Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Endometriosis merupakan salah satu penyakit jinak ginekologi yang saat ini paling banyak mendapat perhatian para ahli. Di negara maju maupun negara berkembang, telah banyak penelitian yang dilakukan terhadap endometriosis, namun hingga kini penyebab dan patogenesisnya belum diketahui secara pasti. Namun dalam satu hal para ahli sepakat, bahwa pertumbuhan endometriosis sangat dipengaruhi oleh hormon steroid, terutama estrogen.1 Endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapatdi dalam miometrium atau pun di luar uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut adenomiosis, dan bila di luar uterus disebut endometriosis. Pad a endometriosis jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium. Daerah yang paling sering terkena adalah organ pelvis dan peritoneum, organ lain seperti paru-paru juga ikut terkena meskipun jarang. Penyakit ini berkembang dari lesi yang kecil dan sedikit pada organ pelvis yang normal kemudian menjadi massa keras infil trat dan kista endometriosis ovarium (endometrioma). Keberlangsungan endometriosis sering disertai pembentukan fibrosis dan perlekatan luas menyebabkan gangguan anatomi pelvis. 2 Endometriosis dapat disebabkan oleh kelainan

g e n e t i k , gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel endometrium melekat dan berkembang, serta pengaruh-pengaruh dari lingkungan. Sumber lain menyebutkan bahwa pestisida dalam makanan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Faktor-faktor
3

lingkungan

seperti

pemakaian

wadah

plastik,

microwave, dan alat memasak dengan jenis tertentu dapat menjad i penyebab endometriosis.

Endometriosis merupakan penyakit yang hanya diderita kaum perempuan. Prevalensi endometriosis cenderung meningkat setiap tahun, walaupun data p a s t i n y a b e l u m d a p a t d i k e t a h u i . M e n u r u t J a c o e b ( 2 0 0 7 ) , a n g k a k e j a d i a n d i Indonesia belum dapat diperkirakan karena belum ada studi epidemiologik, tapi dari data temuan di rumah sakit, angkanya berkisar 13,6-69,5% pada kelompok infertilitas. Bila persentase tersebut dikaitkan dengan jumlah penduduk sekarang, maka di negeri ini akan ditemukan sekitar 13 juta penderita endometriosis pada wanita usia produktif. Kaum perempuan tampaknya perlu mewaspadai penyakit yang seringkali ditandai dengan nyeri hebat pada saat haid ini. 3

1.2 Rumusan masalah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah referat ini adalah : 1. Apa definisi endometriosis ? 2. Bagaimana epidemiologi endometriosis ? 3. Bgaimana patofisiologi endometriosis? 4. Apa saja faktor resiko endometriosis? 5. Bagimana gejala klinik endometriosis? 6. Bagimana gambaran mikroskopik endometriosis? 7. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk diagnosis endometriosis? 8. Bagaimana klasifikasi endometriosis? 9. Bagaimana menegakkan diagnosis endometriosis? 10. Apa saja differensial diagnosis endometriosis? 11. Bagaimana penatalaksanaan endometriosis? 12. Apa saja komplikasi endometriosis ? 13. Bagaimana pencegahan endometriosis ?

BAB II ISI 2.1 Definisi Endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat di dalam miometrium atau pun di luar uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut ademioasis dan bila diluar uterus disebut endometriosis. Pembagian ini sekarang sudah tidak dianut lagi, karena baik secarfa patologik, klinik ataupun etiologi adenomiosis dan endometriosis berbeda. 4 Pada endometriosis jaringan endometrium ditemukan diluar cavum uteri dan diluar miometrium. Menurut urutan yang tersering endometrium ditemukan di tempat-tempat sebagai berikut :
1) Ovarium 2) Peritoneum

dan ligament sakrouterium, cavum douglasi, dinding

belakang uterus, tuba falopii, plika vesikouterina, ligamentum rotundum dan sigmoid
3) Septum rectovaginal 4) Appendiks 5) Umbilicus 6) Serviks uteri, vagina, kandung kencing, vulva, perineum 7) Parut laparotomi 8) Kelenjar limfe 9) Walaupun sangat jarang, endometriosis dapat ditemukan di lengan, paha,

pleura, dan pericardium. 4,5 Bentuk endometriosis bervariasi, bisa berupa lesi tipikal, plaque atau nodul berwarna hitam, coklat gelap, kebiruan dll, atau berupa kista endometrioma.
5

