Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

BAB 1 :Pendahuluan..4 BAB 2 : Pembahasan a) Aspek Hukum.5 b) Prosedur medikolegal..7 c) Pemeriksaan Medis12 d) Pemeriksaan Laboratorium13 e) Interpretasi Hasil14 f) Pembuatan Visum et Repertum.15 g) Aspek Psikososial..17 h) Peran LSM.18

Daftar Pustaka..20

EMERGENCY MEDICINE II

Page 1

BAB 1: PENDAHULUAN Pemeriksaan kasus kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana, hendaknya dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti bukti yang ditemukannya kerana berbeda dengan di klinik ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam melakukan kewajipan itu dokter jangan sampai meletakkan si korban di bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban masih anak anak hendaknya pemeriksaan itu tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah dideritainya. Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di Indonesia pemeriksaan korban persetubuhan diduga merupakan tindakan kejahatan dahulunya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan tetapi sekarang sudah berwenang kepada dokter ahli Forensik, kecuali di tempat yang tiada dokter ahli demikian, dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan itu. Sebagai ahli klinis yang perhatian utamanya tertuju pada kepentingan pengobatan penderita, memang agak sukar untuk melakukan pemeriksaan yang berhubungan dengan kejahatan. Sebaiknya korban kejahatan seksual dianggap orang yang telah mengalami cedera fisik atau mental sehingga sebaiknya pemeriksaan ditangani oleh dokter di klinik. Penundaan pemeriksaan dapat memberikan hasil yang kurang memuaskan.

EMERGENCY MEDICINE II

Page 2

BAB 2: PEMBAHASAN Definisi Perkosaan Suatu perbuatan hubungan seksual tanpa persetujuan korban Setiap paksaan penetrasi dianggap sebagai pemerkosaan

(Dikutip dari scribdd.com)

a) Aspek Hukum Kejahatan Seksual1 Hukum yang berhubungan dengan kejahatan seksual telah diperkuat oleh adanya Undangundang Kejahatan Seksual 1956. Beberapa kejahatan telah dikelompokan sebagai berikut : Hubungan seksual yang dipaksakan, intimidasi, penipuan, penggunaan obat untuk mendapatkan atau menfasilitasi hubungan seksual. Hubungan seksual dengan anak perempuan di bawah 16 tahun. Hubungan seksual dengan orang cacat ( umumnya orang yang dibawah normal ). Berhubungan sedarah ( saudara kandung ). Penyerangan yang tidak wajar. Penyerangan / perbuatan yang tidak senonoh.

EMERGENCY MEDICINE II

Page 3

Ketentuan perjanjian lain yang dihadapi dengan penculikan, prostitusi, permintaan dan penindasan rumah pelacuran. Beberapa celah tertentu didalam Undang-undang tersebut tidak menyeluruh maka ditutup oleh Undang-undang tentang pencabulan Anak-anak, 1960. Undangundang tersebut telah menemukan bahwa tidak ada kejahatan yang dilakukan seseorang, tanpa melakukan kekerasan, mengundang anak kecil untuk menemani dia, atau jika berlaku tidak senonoh terhadap anak kecil. Saat ini perbuatan tersebut adalah tindakan kejahatan dengan hukuman maksimum 2 tahun penjara. Dalam kesempatan ini juga diambil ( dalam bagian ke 2 ), untuk meningkatkan hukuman kejahatan bagi pelaku tindakan kejahatan seksual dengan anak perempuan dibawah 13 tahun, atau tindakan tidak layak terhadap anak perempuan dibawah umur tersebut, menjadi 7 tahun penjara untuk hukuman yang terdahulu dan 5 tahun untuk hukuman selanjutnya. Sedangkan untuk percobaan hubungan sedarah dengan anak perempuan dibawah 13 tahun juga berlaku hukuman sampai dengan 7 tahun penjara. Hubungan seksual didefinisikan oleh Undang-undang Kejahatan Seksual, 1956, s.44. Adalah tidak diperlukan untuk membuktikan penyelesaian dari suatu hubungan dengan mengeluarkan benih, tetapi hubungan seksual akan dapat dianggap lengkap dengan dibuktikan adanya penetrasi. Saat perlakuan salah pada anak terjadi, lantaran perbuatan itu, pelaku tidak sadar bahkan mungkin tidak tahu bahwa tindakannya itu akan diancam dengan pidana senjata atau denda yang tidak sedikit, bahkan jika pelaku ialah orang tuanya sendiri maka hukuman akan ditambah sepertiganya yakni pada pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebagai berikut : 1. Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000.00. 2. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00. 3. Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak RP. 200.000.000.004. Pidana dapat ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya).

