Anda di halaman 1dari 79

Libby SinlaEloE, Tri Soekirman, Paul SinlaEloE

menuju KEHARMONISAN

JALAN PANJANG

RUMAH TANGGA

RUMAH PEREMPUAN KUPANG


Jln. Pegangsaan I, No. 17, Kelapa Lima, Kota Kupang-NTT Telp/Fax. (0380)-823117; E-mail : rmhperempuan@yahoo.co.id

JALAN PANJANG
menuju

RUMAH TANGGA

KEHARMONISAN

Diterbitkan oleh :

RUMAH PEREMPUAN KUPANG Jln. Pegangsaan I, No. 17, Kelapa Lima, Kota Kupang-Nusa Tenggara Timur; Telp/Fax. (0380)-823117; E-mail : rmhperempuan@yahoo.co.id

JALAN PANJANG MENUJU KEHARMONISAN RUMAH TANGGA


Cetakan Pertama, Februari 2011 Hak Cipta Rumah Perempuan Kupang ISBN: 978-602-96517-1-3 vi + 70 Halaman; 14 x 21 cm Penulis: Libby SinlaEloE, Tri Soekirman, Paul SinlaEloE Editor: Paul SinlaEloE Desain Cover: Wesly Jacob Lay Out/Tata Letak: Wesly Jacob Diterbitkan oleh: Rumah Perempuan Kupang Jln. Pegangsaan I, No. 17, Kelapa Lima, Kota Kupang-Nusa Tenggara Timur; Telp/Fax. (0380)-823117; E-mail: rmhperempuan@yahoo.co.id Didukung oleh: American Friends Service Committee (AFSC)-Indonesia Jln. Krasak Barat, Kota Baru, Yogyakarta; Telp/Fax. 0274-517062/0274-556610; Email: ; Website: www.bina-damai.net

iii

SEKAPUR SIRIH

SEKAPUR SIRIH

Salam Damai Untuk Perdamaian..! merican Friends Service Committee (AFSC) Indonesia menyampaikan apresiasi yang tinggi dan selamat atas terbitnya buku dengan judul Jalan Panjang menuju Keharmonisan Rumah Tangga yang dirilis oleh LSM Rumah Perempuan. Karya kecil ini akan didedikasikan bagi peningkatan martabat kaum perempuan dan sekaligus memberikan ruang yang luas pada upaya menyentuh pelaku KDRT (baca: dominan lakilaki/suami) dengan tetap menjunjung harmonisasi keluarga. Upaya Rumah Perempuan dan komunitasnya merupakan langkah yang mempertegas pengoptimalan modal sosial seperti mekanisme adat dan para aktor terkait di komunitas di dalam penyelesaian KDRT. Melalui buku ini, kita disadarkan kembali bahwa potensi kebhinekaan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang beragam adat-istiadat seperti adat Timor, Rote, dan Timor-Timur sangat potensial menyelesaikan kekerasan terhadap perempuan. Ini modal sosial yang perlu diberi ruang sebagaimana yang sering diutarakan oleh Rumah Perempuan sendiri agar kaum perempuan kembali percaya diri dan tidak tenggelam pada keputusasaan. Buku ini seyogyanya dipandang sebagai kumpulan huruf-huruf hidup yang berbicara tentang keharmonisan rumah tangga dan masa depan perempuan NTT. Karena itu, buku ini diharapkan menjadi rujukan bagi semua pemangku kepentingan yang peduli pada keharmonisan rumah tangga, khususnya nasib perempuan NTT. Yogyakarta, 8 Maret 2011 Jiway Francis Thung Country Representatif AFSC Indonesia

iii

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR
eutuhan dan kerukunan rumah tangga dalam suasana yang bahagia, aman, tentram dan damai adalah dambaan setiap orang dalam suatu rumah tangga. Itulah kalimat yang terdapat pada baris pertama sekaligus Alinea Pertama dari Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Kalimat ini juga, merupakan gambaran dari kondisi dan atau tujuan yang hendak diwujudkan berkaitan dengan maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Permasalahannya, sejauh mana hal ini teraplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari dalam masyarakat sekitar kita? Pengalaman Rumah Perempuan selama 10 (sepuluh) tahun dalam melakukan kerja-kerja pendampingan korban, membuktikan bahwa memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera, merupakan tantangan yang harus ditemukan solusinya, terutama pasca terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Tantangan ini semakin lebih berat lagi ketika terjadi kekerasan dalam rumah tangga, para pihak mencari keadilan melalui sistem peradilan formal. Pengalaman Rumah Perempuan juga mengajarkan bahwa pasca penarikan kasus dari pihak kepolisian dan atau pasca vonis pengadilan, pihak korban dalam hal ini istri atau anak maupun anggota rumah tangga lainnya akan dipersalahkan oleh pihak keluarga dan atau tetangga. Akibatnya, para korban akan mengalami tekanan psikologis. Khusus bagi anak akan cenderung mencari pelampiasan dengan cara mengikuti perilaku buruk dari pelaku. Sedangkan bagi para istri, biasanya akan memilih jalan pintas yakni perceraian untuk mengakhiri penderitaannya. Berpijak pada realita persoalan di atas, Rumah Perempuan yang merupakan lembaga non profit dan bekerja untuk isue-isue perempuan, kesetaraan gender dan sangat konsern pada persoalan kekerasan dalam rumah tangga, menawarkan suatu model penyelesaian alternatif kasus kekerasan dalam rumah tangga, lewat buku yang berjudul JALAN PANJANG MENUJU KEHARMONISAN RUMAH TANGGA. Keberhasilan Rumah Perempuan dalam mendesain model penyelesaian alternatif kasus kekerasan dalam rumah tangga dan membukukannya, tidak iv

KATA PENGANTAR

bisa dipisahkan dari dukungan dana American Friends Service Committee (AFSC) dan partisipasi dari warga, aparat desa dan para tokoh yang berada di Desa Noelbaki dan Desa Tuapukan, yang merupakan daerah tempat dilakukannya try out draft model Penyelesaian alternatif kasus kekerasan dalam rumah tangga. Untuk itu, bagi AFSC, aparat desa, warga desa dan para tokoh yang berada di Desa Noelbaki dan Desa Tuapukan, patut mendapatkan ucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih, juga pantas diberikan kepada Jhon Nome, SH.Mhum (Dosen FH UNDANA), Deddy Ch. Manafe, SH.Mhum (Dosen FH UNDANA) dan Drs.Ayub Titu Eki, Phd, (Bupati Kupang) yang telah menyumbangkan pikiran cerdasnya untuk memperkaya makna dari buku ini. Terima kasih yang tulus, tak lupa diberikan kepada: Pdt. Dr. Eben Nuban Timo, MTh, Prof. Mia Noach, MA.Phd, Ir. Sarah Lery Mboeik, Ir. Farry Dj. Francis, MMA, dr. Joyce Kansil, Octory Gasperz, SE, Drg. Christina Titu Eki, MPh, Esaf Daka Besi, Yacob Folle, SE, Iin Luttu, Frederik Mbura dan Muhazir Hornai Belo yang sudah memberikan pencerahan tentang model penyelesaian alternatif kasus kekerasan dalam rumah tangga. Khusus untuk teman-teman aktivis Rumah Perempuan: Imelda Daly, Yulius Boni Geti, Noldy Taduhungu, Watty Bagang, Theresia Siti, Hofni Tefbana, Nurkasrih, Imelda Pong, juga layak menerima ucapan terima kasih karena kesetiaan dan kekompakannya dalam melakukan advokasi, mediasi dan konseling terhadap para korban kasus kekerasan dalam rumah tangga. Sebagai penutup, buku ini diharapkan menjadi masukan yang bermanfaat bagi para pihak yang berkeinginan untuk melakukan reformasi sistem peradilan di Indonesia. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi bacaan alternatif yang bermanfaat bagi setiap individu maupun kelompok yang peduli terhadap persoalan kekerasan dalam rumah tangga dan bertekad untuk mewujudkan keutuhan dan kerukunan rumah tangga dalam suasana yang bahagia, aman, tentram dan damai sebagaimana dambaan setiap orang dalam suatu rumah tangga. Terima Kasih...!!! Kupang, 8 Maret 2011 Libby Ratuarat-SinlaEloE Koordinator Rumah Perempuan v

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
SEKAPUR SIRIH ................................................................................. iii KATA PENGANTAR ............................................................................ iv DAFTAR ISI ................................................................................. vi BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1 A. PENGANTAR ................................................................................. 1 B. KDRT DALAM PERSPEKTIF YURIDIS ............................................... 5 C. ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA: Kembalinya Anak Terhilang..!! ....................................................... 14 BAB II KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR A. PENGANTAR ...................................................................... B. FENOMENA KDRT DI NTT ......................................................... C. POTRET KDRT DI NOELBAKI DAN TUAPUKAN ............................ BAB III MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA ...................................................................... A. PENGANTAR ............................................................ B. PENYELESAIAN ALTERNATIF KDRT .................................................. C. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KDRT VERSI RUMAH PEREMPUAN ....................................................

27 27 28 30

36 36 37 40

BAB III P E N U T U P . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 52 A. PENGANTAR ...................................................................... 52 B. PERANAN PEMERINTAH KABUPATEN KUPANG DALAM MEWUJUDKAN PENYELESAIAN ALTERNATIF KDRT .................................. 55 DAFTAR BACAAN ............................................................. 61 BIOGRAFI PENULIS ...................................................................... 65 LAMPIRAN PROFIL RUMAH PEREMPUAN & PROFIL AFSC ............................. 68

vi

BAB I. PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

A. PENGANTAR Pdt. Dr. Eben Nuban Timo, MTh (Ketua Majelis Sinode GMIT, Periode 2007-2011) alam menyelesaikan kasus KDRT memang sebaiknya jalur hukum menjadi pilihan terakhir. Misi yang dilakukan dalam penanganan dan pencegahan KDRT seharusnya adalah misi pemberdayaan sehingga keharmonisan dapat terwujud. Untuk mencapai keharmonisan keluarga, sangat penting dilakukan penguatan secara internal terhadap setiap individu, sehingga mereka bisa bertindak secara positif dalam segala hal. Dan nantinya, setiap individu tersebut dapat bertumbuh menjadi manusia yang kreatif dan bermartabat. Untuk mencapai misi ini tentunya gereja harus bekerja sama dengan unsur lainnya yang ada di masyarakat, terutama dalam mendiskusikan persoalan ketimpangan gender yang ada. Diskusidiskusi ini bisa dimasukan dalam bahan ajar katekasasi dan juga konseling pra nikah. (Kupang, 17 Februari 2011).

Ir. Sarah Lery Mboeik (Anggota DPD RI, Periode 2009-2014). Penyelesaian kasus KDRT melalui mekanisme non formal (Mekanisme Adat) sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Banyak kajian sosiologi hukum yang menceritakan tentang mekanisme non formal ini. Di NTT budaya patriarki masih cukup kuat dan ini sangat berkorelasi dengan perspektif dari para tua-tua adat dalam menentukan sanksi dalam sebuah kasus KDRT. Jangan sampai, sanksi yang diberikan justru akan melanggar HAM dan menindas kaum perempuan. Untuk itu, mekanisme penyelesaian alternatif ini harus didesain secara baik. Artinya mekanisme penyelesaian alternatif ini seharusnya merupakan hasil dari perpaduan antara mekanisme 1

BAB I. PENDAHULUAN

formal dan mekanisme non formal (Mekanisme Adat). Kalau tidak, maka mekanisme alternatif ini justru akan kembali menguatkan sistem patriarki yang ada dan posisi perempuan menjadi semakin lemah. Model penyelesaian alternatif kasus KDRT ini, juga tidak boleh didesain untuk diterapkan secara kaku dan diberlakukan secara general di tempat lain karena tidak semua masyarakat memiliki tipikal yang sama. Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa penyelesaian kasus KDRT melalui jalur hukum formal dan non formal maupun mempergunakan mekanisme alternatif mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri, sehingga tidak boleh ada dikotomi yang satu lebih baik dan yang satunya tidak. (Jakarta 5 Februari 2011). Ir. Farry Dj. Francis, MMA (Anggota DPR RI, Periode 2009-2014) Persoalan kekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah yang sudah mendapat perhatian serius dari berbagai pihak di seluruh belahan dunia. Alternatif Penyelesaian Sengketa, merupakan salah satu cara yang lebih baik dalam menyelesaikan konflik dari pada diselesaikan di kepolisian. Di banyak wilayah, masyarakat tertentu punya cara-cara sendiri untuk menyelesaikan kasuskasus KDRT. Misalnya, lewat pendekatan kekeluargaan dan untuk itu, hal tersebut perlu didorong. Walaupun demikian pendekatan alternatif dalam penyelsaian kasus KDRT ini, harus di desain secara baik sehingga pada tataran implementasinya tidak berdampak buruk pada kaum perempuan. (Jakarta, 19 February 2011) dr. Joyce Kansil (Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Kota Kupang) Persoalan KDRT merupakan suatu wujud kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus dicarikan solusi yang tepat. Dalam menyelesaiakan kasus KDRT, kita harus mempertimbangkan 2 (dua) hal yaitu: Pertama, kasus yang bisa dimediasi oleh tokoh masyarakat dan aparat pemerintah setempat. Kedua, Kasus yang harus diangkat ke ranah hukum formal, yaitu kasus yang berdampak sangat buruk terhadap korban. Penyelesaian kasus berbasis 2

BAB I. PENDAHULUAN

masyarakat, memang merupakan model penyelesaian kasus yang lebih baik karena melibatkan berbagai unsur yang ada dalam masyarakat. Penyelesaian kasus KDRT juga diharapkan dapat diharmonisasikan dengan budaya yang ada di NTT yang nota bene system kekeluargaannya masih sangat tinggi. Jika kasus bisa diselesaikan secara kekeluaragaan lebih baik, namun untuk kasus berulang dan mermbawa dampak yang fatal bagi korban tidak bisa ditolerir. (Kupang, 2 Februari 2011) AKP. Johanis Kristian Tanau (Kasat Reskrim Polres Kupang) Salah satu semangat UU PKDRT adalah pelibatan berbagai elemen masyarakat dalam upaya penyelesaian kasus KDRT menuju keharmonisan. Oleh karena itu, dalam menangani kasus KDRT pihak kepolisian juga mengharapkan ada partisipasi masyarakat. Di wilayah kerja Polres Kupang, bentuk kasus KDRT yang mendominasi dalam beberapa tahun terakhir adalah kasus penganiayaan. Dalam penanganan kasus KDRT, kami menjalankan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Apabila ada pihak yang sudah melaporkan ke kepolisian dan ingin berdamai, maka akan dituangkan dalam surat perjanjian damai yang ditandatangani oleh korban dan pelaku serta disaksikan oleh saksi-saksi dari kedua belah pihak. Pada sisi lain, pihak kepolisian juga sangat dilematis ketika menangani kasus KDRT. Contohnya, ketika pihak kepolisian diminta oleh salah satu pihak baik pelaku maupun korban untuk memfasilitasi agar terjadinya perdamaian diantara mereka, maka oleh pihak yang lain sering menuduh bahwa kepolisian selalu menghambat proses penegakan hukum dan berbelit-belit dalam penanganan kasus. Bahkan ada juga yang menuduh pihak kepolisian sudah menerima uang sogokan dari pihak tertentu. Bertolak dari pengalaman yang demikian, maka kami berharap pelaporkan kasus KDRT ke pihak kepolisian adalah pilihan terkahir. Bagi pihak kepolisian, apalah artinya kasus KDRT di proses sampai ke pengadilan, namun ini akan memperburuk hubungan kekeluargaan dalam lingkup rumah tangga? apalah artinya kalau pelaku di vonis bersalah dengan hukuman penjara atau denda sedangkan korban dan pihak lain dalam lingkup rumah tangga akan terlantar? (Kupang, 1 Maret 2011). 3

BAB I. PENDAHULUAN

Prof. Mia Noach, MA.Phd (Dewan Penasehat LPA NTT, Periode 2011-2014) KDRT dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan suatu tindak kejahatan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusian. Penyelesaian kasus kekerasan dalam rumah tangga melalui penyelesaian alternatif pada dasarnya dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan. Penyelesaian alternatif ini lebih menyentuh hati dari para pihak yang mengalami persoalan kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan, apabila diselesaikan melalui proses hukum formal, hasilnya kurang maksimal. Penyelesaian alternatif kasus kekerasan dalam rumah tangga ini dapat melibatkan banyak pihak termasuk para penegak hukum. Keterlibatan dari para tokoh agama sangat penting dalam penyelesaian ini, untuk itu peran lembaga agama seperti gereja sangat perlu ditingkatkan. (Kupang, 18 Desember 2011). Winston Rondo, SPt (Direktur CIS Timor) Dalam hal penyelesaian suatu kasus, bisanya terdapat 2 (dua) paradigma yang bisa saling melengkapi: Pertama, realiatas patriarki yang kuat yanag menjadi sukma dari kasus KDRT. Kedua, politik afirmasi yang melahirkan UU PKDRT. Dengan membawa kasus ke proses hukum formal diharapkan dapat memberikan efek jera terhadap pelaku, tapi pada prakteknya justru berdampak pada pemisahan keluarga. Ini yang tidak kita harapkan. Pada satu sisi kita harus memastikan perlindungan terhadap perempuan dan anak, namun pada sisi lainnya keluarga harus tetap utuh dan menjadi sumber teladan. Pendekatan penyelesaian alternative kasus KDRT ini bisa mendorong kesadaran bersama tentang hak perempuan dan pendekatan yang dirumuskan ini sangat sarat dengan konteks lokal atau sesuai dengan budaya setempat dan juga agama. Selama ini orang masih mengganggap persoalan KDRT sebagai persoalan privat, namun dengan pendekatan ini mendorong berfungsinya mekanisme komunal yang sudah ada di masyarakat. 4

BAB I. PENDAHULUAN

Mekanisme komunal ini bukan saja menyadarkan pelaku tetapi juga memberi perlindungan terhadap perempuan dan yang terpenting member kesempatan kedua bagi keluarga untuk melakukan pemulihan. Metode ini harus terus dikembangkan dan tentunya tidak dapat diberlakukan sama pada konteks budaya yang berbeda. (Kupang, 18 Februari 2011).

