Anda di halaman 1dari 20

SEJARAH BALI

Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali
terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di
bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali
terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi
para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata.

1. Geografi
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km
sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan
115°14′55″ Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.
Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir
meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun
yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di
bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai.
Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang
memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu
Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung
Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis
terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit
dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan
Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas
118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha, dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189
ha. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau
Beratan, Buyan, Tamblingan dan Danau Batur.
Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni
terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah
beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan.
Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Republik Indonesia.
Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 9 kabupaten/kota, 55 kecamatan dan 701 desa/kelurahan.
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.
Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat
pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100
SM.
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya
semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai
prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan
menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman
padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa
itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah
mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara
beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang
antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat
Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada
1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran,
pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus
mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh
posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran
Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa
Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan
darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah
maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya
perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk
rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah
memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya
sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan
budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I
Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di
Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk
menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang
oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga,
Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin
tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang
bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya
sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari
Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi
Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga
dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia
pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda
dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.
Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian
rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di
Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan
Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang.
Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum
berhasil diungkapkan secara hukum.[1]
Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan
pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera.
Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-
kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah
wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa
tahun terakhir ini.
2. Demografi

Lahan sawah di Bali


Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu.
Agama lainnya adalah Islam, Protestan, Katolik, dan Buddha.
Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian
juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali, dan
Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata.
Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali, dan
sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan
trilingual. Meskipun terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali
menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomunikasi. Secara tradisi,
penggunaan berbagai dialek bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama
Hindu Dharma; meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang.
Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak masyarakat Bali, yang
dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada
pusat-pusat informasi wisatawan di Bali, seringkali juga memahami beberapa bahasa asing dengan
kompetensi yang cukup memadai.

3. Transportasi
Bali tidak memiliki jaringan rel kereta api namun jaringan jalan yang sangat baik tersedia
khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan. Sebagian besar penduduk memiliki kendaraan pribadi
dan memilih menggunakannya karena moda transportasi umum tidak tersedia dengan baik, kecuali
taksi.
Jenis kendaraan umum di Bali antara lain
• Dokar, kendaraan dengan menggunakan kuda sebagai penarik
• Ojek, taksi sepeda motor
• Bemo, melayani dalam dan antarkota
• Taksi
• Bus, melayani hubungan antarkota, pedesaan, dan antarprovinsi.
Bali terhubung dengan Pulau Jawa dengan layanan kapal feri yang menghubungkan Pelabuhan
Gilimanuk dengan Pelabuhan Ketapang di Kabupaten Banyuwangi, yang lama tempuhnya sekitar 30
hingga 45 menit. Penyeberangan ke Pulau Lombok melalui Pelabuhan Padang Bay menuju Pelabuhan
Lembar, yang memakan waktu sekitar empat jam.
Transportasi udara dilayani oleh Bandara Internasional Ngurah Rai, dengan destinasi ke sejumlah
kota besar di Indonesia, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, serta Jepang. Landas pacu dan
pesawat terbang yang datang dan pergi bisa terlihat dengan jelas dari pantai.

Daftar kabupaten dan kota di Bali


No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Badung Badung
2 Kabupaten Bangli Bangli
3 Kabupaten Buleleng Singaraja
4 Kabupaten Gianyar Gianyar
5 Kabupaten Jembrana Negara
6 Kabupaten Karangasem Karangasem
7 Kabupaten Klungkung Klungkung
8 Kabupaten Tabanan Tabanan
9 Kota Denpasar -

4. Budaya

A. Musik

Seperangkat gamelan Bali.


Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya
di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun
demikian, terdapat kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak,
yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang
dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya Gamelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan
Gambang, Gamelan Selunding, dan Gamelan Semar Pegulingan. Adapula musik Angklung dimainkan
untuk upacara ngaben, serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.
Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang
merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda, serta Joged Bumbung
yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari
berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong, dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan
sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan
pengaruh atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional
masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.
• Gamelan
• Jegog
• Genggong
• Silat Bali

B. Tari
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu wali atau seni
tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung, dan
balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar seni tari Bali I Made Bandem[4] pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-
tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari,
Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong,
sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai
koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-
an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan
tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat
berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Penari belia sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh Suasthi Bandem.

Pertunjukan Tari Kecak.


Tarian wali Tarian balih-balihan
• Sang Hyang Dedari • Tari Legong
• Sang Hyang Jaran • Arja
• Tari Rejang • Joged Bumbung
• Tari Baris • Drama Gong
• Tari Janger • Barong
• Tari Pendet
Tarian bebali • Tari Kecak
• Calon Arang
• Tari Topeng
• Gambuh

C. |Pakaian daerah
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya
sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan
kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat
diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.