Gambar 1. Lokasi implantasi yang ditemukan laparaskopi Sumber : http://www.scribd.com/doc/23352341/Endometriosis

anatomis endometriosis melalui

2.2 Epidemiologi Endometriosis umumnya muncul pada usia reproduktif. Angka kejadian endometriosis mencapai 5-10% pada wanita umumnya, dan lebih dari 50% terjadi pada wanita perimenopause. Insidennya yang pasti belum diketahui, namun prevalensinya pada kelompok tertentu cukup tinggi. Misalnya, pada wanita yang dilakukan laparoskopi diagnostik, ditemukan endometriosis sebanyak 0-53%; pada kelompok wanita dengan infertilitas yang belum diketahui penyebabnya ditemukan endometriosis sebanyak 70-80%; sedangkan pada kelompok wanita dengan infertilitas primer ditemukan endometriosis sebanyak 25%. Meskipun endometriosis dikatakan penyakit wanita usia reproduksi, namun telah ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan pascamenopause.1,3 Endometriosis jarang diddapatkan pada orang negro., dan lebih sering didapatkan pada wanita- wanita dari golongan sosioekonomi yang kuat. Yang menarik perhatian adalah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai banyak anak. Rupanya fungsi ovarium secara siklik yang terus-menerus tanpa diselingi oleh kehamilan, memegang peran dalam terjadinya endometriosis. 4 2.3 Patofisiologi
4

Hingga kini penyebab endometriosis belum diketahui secara pasti. Banyak teori yang disebut ikut berperan dalam patogenesis endometriosis, sehingga penyakit ini disebut juga penyakit penuh teori. Tetapi tidak satupun dari teori-teori tersebut yang benar-benar dapat menjelaskan kenapa jaringan endometrium sampai berada di luar kavum uteri. 1,4,5 1. Teori Regurgitasi dan Implantasi Haid Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Sampson pada tahun 1927. Biasanya darah haid keluar dari kavum uteri melalui vagina, namun kadang-kadang darah haid mengalir dari kavum uteri melalui tuba fallopi ke kavum peritoneum, dan berimplantasi pada permukaan peritoneum. Meskipun tidak ada satu mekanisme tunggal yang dapat menerangkan semua kasus endometriosis, beberapa bukti mendukung teori ini sebagai teori utama dalam patogenesis endometriosis : Ketika laparoskopi dilakukan saat haid, darah dapat ditemukan dalam cairan peritoneal pada 75-90% wanita dengan tuba fallopi paten. Sel endometrium hidup yang diperoleh dari cairan peritoneal saat haid dapat tumbuh dalam kultur sel dan dapat melekat dan melakukan penetrasi ke permukaan mesothelial peritoneum. Endometriosis ditemukan lebih sering pada wanita dengan kelainan duktus mulleri obstruktif daripada wanita dengan malformasi dimana tidak terjadi obstrusi aliran keluar menstruasi. Insidensi endometriosis meningkat pada wanita dengan menarkhe awal, siklus menstruasi yang pendek, atau menorrhagi. Endometriosis ditemukan umumnya pada daerah pelvis, paling sering di ovarium, lalu daerah cul-de-sac anterior dan posterior, ligamentum uterosacralis, uterus posterior, dan ligamentum latum posterior. Endometriosis eksperimental dapat diinduksi pada primata setelah menstruasi peritoneal yang diinduksi melalui pembedahan atau injeksi
5

retroperitoneal endometrium menstruasi, dan pada wanita yang menerima injeksi peritoneal jaringan menstruasi mereka. Sayangnya teori ini tidak dapat menerangkan kejadian endometriosis di luar pelvis, seperti di paru, umbilikus, atau di tempat lain. Sebenarnya regurgitasi darah haid merupakan suatu hal yang fisiologik, namun yang masih menjadi bahan diskusi adalah faktor-faktor apa saja yang menyebabkan jaringan endometrium yang terdapat dalam darah haid tersebut dapat terus tumbuh dengan cepat. 1,4,5

Gambar 2. Menstruasi Mundur dan Transplantasi Sumber : http://ezcobar.com/dokter- online/dokter15/index.php 2. Teori Metaplasia (Meier - 1919) Teori ini mengemukakan bahwa lesi endometriosis terbentuk akibat metaplasia dari sel-sel epitel coelom yang berasal dari saluran Muller. Sel-sel ini berdiferensiasi menjadi sel-sel peritoneal, pleura dan sel-sel pada permukaan ovarium. Teori ini sampai kini masih dianut oleh para ahli patologi. Beberapa fakta yang mendukung :
6

