Anda di halaman 1dari 10

MODUL 10 PERILAKU ORGANISASI KEKUASAAN DAN POLITIK DALAM ORGANISASI

DOSEN ARIEF BOWO PK,SE.,MM

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCU BUANA 2010

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

KEKUASAAN DAN POLITIK DALAM ORGANISASI Kekuasaan mempunyai pengertian yang terkait dengan kedudukan di dalam suatu organisasi formal yang secara sah mempunyai tanggung jawab dan secara sah pula berwenang melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, seseorang yang memiliki kekuasaan di dalam bertindak mendasarkan dirinya pada wewenang yang di perolehnya. Seseorang yang memiliki kekuasaan dapat mengaku dirinya sebagai seorang kepala, karena dapat dengan mudah sekali untuk di buktikan. Kekuasaan cenderung mencakup bidang yang sangat luas dan berfokus pada taktik untuk memperoleh kepatuhan sehingga kekuasaan dapat di gunakan oleh kelompok maupun individu-individu untuk mengendalikan individu atau kelompok dan kekuasaan dapat di gunakan sebagai sarana untuk memudahkan di dalam pencapaian tujuan. Di dalam kenyataannya atau realita politik suatu fakta kehidupan di dalam suatu organisasi, orang yang mengabaikan fakta hidup berarti telah melakukan sesuatu yang membahayakan diri mereka sendiri. Orang yang tidak bermoral dapat membenarkan hampir setiap perilaku mereka yang mempunyai kekuasaan meskipun iti salah, yang pandai berbicara, dan yang persuasif adalah yang paling rawan karena mereka mampu menjalankan praktik yang tidak etis, tetapi jika orang-orang yang berkuasa dapat menjadi sangat baik ketika menjalankan perilaku swalayan yang dinyatakan dalam kepentingan terbaik di dalam organisasi. KEKUASAAN Pengertian Kekuasaan Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi orang lain baik sebagai individu maupun kelompok. Sumber-sumber Kekuasaan 1. Kekuasaan Legislatif Merupakan kekuasaan yang berasal dari kedudukan seseorang dalam hierarki organisasi. 2. Kekuasaan Imbalan (reward power) Merupakan kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain dalam hal ini bawahan atau

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

pengikut, dan mereka menganggap imbalan tersebut mempunya I nilai atau mereka membutuhkan imbalan tersebut. 3. Kekuasaan Ahli Merupakan kekuasaan yang dimiliki seseorang karena ia memiliki kemampuan khusus, keahlian atau pengetahuan tertentu. 4. Kekuasaan Paksaan (coercive power) Merupakan kekuasaan atau kepatuhan seseorang terhadap orang lain karena mereka takut akan hukuman yang dijatuhkan kepadanya. 5. Kekuasaan Referen Merupakan kekuasaan yang bersumber dari sifat seseorang yang memiliki daya tarik tertentu atau karisma tertentu. 6. Kekuasaan Pakar (expert power) Kekuasaan yang berasal dari pengaruh yang didasarkan pada ketrampilan atau pengetahuan khusus. 7. Kekuasaan Rujukan Kekuasaan yang berasal dari pengaruh yg di dasarkan pada pemilikan sumber daya atau ciri pribadi yang diinginkan oleh seorang individu. Karakteristik-Karakteristik Bawahan atau Pengikut Kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang lain dalam hal ini bawahan atau pengikut karena karekteritik-karekteristik tertentu dari bawahan atau pengikut tersebut seperti kepribadian, jenis kelamin, dan budaya. Karakteristik kepribadian tertentu seseorang di kaitkan dengan kelemahannya untuk lebih mudah di pengaruhi, dari sejumlah studiyang dilakukan oleh para ahli menunjukkan , bahwa jenis kelamin memiliki hubungan dengan kelemahan seseorang untuk lebih mudah dipengaruhi oleh pimpinan. Akhirnya budaya mempunyai pengaruh yang besar terhadap kekuasaan, misalnya budaya individualitas, independen, dan keaneka ragaman. Faktor Situasi Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Pengendalian atas ketidakpastian Ketidak pastian sering terjadi di dalam pelaksanaan tugas manajer. 2. Kemampuan Mengganti Ada hubungan yang terbalik antara kemampuan mengganti dengan kekuasaan. 3. Keterpusatan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

