Anda di halaman 1dari 74

3.2.

Bidang Cipta Karva dan Somber oava Air


Bi dang Cipta Karya dan Sumber Daya Air terdiri dari 2 (dua) sub bidang meliputi : Sub
bi dang perumahan dan permukiman serta infrastruktur dan sub bidang sumber daya air.
Berikut adalah gambaran kinerja tiap sub bidang berdasarkan permasalahan yang dihadapi
dan program pembangunannya :
3.2.1 SUb IIIIana Peaaembaaaan Peruhan dan Pennuklman
Pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan tetap
dilakukan seimbang sesuai dengan skala prioritas kawasan sehingga antar kawasan dapat
sating mendukung dan melengkapi. Pembangunan dan pengembangan kawasan terpilih
pusat pengembangan desa (KTP2D) dan kawasan agropolitan di perdesaan perlu dilakukan
secara bertahap sehingga nantinya antar kawasan memiliki potensi dan karakteristik khas
yang saling mendukung dan melengkapi. Keterpaduan antar kawasan akan lebih efisien dan
efektif dalam penyediaan prasarana dan sarana dasar perdesaannya.
Penetapan desa pusat pertumbuhan (DPP) KTP2D di 6 (enam) kawasan di Kabupaten Buton
Utara perlu ditindaklanjuti dengan program/ kegiatan yang mendukung pembangunan
kawasan. Rencana tindak (action plan) setiap tahunnya yang telah disusun perlu didukung,
baik itu dukungan kebijakan maupun pendanaannya dari Pemerintah Pusat, Propinsi
maupun Pemerintah Kabupaten Buton Utara. Kajian-kajian lanjutan dalam penentuan DPP
tetap dilakukan sehingga akan ada pengembangan kawasan baru yang memiliki potensi-
potensi lain yang spesifik atau memiliki karakteristik yang berbeda antar kawasan. Sehingga
nantinya secara lebih luas, antar DPP KTP2D akan saling mendukung dan melengkapi untuk
keberhasilan pembangunan di wilayah Kabupaten Buton Utara.
Program/ kegiatan perbaikan lingkungan perumahan dan permukiman serta penyediaan PSD
(Prasarana Sarana Dasar) untuk meningkatkan kualitas permukiman di Kabupaten Buton
Utara masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena masih adanya pandangan/ persepsi
masyarakat bahwa Pemerintah yang akan memperbaiki prasarana dan sarana dasarnya. Di
sisi lain, masih ada masyarakat yang belum mampu meningkatkan kondisi perumahan dan
liml!!l29
permukiman menjadi layak huni melalui perbaikan perumahan maupun lingkungannya
sendiri.
Pemberian bantuan stimulan dari Pemerintah Kabupaten Buton Utara selama ini hanya
sebagai pendorong bagi masyarakat untuk ikut membangun dan selanjutnya dapat mandiri
dalam memperbaiki perumahan dan permukimannya menjadi lebih sehat dan layak huni.
Secara khusus melalui kegiatan peningkatan jalan lingkungan (aspal), peningkatan dan
rehabilitasi fasilitas umum seperti pembuatan talud, pembuatan saluran drainase,
pembangunan jalan jerambah kayu di 4 (empat) desa dan kelurahan diantaranya di Desa
Langere, Lasara, Labuan dan Lakansai.
Rencana pembangunan permukiman di Kabupaten Buton Utara lebih ditekankan pada
pengembangan kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan yang telah ada dokumen
perencanaannya, seperti:
1. Pengembangan Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D) pada 2 (dua)
kawasan;
2. Pengembangan Kawasan Agropolitan;
3. Pengembangan Kawasan Minapolis;
4. Community Action Plan (CAP) Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP).
Penataan perumahan dan permukiman dapat dicapai jika peran pemerintah dan masyarakat
dalam penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkingan ditingkatkan sehingga dapat
turut aktif ambil bagian dalam proses penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung dan
penaaan lingkungan, serta pemerintah Kabupaten Buton Utara harus dapat menyelaraskan
peraturan perundang-undangan tentang bangunan gedung di wilayahnya agar memenuhi
persyaratan administrasi dan teknis yang diamanatkan. Untuk menyusun program penataan
perumahan dan permukiman di wilayah Kabupaten Buton Utara, pemerintah sebaiknya
menjalin kerjasama atau kemitraan dengan berbagai stakeholder terkait seperti swasta dan
lembaga-lembaga nasional maupun internasional lainnya di bidang Bangunan Gedung dan
Penataan Lingkungan Permukiman.
Dalam penataan perumahan dan permukiman yang perlu diperhatikan adalah
mempertahankan khasanah arsitektur lokal dan nilai tradisional dalam rangka memperkuat
jati diri daerah dan ciri khas daerah itu sendiri. Pembangunan dan pengembangan
kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan tetap dilakukan seimbang sesuai dengan
skala prioritas kawasan sehingga antar kawasan dapat sating mendukung dan melengkapi.
I:OIIilao
i i i ! ! ! ! ~ ' 8UTDN UTARA
Terkait dengan perumahan dan permukiman, tentunya berkaitan dengan kebutuhan sarana
prasarana dasar yang ada didalamnya, yang jadi konsentarsi adalah sub bidang
persampahan. Pelayanan persampahan di Kabupaten Buton Utara belum optimal karena
produksi timbulan sampah masyarakat belum semua dapat terangkut ke TPA. Selain itu,
lokasi layanan juga masih terbatas yaitu hanya pada 3 (tiga) kecamatan saja. Kendaraan
sampah yang beroperasi saat ini hanya 18 (delapan betas) kendaraan yang terdiri dari 2
(dua) mobil pick up (kapasitas @ 2 m
3
), 2 (dua) arm roll truck (kapasitas @ 6 m
3
), dan 9
(sembilan) dump truck (kapasitas @ 6 m
3
) dengan 3 (tiga) kali rotasi yang artinya sampah
yang terangkut secara maksimal sebanyak 25 ton/hari. Tetapi kondisi dilapangan timbunan
sampah yang terangkut hanya 25 m
3
sehingga ada 2,5 m
3
sampah yang seharusnya dapat
diangkut. Sedangkan timbulan sampah per hari diprediksi sebesar 28 m
3
sehingga hanya
89,28 % tim bulan sampah yang terangkut.
Kebutuhan lokasi TPA dan sarana pendukung adalah permasalahan yang dihadapi oleh
Kabupaten Buton Utara untuk masa yang akan datang. Maka sebagai upaya didalam
pemecahan masalah dan pelayan public, perlu adanya penetapan lokasi TPA baru dan
pemenuhan kebutuhan sarana pendukung agar kondisi lingkungan khususnya perumahan
permukiman lebih bersih dan sehat.
3.2.2. SUb Bldana Somber oava Air
Sub bidang ini terbagi menjadi 3 (tiga) kajian khusus yakni Air bersih, Jaringan irigasi, serta
Pengelolaan Sumber Daya Air, Danau, Sungai Dan Pantai. Berikut adalah penjabarannya :
A. Air Bersih
Air merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Suatu kota yang baik adalah kota yang
dapat memenuhi kebutuhan penduduknya. Di Kabupaten Buton Utara terdapat 13 titik
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang teridentifikasi. Dari tiga betas titik tersebut yang
berfungsi namun rusak ringan hanya ada di empat titik, yaitu di SPAM Labuan dan SPAM
Wantulasi di kecamatan Wakorumba serta SPAM Waodeburi dan SPAM Laano Sangla di
Kecamatan Kulisusu Utara. Kemudian terdapat dua titik dalam keadaan rusak ringan di
Kecamatan Kambowa yaitu SPAM Mata dan SPAM Kambowa. SPAM yang rusak satu-satunya
terdapat di Kecamatan Bonegunu yaitu SPAM Buranga. Termasuk kedalam tiga betas SPAM
ini adalah SPAM yang dalam status rencana yaitu SPAM Konde, SPAM Langere dan SPAM
Langkumbe.
Kabupaten Buton Utara memiliki kepadatan yang sangat rendah yang menyebabkan
penyediaan fasilitas menjadi kurang efektif dan efisien maka dalam penyediaan air bersih
juga dilakukan secara komunal. Penyediaan air bersih yang biasanya dilakukan di tingkat
I:MIIil a1
No
1
!
I
2
!
I
3
4
5
6
I
i i i ! ! ! ~ BUTDN UTARA
desa ini sudah cukup banyak dilakukan, terutama untuk wilayah Kecamatan Kulisusu.
Sumber air komunal ini biasanya berasal dari mata air ataupun sumur. Namun dalam
pemanfaatannya masih dirasa kurang karena keterbatasan teknologi dan biaya.
Hasil analisis menunjukan bahwa kondisi infrastruktur sumber daya air Kabupaten Buton
Utara masih memiliki kekurangan disana sini. Penyediaan sarana air bersih masih lebih
mengandalakan kemampuan swadaya masyarakat. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
masih belum mencakup keseluruh wilayah. SPAM terutama diprioritaskan untuk daerah yang
dekat dengan laut karena kondisi air tanah yang biasanya akan terpengaruh oleh intrusi air
laut sehingga kualitasnya menurun.
Tabel3. 9 Program Pengmbangan lnfrastruktur Sumber Daya Air
Lokasi Keglatari Program/Kegiatan Tujuan Program/Kegiatan
Kecamatan SPAM Buranga memperbaiki kondisi fasilitas SPAM
Memenuhi kebutuhan air
Bonegunu sampai layak digunakan
bersih Kabupaten Buton
SPAM Langere realisasi pembangunan SPAM
Utara, dengan
SPAM Gunung Sari melanjutkan pembangunan SPAM
pembangunan fasilitas air
Kecamatan SPAM Mata memperbaiki kondisi fasilitas SPAM
bersih yan terpadu
Kambowa sampai layak digunakan Memenuhi
SPAM Konde realisasi pembangunan SPAM
kebutuhan air
SPAM Kambowa memperbaiki kondisi fasilitas SPAM perkotaan
sampai layak diQunakan
Kecamatan SPAM Labuan merawat dan memperbaiki fasilitas
Wakorumba SPAM yang sudah ada
SPAM Wantulasi merawat dan memperbaiki fasilitas
SPAM yanQ sudah ada
Kecamatan SPAM Eengkoruru melanjutkan pembangunan SPAM
Kulisusu
Kecamatan SPAM Langkumbe realisasi pembangunan SPAM
Kulisusu Barat
Kecamatan SPAM Laano Sangla merawat dan memperbaiki fasilitas
Kulisusu Utara SPAM yang sudah ada
SPAM Waodeburi merawat dan memperbaiki fasilitas
SPAM yang sudah ada
Sumber: Renstra Dinas PU dan Tata Ruang
Prioritas utama dari pengembangan infrastruktur sumber daya air adalah memperbaiki
kondisi prasarana yang telah ada dan juga menambah infrastruktur pelayanan khususnya
untuk daerah-daerah perkotaan seperti di Ereke dan Buranga. Berdasarkan proyeksi
pertumbuhan penduduk maka dapat diperkirakan bahwa peningkatan kebutuhan air bersih
tiap 5 tahun adalah sebesar 22%. Kebutuhan air di tahun 2008 diperhitungkan sebesar
385.000 liter per hari, kemudian tahun 2013 diperkirakan kebutuhannya akan meningkat
sampai 470.000 liter per hari.
50%
bersih
IIMI!!ia2

- KABUPATEN BUTON UTARA
Selain membangun infrastruktur air bersih yang perlu dilakukan untuk menjamin
ketersediaan air bersih bagi penduduk adalah dengan menjaga dan melestarikan sumber-
sumber air alami agar dapat selalu menjalankan fungsinya. Selain menjaga daerah sumber
airnya hal yang perlu diperhatikan pula adalah daerah resapan air.
B. lrigasi
Sebagai daerah yang memiliki sektor utama di bidang pertanian, irigasi merupakan hal yang
sangat penting. Namun demikian cakupan irigasi di Kabupaten Buton Utara sangat minim
sekali. Daerah irigasi yang diindikasikan hanya seluas 2.100 hektar, itu pun hanya sekitar
1.150 hektar kawasan irigasi yang berfungsi, itupun dalam kondisi rusak ringan. Sekitar 550
hektar lainnya rusak berat dan sekitar 5. 945 hektar masih berupa rencana/potensial.
Kecamatan Kulisusu Utara sebagai salah satu daerah dengan luas lahan pertanian ternyata
tidak tercatat memiliki kawasan irigasi. Kawasan irigsi yang masih berfungsi ada di
Kecamatan Bonegunu seluas kira-kira 1.045 hektar dan Kecamatan Kulisusu seluas kira-kira
300 hektar. Untuk kecamatan Kambowa keseluran kawasan irigasi seluas 300 hektar dalam
kondisi rusak. Sedangkan untuk kcamatan Kulisusu barat dan kecamatan Wakorumba
kawasan irigasi masih berupa rencana atau indikasi potensi.
Kondisi lrigasi
rencana
42%
rusak ringan
33%
25%
l
'-------------------- ------------'
Hal ini diindikasikan terjadi karena ketersediaan air yang sudah cukup berlimpah, dengan
bayaknya sungai-sungai kecil yang mengaliri wilayah Kabupaten Buton Utara. Dan juga
masih minimnya pengenalan masyarakat terhadap sistem irigasi dan keterbatasan modal.
lrigasi merupakan hal yang sangat penting bagi pertanian. Dengan adanya irigasi maka hasil
produktivitas pertanian akan lebih maksimal selain itu juga sistem irigasi mempermudah
para petani dalam proses perawatan usaha pertaniannya. Maka dari itu sebagai salah satu
upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat maka diperlukan suatu usaha untuk
mendorong tingkat produktivitas pertanian, salah satunya adalah sistem irigasi. Kawasan-
kawasan irigasi perlu dibangun terutama di sentra-sentra produksi pertanian.
IIMI!!Iaa

- KABUPATEN 8UTON UTARA
Tabel 3. 10 Program Pengembangan lnfrastruktur lrigasi
'
NO;, lrfp,sl
:! \
lrigasi Teknis
1 01. Soloy Agung
2 01. Buranga
3 01. Ronta
4 01. Gunungsari
lrigasi Semi Teknis
1
01. Triwacu-
Wacu
2 Ol.lahumoko
3 01. Wacu Balu
lrigasl Oesa
1 10. Lipu
2 10. Rombo
3
10.
Minaminanga
4 IO.Kalibu
5 10. Jampaka
Kecamatan Kulisusu Utara
1 IO.lelamo
2 10. Petetea
3 10. Pebaoa
Kecamatan Bonegunu
1 10. Tanah Merah
2 10. Koepisino
3 10. Latambera
4 10. Laan Noipi
Kecamatan Wakurumba
1 10. Labaraga
Kecamatan Kambowa
1 10. Kambowa
2 10. Konde
Jumlah
..
Sumber: Has1l anal1s1s
Keterangan :
K = Kurang
C = Cukup
8 = Baik
RR = Rusak Ringan
RB = Rusak Bera
,,
,,
Areal (Ha)
Potensl Funsslonal
1600 200
400 150
1000 100
300 200
300 150
250 50
250 150
25 10
25 10
25 10
50 10
25 10
50 10
25 10
25 10
250 10
265 10
265 10
265 10
250 10
150 10
150 10
5945 1150
Kondlsl
Ketersedlaan Bangunan Jarlnpn Jartncan
Air Utama lrigasl Pembuangan
Petanl
c RB RB RB c
c RB RB RB c
K RB RB RB c
c RB RB RB c
c RR RR RR c
c RB RB RB c
c RR RR RR c
K RB RB c
K RB RB c
K RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
c RB RB c
llMI!!ia4
UTARA
Adapun strategi pengembangan infrastruktur irigasi adalah perbaikan kondisi
infrastruktur sentra-sentra produksi pertanian di Kabupaten Buton Utara. Perbaikan kondisi
infrastruktur irigasi ini diharapkan akan meningkatkan produktivitas pertanian dari
Kabupaten Buton Utara, serta perekonomian wilayah secara umumnya. Daerah yang
menjadi prioritas pengembagan sistem irigasi adalah Kecamatan Kulisusu Utara dan
Kecamatan Kulisusu yang merupakan kecamatan dengan luas lahan pertanian terbesar di
Kabupaten Buton Utara.
lfhlil!f,l1nti
I:Mii!ia5
U1ru1mnm1
-dlml
Didalam pelaksanaan pembangunan, sesuai program kerja dan tugas pokok dinas maka sub
bidang ini terdiri dari Sub Bidang Cipta Karya dan Sub Bidang Sumber Daya Air, maka dari
itu pembahasan selanjutnya akan dibagi menjadi dua kajian besar. Sesuai dengan program
kerjanya, Sub Bidang Cipta Karya membidangj pelaksanaan pembangunan perumahan
permukiman dan pembangunan sarana prasarana permukiman, sedangkan Bidang Sumber
Daya Air membidangi pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya air, danau
dan sungai di daerah. Sebagai gambaran singkat mengenai urutan penggunaan peraturan
didalam Norma, Standar, dan Pedoman Penataan Ruang dan Pekerjaan Umum Sub Bidang
Cipta Karya dan Sumber Daya Air di Kabupaten Buton Utara dapat dilihat pada hagan
dibawah ini :
1!$1111 1

IIIIIKABUPATEN BUTDN UTARA
,_,..._.....,.,.,__
2.1to- Uslbll BS
3.-,.... ..... ....__
Gambar 6. 1 Bagan Alir Peraturan dalam penyusunan Norma,Standar dan Pedoman Penataan
Ruang dan Pekerjaan Umum Sub Bidang Cipta Karya & Sumber Daya Air
6.1. Ketentuan Umum Sub Bidang Cipta Karva
Untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat di dalam Undang-Undang
Dasar 1945 dilaksanakan pembangunan nasional, yang pada hakikatnya adalah
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat
Indonesia yang menekankan pada keseimbangan pembangunan kemakmuran lahiriah dan
kepuasan batiniah, dalam suatu masyarakat Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial
berdasarkan Pancasila.
Perumahan dan permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peranan
yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa, dan perlu dibina
serta dikembangkan demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan dan penghidupan
masyarakat. Perumahan dan permukiman tidak dapat dilihat sebagai sarana kebutuhan
kehidupan semata-mata, tetapi lebih dari itu merupakan proses bermukim manusia dalam
mendptakan ruang kehidupan untuk memasyarakatkan dirinya, dan menampakkan jati diri.
Hal ini sesuai dengan isi Undang-undang Hornor 4 tahun 1999 tentang Perumahan
Permukiman. Lingkup pengaturan Undang-undang ini meliputi penataan dan pengelolaan
perumahan dan permukiman, baik di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan, yang
'f""!
w:ml'tl 2

11111 KABUPATEN BUTON UTA RA
dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. Lingkup pengaturan yang menyangkut
penataan perurnahan rneliputi kegiatan pembangunan baru, pemugaran, perbaikan,
perluasan, pemeliharaan, dan pemanfaatannya, sedangkan yang menyangkut penataan
permukiman meliputi kegiatan pembangunan baru, perbaikan, peremajaan, perluasan,
pemeliharaan, dan pemanfaatannya. Dalam Undang-undang Hornor 4 tahun 1999 tentang
Perumahan Perrnukirnan ada beberapa definsi terkait perumahan yang perlu dipahami
diantaranya :
a. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan
sarana pembinaan keluarga;
b. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan ternpat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan;
c. Permukiman adalah bagi an dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan;
d. Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk
dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang
terstruktur.
Sesuai dengan amanat Undang-undang Hornor 4 tahun 1999 tentang Perurnahan
Permukiman, penataan perumahan dan permukiman bertujuan untuk :
a. Memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, dalam
rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat;
b. Mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalarn lingkungan yang sehat,
aman, serasi, dan teratur;
c. Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional;
d. Menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial , budaya, dan bidang-bidang
lain.
Salah satu tujuan perwujudan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi,
dan teratur adalah bangunan rumah yang sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan
keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan
oenghuniannya serta memenuhi persyaratan penataan ruang, persyaratan penggunaan
tanah, pemilikan hak atas tanah, dan kelayakan prasarana serta sarana lingkungannya.
)idalam Undang-undang Hornor 4 tahun 1999 tentang Perurnahan Permukirnan diarahkan
setiap orang atau badan yang akan membangun rumah atau perumahan wajib :
a. Mengikuti persyaratan tekni s, ekologis, dan administratif;
I!MII!I a

IIIIIKABUPATEN BUTON UTARA
b. Melakukan pemantauan lingkungan yang terkena dampak berdasarkan rencana
pemantauan lingkungan;
c. Melakukan pengelolaan lingkungan berdasarkan rencana pengelolaan lingkungan.
Pembangunan rumah, perumahan, dan permukiman diarahkan dalam kawasan permukiman
skala besar dengan perencanaan yang menyeluruh dan terpadu, yang pelaksanaannya.
secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan permukiman jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang. Luas permukiman skala besar disesuaikan dengan lokasi
dan besamya kota, jumlah penduduk, jumlah unit rumah, dan luas kawasan permukiman.
Pembangunan kawasan permukiman ditujukan untuk:
a. Menciptakan kawasan permukiman yang tersusun atas satuan-satuan lingkungan
permukiman;
b. Mengintegrasikan secara terpadu dan meningkatkan kualitas lingkungan
perumahan yang telah ada di dalam atau di sekitamya.
Didalam memudahkan akses dari satuan-satuan lingkungan permukiman satu dengan yang
lain sating dihubungkan oleh jaringan transportasi sesuai dengan kebutuhan dengan
kawasan lain yang memberikan berbagai pelayanan dan kesempatan kerja. Selain itu,
penataan jaringan prasarana lingkungan dan sarana lingkungan harus secara terencana dan
teratur dengan hierarki yang berjenjang.
Didalam menciptakan kawasan permukiman yang terpadu, amanat yang tertuang dalam
Undang-undang Nomor 4 tahun 1999 tentang Permukiman menyebutkan
pemerintah daerah dapat menetapkan satu bagian atau lebih dari kawasan permukiman
menurut rencana tata ruang wilayah perkotaan atau rencana tata ruang wilayah sebagai
kawasan yang telah memenuhi persyaratan sebagai kawasan siap bangun. Penetapan
kawasan siap bangun dimaksud agar pada jangka waktu tertentu mendapat perhatian sesuai
dengan skala prioritas dalam pelaksanaan investasi prasarana dan sarana lingkungan
permukiman.
Untuk mewujudkan perumahan dan permukiman dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka
pendek, menengah, dan panjang dan sesuai dengan rencana tata ruang, suatu wilayah
permukiman ditetapkan sebagai kawasan siap bangun yang dilengkapi jaringan prasarana
primer dan sekunder lingkungan.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 4 tahun 1999 tentang Perumahan Permukiman
kawasan siap bangun adalah sebidang tanah yang fisiknya telah dipersiapkan untuk
pembangunan perumahan dan permukiman skala besar yang terbagi dalam satu lingkungan
siap bangun atau lebih yang pelaksanaannya ditakukan secara bertahap dengan lebih dahulu
dilengkapi dengan jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan sesuai dengan
w:ml'll ..

