Anda di halaman 1dari 13

BAB I.

STATUS PASIEN KEPANITERAAN KLINIK STATUS ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA SMF BEDAH RUMAH SAKIT HUSADA

Nama Mahasiswa NIM Dokter Pembimbing

: Alberdo Rio Limenta : 11.2011.211 : dr. Liliati Wijaya

Tanda Tangan :

I. IDENTITAS PASIEN Nama lengkap Suku bangsa Status perkawinan Pekerjaan Alamat : Nn. YM : Jawa : belum Menikah : Swasta : Diketahui Jenis kelamin : Perempuan Umur Agama Pendidikan : 20tahun : Islam : SMA

II. ANAMNESIS Diambil dari: Autoanamnesis, Tanggal: 4 agustus 2012 , Jam: 12.00

Keluhan Utama: Nyeri perut kanan bawah 1minggu SMRS.

Keluhan Tambahan: Lemas, Demam

Riwayat Penyakit Sekarang: Satu minggu SMRS pasien merasa nyeri perut kanan bawah. Rasa nyeri yang dirasakan hilang timbul. Pasien juga mengaku rasa sakit disertai lemas dan demam. Riwayat mual dan muntah disangkal pasien. Buang air besar dan buang air kecil tidak dirasakan ada

kelaianan pada pasien. Haid pasien juga lancer setiap bulan dengan siklus 28 hari. Keputihan juga disangkal pasien. Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien mengaku belum pernah ngalami hal yang sama sebelumnya. Riwayat sakit batu ginjal pun disangkal.

III. Pemeriksaan Fisik Status Generalis : Tampak sakit sedang : Compos mentis (GCS 15 E4 V5 M6) : TD:120/80mmHg, Nadi:68 X/menit, RR:18 X/menit, S:36,9 0C : Normocephaly : Conjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, reflex cahaya +/+, pupil isokor Telinga Hidung Tenggorokan Leher Thorax Paru-paru: Inspeksi :Bentuk normal, sela iga tidak melebar,tidak ada :, normotia, membran timpani utuh, sekret (-), serumen (-) : Normosepta, darah (-), secret (-) : Tonsil T2-T2, faring tidak hiperemis. : Kelenjar getah bening dan tiroid tidak membesar :

Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital Kepala Mata

retraksi,gerakan

dada simetris pada keadaan statis dan

dinamis, jenis pernapasan thoracoabdominal, tidak ada bekas luka Palpasi :Sela iga normal, tidak melebar maupun mengecil, gerakan simetris, fremitus taktil normal. Perkusi Auskultasi Jantung: Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak, simetris, sela iga tidak membesar, sikatrik (-). Palpasi : Sela iga tidak membesar, iktus kordis tidak teraba. : Sonor di seluruh lapang paru : Suara nafas vesikuler, Ronkhi (-/-), wheezing (-/-).

Perkusi

: Batas kanan Batas kiri Batas atas : pada sela iga IV parasternal kanan : pada sela iga IV axilaris anterior : pada sela iga II medioklavikula kiri

Auskultasi Perut: lihat status lokalis

: Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-).

Hati: teraba 2 jari di bawah arcus costae Limpa: tidak teraba membesar Ginjal: tidak teraba membesar Colok dubur : tonus spincter ani baik, tidak teraba benjolan Alat Kelamin : tidak terdapat keputihan dan darah Ekstremitas (lengan & tungkai): Edema : _ _

Status Lokalis Bedah Regio : Abdomen Inspeksi : datar, sikatrik ( - ), benjolan ( - ), lesi ( - ), tidak tampak pelebaran pembuluh darah Palpasi : Terdapat nyeri tekan perut kanan bawah, dinding abdomen teraba supel, tidak terdapat defense muscular, tidak teraba massa pada abdomen, nyeri tekan titik McBurney (+), nyeri lepas McBurney ( + ), psoas sign ( + ), obturator sign ( - ), Rovsing sign ( - ), Blumberg sign ( - ). Perkusi : Nyeri ketok CVA ( - ), shifting dullness ( - ).

Auskultasi: bising usus ( + ) menurun

IV. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium tanggal 2 Agustus 2012 Kimia klinik Kalium: 3,90 mmol/L Natrium: 136 mmol/L Clorida: 110 mmol/L

Hematologi Hemoglobin: 11,3 g/dl Hematokrit: 35 vol % Leukosit: 13,4 ribu/ml Trombosit: 301 ribu/ml MCV: 73 fl MCH: 24 pg MCHC: 33 % Eritrosit: 4,85 juta/ml PTT: hasil: 12 kontrol: 11 APTT: hasil 35 kontrol: 35 Fungsi ginjal Ureum: 19mg/dl Kreatinin: 0,62 mg/dl Diabetes GDS: 85 mg/dl Pemeriksaan USG ginekologi tanggal 3 agustus 2012: Kesan: ginekologi tak tampak kelainan

