Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap pertambahan tahun.

Penyebab tersering demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit Alzheimer. Sebuah penelitian pada populasi usia lanjut di AS mendapatkan lebih dari 45% mereka yang berusia 85 tahun atau lebih menderita penyakit Alzheimer. Proporsi perempuan yang mengalami penyakit Alzheimer lebih tinggi dibandingkan laki-laki, hal ini disebabkan perempuan memiliki harapan hidup lebih hidup lebih baik dan bukan karena perempuan lebih mudah menderita penyakit ini. Tingkat pendidikan yang rendah juga disebutkan berhubungan dengan resiko terjadinya Alzheimer. Tahun 2050, diperkirakan sekitar 7,5 -14 juta orang di dunia mengidap alzheimer. Peningkatan ini sebanding dengan meningkatnya angka harapan hidup manusia. Peningkatan ini akan melonjak tinggi di negara-negara maju karena pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.

BAB II LAPORAN KASUS Kasus 1 Ny. Ani, 65 tahun datang diantar oleh kedua anaknya ke unit gawat darurat RS. Selama 3 hari ini terutama pada malam hari pasien berulang kali berteriakpergi kamu dengan ekspresi ketakutan. Kadang diikuti pula dengan gerakan seperti memukul seseorang. Hal itu tidak jelas ditujukan kepada siapa, karena tidak ada orang lain dikamarnya. Walau semalam tidak tidur, namun pagi hari pasien tampak lebih tenang. Sejak seminggu ini keluarga memberikan pasien obat untuk mengatasi masalah tidur. Setelah obat tidur habis, tidak dilanjutkan lagi dan diganti dengan obat amitri...(keluarga lupa nama obatnya). Selanjutnya pasien tampak gelisah, mengeluh pusing, sulit B.A.B, mulut/bibir tampak kering dan selera makan menurun. Keluarga menduga timbulnya perubahan pada pasien, baik fisik maupun mental terkait dengan obat yang diberikan. Satu bulan yang lalu pasien diajak menginap di rumah anak bungsunya, Tn. Ardi di Tangerang untuk menjenguk cucunya yang baru lahir. Selama ini pasien tinggal di Jakatra dengan anaknya yang kedua, Nn. Ade. Keluarha berpendapat, keadaan pasien mungkin bisa lebih baik bila dekat dengan cucu-cucunya. Kenyataanya, pasien kesal bila mendengar tangisan atau teriakan sang cucu yang justru dianggap sangat mengganggu. Paginya badan pasien terasa lemah, siang mengantuk dan menjelang senja mulai gelisah. Malam sering marah-marah bila mendengar suara berisik anak/cucunya atau dari televisi, hingga beberapa hari tidak tidur. Kasus 2 Menurut kedua anak pasien,obat amitri..(nama obat itu masih belum diingat) sudah biasa dikonsumsi ibunya bila sedang mengalami down. Disamping mudah diperoleh dari toko obat dekat rumah(seharusnya dengan resep dokter), obat relatif murah dan ampuh. Juga aman terhadap jantung pasien menurut dokter kondisinya cukup baik, demikian dengan hasil pemeriksaan fisik lainya.
2

Tahun 2000 obat tersebut mulai dikonsumsi pasien setelah meninggalnya sang suami akibat serangan jantung. Saat kondisis ayahnya kritis, apalagi setelah wafat, anaknya yang tertua (tn. Ahmat 35 tahun) terus bertanya tentang warisan rumah dan sempat mengancam bila haknya tidak diberikan. Saat itu pasien sangat terpukul, hingga mengalami depresi berat dan harus dirawat. Tahun 2001 setelah pensiun dari pekerjaannya, pasien ingin total beristirahat. Fungsi pekerjaan rumah masih baik, mau membantu memasak atau merapikan rumah. Namun pasien menjadi jarang berkomunikasi dan mulai enggan menelpon rekan-rekan sekerjanya dulu, juga malas beraktivitas diluar rumah. Tahun 2005 pasien kembali merasa terpukul akibat desakan Tn. Ahmat terhadap kepemilikan rumah warisan tersebut. Setiap kali down, Ny. Ani merasakan pikirannya seperti buntu, telat mikir, susah konsentrasi, malas beraktivitas, tanpa selera makan dan problem tidur. Setelah minum obat amitri.. biasanya kondisi membaik. Selanjutnya obat dikonsumsi diluar anjuran dokter. Sejak tahun 2007 terlihat perubahan pada perilaku pasien. Obat-obatan atau vitamin sering diminum melebihi dosis, karena pasien lupa apakah ia sudah meminumnya atau belum. Keluarga menyadari ibunya semakin sering lupa sejak rentetan peristiwa yang sangat membebaninya. Selain penurunan daya ingat yerjadi pula gangguan dalam daya pikir lainnya. Menurut cucu-cucunya, sang nenek mulai telmi/telat mikir dan tidak nyambung , sering mengulang pertanyaan dan ucapanya. Akhirnya cucu-cucu malas berbicara dengan sang nenek. Kasus 3 Sejak tahun 2008 pasien perlahan-lahan menujukkan perubahan perilaku. Pasien sering mengatakan bahwa dirinya orang bodoh karena sering lupa dan seketika tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Belakangan bukan hanya lupa barang-barang, tetapi salah meletakkannya. Pernah didapati makanan di lemari pakaian atau kunci dalam lemari es. Beberapa kali nyaris terjadi kebakaran karena passien lupa mematikkan kompor gas sehabis memasak; memasaknya pun sudah tak dapat dilakukan dengan benar. Tak mampu lagi mengurus atau menghitung uang dengan benar, padahal mantan karyawati senior bagian keuangan. Sebelumnya pasien dikenal sebagai orang yang disiplin, sangat rapi, pembersih, menyukai keteraturan(termasuk pemberian nama anak-anak yang disesuaikan dengan inisial
3