BUTDN UTARA
rencana tata ruang lingkungan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II.
Persyaratan sebagaimana dimaksud sebagai kawasan siap bangun sekurang-kurangnya
meliputi penyediaan:
a. Rencana tata ruang yang rind;
b. Data mengenai luas, batas, dan pemilikan tanah;
c. Jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan.
Yang dimaksud jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan terdiri atas
jaringan jalan untuk memperlancar hubungan antar lingkungan, saluran
pembuangan air hujan untuk melakukan pemutusan (drainase), dan saluran
pembuangan air limbah untuk kesehatan lingkungan, dalam kawasan siap bangun.
Pengelolaan kawasan siap bangun dilakukan oleh Pemerintah sedangkan penyelenggaraan
pengelolaan kawasan siap bangun dilakukan oleh badan usaha milik negara dan/atau badan
lain yang dibentuk oleh Pemerintah.
Lingkungan siap bangun yang kemudian disebut Lisiba adalah sebidang tanah yang
merupakan bagian dari kawasan siap bangun ataupun berdiri sendiri yang telah dipersiapkan
dan dilengkapi dengan prasarana lingkungan dan selain itu juga sesuai dengan persyaratan
pembakuan tata lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan pelayanan
lingkungan untuk membangun kaveling tanah matang. Dalam membangun lingkungan siap
bangun selain memenuhi ketentuan pembangunan perumahan diatas, badan usaha di bidang
pembangunan perumahan wajib:
a. Melakukan pematangan tanah, penataan penggunaan tanah, penataan penguasaan
Tanah, dan penataan pemilikan tanah dalam rangka penyediaan kaveling tanah
rna tang;
b. Membangun jaringan prasarana lingkungan mendahului kegiatan membangun rumah,
memelihara, dan mengelolanya sampai dengan pengesahan dan penyerahannya
kepada pemerintah daerah;
c. Mengkoordinasikan penyelenggaraan penyediaan utilitas umum;
d. Membantu masyarakat pemilik tanah yang tidak berkeinginan melepaskan hak atas
tanah di dalam atau di sekitarnya dalam melakukan konsolidasi tanah;
e. Melakukan penghijauan lingkungan;
f. Menyediakan tanah untuk sarana lingkungan;
g. Membangun rumah.
Pembangunan lingkungan siap bangun yang dilakukan masyarakat pemilik tanah melalui
konsolidasi tanah dengan memperhatikan ketentuan yang ada, dapat dilakukan secara
bertahap yang meliputi kegiatan-kegiatan:
a. Pematangan tanah;
IIMI'II s

- KABUPATEN BUT O N UTARA
b. Penataan, penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah;
c. Penyediaan prasarana lingkungan;
d. Penghijauan lingkungan;
e. Pengadaan tanah untuk sarana lingkungan.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Hornor 80 tahun 1999 tentang Kasiba dan lisiba,
dalam penyiapan lokasi untuk Kasiba dan Lisiba, Pemerintah Daerah harus memperhatikan :
a. Jumlah unit rumah yang dapat ditampung dalam 1 (satu) Kasiba sekurang-kurangnya
3.000 (tiga ribu) unit rumah dan sebanyak-banyaknya 10.000 (sepuluh ribu) unit
rumah;
b. Jumlah unit rumah yang dapat ditampung dalam 1 (satu) Lisiba sekurang-kurangnya
1.000 (seribu) unit rumah dan sebanyak-banyaknya 3.000 (tiga ribu) unit rumah.
Dalam Peraturan Pemerintah Hornor 80 tahun 1999 ada istilah Lisiba yang berdiri sendiri
yang dimaksud adalah Lisiba yang bukan merupakan bagian dari Kasiba, yang dikelilingi oleh
lingkungan perumahan yang sudah terbangun atau dikelilingi oleh kawasan dengan fungsi-
fungsi lain, dalam penyiapan lokasi untuk lisiba yang berdiri sendiri Pemerintah Daerah
harus memperhatikan bahwa jumlah unit rumah yang dapat dibangun sekurang-kurangnya
1.000 (seribu) unit rumah dan sebanyak-banyaknya 2.000 (dua ribu) unit rumah.
Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Hornor 80 tahun 1999, suatu lokasi untuk
ditetapkan sebagai Kawasan Siap Bangun (Kasiba) sekurang-kurangnya harus memiliki:
a. Rencana Terperind Tata Ruang;
b. Data mengenai luas, batas dan kepemilikan tanah sesuai dengan tahapan
pengembangan dalam rencana dan program penyelenggaraannya;
c. Jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan yang telah selesai dibangun
dan telah berfungsi untuk melayani sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima per
seratus) dari luas Kasiba dan minimal dapat melayani 1 (satu) Lisiba.
Sedangkan, suatu lokasi untuk dapat ditetapkan sebagai Lingkungan Siap Bangun (Lisiba)
maka lokasi tersebut harus memenuhi persyaratan sekurang -kurangnya :
a. Sudah tersedia data mengenai luas, batas dan kepemilikan tanah sesuai dengan
tahapan pengembangan dalam rencana dan program penyelenggaraannya;
b. lokasi tersebut telah dilayani jaringan pnmer dan sekunder prasarana lingkungan;
c. lokasi tersebut telah dilayani fasilitas sosial, fasilitas umum dan fasili tas ekonomi
setingkat kecamatan.
Peraturan Pemerintah Hornor 80 tahun 1999 pasal VI tentang Penyelenggaraan Kasiba
dan Lisiba bahwa didalam penyelenggaraan Kasiba dan Lisiba dilakukan melalui tahap
perencanaan pembangunan, pelaksanaan pembangunan dan pengendalian pembangunan.
llMI'II s
Rencana dan program penyelenggaraan Kasiba Lisiba harus sesuai dan terintegrasi
dengan program pembangunan daerah dan sektor mengenai prasarana lingkungan,
sarana lingkungan serta utilitas umum di daerah yang bersangkutan. T erkait dengan
kebutuhan sarana dan prasarana lingkungan permukiman/infrastruktur akan dibahas
pada sub bab ketentuan teknis.
6.2. Ketentuan umum Sub Bidang Somber Dava Air
Sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, menyatakan bahwa sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat secara adil. Atas penguasaan sumber daya air oleh
negara dimaksud, negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi
pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan melakukan pengaturan hak atas air.
Hak guna air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, pertanian rakyat, dan
kegiatan bukan usaha disebut dengan hak guna pakai air, sedangkan hak guna air untuk
memenuhi kebutuhan usaha, baik penggunaan air untuk bahan baku produksi, pemanfaatan
potensinya, media usaha, maupun penggunaan air untuk bahan pembantu produksi, disebut
dengan hak guna usaha air. Semua itu tertuang dalam amanat Undang-undang Hornor 7
tahun 2004 tetang Sumber Daya Air
Didalam Undang-undang Hornor 7 tahun 2004 tetang Sumber Daya Air yang
dimaksud dengan pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh mencakup semua bidang
pengelolaan yang meliputi konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air,
serta meliputi satu sistem wilayah pengelolaan secara utuh yang mencakup semua proses
perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi.
Pengaturan mengenai proses dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air yang
menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dalam peraturan pemerintah ini
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Hornor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air ini dimaksudkan agar:
Pendayagunaan sumber daya air dapat diselenggarakan dengan menjaga kelestarian
fungsi sumber daya air secara berkelanjutan;
Terciptanya keseimbangan antara fungsi sosial, fungsi lingkungan hidup, dan fungsi
ekonomi sumber daya air;
Tercapainya sebesar-besar kemanfaatan umum sumber daya air secara efektif dan
efisien;
Terwujudnya keserasian untuk berbagai kepentingan dengan memperhatikan sifat
alami air yang dinamis;
w:rnt'll 7
~ ~ m w M w t .. _
- KABUPATEN BUTDN UTARA
Terlindunginya hak setiap warga negara untuk memperoleh kesempatan yang sama
untuk berperan dan menikmati hasil pengelolaan sumber daya air; dan
Terwujudnya keterbukaan ,dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya air.
Kebijakan pengelolaan sumber daya air dimaksudkan sebagai arahan strategis yang
menjadi dasar dalam mengintegrasikan kepentingan pengembangan wilayah administrasi
dengan pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai. Kebijakan pengelolaan
sumber daya air disusun dengan memperhatikan kondisi wilayah administratif, seperti
perkembangan penduduk, ekonomi, sosial budaya, dan kebutuhan air. Kebijakan
pengelolaan sumber daya air disusun pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
Kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional menjadi acuan dalam
penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi dan pada tingkat
kabupaten/kota secara berjenjang.
Sumber daya air merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai sifat
mengalir dan dinamis serta berinteraksi dengan sumber daya lain sehingga membentuk
suatu sistem. Oleh karena itu, agar pengelolaan berbagai sumber daya tersebut dapat
menghasilkan manfaat bagi masyarakat secara optimal, diperlukan suatu acuan pengelolaan
terpadu antarinstansi dan antarwilayah, yaitu berupa pola pengelolaan sumber daya air.
Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara terbuka melalui
pelibatan berbagai pihak dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang agar pola pengelolaan
sumber daya air mengikat berbagai pihak yang berkepentingan.
Sesuai dengan arahan Undang-undang No.7 tahun 2004 tentang Sumber Day a Air,
wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten atau kota didalam pengaturan dan
pengelolaan sumber daya air adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan
kebijakan nasional sumber daya air dan kebijakan pengelolaan sumber daya air
provinsi dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya;
2. Menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu
kabupaten/kota; menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah
sungai dalam satu kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan
kabupaten/ kota sekitarnya;
3. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai dalam
satu kabupaten/kota;
4. Melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu
kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya;
I:MI'!I s
5. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin penyediaan, peruntukan, penggunaan,
dan pengusahaan air tanah di wilayahnya serta sumber daya air pada wilayah sungai
dalam satu kabupaten/kota;
6. Membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat
kabupaten/kota dan/atau pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota;
7. Memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di
wilayahnya; dan
8. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan
sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.
Sedangkan wewenang dan tanggung jawab pemerintah desa mengenai pengelolaan
sumber daya air sesuai dengan Undang-undang No.7 tahun 2004 tentang Sumber Day a
Air meliputi:
1. Mengelola sumber daya air di wilayah desa yang belum dilaksanakan oleh
masyarakat dan/ a tau pemerintahan di atasnya dengan mempertimbangkan asas
kemanfaatan umum;
2. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan
sumber daya air yang menjadi kewenangannya;
3. Memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari warga desa atas air sesuai dengan
ketersediaan air yang ada; dan
4. Memperhatikan kepentingan desa lain dalam melaksanakan pengelolaan sumber
daya air di wilayahnya.
Pola pengelolaan sumber daya air merupakan kerangka dasar dalam merencanakan,
melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air,
pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai.
Pola pengelolaan sumber daya air disusun dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan
sumber daya air pada wilayah administrasi yang bersangkutan. Pola pengelolaan sumber
daya air memuat tujuan dan dasar pertimbangan pengelolaan sumber daya air, skenario
kondisi wilayah sungai pada masa yang akan datang, strategi pengelolaan sumber daya air,
dan kebijakan operasional untuk melaksanakan strategi pengelolaan sumber daya air.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengatur berbagai
hal mengenai pengelolaan sumber daya air yang antara lain mengenai pengembangan dan
pengelolaan sistem irigasi. Ketentuan tersebut memerlukan penjabaran lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah sebagaimana diamanatkan oleh Pasal41. Untuk memenuhi ketentuan
tersebut, Peraturan Pemerintah Hornor 20 tentang Jaringan lrigasi, Rawa dan Pantai

- KABUPATEN 8UTDN UTARA
memuat berbagai ketentuan mengenai mgasi secara terperinci dan komprehensif
berdasarkan pertimbangan dan pemikiran di bawah ini.
Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksanakan dengan melibatkan
semua pihak yang berkepentingan dengan mengutamakan kepentingan dan peran serta
masyarakat petani dalam keseluruhan proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan
pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi. Untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut,
dilakukan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air dan dinas atau instansi
kabupaten/kota atau provinsi yang terkait di bidang irigasi secara berkesinambungan.
Dalam rangka menetapkan kebijakan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi
dengan prinsip satu sistem irigasi satu kesatuan pengembangan dan pengelolaan,
pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksanakan secara partisipatif yang
didukung dengan pengaturan kembali tugas, wewenang, dan tanggung jawab kelembagaan
pengelolaan irigasi, pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air, penyempumaan
sistem pembiayaan pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi untuk mewujudkan
keberlanjutan sistem irigasi. Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi secara
partisipatif dilaksanakan dalam keseluruhan proses pengembangan dan pengelolaan sistem
irigasi dimulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan,
pada tahap perencanaan, pembangunan, peningkatan, operasi, pemeliharaan, dan
rehabilitasi. Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota sesuai
dengan kewenangannya memfasilitasi dan memberikan bantuan sesuai dengan permintaan
perkumpulan petani pemakai air dengan memperhatikan prinsip kemandirian.
Kebijakan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi yang efisien dan efektif
diperlukan untuk menjamin keberlanjutan sistem irigasi dan hak guna air untuk irigasi. Hal
tersebut didasarkan pada kenyataan:
Adanya pergeseran nilai air dari sumber daya air milik bersama yang melimpah dan
dapat dimanfaatkan tanpa biaya menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi dan
berfungsi sosial;
kerawanan ketersediaan air secara nasional;
Meningkatnya persaingan pemanfaatan air antara irigasi dengan penggunaan oleh
sektor-sektor lain;
Makin meluasnya alih fungsi lahan irigasi untuk kepentingan lainnya.
1101'1110
KABUPATEN BUTDN UTARA
6.3. Ketentuan Teknis Bidang Cipta Karva Dan Sumber oava Air
U.ll lllllllllasl .............
Pengembangan kawasan perumahan dan permukiman hendaknya ditetapkan mengacu
pada kriteria umum berikut :
a. Tercantum dalam rencana tata ruang wilayah induknya (Propinsi, Kabupaten atau
Kota) . Untuk itu diperlukan :
RTR Wilayah yang telah berkekuatan hukum (PERDA).
Bagi daerah yang belum mempunyai RTRW perlu segera menyusunnya.
Bagi RTRW-nya yang belum diperda-kan, perlu segera mengupayakannya, seraya
menunggu legalisasi, dokumen RTRW yang ada dan berbagai produk turunannya,
dapat digunakan sebagai acuan atau alat kendali sementara terhadap
penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman.
b. Mempunyai rencana yang memuat keterkaitan dengan jejaring atau rencana investasi
prasarana, sarana, dan utilitas berskala regional.
c. Tidak dikembangkan melebihi daya dukung lingkungannya.
d. Tidak merusak keseimbangan ekosistem, fungsi lingkungan, dan upaya pelestarian
sumber daya alam lainnya.
e. Mempunyai luasan yang cukup untuk terlaksananya pola hunian berimbang.
f. Pemberian ijin yang mengacu pada peraturan pembangunan setempat.
Penanganan kawasan-kawasan perumahan dan permukiman pada areal baru
mempersyaratkan lokasi yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tidak berada pada daerah rawan bencana atau rawan penyakit (banjir rutin, genangan,
kebakaran, dll).
b. Sedapat mungkin tidak diarahkan dengan berekspansi ke daerah produktif, daerah
pertanian beirigasi teknis, daerah pertanian dengan nilai pasar tinggi, dll.
c. Memanfaatkan dan mengisi lahan tidur yang telah diterbitkan ijinnya untuk
dikembangkan sebagai daerah perumahan atau permukiman.
d. Mempunyai sumber air yang memadai atau terhubungkan dengan instalasi jaringan air
bersih berskala kota.
e. Mempunyai tingkat hunian yang memadai sehingga investasi yang ditanamkan dapat
bernilai optimal.
Sedangkan pembangunan kawasan perumahan dan permukiman di daerah perdesaan
diharapkan memenuhi kriteria lokasi sebagai berikut :
I!MI'II11
UYiMr.tiit-
- KABUPATEN BUTDN UTARA
a. Mendukung pengembangan pusat pelayanan primer perdesaan (sentra produksi, sentra
industri perdesaan, sentra pelayanan lokal, dll).
b. lkut memantapkan terbentuknya fungsi dan kehidupan bermasyarakat pada pusat
Kecamatan baru, daerah perdesaan yang terisolasi, daerah perbatasan, daerah
transmigrasi, dU.
c. Mempercepat pengembangan kota-kota kecil baru dengan fungsi dan kedudukan khusus
yang ditetapkan tersendiri oleh Kepada Daerah. Untuk itu Kepala Daerah perlu
menyusun suatu daftar skala prioritas penanganan kawasan perumahan dan
permukiman perdesaan, baik yang didanai dari dana pembangunan maupun yang
dibiayai dari sumber-sumber lain yang memungkinkan.
d. Mendukung upaya pengembangan kawasan permukiman yang direncanakan dan
dilaksanakan oleh masyarakat secara berkelornpok, misalnya melalui proses P2BPK,
melalui koperasi, luran Pembangunan Rumah, dU.
U.U. 11111111 s... Pllllll I .......
I. Sarana Pemerintahan dan Pelayani:m Umum
Dasar penyediaan sarana pemerintahan dan pelayanan umum untuk melayani setiap unit
administrasi pemerintahan baik yang informal (RT dan RW) maupun yang formal
(Kelurahan dan Kecamatan), dan bukan didasarkan semata-mata pada jumlah penduduk
yang dilayani oleh sarana tersebut.
Dasar penyediaan sarana ini juga mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-
unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan bentukan
grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks lingkungannya. Sedangkan
penempatan penyediaan sarana mempertimbangkan jangkauan radius area layanan
terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area
tertentu. Berikut adalah table standar kebutuhan sarana pemerintahan dan pelayanan
umum.
Tabel 6. 1 Standar Kebutuhan Sarana Pemerintahan dan Pelayanan Umum
K.ebutuhan Per
Krtteria
Jumlah
SaW.. Sarana
Ho. Jenis Sarana
PenduckJk Luas Luas
Standard
pendukuna l...antaf l..ahan
(m
1
/jfwa)
Radius
(jfwa)
Mfn. Mfn. pencapafan
Lokasl dan Penyelesalan
(mz) (mz)
1. Balal 2.500 150 300 0,12 Di tengah ketompok bangunan hunian
pertemuan warga, atauptm eli akses ketuarlmasul<
2. pos hanslp 2.500 6 12 0,06 500m' dori kelompok bangunan.
Dapat dengan barJsunan
sarona yang lain.
3. prdu llstrfk

..: 2. 500 20 30 0,012 500m' Lokasi dan bangunannya harus
mempertimbangkan keamanan dan
kenyamanan sekitar.
4. telepon umum, 2.500
.
30 0,012 500m' Lokaslnya disebar pada titik-titik
bis surat strategis atau eli sekitar pusat
tingkungan.
1
I:MI'II12

- KABUPATEN BUTDN UTARA
K8butuhan Per
Kriterta
Jumlah
Sam..
Ho. .Ients Saran&
Penduduk
Luas Luas
Sbndard
pencklkuna Untal LAhan
(m
1
/jlwa)
Radius
(jtwa)
Min. Min. penaiPaian
Lokasf dan Penyelesai.n
(mz) (mz)
5. partdrumum 2. 500
.
100 0,04 Dilok.asikan dapat melayanl k.ebutuhan
bangunan sarona kebudayoan dan
relcreasi lain berupa balai pertemuan
wor'lQ.
6. Kantor 30.000 500 1.000 0,033 Dapat dijongkau dengan kendar0011
kelurahan umum.
7. poskamtlb 30.000 n 200 0,006 Beberapa sarona dapat digabung
8. pospemadam 30.000 n 200 0,006
dalom satu otau k.elompolc bongunon
kebakaran
pada tapok. yang sama.
9. Aaen pelayanan 30.000 36 n 0,0024
Agen layanan pos dapat bekerja sama
pos
dengan pihak }/'(l1lg mau berliJV'eStasi
10. l.oket c 30.000 21 60 0,002
dan bergabung dengan sarona lain
pembay.-an atr

dalam bentuk wartel, wamet, atau
berslh
.&:
warpostel.

