Anda di halaman 1dari 15

1

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. Salah satu penyakit infeksi cacing yang sering di Indonesia adalah penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah atau soil transmitted helminthes (STH). Prevalensi infeksi STH di seluruh dunia masih tinggi. Laporan CDC (2010) adalah 807-1.121 juta orang terinfeksi Ascaris, 604-795 juta terinfeksi Trichuris trichiura, dan infeksi cacing tambang sebanyak 576-740 juta orang. Infeksi STH tersebut bisa infeksi tunggal dengan satu jenis cacing, campuran, atau bahkan banyak kasus yang merupakan infeksi ketiga jenis cacing tersebut (Bethony et al., 2006). A. lumbricoides dan T. trichiura banyak menginfeksi bayi sampai usia belasan, jarang menginfeksi dewasa. Berbeda dengan cacing tambang yang menginfeksi sejak usia anak dan remaja, meningkat pada dewasa, dan kemudian menurun pada orang usia lebih dari 40 tahun (Harhay, Horton & Olliaro, 2010). Prevalensi di Indonesia yang dilaporkan dalam Profil Kesehatan Indonesia 2008 Depkes RI (2009) menunjukkan prevalensi infeksi cacing siswa SD antara 2,7-60,7% di berbagai provinsi, dengan rata-rata prevalensi Ascharis 13,9%, Trichuris 14,5%, dan cacing tambang sebanyak 3,6%. Tingginya angka infesi STH pada anak-anak perlu mendapatkan perhatian, karena dapat berpengaruh terhadap status gizi, serta tumbuh kembang anak. Lebih lanjut lagi, anak-anak dapat mengalami penurunan produktivitas sehingga menurunkan prestasi belajarnya Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah di pulas. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis. Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya.

Pemeriksaan feces dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan. Misalnya, infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Infeksi ini lebih bamyak ditemukan pada anak-anak yang sering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih mudah terinfeksi oleh cacain-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga lebih mudah terjadi penularan. Pengalaman dalam hal membedakan sifat berbagai spesies parasit , kista, telur, larva, dan juga pengetahuan tentang bentuk pseudoparasit dan artefak yang dikira parasit, sangat dibutuhkan dalam pengidentifikasian suatu parasit. Metode Apung (Flotation method) Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.

B. Tujuan Melakukan salah satu pemeriksaan untuk deteksi infeksi STH. C. Manfaat Mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus pada seseorang yang diperiksa fecesnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan keadaan suhu yang sejuk dan tanah yang lembab. Keadaan tersebut merupakan salah satu risiko berkembangnya penyakit infeksi, salah satunya penyakit yang ditularkan melalui tanah. Soil transmitted helminthes adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh karena cacing yang mengalami perkembangan di tanah. Penyebab STH tersering adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) (WHO, 2011). A. Faktor Risiko STH 1. Genetik Belum ada gen yang diketahui dapat mengontrol infeksi kecacingan. Namun, barubaru ini didapatkan genom yang diduga merupakan kromosom yang mengontrol terjadinya infeksi yaitu kromosom 1 dan 13 untuk ascaris lumbricoides (Quuinnell, 2003). 2. Perilaku Perilaku dapat mempengaruhi prevalensi dan intensitas infeksi cacing. Cacing tambang dalam intensitas yang besar terjadi pada orang dewasa terutama yang bekerja di daerah pertanian (Brooker, Bethony, dan Hotez, 2004). 3. Kemiskinan, kebersihan, dan urbanisasi Penularan cacing secara langsung berhubungan dengan kemiskinan, kebersihan, dan kurangnya air bersih. Hal ini dikarenakan infeksi STH terjadi apabila terkontaminasi dengan telur cacing di tinja. Semakin kotor lingkungan sekitarnya akan memudahkan penularannya (Crompton and Savioli, 1993). 4. Iklim, air, dan musim Kehangatan dan kelembaban yang cukup merupakan tempat yang cocok untuk perkembangan STH. Secara geografis, STH cocok berkembang di daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi (Broker and Michael, 2000). B. Ascaris lumbricoides Ascharis lumbricoides atau cacing gelang adalah nematoda usus terbesar di usus manusia. ukuran cacing dewasa betina 20-35 cm, jantan 15-30 cm (CDC, 2009). Satu-satunya hospes definitifnya adalah manusia, dengan nama penyakit askariasis, namun pernah dilaporkan askariasis pada babi. Manusia dapat mengalami askariasis jika menelan telur dari orang yang terinfeksi. Setiap harinya A. lumbricoides dapat menghasilkan telur hingga 200.000 butir, yang kemudian dikeluarkan melalui feses, dan mengalami perkembangan di tanah (Bethony et al., 2006). Telur mempunyai empat

