Anda di halaman 1dari 2

Teknologi Dam Parit dapat Mencegah Banjir?

Teknologi ini merupakan suatu cara untuk mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit. Sekilas teknologi ini mirip embung, namun lebih unggul. Air yang tertampung selanjutnya dimanfaatkan untuk mengairi tanaman pada saat terjadi kekurangan air.

Tujuan Pada prinsipnya teknologi ini bertujuaan untuk: Menurunkan debit puncak, yaitu debit paling tinggi yang terjadi pada aliran tersebut. Pada musim hujan, biasanya debit air pada suatu parit atau saluran sangat tinggi sehingga dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor serta erosi dengan membawa serta lapisan tanah atas yang subur. Dam parit yang dibangun memotong aliran akan mengurangi kecepatan aliran parit. Memperpanjang selang waktu antara saat curah hujan maksimum dengan debit maksimumnya. Dengan lamanya air tertahan dalam wilayah DAS maka sebagian air akan meresap ke dalam tanah untuk mengisi (recharge) cadangan air tanah dan sebagian dapat dialirkan ke lahan yang membutuhkan air atau lahan yang tidak pernah mendapatkan air irigasi melalui parit-parit. Pada parit-parit itu selanjutnya juga dibuat dam atau bendung lagi. Demikian seterusnya sehingga lahan yang dapat diairi lebih luas. Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pembuatan Dam Parit Sebelum memutuskan untuk membuat dam parit pada suatu areal DAS, perlu dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: Dam parit dibutuhkan petani dan diputuskan oleh petani sendiri. Biaya pembuatannya murah, mudah, dan dapat dilakukan sendiri oleh petani. Penentuan lokasi harus tepat, yaitu lokasi yang apabila dibangun dam parit dapat menampung air sebanyak mungkin dan dapat mengairi lahan pertanian seluas mungkin. Harus mempunyai nilai tambah. Selain dapat mengairi lahan lebih luas, pembangunan dam parit juga memiliki dampak langsung yaitu menaikkan in-deks

ebagian besar wilayah Indonesia mempunyai curah hujan lebih dari 2.000 mm/tahun. Jumlah tersebut cukup potensial untuk usaha tani tanaman pangan dan hortikultura, sedikitnya untuk dua kali masa tanam dalam setahun. Namun kenyataannya, curah hujan tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik untuk keperluan pertanian karena air hujan sebagian besar mengalir sebagai aliran permukaan (run off). Debit aliran permukaan tersebut cukup tinggi terutama pada saat musim hujan sehingga sering menimbulkan banjir di daerah hilir dan erosi serta pencucian unsur hara di daerah yang dilaluinya. Apalagi bila hujan terjadi dengan intensitas tinggi dalam waktu cukup lama dan terjadi berturut-turut, maka banjir yang ditimbulkannya akan lebih besar lagi. Sebaliknya pada musim kemarau, ketersediaan air sangat terbatas bahkan sangat langka sehing-ga sebagian lahan kering tidak dapat diusahakan dan dibiarkan bera. Kondisi ini akan menurunkan luas tanam, intensitas tanam, dan produktivitas lahan. Sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi hal tersebut adalah menerapkan tek-nologi dam parit pada suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Tek-nologi dam parit (channel reservoir) diharapkan dapat mendayaguna-kan aliran permukaan melalui pe-nampungan air pada saat terjadi kelebihan air pada musim hujan dan mendistribusikannya kembali pada saat terjadi kekurangan air pada musim kemarau.

Apa Itu Teknologi Dam Parit ? Teknologi dam parit adalah suatu cara untuk mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit (drainage network). Tujuannya adalah untuk menampung volume aliran permukaan sehingga selain dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya juga dapat me-nurunkan kecepatan aliran permu kaan, erosi, dan sedimentasi. Mengapa Memilih Dam Parit ? Pertimbangan pemilihan teknologi dam parit didasarkan atas beberapa keunggulannya dibandingkan dengan teknologi sejenis seperti embung. Keunggulan itu antara lain adalah: Dapat menampung air dalam volume besar karena mencegah air dari saluran/parit. Tidak menggunakan areal/lahan pertanian yang produktif. Dapat mengairi lahan cukup luas karena dibangun berseri (cascade series) di seluruh DAS. Dapat menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga dapat mengurangi erosi permukaan tanah lapisan atas yang subur dan sedimentasi. Memberi kesempatan air untuk meresap atau tersimpan ke dalam tanah (recharging) di seluruh wilayah DAS sehingga mengurangi risiko kekeringan pada musim kemarau. Biaya pembuatan lebih murah sehingga bisa dijangkau oleh petani.

Skenario optimasi pemanfaatan aliran permukaan (kiri) dan salah satu contoh dam parit (kanan).

pertanaman dan meng-ubah jenis komoditas, misal dari ubi kayu menjadi padi atau hor-tikultura. Dampak tidak lang-sungnya adalah mengurangi banjir, erosi, sedimentasi, dan kekeringan. Keuntungan yang Diperoleh Dengan menurunnya debit puncak dan bertambah panjangnya air tertahan di wilayah DAS, erosi tanah dan banjir di daerah hilir menurun. Tersedianya air menurut ruang dan waktu akan menekan risiko kekeringan dan meningkatkan luas lahan yang dapat diusahakan.

Dengan semakin luasnya lahan yang dapat diairi maka akan terjadi perubahan pada pola tanam (menjadi dua kali setahun), pola penggunaan lahan (padi sawah, palawija) dan jenis komoditas yang diusahakan (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, sayuran dan buah-buahan), yang berarti meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani (Balitklimat).

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Jln. Tentara Pelajar No.1A Kotak Pos 830 Bogor 16111 Telepon : (0251) 31276 Faksimile : (0251) 31276 E-mail : iahri@indosat.net.id Website : www.soil-climate.org

Beri Nilai