Anda di halaman 1dari 82

Minggu, 17 Juni 2012

Makalah Akhlaq, Persoalan Akhlaq dan Macam-Macam Akhlaq


Pengertian Akhlaq Mulia (Al-Akhlaq Al-Karimah)

Akhlaq adalah lafadz yang berasal dari bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari
kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Berasal
dari kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang
berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan, dan kahlq artinya ciptaan.

Dari pengertian tersebut, memberi informasi bahwa akhlaq, selain merupakan tata
aturan atau norma-norma perilaku tentang hubungan antara sesama manusia, juga
merupakan norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan yang
maha pencipta, bahkan hubungan dengan alam sekitarnya.
Adapaun akhlaq menurut beberapa ulama antara lain, menurut :

# Imam Al-Ghazali
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-
perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
# Ibrahim Anis
Akhlaq adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-
perbuatan tanpa dipikir dan dipertimbangkan lebih dahul.
Dari keempat pengertian di atas dapat dipahami bahwa akhlaq adalah merupakan
sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang dapat menimbulkan gerakan,
perbuatan, tingkah laku secara spontan, gampang atau mudah pada saat dibuthkan
tanpa memerlukan pemikiran atau perimbangan terlebih dahulu dan tidak
memerlukan dorongan dari luar.

Akhlaq adalah gambaran atau bayangan dari jiwa seseorang, mereka berbuat,
bertindak, atau bertingkah laku berdasarkan apa yang tertanam dalam jiwanya dan
telah menjadi kebiasaan setiap hari tanpa ada pengaruh atau dorongan dari pihak
lain, mereka melakukan secara spontan tanpa pertimbangan pikiran sebelumnya.

Untuk melekatkan akhlaq yang mulia pada diri seseorang, harus terlebih dahulu
dilakukan pembersihan diri dari hal-hal sebagai berikut :
1. Dosa dan kesalahan melalui taubat dan istighfar kepada Allah
2. Sifat-sifat yang tercela, yang melekat pada dirinya melalui latihan dan
pembiasaan yang berkesinambungan
Sumber dan Ruang Lingkup Akhlaq

Yang dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi ukuran baik dan
buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran Islam, sumber
akhlaq adalah Al-Quran dan Sunnah, bukan akal pikiran atau pandangan
masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral.

Adapun ruang lingkup akhlaq menurut Abdullah Draz ada lima bagian yaitu :
Akhlaq pribadi terdiri dari Yang diperintahkan, yang dilarang, yang
dibolehkan dan Akhlaq dalam keadaan darurat
Akhlaq berkeluarga terdiri dari Kewajiban timbal balik antara orang
dengan anak, kewajiban sumai dengan istri dan kewajiban terhadap karib
kerabat.
Akhlaq bermasyarakat terdiri dari Yang dilarang yang iperintahkan dan
Kaedah-kaedah adab.
Akhlaq bernegara terdiri dari Hubungan antara pimpinan dan rakyat dan
hubungan luar negeri.
Akhlaq beragama yaitu kewajiban terhadap Allah SWT.
Berangkat dari sistematika di atas, sedikit modifikasi, maka penulis membagi
pembahasan akhlaq menjadi :
Akhlaq terhadap Allah SWT.
Akhlaq terhadap Rasulullah SAW.
Akhlaq pribadi
Akhlaq dalam keluarga
Akhlaq bermasyarakat dan
Akhlaq bernegara
Kedudukan dan Keistimewaan Akhlaq dalam Kehidupan

Dalam keseluruhan ajaran Islam akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan
sangat penting dalam kehidupan, seperti terlihat dalam beberapa poin berikut ini :

# Rasulullah SAW. Menempatkan penyempurnaan akhlaq, yang mulia sebagai
misi pokok Risalah Islam, sebagai sabdanya :
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. (HR.
Baihaqi).
Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam, sehingga Rasulullah
pernah mendefinisikan agam dengan akhlaq yang baik, sebagaimana sabda beliau.

Terjemahannya :
Ya Rasulullah, apakah agama itu ? beliau menjawab : agama itu adalah akhlak
yang baik.
# Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada
hari kiamat.

# Rasulullah SAW. Menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang sebagai ukuran
kualitasnya.

# Islam menjadikan akhlaw baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah
SWT.

# Nabi Muhammad SAW. Selalu berdoa agar Allah SWT. Membaikkan akhlaq
beliau.

PERSOALAN AKHLAQ

Perbuatan Baik dan Buruk

Yang dimaksud perbuatan baik adalah :
Sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan
Sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam kepuasan, kesenangan,
persesuaian dan seterusnya.
Sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang
memberikan kepuasan
Sesuatu dengan sesuai dengan keinginan yang bersifat berfitrah
Sesuatu hal yang dikatakan baik, bila ia mendatangkan rahmat,
memberikan perasaan senang atau bahagia.
Adapun yang dimaksud dengan perbuatan buruk adalah :
Sesuatu yang tidak baik, tidak seperti seharusnya, tidak sempurna dalam
kualitas, di bawah standart, kurang dalam nilai dan tidak mencukupi.
Sesuatu yang keji, jahat, tidak bermoral dan tidak menyenangkan
Adalah segala sesuatu yang tercela, karena melanggar norma-norma atau
aturan-aturan menurut yang ditetapkan oleh syara (agama).
Ukuran Baik dan Buruk

Persepsi Manusia Tentang Baik dan Buruk

Banyak orang yang berselisih pendapat untuk menilai suatu perbuatan, ada yang
melihatnya baik dan ada yang melihatnya buruk. Dpandang baik oleh suatu
masyarakat atau bangsa dipandang buruk yang lain. Dipandang baik pada waktu
ini dinilai buruk pada waktu yang lain.

Selanjutnya dalam menetapkan nilai perbuatan manusia, selain memperhatikan
nilai yang mendasarinya, kriteria lain yang harus diperhatikan adalah cara
melakukan perbuatan itu. Meskipun seseorang mempunyai niat baik, tetapi
lakukan dengan cara yang salah, dia dinilai tercela karena salah melakukannya,
bukan tercela karena niatnya. Kadang-kadang tercelanya manusia itu dapat
berpangkal dari keyakinan yang salah, bukan karena niatnya.

Dari uraian di muka tentang tingkah laku manusia dapat diketahui bahwa element-
element pokok yang perlu diperhatikan padanya adalah :
Kehendak (Karsa), yakni sesuatu yang mendorong yang ada di dalam jiwa
manusia.
Manifestasi dari kehendak, yaitu cara dalam merealisir kehendak tersebut.
Barangkali hal ini dapat disamakan dengan ungkapan karya, yakni
perbuatan dalam mewujudkan karsa tadi. Kalau karsa dan karya menjadi
satu, maka bisa dipastikan adanya aktivitas yang tidak kecil artinya.
Selanjutnya untuk menialai baik buruknya niat dan cara seseorang dalam
melakukan perbuatannya haruslah berdasarkan ajaran Islam sebagaimana firman
Allah SWT. Dalam QS. An-Nisa (4) :

Terjemahannya :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan oramg-
orang yang memegang kekuasaan diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan
perndapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebi utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya.
MACAM-MACAM AKHLAK

# Akhlak Terpuji

Akhlak Terpuji (al-mahmudah) atau akhlak al-karimah artinya sikap dan sifat
yang mulia atau terpuji, yang terkadang disebut dengan budi pekerti yang luhur.

Akhlak mulia suatu sikap atau sifat yang terpuji yang pantas melekat pada diri
setiap Muslim, sehingga menjadi orang yang berbudi baik atau luhur dan memiliki
karakter yang baik pula.
Indikator dalam akhlak mulia terbagi menjadi berbagai macam diantaranya adalah
:

Indikator akhlak mulia adalah sebagai berikut :
Shiddiq (benar atau jujur)
Al-manah (menyampaikan atau terbuka)
Tabligh (menyampaikan atau terbuka)
Fathana (cerdas dan cakap)
Istiqamah (teguh pendirian)
Ikhlas berbuat atau beramal
Syukur (menerima baik)
Sabar (teguh)
Iffah (perwira)
Tawadhu, adalah sikap sabar yang tertanam dalam jiwa untuk dapat
mengendalikan hawa nafsu.
Syaja (berani)
Hikmah (bijaksana)
Tasamuh (toleransi)
Lapang dada
Adil
Qanaah
Intiqad atau mawas diri
Al-Afwu atau pemaaf
Anisatun atau bermuka manis
Khusyu atau tenang dala beribadah
Wara, adalah sikap batin yang tertanam dalam jiwa yang selalu menjaga
dan waspada dari segala bentuk perbuatan yang mungkin mendatangkan
dosa, baik itu dosa kecil atau dosa besar.
Belas kasihan
Beriman kepada Allah
Taawun atau tolong menolong
Tadarru atau merendah
Shalihah (shaleh)
Sakhaa (pemurah)
Nadhief (bersih)
Ihsan
Malu (haya)
Uswatun hasanah (teladan yang baik)
Hifdu Al-Lisan (menjaga ibadah)
Hub al-wathan (cinta tanah air)
Akhlak yang tercela

Akhlak tercela adalah semua sifat dan tingkah laku yang berbeda atau berlawanan,
bahkan bertentangan dengan sifat-sifat yang telah disebutkan pada bagian
terdahulu (akhlak mulia) tersebut di atas.
Jenis akhlak yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
Dusta (bohong)
Khiyanat (menyia-nyiakan kepercayaan)
Hasad (dengki)
Iri hati
Al-Riya (puji diri)
Takabbur (sombong)
Al-Tabdzir (boros)
Al-Bukhlu (kikir)
Bakhil (kikir)
Al-Dzulmu (aniaya)
Ceroboh
Ananiyah
Al-Baghyu
Al-Buhtaan (bohong)
Ingkar janji
Al-Kamru
Al-Jubnu (pengecut)
Al-Fawahisy (dosa yang besar)
Saksi palsu
Fitnah
Al-Israf (hidup berlebih-lebihan)
Al-Liwathah (hubungan seksual tidak normal)
Al-namimah (adu domba)
Al-khufran (kekufuran)
Qatlun Nafs (menghilangkan jiwa)
Al-Riba (pemakan riba)
Al-sikhriyah (berolok-olok)
Tanabazu bil al-qad (memberi gelaran yang tidak benar atau berlebihan)
Al-Syakhwat (mengikuti hawa nafsu)
Dan lain-lain sifat tercela
Dari berbagai kesimpulan di atas kami menarik kesimpulan bahwa akhlak adalah
sesuatu sifat yang harus dijaga dan dipelihara, karena merupakan kunci sukses
untuk hidup. akhak ialah bunga diri, indah dipandang mata, nikmat dirasa oleh
hati dan memberi manfaat. Intinya adalah mencapai keridhaan Allah SWT.

http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2012/06/makalah-akhlaq-persoalan-
akhlaq-dan.html
Bentuk dan Macam-macam Akhlak
March 23, 2012 at 1:12 pm (Akhlak)
Tags: Akhlak, Akhlak Manusia, Arti Akhlak, Pengertian Akhlak, Tingkat Akhlak
Bentuk dan Macam-macam Akhlak
Beberapa sasaran Akhlak [baca juga: Hakikat dan Pengertian Akhlak], yakni :
a. Akhlak terhadap Allah SWT
Akhlak terhadap Allah SWT adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan
melainkan Allah. Dia memiliki sifat sifat terpuji. Demikian agung sifat itu, yang
jangankan manusia, malaikatpun tidak akan mampu menjangkau hakikat_Nya.
b. Akhlak terhadap manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perlakuan
terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam larangan
melakukan hal negatif seperti membunuh, menyakiti atau mengambil harta tanpa
alasan yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan
menceritakan aib seseorang dibelakngnya, tidak peduli aib itu benar atau salah.
Al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar.
Nabi Muhammad SAW, misalnya dinyatakan sebagai manusia seperti manusia
yang lain. Namun dinyatakan sebagai manusia seperti manusia yang lain, akan
tetapi dinyatakan pula bahwa beliau adalah rasul yang memperoleh wahyu dari
Allah SWT. Atas dasar adalah beliau berhak memperoleh penghormatan melebihi
manusia lain.
c. Akhlak terhadap lingkungan
Yang dimaksud dengan akhlak terhadap lingkungan adalah segala sesuatu yang
berada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda
tak bernyawa. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan oleh Al-Quran terhadap
lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifaan
menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya, dan manusia
dengan alam. Kekhalifaan juga mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta
pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Menurut Soegarda Purbakawatja, ada tiga aspek pokok yang memberi corak
khusus akhlak seorang muslim menurut ajaran Islam, yakni :
1. Adanya wahyu Allah yang memberi ketetapan kewajiban-kewajiban
pokok yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim, yang mencakup
seluruh lapangan hidupnya, baik yang menyangkut tugas-tugas terhadap
Tuhan, maupun terhadap masyarakat. Dengan ajaran kewajiban ini
menjadikan seorang muslim siap berpartisipasi dan beramal saleh, bahkan
bersedia mengorbankan jiwanya demi terlaksananya ajaran agamanya.
2. Praktek ibadah yang harus dilaksaanakan dengan aturan-aturan yang pasti
dan teliti. Hal ini akan mendorong tiap-tiap orang muslim untuk
memperkuat rasa berkelompok dengan sesamanya secara terorganisir.
3. Konsepsi Al-quran tentang alam yang menggambarkan penciptaan
manusia secara harmonis dan seimbang dibawah perlindungan Tuhan.
Ajaran ini juga akan mengukuhkan konstruksi kelompok (Soegarda
Purwakawatja, 1976:9).
Wasoal Djafar, menerangkan sifat sifat seorang muslim adalah, sebagai
berikut :
1. Siddiq, lurus dalam perkataan, lurus dalam perbuatan.
2. Amanah, jujur, boleh dipercaya tentang apa saja.
3. Sabar, takan menanggung barang atau perkara yang menyusahkan, tahan
uji.
4. Ittihad, bersatu didalam mengerjakan kebaikan dan keperrluan.
5. Ihsan, berbuat baik kepada orang tuanya, kepada keluarganya dan kepada
siapapun.
6. Riyatul Jiwar, menjaga kehormatan tetangga-tetangga.
7. Wafa bil ahdi, memenuhi dan menepati kesanggupan atau perjanjian.
8. Tawasau bil haq, pesan memesan, menepati dan memegang barang hak
atau kebenaran.
9. Taawun, tolong menolong atas kebaikan.
10. Athfi alad-dlaif, sayang hati kepada orang-orang yang lemah dan papa.
11. Muwasatil faqier, menghiburkan hati orang fakir atau miskin.
12. Rifqi, berhati belas kalian sehingga kepada hewan sekalipun (Wasoal
Djafar, Addien, 1951:25).
Demikianlah sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap pribadi muslim. Jika
sifat-sifat ini telah dimiliki oleh pribadi muslim, dengan demikian akan dapat
menentukan kualitas dirinya/akhlak dan perilaku [baca juga: Akhlak dan
Perilaku Anak] sebagai seorang muslim.

http://akhlakmanusia.wordpress.com/2012/03/23/bentuk-dan-macam-macam-
akhlak/

5 MACAM-MACAM AKHLAK DALAM ISLAM DI RUMAH






Ada bebrapa akhlak islam yang harus di terapkan di dalam rumah
untuk mendapatkan keluarga yang harmonis (sakinah dan mawaddah)
seperti yang di idam-idamkan seluruh orang. Tetapi sangat
disayangkan mereka tidak meu mencitakan suasana yang menunjang
terjadinya keluarga yang hangat dan terciptanya sifat kasih sayang.
Nacan-nacan akhlak dalam islam di rumah adalah:
1. Mentradisikan pergaulan yang baik (keramahan tamah) di rumah.
2. Membantu keluarga dalam pekerjaan rumah
3. Bersikap lembut dan bercanda dengan keluarga
4. Menyingkirkan akhlak buruk di rumah.
5. Gantungkanlah cambuk sehingga bisa dilihat oleh anggota keluarga

Mentradisikan Pergaulan Yang Baik Di Rumah
Dari Aisyah radhiyallah 'anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam (SAW) bersabda:
"Jika Allah 'Azza Wa Jalla menginginkan kebaikan kepada sebuah
keluarga maka Dia akan menganugerahkan atas mereka pergaulan
yang baik".

Dalam riwayat yang lain di katakan:
"Sesungguhnya Allah jika mencintai sebuah keluarga maka Dia akan
menganugerahkan atas mereka pergaulan yang baik".

Maksudnya masing-masing individu saling mempergauli anggota yang
lain dengan cara yang baik. Cara bergaul dengan baik serta keramah-
tamahan adalah sebuah sifat yang sangat bermanfaat bagi kedua
suami isteri dan anak-anak. Dan untuk ndapatkan pergaulan yang
demikian akan diperoleh tanpa ada kekerasan di dalam rumah. Dan
sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW):
"Sesungguhnya Allah mencintai pergaulan yang keramahan (baik) dan
Dia memberikan kepada pergaulan yang keramahan (baik) apa yang
tidak diberikan-Nya kepada kekerasan dan apa yang tidak diberikan
kepada selainnya".

Membantu Keluarga Dalam Pekerjaan Rumah
Banyak lelaki yang tidak mau melakukan pekerjaan rumah mereka
memiliki keyakinan bisa menurunkan derajat atau kewibawaan
seorang laki-laki. Di contohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam (SAW) beliau menjahit baju-nya sendiri, menambal sandal dan
pekerjaan-pekerjaan lain di dalam rumah.

Dikatakan Aisyah radhiyallah 'anha ketika ia ditanya apa yang
dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) di
rumahnya. Aisyah radhiyallah 'anhu menjawab: "DIa adalah manusia di
antara sekalian manusia, membersihkan bajunya, memerah susu
kambingnya dan melayani dirinya".

Aisyah radhiyallah 'anha juga ditanya apa yang dilakukan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di rumahnya. Ia berkata: "DIa
membantu keluarganya dan apabila masuk waktu shalat Dia keluar
untuk shalat".

Jika apa yangdilakukan oleh Rasulullah kita terapkan, maka kita akan:
Meneladani serta mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .
Membantu keluarga.
Menghilangkan sifat sombong dan menanamkan sifat rendah diri.

Bersikap Lembut Dan Bercanda Dengan Keluarga
Bersikap lembut terhadap isteri serta anak-anak merupakan salah satu
faktor yang mampu menebarkan suasana kebahagiaan dan eratnya
hubungan baik di antara anggota keluarga. Karena itu Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) memberi nasehat pada Jabir agar
menikahi wanita yang perawan. Beliau berkata:
"Kenapa engkau tidak menikahi perawan sehingga engkau bisa
mencandainya dan dia pun mencandaimu dan engkau dapat
membuatnya tertawa dan dia pun membuatmu tertawa"

Agar jabir dapat bermesra-mesraan dengan istrinya dan saling sayang
menyayangi ketika telah menjadi suami istri. Dan menyayangi anak-
anak, sebaiknya orang tua mencium anak-anaknya. Serta siapa
mengira bahwa mencium seorang anak dapat mengurangi wibawa
seorang ayah maka hendaknya untuk membaca hadits ini:
Dari Abu Hurairah radhiyallah 'anhu dia berkata: "Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) mencium Hasan bin Ali sedang di
sisi beliau terdapat Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Maka
Al-Aqra' berkata: "Saya mempunyai sepuluh orang anak tetapi saya
tidak pernah mencium seorangpun anakpun dari mereka". Maka
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW)melihat nya dan berkata:
"Barangsiapa yang tidak mengasihi, niscaya dia tidak dikasihi".

Menyingkirkan Akhlak Buruk Di Rumah
Jika anggota keluarga memiliki akhlak buruk dan menyimpang,
seperti: menggunjing, mengadu domba dusta, menggunjing dan lain-
lain. Akhlak buruk ini harus dilawan serta disingkirkan dari dalam diri
anggot keluarga dengan mengajarkan pola hidup menurut rasulullah
dan menerapkan akhlak islam di dalam rumah. Sebagian orang
menyangka bahwa hukuman jasmani (pukulan atau siksaan) adalah
salah satu jalan keluar untuk mengatasi nya.

Aisyah radhiyallah 'anha meriwayatkan hadits: "Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam (SAW) jika mengetahui seseorang anggota
keluarganya melakukan dusta, beliau (Rasulullah) terus memalingkan
diri dari padanya sehingga dia mengatakan bertaubat."

Maksud memalingkan diri adalah mendiamkan (tidak berbicara) karna
sikap ini dapan menyentu hati seseorang dan membuatnya menyadi
sadar dan tak mengulangi lagi kesalahan nya.

