Anda di halaman 1dari 16

Etika Kedokteran

ETIKA KEDOKTERAN

DEFINISI DAN PENGERTIAN ETIKA KEDOKTERAN Etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti. Etika kedokteran didefinisikan sebagai seperangkat

perilaku anggota profesi kedokteran dalam hubungannya dengan klien/pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta merupakan bagian dari keseluruhan proses pengambilan keputusan dan tindakan medik ditinjau dari segi norma-norma / nilai-nilai moral.(1,2) Sebagai salah satu profesi yang memberikan suatu pelayanan jasa kepada masyarakat, kedokteran memiliki etika tersendiri (etika kedokteran). Dalam hal ini etika kedokteran sebagai suatu etika profesi yang tertua, memiliki pengertian segala hal yang mencakup tata susila dokter dalam menjalankan profesinya, khususnya yang berkaitan dengan pasien, teman sejawatnya dan masyarakat umum. (1,2,3) SEJARAH ETIKA KEDOKTERAN Ilmu kedokteran yang sekarang digunakan diseluruh dunia termasuk di Indonesia berasal dari dunia barat, dengan demikian secara langsung etika yang dipergunakan berasal dari prinsip-

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

prinsip kehormatan diri barat dan sumpah Hipokrates. Standar perilaku profesi kedokteran mulai dirumuskan pada akhir abad ke17 dan kemudian diadopsi kembali oleh ikatan kedokteran pada pertengahan abad ke-19. Untuk lebih jelasnya secara ringkas dapat dilihat kronologis dari sejarah etika kedokteran tersebut: (3,4,5) Sumpah Hipokrates (400 SM) Hipokrates .Hipokrates dikenal sebagai pendekatan Bapak ilmu ilmu kedokteran dengan

mengambil

kedokteran

menggunakan suatu rasionalitas (sebelumnya ilmu kedokteran berasal dari kepercayaan yang berbau tahyul dan irrasional). Hipokrates kedokteran menetapkan barat, salah banyak satu sekali landasan bagi ilmu

diantaranya

adalah

sumpah

hipokrates. Sumpah ini pada prinsipnya berisikan:(2,4,5,6) Aturan yang membahas mengenai kehormatan dalam praktek kedokteran Dapat menjalankan profesi setelah mengucapkan sumpah

tersebut Dalam menjalankan profesi selalu mengutamakan kepentingan pasien; dan tidak boleh menyakiti Tidak boleh memberikan obat yang dapat mematikan atau menyebabkan terjadinya aborsi pada pasien

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

Selalu bersedia menolong setiap orang yang mebutuhkan Selau bertindak benar dan tidak melakukan korupsi Menjaga rahasia pasien

Thomas Percival (1794) Merupakan mempublikasikan seorang kode etik dokter dari Inggris, para yang praktisi

kedokteran

untuk

kedkteran yang kemudian diadopsi oleh dokter Amerika dan selanjutnya diadopsi lagi oleh AMA (American Medical

Association/Ikatan Dokter Amerika). Kode etik yang yang dibuat oleh Percival mengikut sertakan otoritas moral dan kebebasan

dokter dalam memberikan pelayanan, memberikan penekanan tanggung jawab terhadap orang sakit dan pada kehormatan profesi.
(2,5,6,7)

Kode Etik AMA (1846) Kode etik AMA mengadaptasi koe etik yang dibuat oleh Thomas Percival. Kode etik ini merupakan kode etik pertama yang adopsi oleh suatu organisasi profesi secara nasional. Kode etik AMA yang terbaru (2001) memiliki 9 butir pokok bahasan (lebih banyak 2 buah dari kode etik AMA tahun 1980). Tambahan tersebut memberikan penekanan pada tanggung jawab dokter terhadap pasien dan dukungan mendapatkan akses terhadap pelayanan

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

medis bagi setiap manusia. Disamping itu juga dilakukan revisi terhadap sumpah yang berkaitan dengan pendidikan medis dan tanggung jawab terhadap usaha kesehatan masyarakat yang lebih baik. Hal-hal lainnya yang diulas dalam kode tersebut antara lain:
(1,2,3,4)

Dedikasi, kompetensi, tanggung jawab dan respek terhadap profesi

Kejujuran dann tugas untuk melaporkan semua penipuan atau kecurangan

Penghargaan terhadap hukum Penghargaan terhadap hak pasien dan kolega Penghargaan terhadap privasi dan rahasia pasien Pendidikan lanjut, penelitian dan konsultasi dengan profesi lainnya.

