Anda di halaman 1dari 3

Konsep Wujud Menurut Mulla Shadra Konsep wujud atau existence (being [Inggris]; Etre [Prancis]; Sein [Jerman])

merupakan permasalahan penting sebagai objek sekaligus subyek pembahasan utama dalam kajian filsafat. Darinya terurai dua cabang filsafat utama; ontologi (metafisis) dan epistemologi berdasar pada bagaimana wujud dipahami dan dicapai. Sebagaimana pemikiran Aristotle1, metafisika atau filsafat pertama (al-falsafah al-ula) berkaitan dengan mawjud (existent, ens, or das Seindes) sejauh dianggap sebagai mawjud (existent qua existent), realitas dan sifat-sifatnya.2 Dalam paripatetik Islam, penentuan materi atau subject ini (mawjud) tidak pernah diperdebatkan maupun di tolak. Dalam arti bahwa yang menjadi perhatian atau topic utama dalam diskursus dan pengkajian filsafat adalah mawjud dan bukan wujud (existence).3 Namun demikian, pada abad XVII seorang filosof Persia, Sadruddin al-Shirazi atau yang dikenal dengan Mulla Sadra mangajukan tesis bahwa fakta yang sebenarnya dari segala yang ada adalah wujud itu sendiri, nothing is real except existence. Menurutnya filsafat pada dasarnya harus berkaitan dengan wujud, bukan mawjud. Dengan kata lain, Apa yang ada dalam pikiran para filosof ketika mereka berbicara tentang mawjud, justru yang di maksud adalah wujud itu sendiri.4 Salah satu problem enigmatik berkaitan dengan konsep wujud adalah mengenai fundamentalitas ontologis antara wujud dan mahiyah. Di antara keduanya, manakah yang benarbenar riil secara fundamental (ashil). Yakni antara wujud dan mahiyah, manakah yang

1 2

Lihat Aristotle, Metaphysic, 1026a, 31-34 Hal inilah yang mendorong Heidegger menyebutkan bahwa metafisika barat sejak Aristotle telah melupakan makna Ada yang sesungguhnya (das Sein) karena berbasiskan eksisten-eksisten (das Seinde). S.H. Nasr, Mulla Shadra: His Teaching, dalam S.H. Nasr dan Oliver Leaman (ed), History of Islamic Philosophy, Routledge, London, 1996, h. 646. Toshihiko Izutsu menyebutkan bahwa metafisika Aristotle dapat digambarkan secara tepat sebagai sebuah filsafat Things (Sesuatu, entitas). Bagi Aristotle, substansi primer adalah benda-benda kongkret (infinite number of things) yang mengepung kita. Secara filosofis atau ontologism, masing-masing benda itu disebut sebagai eksisten, mawjud, that-which is, atau das Seinde dalam terminology Heidegger. Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence, Keio University, Tokyo, 1971, h. 27 3 S.H. Nasr, Sadr Al-Din Shirazi and His Transcendent Theosophy: Background, Life and Works, Suhail Academy, Lahore, Pakistan, 2004, h. 101 4 Para pengikut aliran Mulla Shadra selalu menyebutkan bahwa dalam Hikmah Ilahi, akar bentuk aktif participle, verb atau infinitive dan passif participle pada akhirnya sama. Contoh, pecinta (ashiq), cinta (ishq) dan yang dicintai (mashuq); orang yang berakal (aqil), akal (aql) yang dipahami (maqul; intelligible), dan dia yang memberikan eksistensi (wajid), eksistensi (wujud), dan eksisten (mawjud). Pandangan ini merupakan sebuah sintesa dan penyatuan perspektif dari karakter aliran Mulla Shadra yang dengan segala cara tidak bisa menghilangkan perbedaan pandangan dengan metafisika Ibnu Sina. Lihat S.H. Nasr, Sadr Al-Din Shirazi, h. 118

merupakan realitas di dunia eksternal?