namanya, yaitu Ahmat-Ade-Ardi), dalam keluarga sering terjadi kesalahpahaman akibat perfeksionisnya. Kini keadaan sang ibu berubah drastis. Atas kejadian selama ini membuat keluarga bingung apa yang sebenarnya terjadi. Sementra keluarga menganggapnya sebagaisakit tua akibat usia dan peristiwa berat yang dialami pasien. Sejak tahun 2010 pasien semakin sering lupa. Lupa nama anak-anaknya dan keliru mengenalinya. Anak perempuannya dikira adiknya atau anak laki-lakinya dianggap suaminya. Pasien terkadang berbicara sendiri sambil menyebut nama sang suami dan marah ketika dijelaskan bahwa suaminya telah tiada. Pasien pernah keluar sendirian dan tidak tahu alamat rumah sehingga diantar pulang oleh petugas keamanan. Pasien menganggap ia hanya menginap sementara di rumah saudaranya(sebenarnya itu adalah rumahnya sendiri) dan harus segera pulang karena orang tua (padahal sudah lama meninggal) menunggu di rumah. Mondar mandir tanpa tujuan, membongkar dan merapikan kembali baju-baju secara berulang. Marah-marah tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba menangis dan sebaliknya gembira berlebihan. Sementara keluarga masih menggangap sebagai sakit tua dan kekambuhan dari depresinya. Pada tahun 2011 keadaan makin memburuk, aktivitas dan perawatan diri menurun. Walau pasien masih dapat melakukan sendiri, seperti makan, mandi atau berpakaian, namun hasilnya akan berantakan, sehingga perlu dibantu. Gejala yang sama dialami pula oleh kakak perempuan pasien yang sebelum meninggal menderita radang paru-paru akibat tidak bergerak, hanya ditempat tidur dan tidak bisa bicara lagi. Kasus 4 Asesmen geriatrik komprehensif: Ny. Ani, 65 tahun(tampak lebih tua dari usia) dengan kesadaran menurun disertai delirium Status internus dan status neurologis: Saat kondisi fisik lebih tenang dalam posisi berbaring, hasil menunjukan: TD: 110/80 mmHg; N: 90x/m; RR: 20x/m, temperatur tubuh afebris, kulit lembab. Konjungtiva/sklera normal. Paru: sonor, vasikuler, ronkhi -/-. Jantung : BJ murni, murmur-, gallop-.

Abdomen: NT epigastrium, H/L: tak teraba, BU + normal. Fungsi motorik, sensorik dan koordinasi: dalam batas normal, kecuali tremor kasar; refleks fisiologis normal, patologis:Laboratorium: Hb 12,9 g/dl; lekosit 9000/mm3, LED 45 mm/jam; Na 130 mg/dl, K 3 mg/dl, ureum 54 mg/dl dan kreatinin 1,4 mg/dl. EKG dalam batas normal Status psikogeriatrik: Kesadaran neurologis, psikologis dan sosial: terganggu Aktivitas psikomotor pada awal wawancara hiperaktif dengan ekspresi gelisah, irritable, sikap tidak kooperatif, pada pertengahan wawancara tampak lebih tenang. Arus pikir produktivitas kurang, kontinuitas inkoherensi, tanpa hendaya berbahasa. Gangguan isi pikir berupa waham curiga, non bizar, sistematik Gangguan persepsi halusinasi visual +, ilusi Pemeriksaan fungsi kognitif: penurunan memori jangka pendek/segera, perhatikan dan konsentrasi terganggu, disorentasi waktu dan tempat, fungsi kognitif (+pikiran abstrak) terganggu; agnosia +. Kemampuan menolong diri terganggu (indeks ADL: 11-> apraxia+, IADL:8 -> fungsi eksekutif lainnya terganggu) Kasus 5 Psikometri-fungsi kongnitif: Hasil MMSE dan CDT sebagai berikut:

CDT:

MMSE: Orientasi :2 Registrasi:2 Atensi dan kalkulasi:1 Recall:1 Bahasa: 3

MMSE: Visuospasial

BAB III PEMBAHASAN I. INDENTITAS Nama Jenis Kelamin Umur Pendidikan Agama Suku bangsa Pekerjaan : Ny. Ani : Perempuan : 65 tahun ::::-

Datang sendiri/diantar : Diantar oleh anaknya.

II.

MASALAH DAN HIPOTESIS Daftar Masalah Interpretasi Pencetus terjadinya depresi Hipotesis Depresi Berat

Perjalanan Masalah Penyakit Tahun - anaknya yang tertua (tn. Ahmat 35 tahun) 2000 terus bertanya tentang warisan rumah dan sempat mengancam bila haknya tidak diberikan. Saat itu pasien sangat terpukul, hingga mengalami depresi berat dan harus dirawat. Tahun - pasien menjadi jarang berkomunikasi dan 2001 mulai enggan menelpon rekan-rekan sekerjanya dulu, juga malas beraktivitas diluar rumah. Tahun - Pasien merasakan pikirannya seperti buntu, 2005 telat mikir, susah konsentrasi, malas beraktivitas, tanpa selera makan dan problem tidur. Tahun - . Obat-obatan atau vitamin sering diminum

Gejala Depresi Penarikan diri (negatif) Gangguan Alzheimer kognitif jangka pendek Overdosis Demensia
6

2007 Tahun 2008 Tahun 2010 Tahun 2011

melebihi dosis, karena pasien lupa apakah ia sudah meminumnya atau belum. Pasien mulai telmi/telat mikir dan tidak nyambung , sering mengulang pertanyaan dan ucapanya Pasien mengatakan bahwa dirinya orang bodoh karena sering lupa dan seketika Pasien tidak tahu apa yang harus dikerjakan Pasien salah meletakkan barang-barang Tidak mampu menghitung uang dengan benar

obat (polifarmasi) Gangguan kognitif

Alzheimer Alzheimer Alzheimer Demensia Alzheimer Demensia Alzheimer Demensia Alzheimer Depresi Depresi Demensia Alzheimer Demensia Alzheimer Demensia Alzheimer

Gangguan memori Gangguan kognitif Atensi dan kalkulasi terganggu Pasien lupa nama anak-anaknya dan keliru Gangguan mengenalinya memori Pasien kadang berbicara sendiri sambil Halusinasi menyebut nama suami padahal suami sudah tiada Pasien marah-marah tanpa sebab yang jelas, Gangguan tiba-tiba menangis dan sebaliknya gembira Emosi berlebihan Pasien menganggap menginap sementara di Disorientasi rumah saudaranya padahal itu rumahnya tempat sendiri Pasien melakukan kegiatan berulang-ulang

- Keadaan pasien makin memburuk, akivitas Kemampuan dan perawatan diri menurun. fungsional - Pasien tidak dapat melakukan kegiatan menurun sendiri - pada malam hari pasien berulang kali berteriakpergi kamu dengan ekspresi ketakutan - Pasien tampak gelisah, mengeluh pusing, sulit B.A.B, mulut/bibir tampak kering dan selera makan menurun - Malam sering marah-marah bila mendengar suara berisik anak/cucunya atau dari televisi, hingga beberapa hari tidak tidur. Halusinasi visual Efek samping Obat Amritiptilin Pencetus gejala

