Anda di halaman 1dari 13

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS Nama Lengkap Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat : Ny. S : 50 tahun : Wanita : Islam : Ibu Rumah Tangga : Tanjung Rejo

II.

ANAMNESIS Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 8 Januari 2012, pukul 11.00 WIB Keluhan utama : Penglihatan menurun pada kedua mata sejak 1 minggu SMRS Riwayat Penyakit Sekarang : 1 minggu SMRS, pasien merasakan penglihatan menurun pada kedua mata disertai dengan sakit kepala cekot-cekot. Mata tidak dirasakan sakit ketika digerakkan. Gatal tidak dirasakan, mengganjal tidak dirasakan, keluar kotoran tidak dirasakan, mata merah tidak dirasakan. Muntah tidak dirasakan. Pasien mengaku sebelumnya pernah mengalami hal yang seperti ini yaitu penglihatan yang menurun. 3 hari SMRS, pasien mengaku bahwa penglihatannya semakin menurun dan kadang-kadang pandangan menjadi gelap. Untuk itu pasien memutuskan untuk kontrol ke klinik mata. Riwayat Penyakit Dahulu : Hipertensi (+) Diabetes Mellitus (+) Alergi (-) Riwayat penggunaan kacamata (-)

Riwayat trauma pada mata (-)

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang menderita sakit yang sama seperti pasien. Riwayat Sosial-ekonomi : Cukup III. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran OCULI DEXTRA (OD) 1/~ Gerak bola mata normal, enoftalmus (-), eksoftalmus (-), Strabismus (-) Edema Superior (-) Hiperemis (-) Blefarospasme (-) Logoftalmus (-) Ektropion (-) Entropion (-) Edema (-) Injeksi konjungtiva (-) Injeksi siliar (-) Infiltrate (-) Secret (-) Konjungtiva Edema (-) Injeksi konjungtiva (-) Injeksi siliar (-) Infiltrate (-) Palpebra Bulbus Okuli : Tampak sakit sedang : Compos Mentis PEMERIKSAAN Visus Koreksi OCULI SINISTRA (OS) 1/~ Gerak bola mata normal, enoftalmus (-), eksoftalmus (-), Strabismus (-) Edema superior (-) Blefarospasme (-) Logoftalmus (-) Ektropion (-) Entropion (-)

Warna putih Bulat, edema (-),

Sklera Kornea

Warna putih Bulat, edema (-),

infiltrate (-), sikatrik (-), Arcus senilis (-) Jernih, kedalam cukup, hipopion (-), hifema (-) Kripta (-), warna coklat, edema (-), sinekia (-), atrofi (-) Reguler, letak sentral, mid-dilatasi, refleks pupil L/TL: -/- melambat Pupil Iris Camera Okuli Anterior (COA)

infiltrate (-), sikatrik (-) Arcus senilis (-) Jernih, kedalaman cukup, hipopion (-), hifema (-) Kripta (-), warna coklat, edema (-), sinekia (-), atrofi (-) Reguler, letak sentral, mid-dilatasi diameter 3 mm, refleks pupil L/TL: -/- melambat

Jernih , letak sentral Jernih Papil edema (-), Vaskulitis (-), perdarahan (-), eksudat (-) Cemerlang Tonometri digital normal Epifora (-), lakrimasi (-)

Lensa Vitreus

Jernih, letak sentral Jernih Papil edema (-),

Retina

Vaskulitis (-), perdarahan (-), eksudat (-)

Fundus Refleks TIO Sistem Lakrimasi

Cemerlang Tonometri digital Normal Epifora (-), lakrimasi (-)

IV.

HASIL LABORATORIUM PEMERIKSAAN Cholesterol Trigliserida HDL cholesterol LDL cholesterol Urid Acid HbA1c HASIL 308 mgt/dl 235 mg/dl 40.5 mg/dl 253.6 mg/dl 2.00 mg/dl 9.4% NILAI NORMAL < 200 < 160 36-77 <100 2.6-6.0 4.5 6.3

V.

RESUME

Subyektif 1 minggu SMRS, pasien merasakan penglihatan menurun pada kedua mata disertai dengan sakit kepala cekot-cekot. Mata tidak dirasakan sakit ketika digerakkan. Gatal tidak dirasakan, mengganjal tidak dirasakan, keluar kotoran tidak dirasakan, mata merah tidak dirasakan. Muntah tidak dirasakan. Pasien mengaku sebelumnya pernah mengalami hal yang seperti ini yaitu penglihatan yang menurun. 3 hari SMRS, pasien mengaku bahwa penglihatannya semakin menurun dan kadangkadang pandangan menjadi gelap. Untuk itu pasien memutuskan untuk kontrol ke klinik mata.

