Anda di halaman 1dari 2

Mencari Sistem Distribusi Benih Padi dan Pupuk yang "Bersahabat" dengan Petani

Sistem distribusi benih padi dan pupuk sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Oleh karena itu, peranan kebijakan pemerintah benar-benar sangat vital.

enih dan pupuk merupakan faktor produksi penting dalam usaha pertanian, khususnya usaha tani padi. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi kinerja ekonomi benih dan pupuk, baik produksi, ketersediaan, harga maupun penggunaannya oleh petani. Kebijakan pokok pemerintah yang terkait dengan kedua sarana produksi ini adalah subsidi harga dan pembebasan distribusinya dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi sistem distribusi benih dan pupuk. Harapannya tentu agar sarana produksi tersebut terjamin ketersediaannya dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh daya beli petani. Di sisi lain, pihak produsen dan pelaku pendistribusian juga menerima keuntungan dan margin yang wajar sehingga dapat memberikan insentif dalam pengembangan usahanya. Sistem Distribusi Benih dan Pupuk Informasi tentang sistem pendistribusian benih sampai saat ini masih terbatas. Studi yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan dampaknya terhadap ekonomi perbenihan belum banyak dilakukan. Berdasarkan informasi yang ada, ternyata jalur distribusi benih relatif tetap, yaitu PT Sang Hyang Seri (SHS)kiospetani. Setiap penyalur yang ditunjuk oleh PT SHS diharapkan dapat membina dan mengembangkan sejumlah kios saprodi, dan setiap kios saprodi (benih) diharapkan secara proaktif menciptakan pasar benih. Dalam sistem perbenihan, semua subsistem mulai dari penyiapan lahan, perbanyakan benih, pemrosesan, pengujian mutu, pelabelan, dan pemasaran diatur

oleh undang-undang. Penyimpangan dalam salah satu subsistem dapat menyebabkan tidak tercapainya mutu benih maupun mutu hasil yang baik. Informasi tentang sistem pendistribusian pupuk relatif banyak. Kebijakan pemerintah tentang hal itu telah berulangkali dilakukan penyesuaian dan penyempurnaan, sampai terakhir berupa kebijakan sistem distribusi pupuk yang ditetapkan oleh Tim Interdep tahun 2001. Keragaan dan Dinamika Sistem Distribusi Benih dan Pupuk Dalam pendistribusian benih padi, ada dua komponen utama yang berperan penting dan saling berkaitan, yaitu: (1) pembuat kebijakan, peneliti, produsen dan institusi pengawasan, (2) kemitraan agribisnis perbenihan yang melibatkan industri/perusahaan benih, lembaga keuangan dan penangkar benih. Kedua komponen ini saling berinteraksi dalam proses pengadaan benih, mulai dari pemuliaan, pelepasan varietas, produksi benih, pengawasan mutu, dan pemasaran. Dalam pendistribusian pupuk, berbagai kebijakan telah diterapkan dan dapat digolongkan dalam beberapa periode. Dimulai periode 1960-1979 yang merupakan periode awal pengaturan distribusi pupuk oleh pemerintah dalam rangka mendukung program Bimas dengan menyalurkan pupuk secara kredit pada petani. Selama periode ini, pengadaan dan penyaluran pupuk dilakukan di bawah satu tangan, tetapi selanjutnya oleh banyak pelaku sehingga tersedia peluang bisnis pupuk bagi setiap badan usaha. Pada periode ini tidak ada

ketentuan stok sehingga tidak ada jaminan ketersediaan. Periode 1979-1998 sebagai era pupuk disubsidi dan ditataniagakan. Periode ini dibedakan atas dua selang waktu. Pertama tahun 1979-1993 sebagai era regulasi penuh dengan PT Pusri sebagai penanggung jawab tunggal. Pada periode ini, pengadaan dan penyaluran relatif aman dan jika ada kasus kekurangan pupuk di suatu daerah dapat ditangani dengan mudah. Kedua tahun 19931998, merupakan revisi kebijakan sebelumnya atas pertimbangan anggaran subsidi yang semakin besar. Pada periode ini jenis pupuk yang disubsidi ditambah, harga urea untuk subsektor tanaman pangan berbeda dengan harga untuk subsektor perkebunan. Namun selama periode ini dijumpai banyak penyimpangan di lapangan, misalnya terjadi aliran/rembesan pupuk bersubsidi (untuk tanaman pangan) ke penggunaan lain, penurunan tingkat penggunaan pupuk, pupuk urea bersubsidi diekspor secara ilegal, terjadi kelangkaan pupuk di beberapa daerah, dan tingginya harga pupuk di tingkat petani. Selanjutnya, periode 19982001 sebagai era pasar bebas dan subsidi pupuk dihapuskan. Kebijakan ini ternyata tidak mampu memperbaiki mekanisme penyaluran dan distribusi pupuk. Kelangkaan pupuk dan lonjakan harga tetap terjadi. Surat Keputusan Menperindag bulan Maret 2001 mengatur kembali pengadaan dan penyaluran pupuk untuk sektor pertanian. Namun demikian, kasus kelangkaan pupuk dan tingginya harga di pasaran masih tetap terjadi. Struktur produksi dan pasar benih padi masih dikuasai oleh dua produsen utama yaitu PT SHS dan PT Pertani. Karakteristik komoditas benih bersifat terbuka, teknologi produksi dan pengelolaannya relatif sederhana, kebutuhan investasi relatif kecil dan dapat diproduksi dalam skala kecil. Hal ini memungkinkan pihak swasta, kelompok tani dan bahkan individu petani untuk memproduksi benih padi. Dengan posisi PT SHS dan PT