Tahun 2012

Delirium akut

Hipotesis 1. Delirium akut. Keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam

memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih. Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri. Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh). Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan halusinasi maupun delusi yang dialaminya. Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif. 2. Alzheimer. Adalah kondisi, matinya sel-sel saraf otak yang mengakibatkan sulitnya pengiriman sinyal dari otak. Biasanya terjadi pada pasien usia lanjut (65 tahun), dan lebih banyak wanita yang mengalaminya. Adanya riwayat depresi, trauma kepala dan kehilangan kesadaran juga bisa menyebabkan alzheimer. 3. Demensia. Gangguan fungsi intelektual dan memori di dapat yang disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Demensia merujuk pada sindrom klinis yang mempunyai bermacam penyebab. Pasien dengan demensia harus mempunyai gangguan memori selain kemampuan mental lain seperti berpikir abstrak , penilaian, kepribadian, bahasa, praksis, dan visuospasial. Defisit yang terjadi harus cukup berat sehingga mempengaruhi aktivitas kerja sosial.

III. ANAMNESIS Anamnesis tambahan

1. 2. 3.

Apakah pernah mengalami trauma kepala? Apakah keluarga juga memiliki keluhan yang sama? Apakah pasien menkonsumsi alkohol?

Interpretasi anamnesis Kasus 1 Berulang kali berteriak "pergi kamu" dengan ekpresi ketakutan, kadang diikuti seperti memukuli seseorang, namun tidak ada orang lain. Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya halusinasi visual yang dialami oleh pasien. Tampak gelisah, pusing, sulit BAB, mulut/bibir tampak kering, dan selera makan menurun. Hal ini kemungkinan disebabkan akibat efek samping dari obat antidepresan golongan trisiklik "Amitriptilin". Dimana pada riwayat pengobatan ditemukan adanya kemungkinan mengkonsumsi obat Amitriptilin. Kesal bila mendengar tangisan atau teriakan sang cucu atau suara dari televisi. Hal ini kemungkinan terjadi akibat suasana baru yang didapatkan oleh pasien. karena pada riwayat sebelumnya didapatkan bahwa pasien tinggal bersama anaknya. Kasus 2 Pasien mengalami depresi berat. Hal ini timbul akibat terpukul atas meninggalnya suaminya, lalu akibat ancaman anak pertamanya yang meminta hak warisannya. Pasien pensiun dari pekerjaannya. Hal ini menyebabkan pasien mengalami inaktivitas. Mengkonsumsi obat di luar anjuran dokter. Hal ini dapat menyebabkan penyalahgunaan obat. Pasien mengalami penurunan daya ingat dan gangguan dalam daya pikir lainnya.

Kemungkinan terjadi dementia pada pasien ini. Hal ini kemungkinan terjadi akibat penggunaan obat Amitriptilin yang berlebihan. Kasus 3 Pasien merasa dirinya orang bodoh dan semakin sering lupa dalam meletakkan barang-barang pada tempatnya. hal ini menunjukkan terjadinya gejala dementia Pasien sudah tidak mampu mengurus dan menghitung uang dengan benar. terjadi gangguan fungsi kognitif . Kepribadian premorbid pasien : seorang yang disiplin , sangat rapi , pembersih, menyukai keteraturan dan perfeksionis . menunjukkan ciri kepribadian anankastik. Seiring perjalanannya waktu penyakit pasien semakin parah. menandakan penyakit pasien yang pelan tapi progresif. Pasien suka berbicara sendiri dan marah bila dijelaskan bahwa suami nya telah tiada . pasien belum bisa menerima realita bahwa suaminya telah meninggal. Pasien sering mondar-mandir tanpa tujuan , membongkar dan merapikan kembali baju-baju secara berulang . terjadi gangguan perilaku motorik , yaitu perilaku kompulsi. Perawatan diri pasien semakin buruk , pasien masih dapat melakukan kegiatan sehari-hari tapi berantakan dan perlu bantuan orang lain. kemampuan fungsional menurun dan perlu bantuan. Ternyata kakak perempuan pasien memiliki riwayat gejala yang sama. kemungkinan faktor genetik terlibat.

10

IV.

STATUS MENTAL 1. Deskripsi Umum a. Penampilan : Tampak lebih tua dari usianya ( menandakan pasien depresi ) b. Kesadaran Biologis Psikologis teriak) Sosial : Terganggu (pembatasan interaksi) : Gelisah, irritable, tremor kecil : Menurun disertai delirium : Terganggu (mengamuk dan berteriak-

c. Perilaku & Aktivitas Psikomotor d. Pembicaraan Kualitas Kuantitas

: Tidak diketahui : Tidak diketahui : Hiperaktif dan tidak kooperatif, pada

e. Sikap terhadap Pemeriksa

pertengahan wawancara tampak lebih tenang 2. Alam Perasaan a. Mood b. Afek 3. Gangguan Persepsi a. Halusinasi (visual) : Pasien berteriak ketakutan dan : Tidak diketahui : Tidak diketahui

mengamuk tanpa sebab yang jelas b. Ilusi : Tidak ada


11

c. Depersonalisasi d. Derealisasi 4. Fungsi Kognitif

: Tidak diketahui : Tidak diketahui

a. Daya konsentrasi dan perhatian : Terganggu b. Daya ingat Jangka panjang Jangka pendek Sesaat Segera : Tidak diketahui : Menurun : Tidak diketahui : Menurun

c. Orientasi d. Pikiran abstrak e. Kemampuan informatif f. Kemampuan menolong diri g. Visuospasial h. Kemampuan membaca dan menulis 5. Pengendalian Impuls 6. Proses Pikir a. Arus pikir
12

Waktu : Terganggu Tempat : Terganggu

Orang : Tidak ketahui : Terganggu : Tidak diketahui : Terganggu : Terganggu (Dilihat dari MMSE) : Tidak diketahui : Baik

