Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

Antropologi kebidanan adalah studi non-dokter pembantu kelahiran primer dalam dan lintas budaya. Petugas kelahiran tidak selalu spesialis, juga tidak semua budaya memiliki peran khusus digambarkan untuk pembantu kelahiran. Jadi definisi kita tentang antropologi kebidanan ekspansif cukup untuk mencakup berbagai macam pembantu kelahiran biomedis dan non-biomedis, formal dan informal. Elemen penting dari penelitian di bidang ini mencakup definisi, pendidikan, praktek, identitas, dan sistem pengetahuan bidan. Ilmu antropologi sangat diperlukan di negara berkembang dimana para ahli

antropologi meneliti mengenai sikap penduduk desa tentang kesehatan, tentang penyakit, terhadap dukun, terhadap obat obatan tradisional, terhadap kebiasaan kebiasaan dan pantangan pantangan makan yang dapat mengganggu kesehatan. Antropologi kesehatan dipandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, tentang cara cara interaksi perpanjangan tangan profesi bidan untuk dapat mensejahterakan ibu dan anak yaitu melalui bidan desa ( Bidan PTT ) oleh sebab itu pemberian pelayanan kesehatan oleh bidan harus sesuai dengan adat istiadat setempat tanpa mengubah dan tata kerja pelayanan kesehatan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan yang dapat menimbulkan penyakit. Objek dari antropologi adalah manusia dalam masyarakat dimana meliputi suku bangsa, kebudayaan dan prilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat, suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.

Pencapaian tujuan ilmu antropologi itu sendiri salah satunya dapat di dukung oleh suatu organisasi profesi bidan. Pengaruh profesi bidan terhadap kebudayaan itu sendiri dimana dengan adanya profesi bidan ini dapat merubah perilaku perilaku yang tidak

merugikan kesehatan dan dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian pada ibu dan anak. Profesi bidan merupakan wujud tanggung jawab bidan terhadap masa depan kesehatan ibu dan anak serta kelangsungan bangsa pada umumnya. IBI telah merumuskan konsep pengabdiannya yang dijadikan arus utama dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Faktor budaya dan lingkungan juga dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan ibu dan anak. Perpanjangan tangan profesi bidan untuk dapat mensejahterakan ibu dan anak yaitu melalui bidan desa ( Bidan PTT ) oleh sebab itu pemberian pelayanan kesehatan oleh bidan harus sesuai dengan adat istiadat setempat tanpa mengubah dan tata kerja pelayanan kesehatan Dalam profesi bidan, seorang bidan mempunyai tugas penting yaitu memberikan bimbingan, asuhan dan penyuluhan kepada ibu hamil, persalinan, nifas dan menolong persalinan dengan tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan pada bayi baru lahir. Didalam memberikan pelayanan seorang hidan harus menjunjung kode etik kebidanan dalam pengabdiaannya kepada masyarakat seperti setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan menghormati nilai nilai yang berlaku di masyarakat baik itu dilihat dari perilaku maupaun adat istiadat dan kebudayaan masyaraat itu sendiri. Dalam hal ini falsafah antropologi sangat diperlukan, dimana seorang bidan dalam memberikan pelayanan harus melihat dari segi budaya dan adat istiadat klien. Selama adat
2

istiadat itu sendiri tidak mengganggu proses pemberian pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak. Bidan alamiahnya hidup dan bekerja di komunitas yang multi ras dan multi cultural dimana dia dianggap sebagai role model, teman, mempunyai kepercayaan diri dan

kemampuan advokasi (Hunt, 2001 dalam wildeman 2008) Untuk itu, seorang bidan harus berfikir, bersikap dan bertindak didalam dan diluar kerangka kerja bidan untuk dapat

memberikan pelayanan yang terbaik , sensitive terhadap gender dan kebudayaan klien.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Antropologi 2.1.1 Pengertian Antropologi Secara umum, antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya (sumber: wikipedia). Antropologi berasal dari kata Yunani (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Budaya menurut Helman 2001 adalah serangkaian pedoman yang diwarisi seseorang sebagai anggota kelompok masyarakat tertentu yang mengatur bagaimana memaknai kehidupan, mengalaminya secara emosional, dan menggunakannya dalam interaksi sesame manusia, kekuatan supernatural dan Tuhan serta lingkungan alamiah Bidan menempati posisi penting dimana mereka memiliki pengetahuan dan dilatih untuk toleran terhadap perbedaan pengetahuan dan perilaku kliennya tanpa terlalu keras menghakimi. (Wildeman 2008)

