Anda di halaman 1dari 7

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS JAN 2013

SKABIES

OLEH : Anni Fitria 10542001208

PEMBIMBING : dr. H. A. Amal Alamsyah. M, Sp.KK, M.Si

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013

SKABIES PENDAHULUAN Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabei var, hominis dan produknya.
1-7

Skabies

dapat terjadi pada semua usia, tersering pada anak-anak terutama anak usia kurang dari 5 tahun, dewasa muda, orang lanjut usia, serta pada pasien yang dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama.2 Penyakit ini dapat terjadi pada semua orang tanpa memandang status sosial, ras, usia, maupun jenis kelamin seseorang.3,5 Namun, biasanya banyak terjadi pada masyarakat ekonomi rendah dengan higienitas yang kurang.5 Prevalensi kejadian skabies di negara berkembang lebih tinggi dan tersering pada anak-anak. 3 Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain : sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, keterlambatan diagnosis dan terapi, perkembangan dermografik serta ekologik, dan pengetahuan masyarakat yang masih terbatas akan penyakit ini. 1,3 Sarcoptes scabei adalah parasit obligat yang menjalani seluruh siklus kehidupannya dalam tubuh manusia.3,5 Walaupun begitu, tungau masih dapat bertahan hidup hingga tiga hari di luar tubuh manusia pada seprai dan pakain yang telah dipakai.2,3 Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung, dan bagian perutnya rata.1,6 Tungau jantan berukuran lebih kecil dibandingkan dengan tungau betina. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.1,4 Siklus hidup tungau dimulai saat tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 -50 butir. Telur akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan akhirnya menjadi larva. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2- 3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai dua bentuk jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur hingga bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 12 hari.1-6 Penularan skabies dapat melalui kontak langsung yaitu kontak kulit dengan kulit, misalnya saat berjabat tangan, tidur bersama, maupun saat

berhubungan seksual.1-3,5,6 Kontak tak langsung misalnya melalui pakaian, handuk, sprei, bantal yang dipakai bersama. Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabei betina yang telah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva.1,5 Berikut laporan kasus seorang anak yang didiagnosis dengan scabies LAPORAN KASUS Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun 6 bulan datang ke RSKD diantar oleh ibunya dengan keluhan gatal pada tangan, kaki, dan area genitalis yang dialami sejak 1 minggu lalu. Gatal yang dialami dirasakan lebih berat pada malam hari. Kelainan kulit yang ditemukan berupa papul dengan dasar eritema dan pustul. Keluhan yang sama dialami oleh seluruh anggota keluarga dan saat ini ayah, ibu dan kakak pasien masih mengeluhkan keluhan yang sama. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya lesi berupa papul-papul dengan dasar eritem serta pustul di tangan dan kaki. Pasien didiagnosis skabies dan diagnosis banding dengan prurigo dan pedikulosis korporis. Pasien diterapi dengan pemberian permetrin 5% krim untuk pemakaian satu kali, sulfur presipitatum 2% yang di-mix dengan asam salisil 4% (SS 2-4) dan betamethasone valerate krim, cetirizine satu kali sehari diberikan pada malam hari dan cefadroxyl syrup dua kali sehari.

Gambar 1 : Papul-papul dengan dasar eritem pada tangan

Gambar 2 : Papul dengan dasar eritem dan pustul pada kaki

DISKUSI Diagnosis skabies pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada anamnesis diketahui keluhan utama yang dialami pasien ini adalah rasa gatal pada daerah tangan, kaki, dan area genitalis yang dialami sejak 1 minggu lalu, dengan riwayat keluhan yang sama pada semua anggota keluarga pasien. Gatal yang dialami semakin memberat pada malam hari dan pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya lesi kulit berupa papul-papul dengan dasar eritem yang nampak berpasangan serta adanya pustul. Manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien sesuai dengan kepustakaan. Keluhan gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi.3-6 Pada kasus reinfeksi, waktu yang dibutuhkan untuk timbulnya gejala dapat lebih cepat.3-5 Aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas sehingga rasa gatal menjadi lebih berat pada malam hari.1,2 Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis yaitu : sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (pada wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pada pria) dan perut bagian bawah.1-3,5-7 Pada bayi dapat menyerang wajah, telapak kaki, telapak tangan, dan bahkan di bawah kuku.1,3,5,6 Adanya terowongan pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk lurus atau berkelok-kelok yang rata-rata panjangnya 1 cm, di ujungnya akan ditemukan