11. l.oket
..
30.000 21 60 0,002
Loket pembayaran air bersih dan
pembay.-an
listrik lebih baik sating bersebelohan.
-
llstrlk

:liC
12. telepon umum, 30.000
.
80 0,003 Lokasinya disebar pada titik-titik
bls surat, bak strategis atau di sek.itar pusat
sampah kedl lingkungan.
13. parktrumum 30.000 -
500 0,017 Dilokasikan dapat melayoni kebutuhan
bangunan sarona kebudayaan dan
relcreasi lain berupa geduang serbo
o;zuna I balai karanq tanma.
14. kantor 120.000 1.000 2.500 0,02 Dapat dij angkau dengan kendaraan
kecamatan umum.
15. kantor polls! 120.000 500 1. 000 0, 001 Beberapa sarona dapat digabung
16. pospemadam 120.000 500 1.000 0,001
dolam satu atau kelompok. lxlngtnan
kebakaran
poda tapak yang soma.
17. kantor pos 120.000 250 500 0,004
Lokasinya mempertimbongkan
pembantu
kemudahon dijangkou dari lingkungan
18. staslun telepon 120. 000 500 1.000 0,008 3-5 km
luar.
otomat dan
c

aeen pelayan-
..

anpnauan
e
telepon

19. balal nlkah I
u
120.000 250 750 0, 006 Lokasinya horus strategis untuk
KUA/BP4 memudahkan dicari dan dijangkau
:liC
oleh pengunjung di luar kawasan.
20. telepon umum, 120.000 - 80 0,003 Lokasinya disebor pada titik-titilc.
bls surat, bak strotegis otau di sekitar pusat
sampah besar lino;zkuman.
21 . parklrumum 120.000 - 2000 0,017 Dilokosikon dapat melayani lc.ebutuhan
bangunan sarona kebudayaan dan
rekr easi lain berupa balai pertemuan
worw.
Sumber. SNI 03- 1733-2004 tentang tata cora perencanaan l1nglc.ungan perumahan eli perlc.otaan
1:CIIJI1a
BUTON UTARA
II. Sarana Pendtdfkan
No
1
2
3
4
5
Sarana pendidikan yang diuraikan dalam standar ini hanya menyangkut bidang pendidikan yang bersifat formal I umum, yaitu
meliputi tingkat prabelajar (Taman Kanak-kanak); tingkat dasar (50/MI); tingkat menengah (SLTP/MTs dan SMU). Adapun
penggolongan jenis sarana pendidikan dan pembelajaran ini meliputi:
Taman kanakkanak (TK), yang merupakan penyelenggaraan kegiatan belajar dan mengajar pada tingkatan pra belajar
Sekolah dasar (SO), yang merupakan bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program enam tahun;
Sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), yang merupakan bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan proram tiga
tahun sesudah sekolah dasar (SO);
Sekolah menengah umum (SMU), yang merupakan satuan pendidikan menengah, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
pendidikan tinggi;
label 6. 2 Standar Kebutuhan Sarana Pendtdfkan df Lfngkungan Perumahan/Permukfman
Jumlah Kebutuhan Per Satuan Sarana Kriterta
Jenfs Penduduk Luas Standard
Radius
Saran a Pendukung Luas Lantaf mfn. m
2
Lantaf (m
2
/jfwa) Lokasf dan Penyelesafan
(jfwa) mfn. m
2
Pencapafan
Taman
216 termasuk rumah penjaga Df tengah kelompok warga.
500m
2
Kanak- 1.250
36m
2 500 0,28
Tfdak menyeberang )alan raya.
kanak
Sekolah
Bergabung dengan taman sehfngga ter)adf
Dasar
1.600 663 2.000 1,25 1.000 m
2
pengelompokan kegfatan.
SLTP 4.800 2.282 9.000 1,88 1.000 m ~ Dapat dfjangkau dengan kendaraan umum.
SMU 4.800 3. 835 12.500 2,6 3.000 m
2
Dfsatukan dengan lapangan olah raga.
Tfdak selalu horus df pusat lfngkungan.
Taman
2.500 72 150 0,09 1.000 m
2
Df tengah kelompok warga ttdak menyebe
Bacaan rang )alan Ungkungan.
Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang tata cora perencanaan /ingkungan perumahan di perkotaan
lf!lu!fJII:J3'"' IIMIIII
'
14
i i i i ~ : ~ ~ P A I EN B Ul UN U I ARA
Tabel 6. 3 Pembakuan tfpe SD/MI, SLTP/MTs dan SMU
Ttnskat
Ttpe Sekotah
Rombonsan Peserta Did1k
Lokast
Pend1dkan Bela jar (stswa)
TipeA 12 480
SD/MI Tipe B 9 360
TlpeC 6 240
Dekat dengan
TlpeA 27 1.080 lokasl ruang
SLTP/MTs Tipe B 18 720 terbuka
TipeC 9 360 llngkungan
Tipe A 27 1.080
SMU Tipe B 18 720
TipeC 9 360
Sumber: SNI 031733-2004 tentang toto cora perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
Tabel 6. 4 Kebutuhan Luas Lantal Dan Lahan Sarana Pendtdtkan Menurut Ttpe Sekolah
Tfngkat Tfpe Rombonsan
Peserta
Luas Ruans Luas Lahan
Dtdtk
Pendfdfkan Sekolah Belajar
(stswa)
Mtntmum (m
2
) Mtntmum (m
2
)
SD/MI TipeA 12 480 1.000 3.000
Tipe B 9 360 633 2.000
TipeC 6 240 251 1.000
SLTP/ MTs TipeA 27 1.080 3.007 9.000
Tipe B 18 720 2.282 9.000
TipeC 9 360 1.502 6.000
SMU Tipe A 27 1.080 5.233 1 lantai : 15.000
2 lantai : 9.500
3 lantai : 7.000
Tipe B 18 720 3.835 1 lantai : 12.500
2 lantai : 8.000
3 lantai : 5.000
TipeC 9 360 2.692 10.000
Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang toto cora perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
lf!l!l)fji!I;IJ!IIi I!MIIII
15
Bu I ON U TARA
Ill. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan berfungsi memberikan pelayanan kesehatan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran yang sangat
strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekaUgus untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.
Dasar penyediaan sarana ini adalah didasarkan jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana tersebut.
Tabel6. 5 Standar Kebutuhan Sarana Kesehatan dt Ltngkungan Perumahan/Permuktman
Kebutuhan
Penduduk Per Satuan Sarana
Kr1terta
No Jents Sarana Pendukung
Standard
Luas (m
2
/j1wa)
(jlwa)
Lantat
Luas Lahan Radius Lokast dan
mtn.(m
2
)
mtn. (m
2
) Pencapatan Penyelesatan
1 Posyandu 1.250 36 60 0,048 500m
2
Df tengah ke-lompok tetangga tfdak
menyeberang }alan raya.
2 Balai Pengobatan Warga 2. 500 150 300 0,12 1.000 m
2
Df tengah kelompok tetangga tldak
menyeberang ]alan raya.
3 BKIA/Klinik Bersalin 30.000 1.500 3.000 0, 1 4.000 m
2
Dapat dfjangkau dengan kendaraan
umum
Puskesmas Pembantu dan
4 Balai Pengobatan 30.000 150 300 0,006 1.500 m
2
-fdem-
Ungkungan
5
Puskesmas dan balai
120.000 420 3.000 m
2
Pengobatan
1.000 0,008 -fdem-
6 Tempat Praktek Dokter 5.000 18 - -
1.500 m-r -fdem-
7
Apoti k/
30.000 120 250 1.500 m
2
Rumah Obat
0,025 -Idem-
--
Sumber : SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
lfumf!ll:lJ!I!i I!MIIII
1
16
BUT ON UTARA
IV.Sarana Perfbadatan
Pendekatan perencanaan yang diatur adalah dengan memperkirakan populasi dan jenis agama serta kepercayaan dan kemudian
merencanakan alokasi tanah dan lokasi bangunan peribadatan sesuai dengan tuntutan planologis dan religius.
Tabel 6. 6 Standar Kebutuhan Sarana Peribadatan Muslim dt Linakunaan Perumahan/Permukiman
Kebutuhan Per
Krtter1a
Jenis Jumlah Penduduk Satuan Sarana Standard
No
Saran a Pendukuna (jtwa) Luas L a r ~ t a t Luas Lahan (m
2
/jtwa) Radius Lokast dan
min.(m
2
) mtn.(m
2
) Pencapatan Penyetesatan
100
Df tengah k.elompok. tetangga.
Musholla/L bila
1
anggar
250 45
bangunan
0,36 100m Dapat merupak.an bagfan dart
tersendiri
bangunan sarona lain
Df tengah k.elompok. tetangga
2
Masjid
2.500 300 600 0,24 1.000 m
tfdak. menyeberang }alan raya.
Warga Dapat bergabung dalam lok.asf
balaf warga.
Masjid
Dapat dfjangk.au dengan
3 Lingkungan 30.000 1.800 3.600 0,12 -
(kelurahan)
k.endaraan umum
Berdek.atan dengan pusat
4
Masjid
120.000 3.600 5.400 0,03 -
lfngkungan I kelurahan.
Kecamatan Sebagfan sarana berlantaf 2,
KD840%
Sumber : SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
, fl I[ I) r"''lJnfl 1: m 1111
17
No
1
2
3
4
~ ~ I ( ~
- K A BUPATEN 8UT ON U TA RA
Tabel 6. 7 Standar Kebutuhan Sarana Pertbadatan Non Musltm dt Ltngkungan Perumahan/Permuktman
Jumlah Penduduk
Jents Sarana Kota
Luas Ttap Untt
Pendukung ( jtwa )
( mz)
3.000 T. tbadah non Islam 2.000
200.000 T. tbadah non Islam 1.800
1.500.000 T. tbadah non Islam 5.000
Sumber : DPU Clpta Karya
V. Sarana Perdagangan dan Niaga
Sarana perdagangan dan niaga ini tidak selalu berdiri sendiri dan terpisah dengan bangunan sarana yang lain. Dasar penyediaan selain
berdasarkan jumlah penduduk yang akan dilayaninya, juga mempertimbangkan pEmdekatan desain keruangan unitunit atau kelompok
lingkungan yang ada. Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait
dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu.
Tabel 6. 8 Standar Kebutuhan Sarana Perdagangan dan Ntaga di Ltngkungan Perumahan/Permuktman
Jumlah Kebutuhan Per Satuan Sarana Krtterla
Penduduk
Luas Lantat Luas Lahan
Standard Radtus
Jenis Sarana
Pendukun (m
2
/jtwa) Pencapata Lokast dan Penyelesatan
g (jtwa)
mtn. (m
2
) mtn. (m
2
)
n
50 100
Df tengah kelompok tetangga.
Toko/Warung 250 (termasuk (bila berdirt 0,4 300m
Dapat merupakan bagfan darl sarona lain
gudang) sendiri)
Di pusat keglatan sub llngkungan.
Pertokoan 6.000 1.200 3.000 0, 5 2.000 m
KDB 40% Dapat berbentuk PftD
Pusat Pertokoan + Pasar
30.000 13.500 10.000 0,33
.
Dapat dljangkau dengan kendaraan umum
Lingkungan
Pusat Perbelanjaan dan
Terletak dl jolon utama.
Niaga
120.000 36.000 36.000 0,3
.
Termasuk sarona parklr sesual ketentuan
(toko + pasar + bank +
setempat
kantor)
--- --------- -- ---- -------- -----
Sumber : SNI 03-1733-2004 tentang toto cora perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
I fl t!1! f!ti :IJ!I II
I!MIIII 18
VI. Sarana Kebudayaan dan Rekreast
Sarana kebudayaan dan rekreasi merupakan bangunan yang dipergunakan untuk mewadahi berbagai kegiatan kebudayaan dan
atau rekreasi , seperti gedung pertemuan, gedung serba guna, bi oskop, gedung kesenian, dan lain-lain. Bangunan dapat sekaligus
berfungsi sebagai bangunan sarana pemerintahan dan pelayanan umum, sehingga penggunaan dan pengelolaan bangunan ini dapat
berintegrasi menurut kepentingannya pada waktu-waktu yang berbeda. Penetapan jenis I macam sarana kebudayaan dan rekreasi
pada suatu daerah sangat tergantung pada kondi si setempat area tersebut, yaitu menyangkut faktor-faktor : tata kehidupan
penduduknya dan struktur sosial penduduknya.
Tabel6. 9 Standar Kebutuhan Sarana Kebudayaan dan Rekreast dt Lingkungan Perumahan/Permuktman
Jumlah Kebutuhan Per
Krtterta
No
Jents Penduduk Satuan Sarana Standard
'
Saran a Pendukung Luas Lantat Luas Lahan (m
2
/jtwa) Radius Lokastdan
'
Utwa) mtn.(m
2
) mtn.(m
2
) Pencapatan Penyelesatan
Df tengah kelompok
1
Balai Warga/
2.500 150 300 0, 12 100m
tetangga.
Balai Pertemuan Dapat merupakan bagian
dart bangunan sarona lain
Balai Serbaguna
2
I
30.000 250 500 0,017 100m Di pusat lfngkungan
Balai Karang
Taruna
3
Gedung
120.000 1.500 3.000 0,025 100m
Dapat dfjangkau dengan
Serbaguna kendaraan umum
Terletak df }alan utama.
4 Gedung Bioskop 120.000 1.000 2.000 0,017 100m Dapat merupakan bagian
dart pusat perbelanjaan
Sumber : SNI 03-1733-2004 t entang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
tlt!,]f!il:lJ'I" w:m1111
19
BUTON UTARA
VII. Sarana Ruang Terbuka dan Lapangan Olah Raga
Ruang terbuka merupakan komponen berwawasan lingkungan, yang mempunyai arti sebagai suatu lansekap, hardscape, taman
atau ruang rekreasi dalam lingkup urban. Peran dan fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) ditetapkan dalam lnstruksi Mendagri no. 4
tahun 1988, yang menyatakan "Ruang terbuka hijau yang populasinya didominasi oleh penghijauan baik secara alamiah atau
budidaya tanaman, dalam pemanfataan dan fungsinya adalah sebagai areal berlangsungnya fungsi ekologis dan penyangga
kehidupan wilayah perkotaan.
Tabel6. 10 Standar Kebutuhan Sarana Ruang Terbuka, Taman dan Lapangan Olah Raga di Lingkungan Perumahan/Permukiman
No Jenis Sarana
Jumlah Penduduk Kebutuhan Luas Standard Radius Kriteria Lokasf
Pendukung (jiwa) Lahan Min.(m
2
) (m
2
/jiwa) Pencapaian (m) dan Penyelesatan
1 Taman/Tempat Main 250 250 1 100 Di tengah kelompok tetangga.
2 Taman/Tempat Main 2.500 1.250 0,5 1.000 Dl pusat kegiatan lingkungan.
3 Taman dan Lapangan 30.000 9.000 0,3 Sedapat mungkin berkelompk
Olah Raga dengan sarona pendidlkan.
4 Taman dan Lapangan 120.000 24.000 0,2 Terletak di )alan utama.
Olah Raga Sedapat mungkin berkelompok
dengan sarona pendidikan.
5 Jalur Hijau - 15m Terletak menyebar.
6 Kuburan I Pemakaman 120.000 Mempertimbangkan radius
Umum pencapaian dan area yang
dilayani.
Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang tata cora perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
lflil,1ijl!l:lJnli I!MIIII
20
Lokal

IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
uu. ........................................ .
Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik yang memungkinkan lingkungan
perumahan dan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya meliputi (1)
prasarana jaringan jalan ; (2) jaringan air bersih dan (3) saluran pembuangan air hujan
(drainase) ; (4) saluran pembuangan air limbah; dan (5) Persampahan. Standar penilaian
meliputi penilaian dasar dan teknik.
I. Prasarana Jalan
Lingkungan perumahan harus disediakan jaringan jalan untuk pergerakan manusia dan
kendaraan, dan berfungsi sebagai akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.
Dalam merencanakan jaringan jalan, harus mengacu pada ketentuan teknis tentang
pembangunan prasarana jalan perumahan, jaringan jalan dan geometri jalan yang
berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan jalan pergerakan
kendaraan dan manusia, dan akses penyelamatan dalam keadaan darurat drainase pada
lingkungan perumahan di perkotaan. Berikut adalah standar pelayanan jaringan jalan di
lingkungan perumahan :
Tabel6. 11 Standar Jalan di lingkungan Perumahan
3,0-7,0 1,5-2,0 1,5 0,5 10,0-12,0 13,0 4,0 10,5 -
Sekunder I (mobil - (darurat (pejalan kaki,
motor) parkir) vegetasi,
penyandang
cacat roda)
Lokal 3,0-6,0 1,0-1,5 1, 5 0,5 10,0-12,0 12,0 4,0 10,0 -
Sekunder II (mobil- (darurat (pejalan kaki,
motor) parkir) vegetasi,
penyandang
cacat roda)
Lokal 3,0 0,5 1,2 0,5 8,0 8, 0 3, 0 7,0 Khusus
Sekunder Ill (mobil - (darurat (pejalan kaki, pejalan
motor) parkir) vegetasi, kaki
penyandang
cacat roda)
ngkungan I 1,5-2,0 0,5 - 0,5 3,5-4,0 4,0 2,0 4,0 Khusus
(pejalan pejalan
kaki, kaki
penjual
dorong)
ngkungan II 1,2 0.5 - 0,5 3,2 4,0 2, 0 4, 0 Khusus
(pejalan pejalan
kaki, kaki
penjual
dorong)
liM II II 21
II. Persampahan
Didalam lingkungan perumahan harus disediakan prasarana pengelolaan sampah, berikut
adalah standar prasarana sampah di lingkungan perumahan dilihat didalam standar
pengelolaan sampah perkotaan :
Tabel 6. 12 Standar Kebutuhan Prasarana Persampahan
Prasarana
Ltnakup Prasarana
Sarana pelenakap Status
Of men Keteranaan
st
Rumah (5 jiwa) Tong sampah Pribadi
- -
RW (2500 jiwa) Gerobak sampah 2m Gerobak mengangkut
Bak sampah kecil TPS 6m Jarak bebas
3x semfnggu
Kelurahan (30.000
Gerobak sampah 2m
TPS dengan
Gerobak mengangkut
jiwa) lingkungan
Bak sampah besar TPS 12m hun ian
3x seminggu
Kecamatan (120.000
Mobil sampah
TPS/TPA
minimal
Mobil mengangkut 3x
jiwa) lokal
-
30m
Bak sampah besar 25m
seminggu
Kota (> 480.000 jiwa) Bak sampah akhir TPA -
Tempat daur ulang -
-
sampah
Sumber : SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan
&.3.2. llllllllr P811V118nan llslba dan us as
Penjabaran teknis mengenai penyelenggaran Kasiba dan Lisiba diamanatkan oleh
Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No. 31 Tahun 2006 Petunjuk Pelaksanaan Kawasan
Siap Bangun Dan Lingkungan Siap Bangun Yang Berdiri Sendiri. Dalam Permenpera No.31
tahun 2006 ini ada beberapa istilah yang perlu dipahami diantaranya :
a. Kawasan Permukiman adalah kawasan budidaya yang ditetapkan dalam rencana tata
ruang dengan fungsi utama untuk permukiman.
b. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri
kehidupan dan penghidupan.
c. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan.
d. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan
sarana pembinaan keluarga.
e. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan
lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya, seperti jalan,
drainase, limbah, dan persampahan.
llMI!!122