Menurut Fry (2002) dalam wildeman 2008, dikatakan bahwa every culture have values and beliefs about health and illness and what is morally acceptable behavior in the provision of health promoting care to people Setiap kebudayaan memiliki nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan terhadap konsep sehat sakit dan penerimaan atas perilaku sebagai dasar promosi kesehatan terhadap masyarakat. Untuk itu nilai-nilai masyarakat tersebut sebaiknya dianut bidan baik secara personal maupun professional sebagai landasan untuk memberikan pelayanan terhadap klien. Bidan juga sebaiknya memberikan prioritas tinggi dalam memahami budaya , kepercayaan dan harapan kliennya sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan pilihan-pilihan kliennya (Reynold dan Manfusa, 2005 dalam wildeman 2008) Di bawah ini adalah pengertian Antropologi menurut beberapa ahli. Meskipun tiap-tiap ahli memberikan definisi yang berbeda, tapi kita dapat menarik satu benang merah yang menggambarkan Antropologi secara utuh.

William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.

Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan

(cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda

2.1.2. Antropologi Kesehatan Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Soelita Sarwono, 1993). Menurut Hochstasser, antropolgi kesehatan adalah pemahaman biobudaya manusia dan karya karya yang berhubungan dengan kesehatan dan pengobatan. Sedangkan menurut Lieban adalah studi tentang fenomena medis. Fabrega menjelaskan pengertian antropolgi kesehatan yaitu o Berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan peranan di dalam atau mempengaruhi cara- cara dimana individu individu dan kelompok kelompok terena oleh atau berespon terhadap sakit dan penyakit. o Mempelajari masalah masalah sakit dan penyakit dengan penekanan terhadap pola pola tingkah laku. Menurut Foster dan Anderson dalam bukunya antropologi kesehatan tahun 2005 menyatakan bahwa keguanaan ilmu antropologi tehadap ilmu ilmu kesehatan terletak dalam tiga kategori utama: 1. Antropologi memberikan suatu cara yang jelas dalam memandang masyarakat secara keseluruhan maupun anggota individualnya. Antropologi juga

menggunakan pendekatan yang menyeluruh atau bersifat sistem dengan cara yang Khas dimana ditekankan pentingnya relatifisme budaya dalam menilai cara cara yang berlainan dengan cara kita sendiri dan mengintrepretasikan bentuk asli daam konteks budaya bukan menilainya menurut ukuran standar atau universal.

2. Antropologi memberikan suatu model yang secara operasional berguna menguraikan proses-proses perubahan sosial dan budaya serta membantu memahami perubahan perilaku dari masyarakat 3. Antropologi memberi kesempatan untuk menggali masalah teoritis dan praktis yang sangat luas yang dihadapi dalam berbagai program kesehatan. Antropologi menawarkan asumsi-asumsi yang mendasari tingkah laku untuk memahami rasional dari perbuatan yang jika dipandang dari budaya berbeda sering nampak tidak rasional

2.2 PERAN PROFESI BIDAN

2.2.1 Pengertian Bidan Dalam bahasa inggris, kata Midwife (Bidan) berarti with woman(bersama wanita, mid = together, wife = a woman. Dalam bahasa Perancis, sage femme (Bidan) berarti wanita bijaksana,sedangkan dalam bahasa latin, cum-mater (Bidan) bearti berkaitan dengan wanita. Menurut churchill, bidan adalah a health worker who may or may not formally trained and is a physician, that delivers babies and provides associated maternal care (seorang petugas kesehatan yang terlatih secara formal ataupun tidak dan bukan seorang dokter, yang membantu pelahiran bayi serta memberi perawatan maternal terkait).

Definisi Bidan (ICM) : bidan adalah seorang yang telah menjalani program pendidikan bidan yang diakui oleh negara tempat ia tinggal, dan telah berhasil menyelesaikan studi terkait serta memenuhi persyaratan untuk terdaftar dan atau memiliki izin formal untuk

praktek bidan. Bidan merupakan salah satu profesi tertua didunia sejak adanya peradaban umat manusia.

Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan, yang terakreditasi, memenuhi kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk praktek kebidanan. Yang diakui sebagai seorang profesional yang bertanggungjawab, bermitra dengan perempuan dalam memberikan dukungan, asuhan dan nasehat yang diperlukan selama kehamilan, persalinan dan nifas, memfasilitasi kelahiran atas tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan kepada bayi baru lahir dan anak.

KEPMENKES NOMOR 1464/ MENKES/PER/X/2010 Pasal 1 :

Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

INTERNATIONAL CONFEDERATION of MIDWIFE bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk melaksanakan praktek kebidanan di negara itu.

2.2.2 Profesi Bidan Bidan lahir sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong Ibu ibu yang melahirkan. Dalam menjalankam tugasnya bidan bekerja berdasarkan pada pandangan filosofi yang di anut, keilmuan, metode kerja, standar pelayanan dan kode etik profesi yang dimilikinya. Bidan sebagai profesi memiliki ciri ciri tertentu yang dapat diuraikan sebagia berikut :

a. Disiapkan melalui pendidikan yang formal agar lulusannya dapat melaksanakan / mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab secara profesional b. Dalam menjalankan tugasnya, bidan memiliki alat yang dinamakan standar pelayanan kebidanan, kode etik dan etika kebidanan c. Bidan memiliki kelompok pengetahuan yang jelas dalam menjalankan profesinya dan memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya. d. Memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat e. Memiliki wadah organisasi profesi, memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat dan menjadikan bidan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama kehidupan

2.2.3 Peran Bidan Peranan bidan dalam masyarakat sebagai tenaga terlatih pada Sistem Kesehatan Nasional adalah memberi pelayanan sebagai tenaga terlatih, meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat, meningkatkan penerimaan gerakan keluarga berencana, memberi pendidikan dukun beranak, dan meningkatkan sistem rujukan.

a. Memberi pelayanan dengan tenaga terlatih.

Di Indonesia persalinan dukun sebesar 50-60% terutama di daerah pedesaan. Pertolongan persalinan oleh dukun menimbulkan berbagai masalah dan penyebab utama tingginya angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal. Dukun tidak dapat mengetahui tand-atanda bahaya perjalanan persalinan. Akibat pertolongan persalinan yang tidak adekuat dapat terjadi persalinan kasep, kematian janin dalam rahim, ruptur uteri, perdarahan (akibat pertolongan

salah, robekan jalan lahir, retensio plasenta, plasenta rest), dan bayi mengalami asfiksia, infeksi, atau Trauma persalinan. Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh Bidan adalah : 1.Meningkatkan upaya pengawasan ibu hamil 2. Meningkatkan gizi ibu hamil dan ibu menyusui 3. Meningkatkan gerakan penerimaan KB. 4. Meningkatkan kesehatan lingkungan 5.Meningkatkan sistem rujukan 6. Meningkatkan penerimaan imunisasi ibu hamil dan bayi.

Selain itu bidan juga melakukan pengawasan kehamilan dan menetapkan kehamilan, persalinan, dan pascapartum dengan risiko tinggi; kehamilan, persalinan, dan pascapartum yang meragukan; dan kehamilan, persalinan, dan pascapartum dengan risiko rendah. Berdasarkan penggolongannya, sikap yang dapat dilakukan bidan adalah meningkatkan pengawasan hamil, persalinan dan pascapartum, dan melakukan rujukan sehingga mendapat pertolongan yang adekuat.

b. Meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat Pendidikan masyarakat memegang peranan penting yang meliputi pentingnya arti pengawasan hamil, mengajarkan tentang makanan yang berpedoman pada empat sehat dan lima sempuma, pentingnya arti imunisasi tetanus toksoid ibu hamil, pentingnya arti pelaksanaan keluarga berencana, mengarahkan tempat persalinan dilakukan untuk mendapatkan well born baby, pengawasan pascapartum dan persiapan untuk merawat bayi dan menyusui, pentingnya memberi ASI selama 2 tahun dan rawat gabung.

Pendidikan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan pada waktu: 1. Pengawasan hamil di Puskesmas atau pondok bersalin desa dan praktik bidan swasta. 2. Saat menyelenggarakan Posyandu.
10

3. Melalui pertemuan berkala atau kursus pada PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). 4. Pada saat memberi penyuluhan khusus. 5. Pada saat melakukan kunjungan rumah.

