Anda di halaman 1dari 3

Cara Aman Mengendalikan Hama Melati Palpita unionalis

Melati mempunyai ambang ekonomi yang sangat rendah. Karena itu tidak mengherankan jika petani menjadi sangat bergantung pada insektisida sintetis untuk mengatasi serangan hama. Hasil penelitian memperlihatkan, insektisida botani yang mengandung ekstrak tanaman dari famili Annonaceae dan Meliaceae setara efektifnya dengan insektisida sintetis dalam mengendalikan Palpita unionalis. Cara ini juga lebih murah dan ramah lingkungan.

roduksi bunga melati (Jasminum spp.) kerap kali menghadapi banyak kendala, antara lain gangguan hama. Salah satu hama penting tanaman melati di Indonesia adalah larva atau ulat dari ngengat Palpita unionalis Hubn. Di sentra tanaman melati di Tegal dan Pekalongan (Jawa Tengah), serangan hama ini dapat mencapai 80% pada musim kemarau. Biologi Hama Ulat berwarna hijau mengkilap agak transparan, panjangnya dapat mencapai 11 mm. Ulat biasanya mengeluarkan benang-benang halus berwarna putih yang digunakan untuk menggulung daun atau menjalin jaring halus tempat ulat tersebut bersembunyi sambil makan daun melati selama 22-25 hari. Selanjutnya ulat membentuk kepompong yang berwarna hijau atau cokelat dengan panjang sekitar 17 mm. Setelah 15-19 hari, kepompong berubah menjadi ngengat, yaitu sejenis kupu-kupu yang jika hinggap pada daun atau tempat lain sayapnya direntangkan sejajar dengan tempat hinggapnya. Panjang badan ngengat 14 mm, sedangkan rentang sayapnya 27 mm. Badan dan sayap berwarna putih, dengan barisan bulu halus berwarna cokelat pada bagian tepi sayap depan dan ujung ekornya. Serangga betina meletakkan telur yang berwarna bening, berbentuk pipih, dengan diameter sekitar 1 mm di permukaan bawah daun.

Kerusakan oleh Hama Ulat merusak tanaman melati dengan cara memakan daun muda dan pucuk tanaman. Dengan bertambahnya umur larva, daun-daun melati yang tersisa direkatkan satu sama lain dan digunakan untuk tempat membentuk kepompong. Akibatnya, tanaman melati gagal membentuk bunga karena bagian pucuk tanaman rusak sehingga produksi bunga menurun. Selain itu, tampilan tanaman menjadi tidak menarik sehingga tidak dapat dijual sebagai tanaman pot. Pengendalian dan Dampaknya Melati, baik sebagai tanaman hias maupun tanaman industri (parfum, pewangi teh, dan lain-lain) mem-

punyai ambang ekonomi sangat rendah dibanding tanaman pangan ataupun perkebunan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika untuk mengendalikan hama yang sering menimbulkan kerugian besar, petani menjadi sangat bergantung pada penggunaan insektisida sintetis dengan frekuensi dan dosis yang umumnya berlebihan. Selain meningkatkan biaya produksi, cara ini juga dapat berpengaruh negatif bagi keberadaan musuh alami hama dan sangat membahayakan lingkungan. Sebagai pewangi teh, residu insektisida dapat menyulitkan dalam memasarkan melati untuk keperluan industri. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu alternatif lain yaitu pengendalian hama yang ramah lingkungan dan murah. Salah satunya adalah dengan menggunakan insektisida botani. Sifat insektisida botani yang lebih spesifik menjadikannya aman bagi musuh alami hama. Selain itu, residunya lebih mudah terurai sehingga lebih aman pula bagi lingkungan. Penelitian ataupun informasi tentang penggunaan insektisida botani untuk pengendalian hama pada tanaman hias, khususnya melati, memang masih sangat langka. Penelitian yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung Cipanas pada tahun 2001 memperlihatkan, insektisida botani yang mengandung ekstrak tanaman dari famili Anno-

