P. 1
Jurnal Komunikasi Massa Vol 2 No 2 Tahun 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol 2 No 2 Tahun 2009

4.75

|Views: 11,665|Likes:
Dipublikasikan oleh hastjarjo
Jurnal Komunikasi Massa adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta, Indonesia.
Jurnal Komunikasi Massa adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta, Indonesia.

More info:

Published by: hastjarjo on May 25, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2014

pdf

text

original

Vol. 2 No.

2 Januari 2009 ISSN : 1411-268x

Visi jurnalisme publik dalam demokratisasi politik Quo-vadis kekerabatan Malaysia-Indonesia? Perang dalam tata kehidupan antarbangsa The economic strategies Pursued by Moro Islamic Liberation Front (MILF) for selfdetermination in the Southern Philippines The importance and functional role of qualitative audience analysis within the stakeholders of Malaysia screen industry Proposionalitas anggota DPRD: Kajian terhadap proses perekrutan anggota DPRD hasil Pemilu 2004 di Kabupaten Wonogiri Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan FISIP Universitas Sebelas Maret Peranan teknologi komunikasi terhadap perubahan sosia Communication as culture Online learning and the quality of learning in journalism course Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

Mursito Musafir Kelana & Abubakar Eby Hara Totok Sarsito Shamsuddin L. Taya

Hisham Dzakaria & Nuraini Yusoff Dwi Tiyanto

Surisno Satrijo Utomo

Sutopo Pamela Nilan Sri Hastjarjo Widodo Muktiyo

Jurnal Komunikasi Massa

Volume 2

Nomor 2

Halaman 91-189

Januari 2009

ISSN: 1411-268x

Jurusan Ilmu Komunikasi Fak. Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret

Komunikasi Massa
Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal

ISSN : 1411-268x

Diterbitkan oleh: Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret

Jurnal Komunikasi Massa
Terbit dua kali setahun Hak cipta dilindungi Undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau keseluruhan isi dalam pelbagai bentuk medium baik cetakan, elektronik, maupun mekanik. ISSN: 1411-268x Diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Desain dan tata letak oleh Sri Hastjarjo
ii Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Komunikasi Massa
DEWAN REDAKSI
Pemimpin Redaksi Dra. Prahastiwi Utari, M.Si., Ph.D. Redaktur Pelaksana Drs. Hamid Arifin, M.Si. Tanti Hermawati, S.Sos., M.Si. Sekretaris Redaksi Mahfud Ansori, S.Sos. Redaktur Ahli Drs. Pawito, Ph.D. Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D. Susanto Karthubij, S.Sos., M.Si. Mitra Bestari Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D. (Universitas Indonesia) Prof. Dr. Dedy Mulyana (Universitas Padjajaran) A/Prof. Pamela Nilan, Ph.D. (University of Newcastle, Australia) Alamat Redaksi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126 Tel./Fax. +62 271 632478. Email: jkm-uns@yahoo.com Pemasar/Sirkulasi Budi Aryanto, Tel. +62 271 632478
Jurnal Komunikasi Massa terbit dua kali dalam setahun, diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta sebagai media wacana intelektualitas bagi pengembangan Ilmu Komunikasi. Dewan Redaksi mengundang para pengajar, peneliti, dan praktisi bidang komunikasi dan media massa untuk mengirimkan tulisan baik berupa artikel ilmiah maupun hasil penelitian. Syarat penulisan artikel tercantum di halaman sampul belakang. Dewan Redaksi berhak menyeleksi dan mengedit naskah tanpa mengurangi esensi isi.

Jurnal

Vol. 2 No. 2 Januari 2009 ISSN: 1411-268x

DAFTAR ISI
Visi jurnalisme publik dalam demokratisasi politik .................................................................. 91 Mursito Quo-vadis kekerabatan Malaysia-Indonesia? ..... 97 Musafir Kelana & Abubakar Eby Hara Perang dalam tata kehidupan antarbangsa .......... 112 Totok Sarsito The economic strategies Pursued by Moro Islamic Liberation Front (MILF) for self-determination in the Southern Philippines ................................. 127 Shamsuddin L. Taya The importance and functional role of qualitative audience analysis within the stakeholders of Malaysia screen industry ..................................... 139 Hisham Dzakaria and Nuraini Yusoff Proposionalitas anggota DPRD: Kajian terhadap proses perekrutan anggota DPRD hasil Pemilu 2004 di Kabupaten Wonogiri .............................. 146 Dwi Tiyanto Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan FISIP Universitas Sebelas Maret ......................... 155 Surisno Satrijo Utomo Peranan teknologi komunikasi terhadap perubahan sosial .................................................................... 159 Sutopo Communication as culture ................................... 165 Pamela Nilan Online learning and the quality of learning in journalism course ................................................ 172 Sri Hastjarjo Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008 ....... 182 Widodo Muktiyo

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

iii

iv

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 91-96

Visi Jurnalisme Publik dalam Demokratisasi Politik
Mursito BM
Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstrak
Radio dan televisi bersinergi dengan telepon, kemudian membangun sebuah institusi yang populer disebut “dialog interaktif”. Di bawah payung kebebasan, ketiganya menggerakkan demokrasi. Publik radio atau televisi, yang di masa Orde Baru dibuat “diam”, kini dirangsang untuk aktif berbicara. Kebebasan dan telepon membuat akses publik ke media menjadi semakin besar, membuat orang yang kritis dan aktif menjadi semakin banyak. Jurnalisme publik mendapatkan ”tempatnya” dalam proses demokratisasi ini. Yakni membangun realitas berdasarkan agenda publik, yang berarti “mendekatkan jarak” antara realitas media dengan realitas empirik. Kata kunci: jurnalisme publik; bajir informasi; konstruksi realitas

Pendahuluan Masyarakat post-industrial adalah masyarakat yang sebagian besar warganya bekerja di sektor informasi. Seseorang mengungkapkan klaim ini dengan nada bangga, tetapi seseorang yang lain dengan rasa skeptis. Namun keduanya sama-sama merasakan adanya limpahan informasi yang demikian banyak ke masyarakat, hasil pasokan media. Situasi ini lazim diformulasikan sebagai “banjir informasi” segala macam informasi mengalir ke rumah kita, banyak sekali, menggenangi lingkungan kita. Mereka yang mendapat banyak manfaat dari banjir informasi ini membuat ilustrasi begini; Jika sekarang saya memerlukan informasi tentang model rumah dari pelbagai bangsa di seluruh dunia, dengan cepat akan saya dapatkan. Saya pergi ke perpustakan, atau membuka pel-bagai situs internet. Dalam waktu dua atau tiga jam informasi itu terkumpul, sekeranjang. Tetapi jika hal yang sama saya lakukan, katakanlah 100 tahun yang lalu, keadaannya akan

lain. Saya mungkin memerlukan waktu satu tahun atau lebih sebab saya harus pergi secara fisik keliling dunia, berjalan kaki bergantian dengan naik perahu layar. Neil Postman dalam bukunya “Menghibur Diri Sampai Mati” memberi catatan kritis tentang situasi banjir informasi ini. Ada fenomena yang ia sebut informasi bebas konteks bahwa nilai informasi tak perlu dikaitkan dengan fungsi apapun yang dapat dilayaninya dalam pengambilan keputusan sosial-politik. Nilai informasi tersebut dapat berupa aktualitas, daya tarik, dan rasa ingin tahu yang ditimbulkan. Informasi menjadi komoditas, sesuatu yang dapat dibeli dan dijual tanpa hubungan dengan kegunaan maupun maknanya (Postman, 1995:76). Ungkapan terkenal dari Coleridge, yang dikutip Postman, yakni “begitu banyak air di mana-mana tanpa ada yang bisa diminum”, dapat dijadikan metafor mengenai lingkungan informasi yang terdekontekstualisir: dalam lautan informasi, hanya sedikit yang dapat di-gunakan.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

91

Mursito : Visi Jurnalisme Publik dalam Demokratisasi Politik

Tesisnya adalah, informasi mendapatkan posisi pentingnya dari kemungkinan adanya tindak yang diambil berdasarkan informasi yang diterimanya. Dengan rumusan lain: ratio informasi - aksi. Dari sekian banyak informasi yang disampaikan media, informasi apa (saja) yang membuat kita bertindak? Beberapa di antaranya dapat kita catat. Berita tentang kenaikan harga bensin yang diberlakukan mulai nanti malam pukul 00.00, contohnya, membuat mobil-mobil, temasuk yang mewah, berkerumun di sekitar SPBU; berita tentang tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogya menggerakkan aksi kemanusiaan. Ada aksi setelah menerima informasi. Tetapi kita tahu, jauh lebih banyak informasi media yang tidak melahirkan tindakan. Selain banjir informasi, ada problem serius pada media, khususnya televisi, mengenai program informasinya. Jurnalisme memilahkan dengan tegas fakta dan opini, seperti yang masih kita lihat di koran. Tetapi infotainmen yang diklaim sebagai program jurnalisme mengaburkan batas keduanya. Jurnalisme bekerja berbasis fakta tetapi infotainmen membuat gosip diberlakukan sebagai fakta. Jurnalisme media cetak menggunakan simbol huruf-huruf tersusun sebagai media pengantar informasi, infotainmen memakai perempuan berpakaian “model tertentu” sebagai “media” informasinya. Jurnalisme menggunakan kata kunci obyektivitas, infotaimen menggunakan kata kunci menarik. Jurnalisme merangsang intelektualitas, infotainmen memprovokasi emosi dan nafsu. Jika kita melihat layar monitor televisi, akan terlihat hal yang menarik bagi seseorang, tetapi absurd bagi seseorang yang lain. Di bagian atas, di sudut kiri ada logo stasiun TV bersangkutan, sementara di sudut kanan ada informasi mengenai program yang ditawarkan. Di bagian bawah, tertayang news sticker, disusul di atasnya ada iklan; Di atasnya lagi adalah caption program berita, atau teks film asing. Maka, seseorang yang lain lagi mengibaratkan menonton televisi seperti menikmati makanan ringan: rasanya ramai-ramai. Deskripsi singkat situasi media televisi ini dimaksudkan sebagai pengantar, tetapi juga bahan pertimbangan, bagaimana kita memposisikan misi pendidikan pemilih melalui media elektronika. Kita akan berhadapan dengan kultur televisi kita yang karakter jurnalismenya sedikit terpapar di atas; kita dihadapkan pada situasi yang menempatkan program jurnalistik
92

tidak pada posisi dominan (tidak sebagaimana yang kita lihat di media cetak); kita melihat sebuah institusi media yang mereduksi hampir semua programnya menjadi bernuansa hiburan. Namun tidak berarti tidak ada peluang, meskipun sulit. Kita akan telisik fenomena-fenomena yang memungkinkan kita bisa mewujudkan misi pendidikan pemilih ini, kemudian kita diskusikan. Jurnalisme (dan Forum) Publik Radio dan televisi, kini, bersinergi dengan telepon, kemudian membangun sebuah institusi yang populer disebut “dialog interaktif”. Di bawah payung kebebasan, ketiganya menggerakkan demokrasi. Publik radio atau televisi, yang di masa Orde Baru dibuat “diam”, kini dirangsang untuk aktif berbicara. Seorang “rakyat biasa”, melalui telepon dari rumah, bisa berdebat dengan para pakar atau politisi dan disiarkan secara langsung media televisi atau radio. Ada semangat baru, ada greget untuk berpendapat dan berbeda pendapat. Dari sini wacana publik dibangun. Fenomena ini terjadi di mana-mana, dari pusat hingga ke daerah, dari topik resep masakan hingga ke topik politik yang panas. Di beberapa radio swasta dan radio Pemda di Solo, dialog interaktif mengambil waktu diantara pemutaran kaset wayang kulit. RRI, nasional dan lokal, secara rutin menyelenggarakan dialog interaktif, dengan pelbagai topik yang didasarkan pada berita media (news peg). Dialog interaktif telah menjadi “budaya media” baru di kalangan media penyiaran, baik radio maupun televisi. Kita sedang menyaksikan masyarakat yang sedang menggunakan haknya dan menjalankan sebuah peran penting: partisipasi (politik). Kebebasan dan telepon telah membuat media massa berubah, dari “searah” (one way) ke “dua arah” (two way) interaktif. Dari siaran tunda ke siaran langsung. Kebebasan dan telepon membuat akses publik ke media menjadi semakin besar, membuat orang yang kritis dan aktif menjadi semakin banyak. Tidak hanya dalam pengertian rakyat menjadi subyek berita, tetapi juga warga masyarakat “memberitakan dirinya” ke media. Yang pertama perlu digarisbawahi dari fenomena empirik di atas adalah peran teknologi telepon dan radio atau televisi yang ternyata menjadi lebih produktif ketika dioperasionalkan pada setting masyarakat bebas. Yang

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Mursito : Visi Jurnalisme Publik dalam Demokratisasi Politik

kedua, dialog interaktif tercipta karena topik yang ditetapkan menarik minat publik. Ia diminati berkat isu yang dipilih dalam pemberitaan media sesuai dengan minat publik. Dengan kata lain, agenda media sesuai dengan agenda publik, atau agenda media mencerminkan ageda publik. Ketiga, dialog interaktif adalah bukti bahwa kalau ada akses langsung ke media, publik akan “masuk” memanfaatkannya. Ketika media ditekan, seperti yang terjadi di era Orde Baru, media akan berfikir seribu kali untuk memberikan akses langsung ke publik. Media terpaksa menyeleksi dan mengedit dengan ketat setiap opini yang dijadikan berita. Meluasnya akses langsung publik ke media elektronika juga kita saksikan melalui apa yang di media cetak dikenal sebagai “surat pembaca”, katakanlah “suara pemirsa”, bisa lewat telepon kabel, short message service (SMS) telepon seluler, atau e-mail. Berita-berita tentang pemilihan gubernur harus bisa menciptakan suasana di mana publik aktif berakses langsung ke media, menggunakan “forum” yang media wajib menyediakan. Fenomena ini, fenomena dibukanya akses langsung media, sungguh sesuai benar dengan “anjuran” Bill Kovach (2001: 172) bahwa media harus menciptakan dan menjadikan dirinya sebagai forum publik. Berita-beritanya harus merangsang publik untuk berdialog, berdiskusi, baik di forum-forum masyarakat maupun di forum yang ada dan diciptakan media. Kovach memaparkan proses terbentuknya forum publik begini; Ini dimulai dari laporan awal yang di dalamnya wartawan mengingatkan publik akan sesuatu peristiwa atau kondisi di komunitas misalnya ada keributan antar pendukung kandidat gubenur. Laporan ini bisa saja berisi analisis yang menyebutkan dampak yang mungkin timbul. Konteks mungkin dihadirkan untuk perbandingan atau kontras, dan editorial yang membarenginya bisa saja mengevaluasi informasi tersebut. Kolumnis mungkin menghadirkan komentar pribadi untuk persoalan ini. Semua bentuk medium yang dipakai wartawan sehari-hari bisa berfungsi untuk menciptakan forum di mana publik diingatkan akan masalah-masalah penting mereka sedemikian rupa sehingga mendorong warga untuk membuat penilaian dan mengambil sikap. Rasa ingin tahu membuat orang bertanya-tanya sesudah

membaca liputan acara-acara yang sudah terjadwal, pembeberan penyimpangan, atau reportase tentang suatu kecenderungan yang berkembang. Saat publik mulai beraksi terhadap pembeberan ini, suara publik pun mengisi komunitasdi acara radio yang menyiarkan telepon dari pemirsa, acara bincang-bincang televisi, opini pada halaman op-ed (opinion and editorial page). Saat suara-suara itu terdengar oleh yang berwenang, mereka menaruh perhatian untuk memahami perkembangan opini publik seputar suatu subyek. Persoalannya adalah, ada “prinsip” dalam jurnalisme yang bisa jadi kurang mendukung kehendak untuk membangun forum publik ini. Dalam memproduksi berita, media akan memilih peristiwa berdasarkan kriteria yang dikenal sebagai news value. Salah satu yang masuk dalam kriteria ini adalah prominence (berhubungan dengan ketenaran). Dalam pilkada, para balon dan calon kepala daerah tentu lebih banyak diberitakan karena lebih prominence ketimbang anggota publik. Di sisi lain, media bekerja untuk kepentingan publik. Bahkan ketika ada konflik antara elit dan publik, media harus “berfihak” untuk “membela” kepentingan publik. Keberfihakan kepada publik harus diperjuangkan dengan menyuarakan kepentingan publik melalui beritaberitanya. Inilah salah satu argumen pentingnya kita mengembangkan jurnalisme publik (public journalism). Di sini ada paradoks antara berita yang hanya berdasarkan kriteria news value dan prinsip jurnalisme publik. Pada berita yang mendasarkan pada news value, pers seakan-akan “berfihak” kepada elit. Ia hanya memberitakan tokoh-tokoh yang masuk dalam kriteria prominence. Pada kampanye pilkada, berita-berita media akan dipenuhi oleh para kandidat kepala daerah beserta peristiwa yang “diciptakannya” jika prominence menjadi kriteria utamanya dalam kebijakan pemberitaannya. Artinya, media berfihak kepada elit. Kesan lain yang bisa muncul adalah, media bersifat “pasif” karena hanya memberitakan peristiwa yang sifatnya “given”. Ini berbeda dengan jurnalisme publik, yang menuntut aktif dalam “menggali” aspirasi publik. Dikatakan “menggali” karena aspirasi publik tidak semanifest aspirasi elit yang dengan mudah ditemukan. Maka, pers dituntut aktif mendorong warga negara untuk berpartisipasi dan terlibat da93

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Mursito : Visi Jurnalisme Publik dalam Demokratisasi Politik

lam wacana mengenai public affair. Dengan jurnalisme publik, agenda media tidak ditentukan oleh para elit tetapi ditentukan oleh media berdasarkan public affair. Pada titik ini kita akan melihat aktualisasi media sebagai “kekuatan keempat”. Media akan menggunakan kekuatannya untuk mengembangkan iklim diskusi publik, yang bisa dimulai dengan menyediakan “ruang publik” di media itu sendiri. Rubrik-rubrik yang berhubungan dengan akses publik ke media diperluas, sehingga “suara publik” akan lebih dominan ketimbang suara elit. Pada tahapan lanjut, ketika ruang publik politis belum terbentuk di masyarakat, media mensponsori diskusi-diskusi publik. Dengan kata lain, medialah yang membantu menciptakan ruang publik politis di masyarakat. Jika ruang publik politis ini benar-benar memenuhi syarat inklusif, egaliter, dan bebas tekanan maka media mendapat bahan pemberitaan yang memungkinkannya menerapkan jurnalisme publik. Jurnalisme publik bisa strategis peranannya dalam memilih pemimpin (gubernur) yang tepat dalam Pilkada. Kenapa? Karena agenda media dalam jurnalisme publik berangkat dari agenda publik, yang didapatkannya dari diskusi publik di ruang publik politis, bukan “agenda kandidat kepala daerah.” Jika diskusi publik itu mengenai pilkada, maka agenda diskusi lebih ditekankan pada identifikasi permasalahan di daerah itu dan solusinya yang harus dikerjakan kepala daerah, serta kreteria kepala daerah seperti apa yang bisa menyelesaiakan permasalahan itu. Hasilnya adalah opini publik. Proses terciptanya opini publik ini selalu diberitakan media, sehingga publik juga tahu perkembangannya. Dengan opini publik berupa kriteria, maka rakyat akan mendapat “pegangan” untuk menentukan pilihannya. Para kandidat yang muncul akan dinilai berdasarkan kriteria opini publik itu. Dalam kondisi demikian, media menghadapi problem netralitas dalam pilkada. Melalui pemberitaan proses terbentuknya opini publik, tidak bisa tidak media akan “kelihatan” berfihak pada kandidat gubernur tertentu, yang sesuai dengan kriteria yang dibentuk oleh opini publik. Tetapi apa salahnya berfihak jika keberfihakan itu pada publik. Konstruksi Realitas Media memiliki fungsi pendidikan, tentu juga termasuk pendidikan untuk para pemilih.

Alat untuk menjalankan pendidikan itu adalah jurnalisme. Seperti diketahui, jurnalisme adalah kegiatan pengelolaan informasi mengumpulkan merumuskan, dan memformat peristiwa menjadi berita. Nilai-nilai, etika, dan kaidah, tentu menjadi pegangan. Persoalannya adalah, bagaimana jurnalisme bisa menjalankan fungsi pendidikan jika tugasnya hanya terbatas pada mengelola berita? Memang terbatas. Pendidikan yang dilakukan media terbatas pada upaya mengendalikan dan mengarahkan efek penyiaran informasi. Artinya, setiap informasi yang disiarkan media dipilih dan diformat demikian rupa sehingga menimbulkan efek seperti yang diharapkan. Pada umumnya yang diharapkan efek penyiaran informasi adalah pemahaman, kesadaran, dan tindakan. Informasi tentang pilkada, umpamanya, menimbulkan efek pemahaman, kesadaran, dan tindakan memilih; dapat menciptakan suasana persaingan yang sehat, meminimalisasi konflik dan tindak kekerasan. Dan, seperti dipaparkan di atas, berita-beritanya mampu merangsang publik untuk berwacana dalam forum-forum yang diciptakan media. Dalam praktik tentu tak sesederhana itu. Bagaimana jurnalisme dapat melakukan pekerjaan itu? Jawabnya ada pada esensi jurnalisme: bagaimana jurnalisme mengkonstruksi peristiwa menjadi berita; bagaimana jurnalisme mentransformasi realitas empirik menjadi realitas simbolik. Jurnalisme memiliki infrastruktur untuk melakukan pekerjan itu. Kita diskusikan elemen-elemennya, serta proses bagaimana realitas empirik itu menjadi realitas simbolik, yang berarti juga realitas media. Berita adalah laporan tentang peristiwa, bukan peristiwanya itu sendiri. Dengan definisi ini hendak dikatakan, peristiwa tidak sama dengan berita. Suatu kejadian besar ledakan bom di mal, misalnya tetap akan menjadi kejadian dan tidak menjadi berita jika tidak ada wartawan yang dapat meliput dan menyiarkannya di media. Dengan bahasa lain, berita adalah (hasil) konstruksi fakta dengan berdasarkan prisipprinsip jurnalisme. Klausa “berita tidak sama dengan peristiwa” tidak hanya berarti berubahnya realitas empirik menjadi realitas simbolik, tetapi juga berarti tereduksinya fakta oleh faktor-faktor yang oleh jurnalisme ditetapkan sebagai syarat. Yang utama adalah, fakta dalam suatu peristiwa diseleksi oleh apa yang dikenal sebagai news value,

94

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Mursito : Visi Jurnalisme Publik dalam Demokratisasi Politik

yakni fakta-fakta yang diasumsikan wartawan bernilai bagi publik. Dengan “hukum” ini, hanya peristiwa atau fakta bagian dari peristiwa tertentu saja yang dapat dijadikan berita. Konsekuensinya, sesungguhnya peristiwa-peristiwa yang disiarkan media hanya bagian kecil saja dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Konsekuenasinya lagi, sulit untuk mengatakan, berita di media merupakan representasi dari situasi masyarakat. Kecenderungan yang lain adalah adanya “pemadatan berita.” Lester Markel dari New York Times membuat metafor (Rivers, 1994: 98). Jika wartawan mengumpulkan 50 fakta, katanya, ia akan memilih 12 untuk diserahkan dalam beritanya. Jadi, ia menyisihkan 38 fakta. Kemudian, wartawan tadi atau redakturnya menentukan mana dari 12 fakta itu yang sebaiknya ditempatkan dalam alinea pertama dari beritanya. Dengan demikian menonjolkan satu fakta di atas 11 yang lain. Berikutnya, redaktur menentukan di halaman satu atau di halaman dua belas berita itu akan ditempatkan. Bila ditempatkan di halaman satu, berita itu akan menarik perhatian berlipat ganda dibandingkan bila ditempatkan di halaman dua belas. Tentu saja kita tahu, angka 12 atau 50 atau berapapun sekadar contoh, untuk menggambarkan proporsi fakta yang terkumpul dan yang dipangkas. Banyak fakta yang dipangkas karena alasan keterbatasan ruang dan waktu. Televisi dibatasi oleh waktu, koran dibatasi ruang. Di sisi lain, berita memang “hanya” merupakan potongan peristiwa. Berita tidak dapat mengcover seluruh peristiwa, bukan hanya karena keterbatasan ruang dan waktu, tetapi juga karena berita adalah realitas simbolik, yang tak bisa sepenuhnya merepresentasikan realitas empirik. Pemadatan berita yang berlebihan bisa menjadi masalah, sama halnya dengan peliputan yang berlebihan. Sebagian kritikus menuduh media terlalu memperhatikan masalah seksual, kejahatan, dan kekerasan. Berita mengenai skandal tokoh penghibur bisa mekar melebihi isi yang selayaknya diliput. Wartawan mudah tergoda untuk memperuncing fakta-fakta dengan menghilangkan frasa dari sebuah kutipan, memfokuskan suatu detail yang kecil tapi menyentil, atau dengan memancing kutipan-kutipan yang provokatif. Berita remeh temeh soal perceraian artis bisa memakan waktu berharihari di program infotainmen kita.

Bahaya yang mungkin timbul adalah, pemadatan berita mengandung resiko lepasnya fakta dari peristiwa. Fakta dilepas dari konteksnya. Tayangan televisi tentang unjuk rasa di Abenpura beberapa waktu yang lalu bisa dijadikan contoh. Perkelahian adalah fakta, sedang peristiwanya adalah konflik mengenai keberadaan Free Port. Jika hanya fakta perkelahian saja yang ditayangkan, pemirsa akan kehilangan konteks, akan sulit untuk memahami konflik di Abepura secara utuh. Lantas, bagaimana proses konstruksi peristiwa menjadi berita? Siapa yang paling berperan dalam proses konstruksi terebut? Yang paling berperan adalah komunikator profesional (DeFleur/Dennis, 1988: 23), yakni “orangorang media” itu sendiri atau dari institusi lain yang membentuk pesan dalam suatu format yang dapat ditransmisikan melalui media massa. Mereka adalah para spesialis yang memiliki keahlian khusus di bidangnya, seperti para produser, editor, reporter, wartawan, redaktur, dan bagian teknis, yang mengorganisiasi, mengedit, dan menyebarkan informasi, hiburan, drama, dan bentuk isi media yang lain. Umumnya mereka ada di rumah produksi (production house), perusahaan atau biro iklan. Dengan proses yang rumit dan kompleks ini, membuat media memiliki realitasnya sendiri, berbeda dengan realitas dalam komunikasi interpersonal. Media telah mengubah percakapan natural dalam komunikasi interpersonal, realitas sehari-hari, menjadi apa yang oleh Postman disebut “konversasi”. Demikian dahsyatnya media dapat mengubah bahkan memproduksi realitas sehingga Postman (1995:1819) sampai mengatakan: bentuk konversasi menyeleksi substansinya. Mirip dengan itu adalah premis McLuhan: the media is the message. Medium mendefinisikan perilaku komunikasi seseorang, menjadikan seseorang sebagai bagian dari konversasi. Bahasa media dengan demikian adalah konversasi. Dalam menngkonstruksi fakta, prinsip yang paling sering disebut adalah obyektivitas. Tugas jurnalisme media adalah menyajikan fakta yang obyektif, yang tidak dicampuri opini wartawannya. Obyektivitas berita sering difahami seperti itu, bahwa berita yang obyektif adalah berita yang disamping berdasarkan fakta di lapangan, juga fakta yang tidak dimasuki opini wartawan. Tentu saja kita setuju. Namun mungkinkah obyektivitas semacam itu?
95

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Mursito : Visi Jurnalisme Publik dalam Demokratisasi Politik

Obyektivitas dalam jurnalisme merupakan sebuah “aturan main” tentang representasi fakta. Intinya tetap pada pengelolaan fakta, faktualitas, yang memiliki dimensi kebenaran dan relevansi. Fakta dalam berita harus benar, dalam arti lengkap dan akurat. Substansi peristiwa terliput. Tetapi berita juga sering memuat fakta yang tidak ada relevansinya dengan pokok soal yang diberitakan. Sebagai misal, dua orang sopir angkot berkelahi karena rebutan penumpang, seorang di antaranya tertusuk senjata tajam hingga meninggal. Dalam berita tentu disebutkan fakta-fakta yang relevan dengan perkara ituidentitas keduanya, duduk selehnya perkara, dan sebagainya. Tetapi ketika dalam berita itu disebutkan asal etnis dan agama yang kebetulan berbeda dari dua sopir itu, berita jadi bias. Apa relevansinya rebutan penumpang dengan latar belakang etnis atau agama? Ini bisa menyulut konflik lanjutan. Dimensi obyektivitas lain yang paling sering disebut adalah keberimbangan (cover both side) atau fairness dan netralitas. Berita yang obyektif adalah berita yang menggunakan sumber-sumber yang berimbang agar didapat netralitas. Kasus Raju, anak yang bertengkar dengan tetangganya kemudian ditahan satu ruangan dengan tahanan orang dewasa, bisa dijadikan contoh. Di televisi, kita hanya melihat tayangan Saju yang menangis di gendongan ayahnya karena takut masuk ruang pengadilan, atau simpati tokoh atas teraniayanya anak ini. Kita tak pernah menyaksikan tayangan “fihak” lawan bertengkar Saju. Ini tidak fair. Penutup Tugas media adalah membantu mendefinisikan komunitas. Membantu merumuskan, bukan merumuskan. Media tidak bisa mengambil keputusan sendirian dalam merumuskan komunitas ini. Relitas yang hendak dijadikan berita harus merupakan hasil kerjasama media dengan publiknya. Dengan kata lain, realitas media adalah hasil rumusan intersubyektivitas media, sumber berita, fakta peristiwa, opini warga, dan mereka yang terlibat dalam peristiwa itu. Jika demikian, fakta hasil intersubyektivitas memungkinkan digalinya “kebenaran” di balik fakta. Dalam bahasa Peter du Toit (2000:10), “kita mencari fakta, baik fakta sebenarnya maupun kebenaran di balik fakta”. Pernyataan sunber berita tentang fakta bukan peni-

laiannya tentang fakta harus dicek “kebenarannya” lewat infrastruktur jurnalisme yang lain. Observasi dan investigasi, misalnya. Nilai-nilai jurnalisme yang lain adalah, kita memberi informasi yang mereka butuhkan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat dan kewarganegaraan. Memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat berarti meliputi semua aspek kehidupan masyarakat, tentang hak dan kewajibannya sebagai warganegara. Rakyat perlu tahu informasi yang dibutuhkan untuk memutuskan, misalnya, siapa yang memimpin negeri ini. Media juga memiliki peran membantu masyarakat “mengerti dunia.” Media perlu memberi informasi sehingga rakyat tahu tentang kehidupannya dalam konteks social, politik, kultural yang lebih luas. Media menjelaskan sistem sosial, sistem politik, kultur yang ada di komunitas atau dunia lain yang berbeda dengan lingkungannya. Tujuannya bukan menunjukkan “keanehannya” melainkan menyebarkan pengertian. Yang harus diingat adalah, media tidak hanya menyiarkan informasi yang diperuntukkan khusus bagi suatu komunitas atau kelompok tertentu. Media massa bersifat umum, artinya ditujukan kepada umum, sehingga kepadanya media ditujukan. Dengan demikian, informasi tentang suatu komunitas suku atau kelompok penganut agama, misalnya bukan hanya dibaca oleh kelompok itu tetapi juga dibaca oleh semua audiens. Media juga bukan mediator dalam konflik dua kelompok pendukung kandidat gubernur, misalnya. Oleh karena itu, tanggungjawabnya bukan kepada dua kelompok yang berkonflik sebagaimana tanggungjawab mediator. Media bertanggungjawab kepada audiens keseluruhan. Daftar Pustaka DeFleur, D. (1988). Understanding Mass Communication. Boston: Houghton Mifflin. Kovach, B. & Rosentiel, T. (2001). ElemenElemen Jurnalisme. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Postman, Nl. (1995). Menghibur Diri Sampai Mati. Jakarta: Sinar Harapan. Rivers, W.L. & Mathews, C. (1994). Etika Media Massa. Jakarta: Gramedia. Toit, P. (2000). Reportase untuk Perdamaian. Jakarta: Internews.

96

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 97-111

Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?
Musafir Kelana & Abubakar Eby Hara
Fakulti Pengajian Antarabangsa Universiti Utara Malaysia

Abstrak
Prinsip kekerabatan atau kinship dipandang penting dalam hubungan dua negara serumpun Indonesia-Malaysia. Namun di balik asumsi umum ini, jarang ada kajian yang membahas masalah ini secara spesifik dan proposional. Dalam paper ini, para penulis melihat bahwa konsep kekerabatan tidak dapat difahami sebagai sebuah konsep yang indah terlepas dari konteks hubungan yang berlaku. Dalam konteks kedaulatan sebagai negara merdeka, kinship seringkali tidak bermakna, namun dalam konteks kerjasama kawasan, prinsip keserumpunan sebenarnya merupakan salah satu cara yang telah membantu diplomasi kerjasama yang saling menghormati dan tenggang rasa, baik antara Malaysia dan Indonesia maupun dalam kerjasama ASEAN. Para penulis juga melihat bahwa kekerabatan bisa menjadi landasan kerjasama Malaysia-Indonesia untuk jangka panjang. Dengan prinsip serumpun, kedua-dua negara dapat membuat suatu visi bersama untuk membangun kesejahteraan bersama. Visi ini bukan suatu utopia karena dalam sejarahnya keduadua negara pernah saling membantu dan menyokong satu sama lain dalam bidang pendidikan misalnya. Sumber daya, baik manusia maupun sumber daya alam yang kaya, boleh saling melengkapi di masa depan terutama untuk menghadapi cabaran dunia internasional. Namun visi jangka panjang ini seringkali terganggu oleh kepentingan jangka pendek di kedua-dua negara yang memanfaatkan berbagai isu seperti pekerja dan masalah sosial mereka untuk kepentingan politik kelompok semasa. Untuk mengatasi hal ini sebuah payung kerjasama jangka panjang berupa 'visi kerjasama serumpun 2050' misalnya perlu segera dirintis.
Kata kunci: kekerabatan Indonesia-Malaysia, visi bersama, kesejahteraan bersama, visi kerjasama serumpun 2050.

Pendahuluan Hubungan Malaysia-Indonesia ini sering dilihat sebagai hal yang unik karena adanya hubungan budaya, kekerabatan dan sejarah yang dekat antara kedua-duanya. Istilah-istilah yang dipakai seperti hubungan 'adik-beradik', 'kawan 1 dalam suka dan duka' (Fachir 2007), kemudian bak kata pepatah 'dekat di mata, dekat di hati' (Ayip 2007), menandakan suatu hubungan yang akrab dan mencerminkan suasana kejiwaan pe-

mimpin kedua negara. Para pengamat di Malaysia pun suka menggunakan istilah ini, yang mana Malaysia menganggap Indonesia sebagai abang (big brother) dan sebagai adik, Malaysia kadang-kadang perlu meminta nasehat kepada abangnya. Karena adik beradik pula lah mereka sering terlibat pertengkaran yang tentu saja akan diselesaikan secara kekeluargaan (Liow 2005: 26; Ishak 2007).

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

97

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

Pada satu sisi kondisi kekerabatan ini nampaknya melahirkan sentimen dan kecenderungan positif dalam hubungan kedua-dua negara. Sejak mereka berkuasa tahun 2005 sampai November 2007 misalnya, Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, sudah tujuh kali melawat Indonesia; manakala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkuasa tahun 2004 pula telah empat kali mengunjungi Malaysia, dan Timbalan Presiden, Jusuf Kalla telah tujuh kali melawat negara ini (Ayip, 2007). Di tahun 2007 Badawi mendapatkan bintang mahaputra Adi Pradana yang merupakan bintang tertinggi yang diberikan kepada pemimpin negara asing oleh Indonesia. Sebelumnya Badawi juga datang mengucapkan pidato Doctor Honoris Causa (Dr. HC) tentang Islam Hadari di salah satu Universitas Islam terkemuka Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dalam kunjungan ke Jakarta, PM Badawi menyebutkan hubungan persaudaraan negara serumpun itu ibarat dua kawan di masa senang dan susah (Kompas, 22 Februari 2007). Dari pihak Indonesia, Wakil Presiden Yusuf Kalla juga mendapat gelar Dr. HC dari Universiti Malaya. Namun pada sisi lain, kekerabatan ini sering pula melahirkan sentimen negatif dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Dalam level masyarakat ketegangan sering terjadi. Masyarakat Indonesia melakukan protes terhadap apa yang sering dipandang sebagai kesewenangwenangan, pelecehan dan penghinaan Malaysia terhadap bangsa Indonesia dalam beberapa kasus seperti pemukulan, penyiksaan tenaga kerja, penangkapan orang Indonesia di Malaysia dan penggunaan hasil karya bangsa Indonesia tanpa izin. Sementara di kalangan masyarakat Malaysia, hal-hal ini dianggap sebagai hal biasa, atau mungkin wajar untuk menertibkan orang Indonesia yang dikenal mereka sebagai bangsa yang tidak kenal aturan, sering melakukan kejahatan dan selalu menimbulkan masalah sosial di negeri mereka. Dalam anggapan sebagian masyarakat Malaysia, kalau bukan karena ada hal-hal berkaitan dengan imigran ini, negeri mereka seharusnya aman dan tertib. Dengan demikian, di sebalik persepsi keserumpunan yang indah dalam kata-kata, dalam praktek dan sejarah hubungan Indonesia-Malaysia, sebetulnya realitas hubungan seperti yang terjadi sekarang sangat kompleks. Berba-

gai masalah dan ketegangan sering terjadi secara berulang. Masalah itu bisa dipicu soal perbatasan, soal persaingan di kawasan, masalah persepsi yang berbeda tentang kawasan dan juga soal para pekerja Indonesia di Malaysia. Sejarah menunjukkan dua negara pernah mengalami Konfrontasi yang serius semasa Sukarno, kemudian sengketa yang dipicu soal Tenaga Kerja Indonesia (TKI), setelah itu ada ketegangan karena pulau Sipadan dan Ligitan yang kini menjadi milik Malaysia. Paling akhir adalah soal klaim terhadap blok laut Ambalat. Masalah-masalah seputar TKI dan Ambalat masih menjadi api dalam sekam yang bisa memanas setiap saat. Kenyataan bahwa ketegangan sering berlaku antara kedua-dua negara, menimbulkan pertanyaan seberapa jauh konsep kekerabatan sebenarnya bisa dipakai dan berlaku dalam menjelaskan hubungan kedua-dua negara. Dengan kata lain, seberapa jauh kah persaudaraan dan kekerabatan bisa menggatasi kesenjangan (gap) dan jurang perbedaan di antara kedua-dua negara berdaulat ini? Potensi apa kah yang dapat dikembangkan dari konsep kekerabatan yang memang sudah ada sejak lama di keduadua negara? Makalah ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Asumsi utama dari tulisan ini adalah bahwa konsep kekerabatan atau serumpun memang memiliki kegunaan terbatas dalam hubungan kedua-dua negara dan lebih tepat dilihat sebagai sebuah alat diplomasi dalam hubungan keduadua negara dan bukan sebagai tujuan. Konsep kekerabatan cenderung tidak berlaku dan kehilangan makna ketika kedua-dua negara menegakkan kedaulatan. Namun sebagai sebuah alat diplomasi, dalam kadar tertentu kekerabatan dapat berkembang menjadi bagian dari kultur strategis (strategic culture)2 dalam hubungan kedua-dua negara. Hubungan kekerabatan juga bisa menjadi landasan bagi pengembangan visi strategis untuk menghadapi cabaran globalisasi di hadapan kedua-dua negara. Makalah ini dibagi empat bagian. Bagian pertama adalah perbincangan tentang konsep kekerabatan dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Diikuti dengan pembahasan tentang hubungan antara kinship dengan kedaulatan. Bagian ketiga melihat potensi kinship sebagai bagian dari stragic cultures kedua-dua negara. Bagian keempat adalah tentang kinship dan po-

98

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

tensi yang dapat dikembangkan dalam membangun hubungan kedua-dua negara di masa mendatang. Konsep Kekerabatan: dari Melayu ke Serumpun Dalam istilah sosiologis hubungan yang bersifat persaudaraan yang ditandai dengan persamaan budaya dan juga keturunan sering disebut dengan hubungan kinship atau kekerabatan. Orang sering menganggap fenomena demikian sebagai unik karena jarang dijumpai di dunia internasional. Namun demikian sebenarnya ada beberapa negara yang berhubungan darah dan budaya seperti Jerman Barat dan Timur, Vietnam Utara dan Selatan, lalu Yaman Utara dan Selatan yang kini semua telah bersatu kembali. Negara-negara Arab yang terpecah dalam banyak negara, Korea Utara dan Selatan juga sebetulnya berada dalam satu kekerabatan. Tetapi negara-negara yang disebut terakhir ini tetap mempertahankan identitas masing-masing bahkan ikatan kekerabatan emosional di negara-negara itu telah hampir hilang karena kuatnya sosialisasi sebagai negara-negara berdaulat dalam membentuk identitas, nasionalisme, ideologi dan sentimen lainnnya. Dengan kata lain negara-negara ini tidak melihat kinship sebagai bagian utama dari budaya strategis yang dikembangkan mereka. Dalam hubungan Malaysia-Indonesia, konsep 'kekerabatan kakak beradik' atau 'teman dalam suka duka' berkaitan dengan konsepkonsep budaya yang saat ini mulai menjadi perhatian para pengaji studi hubungan internasional. Namun konsep kinship sering disalahmengerti sebagai akan berpengaruh langsung terhadap hubungan dua negara. Konsep ini mestinya diletakkan dalam suatu konteks mengapa ia menjadi penting, tidak penting atau berpotensi untuk menjadi penting. Ia menjadi penting tergantung interpretasi dominan yang tercipta pada satu masa dan konteks tertentu. Sejauh ini ada dua interpretasi tentang konsep kekerabatan. Yang pertama adalah melihat konsep ini sebagai sebuah situasi nyata dengan analogi keluarga dan dianggap signifikan dalam hubungan kedua-dua negara. Yang kedua adalah melihat konsep ini secara dinamik sebagai sesuatu yang selalu berkembang dengan interpretasi yang berbeda, baik di Indonesia maupun Malaysia. Walaupun kedua-dua pemaham-

an ini, sebagaimana akan dijelaskan, memiliki keterbatasan dalam menjelaskan hubungan kedua-dua negara, namun pendekatan kedua lebih kuat untuk menjelaskan makna kekerabatan dalam hubungan Malaysia-Indonesia. Sebagai sebuah realitas, memang tidak dapat dipungkiri ada hubungan kekerabatan serumpun kedua-dua negara. Kedua-dua negara memiliki kaitan darah (blood-brotherhood), budaya dan hubungan famili, dan karena itu sering disebut juga sebagai negara serumpun. Persamaan budaya antara orang Melayu di kedua-dua negara paling terasa di hampir semua daerah Melayu Malaysia dan di daerah seperti Sumatera serta sebagian Kalimantan di Indonesia. Orang-orang keturunan Indonesia pun banyak yang menjadi warga negara dan menjadi orang penting di Malaysia. Hikayat-hikayat lama juga menceritakan satu kawasan Melayu yang meliputi Malaysia dan sebagian Indonesia. Lebih jauh lagi bahkan Wallace dalam Zain (2003: 130) mentakrifkan bahwa yang disebut Melayu bukan saja meliputi Malaysia dan Indonesia, tetapi juga keseluruhan rantau Asia Tenggara sampai ke Pulau Solomon di Tenggara dan Luzon di Utara. Mereka disebut Melayu karena mempunyai ciri-ciri fisik yang sama dan akar aksara (huruf abjad) yang sama sejak jaman Sriwijaya dulu (Zain 2003). Namun dalam pemahaman konsep kekerabatan sebagai sebuah realitas, sejak awal konsep ini sebenarnya mudah memicu kemarahan (rentan) terhadap manipulasi dan politisasi. Istilah Melayu semakin berubah makna semantiknya terutama ketika Indonesia dan Malaysia atau Persekutuan Tanah Melayu menjadi negara merdeka. Definisi Melayu menjadi lebih sempit lagi ketika di Malaysia ia dibatasi hanya pada mereka yang mengamalkan budaya Melayu dan beragama Islam, karena kepentingan kelompok-kelompok politik di dalam negeri negara itu. Perluasan makna Melayu seperti asal-usulnya yang luas menjadi tidak mungkin lagi karena akan ditentang oleh kelompok politik seperti UMNO yang mendapatkan keuntungan politik dari definisi sempit Melayu sekarang. Jadi cukup jelas bahwa konsep Melayu dan kekerabatan Melayu tidak dapat difahami secara esensial lagi karena perkembangan yang ada. Sejalan dengan itu konsep kekerabatan juga seringkali dijadikan sebagai sopan-santun (basa-basi) politik dan alat untuk mencapai tu-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

99

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

juan tertentu. Jepang sebagai contoh pernah memanipulasi konsep persaudaraan, untuk tujuan menguasai Asia Tenggara. Istilah kekerabatan misalnya digunakan oleh Jepang sebagai Saudara Tua bagi negara-negaraAsia. Tetapi sangat jelas istilah itu hanya dipakai sebagai janji palsu Jepang untuk manipulasi dan alat legitimasi bagi kehadiran Jepang sebagai penjajah di Asia. Itu adalah bagian dari ambisi Jepang untuk menciptakan wilayahAsia Timur Raya. Walaupun istilah kakak adik yang dipakai dalam hubungan Malaysia-Indonesia tidak mengacu pada istilah yang dipakai Jepang, konsep ini melukiskan suasana yang sangat terbatas dan tidak menjelaskan keadaan dari hubungan kedua-dua negara. Dalam istilah kakak adik diasumsikan adanya suasana dalam satu keluarga atau serumpun. Dalam asumsi demikian, banyak persoalan bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan tenggang rasa. Ketegangan yang muncul dianggap sebagai bagian dari masalah keluarga yang bisa terjadi. Adalah hal biasa kalau adik dianggap merajuk kepada abangnya, sebaliknya kalau abang marah, itu juga dianggap wajar karena dia dianggap saudara lebih tua. Dari pandangan ini, sebenarnya konsep ini hanya terbatas sebagai alat untuk mengingatkan bahwa kita ini masih kerabat sehingga harus mengatasi konflik. Namun konsep ini tidak dapat mencegah konflik, seperti pada masa Soekarno, masalah pekerja dan soal sengketa kepulauan. Dengan demikian sulit untuk mencari hubungan kausal secara langsung antara konsep kekerabatan ini dengan harmoni ataupun konflik dalam hubungan kedua-dua Negara. Interpretasi kedua-dua tentang kinship adalah lebih kuat karena ia melihat konsep ini secara anjal (fleksible) sesuai dengan interpretasi dominan para pembuat keputusan di keduadua Negara. Konsep itu berkembang menuruti para penafsirnya di kedua-dua negara. Dalam perjalanannya konsep kekerabatan pada awalnya paling konkrit ditafsirkan oleh para pejuang kemerdekaan kedua-dua negara. Para tokoh ini bersimpati satu dengan lainnya dalam melawan penjajah. Pada tahun 1940-an di Malaysia, ada misalnya Burhanudin Al-Helmy, Ibrahim Yakoob, Ahmad Boestaman, Mokhtaruddin Lasso; dan, di Indonesia Muhammad Yamin, Mohammad Hatta dan Sukarno yang membin-

cangkan tentang bentuk kerjasama negara merdeka di Nusantara. Walaupun masing-masing kelompok mengajukan penamaan yang berbeda yakni Melayu Raya, Indonesia Raya dan kemudian juga Nusantara, di baliknya ada asumsi bahwa mereka adalah serumpun (Liow 2005: 23). Istilah Dunia Melayu menggambarkan lebih kuat lagi kedekatan kinship ini. Di sini pada mulanya setidaknya dalam cita-cita ada hal konkrit yang ingin dicapai dalam konsep serumpun Melayu ini. Namun kemudian kedua-dua konsep itu tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka karena kedua-dua negara mengembangkan konsepsi sendiri-sendiri dalam membentuk negara. Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan suku tidak mengembangkan konsep ini karena megesankan afiliasi etnik tertentu saja. Suku Melayu adalah satu kelompok suku di Indonesia yang terdapat di pulau Sumatera dan Kalimantan. Sementara di Malaysia, ada klaim terhadap keutamaan bumiputra dalam cita-cita politik di negara itu. Penyempitan konsep Melayu di Malaysia dirasakan penting bagi justifikasi kekuasaan di negara multirasial ini. Pendekatan kedua ini mencoba menjelaskan bahwa kinship terus mengalami interpretasi dan reinterpretasi yang berbeda antara tokoh di kedua-dua negara. Karena reinterpretasi yang berlanjut terus ini, para pengamat seperti Liow (2003: xii), menyimpulkan bahwa konsep kekerabatan tidak bisa menjelaskan atau tidak ada kaitannya dengan perdamaian dan konflik antara Indonesia dan Malaysia. Dengan kata lain kekerabatan Melayu bisa tetap ada, tetapi hubungan kedua-dua negara adalah masalah lain yang sulit dijelaskan dari aspek kinship ini. Pemahaman dan pendekatan Liow yang melihat konsep kekerabatan secara dinamik adalah menarik dan bisa menjadi acuan dalam memahami makna kekerabatan, tetapi kesimpulannya tentang pengaruh kekerabatan perlu dikaji ulang. Dalam menjelaskan hubungan Malaysia-Indonesia, Liow membatasi diri pada interpretasi tentang keserumpunan berdasarkan kemelayuan yang kemudian baginya menjadi kurang penting karena penyempitan konsep kemelayuan. Satu hal penting dalam perkembangan interpretasi konsep kekerabatan dan keserumpunan Melayu adalah mulai hilangnya atau penyempitan istilah Melayu itu sendiri dalam wacana hubungan kedua-dua negara. Namun

