Anda di halaman 1dari 25

DISPARITAS SPASIAL PEMBANGUNAN PROVINSI-PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2011

Kelompok 2 : Iwan Z (09.6013) Muhammad Khaikal Ahsani (09.6063) Rully Narulita (09.6123) Siectio Dicko Pratama (09.6133)

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK 2013

DISPARITAS SPASIAL PEMBANGUNAN PROVINSI-PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2011 1. Pendahuluan Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang termasuk yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Sejak mengalami pertumbuhan yang minus pada tahun 1998, ekonomi Indonesia berhasil bangkit dan mencapai angka 6.3 % pada tahun 2013. Marc Iyeki, Managing Director New York Stock Exchange, mengatakan bahwa dunia menaruh perhatian terhadap Indonesia dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia, India dan Cina merupakan yang sangat bagus di dunia. Namun, menurut Todaro dan Smith (2003), pertumbuhan ekonomi tidak akan dapat menghasilkan kesejahteraan jika tidak diiringi dengan pemerataan. Jika pertumbuhan itu disebabkan oleh beberapa orang saja dan tidak oleh banyak orang, maka manfaatnya hanya akan dirasakan oleh orang-orang itu saja. Berdasarkan sejarah, banyak negara berkembang yang menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi namun manfaatnya tidak dirasakan oleh rakyat miskin. Anggota IV BPK, Ali Masykur Musa menambahkan bahwasanya Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,3 untuk 2012 dan stabil tiga tahun mendatang diikuti dengan strategi pemerataan, maka kesejahteraan rakyat Indonesia akan tercapai (Republika, 2013). Karena itu, pertumbuhan dan pemerataan harus berjalan beriringan agar dapat menghasilkan kesejahteraan. Pembangunan ekonomi di Indonesia telah mengalami disparitas dengan memusatkan pembangunan di daerah perkotaan daripada di pedesaan. Terjadinya distorsi sistem perkotaan-perdesaan menggarnbarkan tidak berfungsinya hierarki sistem kota, sehingga menimbulkan over-concentration pertumbuhan pada kota-kota tertentu, terutama kotakota besar dan metropolitan di Pulau Jawa. Di sisi lain, pertumbuhan kota-kota lain dan perdesaan relatif lebih tertinggal. Padahal idealnya, sebagai suatu sistem perkotaanperdesaan, terdapat keterkaitan dan interaksi yang positif baik antar tipologi kota maupun antara perkotaan dengan perdesaan (Arief Daryanto, 2003). Jika meninjau dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), kita dapat mengetahui bahwasanya terjadi keterpusatan besaran PDRB yang berada dipulau Jawa sebagaimana dapat dilihat pada gambar 1.1. Lucky Eko Wiryanto, Deputi Menko

1.1. Latar Belakang

Perekonomian bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan wilayah, menyatakan bahwa lansekap ekonomi Indonesia berada ada di pulau Jawa. Bila hal ini terjadi terus menerus, disparitas antar wilayah akan terjadi sehingga dapat menimbulkan gejolak sosial (Sindonews, 2013).
450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Gambar 1.1 PDRB Provinsi di Indonesia tahun 2011

Kesenjangan pembangunan antar daerah yang terjadi selama ini terutama disebabkan oleh distorsi perdagangan antar daerah, distorsi pengelolaan sumber daya alam dan distorsi sistem perkotaan-perdesaan (Daryanto, 2003). Dalam mengatasi masalah disparitas ini, pertumbuhan ekonomi harus direncanakan secara komprehensif dalam upaya terciptanya pemerataan hasil-hasil pembangunan. Dengan demikian maka wilayah yang awalnya miskin, tertinggal, dan tidak produktif akan menjadi lebih produktif, yang akhirnya akan mempercepat pertumbuhan itu sendiri. Tentunya, perencanaan pembangunan yang efektif adalah dengan memperhatikan disparitas antar wilayah, potensi ekonomi antar wilayah, kondisi perekonomian di wilayah tersebut dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi antar wilayah. 1.2. Tujuan Penelitian 1. Memberikan gambaran tingkat perkembangan antar wilayah provinsi di Indonesia pada tahun 2011. 2. Menganalisis tingkat disparitas pendapatan antar provinsi di Indonesia tahun 2011. 3. Mengidentifikasi sektor unggulan di setiap provinsi di Indonesia tahun 2011.

4.

Menganalisis beberapa variabel yang diduga memengaruhi PDRB provinsi di Indonesia di tahun 2011.

2. 2.1

Kajian Pustaka Kajian Teori Disparitas Pembangunan Definisi pembangunan oleh para ahli dapat bermacam-macam, namun secara umum

bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan. Secara sederhana menurut Riyadi dan Bratakusumah (2004), pembangunan diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan suatu perubahan menjadi lebih baik. Sedangkan Rustiadi et al (2009) berpendapat bahwa secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humansitik. Selanjutnya Todaro (2003) dalam Rustiadi et al. (2009) menyatakan bahwa pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Pembangunan berbasis pengembangan wilayah memandang pentingnya keterpaduan antar sektoral, spasial, serta pelaku pembangunan di dalam maupun antar daerah. Keterpaduan sosial menuntut adanya keterkaitan fungsional dan sinergis antar sektora pembangunan sehingga setiap program pembangunan sektoral selalu dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah (Rustiadi et al, 2009). Namun seringkali pembangunan wilayah yang dilaksanakan tidak merata, baik antar sektor maupun antar wilayah sehingga mengakibatkan terjadinya kesenjangan atau disparitas pembangunan antar wilayah. Adapun faktor-fakor utama yang menyebabkan disparitas tersebut adalah sebagai berikut (Rustiadi et al, 2009) :
1. 2. 3. 4.