B. KDRT DALAM PERSPEKTIF YURIDIS


Oleh: Yorhan Yohanis Nome, SH.MHum - Dosen FH Univ. Nusa Cendana

Prolog ekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan ujung dari relasi dalam rumah tangga yang kurang harmonis. Terutama relasi suamiisteri yang selalu dalam keadaan kon flik. Dalam perspektif teori sosial, paling tidak terdapat 4 (empat) pola relasi suami-isteri yang sedang berada dalam konflik. Stephen K. Sanderson (2003), mengungkapkan pola interaksi suami-isteri yang sedang berada dalam keadaan konflik dalam empat pola yakni: Pola eskalasi, Pola invalidasi, Pola Menarik diri dan menghindar, serta pola Inteprestasi Negatif. Indikasi berakhirnya relasi suami-isteri, dalam perspektif teori sosial dilihat dalam 4 (empat) tahap. Keempat tahap ini, sesungguhnya merupakan sebuah model pengakhiran relasi (relationship filtering), sebagaimana diidentifikasikan oleh Knapp dalam Alo Liliweri (2001), yakni: Tahap diferensiasi (deferentiating), Tahap tersendat-sendat (stagnasting), Tahap saling menjauh ( avoiding ) dan Tahap pengakhiran relasi ( terminating ) Dalam konteks sosial, KDRT terkonstruksi selain karena adanya pengaturan dalam peraturan perundang-undangan, namun juga terkonstruksi dari nilai-nilai yang dijadikan rujukan dalam suatu masyarakat. Dalam konteks rujukan nilai inilah terbangun perspektif masyarakat tentang hakikat dan martabat kemanusiaan atau yang dikenal sebagai hak asasi manusia (HAM). KDRT: Konstruksi Perundang-undangan Isu tentang KDRT mulai merebak di Indonesia seiring dengan diratifikasinya Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination 5

BAB I. PENDAHULUAN

Against Women (CEDAW) dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. CEDAW, mengintrodusir adanya 5 (lima) bentuk ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender terhadap perempuan, yakni: (1). Adanya stereotype, pelabelan bahwa perempuan sebagai warga kelas dua; (2). Marjinalisasi, peminggiran terhadap perempuan dalam pengambilan keputusan; (3). Subor dinasi, perempuan ditempatkan pada peran yang tidak penting; (4). Doble burden, adanya beban ganda pada perempuan dalam peran publik sekaligus peran domestik; dan (5). Adanya kekerasan dalam rumah tangga. Sebagai sebuah konvensi, CEDAW hanya mempunyai daya ikat secara moral dan tidak mempunyai daya paksa secara normatif. Oleh karena itu, kemudian dikeluarkanlah UU PKDRT. Melalui UU PKDRT, kelima bentuk ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dapat diberi kekuatan hukum yang mengikat sekaligus mempunyai daya paksa secara normatif. UU PKDRT, menempatkan perempuan sebagai kelompok rentan yang paling banyak mengalami KDRT. Untuk itu, UU PKDRT hadir dalam kerangka memberikan perlindungan secara khusus bagi kaum perempuan. Dalam konteks ini, bukan berarti kelompok laki-laki dan anak-anak tidak mendapat perhatian secara serius. UU PKDRT tetap menempatkan kedua kelompok dimaksud juga sebagai pihak yang mungkin saja menjadi korban KDRT, namun dari fenomena yang ada kelompok perempuan yang paling banyak menderita sebagai korban KDRT. Dicantumkannya ketentuan Pasal 1 Angka 2 UU PKDRT merupakan wujud tanggung jawab negara dalam melaksanakan amanat Alinea IV Pembukaan UUD 1945. Secara sederhana, Alinea IV Pembukaan UUD 1945 memberikan 4 (empat) kata kunci yang harus menjadi fungsi negara, yakni: (1). Melindungi, (2). Mensejahterahkan, (3). Mencerdaskan, dan (4). Mendamaikan kehidupan rakyat. Keempat kata kunci ini lebih dikenal sebagai amanat penderitaan rakyat (Ampera). Dalam konteks sub kalimat, jaminan negara, maka yang dimaksud di sini adalah jaminan dari Pemerintah sebagai penerima mandat Ampera, dan juga dari rakyat sebagai pemberi mandat Ampera, atau dalam UU 6

BAB I. PENDAHULUAN

PKDRT disebut sebagai partisipan. Dengan kata lain, UU PKDRT menghendaki adanya jaminan baik dari Pemerintah maupun rakyat agar: (1). KDRT dicegah, (2). pelaku KDRT ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku, dan (3). korban KDRT terlindungi. Berangkat dari pemikiran tentang KDRT sebagai salah satu kejahatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, maka Pasal 3 UU PKDRT menggariskan bahwa penghapusan KDRT dilaksanakan berasaskan: (1). penghormatan HAM, (2). keadilan dan kesetaraan gender, (3). non diskriminasi, dan (4). perlindungan korban. Hadirnya UU PKDRT, tidak saja melihat rumah tangga sebagai relasi suami-isteri semata, namun memperluas relasi tersebut. UU PKDRT pertama-tama memberikan batasan lingkup rumah tangga pada konsep keluarga inti atau keluarga batih (nuclear family). Artinya, sebuah rumah tangga terbentuk dari suami, isteri, dan anak. Untuk konteks keluarga inti, pendekatan domisili tidak berlaku. Kalaupun mereka tidak menetap dalam satu rumah, namun masih terikat dalam perkawinan yang sah, maka konsep rumah tangga mencakup mereka. Selanjut UU PKDRT memperluas lingkup rumah tangga menjadi keluarga luas (extended family). Artinya, sebuah rumah tangga tidak saja meliputi keluarga inti saja, tapi juga meliputi orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga batih karena: (1). Hubungan Darah, (2). Perkawinan, (3). Persusuan, (4). Pengasuhan, dan (5). Perwalian. Untuk kelima kategori ini, pendekatan domisili digunakan. Mereka baru bisa tercakup dalam konsep rumah tangga, kalau menetap dalam satu rumah. UU PKDRT, dengan menggunakan pendekatan domisili, kemudian memasukan pembatu rumah tangga ke dalam lingkup rumah tangga. Syaratnya adalah: (1). pembatu rumah tangga tersebut tinggal menetap dalam rumah, dan (2). sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Dalam konteks kekerasan, beberapa pasal mendefinisikan kekerasan sebagai berikut: Pasal 6 UU PKDRT, memberi penjelasan bahwa kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Berkaitan dengan ketentuan ini, terlihat perbedaan mendasar dengan yang diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). UU PKDRT menyatukan 17 (tujuh belas) Pasal dalam KUHP ke dalam Pasal 44 ayat (3) 7

BAB I. PENDAHULUAN

UU PKDRT, dan 7 (tujuh) Pasal dalam KUHP ke dalam Pasal 44 ayat (1), dan ayat (2) UU PKDRT. Pasal 7 UU PKDRT menjelaskan bahwa kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Pasal 8 UU PKDRT menjelaskan bahwa kekerasan seksual meliputi: (a). pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut, dan (b). pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Pasal 9 UU PKDRT memberi kriteria penelantaran rumah tangga, yaitu: (1). menelantarkan orang yang menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan, dan (2). mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah. KDRT: Perspektif HAM Indonesia sesungguhnya semenjak berdiri, telah secara serius menetapkan HAM sebagai bagian dari kontrak sosial secara konstitusional. Paling tidak Alinea I Pembukaan UUD 1945, diawali dengan kalimat deklaratif, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, Artinya, Negara Indonesia di dirikan atas kesadaran akan pentingnya HAM. Bahkan pada Amandemen II UUD 1945, ditambahkan satu bab dengan sepuluh pasal yang berisi sepuluh kelompok hak dasar yang merupakan perumpunan yang dikenal dalam HAM. Perspektif Ham yang dikembangkan di Indonesia, secara operasional telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM). UU HAM mengelompokkan perangkat hak dimaksud atas 10 (sepuluh) hak dasar, yakni: (1). hak untuk hidup, (2). hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan, (3). hak mengembangkan diri, (4). hak memperoleh keadilan, (5). hak atas kebebasan pribadi, (6). hak atas rasa aman, (7). hak atas kesejahteraan, (8). hak turut serta dalam 8

BAB I. PENDAHULUAN

pemerintahan, (9). hak wanita, dan (10) hak anak. Kesepuluh kelompok hak dasar tersebut, melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya. Artinya, tidak diberikan, diwariskan, atau tidak dapat dicabut oleh siapapun. Dalam konteks ini, hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan, merupakan hak yang melekat pada setiap manusia dan merupakan karunia dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang. Dengan menyebut urut-urutan negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang, menunjukkan bahwa UU HAM menempatkannya sesuai dengan siklus tanggung jawab dalam kehidupan bernegara. Tanggung jawab utama dan pertama ada pada negara. Bentuk tanggung jawab tersebut diwujudkan dalam pengaturan hukum. Kemudian hukum dijalankan oleh pemerintah dan setiap orang. Pemerintah sebagai aktor yang mengoperasikan kebijakan negara dalam bentuk pengaturan hukum, telah banyak melakukan upaya ke arah pengakuan, penghormatan, pemenuhan, penyebarluasan, dan penegakan (P5) HAM. Dalam konteks penghapusan KDRT, ada sejumlah kebijakan yang telah dilakukan, yakni: Pertama, Meratifikasi berbagai instrumen HAM Internasional, seperti: Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984; Rekomendasi Umum Nomor 19 tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Sidang Ke-11 Tahun 1992 Komite PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan; Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan tanggal 20 Desember 1993. Kedua, Mengeluarkan sejumlah instrumen HAM nasional, seperti: UU HAM; UU PKDRT; Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga; Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Berkaitan dengan KDRT sebagai tindak pidana, diatur dalam Pasal 44-53 UU PKDRT. Ketentuan pidana dalam UU PKDRT memperlihatkan sejumlah aspek yang menarik, yakni: Pertama, Dari segi cara penjatuhan pidana (strafmodus), menggunakan stelsel alternatif penjara atau denda. 9

BAB I. PENDAHULUAN

Dengan adanya stelsel alternatif penjara atau denda sebagai pidana pokok, maka penuntut umum wajib menuntut secara alternatif, demikian juga hakim dalam menjatuhkan pidana kepada pelaku wajib menjatuhkannya secara alternatif pula. Penuntut umum tidak boleh hanya menuntut dengan pidana tunggal, hakim juga tidak boleh menjatuhkan pidana tunggal. Kalau dalam kenyataannya penerapan hanya menggunakan pidana tunggal, maka jelas penegak hukum telah salah menerapkan hukum. Dengan kata lain, penegakan hukum yang dilakukan dengan cara yang melanggar hukum. Dengan adanya stelsel pidana alternatif ini, sejalan dengan tujuan utama dari UU PKDRT, yakni tetap menjaga keharmonisan rumah tangga. Selain itu, dalam bilangan teori hukum pidana, nampaknya pembentuk UU PKDRT menganut aliran abolisionism. Aliran yang menempatkan pidana penjara sebagai ultimum remidium atau penghukuman paling akhir yang digunakan. Paling tidak selama lembaga pemasyarakatan belum mampu memainkan fungsinya sebagai pelembagaan nilai-nilai kemanusiaan (HAM), maka tidak ada dasar pembenaran pelaku tindak pidana dipidana dengan pidana penjara. Oleh karena sebagaimana adagium umum dalam pemikiran pemidanaan, yakni negara tidak berhak untuk membuat seseorang lebih buruk kondisinya, jika dibandingkan dengan sebelum menjalani pidana penjara. Kedua, Dari segi bobot ancaman pidana ( strafmaat ), menggunakan stelsel ancaman minimum umum dan ancaman maksimum khusus. Dalam bilangan hukum pidana, ancaman pidana minimum umum untuk pidana penjara adalah 1 (satu) hari, dan ancaman minimum umum untuk pidana denda adalah Rp.1,- (satu rupiah). Dalam artian, ketika pasal pidana yang ada hanya menyebut ancaman minimum saja, maka harus dibaca bahwa ancaman minimumnya dalam bobot seperti ini. Untuk itu, ketika penjatuhan pidananya dilakukan antara ancaman minimum umum dan ancaman maksimum umum, maka harus dilakukan secara paralel antara pidana penjara atau pidana denda. Untuk ancaman pidana maksimum, masing-masing pasal dalam UU PKDRT mengaturnya secara khusus. Artinya, selain yang sudah ditetapkan, penegak hukum tidak boleh menerapkan yang lain. Penegak hukum hanya diberi ruang untuk menerapkan pidana dari ancaman minimum umum hingga 10

BAB I. PENDAHULUAN

ancaman maksimum khusus pada pasal-per pasal. Ketiga, Dari segi jenis pidana (strafsoort), menggunakan stelsel pidana pokok dan pidana tambahan. UU PKDRT juga memberikan ruang bagi penegak hukum untuk menerapkan pidana tambahan. Pasal 50 UU PKDRT, memberi kewenangan kepada hakim untuk menjatuhkan pidana tambahan berupa: (a). pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu dari perlau, dan (b). penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah pengawasan lembaga tertentu. Nampaknya pembentuk UU PKDRT melihat bahwa hanya dengan pidana pokok, permasalahan KDRT tidak dapat tertanggulangi. Untuk pidana tambahan pembatasan ruang gerak pelaku, menjadi sangat penting ketika pelaku menjalani pidana alternatifnya dengan pidana denda. Artinya, ketika dijatuhkan pidana alternatif penjara atau denda, kemudian terpidana (palaku) memilih untuk menjalani pidana denda. Pembatasan ruang gerak pelaku dalam jarak dan waktu tertentu menjadi aspek yang sangat penting untuk melindungi korban.Selama proses pembatasan ruang gerak pelaku, semestinya upaya mediasi atau rekonsiliasi dapat dilakukan. Dapat juga pada masa ini, pelaku ditetapkan untuk menjalani pidana tambahan berupa mengikuti konseling. Dengan begitu akar permasalahan KDRT berupa komunikasi relasi suami-isteri (terutama) dapat ditanggulangi. KDRT sebagai salah satu bentuk pelanggaran terhadap HAM harus terus diupayakan untuk dihapus. Kontruksi penghapusan KDRT dilaksanakan dengan P5 HAM. Untuk aspek pengakuan, secara eksplisit telah diatur dalam konstitusi dan berbagai instrumen operasional. Aspek yang bermasalah atau yang masih harus dicermati adalah aspek penghormatan, pemenuhan, penyebarluasan, dan penegakan HAM. Keempat aspek ini berkaitan dengan implementasi dari HAM dalam rumah tangga. Khusus berkaitan dengan penegakan HAM dalam rumah tangga, maka berkaitan langsung dengan UU PKDRT. Untuk operasionalnya penegakan HAM yang diatur dalam UU PKDRT, secara teknis membutuhkan dukungan dari 3 (tiga) komponen, yakni: (1). komponen intrumen pelaksanaan, (2). komponen kelembagaan, dan (3). komponen sosial. Untuk kompenen instrument pelaksanaan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah 11

BAB I. PENDAHULUAN

Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PP No. 4/2006).PP No.4/2006, menjabarkan secara teknis sinergisitas lintas sektor ketika menangani korban KDRT. Dalam PP No.4/2006, juga mengatur tentang komponen kedua, yakni dukungan kelembagaan dalam penegakan UU PKDRT. Ada 3 (tiga) lembaga yang wajib dibentuk dalam kerangka ini, yakni: Pertama, Pusat Pelayanan Terpadu (PPT). Lembaga ini dapat dibentuk oleh pemerintah maupun oleh pihak non pemerintah. PPT, menjalankan fungsi menerima, dan menyelenggarakan penanganan korban KDRT pada saat krisis.Penanganan dilaksanakan terutama penangan kesehatan (fisik, seksual, dan psikologis). Proses penanganan krisis terhadap korban KDRT diselenggarakan selama 7 hari. Kedua, Ruang Pelayanan Khusus (RPK). Lembaga ini wajib dibentuk pada unit kepolisan setempat. RPK, kini bernama Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA), dibentuk khusus untuk menangani pelaku dan korban KDRT perempuan dan anak. UPPA, terdiri dari tenaga polisi wanita terlatih dengan perspektif HAM. Ketiga, Rumah Perlindungan Sosial (RPS). Lembaga ini dapat dibentuk oleh pemerintah maupun oleh pihak non pemerintah. RPS, menjalankan fungsi pendampingan sosial, pemulihan, pemberdayaan, pemulangan, dan reintegrasi sosial korban KDRT. Penyelenggaraan kegiatan pada RPS selama 90 (Sembilan puluh) hari. Dalam tenggang waktu tersebut, diharapkan korban telah pulih dan siap untuk dikembalikan ke dalam rumah tangganya serta menjalankan perannya seperti semula. Dalam perspektif HAM, satu terobosan yang dilakukan oleh UU PKDRT, yakni melalui ketentuan Pasal 55 UU PKDRT yang berbunyi: Sebagai salah satu alat bukti yang sah, keterangan sorang saksi korban saja sudah cukup untuk meembuktikan bahwa terdakwa bersalah, apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya. Berkaitan dengan alat bukti yang sah, Pasal Pasal 184 KUHAP, yakni: (1). Keterangan saksi, (2). Keterangan ahli, (3). Surat, (4). Petunjuk, dan 12

BAB I. PENDAHULUAN

(5). Keterangan terdakwa. Dalam hal ini, untuk kasus KDRT, salah satu alat bukti yang sah adalah kererangan saksi korban, yang digolongkan sebagai alat bukti yang sah pertama. Alat bukti yang lain dapat digunakan untuk mendukung alat bukti pertama tersebut. Namun untuk teknis perkara, sebaiknya alat bukti pertama didukung oleh alat bukti keterangan ahli atau alat bukti surat. Dengan begitu, kekuatan pembuktian dapat dikatakan sempurna untuk menyatakan secara sah dan meyakinkan terdakwa bersalah dalam proses pengadilan. Epilog UU PKDRT hadir untuk memberi P5 HAM bagi korban KDRT terutama perempuan. Dengan demikian, jelas bahwa UU PKDRT mempunyai perspketif HAM. Akan tetapi, ada sejumlah permasalahan teknis hukum yang harus direnungkan, yakni: Pertama, Dengan merelatifkan (menyatukan) sejumlah bentuk tindak pidana dalam KUHP menjadi kelompok kekerasan dalam UU PKDRT, membawa konsekuensi yuridis pada hilangnya spesifikasi tindak pidana tersebut. Semakin relatif suatu tindak pidana, maka makin luas dan makin membuka ruang bagi penegak hukum untuk melakukan penafsiran terhadap tindak pidana tersebut. Sebaliknya, semakin spesifik suatu tindak pidana, maka makin mempermudah penerapan tindak pidana tersebut pada kasus nyata. Misalnya, untuk kasus kekerasan seksual, KUHP membedakan pada 3 (tiga) rumpun besar, yakni: (1). perkosaan, (2). percabulan, dan (3). perzinahan. Untuk perkosaan dan percabulan, KUHP masih membagi lagi dalam sejumlah spesifikasi lagi. Ssementara UU PKDRT menyatukan semuanya dalam bentuk kekerasan seksual. Kedua, Adanya standar penanganan tindak pidana secara berbeda antara UU PKDRT dengan KUHP meskipun terhadap tindak pidana yang bersesuaian atau bersebanding, hanya karena kualifikasi lingkup rumah tangga. Untuk korban yang tidak tergolong dalam lingkup rumah tangga, maka UU PKDRT tidak dapat diberlakukan. Artinya, KUHP diberlakukan. Sementara jelas logika antara UU PKDRT dengan KUHP sangat berbeda. Misalnya, dalam kekerasan seksual, UU PKDRT mematok logika perlindungan harkat dan martabat korban sebagai manusia. Sementara KUHP dengan menempatkannya sebagai kejahatan terhadap kesusilaan, maka perkosaan, 13

BAB I. PENDAHULUAN

percabulan, dan perzinahan lebih pada upaya perlindungan hak reproduksi seorang perempuan secara sehat. Belum lagi sistem pembuktian yang digunakan oleh UU PKDRT dan KUHP yang merujuk pada KUHAP jelas berbeda. Bagi UU PKDRT cukup dengan keterangan saksi korban ditambah satu alat bukti yang sah lainnya terdakwa dapat dipersalahkan. Sementara KUHP dan KUHAP mensyaratkan dua alat bukti yang sah di luar keterangan saksi korban. C. ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA: Kembalinya Anak Terhilang..!!
Oleh: Deddy R. Ch. Manafe, SH.MHum Dosen FH Univ. Nusa Cendana

Prolog lternatif penyelesaian sengketa (APS), merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU No.30/1999). Pasal 1 angka 10 UU No.30/1999 menyatakan bahwa, Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli . Dari pengertian dimaksud, ada sejumlah aspek yang perlu digarisbawahi, yakni: (1). APS berfungsi sebagai lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat, (2). APS diawali oleh kesepakatan para pihak menyangkut prosedur penyelesaiannya, (3). penyelesaian itu di lakukan di luar pengadilan, dan (4). cara yang digunakan berupa konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Dengan demikian, APS hadir sebagai pilihan forum penyelesaian bagi para pihak yang bersengketa atau berbeda pendapat, selain forum pengadilan. Selanjutnya, Alinea IX Penjelasan Umum UU No.30/1999 menulis bahwa APS merupakan terjemahan dari alternative dispute resolution (ADR). Dari sinilah, kemudian ketika menyebut APS, seolah-olah merupakan suatu lembaga asing yang diintrodusir ke dalam sistem hukum Indonesia. Apalagi, lima cara kerja APS (konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli) disebut secara eksplisit dalam pengertian APS, sehingga 14

BAB I. PENDAHULUAN

secara praktis kemudian muncul pula anggapan bahwa dalam APS hanya mengenal kelima cara tersebut. APS sebagai suatu lembaga hukum secara formil pada mulanya berkembang di kalangan pelaku bisnis di Amerika Serikat (semenjak Tahun 1960-an). Lahirnya forum alternatif selain pengadilan ini, disebabkan oleh ketidakmampuan lembaga pengadilan untuk menjawab perasaan keadilan yang hidup di kalangan pelaku bisnis tersebut. Kekakuan prosedural, tidak tuntasnya permasalahan, lamanya waktu penyelesaian, serta mahalnya biaya pengadilan menjadi alasan mendasar sehingga para pelaku bisnis menciptakan forum alternatif selain pengadilan dengan fungsi pengadilan. Pada konteks Indonesia APS bukanlah merupakan hal yang baru, hal ini dapat dilihat dalam catatan sejarah yang berkaitan dengan hukum dan pengadilan. Menurut W. E. Sutterheim, Pada jaman Majapahit, misalnya, ketika Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada berkuasa, telah diketemukan istilah dhyaksa dan adhyaksa untuk menyebut pejabat-pejabat di pengadilan. Dhyaksa merupakan pejabat yang bertugas untuk memeriksa, mengadili, dan memutus setiap perkara yang diajukan ke pengadilan. Sementara Adhyaksa merupakan pejabat yang bertugas untuk menyerahkan suatu perkara ke pengadilan. Menurut Muhammad Yamin, hal yang sama juga ditemukan di kerajaan Singosari. Dalam hal ini, seorang Prabu selalu didampingi oleh sebuah dewan yang bernama Dharmadhyaksa. Dewan Dharmadhyaksa ini pada intinya bertugas untuk: (1). melakukan pengawasan tertinggi terhadap kekayaan suci, (2). melakukan pengawasan tertinggi terhadap urusan pengadilan, dan (3). sebagai ketua pengadilan. Dalam hal ini, Dharmadhyaksa selain melaksanakan fungsi keagamaan (Hindu dan Budha), namun juga melaksanakan fungsi pengadilan. Kondisi yang sama masih berlanjut sampai munculnya kesultanan-kesultanan Islam di Jawa. Secara substansi menggunakan hukum syariah, namun secara struktur masih menggunakan struktur peninggalan kerajaan Hindu dan Budha. (Kusumadi Poedjosewojo, 1971).

