Anda di halaman 1dari 2

Perkembangan afektif

2 Votes

Dorongan dan minat merupakan dasar pengalaman emosi. Dan saat terpenuhi, seseorang cenderung akan memiliki perkembangan emosi yang stabil. Dan sebaliknya, yang mungkin saja hal itu disebabkan kemampuan yang dimiliki atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Selain itu seorang individu dalam merespon banyak diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan objektif. Dorongan emosional juga banyak campur tangan mempengaruhi pikiran dan tingkah lakunya. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan fisik seperti reaksi elektris pada kulit; denyut jantung; peredaran darah; bulu roma; otot, dll. Karakteristik perkembangan emosi terbagi atas cinta/ kasih sayang, remaja yang berontak secara gamblang, nakal, memiliki sikap permusuhan dapat disebabkan kurangnya rasa cinta dan dicintai. Kemudian gembira, rasa gembira dialami bila semuanya berjalan lancar. Ketiga kemarahan dan permusuhan yang dipengaruhi oleh faktor usaha memiliki diri dan menjadi diri sendiri yang menuntut haknya, menjadi bebas/ independen, dan menjamin hubungan dengan pihak lain yang berkuasa; sisa kemarahan masa lalu, dendam, kesedihan, atau kecenderungan merasa tersiksa yang tampak dalam kepura-puraan; amarah yang dipendam; dan kemarahan pada diri sendiri. Karakteristik keempat adalah ketakutan dan kecemasan yang saling berkaitan, dengan ciri-ciri seperti yang dimiliki anak antara usia 12 s.d. 15 th., pemurung karena perubahan biologis kematangan seksual atau kebingungan mencari jati diri, dan sulit ditebak; bertindak kasar untuk menutupi kekurangan diri; ledakan amarah akibat kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, kebiasaan hidup yang buruk; tidak bertorelansi dan menganggap diri selalu benar karena kurang percaya diri; marah karena ditipu, sedangkan ciri emosional remaja usia 15 s.d. 18 th., pemberontakan; konflik karena ingin mendapat perhatian; melamunkan masa depan. Faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi tergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi diantaranya, belajar dengan cobacoba/ mengekspresikan emosi; belajar dengan meniru; belajar dengan cara mempersamakan diri; belajar melalui pengkondisian; dan belajar di bawah bimbingan terbatas pada aspek reaksi. Gangguan emosi dapat menyebabkan seseorang kesulitan berbicara. Sikap takut dan malu merupakan akibat ketegangan emosi dan dapat muncul dengan hadirnya individu tertentu atau situasi tertentu. Penderitaan emosional dapat mengganggu efetivitas belajar. Faktor afektif dalam pengalaman individu mempengaruhi jumlah dan luasnya apa yang dipelajari. Seorang anak di sekolah akan belajar lebih efektif bila ia termotivasi.

Dari kedudukannya, anak laki-laki lebih sering dan kuat mengekspresikan emosi. Rasa cemburu dan ledakan amarah umum terdapat di kalangan keluarga besar, terutama pada anak pertama. Sedangkan rasa iri umum terdapat pada keluarga kecil. Kecenderungan remaja melamun dapat dialihkan salah satunya dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri. Dalam diskusi kelas, tekankan pentingnya memperhatikan pandangan orang lain dalam mengembangkan/ meningkatkan pandangan sendiri. Selain itu, minta siswa mendiskusikan atau menulis tentang perasaan mereka yang negatif. Antara pengetahuan dan tindakan tidak selalu berkolerasi positif. Proses pertumbuhan dan kelanjutan pengetahuan bentuk sikap dan perilaku adalah proses kejiwaan. Kaitan moral dengan pengamalan nilai hidup moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai nilai. Dan keterkaitan nilai, moral, sikap, dan tingkah laku tampak dalam pengamalan nilai. Nilai perlu dikenal lebih dulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, makan akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai tersebut dan terwujud tingkah laku sesuai nilai. Beberapa perubahan dasar moral yang harus diikuti remaja seperti, pandangan moral yang abstrak; keadilan sebagai kekuatan; berani mengambil keputusan; tidak egois; penilaian moral secara psikologis. Sedangkan pembagian tingkat perkembangan moral terbagi atas prakonvensional, stadium 1, orientasi pada kepatuhan dan hukuman; stadium 2, prinsip relativistik-hedonism, bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan. Tingkat 2, konvensional, stadium 3, orientasi perbuatan dapat dinilai baik atau tidak; stadium 4, mempertahankan norma sosial dan otoritas. Tingkat 3, pasca-konvensional, stadium 5, orientasi terhadap perjanjian dengan lingkungan sosial; stadium 6, prinsip universal, unsur subjektif yang menilai apakah perbuatan itu baik atau tidak. Perkembangan internalisasi nila-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang yang dianggap sebagai model. Sedangkan perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi normanorma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari sudut organik biologis. Selain hubungan anak dan orang tua, masyarakat juga memiliki peran penting dalam pembentukan moral. Pemahaman konsep dan nilai tenggang rasa menempatkan individu dalam satu kontinum, di ujung paling kiri, tidak tahu konsep dan nilai tenggang rasa, akibatnya tidak bertindak benar dalam konsep tenggang rasa; ujung paling kanan, pengetahuan maupun tingkah lakunya mencerminkan penghayatan nilai tenggang rasa. Upaya mengembangkan nilai, moral, dan sikap: menghasilkan komunikasi dan menghasilkan iklim lingkungan yang serasi.
http://riarien.wordpress.com/2012/01/31/perkembangan-afektif/ April, 21 2013