada prinsip-prinsip reklamasi dan pascatambang yang sudah dikenal dalam berbagai literatur, maupun yang telah ditentukan dalam PP No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamsi dan Pascatambang, yaitu : perinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; prinsip keselamatan dan kesehatan kerja; dan prinsip konservasi mineral dan batubara. Dalam Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 95

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

peraturan daerah ini hanya diakomodari dua prinsip, yaitu perinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja. Prinsip konservasi mineral dan batubara dipandang tidak relevan dalam konteks ini, karena sesungguhnya prinsip itu masih merupakan bagian dari ranah pertambangan murni. Yang dimaksud dengan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup itu meliputi : a. prinsip perlindungan kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara sesuai standar baku mutu kriteria baku kerusakan lingkungan; b. stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang serta struktur buatan (man-made structure) lainnya; c. d. perlindungan dan pemulihan terhadap keanekaragaman hayati; pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya; dan e. memperhatikan aspek-aspek sosial, budaya, dan ekonomi serta kearifan lokal masyarakat setempat. Sedangkan yang masuk dalam prinsip keselamatan dan kesehatan kerja meliputi: perlindungan keselamatan terhadap setiap pekerja/buruh; dan perlindungan setiap pekerja/buruh dari penyakit akibat kerja. Tanggung jawab atas pelaksanaan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tersebut tidak sebatas pada wilayah administratif, tetapi sampai dalam batas ekologis dan area lain yang juga terkena dampak. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 96

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Prinsip reklamasi dan pascatambang ini merupakan pedoman yang harus diperhatikan, dalam pelaksanaan kegiatan reklamasi dan

pascatambang, baik oleh perusahaan pemegang perizinan pertambangan maupun oleh institusi pengawas reklamasi dan pascatambang sebagai salah satu parameter pengawasan. Agar penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang dapat efektif menjangkau wilayah ekologis Kalimantan Timur, maka pemerintah daerah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota sebagai satu kesatuan ekologi guna melindungi kepentingan lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan dalam wilayah Kalimantan Timur. Koordinasi dimaksud penekanannya lebih pada segi pengawasan dan pembinaan pelaksanaan reklamasi dan pascatambang. Peraturan daerah ini menjadi acuan bagi pemerintah

kabupaten/kota dalam menetapkan kebijakan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang. Artinya dalam hal pemerintah kabupaten/kota hendak melakukan pengaturan terhadap reklamasi dan pascatambang dalam wulayahnya, maka harus mengacu pada peraturan daerah ini atau setidaknya tidak boleh bertentangan dengan peraturan daerah ini. Hal ini sesuai dengan maksud Pasal 7 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menempatkan hirarki Peraturan Daerah Provinsi di atas Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

97

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

2. Reklamasi a. Tahap Perencanaan Pada dasarnya reklamasi dan pascatambang itu merupakan satu kesatuan dengan pertambangan, sehingga rencana reklamasi itu harus disusun bersamaan dengan penyusunan rencana kegiatan ekplorasi. Karena itu ketika mengajukan permohonan izin IUP Eksplorasi, IPR Eksplorasi, dan IUPK Eksplorasi, pemohon wajib menyerahsertakan pula dokumen rencana kegiatan reklamasi dan dokumen pendukung lainnya. Demikian pula ketika pengusaha tambang mengajukan permohonan IUP Operasi Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi, maka diwajibkan pula pada saat itu menyerahsertakan dokumen rencana kegiatan reklamasi dan pascatambang serta dokumen pendukung lainnya. Dengan penyatuan dokumen-dokumen itu maka evaluasi dan

pertimbangan untuk dikabulkannya permohonan izin usaha pertambangan itu juga bergantung pada fisibelitas rencana reklamasi dan pascatambang. Yang dimaksud dengan dokumen pendukung lain itu meliputi izin lingkungan, AMDAL atau UKL-UPL, pembiayaan pelaksanaan reklamasi, izin pinjam-pakai penggunaan dari pemilik lahan atau dari instansi berwenang jika itu merupakan kawasan hutan, dan dokumen lain sebagai kelengkapan pendukung perusahaan. Rincian dokumen rencana reklamasi paling kurang memuat: bentuk reklamasi (peruntukan lahan), rincian reklamasi, tata cara reklamasi, dan teknik reklamasi yang akan diterapkan, termasuk mengenai

