Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penggunaan pestisida di lingkungan kehutanan khususnya untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman di persemaian dan tanaman muda saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida sintetik memberikan keuntungan secara ekonomis, namun dapat mendatangkan kerugian diantaranya adalah residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara dan penggunaan terus-menerus akan mengakibatkan efek resistensi dari berbagai jenis hama (Djafaruddin, 2001). Pestisida adalah bahan kimia bersifat racun yang sering digunakan dalam bidang pertanian khususnya untuk memberantas hama, gulma, dan penyakit pada tanaman serta meningkatkan produksi pertanian. Bahanbahan kimia yang digunakan untuk memberantas atau mencegah hama air, jasad renik dalam rumah tangga, bangunan, dan alat-alat pengangkut serta binatang-binatang yang mengakibatkan penyakit pada manusia dan hewan, juga termasuk dalam pestisida (Rompas dan Sunarjo, 1989). Penggunaan pestisida seperti insektisida, fungisida dan herbisida untuk membasmi hama tanaman, hewan, dan gulma (tanaman benalu) yang bisa mengganggu produksi tanaman sering menimbulkan komplikasi lingkungan (Supardi, 1994).

Pestisida yang banyak digunakan biasanya merupakan bahan kimia toksik yang unik, karena dalam penggunaannya, pestisida ditambahkan atau dimasukkan secara sengaja ke dalam lingkungan dengan tujuan untuk membunuh beberapa bentuk kehidupan. Idealnya pestisida hanya bekerja secara spesifik pada organisme sasaran yang dikehendaki saja dan tidak pada organisme lain yang bukan sasaran. Tetapi kenyataanya, kebanyakan bahan kimia yang digunakan sebagai pestisida tidak selektif dan malah merupakan toksikan umum pada berbagai organisme, termasuk manusia dan organisme lain yang diperlukan oleh lingkungan (Keman, 2001). Seperti disebutkan sebelumnya, penggunaan pestisida dalam aktifitas manusia sangat beragam. Penggunaan pestisida di bidang pertanian merupakan salah satu upaya untuk peningkatan produk pertanian. Penggunaan pestisida ini tidak akan menimbulkan masalah apabila sesuai dengan aturan yang diperbolehkan. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini sehubungan dengan sifatnya yang toksik serta kemampuan dispersinya yang tinggi yaitu mencapai 100%

(Mangkoedihardja, 1999). Saat ini, kimia kontrol adalah strategi yang paling umum digunakan terhadap hama. Ada banyak bahan kimia yang beracun termasuk insektisida seperti organofosfat, piretroid dan fumigants seperti metil

bromida dan fosfin (Park, et al, 2003;. Kljajic dan Peric, 2006). Zat kimia sangat efektif untuk pengendalian hama. Akan tetapi memiliki beberapa masalah bagi pengguna (Subramanyam dan Hagstrum, 1995; Okonkwo dan Okoye, 1996). Selama beberapa dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang cukup besar dalam kepentingan penelitian di bidang pengiriman produk alam dengan menggunakan partikel untuk mengendalikan patologi tanaman. Metabolit sekunder pada tanaman telah digunakan dalam perumusan nanopartikel melalui meningkatkan efektivitas perlakuan senyawa yang digunakan untuk mengurangi penyebaran penyakit tanaman, dan meminimalkan efek samping karena: sumber yang kaya bahan kimia bioaktif, terdegradasi di alam dan non-polusi (eco-friendly). Sistem partikulat seperti nanopartikel telah digunakan untuk mengubah dan memperbaiki sifat efektif beberapa jenis pestisida kimia sintetis atau dalam produksi biopestisida secara langsung ( AbdulHameed, 2012 ). Pemantauan dan eksposur data sangat penting dilakukan untuk menentukan dampak dari pestisida terhadap kesehatan manusia dan lingkungan secara akurat. Metode analisis, lebih cepat dan lebih hemat biaya, dapat memfasilitasi pengumpulan data tentang pestisida tertentu yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan lingkungan. Kemajuan dalam miniaturisasi dan teknologi mikrofabrikasi telah menyebabkan pengembangan perangkat elektrokimia sensitif dan selektif untuk

lapangan dan dalam pemantauan lingkungan (Pellicer, et al., 2010).

Sensor elektrokimia dapat memberikan pengukuran yang cepat, handal dan biaya-efektif dan metode pemantauan (Hanrahan, et al., 2004)
Fungsionalisasi permukaan nanopartikel logam (NP) untuk kimia sensor adalah topik yang sangat menarik saat ini (Niemeyer, 2001; Glomm, 2005).

Penggunaan nanopartikel perak (AgNPs) sebagai sensor analitis dan bioanalisis mendapatkan perhatian yang signifikan. Relevansi ini muncul dari sifat optik yang tidak biasa, elektronik, dan kimia (Schultz, et al., 2000;. Taton, et al., 2000; Yguerabide & Yguerabide, 1998). Eksitasi optik dari permukaan plasmon resonance (SPR) disebabkan oleh eksitasi kolektif elektron pita konduksi dari nanopartikel, menghasilkan penyerapan dengan koefisien ekstensi molar yang besar dan hamburan yang relevan, biasanya ketika ukuran partikel lebih besar daripada beberapa puluh nanometer (Haes, et al., 2004). Nanopartikel perak telah disintesis dan diaplikasikan sebagai sensor seperti yang telah dilakukan oleh (Wang, et al., 2010), dengan memanfaatkan nanopartikel perak, teknik hamburan cahaya berdasarkan AgNPs memperlihatkan hal yang menjanjikan dalam pengembangan teknik sensor vivo untuk studi tentang sistem biologis, khusus untuk immunoassays dan memantau interaksi antara protein dan enzim dalam sel hidup. Secara garis besar sintesis nanopartikel dilakukan dengan metode top-down (fisika) dan metode bottom-up (kimia). Metode top-down mereduksi padatan logam menjadi ukuran nano secara mekanik,

sedangkan dengan metode bottom-up dilakukan dengan melarutkannya dengan agen pereduksi dan penstabil untuk merubahnya kedalam bentuk nano (Bakir, 2011). Berdasarkan metode sintesis diatas, biaya yang mahal, serta melihat resiko yang ditimbulkan terhadap lingkungan, maka sangat dibutuhkan metode atau inovasi baru dalam mensintesis nanopartikel yang lebih bersifat ramah lingkungan serta biaya murah. Cara mensintesis nanopartikel dengan memanfaatkan ekstrak tumbuhan sebagai agen pereduksi untuk menghasilkan nanopartikel telah ditemukan sebelumnya. (Chandan Singh, et al., 2012), memanfaatkan ektrak daun Dalbergia sissoo untuk mensintesis nanopartikel emas dan perak. Hal yang sama juga dilakukan oleh (Vahabi, et al., 2011), yang telah mensintesis nanopartikel perak dari jamur Trichoderma reesei. Pengembangan nanopartikel perak pemanfaatan dibutuhkan tumbuhan dalam mensintesis sektor