Tujuan pendidikan kesehatan masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, mengarahkan masyarakat memilih tenaga kesehatan terlatih, meningkatkan pengertian masyarakat tentang imunisasi, keluarga berencana, dan gizi sehingga mengurangi ibu hamil dengan anemia.

Meningkatkan upaya penerimaan gerakan keluarga berencana pembangunan ekonomi diselenggarakan pemerintah bersama masyarakat, diikuti dengan program dan gerakan keluarga berencana, sehingga diharapkan kesejahteraan makin cepat tercapai. Pembangunan bangsa Indonesia berorientasi pada pembangunan keluarga yang pada gilirannya meningkatkan sumber daya manusia. Dalam pelaksanaan gerakan keluarga berencana dapat mengambil bagian penting: 1. Memberi KIE dan motivasi. a. Mengapa mengikuti gerakan KB? b. Kapan waktu yang tepat ber-KB? c. Metode apa yang dipakai sesuai dengan waktu: pascapartum atau pasta-abortus, interval, pada remaja, atau wanita di atas 35 tahun. d. Di mana dapat menerima pelayanan KB? 2. Memberi pelayanan dan pemeriksaan peserta KB. Keberadaan bidan di tengah masyarakat dapat memberi pelayanan KB dalam bentuk: a. Metode sederhana (kondom). b. Metode hormonal (pil, suntikan, susuk).

11

c. Metode mekanisme (pemasangan IUD). d. Melakukan pengawasan peserta. e. Merujuk klien yang menginginkan kontap ke Puskesmas atau RSU.

Pendidikan dukun beranak, peranan dukun beranak sulit ditiadakan karena masih mendapat kepercayaan masyarakat dan tenaga terlatih yang masih belum mencukupi. Dukun beranak masih dapat dimanfaatkan untuk ikut serta memberi pertolongan persalinan. Kerjasama bidan di desa dengan dukun beranak perlu dijalin dengan baik melalui: 1. Pendidikan dukun yang berkaitan dengan tanda bahaya kehamilan dan persalinan serta ascapartum, teknik pertolongan persalinan sederhana tetapi bersih dan legeartis, perawatan dan pemotongan talipusat, perawatan neonatus, perawatan ibu pascapartum, meningkatkan kerjasama dalam bentuk rujukan bidan atau Puskesmas

2. Diikutsertakan dalam gerakan keluarga berencana: membagikan kondom, membagikan pil KB, melakukan rujukan KB.

3. Memberi kesempatan untuk melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah.

4. Meningkatkan sistem rujukan yang manta.

Dengan penempatan bidan di desa diharapkan peranan dukun akan makin berkurang sejalan dengan makin tingginya pendidikan dan pengetahuan masyarakat dan tersedianya fasilitas kesehatan.

Meningkatkan system rujukan

Salah satu kelemahan pelayanan adalah pelaksanaan rujukan yang kurang cepat dan tepat, suatu kekurangan, tetapi tanggung jawab yang tinggi dan mendahulukan kepentingan

12

masyarakat. Kelancaran rujukan dapat menjadi faktor yang menentukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan perinatal. Tindakan rujukan ditujukan pada mereka yang tergolong dalam risiko tinggi. Rujukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu.

Peran bidan juga sejalan dengan prinsip filosofi dalam kebidanan bahwa bidan dalam memberikan pelayanan / asuhan kebidanan dengan menghormati perbedaan kultur dan etnik ( respecting cultural and etnic difercity ) dan juga mempertimbangkan kebutuhan pendidikan yang meliputi : fisik, psikologi, sosial, budaya, spritual dan pendidikan. Seorang bidan harus mendukung ibu untuk membuat keputusan menurut pilihannya sendiri mengenai apa yang terbaik baginya dan bagi bayinya berdasarkan nilai nilai dan keyakinan yang dianutnya termasuk keyakinan budaya dan agamanya

