Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN Nama pasien Umur Jenis kelamin Agama Alamat Suku/Bangsa Pendidikan Pekerjaan : Ny. H : 23 Tahun : Perempuan : Islam : Jln. Berangas Timur RT 01, Banjarmasin : Banjar/Indonesia : SMP : Ibu Rumah Tangga

Status perkawinan : Kawin

II. RIWAYAT PSIKIATRIK Alloanamnesa tanggal 30 Juli 2013 dengan Tn. Murjani (suami) dan Ny. Kasmaran. autoanamnesa dengan pasien di ruang giok Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Moch. Anshari Saleh Banjarmasin.

A. KELUHAN UTAMA Percobaan bunuh diri KELUHAN TAMBAHAN Mudah emosi dan jika emosi pasien sering membenturkan kepala ke dinding maupun menggunakan botol hingga berdarah.

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Alloanamnesis Pasien datang dengan keluarga pasien dengan keluhan sesak napas akibat tercekik kabel pada sekeliling leher pasien akibat percobaan bunuh diri yang pasien lakukan. Kejadian berlangsung 1 jam yang lalu. Pasien melakukan percobaan bunuh diri akibat pasien merasa tertekan karena terdapat masalah keluarga yang berhubungan dengan tanah yang akan di wariskan pada pasien dan membuat pasien berpikir untuk mengakhiri hidup pasien. Sejak 1 tahun yang lalu pasien memang memiliki masalah dengan ibu pasien. Masalah tentang tanah yang ingin diwariskan oleh ibu pasien kepada anak anaknya. Awalnya ibu pasien berjanji akan memberikan sebuah petak tanah secara keseluruhan kepada pasien. Pasien beniat untuk membangun warung di tanah tersebut, tetapi pasien mengalami kekurangan biaya. Tetapi setelah kematian anak yang pertama dari ibu pasien, ibu pasien merubah rencananya. Ibu pasien akan mebagi sepetak tanahnya menjadi tiga bagian, yaitu untuk pasien dan anak anak dari anak pertama ibu pasien. Hal ini membuat pasien marah dan menyebabkan pasien tertekan dan memikirkan rencana bunuh diri dengan cara menggantung diri dengan kabel. Awalnya, pada jam 11 siang pasien menelepon suami pasien dan keadaan pasien masih baik baik saja. Kemudian pasien mengunci kamar dan tidak terdengar ada suara. Kemudian terdengar suara ribut dan hal ini

menyebabkan kecurigaan ibu pasien terhadap pasien sehingga ibu pasien mendatangi kamar pasien dan mencoba membukanya tetapi terkunci. Ibu pasien kemudian berusaha membuka pintu kamar pasien dengan terus menggedor pintu kamar pasien dan berteriak teriak kepada pasien untuk membuka pintu kamar pasien. Tidak berapa lama kemudian suami pasien datang dan mendobrak pintu kamar pasien, dan pasien diketemukan sudah mengalungkan kabel di sekeliling leher pasien, kemudian keluarga pasien menolong pasien dan melarikannya ke rumah sakit. Pasien memang dikenal dengan orang yang emosian (temperamen tinggi). Apabila ada masalah pasien lebih banyak memendam dalam hati dan tidak mau bercerita kepada keluarga. Apabila pasien emosi, pasien sering membenturkan kepalanya ke dinding. Pasien kadang kadang berkelahi dengan suami, tetapi biasanya suami mengalah dan membujuk pasien dan akhirnya hubungan kembali baik. Pasien juga dikatakan sering memukul anak laki lakinya karena berbuat tidak sesuai dengan kehendak pasien. Tidak terdapat gangguan tidur pada pasien, nafsu makan normal. Terkadang pasien gelisah.

Autoanamnesis Pasien datang dengan penurunan kesadaraan dengan tangan fleksi dengan kedua mata menatap keatas. Ketika di tanya pasien tidak berespon sama sekali.

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien merasa tertekan hingga pasien mencoba gantung diri, sebelumnya memang pasien pernah mencoba melakukan percobaan bunuh diri pada umur sekitar 12 tahun akibat berselisih pendapat dengan kakak pasien.

