Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KULIAH THT ANGKATAN 2009

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

ANATOMI TELINGA Telinga di bagi menjadi 3 bagian : a. Telinga luar / auris eksterna b. Telinga tengah / auris media c. Telinga dalam / auris interna I. TELINGA LUAR / AURIS EKSTERNA

Auris eksterna, terdiri atas: a. Terdiri atas: lipatan kulit fibrokartilago, anti helix, kecuali: melekat lobulus, anti tragus, erat pada kepala oleh ligamen otot. Bila terkena cartilago akan terjadi infeksi dan sulit sembuh ( secara kosmetik jelek ) b. Liang telinga / canalis auditorius eksternus meatus akustikus eksternus ( lubang ) canalis auditorius eksternus ( saluran ), terdiri atas: Sudorifera, kel. Ceruminosa ) 2/3 medial : kulit / mukosa, folikel rambut, kelenjar, melekat erat pada tulang, infeksi selulitis gejala hebat. Daun telinga / auricula

Terdiri atas:

1/3 lateral: cartilago auricula, lapisan kulit ( folikel rambut, kel. Sebasea, kel.

II.

TELINGA TENGAH / AURIS MEDIA

Secara anatomi dibagi menjadi: a. b. c. membran timpani cavum timpani tuba eustachius

d. e.

mastoid dan selula ossicula auditiva

Secara fisiologi terbagi menjadi; a. eustachii b. selula ) A. Membran Timpani Terdiri dari 2 bagian: a. pars flacida/ sharpneells membran , terdiri dari:sratum kutaneum dan stratum mukosum b. pars tensa, terdiri dari: sratum kutaneum, stratum fibrosum ( sirkuler dan radier ), dan stratum mukosum B. Cavum Timpani - Bentuk kubus irreguler - Berhubungan dengan nasofaring melalui tuba auditiva, dengan antrum mastoidea melalui aditus ad antrum - Pembagian: a. b. c. epitimpani (atas ), dibatasi oleh pars flacida mesotimpani hipotimpani ( bawah ) timpani posterior, terdiri dari: epitimpani,retrotimpani ( antrum dan timpani anterior, terdiri: mesotimpani, hipotimpani, tuba auditiva,

- pembagian secara fisiologi: a. b. a. b. c. d. C. yaitu: a. terbuka b. pars cartilaginosa / pars membranacea: 2/3 bagian medial , selau tertutup. pars osseus : 1/3 bagian lateral ( panjang 12 mm ) selalu timpani anterior, terdiri dari: mesotimpani, hipotimpani, tuba auditiva timpani posterior, terdiri dari: retrotimpani ( antrum dan selula) tulang pendengaran: maleus, inkus, stapes ligamen: malei lateral, malei superior , inkus posterior tendo otot: tensor timpani dan stapedius syaraf: chorda timpani, nervus stapedius Tuba auditiva / Eustachii Menghibungkan cavum timpani dengan nasofaring. Terdiri dari 2 bagian,

- isi cavum timpani ( viscera timpani ):

Tuba pada anak lebih pendek, lebih lebar, dan lebih horisontal. Oleh karena itu anak sering mengalami itits media akut karena kuman mudah masuk. D. Mastoid d i b e n t u k oleh pars squamosa dan pars petrosa, dimana melekat m.

Sternokleidomastoideus dan m. Digastricus venter posterior mengandung rongga udara yang disebut selluale, yang juga berhubungan dengan antrum antrum sudah ada sejak kecil sedang selula terbentuk sejak kehidupan tahuntahun pertama samapi tahun ke 5 atau ke 6

antrum berhubungan dengan cavum timpani melalui aditus ad antrum radang di cavum timpani dapat menyebabkan radang di antrum mastoidea disebut mastoiditis

E. Ossicula Auditiva Maleus Incus Stapes

III.