untuk

memenuhi

tuntutan

nanoteknologi yang semakin berkembang pesat saat ini. Inovasi baru perlu dikembangkan lebih lanjut dalam sintesis nanopartikel, dalam hal ini terkhusus nanopartikel perak. Kekayaan alam yang dimiliki Negara kita merupakan anugrah yang sepatutnya disyukuri dan dikembangkan sebagaimana mestinya. Begitu banyak jenis tumbuhan yang ada di Indonesia dan itu memberikan potensi secara bebas untuk mengelola, meneliti, dan mengembangkannya. Salah satu tumbuhan yang potensial yang dapat dimanfaatkan dan berada di

sekitar kita adalah tumbuhan Ipomoea batatas, yang lebih dikenal dengan nama Ubi jalar ungu. Ubi jalar ungu merupakan salah satu jenis ubi jalar yang banyak ditemui di Indonesia selain yang berwarna putih, kuning, dan merah (Lingga, 1995). Nanoteknologi sekarang siap untuk memasuki era komersialisasi. Nanopartikel memperlihatkan hal yang menjanjikan dalam berbagai bidang bioteknologi pertanian (Rahman, et al., 2009; Stadler, et al., 2010). Melihat prospek yang ada, maka dari itu dalam penelitian ini dilakukan sintesis nanopartikel perak sebagai sensor optik pestisida dari Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas).

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat beberapa hal yang menjadi masalah yang perlu penanganan yang tepat, antara lain : 1. Apakah nanopartikel perak dapat disintesis dengan bantuan ekstrak ubi jalar ungu (Ipomoea batatas)? 2. Bagaimana karakter dari nanopartikel perak yang disintesis dari ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) dengan menggunakan Spektroskopi UVVis dan Scanning Electron Microscopy (SEM)? 3. Bagaimana respon nanopartikel perak sebagai sensor optik pestisida

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah : 1. Mensintesis nanopartikel perak dari ekstrak ubi jalar ungu (Ipomoea batatas). 2. Mengetahui karakter dari nanopartikel perak yang disintesis dengan bantuan ekstrak ubi jalar ungu UV-Vis (Ipomoea dan batatas) Scanning dengan Electron

menggunakan

Spektroskopi

Microscopy (SEM). 3. Memanfaatkan nanopartikel perak sebagai sensor optik pestisida.

D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Sebagai tambahan informasi tentang sintesis dan karakterisasi nanopartikel perak. 2. Dapat dijadikan acuan dalam hal pengontrolan pestisida dengan berbasis nanopartikel. 3. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang sensor.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Nanopartikel Nanopartikel adalah partikel yang sangat halus berukuran orde nanometer atau partikel yang ukurannya dalam interval 1-100 nm dan minimal dalam satu dimensi. Nanopartikel tersusun dari sekelompok dari sekelompok atom-atom yang berkisar dari 3 sampai 107. Nanopartikel tersebut dapat berupa logam, oksida logam, semikonduktor, polimer, materi karbon, senyawa organic, dan biologi seperti DNA, protein, atau enzim (Bakir, 2011). Konsep nanoteknologi pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli Fisika bernama Richard P Feyman dalam pertemuan ahli Fisika di Amerika pada tahun 1979 (Park, 2007). Nanoteknologi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan teknologi yang berkaitan dengan materi super kecil (nano). Dalam SI (Satuan Internasional) unit, nanometer didefinisikan sebagai 1 x 10-9 meter. NASA memberikan definisi mengenai nanoteknologi, yaitu merupakan teknologi dalam pembentukan bahan fungsional, sumber, dan sistem melalui pengaturan berdasarkan skala atau ukuran (1-100 nm) dan didapatkan sebagai pemanfaatan fenomena umum, secara fisika, kimia, serta biologi dalam skala yang lebih besar (Elizabeth, 2011).

Nanoteknologi adalah aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengontrol materi pada tingkat molekul. Pada skala nano, sifat materi secara signifikan berbeda dari sifatnya dalam bentuk makroskopik. Nanoteknologi juga disebut kemampuan untuk merancang, karakterisasi, produksi dan penerapan struktur, perangkat dan sistem dengan bentuk dan ukuran pengendali pada skala nanometer (Vahabi, 2011). Kebutuhan untuk biosintesis Nanopartikel naik karena proses fisik dan kimia yang mahal. Jadi dalam pencarian untuk jalur murah untuk sintesis nanopartikel, para ilmuwan menggunakan mikroorganisme dan ekstrak tanaman untuk sintesis. Alam telah merancang berbagai proses untuk sintesis bahan anorganik skala nano dan mikro yang telah memberi kontribusi pada pembangunan daerah yang relatif baru dan belum dieksplorasi penelitian berdasarkan biosintesis yang nonmaterial

(Mohanpuria, et al., 2007).

B. Nanopartikel Perak Salah satu persyaratan untuk kemajuan nanoteknologi adalah pembangunan protokol eksperimental yang dapat diandalkan untuk sintesis nanomaterials pada rentang komposisi secara biologis, ukuran dan monodispersity tinggi (Vahabi, 2011). Tiga langkah utama dalam penyusunan nanopartikel yang harus dievaluasi dari perspektif green chemistry adalah pilihan media pelarut yang digunakan untuk sintesis, sintesis biomimetik dari nanopartikel, sains, teknologi & penerapan 5 pilihan diawali dengan mengurangi agen,

10

ramah lingkungan dan memilih bahan yang non toksik untuk stabilisasi nanopartikel. Sebagian besar metode sintetis dilaporkan sampai saat ini sangat bergantung pada pelarut organik (Raveendran, et al., 2002). Dua dekade terakhir telah menjadi kemajuan pesat dalam berbagai teknologi untuk pembuatan nanopartikel dan diantara berbagai

nanopartikel, nanopartikel logam menjadi perhatian utama karena material ini dapat diaplikasikan pada berbagai bidang sains dan teknologi mulai dari obat untuk optik, pelabelan biologis dan lain sebagainya. Nanopartikel logam seperti perak dan emas telah digunakan untuk meningkatkan nonlinearitas dari penelitian molekul untuk digunakan dalam pencitraan selektif dari struktur dan fisiologi daerah nanometric dalam sistem seluler, penerapan potensi bioremediasi radioaktif limbah, teknologi sensor, optoelektronik rekaman media dan optik (Singh, et al., 2012). Baru-baru ini, nanopartikel logam mulia sudah menarik perhatian karena aplikasinya dalam bidang optic, elektronik, sensor biologi, dan katalis. Salah satu nanopartikel logam mulia ialah nanopartikel perak. Secara garis besar, sintesis nanopartikel perak dapat dilakukan dengan metode top-down (fisika) dan metode bottom-up (kimia). Metode top-down yaitu mereduksi padatan logam perak menjadi partikel perak berukuran nano secara mekanik melalui metodologi khusus, seperti litografi dan ablasi laser. Metode bottom-up dilakukan dengan melarutkan garam perak ke dalam pelarut tertentu, kemudian agen pereduksi ditambahkan, dan penambahan agen penstabil untuk mencegah aglomerasi nanopartikel

