Anda di halaman 1dari 2

Industri Gula Merah, Alternatif Usaha Petani Tebu di Kediri

Mungkin masih ada di antara kita yang belum mengenal gula merah dari tebu. Padahal di beberapa kabupaten di Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung dan Jombang, industri gula merah tebu sudah ditekuni puluhan tahun lamanya. Keuntungan usaha ini cukup tinggi dan dapat menjadi kegiatan ekonomi alternatif petani tebu.

tebu dari luar desa (Kabupaten Blitar) sekitar Rp130.000/ton bila menebang sendiri dan Rp160.000/ ton bila sampai di tempat. Untuk tebu dari lokasi sekitar penggilingan, harganya berkisar Rp120.000Rp140.000/ton, tergantung kualitas tebu. Bagi petani yang menyelepkan tebunya dilakukan bagi hasil, dengan proporsi 2/3 bagian untuk petani dan 1/3 untuk penggiling. Kapasitas Produksi Mesin diesel/giling yang digunakan umumnya memiliki daya 12-18 PK. Satu penggilingan mampu menghasilkan gula 0,6-0,7 ton/hari (1012 jam). Setiap hari, 14 penggilingan yang ada mampu menghasilkan 8,5 ton. Untuk menghasilkan gula sebanyak itu diperlukan tebu sekitar 85 ton atau setara dengan luasan panen 0,7 ha. Produksi gula merah pada awal tahun lebih rendah dibandingkan dengan pertengahan/akhir tahun. Pada awal tahun, rendemen tebu masih relatif rendah (7-7,5%), sehingga dalam satu kali olah/oboran hanya diperoleh 45-50 kg gula. Produksi gula terus meningkat dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus-September karena tebu sudah masak optimal dengan rendemen mencapai 10% bahkan lebih. Dengan rendemen sebesar itu, setiap kali olah mampu menghasilkan gula 60-65 kg. Namun, harga gula pada awal tahun justru lebih tinggi dibandingkan harga pertengahan tahun. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Pada prinsipnya, proses pembuatan gula merah tebu sama dengan gula merah dari kelapa, aren, atau lontar. Tebu digiling pada mesin penggiling, kemudian nira disaring dan dimasak dalam wajan besar untuk diuapkan airnya. Penguapan dilakukan secara bertahap dengan memindahkan nira secara berurutan ke wajan lain (bisanya 8-10 wajan) yang disusun secara berderet dari

ropinsi Jawa Timur merupakan daerah penghasil gula (hablur) terbesar di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 42% dari produksi gula nasional tahun 2002. Selain terkenal sebagai produsen gula hablur, Jawa Timur juga menjadi sentra produksi gula merah dari tebu. Industri gula merah banyak dijumpai terutama di Kabupaten Kediri, seperti di Kecamatan Ngadiluwih, Kras, dan Kandat. Gula merah banyak digunakan untuk pemanis makanan/jajanan, bumbu masak, dan bahan baku industri kecap. Selain itu, gula merah juga dapat dimanfaatkan untuk campuran pembuatan gula merah kelapa. Sebagaimana lazimnya industri tradisional, usaha ini dikelola oleh keluarga petani secara turuntemurun. Untuk mengetahui lebih jauh tentang industri gula merah ini, dilakukan penelitian dengan mengambil contoh di Desa Rejomulyo, Kecamatan Kras, Kediri.

Di Desa Rejomulyo, industri gula merah menjadi kegiatan ekonomi alternatif petani dalam pemasaran tebu selain ke pabrik gula. Industri alternatif ini mampu menghasilkan keuntungan yang cukup besar bagi petani/pengusaha gula merah. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari kesetiaan mereka untuk menekuni usaha ini selama bertahuntahun bahkan ada yang sudah puluhan tahun. Walaupun di dekat desa terdapat pabrik gula kristal/ putih, petani banyak yang mengolah tebunya menjadi gula merah. Pasokan Bahan Baku Bahan baku (tebu) industri gula merah berasal dari dalam dan luar desa (bahkan luar kabupaten). Bahan baku dari luar desa dibutuhkan terutama pada awal tahun, karena tebu dari dalam desa baru dipanen pada pertengahan tahun. Harga

Pengolahan gula merah, dan gula yang masih dalam cetakan ( inzet).

depan ke belakang. Semakin ke depan posisi wajan, nira semakin kental. Nira pada wajan yang di depan (biasanya wajan kesatu atau kedua dari depan) telah siap diangkat untuk dicetak. Sebelum dicetak, nira kental (gulali) dimasukkan ke dalam jambangan besar kemudian diaduk selama 15 menit agar cepat kering dan tidak lengket serta warnanya lebih kuning. Selanjutnya gulali dicetak menggunakan cetakan dari tempurung kelapa yang menyerupai mangkok, sehingga gula merah ini disebut gula mangkok. Dalam pembuatan gula merah, juga ditambahkan kapur untuk menghilangkan kotoran dan yang utama agar gula tidak lembek. Kotoran akan terangkat ke atas bersama busa dan kemudian dibuang dengan menggunakan serok. Agar gula tampak kuning kemerahan dan bersih, biasanya juga ditambahkan "obat gula".

