Anda di halaman 1dari 5

Konfirmasi Eksternal (ISA 505)

Standar Perikatan Audit (SPA) ini berhubungan dengan penggunaan prosedur konfirmasi eksternal oleh auditor untuk memperoleh bukti audit. Tujuan auditor adalah untuk mendesain dan melaksanakan prosedur tersebut untuk memperoleh bukti audit relevan dan andal. Prosedur konfirmasi eksternal: 1. Menentukan informasi yang dikonfirmasi atau diminta 2. Memilih pihak yang tepat untuk dikonfirmasi 3. Mendesain permintaan konfirmasi, termasuk menentukan apakah permintaan telah dialamatkan dengan tepat dan berisi informasi jawaban untuk dikirimkan secara langsung kepada auditor 4. Mengirimkan permintaan, termasuk permintaan tindak lanjut jika berlaku, kepada pihak yang dikonfirmasi Jika manajemen menolak memberikan konfirmasi, apa yang dilakukan auditor? 1. Meminta keterangan tentang alasan penolakan manajemen, dan mencari bukti audit tentang validitas dan memadainya alasan tersebut. 2. Mengevaluasi implikasi penolakan manajemen terhadap resiko kesalahan 3. Melakukan prosedur audit alternative Jika auditor menyimpulkan bahwa penolakan manajemen tidak masuk akal (auditor tidak memperoleh bukti audit yang relevan), maka auditor harus

mengkomunikasikannya dengan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola dan mempertimbangkan implikasi terhadap audit dan opini auditor. Hasil prosedur konfirmasi eksternal Jika auditor meragukan hasil konfirmasi, maka auditor harus mendapatkan bukti audit lanjutan Jika respon pihak eksternal tidak dapat diandalkan, maka auditor harus mengevaluasi implikasi tersebut terhadap resiko.

Dalam kasus tidak ada respon, auditor harus melakukan prosedur audit alternative Jika konfirmasi positif diperlukan dan auditor tidak memperoleh konfirmasi tersebut, maka auditor harus menentukan implikasi terhadap audit dan opini auditor

Jika terjadi penyimpangan, auditor harus melakukan investigasi penyimpangan, apakah terjadi kesalahan penyajian. Auditor tidak boleh menggunakan konfirmasi negatif sebagai prosedur tunggal yang dilaksanakan, kecuali: Auditor telah menentukan resiko kesalahan penyajian material adalah rendah Populasi unsur-unsur dalam konfirmasi negative kecil dan homogen Penyimpangan sangat rendah Auditor tidak menyadari keadaan yang akan menyebabkan penerima permintaan konfirmasi mengabaikan permintaan tersebut.

Auditor harus mengevaluasi hasil konfirmasi eksternal sudah relevan dan andal, atau apakah bukti audit lebih lanjut diperlukan.

Penjelasan lain Konfirmasi dapat digunakan untuk mengonfirmasi ketentuan dalam perjanjian, kontrak atau transaksi, kondisi tertentu Respon atas permintaan konfirmasi merupakan bukti audit yang andal. Mendesain permintaan konfirmasi, factor yang mempengaruhi: Asersi yang dituju Risiko kesalahan penyajian material Susunan dan penyajian permintaan konfirmasi Pengalaman audit sebelumnya Metode komunikasi Otorisasi manajemen untuk merespon kepada auditor Kemampuan pihak yang dikonfirmasi untuk merespon

Perbedaan Konfirmasi Eksternal dalam ISA dan PSAP Konfirmasi Eksternal diatur dalam PSA No. 07 (SA Seksi 330) Perbedaan antara ISA dan PSAP antara alain: 1. Dalam PSAP dijelaskan lebih mendalam tentang hubungan prosedur konfirmasi dengan penaksiran risiko audit oleh auditor, sedangkan di ISA tidak dijelaskan 2. PSAP menjelaskan tentang asersi-asersi yang dituju dengan konfirmasi, sedangkan di ISA tidak dijelaskan 3. Factor yang mempengaruhi dessain permintaan konfirmasi ISA, terdiri dari Asersi yang dituju, Risiko kesalahan penyajian material, Susunan dan penyajian permintaan konfirmasi, Pengalaman audit sebelumnya, Metode komunikasi, Otorisasi manajemen untuk merespon kepada auditor, Kemampuan pihak yang dikonfirmasi untuk merespon. SPAP, terdiri dari pengalaman audit sebelumnya, sifat informasi yang dikonfirmasi, dan responden yang dituju 4. Dalam SPAP dijelaskan dalam paragraph tersendiri tentang Konfirmasi Piutang Usaha, sedangkan di ISA tidak dijelaskan.

Perikatan Audit Tahun Pertama (ISA 510) Standar Perikatan Audit (SPA) ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor yang berhubungan dengan saldo awal dalam perikatan audit tahun pertama. Selain jumlah dalam laporan keuangan, saldo awal mencakup hal-hal yeng memerlukan pengungkapan yang ada pada awal suatu periode, seperti kontijensi dan komitmen. Tujuannya adalah untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang apakah: Saldo awal mengandung kesalahan penyajian yang material terhadap laporan keuangan yang berjalan Kebijakan akuntansi yang tepat dalam saldo awal telah diterapkan secara konsisten dalam laporan keuangan berjalan. Prosedur audit: Auditor harus membaca laporan keuangan terkini, pendahulu, termasuk pengungkapan. Auditor harus memperoleh bukti yang cukup dan tepat apakah saldo awal mengandung kesalahan penyajian material: Menentukan apakah saldo akhir tahun lalu telah dipindahkan ke periode berjalan Apakah telah mencerminkan penerapan kebijakan akuntansi Melakukan reviu kertas kerja, evaluasi prosedur audit berjalan, prosedur audit spesifik Jika saldo awal mengandung kesalahan yang material, auditor harus melakukan prosedur audit tambahan Auditor harus memperoleh bukti audit tentang apakah kebijakan akuntansi telah diterapkan juga dalam laporan keuangan berjalan Jika laporan keuangan periode sebelumnya telah diaudit dan terdapat modifikasi terhadap opini, auditor harus mengevaluasi dampaknya terhadap penilaian risiko kesalahan dalam laporan keuangan periode berjalan.

Kesimpulan dan Pelaporan Audit Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang saldo awal, auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau tidak menyatakan pendapat. Jika auditor menyimpulkan bahwa saldo awal mengandung kesalahan penyajian yang material, maka auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau opini tidak wajar Jika auditor menyimpulkan bahwa kebijakan akuntansi periode berjalan tidak konsisten dengan saldo awal atau perubahan atas kebijakan tidak dicatat dengan tepat, maka auditor harus memberikan opini wajar dengan pengecualian atau opini tidak wajar.

Perbedaan Konfirmasi Eksternal dalam ISA dan PSAP Konfirmasi Eksternal diatur dalam PSA No. 56 (SA Seksi 323) Perbedaan antara ISA dan PSAP antara lain: Dalam PSAP dijelaskan dalam paragraf tersendiri tentang prosedur audit untuk akunakun dalam neraca laporan keuangan periode sebelumnya jika laporan tersebut tidak diaudit, sedangkan di ISA tidak dijelaskan