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI Menurut teori perkembangan jiwa anak menurut Erik Homburger Erikson 1. Riwayat antenatal dan prenatal Pasien merupakan anak yang diinginkan dan pasien lahir dengan normal. Kelahiran pasien diterima dengan bahagia, pasien lahir pada usia yang sesuai dengan kondisi sehat, menangis kuat, dan tidak membawa cacat lahir.pasien lahir di rumah dengan di tolong oleh dukun kampung. 2. Infancy (0-1,5 tahun) Basic trust vs mistrust Pasien dibesarkan di lingkungan keluarganya sendiri. Tumbuh kembang baik seperti anak seusianya, tidak terdapat riwayat demam tinggi, kejang maupun sakit berat. Tidak ada masalah dalam pemberian makanan, perkembangan berjalan, dan bicara. Pasien menyusu ASI sampai dengan usia 6 bulan, kemudian dilanjutkan makanan lunak dan makan nasi umur 1 tahun. Saat tidur bayi tenang. 3. Early Childhood (1,5-3 tahun) Autonomy vs Shame & Doubt Anak sudah bisa berdiri sendiri usia 10 bulan, berjalan sendiri pada usia 1 tahun 4 bulan. Pada usia ini anak diberi kebebasan dalam bermain tapi masih

dalam pengawasan orang tua. Pasien senang bermain di rumah. Pada usia ini pasien tidak pernah mengalami sakit berat dan tidak pernah kejang. 4. Preschool Age (3-6 tahun) Inisiative vs Guilt Pada usia ini anak sering dan senang membantu pekerjaan ibu atau ayahnya dan berteman dengan teman-teman sebanyanya. Anak memiliki banyak teman pada usia 5 tahun. 5. School Age (6-12 tahun) industry vs inferiority Tumbuh kembang seperti anak seusianya. Orang tua merasa tidak membesarkan pasien dengan cara dimanja maupun terlalu disiplin. Menurut ibu pasien pergaulan dengan teman-temannya baik baik saja seperti anak anak yang lain, terutama pada kakak pasien, pasien sering bermain dengan sang kakak. Usia mulai sekolah umur 6 tahun dengan kecerdasan normal dan tidak pernah tinggal kelas. 6. Adolescence ( 12- 20 tahun) identity vs Role diffusion Pasien termasuk anak yang mudah marah, emosi, tetapi memiliki banyak teman. Pasien biasa berteman dengan anak perempuan, terutama kakak pasien. Pasien pernah merasa tertekan hingga pasien mencoba gantung diri akibat berselisih pendapat dengan kakak perempuan pasien, hingga pasien pernah mencoba melakukan percobaan bunuh diri pada umur sekitar 12 tahun. 7. Riwayat pendidikan Pasien mulai besekolah SD saat usia 6 tahun, pasien tidak pernah tinggal kelas, dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Pasien kemudian melanjutkan sekolah ke SMP pada usia 12 tahun, selesai dalam 3 tahun. Tetapi pasien tidak

melanjutkan ke tingkat SMA karena pada waktu itu ayah pasien meninggal sehingga kekurangan biaya untuk pendidikan. Selama di sekolah prestasi pasien biasa-biasa saja. Pasien anak yang tidak senang membuat masalah di sekolah. 8. Riwayat pekerjaan Pasien tidak bekerja, hanya menjadi ibu rumah tangga dengan aktivitas sehari-hari yaitu memasak, bersih-bersih rumah, mengurus 1 orang anak, melakukan kegiatan rumah tangga lainnya. 9. Riwayat perkawinan Pasien sudah menikah selama 7 tahun lamanya. Pasien dikaruniai 1 orang anak laki - laki yang masih kecil. Hubungan pasien dengan suami sering terdapat masalah, jika ada masalah pasien sering marah marah kepada suami dan anaknya. Sehingga sang suami biasanya membujuk pasien dan akhirnya hubungan membaik. Pasien dikatakan memang sering memukul anaknya dengan menggunakan tangan jika anaknya memalukan hal yang tidak sesuai dengan kehendak pasien. E. RIWAYAT KELUARGA Pasien adalah anak ke 4 dari 4 bersaudara. Lahir dari keluarga harmonis dan tidak punya riwayat penyakit jiwa dalam keluarga. Genogram:

Keterangan : = Penderita = Laki-laki = Perempuan / = meninggal dunia

F. RIWAYAT SITUASI SEKARANG Saat ini pasien tinggal serumah dengan suami, anak pasien, dan

dengan ibu pasien. Pasien masih memendam perasaan terttekan pasien terhadap masalah tanah yang ingin diberikan ibu pasien kepada pasien

G. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA Sulit di evaluasi.

III. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Pasien datang dengan keadaan yang tidak rapi, pasien memakai pakaian sesuai umur. Pasien datang dengan penurunan kesadaran dengan tangan fleksi dan kedua mata menatap ke arah atas. Tidak terdapat kontak mata dengan pemeriksa.

2. Kesadaran Berkabut 3. Perilaku dan aktivitas motorik Hipoaktif 4. Pembicaraan SDE 5. Sikap terhadap pemeriksa Tidak kooperatif 6.Kontak Psikis Kontak (-).

B. KEADAAN

AFEKTIF,

PERASAAN,

EKSPRESI

AFEKTIF,

KESERASIAN DAN EMPATI 1. Afek (mood) 2. Ekspresi afektif 3. Keserasian 4. Empati : hipothym : SDE : Serasi : tidak dapat dirabarasakan

C. FUNGSI KOGNITIF 1. Kesadaran : stupor 2. Orientasi : Waktu Tempat Orang 3. Konsentrasi : SDE : SDE : SDE : SDE

4. Daya ingat : Jangka panjang Jangka pendek Segera

: SDE : SDE : SDE

5. Intelegensia dan Pengetahuan Umum : SDE.

D. GANGGUAN PERSEPSI 1. Ilusi 2. Halusinasi : : SDE SDE

3. Depersonalisasi/ Derealisasi : SDE

E. PROSES PIKIR 1. Arus pikir : a. Produktivitas : b. Kontinuitas : SDE SDE

c. Hendaya berbahasa : SDE 2. Isi Pikir : a. Preocupasi : (+) ingin membuka warug di tanah yang akan diberikan oleh orang uta b. Waham : SDE

F. PENGENDALIAN IMPULS Tidak dapat mengendalikan impuls

G. DAYA NILAI a. Daya norma sosial : SDE b. Uji daya nilai c. Penilaian realita : SDE : SDE

H. TILIKAN SDE

I. TARAF DAPAT DIPERCAYA SDE

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT 1. STATUS INTERNUS Keadaan Umum : Tanda vital : Tampak sakit sedang TD : 110/90 mmHg N : 82 x/menit

RR : 20 x/menit T Kepala Mata : 36o C

: palpebra tidak edema, konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik, refleks cahaya +/+

Telinga : bentuk normal, sekret tidak ada, serumen minimal Hidung : bentuk normal, sekret -/-, epistaksis (-)tidak ada tumor Mulut : bentuk normal dan simetris, mukosa bibir tidak kering, pucat (-), lidah tidak tremor Leher Thoraks : KGB tidak membesar, JVP tidak meningkat

I : bentuk simetris P : fremitus raba simetris P : Pulmo : sonor

Cor

: batas jantung normal

A : Pulmo : vesikuler, Ronki/wheezing (-/-) Cor Abdomen : S1S2 tunggal, bising (-)

I : simetris A : BU (+) normal P : tidak ada nyeri tekan, hepar/lien/massa tidak teraba P : timpani

Ekstremitas Superior : edema -/- parese -/- tremor -/Inferior : edema -/- parese -/- tremor -/Kulit : Turgor cepat kembali

2. STATUS NEUROLOGIS N 1-XII : normal

Gejala rangsang meningeal : tidak ada Gejala TIK meningkat Refleks patologis Refleks fisiologis : tidak ada : tidak ada : normal