Pucuk tanaman melati yang terserang hama Palpita unionalis (kiri) dan larva hama yang bersembunyi di balik jaring halus yang dijalinnya pada daun (kanan).

naceae dan Meliaceae setara efektifnya dengan insektisida sintetis berbahan aktif sipermetrin dalam mengendalikan P. unionalis pada tanaman melati Jasminum sambac. Persiapan Bahan Insektisida botani dibuat dengan cara menghaluskan daun atau biji beberapa jenis tanaman dari famili Annonaceae dan Meliaceae sampai menjadi tepung. Bahan-bahan tanaman tersebut adalah daun mindi (Melia azedarach), daun culan (Aglaia odorata), biji srikaya (Annona squamosa) , biji sirsak (Annona muricata) , dan biji buah nona (Annona reticulate). Selanjutnya, bahan diaduk dengan bantuan pelarut organik (aseton) hingga diperoleh ekstrak kasar. Ekstrak kasar dibuat menjadi formulasi cair yang dapat diaplikasikan di lapang dengan konsentrasi ekstrak 0,25% b/v (g/100 ml air). Hasil Evaluasi Insektisida Botani pada Tanaman Melati Tanaman melati ditanam di bawah naungan plastik lalu diberi perlakuan insektisida botani dan insektisida sintetis berbahan aktif sipermetrin sebagai pembanding. Apli-

kasi dilakukan satu hari setelah dijumpai hama dan diulang setiap 7 hari. Lima jenis insektisida botani yang telah dipersiapkan diaplikasikan secara tunggal dan bergantian dengan insektisida sintetis golongan piretroid (sipermetrin 50 g/l= Ripcord 5 EC). Insektisida sipermetrin juga diaplikasikan secara tunggal sebagai pembanding. Hasil pengamatan tingkat kerusakan tanaman oleh hama P. unionalis disajikan pada Tabel 1. Setelah aplikasi ke-13, hampir semua insektisida yang diuji efektif, kecuali ekstrak biji srikaya dan buah nona yang diaplikasikan secara tunggal dan ekstrak daun mindi yang diaplikasikan bergantian dengan insektisida sintetis. Aplikasi insektisida botani secara tunggal setiap 7 hari selama 13 kali mampu menekan tingkat serangan hama dengan lebih baik dibanding insektisida sintetis. Bahkan insektisida botani yang mengandung ekstrak daun mindi dan daun culan dua kali lebih efektif dibanding insektisida sintetis. Insektisida botani yang mengandung ekstrak biji srikaya dan biji sirsak memperlihatkan hasil yang lebih baik dibanding jika diaplikasikan secara tunggal. Hasil ini bertolak belakang dengan ekstrak daun mindi dan daun culan yang justru kurang baik hasilnya jika aplikasinya dikom-

binasikan dengan insektisida sintetis. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa untuk mengendalikan hama melati, beberapa insektisida botani sama efektifnya dengan insektisida sintetis. Selain itu, insektisida botani lebih ramah lingkungan, murah, mudah aplikasinya, dan aman bagi operatornya. Hasil penelitian sebelumnya di Balai Penelitian Tanaman Hias tahun 2000 pada tanaman krisan memperlihatkan bahwa aplikasi insektisida botani yang mengandung ekstrak daun mindi, Azadirachta indica, biji sirsak, biji srikaya, biji buah nona, dan Aglaia odorata tidak berpengaruh negatif terhadap hasil tanaman krisan. Aplikasi insektisida botani tersebut ternyata juga tidak berpengaruh negatif terhadap kesegaran bunga krisan dalam vas bunga. Hasil penelitian ini memperlihatkan prospek yang baik dari insektisida botani dalam pengendalian hama melati. Meskipun demikian, insektisida botani tersebut masih perlu diuji di berbagai lokasi yang lebih luas arealnya, khususnya di sentra-sentra pertanaman melati. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semua insektisida yang diuji, baik insektisida botani maupun sintetis, efektif mengen-