EMERGENCY MEDICINE II

Page 4

Undang-undang no 23/2002 Perlindungan Anak Pasal 77 78 Tindakan Diskriminasi Penelantaran Anak Sengaja anak dalam situasi darurat Kekerasan terhadap anak, luka berat, mati Menjual, menculik Eksploitasi ekonomi/seksual Hukuman 5 tahun, 100 juta 5 tahun, 100 juta 3,5 tahun, denda 72 juta 5 tahun, 100 juta 10 tahun, 200 juta 3-15 tahun, 60-300 juta 10 tahun, 200 juta

80

83 88

b) Prosedur Medikolegal1 B.1 Prosedur ketika akan melakukan pemeriksaan pada korban akibat pemerkosaan. Izin pemeriksaan adalah hal pertama yang harus didapatkan dari wanita atau jika anak kecil, dari orang tuanya atau yang menemaninya. Pemeriksaan seharusnya dilakukan pada ruangan tertutup Almarhum W. H. Grace merekomendasikan agar korban diberikan tempat duduk yang paling nyaman, jika dia tidak merasa gelisah, maka keaslian dari segala keluhannya patut dicurigai. Waktu dan tanggal ketika dilakukan pemeriksaan haruslah dicatat, karena interval antara pemeriksaan dan peristiwa kejadian akan dijadikan bahan. Interval seterusnya akan memerlukan penjelasan, dan yang paling penting adalah dokter, akan mengeluarkan surat izin pemeriksaan yang menjelaskan jika ada tanda-tanda pemerkosaan. Hasil negatif pada orang dewasa didapatkan jika pemeriksaan dilakukan setelah lewat beberapa hari, wanita yang telah menikah atau jika dia sudah terbiasa melakukan hubungan seksual. Dokter akan mengambil kesempatan untuk memperhatikan gaya berjalan korban ketika memasuki ruangan pemeriksaan atau dengan tes spesifik. Dokter akan memperhatikan gerakgerik secara umum dan kebiasaan tubuh. Apakah ketika berjalan akan terasa sakit yang disebabkan oleh luka pada alat kelamin? Apakah korban merasa gembira, menderita, atau jika merasa terganggu, sebagai konsekwensi dari keadaan setelah baru saja diperkosa? Apakah dia adalah wanita lemah atau sehat fisiknya, dan perlawanan macam apa yang bisa dia lakukan? Dalam kasus ini, anak perempuan tersebut enggan menjawab segala persoalan yang ditanyakan. Oleh itu, hanya sedikit informasi yang didapati dari anamnesis yang dilakukan.

EMERGENCY MEDICINE II

Page 5

B.2 Riwayat Penyakit Pasien Korban yang datang dengan orangtua, dokter seharusnya pertama kali mendapatkan informasi dari sebelumnya, terpisah dari sang korban, selanjutnya dokter mendengarkan penjelasan dan cerita dari sang korban dan kedua penjelasan tersebut seharusnya direkam secara detail. Pertanyaan yang lebih spesifik akan diberikan kepada kedua sumber tersebut, sehingga akan memberikan data personal dari sang korban, seperti nama, umur dan status, tanggal dan jam terjadinya insiden, rincian kejadian sepanjang kejadian, posisi dari semua orang dalam lokasi kejadian, langkah yang diambil korban untuk menolak penyerangan, dan apakah dia kehilangan kesadaran saat kejadian. Adalah sangat penting untuk mengetahui apakah pada saat kejadian sang korban sedang mengalami masa haid. Dalam kasus ini, korban hanya mengatakan bahwa haid terakhir adalah 2 minggu yang lalu. B.3 Pengujian Pakaian : Korban datang dengan pakaian yang robek dan lusuh. Orang : Rambut kusut tidak terurus.