15

BAB I. PENDAHULUAN

APS dan Keadilan: Aspek Nilai Sengketa dalam literatur sosiologi, dikenal dengan istilah konflik adalah sesuatu yang alami dan tak terhindarkan. Sengketa merupakan konsekuensi logis dari manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial yang memiliki perbedaan perspektif tentang hidup dan permasalahannya baik karena sejarah dan karakter yang unik, perbedaan gender, pengalaman dan pandangan serta nilai yang memandu pikiran, perilaku dan motivasi dalam mengambil tindakan. Karenanya, sengketa akan ada selama manusia ada. Selain dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebanyakan sengketa yang terjadi, sebenarnya sengketa memberikan manfaat positif bagi manusia, antara lain: (1). membantu menyadarkan manusia bahwa ada masalah, (2). mendorong manusia ke arah perubahan yang diperlukan, (3) membangun kepribadian, (4). menambah kepedulian, dan (5). mendorong kedewasaan psikologis. Dalam kerangka sebuah intervensi, Fisher, dkk (2001), mengidentifikasikan 4 (empat) tipe konflik yang dilihat dari perilaku dan sasaran. Secara sederhana, identifikasi dimaksud dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Tipe Konflik. SASARAN
P E R I L A K U

PERILAKU YANG SELARAS

TANPA KONFLIK

KONFLIK LATEN

PERILAKU YANG BERTENTANGAN

KONFLIK PERMUKAAN

KONFLIK TEBUKA

Keterangan: 1. TANPA KONFLIK: dalam kesan umum adalah lebih baik. Namun, kondisi ini bisa terjadi jika setiap kelompok atau individu yang hidup damai harus mampu memanfaatkan konflik perilaku dan tujuan (kepentingan) dan mengelolanya secara kreatif. 2. KONFLIK LATEN: sifatnya tersembunyi, perlu diangkat ke permukaan sehingga dapat ditangani secara efektif. 3. KONFLIK DI PERMUKAAN: memiliki akar yang dangkal atau tidak berakar dan muncul hanya karena kesalahpahaman mengenai sasaran yang dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi. 4. KONFLIK TERBUKA: adalah yang berakar dalam dan sangat nyata, kompleks dan memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan dampaknya.
Sumber: Simon Fisher, dkk, Mengelola Konflik: Ketrampilan dan Strategi Bertindak, Penerbit The British Council-Indonesia, Jakarta, 2001, Hal. 5-6.

16

BAB I. PENDAHULUAN

Dari pemetaan konflik atau sengketa tersebut, terlihat kalau setiap sengketa yang terjadi dalam masyarakat sesungguhnya mempunyai nilai positif. Paling tidak, masyarakat kemudian dapat melakukan: (1). reproduksi nilai kehidupan sosial, (2). pemulihan relasi sosial dari para pihak yang bersengketa, (3). media belajar dan penguatan norma, serta (4). pengukuhan otoritas struktur sosial. Untuk aspek pertama, ketika forum APS beroperasi dalam penanganan kasus nyata, maka pada saat itu upaya untuk menggali dan mentransformasi nilai-nilai sosial terjadi. Nilai sosial yang digali adalah nilai yang diturunkan dari para leluhur dan ditafsirkan secara kontekstual atau diterjemahkan dalam kebutuhan kekinian. Untuk aspek kedua, merujuk pada hasil akhir dari cara kerja APS, yakni adanya kesepakatan para pihak. Cara kerja APS, harus diawali dengan kesepakatan para pihak mengenai cara penyelesaian sengketa, dan diakhiri dengan kesepakatan tentang bentuk penyelesaian sengketa tersebut. Dalam hal ini, kesepakatan para pihak merupakan mekanisme pemulihan relasi sosial di antara keduanya. Untuk itu, APS hadir sebagai forum guna pemulihan relasi sosial dimaksud. Intinya ialah dalam forum APS tidak dikenal upaya menemukan kebenaran dan kesalahan guna penghukuman, seperti yang diterapkan dalam forum pengadilan negara. Untuk aspek ketiga, setiap kali forum APS dioperasikan untuk menangani kasus nyata, maka itu menjadi momentum bagi masyarakat untuk belajar dan penguatan terhadap norma yang mereka rujuk. Dalam konteks ini, jika Hukum Adat dijadikan rujukan, maka jelas bahwa forum APS menjadi media yang efektif untuk belajar tentang Hukum Adat serta masyarakat mengukuhkan kembali aturan tersebut masih berlaku dan menjawab perasaan keadilan mereka. Untuk aspek terakhir, berkaitan dengan legitimasi sosiologis dari struktur sosial dalam suatu masyarakat. Hal yang lumrah bahwa dalam kesatuan masyarakat, terdapat struktur yang mengoperasikannya. Dalam bahasa sehari-hari, struktur sosial terbaca sebagai orang-orang yang dianggap mampu atau cakap atau dituakan untuk mengoperasikan norma yang menjadi rujukan bagi perilaku hidup sehari-hari. Oleh karena itu, ketika anggota masyarakat yang bersengketa sepakat membawa kasusnya untuk 17

BAB I. PENDAHULUAN

ditangani para tetua tersebut, maka itu merupakan pengakuan sekaligus pengukuhan terhadap otoritas dari sturktur sosial yang ada. Dari gambaran di atas, terlihat jelas bahwa forum APS, merupakan cerminan dari pemahaman para aktor yang terlibat akan hak dan kewajibannya. Dalam konteks ini, para aktor memahami perannya dalam kehidupan bermasyarakat ketika menghadapi sengketa. Pemahaman akan hak dan kewajiban yang menggiring pada kesadaran akan peran dalam kehidupan bermasyarakat, menunjukkan bahwa para aktor tetap memegang teguh nilai keadilan. Apalagi, ketika keadilan dimaknai sebagai keseimbangan antara hak dan kewajiban. Napaktilas APS: Aspek Norma APS sebagai forum penyelesaian sengketa di luar pengadilan mendapat bentuk formilnya, pertama kali oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan (UU No.22/1957, kini sudah mengalami perubahan beberapa kali). Dalam UU No.22/1957, diatur 3 (tiga) bentuk APS, yakni: (1). mediasi, (2). konsiliasi, dan (3). arbitrase. Dengan demikian, dari segi umur, forum APS di Indonesia bahkan lebih tua dari di Amerika Serikat dan Singapura. Akan tetapi, forum APS ini hanya berlaku di kalangan perburuhan. Forum APS yang lebih luas dan komprehensif menyelesaikan sengketa dalam kehidupan masyarakat adalah HPD. Pasal 88 UU No.5/1974 menyatakan bahwa, Pengaturan tentang Pemerintahan Desa ditetapkan dengan Undangundang. Atas perintah inilah kemudian keluar UU No.5/1979. Khusus menyangkut HPD, diatur dalam Pasal 10 ayat (1) UU No.5/1979 yang berbunyi : Kepala Desa menjalankan hak, wewenang, dan kewajiban pimpinan pemerintahan Desa yaitu menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dan merupakan penyelenggara dan penanggungjawab utama di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan Desa, urusan pemerintahan umum termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan menumbuhkan serta mengembangkan jiwa gotong royong masyarakat sebagai sendi utama pelaksanaan pemerintahan Desa. 18

BAB I. PENDAHULUAN

Kemudian Penjelasan Pasal 10 ayat (1) UU No.5/1979 menegaskan bahwa : Dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan jiwa gotong royong masyarakat Desa, Kepala Desa antara lain melakukan usaha pemantapan koordinasi melalui Lembaga Sosial Desa, Rukun Tetangga, Rukun Warga, dan Lembagalembaga kemasyarakatan lainnya yang ada di Desa. Dalam rangka pelaksanaan tugasnya Kepala Desa di bidang ketentraman dan ketertiban dapat mendamaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi di Desa. Pertanggungjawaban Kepala Desa kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II meliputi pelaksanaan urusan-urusan pemerintahan dan urusan pembantuan maupun urusan-urusan rumah tangga Desa. Setelah Kepala Desa memberikan pertanggungjawaban kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II, selanjutnya menyampaikan keterangan pertanggungjawaban kepada Lembaga Musyawarah Desa. Dari ketentuan tersebut, eksplisit ditulis bahwa : Dalam rangka pelaksanaan tugasnya Kepala Desa di bidang ketentraman dan ketertiban dapat mendamaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi di Desa. Pengaturan seperti ini kemudian memunculkan istilah Hakim Perdamaian Desa (HPD) sebagai salah satu fungsi yang melekat pada Kepala Desa. Dalam konteks ini, forum HPD jelas merupakan fungsi APS yang secara formil dijalankan oleh Kepala Desa. Forum HPD dibangun dari logika perdamaian. Logika ini merupakan penguatan dari logika penyelesaian sengketa dalam Hukum Adat, yakni pemulihan relasi sosial dengan hukum adat sebagai substansi atau rujukannya. HPD sebagai forum penyelesaian sengketa non pengadilan, telah mengakar dalam praktek kehidupan bermasyarakat di tingkat Desa. Paling tidak, kurang lebih 20 (dua puluh) tahun forum ini dipraktekkan. Di era reformasi keluarlah UU No.22/1999, ternyata forum HPD dihilangkan dalam fungsi Kepala Desa dan forum HPD bersalin nama menjadi forum APS dalam UU No.30/1999. Proses ini ternyata relatif tidak tersosialisasikan dengan baik. Oleh karena itu, dalam prakteknya seolah-olah fungsi Kepala Desa 19

BAB I. PENDAHULUAN

yang mengoperasikan forum HPD ala UU No.5/1979 telah dihilangkan. Padahal kalau didalami, maka UU No.30/1999, justru makin memperluas fungsi HPD yang tak hanya melekat pada Kepala Desa saja, namun juga meliputi berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Secara garis besar, Pasal 6 UU No.30/1999 mengatur mekanisme teknis APS sebagai berikut: (1). penyelesaian sengketa melalui forum APS didasarkan pada itikad baik untuk mengenyampingkan mekanisme penyelesaian melalui pengadilan, (2). waktu penyelesaian sengketa melalui forum APS paling lama 14 (empat belas) hari, dan hasilnya dituangkan dalam berita acara, (3). forum APS dapat menggunakan jasa penasehat ahli, (4). forum APS dapat menunjuk mediator lain untuk ikut menyelesaikan sengketa yang ditangani, (5). setelah penunjukan mediator, maka dalam waktu 7 (tujuh) hari proses penyelesaian sengketa dimulai, (6). forum APS menjamin kerahasiaan aspek pribadi para pihak, dan dalam waktu 30 (tiga) puluh hari berita acara penyelesaian sudah harus ditandatangani para pihak, (7). berita acara penyelesaian sengketa wajib didaftarkan ke pengadilan negeri setempat paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah penandatanganan, dan (8). kesepakatan yang ada dalam berita acara penyelesaian wajib dilaksanakan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pendaftaran. Ketika Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU No.23/2004) diberlakukan, maka peran forum APS menjadi kian penting. Pasal 4 UU No.23/2004 menyatakan bahwa : Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga bertujuan: Pertama, mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga; Kedua, melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga; Ketiga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga; dan Keempat, memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. Dari pengaturan tersebut, terlihat bahwa UU No.23/2004 hadir bukan untuk menghukum pelaku kekerasan dalam rumah tangga (terutama dalam relasi suami-isteri), namun dalam kerangka memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. Oleh karena itu, penyelesaian luar pengadilan kasus kekerasan dalam rumah tangga dalam banyak kasus 20

BAB I. PENDAHULUAN

(kecuali seksual fisik, penganiayaan berat, dan pembunuhan/jiwa), justru lebih efektif ketimbang pelaku dikirim ke pengadilan dan menerima pidana penjara. Bentuk-Bentuk APS: Aspek Perilaku Sebagaimana yang tertera pada Pasal 1 angka 10 UU No.30/1999 mengatur 5 (lima) cara atau bentuk APS, yakni: (1). konsultasi, (2). negosiasi, (3). mediasi, (4). konsiliasi, atau (5). penilaian ahli. Dengan demikian, secara formil kelima cara inilah yang dikenal dalam APS. Sayangnya, UU No.30/1999 tidak merinci mekanisme operasional dari kelima bentuk APS tersebut. Selain itu pula, tidak dijelaskan tentang keterkaitan dari kelima bentuk APS ini. Minimal harus dijelaskan bentuk-bentuk APS dapat atau tidak disandingkan satu dengan yang lainnya atau hanya dilaksanakan secara mandiri ketika menghadapi sengketa. Dengan tidak diaturnya aspek-aspek tersebut, maka pada hakikatnya tidak ada larangan untuk: (1). menerapkan secara mandiri bentuk-bentuk APS, (2). menerapkan secara saling melengkapi bentuk-bentuk APS, dan (3). adanya kebebasan bagi para pihak yang bersengketa maupun pihak ketiga dalam memilih bentuk APS yang digunakan guna penyelesaian sengketa yang dihadapi. Secara sederhana, masing-masing bentuk APS dan cara kerjanya dapat dilihat pada Tabel 2.

BENTUK
Konsultasi Negosiasi Mediasi Konsiliasi Penilaian Ahli

Tabel 2. Cara Kerja APS INISIATIF KETERLIBATAN FUNGSI


Para Pihak Para Pihak Para Pihak Salah Satu Pihak Para Pihak Tidak Terlibat Tidak Terlibat Tidak Terlibat Tidak Terlibat Tidak Terlibat Sumber Informasi Juru Runding

PROSES
Dasar Penyelesaian Memfasilitasi Proses

HASIL
Sepakat Para Pihak

Juru Melaksanakan Damai aProses Mengakui Menemukan Kekeliruan Jalan Penyelesaian Dasar Sumber Informasi Pembenaran

Sumber : Diolah dari Bahan Pustaka

21

BAB I. PENDAHULUAN

APS: Jawaban Ketidakmampuan Pengadilan? Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU No. 4/2004) menyatakan bahwa, Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Ketentuan ini dengan jelas menegaskan kalau proses pengadilan (salah satu sub sistem dalam sistem peradilan), wajib diselenggarakan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Dalam penjelasannya, dinyatakan bahwa ketentuan ini dimaksudkan untuk memenuhi harapan para pencari keadilan. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan sederhana, adalah pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan cara yang efisien dan efektif. Kemudian untuk aspek biaya ringan, dijelaskan mengandung pengertian biaya yang dapat dipikul oleh rakyat. Impian UU No. 4/2004 tersebut, dalam kenyataannya hanya tinggal harapan yang sulit untuk diterapkan. Betapa tidak untuk hukum pidana saja, terdapat sejumlah keterbatasan kemampuan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan. Barda Nawawi Arief (1994), menyebutkan bahwa paling tidak ada 7 (tujuh) sebab sehingga hukum pidana tidak dapat diandalkan untuk menanggulangi kejahatan, yaitu: (1). sebab-sebab kejahatan yang demikian kompleks berada di luar jangkauan hukum pidana, (2). hukum pidana hanya merupakan bagian kecil (sub sistem) dari sarana kontrol sosial yang tidak mungkin mengatasi masalah kejahatan sebagai masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sangat kompleks (sebagai masalah sosio-psikologis, sosio-politik, sosio-ekonomi, sosio-kultural, dan sebagainya), (3). penggunaan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan hanya merupakan kurieren am symptom, oleh karena itu hukum pidana hanya merupakan pengobatan simptomatik dan bukan pengobatan kausatif, (4). sanksi hukum pidana merupakan remedium yang mengandung sifat kontradiktif/paradoksal dan mengandung unsur-unsur serta efek samping yang negatif, (5). sistem pemidanaan bersifat fragmentair dan individual/personal, tidak bersifat struktural/fungsional, (6). keterbatasan jenis sanksi pidana dan sistem perumusan sanksi pidana yang bersifat kaku dan imperatif, dan (7). bekerjanya/berfungsinya hukum pidana memerlukan sarana pendukung yang lebih bervariasi dan lebih menuntut biaya tinggi. Ketidakmampuan pertama dari hukum pidana, dilihat dari segi 22