Pria

Anak-anak Ubud mengenakan udeng, kemeja putih dan kain.


Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:
• Udeng (ikat kepala)
• Kain kampuh
• Umpal (selendang pengikat)
• Kain wastra (kemben)
• Sabuk
• Keris
• Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan baju kemeja, jas, dan alas kaki sebagai pelengkap.
Wanita

Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.


Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
• Gelung (sanggul)
• Sesenteng (kemben songket)
• Kain wastra
• Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
• Selendang songket bahu ke bawah
• Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
• Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

D. Makanan

Makanan utama
• Ayam betutu • Jejeruk • Sate Lilit
• Babi guling • Jukut Urab • Sate pentul
• Bandot • Komoh • Sate penyu
• Be Kokak Mekuah • Lawar • Sate Tusuk
• Be Pasih mesambel matah • Nasi Bubuh • Timbungan
• Bebek betutu • Nasi Tepeng • Tum
• Berengkes • Penyon • Urutan Tabanan
• Grangasem • Sate Kablet

Jajanan
• Bubuh Sagu • Jaja Godoh • Jaja Wajik
• Bubuh Sumsum • Jaja Jongkok • Kacang Rahayu
• Bubuh Tuak • Jaja Ketimus • Rujak Bulung
• Jaja Batun Duren • Jaja Klepon • Rujak Kuah Pindang
• Jaja Begina • Jaja Lak-Lak • Rujak Manis
• Jaja Bendu • Jaja Sumping • Rujak Tibah
• Jaja Bikang • Jaja Tain Buati
• Jaja Engol • Jaja Uli misi Tape • Salak Bali

E. Senjata
• Keris • Panah
• Tombak • Penampad
• Tiuk • Garot
• Taji • Tulud
• Kandik • Kis-Kis
• Caluk • Anggapan
• Arit • Berang
• Udud • Blakas
• Gelewang • Pengiris
• Trisula

F. Rumah Adat
Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata
letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)
Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya
hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu,
pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita
Karana’’. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang
baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya,bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa
ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai
ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis
fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

G. Pahlawan
• I Gusti Ngurah Rai
• I Gusti Ketut Jelantik
ANALISA DAN PEMBAHASAN

Selama kami di Pulau Bali, tempat yang kami kunjungi antara lain :

1. TANJUNG BENOA

Tempat yang berlokasi bertetanggaan dengan kawasan wisata Nusa Dua ternyata memiliki daya
tarik yang unik. Di tengah tenangnya lautan di kawasan pantai ini, ternyata membawa berkah Tanjung
Benoa berada di ujung tenggara pulau Bali dan bertetanggaan dengan kawasan Nusa Dua. Dapat
ditempuh dalam 35 menit dari Kuta, 40 menit dari Sanur dan 20 menit dari Airport Ngurah Rai.

A. Tanjung Benoa Watersport

Tanjung benoa menjadi tempat yang sangat cocok untuk kegiatan watersport atau olahraga air.
Pantai di kawasan ini sangat tenang berbeda dengan di Kuta, Sanur atau Uluwatu sehingga
menjandikan kawasan ini sebagai satu-satunya tempat untuk permainan-permainan menyenangkan
ini.Olah raga air yang bisa dinikmati di sini diantaranya adalah jetski, parasailing, banana boat, scuba
diving, snorkeling , Glassbottom plus kunjungan ke Turtle Island (pulau penyu) dan Flying
Fish.Kegiatan biasanya dimulai di pagi hari sekitar jam 8 sampai dengan jam 12-an, karena setelah itu
air akan surut dan Anda tidak bisa menikmati permainan-permainan lagi karena boatnya tidak bisa
digunakan.Dengan instruktur-instruktur yang handal, akan memberikan jaminan keselamatan dan
kenyamanan Anda saat menikmati permainan di sini.

Macam-macam permainan yang ada di Tanjung Benoa:

1. PARASAILING

Parasailing yaitu permainan dimana anda akan memakai payung parasut dan ditarik oleh speed
boat mengeliling pantai Tanjung Benoa. Jadi persis seperti terjun payung beneran. Waktu permainan ini
satu putaran sekitar 4 menit di udara. Ketinggian tali yg menghubungkan antara parasut dengan speed
boat kurang lebih 80 meter. Jadi lumayan tinggi terbangnya.Yang pasti permainan ini sangat menantang
dan penuh fun.