Faktor Geografi : Topografi, Iklim, Curah Hujan, Sumber Daya Mineral, dll. Faktor Sejarah : Bentuk kelembagaan atau kebudayaan masa lalu Faktor Politik : Stabil atau tidak stabilnya Faktor Kebijakan : Sentralistik atau desentralistik

5.

Faktor Administratif : Administrasi yang baik (efisien, jujur, terpelajar, terlatih ) atau tidak

6. 7.

Faktor Sosial : Masyarakat tertinggal atau maju . Faktor Ekonomi : Kuantitas dan kualitas faktor produks (contoh ; lahan, infrastruktur, tenaga kerja), akumulasi berbagai faktor (contoh; lingkaran kemiskinan, standar hidup rendah), pasar bebas (contoh; speread effect dan backwash effect), distorsi pasar (contoh; immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi) Sedangkan Menurut Williamson (1999: 59), kesenjangan antardaerah yang

semakin membesar disebabkan oleh pertama, adanya migrasi tenaga kerja antardaerah yang bersifat selektif, yang pada umumnya para migran tersebut lebih terdidik dan memiliki keterampilan yang tinggi dan masih produktif. Kedua, adanya migrasi kapital antardaerah, adanya aglomerasi pada daerah yang relatif kaya merupakan daya tarik tersendiri bagi investor. Ketiga, adanya pembangunan sarana publik pada daerah yang lebih padat dan potensial berakibat mendorong terjadinya ketimpangan antardaerah lebih besar. Keempat, kurangnya keterkaitan antardaerah besarnya kesenjangan yang terjadi. Williamson (1965) dalam Karay (2003) menyatakan bahwa dalam suatu proses pembangunan nasioanl suatu bangsa akan dilewati tahap-tahap disparitas antar wilayah. Pada tahap awal, disparitas antar wilayah akan muncul dan melebar. Namun sejalan dengan matangnya proses pembangunan, kesenjangan itu akan melewati suatu titik balik untuk kemudian semakin menyempit dan akhirnya menghilang. Ukuran Ketimpangan Daryanto (2010) dalam Yunisti (2012) mengatakan bahwa cara yang umum digunakan dalam setiap studi tentang ketimpangan yaitu dengan alat ukur ketimpangan : Lorentz Curve, mengukur ketimpangan berdasarkan kurva distribusi pendapatan. Gini Ratio, mengukur ketimpangan berdasarkan luas kurva Lorenz Generelized Entropi Measure (GEM) atau Theill Index L Index, merupakan pengembangan dari Theil Index yang dapat menyebabkan terhambatnya proses efek sebar dari proses pembangunan yang berdampak pada semakin

Williamson Index, merupakan alat ukur ketimpangan yang menggunakan koefisien variasi

Analisis Spasial Perencanaan pembangunan wilayah adalah konsep yang utuh dan menyatu dengan pembangunan wilayah. Secara luas, perencanaan pembangunan wilayah diartikan sebagai suatu upaya merumuskan dan mengaplikasikan kerangka teori ke dalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan yang didalamnya mempertimbangkan aspek wilayah dengan mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan (Nugroho dan Dahuri, 2004). Sedangkan proses perencanaan pembangunan wilayah selalu berhadapan dengan objek-objek perencanaan yang memiliki sifat keruangan (spasial). Oleh karena itu dalam analisis perencanaan wilayah, analisis yang menyangkut objek-objek dalam sistem keruangan (analisis spasial) menjadi sangat penting Rustiadi et al. (2009). Analisis spasial berkembang seiring dengan perkembangan geografi kuantitatif dan ilmu wilayah (regional science) pada awal 1960-an. Perkembangannya diawali dengan digunakannya prosedur-prosedur dan teknikteknik kuantitatif (terutama statistik) untuk menganalisis pola-pola sebaran titik, garis, dan 15 area pada peta atau data yang disertai koordinat ruang dua atau tiga dimensi. Di samping perkembangan metode-metode analisis spasial, peranan sistem informasi geografis (SIG) di dalam visualisasi data spasial akhir-akhir ini semakin signifikan. Melalui sistem informasi geografis (SIG), berbagai macam informasi dapat dikumpulkan, diolah dan dianalisis dan dikaitkan dengan letaknya di muka bumi. Dengan mengembangkan SIG maka informasi yang berkenaan dengan pewilayahan (spasial) dan pemodelannya serta permasalahan spasial dapat dianalisis dengan lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan (Prahastra, 2007). Software yang digunakan untuk melakukan analisis spasial dalam penelitian ini adalah ArcView versi 3.3 yang dikeluarkan ESRI. Sektor Unggulan Penetapan prioritas pembangunan diperlukan dalam usaha mencapai pembangunan wilayah yang efektif dan efisien. Biasanya sektor yang mendapat prioritas tersebut adalah sektor unggulan yang diharapkan dapat mendorong (push factor) sektor-sektor lain untuk

berkembang menjadi pendorong utama (prime mover) pertumbuhan ekonomi wilayah (Rustiadi et al, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan menunjukan bahwa dampak dari pertumbuhan sektor unggulan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah lain (dampak interregional) masih sangat kecil pengaruhnya dibandingkan dengan dampak

intraregional. Hal ini mencerminkan bahwa pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, khususnya yang menyangkut kerjasama antar daerah dalam rangka mengoptimalkan pembangunan di daerah belum terlaksana sebagaimana yang diamanatkan dalam undangundang pemerintahan daerah di Indonesia.

3.