BAB I. PENDAHULUAN

penyebab. Misalnya, I. S. Susanto (1998), menjelaskan bahwa jika dilihat dari aspek dimensinya, terdapat 2 (dua) tipe kejahatan, yakni: (1). kejahatan berdimensi kepapaan, dan (2). kejahatan berdimensi keserakahan. Pada umumnya tipe pertama terjadi pada level akar rumput, sedangkan tipe kedua terjadi pada level elit. Dalam konteks cakupan kerja Gugus Tugas Anti Trafiking Desa, maka jelas kejahatan tipe pertama yang ditangani. Orang ketika melakukan kejahatan karena lapar. Oleh karena itu, adalah tidak tepat kalau orang lapar tersebut dikirim ke penjara berdasarkan proses pengadilan pidana. Adalah lebih tepat, melalui forum APS dicari jalan keluar untuk mengatasi penyebab orang itu lapar, sehingga melakukan kejahatan. Pernyataan bahwa hukum pidana hanya merupakan bagian kecil dari sarana kontrol sosial, makin memperjelas kalau forum APS juga merupakan bagian dari sarana kontrol sosial yang fungsinya tidak kalah penting. Apalagi, ketika dilihat bahwa kejahatan tidak semata-mata sebagai tindakan melanggar hukum pidana semata, namun juga dapat dibaca sebagai tindakan yang mengganggu relasi sosial para pihak dan juga relasi sosial kemasyarakatan. Untuk itu, hanya melalui forum APS, relasi kemanusiaan tersebut dapat dipulihkan Hukum pidana sebagai bagian dari hukum positif, lebih menonjolkan sisi normatif semata. Artinya, aspek yang mengemuka adalah mengatur dan memaksa. Dalam hal ini, yang dilihat adalah gejala atau dampaknya semata, tidak dilihat aspek penyebabnya. Sementara, dalam forum APS, justru aspek penyebab dan akibat menjadi poin yang dilihat secara berimbang. Aspek akibat tidak dapat dipisahkan dari penyebab. Jadi menyelesaikan masalah, harus dari hulu hingga hilirnya. Berkaitan dengan jenis pidana (hukuman) yang diancamkan dalam hukum pidana, ternyata berdampak sangat luas. Paling tidak, ketika pelaku dikirim ke penjara, misalnya, maka dampaknya: (1). pelaku terputus kewajibannya terhadap keluarga, (2). keluarga kehilangan penopang ekonomi keluarga, jika terpidana adalah kepala keluarga, (3). cap sebagai penjahat akan terbawa hingga ajal, dan (4). hukuman penjara tidak memulihkan relasi kemanusiaan. Oleh karena, melalui forum pengadilan, maka yang dicari adalah kesalahan dari pelaku dan kebenaran perkara. Dengan kata lain, ada pihak yang dibenarkan, dan ada pihak yang disalahkan. Sementara 23

BAB I. PENDAHULUAN

melalui forum APS, tidak ada logika salah-benar, namun yang dikembangkan adalah logika perdamaian. Hukum pidana mengandalkan bentuk ancaman pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 10 KUHP, yakni pidana pokok berupa: (1). hukuman mati, (2). hukuman penjara, (3). hukuman kurungan, (4). hukuman tutupan, (5). hukuman denda, dan (6). hukuman bersyarat. Selain itu, terdapat juga pidana tambahan berupa: (1). pengumuman putusan hakim, (2). perampasan barang-barang tertentu, dan (3). pencabutan hak-hak tertentu. Kemudian UU No.23/2002 menambahkan bentuk tindakan berupa: (1). pengembalian anak pada orang tua, (2). penempatan anak pada Dinas Sosial, dan (3). penempatan anak menjadi anak binaan negara. Terakhir, UU No.23/2003, menambahkan lagi bentuk tindakan yang dapat dijatuhkan hakim pada pelaku kekerasan dalam rumah tangga, berupa: (1). pembatasan ruang gerak dalam radius dan jangka waktu tertentu, dan (2). mewajibkan pelaku mengikuti konseling. Kalau dilihat dari berbagai jenis pidana pokok, pidana tambahan, dan tindakan dalam hukum pidana, ternyata hanya berorientasi pada pelaku semata. Sementara justru dalam forum APS, relasi sosial (pelaku-korban, dan masyarakat). Untuk bidang hukum perdata, fakta membuktikan bahwa suatu perkara ketika ditangani, paling tidak melalui 4 (tahap), yakni: (1). tahap pengadilan pertama, (2). tahap pengadilan banding, (3). tahap pengadilan kasasi, dan (4). tahap peninjauan kembali. Dari pentahapan tersebut, adalah tidak mungkin kalau suatu perkara dapat diselesaikan secara sederhana, cepat, dan biaya ringan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari sengketa pidana maupun perdata selalu terjadi. Untuk itu, adalah tidak menggantungkan harapan penyelesaian sengketa semata-mata pada kedua forum pengadilan tersebut. Dalam penghujung Tahun 2008, Kepolisian Republik Indonesia (Polri), meluncurkan konsep perpolisian masyarakat (Polmas) di NTT. Polmas, merupakan salah satu strategi kerja Polri untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan keadilan. Polri menyadari bahwa dengan mengirim setiap perkara ke tingkat penuntutan dan pengadilan, ternyata tidak menyelesaikan masalah itu sendiri. Masalah memang tertangani dan pelaku dihukum, namun akar permasalahan (penyebab dan akibat) tidak selesai. Menyadari 24

BAB I. PENDAHULUAN

juga bahwa hukum pidana dalam berbagai produk perundang-undangan ternyata tidak menghendaki agar setiap tindak pidana harus diselesaikan melalui forum pengadilan. Selalu ada ruang untuk diselesaikan di luar pengadilan. Sementara pada sisi yang lain, kalau forum APS tidak dilembagakan, maka dapat saja terjadi tudingan miring kepada Polri, ketika suatu perkara tidak dilanjutkan. Pada level akar rumput (Desa) kini telah dibentuk forum kemitraan antara polisi dan masyarakat. Melalui forum ini, polisi bersama masyarakat menyelesaikan berbagai sengketa dengan logika perdamaian. Apabila, suatu kasus telah ditangani melalui Polmas, maka kasus tersebut tidak lagi akan ditangani oleh pihak reserse kriminal. Pada titik ini, logika yang dikembangkan oleh forum Polmas dengan forum APS yang dijalankan oleh Gugus Tugas Anti Trafiking Desa indentik. Dengan kata lain, kedua forum ini dapat saling melengkapi dalam operasionalnya. Katakanlah, kalau dalam UU No.30/1999 mewajibkan berita acara penyelesaian sengketa oleh forum APS wajib didaftarkan ke pengadilan negeri setempat, maka melalui kerjasama dengan forum Polmas, berita acara tersebut cukup ikut ditandatangani saja oleh forum Polmas. Dengan begitu, tidak perlu lagi didaftarkan ke pengadilan negeri, toh kalau kasus tersebut mau ditindaklanjuti, harus pula melalui pihak Polri. Bentuk kerjasama yang lebih konkrit, yakni: (1). Gugus Tugas Anti Trafiking Desa dapat mengadopsi model pencatatan kasus dan model berita acara penyelesaian sengketa pada Polmas, dan (2). Polmas dapat mengadopsi bentuk-bentuk penyelesaian APS pada Gugus Tugas Anti Trafiking Desa. Dengan bentuk kerjasama seperti ini, maka kedua forum APS ini ke depan diharapkan dapat lebih mampu menjawab perasaan keadilan masyarakat ketika bersengketa. Epilog Kehadiran Gugus Tugas Anti Trafiking Desa yang menyelenggarakan forum APS, sesungguhnya ibarat kembalinya si anak terhilang. Betapa tidak, semenjak UU No.22/1999 meniadakan forum HPD dan diganti dengan forum APS oleh UU No.30/1999, masyarakat desa melihat kalau tidak ada lagi forum dengan logika permainan ini. Padahal, permasalahannya hanyalah 25

BAB I. PENDAHULUAN

tidak memadainya sosialisasi dari forum APS sebagai nama lain dari forum HPD dengan pengayaan bentuk penyelesaian sengketa. Kini pada level Desa, terdapat 2 (dua) lembaga yang menyelenggarakan forum APS, yakni: (1). Gugus Tugas Anti Trafiking Desa, dan (2). Polmas. Kedua lembaga ini, terbangun dari logika yang sama yakni hendak menyelenggarakan forum APS dengan logika perdamaian. Untuk itu, kedua lembaga ini semestinya dapat bekerjasama dan saling melengkapi.

26

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

BAB II KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

A. PENGANTAR asa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan adalah hak warga Negara. Demikianlah amanat yang tertera dalam Pasal 28G ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Oleh karenanya, segala bentuk kekerasan harus dihapuskan. Itu berarti, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga harus dihapuskan. Penghapusan KDRT ini, menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), merupakan jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya KDRT, menindak pelaku KDRT, dan melindungi korban KDRT. Ironinya, perkembangan dewasa ini menunjukkan KDRT yang dalam pasal 1 angka 1 UU PKDRT disebut sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga, setiap harinya masih terus terjadi dan semakin menjadi-jadi. Bahkan, media massa cetak maupun elektronik setiap harinya menyuguhkan berita tentang berbagai kasus KDRT. Maraknya kasus KDRT ini menegaskan bahwa Penghapusan tindak KDRT, tidak mungkin dapat terwujud jika hanya dilakukan dengan pendekatan peradilan formal semata. Dalam perspektif sosiologis, penghapusan tindak KDRT dapat dimulai dengan menghilangkan sebab-sebab dan unsur-unsur pemicunya dengan cara mengenali latar belakang sosial pelaku dan korban, adat dan budaya yang berlaku, serta struktur sosial di wilayah setempat, akan memudahkan siapa pun dalam menawarkan alternatif solusi yang lebih memenuhi rasa keadilan para pihak.

27

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

B. FENOMENA KDRT DI NTT Salah satu jenis kekerasan yang selalu mewarnai ruang publik di Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah KDRT. Catatan pendampingan Rumah Perempuan 5 (lima) tahun terakhir, menunjukan bahwa kasus KDRT selalu menempati ranking teratas dari berbagai jenis kasus kekerasan lain yang dialami oleh Perempuan dan Anak. (Lihat Tabel 3).
Tabel 3. Kasus yang di Advokasi oleh Rumah Perempuan TAHUN JUMLAH Jenis Kasus 2007 2006 2010 2009 2008 98 433 73 95 KDRT 67 100 KESEK TRAFIKING KDP / IJM LAIN-LAIN 30 18 15 32 10 23 26 35 9 18 40 11 15 56 10 25 193 58 96 123

37 17 17 26 178 215 903 167 191 167 JUMLAH Sumber: Diolah dari Catatan Akhir Tahun Rumah Perempuan

Dari 433 (empat ratus tiga puluh tiga) kasus KDRT yang didampingi oleh rumah perempuan pada 5 (lima) tahun terakhir, 52% kasusnya disebabkan oleh Faktor ekonomi, 24% kasus dipicu oleh komunikasi yang minim antar pasangan, 18% kasus dipengaruhi pihak ketiga (keluarga dan atau WIL), dan terdapat 6% Kasus lainnya disebabkan oleh antara lain

28

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

pendidikan anak, pembagian pekerjaan yang tidak jelas dan lain sebagainya. Keseluruhan penyebab kasus KDRT di atas sebenarnya di pelopori oleh budaya patriakhi yang masih kental dalam kehidupan bermasyarakat di NTT. Buktinya, Pertama, masyarakat membesarkan anak laki-laki dengan menumbuhkan keyakinan bahwa anak laki-laki harus kuat, berani dan tidak toleran. Kedua, laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga harus ditutup karena merupakan masalah keluarga dan bukan masalah sosial. Ketiga, tradisi bahwa istri harus bergantung pada suami, khususnya ekonomi. Keempat, tradisi malechauvinistic, dimana laki-laki masih menganggap diri dan dianggap sebagai makhluk yang kuat dan superior. Bentuk KDRT yang dialami oleh korban berdasarkan 433 (empat ratus tiga puluh tiga) kasus KDRT yang di advokasi oleh Rumah Perempuan selama sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 adalah Kekerasan Psikis, Kekerasan Fisik, Kekerasan Seksual dan Penelantaran. (lihat diagram). Data dalam diagram menunjukkan bahwa semua korban kasus KDRT mengalami kekerasan berganda. Bagi korban yang mengalami salah satu bentuk kekerasan baik itu Kekerasan Fisik, Kekerasan Seksual maupun Penelantaran selalu mengalami Kekerasan Psikis. Selain itu, data pada diagram juga menjelaskan bahwa korban yang mengalami Kekerasan Seksual selalu berbarengan dengan Kekerasan Fisik. Kekerasan Fisik yang dialami korban diantaranya ditampar, ditendang, pelaku membenturkan kepala korban ke tembok dan lantai, rambut korban dijambak, korban dipukul
Kekerasan Seksual 5 kasus (2%)
Kekerasan Fisik 275 kasus (32%)

Kekerasan Psikis 433 kasus (49%)

Penelantaran 125 kasus (17%)

29

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

dengan gagang sapu, dipukul dengan batako, dilempar dengan batu dan lain-lain. Kekerasan Psikis yang dilakukan pelaku terhadap korban antara lain dimaki, dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya, diancam akan diceraikan, dihina/diludahi oleh pelaku didepan anak-anak dan diusir dari rumah. Wujud Penelantaran yang dilakukan pelaku pada korban adalah pelaku tidak memberikan nafkah bathin, pelaku tidak memberikan uang belanja dan keperluan lainnya kepada korban, pembatasan nafkah. Model kekerasan seksual yang dilakukan pelaku seperti: Memaksakan istri berhubungan dengan gaya yang tidak lazim, memaksa HuS (Hubungan Seksual) disaat istri sedang sakit, melakukan penganiayaan sebelum melakukan HuS, dan memaksakan anak dibawah umur untuk berhubungan seks. Catatan Rumah Perempuan berkaitan dengan dampak yang dialami korban dalam 433 (empat ratus tiga puluh tiga) kasus KDRT kasus KDRT adalah Pertama, Dampak Fisik: Lebam, lecet, patah tulang, kepala bocor, pusing dan ada pula korban yang mengalami cacat permanen. Kedua, Dampak Psikis: Korban takut berhubungan seks, hilangnya keinginan untuk berhubungan seks, trauma, gangguan kejiwaan. Semua korban KDRT juga mengalami gangguan psikis seperti cemas, gelisah, malu, rendah diri, keinginan untuk bercerai, gangguan ingatan. Ketiga, Dampak Terhadap Kesehatan Korban: Terganggunya organ reproduksi, korban mengalami perdarahan, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (NB: Khususnya Kasus Incest). Keempat, Dampak Ekonomi: Korban dililit utang, karena harus meminjam uang ke orang lain untuk membiayai hidup. Kelima, Dampak Sosial: Korban akan menarik diri dari pergaulan dan keluarga, tetangga, bahkan untuk sementara waktu ada juga korban yang berhenti melakukan akstivitas sosial maupun ritual keagamaan. C. POTRET KDRT DI NOELBAKI DAN TUAPUKAN Persoalan KDRT juga terjadi di desa Noelbaki dan desa Tuapukan yang merupakan wilayah dampingan dari Rumah Perempuan. Dalam kerjakerja pendampingan untuk persoalan KDRT di ke-2 (dua) Desa ini, Rumah Perempuan mendapat banyak pembelajaran. Di antaranya adalah penyelesaian 30

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

kasus KDRT bisa dilakukan dengan mekanisme al ternati f. Dalam 2 (dua) tahun terakhir, Rumah Perempuan dengan segala keterbatasan hanya mampu menangani 12 (Dua Belas) kasus KDRT di kedua wilayah kerja ini. Di Desa Noelbaki, Rumah Perempuan menangani 5 (lima) kasus dan di Desa Tuapukan, Rumah Perempuan menangani 7 (tujuh) kasus. a. KDRT DI DESA NOELBAKI Desa Noelbaki adalah bagian dari Pemerintahan Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang yang wilayah administratif seluas 17,7 Km dan didiami oleh 2.224 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 6.637 orang, dimana yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 2.823 orang dan yang berjenis kelamin laki-laki adalah 3814 orang. Desa Noelbaki merupakan desa yang memiliki perpaduan seimbang antara desa modern dan desa tradisional dengan kategori kemajemukan cukup tinggi. Dari segi agama, terdapat 4.557 penduduknya yang beragama Kristen Protestan, Katholik 2037 Orang, Islam 117 Orang dan yang beragama Hindu berjumlah 16 Orang. Jika dilihat dari etnis/suku, maka penduduk Desa Noelbaki mayoritasnya berasal dari suku/etnis

31

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

Secara geografis, Desa Noelbaki berbatasan sebelah utara dengan Teluk Kupang, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Oelnasi, sebelah barat berbatasan dengan Desa Mata Air, sebelah timur berbatasan dengan Desa Tanah Merah dan Desa Oelpuah. Dari aspek topografi, Desa Noelbaki berada pada dataran rendah dengan ketinggian 10m di atas permukaan laut dan suhu rata-rata berkisar antara 29oc - 35oc. Di Desa Noelbaki, Rumah Perempuan melakukan advokasi/pendampingan terhadap 5 (lima) kasus KDRT. Ini tidak berarti sepanjang tahun 2009 dan tahun 2010 di Desa Noelbaki hanya terdapat 5 (lima) kasus KDRT. Jenis kasus KDRT yang didampingi adalah Penganiayaan sebanyak 4 (empat) kasus dan Penelantaran 1 (satu) kasus. Pada tahun 2009, Rumah Perempuan menangani 3 (tiga) kasus yang semuanya adalah kasus penganiayaan. Di tahun 2010, ada 2 (dua) kasus KDRT yang ditangani oleh Rumah Perempuan. Satu kasusnya adalah penelantaran dan satunya lagi merupakan kasus penganiayaan. Keseluruhan kasus KDRT yang terjadi di desa Noelbaki disebabkan oleh minimnya komunikasi antar pasangan, masalah ekonomi dan pihak ketiga (WIL). Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku, berakibat pada korban mengalami gangguan psikis seperti stress, cepat marah dan korban kebanyakan menyendiri dalam artian menarik diri dari pergaulan dengan tetangga. Akibat lainnya adalah secara fisik korban mengalami luka di pelipis, benjolan di bagian kepala, biru/lebam bekas pukulan pada punggung dan terdapat luka goresan pada lengan. Sedangkan akibat yang ditimbulkan dari Kekerasan Psikis adalah korban mengalami stress sehingga cepat marah. Untuk penelantaran, berdampak anak-anak kesulitan ke sekolah karena ketiadaan uang transport.
BOX 1 KRONOLOGI KASUS MENGGAPAI SEBUAH HARAPAN Persoalannya sepele, tapi karena tidak bisa menahan emosi, suami saya melempar sepotong kayu, dan mengenai lengan saya hingga berdarah 5 (lima) tahun sudah mereka menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kebahagiaan. Walaupun hanya bersandar pada hasil

32

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

pertanian dari lahan milik mereka yang tak terlalu luas, namun mereka tak pernah merasa berkekurangan, khususnya beras yang bisa jual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Perkawinan mereka yang bahagia ini, memang bukan berarti tanpa cekcok, namun nyaris tanpa kekerasan fisik sekalipun. Karena itu, apa yang dialami sang istri ini membuatnya shock, sakit hati dan terutama sakit secara fisik. Peristiwa ini berawal, saat musim panen hampir tiba, sang istri diminta suaminya untuk menjaga sawah agar padi tidak dimakan burung. Siang itu, setelah makan siang, ibu muda ini bersiap-siap untuk ke sawah. Dalam perjalanan menuju sawah, tiba-tiba ia merasa malas untuk ke sawah. Yang ada dalam pikirannya waktu itu adalah untuk apa siang-siang dan udara panas seperti ini ia harus ke sawah, sementara orang lain lagi istirahat di rumah. Dalam kebimbangan, akhirnya ia memutuskan untuk tidak ke sawah dan memilih untuk mampir ke rumah teman, yang kebetulan juga saat itu sementara berada di rumahnya. Senangnya hati ibu muda ini karena bisa menghabiskan waktu siang itu bersama teman. Sementara itu, di rumah sang suami hendak menyusuli istrinya ke sawah. Sesampainya di sawah karena tidak bertemu dengan istrinya maka ia mencari ke sekeliling kampung, karena tak kunjung bertemu, ia mulai gelisah. Kepada setiap orang yang ditemuinya ditanyakannya tentang keberadaan istrinya. Namun tak satupun yang mengetahui. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba datang seorang tetangga dari teman istrinya, kepada orang tersebut sang suami menceritakan bahwa ia sedang mencari istrinya. Orang tersebut mengaku melihat istri sang suami di rumah tetangganya. Berbekal informasi dari tetangga tersebut, maka sang suami pun bergegas menuju rumah yang di maksud. Setibanya di sana, ia mendapati istrinya sedang asyik bercengkerama dengan temannya, saking asyiknya berbincang, sang istri tak menyadari kalau suaminya sudah berdiri di dekat mereka selama 10 menit. Tak kuasa menahan rasa jengkel, dengan kasar sang suami membentak istrinya untuk segera kembali ke sawah. Karena takut, sang istri langsung bergegas ke sawah. Tanpa berpamitan pada tuan rumah, sang suami pun segera mengikuti istrinya ke sawah. Sesampainya di sawah, sang istri langsung pamit untuk pulang dengan alasan mau masak nasi dan air, serta mengurus anak semata wayangnya. Dengan seijin suaminya, sang istri pun bersiap untuk pulang. Baru beberapa langkah meninggalkan sang suami, ia dilempar dengan menggunakan sepotong kayu oleh suaminya dan mengenai tangannya. Tak disangka lemparan suaminya membuat tangannya berdarah. Spontan istrinya langsung berlari ke rumah orang tuanya yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sampai di rumah orang tuanya sang istri melaporkan kejadian yang menimpa dirinya. Setelah mendengar informasi tersebut, orang tua sang istri langsung melaporkan kejadian ini kepada tokoh agama dan aparat desa setempat. Sang suami pun langsung di panggil oleh kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat (tim gugus tugas) untuk menyelesaikan persoalan rumah tangganya secara baik-baik. Di hadapan tim gugus tugas memediasi pasangan suami istri ini. Tim gugus tugas juga memberi memberi nasehat/konseling seputar persoalan rumah tangga. Akhirnya sang suami meminta maaf kepada sang istri dan mertuanya dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Sang istri akhirnya menerima permintaan maaf sang suami. Pertemuan pun diakhiri dengan doa bersama. Kronologi Kasus KDRT Yang Terjadi Di Desa Noelbaki Ini, Di Gubah Dalam Bentuk Cerpen oleh Libby SinlaEloE

33

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

b.