Gantungkanlah Cambuk Sehingga Bisa Dilihat Oleh Anggota
Keluarga
Memberi isyarat serta bentuk hukuman, ini adalah sebuah metode /
cara pendidikan yang tinggi dalam meningkatkan akhlak (bukan
menakut-nakuti). Seperti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
(SAW) bersabda:
"Gantungkanlah cambuk di mana bisa dilihat oleh anggota keluarga,
karena ia lebih mendidik mereka".


alat cambuk / rotan untuk menghukum, menjadikan anggota keluarga
yang berniat melakukan kejahatan tidak jadi untuk melakukannya
karena ingaat akan hukuman Allah lebih berat dari cambukan yang
ada di muka bumi ini.

http://seelookbook.blogspot.com/2013/06/5-macam-macam-akhlak-dalam-islam-
di.html

Bentuk dan Macam-macam Akhlak
08.59 Materi Pendidikan Agama Islam 2 comments

Beberapa sasaran Akhlak , yakni :
a. Akhlak terhadap Allah SWT
Akhlak terhadap Allah SWT adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan
melainkan Allah. Dia memiliki sifat sifat terpuji. Demikian agung sifat itu, yang
jangankan manusia, malaikatpun tidak akan mampu menjangkau hakikat_Nya.
b. Akhlak terhadap manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perlakuan
terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam larangan
melakukan hal negatif seperti membunuh, menyakiti atau mengambil harta tanpa
alasan yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan
menceritakan aib seseorang dibelakngnya, tidak peduli aib itu benar atau salah.
Al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar.
Nabi Muhammad SAW, misalnya dinyatakan sebagai manusia seperti manusia
yang lain. Namun dinyatakan sebagai manusia seperti manusia yang lain, akan
tetapi dinyatakan pula bahwa beliau adalah rasul yang memperoleh wahyu dari
Allah SWT. Atas dasar adalah beliau berhak memperoleh penghormatan melebihi
manusia lain.
c. Akhlak terhadap lingkungan
Yang dimaksud dengan akhlak terhadap lingkungan adalah segala sesuatu yang
berada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda
tak bernyawa. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan oleh Al-Quran terhadap
lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifaan
menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya, dan manusia
dengan alam. Kekhalifaan juga mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta
pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Menurut Soegarda Purbakawatja, ada tiga aspek pokok yang memberi corak
khusus akhlak seorang muslim menurut ajaran Islam, yakni :
1. Adanya wahyu Allah yang memberi ketetapan kewajiban-kewajiban
pokok yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim, yang mencakup
seluruh lapangan hidupnya, baik yang menyangkut tugas-tugas terhadap
Tuhan, maupun terhadap masyarakat. Dengan ajaran kewajiban ini
menjadikan seorang muslim siap berpartisipasi dan beramal saleh, bahkan
bersedia mengorbankan jiwanya demi terlaksananya ajaran agamanya.
2. Praktek ibadah yang harus dilaksaanakan dengan aturan-aturan yang pasti
dan teliti. Hal ini akan mendorong tiap-tiap orang muslim untuk
memperkuat rasa berkelompok dengan sesamanya secara terorganisir.
3. Konsepsi Al-quran tentang alam yang menggambarkan penciptaan
manusia secara harmonis dan seimbang dibawah perlindungan Tuhan.
Ajaran ini juga akan mengukuhkan konstruksi kelompok (Soegarda
Purwakawatja, 1976:9).
Wasoal Djafar, menerangkan sifat sifat seorang muslim adalah, sebagai
berikut :
1. Siddiq, lurus dalam perkataan, lurus dalam perbuatan.
2. Amanah, jujur, boleh dipercaya tentang apa saja.
3. Sabar, takan menanggung barang atau perkara yang menyusahkan, tahan
uji.
4. Ittihad, bersatu didalam mengerjakan kebaikan dan keperrluan.
5. Ihsan, berbuat baik kepada orang tuanya, kepada keluarganya dan kepada
siapapun.
6. Riyatul Jiwar, menjaga kehormatan tetangga-tetangga.
7. Wafa bil ahdi, memenuhi dan menepati kesanggupan atau perjanjian.
8. Tawasau bil haq, pesan memesan, menepati dan memegang barang hak
atau kebenaran.
9. Taawun, tolong menolong atas kebaikan.
10. Athfi alad-dlaif, sayang hati kepada orang-orang yang lemah dan papa.
11. Muwasatil faqier, menghiburkan hati orang fakir atau miskin.
12. Rifqi, berhati belas kalian sehingga kepada hewan sekalipun (Wasoal
Djafar, Addien, 1951:25).
Demikianlah sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap pribadi muslim. Jika
sifat-sifat ini telah dimiliki oleh pribadi muslim, dengan demikian akan dapat
menentukan kualitas dirinya/akhlak dan perilaku sebagai seorang muslim.

http://gudangmaterikuliah.blogspot.com/2012/05/bentuk-dan-macam-macam-
akhlak.html

Makalah Macam-macam akhlak terhadap Allah
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Menjaga Akhlak kepada Allah K.H. Abdullah Gymnastiar Mudah-mudahan Allah
SWT yg Maha Mengetahui siapa diri kita yg sebenar menolong kita agar dapat
mengetahui kekurangan yg harus diperbaiki memberitahu jalan yg harus ditempuh
dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tak dikalahkan
oleh kemalasan tak dikalahkan oleh kebosanan dan tak dikalahkan oleh hawa
nafsu. Dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yg dapat diwariskan
kepada keluarga keturunan dan lingkungan adl keindahan akhlak kita. Karena
ternyata keislaman seseorang tak diukur oleh luas ilmu. Keimanan seseorang tak
diukur oleh hebat pembicaraan. Kedudukan seseorang disisi Allah tak juga diukur
oleh kekuatan ibadah semata. Tapi semua kemuliaan seorang yg paling benar
Islam yg paling baik iman yg paling dicintai oleh Allah yg paling tinggi
kedudukan dalam pandangan Allah dan yg akan menemani Rasulullah SAW
ternyata sangat khas yaitu orang yg paling mulia akhlaknya. Walhasil sehebat
apapun pengetahuan dan amal kita sebanyak apapun harta kita setinggi apapun
kedudukan kita jikalau akhlak rusak maka tak bernilai. Kadang kita terpesona
kepada topeng duniawi tapi segera sesudah tahu akhlak buruk pesona pun akan
pudar. Yakinlah bahwa Rasulullah SAW diutus ke dunia ini adl utk
menyempurnakan akhlak. Hal ini dinyatakan sendiri oleh beliau ketika menjawab
pertanyaan seorang sahabat Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?.
Rasul menjawab Innama buitsu liutamimma makarimal akhlak Sesungguh aku
diutus ke dunia hanyalah utk menyempurnakan akhlak.

Setiap muslim meyakini, bahwa Allah adalah sumber segala sumber dalam
kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala
isinya, Allah adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah
pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain
sebagainya. Sehingga manakala hal seperti ini mengakar dalam diri setiap muslim,
maka akan terimplementasikan dalam realita bahwa Allah lah yang pertama kali
harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.

Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar
dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang
tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin
memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia
memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka ini merupakan pintu gerbang
untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah
adalah bagaimna akhlak terhadap Allah dan macam-macam akhlak terhadap
Allah.

BAB II

PEMBAHASAN

A. MACAM-MACAM AKHLAK TERHADAP ALLAH

Diantara akhlak terhadap allah swt adalah:

1. Taat terhadap perintah-perintah-Nya.

Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah
SWT, adalah dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya. Sebab bagaimana
mungkin ia tidak mentaati-Nya, padahal Allah lah yang telah memberikan segala-
galanya pada
dirinya. Allah berfirman (QS. 4 : 65):

Maka demi Rab-mu, mereka pada hakekatnya
tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, kemdian mrekea tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap ptutusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.


Karena taat kepada Allah merupakan konsekwensi keimanan seorang muslim
kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini merupakan salah satu
indikasi tidak adanya keimanan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga
menguatkan makna ayat di atas dengan bersabda:


Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga hawa nafsunya
(keinginannya) mengikuti apa yang telah datang dariku (Al-Quran dan sunnah)."
(HR. Abi Ashim al-syaibani).

2. Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diembankan padanya.

Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah
memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Karena pada
hakekatnya, kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh
karenanya, seorang mukmin senantiasa meyakini, apapun yang Allah berikan
padanya, maka itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung
jawaban dari Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda:
Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap
apa yang dipimpinnya. Seorang amir (presiden/ imam/ ketua) atas manusia,
merupakan pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.
Seorang suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung
jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita juga merupakan pemimpin
atas rumah keluarganya dan juga anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas
apa yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dan
ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan setiap kalian adalah
pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya." (HR. Muslim)

3. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT.

Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT,
adalah ridha terhadap segala ketentuan yang telah Allah berikan pada dirinya.
Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada maupun oleh keluarga
yang tidak mampu, bentuk fisik yang Allah berikan padanya, atau hal-hal lainnya.
Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin (baca; tsiqah)
terhadap apapun yang Allah berikan pada dirinya. Baik yang berupa kebaikan,
atau berupa keburukan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

" sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala urusannya adalah
dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, karena
ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. Dan jika ia
tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal
terbaik bagi dirinya." (HR. Bukhari)

Apalagi terkadang sebagai seorang manusia, pengetahuan atau pandangan kita
terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap
baik justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah
memiliki kebaikan bagi diri kita.

4. Senantiasa bertaubat kepada-Nya.

Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai
dan lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah,
etika kita kepada Allah, manakala sedang terjerumus dalam kelupaan sehingga
berbuat kemaksiatan kepada-Nya adalah dengan segera bertaubat kepada Allah
SWT. Dalam

Al-Quran Allah berfirman (QS. 3 : 135) :

"Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain
Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka
mengetahui."

5. Obsesinya adalah keridhaan ilahi.

Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akanm memiliki obsesi
dan orientasi dalam segala aktivitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak
beramal dan beraktivitas untuk mencari keridhaan atau pujian atau apapun dari
manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridhaan Allah tersebut, terpakasa
harus mendapatkan ketidaksukaan dari para manusia lainnya. Dalam sebuah
hadits Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada kita:

"Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan adanya kemurkaan
manusia, maka Allah akan memberikan keridhaan manusia juga. Dan barang
siapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara kemurkaan Allah, maka
Allah akan mewakilkan kebencian-Nya pada manusia." (HR. Tirmidzi, Al-
QadhaI dan ibnu Asakir).

Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang terdapat dalam
dirinya. Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman, otientasi yang
dicarinya tentulah hanya keridhaan manusia. Ia tidak akan perduli, apakah Allah
menyukai tindakannya atau tidak. Yang penting ia dipuji oleh oran lain.

6. Merealisasikan ibadah kepada-Nya.

Etika atau akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah
SWT adalah merealisasikan segala ibadah kepada Allah SWT. Baik ibadah yang
bersifat mahdhah, ataupun ibadah yang ghairu mahdhah. Karena pada hakekatnya,
seluruh aktiivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT.

Dalam Al-Quran Allah berberfirman (QS. 51 : 56):

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka
beribadah kepada-Ku.

Oleh karenanya, segala aktivitas, gerak gerik, kehidupan sosial dan lain
sebagainya merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah.
Sehingga ibadah tidak hanya yang memiliki skup mahdhah saja, seperti shalat,
puasa haji dan sebagainya. Perealisasian ibadah yang paling penting untuk
dilakukan pada saat ini adalah beraktivitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat
menerakpak hokum Allah di muka bumi ini. Sehingga Islam menjadi pedoman
idup yang direalisasikan oleh masyarakat Islam pada khususnya dan juga oleh
masyarakat dunia pada umumnya.

7. Banyak membaca al-Quran.

Etika dan akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah
adalah dengan memperbanyak membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang
merupakan firman-firman-Nya. Seseeorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia
akan banyak dan sering menyebutnya. Demikian juga dengan mukmin, yang
mencintai Allah SWT, tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut Asma-Nya dan
juga senantiasa akan membaca firman-firman-Nya. Apalagi menakala kita
mengetahui keutamaan membaca Al-Quran yang dmikian besxarnya. Dalam
sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita:

"Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya Al-Quran itu dapat memberikan
syafaat di hari kiamat kepada para pembacanya." (HR. Muslim).

Adapun bagi mereka-mereka yang belum bisa atau belum lancar dalam
membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga dapat
membacanya dengan baik. Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam
membaca Al-Quran tersebut, maka Allah pun akan memberikan pahala dua kali
lipat bagi dirinya. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Orang (mumin) yang membaca Al-Quran dan ia lancar dalam membacanya,
maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi suci. Adapun orang mumin
yang membaca Al-Quran, sedang ia terbata-bata dalam membacanya, lagi berat
(dalam mengucapkan huruf-hurufnya), ia akan mendapatkan pahala dua kali
lipat." (HR. Bukhori Muslim)

B. ANALISIS

Kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya terbentuk pada
senyuman dan keramahan. Padahal maksud akhlak yg sebenar jauh melampaui
sekedar senyuman dan keramahan. Karena penjabaran akhlak dalam perilaku
sehari-hari bukanlah suatu hal yg terpecah-pecah semua terintegrasi dalam satu
kesatuan utuh termasuk bagaimana akhlak kita kepada Allah. Akhlak kita kepada
Allah SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang menjaga akhlak
kepada Allah hati benar-benar putih seperti putih air susu yg tak pernah
tercampuri apapun. Bersih sebersih-bersihnya. Bersih keyakinan tak ada sekutu
lain selain Allah. Tidak ada satu tetes pun di hati meyakini kekuatan di alam
semesta ini selain kekuatan Allah SWT sehingga ia sangat jauh dari sifat
munafik.Tapi kenyataannya sekarang mengapa masih banyak diantara kita yang
seolah jauh dari semua itu? Padahal dari sekolah tingkat dasar kita sudah
diajarkan tentang bagaimana kewajiban kita terhadap Allah, bahkan sejak kecil
sudah di beritahukan tentang semua itu toh sekarang kenapa masih banyak yang
tidak mengamalkannya ?

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN


Dari pembahasan makalah ini, penulis menyimpulkan, bahwa akhlak kepada
Allah merupakan pondasi dasar yang harus di bangun , karena jika seseorang
benar- benar memiliki akhlak yang baik terhadap Allahnya, maka akhlaknya
terhadap manusia dan lingkungan pun akan ikut baik.begitupun sebaliknya.




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Zakiy Al Kaaf , Membentuk Akhlak ( Mempersiapkan Generasi
Islami ), Pustaka Setia, Bandung, 2001
Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka setia, Bandung, 1997
Al-Ghazali, Rindu dan Cinta kepada Allah , Pustaka Panji Mas, Jakarta, 2005

http://newjoesafirablog.blogspot.com/2013/05/makalah-macam-macam-akhlak-
terhadap.html

Jumat, 26 April 2013
MACAM-MACAM AKHLAK MADZMUMAH


I. PENDAHULUAN
Pada dasarnya manusia dilahirkan dibumi ini dengan keadaan yang fitrah atau
suci tanpa adanya suatu dosa apapun. Akan tetapi setelah itu keluarga yang
memiliki peran terbesar dalam mendidiknya menjadi insan yang bermutu. Selain
dari pada keluarga, lingkungan juga mendominasi dalam terciptanya akhlak
manusia menjadi baik ataupun buruk.
Ketika manusia melakukan perilaku seburuk apapun, ada kemungkinan
manusia kemballi keasalnya yaitu fitrah. Sebab dalam hal ini manusia dikaruniai
kebaikan dan kebenaran yang hakiki. Namun sebelum kembalinya pada fitrah
tersebut manusia akan merasakan dampak psikologis. Khususnya dalam makalah
ini akan akan membahas tentang dampak psikologis dari akhlak madzmumah.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Hakikat Akhlak Madzmumah?
B. Apa saja Macam-macam Akhlak Madzmumah?
C. Bagaimana Efek Psikologis Pelaku Akhlak Madzmumah?
III. PEMBAHASAN
A. Hakikat Akhlak Madzmumah
Akhlakul madzmumah adalah perangai atau tingkah laku pada tutur kata
yang tercermin pada diri manusia yang cenderung melekat pada bentuk yang tidak
menyenangkan orang lain.
Akhlakul madzmumah merupakan tingkah laku kejahatan, kriminal,
perampasan hak. Sifat ini telah ada sejak lahir, baik wanita maupun pria yang
tertanam dalam jiwa setiap manusia. Akhlak secara fitrah manusia adalah baik,
namun dapat berubah menjadi akhlak buruk apabila manusia itu lahir dari
keluarga yang tabiatnya kurang baik, lingkungannya buruk, pendidikan tidak baik
dan kebiasaan-kebiasaan tidak baik sehingga menghasilkan akhlak yang
buruk.1[1]
Ada berbagai macam jenis sifat yang tercela ini dan beberapa diantaranya
akan diuraikan di belakang. Sekedar contoh, termasuk sifat tercela yang
dikerjakan oleh anggota lahir (maksiat lahir) adalah mencuri, berdusta,
memfitnah, dan sebagainya. Dan termasuk sifat tercela yang dikerjakan oleh hati
(maksiat batin) adalah dengki, takabur, dan lain sebagainya.
Maksiat lahir itu akan mengakibatkan kekacauan dalam masyarakat,
seperti mencuri, mencopet, merampok, menganiaya, membunuh, dan lain-lain
yang dapat dilakukan dengan tangan manusia. Begitu pula dengan kejahatan-
kejahatan yang dilakukan oleh anggota lahir lainnya yang sangat berbahaya untuk
keamanan dan ketentraman masyarakat.
Tetapi disamping itu maksiat batin lebih berbahaya karena ia tidak
kelihatan dan kurang diperhatikan dan lebih sukar dihilangkan. Maksiat ini
merupakan pendorong dari maksiat lahir. Selama maksiat batin ini belum
dilenyapkan, maksiat lahir tidak bisa dihindarkan dari manusia. Allah SWT
memperingatkan agar manusia membersihkan jiwanya atau hatinya dari segala
kotoran, yakni sifat-sifat tercela yang melekat di hati, karena kebersihan jiwa atau

1[1] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-quran, (Jakarta:
Amzah, 2007), Hlm.56
kemurnian hati itu merupakan syarat kebahagiaan manusia, di dunia dan di
akhitrat.2[2]
B. Macam-macam Akhlak Madzmumah
1. Ananiyah (egois)
Manusia hidup tidaklah menyendiri, tetapi berada di tengah-tengah
masyarakat yang heterogen. Ia harus yakin jika hasil perbuatan baik, masyarakat
turut mengecap hasilnya, tetapi jika akibat perbuatannya buruk masyarakatpun
turut menderita. Sebaliknya orang tiada patut hanya bekerja untuk dirinya, tanpa
memerhatikan tuntutan masyarakat, sebab kebutuhan-kebutuhan manusia tidak
dapat dihasilkan sendiri. Ia sangat memerlukan bantuan orang lain dan
pertolongan dari anggota masyarakat. sifat egoistis tidak diperdulikan orang lain,
sahabatnya tidak banyak dan ini berarti mempersempit langkahnya sendiri di
dunia yang luas ini.3[3]
Oleh karena itu sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri
dalam masyarakat, ia mutlak memerlukan bantuan orang lain dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Maka dari itu, dalam hidup bermasyarakat kita harus berbaur
satu sama lain dan saling membantu. Karena jika mengedepankan sifat egois kita
akan dijauhi banyak orang, orang yang egois terkesan seakan bisa hidup sendiri
tanpa bantuan orang lain.
2. Al- Buhtan (dusta)
Maksud sifat dusta ialah mengada-ada sesuatu yang sebenarnya tidak ada,
dengan maksud untuk merendahkan seseorang. Kadang-kadang ia sendiri yang
sengaja berdusta. Dikatakannya orang lain yang menjadi pelaku, juga ada kalanya
secara brutal ia bertindak, yaitu mengadakan kejelekan terhadap orang yang
sebenarnya tidak bersalah. Orang yang seperti ini perkataannya tidak dipercayai
orang lain. Di dunia ia akan memperoleh derita dan di akhirat ia akan menerima
siksa. Menghadapi orang yang bersifat demikian, apabila ia membawa berita

2[2] Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rajawali Press,
1992), Hlm.185
3[3] Yatimin Abdullah, Op.Cit, Hlm.14
hendaklah berhati-hati, jangan mudah diperdayakan, sebab berdusta sudah
memang hobinya, celakalah setiap pendusta, pengumpat, pencela, dan
pemfitnah.4[4]

3. Al- Ghadlab (Pemarah)
Marah atau disebut juga sifat pemarah terjadi karena darah mendidih di
dalam hati untuk menuntut pembalasan. Pembalasan ini merupakan bentuk
kekuatan untuk memberikan kelezatan dan tidak akan reda kecuali dengan
pembalasan. Amarah merupakan bagian dari karakter yang selalu ada pada diri
manusia. Barang siapa marah dan selalu mengikuti kemarahannya hingga
mengikuti perbuatan yang jelek, maka hal tersebut merupakan kemarahan yang
tercela sesuai perbuatan yang dulakukannya.
Marah menunjukkan tingkat kelabilan jiwa seseorang karena ia tidak
mampu mengendalikan amarahnya. Ketika marah berkobar maka kesadaran
nurani terhalangi yang kemudian mendatangkan sakit hati yang berat.
Kecenderungannya ingin menjatuhkan orang lain melalui provokasi, permusuhan
dan perusakan.5[5]
Oleh karena dampak yang disebabkan oleh sifat marah dapat merugikan
orang lain, maka sifat itu dilarang oleh agama. Sebagaimana sabda Rasulullah:


) (


Artinya:
Dari Abu Hurairah Ra Rasulullah bersabda: orang kuat itu bukanlah orang
yang sering mengalahkan lawan ketika gulat. Sesungguhnya orang yang kuat itu
adalah orang yang dapat menguasai nafsunya ketika marah. HR. Muttafaqun
alaih.

4. Al- Hasad (dengki)

4[4] Ibid, hlm. 15
5[5] Sri Rejeki, Dimensi Psikoterapi Suluk Ling-lung Sunan Kalijaga,
(Semarang: Puslit IAIN Walisongo Semarang, 2010), Hlm. 44-45
Dengki ialah suatu keadaan pikiran, yang membuat dirinya merasa sakit
jika orang lain mendapat suatu kesenangan dan ia ingin agar kesenangan itu
diambil dari orang itu meskipun ia sendiri tidak akan mendapat keuntungan
apapun dengan hilangnya kesenangan itu. Ini mengarah kepada kekejian, merasa
gembira jika orang lain bernasib buruk. Semua yang baik yang dimiliki manusia
adalah karunia Allah dan setiap keinginan orang lain agar ini dihapuskan
menunjukkan bahwa: ketidak senangannya dengan putusan Allah, dan
keserakahan yang keterlampauan. Karena seorang bakhil itu kikir dengan harta
miliknya sendiri, tetapi seorang pendengki, kikir berkenaan dengan anugerah yang
datang dari khazanah Allah.6[6]
Sebagaimana hadist Nabi, sesungguhnya sifat dengki banyak membawa
kerugian.