Tabel 1. Penurunan tingkat kerusakan tanaman melati oleh hama perusak daun Palpita unionalis setelah aplikasi insektisida botani. Cara aplikasi dan jenis insektisida Aplikasi tunggal1) Biji srikaya Biji sirsak Biji buah nona Daun mindi Daun culan Insektisida sintetis Aplikasi ganda2) (+ insektisida sintetis) Biji srikaya Biji sirsak Biji buah nona Daun mindi Daun culan Kontrol (air)
1) 2)

Persentase penurunan tingkat kerusakan setelah aplikasi ke 4 28,7 21,3 20,0 32,7 38,7 18,0 5 35,3 38,7 24,0 42,0 40,0 26,7 6 42,0 36,7 31,3 47,3 50,7 34,7 7 39,3 33,3 30,0 44,7 47,3 39,3 8 39,3 37,3 28,7 46,7 46,0 34,0 9 36,0 43,3 34,7 56,0 48,7 33,3 10 35,3 46,0 36,0 56,0 54,7 35,3 11 36,7 51,3 34,7 62,0 58,7 43,3 12 36,0 52,7 33,3 56,7 56,7 44,0 13 29,3 42,7 31,3 54,7 51,3 37,3

45,3 31,3 20,0 21,3 20,7 10,0

48,7 38,7 34,0 29,3 23,3 11,3

57,3 50,0 33,3 35,3 37,7 8,7

56,7 50,7 32,7 34,0 35,3 6,0

52,7 48,0 30,0 33,3 34,7 8,0

58,7 48,7 33,3 35,3 39,3 10,0

54,7 49,3 28,0 36,7 36,7 11,3

58,0 51,3 28,0 38,7 44,0 7,3

56,7 48,7 40,0 34,0 29,3 5,3

50,7 42,0 36,7 29,3 42,7 1,3

Aplikasi satu jenis insektisida saja setiap 7 hari sepanjang periode penelitian. Aplikasi insektisida botani dan insektisida sintetis dilakukan berselang-seling setiap 7 hari.

dalikan hama P. unionalis. Aplikasi insektisida botani secara tunggal setiap 7 hari selama 13 kali mampu menekan tingkat serangan hama lebih baik dibandingkan dengan insektisida sintetis. Insektisida botani yang mengandung ekstrak daun mindi dan daun culan dua kali lebih efektif dibandingkan dengan insektisida sintetis sipermetrin. Ekstrak biji sirsak setara dengan insektisida sintetis sipermetrin. Insektisida botani dan insektisida sintetis sipermetrin dapat digunakan secara bergantian (setiap

7 hari) untuk mengendalikan hama P. unionalis dengan hasil yang baik. Insektisida botani yang paling efektif diaplikasikan secara bergantian dengan insektisida sintetis adalah insektisida botani yang mengandung ekstrak biji srikaya dan biji sirsak. Keduanya bahkan lebih baik dibandingkan jika diaplikasikan secara tunggal. Insektisida botani yang mengandung ekstrak daun mindi dan daun culan justru kurang baik hasilnya jika dikombinasikan dengan insektisida sintetis. Hasil penelitian ini memperlihatkan prospek yang baik bagi pengendalian hama melati

dengan insektisida botani (Maryam Abn. dan Tatang Mulyana ) .

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanaman Hias Jln. Raya Ciherang Segunung, Pacet-Cianjur 43253 Kotak Pos 8 Sdl Telepon : (0263) 512607 516684 Faksimile : (0263) 512607 E-mail : segunung@indoway.net

Sekitar 90% dari 9,2 juta hektar areal pertanaman padi sawah di 12 propinsi di Indonesia telah ditanami dengan varietas unggul. Varietas Way Apoburu, Ciliwung, Memberamo, dan Ciherang telah mulai menggeser dominasi IR64 di beberapa daerah.