bentuk, yaitu tipe dibuahi atau fertil, tipe tidak dibuahi atau infertil, telur matang, dan telur dekortikasi. Telur yang tidak dibuahi berbentuk lonjong dan lebih panjang dari pada tipe dibuahi, dan dinding luarnya lebih tipis. Ukuran telur dibuahi 60 x 45 mikron, sedangkan telur tidak dibuahi 90 x 40 mikron. Telur matang adalah telur yang berisi embrio, telur ini akan mengalami perkembangan di tanah dan menjadi infektif setelah 18 hari3 minggu tergantun keadaan tanah. Telur dekortikasi adalah telur yang tidak dibuahi, tetapi lapisan luarnya sudah hilang (CDC, 2009; Onggowaluyo, 2001).

Gambar 1. Telur Ascharis lumbricoides. A) Telur tidak dibuahi atau infertil, B). Telur dibuahi atau fertil, C) Telur dekortikasi (CDC, 2010a) Telur infektif yang tertelan kemudian mengalami perkembangan menjadi larva di usus halus. Larva askaris kemudian melakukan penetrasi melalui mukosa intestinal menuju pembuluh darah dan saluran limpa, dan memasuki hepar, kemudian jantung dan paru. Larva di paru menembus alveolus, masuk ke rongga alveolus dan naik ke trakea, respon dari tubuh adalah dengan menelan, sehingga larva melewati epiglotis dan kembali masuk ke traktus gastrointestinal. Larva kemudian berkembang menjadi cacing dewasa dalam waktu 9-11 minggu setelah ingesti telur, lokasi cacing ini di dalam tubuh adalah di usus halus (CDC, 2009; Onggowaluyo, 2001).

Gambar 2.3 Siklus hidup Ascharis lumbricoides (CDC, 2010a) Manifestasi klinis askariasis berhubungan dengan respon umum hospes, efek migrasi larva, efek mekanik cacing dewasa, dan defisiensi gizi (Onggowaluyo, 2001). Defisiensi gizi adalah yang paling sering, hal ini dikarenakan cacing mengganggu penyerapan zat makanan serta menggunakan zat makanan untuk dirinya. Migrasi larva menyebabkan gangguan respirasi yang disebut sindroma Leffler, sedangkan gangguan cacing dewasa menyebabkan intoleransi laktosa, malabsorpsi vitamin A, obstruksi intestinal, dan askariasis hepatopankreatic (Bethony et al., 2006). C. Trichuris trichiura T. trichiura disebut juga cacing cambuk karena bentuknya menyerupai cambuk. Cacing dewasa betina panjangnya 35-50 mm, sedangkan cacing dewasa jantan 30-45 mm. Manusia merupakan hospes utama cacing ini, namun pernah juga dilaporkan ditemukan di kera dan babi. Habitat cacing dewasa adalah dalam sekum, melekatkan diri dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk ke dalam mukosa usus sekum, dan mengadakan fertilisasi. Setiap harinya cacing betina dapat mengeluarkan 3.000-5.000 butir telur (Bethony et al., 2006; Widyastuti et al., 2002).