) (
Artinya:
Janganlah kamu dengki mendengki, jangan pula putus memutuskan hubungan
persaudaraan, jangan benci membenci, jangan pula belakang membelakangi, dan
jadilah kamu semua hamba Allah seperti saudara, sebagai mana yang
diperintahkan Allah kepadamu. HR. Bukhori-Muslim

5. Al- Istikbar (sombong)
Sombong yaitu menganggap dirinya lebih dari yang lain sehingga ia
berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan dirinya, selalu merasa
lebih besar, labih kaya, lebih pintar, lebih dihormati, lebih mulia, dan lebih
beruntung dari yang lain. Maka biasanya orang seperti itu memandang orang lain
lebih buruk , lebih rendah dan tidak mau mengakui kelebihan orang tersebut,
sebab tindakan itu menurutnya sama dengan merendahkan dan menghinakan
dirinya sendiri.7[7]

6[6] Muhammad Abdul Quasem, Etika Al-Ghazali, terj. Mahyudin,
(Bandung: Pustaka, 1988)Hlm.135
7[7] Yatimin Abdullah, Op.Cit, Hlm. 66
Al-Ghazali menyebutkan kesombongan itu banyak macamnya.
Berdasarkan terhadap apa kesombongan itu ditujukan, maka terdapat tiga macam,
yakni sombong terhadap Allah, sombong terhadap para Nabi dan sombong
terhadap orang lain.8[8]
Adapun ayat Al-quran yang menjelaskan sifat sombong adalah sebagai
berikut:
W E`4 -g~-.-
W-OL4c-
W-+OE'4c-4
_+OEN1 -EO4N
V1g 4 4p_ _ }g)`
p1 *.- 1g4 4 -LOO4^
^_@
Artinya: adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka
Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan
memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.
(Q.S. An-Nisa: 173)

6. Al- Ishraf (berlebihan)
Al- Ishraf ialah menyianyiakan sesuatu tanpa manfaat, melebihi batas
disetiap perbuatan, misalnya menyianyiakan harta, ini dilarang oleh agama dan
merupakan penyakit hati, mengeluarkan harta tanpa faidah, umpama makan dan
minum dikala belum lapar dan belum haus atau makan minum yang berlebih-
lebihan, berpakaian yang terlalu menyolok secara keterlaluan.
Karena itu, makan, minum, berpakaian hendaklah sekadar cukup saja,
jangan berlabih- lebihan, sifat ini timbul pada mereka yang bodoh karena tidak
pandai mengatur, padahal masih banyak keperluan-keperluan urgent yang lebih
patut.
7. Al- Ifsad (berbuat kerusakan)
Orang yang berbuat kerusakan jiwanya seperti jiwa serigala yaitu selalu
berusaha bagaimana caranya menganiaya orang lain, dan yang ada difikirannya
hanya bagaimana cara merusak orang lain. Dapat juga dikatakan seperti jiwa tikus

8[8] Muhammad Abdul Quasem, Op.Cit. hlm.154
yaitu tidak dengan moncong mulutnya, dengan ekornya dia mencuri, selain itu
kerjanya hanya merusak saja.
Ia senang menagdu dombakan orang, menghasut dan melancarkan fitnah
untuk merusakkan orang lain, membuat bencana, maka orang seperti itu tidak dapt
dipercaya dan harus dijauhi.
8. Al- Namimah (mengadu domba)
Menyampaikan perkataan seseorang atau menceritakan keadaan seseorang
atau mengabarkan pekerjaan seseorang kepada orang lain dengan maksud
mengadu domba antara keduanya atau merusakkan hubungan baik antara mereka.
Keadaan ini mengakibatkan timbulnya kejahatan antara orang dengan
orang atau memutuskan silaturrahmi anttara keluarga dan sahabat, menceraikan
hubungan orang dan sebenarnya hal ini berarti memperbanyak jumlah lawan.
9. Al- Sikhriyyah (berolok-olok)
Al- Sikhriyyah adalah menghina keaiban atau kekurangan orang dengan
menertawakannya, dengan memperkatakannya, atau dengan meniru perbuatannya
dengan isyarat.
Janganlah menghina atau memperolok-olokkan orang, boleh jadi orang
tersebut lebih baik dari engkau sendiri. Orang yang selalu berolok-olok adalah
orang yang berjiwa kera, senangnya hanya mengejek perbuatan orang lain.9[9]
Berikut ini adalah Firman Allah yang melarang perbuatan sikhriyyah atau
mengolok-olok.
Og^4C 4g~-.-
W-ONL4`-47 OECOEC O~ }g)`
`O~ -/=O4N p W-O+^O74C
-LOOE= gu+g)` 4 E7.=O)e
}g)` 7.=O)Oe -/=O4N p O}74C
-LOOE= O}gu+g)` W 4
W-+OgU> 7=O^ 4
W-+O44L> U^) W
"^-) N;-]- 7-OOO^-

9[9] Barmawie Umary, Materia Akhlak, (Solo: Ramadhani, 1995), hlm.
62-67
Eu4 ^}ECe"- _ }4`4 -
U+-4C Elj^q N-
4pO+j-- ^
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik
dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan
lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela
dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan
barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

C. Efek Psikologis Pelaku Akhlak Madzmumah
Efek psikologis dari pelaku Akhlak Madzmumah adalah seperti dalam QS.
Al-Hujurat 49: 11 sebagaimana tertera di atas. Dalam ayat tersebut Allah
memperingatkan, kalau ada orang yang suka menjelekkan orang lain, bisa jadi
justru yang bersangkutan tanpa sadar tengah menunjukkan kejelekan dirinya.
Secara psikologis, orang yang demikian itu tergolong tidak sehat mentalnya. Dia
tidak rela dan sakit hati jika melihat orang lain melebihi dirinya hal itu membuat
orang tersebut selalu saja ingin mencari kekurangannya, bukan belajar dari
kelebihannya. 10[10]
Kesehatan mental (Mental Hygiene atau Mental Health) berusaha
membina kesehatan mental dengan memandang manusia sebagaimana adanya.
Artinya, kesehatan mental memandang manusia sebagai satu kesatuan
psikosomatis, kesatuan jiwa raga atau kesatuan jasmani rohani secara utuh.
Hilangnya gangguan mental merupakan tujuan psikoterapi. Mental yang sehat
merupakan tujuan kesehatan mental. Psikoterapi menangani orang sakit untuk
disembuhkan dan kesehatan mental menangani orang yang sehat untuk dibina
agar tidak jatuh menjadi sakit mental. Kedua ilmu itu saling berkaitan. Psikologi
dan agama merupakan dasar atau landasan dan sekaligus sebagai alat baik untuk
menyembuhkan gangguan mentak maupun untuk pembinaan kesehatan mental.
Baik agama maupun psikologi dengan psikoterapi berusaha membentuk,

10[10] Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, (Jakarta: Hikmah,
2010), hlm. 32
mengolah, membina dan mengembangkan kepribadian yang utuh, kaya dan
mantap. 11[11]
Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu
seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:
1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah di dalam
hati, dan maksiat mematikan itu.
2. Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad, "Seorang
hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya."
3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada terasa
kelezatan.
4. Kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti perasaan di
kegelapan malam.
5. Terhalangnya ketaatan.
6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.
7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama salaf: Hukum
kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan kebaikan
lagi.
8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia
merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.
9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan dan
kejayaan.
10. Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.12[12]

IV. KESIMPULAN

11[11] H. Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim
Pancasila, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995), hlm.207-208


Akhlakul madzmumah adalah perangai atau tingkah laku pada tutur kata
yang tercermin pada diri manusia yang cenderung melekat pada bentuk yang tidak
menyenangkan orang lain.
Macam-macam akhlak madzmumah yaitu: Ananiyah (egois), Al- Buhtan
(dusta), Al- Ghadlab (Pemarah), Al- Hasad (dengki), Al- Istikbar (sombong), Al-
Ishraf (berlebihan), Al- Ifsad (berbuat kerusakan), Al- Namimah (mengadu
domba), Al- Sikhriyyah (berolok-olok).
Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu
seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:
1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah di dalam
hati, dan maksiat mematikan itu.
2. Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad, "Seorang
hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya."
3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada terasa
kelezatan.
4. Kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti perasaan di
kegelapan malam.
5. Terhalangnya ketaatan.
6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.
7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama salaf: Hukum
kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan kebaikan
lagi.
8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia
merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.
9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan dan
kejayaan.




http://nafimubarokdawam.blogspot.com/2013/04/macam-macam-akhlak-
madzmumah_6191.html


TASWUF
Selasa, 28 Mei 2013
Macam-Macam Tasawuf

A.MACAM-MACAM TASAWUF
1. Tasawuf Akhlaqi(sunni)
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonstrasi pada teori-teori perilaku,
akhlaq atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq.Dengan metode-metode tertentu
yang telah dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq
mazmunah dan mewujudkan akhlaq mahmudah. Tasawuf seperi ini
dikembangkan oleh ulama lama sufi.
2.Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada gabungan teori-teori
tasawuf dan filsafat atau yang bermakana mistik metafisis, karakter umum dari
tasawuf ini sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Al-Taftazani bahwa
tasawuf seperti ini: tidak dapat dikatagorikan sebagai tasawuf dalam arti
sesungguhnya, karena teori-teorinya selalu dikemukakan dalam bahasa filsafat,
juga tidak dapat dikatakan sebagai filsafat dalam artian yang sebenarnya karena
teori-teorinya juga didasarkan pada rasa. Hamka menegaskan juga bahwa tasawuf
jenis tidak sepenuhnya dapat dikatakan tasawuf dan begitu juga sebaliknya.
Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ahli-ahli sufi sekaligus filosof. Oleh
karena itu, mereka gemar terhadap ide-ide spekulatif.Dari kegemaran berfilsafat
itu, mereka mampu menampilkan argumen-argumen yang kaya dan luas tentang
ide-ide ketuhanan.
3. Tasawuf Syii
Paham tasawuf syii beranggapan, bahwa manusia dapat meninggal dengan
tuhannya karena kesamaan esensi dengan Tuhannya karena ada kesamaan esensi
antara keduanya.Menurut ibnu Khaldun yang dikutip oleh Taftazani melihat
kedekatan antara tasawuf falsafi dan tasawuf syii.Syii memilki pandangan hulul
atau ketuhanan iman-iman mereka.Menurutnya dua kelompok itu mempunyai dua
kesamaan.


B.ASAL MULA TASAWUF AKHLAQI
Tasawuf akhlaqi ini ditunjukan dengan banyak istilah:
Disebut tasawuf praktis karena lebih berorentasi pada praktek akhlak atau
prilaku shaleh, dan disebut juga tasawuf sunni.Ada juga yang menambahkan
istilah tasawuf sunni-salafi.Hanya saja, disebut tasawuf sunnikarena para pelaku
tasawufnya berupaya memagari perilaku sufismenyadengan Al-Quran dan sunah
serta menjadikan kedua tersebut sebagai rujukan utama dalam setiap perilaku
tasawufnya.
Dalam pandangan para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental
yang tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh
karena itu pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang
diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya
adalah mengusai hawa nafsu, menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -
bila mungkin- mematikan hawa nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf
akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
1. Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi.
Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah
satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain
adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi.
2. Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri
dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi
setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan
ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam).Yang
disebut aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat,
puasa, haji dll. Dan adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan
dan kecintaan kepada Tuhan
3. Tajalli
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli,
maka rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya adalah fase tajalli.Kata tajalli
bermakna terungkapnya nur ghaib.Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-
organ tubuh yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah
terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka rasa
ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan
kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan
menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.

C. .ADA BEBERAPA TASAWUF AKHLAQI YAITU:
1. Tasawuf Amali
Tasawuf Amali sebagai kepanjangan tangan, saudara kembar atau warna lain
dari Tasawuf akhlaki memiliki dua ajaran utama: pertama ajaran yang berkaitan
dengan Maqamat (tahapan/tingkatan spiritual) dan kedua ajaran yang berkaitan
dengan Ahwal (kondisi mental/situasi mistik), disamping bawah tasawuf jenis ini
memiliki beberapa istilah teknis, yaitu syariah (hukum Islam/fikih/asfek lahir
agama), Thariqah (perjalanan menuju Allah), Haqiqah (asfek batiniah dari
syariat) danMarifah (pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati/intuisi/ilham
atau dzauq/rasa spiritual).

2. Tasawuf Sunni
Tasawuf Sunni memiliki ciri-ciri penting yang membedakannya dari jenis
Tasawuf Falsafi.
Pertama, Melandaskan diri pada Al-Quran dan sunah (Hadit).
Kedua, tidak menggunakan terminologi filsafat sebagaimana terdapat pada
ungkapan-ungkapan syathahat.
Ketiga, lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Tuhan dan
manusia.
Keempat, kesinambungan dan integrasi (kesatupaduan) antara hakikat dan
syariat.
Kelima, lebih kekonsentrasi pada pembinaan mental, pendidikan akhlak (moral)
dan pengobatan jiwa dengan cara riyadhah melalui tahapan takhalli, tahalli, tajalli
Keenam, tasawuf jenis ini lebih berorientasi pada prakktek ritual keagamaan,
ketimbang memusatkan diri pada kreasi pemikiran pemikiran teoritik-spekulatif.

D. TOKOH-TOKOH TASAWUF DAN PEMIKIRANNYA
Tasawuf Akhlaki merupakan tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak
mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat marifah
kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf
Akhlaki, biasadisebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini
dikembangkan oleh ulama salaf as-salih.
Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadi baik dan potensi untuk menjadi
buruk.Potensi untuk menjadi baik adalah al-Aql dan al-Qalb.Sementara potensi
untuk menjadi buruk adalah an-Nafs. (nafsu) yang dibantu oleh syaithan.
Sebagaimana digambarkan dalam al-Quran, surat as-Syams : 7-8 sebagai berikut

Artinya : Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain : Hasan al-Basri (21 H
110 H), al-Muhasibi (165 H 243 H), al-Qusyairi (376 H 465 H), Syaikh al-
Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 561 H), Hujjatul Islam Abu
Hamid al-Gajali (450 H 505 H), Ibnu Atoilah as-Sakandari dan lain-lain.

E. TOKOH-TOKOH TASAWUF AHLAKI DAN AJARANNYA
1. Junaid Al-Baghdadi
Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Kazzaz al-
nihawandi. Dia aadalah seorang putera pedagang barang pecah belah dan
keponakan Surri al-Saqti serta teman akrab dari Haris al-Muhasibi. Dia meninggal
di Baghdad pada tahun 297/910 M. dia termasuk tokoh sufi yang luar biasa, yang
teguh dalam menjalankan syari`at agama, sangat mendalam jiwa kesufiannya. Dia
adalah seorang yang sangat faqih, sering memberi fatwa sesuia apa yang
dianutnya, madzhab abu sauri: serta teman akrab imam Syafi`i.
Pendapat-pendapatnya dalam masalah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab
biografi para sufi, antara lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-qusyairi: oang-
orang yang mengesakan Allah adalah mereka yang merealisasikan keesaan-Nya
dalam arti sempurna, meyakini bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, dia tidak
beranak dan diperanakkan. Di sini memberikan pengertian tauhid yang
hakiki.Menurutnya adalah buah dari fana` terhadap semua yang selain Allah.
Dalam hal ini dia menegaskan
Al-Junaid juga menandaskan bahwa tasawuf berarti allah akan menyebabkan
mati dari dirimu sendiri dan hidup di dalam-Nya.Peniadaan diri ini oleh Junaid
disebut fana`, sebuah istilah yang mengingatkan kepada ungkapan Qur`ani segala
sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (QA.55:26-27); dan hidup dan hidup
dalam sebutannya baqa`.Al-Junaid menganggap bahwa tasawuf merupakan
penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tidak ada habis-habisnya.

2. Al-Qusyairi An-Naisabury
Dialah Imam Al-Qusyary an-Naisabury, tokoh sufi yang hidup pada abad kelima
hijriah. Tepatnya pada masa pemerintahan Bani Saljuk.Nama lengkapnya adalah
Abdul Karim al-Qusyairy, nasabnya Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul Malik
ibn Thalhah ibn Muhammad.Ia lahir di Astawa pada Bulan Rabiul Awal tahun
376 H atau 986 M.
Imam Al-Qusyairy merupakan ulama yang ahli dalam banyak disiplin ilmu yang
berkembang pada masanya, hal ini terlihat dari karya-karya beliau, seperti yang
tercantum pada pembukaan Kitabnya Risalatul Qusyairiyah.
Karya-karya itu adalah; Ahkaamu as-Syariah, kitab yang membahas masalah-
masalah Fiqh, Adaabu as-Shufiyyah, tentang Tasawuf, al-Arbauuna fil Hadis,
kitab ini berisi 40 buah hadis yang sanadnya tersambung dari gurunya Abi Ali
Ad-Daqqaq ke Rasulullah. Karya lainnya adalah; Kitab Istifaadatul Muraadaats,
Kitab Bulghatul Maqaashid fii al-Tasawwuf, Kitab at-Tahbir fii Tadzkir, Kitab
Tartiibu as-Suluuki fii Tariqillahi Taala yang merupakan kumpulan makalah
beliau tentang Tasawwuf, Kitab At-Tauhidu an-Nabawi, Kitab At-Taisir fi Ulumi
at-Tafsir atau lebih dikenal dengan al-Tafsir al-Kabir. Ini merupakan buku
pertama yang ia tulis, yang penyusunannya selesai pada tahun 410 H/1019 M.
Menurut Tajuddin as-Syubkhi dan Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir tersebut
merupakan kitab tafsir terbaik dan terjelas.
3.Al-Harawi
Nama lengkapnya adalah Abu isma`il `Abdullah bin Muhammad al-Ansari.
Beliau lahir tahun 396 H. di Heart, kawasan khurasan.Seperti dikatakan Louis
Massignon, dia adalah seorang faqih dari madzhab hambali; dan karya-karyanya
di bidang tasawuf dipandang amat bermut. Sebagai tokoh sufi pada abad kelima
Hijriyah, dia mendasarkan tasawufnya di atas doktrin Ahl al-Sunnah. Bahkan ada
yang memandangnya sebagai pengasas gerakan pembaharuan dalam tasawuf dan
penentang para sufi yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan yang anah, seperti
al-Bustami dan al-Hallaj.
Di antara karya-karya beliau tentang tasawuf adalah Manazil al-Sa`irin ila Rabb
al-`Alamin. Dalam dalam karyanya yang ringkas ini, dia menguraikan tingkatan-
tingkatan rohaniyah para sufi, di mana tingakatan para sufi tersebut, menurutnya,
mempunyai awal dan akhir, seperti katanya; kebanyakan ulama kelompok ini
sependapat bahwa tingkatan akhir tidak dipaandang benar kecuali dengan
benarnya tingkatan awal, seperti halnya bangunan tidak bias tegak kecuali
didasarkan pada fondasi. Benarnya tingkatan awal adalah dengan menegakkannya
di atas keihklasan serta keikutannya terhadap al-Sunnah.

E. Ciri-ciri Tasawuf Akhlaqi
a. Melandaskan diri ada Al-Quran dan As-sunah. mereka tidak mau
menerjunkan pemahamannya pada konteks iluar pembahasan Al-Quran dan
Hadits
b. Tidak menggunakan terminologi-terminologi filsafat sebagaimana terdapat
pada ungkapan syahadat-syahadat.
c. Lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara tuhan dan
manusia. Dualisme yang dimaksud disiini adalah ajaran yang mengakui bahwa
meskipun manusia dapat berhubungan dengan tuhan, sehubungannya tetap dalam
kerangka yang berbeda diantara keduanya,dalam hal esensinya.
d. Kesenambungan,antar hakikat dan syariat.
e. Lebih terkonsentrasi pada soal pembinaan,pendidikan akhlak,dan pengobatan
jiwa dengan cara riyadhah (latihan mental)dan langkah takhalli, tahalli, tajalli.

PENUTUP
KESIMPULAN
Taswuf akhlaki adalah taswuf yang berkonsentrasi pada perbaikan akhlak.
Dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan,tasawuf bentuk ini
berkonsentrasi pada upaya-upaya menghindarkan diri dari akhlak yang tercela
(Mazmumah) sekaligus mewujudkan akhlak yang terpuji (Mahmudah) didalam
diri para sufi.
Selain itu, tasawuf juga mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.Berupaya menyelamatkan diri dari akidah-akidah syirik dan batil
2.Melepaskan diri (takhalli) dari penyakit-penyakit kalbu.
3.Menghiasi diri (tahalli) dengan akhlak Islam yang mulia.
4.Mencapai derajat ihsan dalam ibadah (tajalli).
Dengan demikian kaum sufi harus selalu melaksanakan pembinaan akhlak
mulia dalam diri mereka pada setiap kali beribadah.