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

98

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

skema pembiayaan berupa jaminan reklamasi. Rencana reklamasi dibuat dalam 5 (lima) tahun yang memuat rencana detail reklamasi pada setiap tahunnya, kecuali terhadap umur tambang dibawah 5 (lima) tahun, maka rencana reklamasi disusun sesuai dengan umur tambang, dengan ketentuan wajib melakukan rencana reklamasi tahunan. Bagi kegiatan/usaha yang memenuhi ketentuan wajib AMDAL sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha yang wajib dilengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, rincian rencana reklamasi ialah sebagaimana yang dituangkan dalam RKL dan RPL. Sedangkan bagi kegiatan/usaha pertambangan yang tidak wajib AMDAL, rincian reklamasi memuat uraian antara lain hal-hal sebagai berikut: 1) Penggunaan lahan sebelum dan sesudah kegiatan penambangan; 2) Penggunaan lahan yang diusulkan pada sebelum reklamasi; 3) Cara pemeliharaan dan pengamanan lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah penutup lainnya; 4) Langkah-langkah pemantauan dan penanggulangan lingkungan yang akan dilakukan sehingga tanah tersebut dapat difungsikan kembali. Persetujuan atas rencana reklamasi yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana diuraikan di atas, diberikan oleh pejabat yang berwenang dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender sejak IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi diterbitkan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

99

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Penentuan batas waktu 30 hari ini dimaksudkan untuk membantu kepastian hukum dan mendorong gairah dunia usaha. b. Tahap Pelaksanaan Pemegang IUP Operasi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan reklamasi berdasarkan rencana reklamasi yang telah disetujui oleh pejabat yang berwenang. Kewajiban melakukan reklamasi dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tidak dimanfaatkannya lahan yang telah ditambang. Kewajiban batas

waktu 30 hari itu dimaksudkan agar lahan bekas penambangan itu tidak berlarut-larut terbuka yang bisa menimbulkan resiko lingkungan. c. Keberhasilan Reklamasi Perlu ada standar tingkat keberhasilan pelaksanaan reklamasi yang dapat dijadikan sebagai dasar penilaian dan evaluasi oleh tim pengawas. Keberhasilan reklamasi dicapai melalui tahapan kegiatan, yaitu: tahapan penataan lahan, tahap revegetasi, dan tahap pemantauan

lingkungan. Pada tahap penataan lahan, kegiatan yang dilakukan wajib memenuhi kriteria minimal sebagai berikut: 1) Pengelolaan tanah pucuk, minimal berupa stock pile area khusus penempatan tanah pucuk; 2) Pengelolaan over burden, minimal mencakup back filling 80% dari yang digali; 3) Stabilitas lereng, minimal memenuhi rekomendasi kajian geoteknik;

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

100

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

4) pencegahan erosi dan sedimentasi, minimal berupa penanaman cover crop pada area revegetasi setelah penaburan tanah pucuk; dan 5) Rencana voit akhir memiliki luasan maksimal 10% dari luasan areal terganggu. Pada tahap Revegetasi, kegiatannya wajib memenuhi kriteria minimal sebagai berikut: 1) kegiatan penaburan tanah pucuk, minimal berupa pengembalian keseluruhan tanah pucuk yang telah disimpan sebelumnya; 2) kegiatan perbaikan kualitas tanah, harus dilakukan dengan pemberian bahan organik pemupukan/pemberian kaptan; 3) mengenai jumlah tanaman, wajib melakukan penanaman minimal 1000 tanaman/hektar 4) perawatan dan pengayaan tanaman, wajib melakukan penyulaman, penyiangan, pemberantasan hama penyakit, pemupukan, termasuk penanaman tanaman lokal dan tanaman bernilai ekonomi. Untuk kegiatan Pemantauan, syarat minimal yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut: 1) terpenuhinya kualitas tanah dan udara berdasarkan standar yang ditetapkan menurut ketentuan perundang-undangan; 2) peningkatan keanekaragaman jenis tanaman dan kembalinya hewan pada areal reklamasi tambang; dan 3) kegiatan revegetasi sesuai dengan yang direncanakan minimal 80%.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

101

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

d. Tahap Pelaporan Pemegang IUP yang telah melakukan reklamasi, dalam jangka waktu 30 hari sejak kegiatan reklamasi dinyatakan selesai, wajib menyampaikan laporan atas pelaksanaan reklamasi tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab dengan tembusan kepada Komisi

Pengawas Pertambangan. Laporan tersebut dievaluasi oleh instansi yang bertanggung jawab dan Komisi Pengawas Pertambangan untuk

menentukan tingkat keberhasilan pelaksanaan reklamasi.