Endometriosis ditemukan pada gadis premenarkhe, pada wanita yang tidak pernah menstruasi, dan juga pada gadis remaja yang mempunyai siklus menstruasi yang jarang. Karena sel endometrium intak tidak mempunyai akses ke thoraks pada keadaan tidak terdapatnya defek anatomi, teori implantasi tidak dapat menjelaskan kasus endometriosis di pleura dan pulmo. Metaplasia pada pleura (yang berasal dari epitelium coelom, seperti pada peritoneum dan duktus mulleri) diinduksi oleh hormon steroid atau rangsangan kimiawi yang dilepaskan sel endometrium yang berdegenerasi ke dalam cairan peritoneum (yang dapat berhubungan dengan kavum thoraks melalui hemidiafragma kanan), adalah mekanisme yang mungkin terjadi Metaplasia pada epitelium coelom yang misintegrasi (yang berdekatan dengan bakal ekstremitas selama embriogenesis awal) adalah satu-satunya mekanisme yang dapat menerangkan endometriosis pada tempat perifer yang tidak umum seperti di ekstremitas (jari, kaki, lutut). Kasus endometriosis yang jarang ditemukan pada pria yang diterapi dengan estrogen dosis tinggi (vesika urinaria, dinding abdomen) Sel stroma dan epitelium permukaan ovarium, dikultur bersama dengan estrogen, membentuk stroma dan kelenjar endometrium. Endometrium eutopik (dalam uterus) dan ektopik (di luar uterus) jauh berbeda, baik dari morfologi dan fungsional, suatu fakta yang sulit digabungkan dengan pendapat bahwa implan endometriosis merupakan autotransplantasi dari jaringan endometrium normal. 1,4,5 3. Teori Induksi Teori ini merupakan variasi teori metaplasia bahwa darah haid atau rangsangan atau paparan lain memicu sel-sel peritoneum sehingga terjadi perubahan sel-sel asal yang tidak berdiferensiasi menjadi sel-sel endometrium yang berdiferensiasi dan memiliki kemampuan untuk berimplantasi. 1,4,5

4. Teori Aliran Limfe (Halban-1924) Halban berusaha menerangkan kemungkinan kejadian endometriosis jarak jauh berdasarkan aliran limfe yang membawa dan akhirnya dapat tumbuh di tempat yang baru. 1,4,5 5. Teori Iatrogenik Teori iatrogenik menyatakan terjadinya endometriosis pada dinding abdomen adalah karena pemindahan desidua saat operasi sesarea. 1,4,5 6. Teori Neurologik Teori ini merupakan konsep baru dalam patogenesis endometriosis: dimana lesi tampaknya menginfiltrasi dinding usus besar sepanjang nervus, pada jarak yang jauh dari lesi primer. Tentu saja, faktor lain seperti imunologi, genetik dan familial, juga dapat terlibat. Anaf et al, yang mempertimbangkan endometriosis usus besar sebagai fenomena invasi atau infiltrasi, menemukan bahwa terdapat kontinuitas histologis antara lesi superfisial dan dalam dibawahnya pada dinding usus besar, menunjukkan bahwa lesi berasal dari serosa yang secara progresif menginvasi muskulus propria. Mukosa jarang terlibat karena innervasi yang kurang. 1,4,5 7. Faktor Genetik dan Imunologik Dmowski dan teman-temannya menduga faktor genetik dan imunologik sangat berperan terhadap timbulnya endometriosis. Ditemukan penurunan imunitas seluler pada jaringan endometrium wanita yang menderita endometriosis. Pada cairan peritoneum wanita dengan endometriosis ditemukan aktivitas sel makrofag yang meningkat, penurunan aktivitas natural killer cells dan penurunan aktivitas sel-sel limfosit. Makrofag akan mengaktifkan jaringan endometriosis dan penurunan sistem imunologik tubuh akan menyebabkan jaringan endometriosis terus tumbuh tanpa hambatan. Makin banyak regurgitasi darah haid, makin banyak pula sistem pertahanan tubuh yang terpakai. Pada wanita dengan darah haid yang sedikit, atau yang jarang haid, sedikit sekali ditemukan endometriosis. Bila salah satu orang tua (ibu) menderita endometriosis, maka anak dari orang tua tersebut lebih mungkin menderita endometriosis. Wanita Asia lebih banyak menderita endometriosis dibandingkan wanita Negro. 1,4
8