IIIII KABUPATEN BUTDN UTARA
f. Jaringan primer prasarana lingkungan dalam Kasiba adalah jaringan utama yang
menghubungkan antar kawasan permukiman atau antara kawasan permukiman dan
kawasan lain yang digunakan untuk kepentingan umum.
g. Jaringan sekunder prasarana lingkungan adalah jaringan cabang dari jaringan primer
prasarana lingkungan yang melayani kebutuhan di dalam satu satuan lingkungan
permukiman.
h. Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan
dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya, seperti fasilitas
pemerintahan, pendidikan, pelayanan kesehatan, perbelanjaan, tempat ibadah,
rekreasi dan kebudayaan, olah raga dan lapangan terbuka, serta ruang terbuka
hijau.
i. Kawasan Siap Bangun, selanjutnya disebut Kasiba, adalah sebidang tanah yang
fisiknya telah dipersiapkan untuk pembangunan perumahan dan permukiman skala
besar yang terbagi dalam satu lingkungan siap bangun atau lebih, yang
pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan lebih dahulu dilengkapi dengan
jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan sesuai dengan rencana tata
ruang kawasan yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
j. Lingkungan Siap Bangun, selanjutnya disebut Lisiba, adalah sebidang tanah yang
merupakan bagian dari Kasiba yang telah dipersiapkan dan dilengkapi dengan
prasarana lingkungan dan selain itu juga sesuai dengan persyaratan pembakuan tata
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan pelayanan lingkungan untuk
membangun kaveling tanah matang.
k. Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri, selanjutnya disebut Lisiba yang Berdiri
Sendiri atau Lisiba BS, adalah Lisiba yang bukan merupakan bagian dari Kasiba, yang
dikelilingi oleh lingkungan perumahan yang sudah terbangun atau dikelilingi oleh
kawasan dengan fungsi-fungsi lain.
l. Kaveling tanah matang adalah sebidang tanah yang telah dipersiapkan sesuai dengan
persyaratan pembakuan dalam penggunaan, penguasaan, pemilikan tanah dan
rencana tata ruang lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian untuk
membangun bangunan.
m. Lingkungan Hunian Yang Berimbang adalah wujud kawasan dan lingkungan
perumahan dan permukiman (dalam Kasiba) yang pembangunan perumahan dan
permukimannya meliputi rumah sederhana, rumah menengah, dan rumah mewah
dengan perbandingan tertentu sehingga dapat menampung secara serasi berbagai
kelompok masyarakat. Perbandingan tertentu dimaksud adalah perbandingan jumlah
1:MII!12a
~ ~ - i j i j f . i ~ "
- KABUPATEN BUTON UTARA
rumah sederhana, berbanding jumlah rumah menengah, berbanding jumlah rumah
mewah sebesar 6 (enam) atau lebih, berbanding 3 (tiga) atau lebih, berbanding 1
(satu)
n. Badan Pengelola Kasiba, yang selanjutnya disebut Badan Pengelola, adalah Badan
Usaha Milik Negara dan atau Badan lain yang dibentuk oleh Pemerintah yang ditugasi
sebagai Pengelola Kasiba termasuk Badan Usaha Milik Daerah. Badan lain yang
dibentuk oleh Pemerintah dimaksud adalah Badan Usaha swasta yang bergerak di
bidang perumahan dan permukiman yang menjalankan misi dan bekerjasama dengan
Pemerintah.
Dalam amanat Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No.31 Tahun 2006 pembangunan
perumahan dan permukiman yang dilaksanakan dengan pola Kasiba dan lisiba yang Berdiri
Sendiri dimaksudkan agar pembangunan perumahan dan permukiman dapat lebih terarah
dan terpadu sesuai dengan arah pembangunan Kabupaten, sehingga mengarahkan
pertumbuhan wilayah agar membentuk struktur wilayah yang lebih efisien dan efektif.
Berikut adalah standar pelayanan sarana dan prasarna Kasiba dan lisiba BS
I. Sarana Pemerintahan dan Pelayanan Umum
Standar perencanaan untuk kawasan dengan 2500 jiwa
- Pos hansip, balai pertemuuan 300 m2
- Parkir umum dan kakus umum 100m2
Standar perencanaan untuk kelompok 30.000 jiwa
- Kantor kelurahan 500 m2
- Pos polisi 200 m2
- Kantor pos pembantu 1 00 m2
- Pos pemadam kebakaran 200 m2
- Parkir umum dan M.C.K 1000 m2
- Bioskop 1 (satu) 2000 m2
Standar perencanaan untuk kelompok 240.000 jiwa
- Kantor kecamatan 1 000 m2
- Kantor polisi 300 m2
- Kantor pos cabang 500 m2
- Kantor telepon 300 m2
- Pos pemadam kebakaran 300 m2
- Parkir umum 4000 m2
II. Sarana Pendidikan
Standar Fasilitas Pendidikan Taman Kanak-kanak
1@1111 24

IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
- Satu Taman Kanak Kanak untuk 1000 jiwa
- Luas tanah yang dibutuhkan 1200 m2
- Radius pencapaian 500 m
Standar Fasilitas Pendidikan Sekolah Dasar
- Satu Sekolah Dasar untuk 1600 jiwa
- Luas tanah yang diperlukan 2400 m2
- Radius pencapaian maksimum 1 000 m
Standar Fasilitas Pendidikan Sekolah Lanjutan Pertama
- Satu SL TP untuk 4800 jiwa
- Luas tanah yang diperlukan 2700 m2
Standar Fasilitas Pendidikan Sekolah Lanjutan Atas
-Satu SL TA untuk 4800 jiwa
-Luas tanah yang diperlukan 2700 m2
Ill. Sarana Kesehatan
Standar Perencanaan Puskesmas Pembantu
-Radius pencapaian maksimum 1500 m
- Luas tanah yang diperlukan 200 m2
Standar Perencanaan Puskesmas 3000 m
-Minimum penduduk yang dilayani 1000 jiwa
-Luas tanah yang diperlukan 600m2
-Radius pencapaian maksimum 2000 m
Standar Perencanaan Tempat Praktek Dokter
-Minimum penduduk yang dilayani 5000 jiwa
-Luas tanah minimum bersatu dengan rumah
-Radius pencapaian maksimum 1500 m
Standar Perencanaan Rumah Bersalin
-Penduduk yang dilayani 1000 jiwa
-Luas tanah yang diperlukan 1600 m2
-Radius pencapaian maksimum 2000 m
Standar Perencanaan Apotik
-Penduduk yang dilayani minimum10.000 jiwa
-Luas tanah yang diperlukan 350 m2
-Radius pencapaian maksimum 1500 m
I! Willi 25

KABUPATEN BUTON UTARA
IV. Sarana Peribadatan
Pembangunan fasilitas peribadatan di Kasiba harus memenuhi standar perencanaan
fasilitas peribadatan di Kasiba. Standar fasilitas peribadatan untuk fasilitas tingkat
kawasan dengan penduduk 20.000 jiwa adalah : luas bangunan peribadatan sesuai
dengan agamanya 1000 m2
V. Sarana Perdagangan dan Niaga
Standar fasilitas perbelanjaan untuk fasilitas warung adalah :
- Penduduk yang dilayani 250 jiwa
- Luas tanah yang diperlukan 1 00 m2
- Toko I Warung ; adalah fasilitas perbelanjaan terkecil yang melayani kebutuhan
sehari-hari dari unit lingkungan terkecil (50 keluarga). Minimum terdiri dari satu
bangunan untuk menjual kebutuhan sehari-hari seperti sabun, teh,gula, rempah-
rempah dapur dan lain-lain
- Pencapaian maksimum adalah 300 meter.
Standar fasilitas perbelanjaan untuk fasilitas pertokoan. Fasilitas pertokoan adalah
fasilitas perbelanjaan yang lebih lengkap dari pada toko meskipun tetap menjual
kebutuhan sehari-hari,fasilitas memiliki jarak maksimum adalah 300 meter.
- Penduduk yang dilayani 2500 jiwa
- Luas tanah yang diperlukan 100m2
Standar fasilitas perbelanjaan lingkungan. lni adalah fasilitas lingkungan yang
berfungsi sebagai pusat perbelanjaan dan niaga yang menjual keperluan sehari-hari
lebih lengkap, termasuk sayur mayur, daging, ikan, buah-buahan, beras, tepung-
tepung, bahan-bahan pakaian, barang-barang kelontong, alat-alat sekolah, alat
rumah tangga dan lain-lain pusat Pusat perbelanjaan lingkungan terdiri dari pasar,
pertokoan dan bengkel-bengkel reparasi kecil seperti radio, kompor, seterika,
sepeda dan lain-lain.
- Penduduk yang dilayani minimum 2500 jiwa
- Luas tanah yang diperlukan 100 m2
._RoD pencapaian maksimum 500 m
dan Niaga Kecamatan adalah fasilitas sosial yang berfungsi
sebagai pusat perbelanjaan lengkap dengan fasilitas niaga yang lebih luas, seperti
kantor, bank-bank, industri-industri kecil seperti konveksi pakaian, dan jenis-jenis
industri rumah lainnya. Toko-tokonya tidak hanya menjual kebutuhan sehari-hari,
juga untuk kebutuhan yang lebih komplek seperti toko besi, toko olah raga dan lain-
lain. Pusat belanja dan niaga terdiri dari toko-toko, pasar, bengkel reparasi dan
IIMI!!I2o

- K ABUPATEN B UTON UTARA
service, juga unit-unit produksi yang tidak menimbulkan polusi dan gangguan-
gangguan lain.
VI. Sarana Kebudayaan dan Rekreasi
Standar perencanaan sarana lingkungan di Kasiba untuk fasilitas rekreasi dan
kebudayaan meliputi Gedung Serba Guna. Standar pembangunan sarana lingkungan
fasilitas Gedung Serba Guna dibangun untuk kebutuhan kelompok 6.000 Kepala
Keluarga (KK). Sedangkan standar perencanaan sarana lingkungan di lingkungan lisiba
yang Berdiri Sendiri untuk fasilitas rekreasi dan kebudayaan meliputi Gedung Serba
Guna atau Gelanggang Remaja.
Standar pembangunan sarana lingkungan fasilitas Gedung Serba Guna dibangun
untuk kebutuhan kelompok 6.000 Kepala Keluarga (KK).
Standar pembangunan sarana lingkungan fasilitas Gelanggang Remaja dibangun
untuk kebutuhan kelompok 24.000 Kepala Keluarga (KK).
VII. Sarana Ruang Terbuka dan Lapangan Olah Raga
Ruang terbuka hijau adalah ruang dalam kawasan atau kota dalam bentuk area atau
kawasan atau dalam bentuk jalur, dimana dalam penggunaannya bersifat terbuka
tanpa bangunan. Pemanfaatannya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau
tumbuhan-tumbuhan secara alamiah atau budidaya tanaman.
Standar fasilitas ruang terbuka hijau (RTH) Lisiba yang Berdiri Sendiri adalah 15 m2
per jiwa dengan lokasi menyebar.
Standar perencanaan sarana Usiba yang Berdiri Sendiri untuk fasilitas olah raga dan
lapangan terbuka berupa Tempat Bermain dibangun untuk kebutuhan kelompok 50
Kepala Keluarga (KK).
Standar perencanaan sarana Lisiba yang Berdiri Sendiri untuk fasilitas olah raga dan
lapangan terbuka berupa Taman Bermain dibangun untuk kebutuhan kelompok 500
Kepala Keluarga (KK).
Standar perencanaan sarana Usiba yang Berdiri Sendiri untuk fasilitas olah raga dan
lapangan terbuka berupa Kesatuan Taman Bermain terdiri dari Taman Bermain,
Tempat Bermain dan Lapangan Olah Raga yang mengelompok dengan sekolah yang
dibangun untuk kebutuhan kelompok 6000 Kepala Keluarga (KK).
VIII. Prasarana Jalan
Pembangunan prasarana jalan di Kasiba harus memenuhi standar dimensi minimal ideal
prasarana jalan di Kawasan Perumahan yang terdiri dari :
Jalan Lokal Sekunder I harus memenuhi standar Lebar jalur ideal minimum untuk
jalan satu jalur dengan dua laj ur adalah 5, 5 - 6,0 meter agar mampu melayani lalu
I!MII!I27

IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
lintas dengan jumlah kendaraan relatif besar (800 - 2000 kendaraan/hari), dengan
lebar bahu antara 1,0 - 1,5 meter;
Jalan Lokal Sekunder II harus memenuhi standar Lebar badan jalan 4,5 - 5, 5 meter
agar mampu melayani lalu lintas dengan jumlah kendaraan relatif besar (200 - 800
kendaraan/hari) dengan lebar bahu jalan 0,75 - 1,0 meter;
Jalan Lokal Sekunder Ill harus memenuhi standar lebar badan jalan 4,0 - 5,5 meter
agar mampu melayani lalu lintas dengan jumlah kendaraan kurang dari 350
kendaraan/hari, dengan lebar bahu 0, 75- 1,0 meter;
Jalan Lingkungan I harus memenuhi standar lebar badan jalan 3,5 - 4 meter agar
mampu melayani lalu lintas dengan jumlah kendaraan kurang dari 350
kendaraan/hari dengan Lebar bahu 0,5 - 0,75 meter, yang dapat dilengkapi dengan
trotoar untuk pejalan kaki dan fasilitas orang cacat;
Jalan Lingkungan II harus memenuhi standar lebar badan jalan 3 - 3, 5 meter agar
mampu melayani lalu lintas dalam lingkungan perumahan dengan jumlah kendaraan
relatif sedikit (<350 kendaraan/hari), yang dilengkapi dengan lebar bahu 0,5 - 0,75
meter serta trotoar apabila diperlukan.
VIII. Prasarana Sa luran Pembuangan Air Hujan I Drainase
Pembangunan prasarana drainase di Kasiba harus memenuhi standar nilai koefisien
aliran saluran drainase di Kawasan Perumahan yang terdiri dari :
Rumah tinggal terpencar harus memenuhi standar koofisien pengaliran 0,30 - 0,50;
Komplek perumahan harus memenuhi standar koofisien pengaliran 0,40 - 0,60;
Permukiman (suburban) harus memenuhi standar koofisien pengaliran 0,25 - 0,40;
Apartemen harus memenuhi standar koefisien pengaliran 0,50 - 0, 90.
IX. Prasarana Saluran Pembuangan Air Limbah
Standar pengelolaan air limbah meliputi penanganan air limbah setempat dan
penanganan air limbah terpusat. Pembangunan pengelolaan air limbah setempat (on
s;te) di Kawasan Perumahan untuk Kasiba meliputi:
Jarak minimum tangki septik terhadap sumur air minum adalah 10 meter dengan
ukuran tangki.
Bidang resapan memenuhi ketentuan berikut :
./ Minimal perkolasi tanah 0,01 m/jam;
./ Lebar galian minimum 0,5 m dan dalam galian efektif minimum 0,45 m;
./ Jarak sumbu 2 jalur gal ian minimum 1,50 m;
./ Pipa resapan terbuat dari bahan tahan korosi dengan diameter minimum 110
em;
IIM1!!12s
~ ~ U i B F
- KABUPATEN 8UTON UTA RA
./ Bidang resapan dan pipa resapan dibuat miring 0,2%;
./ Dibawah pipa resapan harus diberi kerikil berdiameter 1,5 - 5 em dengan tebal
lapisan 10 em; dan diatas pipa resapan ditimbun dengan bahan yang sama
minimum 5 em.
Kapasitas Tangki Kompartemen meneukupi untuk 100 jiwa (20 KK);
Kapasitas tangki Truk Pengangkut Tinja mampu untuk melayani 5 KK;
lnstalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPL T) dapat melayani wilayah kawasan atau
perkotaan.
Pembangunan pengelolaan air limbah terpusat (off-site) di Kawasan Perumahan untuk
Kasiba dan Lisiba BS meliputi : untuk seluruh air limbah menggunakan pipa sewer,
flushing, Sistem Small Bore Seller.
&.3.3. Stalllar Slstem P81118dlllallr Mlm ISPIMJ
Sistem penyediaan air minum (SPAM) sebagai salah satu pemanfaatan sumber daya
air dan pengelolaan sanitasi sebagai salah satu bentuk perlindungan dan pelestarian
terhadap sumber daya air, perlu dilaksanakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah
Daerah seperti yang diamanatkan dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air.
Didalam penyelenggaraannya SPAM dilakukan seeara terpadu dengan Prasarana dan
Sarana Sanitasi guna melindungi air baku untuk penyediaan air minum rumah tangga.
Keterpaduan tersebut dimulai dari penyusunan kebijakan dan strategi serta tahapan-
tahapan penyelenggaraan yang meliputi tahapan pereneanaan, pelaksanaan konstruksi,
pengoperasian/pengelolaan, pemeliharaan dan rehabilitasi serta pemantauan dan evaluasi.
6.4. Cara Perencanaan Bidang Cipta Karva Dan Somber oava Air
8.4.1. Pereaanaan Penallllllan
Standard Nasional Indonesia tentang tata eara pereneanaan lingkungan perumahan di
perkotaan ini memuat uraian detail prinsip-prinsip pereneanaan lingkungan perumahan di
perkotaan. Standar Nasional Indonesia tata eara pereneanaan lingkungan perumahan di
perkotaan adalah panduan (dokumen nasional) yang berfungsi sebagai kerangka aeuan
untuk pereneanaan, peraneangan, penaksiran biaya dan kebutuhan ruang, serta
pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman.
1.4.11 hrsnntallasar hn ,.,. ...
Pembangunan perumahan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan
martabat, mutu kehidupan serta kesejahteraan umum sehingga perlu dikembangkan seeara
I!MIIII29

