Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN Penyakit degeneratifsendi yang lebih dikenal dengan osteoarthritis ( OA ) umumnya mengenai satu atau lebih sendi,

di mulai dengan kerusakan local dari tulang rawan sendi dan digambarkan oleh degenerasi yang progresif tulang rawan, hipertrofi, remodeling tulang subkondral, dan inflamasi sekunder dari membrane synovial. Merupakan penyakit yang bersifat lokal tanpa ada efek sistemik. 1, 2 Penyakit ini bersifat progresif lambat, umumnya terjadi pada usia lanjut, walaupun usia bukan satu-satunya faktor risiko. Osteoarthritis menyerang terutama sendi tangan atausendi penyokong berat badan termasuk sendi lutut. Sendi lutut merupakan sendi penopang berat badan yang sering terkena osteoarthritis. Osteoarthritis sendi lutut ditandai oleh nyeri pada pergerakan yang hilang bila istirahat, kaku sendi terutama setelah istirahat latna atau bangun tidur, krepitasi dan dapat disertai sinovitis dengan atau tanpa efusi cairan sendi. Bila pasien hanya bersifat pasif, tidak melakukan latihan, dapat terjadi atrofi otot yang akan memperburuk stabilitas dan fungsi sendi. Akibat lain ialah genu varum atau genu valgus dan subluksasi, terutama bila telah terjadi kekenduran ligamen. Umumnya penderita OA lutut datang berobat karena rasa nyeri lutut yang mengganggu aktifitas sehari-hari. Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang paling banyak terjadi di seluruh dunia. Di negara-negara Asia-Pasifik seperti juga halnya dengan negara-negara di Afrika meningkatnya urbanisasi, pekerjaan dengan resiko tinggi, stress tinggi dan obesitas akan menyebabkan terjadinya OA.

BAB II LAPORAN KASUS Seorang wanita usia 60 tahun, datang ke tempat praktek anda sebagai dokter umum, mengeluh nyeri pada ke dua lutut, terutama lutut kanan. Nama Usia Pekerjaan Perkawinan Alamat : Ny.Siti : 60 tahun : pensiunan guru SMP : janda, 4 anak, 8 cucu : Jl. Pala, Jakarta Selatan

Nyeri dirasakan sejak 6 bulan terakhir,meningkat jika berjalan lama, atau saat dari duduk ke berdiri, dan berkurang saat istirahat. Jika nyeri mengganggu, penderita minum obat anti nyeri yng dijual bebas di warung. Sejak 5 hari yang lalu, lutut kanan mulai membengkak dan kemerahan. Penderita mengaku banyak berdiri dan berjalan 7 hari yang lalu, karena menerima pesanan catering untuk 100 orang. Pada pagi hari saat bangun tidur terasa kaku pada lutut selama 10 menit, setelah itu rasa kaku berangsur berkurang setelah aktivitas. Tidak ada riwayat cedera. Nyeri sendi tidak ditemukan di bagian tubuh yang lain. Tidak ada riwayat hipertensi, penyakit jantung, dan kencing manis.

Status generalis Kesadaran compos mentis Tampak kesakitan saat berjalan sehingga agak pincang (antalgic gait) Tidak tampak pucat Tanda vital: Tekakan darah: 130/80 mmHg
2

Nadi Suhu RR

: 90x/mnt : 360C : 20x/mnt

BB: 75 kg TB: 150cm Satus lokalis

look: ke dua lutut membesar, tampak deformitas valgus pada ke dua lutut, pada lutut kanan tampak kemerahan dan oedem. Feel : Didapatkan nyeri tekan pada lutut kanan, saat dilakukan pengukuran didapatkan diameter lutut kanan 42cm, sedangkan lutut kiri 40cm. Pada pemeriksaan ballotemen ditemukan adanya efusi pada sendi lutut kanan.pemeriksaan valgus dan varus didapatkan kesan sendi lutut tidak stabil terutama pada pemeriksaan valgus. Move: Lingkup gerak sendi aktif ke dua lutut normal, tetapi terdapat suara krepitasi saat di gerakkan, kekuatan otot normal.

Hasil Radiologi

Dari aspirasi cairan sendi didapatkan: Makroskopis : jernih, kekuningan, viscositas kental Mikroskopis : leukosit < 200/L, eritrosit, differential < 25% pmn, culture (-) :N :N :N : (-) : (-) :4

Laboratorium darah rutin Leukosit Eritrosit LED

Rheumatoid factor C-reactive protein Asam urat

BABIII

PEMBAHASAN
I. Anamnesis Identitas Pasien Nama Usia Pekerjaan Perkawinan Alamat : Ny.Siti : 60 tahun : pensiunan guru SMP : janda, 4 anak, 8 cucu : Jl. Pala, Jakarta Selatan

Keluhan Utama: Nyeri pada ke dua lutut, terutama lutut kanan. Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri dirasakan sejak 6 bulan terakhir,meningkat jika berjalan lama, atau saat dari duduk ke berdiri, dan berkurang saat istirahat Sejak 5 hari yang lalu, lutut kanan mulai membengkak dan kemerahan. Penderita mengaku banyak berdiri dan berjalan 7 hari yang lalu, karena menerima pesanan catering untuk 100 orang. saat bangun tidur terasa kaku pada lutut selama 10 menit, setelah itu rasa kaku berangsur berkurang setelah aktivitas Nyeri sendi tidak ditemukan di bagian tubuh yang lain Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak ada riwayat hipertensi, penyakit jantung, dan kencing manis Riwayat Medikamentosa: Penderita minum obat anti nyeri yng dijual bebas di warung.

I. Pembahasan Masalah
a. Permasalahan yang didapat dari anamnesis Keluhan Utama: Nyeri pada ke dua lutut, terutama lutut kanan. Nyeri pada ke dua lutut dapat timbul akibat sinovium yang mengalami inflamasi, kapsul sendi yang mengalami distensi dan instabilitas, otot/ligamen yang spasme/strain, tulang yang mengalami hipertensi medular atau fraktur subkhondral, dan osteofit yang mengalami reaksi periosteal atau penekanan serabut saraf. Pada pasien yang berumur 60 tahun ini mungkin telah terjadi degenerasi pada tulang rawan sendi lutut akibat proses penuaan. Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri dirasakan sejak 6 bulan terakhir,meningkat jika berjalan lama, atau saat dari duduk ke berdiri, dan berkurang saat istirahat. Nyeri meningkat saat melakukan aktivitas karena terjadi pembebanan pada lutut yang berlebih. Sejak 5 hari yang lalu, lutut kanan mulai membengkak dan kemerahan. Penderita mengaku banyak berdiri dan berjalan 7 hari yang lalu, karena menerima pesanan catering untuk 100 orang. Aktivitas pada pasien yang meningkat menyebabkan sendi pada lutut mengalami inflamasi.
-

Saat bangun tidur terasa kaku pada lutut selama 10 menit, setelah itu rasa kaku berangsur berkurang setelah aktivitas. Kekakuan sendi terjadi karena tidak adanya gerakan,
maka rawan sendi akan menipis dan mengering yang menyebabkan mudah rusak.

