Anda di halaman 1dari 37

Skrining bayi baru lahir (SBBL) Salah satu upaya peningkatan kualitas hidup anak

Sub Pokja Monitoring & Evaluasi POKJANAS Kemenkes RI

DEFINISI SBBL
SBBL adalah suatu istilah yang menggambarkan berbagai cara tes yang dilakukan pada beberapa hari pertama kehidupan bayi Skrining memisahkan bayi-bayi yang mungkin menderita kelainan dari bayi-bayi yang tidak menderita kelainan

TUJUAN SBBL
Mengetahui kelainan sedini mungkin, sebelum gejala klinis muncul Secepatnya memberikan intervensi (obat, diit khusus, dll), untuk mencegah kecacatan atau kematian bayi Mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak

SN DARI SEGI KESEHATAN MASYARAKAT


Suatu program pencegahan yang cukup penting
Bila dilakukan pada saat yang tepat, mempunyai potensi untuk mencegah dampak membahayakan, termasuk kematian

Rekomendassi WHO 1968, Kriteria memilih penyakit yang diskrining ( Wilson & Jungner )

Kelainan merupakan masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan dengan segala dampaknya, sehingga merupakan alasan untuk memberlakukan skrining pada seluruh populasi Pengobatan sangat efektif bila diberikan dini, bisa dilakukan oleh petugas kesehatan, dan mudah diberikan kepada semua bayi baru lahir. Tes yang dipergunakan: sederhana, aman, akurat, benar (valid) dan bisa diterima masyarakat

Kelainan yang rutin diskrining ( di negara maju)


PKU ( 1: 19.000; di Asia jarang, 1 : 50.000) HK (1 : 3000) CAH (1 : 15.000) MSUD (1 : 200.000) G6PD def (1 : 65 ; etnis Tionghoa) Galactosemia ( 1 : 50.000) Cystic fibrosis ( orang kulit putih, 1 : 2000) Inborn error of metabolism, lebih ari 30 kelainan

HIPOTIROID KONGENITAL (HK)


HK merupakan kelainan yang tidak jarang, bisa sporadik ataupun endemik Bila tidak diobati, bayi akan mengalami retardasi mental Pada saat lahir bayi tampak normal Uji saring mudah dilaksanakan Fasilitas diagnosis dan pengobatan tersedia

Hall DMB, Michel JM. Screening in infancy, Arch Dis Child 1995;72:93-96

Peranan HT terhadap pertumbuhan


Merangsang sistesis dan sekresi GH Merangsang produksi faktor pertumbuhan Faktor pertumbuhan kulit Faktor pertumbuhan syaraf Erythropoetin, untuk pembentukan sel darah merah Merangsang pertumbuhan dan metabolisme tulang

Fungsi HT terhadap Perkembangan otak

Neurogenesis Gliogenesis Migrasi sel Neural Diferensiasi neuron Pertumbuhan dendrit & axon Pembentukan Synaps Myelinisasi Sintesis Neurotransmitter

Mengapa HK harus di skrining ?


Pada saat lahir seringkali bayi tampak normal (selama dalam kandungan hormon tiroid dari ibu memenuhi kebutuhan HT bayi) Bila diagnosis didasarkan gejala klinis HK yang akan kelihatan kemudian, sudah terjadi hambatan tumuh kembang Terlambat pengobatan sat bulan, akan ehilangan sati IQ

Hipotiroid Kongenital

Pengobatan terlambat

Hambatan pertumbuhan & Mental Retardasi

DIAGNOSIS DINI SANGAT PENTING

Pengobatan memadai yang diberikan sebelum bayi mencapai umur 3 bulan

Bayi akan mengalami tumbuh kembang seperti anak normal

Hasil kajian
27 September 2006 Health Technology Assessment (HTA) KPM, POGI, IDAI

Skrining neonatal HK perlu dilakukan pada semua bayi

Tahun 2006 : Proyek pendahuluan di 8 provinsi:


DKI Jaya DIY Jawa Barat Jawa timur Jawa tengah Bali Sumatera Barat Sulawesi Selatan