11

perak jika diperlukan. Namun demikian, metode-metode tersebut penuh dengan banyak masalah, mencakup penggunaan pelarut beracun, limbah berbahaya, dan konsumsi energy yang tinggi. Biosintesis nanopartikel perak merupakan pilihan lain yang layak selain metode fisika dan kimia (Bakir, 2011). Berikut daftar beberapa tumbuhan yang telah dimanfaatkan untuk biosintesis nanopartikel perak (Tabel 1): Tabel 1. Daftar Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk biosintesis AgNP No Tumbuhan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Azadirachta indica Alloe vera Hibiscus rosa sinensis Geranium Jatropha curcas Carica papaya Syzygium cumini Datura metel Boswellia ovalifoliolata Jenis agen Biosintesis Air rebusan daun Air rebusan daun Gerusan daun Air rebusan daun Lateks/getah Gerusan buah Ekstrak daun dan biji Ekstrak daun Serbuk kulit kayu Ekstrak dari rebusan daun Sumber : (Bakir, 2011) Parameter yang mempengaruhi pertumbuhan, bentuk, dan struktur nanopartikel yaitu jenis capping agent atau stabilizer, konsentrasi dari reaktan, nilai pH dari larutan, dan pengaruh suhu. Sedangkan faktor yang

10. Oryza sativa

12

mempengaruhi sifat nanopartikel adalah ukuran dan bentuk partikel, sifat permukaan, interaksi pelarut-partikel, dan interaksi antar partikel (Lestari, 2012). Dalam biosintesis nanopartikel perak, yang menggunakan

tumbuhan, Ag (0) terbentuk melalui reaksi reduksi oksidasi (redoks) dari ion Ag (I) yang terdapat pada larutan maupun ion Ag (I) yang terkandung dalam tumbuhan dengan senyawa tertentu, seperti enzim dan reduktan yang berasal dari bagian tumbuhan. Proses reduksi hingga terbentuk nanopartikel perak tidak lepas dari peran senyawa tertentu yang terdapat pada jenis tumbuhan yang digunakan (Bakir, 2011).

C. Karakterisasi Nanopartikel Perak Spektroskopi Ultraviolet-Visible (UV-Vis), TEM (Transmission

Electron Microscope), AFM (Atomic Force Microscope), SEM (Scanning Electron Microscope) dan XRD (X-ray diffraction merupakan alat yang digunakan dalam karakterisasi nanopartikel. Spektroskopi UV-Vis dan SEM merupakan alat yang akan digunakan dalam penelitian ini.

D. Sensor Secara umum sensor didefinisikan sebagai alat yang mampu menangkap fenomena fisika atau kimia kemudian mengubahnya menjadi sinyal elektrik dalam bentuk arus listrik ataupun tegangan. Fenomena fisik yang mampu menstimulus sensor untuk menghasilkan sinyal listrik meliputi temperatur, tekanan, gaya, medan magnet cahaya, pergerakan

13

dan sebagainya. Sementara fenomena kimia berupa konsentrasi dari bahan kimia baik cairan maupun gas. (Bagus, et al., 2009). Pengembangan system sensor yang selektif dan sensitif diperlukan karena adanya tuntutan baru dalam analisis lingkungan. Sebuah komponen penting dari setiap sistem deteksi adalah platform pengenal, yang mampu mengikat selektif ke analit target. Platform pengenal baik sintetis dan biologis dikategorikan ke dalam sensor molekul. Sintetis sistem pengenal termasuk reseptor molekul sintetik (Schrader dan Hamilton, 2005) dan difungsikan polimer (Senaratne, et al., 2005). Biosensor merupakan suatu alat deteksi yang terdiri atas transducer dan elemen sensor biologi (Eggins, 1996). Biosensor menghasilkan suatu sinyal elektrik yang proporsional terhadap konsentrasi analit. Transducer mengubah sinyal biokimia yang dihasilkan oleh elemen sensor biologi menjadi suatu respon elektrik yang dapat diukur seperti arus listrik, potensial, dan absorbansi sehingga dapat dijelaskan untuk analisis (Yu Lei, 2006). Elemen sensor biologi berperan sebagai komponen utama pengenal analit yang selektif pada biosensor (DSouza, 2001). Saat ini, sensor kolorimetri emas sangat perak sensitif sudah dan selektif luas

menggunakan

nanopartikel

dan

secara

dimanfaatkan. Hal ini karena nanopartikel logam mulia memiliki koefisien punah (extinction coefficient) yang sangat tinggi dan sifat optis yang

14

bergantung pada ukuran dan bentuk partikel, konstanta dielektrik medium, komposisi dan jarak antarpartikel (Moores dan Goettmann, 2006). Secara umum, metode kolorimetri menggunakan nanopartikel logam mulia berdasarkan pada agrerasi nanopartikel karena reaksi antara ligan pada permukaan nanopartikel dengan molekul analit. Perubahan warna terjadi ketika jarak rata-rata antar partikel berkurang (Tolaymant, et al, 2010). Nanopartikel emas yang terdispersi berwarna merah,

sedangkan agrerasinya berwarna biru. Sedangkan, nanopartikel perak yang terdispersi berwarna kuning cerah, sedangkan agrerasinya berwarna merah (Yao, et al, 2010).

E. Pestisida World Health Organization mendefinisikan pestisida sebagai Setiap bahan atau zat campuran dimaksudkan untuk mencegah atau mengendalikan setiap spesies yang tidak diinginkan dari tumbuhan dan hewan dan juga termasuk zat-zat atau bahan campuran dimaksudkan untuk digunakan sebagai defoliant pertumbuhan tanaman, regulator atau dessicant. (IPCS, 1975). Jika dilihat dari asal katanya, pestisida atau pesticide berasal dari pest yang berarti hama dan cide yang berarti mematikan/ racun. Jadi pestisida adalah racun hama. Secara umum pestisida dapat didefinisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi jasad yang dianggap sebagai pest yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan kepentingan manusia (Munaf, 1997).

