Anda di halaman 1dari 2

Lokakarya Industri Pisang Nasional

Selain dikonsumsi segar, pisang dapat disajikan menjadi berbagai produk olahan untuk meningkatkan nilai ekonominya. Untuk membangun kesamaan persepsi pengembangan pisang, telah diadakan lokakarya industri pisang di Jakarta. Apa saja hasilnya?

ndonesia merupakan salah satu pusat keragaman genetik pisang yang penting di dunia. Produksi pisang Indonesia cukup tinggi, sehingga Direktorat Bina Produksi Hortikultura serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura memasukkannya sebagai salah satu buah prioritas untuk dikembangkan dan diteliti. Produksi yang tinggi berkaitan dengan kecocokan lahan dan iklim, ketersediaan bibit, serta kemampuan dan ketertarikan petani untuk mengusahakan pisang. Konsumsi pisang di Indonesia cukup besar. Tingginya konsumsi ini berkaitan dengan rasa dan nilai gizi pisang sebagai sumber karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat. Selain dikonsumsi segar, pisang digunakan dalam berbagai produk olahan, sehingga memberikan nilai tambah pada komoditas tersebut. Industri pengolahan pisang ini dilakukan oleh industri rumah tangga sampai industri skala kecil dan menengah.

Pisang ketan-1, menunggu pengembangan.

Masih banyak unsur dan komponen agribisnis pisang yang belum diketahui. Oleh karena itu, perlu terus dilakukan penelitian untuk meningkatkan pemahaman agribisnis pisang di dalam negeri, dan mencari jalan untuk meningkatkan kinerjanya. Salah satu kegiatan penelitian strategis saat ini sedang dilaksanakan bekerja sama dengan Queensland Department of Primary Industry, Australia dengan bantuan dana dari ACIAR. Topik penelitian adalah Market Based Analysis of Constrains to Banana Industry in Indonesia and Australia. Selain itu, suatu lokakarya telah dilaksanakan dalam upaya membangun kesamaan persepsi dan pemahaman tentang industri pisang sekaligus untuk mendapatkan masukan dalam upaya perbaikan industri pisang di Indonesia. Para pebisnis pisang diharapkan dapat memberikan koreksi terhadap keakuratan informasi dan data yang telah dikumpulkan. Berdasarkan masukan dan saran tersebut, para peneliti dapat memperbaiki rencana kegiatan selanjutnya. Lokakarya dilaksanakan pada tanggal 11-12 Juli 2002 bertempat di Badan Litbang Pertanian, Jalan Ragunan 29, Pasarminggu, Jakarta. Hadir pada lokakarya tersebut para peneliti, perguruan tinggi, swasta, petani, pengambil kebijakan, dan masyarakat peminat agribisnis pisang. Kegiatan Selain membahas berbagai makalah, lokakarya dilengkapi dengan kunjungan ke praktisi pisang di Ciawi, Bogor dan pasar tradisional Cengkareng. Melalui kunjungan ini peserta dapat melihat pematangan pisang dengan cara diasap atau dikarbit serta proses distribusi pisang oleh pedagang pengumpul. Materi utama seminar adalah hasil desk study keragaan agroindustri pisang di Indonesia. Materi lainnya adalah : Program Pengembangan Pisang (Dinas Pertanian Cianjur).

Selain kaya karbohidrat, vitamin, dan mineral, pisang juga menawarkan keuntungan yang menggiurkan.

Produksi dan Permasalahan Usahatani Pisang (petani pisang Cianjur). Penanganan Pascapanen dan Pemasaran Pisang (Himpunan Perbuahan Indonesia). Distribusi dan Pemasaran Pisang (PT Sari Segar Nusantara). Permasalahan Perdagangan Pisang di Pasar Induk (Kepala Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta). Preferensi Konsumen terhadap Jenis dan Mutu Pisang di Supermarket (Direktur Pemasaran PT Hero). Australian Banana Industry Compare to Indonesia (Prof. Beth Wood, Queensland Department of Primary Industry). Implikasi Untuk memecahkan masalah agribisnis pisang perlu penelitian untuk menyusun model produksi, pascapanen, pengolahan, pemasaran, karakteristik petani, dan karakteristik pasar. Disarankan Cianjur menjadi salah satu lokasi percontohan model agribisnis pisang bermutu karena daerah ini sudah mempunyai beberapa lokasi pertanaman pisang yang baik. Perlu dipikirkan model cluster agribisnis, supply chain, dan rantai pemasaran yang efisien sehingga terjalin hubungan kerja yang baik antara petani dan pedagang yang dapat meningkatkan distribusi produk petani ke pasar dengan efisien.

Penyakit layu fusarium, ditandai dengan daun yang tiba-tiba menguning dan akhirnya layu, masih menjadi ancaman serius dalam usahatani pisang.

Dengan diberlakukannya UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, aspek yang berkaitan dengan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan agribisnis pisang menjadi tugas dan kewenangan Pemerintah Propinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota diharapkan dapat lebih aktif dan kreatif dalam memajukan agribisnis pisang. Keserasian dan koordinasi antardaerah masih belum lancar karena pusat produksi dan pusat konsumsi umumnya melintasi batas wilayah administratif. Dalam menghadapi liberalisasi perdagangan global, kita harus semakin mampu menyiapkan produk berkualitas yang dapat bersaing di pasar domestik maupun luar negeri.

Hal ini berarti produktivitas tanaman, pengendalian hama dan penyakit, serta penanganan pascapanen perlu diperbaiki. Buku Pedoman Good Agricultural Practices, Good Handling Practices, dan berbagai standar produk perlu disiapkan dan disosialisasikan (Kusumah Effendie).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanaman Buah Jln. Raya Solok Aripan Km 8 Kotak Pos 5, Solok 27301 Telepon : (0755) 20137 Faksimile : (0755) 20592 E-mail : rif@padang.wasantara.
net.id

Beri Nilai