Anda di halaman 1dari 2

Strategi Baru Pengembangan Nilam di Aceh

Pada tahun 1970-an, kontribusi minyak nilam dari Aceh mencapai 70% dari total produksi nilam Indonesia. Namun produksi tersebut terus merosot akibat perdagangan yang kurang sehat dan mutu minyak yang kurang baik. Pembudidayaan beberapa nomor harapan nilam pada lahan yang sesuai diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani nilam di Aceh.

ilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman atsiri penghasil devisa. Sekitar 90% minyak nilam dunia dipasok dari Indonesia. Pengembangan nilam di Indonesia khususnya di NAD perlu mem-

pertimbangkan perkembangan pasar nilam dunia yang relatif terbatas, karena kebutuhan nilam dunia telah dapat dipenuhi oleh beberapa negara produsen. Namun, meluasnya kecenderungan back to nature akan berdampak positif terhadap

pasar nilam, karena pemakaian minyak parfum sintetis akan berkurang. Mutu minyak nilam Indonesia relatif rendah karena umumnya petani mengolah minyak secara tradisional. Pengolahan masih menggunakan drum dengan bahan bukan stainless steel sehingga minyak perlu diolah lebih lanjut untuk dapat memenuhi persyaratan pasar internasional. Hal ini menyebabkan harga jual minyak menjadi rendah. Melihat kondisi tersebut maka pengembangan nilam di NAD dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan kualitas minyak nilam yang dihasilkan. Selain berbagai hal tersebut, pengembangan nilam juga dihadapkan pada masalah penyakit layu

bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum dan penyakit budok oleh virus. Usaha tani nilam umumnya dilakukan secara swadaya dan belum terpadu dalam budi daya, pengolahan, dan pemasaran. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka pengembangan nilam perlu didukung strategi yang tepat dengan mengacu pada konsep agribisnis, baik melalui intensifikasi maupun perluasan areal. Intensifikasi dilakukan pada pertanaman yang sudah ada, sedangkan perluasan areal tanam diutamakan pada wilayah baru yang sesuai. Kegiatan intensifikasi dan pengembangan nilam dilakukan dengan: Membentuk kelompok-kelompok usaha tani nilam dengan luasan minimal 20 ha/kelompok. Melibatkan pengusaha perkebunan sebagai mitra usaha petani, terutama dalam pengolahan dan pemasaran. Memantapkan kelembagaan kelompok tani sehingga mampu melaksanakan fungsinya dengan baik serta dapat memberikan nilai tambah kepada petani nilam. Menyediakan berbagai sumber pembiayaan usaha tani nilam seperti kredit perbankan, APBD/ APBN, dan swadaya petani. Program Intensifikasi Program intensifikasi dilaksanakan melalui penanaman klon-klon unggul serta penerapan teknik budi daya yang tepat. Dari 28 nomor nilam koleksi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, empat nomor mempunyai rendemen dan mutu minyak (kadar patchouli alkohol) yang tinggi. Dari keempat nomor tersebut, diharapkan ada nomor yang dilepas sebagai varietas unggul. Aplikasi pupuk anorganik dan organik mampu memperbaiki pertumbuhan dan produktivitas lahan dan tanaman. Selain itu, pemberian mulsa mampu memperbaiki lingkungan tumbuh dan produktivitas

1.160.464 ha (20%) tergolong sangat sesuai (S1), 1.816.764 ha (32%) sesuai (S2), 1.230.721 ha (21%) agak sesuai (S3), dan 1.462.651 ha (27%) tidak sesuai (N) untuk tanaman nilam. Informasi ini dapat menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pewilayahan komoditas nilam yang sesuai dengan kondisi setempat.
Salah satu klon unggul nilam yang memiliki rendemen dan mutu minyak tinggi.

Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Nilam Hingga kini, Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar minyak nilam di dunia. Namun, industri hilir nilam masih belum berkembang sehingga hampir seluruh produksi minyak nilam ditujukan untuk ekspor. Hal ini mengakibatkan nilai tambah dari industri nilam belum dapat dinikmati oleh petani atau pengusaha nilam Indonesia, serta harga mengikuti harga yang terjadi di pasar internasional. Untuk itu diperlukan strategi pengembangan industri nilam dengan mengintegrasikan usaha tani, agroindustri penyulingan, dan industri hilir nilam. Pembangunan industri penyulingan nilam dengan kapasitas 5.000 liter pada kawasan usaha tani nilam 20 ha layak secara finansial. Pengembangan industri hilir minyak nilam perlu ditunjang dengan inovasi hasil penelitian dan pengembangan serta kebijakan pemerintah untuk mendukung peningkatan daya saing industri tersebut. Untuk mendukung pelaksanaan strategi ini, perlu diketahui status pasokan dan serapan industri nilam Indonesia saat ini (Hermanto dan M. Djazuli).

tanaman. Pengomposan limbah penyulingan minyak nilam, selain mampu mengurangi dampak negatif limbah, juga dapat menghasilkan kompos yang bermutu tinggi dan sangat potensial sebagai sumber pupuk organik. Penggunaan mikoriza arbuskula mampu meningkatkan produktivitas tanaman, kadar patchouli alkohol, dan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan. Program Pengembangan Wilayah Tanaman nilam telah lama berkembang di NAD. Untuk mempertahankan pamor Aceh yang dikenal dengan nilam Acehnya diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi dan mutu nilam. Salah satu upaya tersebut adalah pengembangan nilam ke daerahdaerah yang sesuai. Daerah yang sesuai untuk pengembangan nilam di wilayah Aceh terdapat pada ketinggian < 700 m di atas permukaan laut. Jenis tanah adalah Latosol, Andosol atau lainnya dengan kedalaman efektif >100 cm dan kedalaman air tanah >75 cm, pH tanah 5-7, tekstur tanah liat berlempung dan liat berpasir. Curah hujan berkisar 1.750-3.500 mm/tahun, hari hujan >100, dan bulan basah di atas 7 bulan. Dengan menggunakan teknik Geographic Information System (GIS) yang didukung oleh data tanah dan iklim, dapat diketahui wilayah yang sesuai untuk pengembangan nilam. Dari luasan yang ada,

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Jalan Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111 Telepon : (0251) 321879 327010 Faksimile : (0251) 327010 E-mail : balittro@indo.net.id