2.3 PANDANGAN PROFESI BIDAN DALAM ANTROPOLOGI

Seorang bidan alamiahnya hidup dan bekerja di komunitas yang multi ras dan multi cultural dimana dia dianggap sebagai role model, teman, mempunyai kepercayaan diri dan kemampuan advokasi (Hunt, 2001 dalam wildeman 2008) Untuk itu, seorang bidan harus berfikir, bersikap dan bertindak didalam dan diluar kerangka kerja bidan untuk dapat

memberikan pelayanan yang terbaik , sensitive terhadap gender dan kebudayaan klien Ini merupakan tantangan terbesar bagi bidan di abad 21, dimana seorang Bidan dituntut mampu memahami dan bertindak terhadap kebutuhan dan harapan dari multicultural klien. Tren lintas budaya berkembang menjadi bagian literatur ilmu antropologi di Negara berkembang. Dari Tanzania hingga Papua Nugini, Ahli antropologi yang melakukan observasi terhadap pelayanan kebidanan pada ibu hamil dan bersalin mencatat bahwa, jauh dari ideal, masih banyak bidan yang memperlakukan pasiennya kurang baik selama kehamilan dan persalinan, tidak memperdulikan kebutuhan dan harapan pasien, berbicara

13

kurang sopan, suka memerintah , berteriak bahkan tidak jarang memukul pasien mereka. Namun di saat bersamaan mereka juga diperlakukan buruk oleh system kesehatan dimana mereka bekerja. Para bidan ini digaji sangat rendah, dilecehkan oleh dokter yang berada di atas mereka dalam hirarki medis, umumnya bekerja dengan lembur di kondisi yang membuat stress ditambah lagi tidak lengkapnya peralatan dan fasillitas, terlalu banyak pasien, singkatnya bidan kadang terjebak dalam system kesehatan yang gagal memenuhi kebutuhan pasien di Negara berkembang (Floyd, 2000) Contoh kasus seperti yang dialami oleh Dona Queta seorang bidan tradisional di pedalaman Oaxaca, Meksiko , Ia didatangi seorang wanita hamil 9 bulan dengan keluhan tidak merasakan gerak janinnya. Wanita ini datang seorang diri dengan menempuh perjalanan 2 hari melewati pegunungan dan perjalanan yang sulit. Saat datang, tercium bau busuk dari tubuh wanita tersebut dan bayi yang dikandungnya telah meninggal. Ia kemudian mencoba merujuk ke dokter yang terletak 100 mil jauhnya dari desanya. Ternyata dokter tersebut tidak berada di tempat prakteknya, akhirnya Dona Queta menghabiskan 3 hari berikutnya dengan memberi wanita hamil tersebut dengan ramuan-ramuan herbal dan berdoa atas keselamatan wanita tersebut.Wanita tersebut akhirnya melahirkan dan hampir meninggal karena infeksi yang meluas. Dona Queta merawat wanita tersebut dengan obat-obatan herbal, menggunakan ritual dan doa-doa. Dua minggu kemudian wanita tersebut sembuh dan pulang. Begitu dokter kembali dari perjalanannya, Dona Queta disalahkan karena berani menolong wanita tersebut tetapi akhirnya menyadari bahwa Dona tidak ada pilihan lain daripada membiarkan wanita tersebut meninggal Bila dilihat dari kasus diatas, idealnya seorang bidan tradisional didampingi oleh bidan,dokter dan tenaga kesehatan lain, namun kenyataannya bidan tradisional tidak mendapat pendampingan dan hanya bertindak sendiri atas keyakinan mereka.dan bagaimanapun kerasnya pemerintah memprogramkan persalinan dengan nakes mungkin tidak
14

mengherankan bila masyarakat kembali menggunakan dukun atau bidan kampung dalam pertolongan persalinan mereka, karena selain murah, dukun atau bidan kampung juga lebih dekat secara personal dan menggunakan cara-cara pertolongan persalinan yang dikenal oleh perempuan yang ditolongnya. Sebuah contoh lagi yang terjadi di pedesaan Thailand. Ahli Antropologi Andrea Whittaker (1999) mencatat bahwa terjadi eskalasi dalam pertolongan persalinan. Semakin banyak perempuan desa yang berlomba-lomba melahirkan di rumah sakit besar di perkotaan, sehingga peran bidan komunitas menjadi kurang. Ironisnya, di perkotaan dimana pertolongan persalinan sudah sangat berkualitas , para bidan justru mulai mengahdiri persalinan rumah yang peruntukan awalnya hanyalah untuk wanita dari status social menegah ke bawah. (Floyd, 2000) Apabila seorang bidan berusaha dengan tulus untuk mempelajari dan menghormati kebudayaan dan adat istiadat setempat, melakukan pendekatan dengan penduduk lokal dan bermitra dengan bidan kampung atau dukun terlatih, mungkin masalah-masalah yang dibahas di atas tidak akan terjadi. Studi kasus di Inggris , seorang perempuan Inggris bernama Jane datang ke klinik untuk melahirkan. Ia datang sendiri tanpa didampingi dan merasa sangat takut terhadap proses persalinan dan tidak mampu beradaptasi dengan rasa nyeri persalinan. Bidan kemudian melakukan anamnesa dan mengukur tanda-tanda vital dan selanjutnya mendiskusikan rencana asuhan bersama Jane. Dalam rencana asuhannya, Jane tidak mau adanya keterlibatan laki-laki dalam asuhan yang akan didapatnya. Bagaimana sebaiknya bidan bersikap ?