Obyektif

Pada pemeriksaan Oftalmologis didapatkan VOD : 1/~ VOS : 1/~ Pada pupil ODS didapatkan mid dilatasi, reflek cahaya L/TL -/- melambat VI. DIAGNOSIS BANDING VII. ODS Papilitis ODS neuritis retrobulbar ODS oklusi arteri retina sentral

DIAGNOSIS KERJA ODS Papilitis Dasar diagnosis Anamnesis Pandangan menurun secara perlahan sampai pandangan menjadi gelap Pemeriksaan opthalmologis VOD : 1/~

VOS : 1/~ Pada pupil ODS didapatkan mid dilatasi, reflek cahaya L/TL -/- melambat

VIII.

PENATALAKSANAAN Non Medika Mentosa: Medika Mentosa Tenapril 1x5mg Asam folat 1x1mg Timolol obat tetes mata 2x1 ODS Lapibal injeksi 2x500 mg Somerd 2x250 mg Lantus Apidra

IX.

PROGNOSIS Oculi Dextra Ad Visam Ad Sanam Ad kosmetikum Ad Vitam ad malam Dubia Ad Bonam Ad Bonam Ad Bonam Oculi Sinistra ad malam Dubia Ad Bonam Ad Bonam Ad Bonam

PEMBAHASAN Papilitis merupakan radang pada serabut retina saraf optik yang masuk pada papil saraf optik yang masuk pada papil saraf optik yang berada dalam bola mata. Penglihatan dalam papiitis akan terganggu dengan lapang pandangan menciut, bintik buta melebar, skotoma sentral, sekosentral dan altitudinal. Terdapat tanda defek pupil aferen bila mengenai satu mata atau tidak sama berat pada kedua mata. Pada papil terlihat perdarahan, eksudat, dengan perubahan pada pembuluh darah retina dan arteri menciut dengan vena yang melebar. Kadang-kadang terlihat edema pupil yang berat, yang menyebar ke daerah retina sekitarnya. Edema papil tidak melebihi 2-3 dioptri. Ditemukan eksudat star figure yang menyebar dari daerah papil ke daerah makula. Papil saraf optik berangsur-angsur menjadi pucat yang kadang-kadang menjadi putih seperti kertas dengna tajam penglihatan masih tetap normal. Terlihat sel radang di dalam kaca, di depan papil saraf optik. Penyulit papilitis yang terjadi yaitu ikut meradangnya retina atau terjadinya neuroretinitis. Bila terjadi atrofi papil pasca papilitis akan sukar dibedakan dengan atrofi papil akibat papiledema. Kedua atrofi ini memperlihatkan papil yang pucar dengan batas yang kabur akibat terdapatnya jaringan fibrosis disetai dengan arteri yang menciut berat dengan selubung perivaskular. Pada proses penyembuhan, kadang-kadang tajam penglihatan sedikit menjadi lebih baik atau sama sekali tidak ada perbaikan dengan skotoma sentral menjadi lebih baik atau sama sekali tidak ada perbaikan dengan skotoma sentral yang menetap. Rekuren dapat terjadi berakhir dengan gangguan fungsi penglihatan yang lebih nyata. Pengobatan pada papilitis adalah kortikosteroid atau ACTH. Bersama-sama dengan kortikosteroid diberikan juga antibiotika untuk menahan infeksi sebagai penyebab. Selain itu diberikan juga vasodilatasi dan vitamin.

Nervus Optikus adalah saraf yang membawa rangsang dari retina menuju otak, saraf optikus ini seperti sebuah wayar listrik dimana setiap wayar membawa informasi penglihatan menuju otak. Nervus Optikus bercabang menjadi 3 bagian yaitu : 1. Bagian Intraokular Merupakan kepala dari nervus optikus.

2. Bagian Rongga Mata (orbita)

Yang meluas dari bola mata menuju foramen optikus.