2. JETSKI
Permainan JETSKI menggunakan kendaraan di pantai seperti sepeda motor. Jetski di sini tidak
bisa anda kendarai sendiri, harus didampingi oleh instruktur, mengingat di pantai Tanjung Benoa
banyak terdapat perahu-perahu dan aktivitas watersport lainnya, sehingga tabrakan bisa dihindari.
Jangan khawatir, si instruktur ini hanya akan mengendarai dari pinggir pantai menuju ke tengah laut,
nah sampai disana giliran anda yg nyetir, si instruktur boncengan. Waktu permainan ini adalah 15
menit. Kalau anda mau exciting mengendarainya, cobalah terjang ombak yg ada..maka anda akan
merasakan sensasi nikmatnya berkendara jetski ini

3. BANANA BOAT

Banana Boat menggunakan perahu karet tunggal, anda akan ditarik oleh speed boat berkeliling
pantai dalam waktu 15 menit. Kapasitas muatan banana boat ini adalah maximal 4 orang plus 1 orang
instruktur sebagai pendamping. Anda bisa minta diceburin ke air selama boat berjalan, atau kalau tidak
mau basah..minta yg normal-normal saja. Kurang seru sih kalau main banana boat tanpa nyebur

2. JOGER

Joger : pabrik kata-kata. Tidak salah memang banyak orang menyebutnya begitu. T-shirt yang
diproduksi Joger memang berisi kata-kata yang lucu, “nyeleneh”, nakal dan membuat orang menjadi
penasaran akan maknanya.

Kenapa namanya Joger sih? Menurut pemiliknya, Joseph Theodorus Wulianadi, yang cukup
lama tinggal di Bali dan pernah berprofesi sebagai tour guide ini, nama Joger diambil dari gabungan
namanya sendiri dan sahabatnya “Gerard”. Modal untuk memulai usaha ini didapat dari hadiah
pernikahan Bapak Joseph di tahun 1981 dari Bapak Gerard.

Kini tiap musim liburan atau ngga, toko T-shirt yang satu ini selalu ramai dan bikin macet
kawasan jalan Raya Kuta, belakang Supernova. Oh ya letaknya itu sangat strategis dekat dengan pusat
keramaian Kuta, cuma kadang-kadang masalahnya parkir mobil yang susah, apalagi kalau musim
liburan.

3. PANTAI KUTA

Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Denpasar, ibu kota
Bali, Indonesia. Kuta terletak di Kabupaten Badung. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis
mancanegara, dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal 70-an. Pantai Kuta sering
pula disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari pantai Sanur.
Di Kuta terdapat banyak pertokoan, restoran dan tempat permandian serta menjemur diri. Selain
keindahan pantainya, pantai Kuta juga menawarkan berbagai macam jenis hiburan lain misalnya bar
dan restoran di sepanjang pantai menuju pantai Legian. Rosovivo, Ocean Beach Club, Kamasutra,
adalah beberapa club paling ramai di sepanjang pantai Kuta.
Pantai ini juga memiliki ombak yang cukup bagus untuk olahraga selancar (surfing), terutama
bagi peselancar pemula. Lapangan Udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.

4. GWK

GWK atau Garuda Wisnu Kencana berupa patungDewa Wisnu yang sedang mengendarai
garuda. Patung ini nantinya setelah selesai akan menjadi patung terbesar dunia dengan tinggi 75 meter
dan lebar 60 meter dan akan mengalahkan patung liberty. GWK ini merupakan mahakarya dari
seniman Bali I Nyoman Nuarta yang berada di daerah Bali Selatan tepatnya di bukit Unggasan. Saat ini
progress keseluruhan patungnya masih dalam tahap penyelesaian dimana baru ada 2 patung yaitu
kepalanya Dewa Wisnu dan Burung Garudanya yang posisinya masih terpisah.Dan beberapa komponen
lain pendukung keseluruhan patung ini juga lagi dikerjakan di kota Bandung. Dan di lokasi GWK ini
juga terlihat bukit-bukit kapur yang telah dipotong-potong dan sudah menjadi seperti blok-blok kapur
dengan ukuran besar. Selain bisa melihat Bali dari atas, nantinya GWK ini akan bisa terlihat dari radius
20 km seperti bisa terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua.