2.4 Faktor Resiko Wanita yang beresiko terkena penyakit endometriosis, yaitu : 1) Wanita yang ibu atau saudara perempuanya menderita endometriosis 2) Memiliki siklus menstruasi kurang atau lebih dari 27 hari 3) Menarke terjadi pada usia relatif muda (< 11 thn) 4) Masa menstruasi berlangsung selama 7 hari atau lebih 5) Orgasme saat menstruasi
6) usia, 7) peningkatan jumlah lemak tubuh perifer, 8) gangguan haid (polimenore, menoragia, dan berkurangnya paritas) . 2 , 3

2.5

Gambaran Klinik Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah : 1) Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selam haid (dismenore) Dismenore pada endometriosis biasanya merupakan rasa nyeri waktu haid yang semakinl a m a s e m a k i n m e n g h e b a t . S e b a b d a r i d i s m e n o r e i n i t i d a k d i k e t a h u i , t e t a p i m u n g k i n a d a hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. Nyeri tidak selalu didapatkan pada endometriosis walaupun kelainansudah luas, sebaiknya kelainan ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang keras. 2,4,6 2) Disparunia Dispareunia merupakan gejala yang sering dijumpai, adalah nyeri pada alat kelamin atau nyeri di dalam panggul selama melakukan hubungan seksual . Disebabkan oleh karena adanya endometriosis dikavum Douglasi. 2,4,6 3) Nyeri waktu defekasi, khususnya pada waktu haid; Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid, disebabkan olehkarena adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid. Kadang9

kadang

bisa

terjadi

stenosis

dari

lumen

usus
2,4,6

besar

tersebut.

Endometriosis kandung kencing jarang terdapat, gejala-gejalanya ialah gangguan miksi dan hematuria pada waktu haid. 4) Polimenore dan hipermenore; Gangguan haid dan siklusnyadapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan pada ovarium demikian luasnya sehingga fungsi ovarium terganggu. 2,4,6 5) Infertilitas Faktor p e n t i n g yang menyebabkan infertilitas pada e n d o m e t r i o s i s i a l a h a p a b i l a m o b i l i t a s t u b a terganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan di sekitarnya. Pada pemeriksaan ginekologik, khususnya pada pemeriksaan vagino-rekto-abdominal, padat ditemukan butir pada beras endometriosis ringan b e n d a - b e n d a sebesar

s a m p a i b u t i r j a g u n g d i k a v u m D o u g l a s i d a n p a d a ligamentum sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. Ovarium mulamulad a p a t d i r a b a s e b a g a i t u m o r k e c i l , a k a n t e t a p i b i s a m e m b e s a r s a m p a i s e b e s a r t i n j u . T u m o r ovarium seringkali terdapat bilateral dan sukar digerakkan. 2,4,6

10

Gambar 3 :Patofisiologi nyeri dan infertilitas akibat endometriosis http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMep1000274

2.6 Gambaran Mikroskopik Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan ciri-ciri khas bagi endometriosis, yakni kelenjar-kelenjar dan stroma endometrium, dan perdarahan bekas dan baru berupa eritrosit, pigmen hemosiderin, dan sel-sel makrofag berisi hemosiderin. Di sekitarnya tampak sel-sel radang dan jaringan ikat, sebagai reaksi dari jaringan normal disekelilingnya. Jaringan endometriosis seperti juga jaringan endometrium di dalam uterus, dapat dipengaruhi oleh estrogen dan progesteron. Akan tetapi besarnya pengaruh tidak selalu sama, dan tergantung dari beberapa faktor, antara lain komposisi endometriosis yang bersangkutan (apakah jaringan kelenjar atau jaringan stroma yang lebih banyak), dari reaksi jaringan normal di sekitarnya, dan sebagainya. Sebagai akibat dari pengaruh hormon-hormon tersebut, sebagian besar sarang-sarang endometriosis berdarah secara periodik. Perdarahan yang periodik ini menyebabkan reaksi jaringan sekelilingnya berupa radang dan perlekatan. 1, 4 Pada kehamilan, dapat ditemukan reaksi desidual jaringan endometriosis. Apabila kehamilannya berakhir, reaksi desidual menghilang disertai dengan regresi sarang endometriosis, dan dengan membaiknya keadaan. Pengaruh baik dari kehamilan kini menjadi dasar pengobatan endometriosis dengan hormon untuk mengadakan apa yang dinamakan kehamilan semu (pseudopregnancy). 1, 4 Secara mikroskopik, endometriosis merupakan suatu kelainan yang jinak, akan tetapi kadang-kadang sifatnya seperti tumor ganas. Antara lain, bisa terjadi penyebaran endometriosis ke paru-paru dan lengan, selain itu bisa terdapat infiltrasi ke bawah kavum Douglasi ke fasia rektovaginal, ke sigmoid, dan sebagainya. 1, 4