B.4 Luka : Pertimbangan Umum Ditemukan memar tanda kekerasan pada leher berupa luka lecet kecil pada kulit, dangkal berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari.Ditemukan juga memar berwarna ungu dipaha kiri-kanan bagian dalam. Memar kelihatan terbentuk akibat paksaan semasa perkosaan. Tidak ada tanda-tanda perlawanan oleh korban.

B.5 Alat Kelamin dan Payudara Payudara : Terdapat bekas gigitan di bahagian puting sebelah kanan. Genitalia : Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan secara menyeluruh yang biasa dilakukan, tetapi pada bagian vulva dan hymen diperlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan teliti. Rambut kemaluan Sampel diperlukan dan harus diambil pada saat pemeriksaan lanjut karena rambut harus didapat tanpa pemotongan langsung pada daerah yang dicurigai. Perlengketan dari rambut dapat disebabkan oleh cairan semen yang mengering. Vulva : Terdapat hiperemi, edema, memar dan luka lecet (goresan kuku). Dengan kapas lidi diambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
EMERGENCY MEDICINE II Page 6

Selaput dara : Robekan (luka) selaput dara yang masih baru dapat dilihat dengan adanya perdarahan pembengkakan dan proses inflamasi Vagina: Pelebaran dari vagina dapat menunjukkan akan adanya persetubuhan. Memar, lecet atau terkikisnya kulit dapat terjadi karena adanya paksaan dalam persetubuhan. Cairan vagina : Cairan vagina dikumpulkan ( swab & fresh smear) terutama untuk menunjang pemeriksaan. Dapat untuk mendeteksi penyakit sexual yang ditularkan, menemukan sperma, dan cairan semen untuk mengarahkan akan telah terjadinya persetubuhan

B.6 Pemeriksaan Terhadap Tersangka Ijin untuk pemeriksaan terhadap tersangka tidak merupakan patokan utama, seharusnya didapat oleh dokter serta ditulis dan melalui kesaksian pada pemeriksaan. Pemeriksa akan menulis tentang usia, ukuran fisik dan bentuk fisik yang terdapat pada tersangka. Pemeriksaan juga harus menjelaskan jika terdapat luka-luka ( bekas cakaran kuku/luka lecet, luka memar, dan tandatanda yang mengarah kepala perlawanan). Pemeriksaan cairan semen, bercak sperma pada pakaian diharapkan dapat memberikan penjelasan. Juga diperlukan pemeriksaan lanjut seperti ukuran penis, apakah pria tersebut potent/impotent. Akumulasi dari smegma kurang dapat menentukan tetapi robekan pada frenum mengarahkan atas terjadi hubungan sex. Pemeriksaan bakteriologis juga dapat dilakukan (penularan penyakit sexual yang terjadi akibat persetubuhan), pemeriksaan sampel darah juga dapat dilakukan (terutama pada kasus-kasus grouping ). Dalam kasus ini, pria tersangka adalah pacar korban yang berusia 18 tahun.

C. Tindakan Dokter Yang Terbaik Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda tanda bekas hilang kesadaran atau tanda tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik atau narkotik. Apabila ada petunjuk alkohol, hipnotik atau narkotik telah dipergunakan, maka dokter perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik. Dalam kasus ini, tidak ada tanda-tanda yang disebutkan di atas. Jika terbukti bahawa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau tak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindakan pidana perkosaan kerana dengan membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan.

EMERGENCY MEDICINE II

Page 7

Menurut KUHP pasal 287 : 1 1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkahwinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umur belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikahwin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut Undang undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan. Jadi bila tiada pengaduan, tiada penuntutan. Tetapi keadaan akan berbeda jika :

Umur korban belum cukup 12 tahun; atau Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau Korban yang belum cukup umur 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya (KUHP pasal 294).

Pada keadaan diatas penuntutan dapat dilakukan karena korban adalah di bawah umur.