5. TARI KECAK

Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack,
dan Ketiak), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan
terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki
yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua
lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.
Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada
pada kondisi tidak sadar[1], melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian
menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur
melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-
tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.
Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik.
Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh
Ramayana.
Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies
menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan
Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

6. TARI BARONG
Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan Pra Hindu yang menggunakan boneka berwujud
binatang berkaki empat atau manusia purba yang memiliki kekuatan magis.
Topeng Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh
sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Per-
tunjukan tari ini dengan atau tanpa lakon, selalu diawali dengan pertunjukan pembuka, yang diiringi
dengan gamelan. Ada beberapa jenis tari barong namun yang sering dipentaskan untuk konsumsi pari-
wisata yaitu jenis Baring Ket. Sakralisasi Barong & Rangda
Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan pal-
ing sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong
Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan
ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok
(serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.
Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru
Bapang, satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Tari Barong Keket
ini melukiskan tentang pertarungan tanpa akhir antara kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma)
yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda).
7. PANTAI SANUR

Pantai Sanur adalah salah satu pantai yang menarik di Pulau Bali. Pantai ini memiliki panjang 3
kilometer dengan garis pantai menghadap ke timur. Pantai Sanur terkenal dengan pantainya yang ber-
warna putih bersih dan lembut. Disamping itu, pantai Sanur merupakan pantai yang berbatu karang se-
hingga memiliki kelebihan tersendiri.
Dibandingkan dengan Kuta, kawasan Sanur menyediakan tempat menginap yang relatif lebih
mahal namun tenang. Dibandingkan dengan Nusa Dua, Sanur menawarkan harga yang sedikit lebih
murah.
Kawasan pantai Sanur merupakan alternatif bagi para turis lokal maupun mancanegara yang
ingin menghindari nuansa hiruk pikuk seperti Kuta, Legian atau Seminyak. Di area ini ketenangan dan
kenyamanan adalah prioritas utama. Bagi yang suka menikmati matahari terbit (sunrise) maka Sanur
adalah tempat yang sangat tepat.
Seperti halnya terutama di area Nusa Dua, di Sanur juga terdapat hotel-hotel kelas dunia. Disini
berdiri Hyatt Sanur Bali, Sanur Beach Hotel, Mercure Resort Sanur, Grand Bali Beach yang memiliki
lapangan golf di areal hotelnya. Selain itu sebagian besar semua hotel berbintang yang ada di Sanur
bisa dipastikan memiliki pantai sendiri (private beach) di bagian belakang hotel. Jadi kehidupan kelas
dunia dengan tinggal di hotel-hotel bertarif mahal masih bisa Anda dapatkan di kawasan Sanur.
8. SANGEH

