Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Indera, terutama penglihatan merupakan perangkat tubuh manusia

yang berfungsi sangat besar dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk terwujudnya manusia yang cerdas dan produktif. 1 Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh Dinas kesehatan bekerjasama dengan biro pusat statistik didapatkan angka kesakitan mata tertinggi berkisar antara 18% sampai dengan 25% dan angka kebutaan 2 mata berkisar antara 0,3% sampai dengan 3,49%. Jadi,selaras dengan masalah tersebut maka harus diupayakan peningkatan kesehatan mata sedini mungkin.1

B.

TUJUAN PENULISAN

1. Penulisan referat ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang Anatomi dan fisiologi, definisi, Manifestasi klinis, klasifikasi, dan patofisiologi dari penyakit-penyakit pada konjungtiva 2. Memenuhi sebagian syarat mengikuti ujian Program Pendidikan Profesi di Bagian Ilmu Penyakit Mata Badan Rumah Sakit Daerah Wonosobo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. 2,3,4 Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan epitel kornea dilimbus.3,5 Konjungtiva terdiri atas 3 bagian yaitu;
3,4,5

1. Konjungtiva Palpebralis yang melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. 2. Konjungtiva Bulbi yang menutup bagian depan sklera 3. Konjungtiva Forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

Gambar 1: Konjungtiva fornixis bawah

Gambar 2: Konjungtiva palpebra

Histologis lapisan konjungtiva adalah epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima laisan sel epitel silinder bertingkat, superficial dan basal. Epitel superficial mengandung sel goblet yang memproduksi mucin. Epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial, di dekat limbus epitel ini mengandung pigmen. Dibawah epitel terdapat stroma konjungtiva yang terdiri atas lapisan adenoid yang mengandung jaringan limfoid dan lapisan fibrosa yang mengandung jaringan ikat.
3,5

Kelenjar yang ada di konjungtiva terdiri atas kelenjar Krause (ditepi atas tarsus) yang menyerupai kelenjar air mata dan kelenjar Wolfring. Konjungtiva dibasahi oleh air mata yang saluran sekresinya bermuara di

fornix atas. Air mata yang mengalir ke bawah menuju fornix dan mengalir ke tepi nasal menuju punctum lakrimalis. Dengan demikian konjungtiva dan kornea selalu basah. 3,5

Gambar 3: Kelenjar dan saluran lakrimal

Arteri-arteri konjungtiva berasal dari a. siliaris anterior dan arteri palpebralis dan keduanya beranastomosis. Yang berasal dari a. siliaris anterior berjalan kedepan mengikuti m.rectus, menembus sklera dekat limbus untuk mencapai bagian dalam mata dan cabang-cabang yang mengelilingi kornea. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama N.V (N.Trigeminus) yang berakhir sebagai ujung-ujung yang lepas terutama dibagian pelpebra.2,5

B. KELAINAN KELAINAN YANG MENGENAI KONJUNGTIVA 1. PERADANGAN KONJUNGTIVA Konjungtiva yang meradang disebut konjuntivitis dan merupakan penyakit mata paling umum didunia. Penyakit ini bervariasi dari hyperemia ringan dengan berair mata sampai konjuntivitis berat dengan banyak sekret purulen dan kental. 3 Karena lokasinya, konjungtiva mudah terpapar oleh banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang menggangu. Patogen umum yang dapat menyebabkan konjungtivitis adalah Streptococcus

pneumoniae, haemophilus influenza, Staphylococcus aereus, Neisseria meningitides. 3,5

MANIFESTASI KLINIS Peradangan konjungtiva selain memberi keluhan yang khas berupa terbentunya sekret. Pada anamnesis juga didapatkan keluhan seperti gatal, pedih, seperti ada pasir, seperti klilipen, rasa panas, ada tahi mata dan jika meluas ke kornea akan memberikan sensasi silau. Sekret merupakan produk kelenjar, yang pada konjungtiva bulbi dikeluarkan oleh sel goblet. Sekretnya dapat bersifat; 4

Air, kemungkinan disebabkan infeksi virus dan sebagai reaksi alergi. Purulen, biasanya bakteri atau klamidia