Lawan kata dari ashil adalah Itibari, yang berarti

pemikiran atau konsep yang tidak secara langsung berkaitan dengan realitas eksternal konkret. Oleh karena itu, jika salah satu dari keduanya merupakan yang ashil, yang lain tentulah Itibari. Secara umum, filosof esensialisme berargumen bahwa wujud, karena kedudukannya sebagai sifat umum segala yang ada, yaitu konsep yang paling umum hanya memiliki realitas sebagai konsep sekunder (maqul tsani) yang tidak mempunyai hubungan dengan sesuatu yang nyata. Suhrawardi sebagai tokoh esensialis dan pendiri madzhab iluminasi (isyraqiyah) memandang bahwa hanya esensi (mahiyah) yang riil di dunia eksternal. Tidak ada yang berkorespondensi dengan wujud di dunia eksternal. Karenanya wujud dapat ditentukan sebagai konsep kosong (empty concept) dan sekunder. Sementara esensi secara fundamental sebagai yang riil (ashalah). Lebih jauh ia juga menegaskan bahwa jika wujud merupakan bagian pokok dari realitas eksternal, maka wujud harus mengada dan wujud kedua ini pada gilirannya juga harus mengada dan seterusnya ad infinitum. Mulla Shadra dengan tegas menolak pandangan di atas. Sebaliknya ia menyatakan bahwa tidak ada yang nyata yang sebenarnya kecuali wujud. Tetapi wujud sebagai satu-satunya realitas tidak pernah ditangkap oleh pikiran. Karena pikiran hanya dapat menangkap esensi dan gagasan umum. Karena itu, ada perbedaan mendasar antara gagasan umum wujud atau esensi. Karena esensi tidak mengada dengan sendirinya, tetapi hanya timbul dalam pikiran dari bentuk-bentuk atau mode-mode wujud particular sehingga dengan demikian hanyalah merupakan fenomena mental yang pada prinsipnya dapat diketahui sepenuhnya oleh pikiran. Sebaliknya, gagasan umum tentang wujud (yang timbul dalam pikiran) tidak dapat mencerminkan atau menangkap hakekat wujud, karena wujud merupakan realitas obyektif dan transformasinya ke dalam konsep mental yang abstrak pasti mengandung kesalahan. Sementara itu, esensi yang pada dirinya sendiri merupakan gagasan umum dan tidak ada per se. dengan demikian esensi dapat diketahui oleh pikiran. Keberatan Suhrawardi bahwa, jika wujud sebagai realitas yang sebenarnya, ia akan mengada, yakni akan menjadi mawjud sehingga akan menimbulkan regresi tanpa pangkal. Dalam hal ini Mulla Shadra mengatakan bahwa wujud merupakan realitas primordial berkat sesuatu yang mengada (thing exist), akan tetapi ia sendiri tidak dapat dikatakan mengada (exist). Sebagai contoh keputih-putihan (whiteness) disebabkan sesuatu yang putih, tapi keputih-putihan itu sendiri tidak dapat dikatakan putih menurut penggunaan umum bahasa. Tentu saja, mungkin

untuk mengatakan sebagai penggunaan istilah khusus bahwa wujud adalah mawjud par excellence dan keputihan adalah putih par excellence. Selain merupakan sesuatu yang riil, wujud adalah sesuatu yang positif, jelas dan pasti, sedangkan esensi adalah bersifat samar, gelap, tidak tertentu, negative dan tidak riil. Karena esensi tidak ada pada diri mereka sendiri, maka apapun yang mereka miliki adalah berkat kebersamaan mereka dengan wujud. Sedangkan wujud adalah riil dengan sendirinya, karena ia merupakan manifestasi dari hubungannya dengan realitas absolut. Berdasarkan pandangan tersebut, menempatkan Mulla Shadra terpisah dari aliran paripatetik muslim yang meyakini bahwa benda-benda konkret tersusun dari esensi dan wujud, masing-masing mempunyai realitas yang terpisah. Pandangan ini juga memisahkan dirinya dari aliran Suhrawardi, yang meyakini esensi sebagai realitas dan wujud hanyalah abstraksi. Dengan prinsip ashala al-wujud yang merupakan basis filsafat wujud, Mulla Shadra melakukan sebuah transformasi penting, yaitu diterapkannya prinsip tasykik atau gradasi wujud. Terjadinya prinsip tasykik tersebut adalah secara sistematis. Hal ini disebabkan karena wujud bukan merupakan suatu yang bersifat statis melainkan berubah secara terus menerus. Perubahan ini terjadi mulai dari tingkatan wujud yang lebih umum, lebih tidak menentu dan lebih tersebar, kepada bentuk-bentuk yang lebih konkret, tertentu dan terintegrasi atau sederhana. Perubahan dari yang kurang sempurna menuju kepada yang lebih utama ini terjadi karena satu arah dan tidak berubah-ubah, karena wujud tidak pernah bergerak ke belakang.