15

Pestisida merupakan semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian, memberantas rerumputan, mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan, mengatur atau

merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman (tidak termasuk pupuk), memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak, memberantas atau mencegah hamahama air, memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad renik dalam rumah tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan, dan memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat

menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah, atau air. Bidang penggunaan pestisida meliputi pengelolaan tumbuhan, peternakan, penyimpanan hasil pertanian, pengawetan hasil hutan, pengendalian vector penyakit manusia, pengendalian rayap, pestisida rumah tangga, fumigasi, dan pestisida industri lainnya seperti cat, anti pencemaran dan bidang lainnya (Keputusan Menteri Pertanian No.434.1/Kpts.270/7/2001). Pestisida telah digunakan secara luas. Pestisida dapat bersumber dari kegiatan pertanian, peternakan, rumah tangga, hingga industry. Pestisida dapat digolongkan dalam berbagai jenis berdasarkan criteria tertentu, yaitu berdasarkan organism pengganggu tanaman (OPT) sasarannya, asal zat atau senyawa kimia yang menyusunnya, cara

16

kerjanya,

berdasarkan

penggolongan

(tingkat)

bahayanya,

jasad

sasarannya, dan menurut bentuk formulasinya. Berbagai jenis pestisida berdasarkan OPT sasarannya dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini : Tabel 2. Jenis-Jenis Pestisida Kelas Pestisida Akarisida Algisida Avisida Bakterisida Fungisida Herbisida Insektisida Larvisida Mitisida Mluskisida Nematisida Visida Kegunaan Membunuh kutu Membunuh ganggang Membunuh burung Membunuh bakteri Membunuh jamur Membunuh gulma Membunuh serangga Membunuh larva Membunuh kutu Membunuh bekicot Membunuh cacing Membunuh telur Asal Kata Akari, kutu Alga, ganggang Avis, burung Bacterium Fungus Herba Insectum Lar Arkasida Molluscus Nematoda

Sumber: (Pestisida: Dasar-Dasar dan Dampak Penggunaannya, 1992).

Jalur masuk atau portal entri adalah pintu masuknya xenobiotik ke dalam tubuh organism. Xenobiotik diartikan sebagai bahan asing bagi tubuh organisme, yang antara lain adalah racun (Sumirat, 2003). Kelompok populasi yang berbeda terpajan pestisida melalui jalur pajanan yang berbeda dalam tingkat yang berbeda. Beberapa pajanan terjadi secara sengaja (bunuh diri dan pembunuhan) dan beberapa terjadi secara tidak sengaja (WHO, 1990).

17

Menurut Sudarmo (1991) pestisida dapat di klasifikasikan dalam beberapa golongan,dan diantara beberapa pengklasifikasian tersebut dirinci berdasarkan bentuk formulasinya, sifat penetrasinya, bahan aktifnya, serta cara kerjanya. 1. Berdasarkan bentuk formulasi a. Butiran (Granule=G) Berbentuk butiran yang cara penggunaanya dapat langsung disebarkan dengan tangan tanpa dilarutkan terlebih dahulu. b. Tepung (Dust=D) Merupakan tepung sangat halus dengan kandungan bahan aktif 12% yang penggunaanya dengan alat penghembus (duster) c. Bubuk yang dapat dilarutkan (wettable powder=WP) Berbentuk tepung yang dapat dilarutkan dalam air yang

penggunaanya disemprotkan dengan alat penyemprot atau untuk merendam benih. Contoh Mipcin 50 WP

d. Cairan yang dapat diemulsikan Berbentuk cairan pekat yang bahan aktifnya mengandung bahan pengemulsi yang dapat digunakan setelah dilarutkan dalam air. Cara penggunaanya disemprotkan dengan alat penyemprot atau di injeksikan pada bagian tanaman atau tanah. Contoh : Sherpa 5 EC

18

e. Volume Ultra Rendah Berbentuk cairan pekat yang dapat langsung disemprotkan tanpa dilarutkan lagi. Biasanya disemprotkan dengan pesawat terbang dengan penyemprot khusus yang disebut Micron Ultra Sprayer. Contoh : Diazinon 90 ULV 2. Berdasarkan bahan aktifnya pestisida dapat diklasifikasikan : Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida, maka pestisida dapat dibedakan ke dalam empat golongan yaitu : a. Pestisida sintetik, yaitu pestisida yang diperoleh dari hasil sintesa kimia, contohnya organoklorin, organofospat, dan karbamat. b. Pestisida nabati, yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, contohnya neem oil yang berasal dari pohon mimba c. Pestisida biologi, yaitu pestisida yang berasal dari jasad renik atau mikrobia yaitu jamur, bakteri atau virus contohnya d. Pestisida alami, yaitu pestisida yang berasal dari bahan alami, contohnya bubur bordeaux (Sitompul, 1987). Pestisida juga diklasifikasikan berdasarkan pengaruh fisiologisnya, yang disebut farmakologis atau klinis, sebagai berikut: 1. Senyawa Organofospat Racun cholinesterase ini merupakan syaraf. penghambat Asetyl yang kuat dari enzim pada

pada

cholin

berakumulasi

persimpangan-persimpangan syaraf (neural jungstion) yang disebabkan oleh aktivitas cholinesterase dan menghalangi penyampaian rangsangan

19

syaraf kelenjar dan otot-otot. Organofosfat disintesis pertama kali di Jerman pada awal perang dunia ke-II. Bahan tersebut digunakan untuk gas syaraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal sintesisinya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP),

parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida tetapi juga toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang tersebut dan ditemukan komponen yang paten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap manusia (misalnya : malathion). 2. Senyawa Organoklorin Dari golongan ini paling jelas pengaruh fisiologisnya seperti yang ditunjukkan pada susunan syaraf pusat, senyawa ini berakumulasi pada jaringan lemak. 3. Senyawa Arsenat Pada keadaan keracunan akut ini menimbulkan gastroentritis dan diarhoe yang menyebabkan kekejangan yang hebat sebelum

menimbulkan kematian. Pada keadaan kronis menyebabkan pendarahan pada ginjal dan hati. 4. Senyawa Karbamat Pengaruh fisiologis yang primer dari racun golongan karbamat adalah menghambat aktifitas enzym cholinesterase darah dengan gejalagejala seperti senyawa organofospat

20

5. Piretroid Piretroid merupakan senyawa kimia yang meniru struktur kimia (analog) dari piretrin. Piretrin sendiri merupakan zat kimia yang bersifat insektisida yang terdapat dalam piretrum, kumpulan senyawa yang di ekstrak dari bunga semacam krisan piretroid memiliki beberapa keunggulan, diantaranya diaplikasikan dengan takaran relatif sedikit, spektrum pengendaliannya luas, tidak persisiten, dan memiliki efek melumpuhkan yang sangat baik. Namun karena sifatnya yang kurang atau tidak selektif, banyak piretroid yang tidak cocok untuk program pengendalian hama terpadu (Djojosumarto, 1998). Bagaimanapun amannya, pestisida adalah racun yaitu bahan kimia yang dibuat untuk membunuh hama, berarti mempunyai toksisitas yang sangat bervariasi dari satu jenis ke jenis lainnya. Jadi resiko pestisida terhadap lingkungan hidup tetap ada dan perlu diperhatikan (Susilo, 2001).