Hiperpurulen, disebabkan gonokokus atau meningokokus Lengket, bila disebabkan karena reaksi alergi atau vernal Serous, bila disebabkan oleh adenovirus. Penderita dengan konjungtivitis sering datang dengan keluhan

mata merah. Ini harus dibedakan antara; konjungtivitis, perdarahan subkonjungtiva, dan iritasi konjungtiva. Pada konjungtivitis didapatkan injeksi konjungtiva dan hiperemi konjungtiva, sedang pada iritasi konjungtiva hanya didapatkan injeksi konjungtiva saja. Gejala objektif dari konjuntivitis adalah: 1. Hiperemi Merupakan gejala yang paling umum pada konjuntivitis. Terjadi karena pelebaran pembuluh darah sebagai akibat adanya
3,4,5

peradangan. Hiperemi mengakibatkan adanya kemerahan pada konjungtiva. Makin kuat peradangan itu makin terlihat merah konjungtiva.

Gambar 4: Konjungtiva hiperemi

2. Epifora atau mata berair Biasa terjadi pada mata yang terkena benda asing dan meradang. Adanya hiperemi yang berat, terjadi transudasi pembuluh darah dan menambah cairan air mata tersebut.

3. Eksudat Adalah produksi dari peradangan konjungtiva. Peradangan pada infeksi lebih banyak eksudat ketimbang peradangan alergi. Jenis eksudat akan berbeda pada infeksi dengan Neisseria Gonokokken , eksudat akan berupa nanah. Sedang infeksi koken lain akan memberi getah radang mukus.

4. Kemosis Adalah sembab pada konjungtiva bulbi yang meradang. Biasanya menunjukkan adanya peradangan yang berat, baik di dalam maupun diluar.

5. Follikel Merupakan bangunan khas sebagai benjolan kecil pada

konjungtiva palpebra atau fornicis. Terdapat pada semua infeksi virus,

klamidian, alergi dan konjuntivitis akibat obat-obatan, berwarna pucat atau abu-abu. ukuran follikel yang besar disebut granula, terutama folikel trakoma.

6. Flikten Adalah bangunan khas berbentuk benjolan seperti gunung. Dilereng terlihat hiperemi dipuncak menguning pucat. Ini merupakan manifestasi alergi bakteri.

7. Membran dan pseudomembran Merupakan hasil proses koagulasi protein di permukaan konjungtiva. permukaan, Pada pseudomembran koagulum hanya menempel di sedang sekret membran koagulumnya menembus

keseluruh tebal epitel.

KLASIFIKASI KONJUNGTIVITIS Pembagian Konjungtivitis ada bermacam-macam. Macam konjungtivitis dapat ditinjau dari penyebabnya dan gambaran kliniknya. Menurut penyebabnya konjungtivitis dibedakan menjadi;
1

Konjungtivitis Blenore Konjungtivitis Gonore BAKTERIAL Konjungtivitis Difteri Konjungtivitis Folikuler AKUT Konjungtivitis Kataral Blefaro-Konjungtivitis Kerato-Konjungtivitis Epidemika

KONJUNGTIVITIS

VIRAL

Demam Faringo-Konjungtivitis Kerato-Konjungtivitis New Castle Konjungtivitis Hemoragik Akut

JAMUR Konjungtivitis Vernal ALERGIK Konjungtivitis Flikten

KRONIS

Menurut Gambaran klinisnya konjungtivitis dapat dibedakan menjadi;2 1. Konjungtivitis kataral 2. Konjungtivitis Purulen 3. Konjungtivitis Flikten 4. Konjungtivitis membran/Pseudomembran 5. Konjungtivitis Vernal 6. Konjungtivitis Folikularis Non-Trakoma 7. Konjungtivitis Folikularis Trakoma

KONJUNGTIVITIS KATARAL Konjungtivitis kataral dibedakan lagi berdasarkan perjalanan waktunya menjadi; konjungtivitis kataral akut, subakut dan kronis. Konjungtivitis kataral akut disebut juga sebagai konjungtivitis mukopurulenta.2,4 Konjungtivitis kataral akut meupakan penyakit menular dengan penularan melalui kontak langsung dengan sekret konjungtiva dan bila berlanjut dapat menjadi kronis dengan sekret yang cair. Penyebab paling umum adalah Streptococcus pneumonia pada iklim sedang dan Haemophilus aegyptius pada iklim panas.5 Keluhan yang timbul pada konjungtivitis kataral akut adalah; 2 Terasa seperti ada pasir atau ada benda asing dimata Fotofobia, Lakrimasi Bila terdapat sekret yang menempel dikornea, dapat menimbulkan kemunduran visual atau melihat halo Blefarospasme. Pada yang kronis tak ada blefarospame.

