Anda di halaman 1dari 26

ASMA

YOSERIZAL EZRA 10.2011.095 PEMBIMBING: DR. AGOES. K, SpPD

DEFINISI
Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh dunia dengan kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang (wheezing), sesak napas (breathlessness), dada rasa tertekan (chest tightness), dispnea, dan batuk (cough) terutama pada malam atau dini hari. (PDPI, 2006; GINA, 2009).

KLASIFIKASI
Berdasarkan penyebabnya: 1. Eksterinsik (alergik) 2. Intrinsik (non-alergik) 3. Gabungan

Faktor Predisposisi & Presipitasi


FAKTOR PREDISPOSISI 1. Genetik 2. Obesitas 3. Seks

FAKTOR PRESIPITASI 1. Alergen:


a. Inhalan b. Ingestan c. Kontaktan

2. Perubahan Cuaca 3. Lingkungan Kerja 4. Stres 5. Olahraga

PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkioulus terhadap benda-benda asing di udara.

Seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokiolus dan bronkus kecil.

Mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. EDEMA LOKAL SEKRESI MUCUS SPASME BRONKIOLUS

GEJALA KLINIS
Sesak nafas Inspirasi < ekspirasi Wheezing Nafas cuping hidung TD dan HR meningkat Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi duduk membungkuk dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM 1. Sputum a. Kristal Charcot Leyden (eosinofil) b. Spiral Crushman (cast cell) c. Creole ( epitel bronkus) d. Neutrofil (+), eosinofil (+) 2. Darah a. AGD b. SGOT dan LDH >> c. Hiponatremia d. Leukositosis e. IgE >>

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes Alergi EKG Spirometri

PENATALAKSANAAN
Edukasi a. Sifat penyakit asma b. Faktor yang menyebabkan serangan c. Faktor mempercepat penyembuhan d. Memahami kegunaan, cara kerja dan pemakaian obat

PENATALAKSANAAN
1. Asma Intermiten a. Umumnya tidak diperlukan pengontrol b. Bila diperlukan pelega, agonis -2 kerja singkat inhalasi dapat diberikan. Alternatif dengan agonis -2 kerja singkat oral, kombinasi teofilin kerja singkat dan agonis -2 kerja singkat oral atau antikolinergik inhalasi. c. Bila dibutuhkan bronkodilator lebih dari sekali seminggu selama tiga bulan, maka sebaiknya penderita diperlakukan sebagai asma persisten ringan

PENATALAKSANAAN
2. Asma Persisten Ringan a. Pengontrol diberikan setiap hari agar dapat mengontrol dan mencegah progresivitas asma, dengan pilihan: Glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah (diberikan sekaligus atau terbagi dua kali sehari) dan agonis -2 kerja lama inhalasi:
Budenoside : 200400 g /hari Fluticasone propionate : 100250 g /hari

Teofilin lepas lambat Kromolin Leukotriene modifiers b. Pelega bronkodilator (Agonis -2 kerja singkat inhalasi) dapat diberikan bila perlu

PENATALAKSANAAN
3. Asma Persisten Sedang a. Pengontrol diberikan setiap hari agar dapat mengontrol dan mencegah progresivitas asma, dengan pilihan: Glukokortikosteroid inhalasi (terbagi dalam dua dosis) dan agonis -2 kerja lama inhalasi Budenoside: 400800 g /hari Fluticasone propionate : 250500 g /hari Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g /hari) ditambah teofilin lepas lambat Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g /hari) ditambah agonis -2 kerja lama oral Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (>800 g /hari) Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g /hari) ditambah leukotriene modifiers

PENATALAKSANAAN
b. Pelega bronkodilator dapat diberikan bila perlu Agonis -2 kerja singkat inhalasi: tidak lebih dari 34 kali sehari, atau Agonis -2 kerja singkat oral, atau Kombinasi teofilin oral kerja singkat dan agonis -2 kerja singkat Teofilin kerja singkat sebaiknya tidak digunakan bila penderita telah menggunakan teofilin lepas lambat sebagai pengontrol

PENATALAKSANAAN
c. Bila penderita hanya mendapatkan glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah dan belum terkontrol; maka harus ditambahkan agonis -2 kerja lama inhalasi d. Dianjurkan menggunakan alat bantu / spacer pada inhalasi bentuk IDT atau kombinasi dalam satu kemasan agar lebih mudah.

PENATALAKSANAAN
4. Asma Persisten Berat (Lihat Gambar 2.5) Tujuan terapi ini adalah untuk mencapai kondisi sebaik mungkin, gejala seringan mungkin, kebutuhan obat pelega seminimal mungkin, faal paru (APE) mencapai nilai terbaik, variabiliti APE seminimal mungkin dan efek samping obat seminimal mungkin

PENATALAKSANAAN
Pengontrol kombinasi wajib diberikan setiap hari agar dapat mengontrol asma, dengan pilihan: Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (terbagi dalam dua dosis) dan agonis -2 kerja lama inhalasi Beclomethasone dipropionate: >800 g /hari Selain itu teofilin lepas lambat, agonis -2 kerja lama oral, dan leukotriene modifiers dapat digunakan sebagai alternative agonis 2 kerja lama inhalai ataupun sebagai tambahan terapi Pemberian budenoside sebaiknya menggunakan spacer, karena dapat mencegar efek samping lokal seperti kandidiasis orofaring, disfonia, dan batuk karena iritasi saluran napas atas

PENCEGAHAN
Pencegahan primer; yaitu mencegah terjadinya sensitisasi pada bayi atau anak yang mempunyai risiko untuk menjadi asma di kemudian hari. Yang dimaksud dengan risiko adalah bayi/anak dengan riwayat atopi baik pada salah satu maupun kedua orang tuanya. Pencegahan sekunder; yaitu mencegah terjadinya asma/inflamasi pada seseorang yang sudah tersensitisasi. Pencegahan tersier; yaitu mencegah terjadinya serangan pada seseorang yang sudah menderita asma.