DAFTAR PUSTAKA

Abul Wafa al-Taftazani, sufi dari Zaman ke Zaman, Bandung: Pustaka, 1985

Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers, 1996

Drs. H. Mahfud, M.Ag, Ilmu Tasawuf, Cirebon, 2009
Mukhtar Solihin dan Rosikhon Anwar, kamus tasawuf, Bandung: Rosda Karya,
2002.
http://kangobed.blogspot.com/2013/05/macam-macam-tasawuf.html

riday, November 30, 2012
Macam-macam Aliran Tasawuf
Secara keseluruhan Ilmu tasawuf bisa di kelompokkan menjadi dua, yakni tasawuf
ilmi atau nadhari, yaitu tasawuf yang bersifat teoritis, yang tercakup dalam bagian
ini ialah sejarah lahirnya tasawuf dan perkembangannya sehingga menjelma
manjadi ilmu yang berdiri sendiri, termasuk di dalamnya ialah teori-teori tasawuf
menurut bebagai tokoh tasawuf dan tokoh luar tasawuf yang berwujud ungkapan
sistematis dan filosofis.
Bagian ke dua ialah Tasawuf Amali atau Tathbiqi, yaitu tasawuf terapan yakni
ajaran tasawuf yang praktis. Tidak hanya sebagai teori belaka. Namun menuntut
adanya pengamalan dalam rangka mencapai tujuan tasawuf. Orang yang
menjalanakan ajaran tasawuf ini akan mendapat keseimbangan dalam
kehidupannya, antara materiil dan spiritual, dunia dan akhirat.
Sementara ada lagi yang membagi tasawuf manjadi tiga macam bagian aliran
tasawuf, yakni : 1. Tasawuf akhlaki, 2. Tasawuf amali, 3. Tasawuf falsafi. Perlu di
maklumi bahwa pembagian ini hanya sebatas dalam kajian akademik, ke tiganya
tidak bisa di pisahkan secara dichotomik, sebab dalam prakteknya ke tiganya tidak
dapat di pisahkan satu sama lain. Selanjutnya untuk mengkaji masing-masing
bagian tasawuf tadi, berikut ini akan di uraikan satu persatu.

Tasawuf akhlaki adalah ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan
dan kesucian jiwa yang di formulasikan pada pengaturan sikap mental dan
pendisiplinan tingkah laku yang ketat guna mencapai kebahagian yang optimum,
manusia harus lebih dahulu yang mengidentifikasikan eksistensi dirinya dengan
ciri-ciri ke tuhanan melaui pensucian jiwa dan raga yang bermula dari
pembentukan pribadi yang bermoral dan ber akhlak mulia, yang dalam ilmu
tasawuf dikenal Takhalli (pengosongan diri dari sifat-sifat tercela), Tahalli
(menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji), dan Tajalli (terungkapnya nur ghaib
bagi hati yang telah bersih seehingga mampu menangkap cahaya ketuhanan).
Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, kotoran, dan penyakit
hati yang merusak. Langkah pertama yang harus di tempuh adalah mengetahui
dan menyadari, betapa buruknya sifat-sifat tercela dan kotor tersebut, sehingga
muncul kesadaran untuk memberantas dan menghindarinya. Apabila hal ini bisa
dilakukan dengan sukses, maka seseorang akan memperoleh kebahagiaan. Allah
berfirman : Asy-Syams: 9-10
Artinya: sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwa itu, dan
sungguh merugilah orang yang mengotorinya (asy-syams: 9-10)
Adapun sifat-sifat tercela yang harus di hilangkan ialah antara lain Syirik
(penyekutuan tuhan), hasad (dengki), hirsh (keinginan yang berlebih-lebihan),
Ghadlab ( marah), Riya dan Sumah (pamer), Ujb (bangga diri) dan sebagainya.
Untuk menghilangkan sifat-sifat tersebut, maka perlu dilakukan dengan cara :
a. Menghayati segala bentuk akidah dan ibadah.
b. Muhasabah (koreksi) terhadap dirinya sendiri.
c. Riyadlah (latihan) dan Mujahadah (perjuangan).
d. Berupaya mempunyai kemauan dan gaya tangkal yang kuat terhadap kebiasaan-
kebiasaan yang jelek dan menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaab baik.
e. Mencari waktu yang tepat untuk merubah sifat-sifat yang jelek-jelek itu, dan
f. Memohon pertolongan dari Allah swt.


Tahap selanjutnya ialah Tahalli, yakni menghias diri dengan perbuatan baik.
Berusaha agar dalam setiap gerak dan perilakunya selalu berjalan di atas
ketentuan agama.
Langkahnya ialah membina pribadi, agar memiliki akhlak al-karimah, dan
senantiasa konsisten dengan langkah yang di rintis sebelumnya (dalam bertkhalli).
Melakukan latihan kejiwaan yang tangguh untuk membiasakan berprilaku baik,
yang pada gilirannya, akan menghasilkan manusia yang sempurna (ihsan kamil).
Langkah ini perlu di tingkatkan dengan tahap mengisi dan menyinari hati dengan
sifat-sifat terpuji, antara lain at-tauhid (pengesaan Tuhan secara mutlak), ash-
shabru (tabah dalam menghadapi segala situasi dan kondisi), dll.
Setelah seseorang melalui dua tahap tersebut, maka pada tahap ke tiga yakni
Tajalli, seseorang hatinya terbebaskan dari tabir (hijab), yaitu : sifat-sifat
kemanusiaan atau memperoleh Nur yang selama ini tersembunyi atau fana segala
sesuatu selain Allah ketika Nampak (tajalli) wajah-Nya.
Al-kalabadzi membagi tajalli menjadi tiga macam yaitu :
1. Tajallidz Dzat, yaitu mukasyafah (terbukanya selubung yang menutupi
kerahasiaan-Nya).
2. Tajallis Sifatidz Dzat, yakni nampaknya sifat-sifat Dzat-Nya sebagai sumber atau
tempat cahaya.
3. Tajalli Hukmudz Dzat, yaitu nampaknya hukum-hukum Dzat, atau hal-hal yang
berhubungan dengan akhirat dan apa yang ada di dalamnya.
Pencapaian tajalli tersebut melalui pendekatan melalui pendekatan rasa atau
Dzauq dengan alat al-Qalb. Qalb menurut shufi mempunyai kemempuan lebih bila
dibandingkan dengan akal. Yang kedua ini tidak bisa memperoleh pengetahuan
yang sebenarnya tentang Allah swt. Sedang al-Qalb bisa mengetahuinya. Apabila
ia telah member atau menembus qalb dengan Nur-Nya, maka akan
terlimpahkanlah kepada seseorang karunia dan rahmat-Nya. Ketika itu Qalb
menjadi terang-benderang, terangkatlah tabir rahasia dengan karunianya rahmat
itu, tatkala itu jelaslah segala hakikat ketuhanan selama itu terhijab dan
terahasiakan.
Apabila seseorang telah mencapai tajalli, maka dia akan memperoleh marifat,
yaitu mengetahui rahasia-rahasia ketuhanan dan peraturan-peraturan-Nya tentang
segala yang ada atau bisa di artikan lenyapnya segala sesuatu dengan ketika
menyaksikan Tuhan.
Marifat merupakan pemberian Tuhan, bukan usaha manusia. Ia merupakan ahwal
tertinggi, yang datangnya sesuai atau sejalan dengan ketekunan, kerajinan,
kepatuhan, dan ketaatan seseorang. Menurut Ibrahim Basyuni, marifat
merupakan pencapaian tertinggi dan sebagai hasil akhir dari segala pemberian
setela melakukan mujahadah dan riyadlah, dan bisa dicapai ketika terpenuhinya
qalb dengan Nur Ilahi.
Nur Ilahi itu akan diberikan kepada seseorang yang telah terkendali hawa
nafsunya, bahkan bisa dilenyapkan sifat-sifat kemanusiaan (basyariyah) nya yang
cenderung berbuat maksiat, dan terlepasnya dari kecendrungan kepada masalah
duniawiyah. Karena dosa dan cinta kepadanya, akan menjadi penghalang qalb
untuk melihat (marifat) kepada-Nya.

Tasawuf amali, yaitu tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara
mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pengertian ini, tasawuf amali
berkonotasikan thariqah, dalam thariqah dibedakan antara kemampuan shufi yang
satu dari pada yang lain, ada orang yang di anggap mampu dan tahu cara
mendekatkan diri kepada Allah, dan ada orang yang memerlukan bantuan orang
lain yang di anggap memiliki otoritas dalam masalah itu. Dalam perkembangan
selanjutnya, para pencari dan pengikut semakin banyak dan terbentuklah semacam
komunitas social yang sepaham, dan dari sini muncullah strata-strata berdasarkan
pengetahuan serta amalan yang mereka lakukan. Dari sini maka mucullah istilah
Murid, Mursyid, Wali, dan sebagainya.
Dalam tasawuf amali yang berkonotasikan thariqah ini mempunyai aturan, prinsip
dan system khusus. Semula hanya merupakan jalan yang harus di tempuh seorang
sufi dalam mencapai tujuan berada sedekat mungkin dengan tuhan, lama-
kelamaan bekembang menjadi organisasi shufi, yang melegalisir kegiatan
tasawuf. Praktek amaliahnya disistimatisasikan sedemikian rupa sehingga masing-
masing thariqah mempunyai metode sendiri-sendiri.
Pengertian ini di tegaskan oleh J. Scencer Trimingham bahwa thariqah adalah
suatu metode praktis untuk menuntun seorang shufi secara berencana dengan jalan
pikiran, perasaan, dan tindakkan, terkendali terus menerus kepada suatu rangkaian
maqam untuk dapat merasakan hakikat yang sebenarnya.
Dalam thariqah ada tiga unsure yakni: guru, murid, dan ajaran. Guru adalah orang
yang mempunyai otoritas dan legalitas ke shufian, yang berhak mengawasi
muridnya dalam setiap langkah dan geraknya sesuai dengan ajaran islam. Oleh
karena itu dia mempunyai ke istimewaan khusus, seperti jiwa yang bersih.

Tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang ajaran-ajaranya memadukan antara visi
intuitif dan visi resional. Terminology filosofis yang digunakan berasal dari
bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya, namun
orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Walaupun demikian tasawuf
filosofis tidak bisa di pandang sebagai filsafat, karena ajaran daan metodenya di
dasarkan pada dasar dzauq, dan tidak pula bisa di kategorikan pada tasawuf (yang
murni) karena sering di ungkapkan dengan bahasa filsafat.
Dalam upaya mengungkapkan pengalaman rohaninya, para shufi falsafi sering
menggunakan ungkapan-ungkapan yang samar, yang sering di kenal dengan
syathahiyyat, yaitu suatu ungkapan yang sulit difahami, yang seringkali
mengakibatkan kesalahpahaman pihak luar, dan menimbulkan tragedy. Tokoh-
tokohnya ialah Abu Yazid al-busthami, al-Hallaj, Ibn Arabi, dan sebagainya.
Abu Yazid al-Busthami mempunyai teori al-Ittihad, yaitu suatu tingkatan dalam
tasawuf di mana seorang shufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu
tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga
salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi deengan kata-kata : hai
aku. Dalam al-Ittihad identitas telah menjadi satu.
Salah satu Syathiyat yang di ungkapan al-Busthami ialah :
1. tiada tuhan selain aku, maka sembahlah aku.
2. maha suci aku, maha suci aku, alangkah agungnya keadaan-ku.
3. tidak ada sesuatu dalam bajuku ini kecuali Allah.
Tokoh lainnya ialah al-Hallaj dengan ajaran al-Hululnya, yaitu suatu faham yang
mengatakan bahwa tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu mengambil
tempat (hulul) di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh
itu dilenyapkan.
Menurut al-Hallaj dalam diri manusia terdapat dua unsur, yakni unsur Nasut
(kemanusiaan), dan unsure Lahut (ketuhanan), karena itu persatuan antara tuhan
dan manusia bisa terjadi dan dengan persatuan itu mengambil bentuk hulul.
Al-Hallaj juga mengungkapkan syathahiyat sebagaimana di ungkapkan al-
Busthami, seperti : aku adalah yang haq. Karena ungkapannya yang di anggap
menyimpang dari tauhid inilah, dan tuduhan bekomplot dengan syiah
Qaramithah, maka dia di jebloskan ke dalam keputusan pengadilan fuqaha yang
sepihak dan berkolusi dengan pemerintahan al-Muqtadir Billah. Dia di jatuhi
hukuman mati.
Teori Hulul ini di kembangkan labih jauh oleh Ibn Arabi dengan teori Wahdatul
Wujud. Dalam teori ini, Ibn Arabi merubah Nasut dalam hulul menjadi al-Khaliq
dan Lahut menjadi al-Haq. Kedua unsure tersebut pasti ada pada setiap makhluk
yang ada ini , sebagai aspek batin, Ibn Arabi mengungkapkan : maha suci dzat
yang menciptakan segala sesuatu, dan dia adalah essensinya sendiri.
Paham yang di bawa oleh para shufi falsafi membawa pro dan kontra, karena
perbedaan latar belakang sudut tinjauan dan pisau analisianya. Dalam dunia
tasawuf di kenal istilah fana dan baqa sebagaimana telah di uraikan di depan.
Ketika seseorang telah mencapai keadaan demikian, seorang shufi telah mencapai
puncak tujuan yang di inginkannya, yakni marifat dan hakikat, sehingga muncul
kesadaran bahwa al-marifah (pengetahuan), al-Arif (orang yang mengetahui), dan
al-Maruf (yang di ketahui/tuhan) adalah satu.
Orang yang telah mencapai marifat, hatinya bersih, dia akan merenungi sifat-sifat
tuhan, bukan pada essensi-Nya, karena dalam marifat masih ada sia-sia
kegandaan yang masih tertinggal. Sifat utama Tuhan adalah ketuhanan dan
kesatuan ilahi merupakan prinsip marifat yang pertama dan yang terakhir.
Tuhan bagi shufi difahami sebagai Dzat yang esa yang mendasari seluruh
peristiwa. Prinsip ini membawa konsekuensi yang ekstrim. Apabila tiada sesuatu
yang mewujudkan selain Tuhan, maka seluruh alam pada dasarnya adalah satu
dengan-Nya, apakah ia di pandang emanasi yang berkembang dari pada-Nya,
tanpa mengganggu ke esaan-Nya, sebagaimana halnya bekas sinar matahari atau
apakah ia berlaku seperti cermin dengan mana sifat-sifat Allah dipancarkan.
Konsep inilah yang mendasari para shufi falsafi mempunyai pandangan tersebut
di atas.
Dengan analisis seperti ini, maka hasil yang diperoleh oleh para shufi falsafi
sebagaimana telah di ungkapkan adalah sesuatu yang wajar saja, dan suatu
konsekuensi logis. Namun apabila didekati dengan fiqih dan ilmu kalam, adalah
jenis hal tersebut di anggap suatu yang menyimpang, karena antara khalik dan
makhluk, antara abid dan mabud tidak bisa di satukan.

DAFTAR PUSTAKA
Emroni. Ilmu tasawuf. IAIN Antasari. Banjar masin. 2001
Ahmad jaiz. Hartono. Mendudukan tasawuf. Buku Islam kafah.jakarta