Metodologi

3.1. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Data tersebut berupa data cross section tahun 2011 yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah penduduk, Pendapatan Asli daerah (PAD), dan Dana Perimbangan masing-masing provinsi di Indonesia. 3.2. Metode Analisis 3.2.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai kondisi dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Analisis deskriptif secara sederhana dapat dilakukan anatara lain melalui diagram, grafik, table, dan angka-angka statistik seperti total, rata-rata, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, digunakan ntuk menggambarkan keadaan PDRB dan pertumbuhan Ekonomi, tenaga kerja, IPM, DAU, dan PAD. 3.2.2 Analisis Penentuan Tingkat Perkembangan Wilayah Tipologi Klassen Analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur ekonomi masing-masing wilayah. Melalui analisis ini diperoleh empat klasisfikasi melalui pendekatan wilayah . provinsi yang masing-masing mempunyai

karakteristik pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang berbeda-beda diklasifikasikan dengan tipologi Klassen pendekatan wilayah (Sjafrizal, 1997:180). Table 1. Pembagian perkembangan daerah menurut masing-masing tipologi Gi > g Gki > gk Gi < g maju tapi

Daerah maju dan tumbuh Daerah cepat tertekan

Gki < gk

Daerah berkembang cepat

Daerah tertinggal

Sumber : Sjafrizal, 1997 Dimana : gi g gki gk = pertumbuhan PDRB di provinsi = pertumbuhan PDRB rata-rata seluruh provinsi = pendapatan perkapita provinsi = pendapatan rata-rata per kapita seluruh provinsi

3.2.3 Analisis Disparitas Pendapatan Indeks Williamson Untuk menghitung disparitas pendapatan antar provinsi di Indonesia, dalam penelitian ini menggunakan indeks Williamson. Indeks ini menggunakan PDRB per kapita sebagai data dasar untuk membandingkan tingkat pembangunan antar wilayah. Semakin besar indeks Williamson (Vw) maka semakin besar ketimpangan pembagunan antar wilayah, sebaliknya semakin rendah indeks Williamson menunjukkan semakin merata pembangunan antar wilayah. Adapun formulasi indeks Williamson ini secara statistik dapat ditampilkan sebagai berikut :

Dimana : Vw = Indeks kesenjangan Williamson = PDRB per kapita provinsi ke-i y = rata-rata PDRB per kapita seluruh provinsi = jumlah penduduk provinsi ke-i n = jumlah penduduk Indonesia

Indeks Entropi Theil Indeks ini digunakan untuk mendekomposisikan total disparitas menjadi kontribusi disparitas oleh kabupaten/kota atau untuk melihat kontribusi disparitas oleh sektor perekonomian (disparitas parsial). Indeks Theil yang membesar menunjukkan ketimpangan yang semakin besar pula, dan sebaliknya. Keunggulan menggunakan indeks ini adalah dapat menghitung ketimpangan dalam daerah dan antar daerah sekaligus, sehingga cakupan lebih luas. Selain itu, indeks ini juga dapat menghitung kontribusi masing-masing daerah terhadap ketimpangan pembangunan wilayah secara keseluruhan. Formula indeks Theil dapat ditulus sebagai :

Keterangan : I = indeks Theil (disparitas total) = PDRB provinsi ke-i = Penduduk provinsi ke-i 3.2.4 Identifikasi Sektor Unggulan Location Quotion Metode analisis ini digunakan untuk melihat sector basis atau non basis pada suatu wilayah perencanaan dan dapat mengidentifikasi sector unggulan atau keunggulan komparatif suatu wilayah. Teknik analisis LQ merupakan cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sector kegiatan tertentu dengan memisahkan antara kegiatan basis dan bukan basis di suatu wilayah.pada dasarnya, teknik ini menyajikan perbandingan relative antara kemampuan sector di daerah yang diteliti dengan kemampuan sector yang sama di daerah yang lebih luas. Apabila nilai LQ >1 berarti suatu sektor di daerah mempunyai potensi atau keunggulan komparatif untuk menjadi basis atau sumber pertumbuhan. Perbandingan ini secara matematis sebagai berikut :
Sumber : Tarigan, 2005

Keterangan : = indeks kuosien lokasi provinsi i untuk sektor j = PDRB masing-masing sektor di provinsi i S = PDRB di provinsi i = PDRB total sektor di Indonesia N = PDRB di tingkat provinsi

3.2.5 Analisis Inferensia Regresi Linier Berganda Analisis inferensia yang digunakan di sini adalah analisi regresi linier berganda. Analisis ini ditujukan untuk mengkaji pengaruh PAD, DAU, jumlah tanaga kerja, dan IPM terhahap terhadap PDRB antar wilayah. Adapun model persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

Dimana : = PDRB provinsi ke-i = dana perimbangan provinsi ke-i = pendapatan asli daerah provinsi ke-i Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik adalah pengujian terhadap asumsi yang harus dipenuhi dalam model adalah residual berdistribusi normal, tidak terjadi autokorelasitas (non-autokorelasi), dan bersifat homoskedastis, serta tidak terjadi multikolinieritas antar variabel independen. Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah model yang dihasilkan sudah baik atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji kolmogorov smirnov dan dimana H0 residual berdistribusi normal. Uji heteroskedastisitas mengunakan uji Harvey dengan H0 residual bersifat homoskedastis. Uji autokorelasi menggunakan uji Durbin Watson dengan H0 tidak terdapat autokorelasi. Keputusan tolak H0 jika nilai probabilita lebih kecil dibanding tingkat signifikansi. Uji multikolinieritas dilakukan dengan menggunakan VIF (Variance Inflation Factor) untuk melihat korelasi antar variabel. Jika terdapat besarnya VIF > 10 maka ada indikasi terjadinya multikolinieritas.

4. 4.1
450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Pembahasan Analisis Deskriptif

PDRB 2011 (Triliun Rp.)

50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

PDRB/Kapita 2011 (Juta Rp.)

