Anda di halaman 1dari 3

Tanaman Karet Bermanfaat untuk Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan

Tanaman karet relatif dapat beradaptasi pada kondisi lahan yang kurang subur. Pemanfaatan tanaman ini untuk rehabilitasi lahan memberikan banyak manfaat, baik ekonomi maupun ekologis.

an maupun hutan buatan dengan melakukan rehabilitasi. Lahan yang ditumbuhi alang-alang umumnya adalah tanah podsolik merah kuning yang apabila terbuka terlalu lama sangat peka terhadap erosi. Oleh karena itu, pemanfaatan lahan tersebut harus diarahkan kepada tanaman yang tidak terlalu membutuhkan tingkat kesuburan yang tinggi dan sekaligus dapat mencegah erosi. Kelayakan Tanaman Karet untuk Reboisasi dan Rehabilitasi Tanaman karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang

ahan terlantar dan kritis di Indonesia saat ini sudah mencapai jutaan hektar, dan dapat dikategorikan sebagai potensial kritis, semikritis, dan kritis. Luasan tersebut dari tahun ke tahun semakin bertambah antara lain akibat pem-

bukaan hutan tanpa terkendali serta pengelolaan lahan yang kurang baik. Lahan yang ada kebanyakan terlantar dan menjadi padang alangalang. Beberapa ahli mengatakan, lahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, perkebun-

14

Lahan terlantar yang siap ditanami karet.

Pertanaman karet di lahan bekas hutan di Tanjung Baru, Kalimantan Selatan.

mampu berperan dalam reboisasi dan rehabilitasi lahan, karena sifatnya yang mudah beradaptasi terhadap lingkungan dan tidak terlalu memerlukan tanah dengan tingkat kesuburan tinggi. Pengkajian pemanfaatan tanaman karet untuk pembangunan hutan tanaman industri telah dilakukan pada tahun 1989. Dalam kajian tersebut kelayakan karet ditinjau dari empat aspek, yaitu keserasian ekologis, secara ekonomis menguntungkan, bermanfaat terhadap pengembangan sosial kemasyarakatan, dan secara teknis dapat diimplementasikan. Pengusahaan tanaman karet juga akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain menciptakan lingkungan yang sehat karena karet dapat berfungsi sebagai sumber oksigen, pengatur tata air tanah, pencegah erosi, dan pembentukan humus. Karet juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena merupakan penghasil lateks maupun kayu sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan. Untuk diketahui, kayu karet dapat digunakan sebagai bahan baku industri mebel dan bahan bangunan, seperti halnya kayu hutan. Untuk mendukung keberhasilan program reboisasi dan rehabilitasi lahan diperlukan teknologi budi daya seperti penyiapan jalur pe-

nanaman, sistem tanam, penyiapan bahan tanam, dan pemeliharaan tanaman. Bahan tanam yang digunakan dapat berupa semaian atau klonal seperti stum tongkat semaian, stum mata tidur, stum mini, stum tinggi, atau bibit polibeg. Tanaman dipilih yang pertumbuhannya jagur, lurus serta potensi produksi sedang sampai tinggi. Bahan tanaman semaian atau klonal yang terpilih dianjurkan untuk dikelola secara semi-intensif sampai intensif. Teknik budi daya dan pemilihan klon merupakan kunci keberhasilan penanaman karet. Apabila akan digunakan sebagai sumber kayu dan pulp maka dipilih bahan tanam yang memiliki laju pertumbuhan cepat. Permintaan kayu karet yang terus meningkat menunjukkan adanya peluang pengembangan kayu karet. Daur tumbuh karet sebagai penghasil lateks dan kayu berkisar antara 15-20 tahun, tidak jauh berbeda dengan tanaman hutan yang dikembangkan di Indonesia. Sifat kayu karet juga hampir tidak berbeda dengan kayu hutan. Peran Tanaman Karet dalam Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Ketersediaan lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman ka-

ret masih cukup luas. Pemanfaatan lahan tersebut untuk penanaman klon unggul merupakan tindakan konkrit yang harus segera dilakukan. Rakitan teknologi budi daya karet juga telah cukup tersedia. Ditinjau dari segi vegetasi dan manajemen, sebagian besar perkebunan karet rakyat dapat dikategorikan sebagai hutan karet, karena selain karet terdapat berbagai jenis vegetasi lain yang tumbuh berdampingan dengan tanaman karet. Hampir seluruh lahan ditutupi perdu atau pepohonan. Dengan kondisi seperti itu, fungsi hutan karet dari segi tata air adalah sebagai pencegah erosi dan longsor, serta sumber fauna dan flora. Daya adaptasi dan keragaman genetik karet yang tinggi memungkinkan tanaman ini dikembangkan di lahan marginal dan kritis. Berbeda dengan jenis tanaman perkebunan lain, pengusahaan tanaman karet sangat menguntungkan karena adaptasi tanaman terhadap lingkungan dan iklim sangat baik, budidayanya sederhana, mampu tumbuh dan berproduksi, serta untuk perbaikan lingkungan. Pemuliaan karet kini telah mampu menghasilkan klon penghasil lateks dan kayu yang sesuai untuk reboisasi dan rehabilitasi lahan. Namun demikian, tanaman karet asal biji yang memiliki pertum-

15

Tabel 1. Luas areal perkebunan karet Indonesia (ha), 2000-2002. Perkebunan karet Rakyat TBM TM Total Besar negara TBM TM Total Besar swasta TBM TM Total Swasta asing TBM TM Total Total 2000 740.644 1.967.993 2.882.795 5.277 170. 101 212. 617 77.985 147.868 234.201 7.479 35.304 42.808 3.372.421 2001 729.988 1.995.281 2.855.559 34.843 170.535 212. 6 1 7 77.584 148.269 234.201 7.419 35.364 42.808 3.345.225 2002 714.762 2.005.219 2.828.479 34.843 170.535 212.617 77.584 148.269 234.201 7.414 35.369 42.808 3.318.105

Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia (2002).

Apabila reboisasi dan rehabilitasi lahan bisa dilaksanakan dengan tanaman karet, maka upaya meningkatkan fungsi perkebunan karet dan pengelolaan lahan terlantar akan dapat tercapai. Warna hijau hutan akan segera tampak kembali, di samping sebagai sumber oksigen, mengatur hidrologi, mengurangi erosi, dan mengendalikan gejala kebakaran. Populasi tanaman karet akan meluas sebagai tanaman perkebunan dan tanaman kehutanan, baik yang berasal dari biji maupun klonal. Hal ini akan mengubah lahan yang semula tidak produktif menjadi lahan produktif dan berdaya guna cukup tinggi, di samping membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, serta memperbaiki lingkungan (Indyah Sulistya Indraty) .

buhan cepat dan tahan terhadap penyakit juga dapat digunakan untuk reboisasi dan rahabilitasi lahan. Penggunaan tanaman asal biji dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan penanaman mengingat kecambah biji umurnya hanya 21 hari dan pertumbuhannya cepat. Peran perkebunan karet dalam reboisasi dan rehabilitasi lahan cu-

kup penting dilihat dari luas pertanaman (Tabel 1). Sesuai kemampuan dan fungsi perkebunan karet, maka ke depan tanaman karet masih sangat berpotensi untuk dikembangkan dan ditingkatkan luasannya disemua tipe iklim. Teknologi budidaya karet yang ada akan sangat mendukung pelaksanaan kegiatan itu.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Getas Jln. Patimura km 6 Kotak Pos 804 Salatiga 50702 Telepon : (0298) 322504 Faksimile : (0298) 322504 E-mail : rubbergetas@indo.net.id

16