Nyeri sendi tidak ditemukan di bagian tubuh yang lain.

b. Permasalahan yang didapat dari pemeriksaan fisik

Hasil pemeriksaan pasien tampak kesakitan saat berjalan dan agak pincang.

Nilai Normal

Interpretasi 4,5,6,7 tampak sakit sedang menunjukkan bahwa terdapat gangguan / kelainan mekanisme tubuh yang harus ditangani dalam hal ini diakibatkan adanya gangguan pada sendi lutut akibat proses degenerasi. Kesadaran baik, pasien sadar

Kesadaran compos mentis BB 75 kg; TB 150 cm


(BMI = 33,3)

BMI 18,5 -25 Sistol <130 dan < diastole 85 mmHg 70-110x/menit 36,5oC-37,2C 16 30 x/menit

sepunuhnya. Obesitas Normal Normal Normal . Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

TD 130/80 mmHg Nadi 90 x/menit Suhu 36 C RR 20 x/menit Kepala: Mata: Telinga: Hidung: Mulut: Tenggorokan: Leher: Paru-paru Jantung: Abdomen: Punggung: Genitalia eksterna: Ekstremitas: Regio genu Inspeksi : kedua lutut membesar disertai deformitas valgus, lutut kanan tampak kemerahan dan oedem. Palpasi: nyeri tekan pada lutut kanan, diameter lutut kanan 42 cm dan kiri 40 cm. Ballotemen: ditemukan efusi pada sendi kanan. Pemeriksaan valgus dan varus: kesan sendi lutut tidak stabil terutama pada pemeriksaan valgus. Move: lingkup gerak sendi aktif ke kedua lutut normal, kekuatan otot

oedema (-), ballotemen (-), sendi lutut stabil, suara krepitasi (-)

Normal - inspeksi: terlihat tanda-tanda peradangan sendi berupa warna kemerahan, oedem, serta pembesaran sendi lutut. Deformitas valgus menandakan adanya kelemahan pada ligamen kolateral medial Palpasi: Nyeri tekan dan pembesaran sendi lutut terjadi akibat proses inflamasi.
7

Interpretasi hasil pemeriksaan fisik Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan status generalis yang baik, kesadaran, suhu, nadi, denyut jantung, serta laju pernafasan normal menandakan tidak ada masalah sistemik. Berat badan pasien yang melebihi BMI menandakan pasien dalam keadaan obesitas. Pada pemeriksaan status lokalis yaitu daerah lutut, diadapatkan: Inspeksi : Terlihat tanda-tanda peradangan (inflamasi) sendi berupa warna kemerahan, oedem, serta pembesaran lutut. Pembesaran lutut dapat terjadi akibat adanya penambahan cairan sendi akibat proses inflamasi atau karena adanya pembengkakan pada tulang. Deformitas valgus menandakan adanya kelemahan pada ligamen kolateral medial akibat kerusakan pada tulang rawan. Palpasi: nyeri tekan pada lutut kanan menandakan adanya proses inflamasi, diameter lutut kanan yang lebih besar dari lutut kiri menandakan adanya peradangan pada lutut serta lutut kanan lebih banyak mendapatkan beban untuk menumpu tubuh dari pada lutut kiri. Pada pemeriksaan Ballotemen: ditemukan efusi pada sendi kanan yang disebkan oleh adanya inflamasi akut. Pemeriksaan valgus dan varus: kesan sendi lutut tidak stabil terutama pada pemeriksaan valgus akibat kelemahan ligamen kolateral medial. Move: lingkup gerak sendi aktif ke kedua lutut normal, kekuatan otot normal. Terdapat suara krepitasi saat digerakkan disebabkan oleh kerusakan rawan sendi sehingga tulang dapat bergesekan.

II.

Pemeriksaan penunjang
8

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah: 1.Laboratorium darah rutin 2. Aspirasi cairan sendi 3.pemeriksaan radiologi 1. Pemeriksaan Laboratorium darah rutin Pemeriksaan darah yang diperiksa meliputi: Laboratorium klinik yang diperiksa Eritrosit Leukosit Asam urat Rheumatoid factor C-reactive protein LED 5000-10000/l 2,5-9,0 mg/dl 0-15 mm/jam Hasil yang didapat 4 -

Nilai normal

Interpretasi Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Interpretasi Hasil Laboratorium Dari hasil laboratorium didapatkan kadar eritrosit, leukosit dan C-reactive protein normal menandakan tidak ada suatu proses infeksi yang menyebabkan inflamasi. LED normal menandakan tidak adanya suati penyakit kronis, dan asam urat normal yang menandakan tidak ada gangguan dalam metabolisme asam urat. 2.Aspirasi cairan sendi Makroskopis : jernih, kekuningan, visicositas kental Mikroskopis: leukosit < 2000/l, eritrosit (-), differential , 25% pmn, culture (-) Interpretasi hasil aspirasi cairan sendi: Dari hasil aspirasi sendi didapatkan warna cairan sendi yang jernih kekuningan serta visikositas kental yang merupakan ciri dari cairan sendi yang normal. Jumlah leukosit serta jumlah PMN normal menandakan tidak ada suatu infeksi.

3.Hasil Radiologi

Interpretasi: Pada hasil radiografi ter dapat Densitas tulang meninggi, penyempitan
ruang sendi yang asimetris, sklerosis tulang subkondral, serta osteofit pada tepi sendi.

III.

Diagnosis kerja

Osteoarthritis Diagnosis osteoarthritis ditegakkan berdasarkan atas hasil anamnenis yaitu adanya keluhan nyeri pada sendi besar yaitu lutut terutama pada saat melakukan aktivitas dan hilang saat istirahat, serta kekakuan sendi yang timbul pada pagi hari dalam waktu 10 menit. Umur dan berat badan pasien juga menjadi faktor resiko dari Osteoarthritis. Diagnosis juga ditunjang dengan hasil pemiriksaan fisik berupa adanya sendi yang terkena terasa hangat, bengkak dan sakit bila ditekan akibat inflamasi akut, terdengar suara krepitasi dan dilihat pembesaran lutut serta adanya deformitas tulang valgus yang merupakan gejala klinik dari osteoarthritis. Hasil pemeriksaan radiologi jga menunjang penegakkan diagnosis dengan ditemukannya densitas tulang meninggi, penyempitan ruang sendi yang asimetris, sklerosis tulang subkondral, serta osteofit pada tepi sendi.