F. Insektisida Diazinon Diazinon merupakan insektisida yang efektif untuk membasmi hama tanaman buah-buahan, sayuran, dan hama tanah, ectoparasites, dan serangga. Toksisitas akut diazinon secara oral adalah LD 50 untuk tikus sebesar 85 sampai 135 mg/kg dan LD50 untuk tikus besar (tikus got) adalah sebesar 150 sampai 220 mg/kg (Margot & Stammbach, 1964).

21

1. Struktur Diazinon Diazinon memiliki nama kimia (0.0-dietil 0-2-isopropyl-6-

etilpyrimidin-4-methyl pyrimidinyl fosfosrotionat) dengan rumus empiris C12H21N2O3P5 adalah insektisida dan nematisida non sistemik

berspektrum luas (broad spectrum) dan bertindak sebagai inhibitor asetilkolinesterase berakibat pada kolin (Sumner et al.1988; EXTONET 1996). Rumus bangunnya disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Rumus Bangun Diazinon (Zhang & Pehkonen, 1999).

2. Sifat Fisik, Kimia, dan Biologi Diazinon Sifat fisik diazinon yang berkaitan dengan lingkungan adalah mempunyai titik didih 83-84oC, tekanan uap 1.4 . 10-4 mmHg pada 20oC, koefisien partisi oktanolair adalah 4, kelarutan dalam air 40 g ml-1 pada 25oC, sedikit larut dalam air (kira-kira 0.04%) dan dapat dicampur dengan pelarut organik (Merck Index, 1998). Stabil dalam lingkungan alkali lemah tetapi sedikit terhidrolisis dalam air dan asam encer. Diazinon sangat sensitif terhadap oksidasi dan suhu tinggi, serta cepat terurai pada suhu di atas 100oC (Hayes dan Laws, 1991).

22

Matsumura (1976) menyatakan bahwa sebagian besar diazinon mengalami degradasi membentuk asam dietiltiofosfonat. Persisten

diazinon dalam air tawar dan air laut masing-masing adalah 11% dan 30% setelah aplikasi 17 hari, sedangkan residu dalam lumpur permukaan (2 mm) masih terdapat 0.05-2% setelah 21 hari aplikasi. Diazinon sangat mobil pada tanah dengan kandungan bahan organik rendah sampai sedang, dan immobil pada kandungan bahan organik tinggi (Arienzo, et al. 1994). Koefisien partisi oktanol-air mengindikasikan diazinon bisa diakumulasi secara biologis dalam organisme, dan ini telah dijumpai pada ikan pada konsentrasi maksimum 300-360 kali konsentrasi di air. Volatilitas diazinon adalah 2.4 mg m-3 pada 20oC dan 18.6 mg m-3 pada 40oC. Diazinon mempunyai waktu paruh (half-life) 30 hari dan koefisien serap oleh tanah Koc=1.000 E (Wauchope et al. 1992), sedangkan konsentrasi diazinon sebesar 0.2-5.2 mg l-1 dapat membunuh ikan (Smith et al. 2007) Diazinon mempunyai spektrum daya bunuh yang luas terhadap serangga dan berbagai cacing tanah. Toksisitas diazinon terhadap mamalia adalah sedang (II), dengan lethal doses (LD50) oral akut masingmasing 96-967 mg kg-1 pada tikus jantan dan 66-635 mg kg-1 pada tikus betina dan LD50 dermal akut masing-masing tikus adalah >2000 mg kg-1 (katagori III), LD50 inhalasi akut pada tikus 3.5 mg l-1 termasuk kategori III (Pesticide Fact Handbook 1986). LD50 untuk beberapa spesies burung 340 mg kg-1 dan spesies ikan 0.4-8 g ml-1 (Sumner et al. 1988).

23

3. Alur Reduksi Diazinon di Alam Residu pestisida secara alamiah dapat hilang atau terurai dengan baik dalam lingkungan abiotik maupun lingkungan biotik. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam penguraian pestisida adalah penguapan, pencucian, pelapukan dan dengan degradasi baik secara kimia, biologi maupun fotokimia. Hidrolisis diazinon menjadi IMPH (2-isopropyl-4-methyl6-hydroxy pyrimidine) terutama diatur oleh proses abiotik, degradasi dari diazinon meningkat oleh mikroorganisme tanah, sehingga mikroorganisme menjadi faktor yang lebih dominan dari faktor abiotik (Leland, 1998). Formulasi diazinon terdegradasi menjadi sejumlah

tetraetilpirofosfat, menghasilkan sulfotepp (S,S-TEPP) dan monothiotepp (O,S-TEPP), kedua senyawa tersebut mempunyai sifat toksik yang lebih tinggi dibandingkan diazinon dan merupakan inhibitor enzim kolinesterase terutama O,S-TEPP yaitu 14000 kali lebih toksik dari diazinon (Allender & Britt 1994). Oksidasi diazinon menjadi bentuk diazoxon yang lebih toksik, terjadi pada jaringan hewan dan tumbuhan (Mc Ewen & Stevenson, 1989).

G. Ubi Jalar Ungu Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang dapat tumbuh dan berkembang di seluruh Indonesia. Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat nonberas tertinggi keempat setelah padi, jagung, dan ubi kayu; serta mampu meningkatkan ketersediaan pangan dan diversifikasi pangan di dalam masyarakat. Sebagai sumber pangan, tanaman ini mengandung karbohidrat, beta

24

karoten, vitamin C, niacin, riboflavin, thiamin, dan mineral. Oleh karena itu, komoditas ini memiliki peran penting, baik dalam penyediaan bahan pangan, bahan baku industry maupun sebagai bahan pensubtitusi (Asriyadi, 2011). Sistematika (taksonomi) tanaman Ubi jalar (Gambar 2)

diklasifikasikan sebagai berikut (Rukmana, 1997). Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Subdivisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Ordo: Convolvulales Famili: Convolvulaceae Genus: Ipomoea Spesies: Ipomoea batatas Gambar 4. Ubi Jalar Ungu

Ubi jalar atau ketela rambat atau sweet potato diduga berasal dari benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar menyebar ke seluruh dunia terutama Negaranegara beriklim tropika, diperkirakan pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol dianggap berjasa menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia (Direktorat Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, 2002). Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi. Ubi jalar juga merupakan sumber vitamin dan mineral,

