Anda di halaman 1dari 30

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-1



BAB 8
PERCOBAAN FILTER INDUKTOR PADA PENYEARAH
SATU-FASA
8.1 Tujuan Percobaan
Setelah melaksanakn paktikum, diharapkan mahasiswa mampu :
Menyebutkan jenis-jenis filter pada penyearah satu fasa tak terkendali
Menjelaskan prinsip kerja filter induktor pada output penyearah satu-fasa
tak terkendali.
Mengukur besaran-besaran output dan input dari suatu rangkaian
penyearah satu-fasa tak terkendali yang outputnya difilter dengan induktor.
Menghitung faktor ripel dari rangkaian penyearah satu-fasa tak terkendali
yang outputnya difilter dengan induktor.
8.2 Teori Dasar
Rangkaian penyarah satu fasa mempunyai output yang tidak konstan atau
kontinu dan tidak sinus murni. Jadi output seperti itu masih mengandung arus dan
tegangan pulsasi yang biasanya disebut harmonik. Untuk mengurangi harmonik
tersebut hingga seminimum mungkin pada output penyearah tersebut, maka
diigunakan filter DC. Sisi input dari penyearah satu fasa juga mengandung
harmonik, dan untuk menguranginya maka digunakan filter AC. Filter DC
biasanya berupa induktor (L), kapasitor (C), atau LC; sementara filter AC pada
umumnya berupa LC. Gambar 8.1 Memperlihatkan macam-macam filter DC pada
output suatu penyarah yang berbeban resistif.

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-2

+
-
V
L
V
0
L
+
-
R
i
O
+
-
V
L
V
0
+
-
R
i
O
i
C
C
+
-
V
L
V
0
L
+
-
R
I
O
i
C
C

(a) (b) (c)
Gambar 8.1 Filter-filter DC pada output penyearah. (a) Tipe L, (b) Tipe C, (c)
Tipe LC.

C
L
+
V
s
V
0
+
R
_
_

Gambar 8.2 Diagram filter AC pada input penyearah.
Induktor menyimpan energi dalam bentuk medan magnet yaitu 1/2 LI
2
,
dimana L adalah induktansi dan I adalah arus, sehingga cenderung
mempertahankan arus yang konstan atau kontinu. Salah satu contoh dalam hal ini
adalah beban induktif (R-L) dimana induktansi dari beban sudah seri dengan
beban tersebut untuk mendapatkan aksi filter-L.Kekurangan dari filter-L adalah
menyebabkan sudut fasa dari arus beban terlambat dari tegangan beban.
Akibatnya tegangan total (dalam beban ditambah pada filter) akan mempunya
faktor ripel (RF) yang lebih besar. Namun, filter-L akan memperhalus (membuat
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-3

semakin mendekati kontinu) arus beban, jadi memperbesar RF-nya, dengan
demikian untuk beban resistif, maka RF tegangan beban akan meingkat.
Untuk mengatasi kekurangan filter-L seperti yang disebutkan diatas, maka
penyearah satu-fasa setengah-gelombang perlu dilengkapi terlebih dahulu dengan
dioda yang disebut dioda freewheeling. Pengaruh filter-L pada penyearah satu-
fasa gelombang-penuh berbeban resistif adalah membuat arus maupun tegangan
beban menjadi kontinu. Jadi dalam hal tersebut, diode freewheeling tidak
diperlukan.
Gambar 8.3 memperlihatkan output rangkaian penyarah satu-fasa setengah
gelombang yang dilengkapi dengan dioda freewheeling dalam rangka
memperoleh aksi filter-L yang semakin efektif. Penggunaan diode freewheeling
pada penyearah satu fasa telah dibahas khusus dalam mata kuliah elektronika daya
1, jadi dalam hal ini beberapa rumus tentang RF akan mengacu pada pembahasan
tersebut.
V0
+
R
L
Dm
IDm I0
D
Filter
Vm sin t
_
(a)

Gambar 8.3 Penerapan filter-L pada penyearah satu-fasa setengah gelombang; (a)
diagram rangkaian. (b) bentuk-bentuk gelombang.

