Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Salah satu kemajuan yang paling dramatis dalam dunai pediatrik adalah semakin menurunnya penyakit infeksi selama abad 20 karena penyebaran imunisasi semakin luas untuk penyakit yang dapat dicegah. Meskipun kebanyakan imunisasi dapat diberikan pada individu pada setiap usia, jadwal primer yang direkomendasikan selama masa bayi dan dengan pengecualian booster, dilengkapi selama masa awal kanak-kanak. Oleh karena itu imunisasi pada kanak-kanak dimasukkan kedalam promosi kesehatan selama masa bayi. Vaksin tertentu yang umumnya dicadangkan untuk anak yang dianggap beresiko tinggi terkena suatu penyakit. B. TUJUAN a. Tujuan Umun Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan pada mahasiswa untuk dapat memahami apa itu Imunisasi Pada Anak. b. Tujuan Khusus 1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang konsep dasar imunisasi 2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang jenis imunisasi dasar 3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang cara pemberian dan tempat 4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penyimpanan vaksin 5. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang persiapan sebelum melakukan imunisasi 6. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang askep pada anak yang akan dilakukan imunisasi C. MAMFAAT
1

a. Bagi penulis Menambah kemampuan dan wawasan penulis dalam melakukan komunikasi dan pengkajian kesehatan anak dan keluarga.

b. Bagi pembaca Menjadi bahan acuan dalam pembuatan tugas keperawatan anak, sehingga penulis dapat menemukan kekurangan-kekurangannya dalam pembuatan makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Imunisasi Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio. Tujuan diberikan vaksin ini adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadappenyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu. Pemberian imunisasi pada anak juga dapat mempunyai tujuan agar tubuh kebal terhadap penyakit tertentu, kekebalan tubuh juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantarnya terdapat tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang disuntikkan, waktu antara pemberian imunisasi, mengingat efektif atau tidakanya imunisasi tersebut akan tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh diharapkan pada diri anak. B. Jenis Imunisasi Dasar Bardasarkan prosesnya imunisasi dapat dibadi menjadi 2 yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif

Merupakan pemberian zat antigen yang diharapkan akan terjadi satu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang menghasilkan respon seluler dan humoral srta dihasilkannya sl memori, sehingga apabila terjadi infksi maka tubuh secara cepat dapat merespon . dalam imunisasi aktif terdapat 4 macam kandungan dalam stiap vaksinnya antara lain : 1. Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa polisakarida, toksoid, atau viru dilemahkan tau baktri matikan. 2. Pelarut dapat berupa air steril atau juga cairan kultur jaringan 3. Prservatif, antigen. 4. Adjuvan yang terdiri dari garam almunium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen. Imunisasi Pasif Merupakan pemberian zat imunoglobulin yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma binatang atau manusiayang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi. Dalam pemberian imunisasi pada anak dapat diberikan dalam beberapa imunisasi yang dianjurkan diantaranya : a) Imunisasi BCG ( Basillus Calmette Guerin ) Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG, pencegahan imunisasi BCG dan TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak, TBC Miller ( pada seluruh lapangan paru ) atau TBC tulang. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan.
4

stabiliser

dan

antibiotika

yang

berguna

untuk

menghindari tubuhnya mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi

b) Imunisasi DPT ( Diphteri, Pertusis, Tetanus ) Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri. Imunisasi DPT ini merupakan vaksin yang telah dihilangkan sifat racunnya akan tetapi masih merangsang pembentukan zat anti ( toksoid ) c) Imunisasi polio Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan dari vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. d) Imunisasi campak Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular. Vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. e) Imunisasi hepatitis B Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang kandungan nya adalah HbsAg dalam bentuk cair. f) Imunisasi MMR ( Measles, Mumps, dan Rubella ) Merupakan imunisasi yang digunakan dalam memberikan atau mencegah terjadinya penyakit campak ( measles ), gondong, parotis epidemika (mumps) dan rubella ( campak jerman ). Dalam imunisasi MMR ini antigen yang dipakai adalah virus campak strain edmonson yang dilemahkan, virus rubella strain RA 27/3 dan virus gondong. g) Imunisasi Tiphus Abdominalis Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah untuk terjadinya penyakit tifus abdominalis, dalam persediaanya khususnya diindonesia terdapat 3 jenis vaksin tifus abdominalis diantaranya kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan (vivotif, berna) dan antigen capsular Vipolisarccharide (Typhim Vi, Pasteur Meriux).
5

h) Imunisasi Varicela Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit varicella (cacat air). Vaksin varicella merupakan virus hidup varicela zooster strain OKA yang dilemahkan. i) Imunisasi hepatitis A Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis A. j) Imunisasi HiB ( Haemophilus Influenzae Tipe B ) Merupakan imunisasi yang diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit influenza tipe b. Vaksin ini adalah bentuk polisakarida murbi (PRP : purified capsular polysacharide) kuman H. Influenzae tipe b. antigen dalam vaksin tersebut dapat dikonjugasi dengan protein protein lain seperti toksoid tetanus, toksoid difteri dengan kuman menongokokus. C. Cara Pemberian Dan Tempat Imunisasi Imunisasi BCG ( Basillus Calmette Guerin ) Frekuensi pemberiannya adalah 1 x dan waktu pemberian imunisasi BCG pada umur 0-11 bulan, akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi umur 2-3 bulan, cara pemberiannya melalui intra dermal. Efek samping terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional, dan reaksi panas. Imunisasi DPT ( Diphteri, Pertusis, Tetanus ) Dapat diberikan melalui intramuskular. Waktu pemberiannya antara umur 2-11 bulan dengan interval 4 minngu.Efek sampingnya yaitu mempunyai efek ringan seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan sedangkan efek beratnya dapat menangis kurang lebih 4 jam, kesadaran menurun, kejang, enselopati dan shock. Imunisasi polio
6

Waktu pemberiannya pada umur 0-11 bulan dengan interval pemberian 4 minggu. Cara pemberiannya melalui oral.

Imunisasi campak Cara pemberiannya adalah subkutan kemudian efek sampingnya dapat terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas. Frekuensi pemberiannya adalah satu kali pada umur 9-11 bulan. Imunisasi hepatitis B Cara pemberian nya adalah intra muskulardengan waktu pemberiannya umur 0-11 bulan. Imunisasi MMR ( Measles, Mumps, dan Rubella ) Vaksin ini tidak dianjurkan pada bayi umur dibawah 1 tahunkarena dikawatirkan terjadi interferensi dengan antibodi intrenal yang masih ada. Khusus pada daerah endemik sebaiknya diberikan pada usia 4-6 bulan atau 911 bulan dan boster dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan. Imunisasi Tiphus Abdominalis Pada vaksin kuman yang dimatikan dapt diberikan untuk bayi 6-12 bulan adalah 0,1 ml, 1-2 tahun 0,2ml, dan 2-12 tahun adalah 0,5 ml. pada imunisasi awal dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu kemudian penguat setelah satu tahun kemudian. Imunisasi Varicela Dapat diberikan suntikan tunggal pada usia 12 tahun didaerah tropik dan bila diatas usia 13 tahun dapt diberikan dengan 2 kali suntikan dengan interval 4-8 minggu. Imunisasi hepatitis A
7

Dapat diberikan pada usia 12 tahun. Untuk imunisasi awal dengan mengguanakan vaksin Havrix dengan 2 suntikan dengan interval 4 minggu dan boster pada 6 bulan kemudian.

Imunisasi HiB ( Haemophilus Influenzae Tipe B ) Cara pemberiannya dilakukan dengan 3 suntikan dengan interval 2 bulan kemudian vaksin PRP OMPC dilakukan dengan 2 suntikan dengan interval 2 bulan kemudian bosternya dapat diberikan pada usia 18 tahun. D. Penyimpanan Vaksin Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang timbulnya kekebalan tubuh seseorang. Bila vaksin diberikan kepada seseorang, akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan yang khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di unit pelayanan. Suhu yang baik untuk semua jenis vaksin adalah + 2 C s/d + 8 C. Berdasarkan sensitivitas terhadap suhu, penggolongan vaksin adalah sebagai berikut: a. Vaksin sensitive beku (Freeze sensitive = FS), adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap suhu dingin dibawah 0C (beku) yaitu: Hepatitis B, DPT, DPT-HB, DT, TT b. Vaksin sensitive panas (Heat Sensitive = HS), adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap paparan panas yang berlebih yaitu: BCG, Polio, Campak (Dr. Pocut Fatimah Fitri, M.Kes)
8

Cara penyimpanan vaksin yang baik dan benar adalah dengan meletakkannya dalam lemari es. Vaksin tersebut harus disimpan diruang tengah, bukan dipintu, karena suhu dipintu sering kali meningkat akibat sering dibuka dan ini dapat mengubah potensi vaksin. Untuk perlindungan terhadap cahaya, vial dapat dibungkus dengan kertas aluminium. Pemeriksaan berkala harus dilakukan untuk meyakinkan bahwa tidak ada satupun vaksin kadaluarsa yang digunakan.

Penyimpanan Vaksin 1. Di dalam almari pendingin/kulkas pada suhu 20 C - 80 C 2. Jika dibawa ke lapangan untuk vaksinasi harus dimasukan ke thermos/ice box diisi dengan es batu/ice pack yang cukup sehingga suhu tetap stabil dalam rantai dingin Potensi vaksin dalam temperatur Vaksin DT Pertusis BCG Kristal cair 1 tahun Dipakai dalam 1 X kerja Dibawah 20 % dalam 3-14 hari Dipakai dalam 1 X kerja 0-8 derajat celcius 3-7 tahun 18-24 tahun 35-37 derajat celcius 6 minggu Dibawah 50 % dalam 1 minggu

Campak Polio Kristal Cair 2 tahun Dipakai dalam 1X kerja 6-12 bulan 1 minggu Dipakai dalam 1X kerja 1.3 hari

D. Persiapan Sebelum Melakukan Imunisasi


9

Peralatan Vaksinasi yg digunakan a. Thermos/ice box diisi dg es batu/ice pack b. Suntikan (spuit) 1 ml, 3 ml disposible maupun non disposable c. Wearpack d. Sepatu boot e. Masker f. Sarung tangan karet E. Askep Pada Anak Yang Dilakukan Imunisasi A. Pengkajian Pra Imunisasi : 1. Tulis biodata klien secara lengkap. 2. Pengkajian secara umum mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. 3. Riwayat penyakit yang oernah diderita 4. Riwayat imunisasi yang pernah didapatkan o/ anak 5. Riwayat prenatal 6. Riwayat kejang 7. Riwayat penyakit keluarga ( Disfungsi imunologi,HIV/ AIDS, Kanker ) 8. Riwayat obat- obatan 9. Riwayat alergi terhadap obat tertentu. B. Diagnosa NANDA, Hasil NOC, dan Intervensi NIC Nanda NOC NIC 1. Kesiagaan untuk meningkatkan status imunisasi Kontrol imun yang hipersensitif Status respirasi, nadi, gastrointestinal,dan ginjal dalam batas IER Bebas reaksi alergi Bebas respon imflamasi local Bebas dari kejadian autoimun
10

Tidak ada auto antibody atau auto-antigen Status imun Infeksi ulangan tidak terjadi Tidak ada bengkak Berat IER Imunisasi sekarang Perilaku imunisasi Menyatakan resiko penyakit tampa imunisasi Mendeskripsikan resiko yang berhubungan dengan imunisasi khusus Mendeskripsikan kontraindikasi imunisasi khusus Membawa kartu vaksin setiap berkunjung Konfirmasi jadwal imunisasi selanjutnya Pemberian imunisasi/vaksin Mengajarkan orang tua daftar imunisasi yang direkomendasikan, cara imunisasi diberikan, alas an, keuntungan, reaksi berlawanan, dan efek samping Sediakan informasi imunisasi dalam bentuk tertulis Sediakan teknik pemberian yang tepat Identifikasi rekomendasi terbaru tentang imunisasi Memantau pasien selama periode khusus setelah pemberian obat Menahan anak selama imunisasi Jadwal imunisasi sesuai dengan interval waktu Persiapan vaksin 2. Kecemasan Control kecemasan

Memantau intensitas kecemasan


11

Membuang penyebab cemas Menurunkan rangsangan lingkungan ketika cemas Merencanakan strategi koping pada situasi yang menekan Mempertahankan hubungan social Laporan adukuat tidur Mengontrol kecemasan Control dorongan Mengidentifikasi sikap yang membahayakan Identifikasi perasaan utama yang mendorong aksi impulsive Identifikasi akibat aksi impulasif bagi diri dan orang lain Identifikasi dukungan sosial Keahlian interaksi social Pengungkapan Kemudahan menerima Kerjasama Sensitifitas Konfrontasi Kehangatan Rileks Pertimbangan Control penyerangan Menahan diri dari luapan Menahan diri dari tempat personal orang lain
12

Menahan diri dari membahayakan orang lain Menahan diri dari merusak property Kebutuhan komunikasi tang tepat Komunikasi perasaan yang yang tepat Pengurangan kecemasan Berbicara dengan tenang Jelaskan keadaan harapan untuk sikap pasien Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi seperti pengalaman pada prosedur Sediakan informaasi nyata tentang diagnosis, perlakuan dan prognosis Tinggal bersama pasien untuk memperkenalkan keselamatn dan mengurangi rasa takut Teknik tenang Pegang dan nyamankan bayi atau anak Menguncang bayi jika perlu Bicara lembut atau bernyanyi pada bayi atau anak Pertahankan kontak mata Duduk dan bicara dengan pasien Tawarkan minuman hangat atau susu Kehadiran Deminstrasikan sikap menerima Komunikasi verbal berempati Tegakkan kepercayaan dan perhatian yang positif Dengarkan kecemasan pasien Pegang pasien untuk mengurangi kecemasan
13

Tawarkan atau hubungi orang lain yang bisa mendukung Manajemen rasa khawatir berlebihan Ikutsertakan keluarga dalam perencanaan, penyediaan, evaluasi, danperawatan Pantau fungsi koognitif menggunakan standar alat pengkajian Sediakan cahaya yang cukup tapi tidak menyilaukan Perkenalkan diri pada inisiasi kontak Berikan arah sederhana pada waktu yang tepat Berbicara jelas, lembut,hangat, dengan suara yang respek

C. Intervensi Keperawatan Saat akan melakukan penyuntikan vaksin 1) Komunikasi teraupeutik dengan ortu/klg 2) Informasi tentang efek samping vaksin dan resiko apabila tdk imunisasi. 3) Periksa kembali persiapan u/ imunisasi untuk mengantisipasi hal- hal yg tdk diinginkan. 4) Baca dgn teliti informasi tentang produk 5) Tinjau kembali apakah ada indikasi kontra thd vaksin yang akan diberikan. 6) Periksa jenis vaksin dan yakinkan kalau vaksin disimpan dgn baik 7) Periksa vaksin yang akan diberikan, apakah ada tanda- tanda perubahan pada vaksin tersebut, periksa tanggal kadaluawarsa, dan catat hal- hal istimewa, seperti ada perubahan warna. 8) Yakinkan bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal, dan tawarkan tawarkan vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal. 9) Berikan vaksin dgn tehnik yang benar. D. Setelah selesai pemberian vaksin
14

1) Memberitahu ulang tentang efek samping vaksin dan resiko apabila tdk imunisasi. 2) Dokumentasikan kestatus klien 3) Periksa status imunisasi anggota klg lainnya. 4) Laporan imunisasi secara rinci hrs dilaporkan ke Puskesmas induk Dinas kesehatan ( Bag P2M ) 5) Penyuluhan tentang imunisasi

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Imunisasi sebagai salah satu cara untuk menjadikan kebal pada bayi dan anak dari berbagai penyakit, diharapkan agar anak dan bayi dapat tumbuh dalam keadaan sehat. Pada dasarnya dalam tubuh mempunyai pertahanan secara sendiri agar barbagai macam kuman yang masuk dapat dicegah, pertahanan tubuh tersebut meliputi pertahanan nonspesifik dan pertahanan spesifik, proses mekanisme pertahanan dalam tubuh pertama kali adalah pertahanan nonspesifik seperti komplemen dan makrofag ini yang pertama kali akan memberikan peran ketika ada kuman yang masuk kedalam tubuh. Setelah itu maka kuman harus melawan pertahanan tubuh yang kedua yaitu pertahanan tubuh yang spesifik yaitu terdiri dari sistim humoral dan seluler. Sisti pertahanan tersebut hanya bereaksi terhadap kuman yang mirip dengan bentuknya. B. SARAN Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari ketidak sempurnaan, maka penulis meminta kritik dan saran yang membangun agar tersempurnanya makalah ini.

15

16