C.1 Perawatan Klinis / Pengobatan : Merawat komplikasi yang mengancam nyawa terlebih dahulu Pencegahan IMS o Sipilis, chlamydia, gonorea (infeksi lain jika umum) o Menggunakan protokol perawatan local o Vaksinasi hepatitis B jika ada indikasi Mencegah penularan HIV (PEP) o Jika insiden <72 jam dan risiko penularan: o Zidovudine (AZT) + Lamuvudine (3CT) untuk 28 hari Mencegah kehamilan: o < 5 hari o Lebih disukai: dosis tunggal 1,5 mg levonorgestrel o Atau: ethinylestradiol 100 mcg + levonorgestrel 0,5 mg, dua dosis terpisah 12 jam (Yuzpe) o Alternatif: IUD (sangat efektif, tetapi dibutuhkan ketrampilan!)
Page 8

EMERGENCY MEDICINE II

Perawatan luka o Membersihkan dan mengobati luka o Memberikan propilaksis tetanus dan vaksinasi Rujuk pada pelayanan tingkat yang lebih tinggi jika diperlukan

C.2 Kaunseling Pengobatan : Efektivitas obat, pentingnya kepatuhan, efek samping Pakai kondom sampai 3 bulan setelah perkosaan Kehamilan yang sudah ada sebelumnya? Konseling untuk korban. Terlambat untuk kondar atau terjadi kehamilan setelah perkosaan? Beri konseling pada korban tentang semua pilihan. Kunjungan follow up setelah 1 minggu, 6 minggu, 3 bulan Kembali kapan aja jika ada masalah

C.3 Layanan Kesehatan Mental : Hampir semua korban dapat mengatasi trauma dengan budaya dan sistem support mereka sendiri Pada layanan kesehatan: o Layanan yang menghormati, kerahasiaan, tidak menghakimi o Mau mendengar dan suportif, tidak memaksa untuk berbicara pada kunjungan pertama o Rujuk pada focal point masyarakat yang terlatih untuk dukungan psikologis selanjutnya o C.4 Pertimbangan Keselamatan : Pastikan bahwa korban memiliki tempat yang aman untuk pergi (rujuk) Semua file harus disimpan di lemari yang aman dan terkunci Pakai kode (bukan nama) untuk dukumen yang dipakai bersama Laporan atau statistik untuk publik harus menghilangkan informasi yang bisa memungkinkan untuk mengenali identitas korban Hanya bagi informasi yang relevan dan perlu,hanya jika diminta dan disetujui oleh korban Beri informasi hanya kepada pihak yang memberikan bantuan Pikirkan keselamatan staff

EMERGENCY MEDICINE II

Page 9

c) Pemeriksaan Medis Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan Visum et Repertum delik kesusilaan adalah : D.1 Anamnesis Nama : Putri Melly Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 14 tahun Kebangsaan : Indonesia Agama : Kristian Pekerjaan : Mahasiswi SMP Walikota Alamat : Tanjung Emas, Jakarta Barat

D.2 Pencarian Trace Evidence1 Tempat terjadi : Kamar no 306 , Hotel Abyss Jakarta Pusat Pemeriksaan Pakaian : Terdapat robekan baru sepanjang jahitan pada pakaian. Kancing terputus akibat tarikan, bercak darah pada celana dalam. Pemeriksaan tubuh korban : 1) Tanda-tanda kekerasan :Ditemukan memar tanda kekerasan pada leher berupa luka lecet kecil pada kulit, dangkal berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari.Ditemukan juga memar berwarna ungu dipaha kiri-kanan bagian dalam. Memar kelihatan terbentuk akibat paksaan semasa perkosaan. Tidak ada tanda-tanda perlawanan oleh korban. 2) Payudara : Terdapat bekas gigitan di bahagian puting sebelah kanan. 3) Genitalia : Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan secara menyeluruh yang biasa dilakukan, tetapi padda bagian vulva dan hymen diperlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan teliti. Rambut kemaluan Sampel diperlukan dan harus diambil pada saat pemeriksaan lanjut karena rambut harus didapat tanpa pemotongan langsung pada daerah
EMERGENCY MEDICINE II Page 10