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-4

t
t 2 t 3
m
V
m
I
0
t e
VO
iO
Tanpa Dm, L

|
t e
t 2 t+ 2 | t + 2
iO
VO
Dengan L
Tanpa Dm
max
V
max
I
0
t+ 2
Dengan Dm, L
VO
iO
t e
max
V
max
I
min
V
min
I
0

(b)
Gambar 8.3 (Lanjutan)

Arus-arus beban dalam keadaan tanpa filter-L untuk beban resistif telah
dinyatakan dalam persamaan (8-11) dan (8-12) yaitu

.(8-1)
I
rms
= 0,5 Vm/R .(8-2)
Dimana :
V
m
= harga maksimum tegangan input peneyearah
Faktor ripel (RF) arus beban secara teoritis dari persamaan (8-1) dan (8-2) diatas
adalah :
RF =

= 1,211 ...(8-3)
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-5

Dalam keadaan mendapat filter-L, maka faktor ripel (RF) arus beban akan
menjadi :
RF =




..(8-4)
Dimana :
=

(2 f L/R)
L = induktansi dari induktor
R = resistansi beban
f = frekuensi gelombang input
karena bentuk gelombang tegangan beban dan arus beban adalah sama,
maka rumus pada persamaan (8-5) diatas berlaku pula untuk tegangan beban.
Persamaan (8-5) diatas adalah rumus eksak untuk menghitung RF dari
suatu oenyearah satu-fasa setengah gelombang berbeban resistif yang difilter
dengan induktor. Dalam prakteknya, jika RF yang diinginkan telah ditentukan,
maka sudut dari persamaan (8-5) dapat dihitung dengan cara trial and error ,
sehingga pada akhirnya kebutuhan induktansi (L) dapat dihitung.
Gambar 8-5 (a) dan (b) memperlihatkan penerapan filter-L pada penyearah
satu-fasa gelombang penuh. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa
pengaruh filter-L pada penyearah satu-fasa gelombang penuh berbeban resistif
adalah membat arus maupun tegangan beban menjadi kontinu serta tidak
dihaslkan tegangan total yang negatif. Jadi dalm hal ini, kedua rangkaian tidak
perlu lagi memakai dioda freewheeling.
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-6

L v
o
+
_
R
v
s1
v
s2
P
CT
N
D
1
D
2
i
o
(a)
R
D1 D2
Vo
+
_
io
D3 D4
L
Vs
(b)

Gambar 8.4 Penerapan filter-L pada penyearah satu-fasa gelombang penuh (a).
rangkaian center-tap. (b) rangkaian jembatan.

t
t 2 t 3
m
V
m
I
0
t e
VO
iO
Tanpa L

t
| t + | t + 2 |
VO
iO
0
max
V
max
I
min
V
min
I
V1
I1
t e
Dengan L

Gambar 8.5 Bentuk-bentuk gelombang dari rangakain pada gambar 8.4


Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-7

Penambahan filter-L dalam hal ini serupa dengan penambahan beban indukitf
pada penyearah satu fasa gelombang penuh. Arus-arus beban dalam keadaan tanpa
filter-L Untuk beban resitif telah dinyatakan dalam persamaan (8-6) dan (8-7)
yaitu :
I
dc
=

...(8-6)
I
rms
= 0,7071 V
m
/R ........(8-7)
Dimana :
V
m
= harga maksimum tegangan input penyearah
Faktor ripel (RF) arus beban secara teoritis dari persamaan (8-6) dan (8-7) diatas
adalah :
RF=


=0,483 ..(8-8)
Dalam keadaan mendapat filter-L maka faktor ripel (RF) arus beban akan
menjadi:
RF =

...(8-9)
Persamaan (8-9) diatas berlaku pula untuk tegangan beban. Dalam
prakteknya, jika RF yang diinginkan telah ditentukan, maka sudut dari
persamaan (8-5) dapat dihitung dengan cara trial and error , sehingga pada
akhirnya kebutuhan induktansi (L) dapat dihitung.




Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-8

8.3 Diagram Rangkaian
D1
D2
Vo
_
L
io
Rm
R
+
v
s
V
1
P
N
Regulator
AC 1 - fasa
S2
S3
(a)
S1
V
2
A
1
D
1
D
2
V
o
D
3
D
4
L
A
1
V
2
S
2
i
o
R
m
R
v
s V
1
S
1
P
N
(b)
Regulator
AC 1 - fasa

Gambar 8.6 diagram rangkaian percobaan filter pada penyearah satu-fasa tak
terkendali. (a) setengah gelombang. (b) gelombang-penuh jembatan.




Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-9

8.4 Alat dan Bahan
Osiloskop 1 buah
Regulator ac satu-fasa 1 buah
Dioda 4 buah
Amperemeter 1 buah
Voltmeter 2 buah
Tahanan geser 2 buah
Beban induktor 1 buah
Saklar 1 buah
Kabel secukupnya

8.5 Prosedur Percobaan
8.5.1 Penyearah Satu-Fasa Setengah Gelombang

Membuat rangkaian seperti pada gambar 8.6 (a) dimana beban yang
digunakan adalah tahanan geser 10 dan induktor 36 mH. [ R
m
adalah
adapter tahanan rendah untuk melihat bentuk gelombang arus. Jika tidak
ada,menggunakan tahanan geser untuk mendapatkan nilai reistansi 1 ].
Dalam keadaan regulator AC satu-fasa minimum, saklar S
2
tertutup dan S
3

terbuka, saklar S
1
dimasukkan.
Menaikkan tegangan output regulator (V
s
) sehingga mencapai 8 V.
Mencatat harga rata-rata dari tegangan output dan arus beban.[Melihat
penunjukan V
2
dan A
1
]. Memasukkan data yang diperoleh ke dalam tabel
yang telah disediakan.
Dengan menggunakan osiloskop 2-saluran, mengamati dan
menggambarkan bentuk gelombang dari tegangan beban dan arus beban.
Catatan : harus menjaga dalam penggunaan probe agar terminal (+) tidak
terhubung singkat dengan terminal (-).
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-10

Mencatat harga efektif ( rms ) dari tegangan output dan arus beban.
[Melihat penunjukan V2 dan A1 ]. Memasukkan data yang diperoleh ke
dalam tabel yang telah disediakan.
Membuka saklar S dan melakukan langkah seperti No.4 samapi No.6
diatas.
Menutup saklar S dan melakukan langkah seperti No.4 sampai No.6 diatas.
Mengulang langkah No.4 sampai No.8 diatas untuk tegangan output
regulator (V
s
) sebesar 12 V.
Meminimumkan kembali tegangan output regulator dan membuaka saklar
S. dan percobaan selesai.
8.5.2 Penyearah Satu-Fasa Jembatan

Membuat rangkaian seperti pada gambar 8.6 (c) dimana beban yang
digunakan adlah tahanan geser 10 dan induktor 36 mH. [ R
m
adalah
adapter tahanan rendah untuk melihat bentuk gelombang arus. Jika tidak
ada, menggunakan tahanan geser untuk mendapatkan nilai reistansi 1 ].
Dalam keadaan regulator AC satu-fasa minimum, saklar S dimasukkan
Menaikkan tegangan output regulator (V
s
) sehingga mencapai 7 V.
Mencatat harga rata-rata dari tegangan output dan arus beban.[Melihat
penunjukan V
2
dan A
1
]. memasukkan data yang diperoleh ke dalam tabel
yang telah disediakan.
Dengan menggunakan osiloskop 2-saluran, mengamati dan
menggambarkan bentuk gelombang dari tegangan beban dan arus beban.
Catatan : harus menjaga dalam penggunaan probe agar terminal (+) tidak
terhubung singkat dengan terminal (-).
Mencatat harga efektif ( rms ) dari tegangan output dan arus beban.
[Melihat penunjukan V
2
dan A
1
]. memasukkan data yang dipeoleh ke
dalam tabel yang telah disediakan.
Membuka saklar S dan melakukan langkah seperti No.4 samapi No.6
diatas.
Mengulang langkah No.4 sampai No.7 diatas untuk tegangan output
regulator AC satu-fasa sebesar 9 V.
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-11