25

vitamin yang terkandung dalam ubi jalar antara lain vitamin A, vitamin C, thiamin (vitamin B1), dan riboflavin. Sedangkan mineral dalam ubi jalar diantaranya adalah zat besi (Fe), fosfor (P), dan kalsium (Ca). Kandungan lainnya adalah protein, lemak, serat kasar, dan abu (Kumalaningsih, 2006). Selain kaya akan kandungan antosianin, ubi jalar juga kaya akan vitamin A, vitamin E, dan kandungan vitamin C-nya yaitu sebesar 23 mg/100 g serta kaya akan mineral Ca (30 mg/ 100 g). Kandungan kimia ubi jalar dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Kandungan Ubi Jalar Komponen Kadar Air (%) Pati (%) Protein (%) Gula reduksi (%) Mineral (%) Asam askorbat (mg/100 g) K (mg/100 g) S (mg/100 g) Ca (mg/100 g) Mg (mg/100 g) Na (mg/100 g) Fe (mg/100 g) Mn (mg/100 g) Vitamin A (IU/100 g) Energi (kJ/100 g) Jumlah 72,84 24,28 1,65 0,85 0,95 22,7 204,0 28,0 22,0 10,0 13,0 0,59 0,355 20063,0 441,0

Sumber: (Kotecha dan Kadam, 1998)

26

H. Kerangka Pikir dan Hipotesis 1. Kerangka Pikir Insektisida Diazinon Masalah Kesehatan

Sensor dengan nanopartikel

Sintesis

Top-down (fisika) dan Bottom up (kimia)

Tidak ramah lingkungan dan biaya mahal

Metode Biosintesis

Ramah lingkungan dan biaya murah

Nanopartikel perak

Karakterisasi dengan spektroskopi UV-Vis dan SEM

Sensor kadar diazinon

27

2. Hipotesis Adapun hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Nanopartikel perak dapat disintesis dengan metode biosintesis nanopartikel dari ekstrak Ubi Jalar Ungu Ipomoea batatas. sebagai agen pereduksi. b. Nanopartikel Perak dapat digunakan sebagai sensor kadar

Insektisida Diazinon.

28

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini direncanakan dimulai pada bulan Maret 2013 sampai Mei 2013. Preparasi dan analisis sampel dilakukan di laboratorium Kimia Fisika Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin Makassar.

B. Alat dan Bahan 1. Alat Alat-alat yang akan digunakan dalam peneltian ialah Oven, timbangan analitik, spektrofotometer UV-Vis, SEM, pemanas listrik, pipet tetes, erlenmeyer, labu ukur, pH indicator, batang pengaduk, cawan petri, corong pisah, botol bekas selai, botol semprot.

2. Bahan Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi Ekstrak ubi jalar ungu, AgNO3, larutan diazinon, metanol, akuabides, alumunium foil , kertas saring whatman no.1, dan kertas tisu.

C. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah nanopartikel perak yang disintesis dengan bantuan ekstrak Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) yang selanjutnya diaplikasikan sebagai sensor kadar Insektisida diazinon.

29

D. Pelaksanaan Penelitian 1. Pembuatan Larutan Standar Diazinon Pembuatan larutan standar diazinon, Larutan standar diazinon dibuat dengan jalan mengencerkan pestisida diazinon yang didapatkan dari pestisida merek Basudin 60 EC yang memiliki kandungan diazinon sebanyak 600 g/L. Sebanyak 1 mL larutan tersebut diencerkan ke dalam 59 mL metanol, sehingga konsentrasinya menjadi 10 g/L. Larutan ini dijadikan sebagai stok untuk pengenceran selanjutnya. Dari larutan ini, dibuat larutan standar diazinon dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100 ppm dengan air sebagai larutan pengencer (Suherman, 2000). Serial larutan standar tersebut diukur absorbannya pada panjang gelombang 241 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV/Vis dan sebagai blanko digunakan air destilat. Absorbansi yang terukur kemudian diplotkan terhadap konsentrasi dan kemudian dicari regresi linearnya. Kurva linear yang dihasilkan digunakan sebagai kurva standar diazinon (Suherman, 2000).

2. Pembuatan Larutan 1mM AgNO3 Larutan stok AgNO3 1 mM dibuat dengan menimbang 0,085 gram serbuk AgNO3 [Dhucefa Biochemies], kemudian dilarutkan ke dalam akuabides 500 mL Selanjutnya, larutan perak nitrat dikocok. Selanjutnya, larutan perak nitrat dapat digunakan langsung. Larutan perak nitrat disimpan dalam lemari es ketika tidak dipakai.

30

3. Pembuatan Air Rebusan Ubi Jalar Ungu Tanaman yang digunakan untuk proses biosintesis yaitu Ipomoea batatas (Ubi Jalar Ungu). Tanaman tersebut diperoleh di lingkungan kampus FMIPA UNHAS, Sulawesi Selatan. Bagian tanaman yang digunakan ialah Umbi dari ubi jalar ungu. Ubi tersebut dipetik lalu dicuci hingga bersih dengan akuades dan dikeringkan hingga air cucian tiris. Setelah itu, ubi tersebut dipotong-potong seragam dan ditimbang seberat 10 gram, lalu direbus dengan 50 mL akuabides dalam Erlenmeyer 500 mL. Selanjutnya, rebusan dibiarkan mendidih selama 5 menit. Setelah mencapai suhu ruang, air rebusan dituang dan disaring dengan menggunakan kertas Whatman No.1. Air rebusan tersebut selanjutnya dapat digunakan langsung untuk proses biosintesis. Air rebusan ubi jalar ungu disimpan dalam lemari es ketika tidak dipakai. Air rebusan apabila tidak dipakai, disimpan selama 1 pekan.

4. Biosintesis Nanopartikel Perak Biosintesis nanopartikel perak dilakukan dengan mencampur larutan AgNO3 dan ekstrak ubi jalar ungu. Sampel 2 mL air rebusan ubi jalar ungu dicampurkan ke dalam larutan 40 mL AgNO3, kemudian larutan campuran distirer selama 2 jam. Apabila larutan berubah warna dari bening menjadi kuning, itu menandakan nanopartikel perak telah terbentuk.

31

a. Karakterisasi nanopartikel Perak dengan Spektroskopi UV-Vis Larutan nanopartikel perak yang terbentuk dianalisis dengan menggunakan spektroskopi UV-Vis setelah 30 menit, 1 jam, 24 jam, 1 minggu, dan 2 minggu. Semakin tinggi nilai absorbansi dapat diasumsikan jumlah nanopartikel yang terbentuk semakin banyak dan Semakin besar max semakin besar pula nanopartikel b. Karakterisasi Nanopartikel Perak dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) Larutan nanopartikel perak yang terbentuk diangin-anginkan di atas tempat yang sudah dilapisi plastik sampai kering sehingga diperoleh padatan nanopartikel perak. Selanjutnya mengambil sedikit sampel padatan nanopartikel perak untuk dikarakterisasi dengan Scanning Electron Microscopy (SEM). Karakterisasi nanopartikel menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), untuk mengetahui nanopartikel yang telah ditumbuhkan. diameter

5. Proses Pengujian Larutan Indikator 1 mL larutan standar diazinon dengan berbagai variasi konsentrasi yang telah ditentukan diberikan larutan Nanopartikel perak yang telah disintesis, kemudian dikocok dengan menggunakan stirrer. Tabung tersebut kemudian dilakukan pengujian dengan mengamati perubahan warna yang terjadi. Beberapa hasil pengujian larutan indikator diukur dengan UV-Vis setelah 30 menit dan diukur pHnya.