Mengapa laboratorium SHK disentralisir


1) Cost effective (biaya lebih murah), 2) Memudahkan pencatatan dan pelaporan yang sangat penting untuk memperoleh angka kejadian (prevalence) nasional, 3) Menjamin kualitas (Quality assurance ) internal maupun eksternal 4) Pelaksanaan berada dalam satu system di bawah pengawasan Kelompok Kerja Provinsi di tingkat provinsi, yang berkoordinasi dengan Kelompok Kerja Nasional di Kemenkes 5) Pengobatan dan pemantauan tumbuh kembang bayi yang positif menderita HK dilakukan dengan supervisi SpA konsultan (antara lain : Endokrin, tumbuh kembang, neropediatri) di Tim ahli Pokja Provinsi

Tahun 2011: Pengembangan ke 3 provinsi


Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sumatra Utara, Dengan alokasi dana dekon masing-masing untuk 1000 bayi Yang terlaksana : Sulawesi utara (Manado) Sumatra Utara

Monitoring tahun 2012


Jawa Barat Jawa tengah Jawa Timur Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sumatera Utara Kalimantan Selatan DKI Jaya Bali DIY

Provinsi Jawa Barat


Telah dilaksanakan sosialisasi ke 3 Kabupaten : Kabupaten Cirebon Kabupaten Sukabumi Kabupaten Karawang

Pelaksanaan SHK Rutin Jawa Barat(Bandung)


Year 2006 No 12.579 (+) CH
2 3 2 2 3 5

Angka Kejadian 1:6288

Time of diagnosis 21

2007
2008 2009 2010 2011 2012

11.076
11.279 11.794 10.656 12.311

1:3692
1:5639 1:5897 1:3552 1:2462

24
32 33 9 21

10.917 Total 69.695 17 1:4099

Provinsi Jawa Tengah


Pengambilan sampel di : Kota Semarang Kabupaten Magelang Kabupaten Wonosobo Kabupaten Tumenggung Semua terlaksana dengan baik Tinggal mengerahkan sektor swasta yang mandiri

Pelaksanaan SHK di Provinsi Jawa Tengah


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Bayi (+) CH Angka Kejadian Diagnosis & th/ 2 2 1 : 2000 -

2000 2000 4000

Provinsi Jawa Timur


Yang berpartisipasi satu RS swasta Sejak tahun 2004 Jumlah sampel tahun 2011 : Jumlah sampel tahun 2012 : RS Dr. Sutomo ingin melakukan uji saring di labnya sendiri, perlu magang dulu ke RSCM atau RSHS

Provinsi Bali

PROVINSI BALI
Berjalan lancar sejak tahun, terutama dari RS swa Perawat di RS Sanglah sudah memahami SHK Konfirmasi pemeriksaan TSH dan T4 serum diakukan di RS Sanglah Supaya sampel tidak terlambat dikirim ke lab RSHS, wampel jangan di pooldiDikes, tapi langsung dikirim darimasing2 institusi Masalah diRS daerah kendala biaya

Cakupan sampai Desemer 2011


Jabar : 16 RS, 4 RSB, 5 Klinik Bidan, 3 PKM Jumlah bayi di skrining 130.732 Kasus positif 36 DKI Jaya : Bayi diskrining 51.000 Kasus positif : 18 DIY : 7200, Ditemukan 2 kasus Jawa Tengah : 2000 Belum ada kasus positif Jawa Timur : 7702 ,didapat 2 kasus positif Bali : 12.688 bayi ,ditemukan 4 kasus positif Sulawesi selatan : Sumbar : 1630 bayi, kasus tidak ada-

Identifikasi masalah1
Apakah pengambilan sampel 1 5 hari bisa? Mengapa harus dari tumit ? Nilai normal < 20 mU/L, bagaimana dengan hasil yang 19,9 dan 19,8? Bila hasil 212, tindak lanjutnya bagaimana ? Mengapa di laboratorium RS Kariadi, harga satu sampel bisa Rp.160.000,- ?