Membuka saklar S dan percobaan selesai.
8.6 Hasil Percobaan
8.6.1 Tabel hasil percobaan
Tabel 8.1. Hasil percobaan pada penyearah satu-fasa setengah gelombang tanpa
dioda freewheeling dan tanpa filter.
V
s
V
dc
I
dc
V
rms
I
rms
(V) (V) (A) (V) (A)
8 3,0 0,54 6,8 0,68
12 4,5 0,42 10,6 1,04

Tabel 8.2. Hasil percobaan pada penyearah satu-fasa setengah gelombang dengan
filter.


Tabel 8.3. Hasil percobaan pada penyearah satu-fasa jembatan tanpa filter dan
dengan filter.
V
s
(V)
Tanpa filter Dengan filter
V
dc
I
dc
V
rms
I
rms
V
dc
I
dc
V
rms
I
rms
(V) (A) (V) (A) (V) (A) (V) (A)
7 4,50 0,39 10,8 0,78 2,50 0,22 5,50 0,39
9 6,10 0,52 14,3 1,02 3,40 0,30 7,80 0,54

Ket :
Dengan menggunakan 2 tahanan geser yaitu R

= 10 2% P = 4 W dan
R
m
= 1 2% P = 4 W, Induktor dengan N = 1000 ,R 9,5 , I
max
= 1,25 A , L
36 mH.
8.6.2 Gambar hasil percobaan
V
s
(V)
Tanpa dioda freewheeling

Dengan dioda freewheeling

V
dc
I
dc
V
rms
I
rms
V
dc
I
dc
V
rms
I
rms
(V) (A) (V) (A) (V) (A) (V) (A)
8 1,4 0,14 3,1 0,32 1,4 0,15 3,3 0,35
12 2,1 0,21 5,0 0,50 2,3 0,22 5,3 0,53
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-12


Gambar 8.7 Bentuk-bentuk gelombang tegangan beban pada penyearah satu-fasa
setengah gelombang untuk Vs = 8 Volt, pada kondisi tanpa filter dan
tanpa diode freewheeling (F
x
= 5 ms/div, F
y
= 5 V/div).


Gambar 8.8 Bentuk-bentuk gelombang arus beban pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang untuk Vs = 8 Volt, pada kondisi tanpa filter dan tanpa diode
freewheeling (F
x
= 5 ms/div, F
y
= 500 mV/div).

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-13


Gambar 8.9 Bentuk-bentuk gelombang tegangan beban pada penyearah satu-fasa
setengah gelombang untuk V
S
= 8 Volt, pada kondisi dengan filter dan
tanpa diode freewheeling ( F
x
= 5 ms/div , F
y
= 2 V/div).


Gambar 8.10 Bentuk-bentuk gelombang arus beban pada penyearah satu-fasa
setengah gelombang untuk V
S
= 8 Volt, pada kondisi dengan filter dan
tanpa diode freewheeling (F
x
= 5 ms/div, F
y
= 200 mV/div).


Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-14


Gambar 8.11 Bentuk-bentuk gelombang tegangan beban pada penyearah satu-fasa
setengah gelombang untuk V
S
= 8 Volt. pada kondisi dengan filter dan
dengan dioda freewheeling (F
x
= 5 ms/div, F
y
= 2 V/div).