V. Resume Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 1 minggu yang lalu. Rasa sakit hilang timbul disertai demam. Riwayat keputihan dan bercak darah di kemaluan disangkal. Haid pasien lancar dengan siklus 28 hari. Pemeriksaan tanda-tanda vital TD:120/80mmHg, Nadi:68 X/menit, RR:18 X/menit, S:36,9 0C. Pada pemeriksaan fisik abdomen ditemukan nyeri tekan perut kanan bawah, dinding abdomen teraba supel, tidak terdapat defense muscular, tidak teraba massa pada abdomen, nyeri tekan titik McBurney (+), nyeri lepas McBurney ( + ), psoas sign ( + ), obturator sign ( ), Rovsing sign ( - ), Blumberg sign ( - ), nyeri ketok CVA ( - ), bising usus ( + ) menurun. Pada inspeksi alat kelamin tidak ditemukan keputihan dan darah. Pada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan leukosit 13,4 ribu/ml. Pada pemeriksaan USG ginekologi tidak tampak kelainan

VI. Diagnosa Kerja Appendicitis akut


4

VII. Diagnosa Banding Kehamilan Ektopik Terganggu Pelvic Inflamatory Disease

VIII. Pemeriksaan Anjuran Appendicogram

IX. pengobatan Operatif: Open Apendictomy Medikamentosa: infuse Ringer-Asering Ceftriaxone IV 1x1gram Ketorolac IV 3x30mg Hidroclortiazid oral 2x25mg X. Prognosis Quo Ad Vitam : Bonam

Quo Ad Functionam : bonam Quo Ad Sanationam : bonam

XII. Laporan operasi 1. Klien dianastesi 2. Pasien didesinfeksi dengan menggunakan bethadin pada area yang akan diinsisi 3. Operator, asisten operator, perawat instrumen dan asissten instrumen mencuci tangan, melakukan growning dan gloving 4. Perawat instrumen mengecek jumlah instrumen dan kasa yang disediakan 5. Melakukan draping 6. Insisi pada titik mac burney , kemudian perdalam insisi lapis per lapis sampai dengan fasia muskulus oblikus eksternus. 7. Fasia dibuka dengan mess diperlebar dengan gunting, dilakukan split terhadap muskulus oblikus eksternus, muskulus oblikus internus dan muskulus transvelsalis abdominis sesuai dengan arah masing-masing serat otot. 8. Tampak peritonium, peritonium diangkat dengan pinset anatomis diterawang hingga tidak terdapat organ intra abdomen yang terikut, peritonium dibuka dengan gunting dan diperlebar sesuai dengan arah insisi kulit.

9. Identifikasi sekum dan ambil sekum dengan pinset anatomis panjang, sekum diluksir / dikeluarkan dengan cara menariknya ke media kaudal. 10. Tangkap sekum dengan kasa basah. Cari appendiks. 11. Bebaskan dan potong mesoapendiks dari puncak kea rah basis 12. Lakukan ligasi basis apendiks dengan cat gut 13. Dilakukan pemotongan atas dari pengikatan tersebut. 14. Pemberian betadine di ujung pemotongan apendiks 15. Tutup peritonium, Aproksimasi muskulus, Jahit fasia, Jahit subkutan, Jahit kulit.

BAB II. Referat Appendicitis Akut

Pembahasan Umum I. Pendahuluan Appendiks disebut juga umbai cacing, istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah sekum. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 2030 tahun, insidens lelaki lebih tinggi.

II. Fisiologi Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis. Dinding appendiks terdiri dari jaringan lymphe yang merupakan bagian dari sistem imun dalam pembuatan antibodi. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfonodi di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

III. Etiologi Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan mencetuskanterjadi nya apendisitis akut. Antaranya adalah sumbatan lumen apendiks yang diajukan sebagai pencetus. Di samping hyperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiksdan cacing askariasis dapat menyebabkan sumbatan. Penyebab lain diduga dapat menimbul appendicitis akut adalah erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti E.histolitica. Pada penelitian apidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikan tekanan intrasekal yang mengakibatkan sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan
7

pertumbuhan kuman flora normalkolon biasa, keadaan ini mempermudahkan timbulnya apendisitis akut.

IV. Patofisiologi Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis. Apendisitis akut terjadi karena berlaku obstruksi atau sumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi lumen yang tertutup disebab kan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa apendiks yang dapat menyebabkan terjadinya distensi pada kantung apendiks .Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen.Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar 0,5 dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia dan menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Kemudian terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang

Infiltrat apendikularis Merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massaperiapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapatmengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massaperiapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secaralambat.Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dindingapendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masihkurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudahterjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme, dayatahan tubuh, fibrosis pada dinding apendiks, omentum, usus yang lain, peritoneumparietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria, uterus tuba, mencoba membatasidan melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisir ini belum selesai dansudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalamcavum abdominalis, oleh karena itu pendeita harus benar-benar istirahat (bedrest).Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan

jaringansekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kananbawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakanmengalami eksaserbasi akut.