2.7

Klasifikasi

11

Berdasarkan visualisasi rongga pelvis dan volume tiga dimensi dar iendometriosis dilakukan penilaian terhadap ukuran, lokasi dan kedalaman invasi, dari keterlibatan yang ovarium dan densitas dari p e r l e k a t a n . D e n g a n perhitungan ini didapatkan nilai-nilai skoring k e m u d i a n jumlahnya berkaitan dengan derajat klasifikasi endometriosis. Nilai 1-4 adalah minimal (stadium I), 5-15 adalah ringan (stadium II), 16-40 adalah sedang (stadium III) dan lebih dari 40 adalah berat (stadium IV) 3

endometriosis peritonium permukaan dalam ovarium Kanan permukaan dalam kiri permukaan dalam Perlekatan cavum douglas ovarium Perlekatan Kanan kiri tuba Kanan kiri Tebal Tipis Tebal Tipis Tebal Tipis Tebal Tipis

<1 cm 1 2 1 4 1 4 sebagian 4 <1/3 1 4 1 4 1 4 1 4

1-3cm 2 4 2 16 2 16 komplit 40 1/3-2/3 2 8 2 8 2 8 2 8

>3 cm 4 6 4 20 4 20 >2/3 4 16 4 16 4 16 4 16

Tabel 1. Derajat endometriosis berdasarkan skoring dari Revisi AFS Sumber : http://ezcobar.com/dokter- online/dokter15/index.php
12

Gambar 3. American Society for Reproductive Medicine Revised Classification of Endometriosis Sumber : http://www.scribd.com/doc/23352341/Endometriosis 2.8 Diagnosis
13

Diagnosis di buat berdasarkan atas : Anamnesis Nyeri pelvik siklik atau dismenorea adalah khas untuk endometriosis. Nyeri haid ini muncul beberapa hari menjelang haid, dan mencapai puncaknya saat haid, dan menghilang setelah berhenti haid. Pasien tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dan memerlukan pengobatan untuk menghilangkan nyeri. Nyeri pelvik dapat juga terjadi asiklik. Nyeri pelvik siklik maupun asiklik ditemukan hampir pada 70-80% penderita endometriosis. Tempat nyeri yang dirasakan pasien dapat diduga sebagai perkiraan lesi endometriosis berada. Endometriosis di peritoneum biasanya menimbulkan nyeri di perut bagian bawah. Endometriosis di vagina atau cavum Douglasi mengakibatkan nyeri saat sanggama atau saat dilakukan pemeriksaan ginekologi. Endometriosis di vesika urinaria mengakibatkan nyeri suprapubik dan air seni bercampur darah.1 Pada 50% pasutri yang mengalami infertilitas ditemukan endometriosis dan 70-80% wanita dengan infertilitas yang tidak dapat dijelaskan ditemukan endometriosis. Pada 15% wanita dengan infertilitas sekunder ditemukan endometriosis. Endometriosis yang ditemukan ini belum tentu merupakan penyebab infertilitas. Banyak wanita hamil yang atas indikasi tertentu dilakukan seksio sesarea ditemukan secara kebetulan endometriosis di rongga pelvis. 1 Pemeriksaan Klinis Pada pemeriksaan dalam atau colok dubur, kadang teraba adanya nodul-nodul di daerah kavum Douglasi dan daerah ligamentum sakrouterina yang sangat nyeri. Uterus biasanya teraba retrofleksi dan sulit digerakkan. Di parametrium terba massa kistik yang nyeri pada penekanan. Selalu harus dilakukan pemeriksaan kombinasi retrovaginal.