http://mujib-ennal.blogspot.com/2012/11/macam-macam-aliran-tasawuf.html

Sejarah Singkat Ilmu Kalam, Filsafat Islam dan Tasawuf
Beserta Aliran-alirannya
Jan8
A. Sejarah Singkat lahirnya Ilmu Kalam beserta
Aliran-alirannya
Kelahiran Ilmu Kalam dilatarbelakangi oleh topik-topik pembahasan seputar
Ketuhanan seperti jabr (doktrin yang menganggap bahwa Tuhan telah
menetapkan sebelumnya apa yang akan terjadi, sehingga garis ketetapan itu tak
dapat diubah. Dan mengenai kehendak bebas (ikhtiyar), serta topic mengenai
keadilan Ilahi berlangsung di kalangan Muslim pada paro pertama abad kedua
hijriah. Ada tokoh-tokoh yang senantiasa mendukung kehendak bebas (ikhtiyar)
seperti Mabad Al-Juhani paro abad kedua pertama (wafat tahun 80 H/699 M).
Dan ada juga yang menentang kehendak bebas dan lebih mendukung jabr. Kaum
yang memiliki kehendak bebas dinamakan Qodariah sedangkan lawannya adalah
Jabariyah. Maka berangsur-angsur pokok-pokok perselisihan antara kedua
kelompok ini meluas ke bidang teologi dan masalah-masalah lain yang
berhubungan dengan manusia dan kebangkitan, diantaranya juga masalah jabr dan
ikhtiyar.[1] Maka bermunculan aliran-alirab teologi dengan dasar ajaran dan
keyakinannya masing-masing. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai aliran-
aliran kalam :
1. 1. Aliran Khawarij
Khawarij adalah aliran dalam teologi islam yang pertama kali muncul. Menurut
Ibnu Abi Bakar Ahmad al_syahrastani, Khawarij adalah setiap orang yang keluar
dari imam yang hak dan telah disepakati para jamaah, baik ia keluar pada masa
sahabat Khulafaur Rasyidin maupun pada masa tabiin secara baik-baik.
Khawarij sebagai sebuah aliran teologi adalah kaum yang terdiri dari pengikut Ali
Ibn Abi Thalib yang meninggalkan barisan, karena tidak setuju terhadap sikap Ali
Ibn Abi Thalib yang menerima kesepakatan damai sebagai jalan untuk
menyelesaikan persengketaan khalifah dengan Muawyiyah Ibn Abi Sufyan.
Mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Kehidupannya di
padang pasir yang serba tandus, menyebabkan mereka bersifat sederhana baik
dalam cara hidup maupun cara berpikir. Golongan-golongan Khawarij yang
terbesar menurut al-Syahrastani ada delapan. yaitu al-Muhakkimah, al-Azariqah,
al-Najdat, al-Baihasiyyah, al-Ajaridah, al-Saalibah, al-Ibadiah dan al-Shufriyah.
a. Al-Muhakkimah.
Al-Muhakkirnah adalah mereka yang keluar dari barisan Ali ketika berlangsung
peristiwa tahkim,. Pimpinan mereka diantaranya Abdullah bin Al-Kawa, Utab bin
al- Awar, Abdullah bin Wahab al-Rasiby. Al-Muhakkimah ini adalah golongan
Khawarij pertama yang terdiri dari pengikut-pengikut Ali. Merekalah yang
berpendapat bahwa Ali, Muawiyah, kedua pengantara Amr Ibnu al-Ash dan Abu
Musa al-Asyari serta semua orang yang menyetujui tahkim sebagai orang-orang
yang bersalah dan menjadi kafir.
b. AI-Azariqah
Al-Azarigah adalah bagian dari golongan Khawarij yang dapat menyusun barisan
baru yang besar dan kuat. Daerah kekuasaannya terletak di perbatasan Irak dan.
Iran. Khalifah yang pertama mereka pilih adalah Nafi sendiri, dan kepadanya
mereka memberi gelar Amir al- Muminin. Sub sekte al-Azariqah ini sikapnya
lebih radikal dari Muakimah. Mereka mengubah term kafir menjadi term musyrik.
c. Al-Najdat
Al-Najdat adalah golongan khawarij yang ketiga. Nama golongan ini
diabil dari nama pemimpinnya yang bernama Najdah Ibn Amir al-Hanafi dari
Yamamah. Mereka ini pada mulanya ingin bergabung dengan kaum Azariqah.
Namun rencanan ini tidak terwujud, karena terjadi perselisihan paham antara
pengikut al-Azariqah dengan al-najdat. Para pengikut Nafi Ibnu al-Azraq yang
bernama Abu Fudaik, Rasyid al_Tawil dan Atiah al-Hanafi dalam tidak
menyetujui paham al-Azariqah yang mengatakan bahwa orang Azraqy yang tak
mau berhijrah ke dalam lingkungan al-Azariqah adalah musyrik.
Najdah berpendapat bahwa orang yang berdosa besar dan dapat menjadi kafir
serta kekal dalam neraka hanyalah orang Islam yang, tak sepaham dengan
golongannya. Sedangkan pengikutnya jika mengerjakan dosa besar, betul akan
mendapat balasan siksa, tetapi bukan dalam neraka dan kemudian akan masuk
surga.
2. Aliran Murji ah
Aliran Murjiah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat
dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar,
sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran Khawarij. Mereka menangguhkan
penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di
hadapan Tuhan karena hanya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman
seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih
dianggap mukmin di hadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosa besar
itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun
melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang
menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap
mukmin, bukan kafir. Pada golongan Murjiah yang moderat ini terdapat nama al-
Hasan Ibnu Muhammad Ibn Ali Ibn Abi Thalib, Abu Hanifah, Au Yusuf dan
beberapa ahli hadis.
3. Aliran Qadariyah
Qadariyah berakar pada qadara yang dapat berarti memutuskan dan memiliki
kekuatan atau kemampuan. Sedangkan sebagai aliran dalam ilmu Kalam,
qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan
penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan
perbuatan-perbuatannya. Dalam paham Qadariyah manusia dipandang
mempunyai gudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan
berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar atau qada
Tuhan. Aliran Qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat
menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya. Qodariah dosebut juga dengan
aliran Mutazilah.
4. Aliran Jabariyah
Nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Paham
Jabariyah disebut fatalism atau predestination, yaitu paham yang menyatakan
bahwa perbuatan manusia ditentukan sejak semula oleh qada dan qadar Tuhan.
Dengan demikian posisi manusia dalam paham ini tidak memilki kebebasan dan
inisiatif sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Aliran Jabariyah ini
selanjutnya mengembangkan pahamnya sejalan dengan perkembangan
masyarakat pada masa itu. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Jabariyah
ini mengajarkan paham bahwa manusia dalam melakukan perbuatannya berada
dalam keadaan terpaksa. Manusia dianggap tidak mempunyai kebebasan dan
kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, tetapi terikat pada
kehendak mutlak Tuhan.
Dalam sejarah tercatat, bahwa orang yang pertama kali mengemukakan paham
Jabariyah di kalangan umat Islam adalah Al-Jaad Ibn Dirham. Pandangan-
pandangan Mad ini kemudian disebarluaskan oleh para pengikutnya.
B. Sejarah Singkat Tasawuf beserta Aliran-alirannya
Kata tasawuf dan sufi belum dikenal pada masa awal Islam, namun tanda-tanda
sufi dan ilmu kesufian sudah ada walaupun istilah sufi dan nama ilmu tersebut
belum muncul. Ilmu kesufian atau ilmu tasawuf adalah ilmu yang didasari oleh al-
Quran dan al-Hadits dengan tujuan utama mengesakan Allah dengan amar maruf
nahi munkar. Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III
Hijriyah oleh Abu Hasyim al-Kufi (w. 250 H) dengan meletakkan al-sufi
dibelakang namanya menjadi Abu Hasyim Al-Sufi. Dalam sejarah Islam sebelum
muncul aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul
pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyah. Zuhud adalah keadaan
meninggalkan dunia dan hidup kematerian.[2]
Akan tetapi setelah tasawuf menjadi sebuah ilmu pengetahuan maka pengertian
tentang tasawuf sebagai ilmu kerohanian maupun sebagai mistisisme dalam Islam,
masih perlu dilihat dari tipe-tipe atau mazhab-mazhab tasawuf. tasawuf
dikelompokkan kepada tiga aliran induk, yaitu; tasawuf akhlaki yang lebih
berorientasi etis, tasawuf amali yang lebih mengutamakan intensitas dan
ekstensitas ibadah ketiga adalah tasawuf falsafi yang bermakna mistik metafisis.
Apabila tasawuf diartikan sebagai upaya agar berada sedekat mungkin dengan
Tuhan maka tasawuf dapat dibedakan berdasarkan kedekatan atau jarak
antara manusia dengan Tuhan. Tipe tasawuf ini kemudian disebut tasawuf SyiI
dan tipe pertama disebut tasawuf Sunni. Apabila konsepnya dipandang telah
menyimpang dari prinsip-prinsip Islam, maka ia dikelompokkan kepada tasawuf
Syii, sebaliknya apabila ajaran tasawuf itu masih berada dalam garis garis islam
disebut tasawuf Sunni. Dalam Ilmu tasawuf terminologi tarekat tidak hanya
berarti sebagai metoda tertentu atau jalan yang dapat mengantarkan seorang agar
berada sedekat mungkin dengan Tuhan, tatpi ia juga bermakna segenap ajaran
Islam adalah tarekat menuju umat menuju perjumpaan Tuhan. Tarekat dalam
terminologi tasawuf adalah gaya yang ditempuh seseorang sufi dalam memahami,
menghayati dan mengamalkan seluruh aspek ajaran islam agar ia selalu berada
dekat dengan Tuhan. Berdasarkan kode etik keilmuan dan penyajian yang lebih
bersifat akademik, maka penulis membedakan tasawuf kepada dua aliran, vaitu
TASAWUF SUNNI dan TASAWUF FALSAFI.
Apabila dibandingkan antara konsep-konsep tasawuf Sunni dengan tasawuf
falsafi, ada sejumlah kesamaaan yang jelas disamping adanya perbedaan yang
cukup mendasar. Kedua aliran sama-sama mengakui ajarannya bersumber dari al-
Quran dan sunnah serta sama-sama mengamalkan Islam secara konsekuen.
Tasawuf sunni berpendapat, bahwa antara makhluk dengan Khalik tetap ada Jarak
yang terpisah sehingga tidak mungkin tumbuh karena keduanya tidak seesensi.
Lain halnya dengan tasawuf falsafi, mengatakan manusia seesensi dengan Tuhan
karena manusia berasal dan tercipta dari esensi-Nya.
Terjadinya perbedaan itu bersumber dari perbedaan kecenderungan dan minat
terhadap pemikiran-pemikiran spekulatif filsafat. Tasawuf ini kurang
memperhatikan ide-ide spekulatif karena mereka sudah, merasa puas dengan
argumentasi yang bersifat naqli agamawi. Nampaknya perbedaan dan sebab
penamaan itu tidak terletak pada menyimpang atau tidaknya dari ajaran Islam
atau karena perbedaan nilai, tetapi perbedaan itu hanyalah bersifat instrumental
belaka yakni sistem pemecahan masalah. Di satu pihak membatasi diri hanya
menggunakan landasan naqli, sedangkan dipihak lainnya menggunakan alat bantu
yang bersifat aqli filsafati, filsafati timur, filsafat dari belahan dunia barat.
C. Sejarah Singkat Filsafat Islam beserta aliran-alirannya
Cara pemikiran Filsafat secara teknis muncul pada masa permulaan jayanya
Dinasti Abbasiyah. Di bawah pemerintahan Harun al-rasyid, dimulailah
penerjemahan buku-buku bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Orang-orang
banyak dikirim ke kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip Awalnya
yang dipentingkan adalah pengetahuan tentang kedokteran, tetapi kemudian juga
pengetahuan-pengatahuan lain termasuk filsafat.
Penerjemahan ini sebagian besar dari karangan Aristoteles, Plato, serta karangan
mengenai Neoplatonisme, karangan Galen, serta karangan mengenai ilmu
kedokteran lainya, yang juga mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya yang
dapat dibaca oleh ulama Islam. Tak lama kemudian timbulah para filosof-filosof
dan ahli ilmu pengetahuan terutama kedokteran di kalam umat Islam. Dan
muncullah beberapa aliran filsafat Islam. Aliran-alirannya adalah yang akan kami
jelaskan sebagai berikut :
A. Aliran Paripatetik
Istilah paripatetik merujuk kepada kebiasaan Aristoteles dalam mengajarkan
filsafat kepada murid-muridnya. Dengan demikian istilah paripatetik ini merujuk
kepada para penbgikut Aristoteles. Tokoh-tokoh yang dikategorikan dalam aliran
ini diantaranya adalah al-Kindi (w.866), al-Farabi (W.9540), ibn Sina (w. 1037),
Ibn Rusyd (W.1196), dan Nashir al-Din Thusi (w. 1274).
Ciri khas dari aliran ini adalah penjelasan yang bersifat diskursif, yakni
menggunakan logika formal berdasarkan penalaran akal. Lalu sifatnya tidak
langsung karena mereka menggunakan symbol dalam menangkap objek dan cirri
lainnya adalah penekanan yang kuat pada daya-daya rasio.
B. Aliran Iluminasionis (Isyraqi)
Aliran ini didirikan oleh Pemikir Iran bernama Suhrawardi al-Maqtul yang
dijatuhi hukuman mati karena dituduh oleh para ulama Suriah yang iri padanya
bahwa ia telah menyebarkan aliran sesat.
Karakteristik dalam filsafat iluminasionis ini diantaranya adalah mementingkan
posisi pengetahuan intuitif (irfani) sebagai pendamping dari penalaran rasional.
Jadi Suhrawardi mensintesiskan dua pendekatan burhani dan irfani dalam sebuah
system pemikiran yang solid dan holistic.
C. Aliran Irfani (Tasawuf)
Dalam perkembangan filsafat pasca Ibn Rusyd, tasawuf semakin tidak bisa
dipisahkan dari filsafat. Bahkan Suhrawardi sendiri mengatakan bahwa tasawuf
merupakan fundamental bagi filsafat. Sebagaimana yang kita ketahui tasawuf
didasarkan oleh pengetahuan intuitif. Persepsi intuitif berbeda dengan persepsi
intelektual, karena persepsi intuitif ini bisa langsung menembus langsung jantung
objeknya. Rumi menyatakan pandangannya dengan sebuah pertanyaan retorik :
Bisakah anda menyunting mawar dengan M.A.W.A.R? Tidak, anda baru
menyebut nama kata Rumi, Carilah yang empunya Nama!
Tentu saja pertanyaan ini menunjukkan kelemahan akal dalam mencapai realitas
objeknya. Menurut para sufi, Cinta pun tidak akan bisa dipahami oleh akal
kecuali jika kita mengalaminya sendiri.
D. Aliran Hikmah Mutaaliyah
Aliran ini diwakili oleh seorang filosof Syiah abad ketujuh belas, Shadr al-Din
al-Syirazi (w.1641) yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra. Mulla Shadra adalah
seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran filsafat yaitu
Paripatetik, Iluminasi, dan Irfani.
Filsafat hikmah percaya bukan hanya pada akal diskursif, melainkan juga pada
pengalaman mistik. Namun filsafat Hikmah disini menekankan bahwa
pengalaman mistik bukan hanya mungkin untuk diungkapkan secara diskursif-
logis, melainkan harus diungkapkan seperti itu untuk keperluan verifikasi
public. Mulla shadra juga membicarakan antara kesatuan akal dan maqul. Tidak
mungkin ada yang dipikirkan (al-maqul) kalau tidak ada yang berpikir (aqil).
Maka maqul tidak akan menjadi yang dipikirkan kalau dilepas hubungannya
dengan yang berpikir, atau kalau yang terakhir dipandang sama sekali lain
daripada dirinya. Karena itu maka yang dipikir (maqul) haruslah sama dengan
sesuatu yang bisa berpikir (aql), yang pada gilirannya harus sama juga dengan
yang berpikir (aqil). Mulla Shadra juga menciptakan ajaran Wahdatul Wujud
sebagaimana Ibn Arabi tetapi tentunya dengan perbedaan yang cukup
signifikan.[3]





2. Pengertian dan Pembahasan Ilmu Kalam (Teologi), Filsafat Serta Tasawuf
A. Pengertian Teologi dan Objek Pembahasannya
Teologi merupakan suatu ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar suatu agama.
Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar tersebut biasa disebut dengan Usul al-Din,
aqaid dan disebut pula credos. Teologi dalam Islam disebut juga dengan ilmu
tauhid. Kata Tauhid mengandung arti satu atau esa, dan keesaan dalam pandangan
Islam, sebagai agama monoteisme, merupakan sifat terpenting dari segala sifat-
sifat Tuhan. Teologi dalam Islam disebut juga dengan Ilmu Kalam. Arti Kalam
adalah kata-kata. Jika yang dimaksud dengan kalam adalah sabda Tuhan maka
teologi dalam Islam disebut ilm kalam, karena persoalan mengenai kalam (Sabda
Tuhan) atau al-Quran pernah menimbulkan pertentangan-pertentangan keras di
kalangan umat Islam di abad IX dan X masehi, sehingga timbul penganiayaan dan
pembunuhan-pembunuhan terhadap sesama muslim waktu itu. Jika yang
dimaksud dengan kalam ialah kata-kata manusia, maka teologi dalam Islam
disebut dengan ilm kalam, karena kaum teolog Islam bersilat dengan kata-kata
dalam mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing.[4]
Ilmu Kalam membahas iman dan akidah dari berbagai aspek dan memaparkan
alasan-alasan yang memperkuat pembahasan tersebut. ilmu kalam ini merupakan
studi tentang doktrin (akidah) dan iman Islam. Secara sederhana Murtadha
Muthahhari mendefinisikan bahwa ilmu kalam adalah sebuah ilmu yang mengkaji
doktrin-doktrin dasar atau akidah-akidah pokok Islam. Ilmu kalam
mengidentifikasi akidah-akidah pokok dan berupaya membuktikan keabsahannya
dan menjawab keraguan terhadap akidah-akidah pokok tersebut. karena sebagian
besar perdebatan tentang akidah-akidah Islam berkisar seputar huduts
(kemakhlukan, keterciptaan, temporalitas) atau qidam (keabadian) firman atau
kalam Allah, maka disiplin yang membahas akidah utama agama Islam pun
mendapat sebutan ilmu kalam (secara harfiah, ilmu firman).
B. Pengertian Filsafat Islam dan Objek Pembahasannya
Filsafat adalah usaha manusia dengan akal budinya untuk memahami, mendalami,
dan menyelami secara radikal dan universal hakikat semua yang ada, yakni
meliputi hakikat Tuhan, hakikat Alam Semesta, dan hakikat manusia serta sikap
manusia sebagai konsekuensi dari paham dan pemahamannya.[5]
Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian,
manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang
logis dan sistematis. Menurut Mustofa Abdur Razik, Filsafat Islam adalah filsafat
yang tumbuh di negeri Islam dan di bawah naungan negara Islam, tanpa
memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya.[6] Menurut Ahmad Fuad al-
Ahwani filsafat Islam ialah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari
ajaran Islam.
Pendapat lain mengatakan bahwa filsafat islam adalah filsafat Quraniah, yaitu
filsafat yang berorientasi kepada al-Quran untuk mencari jawaban-jawaban
mengenai masalah-masalah asasi filsafat kepada wahyu.[7] Namun penamaan
istilah filsafat islam pada dasarnya adalah karena islam ini bukan hanya sekedar
agama namun termasuk juga di dalamnya kebudayaan. Jadi pemikiran filsafat ini
juga tentunya terpengaruh oleh kebudayaan islam tersebut, meskipun pemikiran
itu banyak sumbernya dan berbeda-beda jenis orangnya. Corak pemikiran tersebut
adalah Islam, baik tentang problema-problemanya, motif pembinaannya maupun
tujuannya, karena Islam telah memadu dan menampung aneka kebudayaan serta
pemikiran dalam satu kesatuan.[8] Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan
disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. filsafat sebagai
ilmu yang mengungkap tentang wujud-wujud melalui sebab-sebab yang jauh,
yakni pengetahuan yang yakin yang sampai kepada munculnya suatu sebab. Ilmu
terhadap wujud-wujud itu adalah bersifat keseluruhan, bukan terperinci, karena
pengetahuan secara terperinci menjadi lapangan ilmu-ilmu khusus. Oleh karena
sifatnya keseluruhan, maka filsafat hanya membicarakan benda pada umumnya
atau kehidupan pada umumnya. filsafat mencakup seluruh benda dan semua yang
hidup yakni pengetahuan terhadap sebab-sebab yang jauh yang tidak perlu lagi
dicari sesudahnya. Filsafat berusaha untuk menafsirkan hidup itu sendiri yang
menjadi sebab pokok bagi partikel-partikel itu beserta fungsi-fungsinya. Cakupan
filsafat Islam tidak jauh berbeda dari objek filsafat ini. Hanya dalam proses
pencarian itu Filsafat Islam telah diwarnai oleh nilai-nilai yang Islami. Kebebasan
pola pikirannya pun digantungkan nilai etis yakni sebuah ketergantungan yang
didasarkan pada kebenaran ajaran ialah Islam.
Tujuan mempelajari filsafat Islam ialah mencintai kebenaran dan kebijaksanaan.
Sedangkan manfaat mempelajarinya ialah :
1. Dapat menolong dan menididik, menbangun diri sendiri untuk berfikir lebih
mendalam dan menyadari bahwa ia mahluk Tuhan.
2. Dapat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan
persoalan.
C. Pengertian Tasawuf dan Objek Pembahasannya
Tasawuf berasal dari kata shafw yang artinya bersih atau shafaa, dari kata shuffah
yang artinya suatu kamar disamping mesjid Rasulullah di kota Madinatul
Munawwarah, berasal dari kata shaff yang artinya barisan dikala sembahyang
sholat, dari kata shaufanah yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu-bulu yang
banyak sekali tumbuh di padang pasir, dan kaum sufi mengenakan baju berbulu
seperti buah itu, dalam kesederhanaannya.[9]Tasawuf juga berasal dari kata shuf
wol. Konon, dulu para sufi (ahli tasawuf) biasa berpakaian shuf atau bulu domba.
Secara istilah tasawuf bisa disamakan dengan mystic, yaitu satu system cara
bagaimana agar seseorang bisa mencapai hubungan yang mesra dengan Tuhan
yang Mahakekal dan Mahasempurna. Hubungan ini adalah berdasarkan cinta dan
kasih.[10] Ibn Khaldun berpendapat bahwa Tasawuf adalah jalan kebenaran dan
petunjuk. Sementara asal-usulnya adalah pemusatan diri dalam ibadah,
konsentrasi secara penuh kepada Allah, penghindaran diri dari hiasan dan pesona
dunia, penjauhan diri dari kelezatan, harta dan pangkat dan pemisahan diri dari
orang lain untuk menyendiri dan beribadah,[11] yang tujuannya menurut Abd-al-
Hakim Al-Hasan adalah sampai (wusul) kepada Zat Yang Haq dan atau Zat Yang
Mutlak dan bersatu (ittihad) dengan-Nya.[12] Sedangkan tasawuf menurut Abu
Nasar al-Sarraj adalah menghindari hal-hal yang terlarang, melakukan kewajiban-
kewajiban agama dan menolak dunia. Menurut Abu Bakar al-Kalabadhi Tasawuf
adalah menarik diri dari dunia, meninggalkan semua hal yang sudah mapan, terus
menerus berkelana, menolak kesenangan-kesenangan hawa nafsu bagi jiwa,
menyucikan perilaku dan memberikan hati nurani.[13]
Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Muslim
berada sedekat mungkin dengan Allah. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih
menekankan rasa daripada rasio. Ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni
sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Para sufi mengembangkan suatu
cara bagaimana bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Tujuan yang hendak
dicapainya adalah kebahagiaan, yakni dengan persatuannya dengan Kekasih.
Kesengsaraan yang memilukan bagi mereka bukanlah masuk Neraka, tetapi
apabila Tuhan telah menjauhi dan tidak mau bicara dengan mereka. [14] Objek
kajian tasawuf adalah Tuhan (Al-Haq) , yakni upaya-upaya pendekatan terhadap-
Nya.
D. Korelasi antara Filsafat Islam, ilmu Kalam dan Tasawuf
1. Filsafat Islam dan Ilmu Kalam
Setelah abad ke-6 Hijriah terjadi percampuran antara filsafat dengan ilmu kalam,
sehingga ilmu kalam menelan filsafat secara mentah-mentah dan dituangkan
dalam berbagai bukti dengan mana Ilmu Tauhid. Yaitu pembahasan problema
ilmu kalam dengan menekankan penggunanaan semantic (logika) Aristoteles
sebagai metode, sama dengan metode yang ditempuh para filosof. Kendatipun
Ilmu Kalam tetap menjadikan nash-nash agama sebagai sumber pokok, tetapi
dalam kenyataannya penggunaan dalil naqli juga tampak pada perbincangan
mutakalimin. Atas dasar itulah sejumlah pakar memasukkan Ilmu Kalam dalam
lingkup Filsafat Islam.
Jadi Filsafat Islam bertujuan untuk menyelaraskan antara firman dan akal, ilmu
pengetahuan dengan keyakinan, agama dengan filsafat serta menunjukkan bahwa
akal dan firman tidak bertentangan satu sama lain. Walaupun orientasinya bersifat
religius, namun isu-isu penting dalam filsafat tidak diabaikan, seperti waktu,
ruang, materi, kehidupan dan masalah-masalah kontemporer.
Filsafat islam dan ilmu kalam sangat kuat pengaruhnya satu sama lain. Kalam
mencuatkan masalah-masalah baru bagi filsafat, dan filsafat membantu
memperluas area, bidang, atau jangkauan kalam, dalam pengertian bahwa
pembahasan tentang banyak masalah filsafat jadi dianggap penting dalam kalam.
Filsafat Islam mengandalkan akal dalam mengkaji objeknya-Allah, Alam dan
Manusia-tanpa terikat dengan pendapat yang ada (pemikiran-pemikiran yang
sama sifatnya, hanya berfungsi sebatas masukan dan relative). Nash-nash agama
hanya sebagai bukti untuk membenarkan hasil temuan akal. Sebaliknya, ilmu
kalam mengambil dalil akidah sebagaimana tertera dalam wahyu, yang mutlak
kebenarannya untuk menguji objeknya Allah dan sifat-sifatnya, serta hubungan
dengan Allah dengan Alam dan Manusia sebagaimana tertuang dalam kitab suci
menjadikan filsafat sebagai alat untuk membenarkan nash agama. Seperti
keberadaan Allah, Filsafat Islam mengawali pembuktiannya dengan argumentasi
akal, barulah pembenarannya diberikan oleh wahyu, sementara ilmu kalam
mencari wahyu yang berbicara tentang keberadaan Allah, baru kemudian
didukung oleh argumentasi akal. Walaupun objek dan metode kedua ilmu ini
berbeda, tapi saling melengkapi dalam memahami Islam dan pembentukan akidah
Muslim.[15]
2. Filsafat dan Tasawuf
Tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan untuk semakin
mendekatkan diri kepada Allah terbagi ke dalam dua bagian, yakni Tasawuf
Amali/Akhlaqi dan Tasawuf Falsafi (Ibn Arabi dan Al-Hallaj). Dari
pengelompokkan ini tergambar adanya unsur-unsur filsafat dalam ajaran tasawuf,
seperti logika dalam penjelasan maqomat (al-fana-al-baqa, ittihad, hulul, wahdat
al-wujud).
Tasawuf Falsafi yang biasanya juga disebut dengan irfan yakni secara teknis
diterapkan pada persepsi-persepsi khas yang ditangkap melalui pemusatan
perhatian relung terdalam jiwa dan tidak melalui pengalaman inderawi dan
rasional. Irfan sejati diperoleh semata-mata melalui keterikatan Allah dan ketaatan
kepada segenap perintah-Nya. Keterikatan tanpa pengetahuan mustahil adanya,
dan pengetahuan ini mesti bersandar pada sejumlah prinsip filsafat. Penyingkapan
dan visi irfan memunculkan masalah-masalah baru untuk diuraikan dan dikupas
tuntas oleh filosof, dan memperluas cakrawala pandang filsafat. Dalam
pemecahan berbagai masalah dalam ilmu-ilmu kefilsafatan, visi-visi irfan bisa
dianggap sebagai pendamping. Banyak hal yang terbukti secara rasional dalam
filsafat, terungkap pula melalui penglihatan kalbu.[16]
Kajian-kajian Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali tentang jiwa dalam
pendekatan kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang
sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam.
Pemahaman tentang jiwa dan roh itu pun menjadi hal yang esensial dalam
tasawuf. Kajian-kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak
dikembangkan dalam tasawuf.
3. Hubungan Antara Ilmu Kalam, filsafat dan Tasawuf
A. Titik Persamaan Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek
kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-
Nya. Ilmu kalam merupakan salah satu ilmu islam yang mengkaji akidah
(doktrin)[17]. Objek kajian filsafat adalah masih dalam masalah ketuhanan di
samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu
objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-uapaya pendekatan terhadap-
Nya. Jadi, di lihat dari objeknya, ketiga ilmu itu membahas masalah yang
berkaitan dengan ketuhanan.
Argumen filsafat- sebagai mana ilmu kalam- dibangun di atas logika. Oleh karena
itu, hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara
empiris, riset, dan eksperimental). Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan
beragamannya kebenaran yang dihasilkannya.
Bagi ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama yaitu
kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran
tentang Tuhan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula,
berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia (yang
belum atau tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuaan karena berada di luar
atau di atas jangkauanya), atau tentang Tuhan. Sementara itu, tasawuf juga dengan
metodenya yang tipikai berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan
perjalanan spritual menuju Tuhan.
Pada intinya bahwa ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf memliki kesamaan
dalam segi bojek kajiannya, yaitu tentang Tuhan dan segala yang berkaitan
dengan_Nya. Namun dalam kajian objek tersebut hanya dibedakan dalam
penamaannya saja. Ilmu kalam dalam objek kajiannya dikenal dengan sebutan
kajian tentang Tuhan, sedangkan dalam filsafat di kenal dengan sebutan kajian
tentang Wujud dan dalam ilmu tasawuf (irfan) dikenal dengan sebutan kajian
tentang Al-Haq. Akan tetapi pada dasarnya ketiga ilmu tersebut mengkaji kajian
tentang Tuhan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan_Nya.
B. Titik Perbedaan Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf
1. Ilmu Kalam
Setelah membahas tentang persamaan dari ketiga ilmu tersebut, yaitu terdapat
persamaan dalam objek kajiannya, maka akan ditemukan juga titik perbedaannya.
Perbedaan di antara ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam,
sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi
naqliah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat
tampak nilai-nilai apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode
dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan. Sebagian
ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan
kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan
yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Meskipun ilmu kalam merupakan sebuah disiplin ilmu yang rasional dan logis,
namun kalau dilihat adari asas-asas yang dipakai dalam argumentasinya terdiri
dari dua bagian, yaitu ; Aqli dan Naqli[18]. Bagian Aqli ini terbangun dengan
dasar pemikiran yang rasional murni, itupun kalau ada relevansinya dengan Naqli.
Karena naqli tersebut adalah untuk menjelaskan dan menegaskan pertimbangan
rasional supaya memperkuat argumen-argumennya.
2. Ilmu Filsafat
Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh
kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional.
Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara
radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam); tidak
merasa terikatat oleh apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama
logika. Peranan filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh
pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of
conceptual clarity). Murthadha muthahari berkata bahwa metode filsafat hanya
bertumpu pada silogisme (qiyas), argumentasi rasional (istidal aqli) dan
demonstrasi rasional ( burhan aqli).[19]
Berkenaan dengan keragaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka
dalam filsafat dikenal apa yang disebut kebenaran korespondensi. Dalam
pandangan korespodensi, kebenaran adalah persesuaian antara kenyataan
sebenarnya di alam nyata. Disamping kebenaran korespodensi, di dalam filsafat
juga dikenal kebenaran korehensi. Dalam pandangan korehensi, kebenaran adalah
kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah
diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi, kebenaran dianggap tidak
benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar oleh ulama
umum.
Disamping dua kebenaran di atas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran
pragmatis. Dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang
bermanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampak
yang memuaskan. Jadi, sesuatu akan dianggap tidak benar kalau tidak tampak
manfaatnya secara nyata dan sulit untuk di kerjakan.
3. Ilmu Tasawuf
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio.
Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang
prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat subjektif, yakni sangat
berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering
tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sulit
dibahasan. Pengalaman rasa lebih muda dirasakan langsung oleh orang yang ingin
memperoleh kebenaranya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang,
sehingga sangat interpretable dapat diinterpretasikan bermacam-macam).
Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau
ilham, atau inspirasi yang datang dari tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu
tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang
objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri. Itulah sebabnya dalam sains
dikenal istilah objeknya tidak objektif. Ilmu seperti ini dalam sains dikenal
dengan ilmu yang diketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu
proporsional.
Didalam pertumbuhannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi
rasional dan teologi tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat
sendiri. Sains berkembang menjadi sains kealaman,sosial, dan humaniora;
sedangkan filsafat berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan
filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan
tasawuf teoritis.
4. Manfaat Dari Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf
Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya), teologi diantaranya berperan sebagai
ilmu yang mengajak orang baru untuk mengenal rasional sebagai upaya mengenal
Tuhan secara rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang
mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal
Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya
langsung. Dengan cara ini, orang yang telah mempunyai rasio sangat prima
diharapkan dapat mengenal Tuhan secara meyakinkan melalui rasionya. Adapaun
tasawuf lebih perperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang
telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin
dicarinya.
5. Tabel persamaan dan Perbedaan Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf

Ilmu kajian Objek kajian Metodologi kajian
Kalam Tuhan Aqli dan Naqli
Filsafat Wujud Aqli (empiris)
Tasawuf (Irfan) Al-Haq Kasyf (pengalaman)

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan awal, bahwa table
tersebut menjelaskan objek kajian ilmu kalam, filsafat dan tasawuf itu sama, yaitu
kajian tentang Tuhan namun hanya dalam segi penamaannya saja yang berbeda.
Adapun dalam segi perbedaanya jelas bahwa kalam menggunakan aqli yang
diseimbangkan atau diperjelas oleh naqli, sedangkan filsafat hanya menggunakan
aqli (rasional) saja, yaitu melakukan kajian secara empiris dan menggunakan akal
secara prima, dan tasawuf dengan menggunakan metode rasa (rasio) dan hati
(intuisi), dengan menggunakan pengalaman dengan melakukan tiga proses
penting, yaitu takhali (pengosongan dir dari perbuatan buruk), tahali (penghiasan
diri dengan perbuatan-perbuatan baik) dan tazali (penyucian diri).

[1] Muthahhari, Murtadha, Mengenal Ilmu Kalam, hal. 18
[2] Budi Santoso bin Danuri bin Abdullah, Sentot. Wujud (Menuju Jalan
Kebenaran), hal. 5
[3] Kartanegara, Mulyadhi. Gerbang Kearifan, hal. 26
[4] Nasution, Harun. Teologi Islam, Pendahuluan
[5] Anshari, Endang Saifudin. Wawasan Islam, hal. 113
[6] http://a2i3s-c0ol.blogspot.com/2009/01/hubungan-filsafat-islam-dengan-
filsafat.html
[7] Anshari, Endang Saifudin. Wawasan Islam, hal. 114
[8] Hanafi, A. Pengantar Filsafat Islam, hal. 23
[9] Budi Santoso bin Danuri bin Abdullah, Sentot. Wujud (Menuju Jalan
Kebenaran), hal. 13
[10] Anshari, Endang Saifudin. Wawasan Islam, hal. 116
[11] Masyharuddin. Pemberontakan Tasawuf, hal. 204
[12] Masyharuddin. Pemberontakan Tasawuf, hal. 205
[13] Qadir, C.A. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, hal. 99
[14] Kartanegara, Mulyadhi. Mozaik Khazanah Islam, hal.144
[15] Nasution, Hasyimiah. Filsafat Islam, hal.6
[16] Yazdi, M.T. Mishbah. Buku Daras Filsafat Islam, hal. 78
[17] Murthadha Muthahari. Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Hlm. 196
[18] Murthadha Muthahari. Mengenal Ilmu Kalam, Hlm.24
[19] Murthadha Muthahari. Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Hlm.326
penulis : Ridwan Efendi
http://readone111.wordpress.com/2013/01/08/1-sejarah-singkat-ilmu-kalam-
filsafat-islam-dan-tasawuf-beserta-aliran-alirannya/
ALIRAN & TOKOH ILMU KALAM
Diposkan oleh Ilham Yunar di 07.17 Selasa, 24 Mei 2011
Asal-Usul Munculnya Aliran-Aliran Dalam Ilmu Kalam
Sejak wafatnya Nabi Muhammad saw, kaum muslimin sudah mulai
menghadapi perpecahan. Tetapi perpecahan itu menjadi reda, karena terpilihnya
Abu Bakar menjadi Khalifah. Setelah beberapa lamanya Abu Bakar menduduki
jabatan kekhalifahan, mulai tampak kembali perpecahan yang disebarkan oleh
orang-orang yang murtad dari Islam dan orang-orang yang mengumumkan dirinya
menjadi nabi, seperti Musailamatul Kadzdzab, Thulalhah, Sajah dan Al-Aswad
Al-Ansy. Di samping itu ada pula kelompok-kelompok lain yang tidak mau
membayar zakat kepada Abu Bakar. Padahal dahulunya mereka semua taat dan
disiplin membayar zakat pada Nabi. Akan tetapi semua perselisihan itu segera
dapat diatas dan dipersatukan kembali, karena kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar.
Maka selamatlah kekuasaan Islam yang muda Itu dari ancaman fitnah dari musuh-
musuh Islam yang hendak menghancur-leburkannya.
Kemudian perjalanan kekhalifahan Abu Bakar As-shiddiq, Umar ibnu
Khattab, dan Utsman Ibnu Affan tidak begitu menghadapi persoalan, bahkan
terjalin persaudaraan yang mesra dan akrab. Pada masa ketiga khalifah itulah,
dipergunakan kesempatan yang sebaik-baiknya mengerahkan semua tenaga kaum
muslimin untuk menyiarkan dan mengembangkan Islam ke seluruh pelosok
penjuru dunia. Tetapi setelah Islam meluas ke Afrika, Asia Timur bahkan Asia
Tenggara tiba-tiba diakhir Khalifah Utsman, terjadi suatu persoalan yang
ditimbulkan oleh tindakan Utsman yang oleh sebagian orang Islam dianggap
kurang mendapat simpati dari sebagian kaum muslimin.
Kebijakan khalifah Utsman bin Affan yang dianggap tidak sesuai dengan
kebutuhan umat pada saat itu, diantaranya ialah kurang pengawasan dan
pengangkatan terhadap beberapa pejabat penting dalam pemerintahan, sehingga
para pelaksana pemerintahan (para eksekutif) di lapangan tidak bekerja secara
maksimal, diperparah lagi dengan adanya sikap nepotisme dari keluarganya.
Utsman banyak menempatkan para pejabat tersebut dari kalangan keluarganya,
sehingga banyak mengundang protes dari kalangan umat Islam. Dan sebenarnya
hal Ini adalah bisa dimaklumi karena memang keluarga Usman bin Affan adalah
keluarga orang-orang yang pandai. Namun Inilah bermulanya fitnah yang
membuka kesempatan orang-orang yang berambisi untuk menggulingkan
pemerintahan Utsman.
Karena derasnya arus fitnah ini sehingga mengakibatkan terbunuhnya
Sayyidina Utsman bin Affan . Setelah itu maka Ali bin Abi Thalib terpilih dan
diangkat menjadi khalifah, tetapi dalam pengangkatan tidak memperoleh suara
yang bulat, karena ada golongan yang tidak menyetujui pengangkatan itu. Bahkan
ada yang dengan terang-terangan menentang pengangkatan tersebut sekaligus
menuduh bahwa Ali campur tangan atau sekurang-kurangnya membiarkan
komplotan pembunuhan terhadap Utsman. Semenjak itulah, berpangkalnya
perpecahan umat Islam, hingga menjadi beberapa partai atau golongan.
Diantaranya sebagai berikut :
Kelompok yang setuju atas pengangkatan Ali menjadi khalifah.
Kelompok yang pada awalnya patuh dan setuju, tetapi kemudian setelah
terjadi perpecahan, menjadi golongan yang netral. Mereka berpendidikan, tidak
mau mengikuti taat pada Ali, tidak pula memusuhinya Ali. Karena mereka
berkeyakinan bahwa keberpihakan kepada salah satu dari dua golongan tersebut
tidak berakibat baik.
Kelompok yang jelas-jelas menentang Ali secara terbuka, yaitu Thalhah
bin Abdullah, Zubir bin Awam, Aisyah binti Abu Bakar. Semuanya ini bersatu
dan sepakat menjadikan Aisyah sebagai komandan untuk menggulingkan khalifah
Ali. Mereka menyusun tentara, lalu menduduki Basrah. Pegawai-pegawai Ali di
Basrah dibunuh, perbendaharaan dirampas. Sebab itu Ali pun dengan membawa
pasukan yang dipimpinnya sendiri menuju Basrah, dan akhirnya terjadilah
pertempuran hebat. Thalhah dan Zubir terbunuh. Aisyah tertangkap dan
dipulangkan ke Madinah. Peperangan ini dinamai peperangan Jamal (unta), sebab
Aisyah memimpin pertempuran itu dari atas unta. Dari tentara Aisyah banyak
yang melarikan diri dan menggabungkan diri dengan tentara Muawiyah di Syam,
yang same-sama menentang Ali. Terjadinya peperangan antara Muawiyah dan
Ali, hingga pertempuran Shiffin, yaitu perang terakhir antara Ali dan Muawiyah.
Ada golongan umat Islam yang memisahkan diri dari tentara Ali.
Golongan
ini yang kita kenal dengan kaum Khawarij, mereka tidak setuju dengan gencatan
senjata dan perundingan antara Ali dengan Muawiyah. Mereka ini dihancurkan
pula
oleh Ali, sehingga cerai-berai. Sebenarnya Khawarij ini pada mulanya sungguh-
sungguh membela kepentingan agama. Mereka menuduh Ali tidak tegas dalam
mempertahankan kebenaran, sedang Muawiyah adalah penentang kebenaran, jadi
mereka memisahkan diri dari kedua-dua kelompok tersebut. Ia merasa
mempunyai
hak untuk menentang pemerintahan mana saja yang tidak jujur. Dengan alasan-
alasan itulah, Khawarij menentang Ali dan Muawiyah.
Demikianlah golongan-golongan politik yang timbul di masa Khalifah
AIi-Kemudian sesudah Ali, timbullah beberapa kelompok atau aliran ilmu kalam
(aliran tentang aqidah) yang diakibatkan oleh timbulnya golongan-golongan
politik tersebar di atas, yaitu:
1. Syiah
Golongan ini sangat fanatik kepada, khalifah Ali bin Abi Thalib dan,
keturunannya. Mereka berkeyakinan tidak seorangpun yang berhak memegang,
menduduki jabatan kekhalifahan kecuali dari keturunan Ali. Jika orang yang
mengakui khalifah bukan dari keturunan Ali, berarti merampas hak kekuasaan dan
kekhalifahannya tidak syah. Tetapi akhirnya golongan ini dimasuki pula oleh
unsur-unsur yang menyimpang dari pokok-pokok agama Islam.
2. Qadariyah
Golongan Qodariyah, pokok pemikirannya adalah bahwa usaha dan gerak
perbuatan manusia ditimbulkan sendiri, bukan dari Allah. Faham ini, mula-mula
dianjurkan oleh Mabad Al-Juhainy, Ghailan al-Dimasyqi dan Al-Jadu bin
Dirham. Ketiga tokoh ini hidup pada zaman Daulah Umaiyah dan ketiganya mati
terbunuh.
3. Jabariyah
Golongan ini muncul di Khurasan, yang dipelopori oleh Al-Jaham bin
Shafwan la berpendapat bahwa hidup manusia ini sudah ditentukan oleh Allah
Taala. Segala gerak-geriknya dijadikan Tuhan semata-mata, manusia tidak dapat
berusaha dan menggerakkan dirinya. Mereka juga meniadakan sifat-sifat Allah
Taala. Kita tidak boleh menyifati Allah Taala, dengan suatu sifat yang
bersamaan dengan sifat-sifat yang terdapat pada makhluknya. Pemimpin
golongan ini, akhirnya terbunuh juga di Khurasan.


4. Murjiah
Golongan Murjiah berpendapat, bahwa kemaksiatan tidaklah
menghilangkan keimanan atau tidak memberi bekas terhadap keimanan seseorang,
sebagaimana ketaatan, tidak memberi pengaruh kepada orang yang kafir.
5. Karamiyah
Golongan ini berpendapat, bahwa yang diwajibkan kepada setiap muslim
hanyalah pengakuan lisan saja atas kebenaran rasul. Artinya cukuplah seseorang
dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja, sekalipun tanpa amal dan tanpa
tashdiq di hati.
6. Khawarij
Golongan ini pada mulanya adalah pengikut setia Khalifah Ali, namun
mereka memisahkan diri akibat tidak setuju dengan kebijakan khalifah menerima
perdamian dengan Muawiyah pada saat perang Siffin. Mereka berpendapat
bahwa orang yang mengerjakan dosa besar, atau meninggalkan kewajiban-
kewajiban yang sampai mati belum sempat tobat, maka orang itu dihukumkan
keluar dari Islam dan menjadi kafir. Jadi mereka abadi dalam neraka.
7. Mutazilah
Golongan Mutazilah ini salah satu pokok pikirannya adalah, bahwa orang
Islam yang mengerjakan dosa besar, atau meninggalkan kewajiban-kewajiban,
yang sampai matinya belum sempat bertobat, maka orang itu dihukum keluar dari
Islam, tetapi tidak menjadi kafir, hanya fasiq saja, namun menurutnya orang fasiq
akan abadi di neraka.
8. Ahli Sunah wal Jamaah
Kelompok ini biasa menyebut dirinya Islama Aswaja. Pemahaman
mereka ialah bahwa yang dihukumkan dengan orang Islam, ialah orang yang
memenuhi tiga syarat, yaitu : menuturkan dua kalimat syahadat dengan lisan, dan
diikuti dengan kepercayaan hati dan buktikan dengan amal. Menurut Ahli Sunah
wal Jamaah, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar atau mengingkari
kewajiban-kewajiban yang diperihtahkan Allah sampai mati tidak sempat tobat,
dihukumkan sebagai mukmin yang melakukan maksiat. Hukumnya di akhirat
kelak, bila tidak memperoleh ampunan dari Allah akan masuk neraka untuk
menjalani hukumannya. Sesudah menjalani azab dan hukumnya itu, ada harapan
mendapat kebebasan dan masuk surga.


Aliran-Aliran Dalam Ilmu Kalam
Sebagaimana kita bahas di atas, bahwa pada masa akhir pemerintahan
Khulafa al-Rasyidin muncul aliran kalam yang popular dengan nama Khawarij,
kemudian diikuti oleh Murjiah, Qadariyah dan Jabariyah, Mutazilah dan
Asyariyah atau Ahlus Sunnah wal Jamaah. Marl kita telisik satu persatu
sehingga kita dapat memahami pandangan-pandangan mereka dengan benar.