Aceh Sumatera Barat Kepulauan Riau Sumatera Selatan Bengkulu DKI Jakarta Banten DI Yogyakarta Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Bali NTT Maluku Utara Papua Barat

Gambar 4.1 PDRB Provinsi di Indonesia tahun 2011

Gambar 4.2 PDRB /Kapita Provinsi di Indonesia tahun 2011

Pada grafik diatas terlihat bahwa sebagian besar daerah di Indonesia masih mengalami ketertinggalan dalam kinerja ekonomi. Hal ini terlihat dari masih cenderung tingginya PDRB pulau Jawa dibandingkan daerah-daerah lainnya. Ini menunjukkan bahwa kinerja ekonomi Indonesia masih terpusat di daerah Jawa (serta beberapa daerah tertentu). Namun bila dilihat dari nilai PDRB/kapita, hanya ada beberapa provinsi yang mencolok perbedaannya, yaitu Riau, Kepulauan Riau, Jakarta, Kalimantan Timur dan Papua Barat. Faktor paling dominan yang menyebabkan perbedaan ini adalah jumlah penduduk yang relatif kecil. Pendapatan asli daerah/PAD menunjukkan seberapa besar kemampuan/potensi suatu provinsi dalam hal pendapatan/penerimaannya. PAD yang tinggi juga dapat berarti posisi bargaining pemerintah yang cukup baik dalam hal penguasaan ekonomi di daerah tersebut. Dalam hal PAD inipun, dapat ditunjukkan bahwa hampir semua provinsi di pulau jawa punya kemampuan penerimaan/pendapatan yang lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

Aceh Sumatera Barat Kepulauan Riau Sumatera Selatan Bengkulu DKI Jakarta Banten DI Yogyakarta Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Bali NTT Maluku Utara Papua Barat

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0

PAD (Triliun Rp.)

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0

Dana Perimbangan (Triliun Rp.)

Aceh Sumatera Barat Kepulauan Riau Sumatera Selatan Bengkulu DKI Jakarta Banten DI Yogyakarta Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Bali NTT Maluku Utara Papua Barat

Gambar 4.3. PAD Provinsi tahun 2011

Dalam hal kebijakan keuangan, pemerintah memberikan dana perimbangan untuk memenuhi ketimpangan keuangan daerah. Dana perimbangan ini disesuaikan besarannya khususnya dengan melihat proporsi kinerja provinsi terhadap nasional. Dari grafik 4.4, dapat dilihat bahwa meskipun besarannya hampir sama, namun ada beberapa provinsi yang mendapatkan dana perimbangan yang besar dari pemerintah pusat. 4.2 Pengelompokkan Provinsi berdasarkan Tipologi Klasen Berdasarkan gambar 4.7, disparitas yang terjadi di Indonesia cenderung ada pada setiap pulau di Indonesia kecuali pulau Sulawesi. Pembangunan di pulau Sulawesi lebih merata sehingga semua provinsi yang ada pada pulau tersebut tergolong daerah yang relatif maju. Daerah yang relatif maju lainnya tersebar merata di Indonesia yaitu provinsi Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, Banten Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Begitu juga dengan daerah yang relatif tertinggal yang juga tersebar hampir disetiap pulau di Indonesia kecuali pulau Sulawesi. Adapun yang tergolong daerah yang relatif tertinggal adalah Aceh, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, NTB, NTT dan Maluku. Daerah yang tergolong cepat maju dan tumbuh adalah provinsi Kepulauan Riau, Papua Barat dan DKI Jakarta. Ketiga provinsi ini masing-masing memiliki uniqueness dalam perekonomiannya. Provinsi Papua Barat memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat potensial yaitu Gas Alam Cair. Ladang gas ini mengandung lebih dari 500 miliar m3 (17 Tcf) dengan taksiran cadangan potensial mencapai lebih dari 800 miliar m3 (28

Aceh Sumatera Barat Kepulauan Riau Sumatera Selatan Bengkulu DKI Jakarta Banten DI Yogyakarta Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Bali NTT Maluku Utara Papua Barat
Gambar 4.4 Dana Perimbangan Provinsi tahun 2011

Tcf). Provinsi DKI Jakarta sebagai ibukota Indonesia telah mengakumulasi berbagai fungsi penting secara nasional, seperti : pusat pemerintahan, pusat kegiatan perekonomian, pusta pendidikan bahkan kebudayaan. DKI Jakarta telah menjadi kota metro yang produktif. Seperti dilaporkan Metropolitan Policy Program dari Brookings Institute dalam Global Metro Monitor 2011, DKI Jakarta termasuk kedalam kota metro terproduktif ke 17 dari 200 kota metropolitan di Dunia (Vivanews, 2012). Sedangkan, provinsi Kepulauan Riau memiliki keuntungan dari segi lokasi yang strategis. Lokasi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga (Singapura) dan berada pada jalur pelayaran malaka menjadikan kelebihan untuk dapat mengambil keuntungan dalam memajukan perekonomian wilayahnya.