yang dicurigai. Perlengketan dari rambut dapat disebabkan oleh cairan semen yang mengering. 4) Vulva : Terdapat hiperemi, edema, memar dan luka lecet (goresan kuku). Dengan kapas lidi diambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum. 5) Selaput dara : Robekan (luka) selaput dara yang masih baru dapat dilihat dengan adanya perdarahan pembengkakan dan proses inflamasi 6) Vagina: Pelebaran dari vagina dapat menunjukkan akan adanya persetubuhan. Memar, lecet atau terkikisnya kulit dapat terjadi karena adanya paksaan dalam persetubuhan. 7) Cairan vagina : Cairan vagina dikumpulkan ( swab & fresh smear) terutama untuk menunjang pemeriksaan. Dapat untuk mendeteksi penyakit sexual yang ditularkan, menemukan sperma, dan cairan semen untuk mengarahkan akan telah terjadinya persetubuhan

d) Pemeriksaan Laboratorium1 Konsentrasi fosfatase asam menurun secara lambat ketika pewarnaan didiamkan pada suhu ruangan dan terkena cahaya. Panas sampai suhu 60C atau lebih dapat merusak fosfatase asam dalam 5 menit tetapi penyimpanan pewarna dalam lemari es dapat mempertahankan dan tidak melemahkan fosfatase asam. Beberapa cara untuk menggunakan fosfatase asam sudah dipikirkan. Penggunaan test ini pertamakali disarankan oleh Lundquist (1945) dan pertamakali cara ini dijelaskan oleh Rasmussen (1945). Cara lain dan perubahan selanjutnya dijelaskan oleh Hansen (1946), Riisfeldt (1946), Keye (1947) dan Faulds (1951). Menggunakan fosfatase asam dengan konsentrasi 300 unit per ml dalam pewarnaan menimbulkan dugaan cairan mani. Hal ini mungkin tidak untuk yang lain jika jumlah fosfatase asam 500 atau lebih. Tehnik ini lebih mengerjakan dengan teliti daripada uji Florence dan reaksi Barberio. Reaksi Fosfatase asam merupakan langkah rutin dalam penyelidikan caiaran mani. Reaksi ini secara mikroskopik tidak dapat memperlihatkan sperma sebagai bukti dari cairan mani. E.1 Morfologi Spermatozoa Pemeriksaan mikroskopik dari sediaan apus yang segar dan tanpa pewarna serta sediaan apus yang difiksasi dan diwarnai adalah test utama untuk cairan mani.Sediaan yang kering di udara tanpa pemanasan difiksasi selama 1 menit dalam metil alkohol dan kemudian diwarnai.
EMERGENCY MEDICINE II Page 11

Pewarnaan dengan haemalum 2-5 menit dan eosin 2-5 menit adalah memuaskan. Pewarnaan dengan biru metilena dan asam fukhsin (uji Baechi) dapat dipilih. Uji ini adalah campuran dan telah disiapkan dalam keadaan segar dari 3 larutan yaitu biru metilena 1% 1 ml, asam fukhsin 1% 1 ml dan asam klorida 1% 40 ml. Dengan pewarnaan ini memperlihatkan kepala sperma tampak merah dan leher serta ekor berwarna biru atau biru muda. Hasil positif ditemukan 2 atau lebih sperma untuk mendukung pemeriksaan. E.2 Pewarnaan Faeces Penelitian sumber pewarnaan faeces yang mungkin dengan perbandingan bahan faeces yang sudah diketahui sumbernya misalnya dari tubuh korban dan cara pemeriksaan dilaporkan oleh Giertsen (1961). E.3 Metode Baru Metode baru untuk analisis pewarnaan cairan mani termasuk reaksi presipitat difusi gel (Coombs, 1963) dan imunodifusi (Thornton dan Dillon,1968). e) Intrepetasi Hasil Robekan baru selaput dara disertai erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan Adanya robekan hymen hanya pertanda adanya suatu benda yang masuk ke dalam vagina. Bila persetubuhan disertai ejakulasi & ejakulat tersebut mengandung spermatozoa, maka adanya spermatozoa sel di dalam vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Bila tidak ada spermatozoa sel, maka upaya pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan pemeriksaan ejakulat.