KABUPATEN 8UTON UTARA
terpadu, terarah, terencana serta berkelanjutan I berkesinambungan. Beberapa ketentuan
umum yang harus dipenuhi dalam merencanakan lingkungan perumahan di perkotaan
adalah:
1) lingkungan perumahan merupakan bagian dari kawasan perkotaan sehingga dalam
perencanaannya harus mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat
atau dokumen rencana lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah Kotal Kabupaten.
2) Untuk mengarahkan pengaturan pembangunan lingkungan perumahan yang sehat,
aman, serasi secara teratur, terarah serta berkelanjutan I berkesinambungan, harus
memenuhi persyaratan administrasi, teknis dan ekologis, setiap rencana pembangunan
rumah atau perumahan, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan usaha
perumahan.
3) Perencanaan lingkungan perumahan kota meliputi perencanaan sarana hunian,
prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum yang diperlukan untuk
menciptakan lingkungan perumahan perkotaan yang serasi, sehat, harmonis dan aman.
Pengaturan ini dimaksudkan untuk membentuk lingkungan perumahan sebagai satu
kesatuan fungsional dalam tata ruang fisik, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya.
4) Perencanaan pembangunan lingkungan perumahan harus dilaksanakan oleh kelompok
tenaga ahlinya yang dapat menjamin kelayakan teknis, yang keberadaannya diakui oleh
peraturan yang berlaku.
5) Penyediaan prasarana dan sarana lingkungan perumahan merupakan bagian dari sis tern
pelayanan umum perkotaan sehingga dalam perencanaannya harus dipadukan dengan
perencanaan lingkungan perumahan dan kawasan-kawasan fungsionallainnya.
6) Perencanaan pembangunan lingkungan perumahan harus menyediakan pusat-pusat
lingkungan yang menampung berbagai sektor kegiatan (ekonomi, sosial, budaya), dari
skala lingkungan terkedl (250 penduduk) hingga skala terbesar (120.000 penduduk),
yang ditempatkan dan ditata terintegrasi dengan pengembangan desain dan
perhitungan kebutuhan sarana dan prasarana lingkungan.
7) Pembangunan perumahan harus memenuhi persyaratan administrasi yang berkaitan
dengan perizinan pembangunan, perizinan layak huni dan sertifikasi tanah, yang diatur
oleh Pemerintah KotaiKabupaten setempat dengan berpedoman pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
8) Rancangan bangunan hunian, prasarana dan sarana lingkungan harus memenuhi
persyaratan teknis kesehatan dan keselamatan sesuai Standar Nasional Indonesia atau
ketentuan-ketentuan lain yang diatur dengan Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah
serta Pedoman Teknis yang disusun oleh instansi terkait.
I!MII!Iao
'
IIIII KABUPATEN BUTDN UTARA
9) Perencanaan lingkungan perumahan juga harus memberikan kemudahan bagi semua
orang, termasuk yang memiliki ketidakmampuan fisik atau mental seperti para
penyandang cacat, lansia, dan ibu hamil, penderita penyakit tertentu atas dasar
pemenuhan azas aksesibilitas (sesuai dengan Kepmen No. 4681 Thn. 1998), yaitu:
kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan
yang bersifat umum dalam suatu lingkungan;
kegunaan, yaitu setiap orang harus dapat mempergunakan semua tempat atau
bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan;
keselamatan, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan
terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang; dan
kemandirian, yaitu setiap orang harus dapat mencapai, masuk dan
mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu
lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
10) Dalam menentukan besaran standar untuk perencanaan lingkungan perumahan kota
yang meliputi perencanaan sarana hunian, prasarana dan sarana lingkungan,
menggunakan pendekatan besaran kepadatan penduduk.
11 ) Dalam merencanakan kebutuhan lahan untuk sarana lingkungan, didasarkan pada
beberapa ketentuan khusus, yaitu:
Besaran standar ini direncanakan untuk kawasan dengan kepadatan penduduk
<200 jiwalha;
Untuk mengatasi kesulitan mendapatkan lahan, beberapa sarana dapat dibangun
secara bergabung dalam satu lokasi atau bangunan dengan tidak mengurangi
kualitas lingkungan secara menyeluruh;
Untuk kawasan yang berkepadatan > 200 jiwal ha diberikan reduksi 15-30%
terhadap persyaratan kebutuhan lahan; dan
Perencanaan prasarana lingkungan, utilitas umum dan sarana lingkungan harus
direncanakan secara terpadu dengan mempertimbangkan keberadaan prasarana
dan sarana yang telah ada dengan tidak mengurangi kualitas dan kuantitas
secara menyeluruh.
12) Dalam menentukan besaran standar untuk perencanaan kawasan perumahan baru di
kota/new development area yang meliputi perencanaan sarana hunian, prasarana dan
sarana lingkungan, pengembangan desain dapat mempertimbangkan sistem blok I grup
bangunanl cluster untuk memudahkan dalam distribusi sarana lingkungan dan
manajemen sistem pengelolaan administratifnya. Apabila dengan sistem blok I grup
bangunanl cluster ternyata pemenuhan sarana hunian, prasarana dan sarana
w:m1!!1a1

- KABUPATEN 8UTON UTARA
lingkungan belum dapat terpenuhi sesuai besaran standar yang ditentukan, maka
pengembangan desain dapat mempertimbangkan sistem radius pelayanan bagi
penempatan sarana dan prasaran lingkungan, yaitu dengan kriteria pemenuhan
distribusi sarana dan prasarana lingkungan dengan memperhatikan kebutuhan
lingkungan sekitar terdekat.
13) Perencanaan lingkungan permukiman untuk hunian bertingkat (rumah susun) harus
mempertimbangkan sasaran pemakai yang dilihat dari tingkat pendapatan KK penghuni.
A. Persyaratan Penduduk
1. Data dasar lingkungan perumahan
./ 1 RT : terdiri dari 150- 250 jiwa penduduk
./ 1 RW : (2.500 jiwa penduduk) terdiri dari 8- 10 RT
./ 1 kelurahan : (30.000 jiwa penduduk) terdiri dari 10- 12 RW
./ 1 kecamatan : (120.000 jiwa penduduk) terdiri dari 4- 6 kelurahan
./ 1 kota : terdiri dari sekurang-kurangnya 1 kecamatan
2. Asumsi dasar lingkungan perumahan
./ Jumlah penghuni rumah rata-rata
./ Kecepatan rata-rata pejalan kaki
./ Jarak ideal jangkauan pejalan kaki
B. Persyaratan Fisik
: 5 jiwa
: 4.000 m I jam
: 400m
Ketentuan dasar fisik lingkungan perumahan harus memenuhi faktor-faktor berikut ini:
1) Ketinggian lahan tidak berada di bawah permukaan air setempat, kecuali dengan
rekayasa/ penyelesaian teknis.
2) Kemiringan lahan tidak melebihi 15% (lihat Tabel2) dengan ketentuan:
a. Tanpa rekayasa untuk kawasan yang terletak pada lahan bermorfologi datar-
landai dengan kemiringan 0-8%; dan
b. Diperlukan rekayasa teknis untuk lahan dengan kemiringan 8-15%.
Tabel 6. 13 Kesesuaian Penggunaan Lahan Berdasarkan Kemiringan Lereng
Peruntukan Lahan
Kelas Sudut Lereng
o-3 3-5 5-10 1Q-15 15-20 2Q-30 30-40
Jalan raya
Parkir
Taman bermain
Perdagangan
Drainase
Permukiman
Trotoar
Bidang resapan septik
Tanggaumum
Rekreasi
Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang toto cora perencanaan lingkungan perumahan di
perkotaan
If!,!,] tJ,f,! jn II
>40
w:m1111a2
lm]lewMiWiF'
IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
C. Persyaratan Lokast Perumahan
Secara umum lokasi lingkungan perumahan harus memenuhi ketentuan sebagat berikut:
1) Lokasi perumahan harus sesuai dengan rencana peruntukan lahan yang diatur dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat atau dokumen perencanaan lainnya
yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat, dengan kriteria sebagai
berikut:
./ Kriteria keamanan, dicapai dengan mempertimbangkan bahwa lokasi tersebut
bukan merupakan kawasan lindung (catchment area), olahan pertanian, hutan
produksi, daerah buangan limbah pabrik, daerah bebas bangunan pada area
Bandara, daerah dibawah jaringan listrik tegangan tinggi;
./ Kempunyai pencemaran udara di atas ambang batas, pencemaran air permukaan
dan air tanah dalam;
./ kriteria kenyamanan, dicapai dengan kemudahan pencapaian (aksesibilitas),
kemudahan berkomunikasi (internal/eksternal, langsung atau tidak langsung),
kemudahan berkegiatan (prasarana dan sarana lingkungan tersedia);
./ kriteria keindahan/keserasian/keteraturan (kompatibilitas), dicapai dengan
penghijauan, mempertahankan karakteristik topografi dan lingkungan yang ada,
misalnya tidak meratakan bukit, mengurug seluruh rawa atau
danau/setu/sungai/kali dan sebagainya;
./ kriteria fleksibilitas, dicapai dengan mempertimbangkan kemungkinan
pertumbuhan fisik/pemekaran lingkungan perumahan dikaitkan dengan kondisi
fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana;
./ kriteria keterjangkauan jarak, dicapai dengan mempertimbangkan jarak
pencapaian ideal kemampuan orang berjalan kaki sebagai pengguna lingkungan
terhadap penempatan sarana dan prasarana-utilitas lingkungan; dan
./ kriteria lingkungan berjati diri, dicapai dengan mempertimbangkan keterkaitan
dengan karakter sosial budaya masyarakat setempat, terutama aspek kontekstual
terhadap lingkungan tradisionalllokal setempat.
2) Lokasi perencanaan perumahan harus berada pada lahan yang jelas status
kepemilikannya, dan memenuhi persyaratan administratif, teknis dan ekologis.
3) Keterpaduan antara tatanan kegiatan dan a lam di sekelilingnya, dengan
mempertimbangkan jenis, masa tumbuh dan usia yang dicapai, serta pengaruhnya
terhadap lingkungan, bagi tumbuhan yang ada dan mungkin tumbuh di kawasan yang
dimaksud.
Selain persyaratan lokasi diatas diatas, terdapat pula persyaratan lainya,diantaranya :
11$1!!133

IIIII KABU PATEN B UTON UTARA
1. lokasi Perumahan tidak terganggu oleh polusi air, udara dan suara;
2. Dapat disediakan air bersih;
3. Adanya areal kengkinan untuk perkembangan pembangunannya;
4. Mempunyai aksesibilitas yang baik;
5. lokasinya tidak berada di bawah permukaan air setempat;
6. Selain itu dalam menentukan lokasi kawasan perumahan harus pula diperhatikan
segi-segi social .
Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia yang selain berfungsi sebagai tempat
berteduh dan melakukan kegiatan sehari-hari dalam keluarga, juga berperan besar dalam
pembentukan karakter keluarga. Sehingga selain harus memenuhi persyaratan teknis
kesehatan dan keamanan, rumah juga harus memberikan kenyamanan bagi penghuninya,
baik kenyamanan thermal maupun psikis sesuai kebutuhan penghuninya. Untuk
merencanakan bangunan rumah yang memenuhi persyaratan teknis kesehatan, keamanan
dan kenyamanan, data dan informasi yang perlu dipersiapkan:
1. Jumlah dan komposisi anggota keluarga;
2. Penghasilan keluarga;
3. Karakteristik nilai sosial budaya yang membentuk kegiatan berkeluarga dan
kemasyarakatan;
4. Kondisi topografi dan geografi area rencana sarana hunian;
5. Kondisi iklim; suhu, angin, kelembaban kawasan yang direncanakan;
6. Pertimbangan gangguan bencana alam;
7. Kondisi vegetasi eksisting dan sekitar; dan
8. Peraturan setempat, seperti rencana tata ruang yang meliputi GSB, KDB, KLB, dan
sejenisnya, atau peraturan bangunan secara spesifik, seperti aturan khusus
arsitektur, keselamatan dan bahan bangunan.
Didalam penggolongan hunian/perumahan, terdapat acuan yang berdasarkan beberapa
ketentuan I peraturan yang telah berlaku, berdasarkan tipe wujud fisik arsitektural
dibedakan atas :
1. Hunian Tidak Bertingkat
Hunian tidak bertingkat adalah bangunan rumah yang bagian huniannya berada
langsung di atas permukaan tanah, berupa rumah tunggal, rumah kopel dan rumah
deret. Bangunan rumah dapat bertingkat dengan kepemilikan dan dihuni pihak yang
sama.
llMI!!Ia4
2. Hunian Bertingkat
Hunian bertingkat adalah rumah susun (rusun) baik untuk golongan berpenghasilan
rendah (rumah susun sederhana sewa), golongan berpenghasilan menengah (rumah
susun sederhana) dan maupun golongan berpenghasilan atas (rumah susun mewah =
apartemen). Bangunan rumah bertingkat dengan kepemilikan dan dihuni pihak yang
berbeda dan terdapat ruang serta fasilitas bersama.
U.U. flrltlciiUI SIIIIIPI,...IIII
I. Sarana Pemerintahan dan Pelayanan Umum
Yang termasuk dalam sarana pemerintahan dan pelayanan umum adalah: kantor-
kantor pelayanan I administrasi pemerintahan dan administrasi kependudukan; kantor
pelayanan utilitas umum dan jasa; seperti layanan air bersih (PAM), listrik (PLN),
telepon, dan pos; serta pos-pos pelayanan keamanan dan keselamatan; seperti pos
keamanan dan pos pemadam kebakaran.
1. Kebutuhan lahan bagi saran a pada unit RW (2. 500 jiwa penduduk)
Balai pertemuan warga, luas lahan min.
Pos hansip, luas lahan min.
Gardu listrik, telepon umum, bis surat, luas lahan min.
Bak sampah kecil, luas lahan min.
Parkir umum luas lahan min. (standar satuan parkir =25m
2
)
=300m
2
=12m
2
=30m
2
=30m
2
=100m
2
Pada kasus tingkat RW, kebutuhan kantor administrasi warga menyesuaikan kondisi
masyarakat setempat dan sistem pengadaannya adalah swakelola warga. Balai
pertemuan yang disediakan tidak hanya melayani kegiatan administrasi I
kepemerintahan setempat, namun sekaligus sebagai penyediaan kebutuhan bagi
sarana kebudayaan dan rekreasi dan dipakai secara sating berintegrasi. Parkir umum
yang disediakan akan diintegrasikan dengan kebutuhan balai pertemuan warga.
2. Kebutuhan lahan bagi sarana pada unit Kelurahan (30.000 jiwa penduduk)
./ Kantor kelurahan luas lahan min. = 1.000 m2
./
Pos kamtib luas lahan min. =200m2
./
Pos pemadam kebakaran luas lahan min. =200m2
./
Agen pelayanan pos luas lahan min. =72m2
./
Loket pembayaran air bersih luas lahan min. =60m2
./ Loket pembayaran listrik, telepon umum, bis surat, luas lahan min.= 60m2
./ Bak sampah besar luas lahan min. = 60 m2
./ Parkir umum luas lahan min. (standar satuan parkir = 25 m2) = 500 m2
I!CIIII as

- KABUPATEN 8UTON UTARA
Gedung serba guna yang akan disediakan sebagai sarana kebudayaan dan rekreasi ini
dapat sekaligus melayani kebutuhan kegiatan administrasilkepemerintahan setempat,
kegiatan warga seperti; karang taruna, PKK, dan sebagainya. Kebutuhannya : balai
serba guna I balai karang taruna luas lahan min. 1.000 m
2
dengan luas lantai min. 500
m
2
Parkir umum yang disediakan akan diintegrasikan antara kebutuhan kantor
kelurahan dengan kebutuhan gedung serba guna I balai karang taruna ini.
3. Kebutuhan lahan bagi sarana pada unit Kecamatan (120.000 jiwa penduduk)
./ Kantor kecamatan luas lahan min. = 2.500 m2
./
Kantor polisi luas lahan min . = 1.000 m2
./
Pos pemadam kebakaran luas lahan min. = 1.000 m2
./
Kantor pos pembantu luas lahan min . =500m2
./
Stasiun telepon otomat dan agen pelayanan
./
Gangguan telepon luas lahan min . = 1.000 m2
./
Balai nikah I kua I bp4 luas lahan min . =750m2
./ Telepon umum, bis surat luas lahan min. =80m2
./ Parkir umum luas lahan min. (standar satuan parkir =25m2)= 2.000 m2
Gedung pertemuan I serba guna yang akan disediakan sebagai sarana kebudayaan dan
rekreasi ini dapat sekaligus melayani kebutuhan aktifitas administrasi I
kepemerintahan setempat ataupun warga. Kebutuhannya gedung pertemuan I serba
guna luas lahan min. 2.500 m
2
dengan luas lantai min. 1.500 m
2
Parkir umum yang
disediakan akan diintegrasikan antara kebutuhan kantor kecamatan dengan kebutuhan
gedung pertemuan I serba guna ini.
II. Sarana Pendidikan
Dasar penyediaan sarana pendidikan adalah untuk melayani setiap unit administrasi
pemerintahan baik yang informal (RT, RW) maupun yang formal (Kelurahan,
Kecamatan), dan bukan didasarkan semata-mata pada jumlah penduduk yang akan
dilayani oleh sarana tersebut.
Dasar penyediaan sarana pendidikan ini juga mempertimbangkan pendekatan desain
keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat
terkait dengan bentukan grup bangunanlblok yang nantinya terbentuk sesuai konteks
lingkungannya. Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan
mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar
sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu.
Perencanaan sarana pendidikan harus didasarkan pada tujuan pendidikan yang akan
dicapai , dimana sarana pendidikan dan pembelajaran ini akan menyediakan ruang
I:MII!Ia6
II
- KABUPATEN BUTON UTARA
belajar harus memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, serta sikap secara optimal. Oleh karena itu dalam merencanakan
sarana pendidikan harus memperhatikan:
1. Berapa jumlah anak yang memerlukan fasilitas ini pada area perencanaan;
2. Optimasi daya tampung dengan satu shift;
3. Effisiensi dan efektifitas kemungkinan pemakaian ruang belajar secara terpadu;
4. Pemakaian sarana dan prasarana pendukung;
5. Keserasian dan keselarasan dengan konteks setempat terutama dengan berbagai
jenis sarana lingkungan lainnya.
Sarana pendidikan yang diuraikan dibawah ini hanya menyangkut bidang pendidikan
yang bersifat formal I umum, yaitu meliputi tingkat prabelajar (Taman Kanak-kanak);
tingkat dasar (SO/MI); tingkat menengah (SLTP/MTs dan SMU).
Tabel6. 14 Kebutuhan Ruang Mtntmum
No Jenis Sarana Program Ruang
1 Taman Kanak- Memiliki minimum 2 ruang kelas @ 25-30 murid.
kanak
Oilengkapi dengan ruang-ruang lain dan ruang
terbukalbermain 700m2
2 Sekolah Oasar Memiliki minimum 6 ruang kelas@ 40 murid
3 SLTP Dilengkapi dengan ruang-ruang lain dan ruang terbuka
4 SMU
I bermain 3000-7000 m2
1. Taman Kanak-kanak
Taman kanak-kanak adalah sarana pendidikan paling dasar yang diperuntukan
anak-anak usia 5-6 tahun. TK terdiri dari 2 ruang kelas yang dapat menampung 25-
40 murid perkelas dan ruang-ruang perlengkapan lainnya. Lokasi sebaiknya
ditengah-tengah kelompok keluarga digabung dengan taman-taman tempat
bermain di lingkungan RT atau RW, dengan luas tanah yang dibutuhkan 700m
2

2. Sekolah Oasar
Sarana pendidikan ini adalah untuk anak-anak usia antara 6-12 tahun, terdiri dari 6
kelas yang masing-masing untuk 40 murid. Minimum penduduk yang mendukung
sarana ini adalah 1.600 penduduk. Lokasi sebaiknya tidak menyebrang jalan
lingkungan dan masih tetap ditengah-tengah kelompok keluarga.
3. SLTP
Sarana pendidikan ini untuk melayani anak-anak lulusan SO dimana menurut
persyaratan 3 SO dilayani oleh satu SLTP. Minimum penduduk yang mendukung ini
adalah 4.800 penduduk, lokasinya dapat digabung dengan lapangan olah raga atau