KDRT DI DESA TUAPUKAN Tuapukan merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kupang Timur dan memiliki wilayah administratif seluas 1.224 ha/m2. Secara geografis, Desa Tuapukan berada di Kabupaten Kupang, NTT dan memiliki batas wilayah sebagai berikut: sebelah timur dengan Dengan Kelurahan Merdeka, barat dengan Kali Tuapukan, utara dengan Desa Oli'o, selatan dengan Desa Oefafi. Desa Tuapukan didiami oleh 776 kepala keluarga dan memiliki penduduk sebanyak 3.921 orang yang mana jumlah penduduk perempuannya lebih banyak dari laki-laki dengan perencian penduduk perempuan sebanyak 2.028 orang sedangkan jumlah penduduk lakilaki hanya berjumlah 1.893 orang. Penduduk yang mendiami Desa Tuapukan, mayoritasnya beragama Khatolik dengan jumlah 2.027 orang, agama Kristen Protestan sebanyak 1.889 orang dan yang beragama Islam sebanyak 5 orang. Kebanyakan penduduk desa Tuapukan berasal dari Suku/Etnis Rote (warga lokal) dan Warga Baru (warga yang berasal dari eks Provinsi Timur-Timor). Perincian jumlah penduduk Desa Tuapukan berdasarkan suku/etnis, sebagai berikut : (Lihat Tabel 5).

TABEL 5. PENDUDUK DI TUAPUKAN BERDASARKAN SUKU/ETNIS NO. SUKU/ETNIS JUMLAH PENDUDUK TOTAL LAKI-LAKI PEREMPUAN 1. BATAK 2 2 2. MADURA 1 2 3 3. BALI 2 2 4. DAYAK 1 1 2 5. MAKASAR 2 2 6. AMBON 1 1 7. FLORES 18 11 29 8. TIMOR 21 139 160 9. SABU 2 5 7 10. ROTE 901 913 1814 11. SUMBA 1 1 12. ALOR 24 7 31 13. WARGA BARU 921 946 1867 TOTAL 1893 2028 3921 Sumber: Data Monografi Desa Tuapukan, 2010
34

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

Rumah Perempuan dalam melakukan kerja-kerjanya di desa Tuapukan, pada 2 (dua) tahun terakhir, telah menangani 7 (tujuh) kasus KDRT dengan perincian 5 (lima) kasus di tahun 2009 dan pada tahun 2010, Rumah Perempuan menangani 2 (dua) kasus KDRT. Kasus KDRT yang terjadi di Tuapukan ini disebabkan karena para pelaku tidak mampu mengontrol perilakunya akibat tidak adanya pembagian kerja dan atau tanggung jawab yang jelas dalam mengurus rumah tangga, persoalan ekonomi rumah tangga yang morat-marit, kecemburuan serta perselingkuhan. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku dalam hal ini suami adalah pemukulan, jambak, penganiayaan dan kekerasan verbal. Akibat yang ditimbulkan yang dilakukan oleh pelaku ini memar akibat pukulan, bibir pecah, mengalami pembengkakan pada bagian wajah terutama mata. Selain itu, secara psikis korban juga mengalami tekanan bathin dan tidak suka bergaul dengan tetangga. Dalam hal penyelesaian kasus KDRT di Tuapukan ini, terdapat 1 (satu) kasus saja yang mempergunakan proses hukum formal. Itupun hanya sampai pada taraf pelaporan dan selanjutnya kasus tersebut ditarik kembali dan diselesaikan dengan mempergunakan model penyelesaian alternatif. Sedangkan 6 (enam) kasus lainnya sejak awal diselesaikan dengan mempergunakan model penyelesaian alternatif.

BOX 2 KRONOLOGI KASUS SENYUM DI TENGAH BADAI "Saya sadar bahwa saya bukan perempuan sempurna untuk suami saya, tetapi sungguh saya tidak tahan mendengar kata-kata makian yang dia tujukan kepada saya tanpa alasan, disaat suami saya mabuk" Mereka termasuk pasangan suami istri bahagia. Walaupun dengan masa pacaran yang singkat, kedua pasangan suami istri ini cukup memahami satu dengan yang lainnya. Sebelum mereka menikah, sang suami pernah berumah tangga dan dari hasil pernikahan pertamanya itu, membuahkan seorang seorang anak perempuan yang saat ini sudah beranjak remaja. Hingga usia pernikahan yang telah memasuki tahun ketiga, pasangan suami istri ini belum dikaruniai anak. Namun begitu, mereka tetap hidup bahagia. Sayangnya, di tengah kebahagian pernikahan mereka ini, ada satu kebiasaan jelek dari sang suami yang belum juga hilang yakni kebiasaan

35

BAB II. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI NUSA TENGGARA TIMUR

mengkonsumsi minuman keras. Kebiasaan ini, terkadang membuat sang suami menjadi susah mengontrol diri. Alhasil, jika ia dalam keadaan mabuk, maka sang istri akan menjadi tempat pelampiasan kemarahannya. Puncaknya saat itu, sang suami pulang dalam keadaan mabuk, tanpa ada sebab ia langsung memaki dan memukul istrinya hingga babak belur. Kejadian ini membuat sang istri trauma dan ketakutan jika suaminya dalam keadaan mabuk. Akhirnya sang istri hanya bisa menangis dan menangis saja. Hingga suatu sore, saat sang istri sedang menunaikan tugasnya di dapur, tiba-tiba terdengar suara orang masuk ke dalam rumah. Karena tidak merasa curiga, sang istripun melanjutkan pekerjaannya di dapur. Usai bekerja di dapur sang istri masuk ke ruang makan, didapatinya dua piring kotor bekas makan tergeletak di meja makan. Ternyata itu adalah piring bekas makan sang suami dan anaknya. Keesokan harinya, sang istri melakukan aktifitas seperti biasa layaknya ibu rumah tangga, memasak, membersihkan rumah dan menenun. Dari kegiatan menenun ini, ia bisa mendapat sedikit penghasilan yang bisa membantu membiayai kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan sang suami bekerja di kebun. Saat sedang menenun, datang anaknya membawa seekor ayam dan langsung mengikat ayam tersebut di dekatnya. Entah bagaimana, tiba-tiba ayam tersebut melompat ke atas tenunan yang sedang dibuat sang istri sehingga membuat tenunan tersebut sobek. Karena merasa kesal, sang istri langsung memarahi anaknya dan memukul ayam tersebut hingga patah kakinya. Sorenya, seperti biasa saat suami pulang dari kebun, ia mendapati kaki ayam dalam keadaan patah, tanpa bertanya kepada sang istri, ia langsung menendang leher dan paha sang istri. Akibat tendangan tersebut, membuat sang istri kesakitan dan tak mampu berjalan. Merasa tidak tahan diperlakukan kasar seperti itu sang istri melaporkan kejadian tersebut kepada salah seorang tokoh masyarakat. Atas inisiatip tokoh masyarakat tersebut, diundanglah beberapa orang (tokoh adat) untuk membicarakan persoalan ini. Para tokoh masyarakat dan tokoh adat ini akhirnya memanggil sang suami untuk membicarakan/memediasi masalah yang dilaporkan istrinya. Dari pertemuan tersebut, akhirnya sang suami mau mengakui kesalahannya. Selain itu juga proses perdamaian dengan ditandai makan bersama dan sebagai tanda permintaan maaf sang suami memberi selembar kain sarung kepada sang istri. Sebagai perempuan, sang istri merasa senang, tapi bukan karena diberi selembar kain dan makan bersama, tetapi karena merasa dihargai. Apalagi sang suami berjanji tak akan mengulanginya lagi. Akhirnya sang istri hanya dapat berharap semoga sang suami benar-benar sadar, sehingga mampu merubah perilakunya di kemudian hari. Kronologi Kasus KDRT Yang Terjadi Di Desa Noelbaki Ini, Di Gubah Dalam Bentuk Cerpen oleh Libby SinlaEloE

36

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

BAB III MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

A. PENGANTAR eharmonisan dan keutuhan rumah tangga merupakan dambaan setiap orang yang berada dalam biduk rumah tangga. Untuk mewujudkan keharmonisan dan keutuhan rumah tangga, setiap orang dalam lingkup rumah tangga harus dapat mengontrol atau mengendalikan kualitas perilakunya kearah yang positif. Jika tidak, maka Keharmonisan dan keutuhan rumah tangga akan terganggu yang mana pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran. Rumah Perempuan dalam melakukan advokasi untuk peghapusan kekerasan terhadap perempuan menemukan bahwa Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga lebih banyak dialami perempuan yang di sini berkedudukan sebagai seorang istri, sedangkan pelakunya didominasi oleh laki-laki yang berkedudukan sebagai seorang suami. Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga seringkali akibat dari tindak kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menimpa korban secara langsung, tetapi juga anggota lain dalam rumah tangga secara tidak langsung. akan berpengaruh pada anak karena sifat anak yang suka meniru segala sesuatu yang dilakukan orang terdekatnya, dalam hal ini ayah dan ibunya. Anak akan menganggap wajar kekerasan yang dilakukan ayahnya, sehingga anak laki-laki yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu cenderung akan meniru pola yang sama. Penderitaan yang dialami oleh para korban kasus kekerasan dalam rumah tangga ini, diperparah dengan kultur masyarakat pada umumnya di Nusa Tenggara Timur yang patriarki, dimana laki-laki dalam posisinya sebagai kepala keluarga memiliki hak-hak istimewa seperti pengambilan keputusan,

37

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

memiliki hak dominasi dalam keluarga sehingga segala pendapat maupun tindakannya harus didengar dan diamini. Hak-hak ini diidentikan sebagai harga diri suami. Istri yang baik diidentikan dengan istri yang menurut apa kata suami dan menjaga rahasia rumah tangga dengan baik. Bila istri melaporkan kasus KDRT ke kepolisian dianggap melecehkan harga diri suami. Budaya Patriarki inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab semakin memperburuknya situasi rumah tangga pasca penarikan kembali laporan polisi oleh istri ataupun pasca vonis dalam proses peradilan hukum formal. Biasanya, Istri akan disalahkan oleh suami dan keluarga sehingga lambat laun istri yang notabene adalah korban dalam kasus KDRT, jadinya ikut menyalahkan dirinya sendiri. Kondisi yang sama juga akan dialami oleh para korban KDRT dalam hal ini istri, ketika suami yang adalah pelaku dijatuhi hukuman dalam proses penegakan hukum. Selain itu, Pasca vonis dalam proses hukum formal, keutuhan dan keharmonisan rumah tangga menjadi rentan dipertahankan dan selalu berakhir dengan perceraian. Hal ini sangat ironis karena salah satu tujuan dari penghapusan kekerasan dalam rumah tangga sebagaimana yang diamanatkan dalam pasal 4 huruf d UU No. 23 Tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. Bertolak dari gambaran realita diatas, maka Rumah Perempuan menggagas suatu model penyelesaian alternatif untuk menangani kasus KDRT. Hal ini dimaksudkan untuk sistem peradilan formal menjadi alternatif terakhir dalam penyelesaian kasus KDRT. Artinya, model penyelesaian alternatif menjadi suatu yang komplementer dengan sistem peradilan formal. Itu berarti juga tidak ada dikotomi mana yang lebih baik antara model alternatif penyelesaian kasus KDRT dengan mekanisme penegakan hukum dalam sistem peradilan formal. B. PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KDRT Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) yang diundangkan dalam LN RI Tahun 2004 Nomor 95, Tambahan LN RI Nomor 4419, pada tanggal 22 38

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

September 2004, merupakan salah satu terobosan hukum dalam hal produk peraturan perundang-undangan. Dalam UUPKDRT terdapat beberapa pembaharuan hukum pidana yang belum pernah diatur oleh Undang-Undang sebelumnya. Salah satu terobosan hukumnya adalah dalam UU PKDRT dicantumkan dengan jelas tentang hak-hak korban. UU PKDRT merupakan peraturan pertama yang mengatur hak-hak korban. Hak korban KDRT dalam pasal 10 UU PKDRT yang mencakup: Pertama, perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Kedua, pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis. Ketiga, penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban. Keempat, pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kelima , pelayanan bimbingan rohani. Terobosan hukum lainnya adalah pada UU PKDRT, telah dirinci mengenai peran masyarakat dalam upaya perwujudan Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dalam suasana yang bahagia, aman, tentram dan damai adalah dambaan setiap orang dalam suatu rumah tangga. Kewajiban masyarakat ini diatur dalam pasal 14 dan Pasal 15 UU PKDRT. Bahkan dalam pasal 15 dirinci mengenai kewajiban "setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk: Pertama, mencegah berlangsungnya tindak pidana. Kedua, memberikan perlindungan kepada korban. Ketiga, memberikan pertolongan darurat. Keempat, membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan. Dengan alur pikir yang seperti ini, maka secara yuridis tersirat bahwa Penyelesaian Kasus kekerasan dalam rumah tangga sebenarnya dibolehkan untuk ditempuh dengan jalur sistem peradilan formal, mekanisme peradilan non formal maupun melalui model penyelesaian alternatif. Menurut Paul SinlaEloE (2006), Penyelesaian Kasus melalui sistem peradilan formal dapat dipahami sebagai serangkaian aktivitas dalam proses penegakan hukum (Law Enforcement) suatu kasus yang dilakukan oleh institusi peradilan (Peradilan dalam istilah Inggris disebut judiciary dan rechspraak dalam 39

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

bahasa Belanda yang maksudnya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas Negara dalam menegakkan hukum dan keadilan) berdasarkan hukum positif. Sedangkan mekanisme peradilan non formal dalam prespektif sosiologi hukum dapat dimaknai sebagai proses penyelesaian yang dilakukan oleh tokoh adat, tokoh agama, atau aparat desa berdasarkan hukum adat, hukum agama atau praktik kebiasaan setempat. (Ahmadi Hasan, 2007). Di samping sistem peradilan formal dan mekanisme peradilan non formal, Imelda Daly (2009) berpendapat bahwa untuk menyelesaiakn suatu kasus termasuk kasus KDRT, bisa dilakukan dengan mekanisme penyelesaian alternatif. Penyelesaian alternatif ini merupakan mekanisme penyelesaian kasus melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. (Bandingkan dengan Pasal 1 angka 10 UU No.30/1999). Dalam konteks penanganan kasus KDRT, Penyelesaian alternatif ini bisa dimaknai sebagai suatu mekanisme penyelesaian Kasus KDRT yang dilakukan secara kolaborasi antara Tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, aparat desa, aparat hukum, pelaku dan korban dengan mempergunakan pendekatan kekeluargaan, pendekatan agama, pendekatan adat dan pendekatan peradilan formal yang lebih mengutamakan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga melalui cara negosiasi, mediasi, rehabilitasi yang dipadukan dengan pelayanan konseling, bimbingan rohani dan pelayanan rumah aman. Penyelesaian alternatif kasus KDRT bertujuan untuk: Pertama, Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. Kedua, Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Ketiga, Mendidik dan Merubah perilaku bermasalah dari pelaku. Keempat, Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. Kelima, Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Keseluruhan makna dari konsep penyelesaian alternatif kasus KDRT di atas, sejalan dengan ajaran restorative justice-nya Tony Marshall. (John Rawls, 1971). Restorative justice adalah sebuah teori yang menekankan pada pemulihan kerugian yang disebabkan atau ditimbulkan oleh perbuatan pidana. Upaya penyelesaian kasus pidana dengan memulihkan kerugian ini akan tercapai, jika dilakukan dengan proses-proses kooperatif dan melibatkan semua stakeholder (yang berkepentingan). Tindakan-tindakan restoratif 40

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

justice dalam menyelesaikan suatu perbuatan pidana meliputi: a . mengidentifikasi dan mengambil langkah-langkah untuk memulihkan kerugian, b. melibatkan semua stakeholder termasuk masyarakat dan pemerintah (dalam arti luas) dalam menyelesaikan suatu tindak pidana dan maengatasi implikasinya di masa datang, dan c. memperbaiki hubungan antara pelaku dan korban. Konsep penyelesaian alternatif kasus KDRT ini lahir dari pengalaman Rumah Perempuan dalam melakukan advokasi/pendampingan terhadap korban kasus KDRT, dimana banyak korban yang tidak bersedia menempuh sistem peradilan formal maupun sistem peradilan non formal. Alasan dari para korban untuk tidak ingin mencari keadilan melalui jalur peradilan formal karena: pertama, Ko r b a n K D RT m a s i h dianggap sebagai aib keluarga atau masalah privat. Kedua , korban memiliki ketergantungan ekonomi terhadap pelaku. Ketiga , korban lebih mementingkan nasib anakanak. Keempat, Korban Masih mencintai pelaku sehingga takut terjadi perceraian. Pada sisi yang lain, korban KDRT tidak bersedia kasusnya ditangani melalui mekanisme peradilan non formal dengan alasan: Pertama, Korban takut dikucilkan dari lingkungan setempat. Kedua, korban (istri) selalu dipersalahkan. Ketiga, terkadang korban dan pelaku sudah saling memaafkan namun mereka masih terbeban hutang akibat denda dalam proses adat. Alasan yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh pelaku KDRT ketika Rumah Perempuan memberikan pelayanan konseling. Alasan dari pelaku tidak ingin persoalannya diselesaikan melalui jalur peradilan formal karena: Pertama, masih mencintai korban. Kedua, takut dipecat dari pekerjaan (NB: Khusus PNS/TNI/POLRI). Ketiga, takut anak-anaknya terlantar. Pelaku juga tidak setuju kalau kasusnya diselesaikan melalui mekanisme non formal karena: Pertama, takut aibnya terbongkar. Kedua, terkadang korban dan pelaku sudah saling memaafkan namun mereka masih terbeban hutang akibat denda dalam proses adat. Ketiga, pelaku merasa dipaksa dan terpaksa untuk berdamai.

