Anda di halaman 1dari 3

Aksi Seksual Pria 1.

Rangsang Saraf untuk Kinerja Aksi Seksual Pria Sumber sinyal saraf sensoris yang paling penting untuk memulai aksi seksual pria adalah sistem sensorik pada glans penis yang meneruskan modalitas perasaan khusus yang disebut sensasi seksual ke dalam sistem saraf pusat. Sensasi seksual tersebut kemudian menjalar melalui saraf pudendus, kemudian melalui pleksus sakralis ke dalam bagian sarkral dari medula spinalis. Rangsangan psikis yang sesuai juga dapat sangat meningkatkan keinginan seseorang untuk melakukan hubungan seksual. Hanya dengan memikirkan pikiran-pikiran seksual atau bahkan hanya dengan membayangkan sedang melakukan hubungan seksual dapat menyebabkan terjadinya aksi seksual pria dan ejakulasi. Proses ini juga berlaku pada proses terjadinya pengeluaran nocturnal selama mimipi yang terjadi pada banyak pria selama beberapa tahap kehidupan seksual. Walaupun beberapa faktor psikis biasanya memainkan peranan penting pada aksi seksual pria dan dengan jelas dapat memacu atau menghambatnya, fungsi otak ini tidak terlalu penting dalam kinerja aksi seksual pria. Dalam penelitian, beberapa hewan dan bahkan manusia yang menderita kerusakan medula spinalis di atas bagian lumbal, rangsangan genital yang sesuai tetap dapat menghasilkan suatu aksi seksual. Oleh karena itu, aksi seksual pria dihasilkan dari mekanisme refleks yang sudah terintegrasi di medula spinalis bagian sakral dan lumbal. 2. Tahapan Aksi Seksual Pria a. Fungsi Ereksi Ereksi adalah pengaruh pertama dari rangsangan seksual pria, dan derajat ereksi sebanding dengan derajat rangsangan, baik psikis ataupun fisik. Ereksi disebabkan oleh impuls saraf parasimpatis yang menjalar dari bagian sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus ke penis. Berlawanan dengan sebagian besar serat parasimpatis, serat ini menyekresikan nitrogen oksida dan bukan

asetilkolin. Nitrogen oksida kemudian melebarkan arteri pada penis demikian juga jalinan trabekular serat otot polos di dalam jaringan erektil dari korpus kavernosus dan spongiosum dalam batang penis. Pada keadaan normal, sinusoid kavernosa berada dalam keadaan kosong, kemudian menjadi sangat berdilatasi saat darah arteri mengalir dengan cepat ke dalamnya sementara sebagian aliran vena mngalami pembendungan. Kedua korpus kavernosa dikelilingi oleh lapisan fibrosa yang kuat, oleh karena itu tekanan yang tinggi dalam sinusoid menyebabkan penggembungan dari jaringan erektil yang berlebihan sehingga penis menjadi keras dan memanjang. b. Lubrikasi Selain rangsangan seksual, impuls parasimpatis, selain meningkatkan ereksi juga menyebabkan kelenjar uretra dan kelenjar bulbouretra menyekresi lendir. Lendir ini mengalir melalui uretra selama hubungan seksual untuk membantu melubrikasi selama koitus, namun proses lubrikasi selama koitus lebih didominasi oleh kelamin wanita. Hubungan seksual tanpa lubrikasi yang cukup menyebabkan gangguan dan nyeri yang bersifat lebih menghambat sensasi seksual. c. Emisi dan Ejakulasi Emisi dan ejakulasi adalah puncak dari aksi seksual pria. Ketika rangsangan seksual menjadi amat kuat, pusat refleks pada medula spinalis mulai melepas impuls simpatis yang meninggalkan medula pada L1 dan L2 dan menyebrang ke arah organ vital genital melalui pleksus hipogastrik dan pleksus simpatis pelvikus untuk mengawali emisi, dan selanjutnya ejakulasi. Emulsi dimulai dengan kontraksi vas deferens dan ampula yang menyebabkan keluarnya sperma ke dalam uretra interna. Kemudian kontraksi otot yang melapisi kelenjar prostat diikuti dengan kontraksi vesikula seminalis akhirnya mngeluarkan cairan prostat dan cairan seminal yang mendorong sperma lebih jauh. Semua cairan ini bercampur dalam uretra interna dengan mukus yang telah diskresi oleh kelenjar bulbouretralis dan membentuk semen. Pengisisan uretra interna secara serempak mengeluarkan sinyal sensoris yang dihantarkan melalui saraf pudendus ke regio sakralis medula spinalis, yang

menimbulkan suatu sensasi kepenuhan yang mendadak pada organ kelamin interna. Sinyal sensoris tersebut juga membangkitkan kontraksi ritmik dari organ kelamin interna dan menyebabkan kontraksi otot-otot iskiokavernosus dan bulbokavernosus yang menekan jaringan erektil penis. Kedua pengaruh ini menyebabkan peningkatan tekanan ritmik seperti gelombang di dalam duktus genital dan uretra yang mengejakulasikan semen keluar dari uretra. Proses ini disebut sebagai ejakulasi.