KABUPATEN BUTON UTARA
sarana-sarana pendidikan lainya.
lingkungan.
4. SMU
Lokasi SL TP tidak harus dipusat-pusat
Sarana pendidikan ini untuk melayani anak-anak lulusan SL TP dimana menurut
persyaratan 1 SLTP dilayani oleh satu SMU. Minimum penduduk yang mendukung
ini adalah 4.800 penduduk, lokasinya dapat digabung dengan lapangan olah raga
a tau sarana-sarana pendidikan lainya. Untuk SL TP dan SMU harus dilengapi dengan
laboratorium dan raungan kerja lainnya.
Ill. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan berfungsi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat
kesehatan masyarakat sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Dasar
penyediaan sarana ini adalah didasarkan jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana
tersebut.
Dasar penyediaan ini juga akan mempertimbangkan pendekatan desain keruangan
unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan
bentukan grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks lingkungannya.
Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan
radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk
melayani pada area tertentu. Beberapa jenis sarana yang dibutuhkan adalah sebagai
berikut:
1. Posyandu yang berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anak-anak
usia balita;
2. Balai pengobatan warga yang berfungsi memberikan pelayanan kepada
penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada
penyembuhan (currative) tanpa perawatan, berobat dan pada waktu-waktu
tertentu juga untuk vaksinasi;
3. Balai kesejahteraan ibu dan anak (BKIA) I klinik bersalin), yang berfungsi
melayani ibu baik sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani
anak usia sampai dengan 6 tahun;
4. Puskesmas dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai sarana pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk
dalam penyembuhan penyakit, selain melaksanakan program pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya;
1@11!138
lm]llfiWB!HtMWf"
mmlll KABUPATEN BUTON UTARA
5. Puskesmas pembantu dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai unit
pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas
dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang
lebih kecil;
6. Tempat praktek dokter, merupakan salah satu sarana yang memberikan
pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha
penyembuhan tanpa perawatan; dan
7. Apotik, berfungsi untuk melayani penduduk dalam pengadaan obat-obatan, baik
untuk penyembuhan maupun pencegahan.
IV. Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan merupakan sarana kehidupan untuk mengisi kebutuhan rohani
yang perlu disediakan di lingkungan perumahan yang direncanakan selain sesuai
peraturan yang ditetapkan, juga sesuai dengan keputusan masyarakat yang
bersangkutan. Oleh karena berbagai macam agama dan kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat penghuni yang bersangkutan, maka kepastian tentang jenis dan jumlah
fasilitas peribadatan yang akan dibangun baru dapat dipastikan setelah lingkungan
perumahan dihuni selama beberapa waktu. Pendekatan perencanaan yang diatur
adalah dengan memperkirakan populasi dan jenis agama serta kepercayaan dan
kemudian merencanakan alokasi tanah dan lokasi bangunan peribadatan sesuai
dengan tuntutan planologis dan religius.
Dasar penyediaan ini juga akan mempertimbangkan pendekatan desain keruangan
unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Hal ini dapat terkait dengan bentukan
grup bangunan I blok yang nantinya lahir sesuai konteks lingkungannya. Penempatan
penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan radius area layanan
terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani area
tertentu.
Jenis sarana peribadatan sangat tergantung pada kondisi setempat dengan
memperhatikan struktur penduduk menurut agama yang dianut, dan tata cara atau
pola masyarakat setempat dalam menjalankan ibadah agamanya. Adapun jenis sarana
ibadah untuk agama Islam, direncanakan sebagai berikut:
1. Kelompok penduduk 250 jiwa, diperlukan musholla/langgar;
2. Kelompok penduduk 2.500 jiwa, disediakan masjid;
3. Kelompok penduduk 30.000 jiwa, disediakan masjid kelurahan; dan
4. Kelompok penduduk 120.000 jiwa, disediakan masjid kecamatan.
liM I! !lag
,,
- KABUPATEN 8UTON UTARA
5. Untuk sarana ibadah agama lain, direncanakan sebagai berikut:
./ Katolik mengikuti paroki;
./ Hindu mengikuti adat; dan
./ Budha dan kristen protestan mengikuti sistem kekerabatan atau hirarki
lembaga.
Kebutuhan ruang dan lahan untuk sarana ibadah agama Islam dan Kristen Protestan
dan Katolik, kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1,2 m2/jemaah,
termasuk ruang ibadah, ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. Untuk sarana
ibadah agama Islam, luas lahan minimal direncanakan sebagai berikut :
./ Musholla/langgar dengan luas lahan minimal45 m2;
./ Mesjid dengan luas lahan minimal 300m2;
./ Mesjid kelurahan dengan luas lahan minimal1.800 m2;
./ Mesjid kecamatan dengan luas lahan minimal 3.600 m2;
Untuk agama lain, kebutuhan ruang dan lahan disesuaikan dengan kebiasaan penganut
agama setempat dalam melakukan ibadah agamanya.
V. Sarana Perdagangan dan Niaga
Sarana perdagangan dan niaga ini tidak selalu berdiri sendiri dan terpisah dengan
bangunan sarana yang lain. Dasar penyediaan selain berdasarkan jumlah penduduk
yang akan dilayaninya, juga mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-
unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan
bentukan grup bangunan I blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks
lingkungannya. Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan
mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar
sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu. Menurut skala
pelayanan, penggolongan jenis sarana perdagangan dan niaga adalah:
1. Toko/warung (skala pelayanan unit RT = 250 penduduk), yang menjual barang-
barang kebutuhan sehari-hari;
2. Pertokoan (skala pelayanan 6.000 penduduk), yang menjual barang-barang
kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap dan pelayanan jasa seperti wartel,
fotocopy, dan sebagainya;
3. Pusat pertokoan dan atau pasar lingkungan (skala pelayanan unit kelurahan ::::
30.000 penduduk), yang menjual keperluan sehari-hari termasuk sayur, daging,
ikan, buah-buahan, beras, tepung, bahan-bahan pakaian, pakaian, barang-barang
I!QIIII4o

- KABUPATEN 8UTON UTARA
kelontong, alat-alat pendidikan, alat-alat rumah tangga, serta pelayanan jasa
seperti warnet, wartel dan sebagainya;
4. Pusat perbelanjaan dan niaga (skala pelayanan unit kecamatan = 120.000
penduduk), yang selain menjual kebutuhan sehari-hari, pakaian, barang
kelontong, elektronik, juga untuk pelayanan jasa perbengkelan, reparasi, unit-
unit produksi yang tidak menimbulkan polusi, tempat hiburan serta kegiatan
niaga lainnya seperti kantor-kantor, bank, industri kecil dan lain-lain.
Kebutuhan ruang dan lahan untuk sarana ini akan berkaitan juga dengan daya dukung
lingkungan dan jalan yang ada di sekitar bangunan sarana tersebut. Besaran
kebutuhan ruang dan lahan menurut penggolongan jenis sarana perdagangan dan
niaga adalah:
1. Warung I Toko, luas lantai yang dibutuhkan 50 m
2
termasuk gudang kecil .
Apabila merupakan bangunan tersendiri (tidak bersatu dengan rumah tinggal),
luas tanah yang dibutuhkan adalah 100 m
2

2. Pertokoan (skala pelayanan untuk 6.000 penduduk). Luas lantai yang dibutuhkan
1.200 m2. Sedangkan luas tanah yang dibutuhkan 3.000 m2 . Bangunan pertokoan
ini harus dilengkapi dengan:
./ Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain
pada pusat lingkungan;
./ Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan kegiatan warga;
./ Pos keamanan.
3. Pusat pertokoan dan atau pasar lingkungan (skala pelayanan unit kelurahan =
30.000 penduduk). Luas tanah yang dibutuhkan : 10.000 m2. Bangunan pusat
pertokoan I pasar lingkungan ini harus dilengkapi dengan:
./ Tempat parkir umum, sudah termasuk kebutuhan luas tanah;
./ Terminal kecil atau pangkalan untuk pemberhentian kendaraan;
./ Pos keamanan;
./ Sistem pemadam kebakaran;
./ Mushollaltempat ibadah.
4. Pusat perbelanjaan dan niaga (skala pelayanan unit kelurahan = 120.000
penduduk). Luas tanah yang dibutuhkan adalah 36.000 m2. Bangunan pusat
perbelanjaan harus dilengkapi:
./ Tempat parkir umum, sudah termasuk kebutuhan luas tanah;
./ Terminal atau pangkalan untuk pemberhentian kendaraan;
./ Pos keamanan;
I!CIIII41

IIIII KABUPATEN BUTDN UTARA
./ Sistem pemadam kebakaran;
./ Musholla/tempat ibadah.
VI. Sarana Kebudayaan dan Rekreasi
Sarana kebudayaan dan rekreasi merupakan bangunan yang dipergunakan untuk
mewadahi berbagai kegiatan kebudayaan dan atau rekreasi, seperti gedung
pertemuan, gedung serba guna, bioskop, gedung kesenian, dan lain-lain. Bangunan
dapat sekaligus berfungsi sebagai bangunan sarana pemerintahan dan pelayanan
umum, sehingga penggunaan dan pengelolaan bangunan ini dapat berintegrasi
menurut kepentingannya pada waktu-waktu yang berbeda. Penetapan jenis/macam
sarana kebudayaan dan rekreasi pada suatu daerah sangat tergantung pada kondisi
setempat area tersebut, yaitu menyangkut faktor-faktor:
1. Tata kehidupan penduduknya;
2. Struktur sosial penduduknya.
Menurut lingkup pelayanannya, jenis sarana kebudayaan dan rekreasi meliputi:
1. Balai warga/balai pertemuan (skala pelayanan unit RW = 2.500 penduduk);
2. Balai serbaguna (skala pelayanan unit Kelurahan = 30.000 penduduk);
3. Gedung pertemuan/gedung serbaguna (skala pelayanan unit kecamatan = 120.000
penduduk);
4. Bioskop (skala pelayanan unit kecamatan = 120.000 penduduk).
VII. Sarana Ruang Terbuka, Taman dan Lapangan Olah Raga
Ruang terbuka merupakan komponen berwawasan lingkungan, yang mempunyai arti
sebagai suatu lansekap, hardscape, taman atau ruang rekreasi dalam lingkup urban.
Peran dan fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) ditetapkan dalam lnstruksi Mendagri no.
4 tahun 1988, yang menyatakan "Ruang terbuka hijau yang populasinya didominasi
oleh penghijauan baik secara alamiah atau budidaya tanaman, dalam pemanfataan
dan fungsinya adalah sebagai areal berlangsungnya fungsi ekologis dan penyangga
kehidupan wilayah perkotaan.
Penggolongan sarana ruang terbuka hijau di lingkungan perumahan berdasarkan
kapasitas pelayanannya terhadap sejumlah penduduk. Keseluruhan jenis ruang
terbuka hijau tersebut adalah :
1. Setiap unit RT = kawasan berpenduduk 250 jiwa dibutuhkan minimal 1 untuk taman
yang dapat memberikan kesegaran pada kota, baik udara segar maupun cahaya
matahari, sekaligus tempat bermain anak-anak;
2. Setiap unit RW = kawasan berpenduduk 2.500 jiwa diperlukan sekurang-kurangnya
satu daerah terbuka berupa taman, di samping daerah-daerah terbuka yang telah
lfHullHi,j1nfj
I!MIIII42
ada pada tiap kelompok 250 penduduk sebaiknya, yang berfungsi sebagai taman
tempat main anak-anak dan lapangan olah raga kegiatan olah raga;
3. Setiap unit Kelurahan = kawasan berpenduduk 30.000 jiwa diperlukan taman dan
lapangan olahraga untuk melayani kebutuhan kegiatan penduduk di area terbuka,
seperti pertandingan olah raga, upacara serta kegiatan lainnya;
4. Setiap unit Kecamatan = kawasan berpenduduk 120.000 jiwa, harus memiliki
sekurang-kurangnya 1 (satu) lapangan hijau terbuka yang berfungsi sebagai tempat
pertandingan olah raga (tenis lapangan, bola basket dan lain-lain), upacara serta
kegiatan lainnya yang membutuhkan tempat yang luas dan terbuka;
5. Setiap unit Kecamatan = kawasan berpenduduk 120.000 jiwa, harus memiliki
sekurang-kurangnya 1 (satu) ruang terbuka yang berfungsi sebagai
kuburan/pemakaman umum; dan
6. Selain taman dan lapangan olah raga terbuka, harus disediakan jalur-jalur hijau
sebagai cadangan/sumber-sumber alam, sekaligus berfungsi sebagai filter dari
polusi yang dihasilkan oleh industri, dengan lokasi menyebar.
7. Diperlukan penyediaan jalur hijau sebagai jalur pengaman lintasan kereta api, dan
jalur pengaman bagi penempatan utilitas kota, dengan lokasi menyebar;
8. Pada kasus tertentu, mengembangkan pemanfaatan bantaran sungai sebagai ruang
terbuka hijau atau ruang interaksi sosial (river walk) dan olahraga.
6.4.1.4. PlfiiCIU.PnslriiiPinlllll
I. Prasarana Jaringan Jalan
Jenis prasarana dan utilitas pada jaringan jalan yang harus disediakan ditetapkan
menurut klasifikasi jalan perumahan yang disusun berdasarkan hirarki jalan, fungsi
jalan dan kelas kawasan/lingkungan perumahan (lihat Tabel dan Gambar dibawah).
Penjelasan dalam tabel ini sekaligus menjelaskan keterkaitan jaringan prasarana
utilitas lain, yaitu drainase, sebagai unsur yang akan terkait dalam perencanaan
jaringan jalan ini.
Jalan perumahan yang baik harus dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi
pergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda dan pengendara kendaraan bermotor.
Selain itu harus didukung pula oleh ketersediaan prasarana pendukung jalan, seperti
perkerasan jalan, trotoar, drainase, lansekap, rambu lalu lintas, parkir dan lain-lain.
11011!143
- , -, I
I I . I I ,. I'
+--' ,r / , ....,. l4r
o.. na.. j/ / .....
__ / l J.Vlalullnta
1
, Damaja
Dawasja -l, i
1
1 i Damija
Gambar 6. 2 Deskrlpst Bagfan-Bagtan Darf Jalan
P51! 1.50 : 2.00 1
LOKAI. SEKUNDER I I horoAR BAHU JALAN I
7.00
PERKERASAN
1 2.00 : 1.50
l sAHu JALAN! TROTOAA I
I
A- Dawasja
_. ,
,j
"
[ >,
,j
II IJ
LOKAL SI!KUNDER II P.5cl 1.50 : 1.51 I 1 1.50 : 1.50

PERKERASAN
I tROTOAR I jl
II

II I
LOKAI. SI!KUNDER Ill p..!<j uo 1.10 1.20 p.51j

UNGKUNGAN I ,.... LINGKUNGAN II ,_..
I Pli>CEAASNI I:'J I I =-r:'4 I
Gambar 6. 3 Prototife Klasifikasi Jalan Di Ungkungan Perumahan
Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan drainase sesuai ketentuan dan
persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan/ perundangan yang telah berlaku,
terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan drainase lingkungan
perumahan di perkotaan. Jaringan drainase adalah prasarana yang berfungsi
I!MIIII44

- KABUPATEN 8UTON UTARA
mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan
buatan, yang harus disediakan pada lingkungan perumahan. Bagian dari jaringan
drainase adalah :
Tabel 6. 15 Bagian Jarlngan Drainase
Sarana Prasarana
Badan penerima air Sumber air di permukaan tanah (laut, sungai,
danau)
Sumber air di bawah permukaan tanah (air
tanah akifer)
Bangunan pelengkap Gorong-gorong
Pertemuan saluran
Bangunan terjunan
Jembatan
Street inlet
Pompa
Pintu Air
II. Prasarana Jaringan Air Bersih
Secara umum, setiap rumah harus dapat dilayani air bersih yang memenuhi persyaratan
untuk keperluan rumah tangga. Untuk itu, lingkungan perumahan harus dilengkapi
jaringan air limbah sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam
peraturan/ perundangan yang telah berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan
umum jaringan air bersih lingkungan perumahan di perkotaan. Beberapa ketentuan
yang terkait adalah : Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan air bersih yang
harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah:
1. Kebutuhan air bersih;
2. Jaringan air bersih;
3. Kran umum; dan
4. Hidran kebakaran
Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pemenuhan
prasarna air bersih ini diantaranya :
1. Penyediaan kebutuhan air bersih
./ Lingkungan perumahan harus mendapat air bersih yang cukup dari perusahaan
air minum atau sumber lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
./ Apabila telah tersedia sistem penyediaan air bersih kota atau sistem penyediaan
air bersih lingkungan, maka tiap rumah berhak mendapat sambungan rumah
atau sambungan halaman.
2. Penyediaan jaringan air bersih
./ Harus tersedia jaringan kota atau lingkungan sampai dengan sambungan rumah;
t:MIIII45
il
- KABUPATEN BUTON UTARA
./ Pipa yang ditanam dalam tanah menggunakan pipa PVC, GIP atau fiber glass;
dan
./ Pipa yang dipasang di atas tanah tanpa perlindungan menggunakan GIP.
3. Penyediaan kran umum
./ Satu kran umum disediakan untuk jumlah pemakai 250 jiwa;
./ Radius pelayanan maksimum 100 meter;
./ Kapasitas minimum untuk kran umum adalah 30 liter/orang/hari; dan
4. Penyediaan hidran kebakaran
./ Untuk daerah komersial jarak an tara kran kebakaran 1 00 meter;
./ Untuk daerah perumahan jarak antara kran maksimum 200 meter;
./ Jarak dengan tepi jalan minimum 3.00 meter;
./ Apabila tidak dimungkinkan membuat kran diharuskan membuat sumur-sumur
kebakaran.
Ill. Prasarana Jaringan Air Limbah
Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan air limbah sesuai ketentuan dan
persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan I perundangan yang telah berlaku,
terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan air limbah lingkungan
perumahan di perkotaan. Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan air limbah
yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah:
1. Septik tank;
2. Bidang resapan; dan
3. Jaringan pemipaan air limbah.
Lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah yang
memenuhi ketentuan perencanaan plambing yang berlaku. Apabila kemungkinan
membuat tangki septik tidak ada, maka lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan
sistem pembuangan air limbah lingkungan atau harus dapat disambung pada sistem
pembuangan air limbah kota atau dengan cara pengolahan lain. Apabila tidak
memungkinkan untuk membuat bidang resapan pada setiap rumah, maka harus dibuat
bidang resapan bersama yang dapat melayani beberapa rumah.
IV. Prasarana Pengelolaan sampahan
Pengelolaan sampah saat ini hanya menggunakan single method, yaitu sampah
sepenuhnya dibuang ke TPA. Sehingga jika ada masalah dengan TPA maka seluruh
sistem pengelolaan sampah menjadi macet. Untuk mencegah kebuntuan sistem
pengelolaan sampah, perlu dikembangkan metode-metode lain. Salah satu metode yang
I:MIIII46

BUTON UTARA
sangat feasible dikembangkan adalah implementasi prinsip reduce, reuse, dan recycle
serta partisipasi (3R+ lP) dalam penanganan sampah. Dari hasil uji coba terbukti bahwa
impfementasi 3R+ lR mampu mengelola sampah lebih efektif, efisein, dan yang paling
penting, sangat ramah lingkungan. Hasil uji coba juga membuktikan, implementasi
3R+1P dapat mengolah sampah 2D-30% dan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA
sekitar 30%.
Impfementasi 3R+ lP dapat menjadi tools optimalisasi pemanfaatan sampah sehingga
sampah memiliki nilai ekonomis dan dapat membuka lapangan pekerjaan. Tahapan
penting dalam pelaksanaan Program Implementasi 3R+1P adalah kegiatan mapping
pengelolaan sampah perkotaan. Kegiatan mapping bertujuan untuk mengidentifikasi data
dan informasi awal yang akan menjadi dasar pelaksanaan Program Implementasi 3R+ lP
di suatu kota. Kegiatan mapping wajib dilaksanakan karena dari hasil mapping tersebut
kemudian disusun rencana aksi dan design Implementasi 3R+ lP Skala Kota yang paling
pas dengan kondisi kota yang bersangkutan. Mengingat kegiatan mapping tersebut
sangat penting dan mendasar, maka perlu disusun Panduan Kegiatan Mapping
Implementasi 3R+ lP Sampah Perkotaan.
-
AWiir5ifft
PASAR
.La.
KOUERSUI.
PRtcMIOftM
+
JAUN
USI.JTAS Ulol.IW

Tnt<k
Rfloida Kompos
--L--------------------------------------------/
c: ,.__PEUGAtJGKUTAII
ar.rtlt.\IEOI.\1 11<1.\1\U'O

11'\rl:'ll R,\1 OR'WI I l"'\1 T
KOMPOSPL Pt ). ORC..\.'4K
Gambar 6. 4 Sistem Persampahan Baru di Kota Metropolis

PfRHlT'l.'\1
1!011!147
~ ~ u w w t w w ,
IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
Gambar 6. 5 lmplementasi konsep reduce, reuse, dan recycle (3R) sampah di perkotaan
t
Gambar 6. 6 Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah
Persampahan merupakan isu penting di lingkungan perkotaan yang terus menerus
dihadapi sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas
pembangunan. Peningkatan volume sampah bersifat ekospenensial belum dibarengi
dengan peningkatan tingkat pelayanan Pemerintah Daerah yang sepadan untuk
pengelolaan sampah kota. Hal lain disebabkan karena semakin sulit dan mahalnya untuk
mendapatkan lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS), juga letaknya yang
1!$1!!148

IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
semakin jauh, makin memperpanjang jarak transportasi dan meningkatkan biaya
pengangkutannya.
Sampah yang tidak terkelola dengan baik merupakan salah satu penyebab makin
meningkatnya pencemaran air, tanah dan udara serta meningkatnya potensi banjir di
perkotaan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melalui reduksi sampah rumah
tangga menggunakan komposter sebagai prasarana pengomposan. Hal ini sesuai
diterapan mengingat komposisi sampah rumah tangga di Indonesia secara umum sekitar
60 % nya didominasi oleh sampah organik. Tata cara pemasangan dan pengoperasian
komposter rumah tangga dimaksudkan sebagai pegangan bagi pengelola persampahan
dan masyarakat untuk melakukan pengomposan sampah menggunakan komposter
rumah tangga individual atau komunal. Tujuannya agar pemasangan dan pengoperasian
komposter dilakukan dengan tepat, untuk mereduksi sampah rumah tangga dan
menghasilkan kualitas kompos yang baik.
Model Komposter Sampah Organik Skala Rumah Tangga TATA CARA PENGOMPOSAN SEDERHANA
:1tkernb&ngkan PUS LIT BANG PER\1Uf(IMAN
le.,.a oroses r.khuSus 3 ou111n. 1.25 OC).
3