Taman Wisata Alam Sangeh, mungkin memang belum banyak dikenal oleh masyarakat Indone-
sia, padahal Sangeh terletak di sebuah pulau terkenal di Indonesia yaitu Bali. Taman Wisata Alam
Sangeh terletak di Desa Sangeh, Badung, Bali, sekitar 20km dari Denpasar.
Taman Wisata Alam Sangeh memiliki pesona wisata hutan yang banyak dihuni oleh ratusan
kera. Kera-kera Sangeh dahulu memang dikenal sangat liar dan seringkali mengganggu para pengun-
jung. Kera Sangeh juga dikenal sangat jahil, karena seringkali mengambil barang-brang pengunung
yang akan dikembalikan bila kera-kera tersebut diberi sepotong makanan. Namun sekarang kera
Sangeh tidak lagi seliar dan sejahil dahulu, karena sekarang kera-kera tersebut telah diurus dengan
baik.
Kera Sangeh juga memiliki beberapa kelompok yang masing-masing kelompok memiliki satu
pemimpin. Namun kelompok-kelompok tersebut memilki pimpinan teringgi atau bisa dibilang raja dari
seluruh raja kera yang ada di Sangeh. Pemimpin tertinggi ini berdiam ditempat yang paling luas di.
Ditempat raja kera ini tinggal terdapat sebuah Pura Yang sangat terkenal kesakralannya yaitu Pura Bulit
Sari.
Entah bagaimana caranya, pemimpin kera dipilih karena memiliki kekuatan dan kharisma yang
sangat luar biasa. Bahkan mereka memiliki hak-hak yang lebih dibanding kera lainnya, seperti saat
mengawini kera betina atau saat mendapat jatah makanan. Bisanya raja kera akan mendapat jatah per-
tama sampai ia puas, sebelum memberikan jatah tersebut pada kera-kera lain.
Sebagian besar kawasan hutan wisata ini, menjadi tempat bermukim kera, hanya sebagian kecil
saja yang dimanfaatkan para pengusaha untuk membuat beberapa kios tempat menjual beraneka ragam
cinderamata.
Hutan wisata ini memang banyak ditumbuhi tanaman pala (dipterocarpustrinervis). Menurut in-
formasi hutan pala ini telah berumur ratusan tahun, bahkan diantara pohon pala tersebut konon ada
yang telah berumur lebih dari tigaratus tahun.
Menurut pengelola Taman Wisata ini, Hutan Wisata Sangeng dibuat sebagai taman dari kerajaan
Mengwi. Agar terlihat cantik taman ini ditanami pohon pala yang khusus didatangkan dari Gunung
Agung. Sebenarnya rencana pembuatan taman ini sangat dirahasikan namun akhirnya pembuatan
taman ini diketahui oleh beberapa orang, akibatnya pembuatan taman itu dihentikan, hingga akhirnya
kawasan itu diberi nama Sangeh, yang artingya ada orang yang melihat.
Jika kita sempat mengunjungi taman wisata ini, kita pasti akan tertarik dengan keindahan pohon
pala yang tumbuh dihutan ini, karena selain tumbuhnya lurus, pohon pala juga memiliki kayu yang
sangat bagus. Namun anehnya, menurut beberapa sumber pohon pala Sangeh konon tidak bisa ditanam
ditempat lain. Hingga orang-orang yang ingin memiliki kayu pohon Pala tidak pernah kesampaian.
Ada hal menarik diceritakan oleh para pengunjung dan pengelola Taman Wisata Sangeh tentang
sebuah pohon yang telah tua dan akan roboh. Dari perkiraan banyak orang, pohon tersebut akan roboh
kearah Pura Bukit Sari, namun kenyataanya semua ternyata melenceng. Awalnya pohon tersebut akan
ditebang namun tidak ada yang berani karena takut mendapat kutukan.
“Sekitar awal Januari, akhirnya pohon itu roboh sendiri, mengarah ke barat daya. Persis antara
bangunan Bale Kulkul dan Pewaregan, sehingga hanya sedikit sekali menimbulkan kerusakan, hanya
pada tembok luar Pewaregan saja. Ini mengherankan karena seharusnya pohon itu tumbang persis di
bangunan utama pura,” kata Sumohon.
Selain pohon pala, masih ada tanaman yang terkenal di hutan Sangeh. Masyarakat setempat bi-
asa menyebutnya Pohon Lanang Wadon, karena bagian bawah pohon itu berlubang sehingga
menyerupai alat kelamin perempuan, sedangkan di tengah lubang tersebut tumbuh batang yang
mengarah ke bawah yang terlihat seperti alat kelamin pria. Pohon itu tumbuh persis di pelataran depan
tempat wisata Sangeh dan sebenarnya merupakan pohon pule.
Di Bali, pohon pule memiliki banyak keistimewaan karena kayunya sering digunakan untuk
keperluan khusus, misalnya, membuat topeng yang dipakai sebagai sungsungan. Masyarakat kadang-
kadang ada yang meminta kayu pule itu, kata Subawa. Tetapi, tentu saja tidak boleh begitu saja orang
mengambil kayu atau dahannya karena harus disesuaikan dulu hari baiknya serta memberi persemba-
han sebagai tanda minta ijin.