3. Pascatambang a. Tahap Perencanaan Berbeda dengan pemegang perizinan usaha pertambangan eksplorasi yang hanya diwajibkan membuat rencana reklamasi, maka terhadap pemegang IUP Operasi Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi disamping diwajibkan membuat rencana reklamasi juga wajib membuat rencana pascatambang. Pengajuan dokumen rencana kegiatan pascatambang yang berisi pemenuhan perbaikan fisik dan aspek non-fisik dilakukan bersamaan dengan pengajuan rencana reklamasi. Dalam dokumen rencana pascatambang, pemegang IUP

Operasi Produksi IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi mencantumkan mengenai bentuk pascatambang (peruntukan lahan), pemeliharaan hasil reklamasi, pengembangan dan pemberdayaan

masyarakat, organisasi (entitas) pelaksana pascatambang, termasuk

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

102

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

mengenai skema pembiayaan kegiatan pascatambang, dan pendukung dokumen lainnya, antara lain meliputi: izin lingkungan, AMDAL atau UKLUPL, mekanisme pembiayaan pelaksanaan pascatambang, rencana pengembalian kawasan hutan yang dipinjam pakai, termasuk dokumen perusahaan pelaksana kegiatan pascatambang. Dokumen rencana pascatambang yang dinilai telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan, akan diberikan persetujuan oleh Pejabat yang berwenang dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kalender sejak IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi diterbitkan.

b. Tahap Pelaksanaan Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tujuan kegiatan pascatambang adalah untuk memulihkan dan mengembalikan sebagaimana semula fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Oleh karena itu sasaran pelaksanaan kegiatan pascatambang disamping difokuskan pada kegiatan perbaikan aspek fisik lingkungan, juga pada pemenuhan kepentingan masyarakat setempat berdasarkan dokumen rencana pascatambang yang telah disetujui. Pemenuhan kepentingan masyarakat tersebut dilakukan apabila pada area pertambangan dan/atau area terkena dampak lainnya terdapat masyarakat yang terkena dampak dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungannya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

103

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Kegiatan pascatambang dinyatakan telah selesai apabila telah diverifikasi dan dinyatakan clear oleh Komisi Pengawas Pertambangan, serta mendapat persetujuan dari Pejabat yang berwenang. Dalam hal kegiatan pascatambang dinyatakan telah selesai tersebut maka

pemegang IUP Operasi Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi wajib menyerahkan kembali lahan pascatambangnya itu kepada pemerintah daerah. Selanjutnya pemerintah daerah dapat menyerahkan lebih lanjut lahan pascatambang tersebut kepada pihak yang berhak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan prosedur penyerahan yang demikian, maka ada jaminan bahwa lahan yang diserahkan kembali tersebut telah pulih kembali sesuai

peruntukannya.

4. Jaminan Reklamasi dan Pascatambang Jaminan reklamasi dan pascatambang ini merupakan instrumen ekonomik yang mengikat kepada pemegang IUP Eksplorasi, IPR Eksplorasi, dan IUPK Ekplorasi dan pemegang IUP Operasi Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi, untuk sungguh-sungguh

memperhatikan dan melaksanakan kegiatan reklamasi dan pascatambang sesuai rencana yang telah disetujui oleh pejabat yang berwenang. Jaminan reklamasi dan pascatambang berupa dana, yang

dimaksudkan untuk menutup seluruh biaya pelaksanaan reklamasi dan pascatambang. Bagi pemegang IUP Eksplorasi, IPR Eksplorasi, dan IUPK Ekplorasi, jaminan reklamasi disediakan sebelum melakukan kegiatan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