Gambar 8.12 Bentuk-bentuk gelombang arus beban pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang untuk V
S
= 8 Volt. pada kondisi dengan filter dan dengan
dioda freewheeling (F
x
= 5 ms/div, F
y
= 200 mV/div).

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-15


Gambar 8.13 Bentuk-bentuk gelombang tegangan beban pada penyearah satu-fasa
jembatan untuk Vs = 7 Volt pada kondisi tanpa filter (F
x
= 5
ms/div, F
y
= 5 V/div).


Gambar 8.14 Bentuk-bentuk gelombang arus beban pada penyearah satu-fasa
jembatan untuk Vs = 7 Volt pada kondisi tanpa filter (F
x
= 5 ms/div,
F
y
= 500 mV/div).


Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-16


Gambar 8.15 Bentuk-bentuk gelombang tegangan beban pada penyearah satu-
fasa jembatan untuk V
S
= 7 Volt pada kondisi dengan filter (F
x
= 5
ms/div, F
y
= 2 V/div, melayang 0,4 div)


Gambar 8.16 Bentuk-bentuk gelombang arus beban pada penyearah satu-fasa
jembatan untuk V
S
= 7 Volt pada kondisi dengan filter (F
x
= 5
ms/div, F
y
= 200 mV/div, melayang 0,4 div).



Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-17

8.7 Analisa Hasil Percobaan

8.7.1 Perhitungan faktor ripel (RF) penyearah satu-fasa setengah
gelombang dengan mengambil data ke-1.

a. Tanpa filter dan tanpa dioda Freewheeling untuk arus dan tegangan.
* RF untuk arus * RF untuk tegangan



Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 8.4 di bawah ini :
Tabel 8.4 Hasil analisa data pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang tanpa dioda freewheeling dan tanpa filter.

Vs
(V)
(arus) (tegangan)
8 0,76 2,03
12 2,26 2,13

b. Dengan filter; dengan dioda dan tanpa dioda Freewheeling.
Dengan dioda Freewheeling untuk arus dan tegangan;
* RF untuk arus * RF untuk tegangan




Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-18

Tanpa dioda Freewheeling untuk arus dan tegangan;
* RF untuk arus * RF untuk tegangan



Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 8.5 di bawah ini :
Tabel 8.5 Hasil analisa data pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang dengan filter ; dengan dioda dan tanpa
dioda freewheeling.









8.7.2 Perhitungan Faktor Ripel (RF) pada kondisi dengan filter dan
diode freewheeling dengan menggunakan gambar bentuk
gelombang dari percobaan penyearah satu-fasa setengah
gelombang:

- Dari gambar 8.12 :

= 2,4 div . F
y

= 2,4 div . 0,2 Volt/div
= 0,48 V

= 0,48 A
- Dari gambar 8.7 :

= 2 div . F
y
= 2 div . 5 V/div
= 10 Volt
Vs (V)
Tanpa dioda freewheeling Dengan dioda freewheeling
(arus)

(tegangan)
(arus)

(tegangan)
8 2,05 1,97 2,108 2,13
12 2,16 2,16 2,19 2,07
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-19

- Tahanan totalnya :
R
total
= R + R
m
+ R
L

= 10 + 1 + 9,5
= 20,5
Berdasarkan Bab 6 pada diktat persamaan ( 6-1 ) dimana :


= 180 -

)
= 180 -

)
= 100,2630959 disimpan di M.
Dari persamaan (6-6) pada diktat persaman Cos ( ) dapat dicari:


Cos ( ) -

= 0
Maka;
Untuk dalam radian (rad) persamaannya :
Cos ( ) =



Untuk dalam derajat () persamaanya:
Cos ( ) =



Karena nilai dalam derajat maka menggunakan persamaan:
Cos ( ) =



Dimana ;
Cos ( ) sebagai ruas kiri


sebagai ruas kanan
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-20

Untuk mendapatkan dapat dihitung dengan menggunakan semi trial
and error
Tabel 8.6 Nilai dengan menggunakan semi trial and error pada
penyearah satu-fasa setengah gelombang
Iterasi
ke-