Gambar 2. Cacing dewasa T. trichiura (Bethony et al., 2006)

Gambar 3. Telur T. trichiura (CDC, 2010c) Orang yang terinfeksi T. trichiura akan mengeluarkan telur melalui tinja. Telurnya berukuran 50-54x32 mikron. Bentuknya seperti tempayan dan kedua ujungnya dilengkapi dengan tutup (operkulum) dari bahan mukus yang jernih. Kulit luar telur berwarna kuning tengguli dan bagian dalam jernih. Telur berisi sel telur. Telur yang sudah dibuahi akan mengalami perkembangan di tanah dalam waktu 3-6 minggu dan menjadi matang, kemudian berkembang di tanah menjadi stadium infektif (Onggowaluyo, 2001). Manusia terinfeksi bila menelan telur yang mengandung larva. Dalam usus halus larva menetas dan menjadi dewasa, serta melekatkan diri pada sekum. Telur mulai ditemukan pada tinja setelah 30-60 hari infeksi (Widyastuti, 2002).

Gambar 4 Daur hidup Trichuris trichiura (CDC, 2010c) Pada umumnya T. trichiura hidup di sekum, namun untuk infeksi berat juga dapat ditemui di kolon dan rektum. Gangguan yang terjadi adalah akibat perlekatannya dalam mukosa usus, sehingga menimbulkan peradangan dan mengganggu absorpsi. Respon radang menyebabkan colitis, yang dapat menyebabkan inflammatory bowel disease, nyeri perut, dan diare. Sequele dari infeksi T.trichiura adalah dapat menghambat pertumbuhan dan anemia. Infeksi T. Trichiura yang parah dapat bermanifestasi disentri kronik dan prolaps rektal (Bethony et al., 2006). D. Cacing Tambang (Ancylostoma doudenale dan Necator americanus) Cacing tambang yang menginfeksi manusia adalah Necator americanus dan Ancylostoma doudenale. Hospes definitifnya adalah manusia. Tempat hidupnya di usus halus terutama jejunum dan doudenum (Onggowaluyo, 2001). Cacing jantan berukuran 7-11 mm x 0,4-0,5 mm, yang betina berukuran 9-13 mm x 0,25-0,6 mm. Bentuk N. americanus seperti huruf S, sedangkan A. doudenale seperti huruf C, rongga mulut kedua spesies ini lebar dan terbuka. Pada fase telur, kedua cacing ini tidak dapat dibedakan (Widyastuti, 2002). Telur cacing tambang berdinding tipis satu lapis, terdiri dari lapisan hialin yang transparan, berbentuk oval dengan ujung-ujung yang membulat. Pada saat dikeluarkan bersama tinja, telur akan berada di tanah dan mengalami morulasi sampai akhirnya

menetas di tanah yang basah, teduh, dan hangat. Ukuran telur 60-70 x 36-46 (Widyastuti, 2002). Dalam sehari N. americanus dapat menghasilkan 9.000-10.000 butir telur, sedangkan A. doudenale 25.000-30.000 butir telur (Bethony et al., 2006).

Gambar 5. Telur cacing tambang (Bethony et al., 2006) Telur mengalami pemasakan di tanah dalam waktu 2-3 hari, dan jika menetas akan keluar larva rhabditiform, yang akan berubah menjadi larva filariform dalam waktu 5-7 hari. Stadium infektif cacing ini adalah larva filariform. Bila larva filariform menembus kulit manusia, maka akan terbawa aliran darah sampai ke jantung, paru-paru, dan naik ke bronkus, trakhea sampai tenggorokan dan tertelan sampai ke usus halus sampai dewasa. Cacing dewasa melekatkan diri dengan giginya/ lempeng pemotongannya pada mukosa usus halus (Widyastuti, 2002).

Gambar 6. Daur hidup cacing tambang (CDC, 2010b)