100

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

ada satu hal penting yang dilupakan disini yaitu istilah keserempunan Melayu memang perlahan-lahan hilang namun keserumpunan dalam pengertian lebih luas mulai berkembang dalam memahami hubungan Indonesia-Malaysia. Keserumpunan tetaplah diakui dan menjadi latar belakang hubungan kedua-dua negara. Keduadua negara secara implisit mengakui keberadaan keserumpunan itu yang tercermin dalam kata-kata seperti hubungan dalam suka dan duka, abang dan adik, atau dekat di mata dekat di hati. Dalam kata-kata itu kata-kata keserumpunan Melayu hanya menjadi latar belakang historis yang semakin jarang digunakan. Ia kini telah bertransformasi ke dalam hubungan keserumpunan Malaysia dan Indonesia sebagai sebuah negara dan tidak lagi terbatas pada konsep kemelayuan. Transformasi konsep kekerabatan Melayu menjadi konsep serumpun saja ini berjalan secara kontinyu seiring sejalan dengan penyempitan istilah Melayu dan perkembangan kedua-dua negara untuk menegakkan kedaulatan masing-masing, dan dalam pergaulan mereka sebagai negara merdeka di kawasan. Konsep keserumpunan atau kekerabatan Melayu semakin sirna terutama seiring dengan berkembangnya kedua-dua negara menjadi negara berdaulat penuh. Untuk melihat perkembangan konsep kekerabatan dalam hubungan kedua-dua negara, konsep ini mesti diletakkan dalam konteks di mana ia digunakan. Dalam tulisan ini kekerabatan akan ditempatkan dalam konteks kerangka penguatan kedaulatan dan dalam pembentukan budaya strategis oleh kedua-dua negara. Kinship dengan kata-kata 'Melayu' adalah salah satu faktor yang tidak mendapatkan tempat dalam penguatan kedaulatan negara, namun ia dalam pengertian luas kekerabatan antar negara mempunyai potensi dalam pembentukan strategic cultures kedua-dua negara, terutama sebagai alat dalam diplomasi regional. Kekerabatan dan Kedaulatan Dalam perjalanan sejarah Indonesia-Malaysia, kedaulatan mendapatkan sosialisasi yang kuat dan menjadi aspek penting sehingga mengalahkan aspek lain, termasuk kekerabatan dalam pembentukan identitas kedua-dua negara. Dalam tulisan ini kedaulatan diartikan bukan dalam bentuk yang sudah jadi bahwa negara

merdeka adalah negara berdaulat mutlak. Kedaulatan di sini difahami sebagai suatu proses sehingga tercipta otoritas dan kekuatan negara masing-masing negara dalam mewujudkan cita-cita nasional mereka. Perjalanan sejarah Indonesia dan Malaysia ditandai dengan persaingan dan perebutan dalam menegakkan kedaulatan, baik wilayah maupun otoritas sebagai negara merdeka. Sebagai negara bekas jajahan, pemerintah di kedua-dua negara harus memperjuangkan kedaulatan, baik ke dalam maupun ke luar. Di dalam negeri, mereka harus mengkonsolidasi diri sehingga otoritas pemerintahan bisa tegak dan persatuan nasional bisa diwujudkan. Mereka harus memastikan bahwa negara benarbenar berdaulat sehingga tidak ada lagi ancaman pemisahan diri atau separatisme. Ke luar negeri, negara-negara ini juga menata hubungan dengan negara lain sehingga keselamatan dan keamanan negara bisa terjamin dari serangan luar. Pengalaman sejarah kedua-dua negara dalam menegakkan kedaulatan negara berbeda. Dalam kaitan dengan pembentukan negara berdaulat, hubungan kekerabatan memang pernah secara signifikan menjadi salah satu faktor strategis yang mempengaruhi hubungan kedua-dua negara. Kekerabatan paling kuat ketika benihbenih nasionalisme muncul di negara-negara ini yaitu ketika mereka melawan penjajah untuk mecapai kemerdekaan. Persaudaran Melayu dicerminkan dengan keinginan untuk membentuk Melayu Raya sebagai negara merdeka yang meliputi pula Indonesia. Demikian juga ada citacita Indonesia Raya di mana Melayu menjadi bagian dari negara merdeka itu. Tetapi dalam perjalanan sejarahnya, citacita itu tidak pernah terwujud. Perjuangan kemerdekaan ala revolusi sosial yang banyak mengorbankan jiwa dan lebih jauh lagi menggusur feodalisme di Indonesia, kurang mendapat simpati dari mayoritas masyarakat di Malaysia. Sejalan dengan ini sebagaimana diungkapkan di atas penyempitan istilah Melayu ini pun terjadi. Melayu hanya mewakili sebagian suku di Indonesia sedangkan di Malaysia, Melayu didefinisikan secara lebih sempit lagi secara politik. Dengan penyempitan makna Melayu ini, pengaruh keserumpunan Melayu menjadi kurang relevan dalam hubungan kedua-dua negara. Walaupun perlahan mengalami perubahan, wa-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

101

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

cana hubungan kedua-dua negara bertransformasi tidak lagi menggunakan istilah keserumpunan Melayu tetapi hubungan normal sebagai dua negara yang berdaulat. Yang terjadi kemudian adalah perbedaan persepsi dalam penguatan kedaulatan ini. Indonesia memandang kedaulatan Malaysia seharusnya diperoleh melalui perjuangan yang genuine dengan melawan penjajah, bukan dengan mendapatkan hadiah dari penjajah. Ini kemudian berlanjut kepada Konfrontasi yang dimotori oleh Sukarno. Dalam konfrontasi, Sukarno yang marah dengan demonstrasi besar-besaran anti Indonesia seperti penistaan gambar dirinya, bendera Indonesia dan lambang negara, meminta dukungan masyarakat untuk mengganyang Malaysia (Sulaiman 2007). Di sebalik kampanye itu, terdapat tujuan berganda, yaitu selain mendiskreditkan Malaysia sekaligus juga untuk membangun kesatuan dalam negeri dengan mengandaikan musuh dari luar ini. Sukarno melakukan itu untuk menunjukkan wibawa Indonesia dan untuk memberikan kebanggaan kepada rakyat Indonesia akan kekuatan revolusi mereka. Dalam perspektif kedaulatan pula, kedua-dua Negara juga berbeda haluan ketika Malaysia bersimpati kepada kelompok-kelompok luar Jakarta untuk mendapatkan hak yang lebih besar dari pusat di tahun 1955-1960. Hubungan erat antara partai Islam Masyumi Indonesia dengan tokoh-tokoh Islam di Malaysia, telah membuat banyak kalangan di Malaysia bersimpati terhadap pemberontakan daerah-daerah terhadap pusat di tahun 1955-an. Strategi untuk memperkuat otoritas dan kedaulatan juga berbeda dalam menata keamanan kawasan Asia Tenggara. Memang Indonesia dan Malaysia adalah pendukung utama dalam pembentukan ASEAN karena melalui ASEAN kerjasama dan penyelesaian masalah bisa dikembangkan di kawasan. Mereka juga memegang teguh prinsip-prinsipASEAN untuk menghormati kedaulatan masing-masing negara. Namun dalam hal mempersepsikan ancaman terhadap ASEAN, kedua-dua negara mempunyai persepsi yang berbeda. Malaysia bagaimanapun melihat pentingnya kekuatan besar seperti Inggris dan Amerika Serikat dalam menjaga kestabilan. Ini dicerminkan dalam Pakta Lima Negara yang ditandatangani Malaysia, Singapura dengan AS, Australia dan New Zea-

land. Dalam ide ZOPFAN pada awalnya Malaysia menghendaki suatu jaminan dari negara-negara besar ini terhadap zona damai diASEAN. Indonesia sebaliknya melihat bahwa ASEAN harus mandiri dalam menjaga kestabilan kawasan. ASEAN bagi Indonesia harus bebas dari pengaruh asing melalui kekuatan negara-negara anggota sendiri. Konsep wawasan nasional dan wawasan regional menjelaskan pentingnya kekuatan dari kalangan negara per negara untuk mencegah ancaman dan campur tangan asing terhadap kawasan ini. Kesatuan dan integritas wilayah merupakan warisan sejarah yang sampai kini melekat kuat dalam pandangan politik Indonesia. Indonesia sangat khawatir akan negaranya yang kaya dengan berbagai pulau dan rawan infiltrasi. Weinsten (1976) mengistilahkan pandangan elit tentang Indonesia itu, sebagai seperti seorang gadis yang ingin digoda oleh banyak negara lain. Dalam konteks ini lah kedaulatan Indonesia atas pulau-pulau di garis perbatasan lautnya menjadi kekhawatiran besar. Lepasnya Sipadan dan Ligitan misalnya sangat disesali oleh banyak orang Indonesia. Lepasnya kedua-dua pulau itu sempat menyulut emosi masyarakat walaupun tidak sampai menyebabkan konfrontasi di kedua-dua negara. Demikian juga sengketa perbatasan laut di blok Ambalat telah membakar nasionalisme banyak orang Indonesia. Media Indonesia misalnya melaporkan peristiwa itu dengan liputan yang luas dan membakar perasaan nasionalisme masyarakat. Militer Indonesia juga sudah siap untuk diterjunkan bila ada konfrontasi militer. Pulau-pulau di garis perbatasan luar menjadi concern banyak pihak di Indonesia walaupun mereka kadangkala frustrasi dengan ketidakmampuan untuk menjaganya karena kekurangan teknologi dan kapal-kapal perang. Langkah-langkah Malaysia apalagi setelah lepasnya Sipadan dan Ligitan selalu dipandang curiga oleh masyarakat umum dan media Indonesia. Setelah kedua-dua pulau itu, mereka menganggap bahwa Ambalat merupakan target berikutnya dari Malaysia. Tidak mengherankan ketika terjadi peningkatan dinamika di laut itu karena Malaysia memberikan izin bagi perusahaan minyak Amerika untuk mengeksplorasi minyak di blok Ambalat kekhawatiran itu tambah besar. Ini diikuti pula dengan ketegangan di seputar wilayah laut itu dan terjadinya sedikit

102

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

benturan antar kapal Malaysia dan Indonesia. Peristiwa itu memicu protes rakyat, demonstrasi anti Malaysia di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Di Malaysia peristiwa ini tidak dipandang sebagai suatu masalah serius karena ada anggapan bahwa yang dilakukan adalah dalam kepentingan ekonomi dan masih dalam batas wilayah Malaysia. Media Malaysia pun tidak punya kepedulian yang berlebih untuk masalah ini. Mereka melaporkan peristiwa itu dengan wajar. Tentu saja ini wajar dalam konteks Malaysia karena sebetulnya tujuan utama mereka adalah ekonomi dan keuntungan bagi negara, dan tidak dilihat dari konteks nasionalisme. Bagi pihak Indonesia, tindakan seperti ini dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengambil tanah dan menghancurkan kedaulatan RI. Dalam konteks Indonesia, demikian tingginya kekhawatiran itu, sehingga sulit difikirkan secara jernih siapa yang lebih berhak atas daerah itu. Karena hal itu tidak penting lagi, yang penting adalah adanya ancaman territorial yang dilakukan oleh Malaysia. Dari kasus ini, dalam konteks kedaulatan, kekerabatan seringkali tidak memiliki makna. Pada masa Sukarno, banyak orang melihat bahwa politik Konfrontasinya dilakukan untuk mengalihkan persoalan kesatuan Indonesia yang begitu rumit sebagai negara baru dan kesulitan untuk membangun negara itu sesuai janji kemerdekaan. Malaysia dijadikan musuh bersama atau the other secara efektif untuk menggalang dan memobilisasi kekuatan bersama di dalam negeri. Malaysia semasa Konfrontasi telah disamakan oleh Soekarno dengan kekuatan imperialis. Kemerdekaannya yang tidak melalui perlawanan dan revolusi dilihat sebagai bagian dari konspirasi kekuatan imperialisme dan kolonialisme negara-negara Barat untuk mengepung negara-negara penentang penjajahan (anti-colonialism) seperti Indonesia. Kontras yang diciptakan Sukarno ini merupakan kelanjutan dari penciptaan lawan yang pada gilirannya diharapkan akan menyatukan kekuatan dalaman (internal) di Indonesia, dan untuk sementara waktu rakyat dapat melupakan penderitan hidup dan kesulitan ekonomi. Mereka mengkonsolidasi diri dan bersatu di belakang Soekarno dengan nasionalisme, idealisme dan semangat revolusi. Hal yang kurang lebih sama juga berlaku

di dalam negeri Malaysia dewasa ini. Di Malaysia kedaulatan negara antara lain diperkuat antara lain dengan memperlihatkan bahwa persoalan-persoalan seperti kejahatan di dalam negeri banyak terjadi karena para pendatang yang bekerja di negara itu. Pendatang yang bekerja dilaporkan oleh media misalnya sebagai sumber masalah sosial di negara itu. Laporan-laporan media misalnya menyebutkan bahwa sebagian besar jumlah tahanan adalah para pekerja termasuk pekerja tanpa izin dari Indonesia. Judul laporan itu misalnya “25.000 Pekerja Indonesia bawa Penyakit Setiap Tahun”, "Pekerja Asing Biadab", "Orang Indon Mengganas". Akibat pemberitaan itu telah menciptakan opini negatif di kalangan masyarakat Malaysia terhadap orang Indonesia. (Kompas, 9 November 2007); walaupun sebetulnya seperti diberitakan Berita Harian, 17 November 2007, jauh lebih banyak warga Malaysia sendiri yang melakukan kejahatan, karena ternyta kejahatan yang dilakukan oleh orang asing kurang dari 3% (Lihat juga Berita Harian 17 November 2007)3. Namun penggambaran media yang berulangulang, seolah-olah menunjukkan bahwa orangorang asing ini hanya mengacaukan dan merusak masyarakat Malaysia. Laporan-laporan ini tentu saja untuk konsumsi dalam negeri dan kepentingan politik sesaat, tapi dalam jangka panjang mengimplikasikan sikap antipati terhadap semua orang Indonesia. Bangsa Malaysia menjadi yakin bahwa Malaysia yang berdaulat dan teratur dengan baik telah dikacaukan oleh para pendatang. Tidak ada sisi positif yang diungkapkan dari kedatangan para pekerja ini dalam membantu proses pembangunan Malaysia, karena ini bisa mengacaukan persepsi antara Malaysia yang baik dan teratur dan mereka para pendatang yang membuat kacau. Dengan demikian, di dalam negeri, yang asing yaitu para pendatang digambarkan sebagai sumber masalah dari masyarakat Malaysia yang seharusnya baik dan bermartabat. Perihal kehadiran pekerja asing termasuk tenaga kerja Indonesia turut memberi kontribusi besar dalam pembangunan di Malaysia.
Dari sudut positif, kehadiran pekerja asing terbukti banyak membantu negara [Malaysia]. Mercu tanda Menara Berkembar Petronas, Menara KL, Litar F1 Sepang, Stadium Nasional Bukit Jalil dan Pusat Pentadbiran Kerajaan Persekutuan di Putrajaya tidak akan

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

103

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

jadi kenyataan tanpa adanya pekerja asing.

4

Proses penguatan kedaulatan ke dalam ini, dengan demikian menunjukkan bahwa nilai-nilai kekerabatan tidak bermakna sama sekali. Kekerabatan memang ada sebagai sebuah realitas namun dalam perkembangannya ia tidak diberi makna yang penting dalam pejalanan pembentukan negara berdaulat Malaysia dan Indonesia. Bahkan perbedaan yang besar dalam bagaimana kedaulatan harus diperkuat menyebabkan ketegangan hubungan kedua-dua negara tersebut. Kekerabatan, Diplomasi dan Strategic Culture Strategic culture ada sebuah konsep tentang prilaku suatu negara yang lebih kompleks daripada konsep rasionalitas keamanan yang mengandaikan selalu adanya ancaman dari negara lain. Menurut Hoffmann dan Longhurst (1999: 145-146) ada empat asumsi dasar strategic culture:
'Firstly, a strategic culture approach emphasises national specific attributes of security approaches and policies as deriving from historical experiences thus cancelling out the notion of a universal assumed rationality. Secondly, strategic culture is about collectives and their shared attitudes and beliefs, whether that be military establishments, policy communities or entire societies. Thirdly, it is continuities and discernible trends across time and contexts rather than change that is focused upon, change is generally portrayed as gradual in the absence of dramatic shocks and trauma. Finally, strategic culture is seen as intimate to behaviour, acting as a milieu through which information is received, mediated and processed in to appropriate responses.

Dalam konteks ini, budaya strategis Indonesia dan Malaysia dalam sejarahnya walaupun singkat cukup berbeda. Selama 63 tahun Indonesia merdeka dan 50 tahun Malaysia merdeka pengalaman sejarah yang membentuk budaya strategis kedua-dua negara berbeda. Indonesia disosialisasikan kepada keadaaan tentang negerinya yang rentan dalam menghadapi pengaruh asing. Kerentananan itu seringkali diperparah oleh rasa khawatir dan frustrasi karena ketidakmampuan untuk melindungi diri. Tetapi dalam sejarahnya untuk mengatasi ini Indonesia tidak mau meminta bantuan asing tapi harus
104

mengandalkan kekuatan diri sendiri. Mengandalkan kekuatan asing akan membuat independensi terombang ambing dan menjadi permainan kekuatan besar, yang justru akan mempermudah infiltrasi kekuatan asing itu ke bumi Indonesia. Ini tertuang dalam deklarasi politik luar negeri negara ini yaitu bebas dan aktif yang bermakna bahwa Indonesia bebas dari dalam melakukan pilihan politik internasional tetapi juga aktif mempromosikan perdamaian. Kemudian prinsip ini dirumuskan dalam konsep wawasan nusantara oleh rejim Orde Baru. Seperti diungkapkan di muka strategic culture menyangkut 'collectives and shared attitudes and beliefs' atau kolektivitas, kebersamaan, nilai-nilai dan sikap yang dipilih oleh suatu negara dalam melihat hubungan dengan negara lain. Nilai-nilai ini dianut oleh sebagian besar dari elit dan massa di negara itu yang terbentuk lewat perjalanan sejarah mereka menghadapi cabaran dari persekitaran, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Nilai-nilai itu menentukan apakah mereka akan misalnya melakukan konfrontasi atau bersikap damai dengan membina kerjasama dalam menghadapi negara lain. Terdapat beberapa negara di dunia memilih jalan konfrontatif dalam hubungan internasional. Amerika Serikat misalnya melakukan politik pembendungan (containment) terhadap Uni Soviet; dan pada ketika ini, politik pembendungan ini dilakukan terhadap negaranegara yang mereka anggap membangkang dan mendukung terorisme. Di kawasanAsia Selatan dan Timur Tengah, konfrontasi lebih menonjol daripada kolaborasi. Demikian juga di Asia Timur terutama antara dua Korea. Pilihan-pilihan konfrontasi ini terbentuk dalam perjalanan sejarah dan sikap yang berkembang itu dianut oleh sebagian besar dari elit dan massa ketika menghadapi negara-negara tentangganya itu. Secara umum Malaysia dan Indonesia dan juga negara-negara Asia Tenggara umumnya berhasil mengembangkan kultur strategis yang lebih bersifat harmoni daripada konfrontasi. Ini tentu saja tidak lepas dari perjalanan sejarah mereka semenjak kemerdekaan. Apakah ada peranan kekerabatan dalam menentukan pilihan kerjasama? Peranannya barangkali secara tidak langsung memberikan kondisi bagi dialog-dialog yang akrab dan intensif bagi negaranegara di kawasan ini. Negara-negara di kawasan ini merasa sebagai bagian dari satu kawasan

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

yang bertentangga. Mereka memiliki kultur Asia atau mungkin kultur Melayu kalau mau, secara umum dan menganggap bahwa hidup bertetangga yang baik adalah penting. Dalam konteks ini, hubungan IndonesiaMalaysia juga menjadi lebih dekat karena adanya aspek kekerabatan. Ada dialog yang sangat intensif antara pemimpin kedua-dua negara. Ia memberikan kesempatan untuk dialog dan komunikasi secara lebih akrab. Konfrontasi dalam konteks ini bisa dianggap sebagai sebuah kontradiksi dari hubungan kekerabatan dan bertentangan dengan prinsip hidup bertetangga. Proses dialog menemui jalan buntu karena ambisi pemimpin kedua-dua negara yang begitu kuat. Sebaliknya unsur kekerabatan bisa dimaknai secara positif untuk mengembangkan dialog bagi perdamaian. Pengakhiran Konfrontasi kedua-dua negara di tahun 1966 tidak terlepas dari dialog-dialog dan dimungkinkan untuk berakhir dengan baik dan damai karena adanya unsur kekerabatan ini. Banyak pengamat misalnya sangat heran, konflik bertahun-tahun yang penuh kebencian dengan istilah-istilah seperti 'ganyang Malaysia' dan juga clash militer yang serius di perbatasan Kalimantan, selesai dalam pertemuan dua hari antara Menteri Luar Negeri Adam Malik dan rekannya Tun Abdul Razak di Bangkok. Bahkan pengakhiran itu tanpa ada perjanjian yang ditandatangani dengan jelas (Time, 10 June 1966). Ini tentunya berbeda kalau konflik terjadi melibatkan dua negara yang tidak memiliki ikatan kekerabatan. Negara-negara ini tentu meminta jaminan yang jelas bahwa peristiwa yang sama tidak akan berlaku lagi. Dalam konflik Indonesia dengan Cina misalnya, pemerintahan Orde Baru di Indonesia misalnya tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan negara tirai bambu itu sampai Cina menyatakan secara resmi bahwa mereka tidak lagi mendukung gerakan-gerakan komunis di Indonesia. Terhadap keheranan bahwa konflik dengan Indonesia bisa berakhir dengan begitu cepat, Menlu Malaysia hanya berujar bahwa ini lah cara kami, cara Asia dalam menyelesaikan masalah (Ishak, 2007). Seorang pegawai Malaysia pernah menyatakan bahwa konflik sebelum ini sebenarnya adalah konflik antara unsur Komunis dan non-Komunis yang secara tersirat (implisit) hendak memberi justifikasi bahwa Konfrontasi bukan konflik antara dua negara

serumpun. Di sebalik proses ini, tentu saja background kekerabatan menjadi salah satu faktor yang membuat komunikasi tidak pernah putus antara kedua-dua negara. Lagi pula Tun Abdul Razak dan Adam Malik, tokoh utama di sebalik perdamaian itu, adalah dua saudara sepupu jauh. Terlepas dari siapa yang diuntungkan dalam menggunakan konsep kekerabatan dalam diplomasinya, dalam perkembangannya, negara-negara ASEAN juga mengembangkan mekanisme dialog dalam menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Sedikit banyak unsur-unsur budaya seperti konsensus, persaudaraan, musyawarah dan mufakat dan pertemuan-pertemuan informal yang populer di mayarakat Melayu Indonesia dan Malaysia menjadi cara dalam menyelesaikan perbedaan di antara mereka. Dengan kata lain ini menjadi semacam budaya strategis yang dikembangkanASEAN. Cara demikian kemudian sering dikenal dengan istilah 'ASEAN way'. Tentu saja tidak semua 'ASEAN way' ini positif, tetapi dalam hal-hal tertentu cara ini cukup efektif untuk mendinginkan (cooling down) suasana panas yang terjadi antara anggota ASEAN. ASEAN dalam menyelesaikan suatu masalah yang kontroversial biasanya mendiamkannya sampai dingin sebelum melakukan tindakan yang seringkali tanpa ada solusi. Solusi diharapkan muncul bersamaan dengan perjalanan waktu dan diharapkan ada solusi damai yang nantinya dapat diterima oleh semua pihak. Kalau keadaan menguntungkan tentu saja solusi damai bisa dikembangkan tetapi bilamana berlaku krisis dalam hubungan antar negara ASEAN atau dengan Negara lainnya, sebuah solusi damai bisa semakin jauh. Lewat mekanisme ini ASEAN misalnya dapat mendinginkan suasana panas dalam konflik Sabah antara Malaysia dan Filipina demikian juga konflik perebutan kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dan juga masalah-maslah di perbatasan Malaysia dan Thailand, walaupun belum ada solusi yang jelas terhadap soal-soal itu. Cara menyelesaikan konflik demikian juga mengandalkan dialog-dialog dan perundingan terus menerus yang bisa menimbulkan saling kepercayaan antara pemimpin-pemimpin negara ini, walaupun kadangkala tanpa mencapai kata sepakat. Masyarakat keamanan atau security community di ASEAN misalnya

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

105

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

tercipta karena mereka para pemimpin ini percaya satu sama lain. ASEAN security community misalnya tidak dibuat dalam kerangka perjanjian keamanan sebagaimana umum terjadi untuk masyarakat keamanan di Barat. Dalam konteks kawasan, relevansi dari konsep kekerabatan, dengan demikian adalah sebagai alat dan mekanisme dalam mendorong dialog-dialog yang bermanfaat ini. Indonesia dan Malaysia agaknya memanfaatkan kedekatan kekerabatan ini terutama dalam perkembangan hubungan semasa PMAbdullah Badawi dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Indonesia untuk meningkatkan dialog di antara mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa komunikasi di tingkat elite antara kedua-dua negara sangat intensif, sehingga tercipta semacam hotline antara pemimpin kedua-dua negara yang sangat penting bila ada krisis. Dalam banyak hal intensitas hubungan dan komunikasi elite ini bisa meredakan kalau tidak mengatasi sejumlah persoalan dalam hubungan kedua-dua negara. Tentu saja hotline juga bisa tercipta walaupun dua buah negara tidak mempunyai hubungan kekerabatan sama sekali. Tetapi bila ada landasan kekerabatan proses ini bisa lebih mulus lagi. Kinship dan 'Visi Serumpun' ke depan Makalah ini melihat bahwa konsep kinship atau kekerabatan mestinya diletakkan secara proporsional dalam hubungan kedua-dua negara. Kesalahan dalam memahami kinship adalah bahwa konsep ini sering difahami akan mempengaruhi secara langsung hubungan Indonesia dan Malaysia. Ini kesimpulan yang terburu-buru karena konsep kinship, baru memiliki makna kalau kita melihatnya dalam suatu konteks yang dilakukan oleh kedua-dua negara. Dalam makalah ini kinship diletakkan dalam konteks penguatan kedaulatan dan dalam konteks pembentukan budaya strategis kedua-dua negara. Kinship agaknya tidak diperhitungkan bila dua negara ini berbicara dalam konteks penguatan kedaulatan negara, sebuah konsep yang sangat penting bagi dua negara yang baru merdeka. Dalam konteks penguatan kedaulatan, ada kecenderungan pada satu negara untuk mensosialisasikan negara lain sebagai asing atau alien bahkan membawa persoalan bagi keutuhan dan keharmonian masyarakat mereka. Laporan-laporan media seringkali menunjuk-

kan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang berasingan satu dengan lain, bukan sebuah negara serumpun. Dalam konteks ini istilah yang tepat adalah 'kita adalah kerabat tapi masing-masing kita juga berdaulat'. Dapatkah konsep kekerabatan atau keserumpunan Melayu ini dikembangkan lebih jauh? Dalam pertanyaan yang lebih konseptual, Boleh kah 'Visi Serumpun' (Visions of “Serumpun”) atau 'Wawasan Serumpun' yang populer semasa Tun Abdul Razak dan Suharto dikembangkan? Dalam mengelaborasi jawaban terhadap pertanyaan ini ada beberapa hal yang perlu dibahas. Poin pertama adalah bahwa sebagai dua negara bertetangga, kedua-dua negara berdekatan secara geografis, punya ikatan budaya yang tak dapat dielakkan, karena sejak zaman dahulu kala sehingga era globalisasi ketika ini banyak masalah di sektiar kedua-dua negara berkaitan satu sama lain. Dahulu kedua-dua negara adalah bahagian dari kerajaan-kerajaan di nusantara seperti Majapahit, Melaka dan Johor (Ghazali, 2007). Ini sebuah keadaan yang bisa saja dianggap tidak penting tapi tidak dapat dielakkan atau ibarat sebuah ungkapan 'you can choose your friends but not your neighbours' (Thamrin, 2007). Pada masa kini bukan saja arus pekerja dan migran tapi juga arus budaya pop masuk ke Malaysia dari Indonesia. Para pelabur dari Malaysia juga semakin ramai datang ke Indonesia demikian juga para pelancong. Bisa dipastikan di masa datang kondisi hubungan ini makin kompleks. Ia tidak hanya terbatas kepada pemerintah dengan pemerintah saja tetapi pemerintah dengan masyarakat di keduadua negara. Karena kedekatan geografis ini berbagai masalah tidak akan terelakkan akan berlaku dalam hubungan kedua-dua negara. Keduadua negara mungkin tidak menyukai hal ini, tapi letak geografis itu telah menjadi takdir yang ditentukan Tuhan. Melihat fakta sejarah, geografis dan hubungan sejak lama ini, dalam konteks hubungan Indonesia-Malaysia bagaimanapun juga keserumpunan atau kinship ini tetap menginformasikan banyak segi dan keputusan dalam hubungan kedua-dua negara. Dari fakta yang sederhana misalnya dapat dikatakan bahwa para pemrotes terhadap kebijakan Malaysia menggunakan hasil karya bangsa Indonesia ataupun dalam perlakuan terhadap pekerja

106

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

asing maupun orang Indonesia di Malaysia, pada umumnya diinformasikan oleh sentimen kekerabatan ini. Mereka secara emosional memprotes negara tetangga yang tidak lagi menghargai saudara tuanya. Sentimen yang muncul di kalangan para chauvinist ini adalah anggapan bahwa saudaranya ini kini tidak tahu diri. Tanpa ada sentimen seperti ini sikap para chauvinist ini tidak lah terlalu galak. Misalnya terhadap pencurian hasil-hasil karya Indonesia misalnya oleh Singapura, Jepang, Belanda atau lembaga Smithsonian Amerika misalnya, reaksi yang dilakukan oleh orang Indonesia tidak lah sekeras terhadap Malaysia (Daery, 2007). Bahkan terhadap hilangnya pulau-pulau Indonesia karena diambil pasirnya oleh Singapura (Utusan Malaysia, 17 November 2007), tidak ada protes yang dramatis seperti kalau itu berlaku karena perlakuan Malaysia. Pada fihak lain, Malaysia pun agaknya menganggap bahwa banyak khazanah budaya di Nusantara ini adalah warisan serumpun. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa produkproduk budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adalah berasal dari Indonesia. Lagu kebangsaan Negaraku misalnya diklaim berasal dari Indonesia, namun menurut sastrawan Zawawi Imron, lagu itu sesungguhnya merupakan puji-pujian yang sebenarnya hidup di kalangan pesantren sejak lama (Daery, 2007). Jadi ia kira-kira merupakan warisan serumpun bersama karena pesantren wujud, baik di Indonesia maupun Malaysia. Karena itu poin kedua yang penting adalah bahwa untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dan akan muncul antara keduadua negara, sebagai dua negara serumpun, mereka mestinya berhasil mengembangkan payung kerjasama yang berjangka panjang. Payung kerjasama ini bisa disebut misalnya sebagai 'Wawasan Serumpun' yang akan dijadikan reference utama bila berlaku masalah dan ketegangan dalam hubungan kedua-dua negara. Hendaklah kedua-dua negara dalam mengatasi persoalan mereka, melihat pada tujuan jangka panjang dalam 'visi serumpun' ini. Visi sedemikian bukan lah suatu yang mustahil apalagi kedua-dua negara sudah meletakkan meletakkan Wawasan mereka. Malaysia dengan Wawasan 2020 dan 2057 misalnya, sedangkan Indonesia membuat 'Visi Indonesia 2030'. Mereka dapat menyeleksi aspek-aspek kedua-dua wawasan

itu untuk disinergikan bersama. Visi serumpun semasa Tun Abdul Razak pada tahun 1967-1975 terasa pendek dan sangat dilandasi oleh semacam euforia setelah konfrontasi yang pahit. Masa itu memang sering disebut sebagai tahun-tahun emas hubungan darah Indonesia-Malaysia (Yong, 2003), namun ia dilandasi oleh trauma konfrontasi, yang mana kemudian dalam banyak hal Malaysia mencoba untuk memahami bahkan konsultasi dengan Jakarta dalam isu-isu penting untuk kestabilan kawasan. Hubungan yang akrab demikian tidak berlanjut pada masa selanjutnya karena kehendak Malaysia dan semua negara merdeka juga untuk mengembangkan identitas dan rasa percaya diri sendiri di dunia internasional terlepas dari bayang-bayang pengaruh negara lain. Dengan demikian, dan ini adalah poin ketiga, visi serumpun yang dapat dirintis adalah visi yang dapat memberikan peluang dan ruang bagi kebebasan dan identitas masing-masing negara untuk berkembang, namun mengarah kepada satu tujuan yang saling mendukung satu sama lain. Tujuan itu adalah kesejahteraan dan keamanan bagi masing-masing negara. Sebagai dua negara serumpun yang memiliki banyak kesamaan budaya dan 'blood brotherhod', adalah wajar kalau satu negara ingin melihat negara lainnya makmur, sejahtera dan damai. Perasaan sedarah dan serumpun mestinya menjadi energi positif untuk melihat saudara-saudara mereka maju. Kemakmuran dan kedamaian satu negara tidak dilihat dengan iri dan dengki tapi disambut baik karena juga berdampak positif untuk negaranya. Agaknya konsep 'prosper-thyneighbour', sebagai kontras dari 'beggar-thyneigbour' policy yang sering diucapkan oleh para pemimpin Malaysia dan Indonesia adalah relevan dalam konteks membangun 'visi serumpun 2050' misalnya. Apalagi kedua-dua negara kaya akan sumber alam dan sumber daya manusia. Konsep Melayu unggul juga bisa dijadikan landasan bagi visi ini. Dalam sejarahnya prinsip 'prosper-thyneighbour' ini telah pula diterapkan terlebih dahulu oleh Indonesia, ketika negara ini mengirimkan puluhan ribu guru sains, dokter, pakar teknik dan tenaga medis untuk mendidik dan membantu Malaysia yang kekurangan tenaga dan pengetahuan di berbagai bidang di tahun 1950-an. Secara tidak langsung para seniman musik, sastrawan, pemusik dan penyanyi juga

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

107

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

memberi sumbangan tidak sedikit dalam kemajuan industri seni kedua-dua negara. Karya-karya seniman Indonesia juga menyumbangkan bagi kemajuan berbagai bidang seni di Malaysia. Namun ada poin keempat yang penting dalam proses mewujudkan 'visi serumpun 2050' itu yaitu perlunya upaya konkrit. Seperti 'Vision 2020' Malaysia, visi itu hendaknya juga berisi langkah-langkah konkrit yang akan dicapai sampai tahun 2050. Langkah konkrit penting adalah membetuk semacam tim khusus di kedua-dua negara yang bisa dimulai dari kalangan akademisi, kemudian swasta, pengusaha dan kemudian pemerintah untuk merumuskan 'Wawasan Serumpun' Indonesia-Malaysia ini. Merujuk kepada visi Indonesia 20305, maka 'Visions of Serumpun' dapat dikembangkan untuk mendukung kepentingan kedua-dua negara. Ia misalnya dapat meliputi upaya untuk membentuk sinergi tiga modal utama kedua-dua negara yaitu modal manusia, modal alam dan fisik, dan modal sosial. Dalam sinergi itu kedua-dua negara dapat bekerja sama untuk “Mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkualitas dan bebas dari kemiskinan”, kemudian mereka dapat bekerja sama memanfaatkan kekayaan alam kedua-dua negara yang kaya secara optimal dan berkelanjutan. Kedua-dua negara juga memiliki potensi untuk melakukan sinergi kelompok wirausaha, birokrasi dan pekerja dalam rangka menciptakan daya saing yang global. Demikian juga 'Wawasan Serumpun' ini dapat meningkatkan perwujudan Wawasan 2020 Malaysia misalnya dalam kaitan dengan cabaran yang keenam untuk mewujudkan masyarakat Malaysia yang progresif, mempunyai daya perubahan yang tinggi dan memandang ke depan yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi tetapi juga penyumbang peradaban ilmu dan teknologi di masa depan (Wawasan 2020). Dalam jangka pendek upaya konkrit utama mengatasi hubungan yang rapuh adalah upaya untuk mengurangi konflik-konflik sporadik dalam hubungan antara kedua-dua negara yang dapat merugikan pencapaian visi itu. Sebagaimana dijelaskan di atas, seringkali identitas kedua-dua negara dibentuk melalui pencitraan tentang negara lain yang buruk, terbelakang, pembawa masalah sosial dan moral; sementara negara sendiri adalah maju, murni dan tenteram damai seperti yang dicitrakan di Ma-

laysia lewat pemberitaan terhadap TKI di berbagai media mereka. Sebaliknya di Indonesia juga kini terjadi pencitraan terhadap Malaysia sebagai negara yang tidak tahu diri, tidak bisa berterima kasih, maling dan mau untung sendiri, yang belakangan muncul dalam menyikapi sengketa soal pengambilan lagu daerah dan hasil-hasil karya bangsa Indonesia lainnya oleh Malaysia. Kepentingan politik sesaat di balik pencitraan ini bisa counter-productive untuk pencapaian cita-cita bersama tadi. Seperti dikatakan Hussain (2007), isu-isu seperti imigran harus diatasi secara serius dan tidak semata untuk kepentingan pilihan raya. Ia mengatakan:
'Isu imigran dan pekerja asing perlu diperhalusi dalam kontkes cabaran yang berkait rapat dengan strategi daya saing negara di peringkat global, dan tidak sepatutnya bersifat knee-jerk reaction semata-mata untuk memuaskan hati orang ramai tatkala pilihan raya menjelang tiba' (Hussain, 2007).

Hubungan kedua-dua negara ini belakangan menjadi sangat sensitif dan seringkali memicu ketegangan. Kasus penyiksaan warga Indonesia oleh majikan dan pemukulan terhadap warga RI oleh polisi adalah puncak dari proses pencitraan itu. Perlakuan itu mungkin dirasa wajar, alamiah dan mungkin begitulah seharusnya bagi masyarakat Malaysia karena telah terjadi proses pencitraan yang sistematis di media bahwa para pekerja Indonesia sering membuat masalah sosial dan datang tanpa izin. Pada gilirannya pencitraan itu juga berhasil mencitrakan bahwa para pekerja itu adalah cermin sebenarnya dari orang Indonesia secara keseluruhan. Ini tentu saja telah membutakan mata bahwa para pekerja yang melanggar hukum adalah sebagian kecil dari pekerja dan Indonesia lebih luas dan kompleks serta memiliki hal-hal yang baik dan unggul pula. Para pekerja itu pun sebetulnya melakukan perbuatan itu karena dipicu oleh berbagai masalah sosial, eksploitasi, masalah birokrasi dan administratif yang merugikan mereka yang kadang berasal dari oknum orang Indonesia juga. Di Indonesia, peroses pencitraan juga berlangsung untuk melawan apa yang berlaku di Malaysia. Media juga ramai misalnya menyebut Malaysia dengan berbagai istilah seperti Malingsia untuk menggambarkan bahwa Malaysia suka mengambil hak milik orang Indone-

108

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

sia. Mereka juga curiga bila Malaysia memberi kapal selam, maka itu dianggap ditujukan untuk memata-matai atau siap untuk menyerang Indonesia. Di dalam negeri Indonesia, hal-hal yang memojokkan Indonesia ini, dijadikan bahan oleh para chauvinist ini untuk mempermasalahkan hubungan kedua-dua negara sehingga hubungan menjadi semakin keruh (Daery, 2007). Proses pencitraan ini perlu diatasi karena ia membutakan mata masyarakat tentang apa yang telah dilakukan oleh para pekerja itu untuk Malaysia dan kadangkala menyesatkan fikiran sehat karena mengira bahwa di Indonesia sana, semua orang adalah seperti para kuli pekerja dan pembantu rumah tangga itu. Walaupun mungkin kemajuan di Indonesia tidak sepesat di Malaysia, tetapi tetap ada juga hal positif di Indonesia yang menarik untuk dihargai. Malaysia sudah menjadi maju dan baik tanpa harus mencitrakan orang lain sebagai buruk dan terbelakang. Seperti dikatakan bekas Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim, orang Malaysia umumnya hanya mengenal Indonesia dari para pekerja kasar dan pendatang tanpa izin. Padahal menurutnya seharusnya mereka mengenal Indonesia dari tokoh-tokoh besar seperti Sukarno-Hatta, sastrawan dan pujangga-pujangga besar seperti Rendra dan Chairil Anwar. Namun menurut Ibrahim, hal ini tidak penting lagi bagi para pemimpin Malaysia (Kompas, 30 Oktober 2007). Sementara itu respon kaum chauvinist di Indonesia ini juga perlu diatasi karena tidak produktif dalam membangun hubungan keduadua negara. Akan berkembang kesan bahwa Malaysia adalah negara yang sombong dan tidak tahu diri di dalam negeri Indonesia. Kelompok ini mulai menyebutkan Malaysia sebagai negara yang suka mencuri dan sombong. Sebuah situs internet malingsia.com juga sudah dibuat yang banyak berisi hujatan terhapan Malaysia. Perlakuan para aparat keamanan di Malaysia dalam mengintrogasi identitas pelajar Indonesia perlahan-lahan akan menambah kekecewaan para pelajar yang sebenarnya ingin menuntut ilmu di Malaysia. Kalau dulu mereka berkampanye mengajak kawan untuk belajar di Malaysia karena fasilitas yang baik, sebagian mereka kini mulai mengkampanyekan agar jangan pergi belajar di Malaysia karena masalahmasalah di luar pelajaran yang sering menyulitkan. Proses pencitraan terhadap Malaysia se-

perti ini berlangsung di Indonesia terutama beberapa tahun belakangan ini terutama karena tindakan pihak berkuasa (aparat) Malaysia yang berlebihan terhadap warga Indonesia. Sementara itu sebagaimana difahami, proses pencitraan di Malaysia itu sudah berlangsung sangat agresif pada masa PM Mahathir Mohamad dan digunakan untuk kepentingan politik seperti untuk mencapai keseimbangan rasial baru dan untuk mencitrakan keamanan dalam negeri dari ancaman busuk para pendatang. Dalam istilah Barry Buzan et. al. (1997), telah terjadi proses securitization terhadap para pekerja Indonesia yang diistilahkan dengan sebutan 'para pendatang haram'. Proses securitization itu sebagaimana diketahui telah terjadi secara sistematis dan dramatis pada saat ini dan dilakukan dengan kekuatan resmi negara dan kekuatan media. Proses securitization terhadap ancaman para pekerja Indonesia itu masih berlanjut dalam kadar tertentu dengan berbagai kesimpulan di media bahwa para pekerja asing banyak menimbulkan masalah untuk negara ini. Media di Malaysia yang umumnya dikontrol pemerintah agaknya mempunyai kecenderungan bahwa yang dinamakan berita adalah bila para pekerja asing, terutama Indonesia berbuat kejahatan atau sesuatu yang salah. Sementara keberhasilan dan sumbangan mereka bukan dianggap suatu berita yang layak dilaporkan. Diharapkan proses securitization terhadap pekerja Indonesia ini segera berlalu, sehingga sebuah ruang baru yang melihat hubungan secara lebih rasional berdasarkan keinginan untuk kemajuan bersama lebih terbuka. Salah satu langkah positif dalam mengatasi pencitraan adalah dengan menempatkan permasalahan pada proporsinya. Tentu saja ada pekerja yang melanggar hukum namun tidak perlu disimpulkan atau dicitrakan semua yang melanggar hukum adalah pekerja Indonesia. Langkah untuk mengganti istilah Indon dengan Indonesia juga dipandang positif karena kata Indon mengalami proses pemaknaan yang negatif. Untuk para pekerja yang memang latar belakang pendidikan dan sosialnya rendah di Indonesia, kiranya ada upaya komprehensif untuk mempersiapkan dan mensosialisasikan mereka dengan sistem hukum dan budaya di Malaysia. Proses birokrasi tenaga kerja adalah satu hal yang agaknya tak kunjung bisa diatasi, sementara pemahaman mereka tentang negara baru

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

109

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

tempat mereka bekerja adalah hal lain yang penting untuk disosialisasikan kepada mereka. Selain itu perlu upaya konkrit untuk meningkatkan pemahaman tentang kedua-dua negara. Tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim misalnya menyayangkan bahwa banyak orang Malaysia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Media di Malaysia yang dikontrol oleh pemerintah tidak memberikan informasi yang lengkap tentang Indonesia. Mereka misalnya tidak bisa memahami mengapa Indonesia seringkali begitu cemburu dan marah-marah dengan Malaysia. Media di Malaysia umumnya menunjukkan sisi buruk yang ditampilkan oleh para pekerja dan pendatang tanpa izin di Malaysia. Karena itu menurut Ibrahim perlu ada upaya untuk memberikan saling pemahaman yang lebih mendalam tentang saudaranya dan tetangganya ini sebagaimana pemahaman yang berlaku antara pemimpin kedua-dua negara di masa lampau. Menurutnya politik di Malaysia tidak sepatutnya memunculkan sentimen anti Indonesia lewat media. Menurut beliau 'sentimen rakyat harus dididik. Orang Malaysia bukannya tidak perduli dengan apa yang terjadi, tetapi dia tidak tahu karena media tidak memberitakan sama sekali'. Kesimpulan Paper ini melihat bahwa konsep kinship adalah konsep yang tetap penting dan berguna dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Namun kinship atau kekerabatan perlu dilihat dalam proporsi dan konteksnya, dan tidak serta merta dilihat secara emosional dan nostalgik. Dalam pemahaman yang proporsional dan kontekstual, kinship tidak mempunyai makna penting dalam konteks kedaulatan negara, sebuah konsep yang sangat penting bagi dua negara merdeka. Namun ada potensi yang bisa dikembangkan dari konsep kekerabatan terutama sebagai alat atau mekanisme dalam diplomasi internasional. Kekerabatan bisa membantu proses dialog untuk meredakan konflik dan meningkatkan kerjasama. Kinship merupakan landasan untuk memulai satu pembicaraan yang konstruktif. Kinship juga dalam kadar tertentu menjadi fondasi bagi kerjasamaASEAN. Selain sebagai alat diplomasi yang melandasi kerjasama di ASEAN, konsep serumpun bisa dikembangkan juga sebagai landasan kerjasama Malaysia-Indonesia. Namun berda-

sarkan pengalaman hubungan, ada beberapa poin yang penting dalam konteks kerjasama ini yang perlu diingat. Pertama adalah kenyataan yang tidak dapat diubah bahwa kedua-dua negara secara geografis dan budaya adalah berdekatan dan kedua-duanya berada dalam era globalisasi yang saling bergantung. Itu semacam takdir yang bisa dimaknai dengan positif maupun negatif. Kedua, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa ikatan darah dan budaya ini pernah menjadi pengikat kuat kerjasama dan citacita, namun sayangnya konsep seperti 'visi serumpun' di tahun 1970-an hanya digunakan untuk tujuan dan kepentingan jangka pendek. Karena itu poin ketiga yang penting adalah upaya untuk membangun 'visi serumpun' jangka panjang untuk mencapai cita-cita kemakmuran dan keamanan bersama yang boleh dimasukka dalam konsep seperti 'prosper-thy-neighbour' dan 'smart partnership'. Keempat, dalam visi jangka panjang ini, kepentingan politik jangka pendek yang memanfaatkan berbagai masalah dan isu dalam hubungan kedua-dua negara adalah penting dihindari. Pemanfaatan isu pendatang haram misalnya untuk kepentingan keamanan dalam negeri selain akan mencitrakan Indonesia sebagai negara penuh masalah sosial dan kriminal, juga dalam jangka panjang tidak menguntungkan visi jangka panjang untuk kemakmuran bersama itu. Daftar Pustaka “An Uproar of Peace”', Time, 10 June 1966. “Apa selepas Rasa Sayang, kapal Selam?”, Utusan Malaysia, 27 Oktober 2007. “Indonesia Hilang Pulau Lagi?”, Utusan Malaysia, 17 November 2007. Ayip, Z. (2007). “Bersama Diplomat: Indonesia mahu perbetul tanggapan”, Berita Harian, 15 November 2007. Buzan, B. , Wæver, O. and de Wilde, J. (1997). Security: A New Framework for Analysis, Boulder: Lynne Rienner Publishers. Daery, V. (2007). “Penyelesaian Kasus Lagulagu Serumpun”, Jawa Pos, 15 November. Fachir, M. (2007). “Hubungan RI-Malaysia sesudah 50 tahun 'Cabaran dan Harapan'”, makalah disampaikan di depan Universiti Utara Malaysia, 27 Maret 2007. Ghazali, A.Z. (2007). “Malaysia Indonesia dalam Sejarah: Liku-Liku Hubungan Serum-