[]

A
Ruas kiri Ruas kanan
Selisih relative
(mismatches)

Cos ( )

B



C
|


|

D
1. 15 0,082580423 1,408183434 x

0,982947733
2. 10,34377889 1,408183434 x

6,74629806 x

0,952092192
3. 10,26696124 6,74629806 x

6,270942646 x

0,070461667
4. 10,26668888 6,270942646 x

6,269306173 x

2,60968368 x


5. 10,26668795 6,269306173 x

6,26930054 x

8,86226 x


6. 10,26668794 6,26930054 x

6,269300521 x

1,58 x



Jadi :
= 10,26668794
RF =





= 1,182274329

8.7.3 Perhitungan faktor ripel (RF) penyearah satu-fasa jembatan dengan
mengambil data ke-1.

a. Dengan filter untuk arus dan tegangan;
* RF untuk arus * RF untuk tegangan


Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-21



b. Tanpa filter untuk arus dan tegangan;
* RF untuk arus * RF untuk tegangan



Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 8.7 di bawah ini :
Tabel 8.7 Hasil analisa data pada penyearah satu-fasa jembatan dengan
filter dan tanpa filter.





8.7.4 Perhitungan Faktor Ripel (RF) pada kondisi dengan filter dengan
menggunakan gambar bentuk gelombang dari percobaan
penyearah satu-fasa jembatan:

- Dari gambar 8.15 :

.(R +

= 1,9 div . 2 V/div


= 3,8 V

= 0,345454545 A
- Dari gambar 8.13 :

= 1,6 div . F
y
= 1,6 div . 5 V/div
Vs
(V)
Tanpa filter Dengan filter
(arus)

(tegangan)
(arus)

(tegangan)
7 1,73 2,18 1,46 1,95
9 2,16 2,16 2,19 2,07
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-22

= 8 Volt
- Tahanan totalnya :
R
total
= R + R
m
+ R
L

= 10 + 1 + 9,5
= 20,5
Berdasarkan Bab 6 pada diktat persamaan ( 6-14 ) dimana :


= 180 -

)
= 180 -

)
= 117,7204975 disimpan di M.
Dari persamaan (6-19) pada diktat persaman Cos ( ) dapat dicari:


Cos ( ) -

= 0
Maka;
Untuk dalam radian (rad) persamaannya :
Cos ( ) =



Untuk dalam derajat () persamaanya:
Cos ( ) =



Karena nilai dalam derajat maka menggunakan persamaan:
Cos ( ) =



Dimana ;
Cos ( ) sebagai ruas kiri


sebagai ruas kanan
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-23

Untuk mendapatkan dapat dihitung dengan menggunakan semi trial
and error
Tabel 8.8 Nilai dengan menggunakan semi trial and error pada
penyearah satu-fasa jembatan
Iterasi
ke-

[]

A
Ruas kiri Ruas kanan
Selisih relative
(mismatches)

Cos ( )

B



C
|


|

D
1. 30 0,03977433 0,049536752 0,197074333
2. 30,5590638 0,049536752 0,053332496 0,071171316
3. 30,77767487 0,053332496 0,054846467 0,027603797
4. 30,86454619 0,054846467 0,05545624 0,010995567
5. 30,89953685 0,05545624 0,055702783 4,426054131 x