Kebebasan

ikatan

kedokteran

dan

lingkungan

dalam

pelaksanaan praktek kedokteran. Tanggung sekitar. Kode Etik Nurenberg (1947) Kode etik ini bertitik tolak dari kejahatan percobaan medis yang dilakukan oleh dokter Nazi pada perang dunia kedua. Kode jawab untuk meningkatkan kualitas masyarakat

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

etik

Nurenberg

berkaitan

dengan

etika

dalam

melakukan

pengobatan terhadap manusia. Kode Nurenberg berisikan 10 prinsip yang mendasari etika mengenai penelitian kedokteran dan

menjamin hak manusia sebagai subyek. Prinsip tersebut meliputi:


(1,2,3,4)

Tindakan

memperikan

penjelasan

kepada

pasien

tentang

tindakan yang dilakuakan Penelitian harus memiliki tujuan dan dibutuhkan oleh

masayarakat Penelitian harus dilakukan terlebih dahulu pada hewan atau berdasarkan pertimbangan lainnya. Resiko terhadap tidak boleh lebih besar dari kepentingannya terhadap permasalahan kemanusian. Harus dihindari tindakan melukai, dan lain yang membahayakan fisik dan mental. Peneliti harus memilki kualifikasi secara ilmiah Subyek dapat dihentikan setiap waktu

Deklarasi Jenewa (1948) Sumpah ini diadopsi dari Asosiasi Kedokteran Dunia melihat tragedi yang terjadi di camps konsentrasi Nazi. Inti dari kode etik ini adalah: (1,2,4,5)

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

Melayani kepentingan kemanusiaan Menghargai dan menghormati pengajar Bertindak ilmiah dan menjaga kehormatan dalam menjalankan profesi

Selalu mencurahkan perhatiaan pada kesehatan pasien, kolega dan tradisi kedokteran

Dalam melaksanakan praktek kedokteran selalu berdasarkan hukum kemanusiaan, menghormati kehidupan mulai dari proses konsepsi.

Dalam melaksanakan tugas tidak memandang pada perbedaan ras, kepercayaan, politik atau status sosial

Deklarasi Helsinki (1964) Deklarasi ini telah mengalami perubahan beberapa kali sejak pertama kali dipublikasikan tahun 1964. Revisi paling terakhir dari deklarasi ini adalah revisi tahun 2000 yang menyatakan bahwa Semua kepentingan manusia harus diletakkan di atas kepentingan profesi dan ilmu pengetahuan. Prinsip lain dari deklarasi ini adalah dokter hanya bertindak atas kepentingan pasien dan kesehatan penderita merupakan prioritas utama. Revisi deklarasi ini juga membahwa mengenai penggunaan plasebo, merekomendasikan

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

pada komite medis untuk mengawasi pelaksanaan percobaan.


(1,2,4,6,7)

ETIKA KEDOKTERAN DI INDONESIA Di Indonesia kode etik kedokteran dikeluarkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan no. 434/Menkes/SK/X/1983. Kode etik ini disusun dengan mempertimbangkan International Code of Medical ethics dengan landasan idiil Pancasila dan landasan strukturil Undang-undang Dasar 1945. Kode etik ini mengatur hubungan antar manusia yang mencakup kewajiban umum seorang dokter, hubungan dokter dengan pasiennya, kewajiban dokter terhadap sejawatnya dan kewajiban dokter terhadap diri sendiri.
(1,2,3)

Untuk mencapai tujuan di atas maka para dokter baik yang tergabung dalam perhimpunan profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maupun secara fungsional terikat dalam organisasi pelayanan, pendidikan dan penelitian telah menerima Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). (1,2,3) BEBERAPA ASPEK DALAM ETIKA KEDOKTERAN Hubungan Dokter dengan Pasien Hubungan antara dokter dan pasien adalah hubungan antara manusia dan manusia. Dalam hubungan ini masing-masing pihak