Gambar 4.7. Peta Persebaran Provinsi-provinsi di Indonesia berdasarkan Tipologi Klasen tahun 2011

Daerah yang termasuk provinsi yang maju tapi tertekan yaitu yang pertumbuhan ekonominya lambat tetapi pendapatan perkapitanya tinggi adalah provinsi Riau dan Kalimantan Timur. Hal ini disebabkan karena terhambatnya kegiatan ekonomi utama di provinsi tersebut. Di provinsi Riau, perkebunan kelapa sawit yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi hingga 7 % tanpa migas terhambat dikarenakan kerusakan lingkungan yang disebabkannya. Sedangkan di provinsi Kalimantan Timur, kasus

pertambangan menjadi masalah yang cukup pelik merupakan penyebab terhambatnya kegiatan pertambangan ini. 4.3 Identifikasi Tingkat Disparitas di Indonesia Adanya heterogenitas dan beragamnya karakteristik suatu wilayah menyebabkan adanya kecenderungan terjadi ketimpangan antardaerah dan antarsektor ekonomi suatu daerah. Besar kecilnya ketimpangan PDRB perkapita antarpropinsi memberikan gambaran tentang kondisi dan perkembangan pembangunan propinsi-propinsi di Indonesia. Guna mengetahui tingkat ketimpangan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2011 maka pada penelitian ini dilakukan pendekatan menggunakan Indeks Williamson untuk mengetahui ketimpangan antar propinsi di Indonesia dan Indeks Theil untuk mendekomposisi sumber disparitas tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan indeks williamson, tingkat ketimpangan antarpropinsi di Indonesia tahun 2011 masih relatif tinggi. Hal ini ditunjukan oleh tingginya angka indeks williamson yang mendekati angka satu, yaitu sebesar 0,81. Jika angka indeks williamson semakin mendekati angka satu artinya tingkat ketimpangan yang terjadi di wilayah tersebut semakin lebar. Tingginya ketimpangan antarpropinsi di Indonesia ini mengindikasikan adanya perbedaan kegiatan ekonomi yang cukup signifikan. Berbicara masalah ketimpangan, tentu akan selalu dikaitkan dengan sistem otonomi daerah yang berjalan di Indonesia. Setelah disahkannya UU No 22/1999 yang kemudian diubah menjadi UU No32/2004 tentang implementasi desentralisasi, setiap propinsi, kabupaten maupun kota diberi kewenangan untuk menjalankan pemerintahannya secara otonom. Namun setelah 14 tahun perjalanan otonomi daerah di Indonesia, lahirlah permasalahan bahwa desentralisasi seringkali berjalan tidak sesuai keinginan. Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan dari unsur kegiatan ekonomi, baik dari sisi potensi daerah maupun kualitas pemerintah dalam tata kelola ekonomi daerah.

Indeks Williamson
0.60 0.40 0.20 0.00 1 2 3 4 0.51 1 0.28 0.25 0.27 2 3 4

Gambar 4.8. Indeks Williamson antar Kelompok Tahun 2011

Berdasarkan gambar 4.8, jika dilihat berdasarkan kelompok-kelompok yang terbentuk dari analisis tipologi klassen, terlihat bahwa di tahun 2011 kelompok yang berada pada kuadran satu memliki angka indeks paling tinggi dibanding kelompok yang lain, yaitu sebesar 0,51. Diamana kelompok 1 merupakan kelompok propinsi dengan kriteria cepat maju tumbuh. Adapun propinsi yang masuk dalam kelompok ini adalah Propinsi DKI Jakarta, Kepulauan Riau dan Papua Barat. Meskipun tergolong dalam satu kelompok yang memilki PDRB dan angka pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata, ketimpangan antara ketiga propinsi ini masih tergolong relatif lebar. Jika dilihat dari aktivitas ekonomi yang tercermin dari angka PDRB masing-masing propinsi, PDRB Propinsi Kepulauan Riau hanya 10 persen dari PDRB Propinsi DKI Jakarta, bahkan PDRB Propinsi Papua Barat hanya 3 persennya. Sudah menjadi rahasia umum jika Propinsi DKI Jakarta merupakan pusat segala kegiatan perekonomian di Indonesia, terutama kegiatan di sektor industri manufaktur. Selain itu perbedaan dari segi infrastruktur dan kualitas SDM juga turut andil dalam mendukung tingginya disparitas yang terjadi. Dekomposisi Sumber Disparitas Dekomposisi sumber disparitas di Indonesia dilakukan dengan analisis Indeks Theil. Pengelompokan wilayah juga didasarkan pada hasil pengelompokan wilayah menggunakan analisis Tipologi Klassen dengan data yang digunakan PDRB harga kosntan tahun 2011. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan Indeks Theill, diperoleh hasil bahwa angka indeks antar kelompok lebih kecil dibanding angka indeks dalam kelompok, yaitu sebesar 0,03. Sedangkan angka indeks dalam kelompok sendiri sebesar 0,05 atau 64%. Hal ini menunjukan bahwa secara umum sumber disparitas perekonomian di Indonesia berasal dari dalam kelompok wilayah atau antarpropinsi. Oleh karena itu dalam pengambilan kebijakan pengembangan wilayah di Indonesia tidak bisa dipandang dalam lingkup kelompok wilayah namun harus lebih spesifik lagi, yaitu dalam lingkup propinsi. Sehingga kebijakan yang diambil disesuaikan dengan karakteristik dan potensi yang dimiliki masing-masing propinsi.

Indeks Theill
Between 36% Within 64%

Gambar 4.9. Indeks Theil provinsi-provinsi di Indonesia tahun 2011 4.4 Sektor Unggulan Provinsi-Provinsi di Indonesia