Pemeriksaan Penunjang
14

Metode definitif untuk mendiagnosis, penilaian stadium endometriosis dan evaluasi terhadap rekurensi penyakit setelah pengobatan adalah visualisasi dengan tindakan bedah.

Saat

ini,

laparoskopi

merupakan

gold

standar

untuk

mendiagnosis

endometriosis. Pendekatan diagnostik non-operatif seperti ultrasonografi transvaginal dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) tidak banyak membantu dalam mendeteksi adanya adesi dan implantasi di peritoneum dan ovarium. Namun, kedua metode pencitraan tersebut dapat mendeteksi endometrioma ovarium dengan baik, dengan kisaran sensitivitas 80 - 90% dan spesifisitas 60 - 98%.

Dengan USG atau Ctscan terlihat adanya massa kistik di satu atau dua ovarium yang mengarah ke kista coklat, atau terlihat adanya bercak-bercak endometriosis dalam miometrium (adenomiosis). USG juga dapat menunjukkan karakteristik aliran darah sedikit ke endometrioma, aliran normal pada jaringan ovarium normal, dan aliran yang meningkat pada tumor ovarium.

Kadar CA-125 mungkin meningkat pada endometriosis, tetapi tes ini tidak dianjurkan untuk tujuan diagnostik karena rendahnya sensitivitas dan spesifisitas.

Nyeri yang disertai darah saat berkemih atau saat buang air besar perlu dilakukan tindakan endoskopi.1,6

2.9 Differential Diagnosis


15

1. Adenomiosis uteri 2. Radang pelvik dengan tumor adneksa 3. Endometriosis ovarii sulit dibedakan dengan kista ovarium 4. Endometriosis rektosigmoid perlu dibedakan dengan karsinoma. 4

2.10 Penatalaksanaan Bila diagnosis endometriosis sudah ditegakkan, pilihan terapi diambil berdasarkanluasnya endometriosis dan kebutuhan pasien. R e g i m e n p e n g o b a t a n o r a l d a n p e m b e d a h a n ditentukan berdasarkan usia, status fertilitas, beratnya penyakit, pengobatan sebelumnya, biaya,risiko pengobatan, dan lama pengobatan. Penatalaksanaan untuk endometriosis antara lain pemberian analgetik, pengobatan hormonal, dan pembedahan.

A. Pemberian analgetik Analgesik merupakan terapi nonspesifik, tetapi merupakan bagian terapi medis yang penting dan satu-satunya modalitas terapi yang tepat untuk wanita yang menginginkan kehamilan.6 Anti inflamasi non-steroid (AINS) biasanya efektif, karena implan endometriosis mengeluarkan prostaglandin dan sitokin, yangmana produksinya diturunkan oleh AINS. Asetaminofen saja memang kurang efektif tapi cukup baik bila dikombinasi dengan AINS lainnya, atau sebagai monoterapi pada pasien yang memiliki kontraindikasi terhadap AINS.6 AINS biasanya digunakan untuk mengurangi dismenore, meskipun suatu studi acak terkontrol tidak menunjukkan penurunan nyeri yang signifikan akibat endometriosis dengan menggunakan AINS dibandingkan dengan plasebo dan tidak ada keunggulan salah satu AINS di atas lainnya. 1 Haruslah dicatat bahwa AINS sebaiknya dihindari pada masa sekitar ovulasi pada wanita yang menginginkan kehamilan, karena penggunan AINS kronik berhubungan dengan sindrom luteinized unruptured follicle wall; blokade terhadap prostaglandin menghambat pecahnya
16

dinding folikel yang menyebabkan keluarnya ovum, sehingga fertilisasi dicegah. Pada nyeri hebat, terutama pada dismenore yang berat diperlukan suatu narkotik 6 B. Pengobatan hormonal Sebagai dasar pengobatan hormonal endometriosis ialah bahwa pertumbuhan dan fungsi jaringan endometriosis, seperti jaringan endomterium yang normal, dikontrol oleh hormone-hormon steroid. Hal ini didukung oleh data klinik maupun laboratorium. 4 Data klinik tersebut adalah : 1. Endometriosis sangat jarang timbul sebelum menars 2. Menopause, baik alami maupun karena pembedahan, biasanya menyebabkan kesembuhan 3. Sangat jarang kasus endometriosis baru setelah menopause, kecuali bila ada pemberian estrogen eksogen. 4 Prinsip pengobatan hormonal : 1. Menciptakan lingkungan hormone rendah estrogen dan asiklik 2. Menciptakan lingkungna hormone tinggi androgen atau tinggi progesterone.4 Jenis oabat yang dipakasi sebagai terapi hormone adalah : 1. Pil Kontrasepsi Pil kontrasepsi memiliki sejumlah keuntungan, terutama pada endometriosis ringan atau sedang, yaitu: Menurunkan beratnya menstruasi dan lama menstruasi, sehingga menurunkan jumlah produk menstruasi yang retrograd. Memberikan efek desidual pada implan-implan endometriosis yang menghambat pertumbuhan implan lebih lanjut.