16

Pertani sebagai pemimpin harga (benih masih disubsidi), penangkar swasta masih dapat berkembang karena memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik. Dampak positif dari industri benih yang bersifat terbuka adalah semakin membaiknya struktur produksi dan pasar, namun terdapat indikasi variasi dan ketidakpastian kualitas. Perbaikan struktur industri benih melalui diversifikasi produksi dan perbaikan efisiensi perlu terus diupayakan, diiringi dengan perbaikan pengawasan, strukturisasi dan sertifikasi benih agar diperoleh pasokan, harga dan kualitas benih yang sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen. Struktur produksi dan pasar benih yang relatif kurang kondusif tidak berpengaruh terhadap pasokan dan harga benih di lapangan. Demikian juga halnya dengan sistem distribusi benih. Dengan jalur distribusi relatif tetap, risiko pemasaran yang tinggi (waktu pemasaran dan masa hidup benih yang terbatas) sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengecer. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga benih padi relatif stabil dan tidak pernah dilaporkan terjadi kelangkaan pasokan yang serius di lapangan. Hal ini karena potensi pasar dan permintaan riil benih berlabel relatif terbatas. Ketersediaan dan harga benih relatif stabil karena petani mengalihkan penggunaan benih berlabel pada benih yang tidak berlabel dengan harga yang relatif rendah, atau memanfaatkan hasil produksi sendiri untuk dijadikan benih. Ketersediaan dan harga benih yang dinilai stabil pada hakekatnya bersifat semu karena pasar riil dan persepsi petani yang rendah. Terminologi stabil dalam konteks pemahaman petani adalah stabil tinggi, yaitu di luar kemampuan daya beli petani. Harga benih padi di pasaran dinilai petani semakin mahal karena terkait dengan beberapa faktor seperti harga jual gabah yang rendah, biaya usaha tani yang cenderung makin tinggi, dan terbatasnya sumber pertumbuhan usaha tani padi.

Struktur produksi dan pasar pupuk relatif tetap dalam satu dasa warsa terakhir ini. Struktur industri bukanlah penentu pokok yang mempengaruhi ketersediaan dan harga pupuk di tingkat petani. Sistem distribusi pupuk terus dibenahi yang didasarkan atas kinerja kebijakan distribusi sebelumnya. Sistem distribusi juga dinilai bukan faktor penentu kelangkaan dan fluktuasi harga pupuk. Diduga, yang berperanan adalah faktor eksternal yaitu efektivitas pelaksanaan ekspor pupuk bersubsidi. Fakta di lapangan mengindikasikan bahwa kelangkaan pupuk bersumber dari kelangkaan di gudang pabrik. Kebijakan ekspor pupuk perlu disesuaikan dengan masa kebutuhan pupuk di dalam negeri sehingga tidak mengganggu ketersediaan secara lokal yang mempengaruhi harga pupuk di tingkat petani. Sistem distribusi pupuk Tim Interdep yang dikomplemen dengan sistem rayonisasi pemasaran dinilai cukup efektif dalam menjamin ketersediaan dan stabilitas harga pupuk di tingkat petani. Khusus untuk pupuk urea bersubsidi yang relatif rentan ketersediaan dan stabilitas harganya di lapangan perlu dikomplemen dengan kebijakan pupuk urea bersubsidi dengan satu merek, dan mengabaikan nama industri produsen dalam kemasannya. Hal ini dapat berperan positif dan bersifat komplemen dengan sistem distribusi Tim Interdep dan sistem rayonisasi. Kebijakan ini (Tim Interdep, rayonisasi dan satu merek) akan menghindari bias preferensi petani terhadap jenis pupuk urea produksi pabrik tertentu yang diyakini memiliki kualitas yang lebih baik. Implikasi Kebijakan Kebijakan strategis yang perlu dipertimbangkan dalam sistem distribusi benih padi adalah: (1) menekan harga jual benih berlabel disesuaikan dengan daya beli petani, (2) penelitian dan pengembangan budi daya/usaha tani padi yang dapat menghemat penggunaan benih per satuan luas tanpa menurun-

kan produksi dan pendapatan petani, (3) pengembangan diversifikasi horizontal dan vertikal dalam usaha tani padi sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan daya beli petani padi. Kebijakan strategis yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan efektivitas sistem distribusi pupuk antara lain adalah: (1) rasionalisasi penggunaan pupuk di tingkat petani karena penggunaan pupuk sudah melampaui takaran anjuran, (2) rekomendasi pupuk berdasarkan atas analisis tanah spesifik lokasi, dan waktu penggunaan berdasarkan acuan analisis bagan warna daun, (3) peningkatan efektivitas penggunaan pupuk anorganik yang dikomplemen dengan pemanfaatan pupuk organik serta sistem irigasi yang baik, (4) perbaikan standardisasi dan sertifikasi pupuk sehingga petani terhindar dari pupuk alternatif yang diragukan kualitas dan efektivitasnya, (5) peningkatan kinerja usaha tani padi dengan mengupayakan sumber pertumbuhan selain peningkatan produktivitas, dan (6) pelaksanaan kebijakan ekspor dan impor pupuk yang kondusif bagi kontinuitas dan harga di tingkat petani. Melalui berbagai kebijakan tersebut, diharapkan sistem distribusi benih dan pupuk lebih efisien. Petani diharapkan dapat mengikuti anjuran penggunaan benih unggul dan pupuk sesuai dengan takaran dan jenisnya. Upaya ini akan makin efektif bila produktivitas usaha tani meningkat disertai perbaikan harga jual produk di gerbang petani (Puslitbangsosek).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jln. A. Yani No. 70 Bogor 16161 Telepon : (0251) 333964 Faksimile : (0251) 314496 E-mail : caser@indosat.net

17

Beri Nilai