IV.

Diagnosis banding
10

Rheumatoid Artritis (RA) Kriteria RA adalah: No. Kriteria 1. Kaku pagi hari 2. 3. 4. 5. 6. 7. Arthritis pada 3 daerah persendian atau lebih arthritis pada persendian tangan Arthritis simetris Nodul rheumatoid Faktor reumatoid seruam positif Perubahan gambaran radiologi Definisi Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan sekitarnya, sekurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal. Pembengkakan jaringan lunak atau persendianatau lebih efusi pada sekurang-kurangnya 3 sendi secara bersamaan. Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan satu persendian tangan. Keterlibatan sendi yang sama seperti kriteria 2 Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah juksta artikuler. Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif kurang dari 5% kelompok kontrol yang diperiksa. Yang khas pada pemeriksaan sinar-x tangan posterior atau pergelangan tangan yang menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi.

Gout akut radang sendi pada stadium ini sangat akut dan yang timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala apa-apa. Pada saat bangun pagi hari terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya bersifat monoartikuler dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa hangat, merah dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil dan merasa lelah. Lokasi paling sering adalah MTP-1, apabila proses berlanjut dapat terkena pada sendi lain yaitu pergelangan tangan/kaki, lutut dan siku. Arthritis pirei Gejala klasik artritis septik adalah demam yang mendadak, malaise, nyeri lokal pada sendi yang terinfeksi, pembengkakan sendi, dan penurunan kemampuan ruang lingkup gerak sendi. Nyeri pada artritis septik khasnya adalah nyeri berat dan terjadi saat istirahat maupun dengan gerakan aktif maupun pasif. Terjadi peningkatan lekosit dengan predominan neutrofil segmental, peningkatan laju endap darah dan C-reactive Protein (CRP). Cairan sendi tampak keruh, atau purulen, leukosit cairan sendi lebih dari 50.000 sel/mm3 predominan PMN, sering mencapai 75%-80%. Ditemukannya kuman patogen dalam cairan sendi

11

V.

Patogenesis kasus

Osteartritis di mulai dengan kerusakan lokal dari tulang rawan sendi dan digambarkan oleh degenerasi yang progresif tulang rawan, hipertrofi, remodeling tulang subkondral, dan inflamasi sekunder dari membran synovial. Jejas mekanis dan kimiawi (dalam kasus ini yang berperan adah umur dan berat badan berlebih) diduga menjadi faktor yang merangsang terbentuknya produk degradasi kartilago dalam cairan sinovial yang mengakibatkan terjadinya inflamasi sendi, kerusakan kondrosit, dan nyeri. Produk tersebut antara lain : Interleukin-1 (IL-1), Nitric Oxide (NO) dan Prostaglandin E2 (PGE2). Jumlah mediator ini termasuk Cytokinase meningkat didalam cairan sinovial yang akan meningkatkan reksi inflamasi sehingga terjadi sinovitis serta kerusakan sendi.

VI . Penatalaksanaan

12

- Terapi non farmakologis 1.Edukasi Pasien OA termasuk keluarganya perlu diberi penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya yang disebabkan oleh proses degenerasi oleh adanya faktor-faktor kerja sendi yang diperberat oleh faktor usia, berat badan, pekerjaan, trauma, merokok yang memudahkan timbulnya OA. 2. Terapi fisik dan rehabilitasi Dengan melakukan olah raga yang teratur dapat membakar kalori yang tertimbun dalam tubuh, sehingga dapat mengurangi berat badan. Juga apabila dilakukan tidak berlebihan dan dengan cara yang benar dapat mempertahankan sendi tetap sehat dan terlindung dari OA, karena akan membuat cairan sendi bergerak kesegala arah karena tekanan dan terkumpul kembali waktu relaksasi. Fisioterapi, yang berguna untuk mengurangi nyeri, menguatkan otot, dan menambah luas pergerakan sendi. 3. Menurunkan berat badan Setiap kelebihan berat badan akan membebani sendi penyangga berat badan. Hal ini akan menimbulkan degenerasi yang prematur. Oleh karena itu pengendalian berat badan merupakan upaya yang baik untuk pencegahan dan pengobatan OA. - Terapi farmakologis 1.Penggunaan obat-obatan analgetik OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) memiliki efek analgetik serta inflamasi. Oleh karena pasien OA kebanyakan berusia lanjut maka pemberian obat ini harus berhati-hati. Pilihlah obat golongan ini yang mempunyai efek samping rendah cetaminofen merupakan obat analgetik yang bekerja cukup baik pada stadium awal. 2. Memperbaiki rawan sendi yang rusak Saat ini dikenal pula obat yang lain yang termasuk chondro protective disebut sebagai Disease Modifyng Osteoarthritis Drugs (DMOAD ) yang meliputi : glukosamin dan kondroitin sulfat, asam

13

hialuronat (bentuk injeksi sendi sebagai pelumas sendi ) penghambat interleukin -1 (IL-1 reseptor antagonist). Glukosamin bersama-sama dengan Chondroitin sulfat dapat mencegah kerusakan rawan sendi karena OA. Bahkan kedua suplemen tersebut dapat memperbaiki kerusakan sendi terbatas yang sudah terjadi .

VII . Prognosis
Ad vitam Ad sanationam Ad fungtionam : bonam : dubia ad malam : dubia ad malam

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA


A. Anatomi dan histologi sendi Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya. Tulang rawan merupakan jaringan pengikat padat khusus yang terdiri atas sel kondrosit, dan matriks. Matrriks tulang rawan terdiri atas sabut-sabut protein yang terbenam di dalam bahan dasar amorf. Berdasarkan atas komposisi matriksnya ada 3 macam tulang rawan, yaitu : (1) tulang rawan hialin, yang terdapat terutama pada dinding saluran pernafasan dan ujung-ujung persendian; (2) tulang rawan elastis misalnya pada epiglotis, aurikulam dan tuba auditiva; dan (3) tulang rawan fibrosa yang terdapat pada anulus fibrosus, diskus intervertebralis, simfisis pubis dan insersio tendo-tulang. Kartilago hialin menutupi bagian tulang yang menanggung beban pada sendi sinovial. Rawan sendi tersusun oleh kolagen tipe II dan proteoglikan yang sangat hidrofilik sehingga memungkinkan rawan tersebut mampu menahan kerusakan sewaktu sendi menerima beban yang kuat. Perubahan susunan kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi setelah cedera atau penambahan usia. 3