Kontuinitas Produktivitas Hendaya berbahasa

: Inkoherensi : Miskin ide : Tidak terganggu

b. Isi pikir 7. Daya Nilai a. Sosial b. Uji daya nilai c. Daya nilai realita 8. Tilikan 9. Taraf dapat dipercaya Interprestasi : STATUS MENTAL, MMSE DAN CDT Dari hasil pemeriksaan status mental , didapatkan bahwa jelas pasien mengalami suatu keadaan depresi yang berdampak menimbulkan gejala yang diperlihatkan pada pasien ini berupa gejala penarikan diri , dan gejala lain yang mendukung. Dari pemeriksaan status mental juga terdapat kelainan yang mendukung ke arah suatu Demensia Alzheimer berupa gangguan kognitif , gangguan aktivitas dan gangguan perilaku. Sedangkan dari hasil MMSE didapatkan total nilai 9 , yang artinya bahwa pasien ini mengalami severe cognitive impairment . Untuk hasil CDT ( Clock Drawing Test ) didapatkan nilai total 2 yang artinya pasien memang mengalami gangguan pada fungsi frontal dan temporoparietal. Disini pasien mengalami kesulitan dalam mengikuti instruksi dan melakukan aktivitas kompleks seperti planning , organizing , sequencing , pikiran abstrak dan kemampuan motorik. : Tidak diketahui : Tidak diketahui : Tidak diketahui : Derajat 5 : Dapat dipercaya Pre okupasi Waham : Tidak diketahui : Curiga, non bizare, sistematik

13

V.

PEMERIKSAAN FISIK Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Nilai Normal <120/80 mm/Hg 60-100x/menit 16-20x/menit 0 36.5 C- 37.20 C ( Afebril) Hasil Pemeriksaan 110/80 mmHg 90x/menit 20x/menit Afebril Interpretasi Normal Normal Normal Normal

Hasil Pemeriksaan fisik lainnya diketahui: Inspeksi: Kulit Interpretasi Mata Interpretasi : Lembab : Normal dan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda dehidrasi : Konjungtiva atau Sklera Normal : Normal. Tidak menunjukkan adanya kelainan pada mata pasien

Auskultasi Paru Interpretasi : Sonor, vesikuler, ronchi -/: Normal. Tidak menunjukkan adanya kelainan/penyakit pada paruparu Jantung Interpretasi pasien Abdomen : Bising Usus Normal pasien

: Bunyi Jantung murni, murmur -,gallop : Normal. Tidak menunjukkan adanya kelainan/penyakit pada jantung

Palpasi

Abdomen Interpretasi

: Nyeri Tekan Epigastrium : Tidak Normal. Kemungkinan adanya gastritis atau infeksi lainnya
14

Hepar/Lien Interpretasi splenomegali

: Tidak Teraba : Normal. Pasien tidak menunjukkan adanya hepatomegali atau

Pemeriksaan Neurologis

Fungsi motorik,sensorik dan koordinasi dalam batas normal, kecuali tremor kasar Refleks fisiologis normal Refleks Patologis negatif (tidak adanya kelainan)

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hb Leukosit LED Na

Nilai Normal 12-16 g/dl 5000-10000/mm3 0-15 mm/jam 135-145 mg/dl

Hasil Pemeriksaan 12.9 g/dl 9000/mm3 45 mm/jam 130 mg/dl

3.1 -4.3 mg/dl

3 mg/dl

Ureum

15-40 mg/dl

54 mg/dl

Kreatinin

0.5-1.5 mg/dl

1.4 mg/dl

Interpretasi Normal Normal Meningkat, Kemungkinan adanya penyakit kronis Menurun, pasien mengalami hiponatremi oleh karena adanya gangguan elektrolit Menurun tidak bermakna. Kemungkinan adanya gangguan elektrolit Meningkat, kemungkinan pasien adanya gangguan pada fungsi ginjal Normal

Pemeriksaan EKG: Dalam batas normal


15

VII. DIAGNOSIS Diagnosis menurut PPDGJ-III Berdasarkan diagnosis multiaksial Axis I (Gangguan klinis, kondisi lain yang menjadi fokus perhatian klinis)

F00.0 Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini Pada pasien didapati gejala demensia seperti adanya penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir yang menganggu kegiatan harian dan sudah berjalan lebih dari enam bulan. Tidak ditemukan bukti lain yang menyatakan kondisi mental pasien disebabkan oleh penyakit otak atau sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia. Onset pada pasien ini sebelum usia 65 tahun dan bertahap.

F05.1 Delirium, Bertumpang-tindih dengan Demensia Pada pasien didapati gangguan-gangguan seperti gangguan kesadaran dan perhatian, gangguan kognitif secara umum, gangguan psikomotor, gangguan siklus tidur-bangun, dan gangguan emosional yang memenuhi kriteria delirium. Keadaan ini berlangsung kurang dari 6 bulan. Pada pasien hal ini terjadi saat sudah ada demensia.

Axis II (Gangguan kepribadian, retardasi mental)

Ciri kepribadian anankastik Pasien memiliki ciri kepribadian anankastik karena pasien dinyatakan sebagai seseorang yang disiplin, sangat rapi, pembersih, menyukai keteraturan serta perfeksionis. Tetapi hal-hal ini tidak dikatakan menimbulkan gangguan terhadap keidupannya sehingga hal ini bukanlah ganguan kepribadian.

16

Axis III (Kondisi medik umum)

Tidak ada diagnosis Setelah berbagai macam pemeriksaan yang dilakukan pada pasien tidak ditemukan kondisi medik umum pada pasien ini. Axis IV (Masalah psikososial dan lingkungan)

Masalah dengan primary support group (keluarga) Axis V (Skala penilaian fungsi secara global)

40. beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi VIII. PATOFISIOLOGI Pada kasus ini diketahui bahwa sejak tahun 2000 pasien telah mengalami depresi sehingga mengkonsumsi obat antidepresan yang kami duga bernama amitriptilin (golongan trisiklik) yang merupakan antikolinergik. Depresi yang berkepanjangan disertai konsumsi obat golongan antikolinergik ini dapat menyebabkan demensia disertai dengan delirium yang dialami oleh pasien. Stress yang dialami oleh pasien karena kehilangan suami dan terus menerus mendaapat tekanan dari anaknya, dapat menjadi pencetus munculnya depresi. Konsumsi obat antidepresan mengurangi neurotransmitter kolinergik yang ada di otak sehingga menyebabkan defisiensi kolinergik. Defisiensi asetilkolin akan member dampak pada daya ingat, kemampuan belajar, dan perhatian. Selain itu pasien juga memtuskan untuk pensiun dan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Hal ini dapat memperparah keadaan pasien karena dengan pensiun dan menarik diri, stimulasi otak berkurang dan pasien dapat mengalami degenerasi system syaraf yang lebih cepat sehingga pasien jatuh ke keadaan demensia yang lebih lanjut. Faktor genetika mungkin juga berpengaruh pada kasus ini karena dari riwayat keluarga diketahui kakak pasien juga mengalami hal yang serupa sebelumnya.