9. BEDUGUL

Jalan-jalan ke Bali tanpa menyambangi Bedugul? Ah, sayang sekali. Tahkukah Anda, kawasan
wisata yang berada di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan ini memiliki banyak hal menarik yang
layak Anda nikmati. Tak hanya suasana pegunungan yang sejuk, Bedugul juga memiliki tiga buah
danau yang luar biasa indah. Ada Danau Beratan, Tamblingan, dan Buyan.
Anda yang suka menikmati dan mengamati tanaman, Kebun Raya Bedugul, tak boleh dile-
watkan. Selain mengoleksi aneka tanaman konservasi, kebun raya ini juga ditumbuhi ribuan jenis ang-
grek. Bahkan, Anda yang ingin memacu adrenalin, tersedia pula sarananya di sini, yakni objek wisata
petualangan Treetop. Dan untuk urusan perut, silakan cicipi satai dan gulai kelinci.
Terhampar di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut, Bedugul berhawa sejuk. Tak her-
an, kawasan ini sejak lama dikenal sebagai tempat peristirahatan. Pada zaman penjajahan, banyak or-
ang Belanda yang membangun pesanggrahan di sana dengan view menghadap danau. Kini, masyarakat
lokal pun membangun tempat-tempat peristirahatan di sana. Ada yang dipakai sendiri, ada pula yang
disewakan.
Dibanding kawasan wisata lain di Bali, Bedugul memang beda. Hawa yang sejuk dan suasana
yang tenang membuat orang betah berlama-lama di sana. Biasanya, wisatawan yang datang dan men-
ginap di Bedugul adalah wisatawan ‘berkelas’. Mereka tinggal di sini agak lama untuk menikmati
ketenangan.
Wisatawan juga bisa sepuasnya menikmati keindahan danau sembari berperahu keliling danau
atau memancing. Jika enggan berperahu atau memancing, Anda bisa duduk berlama-lama di restoran di
tepi danau sambil melepas pandangan jauh ke tengah danau. Jagung rebus, yang dijajakan para pengas-
ong, bisa menjadi teman setia. Jagung hangat yang masih mengepul itu bisa Anda beli dengan ‘uang
kecil’ Rp 700 per biji.
Bedugul bukanlah kawasan wisata yang mahal. Harga makanan dan tarif penginapan relatif
murah. Ingin menginap dengan tarif Rp 40 ribu per malam? Tak sulit mendapatkannya di Bedugul,
yang dikenal sebagai kawasan penghasil dan pemasok sayur-sayuran untuk Denpasar. Namun, jika
menginginkan penginapan yang lebih bergengsi, Anda bisa memilih sebuah vila berisi dua kamar tidur,
ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur dengan tarif Rp 300 ribu per malam.
Untuk makanan, jangan khawatir akan menguras kantong Anda. Dibanding Nusa Dua, Kuta,
Sanur, dan Denpasar, harga makanan di Bedugul relatif lebih murah. Hanya dengan Rp 6.000, Anda su-
dah dapat menikmti satu porsi nasi campur dan segelas teh manis. Sementara di Denpasar, makanan
serupa mesti Anda tebus dengan harga Rp 8.000, bahkan bisa mencapai Rp 20 ribu jika Anda mem-
belinya di Nusa Dua.
Untuk makanan, sempatkan mencicipi makanan khas Bedugul yakni satai kelinci. Harganya
cukup murah, hanya Rp 6.000 untuk satu porsi atau sepuluh tusuk. ”Kita tidak membedakan harga.
Walau yang berbelanja wisatawan asing, harga tetap lokal,” kata Patakun, pemilik warung satai kelinci
di Pasar Bedugul.
Anda yang ingin bersantap dengan menu lain juga tersedia. Ada nasi campur, ayam goreng, atau
satai/gulai kambing. Bagaimana dengan kehalalan makanan-makanan itu? Tentu, Anda harus menan-
yakannya. Namun jangan terlampau khawatir, sebab pedagang makanan di Bedugul yang rata-rata
Muslim, sangat memperhatikan soal ini.
Kawasan wisata sebaik Bedugul, mestinya bisa menyerap wisatawan secara maksimal. Namun
faktanya, wisatawan asing yang datang ke sini tak lebih dari 20 persen dari total jumlah wisatawan
yang datang ke Bali. Itu pun hanya sebagian kecil saja yang menginap. ”Kami menyediakan pen-
ginapan dan disewakan untuk wisatawan, tetapi hingga kini belum banyak yang memanfaatkannya,”
kata Wenni S Lestari, petugas Humas Kebun Raya Eka Karya Bedugul.
Sementara wisatawan domestik, umumnya tidak mendapat informasi lengkap mengenai kawas-
an wisata ini. Alhasil, mereka lebih memilih tinggal di Denpasar ketimbang Bedugul. Padahal, jika me-
lihat jarak tempuh yang hanya 45 km dari Denpasar, mestinya Bedugul menjadi alternatif mereka untuk
menginap. Belum lagi jika mengingat tarif penginapan dan harga makanan yang lebih murah.
Melakukan perjalanan wisata ke Bedugul sebenarnya sangat menguntungkan. Ini karena biro
perjalanan wisata biasanya menempatkan wisata ke Bedugul dalam satu paket dengan kunjungan ke
objek wisata lainnya seperti Hutan Kera Sangeh, Pura Taman Ayun, dan Pura Tanah Lot. Jika berkun-
jung ke Bedugul pagi hingga siang hari, maka sore harinya dimanfaatkan untuk menikmati panorama
matahari terbenam di Tanah Lot