32

DAFTAR PUSTAKA
AbdulHameed, M. 2012. Nanoparticles as Alternative to Pesticides in Management Plant Diseases-A Review. International Journal of Scientific and Research Publications, Volume 2, Issue 4, April Arienzo M, Crisanto T, Sanchez MMJ, Sanchez C. 1994. Effect of soil characteristics on adsorption and mobility of (14C) diazinon. J. Agric. Food Chem. 42: 1803-1808 Bagus, R., Setiawan, I., dan Setiyono, B. 2009. Pemodelan dan Pengujian Sensor TGS2600 untuk Aplikasi Sistem Monitoring Kandungan Gas Karbon Monoksida (CO) di Udara. Semarang : Universitas Diponegoro. Bakir. 2011. Pengembangan Biosintesis Nanopartikel Perak Menggunakan Air Rebusan Daun Bisbul (Diospyros Blancoi) untuk Deteksi Ion Tembaga (II) dengan Metode Kolorimetri. Skripsi tidak diterbitkan. Depok : Universitas Inonesia. Chien, W., Luconi, M., Masi, A., dan Fernandes, L. 2010. Silver nanoparticles as optical sensors. Argentina: Universidad Nacional de san Luis- Inquisal-conicet. Childs, K., Dirk, S., Simonson, R.J., dan Wheeler, D. 2005. Functionalized Nanoparticles for Sensor Applications. New Mexico : Sandia National Laboratories. Djafaruddin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara. Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka. DSouza, S.F. 2001. Review: Microbial Biosensor. Biosensors and Bioelectronics, 16, 337-353. Egerton, R.F. 2005. Physical Principle of Electron Microscopy. New York: Springer Science Business Media, Inc. . Elizabeth, I.R. 2011. Biosintesis nanopartikel silika (SiO2) dari sekam oleh Fusarium oxysporum [skripsi]. Bogor : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

33

Extension Toxicology Network. 1996. EXTOXNET Pesticide Information Profiles: Diazinon. June 15, 2000 (http://ace.orst.edu/cgi bin/mfs/01/ pips/ diazinon). Glomm, W.R. 2005. Journal of Dispersion Science and Technology 26 389. Haes, A., Zou, S., Schatz, G. dan Van Duyne, R. (2004). Nanoscale optical biosensor: short range distance dependence of the localized surface plasmon resonance of noble metal nanoparticles . J. Phys. Chem. B, 108, ( March 2004), 6961-6968 ISSN 0022-3654. Harris, Asriyadi. 2011. Pengaruh Subtitusi Ubi Jalar (Ipomoea batatas) dengan Susu Skim Terhadap Pembuatan Es Krim. Makassar: Universitas Hasanuddin Hanrahan, G.; Patil D. G. & Wang J. (2004). Electrochemical sensors for environmental monitoring: design, development and applications . Journal Environmental Monitoring, 6 (8), 657 - 664. Hayes, Wayland J., Laws, Edward R. 1991. Handbook of Pesticide Toxicology Volume I: General Principles. New York: Academic Press, Inc. IPCS. Environmental Health Criteria 104: Principles for the Toxicological Assesment of Pesticide Residues in Food. Geneva: WHO. 1990 Keman, S. 2001. Bahan Ajar Toksikologi Lingkungan . Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Keputusan Menteri Pertanian No.434.1/Kpts.270/7/2001. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida. Kljajic, P. dan Peric, I., 2006. Susceptibility to contact insecticides of granary weevil Sitophilus granarius (L.) (Coleoptera: Curculionidae) originating from different locations in the former Yugoslavia. Journal of Stored Product Research, 42:149161. Kotecha, P.M., dan S.S.,Kadam. 1998. Sweet Potato, in Handbook of Vegetable Science and Technology (Salunkhe, D.K and S.S Kadam eds). New York: Marcel Dekker Inc.

34

Kumalaningsih, S. 2006. Peluang Pengembangan Agroindustri Dari Bahan Baku Ubi jalar. Risalah Seminar Penerapan Teknologi Produksi dan Pasca Panen Ubi jalar Mendukung Agro-Industri. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kurniawan, F., Tsakova, V., dan Mirsky, V.M. 2006. Gold Nanoparticles in Nonenzymatic Electrochemical Detection of Sugars. Electroanalysis 18, 2006, No. 19-20, 1937 1942 Leland, J. E. 1998. Evaluating the Hazard of Land Applying Composted Diazinon Waste Using Earthworm Biomonitoring. Thesis. Virginia: Polytechnic Inst. Virginia. Lestari, Putri. 2012. Modifikasi Nanopartikel Emas dengan 2Merkaptoetanol-Asam Sianurat sebagai Sensor Melamin. Skripsi tidak diterbitkan. Depok : Universitas Indonesia. Lingga P. 1995. Bertanam Umbi-umbian. Jakarta: PT. Penebar Swadaya Mangkoediharja S. 1999. Ekotoksikologi Keteknikan. Surabaya: Jurusan Teknik Lingkungan-FTSP, ITS. Mamahit, Lexy. 2009. Satu Senyawa Steroid dari Daun Gedi (Abelmoschus Manihot L. Medik) Asal Sulawesi Utara. Chem. Prog. Vol. 2, No. 1. Mei 2009 Margot, A., dan K, Stammbach. 1964. Analytical Methods for Pesticides Plant Growth Regulation. Academic Press Inc, New York. Matsumura F. 1976. Toxicology of Insecticides. New York: Plenum Press. McEwen, F.L., Stephenson, G. 1989. The Use and Significance of Pesticides in the Environment. New York: John Wiley and Son. Mohanpuria, P., Rana, K.N., dan Yadav, S.K (2008). Biosynthesis of nanoparticles: technological concepts and future applications . Journal of Nanoparticle Research 10.; 507- 517.
Mohanraj, VJ, dan Chen, Y. 2006. Nanoparticle-A Review. Tropical Journal of

Pharmaceutical Research, June 2006; 5 (1): 561-573. Munaf, Sjamsuir, 1997, Keracunan Akut Pestisida: Teknik Diagnosis, Pertolongan Pertama, Pengobatan dan Pencegahannya. Jakarta: Widya Medika.