17

Gejala-gejala seperti sering lupa dan salah meletakkan barang merupakan gejala penurunan memori sebagai akibat berkurangnya asetilkolin di otak. Membongkar dan merapikan baju tanpa tujuan yang jelas berulang dan halusinasi yang dialami pasien merupakan akibat dari berlebihnya dopamine. Sedangkan emosi yang tidak stabil, kadang seding dan kadang gembira berlebihan, merupakan akibat dari terganggunya system serotonin dan dopamine yang mengatur emosi. Pada keadaan yang lebih lanjut, degenerasi sistem syaraf pada pasien penderita Alzheimer seperti pada kasus akan mencapai tahap menyeluruh sehingga juga dapat mempengaruhi fungsi sensorik dan motorik yang menurun. Pada kasus, fungsi motorik dan sensorik yang menurun ditandai dengan berkurangnya aktivitas dan perawatan diri yang menuruh sampai harus dibantu oleh orang lain. Hal ini dapat menyebabkan pasien mengalami keadaan imobiliasasi. Imobilisasi inilah yang dapat mengakibatkan para penderita demensia jatuh ke keadaan yang lebih parah karena komplikasi-komplikasi dari imobilitas tersebut. Salah satu contoh komplikasi dari imobilitas adalah radang paru-paru seperti yang dialami oleh kakak pasien. IX. PENATALAKSANAAN A. Non Medikamentosa

I. Terapi pada pasien 1. Biasakan aktivitas terstruktur dengan jadwal yang rutin pada siang hari Hal ini dilakukan untuk membantu pasien untuk mengatasi masalah tidurnya selain itu juga mungkin bisa membantu pasien agar mencegah kerusakan kognitif ke arah yang lebih buruk. 2. Terapi musik dan pemijatan Terapi ini bertujuan untuk membantu pasien untuk merasa lebih nyaman dan rileks. II. Intervensi lingkungan 1. Mengusahakan lingkungan di sekitar terasa aman dan nyaman buat pasien baik secara fisik maupun psikis. 2. Mengusahakan warna ruang yang lembut, dengan ruang gerak yang cukup dan
18

musik yang sesuai. 3. Hati-hati dengan penggunaan karpet yang memudahkan pasien lansia mengalami jatuh. Selain itu juga hindari barang yang terlalu banyak dalam rumah. 4. Usahakan suasana rumah dan lingkungan pasien tidak asing dan terasa kekeluargaan buat pasien.

III. Edukasi keluarga 1. Diusahakan masalah-masalah pasien dengan keluarga pasien diatasi dulu, terutama masalah pasien dengan anak sulung pasien soal harta warisan. 2. Diusahakan agar pasien tidak sendirian di rumah dan dirawat oleh seorang yang khusus membantu pasien untuk melakukan semua hal. 3. Diedukasikan kepada keluarga pasien untuk selalu member perhatian dan mengajak pasien untuk berbicara. 4. Selalu mengikutsertakan pasien dalam kegiatan-kegiatan keluarga. 5. Selain itu juga keluarga pasien harus dijelaskan sebaik-baiknya tentang keadaan pasien sehingga keluarga pasien merasa lebih bertanggungjawab terhadap pasien 6. Selain itu juga diharapkan agar keluarga membantu untuk memperhatikan dan merawat pasien terutama dalam hal jadwal dan keteraturan konsumsi obat-obatan pasien.

B. Medikamentosa Tujuan utama penatalaksanaan pada seorang pasien dengan demensia adalah mengobati penyebab demensia yang dapat dikoreksi dan menyediakan situasi nyaman
19

dan mendukung bagi pasien dan pramuwerdanya. Menghentikan obat-obatan yang bersifat sedatif dan memengaruhi fungsi kongnitif banyak memberikan manfaat. Obat anti depresi yang dapat digunakan yaitu serotonin selective reuptake inhibitor (SSRI) mempunyai efek samping minimal terhadap fungsi kognitif lebih dianjurkan pada pasien demensia dengan gejala depresi Obat-obatan yang dapat digunakan untuk agitasi dan insomnia tanpa memperberat demensia diantaranya haloperidol dosis rendah (0,5 - 2 mg), trazodone, buspiron, atau propanolol. Terapi kolinesterase inhibitor sebagai terapi terpilih untuk meningkatkan fungsi kognitif dan dapat pula mengurangi gejala apati, halusinasi visual, dan gejala psikiatri lain diantaranya donepezil, rivastigmin, dan galantamin. Dosis harian efektif untuk masing-masing obat 5-10 mg untuk donepezil, 6-12 mg untuk rivastigmin, dan 16-24 mg untuk galantamin.

X.

PROGNOSIS Prognosis pada pasien demensia adalah dubia ad malam. Karena penyakit dementia ini berjalan secara progresif. Penyakit ini juga dapat menyebabkan pasien menjadi rentan terhadap infeksi. Sehingga akibat dari penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian pada pasien.

20

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA DEMENSIA A. Definisi Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Pasien dengan demensia harus mempunyai gangguan memori selain kemampuan mental lain seperti berpikir abstrak, penilaian, kepribadian, raksis, dan visuospasial. Defisit yang terjadi harus cukup berat sehingga mempengaruhi aktivitas social dan kerja secara bermakna. Walaupun sebagian besar kasus demensai menunjukkan penurunan yang progesif dan tidak dapat pulih (irreversible), namun bila merujuk pada definisi diatas
21