KDRT

41

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Tabel 4. Penyelesaian Kasus. MEKANISME PENYELESAIAN KASUS Peradilan Jumlah Formal Kepolisian Kejaksaan PN/PT 3 1 2009 63 33 1 100 2 2010 38 24 5 67 JUMLAH 101 57 1 8 167 Sumber: Dokumen Pendampingan Korban Rumah Perempuan. NO TAHUN Penyelesaian Peradilan Alternatif Non Formal

C. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KDRT VERSI RUMAH PEREMPUAN Model penyelesaian alternatif kasus KDRT yang didesain oleh rumah perempuan ini sudah diimplementasikan secara khusus di wilayah Try Out, yakni desa Tuapukan dan desa Noelbaki pada tahun 2009 dan tahun 2010. Walaupun hanya kedua desa ini saja yang menjadi pilot project, namun pada waktu yang sama, Rumah Perempuan juga menerapkan draft model penyelesaian alternatif kasus KDRT ini ketika melakukan kerja-kerja advokasi kasus KDRT yang terjadi diluar Desa Noelbaki dan Desa Tuapukan. (Lihat Tabel 4). Data yang tertera dalam tabel 4 menjelasakan bahwa total kasus KDRT yang ditangani oleh Rumah Perempuan pada tahun 2009 dan 2010 adalah sebanyak 167 kasus. Di tahun 2009, Rumah perempuan menangani 100 (Seratus) kasus KDRT yang mana 63 (Enam Puluh Tiga) kasus dapat diselesaiakan dengan mempergunakan model penyelesaian alternatif. Pada tahun 2010, dari 67 kasus KDRT yang diadvokasi oleh rumah perempuan hanya 29 (Dua Puluh Sembilan) kasus saja yang direkomendasikan untuk diselesaikan melalui mekanisme peradilan formal. Sedangkan, 57% kasus KDRT lainnya bisa diselesaiakn dengan mempergunakan model penyelesaian alternatif. Secara garis besar, model penyelesaian alternatif kasus KDRT versi Rumah Perempuan, dapat dibagi dalam 3 (tiga) tahap, yaitu Tahap Penerimaan Kasus, Tahap Rekonsiliasi, dan Tahap Terminasi. (Lihat bagan). Keseluruhan alur dan cara kerja dalam setiap tahapannya, dijabarkan sebagai berikut: 42

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

1.

Tahap Penerimaan Kasus. Tahap Penerimaan kasus merupakan proses awal tim gugus tugas menangani suatu laporan kasus KDRT. Pelaporan kasus KDRT dapat dilakukan secara langsung oleh korban, pelaku, orang tua dari korban dan atau pelaku, teman dari korban dan atau pelaku, pihak keluarga maupun tetangga dari korban dan atau pelaku. Pelaporan kasus KDRT juga bisa dilakukan secara tidak langsung oleh pelapor melalui surat, telepon dan media komunikasi lainnya. Untuk kasus KDRT yang korban dan atau pelaku dirujuk oleh pihak penegak hukum formal seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan maupun oleh lembaga lainnya untuk mendapat pelayanan konseling dan atau bimbingan rohani, pada model penyelesaian alternatif ini dikategorikan sebagai pelaporan yang dilakukan secara langsung.

BAGAN MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

43

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Pada tahap penerimaan kasus, para pihak penerima kasus yakni Tim Gugus Tugas yang terdiri dari Tokoh Perempuan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Rumah Perempuan dan Aparat Desa setempat, wajib membuat kronologi kasus dan membuat profil singkat dari pelapor, korban, dan pelaku. Apabila korban di antar, petugas juga mencatat identitas pengantar dengan lengkap, seperti: nama lengkap, alamat, pekerjaan, dan alamat lengkap tempat bekerja, telepon dan sebagainya. Kalau pelapornya adalah korban, maka para pihak yang menerima kasus harus memastikan kondisi terakhir korban untuk memutuskan penting tidaknya mendapatkan pelayanan darurat. Tindakan segera yang diambil apabila korban dalam kondisi kritis baik secara fisik maupun psikologis sehingga perlu pelayanan darurat, diantaranya: Pertama, Bila korban mengalami luka parah, maka korban segera dibawa ke Rumah Sakit, Puskesmas atau dokter/bidan praktek terdekat untuk mendapatkan perawatan. Kedua, Bila korban mengalami ketakutan dan tidak merasa aman ditempat kejadian, maka korban dibawa ke rumah aman (shelter) terdekat atau dijauhkan dari si pelaku. Ketiga, Bila korban mengalami perkosaan, korban bisa diobati lukanya tetapi dilarang untuk mandi sebelum dilakukan visum. Barang-barang bukti seperti baju, pakaian dalam dan senjata tajam serta barang bukti lain yang menunjang (bila ada) harus disimpan dengan baik. Untuk penerimaan kasus KDRT yang dilaporkan melalui surat, telepon atau media komunikasi lainnya, maka setelah membuat kronologi kasus, profil singkat dari pelapor, korban, dan pelaku, para pihak penerima kasus harus membuat kesepakatan untuk bisa bertemu dengan pelapor. Pengalaman Rumah Perempuan dalam melakukan advokasi kasus KDRT, menunjukan bahwa kasus KDRT yang dilaporkan dengan cara tidak langsung ini sangat bermanfaat bagi korban yang tidak mampu mengakses layanan dengan datang langsung karena selain tempat tinggalnya jauh juga karena korban secara psikologi belum siap untuk bertemu secara langsung dengan pihak lain. Dalam hal penerimaan korban dan atau pelaku yang dirujuk, maka sebelum membuat kronologi kasus pihak penerima kasus terlebih dahulu 44

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

harus memeriksa surat rujukan ataupun data-data yang dikirim oleh lembaga/individu perujuk dan membuat berita acara penerimaan kasus.
Box. 3 PROTAP RUJUKAN LINTAS SEKTOR 1. 2. 3. Harus ada surat rujukan Harus didampingi konselor/pendamping untuk serah terima korban atau pelaku. Tugas pendamping/konselor adalah: a. Memastikan tempat yang akan dirujuk. b. Memastikan keberadaan penerima rujukan. c. Menjelaskan kronologi kasus. d. Menjelaskan Pelayanan yang sudah diberikan kepada korban atau pelaku. e. Membuat kesepakatan pemberian layanan lanjutan. f Menyapakati sistim pendanaan berhubungan dengan kebutuhan korban. (NB: Kesepakatan ini kalau memungkinkan harus juga melibatkan korbanatau pelaku). g. Menyepakati Pembagian peran antara perujuk dan penerima rujukan. Pada saat penyerahan korban harus ditandatangani berita acara penyerahan. (NB: Dalam Berita acara penyerahan harus dicantumkan dengan jelas tentang kondisi korban atau pelaku). Bila rujukan dilakukan ke atau dari Rumah Sakit dan korban membutuhkan surat keterangan tidak mampu, maka pendamping mendamping korban saat pengurusan surat dimaksud.

4. 5.

Keterangan : Pendampingan bagi pelaku hanya dalam rangka konseling, bimbingan rohani.

2.

Tahap Rekonsiliasi. Rekonsiliasi merupakan serangkaian aktivitas untuk menyelesaikan sengketa secara adil, sekaligus memulihkan hubungan kebersamaan diantara para pihak yang bersengketa, sehingga para pihak yang bersengketa dapat bersatu kembali. Itu berarti, berbicara tentang rekonsiliasi harus jelas siapa-siapa yang menjadi obyek yang harus atau akan disatukan kembali dan apa persoalan yang menyebabkan terjadinya sengketa. Setelah itu, baru dibicarakan tentang akibat dan jalan keluar penyelesaiannya. Daniel Sparinga (2003) berpendapat bahwa dalam proses rekonsiliasi idealnya harus didasarkan pada penghormatan terhadap prinsip kemanusiaan dan keadilan diantara para pihak yang bersengketa. Ada 3 (tiga) aktivitas utama dalam tahap rekonsiliasi pada model penyelesaian kasus KDRT, yakni:

45

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

a. Negosiasi Dalam bahasa sehari-hari kata negosiasi sering disebut dengan istilah "berunding" atau "bermusyawarah". Dalam konteks penyelesaian alternatif kasus KDRT, negosiasi dibedakan dalam 2 (dua) kategori, yakni negosiasi internal dan negosiasi ekternal. Negosiasi internal dimaksudkan untuk menyamakan persepsi diantara pihak penerima kasus dan pelapor berkaitan dengan duduk perkara, sekaligus berbagi peran untuk upaya penyelesaian kasus. Pada proses negosiasi ini, harus dibicarakan juga tentang apakah kasus KDRT yang dilaporkan ini bisa ditangani secara keseluruhan atau harus melibatkan aparat penegak hukum (pihak Kepolisian) atau didorong untuk diselesaikan melalui jalur peradilan formal. Kasus-kasus yang proses penyelesaiananya wajib melibatkan pihak Kepolisian atau didorong untuk diselesaikan melalui jalur peradilan formal tersebut adalah kasus-kasus KDRT yang berkaitan dengan hal-hal mendasar yang tidak dapat ditoleransi, yakni: Kasus Pembunuhan dalam lingkup rumah tangga, Kasus Kekerasan Seksual dalam lingkup rumah tangga dan Kasus Penganiayaan Berat dalam lingkup rumah tangga. Untuk ketiga kasus ini para tokoh (tim gugus tugas) yang akan menyelesaikan kasus hanya dapat berperan untuk memediasi pihak keluarga dari korban maupun keluarga dari pelaku agar tidak terjadi konflik lanjutan. Bagi pelaku pembunuhan serta pelaku dan korban dalam kasus kekerasan seksual dan penganiayaan berat bisa mendapat pelayanan konseling dan bimbingan rohani dengan seijin aparat penegak hukum. Negosiasi eksternal diawali dengan pihak penerima kasus melakukan pendekatan kepada korban dan pelaku. Dalam melakukan pendekatan terhadap pelaku dan korban harus dibarengi dengan pelayanan konseling dan pelayanan bimbingan rohani. Khusus untuk korban yang terancam jiwanya, mendapat penolakan dari keluarga dan atau pelaku, korban yang butuh penanganan intensif tapi rumahnya jauh, serta korban yang memerlukan persiapan khusus untuk menjalani proses hukum formal, bisa disediakan Rumah Aman. 46

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Box. 4. PROTAP KONSELING & BIMBINGAN ROHANI 1. Konsele diterima konselor. 2. Bila kondisi konsele dalam situasi kritis, maka langkah awalnya konselor langsung memberikan pertolongan pertama dan apabila kondisi konsele parah, konselor segera membawanya ke dokter. 3. a. Penggalian informasi awal (identitas) dari konsele. Bila konsele adalah anak, maka penggalian informasi dilakukan dengan orangtua, wali atau pendamping. b. Penggalian masalah dengan prinsip konseling berwawasan gender : * Tidak mengadili korban/non judgement. * Membangun hubungan yang setara /egaliter. * Memegang prinsip keputusan ditangan korban/self determination. * Melakukan pemberdayaan/empowerment (Penyadaran gender, menjelaskan tentang hak-hak korban, memberikan dukungan, membantu memberikan pertimbangan atau solusi, membantu memahami masalahnya). * Menjaga kerahasiaan korban. 4. Konselor dan konsele (bila anak dengan orangtu/wali, keluarga korban yang mendampingi) membuat kesepakatan tentang: rujukan, tindak lanjut penyelesaian masalah, peran konselor dan konsele (bila anak dengan orangtua/wali, keluarga konsele yang mendampingi). 5. Kesepakatan rujukan termasuk rujukan ke psikolog bila konselor merasa konsele membutuhkan therapy khusus oleh psikolog. 6. Konselor membuat dokumentasi (lisan, tertulis, visual): identitas konsele, kronologi kasus, layanan yang diberikan, kondisi konsele (psikis, fisik, seksual).

Pelayanan konseling dan pelayanan bimbingan rohani dalam tahap negosiasi, harus diarahkan untuk: Pertama, Membantu konsele (korban dan pelaku) mengenali permasalahannya dan menemukan cara-cara yang efektif untuk mengatasinya sendiri, Kedua, Memberdayakan konsele (korban dan pelaku) untuk dapat memutuskan masa depannya sendiri. Ketiga, Menguatkan konsele (korban dan pelaku) dalam menghadapi proses yang dijalaninya. Keempat, Membuat konsele (korban dan pelaku) merasa diterima dan tidak dihakimi. Pendekatan terhadap korban dan pelaku, dimaksudkan untuk menggali akar masalah sekaligus melakukan penjajakan untuk menghasilkan kesepakatan mengenai cara dan bentuk penyelesaian sengketa yang diinginkan oleh korban maupun pelaku. Jika korban 47

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

b.

dan atau pelaku memilih penyelesaian kasusnya melalui sistem peradilan formal, maka pihak penerima kasus dalam hal ini tim gugus tugas harus tetap mendampingi korban dan merekomendasikan kasus ke aparat penegak hukum untuk ditangani sesuai hukum positif yang berlaku. Namun, kalau kedua belah pihak yang berselisih memilih penyelesaian alternatif, maka akan ditindaklanjuti dengan mediasi. Mediasi Mediasi atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan mediation adalah penyelesaian sengketa dengan cara menengahi. Mediasi juga dapat dipahami sebagai proses negosiasi pemecahan masalah dimana pihak yang akan menyelesaikan kasus tidak memihak (impartial) dan netral bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu memperoleh kesepakatan perjanjian secara memuaskan. Ditahap mediasi, pihak penerima kasus atau tim gugus tugas harus secara aktif melaksanakan fungsi sebagai mediator bagi korban dan pelaku kasus KDRT. Dalam melakukan mediasi, pihak yang dipercayakan menjadi mediator harus dapat menawarkan sejumlah alternatif penyelesaian yang sekiranya mampu menjawab perasaan keadilan para pihak sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga bisa tercipta. Para pihak dalam hal ini korban dan pelaku kemudian secara sadar akan mencari "titik temu" dengan memilih alternatif paling menguntungkan atau paling kecil resikonya untuk dijadikan sebagai bentuk dan cara penyelesian sengketa di antara mereka. Jika dalam mediasi tidak mencapai titik temu, maka kasus KDRT ini dapat diputuskan dan direkomendasi untuk di proses melalui mekanisme peradilan formal. Sedangkan jika ada titik temu dalam negosiasi ini, maka: Pertama, pelaku dan korban diwajibkan untuk menjalani rehabilitasi tanpa adanya sanksi bagi pelaku. Kedua, pelaku dikenakan sanksi sesuai dengan nilai-nilai dan kebiasaan di masyarakat, sekaligus pelaku dan korban diwajibkan juga untuk menjalani rehabilitasi. 48

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Selanjutnya, bentuk, cara penyelesaian sengketa dan hasil penyelesaian sengketa dituangkan dalam berita acara penyelesaian sengketa yang nantinya didaftarkan/diregistrasi pada Pengadilan Negeri setempat untuk mendapatkan kekuatan hukum tetap. c. Rehabilitasi Rehabilitasi adalah serangkaian aktivitas pelayanan yang ditujukan untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Proses rehabilitasi terhadap korban dan pelaku KDRT, idealnya diarahkan pada pulihnya kondisi baik fisik maupun psikis, sehingga korban dan pelaku dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari dalam lingkup rumah tangga dan dapat hidup di tengah masyarakat seperti semula. Untuk rehabilitasi fisik, tim gugus tugas harus berkoordinasi dengan pihakpihak yang bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan. Dalam konteks penyelesaian alternatif, rehabilitasi hanya dimaksudkan untuk memulihkan psikis dari korban dan pelaku. Karenanya, Proses rehabilitasi sehubungan dengan model penyelesaian alternatif kasus KDRT meliputi: Pertama, Pelayanan Konseling. Konseling adalah pemberian bantuan oleh seseorang yang ahli atau orang yang terlatih sedemikian rupa sehingga pemahaman dan kemampuan psikologis diri korban meningkat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. (Penjelasan Pasal 4 huruf c PP No. 4 Tahun 2006). Konseling yang dilakukan pada tahapan rehabilitasi, lebih difokuskan agar konsele dalam hal ini korban maupun pelaku dapat mengenali kelemahan dan kekuatannya, sekaligus memotivasi dan memberdayakan mereka menuju perubahan perilaku diri (dalam hal ini perilaku kekerasan) sehingga nantinya dapat diterima dalam lingkup keluarga maupun lingkungan masyarakat. Kedua, Pelayanan Bimbingan rohani. Bimbingan rohani adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationaship) antara tokoh agama/pembimbing rohani sebagai konselor dengan konselenya 49

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

(pelaku dan korban) dalam mana konselor mencoba membimbing konselenya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal atau condusive atmosphere. (Yakub B. Susabda, 1981). Untuk tahapan rehabilitasi, pelayanan bimbingan rohani harus dapat menjadikan konsele benar-benar mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, mengenali kelemahan dan kekuatannya, sekaligus memotivasi dan memberdayakan mereka menuju perubahan perilaku diri (dalam hal ini perilaku kekerasan), sehingga konselenya mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Allah dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Allah kepadanya. Ketiga, Penyediaan Rumah Aman. Dalam penjelasan pasal 22 ayat (1) huruf c UU PKDRT diuraikan bahwa Rumah Aman/shelter adalah tempat tinggal sementara/alternative yang digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap korban dan rasa aman pada korban KDRT. Penyediaan rumah aman bagi korban di tahapan rehabilitasi, jika korban mendapat penolakan dari keluarga dan atau korban yang butuh penanganan intensif tapi rumahnya jauh.
Box. 5. PROTAP RUMAH AMAN/SHELTER 1. Korban diterima di shelter. 2. Korban dapat diterima di shelter bila: a. Korban terancam keselamatannya. b. Korban jauh dari keluarga. c. Korban mendapat penolakan dari keluarga. d. Korban yang butuh penanganan intensif tapi rumahnya jauh. e. Untuk keperluan persiapan proses hukum. 3. Korban membaca dan menandatangani perjanjian masuk shelter dengan disaksikan oleh saksi (keluarga, pendamping). NB: Bila korban adalah anak, maka persetujuan masuk shelter ditandatangani oleh orangtua/wali/pendamping. 4. Konselor/pendamping menjelaskan peraturan selama di shelter. 5. Pendamping mendokumentasikan perkembangan korban di shelter (fisik, psikis, seksual). 6. Bila masa tinggal di shelter berakhir, korban menandatangani surat meninggalkan shelter. 7. Konselor wajib membuat surat yang menjelaskan kondisi korban saat meninggalkan shelter.

50

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

3.