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Alloanamnesa pasien melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menggantungkan diri dengan menggunakan kabel. pasien memang dikenal sebagai seorang yang emosian.

jika sedang emosi pasien melampiaskannya dengan membenturkan kepala ke dinding ataupun memukul kepala dengan menggunakan botol hingga berdarah. Autoanamnesa Pasien datang dengan keadaan yang tidak rapi, pasien memakai pakaian sesuai umur. Pasien datang dengan penurunan kesadaran dengan tangan fleksi dan kedua mata menatap ke arah atas. Tidak terdapat kontak mata dengan pemeriksa. Kesadaran : berkabut. Perilaku dan aktivitas motorik : hipoaktif Afek (mood) : hipothym. VI. EVALUASI MULTIAKSIAL 1. Aksis I 2. Aksis II 3. Aksis III 4. Aksis IV 5. Aksis V : F 44.7 dd F44.5 + tent. suicide : None : None : Masalah berkaitan dengan keluarga dan keuangan : GAF scale 20-11

VII. DAFTAR MASALAH 1. Organobiologik Status internus dan kelainan neurologi tidak ada kelainan 2. Psikologik

Tidak terdapat kontak mata pada pemeriksa. Kesadaran berkabut, hipo aktif dan afek (mood) hipothym. 3. Sosial Keluarga Pasien memiliki masalah dengan ibu pasien tentang tanah dan pasien juga memiliki keinginan untuk membuka warung tetapi tidak memiliki uang.

VIII. PROGNOSIS Diagnosis penyakit : dubia ad bonam (gangguan disosiatif campuran) Perjalanan penyakit Ciri kepribadian Stressor psikososial : dubia ad malam (kronik) : SDE : dubia ad malam (masalah berkaitan dengan keluarga dan keuangan) Riwayat herediter Usia saat menderita Pendidikan Perkawinan Ekonomi Lingkungan sosial Organobiologi Pengobatan psikiatrik Ketaatan berobat : dubia ad bonam : dubia ad bonam : bonam : dubia ad bonam (menikah) : dubia ad malam : dubia ad bonam : bonam (tidak ada penyakit fisik) : dubia ad malam : dubia

Kesimpulan

: dubia ad bonam

IX. RENCANA TERAPI Psikofarmaka : inj. Chlorpromazine 100 mg (k/p) Inj. Diazepam 10 mg / kolf Inj. Ceftriaxone 2 x 1 g (IV) Inj. Ranitidin 2x1 (IV) Po. Sizoril 25 mg 3x1 Psikoterapi : Support terhadap penderita dan keluarga dan pengawasaan

ketat terhadap percobaan bunuh diri. Support keluarga terutama dalam bentuk dukungan moril agar tidak meninggalkan pasien sendirian bersama penyakitnya. Yakinkan keluarga pasien untuk menerima gejala pasien sebagai hal yang nyata, tetapi hal ini dapat reversibel. Ketika pasien rawat jalan terus perhatikan pola minum obat dan usahakan agar pasien terhindar dari tekanan masalah yang berat.

X. DISKUSI Gangguan disosiasi adalah perubahan kesadaran mendadak yang

mempengaruhi memori dan identitas. Para individu yang menderita gangguan disosiatif tidak mampu mengingat berbagai peristiwa pribadi penting atau selama beberapa saat lupa akan identitasnya atau bahkan membentuk identitas baru. Disosiasi timbul sebagai suatu pertahanan terhadap trauma. Pertahanan disosiatif memiliki fungsi ganda untuk menolong korban melepaskan dirinya sendiri dari trauma sambil juga menunda menyelesaikannya.1

Pada gangguan disosiatif, kemampuan kendali dibawah kesadaran dan kendali selektif tersebut terganggu sampai taraf yaang dapat berlangsung dari hari ke hari atau bahkan jam ke jam. Gejala utamanya adalah kehilangan kendali (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal (dibawah kendali kesadaran) antara lain : Ingatan masa lalu, Kesadaran identitas dan penginderaan segera (awareness of identity and immediate sensations), dan Kontrol terhadap gerakan tubuh.2