110

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Kelana & Hara : Quo-vadis Kekerabatan Malaysia-Indonesia?

pun Sehingga Kurun Ke-19”, Makalah dipresentasikan pada Seminar 50 Tahun Merdeka: Hubungan Malaysia Indonesia di Universiti Malaya, Kuala Lumpur Malaysia pada tanggal 17 Juli 2007. Hoffmann, A. & Longhurst, K.(1999). “German Strategic Culture and the Changing Role of the Bundesweh”, WeltTrends, No. 22. Hussain, M.M. (2007). “Cara Melayan Imigran”, Utusan Malaysia, 14 November 2007. Ishak, M.M. (2007). “Peranan Tun Adam Malaik dalam Membina Hubungan RI-Malaysia”, paper pada Annual Lecture Mengenang Tokoh Diplomasi Adam Malik: Apresiasi Perjalanan 50 tahun Hubungan Diplomatik RI-Malaysia, Medan 24 Februari 2007. Johnston, A.I. (1995). “Thinking about Strategic Culture”, International Security, 19: 4. Liow, J.C. (2004). The Politics of IndonesiaMalaysia Relations: One Kin, Two Nations. New York: RoutledgeCurzon. Sulaiman, Y. (2007). “Soekarno, Malaysia, dan PKI”, Kompas, 29 September. Thamrin, Y.O. (2007). “50 Tahun IndonesiaMalaysia: Harapan dan Tantangan ke Depan”, paper pada Annual Lecture Mengenang Tokoh Diplomasi Adam Malik: Apresiasi Perjalanan 50 tahun Hubungan Diplomatik RI-Malaysia, Medan 24 Februari 2007. Visi Indonesia 2030, retrieved 12 November 2007 from http://ppij-nagoya.org/MISC/ Buklet%20Visi%20Indonesia%202030% 5b1%5d.pdf. Wawasan 2020, Biro Tata Negara, Jabatan Perdana Menteri, 1991. Weinstein, F.B. (1976). Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence. Ithaca and London: Cornell University Press. Yong, J.L.C. 2003. “Visions of 'Serumpun': Tun Abdul Razak and the golden years of IndoMalay blood brotherhood, 1967-75”,

South East Asia Research, Vol. 11, No. 3, November. Zain, S.M. (2003). “Penyebaran Orang Rumpun Melayu Pra-Islam dan Perkembangan Tulisan Bahasa Melayu”, Sari, 21. Catatan
1.Ini adalah pernyataan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Malaysia Abdullah Badawi dalam sidang akhbar (press conference) setelah penyampaian penghargaan Bintang Republik Indonesia Adi Pradana kepada PM Abdullah di Istana Negara, Jakarta 22 Februari 2007. (Lihat Fachir, 2007). 2.Strategic cultures atau budaya strategis dalam tulisan ini didefinisikan sebagai nilai-nilai dan budaya-budaya yang terbentuk melalui perjalanan sejarah dan dianut sebagian besar dari elit dan massa dalam melihat dan melaksanakan hubungan dengan lingkungan internasional. Budaya strategis berkembang sejalan dengan sejarah dan tantangan domestik dan internasional yang dihadapi suatu negara dalam menegakkan kedaulatan mereka sebagai negara merdeka. Tantangan yang berbeda menyebabkan mereka mengembangkan budaya strategis yang berbeda terhadap lingkungan internasionalnya. Lihat misalnya Johnston (1995). 3.Misalnya di Pahang dilaporkan bahwa tahun lalu dari 1,077 orang yang melakukan jenayah kekerasan, sebanyak 37 orang daripadanya adalah pendatang asing, manakala bagi tempoh Januari hingga September lalu, 948 kes jenayah kekerasan dilaporkan dan hanya 35 daripadanya dilakukan warga asing. "Bagi jenayah harta benda pada tahun lalu, 53 kes daripada keseluruhan 6,490 kes dilakukan warga asing, manakala bagi tempoh sembilan bulan pertama tahun ini sebanyak 30 kes daripada keseluruhan 1,673 kes dilaporkan, dilakukan warga asing. Lihat Berita Harian Online, 18 November 2007. 4.“Menangani Isu Pekerja Asing”, Harian Metro, 24 November 2007, hal. 12. 5.Lihat, 'Visi Indonesia 2030' http://www.ppij-nagoya.org/MISC?Buklet%20Visi%20Indonesia%2 02030[1].pdf.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

111

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 112-126

Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa
Totok Sarsito
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstrak
Perang tampaknya telah menjadi bahagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia di bumi. Dilaporkan bahwa sejak tahun 3600 SM dunia hanya mengenyam periode perdamaian selama 292 tahun. Selama masa tersebut telah terjadi perang besar maupun kecil sebanyak 14,531 kali, dengan menelan korban 3,640 juta orang. Dari tahun 1496 SM sampai 1861 (3,358 tahun), terdapat masa damai 227 tahun, sisanya 3,130 tahun dipenuhi dengan perang, atau 13 tahun masa perang untuk setiap tahun masa damai. Upaya untuk menghapus perang telah dilakukan sejak Perang Dunia I (19141918) berakhir, yaitu dengan mendirikan Liga Bangsa Bangsa (10 Januari 1920) dan kemudian digantikan Perserikatan Bangsa Bangsa (24 Oktober 1945). Namun, hingga sampai sekarang, perang dengan segala bentuk dan manifestasinya masih saja terus terjadi. Sebagai misal, di tahun 1990 Irak menyerbu dan menganeksasi Kuwait. Untuk memaksanya meninggalkan Kuwait, di tahun 1991 Amerika Serikat menyerang Irak. Kemudian setelah tragedi 11 September 2001, Amerika Serikat kembali mengobarkan perang melawan teror (War on Terror) dengan menginvasi Afghanistan (Oktober 2001) dan kemudian Irak (Maret 2003). Hingga sampai saat ini kedua perang tersebut masih terus berlanjut, bersamaan dengan kurang lebih 30 perang atau konflik bersenjata lainnya. Sebagai tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk memaksa lawan kita guna memenuhi keinginan kita, atau sebagai konflik bersenjata yang nyata, luas dan disengaja antara komunitas-komunitas politik yang dimotivasi oleh ketidaksepahaman yang tajam atas persoalan kepemerintahan, perang selalu menyisakan duka, menelan biaya yang sangat luar biasa jumlahnya, serta kerusakan atas fasilitas-fasiltas penting yang mendukung kehidupan masyarakat banyak. Mengapa perang terjadi? Perang terjadi antara lain karena beberapa sebab, yaitu: sebab-sebab psikologis (seperti frustasi dan mispersepsi), sebab-sebab kultural dan ideologis, sebab-sebab ekonomi dan sebab-sebab politis. Akan tetapi, didalam kenyataannya, tidak satu pun perang yang memiliki sebab tunggal. Kesadaran untuk menghapus perang dari muka bumi telah membawa ke arah pengembangan studi ilmu hubungan internasional yang kemudian melahirkan berbagai teori, antara lain: (1) Perspektif Idealis, (2) Perspektif Realis, (3) Perspektif Liberalisme Klasik, (4) Perspektif Ekonomi Politik, (5) Perspektif Ahli Psikologi, (6) Doktrin Perang yang Sah, dan (7) Perspektif Pasifis. Akan tetapi karena potensi manusia dan atau negara untuk melakukan perang tetap ada, upaya menghapus perang telah menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Berbagai pemikiran tentang bagaimana mencegah dan atau mengelola perang telah berkembang begitu luas dan beragam, dari yang mengandalkan pada pembentukan organisasi regional maupun internasional, bertumpu pada ”balance of power” atau perimbangan kekuatan, perluasan pasar bebas, perluasan demokrasi ke seluruh penjuru dunia, mencegah atau menghilangkan mispersepsi, penolakan total perang melalui penyelesaian persoalan secara damai, sampai penerapan hukum internasional. Keywords: LBB dan PBB, perang melawan terror, penyebab perang, upaya mencegah dan mengelola perang.

112

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

Pendahuluan Di dalam bukunya berjudul ”Nobody Wanted War: Misperception in Vietnam and Other Wars” sebagaimana dikutip oleh psikolog Djamaludin Ancok, Ralph K. White (1968) mengatakan bahwa siapapun tidak menyukai peperangan. Walaupun demikian sejak dahulu kala peperangan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Lembaran sejarah hampir semua bangsa di dunia ini telah dibasahi oleh darah dan air mata akibat peperangan (http://ancok. staff.ugm.ac.id/h-17/psikologi-dan-perdamaian.html). Perang tampaknya telah menjadi bahagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam artikelnya yang berjudul ”The Great War F i g u r e s H o a x : a n I n v es t i g a t i o n i n Polemomythology,” (http://rechten.eldoc.ub. rug.nl/FILES/departments/Algemeen/overigep u-blicaties/2005enouder/HOAX/HOAX.pdf) B. Jongman dan J. Van der Dennen melaporkan bahwa bahwa sejak tahun 3600 SM dunia hanya mengenyam periode perdamaian selama 292 tahun. Selama masa tersebut terhitung telah terjadi perang sebanyak 14,531 kali, baik perang besar atau kecil, dengan korban jiwa sebanyak 3,640,000,000 orang. (RAND Internal Pub, 1961) Catatan lain menyebutkan bahwa sejak tahun 1496 SM sampai tahun 1861, atau selama 3,358 tahun, terdapat masa damai selama 227 tahun dan sisanya 3,130 tahun dipenuhi dengan perang, atau 13 tahun masa perang untuk setiap tahun masa damai (Novicow, 1912). Angka ini tidak jauh berbeda dengan kalkulasi yang dibuat para ahli dari Soviet yang menyebutkan dalam kurun waktu 5,500 tahun yang lewat telah terjadi 14,500 perang besar dan kecil dengan korban terbunuh sebanyak 3,600 juta orang (Tabunov, 1986). Upaya para pemimpin negara di dunia untuk menghapus atau mencegah terjadinya perang telah dilakukan sejak berakhirnya Perang Dunia I (1914-1918) yaitu dengan melalui pembentukan Liga Bangsa Bangsa atau LBB (10 Januari 1920), namun hingga sampai sekarang perang dengan segala bentuk dan manifestasinya masih saja terus terjadi. Tidak lama setelah berdirinya LBB, pecah Perang Dunia II (19391945) dengan skala yang lebih besar, cakupan yang lebih luas, serta korban harta dan jiwa yang jauh lebih mengerikan. Ironisnya, negara-negara yang memulai

perang justru negara-negara yang kebetulan duduk sebagai anggota tetap Council LBB, yaitu Jepang, Italia dan Jerman. Liga Bangsa Bangsa yang didirikan atas dasar Treaty of Versailles (1919-1920) ternyata telah gagal mewujudkan cita-citanya yaitu: melakukan perlucutan senjata, mencegah perang melalui prinsip keamanan bersama, menyelesaikan pertikaian antarnegara melalui negosiasi, diplomasi dan peningkatan kesejahteraan. Kegagalan LBB dibuktikan oleh ketidakmampuannya mencegah Jepang melakukan penyerbuan ke Manchuria (1931), ekspansi militer Italia ke Ethiopia (1935), intervensi militer Jerman ke Austria, dan Cekoslovakia (1938-1939), serta serbuan Rusia atas Polandia Timur, Estonia dan Lithuania (1939-1940), yang kesemuanya itu kemudian telah menyulut pecahnya Perang Dunia II. Berakhirnya Perang Dunia II juga telah membawa harapan baru bagi terwujudnya dunia yang lebih aman dan damai. Segera setelah perang usai, negara-negara pemenang perang yaitu “The Big Fives” (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Cina dan Uni Soviet) sepakat untuk membentuk suatu organisasi internasional yang baru dengan keanggotaan yang lebih luas, yang diberi nama Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB (24 Oktober 1945). Salah satu tujuan utama PBB sebagaimana dinyatakan di dalam Pasal 1 Piagam adalah memelihara perdamaian dan keamanan internasional atas dasar prinsip keamanan bersama (to maintain international peace and security based on collective security principle). Akan tetapi, didalam kenyataannya PBB juga tidak sepenuhnya mampu menjaga agar dunia tetap aman dan damai terbebas dari ancaman dan bahaya perang. Tidak lama setelah PBB didirikan, dunia kembali dilanda perang baru yang dikenal dengan nama Perang Dingin (the Cold War), yang melibatkan dua blok kekuatan besar yang membagi dunia: Blok Barat yang kapitalis dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang komunis di bawah kepemimpinan Uni Soviet, yang masing-masing berusaha menjaga dan atau memperluas daerah pengaruhnya (sphere of influence) di dan atau ke seluruh penjuru dunia. Awal tahun 1990an Perang Dingin berakhir dengan kekalahan di pihak Blok Timur dan kemenangan di pihak Blok Barat. Berakhirnya Perang Dingin disambut dengan pesta

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

113

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

kemenangan di pihak Blok Barat. Kemenangan ini semakin meneguhkan keyakinan mereka akan kebenaran dan keunggulan sistem demokrasi liberal atau demokrasi kapitalisme yang selama ini dianutnya. Namun, di pihak lain telah timbul kekhawatiran bahwa keruntuhan sistem politik internasional dua kutub (bipolar system) sebagai akibat ambruknya rejim Uni Soviet akan menjadikanAmerika Serikat keluar sebagai satu-satunya kekuatan adidaya yang tak tertandingi, yang akan dengan mudah bertindak sebagai polisi dunia. Kekhawatiran itu terbukti benar. Ketika Irak di bawah Presiden Saddam Hussein menyerbu dan menganeksasi Kuwait (2 Agustus 1990), Amerika Serikat dengan mudah mendapatkan persetujuan Dewan Keamanan PBB untuk memimpin pasukan koalisi guna mengusir Irak keluar dari Kuwait (1991). Sekalipun Irak adalah sekutu dekatnya, Uni Soviet samasekali tidak membelanya ketika Irak dikenai sanksi oleh Dewan Keamanan PBB karena tindakannya tersebut, sesuatu yang kecil kemungkinannya terjadi seandainya Perang Dingin masih berlangsung. Sekali lagi terjadinya Perang Teluk telah memperlihatkan sisi gelap dari sifat dan watak manusia yang suka akan kekerasan, dan itu bukanlah yang terakhir. Amerika Serikat kembali memperlihatkan kekuatannya tidak lama setelah tragedi 11 September 2001 yang menyebabkan runtuhnya World Trade Center di New York. Dengan dalih memerangi terorisme, Amerika Serikat kembali mengobarkan perang (War on Terror) dengan menginvasi Afghanistan (Oktober 2001) dan kemudian Irak (Maret 2003). Hingga sampai saat ini kedua perang tersebut masih terus berlanjut bersamaan dengan perang-perang lainnya yang terjadi di berbagai wilayah dunia, termasuk perang saudara (civil war). Beberapa di antaranya bahkan telah berlangsung cukup lama, akan tetapi, sekalipun telah dilakukan berbagai upaya untuk mengakhirinya, belum terdapat tanda-tanda perang tersebut segera akan selesai. Derita Perang Perang selalu menyisakan duka bagi mereka yang terpaksa harus meregang nyawa, atau mereka yang terpaksa kehilangan sanak keluarga (apakah ayah, ibu, anak, saudara, dan lain sebagainya) karena menjadi korban dari ganasnya

perang. Belum lagi kerugian material maupun finansial yang tak ternilai harganya. Sebagai contoh, sejak invasi militer ke Irak dimulai (20 Maret 2003) hingga sampai 19 Maret 2008, Amerika Serikat telah kehilangan tentaranya karena tewas sejumlah 4,462 orang (http://projects.washingtonpost.com/fallen/), sementara korban jiwa di kalangan tentara maupun penduduk sipil Irak diperkirakan berjumlah 655 ribu jiwa (Washington Post, October 11 2006) sampai 1.189.173 jiwa (http://www.antiwar. com/casualties/). Jumlah korban tersebut masih akan terus bertambah mengingat tindak kekerasan di Irak masih terus berlanjut. Selain itu, Perang Irak yang telah berlangsung enam tahun telah menelan biaya lebih dari 12 milyar US dollar per bulan, belum termasuk kerugian yang diderita Irak karena kerusakan atas fasilitas-fasiltas penting seperti instalasi listrik, instalasi air minum, industri perminyakan, pabrik-pabrik, rumah sakit, sekolahan, dan sarana ekonomi penting lainnya, akibat pemboman yang dilakukan Amerika Serikat. Diperkirakan oleh Joseph E. Stiglitz (pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi) dan Linda J. Bilmes dalam bukunya “The Three Trillion Dollar War,” hingga sampai tahun 2017 nanti, proyek perang dan pendudukan Afghanistan dan Irak akan menelan biaya antara 1,7 sampai 2,7 trilliun US dollar, dua pertiganya digunakan untuk membeayai operasinya di Irak. Apabila dihitung dengan beaya ekonomi dan sosial lainnya maka jumlahnya masih akan bertambah hingga jadi 5 trilliun US dollar (http://news.yahoo.com/s/ap/20080309/ap_on_re_mi_ea/iraq _war costs). Definsi Perang Carl von Clausewith, seorang filosof perang dari Jerman, dalam bukunya “On War” mengartikan perang sebagai “suatu tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk memaksa lawan kita guna memenuhi keinginan kita” (War is an act of violence intended to compel our opponent to fulfil our will). “Perang adalah seperti duel akan tetapi dalam skala yang luas” (War is like a duel, but on an extensive scale). Dikatakan pula oleh Clausewith bahwa perang bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. ”Perang adalah merupakan kelanjutan politik dengan cara lain” (War is the continuation of policy by other means) (Stanford Encyclopedia

114

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

of Philosophy, http://www.science.uva.nl /~seop/entries/war/). Dengan kata lain, “jika para diplomat gagal menyelesaikan pertikaian dengan cara damai maka para jendral akan mengambil alih tugasnya dengan menggunakan perang sebagai alat untuk menyelesaikan pertikaian.” Michael Gelven di dalam bukunya “War and Existence” (1994) juga mengatakan bahwa ”perang adalah konflik bersenjata yang nyata, luas dan disengaja antara komunitas-komunitas politik yang dimotivasi oleh ketidaksepahaman yang tajam atas persoalan kepemerintahan” (War is intrinsically vast, communal [or political] and violent. It is an actual, widespread and deliberate armed conflict between political communities, motivated by a sharp disagreement over governance). “Perang adalah penggunaan kekuatan masa yang disengaja untuk menyelesaikan perselisihan atas persoalan kepemerintahan” (War is the intentional use of mass force to resolve disputes over governance). “Perang adalah kepemerintahan dengan menggunakan pemukul” (War is, indeed, governance by bludgeon). “Perang adalah gejala antropologis, yaitu tentang kelompok masyarakat mana yang dapat mengatakan apa yang boleh berlaku di suatu wilayah tertentu” (War is profoundly anthropological: it is about which group of people gets to say what goes on in a given territory) (Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://www.science.uva.nl/~seop/entries/war/). Pendek kata, perang adalah konflik bersenjata yang nyata, disengaja dan luas yang terjadi di antara dua komunitas politik atau lebih yang saling bermusuhan. Baku hantam di antara orang-orang yang bersifat individual tidak dapat dikatakan sebagai perang, termasuk juga perkelahian antar gang atau perseteruan antara warga yang berasal dari suatu daerah tertentu dengan warga yang berasal dari daerah lain. (Stanford Encyclopedia of Philosophy, http:// www.science.uva.nl/~seop/entries/war/). Perang adalah gejala yang terjadi di antara komunitas politik yang didefiniskan sebagai entitas yang bisa berupa negara atau yang bermaksud menjadi negara. Perang klasik adalah perang internasional, yaitu suatu perang yang melibatkan negara-negara yang berbeda, seperti misalnya Perang Dunia I dan II. Sedangkan perang sipil atau perang saudara adalah perang

yang terjadi di dalam suatu negara yang melibatkan kelompok-kelompok atau komunitaskomunitas yang saling bermusuhan. Kelompok penekan tertentu, seperti organisasi teroris, bisa dianggap sebagai komunitas politik karena mereka adalah juga sekumpulan orang yang memiliki tujuan politik tertentu. Banyak di antara kelompok-kelompok ini yang telah mengaspirasikan atau memimpikan berdirinya suatu negara atau mempengaruhi pengembangan negara di suatu wilayah tertentu (Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://www.science.uva.nl/~seop/entries/war/). Sebab-sebab Terjadinya Perang Ada dua macam sebab terjadinya perang, yaitu sebab langsung atau casus belli dan sebab-sebab umum. Sebab langsung hanyalah merupakan peristiwa yang mendorong suatu pihak merasa sah dan adil untuk memulai perang atas yang lain. Sebab langsung ini tidak akan timbul seandainya tidak ada sebab-sebab umum yang mendahuluinya. Sebab-sebab perang bisa bermacam-macam, yaitu sebab-sebab psikologis, sebab-sebab kultural dan ideologis, sebab-sebab ekonomi dan sebab-sebab politis. A. Sebab-sebab Psikologis Djamaludin Ancok dalam tulisannya ”Psikologi dan Perdamaian” (2007) (http://ancok.staff.ugm.ac.id/h-17/psikologi-dan-perdamaian.html) mengatakan bahwa peperangan adalah suatu jenis tingkah laku dari sekian banyak tingkah laku manusia di dunia ini. Karena perang adalah “tingkah laku” maka penyebab perang dapat dilihat dari beberapa pendekatan yang berbeda antara satu dengan lainnya, yaitu: Pendekatan Motivasional, Pendekatan Reinforsemen, Pendekatan Kognitif, dan Pendekatan Struktur Sosial. Menurut pendekatan Motivasional sumber penyebab terjadinya peperangan terdapat di dalam diri manusia sendiri. Ada beberapa pandangan tentang aspek Motivasional yang mempengaruhi perilaku perang: 1. Teori Psikoanalisis: a) Freud (1932) beranggapan bahwa perang terjadi oleh karena adanya dorongan agresif yang destruktif di dalam diri manusia. Dorongan ini bersumber dari ”thanatos” (instinct untuk mati) yang sudah ada sejak manusia dila-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

115

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

hirkan. Dorongan ini timbul karena manusia kehilangan rasa dicintai (loss of love). Walaupun Freud percaya bahwa akal sehat manusia dapat mengontrol munculnya dorongan untuk membunuh atau merusak, akan tetapi dorongan tersebut tidak pernah bisa dihilangkan karena sudah merupakan kebutuhan dasar manusia, yang tidak berbeda dengan kebutuhan makan dan minum. Perang, kekerasan terhadap orang lain (pembunuhan), dan kekerasan terhadap diri sendiri (bunuh diri) akan terjadi bila manusia di dalam kehidupannya bersama orang lain mengalami frustasi. b) Adler (1956) beranggapan bahwa “dorongan superior” lah yang mendorong seseorang untuk berbuat agresif-destruktif. Pendapat yang sama diajukan oleh Rollo May (1943) yang mengatakan bahwa adanya keinginan manusia untuk “mengukuhkan kembali kekuasaan dirinya” (restructuring of power) yang tadinya tenggelam oleh adanya hambatan dari orang lain mendorong seseorang untuk berbuat agresifdestruktif. Pengukuhan kembali kekuasaan ini bertujuan untuk menegakkan “indetitas diri” dan “mengaktualisasi diri.” 2. Teori Frustasi-Agresi J. Dollard dkk. (1939) membuat hipotesis bahwa: “Agresi selalu merupakan konsekuensi dari frustasi, dan keberadaan frustasi selama menyebabkan terjadinya tindakan dalam bentuk agresi” (Agression is always a consequence of frustation, and the existence of frustration always lead to some form of agression.” Miller (1941) kemudian memperhalusnya dengan menggantikan kata “always” dengan “usually.” Ditinjau dari teori Frustrasi-Agresi, perang bersumber dari adanya rasa frustasi yang berupa frustrasi terhadap penguasa, ataupun frustrasi terhadap suatu bangsa lain yang ingin berkuasa di bidang politik, ekonomi ataupun aspek lainnya. Menurut pendekatan Untung-Rugi setiap orang cenderung melakukan perbuatan yang menghasilkan keuntungan atau terhindar dari kerugian. Bandura (1973) mengatakan bahwa perbuatan agresi dilakukan orang karena perbuatan tersebut menghasilkan “reward.” Di dalam bukunya “Agression: A Social Learning Analysis,” Bandura menulis: “Sejumlah besar agresi didorong oleh harapan memperoleh keuntungan” (A great deal of aggression is

prompted by its anticipated benefits). Perang yang dilakukan dengan tujuan ”kolonialisasi” atau “ekspansi territorial” yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomis adalah merupakan contohnya. Menurut pendekatan Kognitif konflik internasional terjadi karena adanya proses persepsi yang keliru (misperception) di dalam menanggapi suatu situasi yang terjadi. Ralph K. White (1970) mengatakan bahwa ada enam hal yang merupakan mispersepsi yang seringkali menimbulkan konflik internasional yaitu: 1. “Diabolical enemy image” (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan). 2. “Vipile self image” (pandangan bahwa diri sendiri jantan). 3. “Moral self image” (pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis) 4. “Selective in attention” (tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan). 5. “Absence of empathy” (tidak adanya rasa empati). 6. “Military over confidence” (keyakinan yang berlebih-lebihan akan kekuatan militer). Pandangan bahwa musuh jahat seperti setan terjadi ketika dua negara dalam keadaan konflik, negara-negara tersebut akan melihat negara musuhnya dalam bayangan yang serba negatif. Masing masing negara melihat musuhnya sebagai “agresor” dan negara tersebut sebagai obyek agresi. Dalam menjelaskan pandangan bahwa diri sendiri adalah jantan, White menggunakan kasus perang Vietnam untuk menunjukkan adanya pandangan tersebut. Pidato-pidato yang disampaikan oleh para senator di Kongres Amerika Serikat dalam kaitannya dengan perang Vietnam pada umumnya berisikan pernyataan bahwa Amerika harus bersikap jantan, tidak penakut di dalam menghadapi masalah Vietnam. Amerika harus berani berperang demi menjaga nama baik. Pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis terjadi ketika negara yang berada dalam konflik dengan negara lain melihat dirinya sebagai yang benar, dan Tuhan bersama dia. Buat kebanyakan orang Amerika, segala tindakan Amerika di luar negeri dianggap benar, karena memperjuangkan hak azasi manusia dan menciptakan perdamaian dunia. Pikiran yang berkaitan dengan keuntungan bagi Amerika Serikat

116

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

sendiri dari tindakannya di luar negeri biasanya tidak begitu terlintas di pikiran mereka. Tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan dapat dilihat di dalam keadaan konflik orang-orang seringkali tidak mau mengindahkan pendapat dan atau berita-berita yang bertentangan dengan apa yang dia yakini. Segala informasi dari negara musuh dianggap tidak benar. Semua pendapat atau berita yang berasal dari sumber lain yang bertentangan akan dianggap tidak benar dan diabaikan. Pokoknya yang paling benar hanyalah dirinya sendiri. Tidak adanya rasa empati terjadi ketika dalam keadaaan konflik negara yang terlibat tidak memiliki sama sekali rasa empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh lawan. Hadirnya rasa empati terhadap penderitaan lawan dianggap suatu “ketidak jantanan”(ummanly), dan hal ini akan memperlemah keyakinan bahwa pihak merekalah yang benar, dan lawanlah yang salah. Keyakinan yang berlebih-lebihan terhadap kekuatan militer menyebabkan perang antarnegara yang terjadi ketika masing masing negara merasa yakin akan keampuhan kekuatan militer yang dimilikinya. Masing masing negara yakin bahwa negaranya pasti menang di dalam peperangan. Pikiran yang demikian seringkali hanya merupakan ilusi. Disamping ke-enam hal tersebut di atas, masih ada lagi suatu bentuk kesalahan pandangan (mispersepsi) yang dapat menimbulkan konflik internasional, yaitu cara berpikir “hitamputih.” Cara berpikir ini biasanya hanya melihat sesuatu dari dua kemungkinan “kalau bukan kawan saya, pasti lawan saya” atau ”kalau tidak Amerika, pasti Rusia.” Cara berpikir demikian seringkali menimbulkan kesalahan di da-lam melihat sesuatu masalah internasional. Selanjutnya pendekatan Struktural mengatakan bahwa masalah pada struktur kehidupan yang ada di masyarakat merupakan sumber terjadinya konflik, kekerasan, atau peperangan. Adanya strata di dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara dapat menjadi sumber pertikaian, terutama apabila strata tersebut menjadi sumber ketidak-adilan. Stratifikasi sosial, seperti golongan kaya, golongan me-nengah, dan golongan miskin dapat menjadi sumber bentrokan dan tindakan kekerasan apabila terjadi ketidak-adilan dalam distribusi

kekayaan dalam suatu negara. Ancaman tersebut dapat terjadi oleh karena pengelompokan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat memberi peluang bagi terjadinya “konflik antar kelompok" (group conflict). Pengelompokan akan membuat perasaan “in group” vs “out group” semakin jelas. Anggota-anggota kelompok biasanya merasakan kelompok dialah yang paling baik, dan oleh karena itu harus diperhatikan kesejahteraannya. Pengelompokan ini apabila disertai dengan kompetisi dalam bidang tertentu akan dapat menimbulkan konflik yang meregangkan hubungan antar kelompok. Di dalam kelompok, orangorang lebih mudah kehilangan kontrol sosial, sehingga mereka lebih mudah melakukan tindakan-tindakan yang a-sosial. Dalam kelompok, dorongan destruktif yang dimiliki dapat dengan mudah dilepaskan, salah satu cara pelepasannya adalah dengan perang. B. Sebab-sebab kultural dan ideologis Adanya perbedaan dalam pandangan dan nilai-nilai di antara anggota masyarakat nasional maupun internasional secara riel maupun potensial merupakan sumber perselisihan dalam masyarakat. Sebetulnya tidak ada karakteristik kebudayaan tertentu yang erat kaitannya dengan batas-batas nasional, oleh karena itu perasaan adanya perbedaan kebudayaan sering menjadi penyebab yang lebih besar terjadinya perang dibanding dengan adanya perbedaan kebudayaan itu sendiri. Perang Salib Katholik-Protestan atau perang Hindu-Muslim adalah merupakan contohcontoh perang disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sistem nilai, meskipun hal itu bukanlah satu-satunya. Perang dalam masa revolusi Perancis adalah merupakan perang yang diakibatkan adanya pertentangan antara kekuatan demokrasi (liberty, egality, fraternity) melawan kekutan ortodoks yang konservatif dan feodalistis. Kemudian Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat merupakan perang yang disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi kapitalisme melawan komunisme. C. Sebab-sebab ekonomi Ada banyak pendapat tentang perang yang disebabkan oleh alasan-alasan ekonomi. Pendapat pertama mengatakan bahwa perang dilakukan dengan maksud meningkatkan taraf

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

117

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

hidup (standard of living) rakyatnya. Jepang, Jerman dan Italia melakukan perang karena mereka merasa dirinya “the have not countries” yang membutuhkan daerah yang lebih luas guna menambah sumber penghasilan mereka sehingga rakyatnya akan hidup dengan lebih sejahtera. Pendapat kedua mengatakan perang terjadi karena adanya hambatan-hambatan dalam perdagangan. Tarif yang tinggi, pajak impor yang mahal, larangan dan pembatasan ekspor, dan lain sebagainya akan mengakibatkan terhambatnya perdagangan antara bangsabangsa yang ada di dunia yang akibatnya akan menimbulkan perang. Perang akan dapat dihindari manakala hambatan-hambatan perdagangan tersebut dihapuskan sehingga tercipta sistem perdagangan bebas. Perdagangan bebas akan mendapatkan jalinan hubungan ekonomi antar bangsa di dunia dan hal ini akan merupakan ikatan kuat dipertahankannya perdamaian. Pendapat ketiga mengatakan bahwa perang timbul karena adanya dorongan untuk memperoleh keuntungan yang tinggi dari penjualan perlengkapan-perlengkapan perang. Adanya perang akan mengakibatkan permintaan amunisi perang, senjata, tank, pesawat tempur, peluru kendali, dan lain sebagainya meningkat dan hal ini akan sangat menguntungkan para industrialis-industrialis perang (merchant of dead), bankir-bankir internasional dan kapitalisme wall-street yang haus perang (war monger). Pendapat keempat disampaikan oleh kaum Marxis yang mengatakan bahwa perang sangat erat kaitannya dengan kolonialisme dan imperialisme. Keduanya merupakan akibat yang langsung dari adanya kapitalisme. Kapitalisme telah menyebabkan terjadinya produksi yang melebihi kebutuhan di dalam negeri. Over produksi ini terjadi karena kaum kapitalis telah membayar buruhnya dengan cara yang tidak wajar sehingga mereka bisa menumpuk keuntungan. Untuk mengatasi over produksi mereka terpaksa menyalurkan hasil produksinya ke daerah-daerah yang belum maju dan di daerahdaerah tersebut mereka memanamkan modalnya serta mendapatkan bahan mentah guna mendukung produksinya. Sejalan dengan semakin berkembangnya daerah tersebut sebagai daerah pamasaran akan hasil-hasil produksinya dan sumber penyediaan barang mentah yang

diperlukan maka kebutuhan akan perlindungan keamanan atas kepentingan mereka di daerah tersebut menjadi semakin besar. Untuk itu kemudian diciptakanlah kekuasan-kekuasaan kolonial yang didukung dengan kekuatan senjata. Sebagai akibatnya konflik kepentingan antara kaum kapitalis untuk mengeskploitir daerah tersebut melawan kepentingan rakyat yang bersangkutan untuk melindungi hak-hak mereka sering terjadi dan berakhir pada terjadinya perang. Kapitalisme akan memperluas daerah kolonisasinya (kolonialisme) ke seluruh penjuru dunia (imperialisme) apabila eksploitasi di daerah tersebut telah habis.. D. Sebab sebab politik Perang terjadi karena tidak adanya lembaga pemerintahan yang efektif. Dengan kata lain perang timbul karena adanya anarki, yaitu suatu kondisi di mana inidividu atau kelompok individu mencoba hidup tanpa pemerintahan yang efektif. Keadaan demikian menyebabkan tiadanya kerjasama atau tiadanya kepastian untuk bertindak di antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat (nasional maupun internasional) dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya perang. Perang mungkin juga terjadi karena adanya usaha dari setiap negara untuk selalu mendapatkan, memelihara, meningkatkan dan mendemonstrasikan power mereka guna menjamin keamanan nasionalnya. Di dalam keadaan tanpa adanya lembaga supranasional ini maka setiap negara harus mengandalkan kekuatan sendiri di dalam usahanya untuk menjamin keamanan nasionalnya yang besarnya diukur berdasar kemampuannya untuk membeayai perang. Negara-negara yang memiliki persamaan kepentingan atau setidak-tidaknya kepentingan mereka tidak bertentangan cenderung untuk membentuk aliansi apabila mereka merasa power yang dimilikinya tidak cukup untuk menopang keamanan nasionalnya di dalam melawan kekuatan negara lain. Sebaliknya, aliansi semacam ini akan menimbulkan meningkatnya rasa tidak aman atas diri negara lain dan oleh karena itu mereka juga akan berusaha untuk mengimbanginya dengan meningkatkan powernya, kalau perlu juga dengan jalan membangun aliansi. Dan karena power itu sifatnya relatif, maka tidak akan pernah ada satu negara pun atau kelompok negara pun yang merasa telah

118

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

terjamin keamanan nasionalnya apabila power yang mereka miliki secara riil bukan yang paling besar. Jadi, ketakutan dan kekhawatiran suatu negara atas adanya ancaman dari negara lain terhadap keamanan nasionalnya dan sampai akhirnya terjadi perang adalah merupakan akibat dari usaha sia-sia untuk mencapai keamanan itu sendiri. Namun, sangat sulit untuk menentukan apakah suatu perang disebabkan oleh alasan psikologis, kultural ideologis, ekonomi ataupun politik. Yang jelas, di dunia ini tidak ada sebuah perang pun yang mempunyai sebab tunggal karena perdamaian adalah merupakan keseimbangan dari banyak faktor yang ada dalam masyarakat. Perdamaian yang memiliki derajad yang berbeda-beda adalah suatu kondisi di mana individu atau kelompok individu dalam suatu masyarakat termasuk masyarakat dunia terbebas dari penggunaan kekuatan fisik di dalam berhubungan satu dengan yang lain. Sebab-sebab perang adalah senantiasa berupa elemen-elemen ataupun kekuatan-kekuatan fisik oleh individu atau kelompok individu atau kelompok masyarakat atau negara untuk melawan yang lain. Berbagai Teori Menghapus Perang Meskipun rumit dan tidak mudah, manusia tidak pernah jera maupun lelah untuk berupaya menghapuskan perang dari muka bumi. Perang telah menggugah kesadaran manusia akan perlunya mencari solusi yang tepat dan memadai guna mencegahnya atau mengontrolnya apabila sudah terlanjur terjadi. Kesadaran tersebut salah satunya telah membawa ke arah pengembangan studi ilmu hubungan internasional sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri di berbagai universitas di Amerika Serikat (1920) yang kemudian meluas ke seluruh penjuru dunia. Dari pengembangan studi ilmu hubungan internasional ini kemudian muncul berbagai pemikiran tentang perang, terutama tentang bagaimana menghindari atau menghapuskannya dari muka bumi. A. Perspektif Idealis Para tokoh-tokoh idealis terkemuka seperti Henri de Saint-Simon, William Ladd, Richard Cobden, Mahatma Gandhi, Woodrow Wilson, Bertrand Russel dan lain sebagainya yang

masih diguncang oleh kenangan pahit Perang Dunia I telah mengadopsi suatu pendekatan yang bersifat moralistik-legalistik, yang memandang perang sebagai suatu kecelakaan atau suatu dosa. Sebagai suatu kecelakaan karena perang terjadi sebagai akibat dari tiadanya lembaga internasional yang efektif yang menyediakan alternatif-alternatif yang berarti bagi para pemimpin negara untuk saling berargumentasi secara langsung. Sebagai suatu dosa karena perang telah mempertontonkan sisi gelap dari sifat manusia dan oleh karena itu perang apapun bentuk dan manifestasinya harus segera diakhiri de-ngan sekuat tenaga. Pandangan kaum idealis (utopian) yang mendominasi masa antara PD I dan PD II ini selanjutnya mengatakan bahwa perang terjadi karena adanya perjanjian-perjanjian rahasia antarnegara dan jika setiap warganegara dari setiap negara tersebut menyadari maka perjanjian yang sedemikian ini tidak akan bisa ditolerir. Kaum idealis, oleh karena itu, menyerukan diakhirinya diplomasi rahasia serta mendesak partisipasi masyarakat dalam perumusan dan penyelenggaraan politik luar negeri (Maghroori & Ramberg, 1982: 10). Kaum idealis juga mendesak perlunya dibentuk organisasi internasional yang akan menyediakan suatu forum bagi negara-negara untuk merundingkan perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara mereka. Program idealis adalah ditinggalkannya “sistem perimbangan kekuatan” (balance of power system) dan menggantinya dengan “sistem keamanan bersama” (collective security system) yang akan mewajibkan negara-negara mengurangi kesiapan militernya sampai ke tingkat yang paling rendah, dan kemudian menyandarkan keamanan nasional mereka kepada kemampuan militer gabungan dari masyarakat dunia guna melawan agresi bersenjata yang mungkin terjadi. (Maghroori & Ramberg, 1982: 10) Dengan kata lain, mereka menghendaki dibentuknya “pemerintahan dunia” (world government) yang dilengkapi dengan kewenangan untuk mengadili dan kekuatan pemaksa yang memadai untuk menyelesaikan setiap persengketaan yang terjadi di antara negara-negara. Ide kaum idealis ini kemudian diwujudkan dengan pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) di tahun 1920. Cita-cita kaum idealis adalah jelas yaitu

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

119

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

terbentuknya suatu tata dunia dan tata kehidupan yang penuh dengan kedamaian (fulfil with peace), dan hal itu akan dapat terwujud hanya apabila manusia/negara tunduk pada aturanaturan, baik itu aturan yang memiliki daya paksa (punishment) maupun yang sifatnya sukarela. Ketika manusia/negara tunduk kepada suatu aturan, dan juga norma-norma universal, maka seluruh manusia/negara akan bersinergi demi meraih kepentingan dan cita-cita bersama (http: //phyto.wordpress.com/2007/09/17/damaidan-perang/). B. Perspektif Realis Segera sesudah berakhirnya Perang Dunia II suatu generasi baru ilmuwan pragmatis muncul dengan menamakan dirinya kaum realis, seperti Edward H. Carr, Hans J. Morgenthau, Frederick Schuman, Nicholas Spykman, Kenneth Thompson dan lain sebagainya. Mereka ini pada prinsipnya menolak konsep moralistik-legalistik dalam diplomasi dan sebaliknya menekankan pada pendapat bahwa kebijakan yang didasarkan pada power atau kekuatan akan mampu mewujudkan keamanan global. (Coulumbis & Wolfe, 1978: 4) Teori-teori kaum realis - yang kebanyakan merupakan kritik terhadap pandangan kaum idealis - sangat menjunjung tinggi hak-hak negara nasional yang berdaulat sebagai unit dasar analisis untuk mengejar power serta mengandalkan pada balance of power system guna merintangi kompetisi yang terjadi di antara negaranegara. Hans. J. Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nations mengatakan bahwa: “As of all politics, international politics is of necessity power politics,” bahwa pengejaran national power merupakan dorongan yang bersifat alami (natural drive) dan bahwa negara yang tidak berusaha meningkatkan power-nya sebenarnya justru akan mengundang perang. Selain itu masyarakat negara yang terdiri dari aktoraktor individu yang sedang berjuang untuk meningkatkan power, pengaruh dan keamanannya yang bersifat mendasar akan secara alamiah ditarik kedalam suatu pesekutuan yang bersifat sementara yang secara bergantian akan cenderung untuk memaksakan balance of power tertentu di antara blok-blok negara yang saling bermusuhan. (Mahgroori & Ramberg, 1982:10) Bagi kaum realis, perdamaian dipersep-

sikan sebagai suatu keadaan bersama yang dijamin oleh perimbangan kekuatan yang bertanding (Jurnal Luar Negeri, Tahun I-Desember 1983:35) Perimbangan kekuatan merupakan suatu rancangan pengaturan yang baik. Apabila kekuasaan terbagi seimbang di antara negaranegara, maka akan tidak ada satu negara pun yang mencapai hegemoni internasional (Dougherty & Platzgraf Jr, 1983: 78). Cita-cita tentang perdamaian dan keamanan internasional sebagaimana dimaksudkan oleh kaum realis dikembangkan berdasarkan pada konsep-konsep kekuatan; perdamaian seolah-olah bisa dijamin apabila tercipta suatu perimbangan kekuatan, baik sebagai potensi daya tempur maupun potensi daya tangkal (Jurnal Luar Negeri, Tahun I-Desember 1983:35). Pendek kata, perang tak akan pernah terjadi apabila terdapat keseimbangan kekuatan (balance of power) di antara kedua belah pihak. Jika salah satu pihak lebih lemah dibanding pihak lain, maka genderang perang sudah pasti akan ditabuh oleh pihak yang lebih kuat. Nasehat yang diberikan oleh kaum realis kalau kita menghendaki perdamaian adalah bersiaplah untuk perang: “If you want to keep peaceful in the world, prepare yourself to war!” Bagi para pemikir realis, tata nilai perdamaian yang diagung-agungkan oleh negara dan juga oleh lembaga-lembaga internasional seperti LBB atau PBB hanyalah omong kosong belaka. http:// phyto.wordpress.com/2007/09/17/damai-danperang/). C. Perspektif Liberalisme Klasik Immanuel Kant (1795) secara sistematik mengartikulasikan peran positif kemerdekaan politik dalam mengeliminasi perang dan mengusulkan bahwa republik konstitusional perlu dibangun untuk menjamin perdamaian yang universal. Menurut Kant “semakin merdeka rakyat ikut memerintah kehidupannya, semakin banyak kekuasaan pemerintah dibatasi secara konstitusional, semakin besar pemimpin bertanggungjawab melalui pemilihan umum yang bebas terhadap rakyatnya, maka para pemimpinnya akan semakin lebih terkendali dalam memutuskan perang.” Kaum liberal, seperti Kant, de Montesquieu, Thomas Paine, Jeremy Bentham, John Stuart Mill, dan lain sebagainya, percaya bahwa ada harmoni kepentingan yang bersifat alami di