104

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

eksplorasi, sedangkan bagi pemegang IUP Operasi Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi dana jaminan reklamasi dan pascatambang wajib disediakan sebelum melakukan kegiatan operasi produksi. Besaran jumlah dana jaminan reklamasi dan pascatambang ditetapkan bersama antara Pemegang izin dengan pihak Instansi pemberi izin berdasarkan volume kegiatan pada rencana reklamasi dan pascatambang yang telah disetujui. Atau besaran jumlah dana reklamasi dan pascatambang tersebut berprinsip pada untuk menutup seluruh biaya pelaksanaan reklamasi dan pascatambang. Dengan demikian apa bila ternyata dana jaminan reklamasi yang telah kegiatan, ditetapkan maka tersebut Pemegang tidak Izin mencukupi wajib untuk

melaksanakan

memenuhi

kekurangannya tersebut. Dalam lalu lintas sistem keuangan bank dikenal bentuk-bentuk jaminan keuangan, diantaranya adalah : Rekening Bersama, Deposito

Berjangka, Bank Garansi, Asuransi atau Cadangan Akuntansi (Accounting Reserve). Namun dalam peraturan daerah ini yang dipergunakan adalah bentuk Deposito Berjangka pada bank pemerintah, karena deposito berjangka ini dipandang paling tepat dan aman sebagai bentuk jaminan reklamasi dan pascatambang. Ketentuan mengenai tatacara penyediaan, pencairan, dan

penggunaan dana reklamasi dan pascatambang selanjutnya akan diatur dengan Peraturan Gubernur.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

105

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Yang terpenting dari kesemuanya itu adalah prinsip kewajiban bagi pemegang IUP Eksplorasi, IPR Eksplorasi, dan IUPK Eksplorasi untuk melaksanakan reklamasi dan Pascatambang, karena itu meski mereka menempatkan jaminan reklamasi dan pascatambang ke dalam bank, tetap tidak menghilangkan kewajiban mereka untuk melaksanakan reklamasi dan Pascatambang. 5. Pengawasan Reklamasi dan Pascatambang a. Pengawasan Pemerintah Daerah melakukan pengawasan dan pembinaan atas kebijakan kabupaten/kota dan ketaatan Pemegang IUP Eksplorasi, IPR Eksplorasi, IUPK Ekplorasi, Pemegang IUP Operasi Produksi, IPR Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang di seluruh wilayah daerah. Pengawasan tersebut disamping bertujuan agar kebijakan pemerintah kabupaten/kota di bidang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang serasi dengan kebijakan pemerintah provinsi, juga untuk menjamin agar reklamasi dan pascatambang dapat terlaksana sesuai dokumen rencana reklamasi dan pascatambang yang telah disetujui oleh pejabat yang berwenang. Jika dalam pengawasan terhadap pelaksanaan reklamasi dan pascatambang ditemukan adanya pelanggaran administratif, maka temuan tersebut diserahkan kepada instansi yang bertanggung jawab untuk ditindaklanjuti. Dan jika hasil pengawasan ditemukan indikasi adanya dugaan tindak pidana, maka temuan tersebut diserahkan kepada aparat

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

106

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

penegak hukum. Selanjutnya jika dalam pengawasan tersebut ditemukan adanya dampak yang merugikan kepentingan lingkungan hidup, maka dapat dilakukan gugatan perdata sesuai peraturan perundang-undangan.

b. Komisi Pengawas Pertambangan Pengawasan terhadap pelaksanaan reklamasi dan

pascatambang dilakukan oleh Komisi Pengawas Pertambangan, sebuah badan daerah yang dibentuk dengan Peraturan Gubernur. Komisi Pengawas Pertambangan ini memiliki tugas dan wewenang khusus melakukan pengawasan Dalam terhadap menjalankan pelaksanaan tugasnya, reklamasi dan

pascatambang.

