Anda di halaman 1dari 10

I-10

BAB-I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kehadiran pedagang kaki lima di perkotaan merupakan wujud dari besarnya

peluang pekerjaan di sektor informal di satu sisi namun juga menunjukkan keterbatasan sektor formal dalam menyerap tenaga kerja. Kehadiran pedagang kaki lima di perkotaan juga menunjukkan besarnya inisiatif warga kota dalam menjalankan kegiatan ekonomi utamanya di sektor perdagangan. Adanya peluang bisnis disertai lokasi yang dirasakan gratis oleh para pedagang menyebabkan maraknya pedagang kaki lima berjualan di sepanjang trotoar jalan. Fenomena ini sangat kelihatan hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Kehadiran sektor informal dan pedagang kaki lima ini tidak terlepas dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998. Krisis ekonomi telah mengakibatkan terjadinya kelumpuhan ekonomi nasional terutama di sektor riil yang berakibat terjadinya pemutusan hubungan kerja besar-besaran dari perusahaanperusahaan swasta nasional. Kondisi ini berujung pada munculnya pengangguran di kota-kota besar di Indonesia Salah satu sektor informal yang banyak diminati para pengangguran adalah pedagang kaki lima yang sekarang dikenal dengan nama Pedagang Kreatif Lapangan (PKL). Perubahan istilah Pedagang Kreatif Lapangan berdasarkan Keputusan 3 (tiga) kementerian yakni Kementerian Dalam Negeri Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

(Kemendagri), Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) pada Tahun 2011. Pedagang kaki lima (PKL) nampaknya akan menjadi jenis pekerjaan yang penting dan relatif khas dalam sektor informal. (Yustika, 2000). Dilain pihak, tidak dapat dipungkiri bahwa PKL akan mendatangkan masalah dalam aktivitas perkotaan, namun terdapat sisi positif dalam sektor informal tersebut. Sektor informal dapat dianggap sebagai sabuk penyelamat yang menampung kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung di sektor formal (Sunyoto, 2006). Dengan perkataan lain, sektor informal ini dianggap sebagai katup pengaman pengangguran di perkotaan. Namun di sisi lain, ketidakteraturan lokasi aktivitas para pedagang kaki lima yang diakibatkan oleh bentuk fisik yang beragam dan sering terkesan asal-asalan dan kumuh berupa kios-kios kecil dan gelaran dengan alas seadanya, menjadikan visual suatu kawasan perkotaan yang telah direncanakan dan dibangun dengan apik, menjadi terkesan kumuh dan tidak teratur, sehingga menurunkan citra suatu kawasan. Kondisi ini diperburuk dengan dimanfaatkannya trotoar jalan oleh para PKL sebagai lokasi jualan yang sebenarnya merupakan hak para pejalan kaki. Akhirnya aktivitas PKL di dalam suatu perkotaan menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan. Berdasarkan gejala yang ada, Pemerintah Kota Medan sudah melakukan berbagai alternatif pemecahan dengan jalan menertibkan atau menata aktivitas PKL, termasuk dengan mengembalikan fungsi asli dari kawasan tersebut serta merelokasi para PKL tersebut ke lokasi baru. Namun, pada kenyataannya, setelah pelaksanaan relokasi atau penertiban, PKL kembali beraktivitas ke tempat semula bahkan adakalanya jumlahnya bertambah. Sangat disadari bahwa keberadaan PKL sangat dilematis di wilayah perkotaan. Di satu sisi, PKL sering kali dianggap mengganggu kegiatan sektor lain seperti

Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

kelancaran lalu lintas, estetika dan kebersihan kota, serta fungsi prasarana dan fasilitas publik sehingga harus ditata, namun di sisi lain, keberadaan PKL sangat membantu mengatasi masalah pengangguran, sumber penerimaan daerah, dan pemenuhan kebutuhan ekonomi rakyat. Oleh karenanya, diperlukan usaha untuk melindungi para pedagang kaki lima ini sehingga mereka dapat menjalankan usahanya. Salah satu usaha yang harus dilakukan adalah adanya kepastian lokasi berusaha bagi para pedagang kaki lima. Untuk itu diperlukan Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan.