120

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

antara bangsa-bangsa di dunia, dan bahwa perdagangan bebas akan memfasilitasi terbentuknya harmoni ini dan mempromosikan perdamaian. Menurut keyakinan mereka, aristokrasi monarki (monarchical aristocracies) memiliki kepentingan tetap “vested interest” untuk melakukan perang (R.J. Rummel, http://www. firearmsandliberty.com/rummel.war.html). D. Perspektif Ekonomi Politik Bruce Bueno de Mesquita dalam tulisannya berjudul “Game Theory, Political Economy, and the Evolving Study of War and Peace” (American Political Science Review, Vol. 100, No. .4, Nov. 2006) mengatakan bahwa perspektif ekonomi politik yang menekankan pada kepentingan dan insentif politik dalam negeri, menemukan logika yang membedakan politik luar negeri dari para pemimpin yang demokratis dan yang tidak demokratis (otoriter). Kekalahan dalam perang, sebagai misal, merupakan pengalaman yang mahal bagi masyarakat dan oleh karena itu lebih menyakitkan bagi pemimpin demokratis yang akuntabel, dibanding bagi pemimpin monarki, otokratis atau junta. Berkaitan dengan beaya politik dari suatu kekalahan, pemimpin demokrat hanya mau berperang apabila mereka percaya kesempatan untuk menang tinggi dan atau apabila semua upaya negosiasi menemui kegagalan. Dikarenakan pemimpin otokratis tetap menduduki jabatan atau berhenti menduduki jabatan bukan karena dukungan rakyat, maka kekalahan dalam perang bagi mereka sering secara politik tidaklah dianggap begitu mahal dibanding bagi pemimpin demokrat. Hal yang demikian ini membuat para pemimpin otokratis lebih suka berperang walaupun akibatnya mungkin akan membuat negaranya menjadi lebih miskin. Karena para pemimpin demokrat selektif dalam melakukan perang, mereka pada umumnya berhasil memenangkan perang yang diinginkannya. Selama dua abad terakhir negaranegara demokrasi berhasil memenangkan 92 persen dari perang yang dilakukan, sementara negara-negara otokratis hanya berhasil memenangkan 60 per sen dari perang yang mereka lakukan. Jika dua orang demokrat terlibat perselisihan, perang tidak mungkin terjadi. Masingmasing pemimpin demokrasi memiliki insentif yang sama yang didorong secara kelembagaan:

masing-masing berusaha keras untuk memenangkan perang jika perang terjadi; masingmasing memerlukan keberhasilan kebijakan untuk bisa menduduki jabatan lagi; masing-masing harus percaya di awal bahwa kemungkinan memenangkan perang sangatlah tinggi. Bila pemimpin demokrat tidak berpendapat bahwa mereka pasti mendekati kemenangan, maka mereka memilih untuk melakukan negosiasi daripada berperang. Model ekonomi politik menyimpulkan bahwa para pemimpin negara demokrasi yang saling bermusuhan cenderung lebih suka berunding daripada berkelahi. Sebaliknya, karena tidak menghadapi rintangan seperti yang dihadapi para pemimpin demokratis, khususnya dalam proses pembuatan keputusan, para pemimpin otoriter lebih siap untuk berperang bahkan sekalipun kemungkinan untuk menang sangat kecil. Tampaknya mereka lebih suka membelanjakan sumber kekayaan negara untuk membeayai perang meskipun dengan resiko kalah, yang memberi kesempatan bagi para kroninya memperoleh ganjaran untuk kepentingan pribadinya, daripada membagikan sumber kekayaan negara untuk kesejahteraan para pendukungnya. Berdasar pada realitas tersebut upaya untuk mengeliminasi perang, menurut pandangan ekonomi politik, dapat dilakukan melalui perluasan demokrasi ke seluruh penjuru dunia.. E. PerspektifAhli Psikologi Apabila telah diyakini bahwa perang terjadi karena adanya kelompok-kelompok manusia yang merasa kepentingannya terancam, maka jalan untuk menghindari peperangan itu tiada lain kecuali melenyapkan adanya keterancaman tersebut. Oleh karena perasaan terancam seringkali timbul oleh mispersepsi terhadap situasi yang sebenarnya, maka usaha untuk menciptakan perdamaian harus diarahkan untuk menghilangkan mispersepsi ini: 1) Orang-orang (kelompok atau negara) harus berusaha untuk menyadari bahwa mispersepsi akan terjadi apabila ada ketertutupan di dalam komunikasi. Usaha-usaha antar kelompok atau antarnegara untuk membuka komunikasi perlu dilakukan guna mencapai saling pengertian (persepsi yang akurat). Program-program pertukaran pelajar, pemuda, mahasiswa antarnegara atau saling kunjung mengunjungi pe-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

121

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

jabat pemerintah antarnegara dapat digunakan sebagai sarana. 2) Penciptaan sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Konsep “Super Ordinate Goal” dapat digunakan untuk mengurangi konflik antar kelompok. Usaha untuk menciptakan “Super Ordinate Goal” telah dibuktikan oleh Perancis dan Jerman; sebelum adanya Masyarakat Ekonomi Eropa yang kemudian berubah menjadi Uni Eropa yang bertujuan untuk meningkatkan kepentingan bersama sesama negara anggota, Jerman dan Perancis telah berperang sebanyak tiga kali. Setelah kedua negara ini bergabung ke dalam MEE, mereka hidup damai tanpa peperangan (http://ancok.staff.ugm. ac.id/h-17/psikologi-dan-perdamaian.html). F. Doktrin tentang Perang yang Sah Sementara para pemikir idealis, realis, liberal klasik, ekonomi politik, psikolog, dan pasifis berbicara tentang bagaimana menghindari perang, muncul doktrin lain yang berbicara tentang apa yang harus dilakukan manakala suatu negara terpaksa harus berperang. Doktrin ini disebut sebagai doktrin perang yang sah. Doktrin tentang Perang yang Sah adalah upaya untuk membedakan antara cara-cara yang dapat dibenarkan dengan yang tidak dapat dibenarkan dalam penggunaan angkatan bersenjata yang terorganisasi. Doktrin Perang yang Sah membahas moralitas penggunaan kekuatan dalam tiga bagian, yaitu: (1) kapan suatu pihak dapat dibenarkan dalam menggunakan angkatan bersenjatanya atau dengan kata lain kapan suatu negara diperbolehkan untuk berperang (keprihatinan tentang jus ad bellum), (2) caracara apa yang harus dilakukan dalam menggunakan angkatan bersenjata itu atau dengan kata lain bagaimana suatu negara harus berperang (keprihatinan tentang jus in bello), dan (3) bagaimana suatu peperangan dapat diakhiri dengan adil dan perjanjian perdamaian dapat dicapai, sementara penjahat-penjahat perang juga dapat diadili atau dengan kata lain bagaimana suatu negara harus menghentikan suatu perang (keprihatinan tentang jus post bellum) (http://i d.wikipedia.org/wiki/Doktrin_tentang_ Perang_yang_Sah). G. Perspektif Pasifis Pasifisme berkeyakinan bahwa perang seperti apapun secara moral tidak sah. Kaum

Pasifis menentang Doktrin tentang Perang yang Sah dengan argumentasi bahwa doktrin itu memang membela perlindungan dan kesucian nyawa orang-orang yang tidak bersalah, namun kenyataannya dalam suatu peperangan nyawa orang-orang yang tidak bersalah tidak dapat dijamin perlindungannya. Karenanya, bila nyawa orang-orang yang tidak bersalah tidak dapat dijamin, maka perang dalam bentuk apapun tidak dapat dianggap sah dengan alasan apapun juga (http://id.wikipedia.org/wiki/Doktrin_tentang_ Perang_yang_Sah). Bagi kaum pasifis, konsep moral dapat diterapkan secara bermafaat dalam kehidupan masyarakat dunia. Tidak masuk akal mempertanyakan apakah perang itu adil atau tidak: itulah isu yang penting dan bermakna. Tetapi hasil dari penerapan normatif, dalam hal perang, adalah selalu bahwa perang tidak seharusnya dilakukan. Jika teori perang yang sah dan adil kadangkadang bersifat permisif dalam hal perang, pasifisme selalu melarang perang. Bagi kaum pasifis, perang adalah selalu salah. Selalu ada cara terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah daripada dengan melalui perang (Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://www. science.uva.nl/ ~seop/entries/war/). Evaluasi Kristis dan Kesimpulan Setiap manusia/negara pasti menginginkan kehidupan yang aman dan damai, terhindar dari malapetaka perang. Akan tetapi kalau terpaksa, ada banyak di antara mereka yang rela berkorban untuk berperang guna mempertahankan hak dan atau nilai-nilai kebenaran yang dimiliki dan diyakini. Itu berarti bahwa potensi manusia/negara untuk melakukan perang tetaplah ada dan tidak dapat dihapuskan. Berbagai pemikiran tentang bagaimana mencegah dan atau mengelola perang telah berkembang begitu luas, masing-masing memiliki kelemahan dan kekuatannya sendiri-sendiri. Tidak ada suatu konsep tunggal yang dapat digunakan untuk menyelesaikan semua persoalan tentang perang yang terjadi di dunia ini. 1. Pembentukan organisasi regional maupun internasional sebagaimana direkomendasikan kaum idealis dalam batas-batas tertentu cukup efektif untuk mencegah terjadinya perang, seperti European Union (Juli 1947) yang telah mempersatukan negara-negara Eropa Barat sehingga, paling tidak untuk kurun waktu le-

122

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

bih dari 50 tahun terakhir, Eropa Barat terhindar dari malapetaka perang. Begitu juga pembentukan ASEAN (Agustus 1967) yang dinilai telah cukup berhasil menjaga stabilitas politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara untuk kurun waktu yang cukup lama. Namun sebaliknya, SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation) yang dibentuk Desember 1985 dan beranggotakan Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maldives, Nepal, Pakistan, dan Srilanka hingga saat ini belum mampu menciptakan kawasan yang aman dan damai seperti yang dicita-citakan. Sampai saat ini, pergolakan bersenjata dan perang saudara masih terjadi di kawasan tersebut. Begitu juga PBB, sekalipun selalu diprotes karena sering dijadikan sebagai alat politik luar negeri negara-negara adidaya, dalam hal tertentu juga telah berhasil menjalankan tugasnya. Kalaupun tidak sebagai peace maker, PBB telah berhasil menjalankan tugasnya sebagai peace keeper di beberapa wilayah konflik di dunia, seperti di Libanon, Kongo, Bosnia, dan lain sebagainya. Namun di daerah di mana kepentingan negara adidaya sangat besar, PBB telah gagal menjalankan fungsinya. Sebagai misal, PBB telah gagal mencegah Amerika Serikat beserta dengan sekutunya melakukan tindakan unilateral dengan menyerang dan menduduki Irak dengan dalih untuk mencari dan menghancurkan senjata pemusnah masal yang ternyata tidak terbukti. Selain itu, PBB juga tidak berhasil memaksa Israel mengundurkan diri dari wilayahArab yang diduduki sejak PerangArab-Israel tahun 1967. 2. Gagasan pemeliharaan perdamaian dengan lebih mengandalkan ”perimbangan kekuatan” (balance of power) sebagaimana direkomendasikan oleh kaum realis dalam batasbatas tertentu memang dapat meredam terjadinya konflik bersenjata. Akan tetapi di dalam prakteknya, balance of power sering dimaknai bukan sebagai keadaan di mana kekuatan benar-benar terbagi secara seimbang. Yang terjadi justru setiap negara berupaya untuk meningkatkan kekuatannya hingga sampai titik di mana kekuatan yang dimiliki dirasakan lebih unggul daripada kekuatan yang dimiliki negara lain. Keadaan ini berakibat terjadinya perlombaan senjata dan perebutan daerah pengaruh (sphere of influence) yang tak pernah kunjung berhenti, khususnya di antara negara-negara adidaya.

Selain itu, adanya anggapan bahwa untuk memelihara perdamaian diperlukan suatu kemampuan, baik kemampuan untuk merintangi ataupun mengatasi kekuatan yang ada dalam masyarakat guna menjaga keselamatan nilai-nilai lainnya; dan bahwa memelihara keamanan berarti mengontrol dan mengorganisir power, untuk itu diperlukan kapasitas untuk mempengaruhi alokasi dari banyak nilai serta kapasitas untuk mempengaruhi alokasi dari banyak tujuan, (Karl W. Deutsch 1968: 170) telah menumbuhkan keyakinan di kalangan penganut faham realis akan perlunya kekuatan dunia yang hegemonik (hegemonic power), yaitu suatu kekuatan yang memiliki kemampuan untuk melakukan pengorbanan atas kepentingan jangka pendeknya guna mencapai kepentingan jangka panjang. (Paul F. Diehl 1989: 218) Akan tetapi dalam kenyataannya, hegemonic power telah sering mengakibatkan terjadinya ketegangan karena sikap dan tindakannya yang cenderung bersifat ”double standard.” 3. Liberalisasi perdagangan atau perdagangan bebas (free market) sering direkomendasikan sebagai wahana untuk menjauhkan dunia dari malapetaka perang. Dalam batas-batas tertentu perdagangan bebas (free market) bisa menimbulkan saling ketergantungan (interdependensi) di antara bangsa-bangsa di dunia, interdependensi akan bisa memunculkan harmoni, dan harmoni pada akhirnya akan menciptakan perdamaian. Akan tetapi di dalam prakteknya perdagangan bebas tidak selalu bisa memunculkan harmoni. Robert Gilpin dalam bukunya The Political Economy in International Relations (1987) mengatakan di dunia yang terbagi di antara banyak kelompok atau negara yang berbeda dan sering saling bertentangan, maka pasar (meliputi perdagangan, modal dan investasi) telah memiliki pengaruh yang sangat berbeda dengan yang dikatakan para teoritikus ekonomi. Kegiatan-kegiatan ekonomi akan mempengaruhi politik, sosial, dan kesejahteraan ekonomi dari berbagai kelompok masyarakat dan negara secara secara berbeda-beda (Gilpin 1987: 22) Selain itu pula, ekonomi pasar juga akan secara signifikan mempengaruhi distribusi kekayaan dan kekuasaan di dalam atau di antara masyarakat. Pertumbuhan kekayaan dan penyebaran aktivitas ekonomi cenderung tidak merata, di satu pihak ada negara yang diuntungkan dan di pi-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

123

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

hak lain ada negara yang dirugikan. (Gilpin 23) Keadaan semacam ini bukannya memunculkan harmoni, akan tetapi justru sebaliknya konflik dan ketegangan. 4. Pemeliharaan perdamaian dan keamanan melalui perluasan demokrasi ke seluruh penjuru dunia akan berdampak baik apabila dilakukan melalui proses transformasi secara damai di antara elemen-elemen masyarakat yang ada di masing-masing negara yang berkepentingan. Apabila proses demokratisasi, termasuk penerapan HAM, dilakukan secara paksa, apalagi digunakan sebagai alat politik luar negeri negara tertentu guna mencapai kepentingannya sendiri, pasti akan menimbulkan ketegangan dan berakhir pada terjadinya perang. Di dunia yang sangat heterogen ini tidak ada pemahaman yang sama akan makna dari kata ”demokrasi” dan ”kebebasan.” Hampir di masing-masing negara, demokrasi dan atau kebebasan mempunyai ukuran yang berbedabeda. Di negara-negara Islam, pemvisualisasian Nabi Muhammad SAW dalam bentuk karikatur dipandang tidak hanya sebagai penghinaan akan tetapi juga pelanggaran terhadap nilainilai demokrasi dan kebebasan itu sendiri. Perlu diketahui bahwa pada tanggal 30 September 2005, surat kabar terbesar Denmark, Jyllands-Posten, telah memuat 12 karikatur Nabi Muhammad SAW, yang kemudian diikuti oleh surat kabar lainnya seperti Magazinet, dari Norwegia, 10 Januari 2006; surat kabar Jerman, Die Welt; surat kabar Perancis, France Soir dan surat kabar lain di Eropa (http://id.wikipedia. org/wiki/Karikatur_Nabi_Muhammad_Jylland s-Posten). Kebebasan bukan berarti setiap orang diperbolehkan berbuat apa saja termasuk melempar tinja ke muka orang lain dan kemudian mengatakan itu dilakukan demi kebebasan. Kalau perluasan demokrasi dan kebebasan dibiarkan berkembang menuju ke sana, maka bukan perdamaian dan keamanan yang diperoleh, akan tetapi ketegangan dan konflik fisik. Sangat sering terjadi dunia Barat mempraktekkan kebijakan ”double standard” dalam masalah demokrasi dan kebebasan. Sebagai contoh, ketika Presiden Iran Ahmadinejad mengatakan bahwa ”holocaust” atau pemusnahan etnis Yahudi oleh tentara Nazi Jerman di masa Perang Dunia II hanyalah omong kosong belaka, pemimpin Israel dan Presiden Bush me-

nyatakan kemarahannya bahkan disertai ancaman. Respons yang berbeda para pemimpin dunia Barat terhadap kasus karikatur di surat kabar Jyllands-Posten dan pernyataan Iran tentang holocaust memperjelas adanya kebijakan ”double standard” di kalangan pemimpin dunia Barat. Sangat sering terjadi, kebijakan ”double standard” yang dipraktekkan dunia Barat bukannya membantu upaya pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia, akan tetapi justru sebaliknya, memicu terjadinya tindak kekerasan lainnya, salah satunya adalah dalam bentuk ”terrorisme.” 5. Mispersepsi telah dipandang oleh para ahli psikologi sebagai sumber terjadinya perang. Untuk mencegah terjadinya perang maka mispersepsi yang terjadi di antara masyarakat dunia, utamanya di antara para pemimpin dunia, perlu dihapuskan. Kesulitannya adalah bahwa mispersepsi sering kali sengaja dimunculkan sebagai justifikasi atas kebijakan yang telah maupun akan diambil dalam upaya untuk mencapai tujuan nasional negara. Tuduhan-tuduhan bahwa Irak di bawah Saddam Hussein telah membuat atau menyimpan senjata pemusnah massal, bahwa program nuklir Iran ditujukan bukan untuk kepentingan damai akan tetapi untuk kepentingan pembuatan senjata nuklir, bahwa pengaruh Iran di Timur Tengah akan menguat apabila pasukan Amerika Serikat ditarik dari Irak, dan lain sebagainya, merupakan mispersepsi yang sengaja dihembus-hembuskan untuk menyelubungi kepentingan-kepentingan yang berada di balik tindakannya. Keterkaitan antara Perang Irak dengan kepentingan-kepentingan ekonomi Amerika Serikat telah dicoba dibeberkan oleh komentator politik Naomi Klein dan Antonia Juhasz. Dijelaskan secara rinci bahwa pendudukan Irak telah memungkinkan Amerika Serikat memiliki kewenangan melakukan restrukturisasi ekonomi Irak yang didasarkan pada prinsip-prinsip neo-liberal yang ketat. Majalah The Economist mengatakan bahwa untuk memenuhi daftar harapan para investor asing dan agen-agen donor yang menghendaki pengembangan pasar di Irak, pemerintah Washington telah mengadakan langkah-langkah ke arah privatisasi 200 perusahaan negara Irak yang memungkinkan 100% sahamnya dimiliki oleh pemilik-pemilik modal asing, diluar perusahaan minyak dan

124

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

sektor-sektor pengilangan, ”for full repatriation of profits, and for a 15% cap on corporate taxes.” (http://www.why-war.com/news/2004/ 10/01/arethewa.html). 6. Pada akhirnya, mengandalkan pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia melalui enforcement of international laws atau penegakkan hukum internasional juga belum merupakan jaminan. Di dunia sekarang ini telah terdapat banyak rejim internasional yang mengatur kehidupan masyarakat maupun negara, seperti DK-PBB (keamanan), IMF (neraca pembayaran), WTO (perdagangan), ILO (perburuhan), IAEA (nuklir), ICAO (penerbangan sipil), dan lain sebagainya. Rejim internasional didefinisikan oleh Stephen D. Krasner dalam bukunya International Regimes (1983) sebagai ”prinsip-prinsip, norma-norma, aturan-aturan, dan prosedur pembuatan keputusan di sekitar mana harapanharapan para aktor saling berkonvergensi dalam suatu area tertentu dalam hubungan internasional.” (Krasner 1983:3). Rejim internasional yang biasanya dalam bentuk organisasi internasional selain bisa berfungsi sebagai pengubah secara sistematik terhadap perilaku negara, atau sebagai aktor di panggung internasional, juga bisa berfungsi sebagai instrumen kebijakan luar negeri suatu negara. Sekalipun demikian, tidak semua negara mempunyai kemampuan yang sama untuk menjadikan rejim internasional sebagai alat politik luar negerinya guna mencapai kepentingan nasionalnya. Keadaan ini sering menyebabkan prinsip-prinsip, norma-norma, aturanaturan, dan prosedur pembuatan keputusan dalam rejim internasional lebih banyak mengabdi untuk kepentingan negara-negara besar atau negara-negara yang secara potensial memiliki akses untuk melakukan hal itu. Dengan melihat kelemahan maupun kekuatan dari masing-masing pendekatan, maka penerapan satu pendekatan tertentu tidaklah cukup untuk melakukan pencegahan dan pengelolaan perang atau management of conflict. Kecenderungan yang terjadi adalah mengadopsi beberapa pendekatan secara bersamaan dengan memberikan penekanan pada satu atau dua pendekatan yang dianggap paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di masing-masing wilayah. Sebagai fenomena yang spektakuler da-

lam kehidupan umat manusia, perang selalu terjadi dalam suatu keadaan di mana manusia berbeda pendapat tentang kapan dan di mana perdamaian harus dimulai. Oleh karena itu, peran seorang pemimpin negara yang terkait dalam perang akan sangat menentukan keberhasilan upaya mewujudkan perdamaian. Sebagai contoh, sekalipun sebahagian besar rakyat Amerika Serikat sendiri menghendaki agar Amerika Serikat segera mengakhiri pendudukannya atas Irak, Presiden George W. Bush bersikukuh untuk melanjutkan perang dengan alasan bahwa sekarang ini belumlah saatnya bagi dia untuk mengakhiri perang dan memulai perdamaian. Hasil pooling The New York Times dan CBS News (20-22 Juli 2007): hanya 25% responden yang menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Bush di Irak, sedangkan 69% menyatakan tidak puas; sementara itu jumlah responden yang menghendaki agarAmerika Serikat segera keluar dari Irak meningkat dari 28% menjadi 51%). Pada akhirnya, dengan meminjam katakata bijak Karl W. Deutsch dari Harvard University: "War, to be abolished, must be understood. To be understood, it must be studied,” (http://en.wikipedia.org/wiki/Quincy_Wright), tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi setiap upaya mencegah dan atau mengakhiri perang serta mempromosikan perdamaian. Daftar Pustaka Are the War and Globalization Really Connected? http://www.why war.com/news/ 2004/10/01/arethewa.html. Clausewitz, C. (1995). On War, trans. by A. Rapoport. Harmondsworth, UK: Penguin. Couloumbis, T.A and Wolfe, J.H. (1078). Introduction to International Relations: Power and Justice. Englewood Cliff: PrenticeHall. Damai dan Perang, http://phyto.wordpress. com/2007/09/17/ damai-dan-perang/. Brown, D. Study Claims Iraq's 'Excess' Death Toll Has Reached 655,000, Washington Post, October 11, 2006, p. A12. Deutsch, K.W. (1968). The Analysis of International Relations. Englewood Cliff: Prentice Hall. Djamaluddin Ancok, Psikologi dan Perdamai-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

125

Totok Sarsito : Perang dalam Tata Kehidupan Antarbangsa

an, http://ancok. staff.ugm.ac.id/h-17/psikologi-dan perdamaian.html. Doktrin Tentang Perang yang Sah, http://id.wikipedia.org/wiki/ Doktrin_tentang_perang_yang_sah. Dougherty, J.& Platzgraf Jr, R. (1978). Contending Theories of International Relations, Philadelphia: J.B. Lippincot. Gelven, M. (1994). War and Existence. Philadelphia: Pennsylvania University Press. Gilpin, R. (1987). The Political Economy of International Relations. Princeton: Princeton University Press. Hanley, C.J., Iraq costs US$12 B per month. http://news.yahoo.com/s/ap/20080309/ap _on_re_mi_ea/iraq_war costs. Hasan, F. Upaya Pemeliharaan Perdamaian Dalam Penyelesaian Sengketa Internasional, Jurnal Luar Negeri, Badan Litbang Deplu, tahun I, no. 2, Des1983, pp. 19-44. Hass, E.B. (1989). Conflict Management and International Organizations, 1945-1981, dalam Diehl, P.F. (ed). The Politics of International Organizations: Patterns and Insights. Chicago: Dorsey Press, pp. 189223. Jongman, B. & Dennen, J.V. The Great War Figures Hoax: an Investigation in Polemomythology. http://rechten.eldoc.ub.rug. nl/FILES/departments/Algemeen/overige publicaties/2005enouder/HOAX/HOAX. pdf. Krasner, S.D. (ed.). (1983). International Regimes. Ithaca: Cornell University Press.

List of civil wars. http://en.wikipedia.org/wiki/ List_of_civil_wars. Maghroori, R. & Ramberg, B. (1982). Globalism versus Realism: International Relations Third Debate. Colorado: Westview Press. May, R.J.R. Political Systems, Violence, and War. http://www.firearmsandliberty.com/ rummel.war.html. Mesquita, B.B.(2002). Game Theory, Political Economy, and the Evolving Study of War. American Political Science Review, Vol. 100, no. 4, Nov 2002, pp. 637-641. Military Fatalities: By Time Period, http://icasualties.org/oif/. Masoed, M. (1994). Ilmu Hubungan Internasional, Jakarta: LP3ES. Morgenthau, H. (1973). Politics Among Nations 5th ed.. NewYork: Knopf. Ongoing conflicts. http://en.wikipedia.org/ wiki/Ongoing_conflicts. Sarsito, T. (1993). Teori Politik Internasional Hans J. Morgenthau: Suatu Analisis dan Kritik. Solo: UNS Press. Pentland, C. (1989). International Organizations and Their Roles, dalam Diehl, P.F. (ed). The Politics of International Organizations: Patterns and Insights. Chicago: Dorsey Press. pp. 5-16. The New York Times and CBS News Poll, July 20-22, 2007. Waltz, K. (1978). Man, The State and War. Princeton: Princeton University Press. War, http://www.science.uva.nl/~seop/ entries/war/.

126

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 127-138

The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF) For Self-Determination in the Southern Philippines
Shamsuddin L. Taya Department of International Relations, Faculty of International Studies Universiti Utara Malaysia

Abstracts
This study examines and analyzes the economic strategies adopted by the Moro Islamic Liberation Front (MILF) over time to liberate the Bangsamoro from the clutches of the Government of the Republic of the Philippines (GRP). It looks at the organization's economic self-reliance programs which include: farming, raising farm animals (husbandry) and establishment of small business enterprises in the Southern Philippines. These efforts are parts of the MILF's quest to liberate the Bangsamoro homeland and its people from the rule of the GRP and its agents. The data for this analysis came from primary and secondary sources, namely newspapers, policy statements, speeches, press releases, joint communiqué, peace agreements, books, magazines, and journals. Interviews with informed people were also conducted. The study found that the economic strategies of the MILF in its quest for freedom and self-determination of the Bangsamoro homeland and its people were effective and workable. The economic strategies of the organization have not only guaranteed its survival, but they even managed to transform the attitudes and behaviors, not only the MILF's freedom fighters, but also a significant number of Bangsamoro masses, from dependent creatures to self-reliant members of the organization. As a result, the MILF's members are now considered assets rather than liabilities to the movement. Keywords: Moro, economic strategies.

Background to the Study The Bangsamoro struggle for self-determination started during the period of Spanish colonialism and has continued up to the present. However, the Bangsamoro independence movements became better organized from the American period (1898-1946) and the Christian-Filipino era (1946 up to the present). The Jabidah Massacre in 1968, the Manili Massacre in 1971 and the Malisbong (Palimbang) Massacre in 1972 during President Ferdinand

E. Marcos' time sparked resentment against the 1 Philippine government. The Jabidah Massacre, in fact, led to the founding of the Bangsamoro movements for self-determination such as the Mindanao Independence Movement in 1968 (MIM) led by Datu Udtog Matalam, a former governor of the Cotabato Empire. This was followed by the creation of the Moro National Liberation Front (MNLF) led by Nur Misuari, the Moro Islamic Liberation Front (MILF) led by 2 Salamat Hashim, and others .
127

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

The MNLF as a movement for Bangsamoro self-determination survived for decades. It, however, succumbed to pressures from its foreign supporters (the Organization of Islamic Conference (OIC) and more specifically the Libyan and Saudi Arabian governments) and the GRP. As a result, the two GRP-MNLF's Peace Agreements were signed: the 1976 Tripoli Peace Agreement (Libya) and the 1996 Jakarta Peace Agreement (Indonesia). The 1976 Tripoli Agreement had sparked internal divisions among the MNLF top ranks and one division moved out and established the New MNLF (Founded by Salamat Hashim- who passed away in 2003). Now the MILF is led by Murad Ebrahim. With the incorporation of the MNLF into the mainstream of the Philippine-body politic and eventually, the imprisonment of its leader, Nur Misuari, the MILF has emerged as the only revolutionary organization. Currently, the GRP is pursuing its peace efforts with the MILF. Indeed, both parties (the GRP and the MILF) signed confidence-building measures in Libya (2001) and Malaysia (2002). The MILF is pursuing its objective of total independence while the GRP is willing to compromise stopping short of independence. Both parties have 3 hardened their positions in the past , but in recent exploratory talks (2004) held in Malaysia, there were accommodation and gestures of friend-ship on the part of both negotiating parties (the GRP and MILF). Aside from the MNLF, and MILF, the Abu Sayyaf Group or the ASG (founded and led by the late Janjalani Abdul Rajak- now, led by his brother Khadafy Janjalani) is another Bangsamoro independence movement, which is demanding an independent Bangsamoro state. The GRP claims that this group (ASG) is a small, but radical and violent group. In November 1992, a daily newspaper in Zamboanga city carried a brief item about the issue of theASG as a terrorist group.4 Since then, the group has been considered as a threat to the security of the country according to the GRP. Bangsamoro factionalism, compounded by declining foreign support and general war weariness, has hurt the Bangsamoro Islamic and nationalist movements both on the battlefield and at the negotiating table. The GRP continues to struggle with Bangsamoro insurgencies, in general, and the MILF, in particular, in

the Southern Philippines. The MILF is pursuing its objective of total independence and the GRP is willing to compromise stopping short of independence. The Self-reliance Program As part of the self-reliance program, the MILF encouraged the Bangsamoro, in general, and, the members of the organization, in particular, to follow a sustainable livelihood program that would sustain their daily basic needs in the pursuit of the freedom and self-determination of the Bangsamoro homeland and its people. This was part of the MILF's philosophy in its quest for achieving the freedom and self-determination of the Bangsamoro and their homeland. In fact, based on the experiences of the independence movements all over the world, the MILF had to develop the concept of self-reliance in its totality. Being aware that among the major factors that led to the failure of some revolutionary movements was the financial constraints; the MILF organized and developed its own model of economic activities that was embodied in the concept of self-reliance. A concrete example of dependence was the MNLF, which in the past was the most dominant liberation movement in the Southern Philippines. The MNLF was a well-established contemporary independence movement in the Southern Philippines and was strongly supported and recognized by almost all Muslim countries.5 However, because the MNLF had enjoyed full outside support its leadership ignored the reality that before depending or relying on others for its survival it should rely first on its own capabilities. The MNLF failed to internalize this pragmatic approach i.e. the importance of the self-reliance concept. The MNLF was fully dependent on generating foreign financial resources rather than from domestic ones. It failed to realize that outside financial support was very unpredictable and temporary and, therefore, it could cease anytime. This was exactly what happened. It is not merely a theoretical statement, but rather a factual one. As a matter of fact, even if the MILF's foreign support did not cease altogether, at least it slowed down as a result of the United States and its allies' campaign against “international terror.” The local economic source was lasting and forever, if it was fully explored and

128

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

properly exploited. The MILF explained its position on this issue as follows:
The isolation of the MNLF taught us the hard way that people who wanted to become free shall rely on themselves first and on others later. Self-reliance has taught our people sturdiness and creativeness, which led us to marshal our resources and to discover the 6 hidden talent and ingenuity of our people.

The Self-reliance Program aimed to inculcate in the minds of the Bangsamoro, and more specifically, the mujahideen, to engage in economic activities that would sustain their quest for freedom and independence. This program would achieve not only economic advantages, but more importantly, it would develop a sense of economic independence on the part of the Bangsamoro in their quest to achieve their freedom and self-determination. Thus, through this program the members of the MILF, the mujahideen, would serve as assets to the movement, instead of being liabilities as had been the case with the MNLF's members. For instance, many of the members of the MNLF joined the movement, because they thought that the MNLF would provide them with all their needs. However, the MILF through its self-reliance program educated its members that the MILF as liberation movement depended in its survival on their support, not the other way around. This set of orientation was one of the main reasons for the survival of the MILF despite of the slow down of its foreign support, Iq7 bal said. In an operational sense, the self-reliance program basically included activities such as farming, raising animals, small business and many others as a source of income for the organization that ensured its survival. These economic activities will be discussed in more detail in the later section of this chapter. In a chronological order, the self-reliance program was divided into four stages. The first stage (1980-1985) aimed to establish the machinery to motivate the people to engage in economic activities such as farming, small businesses, and rearing animals. The Second stage (1985-1990) aimed to implement the said program. The Third stage (1995) aimed to enhance the actual involvement of the MILF in the implementation of the program. The fourth stage (1995-2000) aimed for more refinement and expansion of the program.

These activities were evident in most of the MILF's controlled areas. Interestingly, the self-reliance program was intensified after the fall of the Camp Abu Bakre As-Siddique (followed by the other camps in late 2000 as a result of President Estrada's all-out war policy against the movement). The MILF intensified the self-reliance program, because this program had compensated for the economic constraints of the movement brought about by the international campaign on terrorism which was led by the United States and its allies. Millions of the Bangsamoro contributed to the survival of the MILF, directly and indirectly. The MILF's Consultative Assembly held in May 2005 at the Camp Darapanan, Sultan Kudarat, Maguindanao, was a case in point. The meeting was attended by millions of the Bangsamoro who had used their hardearned money to attend the gathering. The MILF leadership tried to make the MILF as a mass-based movement or organization because they understood that a massive public support would ensure the survival of the MILF as an independence movement. Learning from the lessons of the MNLF, the MILF exerted its efforts to develop and utilize all the available economic means in the homeland through its self-reliance program. The MILF tried to reshape the mindset of its leaders as well as its followers to consider the domestic financial resources as primary and vital source of the liberation movement for its survival, while the foreign source was just a secondary one. This concept was, however, gradually inculcated into the minds of the Bangsamoro through constant series of dialogues, seminars and discourses spearheaded by the late MILF Chairman, Sheikh Salamat Hashim, and continued by his successor, Chairman Al Haj Murad Ebrahim. The MILF leadership, in general, and Sheikh Salamat Hashim, in particular, emphasized this issue to their followers. For instance, he (Hashim) consistently encouraged his followers to be self-reliant people in their quest for freedom and self-determination. However, the MILF leadership did not rule out the essential role of international support in its struggle against the GRP and its agents in all dimensions. The main priority according to the MILF was to focus first on generating income from the available domestic eco-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

129

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

nomic resources. The MILF leadership recognized the paramount significance of the help of international communities, particularly the OIC , but at the same time tried not to be dependent on foreign donors because such dependency would result in loss of sovereignty and greater interference from the foreign donors as the case of the MNLF and Libya. Libya had forced the MNLF to accept the GRP's offer of autonomy, instead of independence, as the solution of the problem of the conflict in the region. Thus, the self-reliance program aimed to empower the Bangsamoro, in general, and the MILF's members, in particular, to be more independent in sustaining their independence move8 ment, Iqbal argued. The self-reliance program aimed to inculcate in the minds of the mujahideen or freedom fighters a sense of free will so that they could stand and sustain their quest for freedom and self-determination even without foreign support. Indeed, the MILF's self-reliance program played important role to compensate for the slow down of foreign support as a result of the United States and its allies' campaign against terrorism. After September 11, 2001, there was a dramatic slow down of foreign support to the MILF. The United States and its allies had frozen the bank accounts of suspected terrorists, both individuals and groups operating all over the world.9 This made it difficult for the MILF's foreign donors (mostly individuals) to transfer money from their respective countries to the Bangsamoro homeland. However, the self-reliance program helped to alleviate acute financial constraint. The late MILF Chairman Sheikh Salamat Hashim was very determined to change the attitude that everything would be provided for once one became a member of the MILF. This meant that if someone joined the Bangsamoro independence movement the organization would automatically provide all his/her needs. As a result, the member fully relied on the organization in almost all of his/ her daily needs. This kind of attitude was detrimental to the liberation movement.10 The MILF tried to make the Bangsamoro and and its mujahideen more productive and self-reliant. In this respect, every member of the organization was supposed to be an asset or a plus point to the group not a burden, Sheikh Salamat Hashim argued. Sheikh Salamat Hashim himself lamented the situation in his own organ-

ization where the members of the organization 11 had become a burden to the MILF. The MILF started its implementation from the top leadership down to the lower-ranks of the organization. For instance, the organization required all new trainees to bring along with them all the basic necessary things such as rice, sugar, coffee, soap, etc, during their stay in the camp. The self-reliance campaign of the organization was the duty of every MILF committee from the Central Committee to the Barangay Committee levels in all the departments and agencies like the military, political, economic, education, information, da'wah, youth, women and social welfare committees. We turn now to look at the different activities initiated by the MILF as part of its self-reliance program. Farming The MILF through its self-reliance program concentrated more on farming activities such as planting corn, banana, rearing animals and other related economic activities which it considered as basic to its survival and that of its members. In this respect, the movement urged the Bangsamoro to work hard. Sheikh Salamat Hashim urged his people to abandon their primitive way of farming and utilize modern techniques of farming including the use of pesticides, tractors, irrigation and other new methods of farming that would give higher yields. In the Southern Philippines, a significant number of people, mostly those who lived in remote areas, were practicing traditional methods of farming. They refused to fully utilize those modern technologies and new methods of farming that usually yielded higher crops and harvests. Thus, the MILF organized many cooperatives that managed and regulated different farming activities in its controlled areas. Those cooperatives gave some subsidies to the farmers necessary for the cultivation of their farms. Monthly expenses of farmers were also provided so that they could concentrate on the cultivation of their farms. It was agreed that the cooperatives would buy the produce for a reasonable price corresponding to the market price. In return, the farmers had to pay back their debts after the harvest with zero interest rate. Interestingly, if the farmers could not pay back their debts due to harvest failure or other justified circumstances, the cooperatives would extend payment into the next harvest. If, the payment

130

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

was really beyond the capacity of the farmers and might give too much unnecessary burden, then the cooperatives might altogether write12 off. The MILF's farming activities were mainly for subsistence purposes. This meant they aimed mainly to sustain the daily needs of the mujahideen. For instance, they used their economic produce to sustain the needs of their families and the expenses they needed during their duties in guarding the MILF's defense perimeters against theAFP incursions and those of other paramilitary groups organized by the GRP such the Civilian Volunteer Organization (CVO). However, it meant that the MILF's farming was not a subsistence activity, but also a commercial one. Indeed, they sold their surplus produce to markets outside their camps usually in areas like Cotabato and Davao Cities. This farming system was very effective. It managed to sustain some of the basic necessities of the MILF's standing armies, the ISF and the BIAF which guarded the defense perimeters of the movement's camps all over the 13 Bangsamoro homeland. Grains like rice, corn and maize were very important as the basic food of the regular members of the BIAF and the ISF who secured or guarded the MILF's defense perimeters from the AFP's incursions. The movement also supervised large plantations of bananas and cassava in its respective camps that sustained the daily needs of the regular freedom fighters on duty. The producers earned a lot of money that helped finance the MILF's activities in all aspects. Both leaders and members of those committees discussed in chapter 3, were involved in different fields of economic development, whether outside or inside the MILF camps and controlled areas. The Bangsamoro generally engaged in farming and other agricultural activities 14 as means of their livelihood the land was very fertile in nature and many types of crops could be grown with minimal use of chemicals and fertilizers. Others were involved in small scale 15 business, trade and industry. The soil of the Bangsamoro homeland is very fertile which makes farming an obvious choice of economic activities. The Camp Abu Bakre As-siddique was considered a model in this aspect. Sheikh Salamat Hashim himself was directly involved in agricultural production

as well as trading and business through the establishment of multi-purpose cooperatives among the Bangsamoro populace within the 16 camp. The MILF combatants practiced farming in all MILF major camps during their free 17 time , while their wives were doing small trading and business in small markets usually estab18 lished in the camps. The understanding was that everybody in the camps had to earn his/her 19 own income as part of the self-reliance idea. The MILF members and sympathizers residing outside the camps were involved in the same activities. Everybody was trying to generate an adequate source of income, either through trading and business or planting agricultural products. The MILF education committee was also tasked to run all existing Islamic schools (madaris) within the areas controlled by the liberation movement with minimal involvement of financial demand. The Bangsamoro teachers, preachers and social workers were always encouraged to share with their knowledge and to serve the Bangsamoro societies on a voluntary basis. As a result of this perception, most of the existing Islamic schools in the Southern Philippines were manned by the Bangsamoro volunteer teachers, preachers as well as social work20 ers. The military committee, as part of the self-reliance campaign, successfully established small factories in the camps which were capable of producing home made weapons of different types. These factories produced different types of light arms with minimal expenses because most of the workers were self-reliance minded people. This meant that the workers had a sense of independence in their respective jobs. They did not want to create unnecessary burden to the liberation movement especially financially. The MILF political committee engaged its experienced staff and political workers by providing only a minimal form of material incentive. Mostly they carried out or implemented their tasks at their own expense in line with the concept of self-reliance. For example, the MILF political negotiators who were composed of Bangsamoro professionals such as lawyers, teachers etc. were always ready to share their talent, and expertise to serve the Bangsamoro cause on purely voluntary basis. The concept of

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

131

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

self-reliance almost became the rallying cry of 21 the movement. In husbandry farm animal, the MILF through its Multi-Purpose Cooperatives subsidized some of the needed materials of needy farmers and their families by providing them with the necessary capital to purchase needed animals for rearing. However, many farmers who tried to stand on their own feet to secure the needed materials for their agricultural activities such as the rearing of animals. The MILF bought hundreds of animals such as carabao, 22 cows, goats, ducks, chicken and many others. These animals were distributed to the MILF's farmers and their families. The movement also provided money for the maintenance and other needed materials for the purpose of raising animals like poultries. This policy has continued at the time of the writing of this thesis. The same situation was visible in other MILF committees which also tried to the concept of self-reliance in their respective areas of responsibilities. This concept was re-enforced by the development reached by the MILF through the peace negotiations with the Manila government where the Bangsamoro Develop23 ment Agency (BDA) was created. This agency was fully mandated by the MILF in line with the Agreement on Peace between the GRP and the MILF on June, 19-22, 2001, in Libya, in which both parties agreed that the MILF “shall determine, lead and manage rehabilitation and deve24 lopment projects in all conflict affected areas.” Thus, the BDA was created as a fruit of this agreement which independently executed and handled the rehabilitation and development projects in all conflict affected areas in the Southern Philippines without any interference from the Manila government. Through the BDA, the MILF was determined to maximize the benefits and welfare of the agreements that it had signed with the GRP for the Bangsamoro. Thus, the MILF applied pressure on the GRP to implement agreements that both parties had signed by recognizing the BDA as the sole development agency in the Southern Philippines. Furthermore, the MILF called upon all its members, supporters and all Bangsamoro, NGO's, and business groups to fully recognize the BDA as a development agency. According to the MILF, among the immediate problems that had to be settled was the settlement of thou-

sands of displaced Bangsamoro in the region who suffered as a result of decades of hostility between the BIAF and the AFP forces and the non-stop influx of the Christian-Filipinos from Luzon and Visayas islands into the Southern Philippines. Hence, as part of the development and rehabilitation drive, a new settlement for internally displaced Bangsamoro had to be established in line with the institutionalization development program of the liberation movement, Dawan argued.25 For instance, the MILF urged the GRP to look seriously into the plight of those innocent civilians affected by the conflict between the BIAF and AFP and its paramilitary forces. The latest of those armed conflict between the two parties during the time of the writing of this thesis was the conflict in the Municipality of Palimbang, Sultan Kudarat. As a result of this conflict, thousands of civilians from several barangays or villages (Namat, Kisek, Kidayan, Maganao, Malatunol and Batang Bagras) fled to protect their lives. An MILF's Commander, Morzad Baguilan, from that municipality (Palimbang), claimed that they were attacked by the PNP personnel assigned in those areas and guided by a notorious warlord known as Commander Diok through the initiation of the Municipal Mayor Labualas Mamansual known as Samrod, a former MNLF commander who surrendered to the GRP. However, when the MILF sent reinforcements, the attackers quickly withdrew. Another concern was the issue of landgrabbing which was initiated by some Christian-Filipinos who dreamed of a better life, particularly those who were landless. They saw a great opportunity to change fulfill their lives through migration and, consequently, settled permanently in the Bangsamoro homeland. The MILF was very determined to stop this illegal influx of migrant because they posed a threat not only to the political and economic interests of the Bangsamoro but also to their very existence as the original people of the region. In this connection, the migration of Christian Filipinos from Luzon and Visayas had to be stopped and the remaining untitled and public land in Mindanao and the adjacent islands had to be preserved for the Bangsamoro, Dawan in26 sisted. Small Business Enterprises In its controlled areas, the MILF estab-

132

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

lished communities which involved themselves in business activities. The liberation movement established communities which it patterned according to the principles of Islamic polity. They established madrasah or Islamic schools, mosques, and markets. In the MILF's controlled areas, they encouraged the Bangsamoro, mostly, the freedom fighters and their families to engage in small businesses such as selling clothes, rice, and other products. They were also selling food like pastil, (a favorite food of Maguindanaon), petulakan, and many others. Businesses like these were common in the areas controlled by the freedom fighters. This writer remembers, when he and some friends visited the Camp Abu Bakre as-Siddique in 2000, few months before President Estrada's all-out-war policy against the MILF, we bought pastil and some other food for our lunch without the attendance of the sellers. We simply had to choose the food of our preference and leave the money there. Change was also self-regulated. The policy of self-service has taken a new meaning. The MILF established cooperatives like the Bangsamoro Multi-Purpose Cooperative which provided capital for the business groups. However, the debtors should pay the said amount to the creditors at zero per cent interest and also at their convenience to ensure the success of the said businesses. Through this system, the people in the camps managed to earn an income that would sustain their basic necessities and that of the families of the freedom fighters while they were on duty in safeguarding the defense perimeters of the MILF's camps against military incursions. The business cooperatives run by the MILF were entrusted to Ustadz Ismael Dalinan, a high ranking officer of the movement. The Bangsamoro Multi-Purpose Cooperative served as a middle-man between the business communities in the MILF's controlled areas and the business groups outside their camps. The cooperative bought stuff from outside and brought and distribute it to the smaller business groups in their controlled areas. There were also some weaknesses of this program because some of the sellers were not business minded. As a result, some of them folded. Generally speaking, however, this strategy had worked in sustaining the financial needs of the movement. However, the MILF's economic prog-

rams of self-reliance were disrupted by President Estrada's all-out war policy that led to the down fall of the Camp Abu Bakre As-Siddique and other MILF's camps to the AFP in 2000. During the incursions, most of these economic activities were stopped temporarily. The MILF mobilized all its resources and utilized those resources to finance its war against the GRP. Most of these activities were abandoned temporarily but they were resumed later due to acute financial difficulty.27 Fortunately, the Bangsamoro masses readily offered their support in the name of jihad.As a result, the MILF managed to collect hundreds of millions of local currency which guaranteed the survival of the organization. Effectiveness of the Self-reliance Program The MILF's self-reliance program was very effective. The September 11, 2001 attack had changed the fundamental rules of the game of international politics. The United States and its allies froze suspected terrorists' bank accounts as part of the campaign against terrorism. This unfolding event had far-reaching implications not only for terrorists' organizations but also for the liberation movements, including the MILF. The United States and its allies' campaign on terror disrupted the flow of foreign aid from foreign donors (mostly individuals) to the MILF. Foreign support was crucial to the organization to finance its various programs and activities. Indeed, the United States campaign on terror, in general, and, the freezing of the bank accounts of the suspected terrorists (both individuals and organizations), in particular, disrupted the transfer of money from the foreign do28 nors to the MILF, Dawan lamented. He also revealed that most of their foreign donors were frightened by this development. A significant number of them were either detained/imprisoned indefinitely or killed by the United States and its allies' agents. As a result, the foreign donors slowed down their financial support since 2001 up to the time of writing this thesis. This was a great setback for the MILF's financial resources. These financial constraints caused by the United States and its allies, however, were compensated by the MILF's self-reliance program.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