Manifestasi klinis utama dari infeksi cacing tambang adalah adanya perdarahan kronis di dalam usus akibat invasi dan perlekatan cacing di mukosa dan sub mukosa usus halus. Perdarahan kronis dapat menyebabkan anemia defisiensi besi dan malnutrisi. Dilaporkan bahwa infeksi cacing tambang dapat menyebabkan penurunan Hb hingga kurang dari 11 g/dL. A. doudenale menyebabkan kehilangan darah yang lebih besar dibandingkan N. americanus. Infeksi cacing tambang pada ibu hamil dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, dan dapat berbahaya bagi ibu, perkembangan fetus, dan tumbuh kembangnya di masa neonatus (Bethony et al., 2006). E. Penegakan Diagnosis Diagnosis dilakukan melalui proses anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Cacing tambang dapat menyebabkan manifestasi pruritus kulit atau ground itch yang merupakan gejala pertama invasi cacing tambang. Pada infeksi cacing tambang dan A. lumbricoides dapat ditemukan batuk dan ronkhi ketika larva melewati siklus paru. Gejala lain yang sering ditemukan adalah malnutrisi dan anemia (Pohan, 2006). Pada pemeriksaan laboratorium, yang ditemukan adalah eosinofilia dan anemia mikrositik hipokromik. Diagnosis pasti adalah dengan ditemukannya telur cacing dari feses segar penderita. Dapat juga ditemukan migrasi cacing dewasa, sehingga cacing dapat keluar melalui mulut dan keluar bersama feses. Pada cacing yang melewati siklus paru, dapat ditemukan larva pada sputum (Pohan, 2006). F. Pengobatan Pengobatan yang dapat diberikan adalah obat kemoterapi cacing, baik yang memiliki spektrum luas. Beberapa pilihan obat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Pilihan Obat Cacing (Lllmann, 2000)

G.

Ko mp lika si

10

1. Ascaris lumbricoides Bila jumlah cacing dewasa cukup banyak dapat menyebabkan apendisitis. Cacing dewasa pada wanita dapat bermigrasi ke dalam vagina, uterus, dan tuba fallopi, dan dapat menyebabkan peradangan di daerah tersebut (Pohan, 2006). 2. Trichuris trichiura Bila infeksi berat dapat terjasi perforasi usus dan prolapsus uteri (Pohan, 2006). 3. Cacing Tambang Kerusakan pada kulit akan menyebabkan dermatitis yang berat terlebih bila pasien sensitif. Anemia berat yang terjadi sering menyebabkan gangguan pertumbuhan, perkembangan mental, dan payah jantung (Pohan, 2006). H. Prognosis Prognosis umumnya baik, dengan pengobatan adekuat infeksi dapat sembuh. Perlu dilakukan upaya pencegahan dengan pengendalian factor risiko agar infeksi tidak menular dan berulang (Pohan, 2006).

11

III. HASIL PEMERIKSAAN A. Identitas Pasien Nama Probandus I : Anak T Jenis Kelamin Umur : Laki- laki : 9 tahun

Nama Probandus II : Anak W Jenis Kelamin Umur B. Alat dan Bahan : Laki- laki : 9 tahun

1. Objek glass 2. Mikroskop 3. Cover glass 4. Penyaring teh 5. Tabung reaksi 6. Pengaduk dan beker glass 7. Tinja / feses 8. Larutan NaCl jenuh (33%) 9. Aquades
C. Cara Kerja

1. 10 gram tinja dicampur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%), kemudian di aduk
sehingga larut. Bila terdapat serat- serat selulosa di saring menggunakan penyaring teh.

2. Larutan di masukkan ke tabung teaksi sampai tabung reaksi hampir penuh dengan
bantuan pipet.

3. Diamkan 5-10 menit dengan tujuan agar telur cacing mengambang di permukaan. 4. Dengan menggunakan cover glass sentuhkan cover glass ke atas tabung reaksi
sampai kira-kira telur cacing menempel di cover glass.

5. Letakkan cover glass di objek glass, dan amati di bawah mikroskop.


D. Hasil Pemeriksaan

12

Nama Probandus I : Anak T Jenis Kelamin Umur Preparat 1 Preparat 2 Interpretasi : Laki- laki : 9 tahun : positif ascaris : positif ascaris : askariasis

Gambar 7. Hasil pemeriksaan feses anak T

Nama Probandus II : Anak W Jenis Kelamin Umur Preparat 1 Preparat 2 Interpretasi hasil : Laki- laki : 9 tahun : negatif : negatif : tidak terinfeksi STH