1.2

Maksud dan Tujuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk :

1. Memetakan dan mengembangkan profil pedagang kaki lima di beberapa lokasi di Kota Medan. 2. Memetakan dan mengembangkan alternatif lokasi pengembangan pedagang kaki lima yang lebih permanen. Adapun tujuan dari penyusunan pekerjaan Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan adalah : 1. Mengetahui profil pedagang kaki lima di beberapa lokasi di Kota Medan 2. Mendapatkan pilihan - pilihan lokasi pengembangan pedagang kaki lima di Kota Medan.

1.3 Sasaran Adapun sasaran dari kegiatan Identifikasi Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan (Studi Kasus Beberapa Lokasi) ini adalah : Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

1) Tertatanya kawasan-kawasan kota dimana PKL termasuk di dalamnya. 2) Tersedianya alternatif lokasi pengembangan pedagang kaki lima yang sesuai dengan struktur dan pola ruang kota. 3) Tersedianya saran masukan formulasi kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan pedagang kaki lima di masa yang akan datang

1.4.

Ruang Lingkup Kegiatan Batasan atau lingkup penyusunan Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi

Pedagang Kaki Lima di Kota Medan (Studi Kasus Beberapa Lokasi) adalah melakukan pemetaan dan pengembangan pedagang kaki lima yang bersifat indikatif yang

memuat informasi dan data pemetaan lokasi dan pengembangan pedagang kaki lima yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan pengembangan kota Medan di masa yang akan datang.

1.5 Metodologi 1.5.1 Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Data Primer. Sumber data penelitian ini adalah data primer ( primary data). Data primer diperoleh melalui wawancara ( interview) dan menggunakan daftar pertanyaan (questionaire) yang telah terstruktur dengan tujuan mengumpulkan informasi dari responden terpilih. b. Data Sekunder. Data sekunder diperoleh melalui studi domentasi dari bahanbahan yang diterbitkan, seperti Data BPS, Peraturan Perundang-undangan, Peraturan Pemerintah, dan referensi yang dapat mendukung dalam penyelesaian penelitian ini. Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

1.5.2 Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah usaha mikro yang ada di Kota Medan. Di samping populasi, dibutuhkan pula informasi sebaran usaha mikro di tiap kecamatan Kota Medan. Namun karena keterbatasan data jumlah usaha mikro yang ada, maka dilakukan pendekatan dengan melihat data jumlah usaha mikro kecil (UMK) yang ada di kota Medan berdasarkan hasil Susenas BPS tahun 2006. Pendekatan ini dilakukan dengan keyakinan bahwa komposisi jumlah dan sebaran usaha mikro tidak jauh berbeda dengan jumlah dan sebaran UMK di Kota Medan.

1.5.3 Metode Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah purposive sampling di mana pengambilan sampel berdasarkan sebaran jumlah PKL di tiap kecamatan. Jumlah sampel survei ini adalah 600 responden Jumlah dan sebaran PKL yang dijadikan bahan untuk untuk menghitung responden tiap kecamatan serta jumlah distribusi sampel tiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:

1.5.4 Pendekatan Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Metodologi pelaksanaan yang akan disampaikan pada Bab ini merupakan implementasi dan pemahaman dan tanggapan konsultan terhadap KAK. Secara umum tahapan pelaksanaan ini terdiri dari: (1) Tahap Persiapan, (2) Tahap Kajian Literatur, (3) Pengumpulan Data, (4) Tahap Analisa, (5) Tahap Penyusunan Usulan. Penyusunan tahapan kegiatan ini disesuaikan dengan kebutuhan pelaporan dalam studi ini, dimana tujuan dari setiap tahapan adalah sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan, meliputi kegiatan: Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

a.

Insisiasi studi berupa konsolidasi tim.

b. Pengenalan terhadap wilayah studi/kegiatan c. Melakukan Brainstorming guna pemantapan metodologi yang akan

dikembangkan.

2. Tahap Kajian Literatur, meliputi kegiatan: a. b. Pedagang Kali Lima. Pasar Tradisionil

3. Tahap Pengumpulan Data, meliputi kegiatan: a. b. Data Primer, melalui survei Data Sekunder

4. Tahap Analisa, meliputi kegiatan: a. Analisis Peraturan Perudangan Yang Ada (Terutama Perda Yang Ada Dikota Medan) b. Analisis Dan Evaluasi Program-Program Yang Menyangkut Usaha Mikro ( Inventris Program Yang Telah Dilakukan Disetiap Skpd Terkait) c. Analisis Kondisi Usaha PKL d. Analisis Kebutuhan Lokasi Untung Menampung Perkembangan Usaha PKL (Berdasarkan Data-Data Yang Diperoleh, Jumlah PKL, Jumlah Penduduk Perkecamatan).