133

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

When Sheikh Salamat Hashim introduced this concept as part of the MILF's four-point program, many Bangsamoro professional groups were skeptical and even ridiculed him. The holistic approach and the wisdom behind the introduction of the program were misunderstood, if not deliberately distorted by opponents of the MILF. The Ampatuan family, in general, and, Zamzamin (former Chief of the Office of the Muslim Affairs known as OMA), in particular, were two of examples of these opponents to the self-reliance program. These groups were staunch enemies of the MILF. Nevertheless, the Bangsamoro realized the program's paramount significance after 2001 when the United States and its allies intensified their campaign on terror and started freezing bank accounts of those suspected terrorists, including some of the MILF's foreign donors. These foreign donors felt that it was their religious responsibility to support mujahideen in the Southern Philippines. The MILF progressively intensified its self-reliance program, more specifically, in the farming sector in its respective camps and fortifications. The activities sustained its basic needs and thus ensured its survival as a liberation movement. In this respect, the Bangsamoro Development Agency (BDA) played a very crucial role. Indeed, among the priorities that the BDA undertook was to minimize the level of poverty within the Bangsamoro societies. The MILF declared that the number one enemy of the Bangsamoro nowadays was poverty. Thus, it was imperative for it to combat poverty which was deemed by all Bangsamoro as a consequence of the GRP's occupation over the Bangsamoro homeland and its people. To fight poverty, the BDA was set up to encourage business, trading, entrepreneurship, and other self-help economic activities, and to promote and develop the vocational livelihood courses among the poor Bangsamoro population. The BDA also wanted to maximize and exploit the natural resources in the homeland but at the same time avoid misuse of land that would cause damage to the Bangsamoro natural resources. It was, however, suggested that the da'wah methodology and approach had to be involved in the BDA's poverty alleviation stra29 tegy and sustainable economic activity. In

education, the BDA also played an important role. For instance, it initiated a plan for the restructuring of the educational system to make it more suitable and beneficial to the development 30 of the Bangsamoro, Dawan said. The above-discussed four-point program of the MILF had been successfully implemented within the span of twenty years (20) starting from the year 1980 up to the year 2000. Realizing the significant outcome of the said program for the Bangsamoro in the homeland in all aspects of their lives, the MILF decided to plan a new time frame for the second segment of the program in order to continue the four-point major thrusts with the addition of some issues and subjects to be emphasized and implemented. The organization introduced a fifty (50) year program which already started from the year 2000 to be completed by the year 2050, Dawan 31 stated. The new additional subjects or issues were as follows: 1) to establish justice for all, 2) to establish full freedom and respect of human rights, 3) to overcome criminality, poverty and ignorance, 4) to ensure equality for all, 5) to promote health and sanitation, 6) to overcome graft and corruption, and 7) to preserve the patrimony 32 and to protect the environment The above-mentioned development program of the organization was a clear evidence of the unequivocal stand of the MILF on the issue of development in the Bangsamoro homeland. This would rebut the allegations of certain groups in the Southern Philippines who accused the MILF and the Bangsamoro were anti-development and anti-progress. In fact, the MILF eagerly welcomed development provided it would endange the Bangsamoro's religion and Islamic heritage as well as their identity, Dawan argued.33 The MILF fully welcomed developments that were in accordance with the Bangsamoro concept of development which encompassed the true meaning of development in both its spiritual 34 and material dimensions. The Bangasmoro wanted a development that would bring benefits to the people as a whole regardless of their races, creeds and philosophies of their lives. Thus, the MILF wanted to have both qualitative and quantitative kinds of development that would address not only the material side of life, but more importantly, its spiritual dimension. As proof, the MILF allowed some deve-

134

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

lopment projects within its controlled areas. For instance, the Multi-Million National Irrigation Project near the Camp Abu Bakre As-Siddique, the government's construction of a concrete road within the camp, the construction of a government water reservoir project (two huge water tanks) near Al Haj Murad's office in the Camp Abu Bakre as-Siddique, and the largest project was the US$ 600 million MaridagaoMalitubog Irrigation Project constructed by South Korean engineers in North Cotabato.35 However, while welcoming all these government development projects, the MILF leadership was fully aware that all those projects were part of the Philippine government counterinsurgency program, but the organization was very confident that this program would not work as long as the AFP forces were always out to harass and abuse the Bangsamoro. In this situation, the late MILF Chairman, Sheikh Salamat Hashim, expressed the opinion that the effective government policy should be to leave 36 the Bangsamoro free in their ancestral land. This implied that any political and military approaches that would not address the root causes of the problems of the Bangsamoro would not succeed and thus, conflict would continue to prevail in the region. Recently, the MILF demonstrated the success of its self-reliance concept during its General Assembly Consultation which was at37 tended by millions of Bangasmoro coming from all over the Southern Philippines at their own expense. The participants voluntarily brought their own food, drink and other basic things during the three-day program in Camp Darapanan, Sultan Kudarat, Maguindanao. Conclusion To sum up, the MILF adopted several economic strategies embodied in its self-reliance program in its quest for achieving the freedom and self-determination of the Bangasmoro and their homeland from the socio-economic, military and political clutches of the Manila government. These strategies included farming, rearing animals, planting basic products such as corn, rice and banana and small-scale businesses operating all over the Bangsamoro homeland. The main thrust of this self-reliance program was to inculcate in the minds of the Bang-

samoro, in general, and, the MILF's members, in particular, a sense of independence. This was very effective, but the level of success of this (self-reliance) program could not be verified. But one thing is for sure, the self-reliance program was one of the main reasons that had ensured the survival of the MILF as a liberation movement despite the disruption of support from foreign donors. Thus, the MILF utilized its local sources of income and exploited them for the survival of the movement. Bibliography Arguilals, C.C. (2003). The Cost of War Part 1: Economic Cost of Never Ending Conflict is 30-M Daily Money for Development or War? MindaNews, March 12. Retrieved January 20, 2004. http://www.mindanews. com/2003/02/12pep-cost.html. ARMM Designed to Perpetuate Colonial Occupation. (2004). Luwaran.com: Moro Islamic Liberation Front, October 13. Arroyo, D.M. (2004). Poverty: Root Cause of Mindanao Conflict. INQ7Money, July 26. Bangsamoro People Stand for Peace and Social Justice: Recognize and Respect for the Bangsamoro People's Right to Self-determination. (2002). Consortium of Bangsamoro Civil Society, September. Retrieved May 13, 2004. http://www.yonip.com/ main/articles/people.html. Brown, M. (1994). Causes and Implications of Ethnic Conflict. London: Princeton University. Buendia, R.G. (2004). The GRP-MILF Peace Talks. Southeast Asian Affairs. Che Man, W.K. (1990). Muslim Separatism: The Moros of the Southern Philippines and the Malays of Southern Thailand. Oxford: Oxford University Press. Christie, K. (1998). Ethnic Conflict, Tribal Politics: A Global Perspective. London: Curson Press. Davis, L. (1987). The Philippines: People, Poverty and Politics. London: The Macmillan Press Ltd. Diaz, P.P. (2003). Understanding Mindanao Conflict. MindaViews: A Publication of the Mindanao News and Information Cooperative Center, vol. 2, no. 108, January 20.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

135

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

Patricio P. Diaz, What's New,? (2005, August 20). MindaViews: A Publication of the Mindanao News and Information Cooperative Center, vol. 15, no. 087. Ferriols, Des. (2003, December 27). U.N., European Community Agree to Assist in Mindanao. Star. Retrieved January 15, 2004. http://www.newsflash.org/2003/05/be/be0026 73.htm. Gladstone, Jack A. (2002). Population and Security: How Demographic Change Can Lead to Violence. Journal of International Affairs, vol. 59, no. 1. Gowing, P. G. (1979). Muslim FilipinoHeritage and Horizon. Quezon City: New Day Publisher. GRP, MILF to Address Local Feuds in Maguindanao. (2004, October 12). Luwaran.com: Moro Islamic Liberation Front. Hedman, E. E. & Sidel, J. T. (2000). Philippine Politics and Society in the Twentieth Century: Colonial Legacy, Post-colonial Trajectories. London: TJ International Ltd., Padstow, Cornwall. Hashim, Salamat. (1999, March 16-31). Bangsamoro Muslims' Determination to Establish an Islamic State. Crescent International Interviewed Salamat Hashim, Leader of the Moro Islamic Liberation Front at his Main Base at Camp Abu Bakre As-Siddique, Central Mindanao. Hashim, S. (1985). The Bangsamoro Mujahid: His Objectives and Responsibilities. Mindanao: Bangsamoro Publication. Islam, S. S. (2000). Ethnic Communal Conflict in the Philippines. Ethnic Conflict in Southeast Asia (ed.). New York: Sage Publisher. Islam, S. S. (2005). The Politics of Islamic Identity in Southeast Asia. Singapore: Thomson Learning. Julkarnain, Al Khadaff A. (2000). Ethnicity, Leadership and the Moro Independence Movements in the Philippines. M.Hsc. Thesis, International Islamic University, Malayasia. Kadir, B. J. (2002). History of the Moro and Indigenous Peoples in Minsupala .

Mindanao: Mindanao State University. Khutabah Delivered by Sheikh Salamat Hashim. (n. d.). Strategies of Islamic Resurgence. Camp Abu Bakre AsSiddique, Maguindanao Lingga, A. S. M. (2002, February 7). Peace Process in Mindanao: The MILF-GRP Negotiations. Institute of Bangsamoro Studies. Lingga, A. S. M. (2002, March 8). Understanding Bangsamoro Independence as a Mode of Selfdetermination. Media Monitors Network. Lingga, A. S. M. (2002, July 17). Democratic Approach to Pursue the Bangsamoro People's Right to Self-determination. Bangsamoro People's Consultative Assembly. Retrieved March 20, 2004. http://www.yonip.com/main/articles/bangsarig hts.html. Lingga, A. S. M. (2002, September). Referendum: A Political Option for Mindanao. Bangsamoro People's Consultative Assembly. Retrived March 20, 2004. http://www.yonip.com/main/articles/referendu m.html. Lingga, A. S. M. (2004, June 4). Mindanao Peace Process: The Need for New Formula. Institute of Bangsamoro Studies. Retrieved November 20, 2004. http://www.yonip.com/main/articles/peacepro cess.html. Lingga, A. S. M. (2004, June 5). Muslim Minority in the Philippines. Institute of B a n g s a m o ro St u d i e s . R e t r i ev ed November 20, 2004. http://www.aljazeerah.info/Opinion%20editori als/2004%20opinions/June/5o/Muslim% 20Minority%20in%20the%20Philippines %20By%20Abhoud%20Syed%20M.%2 0Lingga.htm. Magdalena, F. V. (1997). The Peace Process in Mindanao: Problems and Prospects. Southeast Asian Affairs. Makol-Abdul, P. R. (1997). Colonialism and Change: The Case of the Muslims in the Philippines. Journal of Muslim Minority Affairs, vol. 17, no. 2. Mantawil , M. (1997). Bangsamoro Independence Movement. Homeland, vol. 4, no. 6.

136

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

Martin, R. (1994). Resurgent Islam: Moros are Fervently Proselytizing in the Southern Philippines. Far Eastern Economic Review, February 17. Mastura, M. O. (1984). Muslim Filipino Experience. Philippines: PDM Press, Inc. -----. (2003). Just Peace: Understanding the Frameworks Document. MindaNews, July 8. Retrieved November 20, 2004. http:// www.mindanews.com/peprcs/peacetalk/ mastura.shtml. Mercado, Jr., E. R. (2000). The Five Issues Confronting Mindanao Vis-à-vis the Roles of the Civil Society. Institute of Social Studies, September 29. Retrieved November 20, 2004. http://www.philsol.nl/fora/ NL00a-Mercado.html. Mezzera, M. (2001). The Camps of the Sun: MILF's Stronghold after Military Offensive. Focus on the Global South, March 7. Montesano, M.J. (2003). The Philippines in 2002, Playing Politics. Asian Survey, vol. 13, no. 1. Moro Islamic Liberation Front. (2002). An Appeal to the Organization of Islamic Conference (OIC) and All Peace Loving Nations. Mindanao: Office of the MILF Central Committee. Muslim, M. A. (1994). The Moro Armed Struggle in the Philippines: The Nonviolent Autonomy Alternative. Marawi City: Office of the President and College Affairs Mindanao State University. Noble, L. G. (1983). “Roots of the Bangsa Moro Revolution.” Solidarity, vol. 4, no. 97. Nu'ain bin Abdulhaqq. (2001). The Bangsamoro People's Struggle against Oppression and Colonialism (ed.). Mindanao: Agency for YouthAffairs-MILF. One Victory More Needed. (2000). The Economist, July 15. Peace by Christmas? (1998). The Economist, June 27. Quevedo, O. B. (2003). Injustice: The Roots of Conflict in Mindanao. Tabang Mindanao, July 18. Quimpo, N. G. (2000). Options in the Pursuit of a Just, Comprehensive and Stable Peace in Mindanao. Institute of Islamic Social Studies, September 29. Retrieved November 20, 2004. http://www.philsol.nl/NL00aQuimpo.html.

Salah J. (1999). Bangsamoro: A Nation under Endless Tyranny. Kuala Lumpur, Malaysia: IQ Marin Sdn. Bhd. Sarmiento, B. (2005). MILF Holds Month-long Education Campaign on the Peace Process. MindaNews, vol. 3, no. 93, August, 25. Retrieved November 20, 2004. http:// www.mindanews.com/2004/08/25nwstalks.html. Sorting out the South. (2001). The Economist, July 7. Speech Delivered by Sheikh Salamat Hashim. (2001). Sangan nu Kangudan sya Kanu Jihad Fi Sabilillah. Camp Abu Bakre As-Siddique, Maguindanao, May 26. Stark, J. (2003). Muslims in the Philippines. Journal of Muslim Minorities Affairs, vol. 23, no. 1. Taya, S.L. (2007). The Political Strategies of the Moro Islamic Liberation Front for SelfDetermination in the Philippines. Intellectual Discourse, vol.15, no. 1. -----. (2007). Conflict and Conflict-Resolution in the Southern Philippines. Journal of International Studies. Tiglao, R. (1995). Hidden Strength: Muslim Insurgents Shun Publicity and Grow in Power. Far Eastern Economic Review, February 23. Torres, M. T. (2005). MILF Peace Pact to Take Time. The Manila Times, February 4. Retrieved November 16, 2005. http:// www. manilatimes.net/national/2005/feb/04/ye hey/top_stories/20050204top10.html. Vitug, M. D. & Gloria, G.M. (2000). Under the Crescent Moon: Rebellion in Mindanao. Quezon City: Ateneo Center for Social Policy and Public Affairs and Institute for Popular Democracy.
Notes 1. Salah Jubair, Bangsamoro: A Nation under Endless Tyranny, (Kuala Lumpur: IQ Marin Sdn. Bhd., 1999), 134. 2. Ibid., 135. See also Samuel K. Tan, “The Bangsamoro Struggle,” Opisyal na Publikasyon ng Universidad ng Pilipinas, Tomo 1, Blg. 7 (Mayo/Hunyo 2 000): 6-8. <http://www.up.edu.ph/forum/2000/06/mayjun e/bangsamoro.htm>. 3. Miriam Coronel Ferrer, “The Philippines: Governance Issues Come to the Fore,” Southeast Asian Affairs (2000): 251-3.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

137

Taya : The Economic Strategies Pursued by the Moro Islamic Liberation Front (MILF)

4. Mark Turner, “Terrorism and Secession in the Southern Philippines: The Rise of the Abu Sayyaf,” Contemporary Southeast Asia, vol. 17, no. 1 (1995): 1. See also “Sorting out the South,” The Economist, July 7, 2001, 21. See also “The Continuing Search for Sustainable Peace in Mindanao: A View from a Distance,” Center for Sustainable Peace and Economic Justice, February 28, 2005, 12-3. < http://www.philsol.nl/A00a/Minda-CSPEJchronology-june00.htm>. 5. Cesar Adib Majul, The Contemporary Muslim Movement in the Philippines, 64. See also Salah Jubair, Bangsamoro: A Nation Under Endless Tyranny, 173-176. See also Wan Kadir Che Man, Muslim Separatism: The Moros of Southern Philippines and the Malays of Southern Thailand, 79-80. See also Al Khadaff Abu Bakar Julkarnain “Ethnicity, Leadership and the Moro Independence Movements in the Philippines” (M.Hsc. Thesis, IIUM, 2000), 92. 6. “MILF Comprehensive Report to OIC, 2000, by MILF Information Committee, 3. 7. Mohagher Iqbal, Interview by author, Kuala Lumpur, Malaysia, 15 September 2005. See also a Khutabah Delivered by Sheikh Salamat Hashim, “Strategies of Islamic Resurgence,” Camp Abu Bakre As-Siddique, Maguindanao, (n.d.), 2-4. 8. Mohagher Iqbal, Interview by author. 9. Salman Dawan, Interview by author, Kuala Lumpur, Malaysia, 15 September 2005. 10. Ibid. 11. From 1999 interview with the late Chairman Salamat Hashim at his jungle base, Camp Abu Bakre As-Siddique. The present writer has lengthy and deep discussion with the chairman about the concept of self-reliance program of the MILF. 12. Abuomair, Interview by author, Kuala Lumpur, Malaysia, November September 2007. 13. Ibid. 14. Eliseo R. Mercado, “Culture, Economics and Revolt in Mindanao: The Origins of the MNLF and the Politics of Moro Separatism” in Armed Separatism in Southeast Asia: Issues in Southeast Asia Security, Ed. LimJoo-Jock and Vani S., Institute of Southeast Asia Studies, 1984, 152. 15. Muhammad Ameen, Biography of Chairman Salamat Hashim, MILF Central Committee, 89. 16. From a 1999 interview with the director of one of multi-purposes cooperatives in Camp Abu Bakr as-Siddique. 17. Wan Kadir Che Man, Muslim Separatism: The Moros of the Southern Philippines and the Malays of Southern Thailand, 93.

18. ABS CBN interview with one of MILF Freedom Fighters' wives, Camp Abu Bakre As-Siddique, 1999. 19. ABS CBN Interview with Al Haj Murad, Camp Abu Bakr, 1999. 20. Interview with a group of Islamic teachers and preachers directly involved in teaching and da'wah activities in central Mindanao, (February 29, 2003), Mindanao, Philippines. 21. Mohagher Iqbal, Interview by author. 22. Abuomair, Interview by author. 23. The Bangsamoro Development Authority (BDA) is a product or fruit of the peace talks between the MILF and the GRP under the administration of President Gloria M. Arroyo wherein the said agency is tasked with strong mandate of the MILF, to handle the development and rehabilitation programs in central Mindanao and its adjacent islands, specifically the affected conflict areas. This agency was created by the MILF as an independent agency meant for development and rehabilitation programs. All financial aid whether from abroad or local must be channeled through this agency without any form of inference of any party particularly the Philippine government. 24. See Article III, Definition of Terms , no.4, 1-2, in Agreement on Peace between the GRP and the MILF on June 22, 2001, Tripoli, Libya, in GRPMILF Peace Negotiations: Signed Documents (January 27, 1997- March 28, 2003, (1st.ed.) July 2003, by MILF Committee on Information, 2324. 25. Salman Dawan, Interview by author. It was also stated by Abuomair, Interview by author. It was argued by Mohagher Iqbal, Interview by author. 26. Salman Dawan, Interview by author. 27. Abuomair, Interview by author. 28. Salman Dawan, Interview by author. 29. Salman Dawan, Interview by author. It was also stated by Mohagher Iqbal, Interview by author. 30. Salman Dawan, Interview by author. 31. Ibid. See also Salamat Hashim, (ed. Nu'ain bin Abdulhaqq), The Bangsamoro People's Struggle against Oppression and Colonialism, 66-8. 32. “MILF Comprehensive Report to OIC, 2000,” by MILF Information Committee, 3. 33. Salman Dawan, Interview by author. 34. Eric Gutierez, “Islam and Development” in Rebels, Warlords and Ulama, 156. 35. Ibid, 157. 36. Marites D. Vitug and Glenda M. Gloria, Under the Crescent Moon: Rebellion in Mindanao, 108. 37. Abdullah Hamza, “MILF Given New Mandate to Lead the Bangsam”.

138

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 139-145

The Importance and Functional Role of Qualitative Audience Analysis within the Stakeholders of Malaysia Screen Industry
Hisham Dzakaria and Nuraini Yusoff
Faculty of Communication and Modern Language at Universiti Utara Malaysia

Abstract
In the words of Justin Lewis (1991), any screen production power lies in its encounter with the audience. One cannot exist without the other. As he immediately proceeds to acknowledge, however, this idea is “ofthen difficult to grasp empirically” (p. 61) and the issue of how the idea works in practice remain full of methodological confusion and perplexity. This article reviews the contemporary shift and the importance of understanding of audience preferences, perspectives, behaviours, and routines towards the production of films, movies, and television production in Malaysia. It proceeds to examine the comparatively underdeveloped state of Malaysian research about screen production audience, and the variety of incentives to develop such research. The distance between academic and industry research in Malaysia is discussed, and the possible explanations of gap in our academic knowledge of Malaysian screen and film audiences are offered. Finally, the article considers possible means to approach the meaningful study of the media reception process within Malaysian audiences or viewers. The audience profile is considered as a key factor for programming of screen production. Understanding audience and their preferences could sustain continuous programming and development of new production. This article advocated the need for the professionals in the industry to incalculate such uinderstanding and call for more qualitative research into audience analysis for sustainable development of the industry in this country.

Introduction The landscape of the screen industry in Malaysia is changing fast. But like any other countries, there is much uncertainty of success and failure of any production within its industry. Will Pontianak Menjerit, Qaisy & Laila, Evil Eyes-Mania, War of the Worlds, Hostage, Unleashed, Batman Begins, Amityville Horror be a box office movie? No one can be certain of that. There are so many factors that contribute to the

success of any screen production. One of those factors is the ability of the industry to understand the audience, their preferences, perspectives, and thoughts. It is important to listen to and understand audience or viewers' voices and perspectives on films, movies, television programmes in Malaysia because of the complex mix of cultures, languages, and urban and rural factors. Additionally, there is a need to reflect on the effectiveness of such production, programes, and
139

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dzakaria & Yusoff : The Role of Qualitative Audience Analysis in Malaysia Screen Industry

services provided from time to time. In doing so, stakeholders in the screen industry and institutions need to get a balanced picture of what is “right” and “wrong”in their movies, films, and programmes. Understanding how the film, movies' experience discourages of frustrates the local Malaysian audience or viewers enables the movie makers, producers and institutions, and others to reflect and make contructive changes to create the condition for better screen production in the future. A study that focussed on audience or viewers' point of viewing and experiences in distance learning and their learning interactions is important for several reasons. First, there have been virtually no major studies that have sought the voices of audience or viewers in Malaysia. For this reason, this article advocates and call upon academics and professionals to study, explore and offer an understanding of audience or viewers' perceptions of their preferences and perspectives on films, and movies to construct a rich and detailed account of the wide range of factors that might have influence and build the Malaysian audience or viewers' character and behavior. Audience in many ways are heterogeneous. One may have different expectation, social system, believes, culture, educational and family background, and these variables

may interact differently with the media and messages generated in movies, programmes, and so forth. As depicted by Diagramme 1, such variables have direct impact on the acceptance or rejection of any screen production. Some may like a particular movie, others may not. Some accept the messages posted in a movie, others reject. There are so many dimension of human behavior that the screen industry needs to understand. Therefore, this paper advocates that there is no other method of investigation that work best to understand audience other than performing audience analysis. The primary basis of any screen production influences lies in the nature of the interdependencies between the human factors, the media and other social systems and how these interdependencies shape audience relationships with the movies or tv programmes. Therefore, performing an audience analysis is paramount. The unpredictability of audience preference is no myth. Nobody knows what makes a hit or when it will happen, since audience make hits not by revealing preferences they already have, but by discovering what they like. The string of Scenario movies could be deemed as 'successful' for some quarters because it was able to position its production

Diagramme 1 The Complexity of Reaching an Audience within the Screen Industry

Human Variables: Educational & family background, expectations, culture, religion, preferences

Media/Screen Production Movies, TV programmes, etc.

AUDIENCE ANALYSIS

REACHING YOUR AUDIENCE

Effects: Positive Negative Acceptance Rejection

140

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dzakaria & Yusoff : The Role of Qualitative Audience Analysis in Malaysia Screen Industry

as comedy entertainment for Malaysians. Nevertheless, its latest production of Scenario XXX remains to be seen. Audience can and in many cases remains unpredictable. No theatre, film and movie maker in Malaysian or else where, not even Hollywood or Bollywood can and able to ascertain success or box office sales in advance. Tha fact remains that there has been very little market research on modern 21st century audiences. Most audience research is based on audience response to a film they have already seen. Practicing a film's box-office success is never an easy business. Many film producers and media miscalculated by basing their decisions on past box-office performance rather than potential audience response. Therefore, it is important for us to realise that it is not just because audiences are flocking to Crouching Tiger, Hidden Dragon (Ang, 1996), mean they will flock to see the next Asian martial arts flick. Audience perception happens almost every second. People change. Some audience are similar with another, others are vastly different in personality, attitude, behaviour, thoughts, and routines. The best means to understand audiences was most clearly and succinctly expressed by Fiske (1987) in his simple affirmation that : “audience is composed of a wide variety of groups and is not a homogeneous mass... these groups actively watch ... in order to produce from its meanings that connect with their social experience” (p.84). Audience for that matter is heterogeneus must always be understood in the plural. In addition, Morley (1974) identified the important characteristics of audiences to be considered in any analysis, must include social class, gender, age, ethnicity, level of formal education and region of residence. Though Malaysia is fairly small country compared to the United States, India, Australia, though difference among audience preferences between and within states may differ greatly. The southern people perhaps have different perception, preferences towards movies, comedy, than people in eastern part of Malaysia. All of these characteristics were seen to correspond with different audience groups and subgroups, and likewise with alternative cultural codes and meaning systems. At that very early juncture in the emergence of ethnographic

audience research, Morley (1974) wrote : “[W]hat is needed is the development of a 'cultural map' of the audience so that we can begin to see which classes, section of classes and subgroups share which cultural codes and meaning system, to what extent” (p. 12). This is certainly true with a country like Malaysia where cultural plurality and diversity is at the forefront particularly in trying to understand the audience perspectives, preferences and behaviours towards any screen production. Need for Ethnography Approach Together with the more contemporary work for Morley (e.g., 1980, 1986, 1992), Ang's work (e.g., 1985, 1991, 1996) has contributed very importantly to continuing debate about how 'audiences' should, or should not, be investigated. In Desperately Seeking the Audience (1991), Ang made a powerful case for necessity of the ethnographic approach. She claimed that our knowledge of audiences had been formed and shaped by what she called “the institutional point of view”. This institutional point of view is the way in which industry and mainstream academic research were inclined to percieve audiences. Evidently, such approach had in fact prevented a true understanding of the audience. In Ang's view, only “a perspective that display sensitivity to the everyday practices and experiences of actual audiences themselves” can supply any true insight into viewers (see Ang, 1991). We feel that such approach is timely and suits the screen industry in Malaysia. Only when we understand the composition and preferences among the richly diverse population of viewers in Malaysia that perhaps better programming and production could be made. Institutional knowledge, according to Ang, is formed by the industry's need to “get” an audience. The audience as seen by the industry is a group of individuals with identifiable and categorizable attributes: age, gender, and so forth. Ang demonstrates that this view of “the audience” (singular) is a discursive construct and therefore does not match any actual audience. This in turn explain why broadcasting organization are bound to be “desperately seeking audience”. Despite all of the sophisticated methods of audience measurement--for example, the people meter--the industry is never truly certain of actually “having” an audience. Actual audiences are unpredictable, constantly chang141

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dzakaria & Yusoff : The Role of Qualitative Audience Analysis in Malaysia Screen Industry

ing their preferences, and therefore the attempt to describe the audience in term of neatly defined categories is in itself absurd. The industry is never truly certain of actually “having” an audience. Actual audiences are unpredistable, constantly changing their preferences, and therefore the attempt to describe the audience in term of neatly defined categories is in itself absurd. She proceeds to describe the uncomfortable relationship between both private and public broadcasting organizations and their audiences. Athough the two types of organizations differ in their conceptualizations. Private broadcaster like TV3, NTV 7, ASTRO and other see audiences as consumers to be sold to advertisers while public broadcasters like RTM see audiences as citizens to be educated and informed--both lack insight into the behaviour of their viewers. Ang provides detailed and useful insight into institutional conceptualizations of audiences and the difficulties encountered in their efforts to attract viewers. Finally, she points out that communication researches have often too easily adopted the institutional point of view. She argues that mainstream communication research, with its search for generalizations, is totally in contrast to the etnographic approach that she advocates. Rather than seek to generalize, etnographic research under the rubric of qualitative research method asks how specific audiences differ in the social production of meaning within their daily lives and especially in view of the diverse social settings in which media are recieved. Practically, such analysis requires qualitative empirical methods including in-depth interviews and observations of the audiences in the primary settings where viewing ocurs. The Communicative Dimension of Audience Research The key focus as depicted in Diagramme 1 was on the realisation that we are, of course, dealing with human communication that it rich with signs and symbols, which only have meaning within the terms of reference supplied by codes (of one sort or another) which the audience shares, to some greater or lesser extent, with the producers of messages. The premises of encoding/decoding model were :  The same event can be encoded in more than two way.
142

 The message always contains more than one potential “reading”. Message propose and “prefer” certain readings over others, but they can never become wholly closed around one reading: they remain polysemic (i.e. capable, in principle, of a variety of interpretations).  Understanding the message is also a problematic practice, however transparent and “natural” it may seem. Messages encoded one way can always be decoded in a different way. The message in any product of screen production is treated here as a complex sign, in which a “preferrred reading” has been inscribed, but which retains the potential, if decoded in a manner different from the way in which it has been encoded, of communicating a different meaning. The message is thus a structured polysemy. Your perspective and experiences of watching Puteri Gunung Ledang, Sepet, would possibly be similar or vastly different than other viewers. It is central to argument that all meanings do not exist “equally” in the message: which is seen to have been structured in dominance, despite the impossibility of a “total closure” of meaning. Further, the “preffered reading” is itself part of the message, and can be identified within its linguistic and communicative structure. There will be no necessary “fit” or transparency between the encoding and decoding ends of the communication chains. It is precisely the lack of transparency, and its consequences for communication which we need to investigate qualitatively. Having established that there is always a possibility if disjunction between the codes of those sending and those receiving through the circuit of mass communications, the problem of the “effects” of communication could now be reformulated, as that of the extent to which decoding take place within the limit of the preferred (or dominant) manner in which the message has been initially encoded. Screen theory was centrally concerned with the analysis the effects of cinema (and especially, the regressive effects of mainstream, commercial cinema) in “positioning” the spectator (or subject) of the film, through the way in which the text (by means of camera placement, editing, and other formal characteristic “fixed” the spectator into a particular kind of “subject-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dzakaria & Yusoff : The Role of Qualitative Audience Analysis in Malaysia Screen Industry

position”, which it was argued “guaranteed” the transmission of a certain kind of “bourgeois ideology” of naturalism, realism, and probability. Undoubtedly, on of the Screen theory's great achievements, drawing was to restore an emphasis to the analysis of text which has been absent in much previous work. In particular, the insight of psychoanalysis were extremely influential in the development of later feminist work on the role of media in the construction of gendered identities and gendered form of spectatorship (see, Kuhn, 1982 ; Modleski, 1984). Proponents of Screen theory argued that previous approaches had neglected the analysis of the textual forms and patterns of media products, concentrating instead of the analysis of patterns of ownership and control. In Screen theory, it was the text itself which was the central (if not exclusive) focus of the analysis, of the assumption that, since the text “positioned” the spectators, all that was necessary was the close analysis of texts, from which their “effects” on their spectators could be automatically deduced, as spectators were bound to take up the “positions constructed from them by the text (film). Fundamental and Issues of Audience Analysis Much of the methodological complexity derives from the initial discovery that specific readings of media text originate in both macrosocial factors, such as class, ethnicity, gender, age, and so forth as well as in micro-social or interactional/contextual relations such as household dynamic, which impose their own influences and at the same time serve to mediate the larger macrosocial factors that are operative (see Schroder, 1994). What further complicates any research design is the reality that media reception occurs in a variety of setting, of which the household is but one and only dominant-setting, and it is mediated and negotiated in a yet greater variety of multiple social setting. Schroder (1994) strikes home the fundamental reality that even research which summons together naturally interactive social groups (such as families or peer groups) is problematic in the sense that each member of such a group or “interpretive community” is simultaneously a member of many other social groups or commu-nities. Just by virtue of the act of selecting one of these as the unit of analysis,

the researcher unavoidably accords priority to that unit, to the necessary exclusion or neglect of all of other interpretive communities to which the individual belongs. If, say, we wanted to explore the receptive of Scenario productions for example on Malaysia audiences and its social signifying processes among the population of the country, it would be impossible to do justice to the vastness of this subject through a study of one interpretive community. To interview families/ households, for instance, is clearly insufficient if one wants to capture the multiple interpersonal discourses through which people make sense of the message and story line that Scenario projects to deliver. As qualitative practioners and researchers we feel that the best solution is to use the individual interview in the informant's home as the research setting that best does justice to the whole array of cultural discourses that individual inhabits, After all, one need not directly observe the individual in each and every possible social setting; while the individual is situated in the household setting, one can also freely explore the multiple sociocultural circumstances which contribute to the individual's readings and uses of television or other media. As Schroder states, “this is ultimately an empirical question” (p. 342), and a research design can be formulated in such a way as to capture the experiences of subjects in other settings. A preliminary step in the formulation of any research design is the need to first sketch out the variety of household that are contained within Malaysia as a country case and to assemble some of the available data regarding their respective patterns of media usage. It can be seen that one “overseas” contribution of those, such as Ang and Morley do provide fruitful fodder for the empirical exploration of the reception process as it operates here. Since the dominant setting of ethnographic audience research is the household, what can add to the fodder are the potential useful linkages between discussion of households in the family studies literature and discussions of households media reception in the media studies literature. There is, in other words, much to be gained from an at-tempted integration or at least intersection of family studies and media studies along several counts, particularly if one is concerned, like most ethnographic audience researchers, to unravel the
143

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dzakaria & Yusoff : The Role of Qualitative Audience Analysis in Malaysia Screen Industry

operation of the media reception process within its everyday household context. For example, there is a tendency within ethnographic audience research to treat families and households in a monolithic manner, to consider socalled “nuclear” families almost exclusively, and to overlook the extensive and increasing diversity of family forms and household types including solo-parent families, childless couples, gay and lesbian couples, multi-generational households, one-person households, and so forth. There is, in other words, tendency to overlook the variety of ways in which households are differentially structured, which in turn leads to differential configurations of interactional dynamics, and which in turn can be expected to lead to different patterns of media usage and differential outcomes of the media reception experience. There are also several components of media usage patterns that can be distinguished, including: the type and quantity of media available within a household, the extent of usage, gendered patterns of usage, and, not, unrelatedly, power and control over media usage as it is exercised within the social-interaction dynamics of family media experiences. Unfortunately, the available Malaysian data are largely limited to those regarding the extent to which Ma-laysian households are equipped with communication and information technologies. These data are indeed extraordinary, and reflect the tradition whereby Malaysians have tended historically to be ravenous consumers of media technologies. Lull's (1990) discussion of cultural variations in family viewing and the rituals and rule of social interaction and communication within households moves further towards a comprehensive and contextualized understanding of the media reception process. His notion of “cultural variation” extends to three levels of analysis: by “the culture” he refers to characteristics of a social context beyond the microlevel parameters of the household; “the household” encompasses the structure of family relations as well as the physical location or place in which television is experienced; and the third level of analysis is “the person”. He acknowledges that television viewing occurs most commonly and most fundamentally within the household: what is understood to be a complex, very intricate mix of persons, social roles, power relations,
144

ritual activities, processes of interpersonal communication, and physical factors that characterize the household environment, as well as the technological equipment con-ained within it. Television, as the dominant medium towards which attention is directed in these discussions, is seen to serve a variety of purposes in everyday family relations. In household with children, it can be called upon to alleviate somewhat the burden of child care by occupying the attention of children while other household labor chores are completed. In solo-parent households, it is sometimes called upon in order to play out symbolically the role of the second parent. And in all but one-person households, it can be incorporated into strategies to avoid physical or emotional contact with other household members. As Morley (1980, 1986), Rogger & Jensen (1988), and others have demonstrated, the uses and patterns of television viewing may be highly routinized, yet are not at all static or invulnerable to change. Where household circumstances change for example, where the composition of the household changes or where a member becomes unemployed-family viewing patterns can be dramatically affected with respect to the amount of viewing, the content of viewing, and the linkages between viewing and other household activities. In the case of a household struck by unemployment, communication and relations between members can be expected to change as new viewing patterns are negotiated in order to arrive at a viable arrangement that will work within the nexus of prefigured social relations in the household. Conclusion This paper advocates the need for all stakeholders in the screen industry particularly film producers, directors to conduct audience analysis by segmenting their audience to target their messages. This article suggests, in a highly exploratory and tentative fashion, that it is timely for the industry to realize the importance of gathering qualitatively of existent knowledge of Malaysian audience, Malaysia family structures and family dynamics, alongside and together with existent knowledge of family media consumption and culture in order to begin to address questions of screen production reception in Malaysia in a truly comprehensive and contextually sensitive manner.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dzakaria & Yusoff : The Role of Qualitative Audience Analysis in Malaysia Screen Industry

Such work might call upon a variety of methods, but this paper advocated the use of qualitative approach to better understand the Malaysia audience preference, perspectives, believe system, and behaviours towards screen production. We believe that such powerful research method could have the industry and allow the viewers or audience to express their views freely, and such informed knowledge could make it possible for the stakeholders in the industry to fully understand how the social characteristiscs of viewers shaped their responses. References Ang, L. (1985). Watching Dallas: Soap Opera and Melodramatic Imagination. London: Methuen. -----. (1991). Desperately Seeking The Audience. London : Routledge. -----. (1996). Living Room Wars: Rethinking Media Audience for A Postmodern World. London: Routledge. Fiske, J. (1987). Television Culture. London: Methuen. Lewis, J. (1991). The Ideological Octopus: An Exploration of Television and its audi-

ence. New York: Routledge. Lull, J. (1997). Inside family viewing: Etnographic research on television's audiences. New York: Routledge. Modleski, T. (1984). Loving With A Vengeance. London: Mutheun. Morley, D. (1974). Reconceptualizing the media audience: Towards an ethnography of audiences. University of Birmingham, Centre for Contemporary Cultural Studies, Stencilled Occasional Papers. -----. (1980). The nationwide audience: Structure and decoding. London: British Film Institute. -----. (1986). Family television: Cultural power and domestic leisure. London: Comedia. -----. (1992). Television, audiences, and cultural studies. London : Routledge. Rogger, J., & Jensen, K. (1988). Everyday life and television in west Germany: An emphatetic-interpretive perspective on the family as system. In James Lull (Ed.), World families watch television (pp. 80115). London: Sage. Schroder, K.C. (1994). Audience semiotics, interpretive communities, and the “etnographic turn” in Media Research. Media, Culture & Society, 16 (2), 337-347.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

145

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 146-154

Proporsionalitas Anggota DPRD: Kajian Terhadap Proses Rekrutmen Anggota DPRD Hasil Pemilu 2004 di Kabupaten Wonogiri
Dwi Tiyanto
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstrak
Penelitian ini merupakan sebuah langkah untuk mencoba melakukan evaluasi atas jalannya kegiatan Politik lima tahunan yang dalam terminologi politik sering disebut sebagai Pemilihan Umum; khususnya mengenai bagaimana Sistem Pemilihan yang dipergunakan dalam Pemilu legislatif yang terakhir dilaksanakan yakni Pemilu pada tahun 2004, dengan berlandaskan pada Undang-Undang No. 12 Tahun 2003. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proporsionalitas keanggotaan DPRD yang diperoleh melalui Pemilu 2004 di Kabupaten Wonogiri. Diambilnya DPRD Wonogiri sebagai obyek penelitian mengingat bahwa disanalah merupakan satu-satunya DPRD di bekas wilayah Karesidenan Surakarta, yang memiliki 2 orang angota yang terpilih sebagai anggota DPRD dengan melampaui angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) seperti diatur dalam pasal 107 UU No. 12 Tahun 2003. Karena penelitian ini masih bersifat penelitian awal, yakni berupa penjajagan, maka metode yang dilakukan dengan menggunakan metode analisis data sekunder, yang diperoleh dari DPRD Kabupaten Wonogiri dan KPUD Kabupaten yang sama. Hasil penelitian ternyata diketahui bahwa secara proporsionalitas penggunaan sistem campuran yakni perwakilan berimbang dengan daftar terbuka, yang dipergunakan dalam Pemilu legislatif tahun 2004 belum mampu menjaring banyak anggota dewan yang mampu melebihi BPP, kebanyakan anggota karena diuntungkan ketika pencalonannya berada pada posisi jadi, menempati nomor urut atas/kecil yang telah diatur oleh partai politik yang mencalonkannya, sehingga pada Daerah pemilihan partai politiknya meraih kursi di dewan, otomatis jatah kursinya diambil oleh calon legislatif yang memiliki nomor atas tersebut. Untuk itu direkomendasikan agar terwujud kinerja dewan perwakilan rakyat yang representatif, kelak dalam Pemilu-pemilu yang akan datang bisa direvisi Sistem Pemilihan yang selama ini dipergunakan dengan menggunakan sistem mayoritas sederhana, sehingga kapasitas kader partai politik yang akan menentukan bukan kepentingan partai politik apalagi pengurus partainya. Keywords: Pemilu, proporsionalitas legislatif, komunikasi politik, Wonogiri.

Pendahuluan Perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami pasang surut yang sangat dinamis sesuai dengan perkembangan sistem politik yang melingkupinya. Perubahan menuju tran-

sisi demokrasi, seperti yang diusung oleh semangat reformasi akhirnya telah merubah secara struktural sistem politik yang selama ini dianggap sangat berpihak pada kekuasaan eksekutif menjadi lebih condong kepada kekuatan legislatif. Apalagi dengan serangkaian amande-

146

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

men yang telah empat kali dilakukan terhadap konstitusi negara, maka muncul beberapa aturan perundangan sebagai aturan organik yang harus dibuat sebagai konsekwensi terhadap perubahan UUD 1945 tersebut, beberapa aturan pokok itu khususnya di bidang politik antara lain Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kesemuanya telah merubah secara struktural sistem pemerintahan yang ada sejak reformasi politik dilakukan. Undang-Undang nomor 12 tahun 2003 tentang pemilu menggunakan sistem MultyMember Constituency atau sering disebut Sistem Perwakilan Berimbang (Proportional Representation). Oleh karea itu sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2003 tersebut sistem pemilihan anggota legislatif didasarkan pada sistem Proporsional Daftar Calon Terbuka (Opened List Proportional Representation System); dimana pemilih dalam menentukan pilihan politiknya kecuali mencoblos tanda gambar partai politik, juga mencoblos nama calon anggota legislatif dari partai bersangkutan yang dikehendakinya. Lebih lanjut konsekwensi dari sistem pemilu yang demikian ini, maka seseorang calon legislatif yang bisa memenuhi angka Bilangan Pembagi Pemilih otomatis akan langsung terpilih menjadi anggota Dewan; sedangkan calon yang tidak mencapai angka BPP, penetapan calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut pada daftar calon di daerah pemilihan yang bersangkutan (lihat UU Nomor 12 tahun 2003 pasal 107). Dengan demikian dapat dimaknai bahwa anggota legislatif yang terpilih disebabakan oleh perolehan suara yang sama atau melebihi BPP maka yang bersangkutan telah memenuhi azas proporsionalitas, sementara bagi mereka yang terpilih meskipun tidak memenuhi angka BPP tetapi berdasarkan nomor urut daftar pencalonan di daerah pemilihan mereka, dapat dikatakan tidak memenuhi azas proporsionalitas, dan ini berlaku bagi anggota legislatif Pusat DPR maupun daerah atau DPRD. Untuk keperluan itulah peneliti tertarik

untuk meneliti apakah azas proposionalitas tersebut telah terpenuhi dalam rekrutmen anggota dewan legislatif DPRD yang dihasilkan dari penyelenggaraan Pemilu tahun 2004 yang lalu. Kemudian mengingat hasil Pemilu Legislatif Daerah di Kabupaten Wonogiri ternyata menghasilkan fenomena politik yang sangat menarik, yakni bahwa diantara beberapa kabupaten yang terdapat di bekas wilayah Karesidenan Surakarta, maka hanya di Kabupaten Wonogiri terdapat dua kandidat anggota DPRD yang berhasil memenuhi azas proporsionalitas dalam arti memenuhi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), sehingga dengan demikian langsung bisa menduduki kursi di lembaga perwakilan daerah setempat, sementara tidak ada seorangpun kandidat di kabupaten lainnya di wilayah tersebut yang bisa menjadi anggota DPRD dengan memenuhi azas proposionalitas tersebut, maka peneliti bermaksud untuk meneliti tentang apa dan bagaimana serta mengapa terdapat dua kandidat legislatif daerah di Kabupaten Wonogiri tersebut bisa memenuhi azas proporsionalitas sehingga terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Wonogiri. Perumusan Masalah Berdasarkan pemaparan dimuka maka di dalam penelitian ini diajukan suatu perumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimanakah Azas Proporsionalitas dalam Proses Rekrutmen Anggota DPRD hasil Pemilu 2004 di Kabupaten Wonogiri?” Metode Penelitian Penelitian ini dapat dikategorikan ke dalam penelitian diskriptif penelitian diskriptifkualitatif dengan mengambil bentuk Studi Kasus, yakni sebuah penelitian yang dilakukan terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah, keadaan atau peristiwa bahkan fenomena sebagaimana adanya sehingga bersifat penggambaran fakta yang terjadi. Fenomena ini sangat bersifat spesifik sehingga dapat diklasifikasikan ke dalam studi kasus, dimana hasil penelitian ini diarahkan pada pemberian gambaran secara obyektif tentang keadaan yang sebenarnya dari obyek penelitian yang sedang diteliti, yakni proses rekrutmen anggota DPRD di Kabupaten Wonogiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003. Sedangkan rancangan penelitian ini

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

147

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

menggunakan teknik penyamplingan yang bersifat Total Sampling, dalam pemahaman bahwa semua responden yang dijadikan unit analisis penelitian ini adalah semua anggota DPRD Kabupaten Wonogiri yang berhasil menjadi anggota DPRD yang akan menjadi dasar bagi pengumpulan dan analisis datanya, sedangkan data-data lain bersifat komplementer yang akan dipergunakan untuk melengkapi data dari para responden dalam penelitian ini yang tentunya akan diperoleh dengan menggali dari sumber data yang bersifat sekunder baik dari dokumen resmi lembaga KPUD Kabupaten Wonogiri maupun dari DPRD Kabupaten Wonogiri. Untuk menguji keabsahan data yang telah didapatkan, maka dalam penelitian ini dipergunakan triangulasi data, yakni dengan melakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan atau memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 1994:178); di mana apabila mempergunakan klasifikasi dari Denzin (1978) yang membedakan adanya empat jenis triangulasi data sebagai teknik pemeriksaan yang meliputi penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori, maka dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan uji keabsahan data berdasarkan kepada penggunaan sumber data sebagai teknik trianggulasinya. Untuk itu data yang dikumpulkan dan akan dianalisis yang diperoleh dari anggota DPRD yang dipilih secara langsung karena dapat melampaui BPP akan dikonfirmasikan dengan data dari sumber-sumber lain baik dari dalam lembaga DPRD Kabupaten Wonogiri maupun dari KPUD Kabupaten Wonogiri. Hasil Penelitian Berdasarkan data yang dikumpulkan selama penelitian ini, terutama dari dokumentasi yang terdapat di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Wonogiri dan Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Wonogiri, maka dapat disajikan penelitian sebagai berikut: A. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Wonogiri Dikarenakan jumlah penduduk Kabupaten Wonogiri telah mencapai 1.122.557 jiwa, sementara berdasarkan aturan perundangan-undangan yang ada maka jumlah anggota DPRD yang berada di daerah tersebut telah ditetapkan

sebanyak 45 orang. Berdasarkan hasil pemilihan umum (PEMILU) yang diselenggarakan tahun 2004 yang lalu maka telah ditetapkan jumlah dan susunan keanggotaan DPRD Kabupaten Wonogiri sebanyak 45 orang anggota DPRD yang terdiri dari perwakilan 5 (lima) partai politik yang mengikuti jalannya pemilihan umum tahun 2004 yang lalu, yakni dari PDIP 24 orang, partai Golkar 12 orang dan partai Demokrat 1 orang. Wakil rakyat sebanyak 45 orang tersebut yang berasal dari 5 partai pemenang pemilu 2004 di kabupaten Wonogiri kemudian dikelompokkan ke dalam 4 (empat) Fraksi, yang terdiri dari Fraksi PDIP, Fraksi Partai Golkar, Fraksi PAN dan Fraksi PKS, di mana masingmasing Fraksi memiliki susunan keanggotaan seperti tersaji pada Tabel 1 sampai Tabel 4. Dengan demikian dari ke 45 anggota DPRD Kabupaten Wonogiri tersebut telah terserap ke dalam 4 Fraksi yang dibentuk di DPRD, dan hanya satu orang wakil yakni dari Partai Demokrat karena jumlahnya hanya 1 orang, maka tidak memungkinkan untuk membentuk Fraksi tersendiri, sehingga bergabung ke dalam Fraksi PKS. DPRD Kabupaten Wonogiri memiliki 4 (empat) Komisi yang dibagi berdasarkan alfabetisasi, yakni mulai dari Komisi A yang membidangi Bidang Pemerintahan. Komisi B Bidang Ekonomi dan Keuangan, Komisi C Bidang Pembangunan dan Komisi D membidangi Bidang Kesejahteraan Rakyat. B. Penetapan Hasil Perolehan Kursi dan Calon Terpilih Anggota DPRD Hasil Pemilu Legislatif DPRD Kabupaten Wonogiri telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Wonogiri melalui Rapat Pleno Terbuka yang diikuti dan disaksikan oleh seluruh Pimpinan Partai Politik peserta Pemilu tahun 2004 beserta para saksinya. Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Agama, Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Masyarakat, dan undangan lainnya, serta Badan Penyelenggaraan Pemilu di Kabupaten Wonogiri Penetapan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2004 tertunda selama 4 (empat) hari karena mundurnya penetapan hasil pemilu 2004 secara nasional oleh Komisi Pemilihan Umum. Penetapan dilakukan untuk menghitung dan menetapkan perolehan kursi kemudian ditentukan