Tanggapan thd masalah


Pengambilan sampel : Paling baik antara 48 72 jam. Satu hari asal > 24 jam Untu mendapatkan hasil sedini mungkin pengambilan sampel jangan lebih dari hari (kecuali bayi premature/bayi di NICU) Pengambilan drah dri tumit melalui darah perifer, sehingga bila terpapar kuman, akan dilokalisir, sedangkan paparan kuman melalui ena akan ceoat menyebar (risiko sepsis).Di rumah sakit yang menjamin tindakan aseptik, pengambilan darah dari vena boleh dilakukan Hasil TSH 19,9 atau 19,8 mU/L tetap dianggap normal, tetapi berdasaran data laboratorium Hasil TSH 212 mU/L, harus ditindak lanjuti dengan pemerriksaan TSH dan T4 atau FT4 serum. Bila TSH tinggi dan T4/FT4 rendah diagnosis HK, dan langsung diberi tiroksin Kesimpulan : Satu bayi positif HK Salah satu tujuan utama skrining bayi baru lahir secara nasional ialah harga serendah mungkin sehingg bias terjangkau oleh semua lapiisan masyarakat Dengan mengirim sampel ke satu senter (centralized laboratory) akan menjamin cost effective, karena dengan terkumpulnya specimen dari beberapa daerah, sekali pemeriksaan minimal 360 sampel bisa terpenuhi dan harga satu kit terbagi 360

Identifikasi masalah2
Kualitas sampel masih banyak yang kurang baik terutama bercak darah sedikit Faktor geografis menghambat pengiriman sampel karena harus ke Dikes Kabupaten dulu Merasa penasaran, kok tidak ada yang positif

Tanggapan :
Kualitas sampel akan mempengaruhi hasil, harus dilakukan pelatihan di tempat yang sampelnya bagus Untuk mempersingkat waktu pengiriman bisa dikirim langsung ke laboratorium Melalui pos Indonesia expres Kan angka kejadian 1 diantara 2000-3000, jadi dari 500 kemungkinan positif kecil, oleh karena itu perlu skrining bayi lebih banyak (ribuan)

Kunjungan ke RS Dr. Wahidin2


Tanggapan dari Kepala Bagian Komitmen untuk melaksanakan SHK Bersedia menjadi koordinator untuk pelaksanaan SHK di RS swasta ( mandiri) Akan mengirim spesimen ke laboratorium rujukan RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Realisasi pelaksanaan SHK


Telah dibuat MOU antara Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dengan Laboratorium Rujukan SHK RSHS Telah dikirim kartu kertas saring 1000 lembar Telah diterima spesimen dari RSUD Maros dan RS Dr. Wahidin

Pelaksanaan SHK Rutin Jawa Barat(Bandung)


Year 2006 No 12.579 (+) CH
2 3 2 2 3 5

Angka Kejadian 1:6288

Time of diagnosis 21

2007
2008 2009 2010 2011 2012

11.076
11.279 11.794 10.656 12.311

1:3692
1:5639 1:5897 1:3552 1:2462

24
32 33 9 21

10.917 Total 69.695 17 1:4099

Pelaksanaan SHK di Provinsi Bali


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Bayi 838 5023 1220 1652 2397 1558 327
1 3

(+) CH

Angka Kejadian

Time of diagnosis -

1:1674

1:1652

13.015

1:3.254

Pelaksanaan SHK di Provinsi Sumatra Barat


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Bayi (+) CH Angka Kejadian Time of diagnosis -

280
2767 11 29 146 1202 3.500

Pelaksanaan SHK di Provinsi Sumatra Utara


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Bayi (+) CH Angka Kejadian Time of diagnosis -

495 495

Pelaksanaan SHK di Provinsi Sulawesi Utara(menado)


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Bayi (+) CH Angka Kejadian Time of diagnosis 1 -

859 859

Pelaksanaan SHK di Provinsi Sulawesi Selatan(Makasar)


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Bayi (+) CH Angka Kejadian Time of diagnosis 1 -

270 270

Pelaksanaan SHK di DIY


Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total 881 3.699 1 5 1:1784 1:1872 Jumlah Bayi (+) CH Angka Kejadian Time of diagnosis -

6700

1:1675