EMERGENCY MEDICINE II

Page 12

f) Pembuatan Visum et Repertum korban Perkosaan6 Bahagian Ilmu Kedokteran Forensik Rumah Sakit Sentrsl Medika Jl. Arjuna Utara, Jakarta Barat Nomor : 3456-SK.III/2345/2-95 Jakarta, 12 Januari 2012

Lamp. : Satu sampul tersegel --------------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Medis -------------------------------------------------------------------------Atas anak perempuan berusia 14 tahun ----------------------------------------------------------Projustitia Visum Et Repertum

Yang bertanda tangan di bawah ini, Nur Nazlina, dokter ahli kedokteran forensik menerangkan bahawa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan No. Pol.:B/789/VR/XII/2010/Serse tertanggal 12 Januari 2012, maka pada tanggal dua belas Januari tahun dua ribu dua belas, pukul delapan lewat tiga puluh menit waktu Indonesia Barat, bertempat di ruang pemeriksaan gawat darurat Rumah Sakit Sentral Medika telah melakukan pemeriksaan ke atas korban menurut surat permintaan tersebut adalah : Nama : Putri Melly -----------------------------------------------------------------------------------Jenis Kelamin : Perempuan -------------------------------------------------------------------------Umur : 14 tahun --------------------------------------------------------------------------------------Kebangsaan : Indonesia -----------------------------------------------------------------------------Agama :Kristian --------------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan : Mahasiswi SMP Walikota-------------------------------------------------------------Alamat : Tanjung Emas, Jakarta Barat-------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1) Korban seorang perempuan --------------------------------------------------------------------2) Korban berpakaian seperti berikut : t-shirt berkolar lengan pendek warna merah merek LOVELY GIRLS gambar I LOVE U di tengah, terdapat robekan baru sepanjang jahitan pada pakaian. Kancing leher terputus akibat tarikan.
EMERGENCY MEDICINE II Page 13

3) Celananya seperti berikut : Celana jeans pendek merek LOUIS, dan pada bagian bawah celana dalam ditemukan bercak darah 3x4 sentimeter 4) Daerah dada sebelah kanan : Bekas gigitan 3 batang gigi--------------------------------5) Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lebat lurus, panjang tiga belas sentimeter. Alis berwarna hitam, tumbuh lebat : Rambut kusut, tidak terurus-------------------------6) Pada Leher: Mmar tanda kekerasan pada leher berupa luka lecet kecil pada kulit, dangkal berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari-------------------------------7) Pada peha : Memar berwarna ungu dipaha kiri-kanan bagian dalam. Memar kelihatan terbentuk akibat paksaan semasa perkosaan. Tidak ada tanda-tanda perlawanan oleh korban------------------------------------------------------------------------------------------II. Pemeriksaan Laboratorium 11. Konsentrasi fosfatase asam menurun secara lambat ketika pewarnaan didiamkan pada suhu ruangan dan terkena cahaya. 12. Pemeriksaan mikroskopik dari sediaan apus yang segar dan tanpa pewarna serta sediaan apus yang difiksasi dan diwarnai adalah test utama untuk cairan mani. 13. pewarnaan faeces yang mungkin dengan perbandingan bahan faeces yang sudah diketahui sumbernya. Kesimpulan Robekan lama selaput dara disertai erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan anak perempuan berusia 14 tahun menandakan adanya robekan hymen hanya pertanda adanya suatu benda yang masuk ke dalam vagina. ------------------------------------------------------------------Bila persetubuhan disertai ejakulasi & ejakulat tersebut mengandung spermatozoa, maka adanya spermatozoa sel di dalam vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Bila tidak ada spermatozoa sel, maka upaya pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan pemeriksaan ejakulat. ----------------------------------------------------------------------------------Demikianlah saya uraikan dengan sebenar benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP. --------------------------------------------