Tahap Terminasi. Terminasi merupakan tahap akhir dari rangkaian proses penanganan suatu kasus KDRT. Terminasi adalah rangkaian aktivitas untuk mengakhiri dan atau pengakhiran dalam penanganan suatu kasus KDRT ketika maslah dari korban dan pelaku sudah terpecahkan. Menurut Imelda Daly (2009), dalam melakukan terminasi harus mempertimbangkan stabilisasi perubahan perilaku pada diri pelaku dan korban yang telah terjadi di tahap rehabilitasi dapat terjaga, sehingga korban dan pelaku dapat saling menerima dan diterima dalam lingkup rumah tangga maupun lingkungan masyarakat. Hal ini menjadi penting karena, sering ditemukan pelaku dan korban (terutama pelaku) mengalami kemunduran dan menampilkan kembali perilaku disfungsional pasca terminasi. Untuk itu, dalam proses terminasi hendaknya dikembangkan berbagai strategi agar korban dan pelaku mampu memelihara perubahan perilaku yang telah dicapai dalam tahapan rehabilitasi. Strategi dasar yang perlu dikembangkan, yakni: Pertama, Reintegrasi. Reintegrasi merupakan upaya untuk menyatukan kembali korban dengan pelaku maupun korban dan atau pelaku dengan pihak keluarga. Langkah utama dalam proses reintegrasi adalah tim gugus tugas bertemu dengan keluarga dari korban dan atau pelaku untuk menjelaskan tentang keberadaan kondisi fisik, psikologi dari korban dan atau pelaku pasca rehabilitasi, sekaligus mengajak/mendorong pihak keluarga untuk terlibat bersama-sama dengan tim gugus tugas memantau hubungan korban dan pelaku. Kedua, Monitoring. Monitoring atau Pemantauan adalah aktivitas pengumpulan informasi yang dilakukan untuk memastikan proses reintegrasi sudah berjalan sesuai dengan rencana atau belum. Dengan pengertian yang demikian, maka monitoring harus dilakukan secara periodik oleh berbagai pihak terutama Tim gugus tugas. Hasil dari monitoring dapat digunakan untuk mempelajari masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan dan mengambil sikap dan kebijakan yang mengembalikan kegiatan sehingga berbuah hasil yang diharapkan. 51

BAB III. MODEL PENYELESAIAN ALTERNATIF KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Output dari monitoring adalah penemuan unsur kegiatan yang tidak jalan atau ancaman-ancaman yang membuat kegiatan tidak berjalan seperti diharapkan. Langkah awal untuk pelaksanaan monitoring, yakni para pihak yang melakukan monitoring merumuskan indikator-indikator perubahan/capaian pada waktu yang diharapkan. Selanjutnya, melakukan kunjungan ke korban dan atau pelaku untuk mengetahui perkembangan hubungan di antara mereka.

52

BAB IV. PENUTUP

BAB IV PENUTUP
A. PENGANTAR Frederik Mbura (Tokoh Adat Desa Tuapukan) odel penyelesaian alternatif kasus KDRT yang sudah kami terapkan bersama Pihak Rumah Perempuan, pada wilayah ini (Tuapukan) sangat baik dan tepat. Apalagi korban dan pelaku dalam kasus KDRT tidak merasa rugi. Warga Desa Tuapukan juga lebih bisa menerima model penyelesaian alternatif ini karena mengutamakan pendekatan kekeluargaan, adat dan agama untuk mencapai tujuan utama, yaitu keharmonisan dalam keluarga. Dengan adanya model ini bisa memberikan pelajaran yang sangat baik dan sangat berharga. Harapan saya, model penyelesaian alternatif ini jangan hanya diterapkan pada kasus KDRT saja, tapi mungkin bisa juga dipergunakan untuk kasus-kasus lain yang ada di desa Tuapukan. Untuk itu, kami sangat butuh pendampingan, diskusi rutin dan lebih banyak uji coba sebelum model penyelesaian alternatif ini kita terapkan ketika menangani masalah lainnya. (Tuapukan, 3 Februari 2011).

Octory Gasperz, SE (Anggota DPRD Kab. Kupang, Periode 20092014) Terjadinya kasus KDRT merupakan suatu luapan emosional yang tidak terkontrol sehingga terjadi keributan dalam rumah tangga oleh karena itu penyelesaian alternatif sangat penting dalam penyeleasaian kasus KDRT ini dan ini juga sangat membantu pihak kepolisian dalam mengeliminir adanya kasus KDRT. Model Penyelesaian Alternatif Kasus KDRT merupakan suatu terobosan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Dalam proses penyelesaian suatu kasus KDRT idealnya harus melibatkan orang tua saksi (Bapak saksi dalam pernikahan), RT/RW setempat dan orang-oarang yang merasa lebih bertanggungjawab 53

BAB IV. PENUTUP

dalam penyelesaian tersebut. Kedepan Model penyelesaian alternative kasus KDRT ini bisa dipertimbangkan untuk dijadikan peraturan Desa dari setiap desa yang ada di kabupaten Kupang. Harapan saya adalah kasus KDRT tidak boleh terjadi karena yang menjadi korban dari itu semua adalah anakanak. (Kupang, 10 Januari 2011). Drg. Christina Ngadilah, MPh (Ketua TP PKK Kab Kupang, Periode 2009-2014) Persoalan KDRT di Kabupaten Kupang merupakan salah satu persoalan kemanusiaan yang sampai saat ini belum bisa di tanggulangi secara maksimal. Buktinya, kebanyakan kasus yang diselesaikan melalui proses hukum belum menghasilkan suatu keharmonisan dalam rumah tangga, sebagaimana yang diamanatkan UU PKDRT. Untuk itu, model penyelesaian alternatif kasus KDRT yang didesain oleh Rumah Perempuan diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif solusi. Sebagai seorang Ibu dan " Ibu" dari masyarakat kabupaten Kupang, saya menyarankan agar model penyelesaian alternatif ini dapat diterapkan disetiap wilayah di Kabupaten Kupang. Tetapi dalam penerapannya, model penyelesaian alternative kasus KDRT ini harus dimodifikasi sesuai dengan karakter budaya masyarakat setempat. Dengan begitu diharapkan penyelesaian kasus KDRT melalui proses hukum akan menjadi pilihan terakhir dalam penanganan kasus KDRT. (Kupang, 4 Februari 2011). Yacob Folle, SE (Kepala Desa Noelbaki, Periode 20072013) Kasus KDRT tidak semua harus di bawah ke ranah hukum karena banyak kasus KDRT yang masalahnya ringan dan bisa diselesaikan secara Alternatif. Model Penyelesaian kasus KDRT secara alternatif yang dibuat oleh Rumah Perempuan ini sudah kami terapkan dan hasilnya sangat luar bisa. Dari sekian kasus KDRT yang ditangani dengan model penyelesaian alternatif ini berakhir pada keutuhan rumah tangga. Selain itu, tidak banyak memakan anggaran. Dalam model penyelesaian alternatif ini, banyak pihak yang dilibatkan. Mulai dari aparat desa, tokoh adat, tokoh perempuan maupun tokoh pemuda. Kedepan kami 54

BAB IV. PENUTUP

Esaf Daka Besi (Karteker Desa Tuapukan, Periode 2008-Sekarang) Penyelesaian Alternatif kasus KDRT yang diprakarsai oleh Rumah Perempuan ini sangat bermanfaat karena dalam mewujudkan keharmonisan dalam suatu rumah tangga, tidak mengesampingkan nilai-nilai agama, adat istiadat dan kebiasaan yang ada di desa Tuapukan. Implementasinyapun tidak rumit sebab model penyelesaian ini sangat mengutamakan asas kebersamaan pendekatan kekeluargaan dimana melibatkan aparat desa, tokoh adat, tokoh agama dan semua unsur stakeholdrs yang ada di wilayah desa. Harapan saya sebagai sekretaris desa yang juga adalah karteker Desa Tuapukan adalah rumah perempuan bisa memfasilitasi kami dalam pembuatan peraturan desa berkaitan dengan model penyelesaian alternatif kasus KDRT dan kasus lainnya. Selain itu, mungkin pihak rumah perempuan dapat terus memberikan penguatan kapasitas berkaitan dengan konseling dan mediasi, supaya kami bisa bekerja lebih maksimal dalam penyelesaian kasus KDRT. (Tuapukan, 9 Februari 2011). Iin Luttu (Tokoh Perempuan Desa Tuapukan) Kasus KDRT merupakan kasus internal dalam sebuah Rumah tangga yang seharusnya bisa di selesaikan secara kekeluargaan tapi dalam kenyataannya ada banyak pihak yang langsung ke pihak kepolisian untuk membuat laporan polisi dan di proses secara hukum. Pengalaman kami di Desa Tuapukan dalam menyelesaikan kasus KDRT dengan mempergunakan model alternatif, hasilnya cukup memuaskan karena kami dapat mengembalikan keharmonisan yang dimiliki oleh pasangan suami istri seperti sebelum mereka bertikai. Sedangkan, Pengalaman kami ketika menyelesaikan kasus KDRT dengan memakai jalur hukum dan di tangani oleh pihak kepolisian, kami menemukan suatu proses penyelesaian sangat berbelit-belit, memakan anggaran yang lebih mahal dan juga bisa menyebabkan perceraian bagi yang bertikai. Harapan kita ke 55

BAB IV. PENUTUP

depan supaya Rumah Perempuan, bisa lebih sering melatih masyarakat dalam hal mediasi dan konseling sehingga kami yang awam ini bisa menerapkan model penyelesaian alternatif kasus KDRT ini secara lebih baik. (Tuapukan, 15 Januari 2011). Muhazir Hornai Belo (Koordinator Camp Noelbaki) Model penyelesaian alternatif yang di terapkan selama ini sangat menguntungkan kami masyarakat kecil terlebih bagi kami masyarakat camp Noelbaki, setiap masalah yang terjadi dalam camp termasuk masalah KDRT selalu di koordinasi ke koordinator dalam penyelesaian masalah tersebut. Tidak ada untungnya bagi kami apabila penyelesaian harus melibatkan pihak keamanan dalam menanganinya sehingga masalah yang terjadi harus di selesaikan secara alternatif. Harapan kami bagi Rumah Perempuan kalau bisa Kegiatan Pendampingan di Desa Noelbaki di perpanjang sehingga kami lebih mendalami lagi model penyelesaian alternatif yang sudah di terapkan oleh Rumah Perempuan. Kami berharap ada semacam pelatihanpelatihan bagi kami bagaimana cara menangani masalah secara alternatif dan membekali kami dengan materi-materi khusunya materi tentang KDRT, konseling, mediasi. Materi-materi ini akan sangat membantu kami dalam penanganan kasus KDRT. (Noelbaki, 11 Februari 2011). B. P E R A N A N P E M E R I N T A H K A B U P A T E N K U P A N G D A L A M MEWUJUDKAN PENYELESAIAN ALTERNATIF KDRT Oleh. Drs.Ayub Titu Eki, Phd - Bupati Kupang Periode 2009-2014 DRT merupakan salah satu fenomena umum kehidupan masyarakat yang unik karena kejadiannya tidak diinginkan oleh siapapun juga namun sering sekali terjadi. Dikatakan unik oleh karena kejadian KDRT melibatkan keluarga bukan saja di Desa tetapi juga di Kota, keluarga berpendidikan rendah dan tinggi, keluarga ekonomi lemah dan kuat, lintas agama dan budaya 56

BAB IV. PENUTUP

suku bangsa. Di mana saja terjadi KDRT dan menimpa siapa saja sudah tentu masyarakat sekitar selalu memandang pelaku sebagai orang yang kurang beradab dan selalu ada upaya hukuman bagi pelaku. Sungguhpun upaya penanganan dan hukuman sering diberikan kepada pelaku, namun angka KDRT nampak terus meningkat. Bertolak dari realita yang demikian, maka Rumah Perempuan yang merupakan institusi masyarakat sipil yang konsern pada upaya penghapusan KDRT, telah mendesain model penyelesaian alternatif. Sehubungan dengan itu, sumbangan pemikiran saya terkait dengan Peran Pemerintah Kabupaten Kupang dalam mewujudkan Penyelesaian Alternatif KDRT mencakup tiga tahap pendekatan yaitu upaya pencegahan (preventive approach), upaya penanganan kasus dan pemulihan hubungan suami-istri yang sedang bertikai (curative approach) dan upaya pemeliharaan kondisi sesudah masa pertikaian suami-istri (rehabilitative approach). Selanjutnya saya mencoba memberikan m a s u k a n b e rd a s a r k a n ke t i g a t a h a p p e n d e k a t a n t e r s e b u t . Pendekatan pencegahan sering diabaikan. Sesungguhnya mencegah jauh lebih mudah, lebih murah dan lebih sukses dari pada mengobati. Mematikan api emosi suami atau istri sebelum merambat lebih jauh perlu mendapat perhatian serius dalam penanganan alternatif KDRT. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab yaitu bangaimana menditeksi dini api emosi yang dapat menyulut KDRT? dan siapa pula yang paling bertanggung jawab melakukan diteksi dini dan upaya pencegahan KDRT? Menjawab dua pertanyaan ini maupun pertanyaan lain terkait dengan upaya pencegahan KDRT perlu masukan dari berbagai pihak, baik pandangan maupun pengalaman praktis. Saya sendiri menyarankan tiga hal sebagai berikut: Pertama, perlu ada media layanan konsultasi keluarga secara langsung maupun tidak langsung. Ada orang yang berani atau tidak rela jika masalah keluarga atau masalah pribadinya diketahui oleh orang-orang dekat sekalipun. Konsultasi tidak langsung dapat menggunakan layanan SMS atau surat kepada konsultan ahli dan terpercaya tanpa bertemu muka dengan muka. Konsultasi langsung yang terstruktur memberikan kesempatan dialog lansung pada tempat dan waktu tertentu antara orang bermasalah dengan konsultan ahli yang terpercaya tentang cara mematikan api emosi yang dapat menyulut KDRT. Untuk hal ini diperlukan ruangan khusus sebagai klinik konsultasi 57

BAB IV. PENUTUP

keluarga dan saya menyarankan kiranya dapat menggunakan ruangan gereja di luar jam kebaktian/ibadah. Konsultasi langsung yang tidak terstruktur mewajibkan siapa saja diantara kita yang merasa terpanggil dan terbeban untuk membantu meringankan beban psikologis sesama yang mengeluhkan masalahnya. Kita semua yakin bahwa semua hal berawal dari kecil menjadi besar. Demikian pula masalah keluarga. Ketika sesuatu masalah baru mulai terjadi, pasti ada gejala dalam bentuk keluhan atau nampak perubahan pola tingkah laku yang langsung diketahui orang-orang dekat. Orang dekat inilah yang harus segera dapat membantu menyelesaikan masalah sebelum berkembang lebih jauh. Kedua, perlu ditingkatkan upaya penyadaran atau perubahan pola pikir pasangan suami istri dan masyarakat pada umumnya dalam hal kemandirian menyelesaikan masalah sendiri dari pada melibatkan orang lain. Sikap ketergantungan pada orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah pribadi dan/atau masalah keluarga nampak masih tinggi. Sikap ketergantungan yang tinggi menunjukan ketidak-dewasaan atau sikap kekanak-kanakan seseorang walaupun secara fisik sudah dewasa dan telah menikah, bahkan sudah mempunyai anak. Melibatkan orang lain turut menyelesaikan masalah suami-istri sama dengan membuka aid diri/keluarga dan dapat pula mendorong pertikaian keluarga semakin meluas. Tidak semua orang yang rela membantu menyelesaikan persoalan suami-istri mampu melihat persoalan secara obyektif dan membela kebenaran, melainkan lebih sering mengupayakan pembenaran pihak pelapor sehingga mendorong perluasan persoalan kecil menjadi persoalan besar. Dalam hal ini perlu ditumbuhkan prinsip bahwa jika seseorang terbiasa menyelesaikan masalah sendiri maka besar peluang dapat menyelesaikan masalah orang lain. Demikian pula Jika seseorang mampu menyelesaikan masalah kecil maka ada kemungkinan dapat pula menyelesaikan masalah besar. Upaya penyadaran masyarakat agar mandiri dalam menyelesaikan persoalan sendiri perlu dikembangkan melalui melalui khotbah/renungan, penyuluhan, dan bentuk komunikasi terbuka lain maupun dalam bimbingan khusus. Ketiga, perlu ditingkatkan sebanyak mungkin kegiatan ekonomi produktif dan aktivitas sosial-keagamaan yang membangun sikap mental 58

BAB IV. PENUTUP

yang baik dan menyalurkan aktualitas diri suami atau istri. Pada umumnya pihak suami atau istri yang kurang kerja cenderung mencari kesalahan dan membesarkan masalah. Orang yang kurang kerja lebih banyak menghabiskan waktu untuk berceritera, menyebar/menerima gosip dan membuat keonaran. Sebaliknya orang yang sibuk kerja atau banyak aktif dalam pelayanan sosial/rohani akan menguras pikiran dan tenaga untuk hal-hal positif dan membangun relasi dari pada kesibukan membuat persoalan dan mengembangkan masalah. Upaya penanganan alternatif kasus KDRT dan merukunkan kembali hubungan suami-istri yang sedang (curative approach) sama dengan tindakan penyembuhan penyakit sosial yang memerlukan pilihan yang tepat. Jika salah pilih maka keadaan akan tambah buruk. Pilihan dimaksud menyangkut: pilihan orang, waktu, tempat dan cara pendekatan. Pertama, orang dimaksud dapat seorang diri atau beberapa orang secara bersama-sama harus memiliki rasa terbeban, terpanggil, terbiasa/terlatih dan terpercaya dalam hal penyelesaian alternatif kasus KDRT. Terbeban oleh rasa tanggung-jawab karena kedudukan, tugas atau jabatan yang melekat sebagai orangtua, tetua adat, saksi nikah, Majelis Jemaat, ketua RT/RW dan sebagainya. Orang yang terbeban tidak akan merasa nyaman jika kasus dimaksud belum selesai. Terpanggil secara emosional, psikologis dan oleh dorongan iman untuk ikut mengambil bagian dalam upaya penyelesaian kasus sesama. Orang yang terpanggil (dan terbeban) akan berupaya terus-menerus menerapkan cara yang satu diikuti cara yang lain hingga tuntas persoalan yang dihadapi. Terbiasa/terlatih dalam upaya penyelesaian konflik suami-istri dengan hasil yang dapat diterima oleh masing-masing pihak. Dalam hal ini kita semua tahu bahwa semua pintu dapat dibuka dengan kunci, tetapi tidak semua pintu dapat dibuka dengan kunci yang sama, kecuali dengan Master Key atau Kunci Pas. Orang yang terbiasa/terlatih memiliki kemampuan sama dengan Kunci Pas yaitu dapat menerapkan cara yang tepat untuk membuka pintu hati suami-istri untuk saling memaafkan dan saling menerima. Terpercaya terutama dalam hal menjaga rahasia dan mengutamakan kebenaran dalam upaya penyelesaian konflik suami-istri. Mengenai siapa orang yang tepat dalam arti: terbeban, terpanggil, terbiasa/terlatih dan terpercaya dalam 59

