Anda di halaman 1dari 3

Nama : Debyan Yolla S. NIM : 308422418314 Off.

: G Hukum Pajak

BCW Terus Pantau Kasus Penggelapan Pajak


Jumat, 3 Juli 2009 Denpasar ( Berita ) : Bali Corruption Watch (BCW) akan terus melakukan pemantauan terhadap kasus penggelapan pajak senilai Rp71,9 miliar yang dilakukan Iskak Soegiarto Tegoeh, komisaris PT Tiara Dewata Grup (TDG). Yang kami pantau sekarang adalah hasil pemeriksaan tim yang ditunjuk Mahkamah Agung (MA) yang telah memerika majelis hakim yang sempat menyidangkan kasus Iskak di Pengadilan Negeri Denpasar, kata Ketua BCW, Ir Putu Wirata Dwikora, di Denpasar, Jumat [03/07] . Diperoleh keterangan, tim yang ditunjuk MA diketuai Iskandar Tjakke, SH, telah melakukan pemeriksaan terhadap majelis hakim yang pernah menyidangkan kasus penggelapan pajak yang dilakukan terdakwa Iskak. Iskandar yang adalah Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar bersama anggota timnya melakukan pemeriksaan terhadap majelis hakim yang diketuai Made Serawan SH, setelah sebelumnya ada pengaduan dari pihak BCW ke MA. Ketua BCW mengakui bahwa pihaknya sempat mengadu ke MA menyangkut dugaan adanya penyimpangan yang telah dilakukan oleh majelis hakim yang menyidangkan Iskak, yang dalam vonisnya telah menjatuhkan hukuman dua tahun penjara. Yang kami persoalkan, ialah keputusan dari majelis hakim yang mengubah status penahanan Iskak dari tahanan rutan menjadi tahanan kota, ucapnya. Dikatakan, majelis hakim mengubah status tahanan bagi Iskak setelah si terpidana itu menyerahkan uang jaminan sebesar Rp1 miliar. Menurut Wirata, tindakan dari majelis hakim PN Denpasar yang dipimpin Made Serawan seperti itu, adalah tidak benar. Ini kami duga ada permainan, katanya menambahkan. BCW menilai tindakan Made Serawan dan kawan-kanan telah melanggar kode etik dan pedoman prilaku hakim yang diatur dalam keputusan bersama antara Komisi Yudisial dengan MA. Terkait itu, BCW kemudian mengadu ke MA, dengan harapan dapat dilakukan pemeriksasan terhadap majelis hakim yang telah mengubah status penahanan Iskak dari tahanan rutam menjadi tahanan kota itu. Humas Pengadilan Tinggi Denpasar Soeroso Ono SH, mengatakan, tim yang ditunjuk MA telah melakukan pemeriksaan terhadap majelis hakim yang sempat menyidangkan kasus Iskak tersebut. Mengenai hasil pemetiksaan, ia mengatakan nantinya akan langsung diserahkan ke MA untuk proses penilaian lebih lanjut. Jadi semuanya nanti tergantung MA, katanya. Iskak digiring ke persidangan di PN Denpasar atas dakwaan telah menggelapkan pajak atas lahan usaha yang dipimpinnya yakni PT TDG senilai Rp71,9 miliar. Jaksa Nyoman Sucitrawan SH dalam nota tuntutannya di persidangan ketika itu, mengungkapkan bahwa selama kurun waktu 2005-2006, PT TDG yang