15

Sangat penting bahwa bidan tidak langsung berfikiran negative terhadap Jane apalagi menghakimi sepihak terhadap pilihan Jane. Secara etis Bidan sebaiknya meluangkan waktu sejenak untuk berinteraksi dengan Jane untuk mengetahui apa saja kebutuhan dan harapan Jane. Dalam kasus Jane tidak ada petunjuk mengapa Jane menolak keterlibatan laki-laki dalam asuhannya sementara ia adalah seorang wanita inggris dan memakai nama Inggris dan kemungkinan pilihan Jane tersebut tidak umum di kalangan masyarakat Inggris. Jadi dengan berinteraksi untuk mengetahui kenapa Jane berperilaku demikian diperoleh data bahwa Jane ternyata seorang muslim taat dan mungkin memiliki riwayat pelecehan atau kekerasan seksual atau trauma atas pelayanan kesehatan lalu yang menyebabkan Jane tidak mempercayai keterlibatan laki-laki dalam asuhannya. Dengan mencermati kasus di atas, penting sekali bagi seorang bidan untuk berfikiran terbuka, mendengar aktif, mensupport dan menunjukkan empati. Bidan juga bisa berperan sebagai advokasi dan bekerjasama dengan tim kesehatan lain untuk merencanakan asuhan sesuai kebutuhan dan harapan Jane. (Floyd, 2000) Bila dilihat dari sudut pandang Antropologi, Kasus Jane tersebut sesuai dengan teori dari Foster dan Anderson (2005) dimana Antropologi menekankan pentingnya relativisme budaya dalam menilai cara-cara yang berbeda dari cara kita sendiri dan mengaplikasikan dalam konteks budaya asli bukan dari ukuran standar atau universal. Ilmu Antropologi juga menawarkan asumsi-asumsi yang mendasari tingkah laku seseorang untuk memahami rasionalitas dari perbuatan yang bila dipandang dari budaya berbeda sering terlihat tidak rasional. Berikut ini beberapa contoh budaya dalam Pelayanan Kebidanan di beberapa daerah di Indonesia :

16

2.3.1 Contoh Budaya Dalam Pelayanan Ante Natal Care

Pemantauan kehamilan / ANC berbeda beda disetiap daerah sesuai dengan kebudayaan dan adat istiadat itu sendiri, bahkan terkadang tidak setiap kebiasaan atau budaya tersebut memberikan maanfaat terhadap kesehatan tersebut. Dalam berbagai daerah seperti didaerah Jawa saat tujuh bulanan saat hamil, Batanak Nasi oleh Bako saat usia kehamilan 7 bulan di budaya minang dimana selalu melakukan itu sebagai suatu keharusan. Dalam hal ini pandangan kita sebagai bidan mendukung

kebudayaan ini dimana hal ini dapat membantu psikologis dan spiritual ibu hamil selain mendapat perhatian dari suami dan keluarga masyarakat juga mendukung dengan proses kehamilan yang dijalani oleh ibu hamil dan rencana persalinan.

Berbagai macam kebiasaan adat istiadat yang sering dilakukan terkadang membawa dampak buruk terhadap kesehatan. Seperti berbagai macam pantangan makanan pada saat hamil dengan tidak boleh makan telur, ikan dan belut ditakutkan gatal dan amis pada bayi saat persalinan padahal makanan ini mengandung protein yang sangat penting untuk pertumbuhan janin.