148

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

calon terpilih dari masing-masing Partai Politik peserta Pemilu sesuai denga jumlah kursi yang mereka peroleh. Untuk Kabupaten Wonogiri bahan yang dipergunakan untuk penetapan ini adalah Berita Acara dan Sertifikat hasil penghitungan suara yang telah ditandatangani pada Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara di Kabupaten Wonogiri. Penetapan telah dilakukan untuk setiap Daerah Pemilihan pemilu Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri dan dimulai dari Daerah Pemilihan Wonogiri 1 (satu) sampai Daerah Pemilihan 5. Setiap daerah Pemilihan dilakukan hingga selesai yakni dari Penetapan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih), perolehan kursi hingga CalonAnggota DPRD Kabupaten Wonogiri terpilih. (lihat KPU Kabupaten Wonogiri, 2004). Alur penetapan hasil Pemilu Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri tahun 2004 tersebut dapat dilihat pada Bagan 1. 1.Penetapan Perolehan Kursi Langkah-langkah dalam penetapan hasil Pemilu dilalui dengan menetapkan perolehan kursi masing-masing partai politik peserta pemilu di Kabupaten Wonogiri. Penetapan perolehan kursi masing-masing Partai Politik peserta Pemilu di setiap Daerah Pemilihan (Dapil) dilakukan dengan memenuhi mekanisme dan ketentuan sebagaimana diatur: a. Penetapan angka bilangan Pembagi Pemilih (BPP) untuk setiap Daerah Pemilihan, yakni diperoleh dengan membagi jumlah suara sah partai politikyang diperoleh di DP tertentu dengan jumlah kursi yang tersedia di Daerah Pemilihan bersangkutan. b. SetelahAngka BPP diperoleh selanjutnya jumlah suara sah masing-masing partai politik dibagi dengan angka BPP, denga ketentuan:  Apabila jumlah suara sah partai politik sama atau lebih besar daripada angka BPP, maka diperoleh kursi dalam penghitungan tahap pertama, dengan kemungkinan masih terdapat sisa suara sah partai politik yang dihitung dalam penghitungan tahap kedua,  Apabila jumlah suara sah partai politik lebih kecil daripada angka BPP, dalam penghitungan tahap pertama sebagaimana dimaksud pada ketentuan diatas tidak memproleh kursi dan jumlah suara sah partai politik tersebut dikategorikan sebagai sisa suara sah partai politik yang dihitung dalam penghitungan ta-

hap kedua,

 Pembagian sisa kursi pada penghitungan tahap kedua, dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi yang terbagi satu demi satu berturut-turut, dimulai dari partai politik yang mempunyai sisa suara paling banyak sampai sisa kursi tersebut habis terbagi;  Apabila jumlah partai politik yang mempunyai jumlah sisa suara sama lebih banyak daripada jumlah sisa kursi yang belum terbagi habis, maka sisa kursi tersebut dibagikan kepada partai politik yang bersangkutan berdasarkan undian;  Undian sebagaimana dimaksud, dilakukan dalam rapat pleno KPU Kabupaten Wonogiri yang dihadiri Saksi dan Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Wonogiri serta undangan, dengan ketentuan masing-masing partai politik yang mengikuti undian memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh satu sisa kursi. Untuk Pemilu legislatif tahun 2004 yang lalu hasil penghitungan BPP dari masing-masing daerah Pemilihan adalah sebagai berikut: a. Dapil Wonogiri 1: suara sah 137.015, jumlah kursi 10, BPP 13.702; b. Dapil Wonogiri 2: suara sah 122.110, jumlah kursi 9, BPP 13.568; c. Dapil Wonogiri 3: suara sah 109.962, jumlah kursi 9, BPP 12.218; d. Dapil Wonogiri 4: suara sah 110.644, jumlah kursi 9, BPP 12.294; e. Dapil Wonogiri 5: suara sah 137.203, jumlah kursi 9, BPP 14.150. Pada saat penetapan kursi ternyata diwarnai suasana yang tegang, karena dari 45 kursi yang diperebutkan dari masing-masing daerah pemilihan, terdapat 30 kursi yang diperoleh masing-masing partai politik melalui peraihan suara penuh, sedangkan 15 kursi sisanya diperrebutkan dengan melalui penghitungan sisa suara sah masing-masing partai politik. Pada penghitungan dan penetapan kursi tersebut dihasilkan penetapan sebagai berikut: a. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperoleh 21 kursi penuh dan 3 kursi dari sisa suara sah; b. Partai Golkar mendapatkan 9 kursi penuh dan 3 kursi dari sisa suara sah; c. Sedang 3 partai lain, yakni PAN mendapatkan 4 kursi, PKS 4 kursi dan Partai Demokrat 1 kursi masing-masing memperoleh dari sisa suara sah.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

149

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

Dengan demikian dari 45 kursi di DPRD Kabupaten Wonogiri yang diperebutkan, akhirnya setelah melalui penghitungan suara dan kursinya, diperoleh komposisi PDIP memperoleh 24 kursi, Partai Golkar 12 kursi, PAN 4 kursi, PKS 4 kursi dan Partai Demokrat 1 kursi. Secara rinci, perolehan kursi DPRD Kabupaten Wonogiri dari hasil Pemilu 2004 disajikan dalam Tabel 5 dan Tabel 6. C. Proposionalitas Keanggotaan DPRD Kabupaten Wonogiri Berdasarkan data yang tersaji di muka, dapat dinyatakan meskipun dibandingkan keanggotaan DPRD Kabupaten-Kabupaten dan kota lain, keanggotaan DPRD Kabupaten Wonogiri relatif ada yang bisa memenuhi ketentuan yang terdapat dalam pasal 107 dari UndangUndang No. 12 tahun 2003, dimana keanggotaan seseorang anggota dewan disebabkan oleh adanya dukungan suara yang bias memenuhi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) di Daerah Pemilihannya (DP), yakni sebanyak 2 (dua) orang dari 45 (empat puluh lima) orang anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, sementara menurut data yang ada pada KPUD di daerah-daerah lain di wilayah Surakarta, tidak ada satupun anggota DPRD yang ditetapkan keanggotaannya setelah memenuhi BPP, dalam perspektif ini maka keanggotaan DPRD Kabupaten Wonogiri relatif lebih baik. Namun demikian secara internal dilakukan perhitungan analisis secara kualitatif, maka sebenarnya dari 2 orang anggota yang bisa memenuhi BPP tersebut, yakni atas nama Wawan Setya Nugraha, S.Sos dan Muhammad Zainudin, S.Sos, yang masing masing mewakili Daerah Pemilihan Wonogiri 1 dan Wonogiri 2 dan keduanya berasal dari PDIP, belum dikatakan ideal memenuhi azas proposionalitas dalam pengangkatannya, sebab jikalau harus diprosentasekan maka akan didapat nilai prosentase yang masih rendah, yakni sebesar 4,44% saja dari keseluruhan anggota DPRD Kabupaten Wonogiri. Kemudian secara internal kepartaian PDIP tingkat proposionalitasnya juga masih rendah yakni 8,33%. Data lain yang lebih menarik yang didapat dari dokumentasi KPU Kabupaten Wonogiri, ternyata terungkap ada banyak anggota DPRD yang diangkat dengan dukungan suara yang minim jauh dari BPP, tetapi karena sistem

mendukungnya yakni dari hitungan sisa suara sah, untuk membagi kursi sisa yang sebanyak 15 tersebut, maka apabila azas proposionalitas ini diperhitungkan jelaslah banyak anggota yang tidak memenuhinya, semisal ada anggota DPRD dari partai besar di Kabupaten Wonogiri yang bisa diangkat menjadi anggota Dewan cukup dengan mendapatkan dukungan 1.231 suara, namun karena partainya meraih 5 kursi di Daerah Pemilihan tersebut, sementara dalam daftar Calon Legislatif dia berada pada nomor 4, maka secara otomatis partainya akan menetapkan dia sebagai anggota terpilih nomor 4 di Daerah Pemilihannya, bahkan anggota dari Partai lain yang lebih kecil bisa menjadi anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, dengan dukungan suara yang sangat tidak signifikan yakni hanya sebesar 420 suara, namun lagi-lagi karena di dalam daftar pencalonannya yang bersangkutan yang kebetulan orang atas pada partai politiknya di daerah bersangkutan, dan untuk daerah pilihan yang bersangkutan didudukkan pada nomor urut 1, dan ketika partainya meraih kursi dari sisa suara sah yang diperolehnya, maka jatah 1 kursi tersebut tentunys untuk yang bersangkutan, meskipun jika dihitung perolehan suaranya sangat kecil sekali. Dengan demikian terlihat bahwa kecuali dua orang anggota yang bisa memenuhi BPP tersebut, banyak anggota DPRD di Kabupaten Wonogiri yang secara legitimasi dukungan suaranya, sangat tidak signifikan, namun karena sistem Pemilu mengatur yang demikian itu, dalam arti mempersandingkan sistem daftar calon legislatif di samping partai politiknya, maka masih banyak aktor-aktor politik yang sebenarnya tidak kuat mengakar, namun karena memiliki kekuasaan di partai pilitiknya, maka akan dengan mudah meraih akses kekuasaan di Dewan, apabila partainya dapat jatah kursi di Daerah Pemilihannya, karena sudah tentu para petinggi partai akan dicalonkan pada posisi nomor kecil atau nomor jadi, sehingga tanpa susah payah membangun dukungan asalkan Partai Politik mereka adalah partai yang banyak massa pendukungnya, maka dapat dipastikan partainya akan meraih kursi di Dewan, dan para calon pemilik nomor urut kecil, yang biasanya para petinggi partai atau aktor-aktor politik yang memiliki akses dengan kekuasaan partai akan dengan mudah meraih kursi di dewan

150

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

Penutup A. Kesimpulan Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan setelah dilakukan analisis, bisa disimpulkan sebagai berikut: 1. Penyelenggaraan Pemilu dengan mempergunakan Sistem Pemilihan seperti yang dipergunakan dalam Pemilu 2004, yang salah satu tujuannya untuk memilih anggota legislatif baik di Pusat maupun Daerah, ternyata sulit untuk bisa mendapatkan anggota legislatif yang benar-benar representatif mewakili rakyat; 2. Untuk daerah Kabupaten Wonogiri, meskipun mengalami kesulitan namun realitas politik masih menunjukkan adanya fenomena yang menarik karena terdapat dua orang anggota DPRD yang dipilih menjadi anggota dewan, karena mendapat dukungan suara melebihi batas angka BPP dari Daerah Pemilihan mereka; mereka itu adalah wakil dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yakni Wawan Setya Nugraha, S.Sos yang meraih dukungan 14.107 suara, melebihi BPP dari Daerah Pemilihan Wonogiri 1 sebesar 13.702. Sementara yang bersangkutan pada daftar pencalonan partai PDIP untuk Daerah Pemilihan tersebut ada pada urutan ke 4 (empat). Sedangkan anggota lain adalah Muhammad Zainudin, S.Sos yang meraih dukungan suara 20.378 jauh dari angka BPP untuk Dapil Wonogiri 2 sebagai basis peraihan suaranya sebesar 13.568; dan posisi pencalonannya pun berada pada nomor 5. 3. Meskipun terdapat dua anggota yang bisa memenuhi BPP di DPRD Kabupaten Wonogiri, namun dari aspek proporsionalitas keanggotaan, sebenarnya tidak proporsional, karena dari 45 anggota dewan, yang 43 dipilih dan diangkat sebagai anggota dewan karena ditentukan oleh partai politik yang mencalonkan mereka, sehingga dengan demikian angka proporsionalitas yang terdapat di DPRD Kabupaten Wonogiri masih sangat rendah, yakni sebesar 4,44%. 4. Sedangkan apabila dilihat angka proporsionalitas dari perspektif internalpun, yakni PDIP maka ditemukan angka proporsionalitas sebesar 8,33% mengingat anggota DPRD Kabupaten Wonogiri yang berasal dari PDIP sebanyak 24 orang. 5. Dikarenakan sistem pemilihan yang dipergunakan memang masih menumpulkan pengangkatan keanggotaan seseorang calon pa-

da kekuatan partai politik yang mencalonkannya, maka menjadi realitas politik pula apabila ditemukan sebuah datum bahwa ada seorang anggota DPRD yang bisa duduk menjadi anggota DPRD Kabupaten Wonogiri hanya dengan dukungan 420 suara, karena Partai Politik yang mencalonkan berhasil mendapat jatah kursi 1 (satu) buah dari penghitungan sisa suara sah dalam penghitungan tahap kedua, karena yang bersangkutan dicalonkan pada nomor urut pertama di daerah pemilihannya, maka oleh partainya jatah kursi tersebut pastilah diberikan kepadanya; dalam konteks semacam ini maka azas representasi seorang dewan menjadi sebuah pertanyaan. B. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan dimuka, maka melalui laporan penelitian ini direkomendasikan beberapa hal: 1. Agar dihasilkan performa DPRD yang representatif, maka pada pemilu-pemilu yang akan datang, paling tidak tahun 2009 perlu dilakukan perubahan Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum yang lebih bisa menamung azas-azas representasi. 2. Sistem Pemilihan (electoral-formulation) yang selama ini dipergunakan, yakni sitem perwakilan Berimbang (proportional representation) perlu ditinjau ulang kefaedahannya dalam komteks tingkat keterwakilan, karena pengalaman politik selama ini mengajarkan bahwa dengan sistem ini, hanya menghasilkan wakil-wakil partai dan bukan wakil-wakil rakyat seperti yang diharapkan masyarakat politik Indonesia baik pada tingkat Pusat maupun Daerah. Perlu dipertimbangkan pengadopsian Sistem Pemilihan yang lebih bisa memberi peluang bagi tampilnya wakil-wakil rakyat yang benar-benar mewakili rakyat, bukan wakil partai politik, yakni dengan mengadopsi Sistem Distrik tetapi yang tidak mutlak (Simple Majority) tetapi seperti sistem Pemilu 2004 yang lalu, namun dengan ketentuan diambil ranking teratas sampai rangking di mana kuota calon legislatif dari Daerah pemilihan tertentu terpenuhi, misalkan Daerah Pemilihan 1 mendapat jatah kursi 5 buah, maka siapapun dari partai manapun yang memiliki dukungan suara terbanyak dari rangking 1 sampai 5 itulah yang akan mewakili Daerah Pemilihan tersebut. Dengan sistem ini akan membuka variasi keterwakilan yang sangat beragam, dan keberhasilan seseorang be-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

151

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

nar-benar akan diuji dan ditentukan oleh kapasitas pribadinya masing-masing. Daftar Pustaka Abar, A.Z. (1990) Beberapa Aspek Pembangunan Orde Baru. Surakarta: Ramadhani. Budiardjo, M. (1993). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. Crouch, H. (1986) Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan. Gaffar, A. (2004). Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pe-lajar. -----. (2000). Otonomi Daerah, Pembangunan Daerah, dan Kesempatan Kerja. Makalah pada Seminar Nasional Otonomi Daerah dan Kesempatan Kerja, Surakarta 16 Desember 2000. Geertz, C. (1960). The Religion of Java. Glencoe, Illinois: The Free Press. Jackson, K.D. & Pye, L.W. (1978). Political Power and Communication in Indonesia.

Berkeley: California University Press. Kantaprawira, R. (1999). Sistem Politik Indonesia. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri. (2004). Pemilihan Umum Tahun 2004 di Kabupaten Wonogiri. Wonogiri: Sekretariat KPU Kabupaten Wonogiri. Lijphart, A. (1984). Democracies: Patterns of Majoritarianism and Consensus Government in Twenty-One Countries, New Haven: Yale University. Moleong, L.J. (1993). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhajir, N. (1992). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Sundhausen, U. (1986). Politik Militer Indonesia 1945 -1967 Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES. -----. (2003). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum. Semarang: Duta Nusindo. Surbakti, R. (1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Tabel 1 Susunan Keanggotaan Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Wonogiri No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Martanto SH Giyanto Endang Puji Astuti, S.PAK. Rudatin Haryanto, SE Nawa Adi S., S.Pd Wawan Setya Nugraha, S.Sos Budi Mulyono Wriyatmo Darno AS. Joko Prayitno Drs. Heru Suprihadi Muhammad Zainudin, S.Sos Ir. Joko Purnomo Sriyono S.Pd Catur Winarko Reting Puryanto Suwarsi Sugimin Djoko Suwondo, ST Kartini, SH., S.IP Gimanto, SH Sudiyarso Wahyudi W, S.H Setyo Sukarno Soetarno SR Widodo Jabatan Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

Tabel 2 Susunan Keanggotaan Fraksi Golongan Karya DPRD Kabupaten Wonogiri No Nama 1 Sardi Djoko Pratopo, SE 2 Drs. H. Sri Hardono 3 Sutrisno, SE 4 Edy Santoso, SH 5 Samino, S.IP 6 Toekino HS 7 Yuliawan Agung Nugroho 8 Soefi Hartojo MS 9 Sugiarto, S.Pd 10 S. Santoso SD 11 Rijomo 12 Suhardono Jabatan Penasehat Ketua Wakil Ketua Sekretaris Wk Sekr Bendahara Wk Bend Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

152

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

Tabel 3 Susunan Keanggotaan Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Kabupaten Wonogiri No Nama 1 2 3 4 5 Drs. Hamid Noor Yasin Ahmad Zarif Ramono Dr. Ngadiyono Tinggeng Jabatan Ketua Wakil Ketua Anggota Anggota Anggota

Tabel 4 Susunan Keanggotaan Fraksi Partai Amanat Nasional DPRD Kabupaten Wonogiri No Nama 1 2 3 4 H. Fuad Yusuf Iskandar, S.Ag. Sardi H.N. Hadi Nawoto, B.A. Jabatan Ketua Wakil Ketua Anggota Anggota

Tabel 5 Perolehan Kursi Partai Politik Peserta Pemilu 2004 Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri PEROLEHAN SUARA Dapil 1 Partai PDIP Golkar PAN PKS PD Suara sah 64.457 34.580 10.004 8.665 6.299 Dapil 2 Jml kursi 5 2 0 1 1 9 Dapil 3 Suara sah 55.196 29.233 5.330 5.376 3.601 102.962 Jml kursi 5 2 1 1 0 9 Dapil 4 Suara sah 56.575 29.817 5.426 4.461 3.290 110.664 Jml kursi 5 3 1 0 0 9 Dapil 5 Suara sah 59.936 27.812 11.790 6.451 2.912 113.203 Jml kursi 4 2 1 1 0 9 TOTAL KURSI 24 12 4 4 1 45 Jml Suara kursi sah 5 3 1 1 0 10 68.443 30.084 3.680 4.289 4.611 112.110

TOTAL 137.015

Sumber: diolah dari dokumen halaman 481-482 Buku Laporan Pemilu 2004 oleh KPU Kabupaten Wonogiri

Bagan 1. Alur penetapan hasil Pemilu Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri tahun 2004

Penetapan BPP di Setiap Dapil Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri

Penetapan Perolehan Kursi Dapil 1

Penetapan Perolehan Kursi Dapil 2

Penetapan Perolehan Kursi Dapil 3

Penetapan Perolehan Kursi Dapil 4

Penetapan Perolehan Kursi Dapil 5

Penetapan Calon Terpilih Dapil 1

Penetapan Calon Terpilih Dapil 2

Penetapan Calon Terpilih Dapil 3

Penetapan Calon Terpilih Dapil 4

Penetapan Calon Terpilih Dapil 5

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

153

Dwi Tiyanto : Proporsionalitas Anggota DPRD

Tabel 6 Daftar Nama Calon Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri Terpilih pada Tahun 2004 Partai PDIP Dapil Wonogiri 1 Kursi 5 Nama Calon Terpilih 1. Giyanto 2. Rudatin Haryanto, SE 3. Nawa Adi S., S.Pd 4. Wawan Setya Nugraha, S.Sos. 5. Budi Mulyono Wriyatmo 1. Darno 2. Martanto, S.H. 3. A.S. Joko Prayitno 4. Drs. Heru Suprihadi 5. Muhammad Zainudin, S.Sos. 1. Ir. Joko Purnomo 2. Sriyono, S.Pd. 3. Catur Winarko 4. Reting Puryanto 5. Suwarsi 1. Sugimin Djoko Suwondo, S.T. 2. Kartini, S.H., S.IP. 3. Gimanto, S.H. 4. Sudiyarso 5. Wahyudi W., S.H. 1. Setyo Sukarno 2. Endang Pujiastuti, S.PAK. 3. Soetarno S.R. 4. Widodo 1. Sutrisno, S.E. 2. Edy Santosa, S.H. 3. Samino, S.IP. 1. Toekino, H.S. 2. Suhardono 1. Rijomo 2. Soefi Hartojo M.S. 1. Sardi Djoko Pratopo, S.E. 2. S. Santosa, S.D. 3. Drs. Sri Hardonjo 1. Sugiarto, S.Pd. 2. Yuliawan Agung Nugroho H. Fuad Sardi H.N. Hadi Narwoto, B.A. Yusuf Iskandar, S.Ag. Drs. Hamid Noor Yasin Ahmad Zarif Jarmono Dr. Ngadiyono Tinggeng Kecamatan Selogiri Eromoko Wonogiri Wonogiri Manyaran Girimarto Jatisrono Ngadirojo Sidoharjo Ngadirojo Purwantoro Puh Pelem Purwantoro Puh Pelem Slogohimo Jatisrono Tirtomoyo Batuwarno Jatisrono Jatiroto Baturetno Wonogiri Wonogiri Giriwoyo Wonogiri Wonogiri Selogiri Wonogiri Sidoharjo Purwantoro Wonogiri Jatisrono Tirtomoyo Wonogiri Pracimantoro Baturetno Wonogiri Selogiri Wonogiri Giriwoyo Wonogiri Ngadirojo Purwantoro Giriwoyo Ngadirojo Keterangan 2.656 9.105 1.504 14.107 (penuhi BPP) 6.426 9.606 2.572 3.688 4.787 20.378 (penuhi BPP) 6.889 4.808 3.129 3.424 1.922 2.902 4.058 6.102 1.231 4.713 6.868 2.778 8.299 6.000 2.574 3.494 3.338 2.500 5.289 2.947 3.066 3.552 3.160 1.134 5.498 3.473 1.827 465 420 2.568 2.862 973 1.065 2.098 1.200

Wonogiri 2

5

Wonogiri 3

5

Wonogiri 4

5

Wonogiri 5

4

Golkar

Wonogiri 1 Wonogiri 2 Wonogiri 3 Wonogiri 4 Wonogiri 5

3 2 2 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 45

PAN

Wonogiri 1 Wonogiri 3 Wonogiri 4 Wonogiri 5 Wonogiri 1 Wonogiri 2 Wonogiri 3 Wonogiri 5 Wonogiri 2

PKS

PD

Total Jumlah Kursi

154

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 155-158

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pilihan Mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan FISIP Universitas Sebelas Maret
Surisno Satrijo Utomo
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

Abstract
The study aims to analyze factors that influence the student choice behavior at the Applied Communication D3 Students Fisip UNS. As the dependent variable is the student choice behavior which decides the study at the applied communication especially Broadcasting, Advertising, and Public Relations. This research is the case study that intends to analyze the difference among students at those three programs. Meanwhile, as the dependent variables are the influence of functional, social, emotional, epistemic, and conditional values, and the promotion media. The kind of this research is explanative that is used to examine hypothesis quantitatively. This research uses the survey method, means that the primary data finding is done through questionnaires. The research subject is D3 Students at the applied communication Fisip UNS 2004 with the total amount 250 respondents. The total sampling is 130 students. The statistic analysis uses the Three Group of Discriminant Analysis. The hypothesis explains students who choose broadcasting have higher difference than students who choose advertising and public relations. This is that based on the influence of functional, social, emotional, epistemic, and conditional values. If the three concentrations are different, which are variables have dominant influence to the students' choice behavior at the applied communication D3? Based on the discriminant analysis, the research finds: (1) the functional value variable is below 0,05 (0,001) that means there is a difference among students of Broadcasting, Advertising, and Public Relations. Therefore, more jobs need those applied communication programs, more people compete to learn and master those concentrations. (2) there is a difference among students of Broadcasting, Advertising, and Public Relations especially at the promotion media where the value is under 0,05 (0,001) at Broadcasting, Advertising, and Public Relations. The values, such as conditional, social, emotional, epistemic, and conditional values, present big nominal. It means there are not any differences among Broadcasting, Advertising, and Public relation based on these values. Based on the influence of functional value and the promotion media, there is a different among the broadcasting students that are compared with the advertising and public relations students especially at the applied communication D3 student 2004. Thus, the hypothesis has been proved. Mean while the social, emotional, epistemic, and conditional, values do not influence the three concentrations. Therefore, the research concludes that the functional value and the promotion media differ the student choice behavior at the applied communication D3 student Fisip UNS. Keywords: communication training, factors influencing student preference..

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

155

Utomo : Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Mahasiswa D3 Komunikasi Terapan FISIP UNS

Permasalahan Studi ini mempelajari faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen (consumer choice behavior) mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan FISIP UNS. Penelitian ini merupakan studi kon-sumen untuk melihat faktor yang paling membedakan pada mahasiswa ketiga konsentrasi, Penyiaran, Periklanan, & Public Relations, dalam menentukan pilihannya di program studi Komunikasi Terapan. Dalam teori komunikasi pemasaran dikatakan bahwa seseorang dalam menentukan pilihan itu bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: nilai fungsional, sosial, emosional, epistemic, dan kondisional (Shimp, 1993; 58). Selain hal itu media promosi diduga turut mempengaruhi pilihan mahasiswa. Permasalahan penelitian ini adalah: apakah terdapat perbedaan pada mahasiswa ketiga konsentrasi (Penyiaran, Periklanan, dan Public Relations) dalam menentukan pilihannya, pada masing masing konsentrasi di Program D3 Komunikasi Terapan karena pengaruh faktor nilai fungsional, sosial, emosional, epistemic, kondisional,dan media promosi? Kerangka Pemikiran Dalam penelitian ini, consumer choice behavior (perilaku pilihan mahasiswa) dalam menentukan pilihannya konsentrasi studi ditetapkan sebagai variabel dependen. Sedangkan variabel-variabel independennya adalah beberapa faktor nilai yang meliputi: nilai fungsional, nilai sosial, nilai emotional, nilai epistemic dan nilai kondisional. Peneliti juga menduga bahwa perilaku disebabkan karena variabel lain, misalnya media promosi yang menerpa khalayak mahasiswa pada saat masa kampanye pendidikan berlangsung. Pengaruh media promosi juga diperlakukan sebagai variabel independen. Kerangka pemikiran di atas tertuang pada Bagan 1.
Bagan 1 Kerangka pemikiran hubungan antar variabel Nilai Fungsional Nilai Sosial Nilai Emosional Nilai Epistemik Nilai Kondisional Media Promosi Pilihan mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan atas konsentrasi: - Penyiaran - Periklanan - Public Relations

Hipotesis yang diajukan dalam studi ini adalah: Ada perbedaan yang signifikan antara pilihan konsentrasi oleh mahasiswa akibat pengaruh oleh faktor-faktor nilai fungsional, sosial, emosional, epistemik, kondisional, dan media promosi. Dari sini kemudian dikaji faktor manakah yang paling menyebabkan perbedaan perilaku memilih oleh mahasiswa. Metode Penelitian Penelitian ini jenis explanatif untuk menguji hipotesa secara kuantitatif. Metode yang dipergunakan dengan metode survei, yakni pengambilan data primer menggunakan kuesioner. Subyek dari penelitian ini adalah mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan FISIP UNS angkatan 2004 yang berjumlah 250 orang. Sampel sebesar 130 mahasiswa diambil berdasarkan panduan mengambil sampel dari ukuran populasi tertentu (Sekaran, 1992:235). Kemudian untuk melihat faktor mana yang paling membedakan (variabel independent) dalam mempengaruhi pilihan mahasiswa dilakukan uji statistis menggunakan uji diskriminan tiga kelompok berdasar tiga jurusan yang ada, yaitu: Penyiaran, Periklanan serta Public Relations. Hasil Penelitian Dari hasil analisa uji diskriminan, ditemukan bahwa hanya variabel nilai fungsional dan media promosi yang membedakan pilihan mahasiswa. Untuk variabel nilai sosial, niai emosional, nilai epistemik dan nilai kondisonal tidak ada perbedaan pengaruh. Nilai koefisien diskriminan untuk variabel nilai fungsional adalah 0,05 (0,001). Ini berarti ada perbedaan antar kelompok mahasiswa, pada kelompok Penyiaran, Periklanan, dan Public Relations yang memilih konsentrasi studi karena dipengaruhi oleh nilai fungsional, di mana pilihan mahasiswa dipengaruhi oleh pemahaman akan manfaat (pengetahuan dan ketrampilan) yang ditawarkan dan diharapkan akan dikuasasi oleh lulusan sebuah konsentrasi studi. Variabel media promosi turut membedakan pengaruhnya dalam menentukan pilihan mahasiswa pada ketiga kelompok mahasiswa komunikasi terapan UNS nampak dari nilai koefisien determinan 0,05 (0,001). Sementara variabel nilai kondisional, menunjukkan angka yang paling besar; ini berarti tidak ada perbedaan antara kelompok Pe-

156

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Utomo : Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Mahasiswa D3 Komunikasi Terapan FISIP UNS

nyiaran, Periklanan maupun Public Relations, karena pengaruh nilai kondisional tersebut. Demikian pula variabel lain, yaitu nilai sosial, nilai emosional, nilai epistemik, tidak ada perbedaan pengaruh dalam memilih untuk masing masing kelompok Penyiaran, Periklanan,maupun Public Relations. Hal ini membuktikan hipotesis yang mengatakan bahwa mahasiswa konsentrasi Penyiaran mempunyai perbedaan dalam menentukan pilihannya karena pengaruh nilai fungsional, serta media promosi, dengan mahasiswa Periklanan dan Public Relations, Program D3 Komunikasi Terapan untuk angkatan 2004. Sementara nilai sosial, nilai emosional, nilai epistemic, serta nilai kondisional tidak berbeda pengaruhnya pada ketiga konsentrasi. Implikasi dari penelitian ini adalah, adanya keterkaitan antara pilihan jenis merek dan keputusan pembelian saling bergantung. (Krishnamurthi, 1988). Dari pandangan ini, bila dikaitkan adanya beberapa alternatif pilihan yang menjadi kompetitor dari dari masing masing konsentrasi pada Program D3 Komunikasi Terapan, yaitu konsentrasi Penyiaran, Periklanan, dan Public Relations. Mahasiswa Program D3 Komunikasi Terapan Fisip UNS dalam menentukan pilihan pada masing masing konsentrasi karena pengaruh variabel nilai Fungsional, Social, Emotional, Epistemic dan Conditional (Shimp,1993:5659), juga Media Promosi. Dari perhitungan statistik, kanyataannya yang paling membedakan dalam mempengaruhi pada ketiga konsentrasi Penyiaran Periklanan dan Public Relations adalah nilai Fungsional dan Media Promosi. Pemahaman diatas bila ditarik suatu manfaat yang bisa diambil adalah sebagai berikut. Manfaat dari hasil penelitian ini bisa untuk dijadikan pengambilan keputusan dalam menentukan arah kebijakan pada sektor pendidikan khususnya pada komunikasi terapan. Karena nilai fungsional pendidikan sangat diperlukan, ini berarti fungsi pendidikan pada keinginan mahasiswa yang mengambil pada studi komunikasi terapan sangat memerlukan kebutuhan pendidikan itu. Artinya bahwa semakin dibutuhkan fungsi pendidikan pada komunikasi terapan akan semakin dicari oleh masyarakat pendidikan di sektor komunikasi terapan itu. Sehingga pendidikan komunikasi terapan harus semakin mengarah pada ketrampilan yang se-

suai dengan bidangnya. Sementara media promosi sangat mempengaruhi dalam menentukan pilihan mahasiswa, untuk itu perlu meningkatkan promosi secara lebih intensive serta lengkap materi pesannya. Dengan semakin lengkapnya materi pesan pada media promosi, mahasiswa dalam menentukan pilihannya akan semakin berkurang kebingungannya. Media promosi yang paling tidak bisa ditinggalkan pada kenyataannya adalah media getok tular. Atau apa yang disebut sebagai komunikasi mulut ke mulut komunikasi dari mulut ke mulut adalah cara paling efektif untuk meningkatkan citra lembaga,yang pada gilirannya akan mengajak adik klasnya untuk menikmati pendidikan di komunikasi terapan Fisip UNS. Selain hal itu citra lembaga itu akan meningkat sejalan dengan image yang ada dalam benak mahasiswa yang sudah mengenyam pendidikan di dalam D3 komunikasi terapan itu sendiri, yang kemudian mereka sebar luaskan kepada calon mahasiswa atau orang luar yang belum mengerti keadaan Program D3 Komunikasi Terapan FISIPUNS. Daftar Pustaka Angel, J.F., Balcwell, R.D., & Miniard, P.W. (1994). Perilaku Konsumen. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Armstrong, J.S. (1994). Research versus Teaching. Journal of Business School Prestige. April.1994. Belch, G. & Belch, M.E. (1990). Introduction to Advertising and Promotion Management. Boston: Richard D. Erwin Inc. Bloch & Richins. (1983). A theoretical Model for the Study of product importance perceptions. Journal of Marketing, 47, 3, pp. 69-81. Foxall. (1993). The Influence of Cognitive Style on Consumers Variety Seeking among Food Innovations, British Food Journal, vol. 95, no. 9 pp. 32-36. Henkof, R. (1994). Service Is Everybody`s Business. Fortune, Juni 1994. Kotler, P. (2000). Marketing Management. Jakarta: Prenhalindo. Ratner, R.K. & Kahn, B.E. (1999). Private vs. Public Consumption: The Impact of Impression Management on Variety Seeking. Journal University of North Carolina at Chapel Hill 1999.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

157

Utomo : Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Mahasiswa D3 Komunikasi Terapan FISIP UNS

Saladin J.H. (1994). Dasar dasar Manajemen Pemasaran. Bandung: Mandar Maju. Santoso, S. (2002). SPSS Statistik Multivariat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. th Shimp, T.A. (2000). Advertising Promotion 5 ed. Forth Forth: Dryden Press. Singarimbun, M. & Efendy, S. (1999). Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES. Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: Rosda Karya. Swasta, B & Handoko, H. (2000). Manajemen Pemasaran. Jakarta: BPFE. Swasta, B. (1994). Perilaku Berbelanja Konsumen tahun 90an dan strategi Pemasaran. Jurnal & Bisnis Indonesia no 1 1994. Yazid. (2001). Pemasaran Jasa. Yogyakarta: Ekonisia Fak. Ekonomi UII.

158

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal.159-164

Peranan Teknologi Komunikasi terhadap Perubahan Sosial
Sutopo
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

Fungsi Komunikasi dan Perubahan Sosial Bagaimana komunikasi dapat membawa perubahan sosial di tengah-tengah dunia yang semakin semrawut ini? Tanggapan semacam ini berasal dari pandangan mereka yang menganggap komunikasi sebagai suatu proses dan yang menyamakan proses dengan perubahan. Isi pesan di negara-negara berkembang sebagian besar merupakan: hiburan, pembangkit fantasi, berpihak pada status quo bukan mendorong perubahan sosial. Dari segi teoritis, sebenarnya komunikasi bukanlah selamanya menjadi penyebab perubahan dan juga tidak selamanya tidak relevan dengan perubahan kontradiksi dan kekacauan dalam analisa komunikasi dan perubahan bersumber dari pencampuradukan tingkat analisa, dari refikasi proses komunikasi dan percampuran isi pesan-pesan yang nyata dengan potensi pertukaran pesan yang dikendalikan oleh kaum elit. Berikut ini akan dibahas secara singkat independensi komunikasi dan perubahan sosial dengan maksud agar uraian tentang bagaimana komunikasi dapat dijadikan alat untuk perubahan atau sebaliknya dengan adanya perubahan yang secara cepat (Demokratis serta Dinamis) akan mempengaruhi pola komunikasi yang terjadi. Perubahan Tanpa Komunikasi Perubahan dunia yang semakin cergas (dinamis) ini nampaknya dapat berubah sendiri oleh kekuatan-kekuatan yang datangnya tidak disangka dan tidak dapat dikendalikan. Perubahan-perubahan ini bisa membawa akibat-

akibat yang mendasar dalam mempengaruhi pola hidup manusia. Sebagai contoh munculnya sebuah gunung berapi di ladang kedelai akan mengubah cara-cara bertani di ladang itu, juga akan mengubah perilaku petani di daerah itu. Begitu juga dengan adanya pantai yang ombak lautnya besar akan mempengaruhi tata ruang dan pola hidup masyarakat di tepi pantai untuk mensikapi bila datang gelombang Tsunami yang datangnya mendadak tersebut. Seseorang bisa menyebabkan perubahan pada orang lain, baik secara sadar atau tidak, dengan jalan TANPA KOMUNIKASI. Sebagai contoh seseorang yang tidak “berperikemanusiaan” dengan tega menuangkan “racun” ke dalam sumber air minum (umbul) di sebuah desa pada suatu malam yang gelap hal ini akan menimbulkan perubahan besar terhadap masyarakat desa itu. Apa yang terjadi? Dari uraian singkat dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan suatu alat hanya salah satu alat dan tidak selalu yang terpenting dalam membawa perubahan sosial. Arti penting di sini “RELATIF” dari komunikasi dalam perubahan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tertentu di mana perubahan sedang dipelajari atau diusahakan (Rogers, 1976:124). Komunikasi tanpa Perubahan Bahwa di suatu daerah berlangsung komunikasi dalam hal ini, tetapi tidak membawa perubahan pada orang yang menjadi sasarannya. Fenomena ini sebenarnya tidak diragukan lagi, bahwa dalam sistem sosial manapun terdapat banyak sekali komunikasi yang dimaksudkan untuk memperkecil atau menghalangi perubahan yang cenderung akan terjadi bila tidak
159

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Sutopo : Peranan Teknologi Komunikasi terhadap Perubahan Sosial

ada komunikasi itu. Permasalahannya adalah bagaimana suatu masyarakat bisa tetap utuh dan stabil tidak lebih dan tidak kurang mendasarnya dengan masalah bagaimana masyarakat itu dapat mengubah dirinya atau justru diubah oleh kekuatan dari luar, baik lewat media massa atau lewat opinion leaders setempat. Dari berbagai kajian di lapangan komunikasi yang bersifat ritual pada prinsipnya dimaksudkan untuk memelihara kestabilan ini. Hubungan antara individu sebagian dipelihara dengan komunikasi pewarisan kebudayaan banyak tergantung pada komunikasi. Banyak pertukaran pesan-pesan berfungsi untuk memperkuat pandangan atau nilai-nilai yang telah dianut sebelumnya, bukan untuk mengubahnya sekiranya tidak ada komunikasi tanpa perubahan, maka tidak mungkin menggunakan komunikasi untuk membendung perubahan. Padahal kegunaan semacam itu sangat penting demi kelangsungan hidup organisasi organisasi dan hubungan hubungan sosial (Rogers, 1976:125). Kehidupan kelompok hanya dapat berlanjut sejauh para anggotanya mengatur tingkah laku mereka sesuai dengan seperangkat harapan yang dijunjung bersama atau paling tidak menurut seperangkat peranan yang cukup terpadu. Namun demikian, setiap anggota suatu masyarakat tidak harus persis sama dengan anggota anggota lainnya. Kebudayaan bukanlah hasil peniruan keseragaman psikis, sebagaimana ditegaskan oleh Wallace (1970). Demikian juga seorang anggota masyarakat tidak harus tahu semua seluk beluk koordinasi dan organisasi interaksi dalam masyarakat. Namun, jika stabilitas hubungan dan pandangan itu tidak terpelihara maka masyarakat itu sendiri tidak akan dapat terus bertahan. Perubahan-perubahan dalam suatu masyarakat hanya mungkin terjadi apabila kelompok itu sampai pada batas tertentu berusaha memperhatikan diri selama proses perubahan itu berlangsung. Komunikasi dengan Perubahan Pada Pola ini, Komunikasi adalah masalah yang essensial dalam perubahan sosial. Proses sosial pada pola ini meliputi tiga langkah yaitu invention (proses ide-ide baru diciptakan atau dikembangkan), disfusion (proses inovasi itu disebarkan kepada anggota masyarakat), dan consequences (perubahan yang terjadi akibat inovasi itu diterima atau ditolak).

Oleh karena itu, perubahan sosial disini terjadi ketika penerimaan dan penolakan ideide baru yang dikomunikasikan memiliki suatu efek. Dengan demikian perubahan sosial adalah efek dari komunikasi. Perubahan sosial ialah proses terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Dari sisi perspektif lain dapat dilihat dari unit yang menerimanya atau menolak ide-ide baru itu. Di dalam sistem masyarakat banyak perubahan terjadi: 1) pada level individu, dalam arti individu adalah penerima atau penolak inovasi itu. Perubahan pada level ini sering disebut dengan berbagai istilah; Difusi Adopsi, Akulturasi atau Sosialisasi. Pendekatan seperti ini dapat kita sebut pendekatan Microanalistis, dalam arti titik perhatian perubahan itu ialah pada perilaku individual; 2) Perubahan dapat juga terjadi di level sistem sosial yang sebaliknya sering diberi istilah; pembangunan, spesialisasi, integrasi, atau adopsi, pada level ini perubahan yang ada di level sistem sosial, oleh sebab itu, pendekatannya adalah Microanalistis. Untuk selanjutnya perubahan yang terjadi di dua level ini sangat erat berinteraksi dan berhubungan satu dengan yang lain. Mungkin seluruh analisa perubahan sosial pada akhirnya harus memusatkan perhatian utamanya pada proses komunikasi. Komunikasi dan Dehumanisasi Dalam mengkomunikasikan ide-ide baru itu di dalam sistem sosial masih memiliki jenis pengaruh lain, inovasi yang telah disebarkan kepada masyarakat dapat diterima atau ditolak oleh individu anggota suatu sistem atau seluruh anggota suatu sistem sosial. Hubungan antara sistem sosial dan keputusan untuk menerima suatu inovasi dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Optional Decision, yaitu suatu keputusan yang dibuat oleh individu terlepas dari keputusan yang dibuat oleh individu-individu lain yang ada dalam sistem itu. Dalam kasus ini pun keputusan individual itu jelas dipengaruhi oleh norma-norma sistem sosialnya dan kepentingannya untuk menyelaraskan diri dengan tekanan kelompok. Keputusan individual seorang petani untuk meningkatkan bibit unggul dan keputusan seorang ibu rumah tangga untuk menerima dan menggunakan tablet pembatasan kelahiran adalah merupakan contoh dari keputusan yang demikian.