3. Bagian Intrakranial Yang terletak antara foramen optikus dengan chiasma optikus. Jika satu ataupun semua serabut saraf mengalami peradangan dan tak berfungsi sebagaimana mestinya maka penglihatan akan menjadi kabur. Jika terjadi inflamasi ataupun demielisasi nervus optikus, keadaan ini disebut dengan neuritis optikus. Pada neuritis optikus, serabut saraf menjadi bengkak dan tak berfungsi sebagaimana mestinya. Penglihatan dapat saja normal atau berkurang, tergantung pada jumlah saraf yang mengalami peradangan.

II. DEFENISI Papilitis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang pembengkakan diskus, yang berhubungan dengan hilangnya penglihatan yang disebabkan oleh inflamasi, infiltrasi, atau kerusakan vascular dari bagian kepala nervus optikus. Ada 2 type Papilitis, yaitu :

a. Optik Neuritis Merupakan atau berasal dari inflamasi dari demielinisasi nervus optikus. - Retrobulbar neuritis : menunjuk kepada lesi saraf yang akut dan tidak ditemukan adanya gambaranfundus yang abnormal.

- papilitis : mengarah kepada lesi anterior diamana diskus menjadi membengkak dan hiperemis.

- Neurorenitinitis : memiliki konotasi yang sama dengan papilitis tetapi ditujukan kepada suatu proses yang lebih lanjut menuju daerah dekat retina dan uvea.

b. Iskemik Optik Neuropatik Akibat infrak prelamiar nervus optikus anterior.

III. PATOGENESIS

a. Optik Neuritis

Multiple sclerosis merupakan penyebab umum dari optuik neuritis akut yang idiopatik. Lyme disease dan nourosifilis adalah penyebab infeksi yang spesifik. Karakteristik, idiopatik neuritis mengenai wanita muda (rata-rata usia 31 tahun) lebih sering dari pada pria dan biasanya unilateral. MRI otak adalah positif, jika didapati adanya lesi multifokal dengan massa putih dijumpai pada } 80 % kasus idiopatik optik neuritis. Secara bersamaan optik neuritis bilateral pada orang dewasa adalah hal yang jarang (} 23 % kasus), berbeda dengan anak-anak, keterlibatan bilateral adalah hal yang lazim.

b. Iskemik Optik Neuropatik Infrak berasal dari oklusi 2 arteri utama siliar posterior yang mensuplai nervus dan choroids. Tiga penyebab yang lain yaitu : Arteritis sel raksasa (arteri temporal), Arteriosklerosis yang nonarteritis, dan Emboli dari sirkulasi siliar.

IV. ETIOLOGI Anak-anak : Post viral Herpes simpleks atau zoster Sarcoid Leukimia

Usia Pertengahan : Proses granulamatous Multiple sclerosis

Usia Tua : Giant cell arteri Iskhemik yang berhubungan dengan arteriosclerosis atau diabetes.

V. GEJALA DAN TANDA 1. Optik Neuritis a. Sakit Biasanya dijumpai pada 63 % kasus. Dapat ringan bahkan sampai berat. Dari pengalaman, rasa sakit ini dinyatakan dengan sakit yang tumpul pada retro bulbar atau rasa sakit yang tajam pada mata jika mata digerakkan atau di raba. Pada 19 % pasien, sakit dapat didahului hilangnya visus, dalam 7 hari. Biasanya berlangsung 24-28 jam sebelum bersamaan dengan hilangnya visus. Sakit yang menetap lebih dari 10- 14 hari jarang ditemukan. Jika didapati,

diagnosa haruslah dipertimbangkan kembali. Tak ada hubungan yang nyata antara rasa sakit dengan keparahan hilangnya visus atau gambaran fundusnya (papilitis vs retrobulbar optik neuritis).

b. Kaburnya penglihatan dalam beberapa menit atau beberapa jam yang lalu juga didapati pada optik neuritis. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan hal ini termasuk : - Gangguan afektif - Latihan - Unthoffs syndrom (29%) - Menstruasi (8 %) - Meningkatnya penerangan / cahaya (3 %) - Makanan (2 %) - Merokok (0,8 %) Unthoffs syndrome merupakan hilangnya visus sementara waktu yang terjadi secara intermiten yang terjadi di Multiple sclerosis dan optik neuropati. Syndrome ini juga dapat dicetuskan oleh stress emosional, perubahan cuaca, menstruasi, cahaya, makanan, merokok. Patofisiologi dari Unthoffs syndrome belum diketahui, walaupun adanya hambatan hantaran hingga peningkatan pada suhu tubuh atau perubahan pada kadar elektrolit darah dapat dipercaya memegang peranan.