maka demensia dapat pula terjadi mendada (pasca stroke atau cedera kepala), dan beberapa penyebab demensia dapat sepenuhnya pulih (hematoma subdural, toxisitas obat, depresi) bila dapat diatasi dengan cepat dan tepat. Demensia dapat muncul pada usia berapapun meskipun umumnya muncul setelah usia 65 tahun. B. Epidemiologi Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap pertambahan tahun. Penyebab tersering demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit Alzheimer. C. Patogenesis Komponen utama patologi penyakit Alzheimer adalah plak senilis dan neuritik, hilangnya neuron/sinaps, degenerasi granulovaskular. Plak neuritik mengandung b-amyloid ekstraselular yang dikelilingi neuritis distrofik, sementara plak difus adalah istilah yang kadang digunakan untuk deposisi amyloid tanpa abnormalitas neuron. Deteksi adanya Apo E di dalam plak b-amyloid dan studi mengenai ikatan high-avidity antara Apo E dengan b-amyloid menunjukkan bukit hubungan antara amyloidogenesis dan Apo E. Plak neuritik juga mengnadung protein komplemen, microglia yang teraktivasi, sitokin-sitokin, dan protein fase-akut, sehingga komponen inflamasi juga diduga terlibat pada pathogenesis penyakit Alzheimer. Adanya dan jumlah plak senilis adalah suatu gambaran utama yang penting untuk diagnosis penyakit Alzheimer. Sebetulnya, jumlah plak meningkat seiring bertambahnya usia, dan plak ini juga muncul di jaringan otak orang usia lanjut yang tidak demensia. D. Diagnosis Kriteria Diagnosis Klinis Penyakit Alzheimer: 1. Kriteria diagnosis klinis untuk probable penyakit Alzheimer mencakup: Demensia yang ditegakkan oleh pemeriksaan klinis dan tercatat dengna pemeriksaan the mini mental test, Blessed Dementia Scale, atau pemeriksaan sejenis dan dikonfirmasu oleh tes neurpsikologis.
22

Defisit pada dua atau lebih area kognitis Tidak ada gangguan kesadaran Awitan antara umur 40 dan 90, umumnya setelah umur 65 tahun Tidak ada kelainan sistemik atau penyakit otak lain yang dapat menyebabkan defisit progresif pada memori dan kognitif.

2. -

Diagnosis probable peyakit Alzheimer didukung oleh: Penurunan progresif fungsi kognitif spesifik seperti afasia, apraksia, dan agnosia Gangguan aktivitas hidup sehari-hari dan perubahan pola perilaku Riwayat keluarga dengan gangguan yang sama, terutama bila sudah dikonfirmasi secara neuropatologi Hasil laboratorium yang menunjukkan: Pungsi lumbal yang normal yang dievaluasi dengan teknik standar Pola normal atau perubahan yang non spesifik pada EEG, seperti peningkatan aktivitas slow-wave Buktinya adanya atrofi otak pada pemeriksaan CT scan yang progresif dan terdokumentasi oleh pemeriksaan serial.

3. Gambaran klinis lain yang konsisten dengan diagnosis probable penbyakit Alzheimer, setelah mengeksklusi penyebab demensia selain penyakit Alzheimer: Perjalanan penyakit yang progresif namun lambat Gejala-gejala yang berhubungan seperti depresi, insomnia, inkontinensia, delusi, halusinasi, verbal katastrofik, emosional, gangguan seksual, dan penurunan berat badan. Abnormalitas neurologis pada beberapa pasien, terutama pada peyakit tahap lanjut, seperti penigkatan tonus otot, mioklonus, dan gangguan melangkah Kejang pada penyakit lanjut
23

Pemeriksaan CT normal untuk usianya

4. Gambaran yang membuat diagnosis probable penyakit Alzheimer menjadi tidak cocok adalah: Onset mendadak dan apoplectic Terdapat defisit neurologis fokal seperti hemiparesis, gangguan sensorik, defisit lapang pandang, dan inkoordinasi pada tahap awal penyakit: dan kejang atau gangguan melangkah pada saat awitan atau tahap awal perjalanan penyakit 5. Diagnosis possible penyakit Alzheimer: Dibuat berdasarkan adanya sindrom demensia, tanpa adanya gangguan neurologis, psikiatrik atau sistemik lain yang dapat menyebabkan demensia, dan adanya variasi pada awitan, gejala klinis atau perjalanan penyakit 6. 7. Kriteria untuk diagnosis definite penyakit Alzheimer adalah: kriteria klinis untuk probable penyakit Alzheimer bukti histopatologis yang didapat dari biopsy dan autopsy Klasifikasi penyakit Alzheimer untuk tujuan penelitian dilakukan bila terdapat gambaran khusus yang mungkin merupakan subtype penyakit Alzheimer, seperti: banyak anggota keluarga yang mengalami hal yang sama awitan sebelum usia 65 tahun adanya trisomi 21 terjadinya bersamaan dengan kondisi lain yang relevan seperti penyakit Parkinson E. Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan pada demensia adalah mengobati penyebab demensia yang dapat dikoreksi dengan menyediakan situasi yang nyaman dan mendukung bagi pasien. Menghentikan obat-obat yang bersifat sedative yang
24

memepengaruhi fungsi kognitif banyak memberikan manfaat. Pasien dengan penyakit degenerative sering muncul gejala depresi dan sebagian dari mereka merespon terhadap terapi antidepersi. Obat-obatan yang dapat digunakan untuk meredam agitasi dan insomnia tanpa memperberat demensia diantaranya haloperidol dosis rendah, trazodon, buspiron atau propanolol. Pengobatan untuk mempertahankan fungsi kognitif antara lain: 1)

kolinesterase inhibitor, seperti tacrine, donepezil, rifastigmin, dan galantamin. Efek farmarkologik obat ini adalah dengan menghambat enzim kolinesterase dengan hasil meningkatkan kadar asetilkolin di jaringan otak. Berbagai uji klinis telah menunjukkan obat-obatan tersebut dapat meningkatkan fungsi kognitif secara bermakna selain itu pasien yang menggunakan kolinesterase inhibitor lebih dapat memepertahankan kemampuan mereka untuk aktivitas kehidupan sehari-hari. Efek samping yang timbul dari penggunaan obat-obat tersebut adalah mual, muntah, diare, penurunan berat badan, insomnia, mimpi abnormal, kram otot, bradikardia, sinkop , dan fatik. 2) Antioksidan. Antioksidan yang diteliti dan memberikan hasil cukup baik adalah alfatokoferol (Vitamin E). pemberian vitamin E pada suatu penelitian dapat memperlambat progresi penyakit Alzheimer menjadi lebih berat selain itu vitamin E digunakan sebagai pencegahan primer demensia pada individu dengan fungsi kognitif normal. 3) Memantin. Merupakan seuatu antagonis n-metil-d-aspartat. Efek terapinya diduga adalah melalui pengaruhnya pada glutaminergik eksitotoksisiti dan fungsi neuron di hipokampus. Bila memantin ditambahkan pada pasien Alzheimer yang telah mendapat kolinesterase inhibitor dosis tetap, didapatkan perbaikan fungsi kognitif, berkurangnya penurunan status fungsional, dan berkurangnya gejala perubahan perilaku.