160

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Sutopo : Peranan Teknologi Komunikasi terhadap Perubahan Sosial

2. Collective Decision, di mana individuindividu yang ada dalam suatu sistem sosial setuju untuk membuat suatu keputusan berdasarkan suatu kesepakatan bersama. Setelah keputusan yang demikian dibuat, semua orang harus menyelaraskan dirinya dengan keputusan sistem itu. Contohnya ialah pemberian flourid pada air untuk minum di suatu kota. Sekali keputusan masyarakat telah dibuat maka individu harus menerima air yang telah mengandung flourid tersebut. 3. Authority Decision, yaitu seorang komunikator yang menyampaikan informasi kepada komunikan (sasaran atau masyarakat), dengan cara memaksakan kehendaknya supaya komunikannya untuk memberi keputusan guna menerima informasi/inovasi tersebut. Misalnya oleh seorang supervisor dalam suatu organisasi birokrasi. Dalam penerimaan dan penolakan inovasi tersebut, sikap individu terhadap inovasi bukan merupakan faktor yang penting. Ia hanya diberitahu dan diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan keputusan inovasi yang dibuat oleh yang berwenang. Dengan demikian proses komunikasi seperti ini pihak komunikan mengalami terjadinya Dehumanisasi. Beberapa penelitian tentang tipe keputusan inovasi seperti ini nampak hasil penelitian Suryono tentang difusi inovasi program inseminasi buatan di kalangan kelompok tani di Kecamatan Kebak Kramat Kabupaten Karanganyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi inovasi IB (Inseminasi Buatan) mencapai 88,8% dengan pendekatan ”kekuasaan” lewat pilar birokrasi dengan ditakut-takuti kalau tidak ikut menggunakan suntikan IB bagi hewan sapinya. Begitu juga hasil penelitian tentang Adopsi Kontrasepsi KB spiral bagi masyarakat pinggiran kota Sukoharjo mencapai 92,8%. Sebab sosialisasi kontrasepsi KB spiral itu, dikaitkan dengan ”upaya kenaikan pangkat pegawai negeri” (Subiyanto, 1998:28). Dengan demikian menggambarkan dua hasil penelitian itu menunjukkan dalam menerima inovasi tidak ada kebebasan untuk menolaknya, maka masyarakat sasaran mengalami Dehumanisasi. Pengaruh Perkembangan Teknologi Komunikasi Terhadap Perubahan Sosial Dalam mengenalkan teknologi yang baru, selalu akan berhadapan dengan dua unsur

yang penting yaitu hubungan sosial dan pengendalian masyarakat. Pengawasan, pengendalian dan penilaian terhadap teknologi yang bersangkutan terutama pada pe-ngaruh teknologi terhadap organisasi sosial penerima. Kegiatan pengendalian merupakan tugas manajemen teknologi yang mencakup kemungkinan penyalahgunaan dan gangguan terhadap lingkungan sosial/fisik alami serta buatan. Terhadap setiap teknologi setiap masyarakat mengharapkan adanya pengaturan yang memadai demi ketertiban, ketenangan dan keteraturan dalam masyarakatnya, dengan sedikit mungkin gangguan terhadap kehidupan seharihari. Dengan demikian setiap introduksi teknologi baru, mensyaratkan suatu persiapan yang cukup dini dan perencanaan, yang memperhitungkan reaksi dan kemampuan wadah penerimanya/ masyarakat. Untuk itu diperlukan persiapan dan pemikiran-pemikiran yang matang tentang dampak teknologi terhadap struktur sosial-politik ekonomi-budaya dengan memperhatikan aspek organisasi (sosial, teknologi, dan ekonomi) dan aspek budaya milik perancang teknologi dan masyarakatnya yang telah melandasi teknologi yang bersangkutan Telah dilihat bahwa secara tidak sadar perancang pun telah memasukkan keinginankeinginan pribadinya, termasuk sistem nilai lingkungan/pemesan, yang diintegrasikan dengan daya kreasi, pengetahuan dan ketrampilan perancang/konstruktor/produsen. Hal inilah yang telah mengakibatkan bahwa seoyektif-obyektifnya suatu teknologi ia tetap berbias kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses perancangannya. Karena itulah maka suatu teknologi tidak bebas organisasi, tidak bebas nilai budaya-sosial-ekonomi dan politik. Dengan demikian agar supaya suatu teknologi berfungsi dengan semaksimal mungkin, maka ia perlu bertemu dengan lingkungan dan wadah yang mirip/cocok dengan budaya negara asalnya. Inilah yang terjadi dalam proses globalisasi yang biasanya akibatnya saja yang kita sadari terutama bila tidak cocok dengan lingkungan barunya. Maka dampak dari pengguna teknologi itu, akan melahirkan perubahan sosial yang mengarah kepada budaya asli teknologi dari negara asal. Faktor hardware dan brainware yang telah kita kenal sebelumnya, kini ditambah de-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

161

Sutopo : Peranan Teknologi Komunikasi terhadap Perubahan Sosial

ngan istilah live-ware untuk unsur sumber daya manusia sebagai salah satu unsur manajemen disamping modal dan perangkat keras, itulah sebabnya Pacey mendefinisikan teknologi menjadi : ”the application of scientific and other knowlegde to practical tasks by ordered system that involue people and organization, living thing and machines” (Pacey, 1983: 6-7) Definisi ini sekurang-kurangnya juga telah mampu untuk memasukkan bidang ilmu pengetahuan yang tercakup dalam proses perencanaan, pengadaan, bahkan konstruksi dan produksi teknologi itu sendiri. Pada tahap inilah terjadi pertumbukan atau adaptasi dan modifikasi oleh masyarakat atau peneliti perancang terhadap IPTEK karena sebagaimana telah dilihat, teknologi tidak berdiri sendiri, tidak bebas dari nilai-nilai sosial-ekonomi-politik, oleh karena itu masyarakat penggunanya juga telah tercemar oleh budaya negara asal teknologi, sehingga sedikit banyak juga sudah memunculkan fenomena dehumanisasi. Adaptasi tidak sukar, apabila selalu disadari bahwa suatu teknologi dikembangkan (lebih lanjut) selalu berdasarkan suatu dorongan dan motivasi untuk mencapai sesuatu. Dorongan ini tentunya berakar pada suatu nilai : nilai profesional IPTEK atau dorongan-dorongan sosial-politik-ekonomi yang ditanamkan dunia ekonomi-industri dalam proses pengembangan suatu teknologi. Proses ini terjadi secara sadar atau tidak sadar dan mempengaruhi dunia IPTEK bila melaksanakan R&D terhadap suatu masalah. Sumber nilai yang lain bagi teknologi dan profesi IPTEK ialah pengalamannya sendiri (technological experience) yang lambat laun menjadi standar teknis atau bahkan standar etis profesi IPTEK. Kemudian terjadilah interaksi antara ”pengalaman” IPTEK dan nilai dorongan sosial-politik-ekonomi yang telah diterima oleh dunia IPTEK dan melahirkan apa yang dikenal sebagai technological imperatives. Kelompok nilai IPTEK inilah yang oleh Einstein disebut ”The joyfull sense of intelectual power/ challenges” sebagai milik dunia IPTEK/the Expert-Sphere, yang harus selalu lebih baik, lebih teliti, lebih rinci, dan lebih cepat serta lebih murah. Masyarakat Informasi Dalam rangka mempercepat datangnya

masyarakat informasi, industri informasi saat ini sedang menyajikan sisi positif dari teknologi tinggi, khususnya teknologi Komunikasi. Walaupun orang tidak dapat menyalahkan industri informasi yang sedang membangun citra ideal, pengaruh yang diharapkan yang mempercepat datangnya masyarakat informasi dapat menyebabkan munculnya konsekuensi sosial tatkala industri informasi tidak secara simultan bertanggung jawab terhadap munculnya efek samping dari cepatnya perubahan dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi. Tampaknya, orang sepakat dengan Margareth Mead (1973: 345) yang menyatakan bahwa kemajuan teknologi pada dasarnya adalah netral, yang tampak adalah intervensi manusia terhadap teknologi, secara cepat mengingkari kenetralan ini. Para peneliti terus menunjukkan pengaruh yang muncul dari teknologi informasi. Persoalan-persoalan krusial yang berkaitan dengan masyarakat informasi, diantaranya kelimpahan informasi (Gabor, 1973; Branscomb, 1979; Pelton, 1983), campur tangan masalah pribadi (Donner, 1986; Diebol, 1973), ketidakadilan informasi (lihat Evans, 1979; Oettinger, 1980), isolasi psikologis (Silberman, 1977), sentralisasi informasi (Schller, 1981), dan penyalahgunaan informasi (Parker, 1983). Ketakutan masyarakat informasi, karena menyangkut glamornya teknologi tinggi. Apakah konsep masyarakat informasi benar-benar perlu dipromosikan? Dengan glamornya teknologi komputer pada masyarakat kini, apakah konsep masyarakat informasi perlu disebarluaskan? Jawabannya adalah ya. Masyarakat merasa belum begitu puas dengan prospek teknologi telekomunikasi (lihat Davis, 1983). Sikap masyarakat terhadap konsep masyarakat teknokratik di mana tukang pos digantikan oleh mesin elektronik dan berbelanja dapat dilakukan dengan videotext, tetap negatif. Sementara hampir semua orang terpesona dengan kemampuan komputer yang luar biasa dalam memproses segudang informasi dalam hitungan nanodetik, sebagian yang lain merasa khawatir yang canggih yang melewati batas kehidupan individu. Ketakutan pelanggaran tersebut merupakan ketakutan terhadap industri informasi yang akan mengendalikan sistem informasi. Menurut pandangan ini, kabel, komputer, dan sistem komputer secara cepat menjadi hak milik sege-

162

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Sutopo : Peranan Teknologi Komunikasi terhadap Perubahan Sosial

lintir konglomerat besar. Sebagian orang percaya bahwa konglomerat ini akan segera dapat mengendalikan arus informasi walaupun tampaknya tidak demikian. John Wicklein (1981), misalnya, berpendapat bahwa sistem kabel interaktif yang baru, yang berjumlah 108 saluran dapat dikontrol oleh operator. Walaupun hal ini dibuat-buat, namun ada yang merasa khawatir kalau-kalau pemerintah atau pihak swasta dapat mengendalikan informasi dan teknologi informasi. Samuel C. Florman (1981: 181) mengungkapkan bahwa teknologi ditakuti karena mitos teknologi itu sendiri dan mitos elit teknokratik. Dalam sebuah artikel yang berjudul ” Saving the Consumer from the Computerized Snafu” (Ross, 1980:56) menyatakan bahwa “konsumen senantiasa merasa sebagai korban yang tak berdaya dari mesin birokrasi yang besar dan seragam orang tidak dapat diajak berbicara, atau berpikir”. Pada tahun1970, banyak film dan novel yang mengusung tema sejenis: 2001: A Space Odyssey, Tron, Looker, Rollerball, Zaidoz, dan THX 1138, semua menggambarkan suatu masa depan dunia yang serba komputer, tidak mempunyai nafsu sama sekali. Industri informasi dengan cepat telah mempersepsikan bahwa sikap negatif publik terhadap teknologi tinggi akan hilang dengan cara melakukan promosi media yang positif. Masyarakat yang disebutkan sebagai tahap setelah era industrialisasi atau yang santer dengan sebutan masyarakat ”pasca industrial” dinamakan juga sebagai masyarakat informasi. Tahapan masyarakat dimaksud memang telah berkali-kali digambarkan oleh para ahli yang berusaha menunjukkan ciri-ciri penting dari tahapan kehidupan tersebut dengan memperlihatkan perbedaannya dengan tahap-tahap sebelumnya. Masyarakat informasi (Rogers, 1986) dirumuskan sebagai ”suatu bangsa dimana mayoritas angkatan kerja adalah terdiri dari para pekerja informasi, dan dimana informasi merupakan elemen yang paling penting. Jadi, masyarakat informasi mencerminkan suatu perubahan yang tajam dari masyarakat industrial dimana mayoritas tenaga kerja bekerja dalam pekerjaan manufacturing seperti perakitan mobil dan produksi baja, dan yang merupakan elemen kunci adalah energi. Kontras dengan itu, para pekerja individu

pada masyarakat informasi adalah mereka yang aktivitas utamanya memproduksi, mengolah, atau mendistribusikan informasi, dan memproduksi teknologi informasi”. Dari uraian di atas dapat disimpulkan : masyarakat informasi yaitu masyarakat yang sadar akan informasi, dan mengandalkan informasi dalam segala bidang kehidupan, sekaligus pemerataan informasi serta berlangsungnya interaksi terbuka dan bertanggung jawab dalam proses komunikasi dan tercapainya integrasi sosial dalam menunjang pembangunan nasional. Informasi merupakan energi bahan yang berpola (patterned matterenergy) yang mempengaruhi probabilitas yang tersedia bagi seorang individu dalam pembuatan keputusan. Informasi tidak memiliki eksistensi fisik secara sendiri, dan hanya dapat diekspresikan dalam bentuk material (seperti tinta di atas kertas) atau dalam bentuk energi seperti impuls atau gelombang elektrik. Seringkali informasi dapat disubtitusikan oleh sumber (resources) lain seperti uang. Dari gambaran di atas nampaknya masyarakat informasi dibentuk dari 3 aspek yaitu 1) segi ekonomi (daya guna informasi): bagaimana dapat bekerja melalui pendayagunaan informasi; 2) segi sosial budaya (budaya informasi): bagaimana mengandalkan informasi dalam segala bidang kehidupan dan mampu menghasilkan mengolah dan memanfaatkan secara efisien dan efektif; 3) segi teknologi (infrastruktur informasi): bagaimana memiliki infrastruktur yang lengkap, yang mampu mengakses informasi ke seluruh penjuru dunia melalui suatu hubungan dengan jari tangan informasi dan jaringan telekomunikasi global. Bila ketiga aspek maupun dalam kehidupan yang akurat dan benar, baik dalam kehidupan informasinya maupun dalam kehidupan sosial dan budayanya. Dengan terbentuknya masyarakat informasi konsekuensinya akan mudah terjadi interkoneksi global komunikasi bergerak secara aliansi global juga, implikasi selanjutnya adalah hilangnya batas geografis; hilangnya ketergantungan pada waktu dan ruang; hubungan komunikasi terdistribusi dalam “ruang”; dan manusia menjadi anggota dari “many global non place communities”. Untuk dampak yang lain, dengan adanya information superhighway maka: demokrasi cenderung berkembang pesat; pertumbuhan

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

163

Sutopo : Peranan Teknologi Komunikasi terhadap Perubahan Sosial

ekonomi cenderung meningkat; dan nilai informasi semakin dihargai. Dengan terwujudnya masyarakat informasi maka akan sangat berpengaruh terhadap: meningkatnya pemerataan informasi yang tentu akan sangat berpengaruh terhadap meningkatnya gerakan perubahan sosial. Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas semakin kuat maka fenomena yang bersifat dehumanisasi semakin berkurang juga; meluasnya informasi pembangunan secara terpadu dan merata; meningkatnya kemampuan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana; dan meningkatnya interaksi positif antara media massa, pemerintah dan masyarakat. Kritik Media Massa dalam Pembangunan Beberapa kritik yang dilontarkan kepada peran media massa dalam pembangunan di antaranya adalah: a. Perlu dicermati adalah dengan berkembangnya Ilmu dan Teknologi Komunikasi, bahwa media massa di negara-negara berkembang sebagai suatu perpanjangan hubungan yang eksploitatif dengan berbagai perusahaan multi nasional di negara-negara maju khususnya lewat produk iklan-iklan komersial. b. Terkait dengan pola pemilikan dan pengawasan elit atas lembaga-lembaga media massa nampaknya berpengaruh terhadap isi media (tidak obyektif lagi) c. Sumbangan komunikasi massa dalam perubahan sosial (pembangunan) sering terhambat oleh struktur sosial dan kurang adanya bahan masukan (hanya kritik saja), dan kurang banyak memberitahukan hambatan pembangunan. d. Banyak harapan di Negara-negara berkembang (misalnya, Columbia) bahwa komunikasi merupakan faktor penunjang modernisasi dan pembangunan, tetapi kenyataannya

berpengaruh kecil kecuali lebih dahulu dilakukan perubahan struktur untuk mengawali proses pembangunan. e. Masih diperlukan banyak cara yang memadai atau suatu penelitian tentang menguji kebenaran suatu hipotesa adanya kesenjangan akibat adanya komunikasi. Hipotesa tentang kesenjangan yang disampaikan para pakar komunikasi untuk menunjukkan bahwa salah satu pengaruh komunikasi massa adalah memperlebar jurang perbedaan pengetahuan di antara dua kelompok masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi dan berstatus ekonomi rendah, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut mengenai “kesenjangan akibat pengaruh komunikasi dengan menggunakan model Uses and Gratification. Daftar Pustaka Indajit, R.E. (2001). Manajemen Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Jakarta: Gramedia. McAnany, E.G. (1980). Communications in the Rural Third Word. New York: Praegen Publisher. Rahardjo, B. (2002). Memahami Teknologi Informasi. Jakarta: Gramedia. Roger, E.M. (1976). Komunikasi dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES. Salvaggio, J.L (2000). Membangun Citra Positif Masyarakat Informasi. Jurnal ISKI No. V Oktober 2000. Scoot, N.M. (1991). Information Technology and Organizational Tranformation. Oxford: Oxford University Press. Sutopo. (2001). Pendidikan Perubahan Sosial. Bahan latihan riset aksi. Surakarta: Puslitbangdeka-Lemlit UNS. -----. (2005). Komunikasi, Perubahan Sosial dan Dehumanisasi. Surakarta: Pustaka Ramayana Ilalang dengan Program Pasca Sarjana Komunikasi UNS.

164

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 165-171

Communication as Culture
Pamela Nilan
School of Social Science, The University of Newcastle Australia

Abstract
Culture is not only things which can be touched. It also include 'the way of life' of a society. It is a series of practices too. While media and popular culture products are the form of communication. For example the popular musical genre, nasyid, and the new television trend, 'reality'/ horror shows. There is the cultural studies approach, which tries to find out and digs about how people are binded to the particular context of culture. This article will explore about the intersection of communication and culture, especially in Asia, as one of the most dynamic modern places in the world. Keywords: communication, popular culture, cultural studies, media.

Introduction The topic today comes from a question how do communication and culture intersect in specific Asian societies in the twenty-first century? To define culture, I will use the following definition:
The human creation and use of symbols and artefacts. Culture maybe taken as constituting 'the way of life' of an entire society, and this will include codes of manners, dress, language, rituals, norms of behaviour and systems of belief (Jary and Jary, 1991:138).

If culture is 'a way of life' then this draws our attention to the fact that culture is not fixed or static. Indeed it has been been claimed that we are always living culture. The antrophologist Brian Street (1993) argues that culture is a verb, not simply a state of being, but a series of practises. So there be no time or place which is outside lived culture. As culture change though, there is certainly the impression that some ways of being, and knowing are being left behind, even eclipsed, as new form of culture develop

from inside and from outside sources. Both western nations and developing nations are now enmeshed in the workings of what is increasingly a global economy and what some claim to be a 'global culture'. Yet there is really no such thing as a singular form of global culture as such. For while technologically-driven western (particularly American) culture threatens to sweep te planet (Waisbord 1998), there are other cultural 'cores' in the world from which new cultural trends are distribted (such as Japan, India, South America and the Middle East) which many people in the world prefer as a form of mediated symbolic communication. So, talking about communication today, I will be generally referring to the form of communication we usually call media newspapers, journals, magazines, television, internet, films, advertising and other forms of popular culture such as fashion and pop songs. As specific examples, I will be considering the popular musical genre of nasyid and the new television trend to 'reality' mistery/horor shows. In the social sciences and humanities in western universities,

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

165

Nilan : Communication as Culture

there are three main ways of analysing the relationship between media and culture. The first of these is sociological, an approach which usually emphasises the ideological and political economy influences upon the citizenry that come from media (for example, Curran 2002). Another popular angle of analysis is political sciences, which emphasises the political economy of the media industry (see Croteau & Hoynes 2002), especially issues of transnational ownership and distribution. Finally, there is the cultural study approach, which seeks to explore the ways that media links, enfolds or otherwise binds people in particular contexts of culture (Holden, 2004; Fiske 1996). Holden maintains that the essential (but often neglected) dimension in cultural studies of media is context (Dimitriadis 2001). Culture is communicated in the lived spaces of everyday life where local and global identities are mediated (for example Widodo 2002; Nilan 2001; Gillespie 1995) and articulated (Morley & Robins 1995). Although there are pockets of underdevelopment and backward thinking in Asia (for example Burma and North Korea)Asia is one of the most dynamic modern places in the world. There are forms of media coming out of Asia which are different to those produced anywhere else in the world and they have a profound effects on Asian cultural identity (Lent 1995). Although pessimistic view is that people in nonwestern countries are brainwashed by westerncontrolled media (Best & Kellner 1998) into the consumption of cheap, culturally meaningless commodities (see Gitlin 2000; Hibbs 1999; Giroux 1997; Adorno & Horkheimer 1977); thereby losing their traditional culture and becoming slaves to the style/ fashion trends and ideologies manufactured by global marketing (Klein 2000; Ritzer 1993), I believe the reverse to be true (Harrington & Bielby 2001 2001; Bennet 2000; Willis 1991; Hebdige 1988; Benjamin 1973). The literary critic Walter Benjamin, for example, argued strongly against the pessimistic thesis. He pointed out that mass media allows the masses to participate openly in aesthetic and communicative reception and appretiation. Like Benjamin, Wilis (1991), writing about British working class-youth, stresses the democratic and active, rather than be hegemonic and oppresive, potential of contemporary

popular culture. He maintated the people appropriated and synthesised cultural materials from all kinds of sources for their own creative and social ends (Thompson 1995). Therefore, in talking about the relationship between communication and culture in Asia we must consider not only the local 'meanings' constructed global media messages and icons, but the meanings people construct about established cultural traditions and identities which exist in a dialectical relationship (see Hoogvelt 2001 : 11) with these 'modern' western and other hegemonic icons and symbols (Sunyindo 1998). Before we unthinkingly accept the idea that western cultural forms constitute a massive homogenising juggernaut that sweeps all before it (Appadurai 1996; Barker 1999), we must recognise that the majority of Asian people are still 'located' in their local communities with specific cultural histories (Cunningham & Sinclair 2000). This is the 'context' that Holden demands we understand. Pattiera (1995), writing about Philipinnes, claims in the postmodern moment there is 'a colonication where the past coexist with the present'. Local identities are still nurtured but these are interfaced with 'the cultural boundaries of a global order' (1997) in the context of people's everyday lives. In this context, hybrid forms of media culture emerge, so that the past (real or imagined), touces te increasingly technological present at key points in the framing of identities (Nilan, 1999). Pieterse (1995) describes this hybridisation as the 'creolisation of global culture', and instances of this phenomenon from the examples below. Media Communication and Asian Culture Asia is a collection of cultural contexts a dynamic, variegated, discontinous collection of states. It is full of dissimilar political systems, economic and class ordering, religious practices, cultural histories, social and ethnic groupings, technological prospects, and media preferences. As a result in the increasingly complex societies of Asia, media forms are becoming ever more complex and 'creolised', yet realworld events are still represented and modelled in an interative fashion by media as a form of communication which speaks to local identities. We may consider the case of Hello Kitty originally 'cute' goods marketed only as toys for

166

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Nilan : Communication as Culture

children in Japan which has come over three decades to target a wide range of ages worldwide, and are now affixed to everything from stationery to vacuum cleaners, surfboard to handbags. In Asia, Hello Kitty has become a transnational filter for chatter about race, gender, and sexuality. In short, media (mediated communication) is a major if not a primary means through which Asian experience, understand, effect and are affected by the worlds containing them. Yet despite the often simplistic 'mediation equation' in contemporary communication studies the ways in which media routinly filter, if not influence, they myriad activities of social life the manner in which such media/society interfaces transpire is far from uniform. For example, ethnographic research in Indoa reveals that beneath the public, liberal, culture of consumption projected by television, in popular magazines, and through Bollywood films and advertising, there still exists a private world built around family, class, and gender, one retaining many aspects of traditional moral and hierarchical principles. Even if various media in the Indian context routinly present the emergent, consumer, middle class citizens freewheeling in western clothes, this may be merely surface level representation. The same is true in Indonesia, where girls in a rural pesantren might gather to watch the glamorous contestans competing for pop idol status in AFI (Akademi Fantasi Indosiar). In a sense AFI does not represent their lives at all, but that is not the point of why they watch the show. In Indonesia, enthusiastic consumers of media texts such as Kung Fu or Bollywood movies, sinetron, South American telenovela, Sinchan cartoon and comics, rock music from Slank, or pop music from Sheila on 7 or Dewa reveal not simply the existence of a substantial consumerict middle class, but at the level of practice, the existence of a much wider of consumers who do not match the ideal image, but whose conspicuous sense of identity is still built around gendered conceptions of beauty, body, image of love and the politics of 'cool'. Yet it is certainly clear from a wealth of empirical studies that modern media products newspaper, journals, television, radio, the internet, films, pop music, fashion magazines, advertising etc. have become resources for con-

structing cultures of identity for the new consumerists Asia middle class. Altough media products are only a few of the myriad commodities now flooding into developing countries, they are unique in their ability to enchant and tacitly advertise countless other consumer goods. Mass media produce a space for the imagination that beckons consumers to experience and lives as their own. These images provide a new form of social currency that consumers, especially middle-class youth employ in their efforts to construct new cultures of identity. Indonesia Media and Culture Modernity and religion, development and tradition, sit somewhat uneasily together in Indonesia, configured differently from region to region. In the last two decades of the twentieth century, Indonesia underwent a period of rapid social and political transformation which saw the dramatic ascendancy of a high-consuming urban middle-class, followed by a devastating economic collapse in 1997/98, from which there as yet to be real financial recovery. Since reformasi and the first free election in 1999, all forms of the media have developed remarkably. Because of their apparently unlimited representational scope, media are now highly significant means through which Indonesians experience, understand, effect and are affected by the social world around them A significant volume of work has been produced on the topic of media and culture in Indonesia, particularly the cultural impact of globalized Western media. As many have noted, commentators can be divided into those who understand the impact as negative, destructive of Indonesian cultures, and those who favour a model of cultural appropriation, synthesis and hybridization (see Crane 2002; Morris 2002 for discussions of this debate). It is argued in this paper that people in Indonesia are not dupes of culture nor pitiful victims of a cultural onslaught from the West (Abou-El-Haj 1991; Said 1978). Rather, they engage with contemporary media local, regional and global in an urban social and work context that promotes an inviting set of discourses about how to live and position oneself advantageouslybin the world, drawing not only on modernist ideology, but on significant traditional discourses of life and work. Therefore, al-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

167

Nilan : Communication as Culture

though complex, the relationship between media and identity is theorised here as two-way constitution of subjectivity. On the one hand, individuals bring both actual and potential identity discourses to their moments of media engangement. For Indonesians, these 'local' discourses derive mostly from the following resources:etnho-locality, tradition/ religion, and nationalism. Mass media, on the other hand, offer a hugely diverse range of discourses some of which may bear on the identity discourses above, others which may not. Part of this determination lies in media form and content, both of which have the ability to confer salience to, and symbolic power upon, certain discourses, while surpressing others. At the same time, it is only through actual engangement by the individuals, as an embodied subject, with the identity discourses transmitted by the media as a form of cultural communication, that an effect constitutive of identity can possibly occur. Importantly, if there is little or no affinity between these identity discoursesno provocation between the two sets of discursive 'prompts' then media content may be ignored. To offer an example, most Indonesian men completely ignore women's daytime television programs, even when the show plays in their presence. So, like Morley and Robins (1995:44), we should reject any simplicistic model where media, especially new media technology, is seen as exerting impacts 'on a set of pregiven objects, national (or cultural) identities', Indonesian people have enganged with forms of global media (broadly speaking) for a very long time without losing their distinctive Indonesian identity. In reference to Kathmandu, Liechty has capture this verity well when he argues: “identity refers to a person's sense of inclusion in (or exclusion from) a range of social roles and ways of being, both 'real' (those derived from lived experience) and 'imagined' (those encountered in realms beyond the everyday: tales, religious epics, mass media etc.)” (1995:167; emphasis added). Despite the propagandistic approach embodied in New Order communications, contemporary Indonesian mass media do not usually preach at, or even speak directly to people in the evocation of discourse. More often they address consumers indirectly, by representations.

Yet media representations encode particularly powerful identity messages, operating as they do through embodiment, voice (including written media), and acts which directly appeal to emotions and morals values. It has been argued that media consumers 'cruise' texts such as media products, constantly seeking representations through which they might reconstitute fragile subjectivity as stable and strong (Barthes 1977). Through the appropriation of offered discourses, media 'play a pivotal role in organising the images and discourses through which people make sense of the world' (Golding and Murdock 1996:11), and make sense of their own identity. In reference to this claim about the implied relatiuonship between culture and media as communication, the remainder of this paper will deal with two specific examples of innovative Indonesian media phenomena which illustrate the points above. The Nasyid Phenomenon Barendregt argues that Southeast Asian Islam increasingly carves out a public space of its own, and popular culture plays an important role in the distribution of this new public visibility. The assosiation of Islam with various forms of popular culture simultaneously arouses both celebration and controversy. Current debates about a distinctively Islamic popular culture highlight the ambiguous attitude of many, particularly older generation, Southeast Asian towards popular culture per se. They tend to regard it as imported, as morally corrupting and likely to bring about the alienation of youth. Young Moslems, however, often strongly relate to local efforts to shape a popular culture that is both nationalistic as well as modern 'cool' but not western. For many Southeast Asians the urge for such national popular culture forms has become synonymous with shaping a truly Islamic popular culture (Barendregt, 2004). In the region, traditional and local religious musical forms have hybridised with more global popular music genres, and new kinds of musical expressions (like dangdut and orkes) have emerged, even becoming part of the active political process. In the last decade of the twentieth century, the popular musical genre nasyid developed among the Islamic youth of Southeast Asia. Nasyid first became popular in Malaysia. The music is performed by ensembles of

168

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Nilan : Communication as Culture

young men singing in harmony. The popularity of nasyid may accord with the popularity of western boy bands like Boys II Men, Backstreet Boys, or Westlife to some extent, but nasyid is emphatically Islamic. In the 1990s nasyid became popular in Indonesia, especially after reformasi when the genre gained many Indonesian followers. The traditional song forms from which contemporary nasyid derives have always been used by the younger Muslim generation to comment on contemporary events (Barendregt, 2004). Facilitated by the spread of Arabic Islam through Southeast Asia, nasyid has proved attractive to many young people with a strong Islamic conscioussness who want to be both informed and entertained by morally and spiritually responsible popular media. Lately nasyid has become professionalised with nasyid artists travelling between Malaysia and Indonesia. So, nasyid might serve to illustrate the rise of a regional transculturalism: a culture that is increasingly shared by Southeast Asian Muslims in spite of being geographically divided. Both music and related websites provide young Islamic fans with important symbols of modernity so desperately sought by the middle class. The nasyid genre has therefore proved important in the development of a moderate, modern but not western , 'cool', image both Malaysian and Indonesian Muslim Youth. The Television Misteri Phenomenon In another example of a highly hybridised yet emphatically local popular culture media form, Rachmah (2004) draws our attention to the appearance of 'reality' horror/ mystery shows on Indonesian television in the last couple of years. Prime time shows like Dunia Lain exploit popular abangan beliefs in ghosts and supernatural. These are 'reality' shows in the sense of the viewer being taken into a 'real' place, for example a haunted house, by a scientific 'expert' leading a volunteer member of the public in to experience supernatural presences. A typical scene is an 'ordinary' person advancing slowly in a state of terror into a decayed ruin at night, apparently with only the aid of infrared lighting. The voice-over commentary relates the usually murderous history of the dwelling. A faint change in the density of the blackness of the interior is remarked upon by the

commentator, and the scene is frozen while the camera zooms into the still. What looked to the viewer like just a lighter patch in the darkness turn out to be ghostly face when enough technology is applied. This illustrates to viewers the kind of danger the volunteer is exposed to. Often the member of the public is then left there for hours, alone in the dark. Subsequently the viewing audience rejoins him or her and the person gets to talk about their supernatural experiences. Finally a kiai (Islamic preacher) cleanses the person (and often the haunted place as well) of evil spirits and taints. Rachmah (2004) maintains that when this happens, 'ulamma' presides, and Islamic faith is reinforced. Some shows in this genre has to do entirely with exorcism, so that the kiai conjure the spirits up with prayers, and even communicate with them, before the exorcism resolves the state of evil and impurity. It is noted that on one occasion, the successfully exorcised house was provided with a sticker which proclaimed it 'free from ghosts' possibly a tribute to the film Ghostbusters. In analysing the phenomenon, Rachmah maintains that indigenous is elevated as a model of reality and this appeals most to abangan working class and rural Muslim viewers in Indonesia. She further purposes that this serves as an example of the democratisation of Muslim religious beliefs and practices, and their incorporation into a popular culture from which promotes Islam as a major social forse. In this way her claims about misteri/ horor shows are similar to Barendgret's interpretation of nasyid. In both cases it is not just a matter of the syncretic aspects of the cultural form and genre, but the role of professionalism and technology that makes the phenomenon a distinctively 'modern' sensation. Conclusion These two examples demonstrate that culture, and media as a form of communication, are tightly tied. As example, they suggest culture as a series of a creative practised in lived everyday interaction. As society changes in reference to the new global order, culture and mediated communication forms change at same time. In Indonesia, there is evidence that forms of popular culture media which incorporate and celebrate Islam as a shaping force in national identity are emerging not from the top down

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

169

Nilan : Communication as Culture

(like state-sponsored propaganda) but from creativity and encouragement of ordinary people themselves-youth, the working class, rural villages and communities. It seems certain that many young people in Indonesia show a marked cultural preference for these local formsof mediated symbolic communication which speak to them of their Muslim identity, over the imported western product. Reference Abou-El-Haj, B. (19910 'Languages and Models for Cultural Exchange', in J. Eade (ed) Living the Global City: Globalization as a Local Process, London & New York: Routledge. Adorno, T. & Horkheimer, M. (1997) 'The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception', in J. Curran, M. Gurevitch & J. Woollacott (eds) Mass Communication and Society, London: Edward Arnold. Appadurai, A. (1996) Modernity at Large: The Cultural Dimensions of Globalisation, Minneapolis: University of Minnesota Press. Barendregt, B. (2004) 'Cyber-Nasyid: Transnational Soundcapes in Muslim Southeast Asia', in T.J.M. Holden & T.Scrase (eds) Medi@sia, London: Routledge . Barker, C. (1999) Television, Globalization and Cultural Identities, Buckingham and Philadelphia: Open University Press. Barthes, R. (1977) Image-Music-Text, translated by. S. Heath, London: Fontana. Benjamin, W. (1973) Illuminations, trans. H. Zohn, London: Fontana. Bennett, A. (20000) Popular Music and Youth Culture, Basingstoke and London: Macmillan. Best, S. & Kellnes, D. (1998) 'Beavis and ButtHead: No Future for Postmodern Youth', in J. Epstein (ed) Youth Culture: Identity in a Postmodern World, Oxford: Blacwell Publishers. Crane, D. (2002) 'Culture and Globalization: Theoretical Model and Emerging Trends', in D. Crane, N. Kawashima and K. Kawasaki (eds) Media, Arts and Globalization, New York & London: Routledge. Croteau, D. & Hoynes, W. (2002) Media/Society: Industries, Images and Audiences, Pine Forge: Pine Forge Press.
170

Cunningham, S. & Sinclair, J. (2002) 'Introduction', in S. Cunningham & J. Sinclair (eds) Floating Lives: The Media and Asian Diasporas: Negotiating Cultural Identity through Media, Brisbane: University of Queensland Press. Curran, J. (2002) Media and Power, London & New York: Routledge. Dimitriadis, G. (2001) “In the clique”: Popular Culture, Constractions of Place, and the Everyday Lives of Urban Youth', Anthropology and Education Quarterly, vol 32, no. 1, pp. 29-42. Fiske, J. (1996) Postmodernism and television, in J. Curran & M. Gurevitch (eds) Mass nd Media and Society-2 Edition, London & New York: Arnold. Gillespie, M. (1995) Television, Ethnicity and Cultural Change, London & New York: Routledge. Giroux, H. (1997) Channel Surfing, Basingstoke & London: Macmillan. Gitlin, T. (2001) Media Unlimited: How the Torrent of Images and Sounds Overwhelms our Lives, New York: Metropolitan Books. Golding, P. & Murdock, G. (1996) 'Culture, Communications and Political Economy', in J. Curran & M. Gurevitch (eds), Mass Media and Society (Second Edition), London & New York:Arnold. Harrington, C.L.& Bielby, D. (2001) “Constructing the Popular: Cultural Production and Consumption', in C.L. Harrington & D. Bielby (eds) Popular Culture: Production and Consumption, Malden Oxford: Blackweel Publishing. Hebdige, D. (1998) Hiding in the Light, London: Routledge. Hibbs, T.S. (1999) Shows about Nothing: Nihilism in Popular Culture from the Exorcist to Seinfield, Dallas: Spence Publishing Company. Holden, T.J.M. (2004) 'Introduction', in T.J.M. Holden & T. Scrase (eds) Medi@sia, London: Rotledge. Hoogvelt, A. (2001) Globalization and the Postcolonial World: The New Political nd Economy of Development, 2 Edition, Basingstoke: Palgrave. Jary, D. & Jary, J. (1991) Collins Dictionary of Sociology. Glasgow: HarperCollins Publishers.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Nilan : Communication as Culture

Klein, N. (2000) No Logo, Hammersmith: Flamingo/HarperCollins. Lent, J. (1995) 'Introduction', in J. Lent (ed) Asian Popular Culture, Boulder San Fransisco Oxford: Westview Press. Liechty, M. (1995) 'Youth and Modernity in Kathmandu, Nepal', in V. Amit-Talai & Wulff, H. (eds) Youth Cultures: A CrossCultural Perspective, London & New York: Routledge. Morley, D. & Robins, K. (1995) Spaces of Identity: Global media, Electronic Landscapes and Cultural Boundaries, London and New York: Routledge. Morris, N. (2002) 'The Myth of Unadulterated Culture Meets the Threat of Imported Media', Media, Culture & Society, vol. 24, pp. 278-289. Nilan, P. (2001) 'Gendered Dreams: Women Watching 'Sinetron' (Soap Operas) On Indonesia TV', Indonesia and the Malay World, vol. 29, no. 84, pp. 85-98. Pertierra, R. (1995) Philippine Localities and Global Perspective, Manila: Ateneo de Manila University Press. Pieterse, J.N. (1995) 'Globalization as Hybridization', in M. Featherstone, S. Lash and R. Robertson (eds) Global Modernities, London: Sage.

Rachmah, I. (2004) 'Ghost or Gossip; The Picture of the Indonesian television Industry in the 2000s', paper delivered to the 15th Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia, Canberra, 29 June 2 July, 2004. Ritzer, G. (1993) The McDonaldisation of Society, Thousand Oaks: Pine Forge Press. Said, E. (1978) Orientalism, London: Routledge & Kegan Paul. Street, B. (1993) 'Culture is a Verb: Anthropological Aspects of Language and Cultural Process', Language and Culture, British Studies in Applied Linguistics 7. Clevedon: Multilingual Matters, pp. 23-24. Sunindyo, S. (1998) 'Wacana Gender di TVRI: Antara Hegemoni Kolonialisme dan Hollywood', in I.S. Ibrahim and H. Suranto (eds) Wanita dan Media, Bandung: Remaja Rosdakarya. Thompson, J.B. (1995) The Media and Modernity: A Social Theory of the Media, Cambridge, polity Press. Waisbord, S. (1998) 'When the Cart of Media is before the Horse of Identity: A Critique of Technology-Centered Views on Globalization', Communication Research, vol. 25, pp. 377-98.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

171

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 172-181

Online Learning and Quality of Learning in Journalism Course
Sri Hastjarjo
Department of Mass Communication, Sebelas Maret University

Abstract
This paper reports the findings of a study of the application of online learning and its impacts on the learning process (learning approaches) and learning outcomes for students who enrolled in a Journalism course in an Indonesian university. Based on Biggs' Model of Student Learning, with prior knowledge of journalism, computer skills, internet skills, and teaching method as independent variables; students' learning approaches as an intervening variable, and learning outcomes, which comprise grades, productivity, and quality of works, as dependent variables. Students in the online class demonstrated a deeper learning experience and better quality learning outcomes. Students' prior knowledge and learning approaches were linked to better learning outcomes. This study demonstrates that online learning has the potential to be used to complement or to replace traditional face-to-face lecturing in universities in Indonesia. Keywords: journalism course, online learning, quality of learning.

Introduction The main goal of every professional education is to produce capable practitioners. Such capability depends on both knowledge and skill which are perhaps better conceived as two kinds of knowledge: propositional and procedural (Ryle, 1976, p.160). This is true in journalism education. Professional journalists must know that certain propositions are true and must know how to perform certain skills, either intellectual or physical, or how to demonstrate certain capabilities or competencies (Gagne, 1974, pp.1933). The ideal course requires a balance of academic studies, applied capacities and talent and, within the sphere of occupational learning, simulations of real working experience and engagement with the real world of journalism (de Burgh, 2003, pp.95; Utari, 2004, pp. 154-155). One of the major problems faced by jour-

nalism educators in Indonesia is that although graduates have sufficient theoretical knowledge about journalism, they do not possess the practical knowledge and skills required by the media industry. The existing Journalism course relies heavily on the use of a traditional lecturing method in a face-to-face classroom environment. Within such a learning environment, students tend to be reluctant to express their views, opinions or arguments on any issue. Each meeting in the face-to-face class is generally a one-way communication from the teacher to the student. This is a traditional format in a society which values education and respects those who are teachers. This practice has produced a situation not far from the one observed by Biggs (1987) in which students are inclined to adopt a surface approach to their study. Their motive is to gain

172

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

a qualification at its most basic level and their consequent strategy is to reproduce information through rote learning. This surface approach denies the student the opportunity to achieve a desirable learning outcome which is well structured, personally involving, and compatible with institutional requirements (Biggs, 1987, pp.96). Biggs and Collis (1982) argue that high quality learning is determined by teaching procedures and student approaches. The purpose of this study is to devise a learning environment which would be an alternative to the existing face-to-face lecturing classroom and that would encourage a deeper learning experience and provide the student with a “simulation” of a real world situation of journalism work. This in turn would assist the student to produce the desired learning outcomes. Reviews of the literature show that a combination of online learning and a problem-based approach has the potential to serve this purpose. Literature Reviews Online Learning Education is one of the most important ventures of the Internet (Whitherspoon & Johnstone, 2001). Many developments have used the Internet for higher education. These developments are the result of two main factors: firstly, the growth and popularity of the Internet; and secondly, key changes in the world of education. In the case of Indonesia, there is a great challenge in providing access to higher education. Every year around 1.6 millions students finish their high school study, but higher education providers (government and privately owned) only have capacity to accept 600.000 new students annually. Soekartawi (2006) stated that only 14.6% of people of university/college age (19-24 years old) attend higher education. Many believe that online learning will become one of the most important solutions for Indonesia's problem in providing adequate higher education. The Indonesian Secretary General of the Ministry of National Education stated that teledukasi (Indonesia's term for online education) is the suitable method for knowledge distribution in Indonesia (Muklas, 2001). In this paper, the term “online learning” is chosen. It is defined as an approach to teaching and learning that utilizes Internet technolo-

gies to communicate and collaborate in an educational context. This includes technology that supplements traditional classroom training with web-based components and learning environments where the educational process is experienced online (Kearsly, 1997). The most crucial issue to consider when developing an online course is pedagogy (Mason, 1998). Online technology does not automatically improve courses. Simply placing lecture notes on a website will not enhance students' learning experience. Application of online technology in education demands rethinking of the educational design and learning approaches associated with the use of new media (Flew, 2002). Best practice in implementing online education is to develop an approach that constructs a more interactive, self-directing learning experience for students (Littlejohn & Stefani, 1999). There are advantages of online learning, identified in the literature, in economics, access, technology, and pedagogy (Flew, 2000). Hiltz (1994) identified characteristics of online learning that related to learning access and learning effectiveness. These advantages related to educational access, including flexibility in relation to place and time of access to the course. In terms of learning effectiveness, Hiltz lists collaborative learning opportunities, more active learning, facilitation of self-pacing, availability of other computer resources and complete course notes. Harasim (1990) identified text-based communication as one of the characteristics of online learning which has cognitive benefits. A key power of the web is its capacity to inter-link content. The web is also a potent communication tool. By putting these two functions together the Web provides a tool by which user driven communication operates by linking contributions together. The result is web discussion forums. There are two types of web-based discussion: synchronous (for example, in a chatroom) and asynchronous (for example, e-mail or discussion forum). Asynchronous web discussion has characteristics almost opposite those of synchronous discourse. It is slow paced (because the participants are not limited to a certain timeframe), perpetually transcribed, and comprised of threads that can be followed in any direction.

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

173

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

Asynchronous on-line discussions can last from several days to several months. Because on-line discussions take place by sending or posting electronic text messages, and because these messages can be archived, the discussion can exist as a perpetual transcript. This perpetual transcript is important because it enables asynchronous on-line discourse to have many threads active simultaneously. By referring to this transcript, discussion participants can easily follow the discussion threads in any direction and comment on any portion of the transcript (Salahub, 1997). The asynchronous Web-based discussions offer opportunities to develop reciprocity and cooperation among students, required active learning, provided prompt feedback, and supported diverse talents and ways of learning. Sabine and Gilley (1999) attempted to simulate classroom interaction and reached the conclusion that threaded discussions may be superior to face-to-face discussions because students have an opportunity to reflect on posts before submitting them. These online discussions create a “shared space” where ideas can be debated and linked to other ideas, and hypotheses can be made or refuted (Bonk & Kim, 1998). In asynchronous web-based discussion groups, learners construct their own learning by engaging themselves and others in reflective explorations of ideas, drawing conclusions based on their explorations, and synthesizing those conclusions with previous knowledge in what tends to be a non-linear process (Biesenbach-Lucas, 2003). In this process of learning, students are engaged in more inductive, problem solving activities as opposed to deductive, analytic teacher-based exercises and lectures (Nunan, 1999). To summarize this section, the online learning environment has a potential to shift the paradigm from teacher-centred to student-centred learning. This shift will have an impact on the roles and responsibilities of teachers and students. To be successful in an online learning environment, both teachers and students need to have certain attitudes and skills. The online learning environment, especially web-based discussion, has advantages that may enhance the learning experience. Those advantages include a flexible, self-paced, active, deep and collaborative learning environment. The feat-

ures of online learning encourage and support such strategies as problem-based learning, case-based learning, and even work place learning; strategies that are considered to be appropriate for professional education. Problem-Based Learning (PBL) Problem-based learning (PBL) had its beginning in medical education at McMaster University in Canada in the mid-1960s (Norman & Schmidt, 1992). It was developed in response to concerns that a focus on academic disciplines was not effective preparation for future professionals (Boud, 1985). Since PBL first appeared, it has spread to many countries and different fields of professional education including, nursing, engineering, law and business (Boud & Feletti, 1991). Although there are many variations in the application of the PBL, they appear to share some common characteristics. Charlin et al. (1998) identified three core principles of PBL: (1) the starting point for learning should be a problem; (2) the implementation should be an educational approach rather than a sporadically used technique in a traditional program; (3) it should be a learner-centred approach. Schmidt (1983) argued for the success of PBL on the basis of its implementation of three key principles of the information processing approach, namely, activation of existing knowledge when learning begins, encoding of retrieval cues with learned information, and elaboration of knowledge through immediate application. As problem-based learning is a studentcentered process, it is the responsibility of the individual student to participate fully, not only for his or her own learning, but also to aid the learning of others in the group. In PBL, students devise a plan for gathering more information, then do the necessary research and reconvene to share and summarize their new knowledge in the group. Students may present their conclusions, and there may or may not be an end product.Again, students should have adequate time for reflection and self-evaluation. Although students generally prefer problem based learning courses, to be successful in thier study they need to change their traditional assumption of the teacher's role as a main or sole disseminator of knowledge and the traditional approach of learning by memorization of

174

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

facts (Donnelly & Fitzmaurice, 2005). Without these changes, students will have difficulties in engaging in the learning process (Reithlingshoefer, 1992). Barrows (1986) listed four objectives which he claimed were not well addressed by other educational methods but might be achieved through PBL: structuring of knowledge to support practice; developing effective clinical reasoning; developing self-directed learning skills; and increasing motivation for learning. Schmidt (1983) argued that in PBL settings students implement the three key principles of the information processing approach to learning: (1) activation of existing knowledge when learning begins; (2) encoding of retrieval cues with learned information; and (3) elaboration of knowledge through immediate application. To summarize this section, PBL can improve students' learning process and learning outcomes. PBL encourages students to think more about connecting academic knowledge with practical applications. PBL also can increase students' motivation for self-directed learning. On the other side, the success of PBL relies heavily on the attitude of the individual student. Therefore, students' characteristics especially their motives and their approach to

learning - are important factors that determine the success of the learning experience. Students' Learning Process In the previous sections, it has been argued that both online learning and problembased learning require students with certain characteristics to reap the benefits of the learning experience. Biggs and Collis (1982) argue that learning outcomes are determined by interactions between teaching procedures and student characteristics. In his General Model of Student Learning, Biggs proposed that academic attainment was a result of both “personological” factors and “institutional” factors. Biggs argued that the effects of personological and institutional factors on students' academic performances were mediated by “study processes”, which included students' values, motives, and strategies. The personological and institutional factors constitute independent variables; study processes constitute intervening variables; and measures of academic attainment constitute dependent variables. This paper used Biggs' model with several modifications to suit the purpose of this study which focus on the application of online learning in a Journalism training (see Figure 1).

Figure 1. Biggs’ General Model of Student Learning Personal Prior Knowledge (Journalism) Abilities (Computer) (Internet) Situational Teaching method: (Online Learning) (Face-to-face)

Performance Learning Process Complex (Study Approaches) Grade Productivity (Assignments) Quality of works (SOLO level)

The term “learning approach” refers to the method by which students attend to the process of learning and the effect this has on the learning outcome. Biggs (1987) proposed that learning approach refers to students' motives and strategies for learning. A learning approach implies a motive or intention to learn as well as the adoption of strategies to fulfill that intention (Edwards, 1999).

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

175

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

Tabel 1. Motive and Strategy in Approaches to Learning Approach SA:Surface Motive Surface motive (SM) is insttumental: its main purpose is to meet requirement minimally; a malance between working too hard and failing. Deep Motive (DM) is intrinsic: study to actualize interest and competence in particular academic subject. Achieving Motive (AM) is based on competition and ego-enhancement; obtain highest grade, whether or not material is interesting. Strategy Surface Strategy (SS) is reproductive: limit target to bare essential and reproduce through rote learning. Deep Strategy (DS) is meaningful: read widely, inter-relate with previous relevant knowledge. Achieving Strategy (AS) is based on organizing one’s time and working space: behave as ‘model student’.

DA:Deep

AA:Achieving

Marton and Säljö (1976a, 1976b) found that students demonstrated different learning outcomes dependent on the way they processed the material to be learnt. The manner in which they processed the material was related to the intention of the student. The students who used the strategy of reading the text and focusing on detail and memorization demonstrated poor grasp of the overall meaning of the material. Those who focused on the main points and tried to inter-relate them with other data in the material or their own experiences were able better to understand the material. Marton and Säljö (1976a) termed the former “surface processing” and the latter “deep processing.” Biggs (1987) proposed a third approach of learning, labeled “achieving”. Ramsden and Enwistle (1983) labeled this a “strategic approach.” An achieving approach is thought to reflect the desire to attain the highest marks possible in order to boost self-esteem. It uses such strategies as good organization, completing set work on time, and trying to influence self-perception as successful students (Ramsden & Enwistle, 1983). Table 1 describes the motives and strategies component of these learning approaches (Biggs, 1987). The Quality of Learning Outcomes After the students have experienced a learning session, an evaluation is needed to measure how much has been learned and how well it has been learned. Marton (1976) states that this evaluation involves both quantitative and qualitative aspects. Biggs & Collis (1982,

1989) developed a taxonomy known as the Structure of Observed Learning Outcome (SOLO). This taxonomy describes the structural organisation of knowledge and has been used mainly to measure secondary and tertiary students' learning (Biggs & Collis, 1982, 1989; Boulton-Lewis, 1994, 1995). The SOLO taxonomy focuses on the structure of an individual's response to describe the quality of the learning. The SOLO taxonomy is based on measuring the complexity of thought processes in the student's statements, based on a classification into prestructural, unistructural, multistructural, relational and extended abstract,. The stages are derived from the work of Piaget and his stages of cognitive development. Statements are expected to show a continuum of learning from initial recognition to reflection and complex understanding (Hewson & Hughes, 1998). The SOLO taxonomy is a well-established technique for establishing the presence of deep learning. Biggs and Collis (1982) provided detailed examples how the SOLO Taxonomy could be applied in the assessment of students' work in various subjects including history, mathematics, English, geography, and modern languages. Many other studies have provided evidence that the SOLO Taxonomy is useful as an assessment instrument in various subjects and disciplines such as social numercy, counselling, biochemistry, and reflective writing. It is argued that the taxonomy also can be used as an assessment instrument for students' work in journalism.