10. PASAR SENI SUKAWATI

Sukawati adalah sebuah kecamatan di Kab.Gianyar. Sukawati juga nama desa. Sebenarnya,
warga asli Sukawati adalah jagonya pembuat topeng khususnya topeng barong dan rangda serta perajin
wayang kulit. Tapi ketenarannya kalah oleh hebohnya pasar seni yg ada disana yaitu Pasar Sukawati.
Pasar ini terletak sekitar 30km arah timur Denpasar (40 menit drive dari Kuta), dipinggir jalan
raya Sukawati. Kalau dari arah Denpasar, pasar seni ada di kiri jalan dan pasar tradisional ada dikanan
jalan. Gampang banget nyarinya. Disini ratusan pedagang seni berkumpul menjajakan barang2 seni,
mulai dari patung kayu, lukisan, kaos, celana pendek, tas, sandal, dll. Motifnya unik dan khas Bali.
Cukup puyeng juga seh kalo masuk kesini, rame banget. Tapi kalau buat yg suka shopping, Sukawati
adalah surganya.
Di Sukawati WAJIB MENAWAR. Para pedagang biasanya akan buka harga tinggi. Jangan pake
ragu, langsung ajah tawar ke CEBAN alias IDR 10.000.- Mereka ga marah kok, namanya juga
menawar. Nah nanti silahkan dilanjutkan negosiasinya. Naikin penawaran jangan kelewatan, cukup dari
10rb jadi 11rb, kemudian naik lage 12rb dstnya sampai tawaran anda mentok. Kalo ga dikasi..cabut
ajah, paling dipanggil nantinya ama yg jualan. Kalau ga dipanggil lage artinya tawaran anda ga masuk
itungan modal beli dia hehehe..Kalo ajah masuk dan mereka dapat profit walau hanya 1000 perak
doang, yakin anda dipanggil kok.
Belanja murah di Sukawati juga harus tetap memperhatikan kualitas barang. Mesti dicek bener
kondisinya, jangan sampai ukurannya kekecilan dan tidak sesuai dengan yg terjahit dilabel, atau
jahitannya jelek dan lepas. Bila perlu coba langsung disana, ga apa apa kok. Kalau sekedar buat oleh-
oleh sih ga masalah. Cuman untuk dipakai sendiri, mendingan cari disekitar Kuta utk kaos-kaos, daster,
atau celana pantai. Sandal manik-manik juga kualitasnya agak kurang bagus sih. Apalagi lukisannya,
kualitasnya agak dibawah. Lebih baik cari lukisan di Batuan/Ubud, kualitasnya jauh. Secara umum,
mode dan design yg ada di Sukawati kalah dibandingkan dengan Kuta, karena Kuta adalah pusatnya
mode. Tentu saja harga juga beda boss….hehehehe…
Hampir kelupaan, orang biasa mengatakan ada 2 pasar Sukawati, istilahnya Sukawati 1 (lama)
dan Sukawati 2 (baru). Sebenarnya Sukawati 1 adalah pasar yg lama dan saya tulis di blog ini,
sedangkan Sukawati 2 adalah Pasar Seni Guwang yg jaraknya cuman 5km dari Sukawati 1. Tapi harga
di Guwang lebih mahal dari Sukawati. Barangnya sama, lebih komplit malahan di Sukawati lama.
Orang yg punya kios juga sama. Terserah anda mau jalan kemana, yang penting belanja murah dan
happy…..LIHAT, COBA, TAWAR, COCOK, BUNGKUSSSS…………..
11. Museum Negeri Propinsi Bali
Museum ini merupakan museum tertua di Bali dan merupakan pemicu kehadiran museum-
museum lainnya. Berdasarkan atas koleksinya, jenis museum ini termasuk museum ethnografi
koleksinya meliputi benda-benda budaya perlengkapan hidup dan perlengkapan upacara adat / agama
masyarakat Bali dari sejak dulu sampai sekarang. Kebudayaan Bali memiliki karakter unik yang
dilandasi oleh perkembangan sejarah, agama dan aspek lainnya. Strukturnya terdiri dari beberapa unsur
baudaya yaitu unsur Bali asli (Bali Kuno) dengan agama Budha dan Hindu yang telah luluh menjadi
satu membenduk kebudayaan Bali sekarang.
Museum ini didirikan beberapa tahun setelah kerajaan Badung diduduki Belanda yaitu tahun
1910 atas prakarsa dan dorongan Residen Belanda bernama W.F.I.Kroon yang dalam
pengembangannya dibantu oleh arsitek Jerman yaitu Curt Griindler dan beberapa undagi (ahli seni
bangunan tradisional Bali) diantaranya I Gusti Ketut Gede Kandel, I Gusti Ketut Rai, dan I Gusti Alit
Ngurah yang desainnya merupakan perpaduan antara seni bangunan pura dan puri yang merupakan
tempat tinggal kaum ningrat. Selesai pembangunannya tahun 1929 dan secara resmi dibuka tanggal 8
Desember 1932. Para sarjana Barat yang ikut membantu membangun museum ini adalah
Dr.W.F.Stuterhein, Dr.R.Goris, Walter Spies dan Dr.TH.A.Resink.
Pada dasarnya seni banguan tradisional Bali baik banguan suci, rumah tempat tinggal selalu
berdasarkan pada perencanaan dan pola arsitektur tradisional yang berakar pada agama mereka. Seperti
halnya museum ini pelatarannya dibagi atas 3 bagian pokok yaitu halaman luar, halaman tengah dan
halaman dalam. Masing-masing halaman dihubungkan dengan candi (pintu gerbang).
Museum ini terdiri dari beberapa banguan utama yaitu :
1. Gedung Tabanan yang merupakan sumbangan dari Kerajaan Tabanan pada masa jaman
penjajahan dulu dan mengambarkan seni bangunan khas Bali Selatan
2. Gedung Karangasem, sebagai bangunan contoh nyata dari seni bangunan tradisional Bali Timur.
Bangunan ini merupakan sebuah gedung “penangkilan” artinya gedung tempat raja dihadap
oleh para pungawanya.
3. Gedung Buleleng, merupakan sumbangan pemerintah Kabupaten Buleleng atau lebih dikenal
dengan nama Singaraja. Gedung ini khusus melambangkan seni bangunan Bali Utara.
4. Bangunan tempat pameran dan kegiatan lainnya.
Museum Bali yang di bangun pada tahun 1910 menggunakan arsitektur tradisional dengan ornamen
yang khas Bali. Struktur fisiknya mengikuti struktur fisik bangunan kraton (puri) atau tempat pemujaan
(kahyangan, pura merajan) berdasarkan konsep trimanandala yaitu nista mandala jaba pisan ( bagian
luar ) madya mandala : Jaba tengah ( bagian luar sebelum memasuki bagian inti), dan utama mandala
jeroan (bagian inti). Di pojok depan sebelah kanan di bagian tengah terdapat sebuah bangunan yang
disebut bale bengong.Dipojok depan sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang disebut bale kulkul.
Di bagian inti (jeroan) terdapat bangunan yang terdiri dari tiga gedung yaitu gedung Tabanan di utara,
gedung karangasem di tengah - tenagah, gedung Buleleng di sebelah selatan. Gedung Tabanan
digunakan sebagai tampat pameran koleksi barang-barang kesenian dan etnografi, Gedung karangasem
digunakan sebagai pameran benda- benda prasejarah, arkeologi sejarah, etnografi dan seni rupa serta
beberapa lukisan morder. Gedung Buleleng digunakan sebagai tempat pameran koleksi alat-alat
perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan,
patung-patung gaya sedehana dan primitif yang terbuat dari tanah liat, batu dan lain sebagainya.
Lokasi