14

Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung tulang mempunyai mempunyai fungsi ganda yaitu untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus dan memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai penahan beban dan peredam benturan. Agar rawan berfungsi baik, maka diperlukan matriks rawan yang baik pula. Matriks terdiri dari 2 tipe makromolekul, yaitu : Proteoglikan : yang meliputi 10% berat kering rawan sendi, mengandung 70-80% air, hal inilah yang menyebabkan tahan terhadap tekanan dan memungkinkan rawan sendi elastis Kolagen : komponen ini meliputi 50% berat kering rawan sendi, sangat tahan terhadap tarikan. Makin kearah ujung rawan sendi makin tebal, sehingga rawan sendi yang tebal kolagennya akan tahan terhadap tarikan Disamping itu matriks juga mengandung mineral, air, dan zat organik lain seperti enzim. Klasifikasi Sendi 1. Secara struktural : 4 Sendi merupakan tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Sendi dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: (a). Sendi fibrosa dimana tidak terdapat rongga sendi dan lapisan kartilago, antara tulang dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua subtipe yaitu sutura dan sindemosis (b) Sendi kartilaginosa dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago hialin, disokong oleh ligament, sedikit pergerakan, dan dibagi menjadi subtipe yaitu sinkondrosis dan simpisis (c). Sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat mengalami pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dilapisi oleh kartilago hialin. Kapsul sendi membungkus tendon-tendon yang melintasi sendi, tidak meluas tetapi terlipat sehingga dapat bergerak penuh. Sinovium menghasilkan cairan sinovial yang berwarna kekuningan, bening, tidak membeku, dan mengandung lekosit. Asam hialuronidase bertanggung jawab atas viskositas cairan sinovial dan disintesis oleh pembungkus sinovial. Cairan sinovial mempunyai fungsi sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi. 2. Menurut fungsinya :

15

1. Sendi sinartosis (sendi mati), sendi ini dibungkus dengan jaringan ikat fibrosa atau kartilago. Sendi jenis ini antara lain adalah : a. Sutura, yaitu sendi yang dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa rapat yang hanya ditemukan pada tulang tengkorak. Contoh: sutura sagital dan parietal. b. Sinkondrosis, yaitu sendi yang tulang-tulangnya dihubungkan dengan kartilago hialin. Contoh: lempeng epifisis sementara antara epifisis dan diafisis pada tulang panjang anak. 2. Sendi amfiartosis (sendi dengan pergerakan terbatas) Sendi ini memungkinkan gerakan terbatas sebagai respon terhadap torsi dan kompresi. Sendi jenis ini antara lain adalah: a. Simfisis, adalah sendi yang kedua tulangnya dihubungkan dengan diskus kartilago, yang menjadi bantalan sendi dan memungkinkan terjadi sedikit gerakan. Contoh: simpisis pubis b. Sindesmosis, terbentuk saat tulang-tulang yang berdekatan dihubungkan dengan serat-serat jaringan ikat kolagen. Contoh: ditemukan pada tulang yang bersisihan seperti radius dan ulna, serta tibia dan fibula c. Gomposis, adalah sendi dimana tulang berbentuk kerucut masuk dengan pas dalam kantong tulang, seperti pada gigi yang tertanam pada tulang rahang 3. Sendi diartosis (sendi dengan pergerakan bebas) disebut juga sendi synovial Sendi ini memiliki rongga sendi yang berisi cairan sinofial. Klasifikasi persendian synovial terdiri dari: a. Sendi sferoidal, yang terdiri dari sebuah tulang yang masuk kedalam rongga berbentuk cangkir pada tulang lain. Contoh: sendi panggul dan bahu b. Sendi engsel, terdiri dari sebuah tulang yang masuk dengan pas pada permukaan konkaf tulang kedua, sehingga memungkinkan gerakan kesatu arah. Contoh: sendi lutut dan siku. c. Sendi kisar, yaitu tulang bentuk kerucut yang masuk pas cekungan tulang kedua dan dapat berputar kesemua arah. Contoh: tulang atas, persendian bagian kepala d. Sendi kondiloid, merupakan sendi biaksial, yang memungkinkan gerakan kedua arah disudut kanan

16

setiap tulang. Contoh: sendi antara tulang radius dan tulang karpal e. Sendi pelana, permukaan tulang yang berartikulasi berbentuk konkaf disatu sisi dan konkaf pada sisi lain, sehingga tulang akan masuk dengan pas seperti dua pelana yang saling menyatu. Satu-satunya sendi pelana sejati yang ada dalam tubuh adalah persendian antara tulang karpal dan metakarpal pada ibu jari. f. Sendi peluru, adalah salah satu sendi yang permukaan kedua tulang berartikulasi berbentuk datar, sehingga memungkinkan gerakan meluncur antara satu tulang dengan tulang yang lainnya. Persendian semacam ini disebut sendi nonaksia. Misalnya: Persendian intervertebra, dan persendian antara tulang-tulang karpa dan tulang-tulang tarsal.

B Sendi pada Lutut Persendian pada sendi lutut termasuk dalam jenis sendi synovial (synovial joint ), yaitu sendi yang mempunyai cairan sinovial yang berfungsi untuk membantu pergerakan antara dua buah tulang yang bersendi agar lebih leluasa. Secara anatomis persendian ini lebih kompleks daripada jenis sendi fibrous dan sendi cartilaginosa. Permukaan tulang yang bersendi pada synovial joint ini ditutupi oleh lapisan hyaline cartilage yang tipis yang disebut articular cartilage , yang merupakan bantalan pada persambungan tulang. Pada daerah ini terdapat rongga yang dikelilingi oleh kapsul sendi. Dalam hal ini kapsul sendi merupakan pengikat kedua tulang yang bersendi agar tulang tetap berada pada tempatnya pada waktu terjadi gerakan.