Untuk diagnosis pasti maka hal hal dibawah ini harus ada : Gambaran klinis yang ditentukan masing masing gangguan, Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala gejala tersebut, Bukti kuat adanya penyebab psikologis, dalam bentuk hubungan kurun waktu yang jelas dengan problem dan kejadian kejadian yang stressful atau hubungan interpersonal yang terganggu (meskipun hal tersebut disangkal oleh penderita).2 Gangguan konversi disebut disosiatif karena dahulu dianggap terjadi hilangnya asosiasi antara berbagai proses mental seperti identitas pribadi dan memori, sensori dan fungsi motorik. Ciri utama adalah hilangnya fungsi yang tidak dapat dijelaskan secara medis.3

Istilah konversi didasarkan pada teori kuno bahwa perasaan dan anxietas dikonversikan menjadi gejala gejala dengan akibat terselesaikannya konflik mental (keuntungan primer) atau didapatkannya keuntungan praktis seperti perhatian dari orang lain (keuntungan sekunder).3 Gangguan disosiatif ini dahulu juga disebut histeria yang berasal dari istilah dan keyakinan zaman dahulu bahwa penyebabnya adalah uterus yang berkeliaran. Pada penderita didapatkan hilangnya fungsi seperti memori (amnesia psikogenik), berjalan jalan dalam keadaan trans (fugue), fungsi motorik (paralitik dan pseudoseizure) atau fungsi sensorik (anestesia sarung tangan dan kaus kaki).3 Pada kasus ini pasien tergolong kedalam gangguan disosiatif/konversi (F44), karena terjadi kehilangan sebagian dari integritas normal (dibawah kendali sadar) antara lain adalah hilangnya kontrol terhadap gerakan tubuh, kesadaran identitas dan penginderaan segera. Yang mana pada pasien ditemukan penuruanan kesadaran berupa stupor dan kaku rigid yang dialami oleh pasien serta gerakan seperti pseudo seizures sehingga pasien ini kemudian digolongkan kedalam gangguan disosiatif campuran yang mana terdapat disosiatif stupor dan konvulsi stupor. Pada stupor disosiatif untuk mendiagnosis harus terdapat : stupor, sangat berkurangnya atau hilangnya gerakan gerakan volunter dan respon normal terhadap suatu rangsangan luar seperti misalnya cahaya, suara dan perabaan (sedangkan kesadaraan tidak hilang; tidak ditemukan adanya gangguan fisik ataupun gangguan jiwa lain yang dapat menjelaskan keadaan stupor tersebut;

adanya problem atau kejadian-kejadian baru yang stressful (psychogenic causation).2 Pada konvulsi disosiatif (pseudo seizures) dapat sangat mirip dengan kejang epileptik dalam hal gerakan gerakannya, akan tetapi sangat jarang disertai lidah tergigit, luka serius karena jatuh saat serangan dan mengompol. Juga tidak dijumpai kehilangan kesadaran atau hal tersebut diganti dengan keadaan seperti stupor atau trans.2 Mungkin agak sulit mendiagnosis dan menatalaksanai gangguan ini. Kemungkinan penyebab organik harus disingkarkan lebih dahulu dan hal ini dapat berakibat pemeriksaan yang intensif.3 Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kemungkinan dibuat buatnya gejala tersebut. Disini ada dua kemungkinan, gangguan buatan (factitious disorder) atau berpura-pura (malingering). Pada gangguan buatan, gejala gejala dibuat dengan sengaja untuk mendapatkan perawatan medis, sedangkan pada berpura-pura untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Menentukan hal ini tidaklah mudah dan mungkin memerlukan bukti bahwa ada inkonsistensi dalam gejalanya.3 Penderita mungkin tampak acuh tak acuh akan penyakitnya. Penampilan tak acuh ini mungkin juga terjadi pada gangguan organik dan tidak spesifik untuk penyakit ini.3 Penatalaksanaan dengan menggali kondisi fisik dan neurologiknya. Bila tidak ditemukan kelainan fisik, perlu dijelaskan pada pasien dan dilakukan pendekatan psikologik terhadap penanganan gejala-gejala yang ada.

