Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

Ancylostoma Duodenale

Oleh :

Kel 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

1 i

Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan apa yang kami harapkan. Makalah ILMU KESEHATAN mengenai helmintologi (berupa cacing) yang dispesifikasikan pada Ancylostoma duodenale. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah ilmu Parasitologi, yang menjadi pembelajaran bagi kami agar bertambahnya wawasan kami mengenai kesehatan, terutama pada kesehatan manusia. Semoga apa yang kami persembahkan dapat menjadi motivasi dalam meningkatkan prestasi belajar para mahasiswa khususnya, dan menambah wawasan masyarakat.

Daftar isi Halaman juduli Kata Pengantar...................................................................................................................ii Daftar isiiii BAB I. Pendahuluan A. Latar belakang1 B. Rumusan masalah...1 C. Tujuan.....................................................................................................................1 BAB II. Pembahasan 1.1 Pengertian ..2 2.1 Siklus Hidup...4 3.1 Patofisiologi ..4 4.1 Penyebab....4 5.1 Gejala.6 6.1 Epidemiologi .7 7.1 Cara penularan...7 8.1 Diagnosa ...7 9.1 Pengobatan7 10.1 Cara pencegahan..8 BAB III . Penutup A. Simpulan.................................................................................................................9 B. Saran........................................................................................................................9 Daftar Pustaka............10

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit ini. B. Rumusan masalah 1) Pengertian Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 2) Siklus Hidup Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 3) Patofisiologi Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 4) Penyebab Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 5) Gejala Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 6) Epidemiologi Cacing tambang (Cacing tambang) 7) Cara penularan Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 8) Diagnosa Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 9) Pengobatan Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) 10) Cara pencegahan Ancylostoma Duodenale (Cacing tambang) C. Tujuan Memahami Pengertian cacing tambang, siklus hidup, cara penularan, penyebab dan bagaimana cara pengobatan penderita cacing tambang pada umumnya. Serta berusaha sebaik mungkin untuk mencegah terinfeksi cacing tambang

BAB II Pembahasan 1.1 Pengertian Ancylostoma Duodenale disebut juga dengan cacing tambang. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Telur akan menetas menjadi larva di luar tubuh manusia, yang kemudian masuk kembali ke tubuh korban menembus kulit telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki. Larva akan berjalan jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru paru lalu dibatukan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen. Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa
usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kirakira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 11,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform.

Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang
dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus

halus

dan

menjadi

cacing

dewasa.

Infeksi

terjadi

bila

larva

filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan

Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Ancylostoma duodenale ditemukan di daerah Mediterenian, India, Cina dan Jepang.

2.1 Siklus Hidup

Cacing tambang atau cacing cambuk adalah cacing parasit(nematoda) yang hidup pada usus kecil, yang dapat berupa mamalia seperti kucing, anjing ataupun manusia. Ada dua spesies cacing tambang yang biasa menyerang manusia, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Ancylostoma duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa bagian selatan. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab,dgn tingkat kebersihan yg buruk. 3.1 Patofisiologi Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat
menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas.

4.1 Penyebab Penyebabnya adalah cacing gelang usus, yaitu Ancylostoma duodenale. Telur dari Ancylostoma duodenale tersebut ditemukan di dalam tinja dan menetas di dalam tanah setelah mengeram selama 1-2 hari. Dalam beberapa hari, larva dilepaskan dan hidup di dalam tanah. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa menembus kulit. Larva sampai ke paru-paru melalui pembuluh getah bening dan aliran darah. Lalu larva naik ke saluran pernafasan dan tertelan. Sekitar 1 minggu setelah masuk melalui kulit, larva akan sampai di usus. Larva menancapkan dirinya dengan kait di dalam mulut mereka ke lapisan usus halus bagian atas dan mengisap darah.