6. 30,91368462 0,055702783 0,05580262 1,789110848 x


7. 30,91941378 0,05580262 0,055843074 7,2442329 x


8. 30,92173524 0,055843074 0,05585947 2,93524748 x


9. 30,92267614 0,05585947 0,055866116 1,18964506 x


10. 30,92305753 0,055866116 0,05586881 4,8221313 x


11. 30,92321213 0,05586881 0,055869903 1,9547004 x


12. 30,9232748 0,055869903 0,055870345 7,923737 x


13. 30,9233002 0,055870345 0,055870525 3,212053 x


14. 30,9233105 0,055870525 0,055870597 1,302075 x


15. 30,92331468 0,055870597 0,055870627 5,2781 x


16. 30,92331637 0,055870627 0,055870639 2,13962 x


17. 30,92331705 0,055870639 0,055870644 8,6743 x


18. 30,92331733 0,055870644 0,055870646 3,5156 x



Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-24

Lanjutan Tabel 8.8
19. 30,92331745 0,055870646 0,055870647 1,4247 x


20. 30,92331749 0,055870647 0,055870647 5,772 x



Jadi :
= 30,92331749
RF =





= 0,304487198
8.7.5 Perbandingan antara hasil percobaan dengan hasil perhitungan
menurut teori.

RF pada hasil percobaan dan Hasil perhitungan menurut teori,terlihat
adanya perbedaan yang mencolok. RF pada perhitungan menurut teori
lebih kecil dibandingkan RF pada hasil percobaan. Kita dapat melihat RF
pada hasil percobaan, nilai RF-nya langsung dihitung dengan memasukkan
nilai tegangan dari data percobaan (dari alat ukur yang digunakan tanpa
ada unsur lain). Berbeda dengan nilai RF pada hasil perhitungan menurut
teori, ada unsur lain yang mempengaruhi perhitungan RF, yaitu frekuensi
(f), sudut , dsb.
8.7.5.1 Menghitung Faktor Ripel (RF) secara teori

8.7.5.1.1 Untuk tegangan dan arus pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang tanpa dioda freewheeling maupun filter dapat di lihat
nilai RF-nya pada teori dasar pada persamaan (8-3) halaman (8-
4).

8.7.5.1.2 Untuk tegangan dan arus pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang dengan filter tanpa dioda freewheeling dimana nilai
RF-nya tidak tersedia.

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-25

8.7.5.1.3 Untuk tegangan dan arus pada penyearah satu-fasa setengah
gelombang dengan filter maupun dioda freewheeling dimana nilai
RF-nya dapat diketahui :

R
tot
= R +R
m
+ R
L
= 10 + 1 + 9,5 = 20,5
L = 36 mH L = 0,036 H
f = 50 Hz

)

Jadi | adalah :
1
) 1 ( 2
) 1 ( cos sin
4
cos
tan /
tan / 3 2 2

+
+ =

t
| t
| | t | t
e
e
RF

Jadi,

8.7.5.1.4 Untuk tegangan dan arus pada Penyearah satu-fasa setengah
gelombang berdasarkan bentuk gelombang pada kondisi dengan
filter dan dioda freewheeling dimana nilai RF-nya dapat dilihat
pada 8.7.5.1.3

8.7.5.1.5 Untuk tegangan dan arus pada penyearah satu-fasa jembatan
tanpa filter dimana nilai RF-nya dapat di liahat pada teori dasar
pada persamaan (8-8) halaman (8-7).

8.7.5.1.6 Untuk tegangan dan arus pada penyearah satu-fasa jembatan
dengan filter dimana nilai RF-nya dapat diketahui :

R
tot
= R +R
m
+ R
L
= 10 + 1 + 9,5 = 20,5
L = 36 mH L = 0,036 H
f = 50 Hz
Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-26

)

Jadi | adalah :
1
) 1 ( 2
) 1 ( cos sin
8
cos
tan /
tan / 3 2 2

+
+ =

t
| t
| | t | t
e
e
RF
Jadi,

8.7.5.1.7 Untuk tegangan dan arus pada Penyearah satu-fasa jembatan
berdasarkan bentuk gelombang pada kondisi dengan filter dan
dioda freewheeling dimana nilai RF-nya dapat di lihat pada
8.7.5.1.6.