V. Gambaran klinis Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain 1. Nyeri abdominal Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium atau sekitar umbilikus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc Burney).Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupanyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. 2. Mual-muntah biasanya pada fase awal. 3. Nafsu makan menurun
9

4. Obstipasi dan diare pada anak-anak. 5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,5-38,5 C. Gejala appendisitis akut pada anak-anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa menunjukkan rasa nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering diagnosis apendisitis diketahui setelah terjadi perforasi. Pada orang berusia lanjut gejalanya juga sering samar-samar saja, tidak jarangterlambat diagnosis. Akibatnya lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosissetelah perforasi. Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, dan muntah. Yang perlu diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering jugaterjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong kekraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih keregio lumbal kanan. Gejala klinis berdasarkan letak anatomis apendiks Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut: 1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. 2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis - Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare). - Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya. .

VI. Pemeriksaan Pemeriksaan fisik 1. Demam ringan :37,5 38 oC, bila berlaku perforasi akan menjadi demam lebih tinggi 2. Pada inspeksi perut tidak ada gambaran spesifik, kembung selalu terliat pada perforasi apendisitis, penonjolan perut kanan bawah bias dilihat pada massa atau abses periapendikular
10

3. Palpasi dan tanda tanda appendicitis yang dapat dilakukan adalah : Nyeri tekan Mc Burney - nyeri tekan di titik Mc Burney. Rovsing sign - nyeri tekan pada kiri perut bawah Blumberg sign nyeri tekan lepas Psoas sign nyeri pada saat paha pasien diekstensikan Obturator sign - . N yeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha pasien difleksikan 4. Pada auskultasi sering normal peristaltiknya kecuali sudah berlaku perforasi dan berlaku peritonitis dan menyebabkan berlakunya ileus paralitik. Pemeriksaan penunjang 1. Hitung darah lengkap (complete bloodcount,CBC)leukositosis, neutrofilia, tanpa eosinofil 2. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendiks al serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Urinalisisuntuk menyingkirkan infeksi saluran kemih dan di saluran kemih,ginjal dan ureter.

VII. Diagnosa banding 1. Kehamilan ektopik terganggu Gejala klinis mirip dengan apendisitis akut. Hamper selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhanyang tidak menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan pendarahan, akan timbul nyeri yang mendadak dius di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan vagina, di dapatkan neri penonjolan dan penonjolan rongga Douglas dan pada kuldosentesis di dapatkan darah 2. Gastroenteritis Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahalui rasa nyeri. Nyeri perut bersifat lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai adanya hiperperistalsis. Panas dan leukositosis kurang menonjol

dibandingkan dengan apendisitis akut

11

3. Infeksi panggul Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih tinggi dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur jika perlu untuk diagnose banding. 4. Ureterolithiasis kanan Ada riwayat kolik dari pinggang kanan ke perut yang menjalar dari inguinal kanan merupakan gambaran khas. Eritrosituria sering ditemukan. Foto polos perut atau BNO IVPdapat memastikan penyakit ini.

VIII. Penatalaksanaan Bila sudah terdiagnosis dengan tepat, tindakan paling tepat adalah apendektomi. Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak diperlukan antibiotik kecuali pada apendisitis gangrenosa dan perforate.penundaan tindakan bedah sambil memberikan antibiotic dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Tindakan Operasi Apendiktomi, merupakan tindakan pemotongan apendiks. Dapat dilakukan secara terbuka atau laparoskopi. Pada apendektomi terbuka, insisi McBurney paling banyak dipilih . operasi ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Jika apendiks mengalami perforasi maka abses disedot dan diguyur dengan NaCl dan disedot hingga bersih Laparoskopi merupakan tindakan mengguankan kamera fiberoptik yang dimasukkan kedalam abdomen, apendiks dapat divisualisasi secara langsung. Teknik ini dilakukan dibawah pengaruh anestesi umum. Bila saat melakukan tindakan ini di dapatkan peradangan pada apendiks maka dapat langsung dilakukan pengangkatan apendiks Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi, apendiks dibiarkan saja. Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat : 1. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi. 2. Diet lunak bubur saring Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan apendiktomi. Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun,

12

dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses, dapat dipertimbangkan membatalakan tindakan bedah.

Daftar pustaka

1. De Jong W, Sjamsuhidajat R. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta:EGC;2007.h. 755-62. 2. Townsend CM, Beauchamp RD,Evers BM, Mattox KL. Sabiston buku ajar bedah. Jakarta:EGC;2010.h.1333-47. 3. Sari DK, Mirzani H, Et Al. chirurgica. Yogyakarta:Tosca enterprise;2007.

Pembahasan Khusus Pasien datang ke RS Husada dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan disertai rasa lemas (+) dan demam(+). Pasien mengaku haid lancar dan tidak pernah mengalami keputihan dan keluar darah pada kemaluan Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan perut kanan bawah, dinding abdomen teraba supel, tidak terdapat defense muscular, tidak teraba massa pada abdomen, nyeri tekan titik McBurney (+), nyeri lepas McBurney ( + ), psoas sign ( + ), obturator sign ( - ), Rovsing sign ( - ), Blumberg sign ( - ), nyeri ketok CVA ( - ), bising usus ( + ) menurun. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan leukosit sebesar 13,4 ribu/ml. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dilakukan operasi open apendiktomi dan medikamentosa diberikan infuse Ringer-Asering, Ceftriaxone IV 1x1gram, Ketorolac IV 3x30mg.

13