10

Gambar 5: Konjuntivitis kataralis KONJUNGTIVITIS PURULEN Penyebab umumnya Neiserria gonococcen dan Neiseria

meningitidis. Tanda kliniknya berupa gambaran konjungtivitis akut disertai adanya eksudat bernanah, encer mengalir (Sekret purulen). Pada bayi yang mendapat infeksi gonokoken ketika proses persalinan berlangsung disebut oftalmia neonatorum. Konjungtivitis meningokokus kadang-kadang terjadi pada anak-anak.5 Dibedakan 3 stadium; 2 I. STADIUM INFILTRATIF Berlangsung 1-3 hari. Ditandai dengan palpebra bengkak, hiperemi, tegang, blefarospasme, mungkin terdapat pseudomembran di atasnya, kemotik,sekret sereus. 2

II. STADIUM SUPURATIF Atau PURULENTA Berlangsung 2-3 minggu.gejala-gejala tidak hebat lagi. Palpebra masih bengkak, hiperemis, tetapi tidak tegang, blefarospasme masai ada,sekret campur darah keluar terus-menerus bila palpebra dibuka, yang khas adalah sekret keluar mendadak muncrat atau memancar. 2

III. STADIUM KONVALESEN (penyembuhan)

11

Berlangsung 2-3 minggu. Palpebra sedikit bengkak, hiperemi, tidak infiltratif, tidak kemotik,sekret jauh berkurang. 2

Gambar 6 : Konjuntivitis purulenta

KONJUNGTIVITIS FLIKTEN Merupakan radang terbatas dari konjungtiva dengan pembentukan satu atau lebih dari satu tonjolan kecil (nodular) yang diakibatkan oleh reaksi alergi. Kelainan ini merupakan manifestasi alergik (hipersensitivitas tipe IV) endogen tuberculosis, bakteri Staphylococcus, candida, helmintes dan infeksi di tempat lain dalam tubuh.1,2,4 Tonjolan sebesar jarum pentul yang terutama terletak di daerah limbus, berwarna kemerah-merahan, yang disebut flikten. Konjungtivitis flikten sering dicetuskan oleh blefaritis atau konjungtivitis akut. 1,2 Kelainan biasanya unilateral tapi kadang-kadang mengenai kedua mata. Gejala berupa mata berair (lakrimasi), mata merah setempat, pedes, iritasi dengan rasa sakit, fotofobi, silau (bila kornea terkena). 1,2,4

12

KONJUNGTIVITIS MEMBRANASEA DAN PSEUDOMEMBRANASEA Merupakan konjungtivitis dengan pembentukan membran berwarna putih atau kekuning-kuningan yang menempel erat pada jaringan di bawah konjungtiva dan menutupi konjungtiva palpebra, bahkan

konjungtiva bulbi. Gejala berupa palpebra bengkak, hiperemi dengan membran di atasnya, kadang-kadang ada ulkus kornea akibat infeksi sekunder, dan lepasnya sekret yang banyak.2,4

MEMBRAN reaksi nekrose dan koagulasi dari jaringan konjungtiva permukaan tidak rata Diangkat menimbulkan perdarahan Didapat pada difteri, steven johnson syndrome dan strep. hemolitik

PSEUDOMEMBRAN Endapan dari eksudat atau sekret pada permukaan konjungtiva Permukaan rata Diangkat tidak berdarah Didapat pada semua konjungtivitis hiperakut atau purulen

13

Gambar 7: Sekret membran

Gambar 8: Sekret pseudomembran

KONJUNGTIVITIS VERNALIS Penyakit ini juga dikenal sebagai catarrh musim semi dan konjungtivitis musiman atau konjungtivitis musim kemarau, merupakan konjungtivitis kronik, rekuren bilateral, atopi, yang mengandung sekret mukous, akibat reaksi hipersensitivitas tipe I. 1,2,4,5