DELIRIUM Delirium adalah kondisi yang sering dijumpai di rumah sakit. Delirium sering muncul sebagai keluhan utama atau tak jarang justru terjadi pada hari pertama pasien dirawat dan menunjukkan gejala yang berfluktuasi. Sindrom delirium mempunyai dampak buruk, tidak saja meningkatkan resiko kematian sampa 10 kali lipat namun juga karena memperpanjang masa rawat serta meningkatkan kebutuhan perawatan (bantuan ADL) dari petugas kesehatan dan pelaku rawat.
25

Sindrom delirium mempunyai banyak nama. Beberapa literatur menggunakan istilah seperti Acute Mental Status Change, Altered Mental Status, Reversible Dementia, Toxic/Metabolic Encephalopathy, Organic Brain Syndrome dan Acute Confusional State. A. Patofisiologi Defisiensi neurotransmitter asetilkolin sering dihubungkan dengan sindrom delirium. Penyebabnya antara lain gangguan metabolism oksidatif di otak dikaitkan dengan hipoksia dan hipoglikemi. Faktor lain yang berperan antara lain meningkatnya sitokin otak pada penyakit akut. Gangguan atau defisiensi asetilkolin atau neurotransmitter lain maupun peningkatan sitokin akan mengganggu transduksi sinyal neurotranmiter serta second messenger system pada gilirannya, kondisi tadi akan memunculkan gejala-gejala serebral dan aktivitas psikomotor yang terdapat pada sindrom delirium. B. Faktor Predisposisi dan Pencetus Faktor predisposisi antara lain: usia sangat lanjut, gangguan faal kognitif ringan (mild cognitive impairment/MCI) sampai demensia, gangguan ADL, gangguan sensorium, usia lanjut yang rapuh, usia lanjut yang sedang menggunakan obat yang mengganggu faal neurotransmitter otak, polifarmasi dan komrbiditas. Faktor pencetus yang sering dijumpai antara lain: pneumonia, infeksi saluran kemih, dan kondisi akut seperti hiponatremia, dehidrasi, hipoglikemia dan CVD, serta perubahan lingkungan (perpindahan lingkungan). C. Gejala Klinis Gejala yang dapat dijumpai antara lain: gangguan kognitif global berupa gangguan memori (memori jangka pendek), gangguan persepsi (halusinasi, ilusi), atau gangguan proses piker (disorientasi waktu, orang, tempat). Gejala yang mudah diamati namun justru terlewatkan adalah bila terdapat komunikasi yang tidak relevant atau sulit dipahami; kadang-kadang pasien tampak seperti mengomel atau terdapat ide-ide pembicaraan yang melompat-lompat. Gejala lain meliputi perubahan aktivitas psikomotor baik hipoaktif, hiperaktif maupun campuran keduanya sekaligus; sebagian pasien menunjukkan aktifitas psikomotor normal; gangguan siklus tidur (siang hari tertidur sedangkan malam hari terjaga)
26

Gejala-gejala klinik tersebut terjadi secara akut dan fluktuatif; berarti dari hari ke hari dapat terjadi perubahan secara berganti-ganti. Gejala yang khas (yang membedakan dengan demensia) adalah perhatian sangat terganggu, pasien tidak mampu mempertahankan konsentrasi maupun perhatiannya pada suatu topic pembicaraan. D. Diagnosis Berdasarkan DSM IV telah disusun algoritma ( confusion assessment method/CAM) untuk menegakkan diagnosis sindrom delirium. CAM ditambah uji status mental lain dapat dipakai sebagai baku emas diagnosis. Uji status mental lain antara lain MMSE, delirium rating scale, delirium symptom interview E. Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan adalah menemukan dan mengatasi pencetus dan faktor predisposisi. Comprehensive geriatric assessment sangat bermanfaat karena akan memberikan gambaran lebih jelas tentang beberapa faktor resiko yang dimiliki pasien. Obat-obat yang tidak esensial dihentikan. Jika terdapat kecurigaan terhadap putus obat maka kecurigaan diperoleh dari keluarga atau perawat. Beberapa obat antipsikotik mempunyai efek yang mampu menekan berbagai gejala hiperaktif dan hipoaktif dari sindrom delirium; menjadi obat pilihan dari fase akut (agitasi hebat, perilaku agresif, hostility, halusinasi atau gejala lain yang membahayakan dirinya). Untuk kondisi diatas haloperidol merupakan pilhan utama. Dibandingkan dengan obat lain seperti clorpromazin dan droperidol, haloperidol memiliki metabolit dan efek antikolinergik, sedasi serta efek hipotensi yang lebih kecil sehingga aman. Olanzapin dapat diberikan sebagai tambahan jika agresivitas masih muncul dengan dosis maksimal haloperidol. Perlu dicatat bahwa penggunaan antipsikotik dimulai dari dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap jika diperlukan. Asupan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan pasien harus diutamakan seoptimal mungkin. Keberadaan anggota keluarga atau yang selama ini biasa merawat akan sangat berperan dalam memulihkan orientasi. Sedapat mungkin ruangan pasien haruslah tenang dan cukup penerangan. Hal umum lain yang perlu diperhatikan adalah: perawat harus waspada bahwa pasien mungkin tidak
27

mungkin menelan dengan baik sehingga asupan peroral tidak boleh diberikan selama belum mendapat kepastian mengenai kemampuan menelan.

ASPEK LEGAL HUKUM WARISAN Empat Golongan yang Berhak Menerima Warisan : 1. Golongan I

Merupakan ahli waris dalam garis lurus ke bawah dari pewaris, yaitu anak, suami / duda, istri / janda dari si pewaris.

Pasal 852 : Seorang anak biarpun dari perkawinan yang berlain lainan atau waktu kelahiran , laki atau perempuan, mendapat bagian yang sama ( mewaris kepala demi kepala ). Anak adopsi memiliki kedudukan yang sama seperti anak yang lahir di dalam perkawinannya sendiri .