Menurunkan level estrogen sirkulasi, terutama estradiol. Dengan menghambat fungsi ovarium dan memberikan estrogen tambahan, level estradiol darah
17

umumnya lebih rendah daripada sebelum mengkonsumsi pil kontrasepsi. Level estrogen yang lebih rendah akan menurunkan stimulasi hormonal pada implan. Bila dikonsumsi terus, pil kontrasepsi akan menghentikan perdarahan withdrawal episodik yang terjadi baik pada endometrium normal maupun implan endometrium. Pil kontrasepsi dapat diberikan 3-6 bulan.1

2. Danazol Danazol merupakan turunan testosteron dan mempunyai efek langsung maupun tak langsung pada endometriosis. Menghambat pertumbuhan implan melalui efek desidualisasinya. Menekan sekresi gonadotropin hipofisis, yang mengakibatkan inhibisi fungsi ovarium dan menurunkan level estrogen. Memblok enzim steroidogenik. Kerugian penggunaan Danazol adalah harganya yang mahal dan efek sampingnya yang bermakna (pertambahan berat badan, maskulinisasi dan depresi). Tetapi, Danazol sangat efektif dalam terapi endometriosis dan sedikit pasien yang menghentikan terapi meskipun mengalami efek samping tersebut.1 3. Progestin Progestin menghambat pelepasan gonadotropin hipofisis, memblokade fungsi ovarium dan mempunyai efek desidualisasi pada implan endometrium, yang menghambat pertumbuhannya. Progestin sama efektifnya dengan pil kontrasepsi dalam terapi endometriosis, tetapi lebih banyak efek samping terutama pertambahan berat badan dan perdarahan breakthrough. 1

C. Pembedahan 1. Pembedahan konservatif


18

Pembedahan konservatif berarti mengambil sebanyak mungkin lesi endometriosis, tetapi dengan batasan untuk mempertahankan fungsi reproduksi. Ini berarti mempertahankan uterus, tuba Fallopi dan ovarium. Pembedahan konservatif adalah pilihan terbaik untuk pasien infertil karena tidak ada terapi tanpa pembedahan yang dapat memperbaiki fertilitas pasien. Sebaliknya, pembedahan konservatif mencapai 40-60% angka kehamilan post-pembedahan, tergantung dari derajat endometriosisnya. 1 5. Pembedahan Definitif Pembedahan definitif melibatkan histerektomi, dengan atau tanpa mengambil tuba, ovarium dan tempat lain endometriosis. Pembedahan definitif memberikan kemungkinan terbesar untuk secara permanen menghilangkan nyeri endometriosis, tetapi menghilangkan fungsi reproduksinya. 1 Pengangkatan ovarium bersifat kontroversial. Bila diangkat, tingkat kesembuhan menjadi lebih besar, tetapi akan menimbulkan keadaan menopause. Untuk menghilangkan gejala menopause tersebut, dapat diberikan terapi pengganti hormon estrogen segera setelah pembedahan. Pemberian estrogen ini tampaknya tidak cukup untuk menumbuhkan kembali endometriosis. 1

2.11 Komplikasi Bila implantasi terjadi di usus atau ureter dapat mengakibatkan obstruksi dan gangguanfungsi ginjal. Distorsi pelvis mengakibatkan gangguan fertilitas. penggunaan kontrasepsi oral berakibat troboembolisme dan efek hipoetrogen GnRH analog jangka panjang mengakibatkan osteoporosis.2 sistem Fungsi koitus Jenis gangguan Dyspareunia (menurunkan frekuensi
19

Fungsi sperma Fungsi tuba falopii Fungsi ovarium

sanggama) Inaktivasi sperma, fagosistosis sperma dengan makrofag Kerusakan fimbriae, penurunan motilitas tuba akibat prostaglandin Anovulasi, pelepasan gonadotropin yang terganggu. Jenis ganguan sistem yang disebabkan oleh endometriosis http://www.scribd.com/doc/40213985

2.12 Pencegahan Meigs pencegahan berpendapat paling baik bahwa kehamilan adalah cara

u n t u k endometriosis.

