Anda di halaman 1dari 10

HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF

1. Dalam mempelajari hukum penyelesaian sengketa, ruang lingkungnya tidak terlepas dari kegiatan bisnis dan hukum bisnis. Jelaskan pengertian kegiatan bisnis dan hukum bisnis ! Jawab: Pengertian kegiatan bisnis adalah semua aktifitas yang melibatkan penyediaan barang dan jasa yang diperlukan dan diinginkan oleh orang lain, tujuannya untuk mendapatkan keuntungan. Hukum bisnis adalah suatu perangkat kaidah hukum yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan urusan atau kegiatan dagang, indsutri atau keuangan yang dihubungakan dengan produksi atau pertukaran barang atu jasa dengan menempatkan uang dari para entrepreneur dalam resiko tertentu dengan usaha tertentu dengan motif adalah untuk mendapatkan keuntungan tertentu.

2.a. Dalam penyelesaian sengketa pajak dasar hukumnya UU No. 14 Tahun 2002 tentang pengadilan pajak. Jelaskan dan uraikan pihak-pihak yang terkait dalam sengketa tersebut ! b. Putusan pengadilan pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. apakah pihak yang bersengketa dapat mengajukan upaya hukum lagi terhadap putusan tersebut dan bagaimana caranya ! Jawab: a. Pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian sengketa pajak adalah : 1. Wajib pajak Wajib Pajak (WP) adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu. 2. Pejabat pajak Pejabat Pajak adalah Pejabat yang mempunyai kewenangan untuk mengangkat serta memberhentikan Jurusita pajak, dan menugaskan jurusita pajak untuk melaksanakan tindakan penagihan pajak b. Pihak yang bersengketa bisa mengajukan atau dapat mengajukan upaya hukum dengan cara mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) kelembaga Mahkamah Agung
1

(MA). Permohonan peninjauan kembali (PK) ini hanya dapat diajukan satu kali kepada Mahkamah Agung (MA) melalui pengadilan pajak. Pengajuan permohonan PK dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak ditemukan surat-surat bukti yang hari dan tanggal ditemukannya harus dinyatakan dibawah sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang.

3. Siapakah pejabat-pejabat yang berwenang untuk melaksanakan peraturan perpajakan dalam undang-undang No. 14 Tahun 2002 tentang pengadilan pajak ! Jawab: Pejabat-pejabat yang berwenang untuk melaksanakan peraturan perpajakan dalam undangundang No. 14 Tahun 2002 tentang pengadilan pajak antara lain adalah: 1. Direktur Jenderal Pajak. 2. Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 3. Gubernur, Bupati/Walikota, atau pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan.

4. Coba saudara/I gambarkan skema aliran/alur susunan pengadilan pajak seperti yang tertera dalam pasal 6 UU No. 14 Tahun 2002 Tentang pengadilan pajak ! Jawab: Skema aliran atau alur susunan pengadilan pajak seperti yang tertera dalam pasal 6 UU No. 14 Tahun 2002 Tentang pengadilan pajak terdiri dari: 1. Pimpinan. 2. Hakim Anggota. 3. Sekretaris, dan Panitera.

5. Jelaskan hubungan hukum pajak dengan hukum pidana dan berikan contoh ! Jawab: Hubungan Hukum Pajak Dengan Hukum Pidana adalah: Hubungan yang terjadi antara keduanya dapat dilihat pada adanya sanksi pidana bagi mereka yang melakukan pengingkaran atas kewajiban pajak dan/atau kejahatan lain yang mengganggu penerimaan kas negara dari sektor pajak. Adanya sanksi pidana terhadap Wajib Pajak yang melanggar ketentuan di bidang perpajakan selalu mengacu pada ketentuan hukum pidana yang berlaku pada umumnya.

contohnya adalah: adanya sanksi pidana terhadap wajib pajak yang melanggar ketentuan di bidang perpajakan. Misalnya terhadap wajib pajak yang memindahtangankan atau merusak barang yang telah disita karena tidak melunasi utang pajaknya akan diancam pasal 23 KUH Pidana.