mengoperasikan lima tempat usaha berkewajiban melunasi PPn dan PPh sebesar Rp71,9 miliar. Kelima badan usaha di bawah PT TDG yang seluruhnya adalah toko swalayan menjual aneka kebutuhan itu, meliputi Tiara Dewata, Tiara Grosir, Tiara Gatsu, Tiara Kuta dan Tiara Dalung. Namun demikian, majelis hakim dalam pembuktian di depan persidangan, terdakwa tidak terbukti telah menggelapkan pajak senilai Rp71,9 milar, melainkan sebanyak Rp6,03 miliar. Kerugian negara sebesar itu terungkap dari keterangan sejumlah saksi dan saksi ahli yang sempat didengar keterangannya di persidangan, kata hakim. Menurut hakim, terdakwa Iskak berhasil menggelapkan pajak dengan cara membuat pembukuan ganja. Seluruh lahan usaha yang dipimpinnya, diwajibkan membuat pembukuan hasil penjualan siang dan malam hari. Untuk pembukuan yang dibuat siang, oleh terdakwa dan kawanannya disetorkan kepada pihak kantor pajak, sementara hasil pembukuan pada malam hari tidak dilakukan itu. Akibatnya, kantor pajak hanya menghitung hasil penjualan PT TDG dari pembukuan yang satu itu, sehingga ada selisil penghitung sebesar Rp6,03 miliar yang tidak dibayarkan oleh terdakwa Iskak. Atas perbuatannya itu, majelis hakim menjatuhkan hukuman dua tahun penjara kepada Iskak, ditambah uang ganti rugi sebesar tiga kali dana yang digelapkan, yakni kurang lebih sebesar Rp18,09 miliar. Uang ganti rugi untuk negara sebesar itu, menurut hakim harus ditanggung oleh PT TDG, mengingat hasil dari penggelapan pajak tidak digunakan sendiri oleh terdakwa Iskak, melainkan oleh perusahaan. Vonis majelis hakim dua tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya meminta agar Iskak dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Sumber Berita: beritasore.com

Analisis Kasus:
Iskak Soegiarto Tegoeh, komisaris PT Tiara Dewata Grup (TDG) menjadi tersangka setelah menggelapkan pajak atas usaha yang dipimpinnya yakni PT TDG senilai Rp71,9 miliar. Namun, dalam persidangan Iskak tidak terbukti menggelapkan pajak senilai Rp 71,9 miliar melainkan hanya Rp 6,03 miliar. Iskak menggelapkan pajak melalui cara pembukuan ganda. Seluruh lahan usaha yang dipimpinnya, diwajibkan membuat pembukuan hasil penjualan siang dan malam hari. Untuk pembukuan yang dibuat siang, oleh terdakwa dan kawanannya disetorkan kepada pihak kantor pajak, sementara hasil pembukuan pada malam hari tidak dilakukan itu. Penggelapan pajak merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan sangat merugikan negara. Di dalam undang-undang telah diatur mengenai wajib pajak, subjek dan objek pajak hingga sanksi yang diterima bila melakukan kecurangan dalam

pembayaran pajak. Dalam kasus di atas telah terjadi penggelapan pajak yang dilakukan Iskak. Hal ini dilakukan untuk menghindari pajak agar keuntungan yang diperoleh dari usahanya tidak berkurang terlalu banyak. Padahal sebagai warga negara yang baik kita wajib membayar pajak sesuai tarif yang dikenakan pada kita. Dengan membayar pajak kita bisa mendapat berbagi keuntungan bagi usaha kita, contohnya seperti pembangunan jalan yang akan memperlancar transportasi konsumen yang akan membeli barang dan jasa dari usaha kita atau pendistribusian hasil produksi semakin mudah dan akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Sehingga sangat disayangkan kalau pengusaha besar seperti Iskak dan pengusaha-pengusaha lain melakukan penggelapan pajak karena pajak salah satu sumber pendapatan negara untuk kemakmuran rakyat, seperti dalam Pasal 1 UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah "kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Solusi untuk mengatasi atau memperkecil persentase penggelapan pajak di antaranya adalah memperketat pengawasan terhadap pelaporan keuangan perusahaan. Kasus ini menunjukkan pengawasan yang kurang karena Iskak berhasil membuat pembukuan ganda pada siang dan malam hari. Lembaga perpajakan dan penegakan hukum yang kurang tegas atau yang disuap seharusnya direformasi sistem birokrasinya sehingga lembaga tersebut dapat menghilangkan kecurangan. Memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku penggelapan pajak. Dalam kasus ini, hukuman yang dijatuhkan masih kurang berat dan mendidik karena Iskak mengambil hak negara sebesar Rp 6,03 dengan vonis 2 tahun penjara dengan status tahanan kota yang sebelumnya adalah sebagai tahanan rutan. Bandingkan dengan pencuri sepeda motor yang berharga sekitar Rp 10 jutaan yang harus menjalani masa tahanan lebih lama dari pencurian uang negara miliaran Rupiah. Tahanan pengelapan pajak seharusnya juga menjalani hukuman kerja sosial agar tahu apa manfaat dari membayar pajak bagi masyarakat.