Komisi

Pengawas

Pertambangan berwenang: melakukan pemantauan lapangan; meminta keterangan pejabat/petugas terkait; membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan; memasuki tempat tertentu yang diperlukan; memotret atau membuat rekaman audio visual; mengambil sampel; memeriksa peralatan atau instalasi tertetntu; menghentikan pelanggaran tertentu, dan melakukan koordinasi dengan instansi-instansi tekait. Komisi Pengawas Pertambangan dapat memberi rekomendasi kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 107

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

daerah untuk melakukan gugatan perdata kepada penanggung jawab kegiatan reklamasi dan/atau pascatambang. Pemikiran ini didasarkan pada asas tanggung jawab Negara dalam pengelolaan lingkungan. Anggaran kegiatan Komisi Pengawas Pertambangan

dibebankan pada APBD Pemerintah Daerah. Keanggotaan Komisi Pengawas Pertambangan terdiri atas unsur PPNS, Badan Lingkungan Hidup Daerah, Dinas Pertambangan, Dinas Kehutanan, Inspektorat, Akademisi, dan unsur Lembaga Swadaya Masyarakat, dengan masa keanggotaan selama 2 (dua) tahun, dan dapat diperpanjang untuk satu kali masa tugas berikutnya. Dengan komposisi keanggotaan yang lintas perangkat daerah ini menandakan bahwa lembaga ini bersifat ad hok dan demokratis, yang diharapkan data berperan mendorong penguatan badan-badan fungsional lainnya. Adapun ketentuan mengenai susunan organisasi, syarat

keanggotaan, dan tatakerja Komisi Pengawas Pertambangan diatur dalam Peraturan Gubernur. Pemberian mandat kepada Gubernur ini

dimaksudkan agar penyesuaiannya dengan perkembangan kelak dapat lebih fleksibel.

6. Keterbukaan Informasi dan Peranserta Masyarakat Keterbukaan informasi dan peranserta masyarakat merupakan satu paket dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang demokratis. Peranserta masyarakat tidak akan terwujud manakala tanpa didukung adanya sistem keterbukaan informasi yang baik. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 108

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Dalam kaitan dengan kebijakan penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang ini, semua dokumen rencana kegiatan reklamasi dan pascatambang, saran dan masukan warga masyarakat yang

berkepentingan, serta keputusan persetujuan kegiatan reklamasi dan pascatambang bersifat terbuka untuk umum. Artinya semua pihak yang berkepentingan terhadap dokumen-dokumen tersebut, untuk diberi

masukan, saran atau perbaikan, dapat memperoleh salinannya. Pihak yang berwenang wajib memberikan pelayanan manakala ada permohonan dokumen-dokumen oleh oleh yang berkepentingan. Adanya rencana kegiatan reklamasi dan pascatambang wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum disetujui oleh pejabat yang berwenang. Pengumuman dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab pada suatu tempat yang mudah dibaca oleh umum. Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana kegiatan reklamasi dan pascatambang, warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan masukan dan saran untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan, yang diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab. Kaidah ini dalam literatur Hukum Administrasi Negara (Belanda) dinamakan inspraak, bertujuan untuk menghindari terjadinya kekeliruankekeliruan (upaya preventif), serta sebagai instrumen perlindungan hukum kepada masyarakat dari kemungkinannya mengalami kerugian atas indakan pemerintahan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

109

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Agar setiap masukan dan saran dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki kepastian hukum, maka saran dan masukan tersebut harus diajukan secara tertulis dengan menyebutkan identitas pemberi saran dan masukan secara jelas. Tata cara dan bentuk pengumuman serta tata cara penyampaian masukan dan saran ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab dengan berpedoman pada prinsip transparansi dan partisipasi.

7. Ketentuan Sanksi Sanksi merupakan bagian penutup dari rangkaian bekerjanya hukum, dan merupakan bagian penting dari upaya penegakan hukum. Pada umumnya tidak ada gunanya memasukkan kewajiban-kewajiban atau larangan-larangan bagi para warga di dalam peraturan perundangundangan tata usaha Negara, manakala aturan-aturan tingkah laku itu tidak dapat dipaksakan oleh tata usaha Negara (Philipus M. Hadjon). Pengaturan sanksi dalam peraturan daerah ini terdiri atas sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi sasarannya adalah pada kegiatannya (pelaksanaan reklamasi dan pascatambang) yang dipandang tidak sesuai dengan ketentuan, karena itu harus diluruskan. Sanksi administratif dapat berupa: teguran tertulis; penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan eksplorasi atau operasi produksi; dan/atau pencabutan IUP atau IPR. Sementara pemberian sanksi pidana ditujukan kepada orangnya atau pelakunya yang dengan sengaja atau alfa telah melakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 110

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

pelanggaran, karena itu harus dimintai pertanggungjawaban hukum agar dapat menimbulkan efek jera, baik bagi pelakunya maupun orang lain. Peran hukum pidana di sini bersifat membantu (hulfrecht), dalam arti membantu ditegakkannya kaidah-kaidah pokok yang diatur dalam

peraturan daerah, yaitu tentang kewajiban menyenggarakan reklamasi dan pascatambang. Besaran sanksi pidana, dengan merujuk pada ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, adalah pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Boleh jadi besaran sanksi ini tidak sebanding ataupun tidak berarti apa-apa bagi kasus reklamasi dan pascatambang ataupun bagi kasus pertambangan lainnya. Akan tetapi jika terjadi hal yang demikian, terjadi kasus yang menimbulkan dampak besar dan penting, maka peraturan daerah ini mengarahkan untuk diproses sesuai peraturan perundang-undang. Dengan demikian paling tidak, ketentuan sanksi ini dapat berperan sebagai pendorong untuk tegaknya kaidah-kaidah hukum tentang reklamasi dan pascatambang. Sesuai dengan kaidah hukum pidana yang merupakan sistem hukum nacional, maka denda pidana ini merupakan pendapatan negara.

8. Ketentuan Peralihan Ketentuan peralihan ini mengatur segala sesuatu yang terjadi dalam masa transisi, karena itu yang penting ditekankan di sini adalah adanya jaminan kesinambungan terhadap segala hak dan kewajiban yang Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 111

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

ada berdasarkan ketentuan lama. Terkait dengan hal tersebut, maka rencana reklamasi dan pascatambang yang telah disetujui oleh yang berwenang pada sebelum berlakunya peraturan daerah ini, tetap diakui dan diberi tenggang waktu sampai 6 (enam) bulan sejak berlakunya peraturan daerah ini untuk segera disesuaikan dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah yang baru. Terkecuali terhadap rencana reklamasi dan pascatambang yang telah dimohonkan pada sebelum

berlakunya Peraturan Daerah ini dan belum mendapat persetujuan, maka wajib disesuaikan dan diproses sesuai ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.

9. Penutup Dalam peraturan daerah ini terdapat beberapa ketentuan yang tindaklanjutnya diatur dengan Peraturan Gubernur. Supaya lebih memberi kepastian hukum, maka Peraturan Gubernur yang sifatnya organik tersebut sudah harus ada dalam tenggang waktu enam bulan sejak disahkan peraturan daerah.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

112

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Gagasan pembentukan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang ini dipelopori oleh beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur sebagai bentuk keprihatian, kepedulian, perhatian, dan wujud tanggung jawab atas terjadinya degradasi lingkungan di Kalimantan Timur yang diyakini kuat sebagai dampak dari pengelolaan pertambangan yang tidak bertanggung jawab, terutama tidak dilakukannya kegiatan reklamasi dan pascatambang terhadap lahan bekas penambangan. Luas lingkup materi muatan yang diatur dalam peraturan daerah tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang ini secara garis besar meliputi 5 (lima) hal, yaitu : 1. mengatur secara lebih jelas dan tegas mengenai kewajiban dan tanggung jawab pemegang perizinan pertambangan berkenaan dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang; 2. luas jangkauan peraturan daerah mengikat pada kegiatan reklamasi dan pascatambang yang ada di seluruh wilayah Kalimantan Timur; 3. dibentuk institusi pengawas pertambangan yang dominnya khusus mengawasi dan membina pelaksanaan reklamasi dan pascatambang yang ada di seluruh wilayah Kalimantan Timur;

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

113

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

4.

mengatur mengenai prinsip transparansi dan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang.

5.

mengatur ketentuan sanksi adminstrasi dan sanksi pidana yang jelas dan tegas terhadap pelanggaran ketentuan reklamasi dan pascatambang, agar memiliki efek jera. Hasil kajian akademik terhadap peaturan perundang-undangan

terkait menyimpulkan bahwa materi muatan yang diatur dalam rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan pascatambang tidak bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan. Naskah Akademik ini memuat penjelasan dan argumentasi lebih rinci dan lebih dalam terhadap materi muatan rancangan peraturan daerah Provinsi Kalimantan Timur tentang penyelenggaraan reklamasi dan

pascatambang. Dengan Naskah Akademik ini pembentukan rancangan peraturan daerah tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara objektif dan ilmiah.