Museum Bali terletak dipusat kota Denapasar, di sebelah timur lapangan puputan Badung. Bentuk
bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bgian. Bagian utara
merupakan komplek bangunan lama yang direncanakan dan dibangun pada tahun 1910. Terdiri dari
tiga gedung utama yaitu gedung Tabanan, gedung Karangasem dan Gedung Buleleng. Fungsinya
adalah penyelenggararan pameran tetap. Bagian selatan merupakan komplek banguna baru yang
dibangun tahun 1969. Di komplek bangunan baru ini terdapat gedung perpustakaan, dan juga gedung
pameran sementara. Seluruh komplek bangunan baru berfungsi untuk administrasi dan
penyelenggaraan pameran sementara atau pameran berkala yang diselenggarakan oleh Museum Bali
sendiri atau instansi tertentu lainnya. Pementasan atau pertunjukan kesenian juga dilakukan di komplek
bangunan baru di bagian selatan.

Fasilitas

Fasilitas yang tersedia berupa gedung-gedung penyimpanan peninggalan sejarah dan etnografi sejak
sejak masa prasejarah sampai masa modern tiga buah gedung yang dinamai gedung Tabanan,
Karangasem dan Buleleng di bagian utara adalah tempat penyimpanan barang-barang kesenian barang
etnografis, naskah-naskah kuno (prasasti), keramik, patung-patung porselin, alat-alat rumah tangga,
alat-alat pertanian, senjata, alat-alat upacara, lukisan, wayang kulit dan lain sebagainya. Ketiga gedung
penyimpanan barang-barang peninggalan masa lampau itu di fungsikan untuk tempat pameran tetap.
Gedung-gedung baru di bagian selatan yang dibangun pada tahun 1969 merupakan pengembangan
fasilitas guna memperlancar pelayanan bagi pengunjung. Tersedia fasilitas: perpustakaan, laboratorium,
gedung untuk pameran sementara dan beberapa koleksi barang-barang peninggalan sejaman, kantor
para karyawan. Di bagian depan sepanjang jalan Letkol Wisnu tersedia fasilitas parkir kendaraan
bermotor bagi pengunjung. Tersedia pula sebuah kantin yang menjual minuman dan makanan untuk
para pengunjung.