5
Tamb.Jhi.Jn ar !l!flalu
ao .. stt4;l 2 j Jfl
A;>dbla i uraf19 Jdtii
k!mbJll
6
1: 30 "!" lor-;<1s d
j,ang S.!r";JI ke g
Gambar 6. 7 Pengelolaan Sampah dengan Metode Komposter Skala Rumah Tangga
1!$1!!149
100 , .. .-
sro .. M
TAMPAK AlAS
6
0
Gambar 6. 8 Teknologi Komposter skala rumah tangga
Pengelolaan sampah di sumber seperti rumah, restoran, toko, sekolah, perkantoran dan
lainnya dilakukan sebagai berikut :
sediakan wadah sampah minimal 2 buah per rumah untuk wadah sampah organik dan
anorganik;
Tempatkan wadah sampah anorganik di halaman bangunan
Pilah sampah sesuai jenis sampah . Sampah organik dan anorganik masukan langsung
ke masing-masing wadahnya;
Pasang minimal 2 buah alat pengomposan rumah tangga pada setiap bangunan yang
lahannya mencukupi;
masukan sampah organik dapur ke dalam alat pengomposan rumah tangga individual
atau komunal ;
Tempatkan wadah sampah organik dan anorganik di halaman bangunan bagi sistem
pengomposan skala lingkungan.
I!MII!I5o

KABUPATEN 8UTON UTARA
Gambar 6. 9 Teknologf Komposter skala RW/Kelurahan
MODEL UNIT PENGOLAHAN KOMPOS SKALA KAWASAN
Gambar 6. 10 Teknologi Komposter skala kawasan
V. Prasarana Jaringan Listrik
Lingkungan perumahan harus dilengkapi perencanaan penyediaan jaringan listrik sesuai
ketentuan dan persyaratan teknis yang mengacu pada standar nasional Indonesia.
I!MIIII51

- KABUPATEN 8UTON UTARA
Pemasangan seluruh instalasi di dalam lingkungan perumahan ataupun dalam bangunan
hunian juga harus direncanakan secara terintegrasi dengan berdasarkan peraturan-
peraturan dan persyaratan tambahan yang berlaku, seperti:
1. Peraturan Umum lnstalasi Listrik (PUll);
2. Peraturan yang berlaku di PLN wilayah setempat; dan
3. Peraturan-peraturan lain yang masih juga dipakai seperti antara lain AVE.
Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan listrik yang harus disediakan pada
lingkungan perumahan di perkotaan diantaranya kebutuhan daya listrik; dan jaringan
listrik.
Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pemenuhan
kebutuhan energy listrik adalah:
1. Penyediaan kebutuhan daya listrik
../ Setiap lingkungan perumahan harus mendapatkan daya listrik dari PLN atau dari
sumber lain; dan
../ Setiap unit rumah tangga harus dapat dilayani daya listrik minimum 450 VA per
jiwa dan untuk sarana lingkungan sebesar 40% dari total kebutuhan rumah tangga.
2. Penyediaan jaringan listrik
../ Disediakan jaringan listrik lingkungan dengan mengikuti hirarki pelayanan,
dimana besar pasokannya telah diprediksikan berdasarkan jumlah unit hunian
yang mengisi blok siap bangun;
../ Disediakan tiang listrik sebagai penerangan jalan yang ditempatkan pada area
damija (daerah milik jalan) pada sisi jalur hijau yang tidak menghalangi sirkulasi
pejalan kaki di trotoar;
../ Disediakan gardu listrik untuk setiap 200 KVA daya listrik yang ditempatkan pada
lahan yang bebas dari kegiatan umum;
../ Adapun penerangan jalan dengan memiliki kuat penerangan 500 lux dengan tinggi
> 5 meter dari muka tanah;
../ Sedangkan untuk daerah di bawah tegangan tinggi sebaiknya tidak dimanfaatkan
untuk tempat tinggal atau kegiatan lain yang bersifat permanen karena akan
membahayakan keselamatan;
VI. Prasarana Jaringan Telepon
Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan telepon sesuai ketentuan dan
persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan I perundangan yang telah berlaku,
terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan telepon lingkungan
perumahan di perkotaan. Jenis prasarana dan utilitas jaringan telepon yang harus
I f!tf,] ii IJ,! 1 ti fj
I!MIIII52

- KABUPATEN 8UTON UTARA
disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah kebutuhan sambungan
telepon; dan jaringan telepon. Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang
harus dipenuhi adalah :
1. Penyediaan Kebutuhan Sambungan T elepon
./ Tiap lingkungan rumah perlu dilayani sambungan telepon rumah dan telepon
umum sejumlah 0, 13 sambungan telepon rumah per jiwa atau dengan
menggunakan asumsi berdasarkan tipe rumah sebagai berikut :
- R-1, rumah tangga berpenghasilan tinggi : 2-3 sambungan/rumah
- R-2, rumah tangga berpenghasilan menengah: 1-2 sambungan/rumah
- R-3, rumah tangga berpenghasilan rendah: 0-1 sambungan/rumah
./ Dibutuhkan sekurang-kurangnya 1 sambungan telepon umum untuk setiap 250
jiwa penduduk (unit RT) yang ditempatkan pada pusat-pusat kegiatan
lingkungan RT tersebut;
./ Ketersediaan antar sambungan telepon umum ini harus memiliki jarak radius
bagi pejalan kaki yaitu 200 - 400 m;
./ Penempatan pesawat telepon umum diutamakan di area-area publik seperti
ruang terbuka umum, pusat lingkungan, ataupun berdekatan dengan bangunan
sarana lingkungan; dan
./ Penempatan pesawat telepon harus terlindungi terhadap cuaca (hujan dan
panas matahari) yang dapat diintegrasikan dengan kebutuhan kenyamanan
pemakai telepon umum tersebut.
2. Penyediaan Jaringan Telepon
./ Tiap lingkungan rumah perlu dilayani jaringan telepon lingkungan dan jaringan
telepon ke hunian;
./ Jaringan telepon ini dapat diintegrasikan dengan jaringan pergerakan (jaringan
jalan) dan jaringan prasarana I utilitas lain;
./ Tiang listrik yang ditempatkan pada area Damija (=daerah milik jalan, lihat
Gambar 1 mengenai bagian-bagian pada jalan) pada sisi jalur hijau yang tidak
menghalangi sirkulasi pejalan kaki di trotoar; dan
./ Stasiun telepon otomat (STO) untuk setiap 3.000 - 10.000 sambungan dengan
radius pelayanan 3 - 5 km dihitung dari copper center, yang berfungsi sebagai
pusat pengendali jaringan dan tempat pengaduan pelanggan.
liM II II 53

- KABUPATEN 8UTON UTARA
I.U.t PIIIIUIII.Ibslllsa.l HI USI.I Jill llnllll Sl .. rt
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan dalam Permenpera No.31 Tahun 2006 terdapat
acuan didalam penetapan lokasi Kasiba, diantaranya Pemerintah Daerah perlu melakukan
kegiatan sebagai berikut :
a. Melakukan kajian pertumbuhan penduduk baik secara alamiah maupun migrasi
dengan data statistic;
b. Melakukan kajian tentang kebutuhan rumah dan perumahan berdasarkan RP4D;
c. Melakukan kajian tata ruang berdasarkan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah
Daerah, persiapan RTBL;
d. Memilih beberapa alternatif eaton lokasi Kasiba dengan mempertimbangkan strategi
pengembangan Kabupaten/Kota;
e. Mengadakan kunjungan ke lapangan beberapa eaton lokasi Kasiba untuk mengetahui
kondisi yang ada untuk mengetahui kemungkinan pengembangan permukiman,
termasuk didalamnya pengembangan prasarana, status kepemilikan tanah;
f. Mengadakan dengar pendapat dengan masyarakat yang terkait langsung dengan
Kasiba dan atau lembaga kemasyarakatan yang peduli dengan pembangunan
perumahan;
g. Memberikan informasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengenai
perkembangan penetapan lokasi Kasiba;
h. Menentukan urutan prioritas calon-calon lokasi Kasiba;
i. Setelah mendapat masukan dari masyarakat, menentukan lokasi Kasiba dengan
keputusan Kepala Daerah.
Juklak Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun menetapkan persyaratan dan
kriteria dalam pemilihan lokasi Kasiba, berikut adalah persyaratan dalam pemilihan lokasi
Kasiba:
a. Kasiba dapat ditetapkan di lokasi yang belum terbangun maupun yang sudah ada
permukimannya, tetapi kurang tertata dengan baik yang masih mempunyai peluang
untuk pengembangan perumahan baru, sehingga permukiman yang akan terbentuk
merupakan integrasi antara pembangunan yang baru dan yang sudah ada.
b. Dalam hal lokasi Kasiba yang akan ditetapkan masih terdapat tanah - tanah
berfungsi khusus seperti pertanian beririgasi teknis, situ dan fungsi konservasi lain,
maka hal tersebut harus dipertahankan sesuai dengan fungsinya.
Sedangkan kriteria dalam pemilihan Lokasi Kasiba diantaranya :
a. Bebas bencana
I!MI!!Is4
,,
- KABUPATEN 8UTON UTARA
b. Tidak merusak lingkungan
c. Mudah dalam penyediaan infrastruktur
d. Mudah membentuk kohesi social
Dalam Permenpera No. 31 tahun 2006 juga dasar dalam penetapan lokasi
lisiba yang Berdiri Sendiri, seperti halnya dalam penetapan lokasi Kasiba. Pemerintah
Daerah perlu melakukan kegiatan sebagai berikut :
a. Melakukan kajian pertumbuhan penduduk baik secara alamiah maupun migrasi
dengan data statistik;
c. Melakukan kajian tentang kebutuhan rumah dan perumahan berdasarkan RP4D;
d. Melakukan kajian tata ruang berdasarkan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah
Daerah dan RTBL;
e. Memilih beberapa alternatif calon lokasi lisiba yang Berdiri Sendiri dengan
mempertimbangkan strategi pengembangan Kabupaten/Kota;
f. Mengadakan kunjungan ke lapangan beberapa calon lokasi lisiba yang Berdiri
Sendiri untuk mengetahui kondisi yang ada untuk mengetahui kemungkinan
pengembangan permukiman, termasuk di dalamnya pengembangan prasarana,
status kepemilikan tanah;
g. Mengadakan dengar pendapat dengan masyarakat yang terkait langsung dengan
Kasiba dan atau lembaga kemasyarakatan yang peduli dengan pembangunan
perumahan;
h. Menentukan urutan prioritas eaton lokasi lisiba yang Berdiri Sendiri;
i. Setelah mend a pat masukan dari masyarakat, menentukan lokasi lisiba yang Berdiri
Sendiri dengan Keputusan Kepala Daerah.
8.4.2.2. Plmat'llllllbslbslh .. US.IJIII ..... SIHIIt
Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No.32 Tahun 2006 tentang Petunjuk Teknis
Kawasan Siap Bangun Dan lingkungan Siap Bangun Yang Berdiri Sendiri. lsi dari peraturan
ini merupakan panduan penyelenggaraan pengelolaan Kasiba, lisiba dan lisiba yang Berdiri
Sendiri yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah, bersama dengan Badan Pengelola Kasiba,
Penyelenggara lisiba, dan Penyelenggara Lisiba yang Berdiri Sendiri. Dalam Peraturan
Menteri Perumahan Rakyat No.32 Tahun 2006 juga terdapat syarat dan kriteria didalam
pemilihan lokasi Kasiba, berikut adalah persyaratan lokasi Kasiba :
a. Kajian pertumbuhan penduduk baik yang alamiah maupun migrasi mengacu pada
data Badan Pusat Statistik (BPS) .
I!MIIII55
b. Kebutuhan rumah dapat didekati dengan melihat selisih antara jumlah rumah yang
ada dengan jumlah Kepala Keluarga yang ada.
c. Lokasi Kasiba harus berada pada kawasan permukiman menurut rencana tata ruang
wilayah Kabupaten I Kota.
d. Seluruhnya terletak dalam wilayah satu daerah administratif.
e. Lokasi Kasiba dapat dikembangkan mengikuti kecenderungan perkembangan yang
ada atau untuk merangsang terjadinya pengembangan baru.
f. Calon lokasi Kasiba bukan I tidak merupakan tanah sengketa atau berpotensi
sengketa.
g. Dalam menentukan urutan prioritas calon-calon lokasi Kasiba, pertimbangan utama
sekurangkurangnya strategi pengembangan wilayah, biaya terendah untuk
pengadaan prasarana dan utilitas, berdekatan dengan tempat kerja atau lokasi
investasi yang mampu menampung tenaga kerja.
h. Lokasi Kasiba yang akan ditetapkan mencakup lokasi yang belum terbangun yang
mampu menampung sekurang-kurangnya 3.000 (tiga ribu) unit.
i . Lokasi Kasiba bagi tanah yang sudah ada permukimannya, akan merupakan integrasi
antara pembangunan baru dan yang sudah ada sehingga seluruhnya menampung
sekurang kurangnya 3.000 (tiga ribu) unit.
Sedangkan kriteria yang diamanatkan Permenpera No.32 Tahun 2006 dalam pemilihan
lokasi Kasiba adalah :
a. Jarak tempuh lokasi menuju pusat kegiatan dan pelayanan selama kurang lebih 30
menit;
b. Ketersediaan jalan penghubung dengan kawasan sekitarnya;
c. Keadaan topografi lapangan datar;
d. Daya dukung tanah untuk bangunan sesuai;
e. Drainase alam baik;
f. Kemudahan memperoleh ai r bersih;
g. Kemudahan memperoleh sambungan li strik;
h. Kemudahan memperoleh sambungan telepon;
i . Kedekatan dengan fasilitas pendidikan tinggi ;
j. Kedekatan dengan fasilitas kesehatan;
k. Kedekatan dengan pusat perbelanjaan;
l. Kemungkinan pembuangan sampah;
m. Tidak merubah bentang alam, seperti mengurug situ, memotong bukitlgunung,
reklamasi rawa (termasuk rawa pantai);
I f"!tl ihf:! j" II
I!MII!Ise

IIIII K ABUPATEN B UTON U TARA
n. Masyarakat yang akan menghuni Kasiba mempunyai karakter/budaya yang tidak
berlawanan dengan karakter /budaya masyarakat yang ada di sekitarnya;
o. Adanya perhitungan neraca pembiayaan penetapan Kasiba (usulan pengeluaran,
perkiraan penerimaan, cash flow).
Seperti halnya Kasiba, Juklak Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun
menetapkan persyaratan dan kriteria dalam pemilihan lokasi Lisiba, berikut adalah
persyaratan dalam pemilihan lokasi Lisiba yang Berdiri Sendiri :
a. lisiba yang Berdiri Sendiri di tetapkan di lokasi yang sudah ada permukimannya,
tetapi kurang tertata dengan baik yang masih mempunyai peluang untuk
pengembangan perumahan baru, sehingga permukiman yang akan terbentuk
merupakan integrasi antara pembangunan yang baru dan yang sudah ada;
b. Dalam hal lokasi Lisiba yang Berdiri Sendiri yang akan ditetapkan masih terdapat
tanah - tanah berfungsi khusus seperti pertanian beririgasi teknis, situ dan fungsi
konservasi lain, maka hal tersebut harus dipertahankan sesuai dengan fungsinya;
c. Lokasi Lisiba yang Berdiri Sendiri tersebut harus sudah ada pelayanan umum dan
sosial pada Tingkat Kecamatan.
Begitupun dengan kriteria pemilihan lokasi Lisiba yang Berdiri Sendiri yang hampir sama
dengan Kasiba, berikut kriteria pemilihan lokasi Lisiba yang Berdiri Sendiri :
a. Bebas bencana
b. Tidak merusak lingkungan
c. Mudah dalam mengintegrasikan pembangunan infrastruktur dengan pelayanan yang
sudah ada.
d. Mudah membentuk kohesi social.
Selain persayarat dalam pemilihan lokasi, terdapat pula persyaratan dalam penunjukan
badan pengelola Kasiba. Berikut adalah persyaratan badan pengelola Kasiba :
a. Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, atau badan lain yang
dibentuk oleh Pemerintah, yang ditugasi untuk menyelenggarakan pengelolaan
Kasiba.
b. Dalam hal tidak ada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang
berminat untuk mengelola Kasiba, Bupati/Walikota dapat :
Membentuk Badan lain yang ditugasi untuk pengelolaan Kasiba yang
selanjutnya dapat dikukuhkan menjadi BUMD bidang perumahan dan
permukiman dan memberikan informasinya kepada DPRD.
Menunjuk Kepala Bappeda untuk menjadi Ketua Badan Pengelola dengan
anggota anggota.
I!MI!!Is7

- KABUPATEN 8UTON UTARA
Menunjuk Sekretaris Daerah sebagai Ketua Badan Pengelola, dengan anggota
terdiri dari unsur Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Permukiman, Tata
Kota, Pertanahan dan Dinas lain yang diperlukan serta Unsur yang Professional
di bidangnya.
Menunjuk Badan Usaha swasta untuk menjadi Badan Pengelola untuk
melaksanakan tugas pengelolaan yang bekerjasama dengan Pemerintah
Kabupaten/Kota.
c. Memiliki tenaga ahli yang telah tersertifikasi di bidang :
Manajemen real estat;
Penyelenggaraan pembangunan prasarana lingkungan;
Penyelenggaraan pembangunan sarana lingkungan;
Penyelenggaraan pembangunan utilitas umum;
Pembiayaan real estat.
Terdapat pula persyaratan dalam penunjukan penyelenggara Lisiba. Berikut adalah
persyaratan penyelenggara Lisiba :
a. Badan usaha di bidang pembangunan perumahan dan permukiman, yang didirikan
berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia, atau badan usaha
asing di bidang pembangunan perumahan dan permukiman yang berkedudukan di
Indonesia.
b. Memiliki tenaga ahli yang telah tersertifikasi di bidang :
Manajemen real estat;
Penyelenggaraan pembangunan prasarana lingkungan;
Penyelenggaraan pembangunan sarana lingkungan;
Penyelenggaraan pembangunan utilitas umum;
Penyelenggaraan pembangunan rumah;
Pembiayaan real estat.
8.4.2.3. Plrsnt'IIN IIICI Tllllall llsllla UslllaiS
Persyaratan dan standar Tata Ruang Rind Kasiba dan Lisiba BS mengacu pada SNI 1733
mengenai standar perencanaan lingkungan perumahan dan SNI T-07 1990-F tentang Tata
Cara Perencanaan Umum drainase perkotaan.
1 ) Persyaratan Prasarana Lingkungan Kasiba dan Lisiba BS
Kasiba dan Lisiba BS perlu memperhatikan Koefisien Dasar Bangunan (KDB),
Koefisien Luas Bangunan (KLB), dan Koefisien Daerah Hijau (KDH) yang berlaku
sesuai dengan persyaratan di masingmasing Kabupaten/Kota;
I!MII!I5s
Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan jaringan primer dan sekunder
prasarana lingkungan, berupa jalan, saluran pembuangan air hujan dan saluran
pembuangan air limbah, yang terintegrasikan dengan jaringan wilayah daerah di
kawasan sekitarnya sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;
Jaringan primer dan sekunder saluran pembuangan air hujan harus dihubungkan
dengan badan penerimaan berupa sungai, danau, kolam atau taut, yang dapat
menyalurkan atau menampung air hujan yang jatuh di atau mengalir melalui
Kasiba dan Lisiba BS.
2) Persyaratan Prasarana Umum dalam Kasiba dan Lisiba BS
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilayani dengan air bersih yang cukup
memenuhi kebutuhan, yang dapat diambil dari sumber yang memenuhi syarat,
seperti sistim perpipaan dari PDAM, mata air dan air tanah;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilayani listrik dengan kapasitas yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilayani sambungan telepon;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan sistem pembuangan sampah
yang terintegrasi dengan sistem pembuangan sampah wilayah di kawasan
sekitarnya;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran
yang terintegrasi dengan sistem perpipaan yang ada;
Apabila telah tersedia sistem perpipaan gas maka setiap Kasiba perlu dilayani
dengan system perpipaan gas.
3) Persyaratan Sarana Lingkungan Dalam Kasiba dan Lisiba BS
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan fasilitas pendidikan sesuai
dengan jumlah penduduk yang dilayani;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan fasilitas pelayanan kesehatan
sesuai dengan jumlah penduduk yang dilayani;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan fasilitas perbelanjaan sesuai
dengan jumlah penduduk yang dilayani;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan fasilitas tempat peribadatan
sesuai dengan agama yang dipeluk para penghuninya dan jumlah pemeluk dari
masing-masing agama;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
dimana RTH tersebut dapat digunakan sebagai penyeimbang lingkungan antara
kawasan terbangun dan tidak terbangun, selain itu juga berfungsi sebagai sarana
I!MI!!Isg
olah raga, rekreasi, pemakaman umum dan mitigasi jika terjadi gempa dan
kebakaran;
Setiap Kasiba dan Lisiba BS harus dilengkapi dengan fasilitas Pemerintahan.
I.UA. PIISJ .... Tibls.._.IIII ....... IISI.IIIIIllslll D
I. Sarana Pendidikan
Berikut adalah persyaratan didalam perencanaan sarana pendidikan di Lokasi Kasiba
sesuai dengan amanat Permenpera No. 32 Juknis Kasiba dan Lisiba BS :
1. Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) adalah fasilitas pendidikan yang dipergunakan
untuk anak-anak usia 56 tahun. Minimum terdiri dari 2 ruang kelas yang masing
masing dapat menampung 35-40 murid dilengkapi dengan ruang-ruang lain dengan
lokasi pencapaian maksimum adalah 500 meter;
2. Sekolah Dasar (SO) adalah fasilitas pendidikan yang dipergunakan untuk anak-anak
usia 6-12 tahun. Minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang masing-masing dapat
menampung 40 murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang laindengan lokasi
pencapaian maksimum adalah 1 000 meter;
3. Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah fasilitas pendidikan yang dipergunakan
untuk menampung lulusan Sekolah Dasar. Minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang
masing-masing dapat menampung 40 murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang lain.
4. Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah fasilitas pendidikan yang dipergunakan untuk
menampung lulusan Sekolah Menengah Pertama. Minimum terdiri dari 6 ruang kelas
yang masing-masing dapat menampung 40 murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang
lain.
II. Sarana Kesehatan
Dalam peraturan yang diamanatkan oleh Permenpera No.32 Juknis Kasiba dan Lisiba BS,
persyaratan mengenai keberadaan I kebutuhan sarana kesehatan adalah sebagai
berikut:
1. Puskesmas Pembantu (PUSTU) lokasi pencapaian maksimum adalah 1500 meter;
2. Puskesmas, keberadaan Puskesmas ini membawahi 5 Puskesmas Pembantu dengan
lokasi pencapaian maksimum adalah 3000 meter;
3. Tempat Praktek Dokter, Tempat praktek dokter ini dapat bersatu dengan rumah
tinggal tetapi dapat juga tersendiri dengan lokasi pencapaian maksimum adalah
1500 meter;
4. Rumah Bersalin dengan lokasi pencapaian maksimum adalah 2000 meter;
5. Apotik dengan lokasi pencapaian maksimum adalah 1500 meter
Ill. Sarana Peribadatan
11$111160

