Anda di halaman 1dari 2

Low Cure Rate , berdasarkan data primer+sekunder yang ditemukan untuk Desa Sukoraharjo: 1.

Ketidaktaatan minum obat tidak mengambil obat karena pergi ke luar kota (tanpa pelaporan sebelumnya) 2. Lemahnya pengawasan PMO 3. Penderita TB (on treatment) masih kontak dengan pasien yang diduga TB 4. Lemahnya edukasi dan kesadaran masyarakat sekitar mengenai pentingnya terapi TB Berdasarkan jurnal yang kami temukan mengatakan beberapa aspek: 1. Lemahnya coverage PMO terhadap pasien TB 2. Efek samping OAT mual, muntah, demam, ikterus, kencing berwarna merah (rifampisin) 3. Kurangnya pengetahuan mengenai TB + Pengobatannya 4. Faktor Ekonomi rendah 5. Faktor penyakit penyerta ex. DM, Sepsis, dkk Dapat disimpulkan yang diintervensi adalah: 1. Ketidaktaatan minum obat ec. Travelling ke luar kota Training mengenai sistem pelaporan penderita TB yang akan ke luar kota + advokasi agar penyediaan OAT ditambah untuk dibawa oleh pasien sehingga bisa dibawa tanpa putus berobat 2. Kurangnya coverage PMO/ kader kesehatan yang ada Training pentingnya terapi TB secara lengkap + dukungan lingkungan sekitar untuk pasien sehingga bersemangat untuk menyelesaikan pengobatan (Harapan kader mengadvokasi keluarga px agar mendukung + mengingatkan pasien untuk minum obat setiap hari) PRE TEST + POST TEST QUESTION 1. Jangka waktu terapi untuk TBC minimal/ sekurang-kurangnya 6 bulan B/S B/S

2. Obat TBC harus dikonsumsi setiap hari selama sekurang-kurangnya 6 bulan

3. Jika berhenti minum obat TBC selama 2 bulan, maka terapi bisa dilanjutkan tanpa mengulang dari awal B/S B/S B/S

4. Pengobatan TBC dapat dihentikan bila sudah tidak batuk atau demam lagi 5. Pengobatan TBC tidak perlu dukungan dari keluarga + kader kesehatan desa