1. Aliran Syiah
Syiah adalah golongan yang menyanjung dan memuji Sayyidina Ali
secara berlebih-lebihan. Karena mereka beranggapan bahwa Ali yang lebih berhak
menjadi khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, berdasarkan wasiatnya.
Sedangkan khalifah-khalifah seperti Abu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khattab
dan Utsman Bin Affan dianggap sebagai penggasab atau perampas khilafah.
Sebagaimana dimaklumi bahwa mulai timbulnya fitnah di kalangan
ummat Islam biang keladinya adalah Abdullah Bin Saba, seorang Yahudi yang
pura-pura masuk Islam. Pitnah tereebut cukup berhasil, dengan terpecah-belahnya
persatuan ummat, dan timbullah Syiah sebagai firqoh pertama :
Sebenarnya Syiah bermula dari perjuangan politik yaitu khilafah,
kemudian berkembang menjadi agama. Adapun dasar pokok Syiah ialah tentang
Khalifah, atau sebagaimana mereka menamakannya Imam. Maka Sayyidina Ali
adalah iman sesudah Nabi Muhammad SAW. Kemudian sambung-bersambung
Imam itu menurut urutan dari Allah. Beriman kepada imam, dan taat kepadanya
merupakan sebagian dari iman. Iman menurut pandangan Syiah bukan seperi.
pandangan Golongan Ahlus Sunnah. Menurut golongan Ahlus Sunnah, khalifah
atau imam adalah wakil pembawa syariat (Nabi) dalam menjaga agama. Dia
mendorong manusia untuk beramal apa yang diperintahkan Allah. Dia adalah
pemimpin kekuasaan peradilan, pemerintahan dan peperangan. Akan tetapi
baginya tidak ada kekuasaan di bidang syariat, kecuali menafsirkan sesuatu atau
berijtihad tentang sesuatu yang tidak ada nashnya.
Adapun menurut golongan Syiah, imam itu mempunyai pengertian yang
lain, dia adalah guru yang paling besar. Imam pertama telah mewarisi macam-
macam ilmu Nabi SAW. Imam bukan manusia biasa, tetapi manusia luar biasa,
karena dia mashum dari berbuat salah. Di sini ada dua macam ilmu yang dimiliki
imam yaitu; ilmu lahir dan ilmu batin. Sungguh Nabi SAW telah mengajarkan Al-
Quran dengan makna batin dan makna lahir, mengajarkannya rahasia-rahasia
alam dan masalah-masalah ghaib. Tiap imam mewariskan perbendaharaan ilmu-
ilmu kepada imam sesudahnya. Tiap imam mengajar manusia pada waktunya
sesuatu rahasia-rahasia (asrar) yang mereka mampu memahaminya. Oleh karena
itulah imam merupakan guru yang paling besar. Orang-orang Syiah tidak percaya
kepada ilmu dan hadits, kecuali yang diriwayatkan dari imam-imam golongan
Syiah sendiri.
Apabila berpadu pada kekuasaan khalifah urusan agama dan politik.
maka perselisihan antara golongan Syiah dengan golongan-golongan lainnya
adalah bercorak agama dan politik. Inti ajaran Syiah adalah berkisar masalah
khilafah. Jadi masalah politik, yang akhirnya berkembang dan bercampur dengan
masalah-masalah agama. Ajaran-ajarannya. yang terpenting yang berkaitan
dengan khilafah ialah Al Ishmah, Al Mahdi, At Taqiyyah dan Ar Rajah.
Menurut keyakinan golongan Syiah bahwa imam-imam mereka itu
sebagaimana para nabi adalah bersifat Al Ishmah atau mashum dalam segala
tindak lakunya, tidak pernah berbuat dosa besar maupun kecil, tidak ada tanda
berlaku maksiat, tidak boleh berbuat salah ataupun lupa. Hal itu didasarkan :
1. Apabila imam boleh berbuat salah, maka akan membutuhkan kepada imam lain
untuk memberikan petunjuk, demikian seterusnya. Oleh karena itu imam tidak
boleh salah, dengan perkataan lain hams mashum. Lawan-lawan golongan Syiah
menolak ajaran tersebut dengan alasan bahwa kebutuhan terhadap imam itu bukan
karena kemungkinan masyarakat berbuat salah, akan tetapi karena fungsi imam itu
sendiri sebagai pelaksana hukum, menolak kerusakan dan memelihara kesucian
agama. Tidak ada kebutuhan dalam tugas itu tentang mashumnya imam, tetapi
cukup dengan ijtihad dan berlaku adil.
2. Imam itu adalah pemelihara syariat, oleh karena imam harus mashum. Kalau
tidak demikian maka niscaya membutuhkan pemelihara yang lain. Lawan-lawan
mereka menoiaknya dengan alasan bahwa imam itu bukan pemelihara syariat,
tetapi sebagai pelaksana syariat. Adapun pemelihara syariat ialah para ulama.
Aliran-aliran Syiah ada yang moderat dan ada yang radikal. Zaidiyah
merupakan aliran yang paling dekat Sunni, bahkan menolak faham Al-Mahdi dan
Ar Rajah yang menjadi keparcayaan umum aliran-aliran Syiah.
Syiah Az Zaidiyah adalah pengikut Zaid Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin
Abi Thalib. Syiah Az Zaidiyah ini adalah firqoh Syiah yang paling dekat (tidak
banyak menyimpang) kepada Aldus Sunnah dan yang paling lurus. la tidak
mengangkat imam-imamnya sampai pada martabat kenabian, bahkan juga tidak
mengangkatnya ke martabat yang mendekatinya, tetapi mereka menganggap
imam-imam seperti manusia pada umumnya. Hanya saja mereka adalah seutama-
utama orang sesudah Rasulullah SAW. Mereka tidak mengkafirkan seorang pun
di antara sahabat-sahabat Nabi dan terutama orang (Abu Bakar, Umar dan
Utsman, pen) yang dibaiat oleh Ali dan mengakui keimanannya.
Aliran Zaidiyyah menolak faham Al Mahdi : Aliran Zaidiyyah adalah
sebagian dari aliran-aliran dalam Syiah, yang sangat terpengaruh oleh ajaran-
ajaran Mutazilah, karena Zaid pemimpin aliran Zaidiyyah ini pernah berguru
kepada Washil Bin Atho, pemimpin Mutazilah. Mereka sangat mengingkari
sekali terhadap faham Al Mahdi dan Rajah, dan dalam kitab-kitabnya mereka
menolak hadits-hadits dan cerita-cerita yang berhubungan dengan hal tersebut.
Syiah Ghaliyah atau Ashabu I-Ghulat, golongan Syiah yang ajaran-
ajarannya telah melampaui batas (ekstrim). Mereka ada yang berpendapat bahwa
imam-imam mereka mempunyai unsur-unsur ketuhanan. Ada pula yang
menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya. Kepercayaan tersebut adalah
pengaruh dari kepercayaan-kepercayaan inkarnasi, reinkamasi, ajaran-ajaran
Yahudi dan Kristen. Agama Yahudi menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya,
sedangkan agama Kristen menyerupakan makhluk dengan Tuhannya.
Di antara aliran-aliran Al Ghaliyah yang keterlaluan ialah As Sabaiyah, Al
AlAlbaiyah dan Al Khattabiyah. Aliran As Sabaiyah adalah pengikut Abdullah
Bin Saba, orang Yahudi dari Yaman, yang pura-pura masuk Islam. Aliran
Sabaiyah inilah yang pertama kali menyatakan ajaran tentang gaibnya imam,
rajah, menitis (hulul)-nya sifat ketuhanan kepada imam, dan berpindah
(tanasukh)-nya sifat ketuhanan dari seorang imam kepada imam berikutnya.
Aliran Al Khattabiyah, pengikut Abil Khattab Muhammad Bin Abi Zainab
Bani Asad. Setelah dia meninggal, diganti Muamar mempunyai ajaran-ajaran
yang berlebih-lebihan. Mereka beranggapan bahwa dunia itu tidak akan rusak.
Sesungguhnya surga ialah keadaan yang manusia mendapatkan kebaikan,
kenikmatan dan kesehatan. Dan sesungguhnya neraka ialah keadaan yang manusia
mendapatkan keburukan, kesulitan dan bencana. Mereka menghalalkan khamer,
zina, dan semua hal yang diharamkan. Dan mereka selalu meninggalkan shalat
dan fardlu-fardlu lainnya.
Kini, Syiah dengan berbagai bentuk alirannya, masih tersebar cukup luas.
Di Iran, Syiah merupakan mazhab resmi negara. Di samping itu, Syiah terdapat
juga di Irak, Pakistan, India dan Yaman. Monument yang tidak boleh dilupakan
yang merupakan jasa Syiah, ialah Universitas Al Azhar Mesir, didirikan pada
tahun 359 H = 970 M, oleh Khalifah Al Muiz Lidinillah, dari Bani Fathimiyah.
Semula, di Universitas Al Azhar ini adalah untuk mencetak kader-kader Syiah,
pejabat-pejabat penting pemerintah. Namun, bersamaan dengan runtuhnya
kekuasaan Bani Fathimiyah dengan khalifah terakhirnya Al Azid Lidinillah pada
tahun 555 H = 1160 M, maka corak Universitas Al Azhar yang semula berfaham
Syiah, berganti berfaham Sunni sampai sekarang.
2. Lahirnya Aliran Khawarij
Khawarij ini merupakan suatu aliran dalam kalam yang bermula dari
sebuah kekuatan politik. Dikatakan khawarij (orang-orang yang keluar) karena
mereka keluar dari barisan pasukan Ali saat mereka pulang dari perang Siffin,
yang dimenangkan oleh Muawiyah melalui tipu daya perdamaian. Gerakan
exodus itu, mereka lakukan karena tidak puas dengan sikap Ali menghentikan
peperangan, padahal mereka hampir memperoleh kemenangan. Sikap Ali
menghentikan peperangan tersebut, menurut mereka, merupakan suatu kesalahan
besar karena Muawiyah adalah pembangkang, sama halnya dengan Thalhah dan
Zutair. Oleh sebab itu tidak perlu ada perundingan lagi dengan mereka. dan Ali
semestinya meneruskan peperangan sampai para pembangkang itu hancur dan
tunduk.
Kemudian orang-orang Khawarij mulai mengafirkan siapa saja yang
dianggap melakukan kesalahan, seperti Utsman bin Affan yang melakukan
kesalahan karena mengubah sistem politiknya sehingga menimbulkan huru-hara.
Kemudian Thalhah. Zubair dan Muawiyah yang melakukan pembangkangan
terhadap Ali bin Abi Thalih sebagai khalifah yang sah. Dan Ali bin Abi Thalib
sendiri yang melakukan kesalahan karena menghentikan pertempuran dalam
perang Siffin, ketika menaklukkan muawiyah yang tidak mau baiat kepadanya.
Pada awalnya tuduhan kafir tersebut dilontarkan mereka kepada
Muawiyah, Amru bin Ash, Ali bin Abi Thalib dan Abu Musa al-Asyari, yang
keempatnya ini pelaku utama proses tahkim (damai) untuk mengakhiri
peperangan. Namun, tahkim tersebut menurut orang-orang khawarij tidak sesuai
dengan ketentuan ajaran agama, karena Muawiyah adalah pembangkang yang
seharusnya diperangi sampai hancur dan tunduk. Dengan demikian, jalan terakhir
tersebut tidak sesuai dengan ketentuan hukum Allah, dan barang siapa
menetapkan sesuatu dengan ketentuan yang tidak sesuai dengan hukum Allah
tergolong orang-orang kafir, sebagaimana dikemukakan dalam surah al-Maidah
ayat 44 yang
Artinya:
Barang siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang diturunkan oleh
Allah adalah kafir.
Kemudian sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa pada akhirnya
mereka mengafirkan orang-orang yang melakukan kesalahan (dosa) besar, karena
tidak mengikuti hukum Allah juga termasuk suatu kesalahan besar. Kendati semua
yang mereka kafirkan itu adalah para pelaku pilitik yang menuntut pandangannya
melakukan kesalahan besar dengan tidak mengikuti norma agama sesuai Al-
Quran, namun demikian mereka juga mengafirkan para pelaku dosa besar di luar
politik, bahkan lebih jauh mereka mengafirkan orang-orang yang tidak sependapat
dan tidak sealiran dengan mereka. Akhirnya semakin banyak konflik dan
pertempuran akibat pemikiran teologinya itu, sehingga Ali bin Abi Thalib
penguasa sah saat itu menyerang mereka dan menghancurkannya tahun 37 H.
Akan tetapi salah seorang dari mereka ada yang selamat dan membunuh Ali bin
Abi Thalib tahun ke-40 H.
Walaupun telah dihancurkan Ali bin Abi Thalib tahun ke-37 H, namun
sisa-sisa kekuatan mereka masih terus bergerak dan berhasil menghimpun
kekuatan lagi, sehingga terus melakukan gerakan oposisi terhadap daulah
Umayah. Akan tetapi, kelompok ini rentan sekali sehingga mudah pecah, dapat
dihancurkan kembali oleh Banu Umayah pada tahun 70 H. Sisa-sisanya dari sub
sekte Ibadiyah (sebutan sub sekte Khawarij yang sangat moderat) sampai kink
masih ada di Sahara Al-Jazair, Tunisia, Pulau Zebra, Zanzibar, Omman dan
Arabia Selatan, dan tidak melakukan perlawanan politik apa-apa terhadap
penguasa yang sah.
Sesuai dengan uraian diatas, make pemikiran kalam aliran khawarij yang
paling menonjol adalah tentang pelaku dosa besar yang menurut mereka tergolong
orang kafir, dan termasuk pada kategori dosa besar adalah sikap menentang
terhadap pemikiran khawarij sehingga orang-orang yang tidak sepaham dengan
mereka tergolong kafir.
Di samping itu, mereka mempunyai pemikiran yang khas tentang definisi
iman. Yakni menurut mereka iman itu adalah meyakini dengan hati, mengucapkan
dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Sejalan dengan definisinya
ini, maka orang-o
r
ang yang tidak mengamalkan ajaran agamanya, atau melakukan
pelanggaran dalam kategori dosa besar, termasuk kufur, karena amal
mempengaruhi iman.
Dengan demikian pokok-pokok pikiran aliran ilmu kalam mereka dapat
disimpulkan sbb :
1) Orang Islam yang melakukan dosa besar adalah termasuk Kafir
2) Orang yang terlibat perang Jamal yakni perang antara Ali dan Aisyah dan
pelaku arbitrase antara Ali dan Muaawiyah dihukum Kafir
3) Kholifah menurut mereka tidak harus keturunan Nabi atau suku quraisy