papul atau vesikel khususnya pada bayi dan anak.3,6 Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf yaitu dapat berupa pustul dan ekskoriasi.1-5 Penyakit skabies menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula halnya dengan perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut.1 Hal tersebut terjadi karena penularan S.scabei dapat melalui kontak langsung, misalnya tidur di tempat yang sama, berjabat tangan atau berhubungan seks dan dapat juga menular secara tidak langsung melalui benda yang telah digunakan oleh penderita skabies, misalnya: handuk, pakaian, selimut, seprei, dan lain-lain.1,5,6,7 Diketahui ada empat tanda kardinal skabies yaitu pruritus nokturna, menyerang manusia secara berkelompok, adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi, serta ditemukannya tungau.1,3,7 Penegakan diagnosis skabies dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.1 Diagnosis pasti penyakit skabies ditegakkan bila ditemukan tungau pada lesi.6 Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau dan produknya, yaitu melalui kerokan kulit, mengambil tungau dengan jarum, dan membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy), biopsi eksisional, dan tes tinta pada terowongan (burrow ink test), dan uji tetrasiklin.1,2,5,6 Tungau dapat ditemukan hampir disemua terowongan dan paling banyak di daerah tangan dan pergelangan tangan, namun kurang pada daerah lipatan siku, genitalia, dan aksila.6 Diagnosis banding pada kasus ini ialah prurigo dan pedikulosis korporis.1 Prurigo memperlihatkan efloresensi yang sama dengan skabies tetapi yang membedakan adalah penyebab dan predileksinya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa skabies disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabei pada tempat-tempat dengan lapisan korneum yang longgar pada tubuh manusia, sedangkan penyebab prurigo sendiri masih belum diketahui walaupun beberapa hipotesis menyebutkan bahwa kemungkinan dapat disebabkan oleh gigitan serangga, investasi parasit, alergi makanan, faktor atopi, serta faktor herediter.1 Tempat predileksi prurigo di ekstremitas bagian ekstensor dan simetrik, dapat meluas ke bokong dan perut serta muka dapat terkena.1

Pedikulosis korporis memiliki faktor predisposisi yang sama dengan skabies yaitu biasanya menyerang orang dewasa dengan higiene yang buruk.1 Pada pedikulosis korporis, kutu tidak melekat pada kulit tetapi pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian sehingga penularannya juga dapat terjadi melalui pakaian.1,6 Akan tetapi, kelainan kulit yang ditemukan umumnya hanya berupa bekas-bekas garukan pada badan akibat rasa gatal yang disebabkan oleh pengaruh liur dan ekskreta dari kutu serta tidak khas terjadi pada malam hari seperti yang ditemukan pada penderita skabies. Selain itu, pada penderita skabies dapat ditemukan kelainan kulit berupa papul, vesikel, urtika, erosi, ekskoriasi, krusta, infeksi sekunder.1-4,6 Penatalaksanaan penyakit skabies terdiri dari penatalaksanaan secara umum yaitu penderita dianjurkan untuk menjaga kebersihan dengan mandi secara teratur, seluruh pakaian, sprei, dan handuk yang digunakan harus dicuci secara teratur bila perlu direndam dengan air panas.3,4,6,7 Begitu pula dengan anggota keluarga yang beresiko tinggi untuk tertular agar ikut menjaga kebersihan dan untuk sementara menghindari kontak langsung.3,4 Sedangkan untuk

penatalaksanaan secara khusus, dapat diberikan terapi sistemik dengan pemberian anti histamin dan antibiotik oral serta terapi topikal dengan pemberian sulfur presipitatum dalam bentuk salep atau krim dengan kadar 4-20%, benzil benzoat 25-40 %, gamma benzen heksaklorida 1% dalam krim atau losio, permetrin 5% krim, krotamiton krim (Crotonyl-N-Ethyl-O-Toluidine) 10% krim atau lotio.1,6,7 Pemberian pengobatan sebaiknya diberikan secara bersamaan dengan anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama.4 Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, maka penyakit dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik.1

Daftar pustaka 1. Handoko, Ronny . P. Skabies. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta: FKUI; 2010. p. 122-5. 2. Wolff, klaus and Richard Johnson. Mite bites and infestations, Scabies. Fitzpatricks color atlas and synopsis of clinical dermatology 6th ed., United State: The Mc Graw Hill Medical; 2009. p: 868-878 3. Rajagopalan, Shobita. Parasitic infections: Scabies. Dermatology for Skin of Color. United State: The Mc Graw Hill Medical; 2009. p: 431-3. 4. Hunter, Savin, Dahl. Infestations : Scabies. Clinical Dermatology 3th ed., Blackwell Science; 2003. p: 227-31 5. Arenas R, Estrada R. Tropical Dermatology. U.S.A.: Landes Biosciece; 2001. P. 207-12 6. William DJ, Timothy GB, Dirk ME. Andrews Disease of The Skin Clinical Dermatlogy 10th ed. Philadelphia, USA: Saunders Elsevier; 2006. p:452-3. 7. Wolfram S, Paus R. Burgdorf W. Thieme Clinical Companios Dermatology. Stuttgart, Germany: Georg Thieme Verlag; 2006. P.127-9