Masuk rumah sakit diindikasikan bagi pasien yang memiliki kecenderungan untuk membahayakan dirinya atau orang lain, ketika efek dari penggunaan terapi obatnya harus dipantau atau ketika diagnosis sementara belum dapat ditentukan. Perawatan di rumah sakit memungkinkan pasien untuk memisahkan diri dari pengaruh lingkungan, penganiayaan fisik dan seksual, dan stress yang mungkin telah memicu reaksi atau episode amnesia, kelakuan kompulsif atau kecerobohan mereka. Hal ini juga melindungi mereka disaat masa membingungkan dalam hidup mereka. Indikasi lain adalah ketika mereka pernah mencoba atau memiliki tanda atau ide untuk bunuh diri.4 Psikoterapi adalah penanganan primer terhadap gangguan disosiatif ini. Bentuk terapinya berupa terapi bicara, konseling atau terapi psikososial, meliputi berbicara tentang gangguan yang diderita oleh pasien jiwa. Terapinya akan membantu anda mengerti penyebab dari kondisi yang dialami. Psikoterapi untuk gangguan disosiasi sering mengikutsertakan teknik seperti hipnotis yang membantu kita mengingat trauma yang menimbulkan gejala disosiatif. Penanganan gangguan disosiatif yang lain meliputi : Terapi kesenian kreatif. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa tipe terapi ini menggunakan proses kreatif untuk membantu pasien yang sulit mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Seni kreatif dapat membantu meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni kreatif meliputi kesenian, tari, drama dan puisi. Terapi kognitif

Terapi kognitif ini bisa membantu untuk mengidentifikasikan kelakuan yang negative dan tidak sehat dan menggantikannya dengan yang positif dan sehat, dan semua tergantung dari ide dalam pikiran untuk mendeterminasikan apa yang menjadi perilaku pemeriksa Terapi obat Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penanganan awal, walaupun tidak ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan disosiatif ini. Biasanya pasien diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk membantu mengontrol gejala mental pada gangguan disosiatif ini. Barbiturat kerja sedang dan singkat, seperti tiopenal dan natrium amobarbital diberikan secara intravena dan benzodiazepine dapat berguna untuk memulihkan ingatannya yang hilang. Pengobatan terpilih untuk fugue disosiatif adalah psikoterapi psikodinamika suportif-ekspresif. Ahli terapi biasanya merekomendasikan menggunakan hipnosis yang biasanya berupa hipnoterapi atau hipnotis sugesti sebagai bagian dari penanganan pada gangguan disosiatif. Hipnosis menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan tenang dalam pikiran. Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi lebih intensif dan spesifik. Karena pasien lebih terbuka terhadap sugesti saat pasien terhipnotis. Ada beberapa konsentrasi yang menyatakan bahwa bisa saja ahli hipnotis akan menanamkan memori yang salah dalam mensugesti. Yang penting dalam penatalaksanaan adalah menerima gejala pasien sebagai hal yang nyata, tetapi menjelaskan bahwa hal itu reversibel. Diupayakan untuk

kembali ke fungsi semula dengan bertahap. Apabila ada depresi komorbid, hal ini harus diobati dengan baik. Psikoterapi dapat bermanfaat untuk ganggua disosiatif dan dalam beberapa kasus kronis yang mengenai fungsi motorik mungkin diperlukan rehabilitasi medik.3

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI,Sadock BJ. 2010. Sinopsis Psikiatri jilid 2. Bina Rupa Aksara: Tangerang. 2. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III), Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 1993. Cetakan Pertama. 3. Maramis WF dan Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press, 2009. 4. Sharon I. 2010. Dissociative Disorders Etiology and Introduction. Available on: http://emedicine.medscape.com

Laporan Kasus

GANGGUAN DISOSIATIF (KONVERSI) CAMPURAN (F 44.7)

Oleh Ricky Setiawan (I1A009074)

Pembimbing Dr. M. Achyar NH , Sp.KJ

UPF/Lab Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unlam-RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Agustus, 2013