TELINGA DALAM / AURIS INTERNA

Terdiri dari 2 bagian: a. b. tulang labirin osseus membran labirin membranaceus

labirin membranaseus terdapat didalam labirin osseus, diantara keduanya terdapat perilimphe, sedang didalam labirin membranaseus terdapat endolimphe. A. Labirin Osseus Terdiri dari: 1. cochlea, seperti rumah siput terletak didepan, berupa bangunan 2,5 lingkaran 2. canalis semisirkularis: - canalis semisirklaris horisontalis / lateralis - canalis semisirkularis superior / anterior - canalis semisirkulais inferior / posterior

B. Labirin Membranaceus Terdapat diadalam labirin osseus dengan pemisah perilimphe yang berisi endolimpe. Terdiri dari: 1. duktus cochlearis: di dalam cochlea fungsi pendengaran: n. cochlearis 2. saculus dan utriculus : didalam vestibulum 3. duktus semisirkularis : di dalam kanalis semisirkularis pada membrana bangunan: pilar dalam dan pilar luar yang membentuk tunel of corti sel-sel rambut dalam 1 deret keluar 3-4 deret basilaris terdapat organon corti dengan

sel-sel penyokong: el deiters, sel Hansen, claudies dan membrane tektoria.

2. A. Saculus Bentuk: globoid, lebih besar utriculus Letak: depan bawah Terdapat daerah sensoris maculi saculi, terdiri dari: sel-sel reseptor sel-sel penyokong membrane basilaris

beraksi terhadap gerakan ventrikel 2.B. Utriculus Bentuk ovoid Letak belakang atas Terdapat daerah sensoris makuli utriculus, terdiri dari:

sel-sel reseptor sel-sel penyokong membrane basilaris

bereaksi terhadap gerakan horizontal, linier 3. Duktus semisirkularis Terdapat 3 ampula, yaitu: ampula romb. Anterior ampula romb. Lateral ampula romb. Posterior

FISIOLOGI A. TELINGA SEBAGAI ORGAN PENDENGARAN

Energi (gelombang) bunyidaun telingamembran timpanicavum timpani (maleusincusstapes)fenestra ovalisperilimfa pada skala vestibule bergerak, kemudian perilimfe pada skala timpani juga bergerak membran reissner endolimfe terdorong gerakan relative antara membrane basalis dan membrane tektoria rangsang mekanik defleksi stereosilia sel-sel rambut kanal ion (Natrium) terbuka depolarisasi neurotransmitter lepas ke sinapsis potensial aksi pada nervus auditoris korteks pendengaran (area broadman 39-40) lobus temporal mendengar

B. TELINGA SEBAGAI ORGAN KESEIMBANGAN Organ keseimbangan adalah 1. vestibular di labirin 2. mata 3. organ propioseptif 4. sistem saraf pusat Labirin terdiri dari 2: 1. labirin statis makula: reseptor keseimbangan statis yang terdapat di utrikulus dan sakulus yg merupakan pelebaran labirin membran yg terdapat dalam vestibulum labirin tulang. 2. labirin kinetis Ampula: reseptor keseimbangan dinamis yang merupakan bagian dari krista ampularis yang terdapat didalam setiap pelebaran kanalis semisirkularis (ampula).

Gerakan/perubahan kepala dan tubuh perpindahan cairan endolimfe d labirin selanjutnya silia sel rambut menekuk

Prinsipnya: Labirin statis gerakan otolit Labirin dinamis gerakan kupula

permeabilitas membran sel berubah ion kalsium masuk k dalam sel proses depolarisasi merangsang pelepasan neurotransmitter eksitator impuls saraf sensoris/ saraf aferen: saraf vestibulerintegrasipusat keseimbangan di otak (serebelum). Sewaktu berkas silia terdorong ke arah berlawanan hiperpolarisasi. Organ vestibuler merupakan tranduser yg merubah energi mekanik (rangsangan otolit dan gerakan endolimfe di kanalis semisirkularis) energi biolistrik

sehingga dapat memberi info tentang perubahan posisi tubuh krn percepatan linier atau percepatan sudut. Sistem vestibular berhubungan dengan sistem tubuh lainnya, sehingga kelainannya dapat menimbulkan gejala pada sistem tubuh bersangkutan misalnya: vertigo, muntah, mual, bradikardi, takikardi, berkeringat dingin.

