P. 1
Tony Q Rastafara - Reggae Bukan Ganja

Tony Q Rastafara - Reggae Bukan Ganja

|Views: 99|Likes:
Dipublikasikan oleh Dip Rasta
Reggae Bukan Ganja, Ganja Bukan Reggae
Reggae Bukan Ganja, Ganja Bukan Reggae

More info:

Published by: Dip Rasta on Jul 30, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

FACETOFACE

Reggae Bukan Ganja!
Tony Q Rastafara
Maraknya ganja tahun 1970-an justru bukan dari kalangan musisi reggae. Walau dari sejarah ada yang menganggap ganja sebagai bagian dari ritual mereka.
MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

FACETOFACE

T

ony Waluyo Sukmoasih atau populer dengan nama Tony Q atau Tony Q Rastafara, dikenal sebagai ikon musik reggae di Indonesia. Dia bersama grup musiknya Rastafara mengenalkan istilah “rambut gimbal” (gaya rambut dreadlock) di Indonesia lewat lagu dengan judul yang sama tahun 1996. Pria kelahiran di Semarang,

Jawa Tengah, 27 April 1961 ini menggabungkan musik reggae dengan unsur instrumen tradisional Indonesia. Misalnya lagu dengan lirik bahasa Sunda ‘Paris van Java’ dan Jawa ‘Ngajogjakarta’. Dedy Sofan dan fotografer Andry Novelino dari MALE mewawancarai Tony di sebuah studio musik di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Berikut petikan wawancaranya.

MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

FACETOFACE

Pekerjaan itu cukup membuat saya frustasi.
MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

FACETOFACE

Anda juga sempat menjadi pengamen di Jakarta, ceritanya?
Gara-gara semua yang saya kerjakan tidak berhasil. Lantas seorang teman mengajak untuk mengamen di kawasan Blok M. Saya mau karena saat itu saya masih menganggur.

Apa alasan Anda nekat menjadi pengamen di Jakarta?
Tidak bisa disebut nekat juga karena ketika di Semarang saya cukup berpengalaman sebagai musisi. Sehingga saya percaya diri ketika berangkat ke Jakarta.

Katanya Anda pernah menjadi karyawan?
Saya memang pernah berkerja di pabrik pengalengan di Cakung, Jakarta Timur. Posisi saya sebagai quality control. Pekerjaan itu cukup membuat saya frustasi.

Bagaimana perasaan Anda pada saat itu?

Saya merasa happy dan tidak ada beban. Saya melakukannya seperti ada sebuah panggilan.

Berapa lama Anda mengamen?
Kurang lebih 5 tahun, tapi terkadang saya juga main musik di cafe.

Apa yang Anda rasakan saat menjalani pekerjaan tersebut?
Awalnya biasa saja, tapi saya menjadi bosan, seakan bekerja seperti robot. Saya lalu mengundurkan diri. Mencoba peruntungan ke Jakarta, sekaligus berkerja di salah satu perusahaan. Namun tak berapa lama saya keluar dari pekerjaan itu.
MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

Bagaimana dengan urusan perut dan keperluan lainnya?
Tidak ada masalah, saya tetap bisa makan dan minum. Walau secara nominal tidak sebesar orang kantoran. Saya tetap bahagia karena mendapatkan sesuatu yang berharga selain uang.

FACETOFACE

Filosofi musik reggae mirip dengan kejadian yang saya alami.
MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

FACETOFACE

Pernah merasa malu menjadi pengamen?
Tidak, tapi jujur saja pada saat itu saya sedikit tidak enak dengan orang tua. Tapi hal tersebut untuk membuktikan bahwa saya bisa bertahan di dunia musik.

Bicara tentang musik reggae, Bob Marley yang menginspirasi Anda untuk memiliki rambut gimbal?
Ya, Saya tertarik mempelajari musik reggae antara lain karena gaya rambut gimbal mereka terutama Bob Marley. Pada tahun 1990-an saya mulai membentuk rambut gimbal.

Apa yang membuat Anda mencintai musik reggae ?
Saya melihat latar belakang musik reggae yang kurang lebih sama dengan musik blues. Yakni perjuangan kaum kulit hitam untuk mendapatkan haknya. Filosofi musik reggae mirip dengan kejadian yang saya alami. Demikian pula yang terjadi di Indonesia.

Peran wanita untuk Anda?

Penting banget, untuk mengkritisi, juga bisa memberikan semangat ketika mengerjakan sesuatu. Kalau kecantikan fisik, relatiflah....ha..ha..ha..!

Ada yang menganggap
MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

FACETOFACE

reggae identik dengan ganja, menurut Anda?
Itu persepsi yang salah! Maraknya ganja tahun 1970-an justru bukan dari kalangan musisi reggae. Tapi anggapan itu semakin berkembang saat tokoh-tokoh musik reggae diperlihatkan sedang menikmati ganja. Menurut saya, pemakaian ganja lebih kepada individu, tidak ada hubungannya dengan reggae. Walau memang dari sejarahnya ada kaum tertentu yang menganggap ganja sebagai bagian dari ritual mereka. Saya pernah bertemu salah satu musisi besar di dunia reggae yang tidak merokok, makan daging, minum alkohol, dan ganja. Apa yang saya lihat pada sosok penyanyi reggae itu sesuai dengan pandangan saya mengenai musik reggae.

Makna hidup dari sudut pandang penyanyi Reggae?
Menerima hidup apa adanya, seperti lagu ‘Three Little Bird’ milik Bob Marley.....”Don’t Worry about a thing, Cause Every little thing gonna be Alright”...ha...ha...ha...

Menerima hidup apa adanya, seperti lagu ‘Three Little Bird’
dan nikmat.

Jika demikian bagaimana Anda menilai sebuah kesuksesan?

Sukses memiliki banyak uang is Nothing! Yang terpenting adalah menjalani hidup dengan bahagia

Seandainya Anda masih bekerja kantoran saat ini, apa yang terbayang di kepala Anda?
Saya sudah menjadi direktur yang memiliki banyak perusahaan....ha...ha,...ha...

MALE No. 023 • 5 - 11 APRIL 2013

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->