Anda di halaman 1dari 2

Lada Putih Bubuk Membagi Keuntungan dengan Petani

Nilai tambah lada putih dapat ditingkatkan dengan mengolahnya menjadi lada bubuk. Peran pemerintah sebagai fasilitator sangat diharapkan dalam mendukung "proyek" untuk meningkatkan kesejahteraan petani lada ini. ada putih Indonesia sudah sejak lama dikenal masyarakat Eropa dengan istilah Muntok White Pepper. Ekspor lada putih Indonesia menguasai 85% pangsa lada dunia, sehingga sangat menentukan harga lada di pasar internasional. Harga lada putih yang tinggi pada tahun 1997-1999 disebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan lada dunia. Pada tahun 2000, ekspor lada dunia mencapai 40.300 ton dan Indonesia memasok 35.508 ton. Jumlah tersebut melebihi kebutuhan dunia. Akibatnya harga lada putih turun dari US$ 5,89/kg pada tahun 1999 menjadi US$ 3,58/kg pada tahun 2000. Lada putih diperoleh dengan cara merendam buah lada matang (umur panen 8-9 bulan) selama 10-14 hari dalam air mengalir. Petani biasanya memanen lada pada bulan Juli saat hujan mulai berkurang. Karena keterbatasan sumber air mengalir, petani merendam lada di sungai yang

juga dipakai sebagai tempat mandi dan jamban. Cara ini tidak higienis sehingga lada terkontaminasi bakteri Escherichia coli dan Salmonella. Akibatnya, lada Indonesia pernah ditolak pasar Eropa. Balai Penelitian Tanaman Rem-pah dan Obat (Balittro) telah me-rekayasa alat pengolah lada putih yang higienis. Alat tersebut terdiri atas perontok, pengupas, dan pe-ngering. Meskipun warna lada putih yang dihasilkan masih kurang baik dibanding yang diproses secara tradisional (Tabel 1), apabila disa-jikan dalam bentuk bubuk tidak terlihat perbedaannya. Pengeringan lada dengan mesin juga menghasilkan lada lebih bersih dan higienis, namun biayanya jauh lebih mahal dibanding cara tradisional (memanfatkan sinar matahari). Pada upah minimum regional (UMR) Rp 12.000, biaya pengeringan lada dengan mesin mencapai Rp 2.510/kg, sedangkan pengeringan

secara tradisional hanya Rp 715/kg (dengan asumsi tidak ada gang-guan cuaca). Biaya ini dapat ditu-runkan jika lada yang telah diolah dengan mesin dikeringkan dengan cara dijemur (Tabel 2). Oleh karena itu, agar diperoleh mutu lada yang baik, cara penjemuran perlu diper-baiki. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan membuat rakrak penjemuran atau pagar sedehana di sekeliling tempat penjemuan. Lada sebaiknya dijemur di halaman rumah, tidak di pinggir jalan. Sampai saat ini bentuk produk lada putih yang diterima eksportir hanya lada butiran. Lada bubuk masih diproduksi oleh eksportir, sehingga nilai tambah dari produk ini hanya dinikmati oleh eksportir. Terlebih lagi harga lada di pasar lokal tidak membedakan kualitas. Eks-portir ingin membeli lada dengan harga murah kemudian mereka mengolahnya menjadi lada bernilai tinggi. Keadaan ini tidak memotiva-si petani untuk memproduksi lada bermutu tinggi. Eksportir umumnya enggan menerima teknologi yang dihasilkan instansi pemerintah, karena dinilai akan memperkecil keuntungannya. Untuk itu perlu dicapai kesepakatan antara petani dan eksportir dengan dukungan pemerintah dalam upaya meningkatkan nilai tambah yang diterima petani (Dyah Manohara,

Pengolahan lada putih secara tradisional (kiri), serta alat perontok (tengah) dan pengupas lada (kanan) yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

Tabel 1. Mutu lada putih yang dihasilkan secara tradisional dan mekanis. Karakteristik Warna Aroma Tradisional Mekanis Putih agak gelap Tajam dan bebas bau busuk 11,7 3,2

Risfahari, Tatang Hidayat).

Putih kekuningan Kurang tajam dan bau busuk masih terbawa Kadar air (%) 11,9 Kadar minyak atsiri (%) 2,5

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Jln. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111 Telepon : (0251) 327010, 321879 Faksimile : (02510327010 E-mail : balittro@bogor.net.id

Tabel 2. Biaya pengolahan lada putih (kapasitas 500 kg/hari). Kegiatan Perendaman Perontokan Pengupasan/pencucian Penjemuran Total Tradisional (Rp/kg) 1.585 1.200 715 3.500 Mekanis (Rp/kg) 400 885 715 2.000

Beri Nilai