Dokter yang memeriksa, dr,Nur Nazlina, spF

EMERGENCY MEDICINE II

Page 14

g) Aspek Psikososial3,4,5 Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. 1) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991); 2) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang. 3)Dampak yang lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah. Berdasarkan uraian diatas dampak dari kekerasan terhadap anak antara lain; 1) Kerusakan fisik atau luka fisik; 2) Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan agresif: 3) Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri; 4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri
EMERGENCY MEDICINE II Page 15

h) Peran LSM 4,5 Dalam menangani perkara-perkara berbasis gender, apakah perempuan sebagai korban maupun sebagai pelaku, upaya penanganan dalam perkara Kriminal masuk dalam yurisdiksi Peradilan Pidana. Upaya pencegahan kejahatan (crime prevention) dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

a. Primary prevention : dengan melakukan kebijakan public agar dapat mempengaruhi persepsi/pendapat public dengan mensosialisasikan sebab musabab terjadinya tindak pidana akar permasalahan (sumber kejahatan) yang perlu diketahui oleh masyarakat umum. b. Secondary prevention : antara lain dengan kriminalisasi memperbaharui undang-undang hukum bahwa perbuatannya adalah tindak pidana yang diatur di dalam undang-undang baru termasuk berat ringannya ancaman pidana (sasarannya adalah calon pelaku). c. Tertiery prevention : tahapan ini telah mempergunakan pendekatan represif melalui proses penegakan hukum bagi mereka yang melakukan tindak pidana yang pengaturannya telah mengalami tahap kriminalisasi.

Dalam upaya pencegahan kejahatan yang telah dilakukan saat ini terutama Primary, dan Secondary prevention adalah hal kekerasan terhadap perempuan, diantaranya melalui pembuatan undang-undang yang lebih mendukung perempuan, seperti UU Penghapusan KDRT dan UU Perlindungan Saksi, juga program penguatan terhadap penegak hukum, baik dari sisi pengetahuan maupun sikap dalam mewujudkan keadilan gender.

Salah satu instrument hukum yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat adalah KUHP. Dengan adanya revisi KUHP maka perlu suatu kajian apakah rumusan dalam RUU KUHP dapat diterapkan dan tidak bertentangan dengan hak-hak berbagai suku dan adapt istiadat. Bila dilihat Bab Kesusilaan dalam RUU KUHP yang penuh dengan prasangka terhadap tubuh perempuan, Nampak bahwa terdapat beberapa pasal yang berpotensi mengebiri kebudayaan dalam adapt-adat tertentu. Perkawinan yang diakui oleh Negara juga belum sepenuhynya mengakomodir perkawinan suku-suku minoritas, maka dengan adanya rumusan tentang
EMERGENCY MEDICINE II Page 16

pelarangan tinggal bersama sebagai suami istri tanpa ikatan perkawinan yang sah (menurut Negara) akan melahirkan diskriminasi terhadap suku minoritas, Mengingat KUHP juga merupakan acuan berbagai daerah membuat PERDA maka sangat diperlukan kajian sosialogis untuk memastikan bahwa RUU KUHP tersebut dapat diimplementasikan dan tidak diskriminatif.

EMERGENCY MEDICINE II

Page 17

Daftar Pustaka 1. Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, edisi 2, 2009. Halaman 147-158 2. Webmaster. Forensik Klinik. Disitasi tanggal : 11 Januari 2012 dari

:http://www.Forensikklinikku.webs.com. 3. Saanin S. Aspek-Aspek Fisik/ Medis Serta Peran Pusat Krisis dan Trauma dalam Penanganan Korban Tindak Kekerasan. Disitasi Tanggal : 12 Januari dari : http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/kekerasan.htm. 4. Webmaster. Preventing Child Abuse Trough Education and Awereness. Di Sitasi tanggal 12 Januari 2008 dari : Http://www.childabuse.com. 5. The Royal College of Paediatrics and Child Health and The Association of Forensic Physicians. Guidance on Paediatric Forensic Examinations in Relation to Possible Child Sexual Abuse. Disitasi tanggal 12 Januari 2012 dari : http://www.afpweb.org.uk. 6. Peranan visum et Repertum. Diunduh tanggal 12 Januari 2012 dari :

http://www.pustakaskripsi.com/

EMERGENCY MEDICINE II

Page 18