17

Kapsul sendi ini terdiri dari 2 lapisan : 1. Lapisan luar Disebut juga fibrous capsul , terdiri dari jaringan connective yang kuat yang tidak teratur dan akan berlanjut menjadi lapisan fibrous dari periosteum yang menutupi bagian tulang. Dan sebagian lagi akan menebal dan membentuk ligamentum. 2. Lapisan dalam Disebut juga synovial membran, bagian dalam membatasi cavum sendi dan bagian luar merupakan bagian dari articular cartilage.. Membran ini tipis dan terdiri dari kumpulan jaringan connective. Membran ini menghasilkan cairan synovial yang terdiri dari serum darah dan cairan sekresi dari sel synovial. Cairan synovial ini merupakan campuran yang kompleks dari polisakarida protein , lemak dan sel sel lainnya. Polisakarida ini mengandung hyaluronic acid yang merupakan penentu kualitas dari cairan synovial dan berfungsi sebagai pelumas dari permukaan sendi sehingga sendi mudah digerakkan Menurut arah gerakannya sendi lutut termasuk dalam sendi engsel ( mono axial joints )yaitu sendi yang mempunyai arah gerakan pada satu sumbu. Sendi lutut ini terdiri dari bentuk conveks silinder pada tulang yang satu yang digunakan untuk berhubungan dengan bentuk yang concave pada tulang lainnya. C. Anatomi Sendi Lutut Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia. Sendi ini terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada dasarnya sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis dan lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi pelana , diantara patella dan fascies patellaris femoris. 4 Pada bagian atas sendi lutut terdapat condylus femoris yang berbentuk bulat, pada bagian bawah terdapat condylus tibiae dan cartilago semilunaris. Pada bagian bawah terdapat articulatio antara ujung bawah femur dengan patella. Fascies articularis femoris . tibiae dan patella diliputi oleh cartilago hyaline. Fascies articularis condylus medialis dan lateralis tibiae di klinik sering disebut sebagai plateau tibialis medialis dan lateralis.

18

LIGAMENTUM PADA SENDI LUTUT A. LIGAMENTUM EXTRACAPSULAR 4 1. Ligamentum Patellae Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini sebenarnya merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. quadriceps femoris. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. Bursa infra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit. 2. Ligamentum Collaterale Fibulare Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m. poplitei. 3. Ligamentum Collaterale Tibiae Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu . 4. Ligamentum Popliteum Obliquum Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m. semimembranosus. 5. Ligamentum Transversum Genu Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus , terdiri dari jaringan connective, kadang- kadang ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya , sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang.

19

B. LIGAMENTUM INTRA CAPSULAR 4 Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat, saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae. Bila sendi lutut berada dalam keadaan fleksi ligamentum cruciatum anterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi , ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.

CARTILAGO SEMILUNARIS (MENISCUS ) 1. Cartilago Semilunaris Medialis 4 Bentuknya hampir semi sirkular dan bagian belakang jauh lebih lebar daripada bagian depannya. Cornu anterior melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berhubungan dengan cartilago

20

semilunaris lateralis melalui beberapa serat yang disebut ligamentum transversum. Cornu posterior melekat pada area intercondylaris posterior tibiae. Batas bagian perifernya melekat pada simpai dan ligamentum collaterale sendi. Dan karena perlekatan inilah cartilago semilunaris relatif tetap. 2. Cartilago Semilunaris Lateralis 4 Bentuknya hampir sirkular dan melebar secara merata. Cornu anterior melekat pada area intercondylaris anterior, tepat di depan eminentia intercondylaris. Cornu posterior melekat pada area intercondylaris posterior, tepat di belakang eminentia intercondylaris. Seberkas jaringan fibrosa biasanya keluar dari cornu posterior dan mengikuti ligamentum cruciatum posterior ke condylus medialis femoris. Pergerakan pada sendi lutut Pergerakan pada sendi lutut meliputi gerakan fleksi , ekstensi , dan sedikit rotasi. Gerakan fleksi dilaksanakan oleh m. biceps femoris , semimembranosus, dan semitendinosus, serta dbantu oleh m.gracilis , m.sartorius dan m. popliteus. Fleksi sendi lutut dibatasi oleh bertemunya tungkai bawah bagian belakang dengan paha. Ekstensi dilaksanakan oleh m. quadriceps femoris dan dibatasi mula-mula oleh ligamentum cruciatum anterior yang menjadi tegang. Ekstensi sendi lutut lebih lanjut disertai rotasi medial dari femur dan tibia serta ligamentum collaterale mediale dan lateral serta ligamentum popliteum obliquum menjadi tegang , serat-serat posterior ligamentum cruciatum posterior juga di eratkan. Sehingga sewaktu sendi lutut mengalami ekstensi penuh ataupun sedikit hiper-ekstensi , rotasi medial dari femur mengakibatkan pemutaran dan pengetatan semua ligamentum utama dari sendi, dan lutut berubah menjadi struktur yang secara mekanis kaku. Rotasio femur sebenarnya mengembalikan femur pada tibia , dan cartilago semilunaris dipadatkan mirip bantal karet diantara condylus femoris dan condylus tibialis. Lutut berada dalam keadaan hiperekstensi dikatakan dalam keadaan terkunci.

21

Osteoartritis
Definisi Osteoartritis Osteoartritis ( OA ) adalah gangguan sendi yang bersifat kronis, disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi dan perlunakan progresif, diikuti dengan pertambahan pertumbuhan pada tepi tulang dan tulang rawan sendi, yang disebut osteofit, diikuti dengan fibrosis pada kapsul sendi. Kelainan ini timbul akibat mekanisme abnormal pada proses penuaan , trauma atau akibat kelainan lain yang menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi. Keadaan ini tidak berkaitan dengan faktor sitemik ataupun infeksi .2 Klasifikasi Osteoartritis 1. Osteoartritis Primer Penyebab tidak diketahui dengan pasti dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi, mengenai satu atau banyak sendi,bersifat progresif. Terutama ditemukan pada wanita dengan nyeri yang akut disertai rasa panas pada bagian distal interfalangeal yang selanjutnya terjadi pembengkakan tulang yang disebut nodus Heberden. Biasanya mengenai sendi lutut dan panggul.
1,2

2. Osteoartritis Sekunder Disebabkan penyakit yang menyebabkan kerusakan pada synovial sehingga menimbulkan osteoarthritis sekunder. Beberapa keadaan yang dapat menimbulkan osteoarthritis sekunder, adalah : 1,2 - Trauma atau Instabilitas: Terutama terjadi akibat fraktur, post menisektomi, tungkai bawah yang tidak sama panjang, hipermobilitas dan instabilitas sendi, tidak sejajar dan serasinya permukaan sendi. - Faktor Genetik atau Perkembangan: Adanya kelainan genetic dan perkembangan seperti dysplasia epifisial, dysplasia acetabuler, penyakit Legg-Calve-Perthes, dislokasi sendi panggul bawaan dan slipped epiphysis. - Penyakit Metabolik/ Endokrin : Penyakit metabolik seperti okronosis, akromegali, mukopolisakaridosis, deposisi Kristal, dsb