35

Niemeyer, C.M., 2001. 4128.

Angewandte Chemie-International Edition 40

Okonkwo, E.U., dan Okoye, W.J. 1996. The efficacy of four seed powders and the essential oils as protectants of cow pea and maize grain against infestation by Callosobruchus maculates (Fabricius) (Coleoptera: Bruchidae) and Sitophilus zeamais (Motschulsky) (Coleoptera: Curculionidae) in Nigeria. International Journal Pest Management, 42: 143146 Park B. 2007. Current and future applications of nanotechnology. Issues in Environmental Science and Technology. 24: 1-18. Park, I.K., Lee, S.G., Choi, D.H., Park, J.D., dan Ahn, Y.J. 2003. Insecticidal activities of constituents identified in the essential oil from leaves of Chamaecyparis obtuse against Callosobruchus chinensis (L.) and Sitophilus oryzae (L.). Journal of Stored Product Research, 39: 375384 Pellicer, C., Gmez C.A., Unceta N., Goicolea, M. A., dan Barrio, R. J. (2010). Using a portable device based on a screen-printed sensor modified with a molecularly imprinted polymer for the determination of the insecticide fenitrothion in forest samples. Analytical Methods. DOI: 10.1039/c0ay00329h Rahadiyanti, Ayu. 2011. Pengaruh Tempe Kedelai terhadap Kadar Glukosa Darah pada Prediabetes. Semarang : Universitas Diponegoro. Rahman, A., Seth, D., Mukhopadhyaya, S.K., Brahmachary, R.L., Ulrichs, C. and Goswami, A. 2009. Surface functionalized amorphous nanosilica and microsilica with nanopores as promising tools in biomedicine. Naturwissenschaften, 96: 3138 Raveendran, P.; Fu, J. & Wallen., S.L. (2003). Completely Green Synthesis and Stabilization of metal nanoparticles . Journal of American Chemical Society, 125(46).; 13940-13941. Rompas R.M. dan Sunaryo, P., 1989. Toksikologi Pestisida. Bahan Penataran Toksikologi di Unsrat. Kerjasama UNSRAT-CIDA/SFE. Proyek Pengembangan Perguruan Indonesia Timur. Rukmana, R. 1997. Ubi Jalar-Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius

36

Schrader, T. & Hamilton A. D. (2005). Functional synthetic receptors, Weinheim : Wiley-VCH, 9783527306558. Schultz, S.; Smith, D.; Mock, J. & Schultz, D. (2000). Single-target molecule detection with nonbleaching multicolor optical immunolabels. Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A., 97, 3, (February 2000), 996-1001, ISSN 0027-8424. Senaratne, W.; Andruzzi L. & Ober C. (2005). Self-assembled monolayers and polymer brushes in biotechnology: current applications and future perspectives. Biomacromolecules, 6 (5), 2427-2448. Setiawan, Iwan. 2009. Buku Ajar Sensor dan Transduser. Semarang : Universitas Diponegoro. Singh, Chandan, et al. 2012. Biocompatible Synthesis of Silver and Gold Nanoparticles Using Leaf Extract of Dalbergia Sissoo. Adv. Mat. Lett. 2012, 3(4), 279-285. Sitompul, P, 1987. Penggunaan Pestisida Secara Tepat Dan Aman . Medan: Kanwil Dep.Kes Sumut. Smith, JrS, dan Lizotte, R.E., More MT. 2007. Toxicity Assessment of Diazinon in a Constructed Wetland Using Hyalella azteca. Bul. Environ Contam. Toxicol. 79.58-61. Stadler, T., Butelerb and M., Weaver, D.K., 2010. Novel use of nanostructured alumina as an insecticide. Pest Management Science, 66: 577579 Subramanyam, B. and Hagstrum, D.W., 1995. Resistance measurement and management. In: Integrated Managments of Insects in Stored Products (Subramanyam, B. and Hagstrum, D.W. eds.), 331339 PP. Sudarmo, S., 1991. Pestisida. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Sumirat, Fajar., 2003, Hubungan Karakteristik, Pengetahuan, dan Tindakan Petani Penyemprot dengan kadar Cholinesterase Darah petani di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Tahun 2003 (Skripsi). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Sumner, D.D., Keller, A.E., Honeycutt, R.C., Guth, J.A. 1988. Fate of diazinon in the environment. In Fate of Pesticides in the Environment . Biggar, J.W. and J.N. Seiber eds. Pp. 109-114. The Regents of the Univ of California, Div. of Agric and Natural Resources. Oakland, CA.

37

Supardi I., 1994. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Edisi Kedua. Bandung: Penerbit Alumni. Suherman, Ayep D. 2000. Bioremediasi Pestisida Organofosfat Diazinon Secara Ex Situ dengan Menggunakan Mikroba Indigenous dari Areal Persawahan. Bogor: IPB. Susilo, Achmadi. Aplikasi Pestisida dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Lingkungan dan Pembangunan, Vol.21, Maret 2001. ((238-245). Taton, T.; Mirkin, C. & Letsinger, R. (2000). Scanometric DNA array detection with nanoparticle probes. Science, 289, 5485, (September 2000), 1757-1760, ISSN 0036-8075. Vahabi, Khabat, et al. 2011. Biosynthesis of Silver Nanoparticles by Fungus Trichoderma Reesei. Insciences J. 2011, 1(1), 65-79; doi:10.5640/insc.010165. Wardah, Habibah. 2012. Pengembangan Sensor BOD berbasis Rhodotorula mucilaginosa UICC Y-181 Terimobilisasi dalam Gelatin dan Alginat Menggunakan Elektroda Emas dan Boron-Doped Diamond Termodifikasi Nanopartikel Emas. Tesis tidak diterbitkan. Depok : Universitas Indonesia. Wauchope, R.D., Buttler, T.M., Hornsby, A.G., Augustijn-Beckers, P.W.M., Burt, J.P. 1992. The Scs/ars/ces Pesticide Properties Database for Environmental Decision Making. Rev.Environ. Contam.Toxicol. V. 123:156. WHO. Adequacy Use Public Health Impact of Pesticides Use in Agriculture. Geneva: WHO. 1990 Yguerabide, J. & Yguerabide, E. (1998). Light-scattering submicroscopic particles as highly fluorescent analogs and their use as tracer labels in clinical and biological applications: II. Experimental characterization. Anal. Biochem., 262, 2, (September 1998), 157-176. ISSN 0003-2697. Yu Lei, W. Chen & A. Mulchandani. 2006. Microbial Biosensor. Review. Analytica Chimica Acta 568, 200-210. Zhang, Q, Pehkonen, S.O. 1999. Oxidation of diazinon by aqueous chlorine: kinetics, mechanism, dan produtc studies. Agric Food. Chem. 47: 1760 1766.