B. Rekomendasi Terkait dengan kesimpulan tersebut, dan sebagai tindak lanjut rancangan peraturan daerah dan Provinsi Kalimantan Timur tentang ini

penyelenggaraan

reklamasi

pascatambang

tersebut,

dengan

direkomendasikan kiranya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Timur segera menindaklanjuti proses penetapan rancangan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

114

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

peraturan daerah sebagaimana tercantum pada lampiran di bawah ini menjadi peraturan daerah yang definitif.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

115

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

DAFTAR PUSTAKA Addinul Yakin, Ekonomi Suber Daya dan Lingkungan, Teori dan

Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan, Akademika Presindo, 1997, Jakarta Abraham Amos, H.F. Legal Opinion, Rajawali Pers, 2005. Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, 2005. Amin Ibrahim, Pokok-pokok Analisis Kebijakan Publik (AKP), Mandar Maju, Bandung, 2004. Bachsan Mustafa, Sistem Hukum Administrasi Negara Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, 2001. Bambang Sunggono, Hukum dan Kebijaksanaan Publik, Sinar Grafika, Jakarta, 1994. Budi Riyanto, Hukum Kehutanan dan Sumber Daya Alam, Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan,Bogor. __________, Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan Dalam Perlindungan Kawasan Pelestarian Alam, Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan,Bogor, 2005. Bambang Prabowo Soedarso, Meningkatkan Penguasaan Dan Pemahaman Mengenai Tata Ruang Dan Pengatunran Hukumnya, Hukum dan Pembangunan, No. 4 Tahun XX, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Agustus 1990. Daud Silalahi, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Alumni (Anggota IKAPI), Bandung, 1992. Emil Salim, Pembanguanan Berwawasan Lingkungan, LP3ES, 1991. Hans Kelsen 2006. Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Nusa Media dan Nuansa, Bandung. Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, Sinar Grafika, Jakarta, 2012.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

116

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Irfan Islamy,M., Prinsi-prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, Bumi Aksara, Jakarta, 2004. Juniarso Ridwan Achmad Sodik, Hukum Tata Ruang, Dalam Konsep Kebijakan Daerah, Nuansa, Bandung, 2008. Karden Eddy Sontang Manik, Pengelolaan Lingkungan Hidup, Djambatan, 2003. Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada Press, 2005. Lawrence M. Freidman, American Law, an Introduction, Terjemahan oleh

Wishnu Basuki, PT. Tatanusa, Jakarta, Indonesia, 2001. Mustamin Dg. Matutu dkk., Mandat, Delegasi, Attribusi dan Implementasinya di Indonesia, UII Press, 1999. Mas Achmad Santosa, Good Govarnance Hukum Lingkungan, ICEL, Jakarta, 2001. Muhammad Tahir Azhary, SH., Negara Hukum, Kencana, Bandung, 2003. Muhammad Fauzan, Hukum Pemerintah Daerah, PKHKD FH UNSOED & UII Press, 2006. Muchsin Imam Koeswahyono, Aspek Kebijaksanaan Hukum Penatagunaan Tanah dan Penataan Ruang, Sinar Grafika, Jakarta, 2008 Nimatul Huda, HukumTata Negara Indonesia, Rajawali Pers, 2005. Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University Press, 2005. Otto, J.M. Ateng Syafrudin, Hukum Tata Ruang di Indonesia dan Belanda, PRO JUSTITIA (Masalah Hukum) Tahun VIII Nomor 2, April 1990. Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, PT. Bina Ilmu, 1987. Paulus Efendi Lotulung, Penegakan Hukum Lingkungan oleh Hakim Perdata, Citra Aditya Bakti, 1993 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013 117

Naskah Akademik RANPERDA tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Pascatambang

Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional, Airlangga University Press, 1996. Salim, Dasar-dasar Hukum Kehutanan, Sinar Grafika,Jakarta, 1997 Supriadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, Sebuah Pengantar, Sinar Grafika, Jakarta, 2005. Yusuf, Asep Warlan, Legalitas Peranserta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Kota, PRO JUSTITIA (Majalah Hukum). Tahun VIII Nomor 2, April 1990.

------------------------------

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, 2013

118