176

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

Methodology and Procedures This study was an investigation of the application online learning ad its impacts on students' learning. In order to carry out the investigation, an online class had to be set up as an alternative to the regular face-to-face class. The online class had the same features as the faceto-face class in its course materials, its assessment tasks and assessment techniques. The only difference was the teaching method. While the face-to-face class used lecturing as the main teaching method, the online class used a combination of problem-based learning and webbased learning as the method of instruction. The Journalism Online class was problem-based. For each unit in the syllabus, students were presented with a problem based on a realistic journalism situation. The students had to address the problem using the theory they had acquired in the literature. Each unit used the same format: students were required to complete a set of tasks in specified times. For each unit, the group of students was presented with a problem based on a real-life journalism situation. Along with the problem, there was prescribed material from the literature that needed to be read by each student. After reading the prescribed materials, each student individually posted his or her response to the group discussion forum. Other members of the group could comment on those responses, and then one member of the group would post a conclusion based on the members' responses. This conclusion became the group response to the problem. Subjects for this study comprised the total population (n = 72) of third year students enrolled in the Journalism Course in the Department of Communications, Sebelas Maret University, Surakarta, Indonesia. The subjects were 22 male and 50 female, all of whom had some experience in using a computer and the internet. Subjects in this study were divided randomly into two groups: the control group (faceto-face class) and the experimental group (online learning). Instrument used in this study comprised of a set of questionnaires to measure the independent variables: prior knowledge of Journalism, computer and internet skills, and Biggs' Study Process Questionnaires (SPQ) to measure the learning approaches used by the students. The dependent variables examined in

this study include: student's grades, productivity (the number of submitted writing assignments), and the quality of students' works (using SOLO Taxonomy developed especially for assessing Journalism works). There were two phase of data collection: before and after the course commenced. On the pre-test data collection, both groups were administered with all the questionnaires, while in the post-test data collection, only the SPQ were administered to both groups. The administration of SPQ on the pre-test and posttest data collection was used to determined whether any changes of learning approaches had occured as a result of different learning experience. Another set of questionnaires were administered only to the Online Class group to measure the students' perceptions on their learning experience in the Online Class. The stastitical analyses undertaken in this study comprised of: descriptive statistics, correlations, means comparisons (t-tests), and a series of Analyses of Variance (ANOVAs). Results and Implications The Impacts of Online Learning The Online Class in Journalism which incorporated the principles of Problem Based Learning (PBL) in an online learning environment was demonstrated to produce higher quality outcomes than traditional lecturing in a face-to-face setting. The superiority of the Online Class over the traditional Face-to-face class was confirmed in three ways. 1. Students in the Online Class produced better learning outcomes in terms of their grades, their productivity, and the quality of the news pieces they produced compared with students in the face-to-face class. 2. Students in the Online Class indicated that they experienced deeper learning practices in the Online Class compared with their learning experiences in face-to-face classes they have attended previously. 3. Participation in an Online Class helped improve the academic performance of students who indicated that they held inferior or undesirable approaches to learning. It has been argued that these results can be attributed to features of the learning environment. Those features are the Problem Based Learning approach, collaborative learning, and asynchronous web-based discussion. The com-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

177

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

bination of these features in a learning situation seems to have been instrumental in producing better quality learning, developing the practice of deep learning, and encouraging students to adopt a more active attitude towards their work, and as a result to be more productive. One of the key features highlighted in this study is the efficacy of presenting students with real-life situations or problems that need to be addressed and solved using theoretical perspectives they have obtained from course materials. This approach reduces the danger of students gaining knowledge of theories without developing the ability in put those theories into practice. This remains a major problem in tertiary education, especially in developing countries such as Indonesia. This approach also reduces the danger of students developing practical capabilities without a solid theoretical foundation, a situation which can emerge in apprenticeship programs in the media industry. Using real-life situations, one of the guiding principles of problem-based learning, enables students to obtain the “know what” as well as the “know how” of the practice of journalism. The second key element emphasized in this study is the use of online technology (in this case, a web-based asynchronous discussion forum) as the medium for delivering the course contents and as the medium for communication to and interaction with the participants, both students and lecturer. This online medium provides a more flexible learning situation (in terms of space and time), and, it is argued, encourages deeper and more active learning by students. The web-based discussion forum keeps a record of every contribution by each student and this record can be accessed any time. As a result, students can read and re-read as much as they need, at their own pace, in an attempt to understand the topic under discussion. This situation is cannot occur in a face-toface class because some students may not be able to keep up with the speed of other students' thinking or presentation of arguments and as a result they can lose track of the discussion. The asynchronous nature of web-based discussion also gives students more time to reflect and think before they make a contribution. The students are given more time carefully and thoughtfully to compose, edit and revise their opinions or comments before they submit

them to the discussion forum. This situation is seldom present in a face-to-face class. In faceto-face discussion, there is usually not enough time for every student to express their opinions. The time is taken up by students who have more confidence in public speaking, while students who are shy or who have a slower pace in learning usually stay in the background and do not volunteer their opinions. The online environment gives equal opportunities for all students to make a contribution to the class discussion. The collaborative learning required in the Online Class seems to help students adopt a more active and productive attitude to learning. The absence of direct encounters with other students and the lecturer may have encouraged students to make a greater contribution to discussions compared with their contribution in a face-to-face setting. The students who find that they have difficulty speaking in public now can have more freedom to express their views in writing. Although they know their fellow students and the lecturer will be reading what they write, the absence of the physical presence of other participants may make the process easier for them. The other factor that might have been helpful in encouraging students to contribute more is their realisation that, in the online environment, they have more time for thinking and revising before submitting their work. An implication of this study is that a combination of a problem-based approach with a web-based discussion format provides an alternative or a substitute model for the lecture/tutorial method that is still used widely in higher education. This study has demonstrated that this model has enhanced students' deeper learning practices and has improved learning outcomes in a journalism course. It is likely that the application of this model will produce similar benefits not only for other professional courses that want equip their students with knowledge as well as skills, but also for other courses, as long as the course can provide students with problems (scenarios) that mirror a real world situation they may encounter. To gain the optimal benefits of this model, the format and requirements the course need to ensure the active involvement of each student. Without a mechanism or a rule that “forces” individual students to get involved in the learning process, the discussion will be dominated by

178

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

few active students and the course will be little different from face-to-face classes. Student Learning Approaches Although this model with its combination of a problem-based approach and an online discussion format was demonstrated to be beneficial for students at large, the learning environment is not the only factor affecting students' learning. Another important factor is the learning approach adopted by students. It emerged in this study that students with inferior approaches to learning who engaged in the Online Class outperformed students with better learning approaches in the face-to-face class. When comparisons were made among students in the Online Class only, it was found that students with better learning approaches (deep and achieving approaches) generally produced better outcomes than those who adopted inferior approaches. The implication of these results is that, although the environment provided by the Online Class provides advantages over the face-toface class, it is up to individual students to adopt appropriate learning motives and strategies if they wish to produce high quality learning. The flexibility of place and time in the Online Class might be more of a peril than a privilege for students who do not have appropriate learning behaviours. The online learning environment demands significant attributes from students including self-direction, motivation, and selfresponsibility. This is also true for the application of a problem-based approach. The problem-based approach requires that students adopt specific attitudes toward learning. Students need to accept that it is they and not the lecturer who play the dominant role in learning. They have to discard the commonly held attitude that lecturer is the sole source of knowledge. Students need to be active in searching for information. And, the most importantly, students have to be aware that in a problem-based approach, they will be asked to apply knowledge or theories to solve a real-life problem, not merely memorize and recite facts. Conclusions and Recomendations Given that the current study has demonstrated that online learning can provide learning experiences and learning outcomes that are si-

milar to, or better than, face-to-face lecturing and discussion, online courses should be used as an alternative or a replacement for existing face-to-face courses. Considering the application of online courses, the format that seems most beneficial is a combination of a problembased approach and online discussion. Putting lecture notes or some audio/visual or multimedia materials on the web is not sufficient for an online course. If an online course is to produce maximum benefits, two features should be incorporated in the teaching and learning format. Though there are a wide range of format and media that can be used, including text-based scenarios or digital audio/visual and multimedia, the emphasis should be on the learning process that involves real-life problem-solving in collaborative learning situations. The development of an online course does not guarantee an ideal learning experience and desirable outcomes. Equally important are the learning motives and strategies adopted by the students. Because students need to adopt desirable attitudes and behaviours to be successful in an online course, it is recommended that a preparation or introduction course is provided for students prior to the commencement of the online course. This preparation course should make students aware of the factors that will lead to success. These factors not only include the technical skills for working online but also, and more importantly, the development of desirable attitudes (for instance, motivation, time management, self-regulation) and skills such as problem-solving and writing. Aside of the course content, another factor that also determines the success of an online course is sufficient resources including equipment (servers, PCs, network, modems, telephone lines, etc.) and technical officers who can provide assistance. Often, lecturers do not possess adequate skills to set up the online course. They might be experts in the subject and have developed excellent course content, but they require assistance with setting up the online course and maintaining the “technical aspects” which include setting up the server and the network and installing the course management software with the aid of skilled technicians (such as server administrators, web-designers, and computer technicians). It is recommended that before the decision is taken to implement an

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

179

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

online course, a thorough study of the institution's readiness to do this effectively is undertaken. There are financial issues that need to be considered carefully. The cost of setting up an online course, especially when all the hardware is to be purchased and a new computer network built, is relatively high. There is also the cost of purchasing the CMS (Course Management System) software, although there are some Open Source CMS programs that are available for free (for example Moodle). In addition to the cost, establishing the course content for the first time requires time and effort. Another factor is the time and expertise required to upload all the course content and test it before launching the course. On a more positive note, once the course is set up correctly, the workload of updating and maintaining the course is lighter. In developing countries like Indonesia there are some regions that do not have telephone access, so there can be no internet access. In the regions that have internet service, not every student has access to a personal computer or to internet access in their homes. Those who do not have internet access at home usually rely on internet cafes or internet connection at their campus or office. The cost of internet service is still relatively expensive. Because of these constraints, it is recommended that prior to the development of an online course, market research is conducted to determine whether potential students will be able to afford the cost of an online course, not only the tuition fees but also the cost of purchasing the hardware and the internet connections they will need. References Barrows, H. S. (1986). A taxonomy of problembased learning methods. Medical Education, 20, 481-486. Biesenbach-Lucas, S. (2003). Synchronous discussion groups in teacher training classes: Perceptions of native and non-native students. JALN vol 7 no. 3. p. 24-46. Biggs, J.B. & Collis, K.F. (1989). Towards a model of school-based curriculum development and assessment: Using the SOLO taxonomy. Australian Journal of Education, 33, 149-161.

Biggs, J.B. (1987). Student Approaches to Learning and Studying. Melbourne: Australian Council for Educational Research. Biggs, J.B. and Collis, K.F. (1982). Evaluating the Quality of Learning: The SOLO Taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Sydney: Academic Press. Bonk, C., & Kim, K. (1998). Extending sociocultural theory to adult learning. In M. C. Smith & T. Pourchot (Eds.), Adult learning and development: Perspectives from Educational Psychology (pp. 67-88). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum. Boud, D. (1985). Problem-based learning in perspective. In D. Boud (Ed.), ProblemBased Learning in Education for the Professions (pp. 13-18). Sydney: Higher Education Research Society of Australasia. Boud, D., & Feletti, G. (Eds.). (1991). The challenge of problem based learning. New York: St. Martin's Press. Boulton-Lewis, G.M. (1994). Tertiary students' knowledge of their own learning and a SOLO taxonomy. Higher Education, 28, 387-402. -----. (1995) The SOLO Taxonomy as a Means of Shaping and Assessing Learning in Higher Education, Higher Education Research and Development, 14(2), 143-154. Charlin, B. et.al. (1988). The many faces of problem-based learning: A framework for understanding and comparison. Medical Teacher, 20 (4), pp. 323-330. De Burgh, H. (2003). Skill are not Enough: The Case of Journalism as an Academic Discipline. Journalism 4 (1), 47-63. Donnelly, R. & Fitzmaurice, C. (2005). Collaborative Project-based Learning and Problem-based Learning in Higher Education: A Consideration of Tutor and Student Roles in Learner-Focused Strategies. In O' Neill, G. , Moore, S., McMullin, B. (Ed s). Emerging Issues in the Practice of University Learning and Teaching. Dublin: AISHE, 2005. Edwards, P.S. (1999). The Impact of Instructional Interventions on Students' Learning Approaches, Attitudes and Achievement. PhD Thesis. Newcastle: Curtin University of Technology. Flew, Terry (2002). New Media: an Introduction. Oxford: Oxford University Press.

180

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Hastjarjo : Online Learning and the uality of Learning in Journalism Course

Gagne, R.M. (1974). Principles of Instructional Design. New York: Holt, Rinehart and Winston. Harasim, L.M. (1990). Evaluating the Virtual Classroom in Harasim L.M. Online Education: Perspectives on a New Environment. New York: Praeger. Hewson, L. and Hughes, C. (1998) Templates for online teaching, ASCILITE'98, 329338 [on-line] http://cedir.uow.edu.au/ ASCILITE98/asc98-pdf/hewsonhughes. pdf. Hiltz, S.R. (1994). The Virtual Classroom: Learning Without Limits Via Computer Networks. Norwood:Ablex Publishing. Kearsley, G. (1997). A Guide to Online Education <http://gwis.circ.gwu.edu/~etl/ online.html>, accessed 3 February 2004. Littlejohn, A. and Stefani, L.A.J. (1999). Effective use of communicaton and information technology: Bridging the skills gap. ALT-J: Association for Learning Technology Journal, 7, 2, 66-76. Marton, F. & Saljo, R. (1976a). On qualitative differences in learning: outcome and process. Britich Journal of Educational Psychology, 46, pp. 4-11. Marton, F. & Saljo, R. (1976b). On qualitative differences in learning: outcome as a function of the learner's conception of the task. British Journal of Educational Psychology, 46, pp. 115-127. Marton, F. (1976). What Does it take to learn? Some implications of an alternative view of learning. In N. Entwistle (Ed.), Strategies for research and development in higher education. Amsterdam: Swets & Zeitzlinger. Mason, R. (1998). Globalising Education: Trends and Application. London: Routledge. Muklas, M.. Opening speech in the National C o n f er en ce o n D ev el o p men t o f Teledukasi Network. Jakarta, 9 August

2001. Norman, G. R., & Schmidt, H. G. (1992). The psychological basis of problem-based learning: A review of the evidence. Academic Medicine, 67(9), 557-565. Nunan, D. (1999). Second Language Teaching and Learning. Boston: Heinle and Heinle. Ramsden, P. & Entwistle, N. (1983). Understanding Student Learning . London: Croom Helm. Reithlingshoefer, S. J. (Ed.) (1992). The future of Nontraditional/Interdisciplinary Programs: Margin or mainstream? Papers from the Tenth Annual Conference on Nontraditional and Interdisciplinary Programs. Virginia Beach. Ryle, G. (1966). “Knowing How and Knowing That” in I Scheffler. Philosophy and Education. Boston:Allyn and Bacon. Sabine, G., & Gilley, D. (1999). Taking it online: A bootstrap approach. Proceedings of the Mid-South Instructional Technology Conference. Retrieved September 26, 2003, from http://www.mtsu.edu/~itconf/ proceed99/ gilley.htm. Salahub, E. (1997). Threaded Web Discussion. APA Newsletter vol. 7 no. 1. Schmidt, H. G. (1983). Problem-based learning: Rationale and description. Medical Education, 17, 11-16. Soekartawi. (2006). Blended e-Learning: An alternative for distance education in Indonesia. Paper presented in Distance Learning Seminar, University Islam Indonesia, Yogyakarta, June 2006. Utari, P. (2004). The Gap between Indonesian Media Training and the Profession: Factors Affecting Young Women in Communication Studies and Media Careers. PhD Thesis. The University of Newcastle. Witherspoon, J.P. and Johnstone, S.M. (2001). Qualitiy in online education: results from a revolution. Education at a Distance 15(30).

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

181

Jurnal Komunikasi Massa Vol. 2 No. 2 Januari 2009 hal. 182-189

Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008
Widodo Muktiyo
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

Pendahuluan Sejarah perkembangan surat kabar (koran) di Indonesia semenjak jaman penjajahan hingga era reformasi mengalami situasi pasang surut yang demikian tajam. Orientasi surat kabar berkembang mengikuti arah perkembangan masyarakat dan situasi politik yang sedang terjadi. Dari koran yang digunakan sebagai alat politik perjuangan untuk memompakan heroik kemerdekaan yang penuh retorika menjadi sebuah institusi bisnis yang sarat dengan modal yang besar dan teknologi tinggi yang diorientasikan sebagai mesin ekonomi politik untuk meraih keuntungan maupun kekuasaan. Media menjadi makhluk raksasa yang dikendalikan dengan berbagai kepentingan pemiliknya, seperti untuk tujuan-tujuan akumulasi kapital. Di Indonesia sampai Orde Baru hampir tidak dikenal adanya pers bebas seperti Undang-undang pengekang kebebasan pers pada zaman Hindia Belanda Drukpers Regiement di tahun 1856 dengan pemberlakuan sensor preventif; Pers Ordonantie tahun 1931 dengan model pembredelan. Zaman Jepang adanya Osama Seirei Undang-undang Nomor 16 tentang Pers tahun 1942 dengan sensor preventif. Pada zaman RI : Peraturan Peperti (Penguasa Perang Tertinggi Nomor 10 tahun 1960 yang memberlakukan izin terbit sampai dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 1966 tentang Ketentuan Pokok Pers dengan SIT yang kemudian menjelma menjadi SIUPP (Rosihan Anwar, pidato di UIN Syarif Hidayatullah, 2006) ternyata kehidupan koran senantiasa terus berjalan dengan dinamika yang tinggi.

Dalam pemerintahan Soekarno yang dikenal dengan zaman liberal (dasawarsa 1950an) kehidupan pers relatif menikmati kebebasan namun pihak penguasa dalam hal ini tentara menggunakan alasan keadaan SOB (Staat Van Oorlog en Beley) keadaan darurat perang melarang terbit koran selama beberapa hari. Oleh Marbangun dari Lembaga Pers dan Pendapat Umum koran dibagi menjadi party bound atau yang terkait dengan partai politik, milik partai dan menjadi corong partai dan party directed yaitu koran yang berorientasi pada ideologi partai tertentu tetapi bukan bagian dari organ partai. Pada masa rezim Orde Baru yang ternyata berlangsung 32 tahun menjadikan kehidupan koran berada dalam situasi yang berubah total atau posisi yang berlawanan yaitu media dijadikan sebagai aparatus penguasa, memperteguh kepentingan dan kehendak penguasa daripada menjadi institusi sosial yang independen. Media bukan sebagai pilar demokrasi tetapi sebagai pilar tegaknya rezim. Perubahan sistem politik di Indonesia yang selalu berjalan secara discontinuity, yang awalnya diharapkan melahirkan sebuah sistem politik yang lebih baik dan demokratis tidak menjadikan kondisi media massa berada dalam situasi yang menguntungkan. Orientasi pemerintah yang bertumpu pada upaya perwujudan stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan pembangunan kerapkali memperalat media sebagai jembatan penghubung maupun corong yang efektif dalam mensosialisasikan nilai-nilai tertentu yang mendukung kelanggengan kekuasaannya. Model-model komunikasi pembangunan yang sarat dengan ni-

182

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

lai-nilai status quo menjadi menu wajib bagi semua media. Runtuhnya hegemoni media yang terjadi bersamaan dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru menjadikan realitas media berubah secara mendasar atau mengalami perubahan paradigmatis. Era reformasi telah menciptakan suasana menuju tatanan yang yang diharapkan demokratis di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Keruntuhan Orde Baru pimpinan Soeharto tahun 1998 juga menjadi tanda babak baru dalam tatanan sosial, politik dan budaya. Perubahan terjadi ditandai dengan proses desentralisasi pemerintahan atau diberlakukannya model otonomi daerah, peningkatan partisipasi dan pelayanan publik dalam berbagai aspek kehidupan, serta lahirnya kembali kebebasan pers. Kehadiran media cetak berujud koran yang secara tiba-tiba berubah menjadi demikian banyak jumlahnya dan tidak hanya tersentral di Jakarta menjadikan booming baru dalam khasanah khalayak media. Alternatif dan pilihan terhadap beragam koran menjadikan pembaca lebih terpenuhi kebutuhannya. Surat kabar (koran) mulai merebak di berbagai daerah dengan berbagai orientasi dan kepentingannya masingmasing yang demikian beragam, situasi ini terjadi karena pada masa pemerintahan BJ Habibie dengan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah membuka kran perijinan dalam pembuatan koran mulai diperlonggar tanpa ada SIUPP lagi. Para kapitalis-kapitalis media yang baru mulai lahir dan dapat diidentifikasi dalam beberapa bentuk, yang pertama adalah kepemilikan institusi pers yang sifatnya lokal hanya dimiliki oleh warga atau pemodal setempat. Yang kedua adalah kombinasi adanya unsur pemilik lokal dengan para konglomerat nasional, sedangkan yang ketiga adalah murni dimiliki oleh pemilik media, yang punya jaringan berskala nasional yang berkeinginan memperluas jaringan bisnis medianya. Bahkan dalam masa Pilkada bergulir, media cetak lokal menjadi phenomena media lokal tersendiri di mana ia bisa berafiliasi pada kandidat tertentu calon kepala daerah sampai pada media lokal yang hanya hidup di saat pilkada berlangsung dan akan mati pada saat pilkada berakhir, sehingga model koran lokal yang partisan terhadap calon kepala daerah dapat terjadi secara eksplisit ataupun implisit yang kesemuanya demi kepentingan ekonomi dan juga politik lokal.

Surat Kabar Lokal dan Pilgub Jateng 2008 Dalam tulisan ini, penulis bermaksud menyajikan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah surat kabar lokal di Jawa Tengah (Jateng). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kecenderungan isi/produk yang dihasilkan oleh media yang bersangkutan selama periode bulan Januari sampai dengan Maret 2008. Harian lokal yang dipilih dalam penelitian ini adalah Harian Kompas (DIY/Jateng), Jawa Pos (Radar Solo), Solopos dan Suara Merdeka. Keempat media tersebut dipilih karena telah eksis dalam kurun waktu yang relatif lama (establish). Dengan menggunakan analisis isi, unit analisis dalam penelitian ini meliputi berita Pilgub dalam surat kabar yang ditunjang dengan foto, berita Pilgub tanpa foto, artikel Pilgub, paparan tentang cagub dan partainya, pemberitaan tentang KPU dan penunjangnya. Berikut ini adalah data hasil temuan penelitian yang diperoleh. Porsi pemberitaan terhadap tema Pilgub Jateng 2008 yang disertai dengan foto sebagai penunjang relatif sangat beragam (lihat Tabel 1). Suara Merdeka Semarang punya kuantitas yang paling tinggi (64) dibandingkan dengan 3 media lainnya. Jangkauan wilayah peredarannya yang paling menyeluruh di Jateng barangkali dapat menjadi alasan kuat tentang ini. Sementara itu Harian Kompas yang wilayah pasarnya juga lebih luas dibandingkan Solopos dan Jawa Pos (Radar Solo) mencoba melakukan penetrasi pasar yang juga relatif lebih kuat (25) dibandingkan dengan harian lokal Solopos. Kombinasi tayangan pemberitaan yang ditopang dengan foto cagubnya tersebut ternyata dapat menguatkan terhadap isi beritanya dan menjadi unsur peneguh dalam visualisasi citra cagub. Secara umum isi berita tentang cagub yang senantiasa diikuti dengan foto cagubnya dapat menguatkan maksud tertentu dalam pemberitaan oleh medianya. Meskipun demikian dibandingkan dengan totalitas pemberitaan yang ada kombinasi berita yang diserta dengan foto jauh lebih kecil. Perbandingan antara berita tanpa foto dengan yang disertai foto demikian kontras (lihat Tabel 2). Artinya penyertaan foto terhadap sebuah berita politik pilgub terasa sekali dalam pertimbangan keterbatasan ruang (Jawa Pos

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

183

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

77:8; Solo Pos 125:19; Suara Merdeka 184:64 dan Kompas 44:25). Terlihat di Kompas bahwa penyertaan foto menjadi lebih penting dalam menguatkan pemberitaan pilgub (44:25), sedangkan Solo Pos justru didominasi pemberitaan tulis saja tanpa foto (125:19), juga Jawa Pos yaitu 77:8. Tendensi terhadap penonjolan isi berita yang disertai foto akan lebih kentara kepentingannya sehingga dapat lebih mudah diinterpretasikan tertentu oleh publik. Kepedulian terhadap kajian ilmiah dan ditulis dari pihak luar media tampak nyata dalam kemunculan artikel yang berkaitan dengan event pilgub (lihat Tabel 3). Bangunan wacana ilmiah ini umumnya tidak memunculkan keberpihakan terhadap salah satu calon, andaikanpun terjadi itupun dikupas secara lebih ilmiah. Suara Merdeka yang dikendalikan dari ibukota provinsi tampak punya greget yang lebih tinggi dalam membangun wacana event pilgub secara lebih ilmiah dan ditulis oleh beragam penulis. Sementara itu, Jawa Pos terasa minim dalam pemberian ruang media untuk artikel. Kompas dan Solo Pos mempunyai jumlah yang sama dalam tampilan artikel yaitu 8 kali, meskipun tampak jelas Solo Pos mulai tinggi frekuensinya pada bulan Maret. Dari analisis tokoh yang dipapar oleh keempat media secara bersama (lihat Tabel 4) terlihat bahwa Bibit Rustri punya skor paling tinggi (67) diikuti Agus Kholiq (58), Tamzil Rozaq (49), Sukawi Sudharto (26) dan Bambang Adnan (25). Namun, apabila dilihat per media maka Bibit-Rustri terbanyak di Suara Merdeka (25) dan Solo Pos (24), Agus-Khaliq terbanyak di Suara Merdeka (29) dan Solo Pos (18); Tamzil-Rozak terbanyak di Suara Merdeka (21) dan Solo Pos (14), Sukawi-Sudharto terbanyak di Suara Merdeka (15) dan Solo Pos/Kompas (5), Bambang-Adnan terbanyak di SM (10) dan Solo Pos (10). Di Suara Merdeka urutan berdasarkan banyaknya terpaan adalah Agus-Khaliq, Bibit-Rustri, Tanzil-Razak, Sukawi-Sudahrto, dan Bambang-Adnan. Di Espos urutan terbanyaknya: Bibit-Rustri, Agus-Khaliq, TamzilRazak, Bambang-Adnan, dan Sukawi-Sudharta. Di Kompas urutan terbanyaknya adalah Bibit-Rustri (15), Agus-Khaliq, dan Tanzil-Razak (10), Sukawi-Sudharta (5) dan Bambang-Adnan (4). Dalam 3 bulan terakhir, ketidakpastian Ali Mufiz dalam pencalonan cagub punya porsi

pemberitaan yang tinggi di Suara Merdeka (18) dan Kompas (10). Di bulan Maret, Ali Mufiz sudah tidak menarik diberitakan dalam pencalonan hanya di Suara Merdeka (5) itupun lebih sebagai gubernur. Jawa Pos dalam penayangan berita pilgub yang berimplikasi pada sosok cagub sangat minim. Untuk 5 kandidat plus gubernur secara khusus hanya dibahas 9 kali. Pemberitaan dalam cagub Jateng ternyata juga berisi tentang beragam informasi seperti yang berkaitan dengan KPUD, Panwas, Soal KTP dan kartu pemilih, Polling, Sosialisasi, Lelang, Pemantau sampai juga KPK. Secara kuantitatif yang paling sering memuat isu-isu tersebut Suara Merdeka (109), Solo Pos (90), Jawa Pos (77) dan Kompas (35). Porsi pemberitaan yang tinggi pada unsur penunjang menjadikan nilai/bobot netralitas media terhadap keinginan menayangkan sosok tertentu sedikit terkaburkan. Kecenderungan Isi Media Cetak Lokal dalam Pilgub Jateng 2008 Dalam analisis kualitatif Solo Pos dalam pemberitaan Pilgub lebih sering berisi pemberitaan yang terdiri atas beberapa Cagub sehingga lebih sulit dilihat kecenderungan pada Cagub tertentu dan menguatkan pada spirit netralitas. Pemuatan rubrik warga bicara pada bulan Februari di Jawapos memberi keragaman tersendiri karena setiap rubriknya berisi antara 2 sampai dengan 3 pendapat dari masyarakat, meskipun ditulis secara singkat. Kompas sebagai jaringan koran nasional dalam menaruh perhatian terhadap event pilgub secara umum lebih besar dibandingkan koran nasional Jawa Pos. Kecenderungan penggarapan terhadap berita-berita politik lokal (pilgub) sebagai komoditas lebih diperhatikan oleh media lokal Solo Pos dan Suara Merdeka. Secara kuantitatif pemuatan cagub tertentu memberikan gambaran bahwa ada atensi yang lebih kepada cagub tertentu apabila dibandingkan dengan cagub yang lain. Seperti munculnya Bibit Rustri yang relatif baru namun frekuensinya cukup tinggi, baik di Solo Pos (24), Suara Merdeka (15) dan Kompas (15). Bambang Adnan yang lebih dulu muncul justru punya frekuensi paparan relatif kecil yaitu Solo Pos (10), Suara Merdeka (10) dan Kompas (4). Tamzil yang jauh-jauh hari sudah tampil meskipun sendirian punya frekuensi paparan yang relatif tinggi di Suara Merde-

184

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

ka (22), Solo Pos (14) dan Kompas (10). Oleh Mosco (1999) secara khusus juga dijelaskan dalam mengamati realitas media sebagai institusi sosial sekaligus institusi bisnis dihadapkan pada 3 konsep dasar yaitu komodifikasi, spasialisasi dan strukturasi. Komodifikasi mengacu pada proses transformasi nilai guna, nilai yang didasarkan pada kemampuan dalam memenuhi kebutuhan terhadap suatu nilai tukar yang didasarkan pada kepentingan pasar. Komodifikasi ini menjadi penting dalam komunikasi karena prosesnya akan memberikan sumbangan dalam proses komodifikasi ekonomi secara keseluruhan. Dalam praktik komodifikasi dapat mencakup dalam tiga kategori, yaitu : komodifikasi isi, komodifikasi khalayak dan komodifikasi cybernetic. Komodifikasi isi merupakan proses mengubah pesan dari sekumpulan data ke dalam sistem makna yang kemudian dapat dipasarkan. Berbagai exposure terhadap nilai-nilai lokal Budaya Jawa di dalam koran lokal sebagai manifestasi dan aktualisasi dari nilai-nilai lokal tersebut dapat difahami sebagai sebuah proses komodifikasi yang sangat strategis. Proses olahan dalam ruang redaksi akan berjalan demikian dinamis dalam berbagai pertimbangan antara struktur dan agensi. Representasi isi yang muncul tersebut pada akhirnya menjadi exposure yang telah mengalami proses komodifikasi. Bila selama ini isi media yang dinilai layak jual lebih banyak berkisar pada isu-isu politik maupun yang berbau sex, perang ataupun ke-\kerasan, maka jenis isu yang mengandung nilai-nilai budaya setempat dapat dijadikan sebagai sebuah keragaman isi dalam konteks komoditas yang mudah menyentuh emosi khalayak atau ada unsur-unsur sentimen kedaerahan, kedekatan geografis ataupun kebanggaan lokal yang bisa diolah dalam proses produksi media hingga menghasilkan produk akhir yang bernilai jual bagi medianya. Komodifikasi khalayak memiliki makna bahwa media mampu menghasilkan sebuah proses yang memungkinkan media menjajakan sejumlah khalayak sebagai konsumen. Media hadir dalam kerangka hubungan dengan pihak lain yaitu pembacanya. Realitas isi yang hadir menjadi sebuah komodifikasi yang senantiasa direlasikan dengan kepentingan institusi bisnis lainnya seperti pengiklan, biro iklan atau pihak-

pihak yang ingin menjadikan media sebagai wahana “tampil” yang efektif. Komodifikasi khalayak menjadi bagian integral dari komodifikasi isi dalam menopang survival institusi media. Dalam praktek terhadap nilai-nilai budaya setempat maka relasi itu akan saling menguatkan terhadap isi yang hendak dibangunnya sehingga keterlibatan khalayak menjadi perlu dipertimbangkan secara mutualistik. Komodifikasi khalayak mengaggregasikan berbagai unsur dalam sebuah kepentingan yang lebih utama yaitu keuntungan bagi medianya oleh karena proses tersebut menjadikan media berada dalam tujuan utama dalam hal keuntungan kapitalnya. Dalam komodifikasi cybernetic dibagi me-liputi komodifikasi instrinsik dan ekstrinsik. Komodifikasi instrinsik adalah tinjauan layanan jasa rating khalayak oleh media sehingga yang dipertukarkan bukan pesan atau khalayak akan tetapi nilai rating yang dihasilkan. Berbagai lembaga riset media meneliti, mengolah dan menjual hasil kajian yang menyangkut rating tersebut sebagai sebuah komoditas yang diperlukan media agar senantiasa berada dalam tampilan yang optimal di mata khalayaknya. Dalam media penyiaran seperti TV proses ini banyak ditempuh sehingga kepentingan rating sebagai panglima bagi pengelola media. Namun dalam media cetak rating juga tetap dipertimbangkan sebagai hasil survey seperti SRI atau media scene menjadi acuan penting dalam penentuan ragam isi di masa yang akan datang. Komodifikasi ekstrinsik merupakan proses komodifikasi yang menjangkau seluruh kelembagaan pendidikan, informasi pemerintah, media dan budaya yang diharapkan menjadi pendorong bagi khalayak sehingga tidak semua orang dapat mengakses produk media. Dengan demikian komodifikasi cybernetic menjadikan media sebagai sebuah ajang adu prestasi yang dinilai publik. Media menjadi representasi persepsi publik dimana diversitas isi didasarkan atas adanya selera dan penilaian publik akan senatiasa menjadi parameter keberhasilannya mengelola media. Keberadaan media massa tidak pernah steril dari berbagai kepentingan ideologi, kepentingan pemilik modal, penguasa, kepentingan politik ataupun kepentingan lainnya yang menjadikan masyarakat pada akhirnya sering terjadi ketegangan terbuka yang berupa konflik

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

185

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

ataupun ketegangan laten lainnya. Berbagai konflik tersebut berada pada sekian ragam ideologi yang bersaing di tengah-tengah masyarakat. Media akhirnya berperan sebagai penyalur (disseminator) dan “toko“ informasi. Antonio Gramci (1981) mengatakan media adalah the battle ground for competition ideologies. (Sobur, 2001: 30). Kerja jurnalistik dari ketiga media (Solo Pos, Suara Merdeka, dan Kompas) dalam event pilgub Jateng ternyata punya kecenderungan yang hampir sama yaitu ada sikap simpati tertentu yang nilainya relatif kecil dan sulit dideteksi secara kasat mata. Sementara itu Jawa Pos barangkali masih menunggu moment berikutnya. Media massa dalam pandangan McQuail (2000:66) punya peran strategis yaitu: pertama, media massa dilihat sebagai window on event and experience. Dengan media memungkinkan khalayak bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar dirinya. Media juga dapat dijadikan sarana belajar terhadap berbagai peristiwa tersebut. Peran strategis bagi media lokal tidak lepas dari mencuatnya isu-isu dan peristiwa-peristiwa lokal yang senantiasa dibumbui oleh kultur setempat. Potret lokalitas menjadi menu penting bagi media agar ia punya nilai lebih dan punya ”greget” yang beda dengan media global. Kedua, media massa dapat dipandang sebagai a mirror of events in society and the world, implying a faithful reflection. Media sebagai cermin beragam kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan seluruh penjuru dunia, yang direfleksikan secara apa adanya. Refleksi terhadap berbagai fakta seringkali tidak dipertimbangkan ekses yang ditimbulkan bilamana ia sekedar memaparkan fakta an sich. Sehingga dalam narasi pemberitaan ataupun gambar/visual kerapkali fakta dipaparkan apa adanya yang kemudian berdampak negatif bagi khalayak. Dalam konteks inilah media lokal dapat secara lugas memainkan proses pemotretan realitas lokalnya dalam bingkai lokal. Kelenturan dalam menangkap gejala-gejala lokal yang sarat dengan nuansa kulturalnya akan menjadikan media lokal lebih membumi bagi khalayaknya. Ketiga, media sebagai gatekeeper yang dituntut mampu melakukan seleksi terhadap berbagai hal, hal-hal mana yang dianggap penting dan mana yang tidak, sehingga media melakukan proses seleksi berbagai isi yang hendak

disajikan dalam kacamata pengelolanya. Media memilihkan sesuatu sajian yang dikonsumsi khalayaknya. Keempat, media juga dipandang sebagai pembimbing maupun penerjemah terhadap berbagai hal sehingga tanpa sadar khalayak ditunjukan arah atas berbagai alternatif yang sangat beragam. Kelima, media dipandang sebagai wahana atau forum yang dapat digunakan untuk mempresentasikan berbagai ide dan informasi kepada khalayak yang kemudian memungkinkan terjadinya respon atau umpan balik yang sifatnya dua arah. Dalam berbagai peristiwa kasus tertentu disebut polemik. Keenam, media massa dapat dilihat sebagai interlocutor. Media menunjukkan terjadinya komunikasi yang interaktif, bukan sekedar medium untuk lalu lalangnya informasi tetapi sebagai partner yang bisa lebih intent. Narasi yang lahir dalam terminologi lokal akan lebih mengesankan nilai yang mengena dan lebih interaktif terhadap idiomidiom lokal, baik dalam bahasa, lambang maupun kode-kode lokalnya. Media massa menjadi medium yang strategis dalam berbagai proses sosial, ekonomi dan politik bangsa. Produk media dapat mempengaruhi berbagai sikap dan perilaku masyarakat dan mampu menanamkan gambaran tertentu dalam benaknya oleh Walter Lippman (1921) disebut sebagai the pictures in our heads. Realitas yang dibangun media senantiasa direspon khalayaknya sebagai sebuah produk yang hendak dikonsumsinya layaknya produk-produk lainnya, sehingga paparan media dipandang merepresentasikan realitas obyektifnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Teori Kultivasi George Gerbner (1972), spiral of silence Noelle Neumann (1974) maupun Agenda Setting oleh Mc Comb and Donald Shaw (1969). Apabila pemberitaan cagub kali ini lebih menggambarkan adanya atensi media terhadap berbagai realitas yang melekat pada cagub maka pada waktu-waktu yang akan datang sangat mungkin para tim sukses memilih media yang tepat dalam beriklan atau advertorial. Modelmodel iklan di TV lokal hingga saat ini belum disentuh oleh aturan yang ketat. TV lokal akan memanfaatkan kondisi ini sampai titik tertentu aturan ditegakkan layaknya pemasangan spanduk/baliho yang sekian lama dibiarkan jalan sendiri-sendiri. Sukses Pilgub dan netralitas

186

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

media adalah indikator pendidikan demokrasi yang makin dewasa dan matang karena tarikan politik sesaat tidak melunturkan idealisme media. Media Hidup karena konsumen bukan iklan partai Penutup Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa media cetak memiliki kecenderungan tersendiri dalam pemberitaan tentang Pilgub Jateng 2008. Kecenderungan ini selain dipengaruhi oleh cakupan geografis dan ideologinya, juga dipengaruhi oleh mekanisme yang berlangsung dalam proses redaksi media yang bersangkutan. Netralitas media dalam pemberitaan di ranah politik merupakan tuntutan yang harus dilakukan sebagai upaya menjalankan fungsi media sebagai egen pendidikan politik bagi masyarakat. Kecenderungan pemberitaan dan wacana media dalam peristiwa pilgub Jateng 2008 kali ini menunjukkan adanya keterkaitan dengan hasil pilgub itu sendiri yaitu pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih yang pada akhirnya menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur memang sejak awal lebih unggul dalam membangun wacana di media tersebut. Dinamika Koran daerah tetap menarik dalam kontek social politik yang sedang berlangsung.

Daftar Pustaka Adam, A. (1995). Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan. Jakarta: Hasta Mitra-Pustaka Utan Kayu. Albaran, A.B. (1966). Media Economics, Understanding Markets, Industries and Concepts. Ames: Iowa State University Press. Arawinda, J. (2005). Ekonomi Politik Media Majalah Hiburan Pria. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi, Vol. IV/No. 3, September Desember. Badriati, M. (2006). Dominasi Pemilik Modal dan Resistensi Pekerja Media. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi. Vol. V/ No. 1 Januari April. Darmopamujo, S. (2002). Pers Berbahasa Jawa Tinggal Kenangan. Suara Merdeka, 14 Februari. Deliarnov. (2006). Ekonomi Politik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Emka, Z.A. (2005). Wartawan Juga Bisa Salah. Surabaya: StikosaAWS.

Gustama, T.R. (2004). Manifestasi Hegemoni Media Internasional di Tingkat Lokal. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi, Vol. III/No 1 Januari April. Hamad, I. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: Granit. Hidayat, D.N. (1997). Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi. ISKI, September. -----. (2004). Media Massa dan Konstruksi Realitas Politik. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi, Vol. III/ No.1 JanuariApril. -----. (2005). Membumikan Kriteria Kualitas Penelitian. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi, Vol. IV/No 1, Januari April. -----. (2005). Teori dan Penelitian, dalam Teoriteori Kritis. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi Vol. IV/No. 2 , Mei Agustus. Hidayat, D.N. et al. (2000). Pers dalam Revolusi Mei, Runtuhnya Sebuah Hegemoni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lippman, W. (1998). Pendapat Umum. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Littlejohn, S.W. (2006). Theories of Human Communication. Belmont: Wadsworth Publishing. Lukmantoro, T. (2002). RUU Penyiaran dan Budaya Lokal. Suara Merdeka, 14 September. Luwarso, L. (ed.). (2003). Mengatur Kebebasan Pers. Jakarta: Dewan Pers & Unesco. -----. (2005). Kompetensi Wartawan: Pedoman Peningkatan Profesionalisme Wartawan dan Kerja Pers. Jakarta: Dewan Pers & FES. McQuail, D. & Siune, K. (1998). Media Policy Convergence, Concentration & Commerce. London: Sage Publication. McQuail, D. (2005). McQuil's Mass Communith cation Theory 5 Ed. London: Sage Publication. Mosco, V. (1996). The Political Economy of Communication, Rethingking and Renewal. London: Sage Publications, London. Nasir, Z. (2005). Perubahan Struktur Media Massa Indonesia dari Orde Soeharto ke Orde Reformasi. Thesis - Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi Vol. IV/No. 2 , Mei Agustus. Oetama, J. (2001). Pers Indonesia Berkomunikasi Dalam Masyarakat Tidak Tulus. Ja-

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

187

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

karta: Kompas Media Nusantara. Pareno, S.A. (2003). Manajemen Berita, Antara Idealisme dan Realita. Surabaya: Penerbit Popyrus. Rahayu (ed.). (2006). Menyingkap Profesionalisme Kinerja Surat Kabar di Indonesia. Jakarta: Pusat Kajian Media dan Budaya Populer, Dewan Pers & Depkominfo. Sarwono, B.A. (2004). Pemaknaan Karir Politik Presiden Perempuan dalam Masyarakat Patriakhi. Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi, Vol. III/No. 2 Mei-Agustus. Sen, K. & Hill, D.T. (2001). Media, Budaya dan Politik Indonesia. Jakarta: ISAI. Shobur, A. (2001). Analisis Teks Media. Ban-

dung: Rosda Karya. Siregar, A. & Pasaribu, R. (2000). Bagaimana Mengelola Media Korporasi Organisasi. Yogyakarta: Adikarya IKAPS & The Ford Foundation. Smythe, D. (1977). Communication: Blindspot of Western Marxism. Canadian Journal of Political and Social Theory, Vol 1 No. 3. Sudibyo, A. (2001). Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LKIS. Surjomihardjo, A. et al. (2002). Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara. Tester, K. (2003). Media, Budaya & Moralitas. Yogyakarta: Penerbit Juxtapose.

Tabel 1. Berita Pilgub yang Ditunjang dengan Foto Bulan Jawa Pos Januari Februari Maret Total 3 1 4 8 Surat Kabar Solopos 10 3 6 19 Suara Merdeka 6 12 46 64 Kompas 8 7 10 25

Tabel 2. Berita Pilgub tanpa Foto Bulan Jawa Pos Januari Februari Maret Total 20 46 11 77 Surat Kabar Solopos 24 29 72 125 Suara Merdeka 45 64 74 183 Kompas 17 9 18 44

Tabel 3. Kupasan Pilgub dalam Bentuk Artikel Bulan Jawa Pos Januari Februari Maret Total 1 1 Surat Kabar Solopos 1 7 8 Suara Merdeka 9 8 9 25 Kompas 2 4 2 8

188

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

Muktiyo : Media Cetak Lokal dan Pilgub Jateng 2008

Tabel 4. Frekuensi Paparan Cagub dan Partainya Pasangan Cagub Jawa Pos Jan Feb Mar Agus S-Khaliq (PKB) Bambang-Adnan (Golkar) Bibit-Rustri (PDIP) Sukawi-Sudarto (PKS) Tanzil-Rozak (PAN) Ali Mufiz (Gubernur) 1 1 2 1 3 1 1 Solopos Jan 10 2 4 1 7 1 Feb Mar 4 3 9 2 5 4 5 11 2 2 Suara Merdeka Jan Feb Mar 14 1 4 2 8 3 6 4 9 4 8 10 9 5 12 9 6 5 Kompas Jan Feb Mar 7 1 5 2 5 4 1 1 1 6 2 3 9 3 4 58 25 67 26 49 30 Total

Jurnal Komunikasi Massa - Vol. 2 No. 2 Januari 2009

189

Syarat-syarat Penulisan Artikel
1. Artikel merupakan hasil refleksi, penelitian, atau kajian analitis terhadap berbagai fenomena komunikasi, khususnya komunikasi massa, yang belum pernah dipublikasikan di media lain. 2. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan panjang tulisan antara 6.000-8.000 kata, diketik di halamanA4, spasi tunggal, margin atas dan kiri 4 cm, margin bawah dan kanan 3 cm, menggunakan font Times New Roman 11 point. Artikel dilengkapi dengan abstrak sepanjang 100-150 kata dan 3-5 kata kunci. 3. Artikel memuat: Judul, Nama Penulis, Instansi asal Penulis, Alamat Kontak Penulis (termasuk telepon dan email), Abstrak, Kata-kata kunci, Pendahuluan (tanpa anak judul), Sub-sub Judul (sesuai kebutuhan), Penutup atau Simpulan, Catatan-catatan dan Daftar Kepustakaan. 4. Kata atau istilah asing yang belum diubah menjadi kata/istilah Indonesia atau belum menjadi istilah teknis, diketik dengan huruf miring. 5. Catatan-catatan berupa referensi ditulis secara lengkap sebagai endnotes. 6. Kutipan langsung 5 baris atau lebih diketik dengan spasi tunggal dan diberi baris baru. Kutipan langsung kurang dari 5 baris dituliskan sebagai sambungan kalimat dan dimasukkan dalam teks di antara dua tanda petik. Kutipan tidak langsung (parafrase) ditulis tanpa tanda petik. 7. Daftar Kepustakaan diurutkan secara alfabetis, dan hanya memuat literatur yang dirujuk dalam artikel. Penulisan referensi menggunakan sistem American Pschycological Association (APA) Contoh: Fakih, M. (1997). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Holmer-Nadesan, M. (1986). “Organizational Identity and Space ofAction”, Organizational Studies 17 (1), 1986, hal. 49-81. 8. Penulis diminta menyertakan biodata singkat. 9. Artikel dikirimkan kepada Tim Penyunting dalam bentuk file Microsoft Word (.doc atau .rtf) disimpan dalam disket, CD, USB flash disk, ataupun sebagai attachment dalam e-mail. 10. Kepastian pemuatan atau penolakan naskah diberitahukan kepada penulis melalui surat atau email. Artikel yang tidak dimuat tidak akan dikembalikan kepada penulis, kecuali atas permintaan penulis. 11. Penulis yang artikelnya dimuat akan menerima ucapan terima kasih berupa nomor bukti 3 eksemplar. 12. Artikel dikirimkan ke alamat di bawah ini: JURNAL KOMUNIKASI MASSA Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36A, Kentingan, Surakarta 57126. Email: jkm-uns@yahoo.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->