Gambar 9: Konjuntivitis Vernal Mata akan terasa sangat gatal, berairdan tahi mata berserat-serat. Terdapat dua bentuk : bentuk palpebra dan limbus. Bentuk palpebra terutama mengenai konjungtiva palpebra superior.berwarna pucat, putih keabuan, disertai papil-papil yang besar atau raksasa, disebut cobble stone appearance sekret mukoid, kadang-kadang konjungtiva hiperemi karena infeksi sekunder.3

14

Bentuk limbus, di sekitar limbus, berwarna putih susu, kemerahmerahan, seperti lilin (Trantas dot),sekret mukoid dan sangat lengket. 3

KONJUNGTIVITIS FOLIKULARIS NON TRAKOMA Diklasifikasikan lagi menjadi ; 1. konjungtivitis folikularis akut Termasuk di dalamnya : inclusion konjungtivitis, keratokonjungtivitis epidemika, demam faringokonjungtiva, keratokonjungtivitis herpetika, konjungtivitis New Castle, konjungtivitis hemoragik akut. 2. Konjungtivitis folikularis kronika 3. Konjungtivitis folikularis toksika atau alergika 4. Folikulosis

KONJUNGTIVITIS FOLIKULARIS TRAKOMA Trakoma merupakan konjungtivitis kronis yang disebabkan oleh Clamydia trachomatis. Pertumbuhan penyakit ini didukung oleh

lingkungan air yang kurang bersih. Dapat mengenai semua umur, merupakan penyakit menular, dimana penularannya melalui kontak langsung dengan sekret penderita atau bahan kontak. Masa inkubasi ratarata 7 hari (berkisar 5-14 hari).1,2,3,4,5

15

Trakoma umumnya bilateral. Pasien akan mengeluh perasaan mata gatal, berair, fotofobi, terdapat tanda papil, folikel (terutama di konjungtiva tarsalis 1/3 nasal atas), sikatrik dan pannus. 3 Pada anak dan orang muda permulaanya berjalan tak mengesan, berkembang sangat ringan atau tanpa komplikasi. Pada orang dewasa berkembang akut dan subakut dan komplikasi dapat timbul seawalnya. Pada awalnya trakoma mirip konjuntivitis bakteri seperti umumnya dengan keluhan berair, silau, sakit, eksudasi serta sembab kelopak mata. Konjungtiva hiperemi, tumbuh hipertrofi papiler, di konjungtiva tarsalis dan bulber tumbuh folikel. Kemosis dapat timbul. Pada kornea tampak keratitis superfisialis, pembentukan pannus di limbus atas dan kelenjar preaurikular teraba lunak dan sedikit membesar. Trakoma sendiri tidak mengesankan adanya eksudat. Penyakit ini berjalan kronik yang exaserbasi (kumat-kumatan). 1,2,3,4,5

16

Gambar 10 : Trakoma Klasifikasi Mac Callan ini dibuat 4 tingkat, yaitu; 3

Stadium I: adalah stadium hiperplasi limfoid. Pada konjungtiva tarsalis atas terlihat hipertrofi papiler dan folikel halus (immatura)

Stadium IIa: Trakoma telah tampak. Di konjungtiva tarsalis atas terjadi papil hipertrofi yang terus tumbuh dan folikel mulai membesar (mature).

Stadium IIb. Hipertrofi terselubung.

tampak dominan dan folikelnya menjadi

Stadium III. Trakoma sikatrikal. Mulai terjadi jaringan parut awal, ditandai dengan adanya garis putih halus di jaringan subepitel konjungtiva yang berhubungan dengan folikel dan hipertrofi papiler yang masih ada di konjungtiva tarsalis atas.

Stadium IV. Trakoma sanata. Trakoma (peradangan) sembuh. Jaringan parut konjungtiva berbentuk bintang (stelat) maupun seperti garis (linear) tanpa menunjukkan lagi gejala peradangan.

17

Klasifikasi Mac Callan tidak dapat untuk membuat prognosis. Maka untuk menentukan prognosis ditetapkan dengan menghitung banyaknya papil dan folikel di konjungtiva tarsalis atas.