22

Faktor Resiko Faktor resiko terjadinya osteoarthritis dipengaruhi oleh: 1,2 1. Umur Dari semua factor resiko untuk timbulnya osteoarthritis ( OA ), factor penuaan adalah yang terkuat. Prevalensi, dan beratnya osteoarthritis ( OA ) semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoarthritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada usia di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun. 2. Jenis Kelamin Wanita lebih sering terkena OA lutut dan OA bayak sendi, dan lelaki lebih sering terkena OA paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah umur 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada laki-laki dan wanita, tetapi diatas usia 50 tahun ( setelah menopause ) frekuensi OA lebih banyak pada wanita. Hal ini menunjukan adanya peranan hormonal pada pathogenesis OA 3. Ras OA pada paha lebih sering pada orang kaukasia daripada orang kulit hitam atau asia. OA lebih sering dijumpai pada orang amerika asli ( Indian ) daripada orang kulit putih. 4. Faktor Keturunan Ibu dari seorang wanita dengan OA pada sendi-sendi interfalang distal ( nodus Heberden ) terdapat 2 kali lebih sering, dan anak-anaknya yang perempuan cenderung mempunyai 3 kali lebih sering, dari pada ibu dan anak-anak perempuan dari wanita tanpa OA. 5. Faktor Metabolik dan Endokrin Berat badan yang berlebih secara nyata berkaitan dengan meningkatnya risiko untuk timbul OA baik pada wanita maupun pria. 6. Trauma dan Faktor Okupasi Trauma yang hebat terutama fraktur intra-artikuler atau dislokasi sendi.

23

Etiopatogenesis OA adalah penyakit yang mengenai kartilago/rawan sendi dan tulang subkhondral. Masalah yang mendahului terjadinya OA ini belum jelas benar, tetapi dipikirkan sebagai hasil dari ketidak seimbangan antara proses anabolik dan katabolic di khondrosit. Karakteristik pada OA adalah terjadi degradasi secara progresif dari komponen ekstra selular (ECM) rawan sendi yang berhubungan dengan faktor inflamasi sekunder. Banyak faktor yang berperanan sehingga timbulnya proses inflamasi di sinovium : pecahan rawan sendi, pecahan dari permukaan sendi yang mengalami fibrilasi, semuanya akan terkumpul di sinovium yang kemudian menimbulkan reaksi inflamasi. Produkasinya antara lain : Interleukin-1 (IL-1), Nitric Oxide (NO) dan Prostaglandin E2 (PGE2). Menyebabkan terjadinya perubahan katabolik yang progresif pada OA. Jumlah mediator ini termasuk Cytokinase meningkat didalam cairan sinovial yang akan meningkatkan reksi inflamasinya pula. Kristal juga akan menyebabkan sinovitis pada OA. Cairan sinovial penderita OA mengandung kristal-kristal Calcium pyrophosphate dihydrate, Calcium hydroxyapatite atau keduanya bersamaan. 1,2,5 OA terjadi karena adanya multi faktor. Etiologi yang spesifik tidak diketahui, tetapi berhubungan dengan beban berlebihan, ketidak mampuan khondrosit untuk mengontrol sistim remodeling internal, dan faktor diluar sendi seperti perubahan pada sinovium dan vaskuler. Patogenesis OA dapat dibagi dalam 4 stadium : 1. Stadium Initial repair : Secara histologis terdapat proliferasi Khondrosit. Secara biokimia

terdapat peningkatan sintesa komponen ECM dan DNA yang dipakai untuk proliferasi, mitosis, dan peningkatan aktivitas Khondrosit. 2. OA stadium awal : Sintesa komponen ECM jumlahnya dilampaui oleh degradasi karena adanya

sintesa dan aktivitas Protease yang meningkat. Sehingga terjadilah berkurangnya rawan sendi. Secara histologis ditandai oleh pembengkakan rawan sendi dan permukaan kartilago yang tidak teratur/irregular. Secara biokimia ditemukan peningkatan sintesa komponen ECM dan DNA dan dilepaskannya enzim Proteolitik dan berkurangnya sintesa enzim Protease inhibitor.

24

3.

OA Stadium intermediate : Ditandai dengan kegagalan sintesa komponen ECM sedangkan sintesa

dan aktivitas Protease tetap meningkat, menyebabkan degradasi progresif dan makin berkurangnya rawan sendi. Secara histologis tampak fibrilasi (vertical splitting), pelepasan (horizontal splitting) dan penipisan kartilago/rawan sendi . 4. OA stadium ahir : Komponen ECM termasuk cairan, proteoglikan dan kolagen lebih berkurang lagi.

Sintesa dan aktivitas Protease tetap tinggi atau menurun bila rawan sendi sudah sangat tipis atau hampir seluruhnya sudah dirusak dan osteofit sudah terjadi pada bagian tepi menimbulkan : residual OA. Secara histologis tampak fibrilasi hebat dan denudasi tulang subkhondral. Yang secara klinis dimanifestasikan dengan nyeri dan limitassi gerak sendi serta krepitasi.

25

Gejala klinis Osteoarthritis biasanya mengenai satu atau beberapa sendi. Gejala-gejala klinis yang ditemukan berhubungan dengan fase inflamasi synovial, penggunaan sendi, serta inflamasi dan degenerasi yang terjadi di sekitar sendi. Gejala-gejala klinis tersebut terdiri dari : 1,2,3,6 1. Nyeri sendi Keluhan ini merupakan keluhan utama yang seringkali membawa pasien ke dokter. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Kemudian nyeri menjadi lebih berat, hilang timbul, bertambah dengan gerakan dan berkurang dengan istirahat. Dalam keadaan ringan ,sendi baru akan terasa sakit setelah melakukan aktifitas berat seperti mengangkat beban berat atau naik turun tangga. Pada keadaan parah hanya dengan melakukan aktifitas ringan seperti jalan kaki sendi sudah terasa sakit. Bahkan saat duduk atau tiduran nyeripun terasa. Nyeri pada OA dapat bersifat penjalaran atau akibat radikulopati misalnya pada OA servikal dan lumbal. Karena tidak adanya manifestasi sistemik pada OA maka gejala-gejala dan tanda-tanda terbatas pada masing-masing sendi. Rasa nyeri dapat berasal dari : - Sinovium : inflamasi - Kapsul sendi : distensi dan instabilitas - Otot/ligamen : spasme, strain - Tulang : hipertensi medular, fraktur subkhondral - Osteofit : reaksi periosteal, penekanan serabut saraf 2. Kekakuan Nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas seperti duduk lama atau setelah bangun tidur pagi. Kekakuan sendi berlangsung kurang dari 30 menit. 3. Pembengkakan Terutama pada lutut dan siku yang dapat disebabkan oleh cairan dalam sendi ( waktu stadium akut ) atau