Gejala-gejala

endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang endometriosis. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama, dan sesudah perkawinan hendaknyadiusahakan supaya mendapat anak-anak yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.S i k a p d e m i k i a n i t u t i d a k menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul. hanya itu m e r u p a k a n p r o f i l a k s i s y a n g b a i k t e r h a d a p e n d o m e t r i o s i s , melainkan Selain janganmelakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan sewaktu haid, oleh karena hal itu dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke rongga panggul .2,4

BAB III KESIMPULAN

20

Endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat di dalam miometrium atau pun di luar uterus. Endometriosis umumnya muncul pada usia reproduktif , namun ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan pascamenopause. Endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai banyak anak. Hingga kini penyebab endometriosis belum diketahui secara pasti. Banyak teori yang disebut ikut berperan dalam patogenesis endometriosis, sehingga penyakit ini disebut juga penyakit penuh teori. Tetapi tidak satupun dari teori-teori tersebut yang benar-benar dapat menjelaskan kenapa jaringan endometrium sampai berada di luar kavum uteri. Wanita yang beresiko terkena penyakit endometriosis, yaitu : Wanita yang ibu atau saudara perempuanya menderita endometriosis, Memiliki siklus menstruasi kurang atau lebih dari 27 hari, Menarke terjadi pada usia relatif muda (< 11 thn), Masa menstruasi berlangsung selama 7 hari atau lebih, Orgasme saat menstruasi , usia, peningkatan jumlah lemak tubuh perifer, gangguan haid (polimenore, menoragia, dan berkurangnya paritas) . Gejala klinis endomteriosis meliputi : Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selam haid (dismenore), D i s p a r e n u n i a , Nyeri waktu defekasi, khususnya pada waktu haid, P o l i m e n o r e Infertilitas. Diagnosis endometriosis dapat ditegakkan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. Endometriosis harus dibedakan dengan Adenomiosis uteri, Radang pelvik dengan tumor adneksa. Endometriosis ovarii sulit dibedakan dengan kista ovarium. Endometriosis rektosigmoid perlu dibedakan dengan karsinoma. Bila diagnosis endometriosis sudah ditegakkan, pilihan terapi diambil berdasarkanluasnya endometriosis dan kebutuhan pasien. R e g i m e n p e n g o b a t a n o r a l d a n p e m b e d a h a n ditentukan berdasarkan usia, status
21

dan

hipermenore,

fertilitas, beratnya penyakit, pengobatan sebelumnya, biaya,risiko pengobatan, dan lama pengobatan. Penatalaksanaan untuk endometriosis antara lain pemberian analgetik, pengobatan hormonal, dan pembedahan.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Miranty Firmansyah. 2008. Mengenal endometriosis. (diakses tanggal 14 Janiarai 2013) http://medicinestuffs.blogspot.com/2008/11/mengenal-endometriosis.html 2. Songkolo. 2009. Referat endometriosis. (diakses tanggal 13 Janiarai 2013) http://www.scribd.com/doc/23352341 3. Widji. 2010. Makalah endometriosis. (diakses tanggal 13 Janiarai 2013) http://www.scribd.com/doc/40213985 4. Hanifa Wiknjosastro, Abdul Bari Saifudin, Trijatmo Rachimhadi. Endometriosis. Ilmu kandungan. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo. 2009: 315-326 5. Lila dewata, samsuldhi, soeharto DS, bambang sukaputra, hendro pramono, djoko waspodo, hendy hendarto. Endometriosis. Pedoman diagnosis dan terapi bagian ilmu kebidanan dan penyakit kandungan. Edisi III. Rumah sakit umum dokter sutomo Surabaya. 2008: 40-43.
6. Linda C. Giudice, M.D., Ph.D. N Engl J Med 2010; 362:2389-2398 June 24, 2010

DOI: 10.1056/NEJMcp1000274. Endometriosis. (diakses tanggal 13 Janiarai 2013) http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMep1000274

23