2.3.2 Contoh Budaya dalam Pelayanan Intra Natal Care

Proses persalinan merupakan hal yang paling dkhawatirkan, karena persalinan merupakan hal yang paling dinantikan suami dan keluarga. Oleh karena itu banyak masyarakat kita yang masih melakukan kebiasaan yang tidak bermanfaat seperti yang dilakukan masyarakat minang yaitu memberikan minyak goreng untuk diminum kepada ibu yang akan bersalin agar anak yang dilahirkan itu menjadi licin dan membuat proses persalinan menjadi cepat. Padahal dengan memberikan ibu minyak goreng bisa menyebabkan

17

frekuensi mual muntah menjadi sering dan mengganggu kenyamanan ibu saat proses persalinan.

2.3.3 Contoh Budaya dalam Pelayanan Post Natal Care

Proses masa nifas merupakan pemulihan kembali alat alat reproduksi setelah persalinan, dalam masa ini nutrisi dan gizi sangat dibutuhkan. Seperti banyak pantangan makanan ibu pada masa nifas seperti dilarang makan ikan dan telur karena ditakutkan gatal dan proses penyembuhan kembali alat reproduksi akan lama. Padahal telur dan ikan mengandung protein yang sangat penting untuk penyembuhan kembali alat reproduksi dan untuk meningkatkan produksi ASI.

Pembatasan aktifitas pada ibu post natal juga sering dilakukan, padahal dua jam post partum normal ibu sudah dianjurkan untuk mobilisasi dan 24 jam Post SC ibu sudah

dianjurkan untuk berjalan. Tujuan dilakukannya mobilisasi secara dini agar terjadinya proses penyembuahan secara cepat.

2.3.4 Contoh Budaya dalam Pelayanan Bayi Baru Lahir

Masyarakat masih banyak tidak menerima proses memandikan bayi baru lahir setelah enam jam proses pasca persalinan. Masyarakat beranggapan bayi ketika baru lahir harus segera dimandikan karena amis dan kotor. Padahal Evidenbased nya bayi dimandikan setelah 6 jam pasca persalinan karena ditakutkan terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir agar kebiasaan masyarakat ini tidak berlangsung terus menerus maka bidan dan wadah profesinya harus terus memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada masyarakat.

18

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Pada hakekatnya asuhan pelayanan kebidnaan tidak terlepasa dari kebudayaan dan adat istiadat. Ini sesuai dengan salah satu falsafah kebidanan bahwa bidan harus memberikan pelayanan kebidanan yang aman dan menghormati budaya yang dianut oleh masyarakat setempat asalakan kebudayaan atau kebiasaan masyarakat tersebut tidak mengganggu atau menimbulkan kerugian terhadap kesehatan.

Masih adanya kebiasaan masyarakat yang merugikan kesehatan oleh sebab itu peran bidan sangat diperlukan yaitu dengan selalu memberaikan promosi promosi kesehatan secara bertahap dengan melakukan pendekatan pendekatan secara holistik.

19

DAFTAR PUSTAKA

Cecil, Rosanne, 1996, The Antropology of Pregnancy Loss, Washington DC : Berg Floyd, Robie Davis, 2000, Anthropological Perspectives on Global Issues in Midwifery. Diambil dari http://www.midwiferytoday.com/articles/globalissues.asp diakses tangga l20 September 2011. ________________, 2011, Midwifery, diambil dari http://davisFloyd.com/category/articles/midwifery/ diakses tanggal 20 September 2011. Foster, George M, 2006, Antropologi Kesehatan, Jakarta : UI- Press Henderson, Cris and Sue Macdonald, 2006 , Mayes Midwifery A Textbook For Midwifery London : Bailliere Tindall Koentjaraningrat, 2002, Pengantar Ilmu Antropologi,Jakarta : Rineke Cipta Ratna, Wahyu, 2010, Sosiologi dan Antropologi Kesehatan dalam Perspektif Ilmu Keperawatan, Yogyakarta, Pustaka Rihama Sofyan, Mustika, 2006, 50 Tahun IBI Bidan Menyongsong Masa Depan, Jakarta : PP-IBI Wildeman, Celia, 2008, The Impact of Cultural Issues on The Practice Of Midwifery, England, John wiley & Son, Ltd. Winkleman, Michael, 2009, Culture : Applying Medical Anthropology, San Fransisco, John Wiley & Son Ltd
Wikipedia , 2011, Antropologi, diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi.

20