BAB IV. PENUTUP

penyelesaian alternatif KDRT harus dilihat secara saksama dan Rumah Perempuan dapat memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang hal ini. Kedua, pilihan waktu yang tepat dapat membantu penyelesaian alternatif KDRT dengan mudah. Lebih cepat lebih baik dalam pengertian tidak boleh menunda waktu lebih lama untuk menyelesaikan masalah suami istri yang sedang bertikai. Waktu yang berlarut pasti memberikan kesempatan kepada masing-masing pihak, suami dan istri, untuk membangun kubuh pertahanan sendiri-sendiri dan/atau melakukan tindakan membalas dendam satu terhadap yang lain atau memancing reaksi lawan lebih lanjut. Pilihan waktu juga menuntut kepekaan tinggi dari orang yang membantu menyelesaikan masalah suami-istri untuk cermat menentukan saat yang tepat dalam menasihati seseorang untuk berdamai dengan pasangannya. Saat kemarahan memuncak atau kesibukan tinggi sepatutnya dihindari. Segala sesuatu ada waktunya dan kita telah diberi kuasa untuk dapat memanfaatkan setiap waktu secara baik untuk mendamaikan sesama. Ketiga, pilihan tempat dapat mempengaruhi hasil penyelesaian alternatif KDRT. Tempat yang tepat dapat mempengaruhi suasana hati seseorang untuk dapat mengungkapkan isi hati secara jujur dan terbuka menerima saran atau pendapat orang lain. Tempat yang ramai dan terbuka membuat tidak rasa nyaman seseorang dapat mengungkapkan perasaan hati sepenuhnya sekalipun kepada orang yang dipercaya. Demikian pula tempat yang terlalu tertutup dan sangat sepih dapat menimbulkan rasa curiga dan membias pembicaraan keluar konteks. Pilihan tempat dapat berpindah sesuai perkembangan keadaan tetapi arah dan sasaran pembiraan harus membuahkan penyelesaian alternatif KDRT. Keempat, cara pendekatan hendaknya tidak bersifat menghakimi melainkan bersifat layanan konsultasi, bimbingan dan pengarahan bagi klien untuk mengambil keputusan damai dengan pasangan secara sukarela. Dalam hal ini konsultan harus mulai dengan upaya mendengar lebih banyak dari klien dan pandai bertanya sedemikian rupa agar klien terbuka dan mengungkap secara jujur seluruh isi hatinya. Selanjutnya diikuti dengan saran dan pendapat yang mengarahkan damai secara sukarela. Tidak harus dipaksakan selesai dalam satu atau dua kali pertemuan, tergantung beratringan persoalan keluarga yang dialami. Demikian pula tidak benar jika 60

BAB IV. PENUTUP

konsultasi hanya dilakukan terhadap salah satu pihak saja yaitu suami atau istri dan konsultan bagi suami tidak harus sama dengan konsultan bagi istri. Konsultasi dan bimbingan dapat dikaukan oleh tim tetapi sebaiknya terpisah tempat dan waktu pada tahapan awal sebelum pertemuan final bersama dimana masing-masing pihak telah dipersiapkan secara emosional untuk saling menerima. Ini hanya salah satu cara yang dapat saya sarankan dan Rumah Perempuan diharapkan menghimpun pendapat sebanyaknya dalam sebuah buku penuntun penyelesaian alternatif KDRT. Upaya rehabitasi hubungan suami istri setelah rukun kembali sering diabaikan dan justru hal ini dapat memicuh persoalan lanjutan yang tidak dapat diselesaikan lagi selain tuntutan cerai atau main hakim sendiri. Karena itu jangan sepelehkan uapaya rehabilitasi hubungan suami-istri setelah bentrok dan didamaikan. Catatan konsultan mengenai harapan, permintaan dan ungkapan isi hati suami dan istri untuk menerima tawaran damai harus ditindak lanjuti, walaupun demikian, tidak semua tuntutan harus dipenuhi apa adanya. Dalam hal ini yang perlu dipikirkan yaitu bagaimana menindak lanjututi permintaan: pasangan berhenti jadi pemabuk, suka cemburu, punya WIL/PIL dan sebagainya. Ini menjadi akar persoalan yang harus diselesaikan secara tuntas dari pada sekedar penyelesaian dalam bentuk: pengakuan damai, denda, doa bersama, jabatan tangan dan ciuman. Tindak lanjut dapat berwujud pindah tempat tinggal dan/atau tempat kerja, mengaktifkan komonikasi keluarga, meningkatkan taraf iman suami dan istri dan sebagainya. Saya sendiri menyarankan bimbingan rohani terusmenerus dalam waktu yang tidak terbatas dengan harapan Tuhan pasti ikut merukunkan suami dan istri. Akhirnya saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga bagi Rumah Perempuan atas perjuangannya dalam melakukan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga demi terwujudnya keharmonisan rumah tangga. Kiranya model penyelesaian alternatif kasus KDRT ini dapat merukunkan pasangan suami-istri yang cenderung bertikai di zaman sekarang ini dan dapat menurunkan angka KDRT khususnya dalam wilayah Kabupaten Kupang. Selamat bekerja dan Tuhan Yesus memberkati selalu.

61

DAFTAR BACAAN

DAFTAR BACAAN
A. BUKU: 1. Alo Liliweri, Gatra-gatra Komunikasi Antarbudaya, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001. 2. Frank G. Goble, The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow, alih bahasa, A. Supratinya, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1987. 3. Gunawan Wijaya, Seri Hukum Bisnis: Alternatif Penyelesaian Sengketa, Penerbit Raja Grapindo Persada, Jakarta, 2001. 4. I. S. Susanto, Kriminologi, Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 1998. 5. John Rawls, A theory of Justice, Publusher Oxford University Press, London, 1971. 6. Joni Emerzon, Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004. 7. Kusumadi Poedjosewojo, Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia, Penerbit Aksara Baru, Jakarta, 1971. 8. Muhammad Yamin, Tata Negara Majapahit, Sapta Purwa II, Tanpa Tahun. 9. Poerwadarminto, Kamus Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 1990. 10. R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Penafsirannya, Penerbit Politeia, Bogor, 1976. 11. R. M. Surachman dan Andi Hamzah, Jaksa di Berbagai Negara, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 1966. 12. Simon Fisher, dkk, Mengelola Konflik: Ketrampilan dan Strategi Bertindak, Penerbit The British Council-Indonesia, Jakarta, 2001. 13. Stephen K. Sanderson, Macrosociology, alih bahasa, Farid Wajidi dan S. Menno, Makro Sosiologi: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial , Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003. 14. Suyud Margono, ADR (Alternative Dispute Resolution) dan Arbitrase: Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Cet. I, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta, 2000. 62

DAFTAR BACAAN

15. Tim KP3A, Prosedur Standar Operasional Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, Penerbit Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A), Jakarta, 2010. 16. Tim Rumah Perempuan, Setetes Air di Tengah Kegersangan, Penerbit Rumah Perempuan, Kupang, 2010. 17. Tim Rumah Perempuan, Catatan Akhir Pendampingan Korban KDRT Periode 2005-2010, Penerbit Rumah Perempuan, Kupang, 2010. 18. T. O. Ihromi, Sosiologi Keluarga, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999. 19. Yakub B. Susabda, Pastoral Konseling Jilid 1, Penerbit Yayasan Gandum Mas,Jakarta, 1981. 20. W. E. Sutterheim, Het Hindoeisme in den Archipel, A. W. Sitjhoffs Uitgevemij, M. V. Leiden, Tanpa Tahun. B. D I S E R T A S I / T E S I S / S K R I P S I / L A P O R A N A D V O K A S I : 1. Ahmadi Hasan, Penyelesaian Sengketa Hukum Berdasarkan Adat Badamai Pada Masyarakat Banjar dalam Kerangka Sistem Hukum Nasional, Disertasi, pada Program Doktor Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2007. 2. Juppa Marolob Haloho, Peranan Lembaga Sosial Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Study di LBH APIK Medan), Skripsi, Pada Program Sarjana Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara, Medan, 2008. 3. Lamber Missa, Studi Kriminologi Penyelesaian Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Wilayah Kota Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur, Tesis, Pada Program Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2010. 4. Marisa Kurnianingsih, Penyelesaian Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Luar Pengadilan, Skripsi, Pada Program Sarjana Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah, Surakarta, 2010.

63

DAFTAR BACAAN

C. MAKALAH/ARTIKEL: 1. Arief Barda Nawawi, Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia) , Makalah, Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 25 Juni 1994. 2. Daniel Sparinga, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: Penyelesaian atas Warisan Rezim Otoritarian dan Penyelamatan Masa Depan di Indonesia, Makalah, dipresentasikan dalam Semiloka, Pembangunan Hukum Nasional VIII yang diselenggarakan oleh BPHN-DEPKEHAM, di Denpasar, Bali, 14-18 Juli 2003. 3. Imelda Daly, Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Penyelesaian Altrenatif , Makalah, dipresentasikan dalam Diskusi Terbatas, Penyelesaian Alternatif Kasus KDRT: Antara Tantangan dan Harapan, yang dilaksanakan oleh Rumah Perempuan, di Restoran Nelayan, Kota Kupang, pada tanggal 14 Juni 2009. 4. Mohammad Azzam Manan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif Sosiologis, Artikel, yang dipublikasikan dalam Jurnal Legislasi Indonesia - Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan HAM RI, Vol. 5 No. 3, September 2008, 5. Paul SinlaEloE, Peranan Masyarakat Sipil dalam Pemantauan Peradilan, Makalah, dipresentasikan dalam Semiloka, Membangun Komitmen Multipihak dalam Mewujudkan Lembaga Peradilan yang Mandiri, Fair, Netral, Kompeten dan Berwibawa, yang dilaksanakan oleh Komisi Yudisial-RI bekerjasama dengan FH Universitas Mataram, di Hotel Lombok Raya, Mataram, pada tanggal 24 Agustus 2006. 6. Paul SinlaEloE dan Adi Nange, Laki-Laki dan Penghapusan KDRT, Artikel, yang dipublikasikan dalam Harian Pagi Timor Express, tanggal 22 Maret 2010. D. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN: 1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Tahun 1945 2. UU No. 1 Tahun 1946, tentang Penerjemahan dan Pemberlakukan Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indi menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 64

DAFTAR BACAAN

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

16. 17.

18.

UU No. 22 Tahun 1957, tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. UU No. 5 Tahun 1974, tentang Pemerintahan Daerah. UU No. 5 Tahun 1979, tentang Pemerintahan Desa. UU No. 8 Tahun 1981, tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. UU No. 7 Tahun 1984, tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. UU No. 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah. UU No. 30 tahun 1999, tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. UU No. 39 Tahun 1999, tentang Hak Asasi Manusia. UU No. 23 Tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. UU No. 13 Tahun 2006, tentang Perlindungan Saksi dan Korban. PP No. 4 Tahun 2006, tentang Penyelenggaraan dan Kerja Sama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga. UU No. 21 Tahun 2007, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. PP No. 9 Tahun 2008, tentang Tata Cara dan Mekanisme Pelayanan Terpadu Bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang. Peraturan MA-RI No. 02 Tahun 2003, tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. PERMEN PPPA-RI NO. 01 Tahun 2010, tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. Perda Prov. NTT No. 14 Tahun 2008, tentang Pencegahan dan Penanganan Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang.

65

BIOGRAFI PENULIS

BIOGRAFI PENULIS
W. S. Libby Ratuarat-SinlaEloE, lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 5 Agustus 1971. Menyelesaikan study S1 di Fakultas Peternakan Univesitas Negeri Nusa Cendana, Kupang, tahun 1996. Terlibat dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sejak menjadi relawan di Rumah Perempuan pada tahun 2000. Selama bergabung di Rumah Perempuan, pernah bertugas sebagai Staf Divisi Publikasi dan Informasi Tahun 2001-2002, Koordinator Divisi Penguatan Kapasitas periode 2003-2004, Koordinator Divisi Publikasi dan Informasi periode 2004-2005, Staf Pendampingan Korban Tahun 20052006, Koordinator Pendampingan Korban periode 2006-2009 dan sejak tahun 2009 sampai dengan sekarang dipercayakan untuk menjabat sebagai Koordinator Umum Rumah Perempuan. Selain itu, pernah menjadi Koordinator Blok Politik Masyarakat Sipil Kota Kupang Periode 2008-2010, Anggota Panwaslu Kota Kupang Pemilihan Legislatif DPR, DPRD, DPD tahun 2008-2009. Aktivitas lain yang sering dilakukan adalah menjadi pembicara dan fasilitator dalam berbagai seminar, workshop, Lokakraya, pelatihan yang berkaitan dengan issue perempuan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Kekerasan Terhadap Anak, Traffikcing dan Buruh Migran baik pada level nasional maupun lokal. Karya terakhir yang ditulis bersama rekan-rekannya di Rumah Perempuan adalah buku SETETES AIR DI TENGAH KEGERSANGAN, yang di terbitkan tahun 2010 oleh Rumah Perempuan dengan dukungan Brot Fur die Welt dan American Friend Service Commite.

Tri Maryono Soekirman, lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 15 Maret 1980. Menyelesaikan study S1 pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, tahun 2007. Sebelum bergabung menjadi staf pendamping 66

BIOGRAFI PENULIS

komunitas serta publikasi di Rumah Perempuan pada tahun 2010, pernah menjadi tenaga Pendamping Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada Dinas Pembangunan masyarakat Desa (PMD) di desa Ohaem, Kec. Amfoang Selatan, Kab. Kupang, Nusa Tenggara Timur pada periode 1998-1999. Selain itu, pernah bekerja sebagai staf Data Entry Casual pada SENSE Project di Care International Indonesia-Kupang Office pada periode 2007-2009. Selama bergabung dengan Rumah Perempuan, sering terlibat sebagai nara sumber maupun peserta dalam berbagai pelatihan, seminar dan workshop terutama yang berkaitan dengan persoalan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Kekerasan Terhadap Anak dan Perdagangan Orang. Aktivitas lainnya adalah melakukan pengorganisiran pada level komunitas, melakukan konseling terhadap para pelaku KDRT dan mengasistensi teknis operasional rumah magnetik untuk pemantauan buruh migran. Marthen Luther Johannis Paul SinlaEloE, lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 31 Oktober 1973. Menyelesaikan pendidikan S1 pada Program Study Ilmu Hukum Jurusan Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, pada tahun 2003. Menulis skripsi berjudul: DESKRIPSI TENTANG PELAKSANAAN PENDIDIKAN POLITIK OLEH PARTAI POLITIK DI KOTA KUPANG. Sejak tahun 2004 sampai sekarang, bergabung dengan Perkumpulan Pengembangan Inisiatif Advokasi Rakyat (PIAR-NTT) dan bekerja sebagai Staf Div. Advokasi (Community Organizer & Penanggung Jawab Wilayah di Kab. Kupang untuk Kec. Amfoang Selatan, Kec. Takari dan Kec. Fatuleu) periode 2004/2005, Staf Div. Advokasi (Community Organizer & Penanggung Jawab Wilayah untuk Kab. Rote Ndao) periode 2005/2006 dan sejak Maret 2006 sampai Sekarang menjadi Staf Div. Advokasi (Pengembangan Jaringan Anti Korupsi & Pemantauan Korupsi). Aktifitas lain yang senantiasa dilakukan sejak kuliah hingga sekarang adalah: Pertama, Aktif melakukan pengorganisiran terhadap masyarakat miskin dan kelompok marjinal lainnya, Melakukan advokasi/pendampingan terhadap masyarakat untuk menolak berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat, Melakukan Advoksi untuk mendorong lahirnya kebijakan 67

BIOGRAFI PENULIS

yang pro rakyat, Melakukan Analsis dan mengkritisi APBD serta Melakukan Investigasi dan Advokasi Berbagai kasus Korupsi di NTT. Kedua, Aktif mengikuti diskusi diberbagai pertemuan/forum pada level nasional maupun lokal dalam kapasitas sebagai Nara sumber, fasilitator maupun peserta. Ketiga, Aktif menulis artikel di berbagai mediamassa cetak maupun elektronik. Artikel yang sudah dipublikasi tersebut diantaranya berkaitan dengan issue Korupsi, Perencanaan Pembangunan, Anggaran Publik, Perempuan, Kemiskinan, Partai Politik, Pemilihan Umum, Pertanahan, Kepemimpinan.

67

LAMPIRAN

LAMPIRAN:

RUMAH PEREMPUAN KUPANG


VISI: Terbebasnya masyarakat miskin, perempuan dan anak dari Eksploitasi, Diskriminasi, persoalan Kesehatan dan Tindak Kekerasan di Kupang. MISI: 1. Meminimalisir eksploitasi dan Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak. 2. Memperkuat perekonomian Perempuan dan Masyarakat Miskin. 3. Memperluas akses masyarakat Miskin, Anak, dan Perempuan pada layanan Kesehatan dasar. 4. Memperkuat kapasitas lembaga melalui kerja jaringan di tingkat Lokal, Regional dan Nasional. KEPENGURUSAN: Libby SinlaEloE (Koordinator Umum), Rahmawaty Bagang (Koord. Div. Penguatan Kapasitas), Imelda Daly (Koord. Div. Pendampingan), Theresia Siti (Staf Publikasi), Noldi Taduhungu (Staf Kesekretariatan), Tri Sukirman (Staf Pendampingan), Hofni Tefbana (Staf pendampingan), Julius Boni Geti (Staf Pendampingan), Nur Kassi (Relawan Pendamping), Imelda Pong (Relawan Pendamping),

ALAMAT: Jln. Pegangsaan I, No. 17, Kelapa Lima, KotaKupang-Nusa Tengga Timur; Telp/Fax. (0380)-823117; E-mail:
68

LAMPIRAN

PROFIL

AMERICAN FRIENDS SERVICE COMMITTEE (AFSC) VISI: Komunitas AFSC Indonesia bekerja untuk mentransformasi kondisi dan hubungan-hubungan yang ada di dunia dan di dalam diri sendiri, yang mengancam untuk menghancurkan nilai-nilai mulia dalam hidup manusia. AFSC mempunyai keyakinan bahwa konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan, permusuhan bisa menjadi persahabatan, pertentangan bisa menjadi kerjasama, kemiskinan bisa menjadi kesejahteraan dan ketidakadilan bisa menjadi kemartabatan dan penghargaan. MISI : Komunitas AFSC Indonesia bekerja untuk mempengaruhi dan memberdayakan pemuda, orang-orang kunci dan lembaga-lembaga kunci melalui kemitraan, sehingga mereka dapat memakai metodemetode nir-kekerasan untuk mentransformasikan konflik dalam komunitas yang mereka layani. NILAI : Kami menghargai keyakinan bahwa Tuhan ada dalam diri setiap manusia, dan keyakinan itu menuntun kami untuk menghargai nilai dan martabat setiap manusia. Kami dituntun dan selalu dikuatkan oleh Tuhan dalam mengikuti semangat jemaat Kristen pada awal mula. Dari keyakinankeyakinan ini mengalirlah pemahaman utama yang membentuk kerangka dasar spiritual lembaga ini dan yang selama ini telah menuntun karyakarya kami.
69

LAMPIRAN

Kami meyakini bahwa tak seorang pun menjadi musuh kami. Meskipun kami sering menentang tindakan tertentu atau penyalahgunaan kekuasaan, namun yang selalu kami perjuangkan sebenarnya adalah kebaikan dan kebenaran yang ada dalam diri setiap manusia. Kami berpendapat bahwa kekuatan kasih dan anti kekerasan yang bisa mengubah keadaan merupakan tantangan terhadap ketidakadilan dan kekerasan dan sebagai kekuatan demi terciptanya rekonsiliasi. Kami terus mencari dan percaya pada kekuatan Tuhan yang menuntun setiap manusia dalam pencarian bersama menuju kebenaran dan perbuatan nyata. Kami mengakui bahwa pemahaman kami tentang kebenaran belumlah sempurna dan kami mempunyai keyakinan bahwa persepsi baru tentang kebenaran akan terus tercipta untuk kemudian dinyatakan, baik kepada kami maupun kepada orang lain.

Prinsip S -implicity P -eace I -ntegrity C -ommunity E -quality Kesederhanaan Perdamaian Integritas Komunitas Kesetaraan

ALAMAT: Jln. Krasak Barat, Kota Baru, Yogyakarta; Telp/Fax. 0274-517062/0274556610; Email: ; Website: www.bina-damai.net

70

AMERICAN FRIENDS SERVICE COMMITTEE Jln. Krasak Barat, Kota Baru, Yogyakarta; Te l p / Fa x . 0 2 7 4 - 5 1 7 0 6 2 / 0 2 7 4 - 5 5 6 6 1 0 ; Email: ; Website: www.bina-damai.net

Jln. Pegangsaan I, No. 17, Kelapa Lima, Kota Kupang-NTT Telp/Fax. (0380)-823117; E-mail : rmhperempuan@yahoo.co.id

RUMAH PEREMPUAN KUPANG

ISBN: 978-602-96517-1-3