Anda di halaman 1dari 2

Pewilayahan Peternakan Mau Dibawa Kemana?

Jawa Timur yang separuh wilayahnya merupakan lahan pertanian mempunyai populasi sapi potong cukup tinggi, sebaliknya banyak propinsi yang mempunyai padang rumput begitu luas tetapi populasi ternaknya relatif kecil. Apakah kita sudah terjebak pada anggapan bahwa ternak hanya patut dikembangkan pada lahan yang tidak berpotensi untuk pertanian?

nggapan bahwa pengembangan peternakan ruminansia (pemamah biak) hanya diarahkan pada lahan yang tidak sesuai lagi untuk usaha tanaman pangan maupun perkebunan perlu dihilangkan. Bahkan kalau ingin memajukan peternakan di Indonesia, ternak harus merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan usaha pertanian.

dengan benda yang sifatnya mobil/ aktif. Komoditas tanaman pertanian menempati lahan tersendiri dalam suatu wilayah, sedangkan peternakan, selain memerlukan lahan tersendiri juga dapat dikombinasikan dengan usaha pertanian lainnya, misalnya perkebunan atau tanaman pangan. Dengan demi-

Pemeliharaan sapi secara ekstensif di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Yang menjadi kata kunci adalah pola pengembangan macam apa? Pertimbangan utama dalam pengembangan komoditas tanaman pertanian adalah kesesuaian/kecocokan tanaman terhadap lahan, sedangkan untuk peternakan, selain kecocokan tanaman pakan terhadap lahan, juga perlu diperhatikan kecocokan lingkungan terhadap ternak. Di samping itu, pengembangan peternakan berkaitan

kian, sudah tidak cocok lagi apabila wilayah pengembangan peternakan hanya menempati kawasan yang khusus untuk ternak saja, misalnya padang rumput. Hal ini merupakan salah satu penyebab peternakan tidak dapat berkembang dengan baik, karena: (1) kualitas pakan alami umumnya rendah, dan padang penggembalaan di Indonesia mempunyai daya dukung yang ren-

dah, (2) penyebaran padang penggembalaan sudah sangat terbatas, (3) kondisi fisik maupun kimia tanah perlu diperbaiki dengan memanfaatkan pupuk organik khususnya yang berasal dari pupuk kandang karena sebagian besar tanah di Indonesia mempunyai kesuburan rendah dengan kondisi fisik perlu perbaikan, (4) perlu adanya usaha alternatif agar terdapat kompensasi usaha, sehingga apabila satu usaha mengalami kegagalan, usaha lain masih dapat menyelamatkannya. Berkaitan dengan hal itu, pengembangan peternakan perlu ditingkatkan melalui penerapan teknologi inovatif. Pola penggembalaan liar yang tidak terkendali perlu diperbaiki. Ada tiga pola pengembangan peternakan yang dikenal, yaitu: (1) pola ekstensif, ternak digembalakan atau dilepaskan begitu saja, (2) pola semiekstensif, ternak digembala secara terkendali sambil diaritkan, dan pada malam hari ternak dikandangkan, dan (3) pola intensif, yaitu ternak dikandangkan dan diaritkan. Pola yang pertama sesuai untuk daerah yang masih mempunyai padang penggembalaan luas, umumnya di wilayah Nusa Tenggara dan sebagian di Aceh utara dan Sulawesi Selatan. Pada pola kedua dan ketiga, usaha pe-ternakan tidak memerlukan lahan khusus untuk ternak. Biasanya pola ini terintegrasi dengan usaha per-tanian lainnya. Usaha ini sangat ter-gantung pada keberadaan lahan yang dapat menyediakan pakan ter-nak, baik itu limbah pertanian mau-pun hijauan pakan ternak. Dengan demikian, usaha peternakan dapat dialokasikan pada lahan-lahan yang berpotensi untuk pertanian maupun perkebunan. Oleh karena itu, pola pertama disebut sebagai pola pe-ngembangan secara ekstensifikasi, sedangkan pola kedua dan ketiga disebut pola pengembangan secara intensifikasidiversifikasi. Peluang untuk meningkatkan pengembangan peternakan di Indonesia sangat besar. Walaupun luas padang rumput sebagai padang penggembalaan tradisional di se-

bagian besar wilayah propinsi di Indonesia relatif sempit, sebetulnya lahan yang sesuai untuk ternak dan pakan ternak sangat luas. Pengembangan peternakan sudah waktunya harus terintegrasi dengan subsektor pertanian lainnya (Suratman).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Jln. Ir. H. Juanda No. 98 Bogor 16123 Telepon : (0251) 323012 Faksimile : (0251) 311256 E-mail : csar@bogor.wasantara.
net.id

Beri Nilai