Tabel 1. Rata-rata keuntungan usaha gula merah di Kediri tahun 2003, berdasarkan tipe usaha (Rp/ha). Uraian I Biaya Tanam tebu Pembelian tebu Biaya pengolahan Jumlah (1) Pendapatan Gula (kg) Bagi hasil (kg) Harga (Rp/kg) Jumlah (2) Keuntungan (2-1) 4.500.000 6.446.700 10.946.700 10.260 2.200 22.572.000 11.625.300 Tipe usaha II 14.000.000 6.446.700 20.446.700 10.260 2.200 22.572.000 2.125.300 III 6.446.700 6.446.700 10.260 3.420 2.200 7.524.000 1.077.300

Biaya dan Pendapatan Biaya yang dikeluarkan dalam industri gula merah terdiri atas biaya investasi, operasional, dan biaya lain-lain. Biaya investasi meliputi biaya untuk membeli lahan, membuat bangunan, membeli mesin giling, dan membuat tungku/dapur beserta peralatannya. Untuk memulai bisnis usaha gula merah diperlukan investasi Rp30-Rp48 juta. Biaya operasional yang diperlukan meliputi biaya tebang dan angkut, tenaga kerja di penggilingan, bahan bakar, dan obat gula. Dalam sehari, satu penggilingan mampu bekerja sampai 10 kali olah. Biaya operasional per oboran (1 kali olah= 60 kg gula merah) dan per hek-tar (171 olah= 10.260 kg) masingmasing adalah Rp37.700 dan Rp6.446.700. Berdasarkan bahan bakunya, industri gula merah dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (I) tebu milik sendiri, (II) tebu pembelian, dan (III) tebu yang diselepkan. Perbedaan sumber bahan baku ini akan mempengaruhi keuntungan (Tabel 1).

Keuntungan terbesar diperoleh pengusaha gula merah tipe I sebesar Rp 11.625.300, kemudian tipe II Rp 2.125.300, dan tipe III Rp 1.077.300. Keuntungan pengusaha tipe I tersebut dengan asumsi mereka memiliki lahan sendiri. Bila lahan disewa, mereka harus mengeluarkan biaya sewa Rp6,5 juta/ha, sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi Rp 4,5 juta. Walaupun demikian, keuntungan tersebut masih lebih besar dibandingkan pengusaha tipe II dan III. Pada prakteknya, kebanyakan pengusaha gula merah melakukan fungsi ketiganya sehingga berdasarkan keuntungan yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa usaha gula merah ini cukup menjanjikan. Dengan lahan milik sendiri seluas 4 ha, misalnya, dan harga gula Rp2.200/kg, maka biaya investasi akan kembali dalam masa penggilingan satu tahun saja.

Pemasaran Produk Gula dapat langsung dipasarkan atau disimpan terlebih dahulu sambil menunggu harga gula tinggi. Pengusaha yang bahan bakunya diperoleh dari pembelian atau menerima selepan biasanya langsung menjual hasil gulanya, sedangkan pengusaha yang memiliki lahan sendiri dapat menyimpannya di tempat penyimpanan khusus (pogo) yang mampu menampung gula sekitar 30 ton per pogo.

Pembeli gula merah yang dominan adalah pedagang tingkat desa dan kecamatan. Para pedagang ini sudah dikenal baik oleh pengusaha sehingga sistem pembayarannya pun relatif fleksibel, biasanya gula dibayar saat pembelian berikutnya (3-4 hari kemudian). Kuantitas yang mereka beli juga tidak terlalu besar, hanya 200-300 kg sekali angkut. Selain pedagang lokal, gula merah juga dibeli oleh pedagang dari luar propinsi seperti Banyumas/Purwokerto. Pedagang ini umumnya membeli gula dalam partai besar, minimal 4 ton sekali angkut. Selain untuk pasar domestik, gula merah juga memiliki prospek sebagai komoditas ekspor. Menurut informasi, di Kecamatan Ngadiluwih sudah ada pengusaha gula merah yang melakukan ekspor ke Jepang. Gula untuk tujuan ekspor memerlukan perlakuan khusus, baik menyangkut mutu, bentuk dan kemasan. Tentu saja harganya pun jauh lebih mahal (Ashari, Yulia F. Sinuraya,
Nur Khoiriyah A., dan Yuni H).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jln. A. Yani No. 70 Bogor 16161 Telepon : (0251) 333964 Faksimile: (0251) 314496 E-mail : caser@indosat.net

Beri Nilai