26

karena pembengkakan pada tulang yang disebut osteofit. Dapat juga oleh karena pembengkakan dan penebalan pada sinovia yang berupa kista. 4. Gangguan Pergerakan Disebabkan oleh adanya fibrosis pada kapsul, osteofit atau iregularitas permukaan sendi. Dapat ditemukan adanya krepitasi. 5. Deformitas Akibat kontraktur kapsul serta instabilitas sendi karena kerusakan pada tulang dan tulang rawan. 6. Nodus Heberden dan Bouchard Nodus Heberden itemukan pada bagian dorsal sendi interfalang distal, sedangkan nodus Bouchard pada interfalang proksimal tangan, terutama pada wanita dengan osteoarthritis primer. Nodus Heberden kadang tanpa disertai rasa nyeri tapi sering disertai perestesia dan kekakuan sendi jari-jari tangan ( pada stadium lanjut ) disertai deviasi jari ke lateral. 7. Perubahan gaya berjalan Keadaan ini selalu berhubungan dengan nyeri, terutama pada osteoarthritis yang dijumpai pada lutut, sendi paha, dan tulang belakang yang menjadi tumpuan berat badan. Hampir sebagian besar pasien berjalan dengan cara pincang. Gradasi beratnya OA Sistim gradasi yang paling banyak dipakai adalah berdasarkan gambaran radiologis seperti yang dibuat oleh Kellgren dan Lawrence ; Grade 0 : Normal. Grade 1 : Meragukan/tidak jelas. Grade 2 : OA minimal : - osteofit , minimal pada 2 tempat. - Sklerosis subkhondral minimal - Kista subkhondral samar-samar

27

- Celah sendi normal - Tidak ada deformitas diujung tulang Grade 3 : OA sedang / moderate - Osteofit sedang - Ada deformitas diujung tulang. - Celah sendi menyempit Grade 4 : OA berat / severe - Osteofit besar - Ada deformitas diujung tulang - Celah sendi hilang. - Ada sklerosis

Diagnosis A.Pemeriksaan fisik Sendi yang terkena terasa hangat, bengkak dan sakit bila ditekan pada keadaan yang akut, sedangkan pada yang kronik tanda-tandanya tidak begitu jelas, mungkin hanya keluhan nyeri saja yang dirasakan penderita. Pada sendi besar misalnya lutut bila digerakkan atau ditekuk terdengar suara krepitasi dan

28

osteoartritis yang lanjut dapat dilihat pembesaran tulang (bony enlargment) , deformitas tulang bentuk hurup L (valgus ) dan hurup O (varus ) serta keterbatasan gerak sendi. 1,2, B Pemeriksaan laboratorium 1,2 1. Darah tepi ( hemoglobin, leukosit, Laju endap darah) biasanya normal. 2. Serum kholesterol sedikit meninggi 3. Pemeriksaan Rhematoid Factor negative C. Pemeriksaan radiologis 1,2 Pemeriksaan Radiologis dilakukan dengan : 1. Foto Polos Gambaran yang khas pada foto polos adalah : - Densitas tulang normal atau meninggi - Penyempitan ruang sendi yang asimetris, lebih berat pada bagian yang menanggung beban karena hilangnya tulang rawan sendi. - Sklerosis tulang subkondral - Kista tulang pada permukaan sendi, terutama subkondral - Osteofit pada tepi sendi Gambaran diatas teruatama lebih jelas pada sendi-sendi besar.

29

D. Cairan sinovium Pada osteoarthritis analisis cairan sinovium memperlihatkan : 1,2, - leukositosis ringan (sel darah putih kurang dari 2000 per mikroliter), dengan predominansi sel mononukleus. - Viskositas tinggi, String sign positif. - Warna kuning-jernih. Analisis cairan sendi Kriteria Warna Kejernihan Viskositas Bekuan musin Jumlah leukosit Polimorfonuklear (%) Diagnosa banding 1. Arthritis reumatoid Merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, sering kali juga melibatkan organ tubuh lainnya. Gejala klinis Gejala klinis terutama AR adalah poliarthritis yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pada rawan sendi dan tulang sekitarnya. Kerusakan ini terutama mengenai sendi perifer pada tangan dan kaki yang umumnya bersifat simetris. Noninflamasi (grup I) Xantokrom Transparan Tinggi Sedang-baik <3000 <25% Inflamasi (grup II) Xantokrom/putih Opaque Rendah Sedang-buruk 3000-50000 >70% Purulen (grup 3) Putih Opaque Sangat rendah Buruk 50000-300000 >90%

30

Kriteria menurut American Rheumatism Association 1, No. Kriteria 1. Kaku pagi hari 2. 3. 4. 5. 6. Definisi Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan sekitarnya,

sekurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal. Arthritis pada 3 daerah Pembengkakan jaringan lunak atau persendianatau lebih efusi persendian atau lebih pada sekurang-kurangnya 3 sendi secara bersamaan. arthritis pada Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan satu persendian persendian tangan Arthritis simetris Nodul rheumatoid Faktor seruam positif tangan. Keterlibatan sendi yang sama seperti kriteria 2 Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan

ekstensor atau daerah juksta artikuler. reumatoid Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif kurang dari 5% kelompok kontrol yang diperiksa. gambaran Yang khas pada pemeriksaan sinar-x tangan posterior atau pergelangan tangan yang menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi.

7.

Perubahan radiologi

2.Arthritis pirei Gejala klasik artritis septik adalah demam yang mendadak, malaise, nyeri lokal pada sendi yang terinfeksi, pembengkakan sendi, dan penurunan kemampuan ruang lingkup gerak sendi. Nyeri pada artritis septik khasnya adalah nyeri berat dan terjadi saat istirahat maupun dengan gerakan aktif maupun pasif. Terjadi peningkatan lekosit dengan predominan neutrofil segmental, peningkatan laju endap darah dan C-reactive Protein (CRP). Cairan sendi tampak keruh, atau purulen, leukosit cairan sendi lebih dari 50.000 sel/mm3 predominan PMN, sering mencapai 75%-80%. Ditemukannya kuman patogen dalam cairan sendi