6. Menurut pasal 1 angka 1 UU No.30 Tahun 1999 Tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa, peyelesaian sengketanya didasarkan pada perjanjian arbitrase. Sebutkan dan uraikan perjanjian tersebut sebelum dan sesudah sengketa terjadi ! Jawab: Perjanjian arbitrase sebelum sengketa terjadi adalah: Perjanjian yang merujuk pada keseluruhan sengketa yang akan terjadi di masa datang (future), bentuknya akan dituangkan dalam suatu klausul (Pasal) dalam kontrak, dimana validitasnya sering diatur oleh hukum yang dapat digunakan pada substansi sengketa. Bentuk klausulnya biasanya sangat singkat (brief).

Sedangkan perjanjian abitrase yang merujuk pada sengketa yang sudah terjadi adalah: perjanjian yang merujuk pada sengketa-sengketa yang ada (telah terjadi) biasanya berbentuk submission dari perjanjian. Suatu submission dari perjanjian biasanya diuraikan secara detail dimana lebih mempertimbangkan aspek prosedur dan praktis dari arbitrase.

7. Terangkan proses dan tata cara pemeriksaan di lembaga Arbitrase ! Jawab: proses dan tata cara pemeriksaan di lembaga Arbitrase antara lain adalah: Para pihak yang akan menempuh proses pemeriksaan arbitrase sebagaimana di atur dalam Pasal 8 UU No 30 Tahun 1999, yakni sebagaimana berikut: 1. Dalam hal timbul sengketa, pemohon harus memberitahukan dengan surat tercatat, telegram, email atau dengan buku ekspedisi kepada termohon bahwa syarat arbitrase yang diadakan oleh pemohon atau termohon berlaku. 2. Surat pemberitahuan untuk mengadakan arbitrase memuat yaitu: a. Nama dan alamat para pihak b. Penunjukan kepada klausula atau perjanjian arbitrase yang berlaku c. Perjanjian atau masalah yang menjadi sengketa d. Dasar tuntutan dan jumlah yang dituntut, apabila ada. e. Cara penyelesaian yang dikehendaki; dan
3

f. Perjanjian yang diadakan oleh para pihak tentang yang jumlah arbiter yang dikehendaki dalam jumlah ganjil.

8. Jelaskan pengertian negoisasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase, berikut keunggulan masing-masing ! Jawab: 1. Menurut pasal 6 ayat 2 UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Negoisasi adalah para pihak dapat dan berhak untuk menyelesaikan sendiri sengketa yang timbul diantara mereka, kesepakatan tersebut selanjutnya ditetapkan dalma bentuk tertulis oleh para pihak. 2. Menurut pasal 6 ayat 3 UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa mediasi adalah kesepatakan tertulis oleh para pihak yang bersengketa atau yang berbeda pendapat diselesaikan oleh bantuan seorang atau lebih penasehat berdasarkan keahliannya atau keterampilannya maupun melalui seorang mediator. 3. Menurut, Pasal 1 ayat 1 UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa perdata diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. 4. Menurut UU Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dikatakan bahwa konsiliasi adalah suatu penyelesaian dengan bantuan pihak ketiga. Pihak ketiga tersebut netral dan berperan secara aktif maupun tidak aktif.

Keungulan negoisasi antara lain adalah: a. Mengetahui pandanga pihak lawan. b. Kesempatan mengutarakan isi hati untuk didengar piha lawan. c. Memungkinkan sengketa secara bersama-sama. d. Mengupayakan solusi terbaik yang dapat diterima oleh keduabelah pihak.

Keungulan mediasi adalah: a. Para pihak yang bersengketa dapat tetap berhubungan baik. b. Lebih murah dan cepat. c. Bersifat rahasia. d. Hasil-hasil memuaskan semua pihak
4

Keungulan konsiliasi adalah: a. Bebas biaya b. Proses penyelesaian melaui konsiliasi lebih singkat dibandingkan proses pengadilan. c. Tidak ada paparan media terhadap para pihak perorangan. d. Tidak seformal dibandingkan dengan sidang di pengadilan. e. Konsiliasi bersifat sukarela.

Keungulan Arbitrase adalah: a. Penyelesaian sengketa dapat dilakukan diluar peradilan. b. Keinginan untuk menyelesaikan sengketa diluar peradilan harus berdasarkan atas kesepakatan tertulis yang dibuat oleh pihak yang bersengketa. c. Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanyalah sengketa dalam bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundangundangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersangkutan. d. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dilakukan menggunakan lembaga arbitrase nasional atau internasional.