PEMERIKSAAN PENDENGARAN Alat yang digunakan untuk pemeriksaan telinga adalah lampu kepala, corong telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga, dan garputala. Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membrane timpani. Pertama dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga apakah ada tanda peradangan atau sikatriks bekas operasi. Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang, liang telinga menjadi lebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga dan membrane timpani. Pergunakan otoskop untuk melihat lebih jelas bagian bagian membrane timpani. Otoskop dipegang dengan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien, berlaku sebaliknya. Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang menyumbat, maka serumen ini harus dikeluarkan. Jika konsistensinya cair, dapat menggunakan kapas yang dililitkan, namun apabila konsistensinya lunak, dapat dikeluarkan dengan pengait. Bila serumen ini konsistensinya sangat keras, maka harus dilunakkan terlebih dahulu. Pemeriksaan lain adalah pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan keseimbangan. Pemeriksaan pendengaran dapat berupa : 1. Tes pendengaran dengan suara Cara : i. Pasien berdiri dari pemeriksa dengan jarak 6 m, dengan mata tertutup dan salah satu telinga tertutup ii. Dibisikkan kata kata yang mudah dan dipakai sehari hari

iii. Bila dengan jarak 6 m tidak mendengar, maka pemeriksa berjalan makin mendekat. iv. Bila dengan berbisik tidak mendengar, maka dipakai suara yang lebih keras dengan berteriak. 2. Tes pendengaran dengan garpu tala Terdiri atas : a. Rinne test Tes ini membandingkan antara hantaran lewat tulang dan hantaran lewat udara. b. Webber test Tes ini membandingkan telinga kanan dan kiri penderita. c. Schwabach test Tes ini membandingkan ketajaman pendengaran antara pemeriksa dengan penderita. Pemeriksa harus mempunyai pendengaran normal. d. Bing test e. Stenger test Tes ini digunakan pada pemeriksaan tuli anorganik. 3. Tes pendengaran dengan audiometer Terdapat 2 macam audiometer, yaitu : Nada murni Nada tutur a. Alat Barany b. Seruling Galton c. Detik jam, dll.

4. Tes pendengaran dengan alat alat lain, berupa :

PEMERIKSAAN KESEIMBANGAN Pemeriksaan keseimbangan dapat dilakukan dengan cara berikut, antara lain : 1. Tes Romberg Tes ini dilakukan dengan cara penderita berdiri dengan mata tertutup dan posisi kaki juga tertutup. Bila ada gangguan vestibuler ringan, penderita akan terjatuh ke arah komponen lambat pada nistagmus. 2. Tes Berjalan Penderita disuruh berjalan dengan mata tertutup. Pada suatu saat cara berjalan penderita terlihat menyimpang ke suatu sisi bila ada kelainan vestibuler. 3. Tes Urtenberger Penderita disuruh berdiri dengan mata tertutup. Badan penderita diputar, bila ada kelainan vestibuler, penderita akan jatuh. 4. Tes Tunjuk Penderita duduk di depan pemeriksa. Tangan diangkat setinggi bahu, kemudian diturunkan. Saat akan dinaikkan kembali, tangan penderita tidak akan kembali ke posisi semula bila ada kelainan vestibuler. 5. Tes Jatuh Penderita akan jatuh berlawanan arah gerakan bila ada vertigo. 6. Tes Kalori Tes dapat dilakukan dengan cara Kobrak atau metode Fritzgerald dan Hallpike. 7. Tes Rotasi Penderita duduk di kursi yang kemudian kursi tersebut diputar. Kursi ini disebut dengan kursi Barany. Bila sudah berputar, kemudian dihentikan mendadak. Kemudian penderita disuruh untuk melihat jari pemeriksa.