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

memiliki nilai-nilai yang berbeda. Masalah seperti ini biasanya dihadapi dokter yang bekerja di lingkungan dengan sistem yang

berbeda dengan kebudayaan profesinya. (1,2,3,4) Untuk menciptakan hubungan yang baik antara dokter dengan pasiennya maka diperlukan suatu bentuk keseimbangan dan keharmonisan dalam hubungan tersebut. Dalam hal ini dokter perlu memahami sifat dan keadaan penderita dan juga lingkungan penderita. (1,2,3,4) Hubungan dokter dengan pasien tersebut tumbuh melalui praktek kedokteran yang dilaksanakan setiap hari. Praktek

kedokteran dalam bentuk pelayanan medis dilakukan secara profesional dan manusiawi yang dimodali oleh suatu pengetahuan yang luas dan dalam tentang penyakit serta pengalaman yang holistik tentang keadaan manusia yang sakit. (1,2,3) Hubungan Dokter dengan Sesama Sejawatnya Etika kedokteran mengharuskan setiap dokter memelihara hubungan baik dengan teman sejawatnya. Sikap ini dikembangkan dengan menciptakan rasa persaudaraan dan kesetiaan tolong menolong yang senantiasa dipertahankan dan dikembangkan. Setiap dokter haarus menghargai sesama sejawatnya dan tidak boleh bersikap merendahkan sejawatnya(1,2,3,4)

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

Hubungan

yang

baik

dengan sesama

sejawat tersebut

memberikan manfaat tidak saja bagi dokter yang bersangkutan, tetapi juga bagi pasiennya. Hal ini berkaitan dengan rujukan yang dilakukan oleh seorang dokter kepada rekan sejawatnya dalam rangka kepentingan penyakit pasien. (1,2,3,4) Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri Kewajiban dokter terhadap dirinya sendiri adalah memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. Seorang dokter harus memberi teladan untuk hidup sehat. Bila ada gangguan kesehatan, sebaiknya dokter tidak mengobati diri sendiri, lebih baik meminta pertolongan sejawat lain. (1,2,3) Imbalan Jasa Pertolongan dokter terutama didasarkan pada

perikemanusiaan, diberikan tanpa perhitungan terlebih dahulu tentang untung ruginya. Meskipun demikian hasil pekerjaan

hendaknya juga dapat memenuhi keperluan hidup sesuai dengan kedudukan dokter dalam masyarakat. Jadi sudah selayaknya dokter menerima imbalan jasa untuk pengabdian profesinya. Rekam Medik/Kesehatan Dewasa ini rekam medik atau rekam kesehatan (medical record) menjadi semakin penting. Rekam medik ini berpengaruh
(1,2,3)

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

Etika Kedokteran

pada

kualitas

pelayanan

kesehatan,

dalam

bidang

hukum

kesehatan, pendidikan, penelitian dan akreditasi.

(1,2,3)

Di dalam rekam medis terdapat dua macam informasi yang penting yaitu: 1. Informasi yang mengandung nilai kerahasiaan 2. Informasi yang tidak mengandung nilai kerahasiaan. Informasi yang mengandung nilai kerahasiaan merupakan catatan mengenai hasil pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, pengamatan dan seterusnya mengenai penderita yang bersangkutan. Informasi ini tidak boleh disebarluaskan tanpa izin penderita tersebut. Informasi yang tidak mengandung nilai kerahasiaan yaitu mengenai identitas penderita serta informasi non medis lainnya. (1,2,3) Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent) Informed consent memiliki arti mengizinkan atau

persetujuaan. Hal ini berarti persetujuan (cnsent) yang diperoleh dari pasien, setelah penderita tersebut diberikan informasi yang jelas (informed) tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. Dasar dari tindakan tersebut tercantum dalam Declaration of Lisbon (1981) dan Patients Bill of Right (American Hospital Association, 1972) pada intinya berisikan: pasien mempunyai hak menerima dan menolak pengobatan, dan hak untuk menerima

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

10

Etika Kedokteran

informasi dari dokternya sebelum memberikan persetujuan atas tindakan medik. (1,2,3) Persetujuan tindakan medik atau informed consent memilki nilai-nilai : 1. Meningkatkan kemandirian seseorang 2. Melindungi penderita 3. Menghindari penipuan dan pemerasan 4. Memacu sikap teliti pada pihak dokter 5. Meningkatkan pengambilan keputusan yang rasional 6. Meningkatkan keiikutsertaan masyarakat Terdapat dua bentuk persetujuan tindakan medik, yaitu: 1. Tersirat atau dianggap telah diberikan (implied consent) Keadaan normal Keadaan darurat