Soal-Soal Hukum Penyelesaian Sengketa Alternatif 2013

1. Jelaskan pengertian dan defenisi bisnis dan hukum bisnis ! Jawab: Pengertian dan defenisi bisnis antara lain adalah: Pengertian bisnis adalah semua aktifitas yang melibatkan penyediaan barang dan jasa yang diperlukan dan diinginkan oleh orang lain, tujuannya untuk mendapatkan keuntungan.

a. Menurut Richard Burton Simatupang Kata bisnis sering diartikan sebagai keseluruhan kegiatan usaha yang dijalankan oleh orang atau badan secara teratur dan terus-menerus, yaitu berupa kegiatan mengadakan barang-barang atas jasa-jasa maupun fasilitas-fasilitas untuk diperjualbelikan,

dipertukarkan atau di sewagunakan dengan tujuan mendapatkan keuntungan.


5

b. Menurut Kamus Besar Indonesia menyebutkan bisnis adalah usaha dagang, usaha komersial dalam dunia perdagangan, sehingga bisnis itu secara umum berarti kegiatan berarti suatu kegiatan dagang, industri dan keuangan.

Pengertian dan defenisi hukum bisnis antara lain adalah: Hukum bisnis adalah suatu perangkat kaidah hukum yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan urusan atau kegiatan dagang, indsutri atau keuangan yang dihubungakan dengan produksi atau pertukaran barang atu jasa dengan menempatkan uang dari para entrepreneur dalam resiko tertentu dengan usaha tertentu dengan motif adalah untuk mendapatkan keuntungan tertentu.

a. Menurut munir fuady Hukum Bisnis adalah norma-norma atau aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang mengatur tentang kepentingan bisnis yang dibagi dalam beberapa bidang, diantaranya adalah Hukum Bisnis bidang ekonomi. Hukum bisns bidang keuangan. Hukum bisnis bidang jasa. b. Menurut Johanes Ibrahim Hukum bisnis adalah seperangkat kaidah-kaidah hukum yang diadakan untuk mengatur serta menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul dalam aktivitas atar manusia khususnya dalam bidang perdagangan.

2. Ada beberapa peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bisnis, sebutkan minimal empat undang-undang ! Jawab: peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bisnis antara lain adalah: 1. UU No. 14 Tahun 2001 Tentang Paten. 2. UU No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek. 3. UU No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. 4. UU No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang.

3. Mengapa hukum penyelesaian sengketa lebih dominan menyelesaikan sengketa bisnis ? Jawab: Penyelesaian sengketa salah satunya melalui arbitrase , saat ini semakin banyak dipilih oleh kalangan pebisnis karena penyelesaian sengketa memiliki beberapa kelebihan seperti :

1. Dijamin kerahasiaan sengketa para pihak. 2. Dapat

dihindarkan kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedur dan

administrative.
3. Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai

pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan.
4. Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalah serta

proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase.


5. Putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata

cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan.

4. Ada 2 (dua) jenis peradilan dalam hukum pajak, jelaskan ! Jawab: Peradilan Pajak dapat dibagi menjadi dua jenis peradilan, yaitu peradilan murni dan peradilan tidak murni. Penjelasanya adalah sebagai berikut : 1. Peradilan Murni Peradilan yang melibatkan tiga pihak, yaitu wajib pajak, fiskus dan hakim yang mengadili. Wajib pajak dan fiskus adalah pihak yang bersengketa sedangkan hakim atau majelis hakim antara pihak yang akan memutuskan sengketa tersebut. 2. Peradilan Tidak Murni Peradilan yang hanya melibatkan dua pihak, yaitu pihak wajib pajak dan pihak fiskus tanpa melibatkan pihak ketiga yang independen. Fiskus sebagai pihak yang bersengketa sekaligus menjadi pihak yang mengambil keputusan dalam perselisihan pajak yang bersangkutan.