3. Stadium arthritis gout akut

31

Merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat didalam cairan ekstraartikuler. Manifestasi klinik (yang mirip dengan OA). Radang sendi pada stadium ini sangat akut dan yang timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala apa-apa. Pada saat bangun pagi hari terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya bersifat monoartikuler dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa hangat, merah dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil dan merasa lelah. Lokasi paling sering adalah MTP-1, apabila proses berlanjut dapat terkena pada sendi lain yaitu pergelangan tangan/kaki, lutut dan siku. Pada serangan akut yang ringan keluhan dapat hilang dalam beberapa jam atau hari. Pada serangan akut yang berat keluhan dapat hilang dalam beberapa hari atau minggu Penatalaksanaan Pengobatan terdiri atas : Terapi non farmakologis 1 1.Edukasi Pasien OA termasuk keluarganya perlu diberi penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya yang disebabkan oleh proses degenerasi oleh adanya faktor-faktor kerja sendi yang tidak semestinya yang diperberat poleh faktor usia, berat badan, pekerjaan, trauma, merokok dan pada keluarga-keluarga tertentu terdapat suatu kelemahan yang memudahkan timbulnya OA. Bahwa penyakit ini bersifat setempat dan bila belum terjadi perubahan sendi yang berat/derajat kerusakan sendi ringan, masih dapat diperbaiki atau dicegah makin bertambah berat asalkan mendapat penanganan yang tepat. 2. Terapi fisik dan rehabilitasi Dengan melakukan olah raga yang teratur dapat membakar kalori yang tertimbun dalam tubuh, sehingga dapat mengurangi berat badan. Juga apabila dilakukan tidak berlebihan dan dengan cara yang benar dapat mempertahankan sendi tetap sehat dan terlindung dari OA, karena akan membuat cairan sendi bergerak kesegala arah karena tekanan dan terkumpul kembali waktu relaksasi. Gerakan tersebut akan memberi makanan pada rawan sendi dari cairan sendi yang bergerak-gerak. Bila tidak ada gerakan,rawan sendi akan menipis dan mengering yang menyebabkan mudah rusak. Fisioterapi, yang berguna untuk mengurangi nyeri, menguatkan otot, dan menambah luas pergerakan sendi.

32

3. Menurunkan berat badan Setiap kelebihan berat badan akan membebani sendi penyangga berat badan. Hal ini akan menimbulkan degenerasi yang prematur. Oleh karena itu pengendalian berat badan merupakan upaya yang baik untuk pencegahan dan pengobatan OA.

Terapi farmakologis 1,2 Pemberian obat-obatan Penggunaan obat-obatan analgetik OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) memiliki efek analgetik serta inflamasi. Oleh karena pasien OA kebanyakan berusia lanjut maka pemberian obat ini harus berhati-hati. Pilihlah obat golongan ini yang mempunyai efek samping rendah cetaminofen merupakan obat analgetik yang bekerja cukup baik pada stadium awal. Memperbaiki rawan sendi yang rusak Saat ini dikenal pula obat yang lain yang termasuk chondro protective disebut sebagai Disease Modifyng Osteoarthritis Drugs (DMOAD ) yang meliputi : glukosamin dan kondroitin sulfat, asam hialuronat (bentuk injeksi sendi sebagai pelumas sendi ) penghambat interleukin -1 (IL-1 reseptor antagonist). Glukosamin bersama-sama dengan Chondroitin sulfat dapat mencegah kerusakan rawan sendi karena OA. Bahkan kedua suplemen tersebut dapat memperbaiki kerusakan sendi terbatas yang sudah terjadi .

Tindakan operasi Pembedahan.

33

Jenis tindakan bedah yang dilakukan ada bermacam-macam, tergantung kepada derajat kerusakan sendi yang terjadi. Tindakan dapat bertujuan profilaksis untuk menghilangkan/memperbaiki kelainan yang dapat menimbulkan OA atau mengurangi progresivitasnya bila OA sudah terjadi. Misalnya koreksi terhadap genu varus atau genu valgum. Tindakan lainnya bertujuan terapeutik yaitu untuk mengurangi rasa nyeri dan menambah gerakan sendi. Tindakan operasi dilakukan apabila :2 Nyeri tidak dapat diatasi dengan obat Sendi yang tidak stabil oleh karena subluksasi atau deformitas pada sendi Kerusakan sendi tingkat lanjut Mengoreksi beban pada sendi agar distribusi beban terbagi rata Tindakan pembedahan yang paling ringan adalah debridement dan lavage yang dilakukan secara terbuka atau memakai arthroscope. Dilakukan bila kerusakan sendi belum terlalu berat, dan mampu menghilangkan keluhan sampai 1 - 2 tahun. Bila rawan sendi sudah sangat rusak dilakukan tindakan yang lebih besar lagi. Jenis tindakan operasi : o Debridement dan lavase o Osteotomi, memperbaiki biomekanik sendi. o Arthroplasty ,rekonstruksi sendi : Resection Arthroplasty Interposition Arthroplasty Replacement Arthroplasty

o Arthrodesis. Mengkakukan sendi o Operasi pada jaringan lunak.

34

35

BAB VI KESIMPULAN

Kesimpulan Osteoartritis adalah salah satu dari penyakit reumatik yang paling banyak dijumpai khususnya pada golongan umur lebih dari 50 tahun, angka prevalensi dan insidennya antara pria dan wanita sebanding. Pada osteoartritis yang terserang ialah pada tulang rawan sendi dan sendi yang terkena umumnya pada sendi besar penyokong berat badan dan mengenai satu sendi atau banyak sendi ( pada osteoartritis primer ). .Osteoartrosis merupakan kelainan yang bersifat progresif lambat yang mengenai rawan sendi. Kelainan ini akan mengganggu aktifitas sehari-hari penderitanya, terutama bila mengenai sendi lutut. Banyak faktor yang merupakan predisposisi osteoartrosis sendi lutut, seperti umur, jenis kelamin, ras, obesitas, merokok dan beberapa penyakit metabolik. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik serta foto rongent polos umumnya sudah dapat ditegakkan, Sedangkan terapinya bersifat komprenhensif yaitu dengan tanpa obat (non farmakologik ), dengan obat (farmakologik ), program fisioterapi dan tindakan bedah bila terapi konservatif gagal . Keberhasilan Pengobatan osteoartritis tergantung derajat sakitnya pada osteoartritis yang awal dengan pengobatan yang tepat dapat dicegah progresifitas penyakitnya, sedangkan kasus kasus yang berat dimana pengobatan konservatif gagal dapat dilakukkan tindakan bedah.

36

Daftar Pustaka
1. Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, dkk. Osteoartritis. Dalam: Sudoyo W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2009 .p. 2538. 2. Rasjad C. kelainan Degeneratif Tulang dan Sendi dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi ke-2. Ujung Pandang : Bintang Lamumpatue; 2003. p. 196-204 3. Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2 Edisi 6. Jakarta: EGC. 4. Snell RS. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa kedokteran. Ed. 6. Jakarta:EGC;2006 5. Poole R, Guilak F, Abramson SB: Etiopathogenesis of osteoarthritis . In Osteoarthritis diagnosis and medical or surgical management. Edited by Moskowitz RW,Altmant RD,Hochberg MC et al. 4 th edition. Lippincott William and Wilkin 2007:27-49. 6. Salter RB. Degenerative Disorder of Joints and Related Tissues in Textbook of Disorders and Injuries of Musculoskeletal System. 3ed. William & Wilkins. Baltimore-Maryland, 1999 : 213-251

37

38