Berbicara mengenai anak, maka, kita dapat menggolongkannya sebagai berikut : Anak sah, yaitu anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan

dengan tidak mempermasalahkan kapan anak itu dibangkitkan oleh kedua suami istri atau orang tuanya. Anak sah mewaris secara bersama sama dengan tidak mempermasalahkan apakah ia lahir lebih dahulu atau kemudian atau apakah ia laki laki atau perempuan. Anak luar perkawinan, yaitu anak yang telah dilahirkan sebelum kedua suami istri itu

menikah atau anak yang diperoleh salah seorang dari suami atau istri dengan orang lain sebelum mereka menikah. Anak luar perkawinan ini terbagi atas :

Menurut pasal 693, hak waris anak yang diakui; 1/3 bagian sekiranya ia sebagai anak sah, jika ia mewaris bersama sama dengan ahli waris golongan pertama, dari harta waris jika ia mewaris bersama sama dengan golongan kedua, dari harta waris jika ia
28

mewaris bersama dengan sanak saudara dalam yang lebih jauh atau jika mewaris dengan ahli waris golongan ketiga dan keempat, mendapat seluruh harta waris jika si pewaris tidak meninggalkan ahli wari yang sah. Jika anak diakui ini meninggal terlebih dahulu, maka anak dan keturunannya yang sah berhak menuntut bagian yang diberikan pada merka menurut pasal 863, 865.

852 a. :

Bagian seorang isteri ( suami ), kalau ada anak dari perkawinannya dengan yang meninggal dunia, adalah sama dengan bagiannya seorang anak. Jika perkawinan itu bukan perkawinan yang pertama, dan dari perkawinan yang dahulu ada juga anak anak, maka bagian dari janda ( duda ) itu tidak boleh lebih dari bagian terkecil dari anak anak yang meninggal dunia. Bagaimanapun juga seorang janda ( duda ) tidak boleh mendapat lebih dari dari harta warisan. Di atas disebut bahwa jika ada anak dari perkawinan yang dahulu, maka bagian dari seorang janda ( duda ) tidak boleh lebih dari bagian terkecil dari anak anak peninggal warisan. Lebih dahulu telah ada ketentuan bahwa bagian dari seorang anak adalah sama, meskipun dari lain perkawinan. Untuk dapat mengerti arti dari kata terkecil itu, perlu diingat bahwa pasal ini adalah pasal yang disusulkan kemudian yaitu dengan Stbld. 1935 No. 486, dengan maksud supaya memperbaiki kedudukan seorang janda ( duda ) yang dengan adanya pasal itu bagiannya dipersamakan dengan seorang anak.

2.

Golongan II Merupakan, ahli waris dalam garis lurus ke atas dari pewaris, yaitu, bapak, ibu dan saudara saudara si pewaris. Ahli waris ini baru tampil mewaris jika ahli waris golongan pertama tidak ada sama sekali dengan menyampingkan ahli waris golongan ketiga dan keempat.

3.

Golongan III

29

Merupakan, keluarga sedarah si bapak atau ibu pewaris, yaitu kakek, nenek baik bapak atau ibu dari si pewaris. Dalam hal ini, ahli waris golongan ketiga baru mempunyai hak mewaris, jika ahli waris golongan pertama dan kedua tidak ada sama sekali dengan menyampingkan ahli waris golongan keempat.

4.

Golongan IV

Merupakan, sanak keluarga dalamgaris ke samping dari si pewaris, yaitu paman, bibi. 858 ayat 2. Kalau waris golongan 3 tidak ada maka bagian yang jatuh pada tiap garis sebagai tersebut dalam pasal 853 dan pasal 858 ayat 2, warisan jatuh pada seorang waris yang terdekatpada tiap garis. Kalau ada beberapa orang yang derajatnya sama maka warisan ini dibagi bagi berdasarkan bagian yang sama. Berdasarkan ketentuan Pasal 833 KUHPerdata , untuk memindahkan hak kepemilikan dari almarhum kepada ahli warisnya, para ahli waris terlebih dahulu harus membuktikan secara hukum bahwasanya memang sebagai ahli waris yang sah dari almarhum. Mengingat, almarhum tidak meninggalkan surat waris atau wasiat waris maka Untuk itu harus ada terlebih dahulu penetapan pengadilan negeri/ agama sebagai ahli waris. Kesimpulan berdasarkan kasus : Dari penjelasan penjelasan di atas jika dikaitkan dengan kasus maka Ny Ani berhak atas rumah sebagai harta warisan dari suaminya dan seperti yang dijelaskan sebelumnya maka Ny Ani masuk dalam golongan I, tetapi bukan berarti anak Ny Ani yaitu Tn Ahmad tidak mendapatkan hak waris, Tn Ahmad juga mendapat hak waris atas rumah tersebut menurut Kitab Undang Undang Hukum Perdata karena juga masuk golongan I. Jadi mereka berdua berhak atas warisan dari suami Ny. Ani dengan jumlah bagian yang di atur oleh undang undang masing masing sebesar bagian karena suami Ny Ani mmiliki 3 anak. Berdasarkan Pasal 833 KUHPerdata ahli waris harus mengurus surat mengenai penetapan pengadilan negeri/agama sebagai ahli waris yang sah agar berhak mendapatkan harta waris.

30

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil auto dan allo anamnesis , pemeriksaan fisik , status mental dan pemeriksaan tambahan kami mendiagnosis bahwa pasien yang bernama Ny. Ani , usia 65 tahun mengalami suatu Demensia akibat dari Alzheimer . Dan untuk penatalaksanan pada pasien tersebut kami membaginya dalam dua jenis yaitu melalui terapi medika mentosa dan non medika mentosa. Terapi medika mentosa bertujuan mengobati penyebab demensia yang dapat dikoreksi dan menyediakan situasi nyaman dan mendukung bagi pasien dan pramuwerdanya. Sedangkan terapi non medika mentosa bertujuan untuk mendukung terapi medika mentosa agar bisa memberikan hasil yang terbaik melalui pendekatan baik terhadap
31

pasien itu sendiri , keluarga dan lingkungan. Prognosis yang kami perkirakan kemungkinan dubia ad malam , karena perjalanan penyakit yang telah berlangsung lama dan kemungkinan semakin lama akan semakin progresif . Dan pasien ini juga terdapat keterlibatan faktor genetik yang mungkin saja memperparah prognosis ke arah yang buruk. Oleh karena itu, untuk sejauh ini kami hanya bisa memberikan pengobatan untuk menghilangkan atau mengurangi gejala dan memperlambat keparahan penyakit.

32