5. Tahap Penyusunan Program, meliputi kegiatan: Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

a. Program Dan Kebijakan Penataan ( Berdasarkan Hasil Analisis) b. Program Dan Kebijakan Pembinaan Usaha Mikro c. Program Dan Kebijakan Pendampingan Usaha Mikro

3.4.1 Tahap Persiapan Di dalam tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan sebagai awal (inisiation) dari seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan. Hasil tahap persiapan ini akan sangat mempengaruhi proses yang dilakukan dalam tahap-tahap selanjutnya. Secara umum terdapat 3 (tiga) kegiatan utama di dalam tahap persiapan ini, yaitu: a. Merencanakan secara detail tahap-tahap pelaksanaan kegiatan berikutnya, untuk mengefisienkan penggunaan waktu dan sumberdaya. b. Menetapkan metoda perumusan dan perancangan yang akan digunakan, hal ini penting untuk ditetapkan karena akan mempengaruhi kebutuhan data, penyediaan waktu analisis, dan kualitas hasil penelitian secara keseluruhan. c. Mengenal wilayah studi atau kegiatan, dalam kegiatan ini. 3.4.2 Tahap Kajian Literatur Kajian literatur dilakukan untuk mempertajam tahap identifikasi yang akan dilakukan pada tahap kegiatan berikutnya. a. Kondisi Geografi Kota Medan b. Struktur Kependudukan Kota Medan Perkecamatan, Perkelurahan Dan Ketenagakerjaan c. Kondisi Perekonomian Kota Medan (Pendapatan Perkapita, Tingkat Konsumsi Daging, Beras, Sayur) Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

d. Kondisi Sosial Kota Medan e. Kondisi Insfratruktur Kota Medan ( Jumlah Pasar Tradisional, Puja Sera, Lapangan, Taman)

3.4.3 Tahap Pengumpulan Data Adapun data yang dilakukan adalah: a. Klasifikasi PKL b. Kondisi PKL Di Kota Medan Berdasarkan Klasifikasi c. Survey Terhadap PKL d. Kondisi Umum PKL Seperti : Suku, Tingkat Pendidikan, Jenis Kelamin, Usia, Status,Tempat Berjualan , Jenis Usaha e. Kondisi Teknis Seperti : Modal, Pendapatan, Pengeluaran, Tenaga Kerja, f. Khusus Seperti Penyebab Menjadi Pengusaha Mikro, Pengertian Tentang

Hukum, Keluhan Dan Aspirasi, Kekuatan Dan Kekurangan Usaha Mikro. g. Observasi : Kondisi Gerobak, Kondisi Penjual, Tingkat Kebersihan

3.5.4 Tahap Analisa Meliputi kegiatan analisa terhadap keberadaan Pedagang Kaki Lima saat ini. Langkah-Langkah Analisis yang dilakukan : A. Persiapan: Menyamakan Pemahaman (Persepsi) 1. Perlunya identifikasi terhadap Kondisi PKL melalui penelaahan terhadap lingkungan usaha dan potensi sumber daya organisasi dalam menetapkan sasaran dan merumuskan strategi organisasi yang realistic dalam mewujudkan misi dan visinya; 2. Jenis dan kualitas data dan informasi yang internal dan eksternal yang diperlukan; Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

I-10

3. Menyamakan Langkah-langkah (prosedur) dalam melakukan analisis eksternal dan internal;

B. Metode Pendekatan: Terdapat dua pendekatan studi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pendekatan spasial serta pendekatan persepsi. Adapun dua pendekatan studi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Pendekatan Spasial Pendekatan studi ini terkait tema yang diangkat yaitu masalah lokasi. Lokasi tersebut merujuk pada spasial suatu kawasan. Diharapkan dalam output penelitian ini, dapat dihasilkan spot-spot lokasi yang diminati PKL dan konsumen dimana digunakan pendekatan spasial untuk merumuskannya. 2. Pendekatan Persepsi Dalam merumuskan karakteristik berlokasi PKL dalam penelitian ini

menggunakan persepsi PKL serta konsumen dalam pertimbangan merumuskan karakteristik berlokasi PKL. Persepsi ini mengimplementasikan perencanaan yang bersifat bottom up.

Pemetaan dan Pengembangan Lokasi-lokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Medan