Keterpusatan terdiri dari 2 (dua ) elemen yaitu a) Sejauh mana sumber-sumber disediakan oleh manajer tertentu dalam berhubungan dengan aktifitas unit lainnya. b) Bagaimana pengaruhnya terhadap organisasi jika di kurangi. 4. Pengendalian atas informasi Informasi dapat merupakan sebagai sumber organisasi yang langka dan penting. 5. Pengendalian atas Sumber-sumber Agar dapat hidup dan berjalan dengan baik sebuah organisasi membutuhkan sumber-sumber seperti : modal, sumber daya manusia, bahan baku, dan pelanggan. Uang atau modal merupakan sumber pokok organisasi yang di gunakan untuk membeli sumber-sumber dan kebutuhan yang lainnya. 6. Mengendalikan atas Pengambilan keputusan. Kekuasaan dari suatu koalisi terletak pada kemampuan untuk mengendalikan, asumsi, norma-norma, tujuan dan nilai-nilai yang di gunakan oleh manajer untuk memutuskan alternatif pemesahan masalah. Taktik Kekuasaan Merupakan cara-cara yang ditempuh individu untuk menerjemahkan dasardasar kekuasaan menjadi tindakan-tindakan yang spesifik. Wawasan yang cukup luas mengenai taktik kekuasaan diidentifikasi melalui tujuh dimensi atas strategi taktik sebagai berikut: 1) Nalar Gunakan fakta dan data untuk membuat perjanjian atau gagasan yang logis. 2) Keramahan Gunakan sanjungan, ciptakan kemauan yang baik, berperilaku rendah hati, bersahabat sebelum mengemukakan suatu permintaan. 3) Koalisi Dapatkan dukungan orang lain di dalam organisasi untuk mendukung permintaan. 4) Tawar-menawar Gunakan perundingan lewat penukaran pemanfaatan atau pertolongan. 5) Otoritas lebih tinggi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

Dapatkan dukungan dari tingkat yang lebih tinggi dalam organisasi untuk mendukung permintaan. 6) Sanksi Gunakan imbalan dan hukuman yang ditentukan oleh organisasi. 7) Ketegangan Gunakan pendekatan yang langsung dan kuat. Penggunaan taktik kekuasaan adalah berubah-ubah sesuai dengan sasaran mereka dengan cara yang paling populer kecara yang kurang populer seperti dalam tabel berikut: PENGGUNAAN TAKTIK KEKUASAAN
MEMPENGARUHI ATASAN NALAR KOALISI KERAMAHAN TAWAR-MENAWAR KETEGASAN OTORITAS LEBIH TINGGI MEMPENGARUHI BAWAHAN NALAR KETEGASAN KERAMAHAN TAWAR-MENAWAR OTORITAS LEBIH TINGGI SANKSI

PALING POPULER

KURANG POPULER

Pada akhirnya kunci dalam menggunakan taktik adalah menyangkut kulture organisasi dimana kulture organisasi adalah sangat berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. POLITIK Pengertian Politik Politik merupakan suatu aktivitas untuk mendapatkan, mengembangkan, menggunakan kekuasaan dan sumber-sumber lainnya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan di dalam situasi dimana adanya ketidakpastian tentang suatu pilihan. Taktik untuk memainkan politik di dalam organisasi. Terutama mereka harus mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya tidak hanya wewenang formalnya saja tetapi juga kekuasaan yang dapat mereka hasilkan dari semua sumber kekuasaan. Taktik untuk memainkan politik di dalam organisasi seperti: 1. 2. 3. Meningkatkan kemampuan mengganti. Dekat dengan manajer yang berkuasa. Membangun koalisi.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

4. (dua) taktik untuk

Mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Ada 2 mengendalakan proses pengambilan keputusan, yaitu: a) Mengendalikan agenda. b) Menghadirkan ahli dari luar.

5. 6.

Mengalahkan atau menyerang pihak lain. Memanipulasi informasi.