5.1 Gejala Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia yang diakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kronik. Jumlah darah yang hiIang setiap hari tergantung pada (1) jumlah cacing, terutama yang secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatan dengan kapiler arteri; (2) species cacing : A. duodenale (3) lamanya infeksi. Terjadinya anemia tergantung pada keseimbangan zat besi dan protein yang hilang dalam usus dan yang diserap dari makanan. Kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan terhadap infeksi parasit. Beratnya penyakit cacing tambang tergantung pada beberapa faktor, antara lain umur,"wormload," lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita. Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tiga golongan : I. Infeksi ringan dengan kehilangan darah yang dapat diatasi tanpa gejala, walaupun penderita mempunyai daya tahan yang menurun terhadap penyakit lain. II. infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapat dikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempunyai keluhan pencernaan, anemia, lemah, fisik dan mentaI kurang baik. III. infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaan fisik buruk dan payah jantung dengan segala akibatnya.

Gejala lainnya adalah Ruam yang menonjol dan terasa gatal ( ground itch) bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit. Demam, batuk dan bunyi nafas mengi (bengek) bisa terjadi akbiat berpindahnya larva melalui paru-paru. Cacing dewasa seringkali menyebabkan nyeri di perut bagian atas. Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus. 6.1 Epidemiologi Penyakit ini di Indonesia sering di temukan pada penduduk, terutama di daerah pedesaan yaitu khususnya di dearah perkebunan dan pertambangan yang berhubungan langsung dengan tanah. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir,humus) dengan suhu 23-25C. 7.1 Cara penularan Cara penularan penyakit cacing tambang adalah melalui larva cacing yang terdapat di tanah yangmenembus kulit (biasanya diantara jari-jari kaki), cacing ini akan berpindah ke paru kemudian ke tenggorokan dan akan tertelan masuk saluran cerna. 8.1 Diagnosa Jika timbul gejala, maka pada pemeriksaan tinja penderita akan ditemukan telur cacing tambang. Jika dalam beberapa jam tinja dibiarkan dahulu, maka telur akan mengeram dan menetaskan larva. 9.1 Pengobatan Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan berbagai macam anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat, tetraldoretilen, pirantel pamoat dan mebendazol. Bila cacing tambang telah dikeluarkan, perdarahan akan berhenti, tetapi pengobatan dengan preparat besi (sulfas ferrosus) per os dalam jangka waktu panjang dibutuhkan untuk memulihkan kekurangan zat besinya. Di samping itu keadaan gizi diperbaiki dengan diet protein tinggi

10.1 Cara pencegahan 1. Pengobatan pada penderita untuk menghilangkan sumber penularan 2. Sanitas dispol, melarang defekasi pada tempat yang terbuka 3. Melindungi individu yang susceptible 4. Memberikan penyuluhan 5. Melindungi diri dengan sandal/sepatu.

BAB III Penutup A. Simpulan Ancylostoma duodenale juga disebut dengan cacing tambang. Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur
sehari. telur Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, Infeksi telur paling cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, tersebut menetas menjadi larva rabditiform. sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Gejalanya adalah Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus.penularanmelalui larva cacing yang terdapat di tanah yangmenembus kulit,

Pengobatan dengan anthelmintik, antara lain befenium

hidroksinaftoat. B. Saran 1. Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air. 2. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman. 3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar. 4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air. 5. Bila sudah terjadi infeksi cacing tambang maka penderita harus segera di beri obat cacingan atau segera di bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut

Daftar pustaka 1. KARYADI, D., TARWOTJO, 1., BASTA, S., SUKIRMAN, HUSAINI, ENOCH, H., MARGONO, S.S. and SALIM, A., : Nutritionand Health Status of Construcrion Workers at Three Selected Sitesin West Java, Indonesia. Bull. Penel. Keseh. (Bull. Hlth. Studies in Indon.) No. 2, 1: 47 77, 1974. 2. KNOWLES, J.H. : Other disorders of the lung, dalam Wintrobe,M.M., Thorn, G.W., Adams, R.D. (eds) : Harrison s Principles of Internal Medicine ed. 6, New York, Mc Graw-Hill Book Co Inc., 1970, pp. 1370 1371. 3. http://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_tambang 4. http://www.scribd.com/search?cat=cacing+tambang&sq=Search#913 5. http://www.pdf-search-engine.com/cacing-tambang-pdf.html