c. Hilangnya visus dapat : - ringan ( 20 / 30) - sedang ( 20 / 60) - berat ( 20 / 70)

Visus dapat mengurangi persepsi sinar. Pasien mengeluh adanya pandangan berkabut atau visus yang kabur, kesulitan membaca, adanya bintik buta, perbedaan subjektif pada terangnya cahaya, persepsi warna yang terganggu, hilangnya persepsi dalam atau kaburnya visus untuk sementara.

d. Gangguan lapangan pandang Depresi secara keseluruhan dari lapangan pandang adalah tipe defek visual yang sering ditemukan. Banyak tipe kehilangan lapangan pandang dilaporkan, termasuk skotoma

centrocecal, kerusakan gelendong saraf parasentral, kerusakan gelendong saraf yang meluas ke perifer, kerusakan gelendong saraf yang melibatkan fiksasi dan perifer saja. Setelah 7 bulan, 51 % kasus memiliki lapangan pandang yang normal.

e. Ukuran pupil Ukuran pupil sama dengan optik neuritis yang unilateral walaupun mata tersebut buta. Umumnya, bagaimanapun defek/kerusakan afferent pupil di karakteristikan dengan susahnya atau hilangnya konstriksi pada penyinaran langsung, hal ini didapati pada mata yang ipsilateral. Tes dengan lampu senter yang berayun adalah metode sederhana untuk mendeteksi hal ini.

OPTHALMOSKOPI a. Perubahan awal Papilitis dapat ditemukan dalam 38 % kasus. Diskus optikus normal dalam 44 % kasus. Pucatnya bagian temporal menunjukkan adanya lesi optik neuritis yang berat pada mata yang sama, hal ini dijumpai pada 18 % dari pasien yang menjalani pemeriksaan. Papilitis tahap awal di karakteristikkan dengan adanya batas diskus yang mengabur dan sedikit hiperemis.

b. Papilitis yang mencapai perkembangan yang lengkap Adanya papiledema pada opthalmoskopi tidak memungkinkan untuk menyatakan hal ini, ditandai dengan adanya pembengkakan, hilangnya fisiologis cup, hiperemis dan perdarahan yang terpisah. Pembungkus vena biasanya jarang terlihat. Pemeriksaan dengan split lamp untuk melihat adanya sel pada vitreous adalah hal yang sangat penting.

c. Perubahan lanjut Pada retrobulbar optik neuritis, diskus yang normal dapat dijumpai selama 4-6 minggu, saat dimana pucat dijumpai. Papilitis yang berlanjut kadang-kadangdidapati gambaran optik atropi sekunder. Pada keadaan ini batas diskus dapat mengabur, mungkin terdapat jaringan glial pada diskus, dan pucatnya diskus bagian stadium akhir optik neuritis. Pada stadium ini, serabut saraf atropi dapat diamati pada retina dengan perangkat lampu hijau merah.

2. Iskemik Optik Neuropathy a. Sakit bukanlah gejala yang menonjol. Sakit pada mata saat digerakkan bukanlah hal yang sering terjadi.

b. Hilangnya tajam penglihatan 1 mata secara sementara, amaurosis fugax adalah gejala nonjol pada arteritis giant cell. Karakteristik amaurosis fugax terjadi secara tiba-tiba baik mulai maupun lamanya serangan. Serangan yang tipikal bertahan selama 2-3 menit dan sangat jarang yang berlangsung > 5-30 menit. Pasien menggambarkan episode ini sebagai kaburnya pandangan sekejap atau ketidak jelasan pandangan dengan adanya kabut keabuabuan. Pada sebagian, pasien menggambarkan suatu penglihatan seperti tirai jendela yang ditarik turun atau melintasi pandangan pada mata yang terlihat. Lebih khas pada amaurosis fugax pada penyakit oklusi arteri karotid ekstrakranial. Amaurosis fugax pada 1 mata merupakan alternatif antara 2 mata yang harus dipertimbangkan berasal dari arteritis giant cell sampai terjadi sebaliknya. Amaurosis fugax terjadi karena iskemik retina yang sementara. Ini merupakan gejala peringatan dari kebutuhan yang tertunda. Jika diagnosa tidak ditegakkan, 40-50 % dari semua kasus yang tidak ditangani akan berkembang menjadi kebutaan atau hilangnya visus yang berat.