7. Menciptakan dan menjaga image yang baik. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya perilaku politik. 1. Faktor yang melekat pada diri sendiri Sifat-sifat kepribadian seperti monitor diri yang tinggi, sifat pengendalian internal, dan kebutuhan yang tinggi akan kekuasaan menunjukan adanya hubungan erat dengan keterlibatan dalam perilaku politik di dalam organisasi. 2. Faktor lingkungan intern organisasi Kurangnya kepemimpinan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku politik. Faktor Individu 1) Pemantauan diri yang tinggi. 2) Tempat atau kedudukan kendali internal. 3) Sangat Mach. 4) Investasi organisasional. 5) Alternatif pekerjaan yang di pahami. 6) Harapan sukses. Faktor Organisasional 1) Realokasi sumber-sumber daya 2) Kesempatam promosi 3) Kepercayaan rendah 4) Ambiguitas peran 5) Sistem evaluasi kinerja tidak jelas 6) Tekanan kinerja tinggi 7) Pengambilan keputusan yang demokratis sumber-sumber organisasi, dan adanya pergantian

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

Etika berperilaku politik Perilaku Politik Kegiatan-kegiatan yang tidak diminta sebagai bagian dari peran formal seseorang di dalam organisasi, tetapi yang mempengaruhi atau mencoba mempengaruhi, distribusi keuntungan dan kerugian di dalam organisasi. Dalam berperilaku politik berkaitan dengan apa yang dirujuk sebagai dimensi sah dan tidak sah sebagai berikut: Perilaku politik sah Perilaku Politik sehari-hari yang normal. Perilaku politik tidak sah Perilaku politik yang ekstem yang melanggar aturan permainan yang tersirat Dalam kenyataanya politik suatu fakta kehidupan dalam organisasi, orang yang mengabaikan fakta hidup berarti melakukan sesuatu yang membahayakan diri mereka sendiri. Untuk itu politik dimata pengamat dapat disajikan sebagai berikut: POLITIK DIMATA PENGAMAT LABEL POLITIK MENYALAHKAN ORANG LAIN BERANGKULAN MEMOLES APEL MENGELAKKAN TANGGUNG JAWAB MENUTUP PANTAT MENCIPTAKAN KONFLIK MEMBENTUK KOALISI MENIUP PELUIT MEMBANGUN BERPRESTASI BERLEBIHAN AMBISIUS OPORTUNIS LICIK CONGKAK PERFEKSIONIS LABEL MANAJEMEN EFEKTIF MENETAPKAN TANGGUNG JAWAB MENGEMBANGKAN HUBUNGAN KERJA MEMERAGAKAN KESETIAAN MENDELEGASIKAN OTORITAS MENDOKUMENTASIKAN KEPUTUSAN MENDORONG PERUBAHAN DAN INOVASI MEMUDAHKAN TIM KERJA MEMPERBAIKI EFISIENSI MERENCANAKAN KEDEPAN KOMPETEN DAN MAMPU BERPIKIRAN KARIR CERDIK BERPIKIRAN PRAKTIS PERCAYA DIRI PERHATIAN PADA RINCIAN

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

Perilaku Defensif Perilaku reaktif dan protektif untuk menghindari tindakan, penyalahan atau perubahan. Menghindari Tindakan Tindakan yang paling baik adalah tiadanya tindakan, tetapi lazimnya pengharapan peran mengharuskan seseorang sekurang-kurangnya memberikan kesan untuk melakukan sesuatu. Ada 6 (enam) cara untuk menghindari tindakan yaitu: 1) Menyesuaikan secara berlebihan, berpijak pada pematuhan aturan, dan kebijakan. 2) Mengelakan tanggung jawab, berpijak dengan mentransfer tanggung jawab untuk penyelesaian tugas kepada orang lain. 3) Berlagak pilon, menghindari tugas dengan berpura-pura bodoh atau tidak mampu. 4) Depersonalisasi merupakan memperlakukan orang lain seperti barang atu nomor. 5) Mengulur dan pemulusan, memperpanjang tugas supaya kelihatan sibuk. 6) Menunda-nunda atau taktik seret kaki supaya tampak mendukung secara publik, tetapi secara pribadi tidak berbuat apa apa. Menghindari Penyalahan Merupakan usaha yang dilakukan untuk menghindari penyalahan untuk hasil yang negatif yang telah diantisipasinya. .Ada 6 (enam) taktik menghindari penyalahan 1) Mengkilapkan Memberikan informasi jika ada permintaan secara tertulis dan resmi. 2) Bermain aman Dengan menggunalan posisi yang netral di dalam konflik. 3) Membenarkan Pengembangan penjelasan yang mengurangi tanggung jawab akan suatu hasil yang negatif. 4) Mencari kambing hitam Dengan mengalihkan penyalahan karena suatu hasil yang negatif. 5) Salah menyatakan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