2. Dinyatakan (expressed consent) Lisan Tulisan(1,2,3)

Rahasia Kedokteran Keawajiban untuk menyimpan rahasia kedokteran pada

pokoknya adalah kewajiban moril yang telah ada sejak zaman hipokrates. Rahasia tentang keadaan pasien sepenuhnya milik

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

11

Etika Kedokteran

penderita. Dokter yang dititipi menyimpan tidak secara otomatis ikut memilikinya dan boleh memperlakukan semaunya.
(1,2,3)

Tetapi dalam hal-hal tertentu dengan adanya pandangan, bahwa pasien merupakan bagian dari masyarakat, rahasia itu tidak lagi milik pasien sendiri tetapi juga milik masyarakat. Adanya penyakit menular pada seorang pasien perlu diungkapkan kepada masyarakat. Dengan demikian pencegahan terhadap penulaan penyakit kepada orang lain dapat dilakukan. (1,2,3,5,6) Pasal 322 KUHP menunjukkan hubungan rahasia jabatan dengan hukum. Undang-undang ini berlaku untuk setiap orang, yang atas pekerjaannya wajib menyimpan rahasia, bukan hanya dokter pemerintah, tetapi juga dokter praktek swasta, yang pensiun atau yang tidak berpraktek lagi. (1,2,3,5) Abortus Provocatus Abortus telah dilakuan sepanjang zaman dinegara manapun. Pada umunya setiap negara mempunyai undang-undang yang melarang memprovokasi abortus. Tetapi larangan ini tidak mutlak sifatnya. Abortus rovokatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan, apabila merupakan satu-satunya jalan menolong jiwa ibu dari bahaya maut. Indikasi medik ini dapat berubah-ubah menurut perkembangan ilmu kedokteran.
(1,2,3)

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

12

Etika Kedokteran

Di beberapa negara lain, undang-undang mengenai abortus telah mengalami perubahan. Meskipun demikian ada ketentuan yang perlu ditaati. Untuk melakukan tindakan abortus diperlukan pendapat dua orang dokter lain, seorang diantaranya ahli

kebidanan dengan disertai persetujuan tertulis dari wanita hamil yang bersangkutan dan suaminya atau keluarga terdekat. Abortus harus dilakukan di tempat yang mempunya fasilitas memadai untuk menjamin keselamatan penderita, yaitu di rumah sakit. (1,2,3,4) Euthanasia Euthanasia memiliki arti mati yang tenang, singkatnya berarti usaha mempercepat kematian. Tindakan tersebut dapat dilakukan secara volunter (kemauan penderita sendiri) atau involunter (bukan atas kemauan penderita sendiri). Eutanasia aktif (positif) dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya yang sengaja melakukan tindakan/terapi dengan harapan mempercepat kematian penderita. Euthanasia pasif (negatif) dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan dengan cara sengaja tidak melanjutkan pengobatan kepada penderita untuk memperpanjang hidupnya.
(1,2,3)

Di beberapa negara Eropa dan Amerika masih terdapat pro dan kontra mengenai tindakan euthanasia. D Indonesia tindakan euthanasia tidak diperbolehkan. Dokter harus mengerahkan segala

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

13

Etika Kedokteran

kepandainnya dan kemampuan untuk meringankan penderitaan dan memelihara hidup, tidak untuk mengakhiri. (1,2,3) KESIMPULAN Etika Kedokteran mengatur hubungan antar manusia yang mencakup kewajiban umum seorang dokter, hibingan dokter dengan pasien, kewajiban dokter terhadap teman sejawatnya serta mengatur kewajiban dokter terhadap dirinya sendiri. Jadi seorang dokter tidak hanya dituntut memberi pelayan kesehatan dengan baik tetapi juga memberi pendidikan kepada masyarakat dan kewajiban untuk mengadakan penelitian.

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

14

Etika Kedokteran

DAFTAR PUTAKA
1. Gunawan, Memahami Etika Kedokteran, Penerbit kanisius, Yogyakarta, 1991: 11-48. 2. Hanafiah J, Amir A, Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, edisi 3, EGC, Jakarta, 1999: 1-103.

3. http://www.ama-assn.org/ 4. http://www.ncpa.org/ 5. http://www.who.int/disasters/research/Medical_Et hics/Harvard_ report_on_Medical_Ethics1.pdf 6. http://www.cps.ca/english/index.htm 7. http://www.e-stem-cell.com/

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

15

Etika Kedokteran

KKS Bagian Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan 2003

16