Anda di halaman 1dari 2

Kiat Berusaha Tani Sayuran di Lahan Kering Berlereng Curam

Usaha tani sayuran di lahan kering berlereng berpotensi menimbulkan erosi, longsor, dan banjir di daerah hilir. Kondisi tersebut diperburuk oleh penerapan teknologi usaha tani yang kurang tepat dengan membuat bedengan-bedengan pertanaman sejajar lereng. Kiat mengatasinya diungkapkan pada tulisan ini. yang baik, artinya tanah tidak tergenang, pertukaran udara dalam tanah (aerasi) baik, dan air cukup tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Pengalaman petani sayuran menunjukkan bahwa tanah yang sulit didrainase atau selalu basah dapat menurunkan hasil, baik kuantitas maupun kualitas. Penyebabnya antara lain adalah serangan penyakit meningkat, misalnya Phytophthora sp. atau Pseudomonas sp. Jenis tanah yang sukar didrainase tersebut banyak ditemukan pada lahan dengan kandungan fraksi liat tanah tinggi (> 30%) dengan topografi datar. Di sentra produksi sayuran dataran tinggi pada daerah agak datar atau yang telah terbentuk terasteras, untuk menghindari genangan dapat dibuat bedengan-bedengan dengan selokan yang dapat membuang kelebihan air. Penyiapan lahan dengan membuat bedengan dan saluran tersebut dilakukan pula pada usaha tani sayuran di lahan berlereng dengan arah bedengan sejajar lereng. Padahal berdasarkan hasil penelitian, bedengan yang dibuat sejajar lereng akan mempercepat laju kehilangan tanah akibat erosi.

ermintaan sayuran dataran tinggi seperti kentang, kubis atau wortel terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Jenis sayuran tersebut tumbuh optimal di dataran tinggi (> 700 m dpl.) pada jenis tanah Andosol yang tergolong peka erosi dan longsor. Lahan di daerah pegunungan dengan udara nyaman semakin diburu orang untuk dijadikan tempat rekreasi dan pemukiman. Padahal daerah tersebut sangat cocok untuk lahan usaha tani sayuran. Di satu sisi, keluarga petani sayuran pun terus meningkat. Tekanan keperluan hidup sehari-hari petani sayuran semakin berat manakala lahan yang sesuai untuk usaha taninya semakin sempit. Untuk mengatasi itu mereka berusaha membuka lahan usaha baru. Pembukaan lahan baru di sentra sayuran seperti di dataran tinggi Dieng (Jawa Tengah) dan Cipanas (Jawa Barat) untuk lahan sayuran makin menjadi-jadi. Media Indonesia 18 Januari 2002 melaporkan, masyarakat menjarah seluas 164 ha kawasan lindung untuk ditanami kentang. Dengan situasi seperti itu, kekhawatiran bahaya longsor dan banjir akibat pengelolaan tanah yang kurang tepat akan menjadi kenyataan. Pengelolaan Lahan Sayuran Budi daya sayuran dataran tinggi menghendaki drainase tanah

Produksi Sayuran dan Bahaya Erosi di Lahan Berlereng Pada saat terjadi hujan, lapisan tanah yang subur dapat hilang dan terangkut ke bagian bawah atau ke aliran sungai dibawa oleh aliran permukaan. Tanah yang miring (berlereng curam) akan mempercepat laju erosi (Tabel 1).

Tabel 1. Unsur hara makro setara pupuk yang hilang dalam tanah tererosi pada pertanaman sayuran pola tanam buncis-kubis di tanah Andosol, Cipanas, Jawa Barat. Arah bedengan Sejajar lereng Sejajar kontur Tanah tererosi (t/ha) 65,1 40,5 Urea (kg/ha) 536 324 TSP (kg/ha) 174 126 KCl (kg/ha) 36 26

Kemiringan lahan: 9-22% Kandungan: urea (45% nitrogen); TSP (46% P2O5); KCl (50% K 2O)

Arah bedengan sejajar lereng banyak dipraktekkan pada usaha tani sayuran kawasan Dieng.

Tabel 2. Hasil kentang, pakcoi (di Batulawang, Cipanas), cabai keriting, dan tomat (di Cikareo, Sukaresmi) Jawa Barat yang ditanam pada dua model arah bedengan. Hasil (t/ha) Arah bedengan Sejajar lereng Sejajar kontur Kentang 6,9 5,5 Pakcoi 12,9 10,4 Cabai keriting 3,5 3,7 Tomat 7,7 8,0

sayuran. Pembuatan rumah kaca yang dapat memodifikasi iklim mikro dan hidroponik dalam budi daya sayuran dapat menjadi alternatif usaha mengurangi bahaya longsor di daerah pegunungan dan banjir di daerah hilir (Husein Suganda dan Undang Kurnia).

Bedengan-bedengan yang dibuat sejajar lereng menyebabkan hara dan tanah yang terangkut lebih besar dibanding dengan bedengan yang dibuat sejajar kontur, seperti pada pola tanam kubis-buncis atau kentang-pakcoi, maupun pada cabai keriting-tomat. Padahal dengan membuat bedengan sejajar kontur, hasil sayuran tidak selalu lebih rendah dibanding yang ditanam pada bedengan yang sejajar lereng (Tabel 2).

Alternatif Pemecahan Masalah Sebagai alternatif masa mendatang, sentra sayuran baru dapat dikembangkan di luar Jawa (seperti di Lampung atau Jambi), yang memiliki kesesuaian lahan, agrohidrologi, dan ekonomi yang menguntungkan. Ketersediaan varietas sayuran dataran tinggi yang dapat ditanam di dataran rendah (seperti kubis var. KK cross) dapat membantu keperluan masyarakat akan

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Jln. Ir. H. Juanda 98 Bogor 16123 Telepon : (0251) 323012 Faksimile : (0251) 311256 E-mail : csar@bogor.wasantara.
net.id

Beri Nilai