Dengan memanipulasi informasi. 6) Meningkatkan komitmen Dengan meningkatkan lebih jauh komitmen sumber daya ke suatu arah tindakan sebelumnya. Efek perilaku defensif Jangka panjang Perilaku defensif cenderung mengurangi keefektifan Jangka Panjang Perilaku defensif mengarah pada ketegaran dan kemacetan organisasi, dan semangat karyawan menjadi rendah.

Tindakan politik Dalam tindakan politik sementara tidak ada cara-cara yang jelas untuk membedakan permainan politik etis dan tidak etis, namun ada beberapa pertanyaan yang dapat dijawab untuk memandu tindakan yang etis seperti gambar sebagai berikut: TNDAKAN POLITIK

TIDAK ETIS YA PERTANYAAN 1 APAKAH TINDAKAN POLITIK ITU DIMOTIVASI OLEH KEBUTUHAN MELAYANI DIRI TIDAK SENDIRI UNTUK MENGUCILKAN TUJUAN TUJUAN ORGANISASI ? PERTANYAAN 3 PERTANYAAN 2 APAKAH TINDAKAN ITU MENGHORMATI HAK-HAK INDIVIDU YANG TERKENA ? YA APAKAH SEGI ATAU POLIK ITU ADIL DAN PANTAS ? TIDAK TIDAK ETIS

TIDAK ETIS YA

TIDAK TIDAK ETIS

Catatan : 1. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut

sering didebat yang membuat dalam dalam praktek tidak etis menjadi nampak etis. Misalnya orang-orang yang berkuasa dapat menjadi sangat baik ketika

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI

menjelaskan perilaku swalayan yang dinyatakan dalam kepentingan terbaik dalam organisasi. 2. Orang orang yang tak bermoral dapat

membenarkan hampir setiap perilaku mereka yang berkuasa, yang pandai berbicara, dan yang persuasif adalah paling rawan karena mereka mampu menjalankan praktek tidak etis. Jika saudara mempunyai dasar kekuasaan yang kuat, kenalilah kemampuan kekuasaan itu untuk dirusak, mereka yang tidak mempunyai kekuasaan jauh lebih mudah bertindak etis daripada mereka yang mempunyai dasar kekuasaan yang kuat.

DAFTAR BACAAN FX. Suwarto, Drs., MS., Perilaku Keorganisasian, Univ. Atma Jaya Yogyakarta, 1999. Indriyo Gitosudarmo, Drs., M. Com., I Nyoman Sudita, Drs., M.M., Perilaku Keorganisasian, BPFE, Yogyakarta, 1997. Mangkunegara, Anwar P. 2005. Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Refika Aditama. James L. Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donelly, Jr. 2000, Organizations:Behavior, Structure, and Process, Burr Ridge, H: Irwin. Greenberg, J., & Baron, R.A. 2004. Behavior in Organizations: Understanding and Managing the Human Side of Work, 9th edition. Upper Saddle River, NJ: PrenticeHall. Gibson, James L., John M. Ivancevich, Jmaes H. Donnelly, Jr., Organizations: Behavior, Structure, Processes, 7th ed., Irwin, Boston, 1991. Robins, Stephen P, 1996, Organizational Behavior : Concepts, Controversies, Aplication, 7th, PrenticeHall. Soetjipto, Budi W. & Firmanzah. 2006. The Spirit of Change: Dinamika Perubahan PT Perkbunan Nusantara III (Persero). Jakarta: Lembaga Manajemen FEUI

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Arief Bowo PK, SE., MM

PERILAKU ORGANISASI