Mempercayai bahwa muhamad bin hanafiah sebagai pemimpin setelah husein Ali
wafat
A. Nama kausaniyah diambil dari nama kaisan yaitu nama budak Ali Bin Abuthilib.
Mesikpun sekte(organisasi) ini punah, cerita kebesaran muhamad bin hanafiah
dapat di jumpai dalam cerita rakyat, hikayat ini terkenal sejak abad 15 M di
malaka.
B. Saidiyah : Yaitu sekte ini mengakui ke kalifahan Abu bakar & Umar sekte syiah
mempercayai bahwa Zaed Bin Ali Bin Husein Zaenal Abidin merupakan peimpin
setelah husein bin Ali wafat. Dalam sekte ini ada 5 syarat untuk dapat di angkat
sebagai pemimpin. Yaitu :
1. Berasal dari keturunan Fatimah Binti Muhammad
2. Berpengetahuan luas tentang agama
3. Hidupnya untuk beribadah
4. Jihad di jalan Allah dengan mengangkat senjata
5. Berani
C. Sekte Imamiyah : yaitu sekte Syiah yang menunjukan langsung Ali Bin
Abitholib untuk menjadi imam oleh rassulullah Sebagai pengganti beliau.
Sehingga sekte ini tidak mengakui Abu bakar dan Umar.sekte imamyah pecah
menjadi 2 golongan, yang terbesar yaitu:
1. Isna Asyariah / Syiah dua 12
Ismailiyah
3. Lahirnya Aliran Murjiah
Sejak terjadinya ketegangan politik di akhir pemerintahan Utsman bin
Affan, ada sejumlah sahabat nabi yang tidak mau ikut campur dalam perselisihan
politik. Ketika selanjutnya terjadi salah menyalahkan antara pihak pendukung Ali
dengan pihak penuntut bela kematian Utsman bin Affan, maka mereka bersikap
irja yakni menunda putusan tentang siapa yang bersalah. Menurut mereka,
biarlah Allah saja nanti di hari akhirat yang memutuskan siapa yang bersalah di
antara mereka yang tengah berselisih ini.
Selanjutnya mereka kaum khawarij berpendapat bahwa mukmin yang
melakukan dosa besar itu menjadi kafir dan kelak akan kekal dalam neraka, maka
Kaum Murjiah berpendapat bahwa mukmin yang melakukan dosa besar tersebut
masih tetap mukmin, yaitu mukmin yang berdosa tidak berubah menjadi kafir.
Lalu apakah mereka akan masuk ke dalam neraka atau surga, atau masuk neraka
terlebih dahulu baru kemudian ke dalam surga, ditunda sampai ada putusan akhir
dari Allah. Disamping itu, khusus bagi para pelaku dosa besar, mereka juga
berharap agar mereka mau bertaubat, dan berharap pula agar taubatnya diterima di
sisi Allah SWT.
Karena penundaan semua putusan terhadap Allah, serta senantiasa
berharap Allah akan mengampuni dosa-dosa para pelaku dosa besar tersebut,
maka mereka ini kemudian populer disebut sebagai golongan atau aliran
murjiah (orang yang mendapat putusan para pelaku dosa besar sampai ada
ketetapan dari Allah, sambil berharap bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa
mereka itu).
Pendirian Murjiah di atas sangat moderat, sehingga menjadi pendirian
umat Islam pada umumnya tentang mukmin yang berbuat dosa besar. Mereka
sendiri kemudian disebut sebagai penganut aliran Murjiah moderat. Akan tetapi
pada akhir abad pertama dan awal abad kedua hijrah, muncul orang-orang
murjiah ekstrim yang sangat meremehkan peran amal perbuatan. Mereka
selanjutnya berpendapat bahwa siapa saja yang meyakini keesaan Allah dan ke-
Rasulan Muhammad SAW, adalah orang beriman walaupun selalu melakukan
perbuatan buruk. Bahkan seorang tidak boleh dikatakan kafir kendati sering
melakukan ibadah di dalam gereja, karena keimanan itu ada dalam hati, dan hanya
dapat diketahui oleh Allah. Tokoh-tokoh aliran murjiah ekstrim ini adalah Jaham
bin Shafwan, Abu Hasan al-Shalih, Muqatil bin Sulaiman dan Yunus al-Samiri.
Kaum murjiah ekstrim ini banyak memperoleh kecaman dari para ulama
saat itu, dan tidak memperoleh pengikut, serta akhirnya lenyap. Sedang murjiah
moderat kemudian menjadi pengikut aliran Ahlus Sunrah wal Jamaah.
Pemikiran yang paling menonjol dari aliran ini adalah bahwa pelaku dosa
besar tidak dikategori sebagai orang kafir, karena mereka masih memiliki
keimanan dan keyakinan dalam hati bahwa Tuhan mereka adalah Allah, Rasul-
Nya adalah Muhammad, serta Al-Quran sebagai kitab ajarannya serta meyakini
rukun-rukun iman lainnya.
Disamping itu, mereka berpendapat bahwa iman itu adalah mengetahui
dan meyakini atas ke-Tuhanan Allah dan ke-Rasulan Muhammad. Mereka tidak
memasukkan unsur amal dalam iman, sehingga amal tidak mempengaruhi iman.
Oleh sebab itu pulalah mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar tetap
mukmin, dan tidak terkategori sebagai orang kafir sebagaimana dinyatakan ajaran
khawarij. Sedangkan dosanya harus mereka pertanggungjawabkan di akhirat
kelak.
Dengan demikian pokok-pokok pikiran aliran ilmu kalam mereka dapat
disimpulkan sbb:
1) Pengakuan Iman Islam cukup di dalam hatinya saja dan tidak dituntut
membuktikan keimanan dengan perbuatan.
2) Selama seorang muslim meyakini dua kalimat syahadat apabila ia berbuat
dosa besar maka tidak tergolong kafir dan hukuman mereka ditangguhkan di
akhirat dan hanya Allah yang berhak menghukum
4. Lahirnya Aliran Qadariyah
Sebagaimana khawarij dan murjiab, aliran teologi qadariyah juga lahir
dengan dilatarbelakangi oleh kegiatan politik, yakni pada masa pemerintahan
muawiyah bin Abu Sufyan, dari Daulah Banu Umayah. Sepeninggal Ali bin Abi
Thalib, tahun 40 H muwiyah menjadi penguasa daulah islamiyah. Dan untuk
memperkokoh kekuasaannya itu, dia menggunakan berbagai cara, khususnya
dalam menumpas semua oposisi, bahkan mendiang Ali bin Abi Thalib dicaci maki
dalam setiap kesempatan berpidato termasuk saat berkhotbah Jumat.
Para ulama yang shalil banyak yang tidak setuju dengan gaya dan cara
muawiyah, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk menutupi kesalahan
itu, mereka mengembalikan semuanya kepada Allah bahwa semua yang terjadi
atas kehendak-Nya. Isu ini kemudian dimanfaatkan pula oleh muawiyah dalam
memimpin daulah islamiyah, bahwa semua yang dilakukan itu atas kehendak
Allah.
Dalam suasana inilah muncul Mabad al-Jauhani dan Ghailan al-
Damasyqi, dua tokoh pemberani yang melontarkan kritik terhadap muawiyah
sekaligus menentang pernyataan teologis yang membenarkan tindakan politiknya.
Menurut keduanya, manusia bertanggung jawab untuk menegakkan kebenaran
dan kebaikan serta menghancurkan kedhaliman. Manusia diberi Allah daya dan
kekuatan untuk melakukan suatu perbuatan. Manusia juga diberi kebebasan untuk
memilih antara melakukan sesuatu kebaikan dan keburukan, dan mereka harus
mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya kelak di hari akhir.
Bila manusia memilih untuk melakukan perbuatan baik, maka dia akan
memperoleh pahala di sisi Allah dan akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup
di akhiratnya kelak. Sedang mereka yang memilih melakukan perbuatan buruk,
akan memperoleh siksa dalam neraka. Manusia tidak boleh berpangku tangan
melihat kedzaliman dan keburukan. Manusia harus berjuang melawan kedzaliman
dan menegakkan kebenaran. Manusia bukanlah majbur (dipaksa oleh Allah).
Karena Mabad dan Ghailan ini mengajarkan bahwa manusia memiliki qudrah
untuk mewujudkan suatu perbuatan, maka fahamnya dinamakan faham
qadariyah.
Kemudian Mabab al-Jauhani ikut menentang kekuasaan Bani Umayah
dengan membantu Abdurrahman ibnu al-Asyats, gubernur Syijistan yang
memberontak melawan daulah Banu Umayah. Dalam suatu pertempu
r
an tahun
80H. Mabad al-Jauhani mati terbunuh. Sedang temannya Ghailan al-Darmasqi
terus menyirakan faham qadariyah itu, dengan banyak melontarkan kritik terhadap
Banu Umayah, dan sering keluar masuk penjara, dan akhirnya dia menjalani
hukuman mali pada masa pemerintahan Hisyam bin Abd al-Malik (105-125 H).
Sesuai dengan uraian diatas, pemikiran yang menonjol dari aliran ini
adalah soal perbuatan manusia dan kekuatan Tuhan. Dalam pandangannya,
manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan perbuatannya serta melakukan
perbuatannya itu. Dan di akhirat mereka harus mempertanggungjawabkan semua
perbuatan itu. Sejalan dengan pemikirannya ini, mereka berpendapat bahwa
Tuhan telah memberikan daya kepada manusia, serta memberikan aturan-aturan
hidup yang sangat jelas dengan berbagai akibatnya. Ada perbuatan-perbuatan baik
yang akan memberi mereka imbalan pahala dan kebahagiaan akhirat, dan ada pula
perbuatan-perbuatan jahat dan ancaman siksaan mereka bagi yang melanggarnya.
Daya yang diberikan Tuhan itu kemudian menjadi milik manusia sendiri
untuk mereka gunakan melakukan berbagai perbuatan. Kalau mereka gunakan
untuk melakukan perbuatan baik sesuai petunjuk Al-Quran dan Al-Sunnah, maka
mereka akan memperoleh kebahagiaan. Dan sebaliknya, kalau mereka gunakan
untuk melakukan perbuatan buruk, maka mereka harus mempertanggung
jawabkan semua perbuatannya itu. Inilah yang kemudian disebut dengan
konsep keadilan Tuhan.
Pemikiran mereka ini mempunyai landasan yang cukup kuat antara lain
firman Allah dalam Surat Al-Kahfi ayat 29 yang
Artinya : Barang siapa mengehendaki (untuk menjadi orang berimab) maka berimanlah,
dan barang siapa menghendaki (untuk menjadi orang kafir) maka kafirlah.
_gCOC ]C-C 4_C -)g]O4gCgC
C -CCO e4C4 -^CO-4 CEC4 g]
-.. EC_
Artinya:Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu masyarakat bila mereka
sendiri tidak melakukan perubahan apa-apa terhadap dirinya.
Dengan demikian, aliran qadariyah merupakan suatu aliran ilmu kalam
yang menekankan kebebasan manusia dalam melakukan perbuatannya, dan
mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu di sisi Allah kelak di
hari perhitungan. Mereka yang berprestasi dalam melakukan amal kebajikan akan
memperoleh imbalan pahala di dalam surga, sementara yang justru banyak
melakukan perbuatan jahat, serta kurang berprestasi dalam melakukan perbuatan
baik, akan terkena ancaman siksa di dalam neraka. Posisi manusia di surga atau
neraka tersebut, menurut aliran ini sangat tergantung pada perbuatannya selama
hidup di dunia ini.
Pemikiran-pemikiran qadariyah ini kemudian diikuti den diteruskan oleh
para penganut aliran mutazilah, khususnya pada aspek pemikiran mereka tentang
perbuatan manusia, dan kekuasaan mutlak Tuhan. Yakni bahwa manusia
mempunyai kebebasan untuk menentukan kehendak serta perbuatannya, namun
mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Tuhan.
Aliran mutazilah meneruskan pemikiran qadariyah mi, karena aliran terakhir ini
mempunyai kecenderungan yang sama dalam memahami ajaran-ajaran aqidah,
terutama dalam aspek-aspek yang boleh berbeda pendapat, yaitu pada ajaran-
ajaran yang dikemukakan dengan lafal zhanni Aliran qadariyah dan mutazilah
sama-sama menganut aliran rasional dalam pemahaman kalam mereka.
5. Lahirnya Aliran Jabariyah
Kalau qadariyah lahir seiring dengan lontaran-lontaran kritik terhadap
kekejaman Daulah Banu Umayah, maka Jabariyah sebaliknya, aliran ini lahir
bermula dari ketidak berdayaan dalam menghadapi kekejaman muawiyah bin
Abu Sufyan, dan mengembalikan semuanya atas kehendak dan kekuasaan Tuhan.
Kemudian isu keagamaan ini dipegang oleh muawiyah sendiri untuk
membenarkan perlakuan-perlakuan politiknya itu. Oleh sebab itu masa
kelahirannya sebenarnya berbarengan dengan kelahiran qadariyah. Namun pada
masa munculnya, yang dipelopori oleh Jaad bin Dirham, pemikiran kalam ini
belum berkembang. Dan menjadi satu aliran yang punya pengaruh serta tersebar
di masyarakat setelah dikembangkan oleh Jahm bin Shafwan (W.131 H). Oleh
sebab itu, aliran ini sering juga disebut aliran Jahmiyah.
Dilihat dari segi pemikiran kalamnya, aliran Jabariyah bertolak belakang
dengan qadariyah. Menurut Jabariyah, manusia tidak mempunyai kemampuan
untuk mewujudkan perbuatannya, dan tidak memiliki kemampuan untuk memilih.
Segala gerak dan perbuatan yang dilakukan manusia, pada hakikatnya adalah
dari Allah semata. Meskipun demikian, manusia tetap mendapatkan pahala atau
siksa, karena perbuatan baik atau jahat yang dilakukannya. Faham bahwa yang
dilakukan manusia adalah sebenarnya perbuatan Tuhan tidak menafikan adanya
pahala dan siksa.
Menurut faham ini, manusia tidak hanya bagaikan wayang, yang
digerakkan oleh dalang, tapi manusia tidak mempunyai bagian sama sekali dalam
mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Sementara nasib mereka di akhirat sangat
ditentukan oleh kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Yakni posisi mereka
ditentukan oleh kekuasaan mutlak Tuhan. Pemikiran-pemikiran kalam dari aliran
Jabariyah ini kemudian banyak diserap oleh aliran Asyariyah, karena keduanya
sama-sama memiliki kecenderungan untuk mengikuti aliran tradisional, yakni
aliran ilmu kalam yang kurang menghargai kebebasan manusia, serta kurang
melakukan pendekatan logika nalar dalam pemikiran kalam mereka.
6. Lahirnya Aliran Mutazilah
Lahirnya aliran teologi mutazilah tidak terlepas dari perkembangan
pemikiran-pemikiran ilmu kalam yang sudah muncul sebelumnya. Aliran ini lahir
berawal dari tanggapan Washil bin Atha salah seorang murid Hasan Bashri di
Bashrah, alas pemikiran yang dilontarkan khawarij tentang pelaku dosa besar.
Ketika Hasan Bashri bertanya tentang tanggapan Washil terhadap pemikiran
khawarij tersebut, dia menjawab bahwa para pelaku dosa besar bukan mukmin
dan juga bukan kefir. Mereka berada dalam posisi antara mukmin dan kafir (orang
fasik). Kemudian Washil memisahkan diri dari jamaah Hasan Bashri, dan gurunya
itu secara spontan berkata Ttazala anna (Washil memisahkan diri dari kita
semua). Karena itulah kemudian pemikiran yang dikembangkan Washil menjadi
sebuah aliran yang oleh anggota jamaah Hasan Bashri dinamai dengan
mutazilah.
Kelompok ini kemudian mengembangkan diri dengan memperkaya
wawasan keilmuannya melalui penelaahan mendalam terhadap literatur-literatur
Yunani yang berada di pusat-pusat studi gereja timur, yaitu Antochia, Jundisaphur
dan Alexandria. Langkah-langkah kieatif tersebut, mereka lakukan dalam rangka
menghadapi serangan-serangan logika kelompok Kristen terhadap teologi Islam
dan kemudian menghasilkan suatu format pemikiran ilmu kalam yang lebih
cenderung menggunakan pendekatan berpikir filsafat, sehingga aliran ini
kemudian terkenal dengan aliran kalam rasional.
Sebenarnya mereka send
i
ri menanamkan dirinya sebagai ahlu at-tauhid
(menjaga ke-Esa-an Allah) dan ahlu al-adl (mempercayai dan meyakini penuh
akan keadilan Tuhan), karena rumusan-rumusan pemikiran kalamnya itu benar-
benar menjaga kemurnian tauhid dan prinsip keadilan Tuhan. Dan ajaran-ajaran
pokoknya itu tertuang dalam rumusan Mabadi al-Khamsah (lima dasar ajaran),
yaitu al-Tauhid, al-adlu, al-wadu wa al-waid, al-manzilah baina al-manzilatain,
serta amar maruf nahi munkar.
At-tauhid artinya mengesakan Allah, yakni Allah itu benar-benar Esa
dalam segala-galanyb, tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi ke-Esa-annya
itu. Sehubungan dengan prinsip Tauhidnya itu, mutazilah menafikan sifat, karena
merupakan sesuatu yang berada di luar zat. Kalau ada sifat berarti ada dua yang
qadim yaitu zat dan sifat. Untuk menghindari pemikiran yang akan membawa
kepada kemusyrikan tersebut, mereka nafikan sifat Tuhan, dan seterusnya mereka
berpendapat bahwa sifat-sifat itu adalah zat Tuhan sendiri. Kemudian untuk
menjaga prinsip, ketauhidannya itu, Mutazilah juga berpendapat bahwa al-Quran
itu makhluk, karena kalau bukan makhluk akan ada qadim lain selain Allah.
Sedangkan al-adlu adalah suatu prinsip yang mengatakan bahwa Tuhan
itu Maha Adil, Dia akan memberikan imbalan pahala dan jaminan kebahagiaan
bagi orang yang tidak berprestasi dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Dan dia tidak akan, menyiksa orang-orang shahih. Seiring dengan prinsip
keadilannya itu, maka Allah sudah menetapkan janji dan ancaman senada yang
akan dipatuhi-Nya sendiri. Akan tetapi, prestasi keagamaan setiap orang itu pasti
berbeda, bisa saja ada orang mukmin yang kelakuannya seperti orang kafir. Inilah
yang mereka sebut sebagai orang fasik, yang menempati posisi antara mukmin
dan kafir.
Sedang di akhirat nanti mereka akan tetap memperoleh siksa atas
perbuatan-perbuatan dosanya, namun siksanya tidak sama dengan siksaan orang
kafir Untuk menghindari posisi ini, dan agar semua orang menjadi orang baik,
maka mereka mewajibkan amar maruf nahi munkar sebagai wajib ain. Dengan
demikian kelima dasar ajaran rnutazilah ini merupakan suatu rangkaian logis,
yang satu sama lain mempunyai keterkaitan.
Aliran teologi mutazilah ini menjadi aliran resmi di Daulah Bani
Abbasiah pada zaman pemerintahan al-Makmun (198-218 H), dan dua khalifah
sesudahnya, Mutashim (218-227 H) dan al-Wasiq (227-232 H). Namun
dihancurkan kembali oleh al-Mutawakil pada tahun 234 H, sehingga kekuatan
aliran ini kembali lemah dan diganti kemudian dengan aliran Asyariyah yang
lebih terkenal dengan Ahlus Sunah wal Jamaah. Kesimpulan dari pokok-pokok
Mutazilah adalah sebagai berikut: Aliran Mutazilah memiliki lima ajaran pokok
yaitu :
1. Tauhid (Keesaan Allah SWT)
Terkait hal ini mutazilah berpendapat, antara lain :
Mengingkari sifat-sifat Allah SWT, menurut Kaum Mutazilah apa yang
dikatakan sifat adalah tak lain dari zat-Nya sendiri;
Al-Quran me.nurutnya adalan makhluk (baru);
Allah di akhirat kelak tidak dapat dilihat oleh panca indra manusia,
karena Allah tidak akan terjangkau oleh mata
2. Keadilan Allah SWT
Setiap orang Islam harus percaya akan keadilan Allah, tetapi aliran
mutazilah, memperdalam arti keadilan serta menunjukkan batas-batasnya,
sehingga menimbulkan beberapa masalah. Dasar keadilan yang diyakini oleh
kaum Mutazilah adalah meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala
perbuatannya. Dalam menafsirkan keadilan tersebut mereka mengatakan sebagai
berikut :
Tuhan tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia.
Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-
larangan-Nya, dengan kekuasaan yang diciptakan-Nya terhadap diri manusia. la
hanya memerintahkan apa yang dikehendaki-Nya. Ia hanya menguasai kebaikan-
kebaikan yang diperintahkan-Nya dan tidak campur tangan dalam keburukan yang
dilarang-Nya.
Aliran ini berpendapat bahwa Allah akan memberikan balasan kepada
manusia sesuai dengan apa yang diperbuat manusia. (Mulyadi, 2005, hal. 108)
3. Janji dan Ancaman
Aliran mutazilah berpendapat, bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-
Nya; memberi pahala kepada orang muslim yang berbuat baik, dan menimpakan
azab kepada yang berbuat dosa (Mulyadi, 2005, hal. 108)
4. Posisi di antara dua posisi (al-manzilatu bainal manzilatain)
Karena prinsip ini, Washil bin Atha memisahkan diri dari majlis Hajsan
Bashri, seperti yang disebutkan di atas. Menurut pendapatnya,, seseorang muslim
yang mengerjakan dosa besar ia tergolong bukan mukmin tetapi juga tidak kafir,
melainkan menjadi orang fasik. Jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara
kufur dan iman. Tingkatan seorang fasik berada di bawah orang mukmin dan
diatas orang kafir.
Jalan tengah ini kemudian berlaku juga dalam bidang-bidang lain. Jalan
tengah ini diambil oleh aliran mutazilah dari sumber-sumber agama Islam, yaitu:
a) Al-Quran : banyak ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan dan memuji
untuk mengambil jalan tengah seperti (QS. Al-Isra: 31) Jangan engkau
jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu dan Jangan pula terlalu
membeberkannya seluruhnya. Ia juga menggunakan argument (QS. Al-
Baqarah: 137).
b) Al-Hadits : seperti (sebaik-baiknya perkara ialah yang berada di tengah-
tengah) (Mulyadi, 2005, hal 109)
5. Amar makruf dan nahi mungkar
Ajaran mutazilah mengenai tuntutan untuk berbuat baik dan mencegah
segala perbuatan yang tercela ini lebih banyak berkaitan dengan fiqh.
Kelima prinsip tersebut merupakan dasar utama yang harus dipegang oleh
setiap orang mutazilah dan hal ini sudah menjadi kesepakatan mereka. Akan
tetapi mereka berbeda-beda pendapat dalam soal-soal kecil dan terperinci. ketika
memperdalam pembahasan kelima prinsip te
r
sebut dan menganalisanya dengan
didasarkan atas pikiran filsafat Yunani dan Iain-lain. Karena itu sebenarnya
pemikiran aliran mutazilah sangat beragam. sebagaimana halnya dengan
bermacam-macam aliran filsafat, seperti Stoic, Epicure. Phytagoras, Neo-
Platonismc dan sebagainya, yang k9semuanya disebut filsafat Yunani. (Mulyadi,
2005, hal 109)
7. Lahirnya Aliran Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Aliran ini dilahirkan dan dikembangkan oleh Abu Hasan al-Asyari (260-
324 H) pada tahun 300 H di Baghdad. Abu Hasan al-Asyari sendiri pada awalnya
adalah seorang pengikut aliran teologi Mutazilah, namun dia terus dilanda
keraguan dengan pemikiran-pemikiran kalam mutaziiah, terutama karena
kaberanian mutazilah dalam menawilkan ayat-ayat mutasyabihat untuk
mendukung logika teologi mereka, sehingga pemaknaannya berbeda dengan
lafalnya, dan juga karena keberanian mereka dalam membatasi penggunaan al-
Sunnah hanya yang mutawatir saja untuk doktrin-doktrin aqidahnya.
Karena keraguannya itulah, pada usianya yang ke-40 al-Asyari yang
menyatakan keluar dari Mutazilah dan mengembangkan pemikiran teologi
sendiri, dengan memperbanyak penggunaan al-Sunnah dan membatasi
penggunaan logika filsafat dalam pemikiran kalamnya itu. Karena membatasi
penggunaan logika filsafat dan memperbanyak penggunaan al-Sunnah, maka
pemikiran-pemikiran kalam Abu Hasan mudah dipahami oleh orang banyak, dan
memperoleh pengikut serta pendukung yang cukup besar. Sejalan dengan itu,
aliran teologinya ini disebut dengan Ahlus Sunah wal Jamaah artinya aliran
kalam yang banyak menggunakan al-Sunnah dalam perumusan-perumusan
pemikiran kalamnya, dan memperoleh pengikut yang cukup besar (wal jamaah)
dari kalangan masyarakat, khususnya dari lapisan yang tidak mampu menjangkau
pemikiran kalam rasional yang diperkenalkan aliran mutazilah dan aliran juga
sering disebut asyariyah karena dinisbitkan pada tokohnya.
Berbagai pemikiran kalam yang dikemukakan mutazilah dia kritisi habis.
Seperti tentang sifat. Dia katakan Tuhan itu mempunyai sifat, karena kalau sifat-
sifat itu dikatakan sebagai zat seperti yang dikemukakan mutazilah, maka akan
terjadi kerancuan yang sangat besar. Seperti tentang ilmu, kalau ilmu
(pengetahuan) dijadikan sebagai zat dan bukan sebagai sifat, maka Tuhan itu
adalah ilmu atau pengetahuan. Padahal Tuhan adalah Allah Yang Maha Tahu,
bukan ilmu atau pengetahuan itu sendiri.
Demikian pula dengan al-Quran, menurutnya kitab suci ini qadim karena
al-Quran itu kalam Allah, maka posisinya sama seperti pemilik kalam. Kalau
Allah qadim, maka kalam-Nya pun qadim. Disamping itu, keyakinan bahwa AI-
Quran itu makhluk juga akan dihadapkan dengan kerancuan logika berpikir,
karena Allah menciptakan makhluk-Nya ini dengan kata-kata kun. Dan kalau
kata kun sendiri sudah makhluk make perlu kun yang lain untuk
menciptakannya, dan begitulah seterusnya tanpa ada akhir, sehingga terjadi
lingkaran logika yang tidak berujung (tasalsul).
Kemudian ayat-ayat mutajasimah yang ditawilkan Mutazilah, dia bahwa
pada pengertian lafalnya, hanya saja tidak bisa diidentifikasikan seperti kata
Yadullah, yang diartikan mutazilah sebagai kekuasaan Allah, Abu Hasan
menafsirkannya dengan tangan Allah. Hanya saja dia tidak bisa
mengidentifikasikan bentuk tangan-Nya itu, sehingga dia mengatakan bahwa
Allah itu bertangan namun tangan-Nya itu tidak bisa diidentifikasi (layukayyaf).
Demikian pula dengan ayat-ayat mutajasimah lainnya.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, aliran teologi ini, mulai
berkembang tahun 300 H, dan mempunyai pengaruh pada pemerintahan
Abbasiah, bahkan untuk seterusnya sampai kini, pada umumnya umat Islam di
dunia termasuk di Indonesia menganut aliran teologi ini, walaupun sebahagian
kalangan intelektual muslim sudah mudah keluar dari doktrin-doktrin Asyariyah
dan memasuki aliran kalam rasional.
Adapun pokok-pokok pikiran golongan ahlu sunnah wal jamaah dapat
disimpulkan sbb:
1) Sifat Tuhan
Pendapat Al-Asyari dalam soal sifat Tuhan terletak di tengah-tengah antara aliran
Mutazilah di satu pihak rian aliran Hasywiah dan Mujassimah di lain pihak.
Aliran Mutazilah tidak mengakui sifat-sifat wujud, qidam, baqa dan wahdaniah
(Ke-Esa-an). Sifat zat yang lain, seperti sama, bashar dan lain-lain tidak lain
hanya zat Tuhan sendiri. Golongan Hasywiah dan Mujassimah mempersamakan
sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat makhluk. Al-Asyari mengakui sifat-sifat Allah
yang tersebut sesuai dengan zat Allah sendiri dan sama sekali tidak menyerupai
sifat-sifat makhluk. Jadi, Allah mendengar tetapi tidak seperti manusia
mendengar. Allah dapat melihat tetapi tidak seperti penglihatan manusia, dan
seterusnya.
2) Kekuasaan Tuhan dan perbuatan manusia
Pendapat Al-asyari dalam soal ini juga tengah-tengah antara aliran Jabariah dan
aliran Mutazilah. Menurut aliran Mutazilah, manusia itulah yang mengerjakan
perbuatannya dengan suatu kekuasaan yang diberikan Allah kepadanya. Menurut
aliran Jabariah, manusia tidak berkuasa mengadakan atau menciptakan sesuatu,
tidak memperoleh (kasb) sesuatu bahkan ia laksana bulu yang bergerak kian
kemari menurut arah angin yang meniupnya. Datanglah Al-Asyari dan
mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa
untuk memperoleh (kasb) sesuatu perbuatan.
3) Melihat Tuhan pada hari Qiyamat
Menurut aliran Mutazilah Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala dan
dengan demikian, mereka menakwilkan ayat-ayat yang mengatakan ruyat,
disamping menolak hadits-hadits Nabi yang menetapkan ruyat Karena tingkatan
hadits tersebut mereka adalah hadits ahad (hadits perseorangan). Menurut
golongan Musyabihat, Tuhan dapat dilihat dengan cara tertentu dan pada arah
tertentu pula. Dengan menempuh jalan tengah antara kedua golongan tersebut, Al-
Asyari mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat kelak.
4) Dosa besar
Aliran Mutazilah mengatakan, apabila pembcat dosa besar tidak bertobat dan
dosanya itu, meskipun ia mempunyai iman dan kataatan, tidak akan keluar dari
neraka. Aliran Murjiah mengatakan, siapa yang iman kepada Tuhan dan
mengiklilaskan diri kepada-Nya, maka bagaimanapun besar dosa yang
dikerjakannya, namun tidak akan mempengaruhi imannya, artinya tetap
dipandang sebagai orang mukmin.
http://ilhamyp06.blogspot.com/2011/05/aliran-tokoh-ilmu-kalam.html