TERAPI KONJUNGTIVITIS Terapi konjuntivitis adalah obat anti radang. Bila diperkirakan sudah terlibat proses infeksi maka diberikan obat anti infeksi. Untuk konjuntivitis alergi dapat pula diberikan obat anti alergi, kalau perlu obat immuno depressant. Pemberian obat suntikan maupun oral dapat dibenarkan

sesuai dengan diagnosis dan indikasi.3

2. PROSES DEGENERASI KONJUNGTIVA a) PENGUECULA Penguecula, adalah proses degeneratif dengan ujud penebalan yang mengandung jaringan hialin jaringan submukosa konjungtiva dan jaringan ikat kuning, terletak pada bagian temporal dan nasal dan biasanya dibagian nasal kornea.
1,2,3

18

Gambar 11: Pengueculum b) PTERIGIUM Pterigium adalah jaringan konjungtiva yang melipat tumbuh menutupi (di atas) kornea. Di dalam lipatan ikut jaringan fibrovaskular. Umumnya bentuknya seperti segitiga dengan puncak di daerah kornea dan basis di konjungtiva bulbi. Pterigium mudah meradang dan terjadi iritasi sehingga akan berwarna merah. 1,2,3,4

Gambar 12: Pterigium Pterigium palsu ( pterigium spurium) merupakan hasil operasi yang menarik dan menahan konjungtiva tetap diatas kornea. Biasanya untuk menutup luka kornea.3 Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva bulbi

dengan kornea yang cacat, sebagai proses penyembuhan tukak kornea. Bedanya dengan pterigium selain letaknya, dapat dimasukka sonde di bawahnya. 1,2,4

19

Pterigium dapat tumbuh hingga menutupi

kornea di depan

pupil. Terapi adalah extirpasi dengan indikasi jika pterigium telah masuk ke kornea lebih dari 2 mm.3

c) SYMBLEFARON. Symblefaron adalah perlekatan konjungtiva tarsalis ke

permukaan konjungtiva bulbi atau ke permukaan kornea. Umumnya penyebabnya adalah proses kebakaran kimia di kedua permukaan tersebut.3

3. TRAUMA KONJUNGTIVA 1. Edema Konjungtiva Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik pada setiap kelainannya, demikian pula akibat trauma tumpul. Kemotik yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga akan bertambah rangsangan terhadap konjungtiva. 3,4

2. Ecchymosis Merupakan perdarahan subkonjungtiva yang tampak sebagai bercak merah muda atau tua, besar, kecil, tanpa atau disertai peradangan. Terjadi akibat trauma tumpul basis kranii atau dapat juga disebabkan oleh batuk rejan.1,4

20

4. TUMOR Tumor dikonjungtiva ada yang jinak dan ganas. Yang jinak berupa neavus pigmentosus (andeng-andeng , tahi lalat), tetapi kalau ada pembuluh darah yang melewati andeng-andeng itu, dapat menjadi ganas.
3

Tumor ganas umumnya tumbuh di daerah kritikal, yaitu tempat pergantian epitel konjungtiva menjadi epitel kornea. Tumor dari dalam bola mata dapat menyembul menembus limbus. 3

Gambar 13: Neavus Pigmentosus

21

BAB IV KESIMPULAN

Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang yang memiliki funsi sebagai benteng pertahanan awal mata. Konjungtiva terdiri atas 3 bagian yaitu; Konjungtiva Palpebralis, konjungtiva Bulbi dan konjungtiva Forniks. Kelainan-kelainan yang mengenai konjungtiva antara lain; 1. Peradangan konjungtiva 2. Proses degenerasi konjungtiva 3. Trauma konjungtiva 4. Tumor konjungtiva

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Dinas kesehatan Propinsi Jawa Tengah., Buku Pedoman Kesehatan Mata Telinga dan Jiwa, 2001 2. Wijana,N., Konjungtiva, dalam Ilmu Penyakit Mata, 1993, hal: 41-69 3. Al-Ghozie,M., Handbook of Ophthalmology : A Guide to Medical Examination, FK UMY, Yogyakarta, 2002 4. Ilyas,S., Ilmu Penyakit Mata, Edisi III,Cetakan I, Fakultas Kedokteran UI, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2004 5. Vaughan,D.G, Asbury,T.,Eva,P.R., General Ophthalmology , Original English language edition, 1995

23

Anda mungkin juga menyukai