Penerapan Location Quetient (LQ) Index pada data sektoral antar provinsi merupakan salah satu cara untuk mengetahui sektor-sektor potensi atau dominan di masing-masing provinsi secara relatif dibandingkan dengan aktivitas sektor -sektor tersebut pada level nasional. Makna dari sektor potensi atau sektor unggulan adalah bahwa produk dari sektor tersebut adalah produk ekspor karena berlebih jika hanya untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri. Apabila nilai LQ lebih besar dari 1 maka sektor wilayah tersebut berpotensi untuk dikembangkan. Apabila ada beberapa sektor yang memiliki nilai di atas 1 maka sektor yang memiliki potensi terbesar untuk dikembangkan adalah sektor yang memiliki nilai LQ tertinggi. Secara umum, ada sebanyak 28 provinsi memiliki potensi di sektor pertanian, 12 provinsi memiliki potensi di sektor pertambangan, 7 di sektor industri pengolahan, 5 di sektor listrik, gas dan air bersih, 15 di sektor konstruksi, 9 di sektor perdagangan, 16 di sektor pengangkutan dan transportasi, 4 di sektor keuangan dan 22 di sektor jasa. Sementara jika melihat nilai LQ tertinggi di tiap tiap provinsi maka dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, ada 12 provinsi yang paling potensial di sektor pertanian (LQ maksimum : Sulbar), 7 di sektor pertambangan (LQ maksimum : Riau), 3 di sektor industri pengolahan (LQ maksimum : Kepri), 2 di sektor LGA (LQ maksimum : Banten), 1 di sektor konstruksi (LQ maksimum : Sulut), 2 di sektor perdagangan (LQ maksimum : Bali), 1 di sektor pengangkutan dan transportasi (LQ maksimum : Sumbar), 1 di sektor keuangan (LQ maksimum : Jakarta) dan 4 di sektor jasa (LQ maksimum : NTT). Untuk mengetahui lebih jeals lokasi-lokasi mana saja dan sektor dengan nilai LQ tertinggi di sektor apa, dapat dilihat di gambar berikut.

Gambar 4.10. Peta Persebaran Sektor Unggulan Provinsi-provinsi di Indonesia tahun 2011

Terdapat 8 provinsi yang mempunyai sektor unggulan terbanyak (5 sektor) yakni Jakarta, Yogyakarta, Bali, NTB, Kalbar, Gorontalo, Papua Barat dan Papua.. Sedangkan wilayah yang sektor unggulannya paling sedikit (2 sektor) ada 7 provinsi yakni Riau, Jambi, Lampung, Kepri, Kaltim, Sulbar, Malut. Banyaknya sektor unggulan yang dimiliki oleh tiap provinsi dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 4.11. Peta Persebaran Sektor Unggulan Provinsi-provinsi di Indonesia tahun 2011

Masih tingginya jumlah provinsi yang memiliki LQ tinggi di pertanian, menunjukkan kecenderungan kebergantungan ekonomi Indonesia pada sektor ini. Bahkan lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia masih bergantung pada sektor primer. Apabila Indonesia berusaha meningkatkan perekonomian melalui transformasi industri, ada baiknya kita jangan terlalu bergantung menguatkan sektor industri kita. Selain itu, munculnya provinsi-provinsi diluar ekspektasi semisal NTT dengan konstruksinya, Sumbar dengan pengangkutan, Kepri dan Papua Barat dengan industrinya, Sulbar dengan pertanian, dll seharusnya memberikan indikasi bahwa sebaiknya kebijakan perekonomian tidak semestinya terlalu megedepankan Pulau Jawa saja. Nilai LQ yang tinggi di daerah ini menunjukkan bahwa jika daerah ini diberi suntikan lebih, terkhusus dalam sektor unggulannya, tentu dapat semakin meningkatkan ekonomi daerahnya dan Indonesia secara umum serta diharapkan dapat mengurangi ketimpangan ekonomi antar provinsi di Indonesia. 4.5 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Pengujian Asumsi Klasik Dari persamaan regresi yang dihasilkan, Asumsi normalitas dari residual telah terpenuhi. Hal ini dapat dilihat dari signifikansi uji Jarque-Berra yang menunjukkan probability (p value) lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar lima persen. Oleh karena itu hipotesis nul tidak dapat ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal (lampiran). Asumsi non-autokorelasi juga telah terpenuhi. Hal ini dapat diidentifikasi dari nilai Durbin Watson observasi = 1.766345. Asumsi terpenuhi jika nilai DW berada pada rentang dU < DW < 4-dU, atau nilai DW berada pada selang 1,577 - 2.423, dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gangguan autokorelasi pada residual model (lampiran). Asumsi non multikolinearitas pun telah terpenuhi. Nilai Variance Inflation Factor (VIF) seluruh variabel independen lebih kecil dari 10. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi hubungan linier (non multikolinieritas) di antara variabel independen (lampiran). terhadap sektor pertanian dan semakin

Asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Dalam penelitian ini uji yang digunakan adalah statistic uji white dengan tingkat kepercayaan = 0,05. Nilai probabilitas yang dihasilkan adalah sebesar 0,0531 lebih besar daripada 0,05 sehingga H_0 dapat diterima. Dapat dikatakan bahwa tidak terjadi penyimpangan asumsi homoskedastisitas Analisis Pengaruh Beberapa Variabel Independen terhadap PDRB Perekonomian provinsi-provinsi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam penelitian ini akan dikaji pengaruh pendapatan asli daerah dan dana perimbangan tahun 2011. Adapun persamaan regresi yang di hasilkan adalah . 7643 .43 868

.823 89

Berdasarkan model estimasi regresi linier berganda yang terbentuk (Lampiran), diperoleh nilai Adjusted R-squared sebesar 0.920383. Nilai Adjusted R-squared menunjukkan bahwa variabel-variabel independen mampu menjelaskan variasi PDRB provinsi-provinsi di Indonesia sebesar 92,0383 persen. Dari hasil pengujian statistik menggunakan uji F, jika dilihat dari nilai p-value dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama keempat variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan PDRB pada taraf nyata 5 persen. Untuk melihat pengaruh secara parsial maka dilakukan pengujian dengan menggunakan statistik uji t. Dilihat dari nilai p-value yang dihasilkan, maka dapat disimpulkan bahwa kedua variabel berpengaruh signifikan secara statistik pada = 5 persen. Koefisien yang dihasilkan model regresi di atas telah sesuai dengan teori ekonomi bahwa terdapat hubungan yang positif antara kenaikan Dana Perimbangan dan kenaikan Pendapatan Asli Daerah terhadap kenaikan PDRB tahun 2011. Sedangkan intersep menunjukkan nukai yang tidak signifikan secara statistik dalam penelitian ini. Pengaruh kenaikan Dana Perimbangan terhadap kenaikan PDRB Bendasarkan hasil regresi yang terbentuk, diperoleh secara statistic bahwa dana perimbangan berpengaruh signifikan terhadap PDRB pada tahun 2011. Nilai koefisien regresinya adalah sebesar 0.430868. Artinya, jika kenaikan dana perimbangan sebesar 1 persen akan mengakibatkan kenaikan PDRB sebesar 0.430868 persen. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan sebelumnya bahwa terdapat hubungan yang positif antara dana perimbangan terhadap PDRB. Oleh karena itu, peningkatan investasi