c. Hilangnya tajam penglihatan Penurunan visus adalah hal yang sering dikeluhkan. Lazimnya, hilangnya visus pada arteritis giant cell sangat besar. Pada arteriosclerosis iskemik optik neuritis 42 % dari kasus memiliki tajam penglihatan 20/100,35 % dengan visus yang normal

d. Gangguan Lapang Pandang Apapun tipe gangguan lapang pandang yang karakteristik pada lesi optik neuritis dijumpai. Pada arteritis giant cell, biasanya seluruh lapangan tertekan pandang. Pada arteriosclerosis iskemik yang berat dari mata atau gangguan ganglion siliar. Gerakan tonik pupil dapat dijumpai.

e. Pupil Adanya defek afferent pada 1 mata terjadi pada iskemik papilitis atau okulasi arteri retina central. Dilatasi dan paralysis dari sphineter pupil merupakan petuntuk adanya iskemik yang berat dari mata atau gangguan ganglion siliar. Gerakan tonik pupil dapat dijumpai.

f. Diplopia

Kadang-kadang diplopia muncul sebagai gejala dari arteritis giangcell (12 % kasus).Pada pasien dengan diplopia, 50 % diakibatkan lumpuhnya N VI dan 50% karena lumpuhnya N III. Suatu dari studi patologi pada pasien yang meninggal karena arteritis giang cell dengan opthalmoplegi bilateral, menunjukkan bahwa iskemik M.ekstraokular adalah mekanisme yang berperan penting pada opthalmoplegia.

Opthalmoskopi a. Perubahan awal

Papilitis iskemik merupakan bentuk tersering dari keterlibatan ocular pada arteritis sel raksasa } 60 % kasus yang dikarakteristikkan dengan pucat dan bengkaknya kepala saraf dengan sedikit perdarahan dari lapisan serabut saraf di area peripapilar. Sering kali didapati adanya infrak yang segmental dan pembengkakan diskus. Arteri retina dapat kelihatan menipis. Perubahan yang sama juga dapat dilihat pada papilitis arterisklerotik iskemik. Pada kasus yang lain, mikroinfrak retina bersamaan dengan potongan cotton wool yang merupakan akibat dari iskemik local dari lapisan serabur saraf.

b. Perubahan lanjut Cp diskus sama seperti yang terlihat pada glaucoma, cup dapat berkembang pada mata dengan iskemik optik neuritis sekunder, arteritis sel raksasa atau arterisklerosis, pucat dan atropi optik biasanya lebih berat pada kasus ini dibandingkan pada pasien glaucoma. Gambaran Opthalmoskopi dari Pseudo Foster Kennedy syndrome dapat ditemukan padam kondisi ini, yaitu iskemik papilitis pada satu mata dan optik atropi di lain pihak. Keadaan klinis yaitu hilangnya visus secara akut pada mata kedua dapat menolong untuk membedakan kasus dari Foster Kennedy syndrome.

VI. TERAPI Pengobatan kausal neuritis tergantung etiologinya. Untuk membantu mencari penyebab neuritis optikus biasanya dilakukan pemeriksaan foto sinar X kanal optik, sela tursika atau dilakukan pemeriksaan CT orbita dan kepala. Pada sifilis maka diindikasikan untuk pemberian anti sifilis. Pembersihan fokal infeksi adalah hal yang penting. Pengobatan neuritis, papilitis maupun neuritis retrobulbar, adalah sama yaitu kartikosteroid atau ACTH. Bersma-sama kortikosteroid diberikan antibiotik untuk menahan infeksi

sebagaipenyebab. Selain dari pada itu diberikan vasodilatansia dan vitamin.

VII. KOMPLIKASI Penyulit pailitis yang dapat terjadi yaitu ikut meradangnya retina atau terjadinya neurorenitis. Bila terjadi atropi papil pascapapilitis akan memperlihatkan papil yang pucat dengan batas yang kabur akibat terdapatnya jaringan fibrosis atau glia disertai dengan arteri yang menciut berat dengan selubung perivaskular. Pada proses penyembuhan kadang-kadang tajam penglihatan sedikit lebih baik atau sama sekali tidak ada perbaikan dengan skotoma sentral yang menetap.

VIII. PROGNOSA Neusitis optik dianggap mempunyai pronogsa yang baik. Tajam penglihatan dapat kembali normal atau sedikit kurang dengan sedikit meninggalkan sedikit kepucatan pada pupil saraf optik. Jika terjadi atropi maka dapat dikatakan bahwa prognosaa adalah berat.