- KABUPATEN BUTON UTARA
Sesuai dengan yang diamanatkan oleh Permenpera No. 32 Juknis Kasiba dan lisiba BS
tentang sarana peribadatan merupakan sarana kehidupan untuk mengisi kebutuhan
rohani yang perlu disediakan dilingkungan yang direncanakan sesuai dengan keputusan
masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena berbagai macam agama dan kepercayaan
yang dianut oleh masyarakat penghuni yang bersangkutan, maka kepastian tentang
jenis dan jumlah fasilitas peribadatan yang akan dibangun, baru dapat dipastikan
setelah lingkungan perumahan dihuni selama beberapa waktu.
Pendekatan perencanaan yang dianut adalah dengan memperkirakan populasi dan jenis
agama serta kepercayaan yang kemudian merencanakan alokasi tanah dan lokasi
bangunan secara planologis dan religius.
IV. Sarana Perdagangan dan Niaga
Dalam peraturan yang diamanatkan oleh Permenpera No. 32 Juknis Kasiba dan lisiba BS
mengenai persyaratan sarana perdagangan dan niaga adalah sebagai berikut :
1. Toko I Warung adalah fasilitas perbelanjaan terkecil yang melayani kebutuhan
sehari-hari dari unit lingkungan terkecil (50 keluarga) . Toko/Warung minimum
terdiri dari satu bangunan untuk menjual kebutuhan sehari-hari seperti sabun,teh,
gula, rempah-rempah dapur dan lain-lain dengan pencapaian ke lokasi maksimum
adalah 300 meter,
2. Pertokoan adalah fasilitas perbelanjaan yang lebih lengkap dari pada toko meskipun
tetap menjual kebutuhan sehari-hari dengan pencapaian ke lokasi maksimum adalah
300 meter.
3. Pusat Perbelanjaan Lingkungan adalah fasilitas lingkungan yang berfungsi sebagai
pusat perbelanjaan dan niaga yang menjual keperluan sehari-hari lebih lengkap,
termasuk sayur mayur, daging, ikan, buahbuahan, beras, tepung-tepung, bahan-
bahan pakaian, barang-barang kelontong, alat-alat sekolah, alat rumah tangga dan
lain-lain. Terdiri dari pasar, pertokoan dan bengkel-bengkel reparasi kecil seperti
radio, kompor, seterika, sepeda dan lain-lain.
4. Pusat Perbelanjaan dan Niaga Kecamatan adalah fasilitas sosial yang berfungsi
sebagai pusat perbelanjaan lengkap dengan fasilitas niaga yang lebih luas, seperti
kantor, bank-bank, industri-industri kecil seperti konveksi pakaian, dan jenis-jenis
industri rumah lainnya. Toko-tokonya tidak hanya menjual kebutuhan sehari-hari,
tetapi juga untuk kebutuhan yang lebih komplek seperti toko besi, toko olah raga
dan lain-lain. Pusat perbelanjaan dan niaga kecamatan terdiri dari toko-toko,
pasar, bengkel reparasi dan service, juga unit-unit produksi yang tidak menimbulkan
polusi dan gangguan-gangguan lain.
IIMIIII61
.,
- KABUPATEN BUTON UTARA
V. Sarana Lapangan Terbuka dan Lapangan Olah Raga
Persyaratan kebutuhan sarana lapangan terbuka dan lapangan olah raga pada
lingkungan Kasiba sesuai dengan yang diamanatkan oleh Permenpera No.32 Juknis
Kasiba dan Lisiba BS yakni untuk :
1. Kelompok 50 kepala keluarga (KK) kebutuhannya berupa tempat bermain;
2. Kelompok 500 kepala keluarga (KK) kebutuhannya berupa taman/tempat bermain;
3. Kelompok 6000 kepala keluarga (KK) kebutuhannya berupa kesatuan antara taman,
tempat bermain dan lapangan olah raga, yang lokasinya mengelompok dengan
sekolah;
4. Kelompok 24.000 kepala keluarga (KK) kebutuhannya berupa kesatuan antara
taman, tempat bermain dan lapangan olah raga, lokasinya mengelompok dengan
sekolah.
VI. Sarana Air Bersih
Persyaratan prasarana air bersih pada lingkungan Kasiba yang diamanatkan oleh
Permenpera No.32 Juknis Kasiba dan Lisiba BS yakni :
1. Setiap lingkungan hunian perlu disediakan sumber air minum yang mampu memenuhi
kebutuhan lingkungan huniannya;
2. Didalam hal penyediaan sumber air minum melalui pengolahan air setempat, maka
harus dipenuhi persyaratan terkait dengan sumber air, teknologi pengaliran air,
kebutuhan air minum, pengolahan air minum, dan teknologi pengolahan air minum;
3. Persyaratan terkait sumber air sebagaimana disebut diatas meliputi :
./ Tersedianya kontinuitas ketersediaan sumber air;
./ Kapasitas minimum sumber air;
./ Cara pengambilan air dari sumber air, pengambilan air dari sumber yang
digunakan bersama oleh penduduk sekitar tidak diperbolehkan mengganggu
aktivitas penduduk di lokasi sumber dalam pemakaian air. Pengambilan air dari
sumber sebaiknya berada dibawah muka air saat debit sungai minimum,
demikian pula apabila sumber airnya adalah mata air;
4. Kebutuhan air bersih, kebutuhan air bersih yang disediakan untuk wilayah Kasiba,
harus memperhitungkan kebutuhan air di wilayah tersebut untuk periode minimal
20 tahun. Selain itu perlu dilakukan studi/survei terhadap penggunaan air bersih
oleh masyarakat yang akan menempati wilayah tersebut agar air bersih yang
disuplai dapat mendekati kebutuhan sebenarnya.
11011!162

IIIII KABUPATEN BUTON UTARA
5. Kualitas air bersih yang dihasilkan harus memenuhi standar yang telah ditetapkan
oleh Pemerintah Indonesia atau, bil.a ada standar yang diatur oleh Pemerintah
Daerah di wilayah Kasiba.
6. Teknologi pengolahan air bersih yang dapat digunakan harus diupayakan merupakan
teknologi yang dapat disediakan secara murah dan mem1l1kt b1aya operas1 dan
pemeliharaan yang murah tetapi memiliki efesiensi kerja yang cukup tinggi.
Teknologi yang digunakan harus dapat mengolah air yang berasal dari sumber
menjadi air yang memenuhi standar air bersih yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah.
VII. Prasarana Jalan
Persyaratan dalam perencanaan prasarana jalan pada lingkungan Kasiba yang
diamanatkan oleh Permenpera No.32 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun
dan Lingkungan Siap Bangun Yang Berdiri Sendiri adalah sebagai berikut :
1. Jaringan jalan primer dan sekunder terdiri dari badan jalan (perkerasan jalan dan
bahu jalan), trotoar, ambang pengaman dan saluran air hujan.
2. Lebar jalan jaringan primer dan sekunder sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) meter
./ Lebar perkerasan jalan untuk 1 (satu) jalur sekurang-kurangnya 7 (tujuh) meter
./ Kemiringan melintang perkerasan 2%
./ Dirancang berdasarkan kecepatan 60 km/jam
3. Konstruksi jalan harus memperhatikan beberapa hal antara lain :
./ Keadaan tanah tempat jalan akan dibangun
./ Kepadatan lalu Lintas
./ Pemilihan material I bahan yang akan digunakan
./ Kondisi setempat yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.
4. Radius belokan jalan, tempat pertemuan antara jalan lokal sekunder dan jalan
kolektor sekunder dan hallainnya yang berhubungan dengan geometrik jalan, harus
mengikuti prasarana jalan yang terdapat dalam lingkingan Kasiba disyaratkan
memiliki bagian-bagian jalan diantaranya : Bagian-bagian jalan terdiri dari Ruang
Milik Jalan (Rumija), Ruang Manfaat Jalan (Rumaja), Ruang Pengawasan Jalan
(Ruwasja), Jalur dan Lajur Jalan, Bahu, Trotoar, Median, Saluran Air Hujan.
Persyaratan mengenai Ruang Pengawasan Jalan (Ruwasja) diukur dari batas tepi ruang
milik jalan terhadap batas pagar bangunan dan ditetapkan dengan memperhatikan
klasifikasi jalan. Sedangkan, Dalam hal Ruang Milik Jalan (Rumija) tidak cukup luas,
llMI!!Isa

- KABUPATEN BUTDN UTARA
maka Lebar ruang pengawasan jalan ditentukan dari tepi badan jalan paling rendah
sebagai berikut :
V' Jalan arteri sekunder 15 (lima betas) meter;
V' Jalan kolektor sekunder 5 (lima) meter;
v- Jalan Lokal Sekunder 3 (t1ga) meter;
V' Jalan lingkungan 2 (dua) meter.
Ruang Milik Jalan diperuntukan bagi ruang manfaat jalan dan pelebaran jalan maupun
penambahan jalur serta kebutuhan ruang, pengaman jalan paling rendah sebagai
berikut:
V' Jalan bebas hambatan 30 (tiga puluh) meter;
V' Jalan raya 25 (dua puluh lima) meter;
V' Jalan sedang 15 (lima betas) meter;
V' Jalan kecil 14 ( empat betas) meter.
VIII. Prasarana Saluran Pembuangan Air Hujan (Drainase)
Persyaratan dalam pereneanaan drainase pada lingkungan Kasiba yang diamanatkan
oleh Permenpera No.32 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun dan lingkungan
Siap Bangun Yang Berdiri Sendiri, bahwa jaringan primer dan sekunder drainase harus
mempunyai kapasitas tampung yang eukup untuk menampung air yang mengalir dari
area Kasiba dan kawasan sekitarnya. Saluran pembuangan air hujan dapat dibangun
seeara terbuka dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Dasar saluran terbuka lingkaran dengan diameter minimum 20 em atau
berbentuk bulat telur ukuran minimum 20/30 em;
2. Bahan saluran terbuat dari tanah liat, beton, pasangan batu bata dan atau bahan
lain;
3. Kemiringan saluran minimum 2 %;
4. Tidak boleh melebihi peil banjir di daerah tersebut;
5. Kedalaman saluran minimum 30 em;
6. Apabila saluran dibuat tertutup, maka pada tiap perubahan arah harus dilengkapi
dengan lubang kontrol dan pada bagian saluran yang lurus lubang kontrol harus
ditempatkan pada jarak maksimum 50 (lima puluh) meter;
7. Saluran tertutup dapat terbuat dari PVC, beton, tanah liat dan bahan-bahan lain;
8. Untuk mengatasi terhambatnya saluran air karena endapan pasir/tanah pada
drainase terbuka dan tertutup perlu bak kontrol dengan jarak kurang lebih 50 m
dengan dimensi (0,40x 0,40x 0,40) m3;
IIMIIII64
9. Setiap Kasiba perlu melestarikan dan menyediakan kolam-kolam retensi dan
sumur resapan pada titik-titik terendah;
10. Penggunaan pompa drainase merupakan upaya tambahan apabila ditemui
kesulitan untuk mengalirkan air secara gravitasi dan dapat juga digunakan untuk
membantu agar pengaliran air dalam saluran mengal1r lebih cepat.
11. Adanya peralat berat;
12. Fasilitas penunjang seperti kantor dan WC dan melakukan penghijauan di sekitar
lokasi TPA.
IX. Prasarana Pengelolaan Air Limbah
Konsep dasar untuk menangani limbah kawasan pada Lingkungan Kasiba adalah
bagaimana mengelola limbah secara terpadu, sehingga tepat guna, berdaya guna dan
biayanya terjangkau serta dapat dioperasikan secara berkelanjutan, dengan bertumpu
pada kemitraan antara masyarakat, Pemerintah, dan dunia usaha (swasta). Berikut
amanat Permenpera No.32 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun dan
Lingkungan Siap Bangun BS, tentang persyaratan sistem pembuangan limbah di
Lingkungan Kasiba meliputi :
1. Ukuran pipa pembawa air limbah minimum 200 mm;
2. Sambungan pipa harus kedap air;
3. Pada jalur pipa pembawa harus dilengkapi dengan lubang pemeriksaan pada
tiap penggantian arah pipa dan pada bagian pipa yang lurus pada jarak
minimum 50 (lima puluh) meter;
4. Air limbah harus melalui sistem pengolahan sedemikian rupa sehingga
memenuhi standar yang berlaku sebelum dibuang ke perairan terbuka;
5. Untuk pembuangan dari kakus (we) dapat digunakan tangki septik (septic
tank) dan bidang resapan/ rembesan.
6. Apabila tidak memungkinkan untuk membuat tangki septik pada tiap-tiap
rumah maka harus dibuat tangki septic bersama yang dapat melayani
beberapa rumah.
7. Persyaratan tangki septik bersama: muka air tanah harus cukup rendah;
jarak minimum antara bidang resapan bersama dengan sumur pantek adalah
10 (sepuluh) meter atau tergantung dari sifat tanah dan kondisi daerahnya ;
tangki septik harus dibuat dari bahan kedap air; kapasitas tangki septik
tergantung dari kualitas air limbah, waktu pengendapan, banyaknya
campuran yang mengendap, frekuensi pengambilan lumpur.
llMII!I6s

- KABUPATEN 8UTDN UTARA
8. Persyaratan ukuran tangki septik bersama adalah sebagai berikut:
Ukuran tangki septik bersama sistem campur untuk jumlah 50 jiwa
dibuat dengan panjang 5,00 m, lebar 2,50 m, kedalaman total 1,80 m,
tinggi air dalam tangki 1 m, dan pengurasan 2 tahun sekali;
Ukuran tangki septik bersama sistem terpisah untuk jumlah 50 jiwa
dibuat dengan panjang 3,00 m, lebar 1,50 m, dan kedalaman 1,80 m ;
Ukuran bidang resapan dibuat dengan panjang 10 m, lebar 9,60 m, dan
kedalaman 0, 70 m.
X. Prasarana Persampahan
Amanat Permenpera No.32 Tentang Juknis Kasiba dan Lisiba BS didalam melakukan
pengelolaan sampah Kasiba harus memperhatikan beberapa aspek pencemaran yaitu
pengendalian bau, pengendalian penyebaran penyakit, pengendalian lindi I leachete,
pengendalian kebakaran sampah, dan menjaga estetika lingkungan. Dalam sistem
penyediaan prasarana persampahan diusahakan dapat diproses menjadi kompos di
tingkat rumah tangga, dan atau di skala kawasan dengan membuat komposter komunal,
sehingga dapat mengurangi beban terhadap Tempat Pemrosesan I Pengolahan Akhir
(TPA). Beberapa alternatif pengolahan sampah yang dapat digunakan untuk Kasiba
adalah sebagai berikut :
1 . Metode Sanitary LandfW yaitu cara pengolahan yang digunakan secara
internasional, dimana sampah yang diangkut ketempat ini akan ditutup setiap hari
dengan lapisan tanah sehingga mengurangi potensi pencemaran lingkungan ;
2. Metode Control LandfW yaitu cara pengolahan sampah dengan menutup sampah
yang diangkut ketempat tersebut secara periodik dengan lapisan tanah dan
memadatkan serta meratakan sampah yang telah diolah lebih dahulu untuk
mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat sampah meningkatkan efisiensi
dalam penggunaan lahan untuk pengolahan.
Persyaratan lokasi pengolahan sampah, guna mengurangi potensi pencemaran
lingkungan akibat pengolahan sampah, adalah sebagai berikut :
1. Bukan daerah rawan geologi;
2. Bukan daerah rawan hidrogeologi;
3. Muka air tanah di lokasi pengolahan tidak boleh kurang dari 3 (tiga) meter dibawah
permukaan tanah;
4. Porositas tanah harus > dari 1 06 em/ detik;
5. Jarak dengan sumber air minimal100 meter;
6. Bukan daerah rawan secara topografi;
llMIIII66
iil
lli$jli'!!:fi-Jft <
( ~ .. 1,
0
KABUPATEN BUTDN UTARA
7. Minimal kemiringan lahan yang digunakan untuk lokasi pengolahan adalah 20%;
8. Memiliki jarak minimal 3000 meter dari lapangan terbang yang digunakan pesawat
bermesin jet dan 1500 meter untuk lapangan terbang yang digunakan pesawat
berbaling-baling untuk meneegah terjadinya gangguan pandangan pilot pesawat
terbangakibat adanya asap dari sampah yang terbakar;
9. Tidak memiliki kemungkinan banjir dengan peri ode ulang kurang dari 25 tahun;
10. Bukan daerah I kawasan yang dilindungi atau eagar alam.
11. Prasarana, sarana dan peralatan pengolahan sampah, terdiri dari :
../ Adanya prasarana jalan dan adanya saluran drainase;
../ Lapisan kedap air, yang berfungsi untuk meneegah rembesan lindi dari sampah
yang ditimbun ke lapisan tanah dibawahnya yang dapat meneemari air tanah.
Lapisan ini dipasang di seluruh permukaan tanah tempat penimbunan sampah.
Lapisan ini dapat berupa tanah lempung setebal 50 em atau lapisan karet
sintetis yang saat ini banyak digunakan;
../ Pengaman gas;
../ Pengumpul dan pengolah lindi yang berupa eairan yang mengandung zat
organik yang memiliki kadar peneemaran tinggi dan terbentuk akibat
penguraian sampah;
../ Pengumpulan lindi dilakukan dengan memasang pipa-pipa di lapisan kedap air
yang kemudian disalurkan ke kolam penampung lindi. Pengolahan lindi dapat
dilakukan dengan eara pengolahan limbah secara biologis.
I @Hrn tJ,f,! jd II
I!MIIII67