diharapkan tidak hanya pada daerah-daerah yang sudah maju karena mwmilikisarana prasarana yang lebih lengkap. Namun pada daerah-daerah yang tertinggal juga perlu ditingkatkan investasinya dengan memberikan insentif investasi serta meningkatkan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam investasi Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap PDRB Pada variabel Pendapatan Asli Daerah terdapat hubungan positif terhadap PDRB tiap-tiap provinsi. Nilai koefisien regresinya adalah 0.823189. Artinya jika terjadi kenaikan jumlah Pendapatan Asli daerah sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan PDRB sebesar 0.823189 persen. Karena besarnya pengaruh PAD terhadap PDRB, diharapkan usaha pemerintah lebih memanfaatkan potensi-potensi sumber keuangan yang ada di daerah tersebut. Seperti hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, penerimaan dari dinas, dan lain-lain. 5. 5.1 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan serta kaitannya dengan tujuan penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat sepuluh propinsi yang tergolong daerah relatif tertinggal. Dimana kesepuluh propinsi tersebut memiliki PDRB per kapita dan laju pertumbuhan yang lebih rendah dari keseluruhan propinsi. Sedangkan propinsi yang tergolong daerah cepat maju dan tumbuh adalah Propinsi Kepulauan Riau, DKI Jakarta dan Papua Barat. 2. Tingkat disparitas wilayah di Indonesia tahun 2011 tergolong cukup tinggi. Hal ini ditunjukan oleh angka indeks williamson yang mendekati angka satu, yaitu sebesar 0,81. Selain itu, diketahui pula bahwa penyebab utama disparitas antar propinsi tersebut berasal dari ketimpangan yang terjadi dalam kelompok (kuadran) yaitu sebesar 63,5 persen. 3. Secara umum sektor yang paling banyak menjadi unggulan di seluruh provinsi di Indonesia pada tahun 2011 adalah sektor pertanian dengan 28 provinsi. 4. Variabel yang secara signifikan memengaruhi Produk Domestik Regional Bruto adalah dana perimbangan dan pendapatan asli daerah.

5.2

Saran 1. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang lebih mengutamakan provinsi yang relatif tertinggal dengan memperhatikan kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut seperti kebijakan investasi dalam sektor potensial serta meningkatkan pembangunan infrakstruktur di provinsi-provinsi yang tergolong relatif rendah tersebut. 2. Terlepas dari ini, sumber Daya Manusia (SDM) dengan kualitas memadai diperlukan untuk dapat meningkatkan daya saing provinsi. Hal ini dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah-daerah tertinggal dan meratakan persebaran tenaga kerja ahli pada institusi pemerintah. 3. Pembangunan ekonomi perlu untuk dilakukan dengan memperhatikan pengembangan klaster industri. Pengembangan wilayah lebih diarahkan kepada keunggulan lokal di wilayah tersebut dengan melakukan pembangunan tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan . Misal, potensi di provinsi Riau adalah perkebunan kelapa sawitnya maka pemerintah mesti membangun industri yang dapat mengolah dan meningkatkan nilai tambah kelapa sawit tersebut. 4. Pemerintah perlu memberikan dana perimbangan dan bantuan kepada provinsiprovinsi dengan mempertimbangkan pendapatan asli daerah serta potensi yang dimiliki suatu provinsi tersebut dan pemerintah daerah juga perlu membuat kebijakan yang dapat memacu peningkatan pendapatan asli daerah seperti memaksimalkan sektor pariwisata sehingga meningkatkan retribusi dllsb. 5. Perlu dilakukannya sinkronisasi antara sektor primer, sekunder dan tersier di Indonesia agar semakin meningkatkan nilai tambah yang dapat memacu perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik

Lampiran 1 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil Estimasi Persamaan Regresi Linier Berganda


Dependent Variable: LNPDRB11 Method: Least Squares Date: 06/25/13 Time: 17:28 Sample: 1 33 Included observations: 33 Variable C LNPAD LNDP Coefficient 0.076430 0.823189 0.430868 Std. Error 1.581945 0.073646 0.153797 t-Statistic 0.048314 11.17762 2.801541 Prob. 0.9618 0.0000 0.0088 17.26745 1.290592 0.904060 1.040106 0.949835 1.766345

R-squared 0.925359 Adjusted R-squared 0.920383 S.E. of regression 0.364160 Sum squared resid 3.978369 Log likelihood -11.91698 F-statistic 185.9621 Prob(F-statistic) 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat

Uji Normalitas
6

Series: Residuals Sample 1 33 Observations 33 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability
-0.8 -0.6 -0.4 -0.2 -0.0 0.2 0.4 0.6

2.87e-15 -0.002086 0.671894 -0.766881 0.352596 -0.233873 2.803576 0.353883 0.837829

Uji White
Heteroskedasticity Test: White F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS 2.459071 10.32556 7.695427 Prob. F(5,27) Prob. Chi-Square(5) Prob. Chi-Square(5) 0.0584 0.0665 0.1738

Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 06/25/13 Time: 17:27 Sample: 1 33 Included observations: 33 Variable C LNPAD LNPAD^2 LNPAD*LNDP LNDP LNDP^2 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) Coefficient 19.15911 0.265074 0.042364 -0.103936 -3.014298 0.160442 0.312896 0.185654 0.148370 0.594365 19.45172 2.459071 0.058417 Std. Error 14.02197 1.098245 0.027437 0.112158 2.831077 0.147619 t-Statistic 1.366363 0.241362 1.544010 -0.926693 -1.064718 1.086870 Prob. 0.1831 0.8111 0.1342 0.3623 0.2964 0.2867 0.120557 0.164415 -0.815256 -0.543164 -0.723705 2.531230

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat

Lampiran 2 Hasil Analisis Location Quotion

Provinsi Aceh Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Babel Kepri Jakarta Jabar Jateng Yogya Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua

Sektor 1 1,88 1,63 1,60 1,18 2,06 1,35 2,79 2,68 1,57 0,30 0,01 0,86 1,25 1,13 1,00 0,51 1,34 1,70 2,52 1,73 2,09 1,62 0,46 1,28 2,74 1,87 2,03 1,97 3,24 2,14 2,37 1,20 1,27

Sektor 2 1,02 0,16 0,41 6,47 1,90 2,93 0,55 0,25 1,86 0,66 0,03 0,28 0,15 0,10 0,31 0,01 0,09 2,82 0,18 0,24 1,44 3,03 5,79 0,68 0,78 1,03 0,98 0,15 0,13 0,10 0,55 1,32 4,56

Sektor 3 0,43 0,88 0,51 0,48 0,52 0,71 0,18 0,56 0,88 2,13 0,62 1,76 1,39 0,56 1,05 2,09 0,41 0,21 0,06 0,68 0,31 0,43 1,05 0,32 0,25 0,56 0,36 0,33 0,38 0,20 0,50 1,74 0,12

Sektor 4 0,35 0,69 1,02 0,21 0,79 0,46 0,48 0,35 0,55 0,52 0,59 2,00 0,78 0,84 1,24 3,37 1,41 0,37 0,41 0,39 0,42 0,47 0,32 0,71 0,65 0,96 0,71 0,53 0,55 0,44 0,44 0,29 0,24

Sektor 5 1,19 1,15 0,91 0,64 0,78 1,42 0,60 0,80 1,20 0,80 1,74 0,65 0,98 1,64 0,54 0,46 0,67 1,35 1,03 1,44 0,95 0,94 0,69 2,65 1,18 0,98 1,57 1,50 0,77 0,32 0,31 1,12 1,87

Sektor 6 0,96 0,89 0,85 0,46 0,84 0,67 0,89 0,75 0,95 1,10 1,04 1,05 1,03 0,99 1,51 0,91 1,55 0,77 0,83 1,01 0,88 0,75 0,45 0,83 0,61 0,83 0,84 0,70 0,60 1,23 1,34 0,33 0,41

Sektor 7 0,93 1,23 1,88 0,40 0,89 0,75 1,02 0,96 0,46 0,56 1,55 0,63 0,66 1,35 0,94 1,11 1,35 1,03 0,92 1,19 0,97 1,09 0,75 1,60 0,92 1,16 1,10 1,33 0,43 1,34 0,99 0,71 1,11

Sektor 8 0,22 0,89 0,58 0,17 0,65 0,49 0,55 1,14 0,42 0,53 3,13 0,40 0,43 1,12 0,62 0,42 0,80 0,66 0,44 0,63 0,72 0,47 0,40 0,76 0,55 0,88 0,74 1,00 0,74 0,58 0,42 0,21 0,46

Sektor 9 1,93 1,09 1,82 0,58 0,87 0,93 1,68 0,82 0,81 0,25 1,24 0,73 1,10 1,84 0,94 0,46 1,52 1,17 2,75 1,24 1,39 1,00 0,24 1,61 1,72 1,14 1,26 2,02 1,68 2,08 0,85 1,04 1,29

Daftar Pustaka

Michael P. dan Stephen C. Smith, Todaro. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga edisi kedelapan. Jakarta : Erlangga. Dr. S. Panuju dan rustiadi E, Saefullah. 2009. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Edisi Juli 2007. Bogor : Institut Pertanian Bogor Riyadi, Bratakusumah. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah : Strategi Menggali Potensi dalam Mewujudkan Otonomi Daerah. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Marta, Ronal. 2011. Analisis Spasial Disparitas Pembangunan antar Wilayah di Provinsi Sumatera Barat [Thesis]. Bogor : Institut Pertanian Bogor Diza, Farah. 2011. Variabel yang mempengaruhi ketersediaan beras di Indonesia [skripsi].Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Hardius dan Nachrowi, Usman. 2006. Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. Jakarta: Fakultas Ekonomi Indonesia Prahesti Nukyanto, Damainsa. 2012. Analisis Disparitas Spasial Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006-2010. Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Daryanto. 2003. Disparitas Pembangunan Perkotaan-Pedesaan Indonesia. Bogor : Agrimedia.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/04/30/mm119y-pertumbuhan-ekonomiindonesia-diakui-dunia diakses pada tanggal 24 juni 2013. http://ekbis.sindonews.com/read/2013/05/24/33/730533/ekonomi-terpusat-di-jawa-picudisparitas-antar-wilayah diakses pada tanggal 24 juni 2013 http://economy.okezone.com/read/2013/05/11/20/805424/redirect diakses pada tanggal 24

juni 2013
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/294141-jakarta--kota-metro-terproduktif-ke-17-dunia

diakses pada tanggal 25 juni 2013