13

IV. PEMBAHASAN Setelah melakukan praktek lapangan blok TROPMED yaitu pemerikasaan feses ditemukan hasil probandus I positif ascaris, hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor probandus seperti kebiasaan probandus yang senang bermain ditanah tanpa memakai proteksi, bermain tapi kadang-kadang tidak menggunakan alas kaki, probandus juga tidak rajin untuk memotong kuku, kebiasaan tidak mencuci tangan juga sangat mempengaruhi. Selain dari faktor probandus ketepatan dalam melakukan pemeriksaan feses dengan metode apung juga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Berbeda dengan probandus I, pada probandus II hasil pemeriksaan adalah negatif, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor probandus yang memang tidak terinfeksi cacing atau faktor kesalahan dari praktikan dalam melakukan pemeriksaan feses misalnya dalam mengaduk dan tidak tercampu rata larutannya. Penanganan anak T adalah dengan memberikan obat nematosidal yang efektif untuk askariasis. Diantaranya adalah mebendazole, albendazole, dan pirantel pamoat. Selain itu, perlu dilakukan upaya kontrol faktor risiko agar anak T tidak terinfeksi kembali ataupun menularkan infeksinya ke orang lain.

14

V. KESIMPULAN 1. Indonesia merupakan negara dengan angka kejadian STH yang cukup tinggi, terutama pada anak-anak 2. Organisme penyebab STH tersering adalah Ascharis lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang (Ancylostoma doudenale dan Necator americanus) 3. Faktor risiko pada Soil Transmitted Helminthes genetik, perilaku, kemiskinan, kebersihan, urbanisasi, Iklim, air, dan musim 4. Prognosis STH umumnya baik jika diobati dengan adekuat 5. Salah satu uji tapis infeksi STH adalah dengan pemeriksaan feses metode apung, yang merupakan pemeriksaan kualitatif 6. Pada praktek lapangan, dilakukan pemeriksaan feses anak T dan anak W, dan pada pemeriksaan ditemukan positif askariasis pada anak T 7. Anak T perlu dilakukan tindakan terapi dengan obat nematosidal serta memberikan edukasi untuk mengendalikan faktor risiko

15

DAFTAR PUSTAKA Bethony, J., S. Brooker, M. Albonico, S. M. Geiger, A. Loukas, D. Diemert, et al. 2006. Soiltransmitted helminth infection: ascariasis, trichuriasis and hookworm. Lancet, 367:152132. Brooker, S., and E. Michael. 2000. The Potential of Geographical Information Systems and Remote Sensing in the Epidemiology and Control of Human Helminth Infections. Advances in Parasitology 47: 24587. Brooker, S., J. Bethony, and P. J. Hotez. 2004. Human Hookworm Infection in the 21st Century. Advances in Parasitology 58: 197288. Center for Disease Control & Prevention (CDC). 2010a. Ascariasis. Dari: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/ImageLibrary/Ascariasis_il.htm. Diakses tanggal 12 Oktober 2011. Center for Disease Control & Prevention (CDC). 2010b. Hookworm. Dari: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/ImageLibrary/Hookworm_il.htm. Diakses tanggal 12 Oktober 2011. Center for Disease Control & Prevention (CDC). 2010c. Trichuriasis. Dari: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/ImageLibrary/Trichuriasis_il.htm. Diakses tanggal 12 Oktober 2011. Crompton, D.W., and L. Savioli. 1993. Intestinal Parasitic Infections and Urbanization. Bulletin of the World Health Organization 71: 17. Gandahusada,S.W .Pribadi kedokteran UI, Jakarta. dan D.I. Heryy.2000. Parasitologi Kedokteran.Fakultas

Lllmann, H., K. Mohr, A. Ziegler, & D. Bieger. 2000. Antiparasitic Agents. Dalam: Color Atlas of Pharmacology. 2nd Edition. New York: Thieme Stuttgart. Onggowaluyo, J. S. 2001. Parasitologi Medik I (Helmintologi): Pendekatan Aspek Identifikasi, Diagnosis, dan Klinik. Jakarta: EGC. Quinnell, R. J. 2003. Genetics of Susceptibility to Human Helminth Infection. International Journal of Parasitology 33: 121931. Widyastuti, R., E. Srimurni, S. Subadrah, Mardhiyah F. 2002. Materi Pokok Parsitologi. Cetakan 2. Jakarta: Universitas Terbuka. World Health Organization (WHO). 2011. Soil-transmitted helminthes. http://www.who.int/intestinal_worms/en/. Diakses tanggal 12 Oktober 2011. Dari: