Anda di halaman 1dari 2

Itik Niaga MA: Pendatang Baru Penghasil Telur

Hasil persilangan Mojosari dengan Alabio ini lebih cepat bertelur dibanding tetuanya. Produksi dan bobot telurnya juga lebih unggul.

otensi itik di Indonesia cukup besar, terbukti dari keberadaan jenis itik lokal yang sangat bervariasi, baik karena pengaruh kemampuan genetik maupun lingkungan. Untuk meningkatkan produksi itik lokal sekaligus menghasilkan bibit itik yang mempunyai

Pembentukan Bangsa Itik MA Kelompok itik Mojosari dan itik Alabio sebagai bibit induk perlu mengalami proses seleksi terlebih dahulu untuk memantapkan produktivitasnya. Hasil persilangan di kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan, telah dilakukan serangkaian kegiatan penelitian di Balai Penelitian Ternak. Penelitian diarahkan pada evaluasi kemampuan produksi berbagai jenis itik lokal. Dari penelitian tersebut akhirnya diperoleh galur itik hasil persilangan Mojosari jantan dengan Alabio betina, yang selanjutnya disebut itik MA. Dengan sistem pemeliharaan terkurung, diharapkan itik MA mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dan berpotensi sebagai bibit niaga penghasil telur.

Itik MA produk Balai Penelitian Ternak sebagai itik niaga penghasil telur.

antara bibit induk ini selanjutnya digunakan untuk menghasilkan itik niaga MA dengan segala keunggulannya. Persilangan dilakukan dengan teknik inseminasi buatan (IB) dan/ atau perkawinan alami. Itik yang dipergunakan adalah itik Mojosari jantan umur 7-8 bulan dan itik Alabio betina umur 6-7 bulan. Untuk melakukan IB, itik dipelihara dalam kandang individu berukuran 50 cm x 30 cm x 55 cm dan tinggi 80 cm. Kandang dilengkapi dengan tempat makan (palaka), tempat minum, dan penampungan telur. IB dilakukan dua kali untuk setiap minggu untuk menjamin tingkat fertilitas telur yang tinggi. Untuk itik yang dikawinkan secara alami, ternak dipelihara dalam kandang berukuran 5 m x 5 m yang disekat dengan pembatas setinggi 0,6 m. Setiap kandang diisi 20 ekor itik (2-3 ekor jantan) yang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Tempat pakan diletakkan pada satu sudut kandang dan tempat minum pada sudut yang lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi pakan yang terbuang sebagai akibat kebiasaan itik setelah makan segera mencari air. Pakan yang diberikan dapat dibuat sendiri atau diperoleh dalam bentuk pakan jadi dari toko pakan ternak yang selanjutnya dicampur dengan sumber energi (misalnya dedak dan jagung) untuk memenuhi kebu-tuhan ternak. Produktivitas Itik MA Secara umum, itik hasil silangan memiliki pertambahan bobot hidup dan produktivitas lebih baik dari tetuanya (itik Mojosari dan Alabio). Produktivitasnya juga cukup menjanjikan untuk menjadi itik niaga penghasil telur(Tabel 1). Tingkat produksi telur 50% dan 80% dari itik MA, diperoleh masing-masing pada bulan ke-7 dan ke-8, dengan puncak produksi pada bulan ke-9, yakni 90,4%. Rataan bobot telur itik MA selama setahun adalah 69,7 g dengan rasio konversi pakan 4,10. Rataan produksi telur

Itik Mojosari, salah satu tetua itik MA.

Tabel 1. Produktivitas tiga galur itik. Parameter Genotipe Alabio 24,00 55,00 1.761 66,50 Mojosari 25,00 53,70 1.616 66,80 MA 22,0 56,70 1.830 74,20 Nilai heterosis (%) -10,36 9,38 2,39 11,69

Umur pertama bertelur (minggu) Bobot telur pertama (g) Bobot hidup pertama bertelur (g) Produksi telur (3 bulan) (%)

selama setahun produksi adalah 69,4%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persilangan ternyata dapat mempercepat umur pertama bertelur, meningkatkan produksi dan bobot telur, serta pertumbuhan yang lebih cepat (Hardi Prasetyo).

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Ternak Jln. Veteran, Ciawi Kotak Pos 221 Bogor 16002 Telepon : (0251) 240751, 240752, 240753 Faksimile : (0251)240754 E-mail : balitnak@indo.net.id

Beri Nilai