5. Bagaimana tata cara penyelesaian sengketa perpajakan menurut UU No. 14 Tahun 2002 tentang pengadilan pajak ! Jawab:

Tata Penyelesaian Sengketa Pajak sebagaimana diatur dalam Bab IV Pasal 34 s/d Pasal 92 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002, sebagai berikut : 1. Memasukan Surat Gugatan Gugatan diajukan oleh Penggugat, Ahli Warisnya, Seorang Pengurus (bila berstatus badan hukum) atau Kuasa Hukumnya dengan disertai alasan-alasan yang jelas, mencantumkan tanggal diterima, pelaksanaan penagihan, atau keputusan yang digugat. 2. Persiapan persidangan Pada Pengadilan Pajak acara jawab menjawab antara pemohon banding atau penggugat dengan terbanding atau tergugat dilakukan sebelum penunjukan Majelis Hakim artinya hal tersebut dilakukan oleh Penitera sebelum dilakukan persidangan oleh Hakim. 3. Pemeriksaan di persidangan Ketua pengadilan menunjuk majelis untuk acara biasa atau hakim tunggal untuk acara cepat. Dalam pemeriksaan acara biasa hakim ketua membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum. Sedangkan pemeriksaan sengketa pajak dengan acara cepat dilakukan terhadap: 1. Sengketa pajak tertentu, yaitu sengketa sengketa berupa banding atau gugatan yang tidak memenuhi persyaratanformal banding ataupun persyaratan formal gugatan. 2. Gugatan yang diajukan selain atas keputusan pelaksanaan penagihan pajak yang tidak diputus dalam jangka waktu 6(enam) bulan dengan acara biasa sejak gugatan diterima. 3. Tidak dipenuhinya salah satu ketentuan mengenai persyaratan isi putusan atau kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung dalam putusan Pengadilan Pajak. 4. Sengketa yang berdasarkan pertimbangan hukum bukan merupakan wewenang pengadilan pajak. 4. Putusan Putusan pengadilan pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Putusan pengadilan pajak dapat berupa : a. Menolak
8

b. Mengabulkan sebagian atau seluruhnya c. Menambah pajak yang harus dibayar d. Tidak dapat diterima e. Membetulkan kesalahan tulis atau kesalahan hitung, atau f. Membatalkan 6. Dalam peradilan Administrasi terdapat istilah terdapat istilah peradilan administrasi murni dan tidak murni, coba saudara jelaskan dan berikan contoh pada masing-masing peradilan tersebut ! Jawab: Peradilan administrasi tidak murni adalah peradilan yang karena dalam peradilan ini hanya melibatkan dua pihak yaitu pihak wajib pajak dan pihak KPP (aparat pajak/fiskus) tanpa melibatkan pihak ketiga yang independen. Contoh peradilan administrasi tidak murni dapa dilihat dalam pengajuan keberatan yang diatur dalam pasal 25 dan pasal 26 UU No. 6 Tahun 1983 sebagaimana yang telah dirubah dengan UU No. 9 tahun 1994 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan.

Peradilan administrasi murni adalah peradilan yang melibatkan tiga (tiga) pihak yaitu pihak wajib pajak (WP), aparat pajak/KPP/fiskus dan hakim pengadilan yang memeriksa, mengadili dan memutuskan sengketa pajak. Contoh peradilan administrasi murni dapat dilihat dalam pengajuan keberatan dan banding yang diatur dalam pasal 27 UU No. 6 Tahun 1983 sebagaimana telah dirubah dengan keluarnya UU No. 9 Tahun 1994 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan dan UU No. 17 Tahun 1997 tentang badan penyelesaian sengketa pajak sebagaimana telah dirubah dengan keluarnya UU No. 14 Tahun 2002 tentang pengadilan pajak.

7. Jelaskan pengertian dan defenisi alternatif penyelesaian sengketa menurut UU No. 30 Tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa ! Jawab: Pengertian dan defenisi alternatif penyelesaian sengketa menurut Pasal 1 ayat 10 UU No. 30 Tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa adalah sebagai berikut: Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.
9

8. Alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa melalui prosedur yang disepakati para pihak yakni penyelesaian diluar pengadilan. Jelaskan asas-asas yang berlaku dalam penyelesaian alternatif penyelesaian sengketa tersebut ! Jawab: Asas-asas yang berlaku dalam penyelesaian alternatif penyelesaian sengketa antara lain adalah: 1. Asas Kebebasan berkontrak. 2. Asas Itikad baik. 3. Asas Kepatutan, terbuka dan kedua pihak bertujuan untuk tidak ke pengadilan. 4. Asas Perjanjian terakhir dan mengikat (pacta sunt servanda) 5. Asas Putusan terakhir dan mengikat. 6. Asas Pendaftaran. 7. Asas Kerahasiaan.

10