8.7.5.2 Perbandingan antara nilai RF praktek dengan RF teori

Tabel 8.9 Perbandingan RF antara praktek dan teori untuk tegangan dan
arus pada penyearah satu-fasa setengah gelombang tanpa dioda
freewheeling dan tanpa filter.

Vs (V)


Teori Praktek Error (%) Teori Praktek Error (%)
8
1,211
2,03 67,63
1,211
0,76 37,24
12 2,13 75,8 2,26 86,62


Tabel 8.10 Perbandingan RF antara praktek dan teori untuk tegangan dan
arus pada penyearah satu-fasa setengah gelombang dengan filter
tanpa dioda freewheeling.

Vs (V)


Teori Praktek Teori Praktek
8
Tidak tersedia
2,05
Tidak tersedia
1,97
12 2,16 2,16

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-27


Tabel 8.11 Perbandingan RF antara praktek dan teori untuk tegangan dan
arus pada penyearah satu-fasa setengah gelombang dengan filter
maupun dioda freewheeling.

Vs (V)


Teori Praktek Teori Praktek
8
1,023583793
2,108
1,023583793
2,13
12 2,19 2,07

Tabel 8.12 Perbandingan RF antara praktek dan teori dari Penyearah satu-
fasa setengah gelombang berdasarkan bentuk gelombang pada
kondisi dengan filter dan dioda freewheeling

Vs (V)
RF (faktor ripel)
Teori Praktek
8 1,023583793 1,182274329
12 1,023583793


Tabel 8.13 Perbandingan RF antara praktek dan teori untuk tegangan dan
arus pada penyearah satu-fasa jembatan tanpa filter.

Vs (V)


Teori Praktek Teori Praktek
7
0,483
1,73
1,211
2,18
9 2,16 2,16


Tabel 8.14 Perbandingan RF antara praktek dan teori untuk tegangan dan
arus pada penyearah satu-fasa jembatan dengan filter.

Vs (V)


Teori Praktek Teori Praktek
7
0,483
1,46
1,211
1,95
9 2,19 2,07

Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-28



Tabel 8.15 Perbandingan RF antara praktek dan teori dari Penyearah satu-
fasa jembatan berdasarkan bentuk gelombang pada kondisi
dengan filter dan dioda freewheeling.

Vs (V)
RF (faktor ripel)
Teori Praktek
7

0,304487198
9




































Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-29



8.8 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dan analisa yang dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa;
a. Dari hasil analisa data, dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan
filter dengan dioda Freewheeling, dimana besar faktor ripel (RF) yang
dihasilkan akan lebih kecil daripada penggunaan filter tanpa dioda
Freewheeling.
b. Dari hasil percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan filter-L pada penyearah satu fasa setengah gelombang
maka akan menghasilkan gelombang arus yang lebih luas.
c. Pada penyearah satu fasa setengah gelombang tanpa filter dan tanpa
dioda Freewheeling untuk V
s
= 8 Volt,besar faktor rifel (RF) untuk arus =
0,76 dan untuk tegangan = 2,03
d. Pada penyearah satu-fasa jembatan maka akan menghasilkan bentuk
gelombang yang melayang dari garis div.
e. Dari hasil analisa data untuk penyearah satu-fasa jembatan tanpa filter
maupun dengan filter diperoleh nilai R
F
(tegangan) lebih besar dibanding
R
F
(Arus).
f. Kekurangan dari filter-L dapat menyebabkan sudut fasa dari arus beban
terlambat dari tegangan, sehingga tegangan total akan mempunyai faktor
ripel yang lebih besar.






Laporan Praktikum Elektronika Daya

Filter Induktor pada Penyearah Satu-Fasa 8-30

DAFTAR PUSTAKA
Politeknik Negeri Ujung Pandang.2009.JobsheetPraktikum Elektronika Daya.
Penuntun Praktikum Elektronika Daya. Makassar: (tidakditerbitkan)